Ads

Senin, 02 November 2026

Naga Sasra & Sabuk Inten 09

Sebenarnya ia sama sekali tidak dapat mempercayai ceritera Gajah Sora itu. Ia mendapat keterangan bahwa pusaka-pusaka itu benar-benar telah berada di Banyubiru. Dan ceritera tentang serbuan-serbuan itu adalah usaha Gajah Sora sendiri untuk menyembunyikan kedua pusaka-pusaka itu. Dan ia tidak dapat mengerti akan keterