Ads

Minggu, 01 November 2026

Naga Sasra & Sabuk Inten 07

Kenapa Ki Ageng Sora Dipayana begitu yakin bahwa cara perkenalan yang aneh itu tidak akan membawa akibat yang dapat berbahaya. Sebab rupanya, dengan memberi banyak petunjuk kepada Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana memang bermaksud untuk mempertemukannya dengan Gajah Sora yang kebetulan juga sedang disuruhnya mengambil kedua pusaka itu, tanpa memberitahukan lebih dahulu. Dengan wajah-wajah yang demikian, apabila mereka singgah di Pangrantunan, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Baik kepada mereka sendiri maupun kepada Ki Ageng Sora Dipayana yang menyamar sebagai seorang petani miskin. Karena itu mereka berketetapan hati untuk melangsungkan saja perjalanan mereka ke Banyu Biru. Pada malam berikutnya mereka bermalam pula di tengah-tengah hutan. Sengaja mereka tidak menuruti jalan ke Bergota karena mereka merasa bahwa barang-barang yang mereka bawa adalah bukan barang biasa, yang apabila sampai diketahui orang akan dapat banyak menimbulkan kerepotan.

Seperti juga malam kemarin, karena lelah dan mereka belum pulih seluruhnya, Gajah Sora dan Mahesa Jenar demikian meletakkan tubuhnya, demikian mereka mendengkur nyenyak sekali. Tetapi malam ini ternyata tidak setenteram malam kemarin. Belum lagi mereka melampaui tengah malam, mendadak terasa tubuh mereka dikenai sesuatu. Gajah Sora dan Mahesa Jenar adalah orang-orang yang pernah mengalami latihan-latihan jasmaniah maupun kesiagaan batin. Maka demikian tubuh mereka kena sentuhan yang tidak wajar, demikian mereka meloncat berdiri dan dalam sekejap mereka telah bersiaga. Tepat pada saatnya, terdengarlah gemerisik dedaunan disamping mereka, dan dengan suatu auman yang dahsyat meloncatlah seekor harimau hitam yang besarnya bukan kepalang, menerkam Mahesa Jenar. Untunglah bahwa tubuh Mahesa Jenar telah agak terasa baik, sehingga dengan menjatuhkan diri ia bebas dari terkaman harimau hitam itu. Bahkan tiba-tiba ia menjadi marah sekali atas gangguan yang mendadak datangnya.

Karena itu ia tidak menanti lebih lama lagi. Saat itu pula segera ia mengatur jalan pernafasan menurut ajaran gurunya, menyilangkan tangan kirinya di muka dada serta mengangkat tangan kanannya, satu kakinya ditekuk ke depan. Dan dengan menggeram penuh kemarahan, ia meloncat ke arah harimau yang baru saja menjejakkan kakinya keatas tanah itu, berbareng dengan mengayunkan pukulan Sasra Birawa. Tetapi ketika tangannya sudah hampir menyentuh tubuh harimau itu, tiba-tiba dengan gerakan aneh harimau itu berguling-guling tangkas sekali sehingga pukulan Mahesa Jenar yang dilambari kekuatan ilmu Sasra Birawa itu tidak mengenai sasarannya. Dengan demikian ia terseret oleh kekuatannya sendiri sehingga hampir saja ia kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa dengan cepat Mahesa Jenar dapat menguasai dirinya kembali sehingga ia tidak jatuh tertelungkup. Tetapi pada saat yang demikian, pada saat dimana Mahesa Jenar masih belum dapat menguasai keseimbangan sepenuhnya, harimau itu telah siap merobek-robeknya. Untunglah bahwa kawan seperjalanannya bukan pula orang kebanyakan. Ia menyaksikan kegagalan Mahesa Jenar dengan penuh keheranan. Heran atas sikap seekor harimau yang dengan tangkas dapat membebaskan dirinya dari pukulan maut Mahesa Jenar, bahkan harimau itu telah siap pula untuk menerkamnya.

Karena itu Gajah Sora tidak mau kehilangan waktu. Cepat seperti kilat ia meloncat sambil merentangkan tangannya, yang sesaat kemudian telah menyilang dadanya. Dengan suatu gerakan melingkar lewat atas kepalanya ia menghantam harimau itu dengan dahsyatnya. Bahkan Gajah Sora telah mempergunakan ilmunya Lebur Sakethi. Melihat serangan yang tiba-tiba datang itu, harimau hitam biasa meloncat menghindari pukulan Lebur Saketi yang tidak pula kalah dahsyatnya. Juga kali ini Gajah Sora tak berhasil mengenainya. Tetapi sementara itu, Mahesa Jenar telah dapat menguasai diri sepenuhnya. Sehingga demikian ia melihat harimau itu berhasil menghindari pukulah Gajah Sora, demikian Mahesa Jenar mengulangi serangannya dengan ilmunya Sasra Birawa. Kali ini harimau hitam yang sedang mengelak itu tidak sempat berbuat apa-apa. Tangan Mahesa Jenar berhasil mengenai tengkuknya. Harimau itu meloncat tinggi-tinggi dan mengaum hebat sekali. Gajah Sora, yang menjadi marah pula, tidak mau membiarkan harimau itu, karenanya sebelum harimau itu jatuh di tanah ia telah mengulangi pula serangannya dengan aji Lebur Sakethi.

Akibat dari dua pukulan maha dahsyat itu hebat sekali. Harimau hitam itu terpental beberapa langkah. Tetapi alangkah terkejut mereka berdua, ketika Gajah Sora dan Mahesa Jenar menyaksikan harimau itu jatuh berguling-guling dan kemudian menggeliat dan seperti melenting ia meloncat dan bangun berdiri. Ya, berdiri di atas dua kaki seperti manusia berdiri. Akhirnya, barulah Gajah Sora dan Mahesa Jenar sempat menyaksikan bahwa yang berdiri di hadapannya sama sekali bukanlah seekor harimau hitam, tetapi benar-benar seorang manusia yang berkerudung kulit harimau berwarna hitam. Karena itu darah mereka bergolak hebat. Manusia itu, yang berdiri di hadapannya, pasti bukan manusia biasa, sebab ia telah dapat membebaskan dirinya dari akibat pukulan-pukulan Lebur Sakethi dan sekaligus Sasra Birawa. Orang yang berkerudung kulit harimau hitam itu berdiri dengan angkuhnya. Tubuhnya gagah besar melampaui ukuran yang biasa. Jambang dan janggutnya tidaklah begitu lebat, tetapi hampir memenuhi seluruh mukanya. Matanya tampak bercahaya di dalam gelap, benar-benar seperti mata seekor harimau. Dalam cahaya bintang yang samar-samar, Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang berpandangan tajam itu dapat menyaksikan bahwa wajah orang itu pastilah bengis dan kejam.

Sebentar kemudian terdengarlah ia menggeram perlahan-lahan, lalu terdengarlah suaranya dalam sekali, “Pukulan kalian luar biasa dahsyatnya. Terasa betapa sakit dan nyerinya. Karena itu, kau telah berbuat kesalahan dalam dua hal. Mengambil kedua pusaka itu dan menyakiti tubuhku. Akibatnya adalah dua hal pula, kembalikan keris itu dan aku akan membalas pukulan kalian. Kalau kalian mati karena pukulanku bukanlah salahku.”

MENDENGAR kata-kata itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar menjadi gemetar karena marah. Biarpun orang itu tidak dapat dibunuhnya karena kesaktian andalan mereka yang terakhir, tetapi mereka bukanlah anak-anak kecil yang harus menerima saja hukuman dari orang tuanya. Karena itu Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera menyiagakan diri untuk bersama-sama menghadapi bahaya yang besar, dan untuk taruhan yang besar pula, yaitu kedua keris Pusaka Demak dan nyawa mereka. Menurut pertimbangan Gajah Sora dan Mahesa Jenar, tidaklah mereka bersalah apabila mereka terpaksa mempergunakan keris-keris yang sedang mereka pertahankan mati-matian itu. Karena itu, tangan Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera melekat pada ukiran keris yang mereka bawa masing-masing.

Melihat gelagat itu, orang yang berkerudung kulit harimau itu berdesis, “Hem.., kalian akan mempergunakan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten itu untuk melawan aku. Bagus. Memang tak seorangpun di dunia ini yang akan dapat tetap hidup meskipun hanya tergores seujung rambut saja. Tetapi aku harus meyakinkan kalian, bahwa kalian tak akan dapat menyentuh tubuhku dengan kedua pusaka itu.”

Habis mengucapkan kata-kata itu, orang itu segera bersiap untuk menyerang Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Bagaimanapun beraninya Gajah Sora dan Mahesa Jenar, hati mereka bergetar juga. Tergetar karena menghadapi bahaya yang mungkin akan dapat menggagalkan tugas mereka untuk menyelamatkan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten. Sejenak kemudian seperti angin menyambar, orang itu mulai dengan serangannya. Alangkah dahsyatnya, Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera memencarkan diri, dan tak ada pilihan lain kecuali mencabut kedua pusaka yang mereka bawa yang kemudian sejenak diungkulkan di atas kepala masing-masing. Kiai Nagasasra berbentuk seekor naga bersisik emas, yang memancarkan cahaya kuning menyilaukan, sedang Kiai Sabuk Inten yang ber-luk 11 tampak berkilat-kilat memancarkan cahaya yang kebiru-biruan.

Gajah Sora dan Mahesa Jenar meskipun tidak dapat menyamai kecepatan gerak lawannya tetapi mereka bukan pula anak-anak ingusan. Apalagi di tangan mereka sekarang bercahaya-cahaya pusaka yang tiada taranya. Karena itu orang yang berkerudung kulit harimau itupun tidak berani merendahkan. Segera mereka bertiga terlibat dalam satu pertempuran yang luar biasa hebatnya. Tampaklah sebuah bayangan hitam menyelinap menyusup dan kemudian meloncati gumpalan-gumpalan cahaya kuning yang silau dan cahaya biru yang gemerlapan. Itulah cahaya dari kedua pusaka itu di tangan orang-orang yang hampir sempurna olah senjata. Tetapi ternyata apa yang dikatakan orang itu benar-benar terjadi. Mahesa Jenar dan Gajah Sora yang sudah bekerja mati-matian, sama sekali tak berhasil menyentuh kulit lawannya dengan senjata-senjatanya. Hanya untunglah bahwa karena kedua pusaka itu pula, lawan mereka belum juga berhasil dapat mengenai tubuh mereka. Kalau saja Gajah Sora atau Mahesa Jenar sampai tersinggung oleh tangan hantu itu, pastilah kulit mereka akan robek.

Akhirnya, ketika pertempuran itu sudah berlangsung beberapa saat, dan masih saja Gajah Sora dan Mahesa Jenar memberikan perlawanan yang sengit, orang yang berkerudung kulit harimau itu tidak sabar lagi. Ia meloncat beberapa langkah ke belakang, dan dengan gerak yang menakutkan ia menggetarkan tubuhnya sambil mengaum mengerikan. Sesaat kemudian ia telah siap untuk mengadakan serangan-serangan terakhir yang mematikan. Meskipun Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak mengerti arti dari gerakan-gerakan itu, mereka yakin bahwa saat yang menentukan segera akan tiba. Gajah Sora dan Mahesa Jenar pun segera mempersiapkan diri. Mereka berdiri kira-kira berjarak 3 sampai 4 langkah, yang dapat dicapainya dalam satu loncatan. Mereka sudah bertekad untuk bertempur sampai kemungkinan yang terakhir. Kalau mereka berdua harus mati, maka setan itu pun harus dapat dilukainya pula dengan salah satu dari kedua keris itu, sehingga ia pun pasti akan mati pula.

Orang yang berkerudung kulit harimau itu setelah berhenti mengaum segera bersikap seperti akan menerkam. Tangannya terjulur ke depan, sedangkan jari-jarinya dikembangkan. Melihat sikap itu, segera Gajah Sora dan Mahesa Jenar teringat kepada istri Sima Rodra yang bertempur dengan cara yang serupa. Tetapi orang ini ternyata mempunyai ketinggian ilmu yang berlipat-lipat. Sejenak kemudian, hampir pada saat orang itu meloncati Gajah Sora, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa yang nyaring meskipun tidak terlalu keras. Kemudian disusul gemerisik daun-daun yang tergetar karena suara tertawa itu. Alangkah besar tenaga yang dilontarkan lewat suara yang tidak begitu keras itu. Mendengar suara itu, orang berkerudung kulit harimau itu tampak terkejut bukan main. Dan keadaan itu sangat mengejutkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar pula. Mereka telah terkejut karena getaran suara itu, disusul oleh sikap orang yang berkerudung itu.

ORANG berkerudung itu kemudian menegakkan kepalanya. Ia menggeram hebat menunjukkan kemarahannya. Kemudian terdengar ia berkata, “Hem…, apa kepentinganmu dengan mengganggu pekerjaanku?” Dan terdengarlah jawaban yang lunak halus hampir seperti suara perempuan. “Terhadap anak-anak itu kau sudah akan mempergunakan ajimu Macan Liwung?” katanya.

“Apa pedulimu?” jawab orang itu.

“Banyak kepentinganku atasnya, mereka adalah murid-murid sahabatku. Dan bukankah persoalan itu adalah persoalan anak-anak. Sebaiknya orang tua tidak usah ikut campur,” jawab suara itu.

“Sebaiknya kau mengurus kepentinganmu sendiri,” sahut orang berkerudung itu.

“Ini juga termasuk kepentinganku,” jawab suara itu pula.

“Aku tidak pedulikan kau,” potong orang berkerudung itu.

“Tetapi aku mempedulikan kau. Kalau kau memaksa pula untuk mencampuri perkara anak-anak. Baiklah kita yang tua-tua ini membuka permainan sendiri. Sedang anak-anak biarlah mereka belajar menyelesaikan masalah mereka.”

“Gila…. Selamanya kau gila. Kau berharap dapat mengalahkan aku sekarang?”

“Tidak. Aku tahu bahwa aku tak akan mengalahkan kau. Tetapi setidak-tidaknya kau juga tidak akan dapat mengalahkan aku. Dan permainan itu akan memberi kesempatan kepada anak-anak itu untuk berlindung pada bapak-bapaknya. Karena ada seorang bapak telah ikut campur pula, jawab orang itu.”

Suara orang asing yang lunak dan mirip suara perempuan itu terang berasal dari belakang Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Meskipun demikian, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak berani menoleh ke belakang. Mereka tahu bahwa orang itu pasti tidak akan bermaksud jahat, sebab kalau demikian sudah sejak tadi ia dapat membunuhnya dari arah punggung. Apalagi ketika mereka berdua mendengar pembicaraannya dengan orang yang berkerudung itu, hati mereka seperti disiram embun. Tetapi meskipun demikian mereka hampir tak berani berkedip. Sebab setiap saat orang yang berkerudung itu dapat meloncatinya dan merebut pusaka-pusaka itu, yang barangkali malahan dapat dipergunakan untuk melawan orang yang berada di belakangnya itu.

Sebentar kemudian kembali orang berkerudung itu menggeram. “Jangan coba halangi aku,” katanya.

Sesudah itu terjadilah suatu hal diluar daya pengamatan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Meskipun mereka berdua termasuk orang-orang yang disegani karena kesaktiannya, tetapi mereka samasekali tidak dapat menangkap gerakan orang berkerudung itu. Apa yang dilihatnya hanyalah seperti pancaran kilat yang membelah langit, sedemikian tiba-tiba dan berlangsung cepat sekali. Orang berkerudung itu tahu-tahu rasanya sudah melekat di pelupuk mata Gajah Sora. Kemudian segera disusul dengan peristiwa yang sama cepatnya. Sebuah benturan yang luar biasa dahsyat terjadi di hadapan mata Gajah Sora dan Mahesa Jenar tanpa dapat diketahui permulaannya. Apa yang mereka ketahui kemudian adalah orang berkerudung itu telah berdiri berhadap-hadapan dengan seorang yang berperawakan kecil. Sikapnya pun mirip dengan suaranya. Sama sekali tidak gagah dan garang, tetapi justru mirip sikap seorang perempuan. Orang itu berdiri dengan tubuh masih bergetar diantara Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Dan dihadapannya berdiri orang berkerudung itu, yang juga tampak sedang berusaha menguasai keseimbangannya.

“Kau benar-benar akan mencampuri urusanku?” bentak orang berkerudung itu.

“Sudah aku katakan sejak tadi,” jawab orang yang mirip dengan perempuan itu.

Kemudian tampaklah orang berkerudung itu memandangi berganti-ganti Gajah Sora, Mahesa Jenar dan orang asing itu. Mukanya yang hampir seluruhnya ditumbuhi rambut yang jarang-jarang itu tampak berkerut. Lalu katanya dengan suara parau,

“Baiklah, aku tidak dapat melawan kalian bertiga. Tetapi jangan mengira bahwa aku telah melepaskan kepentinganku atas kedua anak-anak yang bermain-main dengan pusaka-pusaka itu.”

Setelah berkata demikian, segera ia meloncat tak ubahnya seekor harimau dan kemudian menyusup lenyap di gerumbul liar. Setelah orang berkerudung itu tidak nampak lagi, berkatalah orang asing itu kepada Gajah Sora dan Mahesa Jenar.

“Guru kalian ternyata kurang hati-hati. Untunglah aku melihat harimau itu, sedang kalian tidur nyenyak. Sehingga aku terpaksa membangunkan kalian dengan batu. Seharusnya guru kalian tidak melepaskan kalian tanpa pengawasannya.”

Gajah Sora dan Mahesa Jenar kemudian dengan membungkuk hormat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, dan dengan agak berdebar-debar Gajah Sora mencoba bertanya, “Bolehkan aku mengetahui, siapakah Tuan?”

Orang itu tersenyum. “Tidaklah gurumu pernah berceritera tentang aku?” jawabnya.

Gajah Sora mengernyitkan alisnya sambil mengingat-ingat ceritera gurunya tentang sahabat-sahabatnya. Mahesa Jenar juga mencoba untuk menebak-nebak siapakah kiranya yang berdiri dihadapannya itu. Tiba-tiba mereka hampir bersamaan teringat kepada ceritera guru masing-masing. Pendekar sakti yang menurut istilah guru mereka, sama sekali tampangnya tak berarti. Mungkin orang inilah yang dimaksud. Maka dengan hampir bersamaan pula mereka mengucapkan sebuah nama,

“Tuankah yang bergelar Titis Anganten dari Banyuwangi?”

Kembali orang itu tersenyum. “Nah ternyata kalian kenal aku. Guru-gurumu pasti pernah berkata tentang orang yang tampangnya tak berarti,” jawabnya lagi. Lalu terdengarlah ia tertawa nyaring.

“Aku dengar Kakang Pengging Sepuh telah wafat,” katanya tiba-tiba kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar tertegun. Rupanya dengan tepat orang itu mengetahui bahwa Macan Ireng itu berada di sini. Gajah Sora segera menjawab, “Mungkin Tuan, sebab Guru tak pernah menyebutkan itu.”

“MUNGKIN,” sahut orang yang ternyata adalah Titis Anganten. “Sebab kedatangannya belum seberapa lama. Ketika aku ketahui bahwa alas Lodaya kosong, segera aku pergi ke Gunung Tidar. Ketahuilah bahwa orang itulah yang sebenarnya bernama Sima Rodra. Ia adalah ayah dari isteri Sima Rodra yang sekarang. Dan terkaanku adalah tepat. Ia pergi mengunjungi anak perempuannya di Gunung Tidar. Beberapa lama aku terpaksa mengeram mengawasinya. Jadi aku dapat melihat seluruhnya yang terjadi di muka goa Sima Rodra. Aku dapat melihat kedatangan kalian dari arah yang berbeda. Dan aku terpaksa membantu ketajaman sirep yang kau sebarkan, sebab Sima Rodra itupun telah mencoba melawannya. Dan karena kami lakukan berdua, maka sirep kamipun menang. Untunglah bahwa Sima Rodra berdua itu berlari ke dalam pintu rahasia, sehingga ayahnya memerlukan waktu untuk keluar melalui lobang yang lain sehingga ia baru dapat menyusul kalian sekarang ini. Dan agaknya karena kedatangannya itu ingin dirahasiakan, dan karena kepercayaannya kepada anaknya, ia tidak merasa perlu untuk membantu,” lanjut Titis Anganten.

Persoalannya menjadi jelas bagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora. Ternyata ketika mereka tertidur nyenyak, mereka telah dibangunkan oleh Titis Anganten. Itulah sebabnya mereka merasa seperti dilempar dengan batu. Dan apa yang mereka hasilkan sekarang, sebagian adalah karena jasa orang itu pula. Karena itu, sekali lagi mereka mengucapkan terima kasih yang tak terhingga.

“Tetapi… sampai sekarang aku masih belum mengenal nama-nama kalian. Siapakah namamu anak muda?” tanya Titis Anganten kepada Mahesa Jenar.

“Namaku Mahesa Jenar, Tuan. Sebagai seorang prajurit aku disebut Ronggo Tohjaya,” jawab Mahesa Jenar.

Titis Anganten mengangguk-angguk. “Sudah lama sekali aku tak bertemu dengan Kakang Pengging Sepuh, sehingga aku belum mengenal nama murid-muridnya. Sedang apa yang kau lakukan terhadap lawan-lawanmu dengan Sasra Birawa yang terkenal itu, kau benar-benar mengingatkan aku kepada gurumu. Kelak kalau telah mengendap benar-benar dan dapat menguasai setiap saluran nafasmu dengan baik, maka dapat diharapkan bahwa kau setidak-tidaknya akan dapat menyamai gurumu. Hanya sayang bahwa gurumu itu tidak lagi berkesempatan menuntunmu lebih lama lagi, sehingga kau harus berjuang sendiri untuk mencapai kesempurnaan,” kata Titis Anganten kepada Mahesa Jenar. Kemudian Titis Anganten bertanya kepada Gajah Sora, “Ilmumu Lebur Seketi ternyata sedikit lebih masak dari Mahesa Jenar. Siapakah namamu?”

“Aku bernama Gajah Sora, Tuan,” jawab Gajah Sora.

Titis Anganten mengernyitkan alisnya. “Namamu mirip dengan nama gurumu. Mungkin kau tidak saja muridnya. Menilik wajahmu yang mirip dengan wajah Kakang Sora, aku sejak tadi sudah mengira bahwa kau adalah anaknya,” katanya kemudian.

“Benar Tuan… aku adalah anaknya yang sulung,” jawab Gajah Sora.

Kembali Titis Anganten mengangguk-anggukkan kepalanya. “Mungkin karena gurumu yang bahkan ayahmu masih selalu dapat mendampingimu itulah maka ilmumu agak lebih masak sedikit dari Mahesa Jenar. Tetapi bagaimanapun aku telah dapat menyaksikan suatu pertunjukan yang luar biasa. Sasra Birawa beradu dengan Lebur Seketi. Dua macam ilmu yang tak ada bandingnya,” lanjutnya. Mendengar pujian itu, Mahesa Jenar dan Gajah Sora agak canggung pula. “Nah sekarang sarungkan pusaka-pusaka itu,” kata Titis Anganten lebih lanjut.

Kata-kata itu telah menyadarkan Gajah Sora dan Mahesa Jenar bahwa sejak tadi kedua pusaka keramat itu masih saja digenggamnya erat-erat. Karena itu maka setelah diungkupkan di atas kepala masing-masing, keris itu kemudian disarungkan kembali.

“Sekarang…,” kata Titis Anganten melanjutkan, “untuk sementara kalian akan aman. Macan Ireng itu pasti tidak akan mengganggumu lagi. Tetapi untuk seterusnya kau harus berhati-hati. Sebab ilmunya yang dinamainya Macan Liwung itu tak kalah pula dahsyatnya. Mungkin ilmu itu masih belum diturunkan kepada anak atau menantunya. Tetapi dengan kejadian-kejadian ini tidak mustahil bahwa ia akan menurunkan ilmunya itu segera untuk mendapat tenaga-tenaga yang akan membantunya melawan angkatan tua dan kalian. Akibatnya, pastilah besar. Apalagi kalau Sima Rodra itu menghubungi sahabat-sahabatnya. Misalnya Bugel Kaliki dari Lembah Gunung Cerme.”

“Mungkin juga dengan Ki Pasingsingan dari Mentaok,” sela Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu tampaklah Titis Anganten agak terkejut. Tetapi akhirnya ia menjawab juga, “Ya… Tuan, Pasingsingan, guru Lawa Ijo di Mentaok. Ah, barangkali kau keliru Mahesa Jenar,” kata Titis Anganten, “Tidakkah gurumu sering mengatakan kepadamu bahwa Pasingsingan itu termasuk salah seorang dari kami?”

“Benar, Tuan,” Mahesa Jenar menjelaskan. “Tetapi ternyata ia telah mengambil seorang murid yang terkenal dengan sebutan Lawa Ijo, yang termasuk dalam golongan hitam.”

Kembali wajah Titis Anganten berubah. Rupanya ia tidak menyetujui keterangan Mahesa Jenar. “Siapakah yang mengatakan itu kepadamu?” tanyanya.

“Aku pernah melukai Lawa Ijo itu dengan Sasra Birawa,” jawab Mahesa Jenar. “Hal itu terpaksa aku lakukan karena Lawa Ijo mempergunakan cincin bermata akik yang merah menyala dan beracun. Pada saat itulah muncul Pasingsingan yang akan membunuhku. Untunglah bahwa pada saat itu hadir pula Ki Ageng Pandan Alas, meskipun tidak menampakkan diri.”

“Pandan Alas?” potong Titis Anganten. Dan tiba-tiba wajahnya menjadi terang oleh suatu kesan yang lucu terhadap Pandan Alas.

“Ya, Ki Ageng Pandan Alas telah memberikan tanda-tanda kehadirannya dengan sebuah tembang Dandanggula,” sambung Mahesa Jenar.

“Ah, masih saja orang tua itu senang pada tembang. Masihkah suaranya baik dan nadanya tidak sumbang?” Terdengarlah Titis Anganten tertawa lirih. “Bagus-bagus, orang tua jenaka itu rupanya masih akan panjang umur. Tetapi bagaimana dengan Pasingsingan?”

MENDENGAR pertanyaan itu segera Mahesa Jenar menjawab, “Orang itu memakai kedok kayu yang kasar.”

“Betul…, kau betul. Pasingsingan itu mungkin berwajah bopeng sehingga ia malu menampakkan wajahnya. Kami sahabat-sahabatnya pun belum pernah mengenal wajahnya yang asli. Dan batu merah yang disebutnya akik Kelabang Sayuta itu benar-benar miliknya. Tetapi…,” Titis Anganten berhenti sebentar, lalu melanjutkannya, “Aneh kalau ia termasuk aliran hitam.”

“Menurut Ki Ageng Pandan Alas, beliau meragukan keaslian Pasingsingan itu,” sahut Mahesa Jenar.

“He…?” kembali Titis Anganten terkejut. “Mungkin…, mungkin. Tetapi setan mana yang berani mengaku Pasingsingan itu? Pasti ia termasuk dalam tingkatan orang tua itu pula. Kalau tidak, barangkali umurnya tidak akan lebih dari satu hari saja.” Titis Anganten berhenti berbicara. Tampaklah ia sedang berpikir. Lalu tiba-tiba katanya, “Nah Gajah Sora dan Mahesa Jenar, pulanglah kalian. Sebaiknya Kakang Sora Dipayana segera diberi tahu mengenai kehadiran Sima Rodra. Perkara Pasingsingan biarlah diurus oleh Pandan Alas, yang sudah tidak punya urusan apa-apa lagi kecuali bertanam jagung. Ya, memang ia suka menanam jagung sejak muda. Itulah pokok makanannya. Ia sama sekali tidak pernah makan beras.”

Kemudian terdengarlah Titis Anganten itu tertawa. Lalu sambungnya, “Kalau Kakang Sora Dipayana sudah tahu, selesailah tugasku. Aku ingin melanjutkan perjalanan ke barat, mumpung aku sudah sampai di sini. Aku ingin mengunjungi Kakang di Gunung Slamet.”

“Tetapi tidakkah Tuan hendak singgah di rumahku?” sahut Gajah Sora. “Dan mungkin Tuan akan dapat bertemu dengan ayah. Barangkali pertemuan itu dapat menggembirakan ayah.”

Titis Anganten menggelengkan kepalanya. “Pertemuan semacam itu selalu menjadi pembicaraan orang. Apalagi di daerah yang sedang ribut ini. Katakanlah bahwa aku akan datang besok kalau aku akan pulang ke Banyuwangi. Ketahuilah bahwa di sini segala sesuatu tak dapat dirahasiakan kalau kita tidak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Sekarang, aku sudah lelah setelah bersembunyi beberapa hari mengintip Sima Rodra. Nah selamat berpisah. Salam buat ayahmu Gajah Sora,” katanya.

Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar tidak sempat lagi untuk mengatakan sesuatu, sebab segera Titis Anganten melangkah pergi menyelinap diantara dedaunan, dan hilang ditelan gelap. Tinggallah kini Gajah Sora dan Mahesa Jenar, yang segera teringat kepada pekerjaannya. Karena itu segera mereka pun melanjutkan perjalanan. Makin cepat mereka sampai ke Banyubiru, makin amanlah keris yang dipertaruhkannya itu. Sampai di Sarapadan, segera mereka memotong jalan ke Bergota. Mereka berjalan dengan cepat tanpa berhenti. Sebab bagaimanapun kemungkinan Sima Rodra akan menyusul mereka masih tetap ada, meskipun Titis Anganten telah mengatakan bahwa untuk sementara mereka dapat merasa aman. Demikianlah mereka berjalan tanpa berhenti, sehingga pada hari berikutnya, ketika matahari sudah condong ke barat, mereka dengan selamat sampai ke Banyubiru.

Beberapa orang yang sedang bekerja di sawah segera berhenti memandang ke arah Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Bahkan beberapa orang datang berlari-lari menyambut kepala daerah perdikan mereka. Segera jalan-jalan yang akan mereka lewati menjadi ramai. Mereka menyambut dengan tulus dan bangga atas kepala daerah mereka, yang mereka taati. Tetapi tak seorangpun dari mereka yang mengetahui bahwa kepala daerah mereka itu baru saja menyelesaikan suatu pekerjaan yang hampir membawa nyawanya.

Beberapa orang yang berdiri di tepi jalan itu bersorak-sorak ramai sekali, tetapi ada pula yang berbisik, “Dari manakah Ki Ageng Gajah Sora itu…? Dan siapakah kawan seperjalanannya itu…?”

Tampaklah kesibukan yang luar biasa. Hal ini disebabkan tak seorang pun dari penduduk Banyubiru yang mengetahui bahwa Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan kota. Tiba-tiba mereka melihat Ki Ageng Gajah Sora telah kembali. Mahesa Jenar menyaksikan sambutan rakyat yang meriah itu dengan hati yang berdebar-debar. Tampaklah betapa Ki Ageng Gajah Sora memiliki sifat kepemimpinan yang tinggi, sehingga rakyatnya sangat mencintainya. Di kiri kanan jalan, di balik pagar manusia yang menyambutnya, tampaklah halaman-halaman yang luas-luas dan bersih. Dan di atas halaman-halaman itu berdiri rumah-rumah yang besar dan bagus. Hal itu memberi pertanda bahwa Banyubiru tergolong daerah yang bercukupan. Apalagi ketika Mahesa Jenar menyaksikan bahwa pada umumnya lumbung-lumbung mereka sama sekali tak berdinding, malahan ada yang bentuknya hanya seperti payung yang berdaun lebar. Maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa daerah itu merupakan daerah yang aman dan makmur.

BANYUBIRU terletak di lambung bukit Telamaya di kaki Gunung Merbabu sebelah utara. Di hadapannya terbentang dataran tinggi yang dibagi dalam dua jenis tanah. Di sebelah barat merupakan tanah persawahan yang subur, sedang di sebelah timur terdapat sebuah rawa yang besar. Kemudian di bagian utara dari rawa-rawa itu ditumbuhi pohon-pohon liar yang lebat, disambung dengan hutan-hutan belukar. Di dalam hutan-hutan belukar yang berawa-rawa itulah bersembunyi gerombolan Uling yang terkenal dengan nama Sepasang Uling dari Rawa Pening. Daerahnya merupakan daerah yang sangat sulit dicapai. Meskipun demikian, Sepasang Uling itu telah membuat sendiri jalan rahasia menuju ke sarangnya. Bagi rakyat Banyubiru, sawah serta Rawa Pening itu merupakan sumber penghasilan yang utama. Rawa Pening terkenal banyak sekali menyimpan ikan-ikan rawa yang besar-besar. Sehingga dengan demikian penghidupan mereka agak dapat terjamin pula. Sedangkan gerombolan Uling itu, sama sekali tidak berani mengganggu mereka, sebab di bawah pimpinan Ki Ageng Gajah Sora, rakyat Banyubiru merupakan rakyat yang kuat lahir dan batinnya.

Demikianlah maka Ki Ageng Gajah Sora di sepanjang jalan melambai-lambaikan tangannya untuk menyambut sorak-sorai rakyatnya. Tiada lama berselang, terdengarlah derap beberapa ekor kuda yang datang dari arah depan. Dan muncullah dari kelokan jalan, beberapa orang berkuda menyongsong kedatangan Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Demikian kuda-kuda itu mendekati Ki Ageng Gajah Sora, meloncatlah seorang yang bertubuh agak pendek dan gemuk dari atas kudanya. Wajahnya, meskipun sudah ditandai dengan garis-garis umur, tetapi tampak kekanak-kanakan dan jenaka. Kecuali kuda yang dinaikinya, orang itu masih menuntun seekor kuda lagi yang berwarna putih, sudah lengkap dengan pelananya. Ketika yang lain melihat orang itu meloncat turun, maka berloncatan pulalah mereka dari atas kuda-kuda mereka.

Maka berkatalah orang yang pendek gemuk itu dengan suara berderai, “Anakmas Gajah Sora, hampir Rawa Pening aku suruh aduk untuk mencari Anakmas, kalau-kalau sedang mandi di sana. Bahkan Gunung Gajahmungkur itu aku suruh balikkan, mungkin Anakmas terselip di dalamnya. Sungguh pandai Anakmas membikin orang tua bingung. Kemanakah Anakmas selama beberapa hari ini?”

Ki Ageng Gajah Sora tersenyum. “Tetapi tak sesuatu yang Paman lakukan. Untunglah aku selamat,” jawabnya.

Alis orang tua yang sudah memutih itu bergerak-gerak. “Aku sudah memerintahkan. Tetapi Nyi Ageng melarangnya. Katanya aku disuruh menunggu sampai seminggu ini. Kalau tidak, Nyi Ageng sendiri akan memberi perintah untuk mencari Anakmas,” katanya.

Kembali Gajah Sora tersenyum. “Dan sekarang aku sudah kembali, Paman.”

Kembali orang tua itu berkata, “Aku memang sudah mendapat kesimpulan, bahwa Anakmas pergi untuk sesuatu tugas yang tak seorang pun boleh mengetahui, kecuali Nyi Ageng. Kalau tidak, pastilah Nyi Ageng Gajah Sora sudah ribut sejak semula.” Lalu terdengarlah suara orang itu tertawa berderai. “Karena itu aku tidak berusaha lagi untuk mencari Anakmas. Dan sekarang Anakmas sudah pulang dengan selamat bersama-sama seorang yang belum aku kenal, sambungnya.” Lalu membungkuklah orang itu kepada Mahesa Jenar. “Bolehkah aku memperkenalkan diri Anakmas…? Namaku Wanamerta,” tanya orang itu sambil memperkenalkan diri.

Mahesa Jenar membalas hormat orang tua itu. “Aku bernama Mahesa Jenar, yang oleh kebaikan hati Ki Ageng Gajah Sora, aku mendapat kehormatan singgah di Banyubiru.”

Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya kepada Ki Ageng Gajah Sora, “Anakmas Gajah Sora, karena aku tidak tahu bahwa Anakmas datang berdua, maka aku hanya membawa seekor kuda untuk Anakmas. Maka baiklah kalau Anakmas Mahesa Jenar ini mempergunakan kudaku saja untuk bersama-sama dengan Anakmas Gajah Sora.”

“Lalu Paman…?” tanya Gajah Sora.

“Biarlah aku memakai salah satu dari kuda anak-anak itu,” jawabnya.

Maka dipersilahkannya Mahesa Jenar mempergunakan kuda Wanamerta yang berwarna abu-abu agak kemerah-merahan, sedang Gajah Sora mempergunakan kudanya sendiri yang berwarna putih. Meskipun mereka sekarang berkuda, tetapi mereka berjalan perlahan-lahan juga, sebab masih saja orang-orang menyambut mereka di kiri kanan jalan. Setelah beberapa lama mereka berjalan diantara rakyat Banyubiru, sampailah iring-iringan berkuda itu ke sebuah lapangan luas, yang di tengah-tengahnya tumbuh sepasang pohon beringin. Lewat tengah-tengah lapangan yang tak lain adalah Alun-alun Banyubiru, mereka menuju ke sebuah rumah besar yang berpendapa luas dan bertiang ukir-ukiran. Itulah tempat kediaman Ki Ageng Gajah Sora. Di muka pendapa itu telah banyak orang berjajar-jajar menanti. Diantara mereka berdiri seorang perempuan. Ketika iring-iringan itu sampai di muka pendapa, segera Ki Ageng Gajah Sora dan Mahesa Jenar turun dari kuda, dan berjalan ke arah para penyambut. Sampai di muka tangga, perempuan itu segera mengambil siwur dan mencuci kaki Ki Ageng Gajah Sora. Orang itulah Nyi Ageng Gajah Sora.

Setelah Nyi Ageng Gajah Sora mencuci kaki suaminya maka dipersilahkan Mahesa Jenar mencuci kakinya, dan seterusnya berganti-ganti dengan mereka yang turut serta menjemput kedatangan Gajah Sora dan Mahesa Jenar. Setelah itu Gajah Sora suami-istri bersama-sama dengan Mahesa Jenar langsung menuju ke Pringgitan. Mereka jadi tertegun sejenak ketika mereka melihat di dalam Pringgitan itu duduk seorang yang telah lanjut usianya, berkain kotak-kotak dan berbaju lurik hijau bergaris-garis besar. Dari wajahnya memancar keagungan pribadinya yang berwibawa. Melihat orang itu, segera Gajah Sora berlutut sebagai pernyataan bakti dari seorang putra kepada ayahnya. Orang itulah Kiai Ageng Sora Dipayana.

MAHESA JENAR pun segera membungkuk hormat. Ia sudah pernah bertemu dengan Ki Ageng Sora Dipayana itu di Pangrantunan. Bahkan ia banyak memberikan petunjuk-petunjuk untuk mendapatkan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, meskipun harus melalui suatu ujian, bertempur melawan Gajah Sora. Tetapi orang yang sama itu, sekarang nampak jauh berbeda dengan yang pernah ditemuinya di Pangrantunan dahulu. Kalau saja ia tidak mengenal jenggotnya yang panjang, rambutnya serta alisnya yang telah memutih seluruhnya, juga tidak di rumah Ki Ageng Gajah Sora, maka besarlah kemungkinan bahwa ia sudah tidak dapat mengenal lagi. Melihat kedatangan anaknya serta Mahesa Jenar, Ki Ageng Sora Dipayana tersenyum. Setelah Mahesa Jenar dan Gajah Sora suami-istri mengambil tempat duduk di atas sebuah tikar pandan di hadapan Ki Ageng Sora Dipayana, berkatalah orang tua itu,

“Selamatlah kedatangan kalian setelah menunaikan kewajiban kalian yang berat.”

Maka berceriteralah Gajah Sora atas segala pengalaman-pengalaman mereka berdua selama mereka berusaha untuk menemukan kedua keris pusaka dari Demak itu. Dan yang terakhir diceritakan pula kehadiran Sima Rodra dari Alas Lodaya yang berusaha untuk merebut kembali kedua keris itu. Juga diceriterakan bahwa mereka mendapat pertolongan Pendekar Sakti dari Banyuwangi. Mendengar cerita Gajah Sora itu Ki Ageng Sora Dipayana mengernyitkan alisnya yang sudah putih. Tampaklah bahwa orang tua itu sedang sibuk berpikir.

“Kau memang beruntung Gajah Sora, bahwa Titis Anganten sempat membebaskan engkau dari tangan Sima Rodra itu. Kalau saja Pendekar Banyuwangi itu tidak menyaksikan pertemuanmu dengan Sima Rodra, kau berdua meskipun mempergunakan Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten maka tidak ada kemungkinan kau berdua dapat membebaskan diri dari padanya. Kalau hal itu terjadi maka kesalahan yang terbesar adalah terletak di pundakku. Aku terlalu menyisihkan diri dan yang terakhir terlalu sibuk dengan urusan-urusan kecil di Pangrantunan sehingga aku tidak tahu atas kedatangan Harimau Hitam itu. Dan yang pasti Pandan Alas pun masih belum tahu akan hal itu, sebab kalau ia tahu maka setidak-tidaknya ia akan mencegah Mahesa Jenar mendekati Gunung Tidar,” ujar Ki Ageng Sora Dipayana.

Kemudian kembali Ki Ageng Sora Dipayana itu merenung. Mungkin ia sedang memecahkan cara untuk mengusir Sima Rodra itu dari Gunung Tidar. “Tetapi Sima Rodra bukanlah seorang yang dapat diremehkan. Ia mempunyai kesaktian yang setingkat dengan Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng Pandan Alas, Pasingsingan dan sebagainya. Tetapi bagaimanapun, dengan diketahuinya bahwa Sima Rodra ada di Bukit Tidar merupakan suatu hal yang sangat menguntungkan. Sebab dengan demikian dapatlah diadakan persiapan-persiapan seperlunya untuk menghindari kemungkinan kemungkinan yang tidak diharapkan. Baiklah Gajah Sora…,” kata Ki Ageng Sora Dipayana kemudian. “Urusan Sima Rodra serahkan saja padaku. Itu merupakan soal orang tua-tua. Sekarang yang penting simpanlah Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten itu di tempat yang baik, sehingga keduanya aman sampai dapat kalian serahkan kepada kalangan Istana, jagalah bahwa hal itu merupakan rahasia sehingga tak seorangpun, meskipun orang dalam, boleh mengetahuinya, juga adikmu Lembu Sora.”

Maka segera Ki Ageng Gajah Sora melaksanakan petunjuk-petunjuk ayahnya. Disimpannya Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten di dalam ruang tidurnya. Setelah itu, setelah semuanya dilaksanakan dengan baik, segera Ki Ageng Sora Dipayana minta diri. Gajah Sora yang telah mengetahui tabiat ayahnya, sama sekali tidak menahannya. Sebab ia tahu betul bahwa apa yang dilakukan ayahnya sebagian besar adalah atas perhitungannya yang tepat. Karena itu maka diantarkannya Ki Ageng Sora Dipayana itu sampai ke halaman belakang, bersama-sama dengan Mahesa Jenar. Dan pergilah orang tua itu tanpa ada yang mengetahuinya, kecuali mereka bertiga. Setelah itu, Gajah Sora dan Mahesa Jenar segera pergi ke pendapa, menemui orang-orang yang sudah lama menanti untuk mendengarkan kemana Gajah Sora selama ini pergi. Tetapi apa yang dikatakan Gajah Sora hanya sekadar memuaskan hati mereka, sedangkan kepentingan yang sebenarnya sama sekali tak disinggung-singgung. Meskipun demikian pembicaraan itu ternyata menarik juga. Pertanyaan-pertanyaan datang bertubi-tubi, yang kadang-kadang memang agak merepotkan. Tetapi dengan sedikit berputar balik, akhirnya puaslah semua orang.

Maka setelah pertemuan itu berlangsung beberapa saat, segera Gajah Sora dan tamunya minta waktu untuk beristirahat, sehingga sesaat kemudian bubarlah pertemuan itu. Gajah Sora kemudian mempersilahkan tamunya untuk beristirahat di Gandok sebelah timur dimana sudah disediakan ruangan untuk Mahesa Jenar. Disana ia akan tinggal untuk beberapa waktu, memenuhi permintaan Ki Ageng Gajah Sora. Keluarga Gajah Sora seluruhnya hanyalah terdiri dari tiga orang kecuali pembantu-pembantunya. Gajah Sora dan istrinya yang ramah selalu melakukan kewajibannya dengan baik selaku seorang istri kepala Daerah Perdikan. Ia mengerti apa yang harus dilakukan, tidak hanya terhadap suaminya tetapi juga kepada rakyatnya. Ia selalu siap memberikan pertolongan-pertolongan yang diperlukan oleh penduduk wilayahnya. Kemudian seorang anak laki-laki, putra Gajah Sora.

Mahesa Jenar mengenal anak itu pertama kali ketika ia sedang duduk bersama-sama Ki Ageng Gajah Sora di halaman depan rumahnya. Tiba-tiba dari atas pohon melayanglah sebuah bayangan ke arah Gajah Sora. Mahesa Jenar yang tidak tahu-menahu, hampir saja menangkap bayangan itu. Tetapi ketika dilihatnya Gajah Sora tidak bergerak, Mahesa Jenar pun mengurungkan niatnya. BAYANGAN itu kemudian dengan kuatnya melekat di punggung Ki Ageng Gajah Sora. Ternyata ia adalah seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 13 tahun. Badannya tampak kuat dan agak gemuk. Wajahnya bulat mirip benar dengan wajah ayahnya. Ia sudah agak besar, tetapi karena ia putra satu-satunya, tampaklah bahwa ia agak manja juga meskipun tidak berlebih-lebihan. Menilik sikap dan geraknya, pastilah ia sudah banyak menerima pendidikan dan pelajaran-pelajaran dari ayahnya.

Ki Ageng Gajah Sora sendiri, umurnya agak terpaut sedikit dari Mahesa Jenar. Mereka setuju untuk memanggil dengan sebutan kekeluargaan. Karena Gajah Sora agak lebih tua dari Mahesa Jenar, maka Mahesa Jenar memanggilnya Kakang. Di rumah Ki Ageng Gajah Sora, Mahesa Jenar merasakan ketenteraman hidup kekeluargaan. Berbeda sekali dengan jalan hidup yang ditempuhnya akhir-akhir ini. Pergi dari satu tempat ke tempat lain. Mengalami bermacam-macam kejadian yang sebagian besar adalah di luar kehendaknya. Sekali-kali kalau ia sedang terbaring di ruang tidurnya, yang bersih dan teratur segala perabotnya. Timbullah iri hatinya kepada mereka yang berhasil membangun rumah tangga yang baik. Dalam saat-saat yang demikian, kadang-kadang merayap pula di dalam dadanya suatu keinginan untuk dapat menikmati kehidupan seperti ini. Ketika ingatan Mahesa Jenar yang kadang-kadang melayang itu sampai kepada masa-masa yang baru saja dilampauinya, terbayang kembali dengan jelas satu persatu peristiwa-peristiwa itu muncul berganti-ganti di dalam angan-angannya. Teringatlah ia kepada sebuah halaman yang sejuk dan nyaman dari rumah Wirasaba yang digarap oleh istrinya yang cantik dan setia, yang karena kebodohannya, terpaksa terjadi kesalah-pahaman.

Suaminya, seorang yang tinggi hati, yang tidak mau mendapat pertolongan dari orang lain. Tetapi hatinya merasa lega, kalau diingatnya bahwa orang itu telah menemukan kesadarannya. Kemudian ingatan Mahesa Jenar terlempar kepada suatu peristiwa di hutan Tambak Baya. Pertemuannya dengan Jaka Sora dan Lawa Ijo. Dan tiba-tiba ia menjadi berdebar-debar ketika terbayang wajah seorang gadis yang ketakutan dan yang kemudian akan membunuh dirinya sendiri dengan keris Sigar Penjalin. Dan jantungnya terasa berdegup keras sekali ketika ia mencoba mengingat-ingat gadis itu, yang sedang tidur nyenyak di hadapannya. Tetapi kemudian Rara Wilis itu lenyap pula. Yang ada kini hanyalah dirinya. Dipandanginya kulitnya yang berwarna merah tembaga terbakar terik matahari. Tiba-tiba terasa bahwa belum waktunya bagi Mahesa Jenar untuk membayangkan ketenteraman hidup berkeluarga. Karena itu, maka jalan sebaik-baliknya adalah melanjutkan usahanya untuk melaksanakan tujuan hidupnya, bekerja keras diantara rakyat untuk kepentingan rakyat. Membebaskan mereka dari segenap gangguan kejahatan yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan liar dan jahat.

Ketika Mahesa Jenar bangun dari tidurnya pada suatu pagi yang cerah, ia mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah pintu yang kemudian dibukanya sedikit, ia dapat melihat rombongan orang-orang berkuda langsung menuju ke pendapa. Ketika Mahesa Jenar melihat orang yang paling depan, ia mengernyitkan dahinya. Ia sendiri tidak menyadari bahwa ia menjadi muak melihat wajah itu. Berbeda sekali dengan Ki Ageng Gajah Sora yang tampak agung dan berwibawa. Tetapi orang ini, meskipun dari tetesan darah yang sama, sama sekali tak mempunyai ciri-ciri kebesaran seperti kakaknya. Karena itu Mahesa Jenar acuh tak acuh saja atas kedatangan adik Ki Ageng Gajah Sora, yaitu Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Kembali pintu gandok itu ditutup. Kemudian Mahesa Jenar melemparkan dirinya di atas amben bambu yang panjang disisi ruang tempat tidurnya. Sebentar kemudian terdengar suara ribut di pendapa. Rupanya mereka sedang sibuk menyambut kedatangan tamu-tamunya dari Pamingit. Terdengarlah kemudian suara Ki Ageng Gajah Sora dengan ramahnya mempersilahkan adiknya masuk ke pringgitan. Ketika mereka semua sudah masuk, Mahesa Jenar berdiri, lalu dengan kesal pergi keluar ke samping gandok.

Mahesa Jenar melayangkan pandangan matanya ke dataran yang terbentang di bawah lambung bukit Telamaya. Di bagian barat terbentang tanah persawahan yang subur. Padi yang pada saat itu sedang menguning dan burung-burung yang terbang di atasnya. Tetapi burung-burung itu sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mencuri butiran-butiran padi yang bergoyang-goyang karena tiupan angin pagi yang lembut, sebab anak-anak yang menungguinya selalu menghalau mereka, dengan goprak dan hantu-hantuan yang digerakkan dengan tali. Di bagian timur, agak jauh menjorok ke utara terbentang rawa. Airnya yang gelisah memantulkan cahaya matahari yang masih merah, yang baru saja tersembul dari balik cakrawala. Beberapa perahu lesung para nelayan masih tampak hilir-mudik seperti sepotong lidi yang terapung-apung untuk menggali kekayaan yang tersimpan di dalamnya. TIBA-TIBA Mahesa Jenar mendengar derap kuda yang lari sangat kencang seperti dikejar hantu. Kuda itu tidak masuk halaman lewat gerbang depan, tetapi menyusup melalui pintu butulan di samping. Mahesa Jenar memalingkan mukanya dengan agak segan-segan. Anak itu lagi, desis Mahesa Jenar. Dan muncullah dari pintu butulan pagar itu seorang anak laki-laki yang berwajah bulat dan agak gemuk menunggang kuda hitam mengkilat. Ketika anak itu melihat Mahesa Jenar, cepat-cepat ia menghentikan kudanya.

“Selamat pagi Paman,” sapanya sambil menyeringai.

“Dari mana kau Arya?” tanya Mahesa Jenar kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu. Arya Salaka itu tidak segera menjawab, tetapi dijatuhkannya sebuah benda yang cukup berat dari punggung kuda itu. Melihat benda itu Mahesa Jenar terkejut.

“Uling…?” katanya.

“Ya, Paman, aku dari Rawa Pening menangkap uling itu,” jawabnya.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau memang nakal Arya. Bukankah ayahmu telah melarangmu pergi ke Rawa Pening? Besok, kalau kau sudah bertambah besar tentu kau boleh pergi ke sana. Tetapi sekarang belum waktunya kau pergi sendiri,” katanya.

Anak itu meloncat turun lalu mendekati Mahesa Jenar. “Paman, jangan Paman katakan kepada ayah kalau aku pergi sendiri,” bisiknya.

“Lalu uling itu…?” tanya Mahesa Jenar.

Arya Salaka diam termangu. Kemudian jawabnya, “Aku katakan bahwa Pamanlah yang menangkap.”

Mahesa Jenar tersenyum. “Hampir semalam suntuk aku bersama ayahmu di pendapa itu. Bagaimana aku pergi menangkap uling?” katanya.

Kembali Arya Salaka kebingungan. Akhirnya ia mendapat jawaban. Dengan tertawa ia berkata, “Gampang Paman, aku akan katakan bahwa seorang kawan memberi aku uling sebagai hadiah.”

“Hadiah apa?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku tidak tahu, Paman.” Ia menjadi kebingungan lagi.

“Tetapi seharusnya kau tidak pergi ke sana, Arya. Banyak bahayanya. Bukan saja uling-uling macam itu, tetapi uling yang tinggal di sebelah rawa itu akan lebih berbahaya bagimu, kalau mereka tahu bahwa kau adalah putra Ki Ageng Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar menasehati.

Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian. “Uling Putih dan Uling Kuning, maksud Paman?” Mahesa Jenar mengangguk. “Baiklah Paman, tetapi pada suatu saat aku pasti akan dapat menangkapnya seperti menangkap uling itu.”

“Nah, pergilah, gantilah pakaianmu yang basah kuyup itu.”

Tanpa menjawab, anak itu memutar tubuhnya lalu melangkah pergi. Tetapi demikian Mahesa Jenar memandang punggung anak itu, ia menjadi terkejut, sebab punggung itu terluka dan darah cair mengalir dari luka itu.

“Arya…” panggil Mahesa Jenar, “kenapa punggungmu luka?”

“Luka…?” tanya Arya keheranan. “Ah tidak seberapa Paman.”

“Tetapi dari luka itu banyak mengalir darah.” Arya Salaka menggosok punggungnya dengan tangannya, dan terasa sesuatu yang cair dan hangat. “Uling itu mencoba melawan, Paman,” katanya kemudian, “Kami berkelahi beberapa lama. Tetapi akhirnya aku dapat membunuhnya.”

“Untunglah uling itu tidak menyeretmu ke dalam rawa,” sahut Mahesa Jenar.

“Kakiku dibelitnya, Paman,” jawab Arya Salaka bangga. “Dan memang ia mencoba menarik aku ke rawa. Tetapi tentu saja aku tidak mau. Rasa-rasanya tidak akan menarik berkunjung ke lubang uling. Karena itu aku berusaha membunuhnya dengan belati. Dan akhirnya sebagai Paman lihat sekarang, uling itu sudah mati. Kalau saja ibuku tidak tahu bahwa aku yang menangkapnya, pasti beliau senang untuk memasaknya.” Setelah berkata demikian, segera Arya meloncat dengan lincahnya menangkap ekor uling itu lalu diseretnya ke dapur sambil berlari-lari.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Luar biasa, katanya kepada diri sendiri. Memang, sejak ia melihat anak itu pertama kali, ia sudah merasa kagum. Arya Salaka merupakan seorang anak-anak laki-laki yang memiliki bakat yang baik. Badannya kukuh dan otaknya pun ternyata dapat bekerja dengan baik. Uling adalah sebangsa binatang air yang mirip dengan ular dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Ia adalah belut raksasa. Tetapi anak ini dapat menangkapnya. Sebentar kemudian terdengar suara Nyai Ageng Gajah Sora nyaring. Rupanya Nyai Ageng sedang memarahi Arya Salaka. Kemudian terdengarlah langkah Arya berlari-lari keluar dan langsung meloncat memanjat sebatang pohon. Dari sana ia meloncat ke atas atap yang dibuat dari papan, untuk bersembunyi. Setelah itu tampak Nyai Ageng menyusul di belakang, tetapi Arya Salaka telah lenyap. Mahesa Jenar segera memalingkan kepalanya, dan pura-pura tidak mengetahui.

Tetapi ketika Nyai Ageng melihatnya, segera ia mendekati Mahesa Jenar, “Kami mendapat tamu dari Pamingit, Adik dari Ki Ageng. Barangkali Adi Lembu Sora dapat memperkenalkan diri dengan Adi Mahesa Jenar.”

Mahesa Jenar pura-pura terkejut lalu membalikkan dirinya. “Baiklah Nyai Ageng, sebaiknya aku mandi dulu,” jawabnya.

“Silakanlah Adi,” katanya kemudian. Lalu ditinggalkannya Mahesa Jenar kembali seorng diri.

Dengan langkah-langkah segan Mahesa Jenar pergi menuruni tangga batu yang dibuat di lereng bukit di samping rumah Ki Ageng Gajah Sora, pergi ke mata air. Di sanalah biasanya ia mandi. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk bertemu dengan Lembu Sora. Tetapi sebagai seorang tamu maka tak baik kalau ia menolak. SETELAH Mahesa Jenar selesai membersihkan diri, segera ia pun naik ke pendapa dan langsung masuk ke pringgitan untuk menemui Ki Ageng Lembu Sora. Melihat kehadiran Mahesa Jenar, segera Gajah Sora memperkenalkannya kepada Lembu Sora.

“Adi Lembu Sora, ini adalah Adi Mahesa Jenar, sahabatku yang telah lama tidak bertemu,” katanya. Kemudian kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Adi Mahesa Jenar…, Adi Lembu Sora ini adalah adikku satu-satunya yang sekarang memerintah daerah Perdikan Pamingit. Ia datang juga hanya untuk kunjungan kekeluargaan.”

Ternyata memang Ki Ageng Lembu Sora seorang yang sombong. Ketika Mahesa Jenar membungkukkan diri menghormatnya atas perkenalan itu, ia mengangkat dadanya dan memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang merendahkan. Kemudian ia bertanya,

“Sahabat, adakah yang menarik perhatianmu, sampai kau datang dari jarak yang sedemikian jauhnya ke Banyubiru?”

Pertanyaan itu sungguh tidak menyenangkan. Tetapi bagaimanapun Mahesa Jenar adalah tamu yang sopan, maka ia mencoba untuk tidak mengesankan ketidak senangannya. Maka jawabnya, “Ki Ageng, memang banyak yang menarik perhatianku di sini. Terutama keramah-tamahan penduduknya.”

Lembu Sora menarik dagunya hampir melekat dadanya. Matanya menjadi berkilat-kilat. Rupanya ia merasakan sindiran halus yang diucapkan oleh Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak menjawab, sebab segera Gajah Sora yang bijaksana mengalihkan pembicaraan mereka ke hal-hal yang tak berarti. Namun bagaimanapun ada suatu kesan yang dalam menggores di dalam jantung Mahesa Jenar, bahwa Ki Ageng Lembu Sora bukanlah seorang yang baik hati. Dan sebenarnyalah bahwa memang orang ini telah banyak memusingkan kepala ayahnya. Ki Ageng Sora Dipayana. Andaikan Lembu Sora itu orang lain, maka mudahlah soalnya. Tetapi ia adalah anak Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora Dipayana. Di sinilah mulanya letak kesalahannya. Nyai Ageng Sora Dipayana dahulu terlalu memanjakan anak bungsunya, sehingga akhirnya anak ini susah diatur. Sedangkan Ki Ageng Sora Dipayana tidak mau mengecewakan istrinya, karena ia sangat menyayanginya.

Nyai Ageng Sora Dipayana adalah seorang istri yang setia, sejak Ki Ageng masih menjadi seorang yang harus mulai segala soal. Membuka hutan dan segala macam kerja yang harus dikerjakan dalam suasana sakit dan pedih. Pada keadaan yang demikian, satu-satunya orang yang bersedia membantunya adalah almarhum istrinya itu. Karena itu, meskipun sekarang istrinya sudah tidak ada lagi, Ki Ageng Sora Dipayana tidak sampai hati untuk berlaku keras kepada anak kesayangan istrinya itu. Setelah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah cukup lama turut serta menemui Ki Ageng Lembu Sora, segera ia minta diri untuk pergi berjalan-jalan, melihat-lihat kota Banyubiru. Ia tidak ingin lebih lama lagi bercakap-cakap dengan Ki Ageng Lembu Sora, yang tampaknya tak mau menghargai orang lain. Sebab ia sendiri bukanlah orang yang amat kuat menahan hati. Maka setelah ia mendapat izin dari tuan rumah, segera ia turun ke halaman dan berjalan keluar. Ia sama sekali tidak mempunyai tujuan kecuali sekadar menuruti langkah kakinya. Tetapi demikian ia keluar halaman, dilihatnya seorang yang berdiri bersandar dinding. Orang ini belum pernah dikenalnya. Beberapa orang Banyubiru yang dekat dengan Gajah Sora sudah hampir dikenal seluruhnya. Melihat Mahesa Jenar keluar, segera orang itu memutar tubuhnya dan berjalan perlahan-lahan menjauhi gerbang.

Mahesa Jenar menjadi agak curiga. Tetapi apakah yang akan dilakukan di siang hari, dimana sinar matahari yang mulai terik ini membakar seluruh halaman? Tetapi bagaimanapun, orang itu sangat menarik perhatiannya. Sehingga timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui maksud orang itu. Maka segera Mahesa Jenar pun berjalan mengikutinya dari jarak kira-kira 50 langkah. Ia menjadi semakin curiga ketika orang itu beberapa kali menengoknya dan mempercepat langkahnya. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terkejut melihat bayangan yang melayang dari sebatang pohon di pinggir jalan, langsung menyerang orang yang diikutinya. Ia menjadi bertambah terkejut ketika diketahuinya bahwa bayangan itu adalah Arya Salaka yang tak diketahui sebab-sebabnya menyerang orang yang berjalan di depan Mahesa Jenar itu. Ternyata orang itu pun bukan orang sembarangan. Dengan tangkasnya ia mengelakkan diri, bahkan sekaligus ia berputar sambil menyerang dengan tumitnya. Arya Salaka, ketika tidak berhasil menyerang orang itu dari atas pohon, rupanya menyadari bahwa lawannya berbahaya. Karena itu ia pun segera bersiap, sehingga ketika kaki lawannya melayang ke perutnya, ia meloncat mundur. Demikian kaki yang tak berhasil mengenainya itu berdesing di hadapan perutnya, Arya Salaka segera meloncat sambil menghantam dada orang itu.

Tetapi bagaimanapun Arya Salaka adalah seorang anak yang belum dewasa. Apalagi lawannya ternyata memiliki kecepatan bergerak, sehingga demikian Arya Salaka meloncat, demikian ia masuk ke dalam perangkap lawannya. Tangannya yang terjulur untuk menyerang itu dapat ditangkap dan dengan sekali gerak tangan itu dipilinnya. Tetapi Arya Salaka ternyata cerdik juga. Ia mengikuti saja putaran tangannya, tetapi demikian ia membelakangi orang itu demikian cepat ia menendangnya. Orang itu sama sekali tidak mengira bahwa anak-anak itu dapat berbuat demikian, sehingga karena hal yang sama sekali tak terduga-duga itu ia terlontar ke belakang dan tangkapannyapun lepas. Rupanya orang itu menjadi marah sekali. Matanya tampak berapi-api dan dengan tidak ragu-ragu lagi ia pun meloncat maju menghantam Arya Salaka. Gerakan itu demikian cepatnya sehingga Arya Salaka tidak sempat mengelak. Maka yang dapat dikerjakan hanyalah menangkis pukulan itu. BAGAIMANAPUN kuatnya, Arya Salaka adalah seorang anak yang sama sekali tak seimbang dengan lawannya. Maka demikian tangannya yang disilangkan di muka kepalanya itu terbentur tangan lawannya, ia terpental jauh dan hampir saja kepalanya membentur dinding halaman. Untunglah bahwa Mahesa Jenar dengan cepatnya meloncat dan menangkap Arya Salaka. Arya Salaka berdesis menahan sakit. Tangannya terasa panas seperti terbakar. Tetapi meskipun demikian ia masih saja akan meloncat maju kalau tidak ditahan oleh Mahesa Jenar, sehingga ia meronta-ronta berusaha melepaskan pegangan itu.

“Lepaskan…, lepaskan aku Paman,” teriak Arya Salaka.

Orang yang diserangnya itu rupanya juga benar-benar marah. “Lepaskan anak kurangajar itu, biar aku pecahkan kepalanya,” katanya.

“Tunggu dulu Arya…. Apakah sebabnya kau menyerang orang itu?” tanya Mahesa Jenar perlahan-lahan.

“Ia berjalan hilir-mudik dan mengintai-intai rumah kami. Mungkin ia seorang penjahat yang akan memasuki rumah kami ini,” jawabnya.

“Tutup mulutmu!” hardik orang itu.

“Tutup sendiri mulutmu,” balas Arya Salaka. “Selama ini, di kota ini tidak ada orang yang bertingkah laku seperti kau. Tak pernah kota ini ada kejahatan seperti kota-kota lain. Dan kau aku kira bukan orang Banyubiru, yang datang untuk membuat onar di sini.”

Mendengar makian Arya Salaka, orang itu tak dapat menahan diri lagi. Karena itu ia melangkah maju dan dengan tangannya yang kuat ia menampar muka Arya Salaka. Tetapi Arya Salaka sudah berada di tangan Mahesa Jenar. Karena itu sudah pasti kalau Mahesa Jenar tidak akan membiarkan begitu saja hal itu terjadi. Maka ketika tangan itu sudah terayun, Mahesa Jenar memutar tubuhnya dan memasang sikunya, sehingga tangan orang itu mengenai siku Mahesa Jenar. Mengalami perlakuan Mahesa Jenar, orang itu menjadi semakin marah.

“Apamukah anak ini…? Anakmu…? Kalau begitu kau tak pandai mengajar anakmu sehingga anakmu kurangajar,” bentaknya.

“Tunggu dulu…” jawab Mahesa Jenar, “Jangan berlaku kasar terhadap anak-anak. Memang barangkali anak ini terlalu nakal, tetapi biarlah orang tuanya yang mengajarnya. Seharusnya kau melaporkan saja kepada ayah bundanya. Sedang kau sendiri, memang dapat menimbulkan sangkaan yang bukan-bukan. Sikapmu agak mencurigakan.”

Wajah orang itu menjadi merah padam. Kata-kata Mahesa Jenar sangat menusuk perasaannya. Karena itu, hampir berteriak ia kembali membentak, “Apa hakmu berkata demikian. Adakah kau pengawal kota atau Kepala Daerah Perdikan ini?”

“Aku bukan apa-apanya,” jawab Mahesa Jenar, masih setenang tadi. “Tetapi tiap-tiap warga kota ini berhak turut serta menjaga keamanan kotanya. Dan bukankah kau bukan penduduk Banyubiru?”

Mata orang itu menjadi semakin berapi-api. Tetapi rupanya ada sesuatu pertimbangan yang menahannya untuk tidak berbuat sesuatu. Akhirnya ia berkata lantang, “Tak ada gunanya aku melayani orang-orang gila macam kau dan anak itu.” Lalu ia memutar tubuhnya, dan melangkah pergi. Tetapi kali ini Mahesa Jenar yang kemudian tidak membiarkan orang itu pergi. Ia segera menahannya.

“Nanti dulu, bukankah kau bermaksud melaporkan anak ini kepada ayahnya. Nah, marilah aku antar kau kepadanya. Ayah anak ini adalah Ki Ageng Gajah Sora,” kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, segera wajah orang itu berubah. Sebentar kemudian nampak ia menjadi pucat dan gemetar. Tetapi sebentar kemudian kembali wajahnya menyala-nyala. Kemudian kembali ia melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Melihat sikapnya, Mahesa Jenar bertambah curiga. Segera Arya Salaka dilepaskan dan didorongnya ke pinggir, sedangkan ia sendiri segera meloncat untuk menghadang orang yang dicurigainya itu.

“Tunggu dulu… urusan kita belum selesai,” katanya.

Terdengar gigi orang itu gemeretak menahan marah. Sikap Mahesa Jenar dirasa sudah keterlaluan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menghindari bentrokan. “Tidak ada persoalan diantara kita, sebaiknya kau jangan memulainya,” kata orang itu.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu segera tertarik dan mengerumuninya. Mereka mengenal Mahesa Jenar sebagai sahabat Ki Ageng Gajah Sora. Beberapa orang diantara mereka bertanya-tanya, apakah yang terjadi…? Belum lagi Mahesa Jenar sempat menjawab, Arya Salaka telah mendahului berceritera dengan suara yang mengalir seperti air terjun.

Orang itu menjadi semakin gelisah, wajahnya kembali menjadi pucat. “Jangan dengarkan omongan anak itu. Sekarang beri aku jalan,” katanya.

“Ki Sanak…” potong Mahesa Jenar, “kenapa kau begitu tergesa-gesa. Sebaiknya kau memperkenalkan dirimu kepada penduduk Banyubiru ini supaya mata mereka tidak menyorotkan pandangan kecurigaan.”

ORANG itu sekarang sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya karena putus asa. Ia tidak mendapat kesempatan untuk meninggalkan tempat itu begitu saja. Matanya berubah menjadi liar dan mencari tempat-tempat yang lemah, di mana ia mungkin menerobos untuk melarikan diri. Tetapi orang yang mengerumuninya itu seolah-olah sengaja mengepungnya rapat-rapat. Setelah orang itu tidak dapat melihat kemungkinan itu tiba-tiba ia menarik keris yang terselip di bawah bajunya. Maka dengan suara yang parau ia berteriak,

“Minggir, atau aku terpaksa membunuh kalian.”

Melihat orang itu menarik kerisnya, beberapa orang yang mengerumuninya surut ke belakang. Tetapi mereka sama sekali tidak takut. Orang Banyubiru bukanlah sebangsa penakut. Kalau mereka mundur hanyalah supaya ada jarak cukup dapat bertindak tepat. Apalagi Mahesa Jenar. Ia sama sekali tak berkisar dari tempatnya.

“Janganlah bermain-main dengan benda yang demikian, sebab senjata hanyalah mendatangkan bencana, terutama bagi yang membawanya,” kata Mahesa Jenar sambil tersenyum.

“Diam…!” teriak orang itu semakin putus asa. “Pergi kau, atau biarkan aku pergi.”

Orang itu selangkah mendekati Mahesa Jenar dengan keris terhunus. Melihat orang itu mendekati Mahesa Jenar, beberapa orang bergerak pula. Mereka masih belum tahu sampai di mana kemampuan bertindak Mahesa Jenar, sehingga penduduk Banyubiru merasa perlu untuk melindungi tamu mereka. Tetapi Mahesa Jenar masih saja berdiri di tempatnya. Sementara itu terdengarlah beberapa orang keluar dari halaman. Mereka ternyata Ki Ageng Gajah Sora, Ki Ageng Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya. Ketika mereka mendengar ribut-ribut di luar, mereka ingin pula mengetahuinya. Dan ternyata Arya Salaka telah berlari memberitahukan persoalan itu kepada ayahnya. Orang-orang yang berdiri berkerumun segera menyibak, ketika mereka melihat kepala daerah mereka datang. Melihat orang-orang berdatangan, orang yang mencurigakan itu menjadi semakin pucat, dan semakin kebingungan. Tiba-tiba terjadilah suatu hal yang tidak terduga-duga. Ketika Ki Ageng Lembu Sora melihat orang itu, matanya menjadi merah menyala. Dan tidak seorang pun yang mengira bahwa Lembu Sora secepat kilat menarik kerisnya dan sambil berteriak ia meloncat menikam perut orang itu.

“Orang inikah yang telah berani menganiaya putra Kakang Gajah Sora?” katanya.

Gerakan Lembu Sora terlalu cepat sehingga tak seorang pun dapat mencegahnya. Orang itu terdorong mundur beberapa langkah. Cepat-cepat tangannya memegang perutnya yang terluka, dan kerisnya sendiri terlepas jatuh. Tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan, sedang wajahnya memancarkan rasa heran dan kemarahan yang tak terhingga. Ia memandangi Lembu Sora dengan matanya yang semakin pucat. Dari sela-sela jarinya mengalir gumpalan-gumpalan darah cair. Bibirnya yang menjadi putih itu bergerak-gerak, tetapi tak sepatah katapun terucapkan, sampai akhirnya ia tersungkur dan tak bernafas lagi. Kemudian terdengarlah suara-suara yang tidak jelas dari beberapa orang yang menyaksikan dengan penuh keheranan atas kejadian itu. Mereka semua sudah mengenal bahwa Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora, tetapi mereka sama sekali tidak membayangkan bahwa adik Gajah Sora dapat bertindak sekasar itu terhadap seseorang yang belum jelas kesalahannya. Apalagi Mahesa Jenar dan Gajah Sora sendiri, yang menjadi kurang senang atas tindakan Lembu Sora.

“Kau terlalu tergesa-gesa Adi Lembu Sora,” kata Gajah Sora.

“Maafkan aku Kakang….” jawab Lembu Sora. “Aku terlalu tidak dapat menahan hati terhadap orang yang menganiaya putra Kakang. Sebab aku sendiri mempunyai seorang anak yang sebaya dengan Arya, yaitu Sawung Sariti, sehingga aku merasa bahwa tindakan yang kasar terhadap anak-anak adalah tindakan yang paling terkutuk.”

Gajah Sora menarik alisnya. Kemudian diperintahkannya beberapa orang untuk mengurusi jenazah itu, sedang beberapa orang yang lain supaya mencari keluarganya, apabila mungkin. Setelah semuanya mulai dikerjakan, Gajah Sora dan Lembu Sora serta para pengiringnya masuk kembali. Mahesa Jenar masih saja berdiri diantara mereka yang sedang menyelesaikan penguburan jenazah itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai masalah. Tadi ia sempat meneliti wajah Lembu Sora lebih saksama. Matanya yang berapi-api, bibirnya yang agak tebal dan selalu tertarik ke bawah bagian-bagian tepinya, menunjukkan bahwa ia benar-benar orang yang tidak tanggung-tanggung. Yang dapat membunuh orang, asal ia mau, dan sesudah itu dapat melupakannya dengan sekaligus seperti tak terjadi apa-apa. Tetapi bagaimanapun, apa yang baru dilakukan adalah tindakan yang kasar sekali. Tiba-tiba Mahesa Jenar mendapat pikiran lain. Apakah hal itu cukup kuat sebagai suatu alasan untuk membunuh. Tidak mungkinkah kalau pembunuhan itu dilakukan karena ada sebab-sebab lain…?.

Sementara itu datanglah Arya Salaka mendekatinya. Wajahnya tampak tidak seriang biasanya. “Aku menyesal Paman. Aku tidak mengira bahwa orang itu akan mengalami nasib terlalu buruk, sehingga Paman Lembu Sora membunuhnya,” bisiknya kepada Mahesa Jenar.

“Sudahlah, Arya… lain kali jangan terlalu nakal. Untunglah aku melihat kau berkelahi. Kalau tidak, barangkali kepalamu tadi sudah terbentur dinding,” jawabnya.

“Mula-mula aku hanya ingin mengetahui, apakah yang akan dilakukan orang itu, Paman,” katanya. “Kelakuannya nampak aneh. Dan aku tidak sempat memberitahukan kepada siapapun.”

“Sudah pernahkah kau melihat orang itu sebelumnya?” tanya Mahesa Jenar.

“Belum. Yang pasti ia bukan orang Banyubiru. Aku hampir mengenal semua orang di kota ini,” jawabnya.

MAHESA JENAR merenung sejenak. Lalu katanya, “Sudahlah, lupakan itu. Marilah kita sekarang berjalan-jalan. Barangkali kau dapat menunjukkan tempat-tempat yang belum pernah aku lihat.” Maka kembali Mahesa Jenar berjalan-jalan tanpa tujuan. Kali ini ia pergi bersama Arya Salaka yang nakal. Diajaknya Mahesa Jenar mendaki lereng bukit Telamaya.

“Dari sana Paman dapat melihat seluruh dataran Tanah Rawa,” kata Arya Salaka.

“Dari Banyubiru, dataran itu juga dapat dilihat, Arya,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi pandangan kita tidak seluas apabila kita berdiri di sana” bantah Arya Salaka.

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Memang ia sama sekali tidak mempunyai tujuan. Jadi ke mana saja pergi, bagi Mahesa Jenar adalah sama saja. Sampai di lereng bukit yang agak tinggi, mereka berdua dapat melihat hampir seluruh dataran. Tanah-tanah yang subur dengan padinya tampak seperti permadani kuning yang dibentangkan di bawah kaki mereka. Sedang di bagian timur tampak Rawa Pening berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari. Tiba-tiba mata Mahesa Jenar yang tajam tertarik pada beberapa titik yang bergerak-gerak. Titik-titik itu terlalu kecil, tetapi mata Mahesa Jenar segera dapat mengenalnya bahwa titik-titik itu adalah orang-orang berkuda.

“Kau lihat titik-titik yang bergerak-gerak itu?” tanya Mahesa Jenar kepada Arya Salaka.

“Yang mana Paman?” tanya Arya Salaka sambil berusaha mempertajam pandangan matanya.

“Di sebelah selatan rawa itu,” jawab Mahesa Jenar.

Akhirnya Arya Salaka dapat melihatnya pula. “Ya…, aku melihatnya, Paman,” katanya.

“Kau tahu, apakah itu kira-kira?” tanya Mahesa Jenar.

Arya mengernyitkan alisnya. “Entahlah,” jawabnya.

“Itu adalah orang-orang berkuda,” kata Mahesa Jenar.

“Orang-orang berkuda?” tanya Arya. Rupanya ia sangat tertarik. “Di sini memang sering ada orang-orang berkuda. Tetapi yang bergerombol demikian adalah jarang sekali. Berapa orang kira-kira mereka, Paman?”

Mahesa Jenar mengamat-amati sejenak, lalu katanya, “Ya, antara sepuluh orang.

Tiba-tiba wajah Arya Salaka berubah. Pasti terpikir sesuatu olehnya. Maka berkatalah ia, “Paman, marilah kita lihat, siapakah mereka itu.”

Mahesa Jenar tersenyum. “Jarak itu tidak terlalu dekat Arya, belum tentu lewat tengah hari kita sampai ke sana. Bukankah jalan menuju ke tempat itu berkelok-kelok?”

“Kita pulang dahulu. Lalu kita ambil kuda, dan pergi ke sana,” Arya menjelaskan maksudnya.

Arya tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar, tetapi terus saja menghambur lari menuruni tebing. Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain kecuali mengikutinya. Memang sebenarnya ia pun tertarik pada rombongan orang-orang berkuda yang datang dari arah timur itu. Ketika Mahesa Jenar sampai di luar dinding halaman rumah Arya, ia melihat Arya sudah menunggunya dengan dua ekor kuda. Yang seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu. Ketika Mahesa Jenar menghampirinya, segera Arya menyerahkan kuda yang berwarna abu-abu itu kepadanya.

“Mudah-mudahan tamasya ini menyenangkan Paman,” kata Arya sambil meloncat ke atas punggung kudanya. Kemudian tanpa menunggu Mahesa Jenar, ia telah memacu kudanya. Mahesa Jenar segera menyusul sambil menggerutu di dalam hati, Memang anak ini nakal sekali.

Sebentar kemudian kuda-kuda itu telah menuruni jalan-jalan perbukitan, dan segera mencapai jalan yang menuju ke Rawa Pening. Debu yang dihamburkan oleh kaki-kaki kuda itu bergulung-gulung di terik matahari. Berkali-kali Mahesa Jenar yang berjalan di belakang menghapus wajahnya, yang rasanya bertambah tebal oleh debu yang melekat. Setelah mereka berkuda beberapa saat, tampaklah jauh di depan mereka debu yang berhambur-hamburan. Segera Arya memperlambat kudanya sampai Mahesa Jenar berjalan di sampingnya.

“Itukah mereka Paman?” tanya Arya Salaka.

“Ya, itulah mereka,” jawab Mahesa Jenar.

“Lalu apa yang akan kami lakukan?” tanya Arya lagi.

“Terserahlah kepadamu,” jawab Mahesa Jenar tersenyum. “Bukankah aku hanya mengikutimu?”

Arya mengerutkan keningnya. Ia mencoba untuk mengingat-ingat, apakah yang mendorongnya untuk pergi. Tetapi yang ditemukannya hanyalah suatu keinginan untuk mengetahui semata-mata. Sesudah itu tidak ada apa-apa lagi. Karena itu ia menjadi bingung mendengar jawaban Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar menangkap kesan itu. Lalu katanya, “Arya, lain kali pikirkan dahulu sebelum kau bertindak, supaya kau tidak mudah terjerat dalam suatu bahaya. Sekarang aku kau bawa ke dalam suatu tindakan yang tak kau ketahui sendiri maksudnya.”

Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan penuh kesibukan di dalam hati. Tetapi ketika ia melihat kesan wajah Mahesa Jenar, segera ia berkata hampir berteriak “Paman, jangan Paman mengganggu. Aku sudah kebingungan.”

Kembali Mahesa Jenar tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab, sehingga kembali Arya bertanya, “Aku akan tidak berbuat lagi Paman. Tetapi bagaimana sekarang?”

Akhirnya Mahesa Jenar kasihan juga melihat Arya bingung. Maka katanya, “Kenapa kau menjadi bingung? Bukankah biasa saja kalau kita berjalan berpapasan? Apa halangannya?”

Jawaban Mahesa Jenar yang sederhana itu telah membuat Arya menjadi geli sendiri. Katanya dalam hati, “Ya kenapa aku bingung. Bukankah benar kata Paman Mahesa Jenar itu…?.”

AKHIRNYA Arya Salaka tertawa sendiri. Tetapi tanpa disadarinya sendiri otaknya yang tangkas dapat mengikuti jalan pikiran Mahesa Jenar. Dengan berpapasan saja sudah dapatlah kiranya didapat kesan mengenai orang-orang berkuda itu. Orang-orang berkuda itu semakin lama jaraknya menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar masih selalu cemas atas tindakan-tindakan Arya yang kadang-kadang tak terkendalikan itu.

“Arya, terhadap orang-orang yang sama sekali belum kau kenal, jangan berbuat sebelum kau ketahui beberapa hal lebih dahulu. Juga terhadap orang-orang berkuda itu. Kita berjalan biasa saja dan jangan menimbulkan kesan yang menarik perhatian mereka, supaya mereka tidak bercuriga,” kata Mahesa Jenar memperingatkan Arya.

Arya memalingkan kepalanya. Sambil tersenyum ia menjawab, “Aku sudah berjanji Paman, untuk tidak melanggar nasehat-nasehat Paman.”

Orang-orang berkuda itu sudah demikian dekat, dan sebentar kemudian mereka telah bersilang jalan. Ternyata mereka terdiri sekitar 10 orang dan bersenjata lengkap. Mereka pada umumnya bertubuh tegap dan gagah. Wajah-wajah mereka tampak keras dan mengandung sifat-sifat yang kurang menyenangkan. Ketika mereka berpapasan, 10 pasang mata itu bersama-sama mengawasi Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Untunglah Arya Salaka tidak berbuat sesuatu yang menarik perhatian sehingga mereka biarkan saja anak itu lewat bersama seseorang yang mungkin dianggap bapaknya. Tetapi dalam waktu yang sekejap itu banyak artinya bagi Mahesa Jenar. Orang-orang itu pastilah mempunyai maksud yang tidak baik. Kedatangan mereka di daerah Perdikan Banyubiru dengan senjata lengkap, pasti mempunyai hubungan dengan keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sebab bagaimanapun hal itu disekapnya sebagai suatu rahasia, namun tidaklah mustahil bahwa Sima Rodra sendirilah yang dengan sengaja meniup-niupkan berita bahwa Nagasasra dan Sabuk Inten berada di Banyubiru. Hal ini harus segera diketahui oleh Ki Ageng Gajah Sora.

“Paman…, kemana kita sekarang?” Tiba-tiba suara Arya mengejutkan Mahesa Jenar yang sedang sibuk berpikir.

Mahesa Jenar segera menoleh ke belakang. Orang-orang berkuda itu telah agak jauh di belakang mereka. “Ke manakah jalan ini Arya?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku belum pernah berjalan jauh lewat jalan ini, Paman,” jawab Arya. “Tetapi kata ayah, jalan ini menuju ke Pajaten dan kemudian lewat daerah hutan akan sampai ke jalan silang ke Bergota setelah membelok kembali ke arah barat.”

Mahesa Jenar tampak berpikir sejenak. Kemudian ia bertanya lagi, “Adakah simpangan yang dapat menghubungkan kembali dengan Banyubiru tanpa mengambil jalan yang kita lewati tadi?”

“Aku belum tahu, Paman,” jawab Arya.

“Kita berhenti sebentar Arya,” kata Mahesa Jenar sambil menarik kekang kudanya. Arya juga segera menghentikan kudanya. “Arya…,” kata Mahesa Jenar, “Kita harus segera kembali. Kalau mungkin lewat jalan lain. Sebab kalau kita mengambil jalan yang sama, pasti akan menimbulkan kecurigaan orang-orang berkuda itu sehingga mungkin mereka akan berbuat sesuatu atas kita.”

Arya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rupanya ia dapat mengerti keterangan Mahesa Jenar. Tiba-tiba hampir berteriak ia berkata, “Paman… aku pernah pergi berburu bersama ayah. Kami mendaki lereng bukit ini lewat lorong sempit yang biasa dilewati orang mencari kayu. Aku tidak tahu apakah aku dapat menemukan jalan itu kembali. Tetapi yang masih aku ingat, kami lewat di sebelah randu alas raksasa yang tampak itu, Paman.”

Mahesa Jenar memandang ke arah pohon raksasa yang ditunjukkan oleh Arya. Pohon itu terletak di tengah-tengah hutan yang tidak begitu lebat di lereng bukit itu. “Mungkinkah orang-orang tadi juga akan pergi berburu, Arya…?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku kira tidak, Paman. Sebab perlengkapan mereka sama sekali bukan perlengkapan orang berburu,” jawab Arya.

Diam-diam Mahesa Jenar memuji kecerdasan otak anak itu. Katanya kemudian, “Beranikah kau mencoba membawa aku bertamasya ke bawah pohon itu?”

Arya berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Marilah kita coba, Paman. Bila kita dapat mencapai pohon itu jalannya akan lebih mudah untuk mencapai Banyubiru. Sebab lorong di bawah pohon itu akan tembus sampai ke Sendang Muncul. Kalau sudah sampai di sendang itu sambil memejamkan mata aku dapat menuntun Paman sampai ke rumah ayah.”

“Kau terlalu sombong Arya,” potong Mahesa Jenar sambil tersenyum. “Sebaiknya kita coba saja. Tetapi kalau kau tidak berhasil membawa aku sampai ke rumahmu, awas. Aku tidak mau lagi bermain gundu.”

Arya tidak menjawab lagi. Tetapi segera ia menarik kekang kudanya dan memutarnya untuk seterusnya meloncat menyusup hutan yang tidak begitu lebat di lereng timur pegunungan Telamaya. MAHESA JENAR pun segera mengikuti Arya. Sebenarnya ia sama sekali tidak sangsi lagi setelah Arya dapat menunjukkan ancar-ancar untuk mencapai Banyubiru. Sebab baginya sama sekali tidak akan menemui kesulitan untuk mencapai pohon randu alas raksasa itu. Meskipun demikian sengaja ia berjalan di belakang untuk memberi kesempatan kepada anak Ki Ageng Gajah Sora itu. Ternyata Arya sama sekali tidak mengecewakan. Dengan tangkasnya ia mengendalikan kudanya ke arah yang benar, meskipun sekali-sekali kuda itu harus berjalan sangat berhati-hati kalau sedang mendaki tebing yang terjal.Akhirnya setelah beberapa lama mereka menyusup semak-semak dan belukar yang tidak begitu tebal, akhirnya dengan bangga Arya berkata,

“Inilah Paman, Arya telah dapat menemukan jalan.”

Mahesa Jenar tersenyum melihat wajah Arya yang lucu. Maka katanya, “Kau memang seorang pemburu yang hebat, Arya. Binatang-binatang buruanmu pasti tidak akan dapat melepaskan diri kalau kau sedang memburunya.”

Di luar dugaan Mahesa Jenar, tampak wajah Arya tiba-tiba merengut. “Hanya itukah, Paman…? Tidakkah aku dapat menjadi lebih baik daripada seorang pemburu? Ayah mengharap bahwa aku akan dapat menjadi seorang pahlawan.”

Kata-kata Arya itu sangat mengejutkan Mahesa Jenar. Ia tidak mengira bahwa di dalam dada anak itu telah tertanam suatu cita-cita yang sedemikian besarnya. Kembali Mahesa Jenar kagum, tidak hanya kepada anak itu, tetapi sekaligus Ki Ageng Gajah Sora yang telah berhasil mencetak pola cita-cita hari depan anaknya. Saat yang demikian, kembali mengetuk perasaan Mahesa Jenar tentang gambaran masa depannya sendiri. Tak seorang pun yang akan dapat melanjutkan cita-citanya. Kalau pada suatu ketika ia sudah tidak dapat lagi menggerakkan tangannya serta tak dapat lagi melangkahkan kakinya, maka ia akan terpencil dari segenap percaturan. Dan tak seorang pun akan berkata, Aku adalah keturunan Mahesa Jenar, dan ayahku mengharap aku menjadi seorang pahlawan. Apakah artinya perjuangan masa kini, apabila perjuangan itu tidak dapat tanggapan dari masa depan? Pastilah apa yang telah dihasilkan atas cucuran keringat dan darah itu satu persatu akan lenyap seperti lenyapnya batu dari permukaan air. Hilang. Tenggelam ditelan bergolaknya gelombang sejarah. Tiba-tiba Mahesa Jenar tersadar oleh suara Arya yang masih belum puas ketika Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaannya.

“Benarkah begitu Paman, bahwa suatu waktu aku akan dapat menjadi seorang pahlawan?” tanya Arya.

“Tentu, tentu… Arya. Kau akan menjadi seorang pahlawan,” jawab Mahesa Jenar cepat-cepat.

Tampaklah Arya Salaka mengangguk puas. “Nah, sekarang kita tinggal menuruti lorong sempit ini untuk mencapai Sendang Muncul,” sambung Arya Salaka.

“Marilah Arya, kau berjalan di depan,” jawab Mahesa Jenar.

Segera Arya dan Mahesa Jenar melanjutkan perjalanannya menuju ke Sendang Muncul. Tetapi di sepanjang perjalanan itu Mahesa Jenar tidak dapat melepaskan diri dari gangguan gagasannya mengenai masa depannya. Tiba-tiba belum beberapa lama mereka berjalan, Arya Salaka menghentikan kudanya. Matanya tertambat pada sesuatu di atas tanah, di jalan yang sedang dilaluinya. Tetapi belum lagi ia mengucapkan sesuatu, Mahesa Jenar telah melihat telapak-telapak kuda di lorong sempit itu. Telapak-telapak itu muncul dari dalam belukar di tepi lorong itu dan beberapa langkah setelah mengikuti lorong itu, kemudian lenyap pula ke seberang yang lain.

“Telapak-telapak kuda Paman,” desis Arya.

Mahesa Jenar menganggukkan kepala. Ia mencoba untuk mengetahui adakah telapak-telapak kuda itu ada hubungannya dengan orang-orang berkuda yang baru saja berpapasan jalan. Menilik arahnya, maka tidaklah mungkin bahwa telapak telapak ini adalah telapak kaki-kaki kuda yang dijumpainya tadi. Jumlahnya juga tidak sesuai. Telapak-telapak ini tidak lebih dari lima ekor kuda. Maka segera ia mendapat firasat bahwa bahaya yang besar telah mendatangi kota ini. Karena itu katanya kepada Arya,

“Arya… mungkin ada bahaya di sekitar kita, karena itu marilah kita pulang. Mungkin ada gunanya kita membicarakan hal ini dengan ayahmu.”

Rupanya Arya mengerti pula. Karena itu sambil mengangguk ia mempercepat jalan kudanya. Ketika matahari telah melampaui titik tengah, mereka sampai di Sendang Muncul. Dari sana mereka dapat menaburkan pandangan ke dataran di muka lambung pegunungan itu. Tetapi mereka sama sekali tidak melihat lagi orang-orang berkuda yang dijumpainya tadi. Pasti mereka telah membelok masuk hutan. Hal ini juga merupakan suatu pertanda yang berbahaya. Mungkin tapak-tapak kuda yang dijumpainya itu juga berasal dari orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi. Karena itu maka mereka berdua segera melanjutkan perjalanan pulang, untuk menyampaikan apa yang telah mereka lihat itu kepada Ki Ageng Gajah Sora. Sampai di rumah, segera mereka menambatkan kuda-kuda mereka di belakang dapur, dan sesudah itu mereka langsung pergi ke pendapa. Ki Ageng Gajah Sora ketika melihat kedatangan Mahesa Jenar segera mempersilahkannya. Pada saat itu Ki Ageng Gajah Sora dan Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya sedang duduk bercakap-cakap di pendapa. Sikap Ki Ageng Lembu Sora masih saja tidak menyenangkan bagi Mahesa Jenar. Meskipun demikian Mahesa Jenar sama sekali tak menunjukkan ketidak senangannya.

“Sudahkah Adi berkeliling sampai ke segala sudut?” tanya Ki Ageng Gajah Sora.

“Sudah Kakang,” jawab Mahesa Jenar. “Bahkan aku telah sampai agak jauh ke sebelah timur. Aku dibawa Arya sampai ke pohon randu alas raksasa, yang katanya, ia pernah mengikuti Kakang berburu ke sana.”

“Kau bawa Pamanmu sampai ke kediaman Kaki Klantung itu Arya?” tanya Gajah Sora kepada anaknya.

“YA…, Ayah…,” jawab Arya yang rupanya akan berceritera lebih banyak lagi, tetapi segera disahut oleh Mahesa Jenar,

“Jadi randu alas itu terkenal dengan tempat kediaman Kaki Klantung?”

“Begitulah kata orang,” jawab Gajah Sora.

“Di perjalanan, kami bertemu dengan beberapa orang pemburu. Yang pertama kami bertemu dengan 10 orang, lalu di sebelah randu alas itu kami temui telapak-telapak kaki kuda, kira-kira sebanyak lima ekor,” sambung Mahesa Jenar.

Mendengar keterangan Mahesa Jenar, Ki Ageng Gajah Sora mengerutkan keningnya. Terbayang pada wajahnya, perasaan yang kurang wajar. Arya memandang wajah Mahesa Jenar dengan keheran-heranan. Mahesa Jenar tahu betul bahwa yang mereka jumpai bukanlah pemburu-pemburu. Tetapi meskipun demikian ia sama sekali tidak berkata apa-apa. Ia tidak tahu, apakah maksud Mahesa Jenar dengan berkata demikian.

“Suatu kehormatan bagiku,” tiba-tiba Ki Ageng Gajah Sora berkata, “Sekian banyak pemburu-pemburu telah memerlukan datang berburu ke wilayah Banyu Biru. Memang sebelum ini, sering benar orang pergi berburu babi hutan. Tetapi sekian banyak orang sekaligus adalah suatu hal yang jarang-jarang sekali terjadi.”

Sementara itu, Mahesa Jenar selalu berusaha untuk memperhatikan wajah Ki Ageng Lembu Sora. Tetapi ternyata wajah itu tidak menunjukkan perubahan. Ia mendengarkan saja percakapan Mahesa Jenar dengan Gajah Sora tanpa menaruh perhatian apa-apa. Ketika udara menjadi semakin panas, maka Ki Ageng Lembu Sora beserta para pengiringnya dipersilakan beristirahat di gandok kulon, sedang Mahesa Jenar dipersilakan untuk makan siang bersama Arya, sebab yang lain telah mendahuluinya. Sementara Mahesa Jenar makan, ia sempat melihat kesibukan Gajah Sora. Rupanya laporannya menarik perhatiannya. Ia memerintahkan beberapa orang untuk melihat lihat keadaan kota di bagian timur, sedang beberapa orang lain diperintahkan untuk mengelilingi bagian kota yang lain. Sesudah makan, Mahesa Jenarpun segera kembali ke ruangnya di gandok wetan. Tetapi baru saja ia membaringkan dirinya, didengarnya seseorang mendatanginya. Ternyata orang itu adalah Ki Ageng Gajah Sora.

“Adi…” kata Gajah Sora sambil duduk di atas bale-bale panjang di sisi tempat berbaring Mahesa Jenar. “Aku sangat tertarik kepada ceriteramu.”

Mahesa Jenar pun segera bangkit. “Memang, orang-orang yang aku jumpai itu menarik perhatian, Kakang,” jawabnya.

“Bagaimanakah pertimbanganmu tentang orang-orang itu, Adi?” tanya Gajah Sora.

“Kesannya kurang baik,” jawab Mahesa Jenar. “Dan rupa-rupanya Kakang telah mengambil tindakan yang benar. Memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Mereka, orang-orang berkuda itu, aku kira sedang berada di hutan-hutan, menanti saat untuk bertindak. Tetapi aku tidak tahu apakah yang akan mereka lakukan.”

“Limabelas orang adalah jumlah yang kecil, Adi,” kata Gajah Sora. “Tetapi mungkin tidak hanya itu. Dan apabila mereka dikendalikan oleh tangan yang baik, maka akibatnyapun besar pula. Nah, baiklah kita tunggu laporan orang-orangku sambil berjaga-jaga. Sekarang aku persilakan Adi beristirahat.”

Kembali Mahesa Jenar ditinggalkan seorang diri di dalam ruang itu. Ia mencoba membayangkan kembali wajah-wajah orang-orang berkuda yang ditemuinya tadi. Pastilah sesuatu akan terjadi di kota ini. Terbayanglah dalam angan-angannya beberapa puluh orang berkuda sedang merayap-rayap mendekati kota, yang selanjutnya pasti akan membuat keributan. Kalau mereka merasa cukup kuat, mungkin mereka akan menyerbu rumah ini untuk mengambil Keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Sejenak kemudian Mahesa Jenar mendengar derap kuda memasuki halaman. Dari celah-celah pintu yang tidak tertutup rapat, ia dapat melihat Wanamerta dengan beberapa orang pengiring memasuki halaman. Meskipun Wanamerta telah lanjut usia, tetapi nampaklah betapa tangkasnya ia meloncat turun dari kudanya. Dengan langkah yang tergesa-gesa, Wanamerta naik ke pendapa untuk menemui Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi sejenak kemudian ia telah turun kembali. Dipanggilnya beberapa orang pengiringnya untuk diberi perintah-perintah. Setelah itu segera orang-orangnya meloncat ke atas kuda masing-masing dan sekejap kemudian mereka telah lenyap di balik regol halaman.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Ia lega melihat kecepatan bertindak Gajah Sora. Tetapi ia sama sekali tidak berani mencampurinya apabila tidak diminta. Ketika orang-orang itu telah pergi, Wanamerta kembali ke pendapa, untuk mengadakan pembicaraan-pembicaraan dengan Ki Ageng Gajah Sora. Sementara itu wajah langit di sebelah barat mulai membayang cahaya kemerah-merahan. Dan sejalan dengan semakin rendahnya matahari, hati Mahesa Jenar menjadi semakin tegang pula. Teringat jelas kata-kata Sima Rodra tua bahwa ia sama sekali belum melepaskan keinginannya untuk memiliki kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Mahesa Jenar mulai menghubung-hubungkan, apakah orang-orang berkuda itu mempunyai hubungan dengan kata-kata Sima Rodra itu. Belum lagi ia mendapat suatu kesimpulan apapun, maka masuklah seseorang ke dalam ruangannya untuk meminta Mahesa Jenar naik ke pendapa.

Di dalam pendapa itu ternyata telah hadir pula kecuali Wanamerta, juga Ki Ageng Lembu Sora dan beberapa orang pengiringnya. Juga tampak beberapa orang pembantu Gajah Sora dalam melakukan tugasnya sebagai kepala daerah perdikan. Menghadapi beberapa tokoh itu, Mahesa Jenar teringat pada masa-masa ia masih menjadi seorang prajurit. Sesudah itu, ia biasa menghadapi setiap masalah seorang diri. Dan sekarang ia akan menghadapi suatu masalah, dimana ia tidak berdiri sendiri. Karena itu disamping ketegangan yang ada di dalam hatinya, sedikit membersit kegembiraannya pula. TERNYATA Ki Ageng Gajah Sora pada saat itu sedang membicarakan masalah orang-orang berkuda yang berada di sekitar kota. Orang-orang berkuda itu tidak saja datang dari arah timur seperti yang ditemui oleh Mahesa Jenar, tetapi menurut laporan, orang-orang berkuda semacam itu datang pula dari arah barat. Maka jelaslah sudah bahwa mereka mempunyai maksud yang jahat. Pada pertemuan itu Mahesa Jenar mendengar pula kesediaan Ki Ageng Lembu Sora untuk tidak pulang pada hari itu. Ia bermaksud untuk turut serta berjaga-jaga apabila ada hal-hal yang tidak dikehendaki.

“Adi Mahesa Jenar… sebenarnya aku tidak mau mengganggu kesenangan Adi di Banyu Biru ini sebagai seorang tamu. Tetapi tiba-tiba keadaan orang-orang itu mendatangi daerah yang tak berarti sama sekali ini. Kalau mereka bermaksud merampas harta benda, maka di daerah miskin ini sama sekali akan mengecewakan mereka. Tetapi bagaimanapun kami terpaksa mempertahankan diri terhadap apapun yang pernah kami miliki,” kata Gajah Sora beberapa saat kemudian.

Kata-kata itu tegas bagi Mahesa Jenar. Meskipun Gajah Sora tidak menyebut-nyebut tentang kedua pusaka simpanannya, tetapi ia telah minta kepada Mahesa Jenar untuk bersama-sama mempertahankan pusaka-pusaka itu. Sementara itu, terdengarlah derap kuda dengan kencangnya berlari memasuki halaman. Seorang pemuda yang tegap kuat segera menghentikan kuda itu dan langsung meloncat turun. Dengan langkah yang tergesa-gesa ia naik ke pendapa menghadap Ki Ageng Gajah Sora. Menilik wajahnya, pasti ia membawa sesuatu berita yang penting. Untuk beberapa lama ia tidak berkata apa-apa sambil memandangi orang-orang yang hadir. Tampaknya ia ragu-ragu untuk menyampaikan sesuatu. Ki Ageng Gajah Sora melihat keragu-raguannya, maka katanya,

“Katakanlah apa yang telah kau lihat.”

“Ki Ageng…” katanya di sela-sela nafasnya yang mengalir cepat, “Pasukan Paman Sanepa telah terlibat dalam suatu pertempuran dengan kira-kira 30 orang berkuda yang datang dari arah barat.”

“Tigapuluh…?” ulang Gajah Sora.

“Ya, Ki Ageng,” jawab pemuda itu.

“Berapa orang yang dibawa oleh pamanmu?” tanya Ki Ageng.

“25 Orang, Ki Ageng,” jawabnya.

“Seimbang,” kata Ki Ageng. “Tetapi kau boleh membawa orang-orang Sanjaya bersamamu. Nah, pergilah. Di sana ada 10 orang.”

“Baik, Ki Ageng.” Lalu dengan tangkasnya ia meloncat turun dan dengan kecepatan luar biasa, ia naik ke punggung kudanya. Sekejap kemudian derap kuda itu telah semakin jauh dan lenyap.

“Kita sudah mulai,” kata Gajah Sora yang tampaknya masih tenang saja.

“Kakang Wanamerta,” sambung Gajah Sora, “Suruhlah membunyikan tanda bahaya, supaya orang-orang kita di segenap arah mempersiapkan diri dan mengerti bahwa di salah satu sudut kota ini telah terjadi bentrokan.”

Wanamerta segera memerintahkan seorang untuk membunyikan tanda bahaya. Dan sebentar kemudian telah meraung-raung hampir di seluruh kota Banyubiru, bunyi titir yang bersahut-sahutan. Orang-orang yang duduk di pendapa itu wajahnya menjadi bertambah tegang. Mereka masih menanti perintah, apakah yang harus mereka kerjakan. Tetapi Ki Ageng Gajah Sora sendiri dapat melakukan tugasnya dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Pada saat itu gelap malam telah mulai turun. Batang-batang pohon di halaman menjadi semakin kabur diselubungi oleh kehitaman malam yang bertambah pekat. Tiba-tiba di daerah utara tampaklah langit berwarna darah. Disusul oleh bunyi kentongan tiga kali lima kali ganda, berturut-turut.

“Kebakaran,” kata Wanamerta.

Dengan mata yang memancarkan kemarahan Ki Ageng Gajah Sora memandang kearah langit yang membara diarah utara itu. Tetapi meskipun demikian ia masih bersikap tenang.

“Siapakah yang berada di sana?” tanya Gajah Sora kepada Wanamerta.

“Adi Pandan Kuning,” jawab Wanamerta singkat.

“Pandan Kuning…?” ulang Gajah Sora.

“Ya.”

“Kalau begitu mereka pasti terdiri dari orang-orang pilihan pula, sehingga di hadapan Paman Pandan Kuning, mereka berhasil membakar rumah,” kata Gajah Sora hampir bergumam. ”Paman…, kata Gajah Sora kemudian, Suruh seseorang sediakan kuda-kuda kami.”

Meskipun kata-kata itu diucapkan dengan perlahan-lahan tetapi artinya adalah besar sekali. Gajah Sora sendiri telah merasa perlu untuk sewaktu-waktu bertindak. Menurut perhitungannya, orang-orang yang mendatangi Banyubiru itu pasti terdiri dari orang-orang yang tak dapat direndahkan. Wanamerta tidak lagi mau membuang waktu. Maka segera diperintahkan seorang untuk menyiapkan kuda-kuda mereka. Berbareng dengan itu Ki Ageng Lembu Sorapun telah memerintahkan orangnya untuk mempersiapkan kuda-kuda mereka pula. SAAT orang-orang itu menyiapkan kuda di halaman, muncullah diantara mereka Arya dengan dua ekor kuda di tangannya. Seekor berwarna hitam mengkilat dan yang seekor lagi berwarna abu-abu.

“Inilah kuda Paman,” teriaknya kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar terkejut melihat Arya hadir dalam kesibukan itu. “Kau mau kemana, Arya?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku ikut Paman ke tempat kebakaran itu,” jawabnya.

“Arya…,” potong Gajah Sora, “Kau jangan menambah kesibukanku dan pamanmu. Masuklah ke dalam. Kalau kau mau pergi juga, seterusnya aku tak mau mengajari kau sama sekali.”

Arya memandang ayahnya dengan penuh kecewa. Tetapi ia sama sekali tidak berani membantah. Sebab dalam saat-saat yang demikian ayahnya memang dapat bertindak agak keras terhadapnya. Sementara itu keributan semakin menjadi-jadi. Orang-orang Banyubiru adalah orang-orang yang cukup terlatih di bawah pimpinan Gajah Sora. Karena itu di beberapa tempat yang juga timbul pertempuran-pertempuran, Laskar Banyubiru segera dapat menguasai keadaan. Tetapi di bagian barat dan utara, ternyata kekuatan mereka tak dapat dianggap ringan. Di pendapa, Ki Ageng Gajah Sora beberapa kali menerima penghubung-penghubung dari daerah pertempuran, dan dengan cermatnya ia memberikan perintah dan petunjuk-petunjuk. Tetapi tiba-tiba orang-orang yang berada di pendapa itu bersama-sama digetarkan oleh bunyi kentongan dua-tiga-dua-tiga dari arah utara, sedangkan api tampak semakin menjalar ke beberapa arah. Mendengar bunyi kentongan itu, kemarahan Gajah Sora tak dapat dikendalikan lagi. Bunyi kentong dua-tiga-dua-tiga mempunyai arti yang sama sekali tidak menyenangkan. Tanda itu mengatakan bahwa Laskar Banyubiru terdesak hebat. Dengan gigi yang terkatub rapat, Gajah Sora terloncat dari duduknya.

“Setan manakah yang mencoba mengganggu ketenteraman Banyubiru?” katanya geram. “Paman Wanamerta…” kata Gajah Sora kepada Wanamerta, “Aku akan pergi ke tempat itu. Rupanya kekuatan lawan dipusatkan di sana. Berilah tanda supaya sebagian dari pasukan cadangan dikerahkan ke utara.”

Segera Wanamerta memerintahkan memukul kentongan dua-empat-dua-empat berturut-turut. Bersama dengan itu Gajah Sora meloncat ke atas kudanya. “Adi Lembu Sora dan Mahesa Jenar, marilah kita lihat daerah itu,” katanya.

Mahesa Jenar nampak ragu sebentar. Kalau mereka seluruhnya meninggalkan tempat itu, lalu bagaimanakah dengan keris yang disimpan oleh Gajah Sora? Rupanya keragu-raguan itu diketahui oleh Gajah Sora.

“Tak seorang pun yang akan dapat mengalahkan Paman Pandan Kuning kalau bukan seorang yang luar biasa hebatnya. Jadi menurut perhitunganku, pimpinan dari gerombolan itu berada di sana. Biarlah rumah ini aku serahkan kepada Paman Wanamerta dan Paman Sawungrana. Aku percaya kepada Paman berdua dengan beberapa orang pasukannya. Berilah aku tanda kalau keadaan memaksa. Ingat Paman, tak seorangpun boleh menginjakkan kakinya di halaman rumah ini.”

“Baik Anakmas, aku akan menjaganya,” jawab Wanamerta.

“Siapa yang di halaman belakang?” tanya Gajah Sora.

“Panjawi dengan laskarnya,” jawab Wanamerta.

“Bagus, aku percaya pula pada anak muda itu. Kelak ia pasti menjadi seorang prajurit pilihan. Nah, Paman… aku akan berangkat.”

Sekejap kemudian Gajah Sora mendera kudanya dan lari dengan kencangnya. Lembu Sora dengan beberapa pengiringnya segera menyusul dan yang paling belakang adalah Mahesa Jenar dengan kuda abu-abu yang dibawa oleh Arya tadi. Maka segera iring-iringan itu meluncur seperti angin ke arah tempat kebakaran di sebelah utara Banyubiru di kaki bukit Telamaya. Dari tempat yang agak tinggi di luar halaman, mereka dapat melihat dengan jelas api yang berkobar-kobar di beberapa tempat. Melihat nyala api itu, hati Gajah sora menjadi semakin panas. Ia memacu kudanya lebih laju lagi. Kuda yang telah berlari sekuat tenaga itu menurut perasaan Gajah Sora seperti ular yang merambat di dedaunan. Lambat sekali. Tetapi akhirnya dengan menahan kekesalan hati, mereka sampai juga di tempat pertempuran. Dari jarak yang cukup, Gajah Sora dengan rombongannya dapat melihat arena pertempuran yang terjadi di pinggir sebuah perkampungan. Rupanya pertempuran itu telah berlangsung dengan serunya. Di kedua belah pihak telah jatuh beberapa orang korban.

Ternyata, pasukan-pasukan cadangan Banyubiru yang dipimpin oleh Ki Bantaran telah tiba di tempat itu dan telah pula melibatkan diri dalam pertempuran. Dalam pengamatan yang sebentar itu Gajah Sora melihat betapa kuatnya pihak lawan. Dilihat dari bekas-bekasnya, ternyata bahwa arena pertempuran itu telah bergeser agak jauh mendekati perkampungan. Bahkan beberapa orang dari mereka telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah. Kemarahan hati Gajah Sora semakin menggelora. Karena itu setelah ia menemukan pertimbangan mengenai keseluruhan pertempuran itu, segera ia memberikan perintah.

“Lembu Sora… bawalah anak buahmu ke sebelah kiri. Lingkari arena ini, dan kau harus dapat menguasai jalan kecil di ujung sawah itu. Kalau aku berhasil mendesak mereka, usahakan jangan dibiarkan mereka lolos. Aku ingin tahu siapa mereka. Bawalah beberapa orang bersamamu.”

“Baik Kakang,” jawab Lembu Sora. Setelah itu iapun segera pergi ke tempat yang telah ditentukan. Ia melingkar menyusup perkampungan untuk kemudian muncul kembali menuju ke jalan kecil di ujung sawah.

Dalam keremangan cahaya api yang menjilat ke udara, arena pertempuran itu seolah-olah sengaja dijadikan daerah yang diterangi oleh ribuan obor di sekitarnya. SEPENINGGAL Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar berdiri mengawasi medan. Mahesa Jenar adalah bekas prajurit pengawal raja. Karena itu ia mempunyai pandangan yang cukup masak mengenai keadaan medan. Maka segera ia melihat kelemahan Laskar Banyubiru.

“Kakang, menurut pengamatanku, letak kesalahan Laskar Banyubiru adalah, beberapa orang yang cukup masak berkumpul di dalam satu titik. Sehingga di bagian-bagian lain banyak terdapat kelemahan,” kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau benar Adi Mahesa Jenar. Aku melihat pula kelemahan itu. Tetapi pastilah mereka menghadapi keadaan darurat. Bahkan Bantaran pun telah terlibat dalam perkelahian di titik itu,” jawabnya.

“Siapakah yang bersenjatakan pedang panjang serta melompat-lompat dengan lincahnya itu?” tanya Mahesa Jenar.

“Itulah Pandan Kuning,” jawab Gajah Sora. “Yang bersenjata tombak itu adalah Bantaran. Lainnya adalah orang-orang pilihan dari Laskar Banyubiru.”

“Kakang…” tiba-tiba Mahesa Jenar berkata agak terkejut, “Rupanya mereka hanya melawan satu orang saja.”

Gajah Sora mempertajam pandangannya. Nyala api yang berkobar-kobar di sekitar daerah pertempuran itu membuat ratusan bayangan dari orang-orang yang bertempur itu, beraneka ragam. Ada yang panjang, ada yang besar seperti raksasa yang meloncat-loncat menerkam mangsanya. Karena itu keadaan medan menjadi agak kabur.

“Aku kira tidak hanya seorang, Adi, tetapi dua orang,” jawab Gajah Sora.

“Ya, dua orang,” sambung Mahesa Jenar hampir berteriak, “Dan aku pernah mengenal kedua orang itu.”

Hampir saja Mahesa Jenar meloncat menyerbu. Tetapi tiba-tiba dilihatnya Lembu Sora telah mendahuluinya dari arah belakang. Lembu Sora menyambar dari atas kudanya seperti seekor elang yang sedang marah. Geraknya tangkas dan tangguh. Rupanya ia adalah seorang yang ahli bertempur di atas kuda. Pandan Kuning, Bantaran, dan lebih dari tujuh orang bertempur bersama-sama melawan dua orang. Tetapi dua orang itu ternyata tangguh sekali. Sehingga sampai sekian lama kedua orang itu masih tampak segar dan lincah. Sekarang mereka mendapat bantuan Lembu Sora. Ternyata Lembu Sora juga tidak mengecewakan. Ia bersenjatakan sebuah pedang yang panjang dan besar. Pedang itu di tangannya yang kokoh kuat, hanya seperti setangkai lidi yang berputar-putar dan berkilauan kena cahaya api. Dari jarak yang agak jauh itu, terdengar tidak jelas Lembu Sora memberikan aba-aba, dan sebentar kemudian keadaan segera berubah dengan cepatnya. Pandan Kuning dengan kawan-kawannya segera memotong batas kedua lawannya, sedang Lembu Sora dengan garangnya menyerang yang seorang dari mereka. Maka segera terjadi dua lingkaran pertempuran. Lembu Sora melawan seorang, sedang seorang lagi harus melayani Pandan Kuning dan kawan-kawannya.

“Anak itu punya otak juga,” gumam Gajah Sora. “Ia pasti bermaksud membunuh seorang demi seorang.”

“Bukankah ia putra Ki Ageng Sora Dipayana pula?” kata Mahesa Jenar.

Gajah Sora tersenyum. “Sayang ia agak bengal,” jawabnya.

Mahesa Jenar tidak menjawab, perhatiannya terikat sekali pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya. Tetapi kemudian ia menjadi agak bingung melihat ketidak-wajaran dalam pertempuran itu.

“Kakang Gajah Sora, tidakkah Kakang melihat sesuatu yang tidak pada tempatnya?”

“Ya.” jawab Gajah Sora. “Rupa-rupanya ada pertempuran segitiga di daerah ini.

“Tepat, Kakang,” kata Mahesa Jenar. “Lalu apakah yang akan kita lakukan?”

“Biarlah Lembu Sora dan Paman Pandan Kuning melayani lawannya yang rupa-rupanya tidak terlalu membahayakan,” jawab Gajah Sora. “Marilah kita bersihkan saja yang lain, baru kita membantu menangkap kedua orang itu,” kata Gajah Sora selanjutnya. Sehabis berkata demikian, Gajah Sora mendera kudanya langsung terjun ke dalam kancah pertempuran.

Sepeninggal Gajah Sora, Mahesa Jenar masih beberapa saat berdiri mengawasi medan. Rupanya Gajah Sora ingin mempergunakan siasat lawan untuk memukul mereka kembali. Pemimpin-pemimpin gerombolan penyerbu itu agaknya telah mengatur siasat dengan cermatnya. Mereka berhasil memancing tokoh-tokoh Laskar Banyubiru untuk berkumpul di dalam satu lingkaran, sedang orang-orangnya akan menjadi agak leluasa untuk menjalankan pengacauan dan pembakaran. Gajah Sora memaklumi siasat itu. Dan ia juga tidak dapat menyalahkan pemimpin pemimpin laskarnya untuk mengepung pimpinan gerombolan yang tangguh itu. Sebab apabila mereka tidak menghadapi bersama-sama, maka dengan mudahnya mereka akan dibinasakan satu demi satu.

Karena itu, Gajah Sora berhasrat memecahkan siasat itu dengan merusak barisan laskar gerombolan itu. Dengan demikian pemimpin-pemimpin mereka pasti akan mendatanginya tanpa diminta. Sebab pastilah mereka menyangka bahwa tak seorang pun akan mampu menahan laskar mereka yang mereka perkuat, meskipun ada laskar lain yang ada diluar perhitungan, sehingga terpaksa terjadi pertempuran segitiga. Namun salah satu dari mereka ternyata telah berhasil dengan siasat mereka, dan membakar rumah penduduk yang tak berdaya. Sedang di dalam perhitungan mereka, Gajah Sora sendiri akan tetap berada di rumahnya untuk menjaga pusaka-pusaka yang disimpannya. Tetapi yang masih belum dapat dipecahkan, baik oleh Mahesa Jenar maupun Gajah Sora, adalah adanya dua laskar yang dalam waktu bersamaan menyerang Banyubiru. Sedang mereka bertempur pula satu sama lain, meskipun maksud mereka hampir jelas, yaitu menginginkan pusaka-pusaka Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Kecuali itu Mahesa Jenar juga sangat tertarik ketangguhan dua orang tokoh gerombolan yang dengan tangkasnya dapat mempertahankan diri dari kepungan Pandan Kuning serta kawan-kawannya.

PERTEMPURAN berlangsung terus dengan hebatnya. Laskar Banyu Biru telah berjuang mati-matian untuk mencoba mempertahankan tanah mereka serta seluruh isinya. Dengan munculnya Lembu Sora, keadaan sudah mulai berubah. Lembu Sora ternyata juga merupakan seorang laki-laki yang luar biasa. Pedangnya yang terlalu besar menurut ukuran biasa itu berputar seperti baling-baling yang dengan dahsyatnya selalu melingkari lawannya dengan serangan-serangan maut. Tetapi lawan Lembu Sora pun memiliki kelincahan yang luar biasa. Sayang bahwa jarak mereka agak jauh dari Mahesa Jenar. Apalagi prajurit-prajurit yang sedang bertempur itu selalu bergerak-gerak membayangi pandangannya, sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas. Karena tertarik kepada kedua orang pemimpin gerombolan yang perkasa itu, Mahesa Jenar ingin lebih mendekat lagi. Maka segera ia turun dari kudanya dan mengikatkan kuda itu pada sebatang pohon. Dengan perlahan-lahan, ia menerobos medan yang sedang ribut, ia berjalan mendekati Lembu Sora. Beberapa kali Mahesa Jenar mendapat serangan dari laskar-laskar gerombolan itu, tetapi dengan satu-dua gerakan saja Mahesa Jenar telah dapat merobohkan mereka.

Di bagian lain, di tengah pertempuran itu tiba-tiba terdengar sorak sorai yang riuh rendah. Rupanya Laskar Banyubiru ketika melihat kepala daerah mereka yang perkasa terjun ke arena, mereka menjadi gembira sekali. Tiba-tiba, seolah-olah tubuh mereka masing-masing mendapat tambahan kekuatan yang hebat. Karena itu mereka bersorak-sorak gemuruh. Dan bersamaan dengan itu gerak mereka menjadi lebih dahsyat. Sorak sorai itu segera disambut oleh hampir seluruh Laskar Banyubiru yang berada di arena itu. Dengan kehadiran Lembu Sora, Gajah Sora dan Mahesa Jenar, segera keadaan medan menjadi berubah. Laskar dari kedua gerombolan yang semula bertempur satu sama lain, memusatkan kekuatan mereka untuk menggempur Laskar Banyubiru. Meskipun demikian, Laskar Banyubiru kini kekuatannya sudah jauh bertambah. Sejalan dengan itu, lawan Pandan Kuning yang semula bertempur berpasangan, dan kemudian harus melawan seorang diri, merasakan juga tekanan yang semakin berat. Karena itu ia bertempur semakin seru serta mengerahkan seluruh tenaganya. Apalagi ketika didengarnya Laskar Banyubiru bersorak-sorak.

Tiba-tiba dari arah lain terdengarlah sebuah suitan nyaring. Disusul dengan bunyi suitan pula dari orang yang sedang bertempur melawan Pandan Kuning. Rupanya suitan-suitan itu merupakan tanda-tanda dan perintah. Segera tampaklah beberapa laskar gerombolan berlontaran menyerbu Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Mereka mencoba untuk mengganti kedudukan pemimpinnya yang dengan satu gerakan dahsyat memecahkan kepungan Pandan Kuning dan kawan-kawannya. Ia melepaskan diri dari pertempuran itu untuk dapat langsung menghadapi Gajah Sora. Maka ketika orang itu telah berdiri di luar lingkaran, Mahesa Jenar segera dapat melihatnya dengan jelas. Dan pada saat itu pula rasanya jantung Mahesa Jenar menggelegak hebat. Orang yang memimpin gerombolan itu, dan yang telah bertempur dengan gagahnya, adalah seorang yang bertubuh kekar, berkumis setebal ibu jari, dan di kedua belah tangannya tergenggam dua bilah pisau belati panjang.

“Lawa Ijo…”. geram Mahesa Jenar diantara suara gemeretak giginya yang beradu dengan kerasnya.

Maka dengan gerak tanpa sadar, Mahesa Jenar meloncat lebih dekat lagi untuk mengenali pasangan Lawa Ijo yang sedang bertempur melawan Lembu Sora dengan kekuatan yang seimbang. Orang itu pasti memiliki kekuatan setidak-tidaknya sama dengan Lawa Ijo. Ketika Mahesa Jenar sudah menjadi semakin dekat dan dapat melihat lawan Lembu Sora itu agak jelas, ia menjadi bertambah terkejut lagi. Orang itu adalah seorang laki-laki tampan, dengan sebuah tongkat hitam di tangan kiri yang dipergunakan sebagai perisai, sedang di tangan kanannya tampak sebilah pedang tipis yang lentur. Sebuah permainan gila-gilaan, desis Mahesa Jenar. Tubuhnya menjadi gemetar menahan deru darahnya yang menggelora seperti gemuruhnya air bah. Dengan tak disangka-sangka, tiba-tiba ia bertemu dengan orang-orang yang menjadi musuh utamanya. Terutama Lawa Ijo, yang sampai dua kali berhasil melepaskan diri dari Mahesa Jenar. Meskipun demikian di dalam hati Mahesa Jenar memuji kekuatan daya tahan tubuh Lawa Ijo yang besar sekali. Beberapa saat yang lalu ia berhasil menghantam Lawa Ijo dengan senjata andalannya, yaitu Sasra Birawa. Tetapi sekarang ia melihat Lawa Ijo telah segar bugar kembali.

Bagaimanapun hebatnya daya pengobatan Pasingsingan, namun kalau di dalam tubuh Lawa Ijo itu sendiri belum dialasi oleh kekuatan yang hebat, pastilah ia memerlukan waktu berbulan-bulan untuk dapat sembuh kembali. SEKARANG, kedua orang itu, Lawa Ijo dan Jaka Soka, yang sebenarnya merupakan saingan yang hebat sekali, untuk sementara dapat bekerja bersama-sama, untuk dapat merampas Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten. Karena itu, tidak ada suatu hasrat pun yang bergolak di dalam dada Mahesa Jenar pada saat itu, kecuali membinasakan Lawa Ijo dan sekaligus kalau mungkin Jaka Soka. Sebab orang-orang yang berciri watak demikian, merupakan duri yang selamanya selalu akan menyakiti tubuh masyarakat. Pada saat itu Jaka Soka sedang bertempur mati-matian melawan Lembu Sora. Kekuatan keduanya benar-benar seimbang. Lembu Sora kini sudah turun dari kudanya untuk melawan Jaka Soka yang bertempur seolah-olah melilit dan melingkar-lingkar seperti ular. Tetapi dalam pertempuran itu, Jaka Soka benar-benar tak mampu mendekati lawannya yang dapat mengurung dirinya dalam lingkaran sambaran pedangnya yang besar itu.

Maka untuk sementara Mahesa Jenar dapat melepaskan Jaka Soka. Syukurlah apabila Lembu Sora berhasil membinasakannya. Tetapi setidak-tidaknya pertempuran itu akan berlangsung lama, sehingga ia akan mendapat kesempatan untuk menemaninya bermain, setelah ia membinasakan Lawa Ijo. Mahesa Jenar pada saat itu telah memutuskan untuk tidak memperpanjang waktu. Ia sudah bersedia untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa dalam pukulannya yang pertama. Ia tidak mau didahului oleh Gajah Sora dengan Lebur Seketinya untuk membinasakan Lawa Ijo. Tetapi kembali dadanya terguncang. Ketika ia sudah hampir meloncat ke arah Lawa Ijo, tiba-tiba dari antara laskar yang bertempur itu meloncatlah seorang yang berperawakan tinggi besar berambut lebat dengan kumis dan janggut yang lebat pula. Ia bersenjata tombak pendek. Dan bersamaan dengan serangannya yang menderu seperti angin ribut itu, terdengar suaranya mengaum dahsyat seperti seekor harimau yang sedang marah.

“Kau gila Lawa Ijo…,” teriaknya. Jangan mencoba menghalangi aku atau mendahului maksudku.

Lawa Ijo tampaknya agak terkejut mendapat serangan itu. Tetapi ia adalah seorang yang tangkas. Karena itu, dengan satu loncatan ia berhasil membebaskan dirinya. Bahkan kemudian terdengarlah suara tertawanya yang menyeramkan.

“Kita sama-sama mengail di satu kolam, Harimau jelek,” katanya kemudian. “Apakah salahnya?”

“Tetapi akulah yang paling berhak atas keris-keris itu,” jawab orang yang tinggi besar itu, yang tidak lain adalah Sima Rodra muda dari Gunung Tidar.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA



Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar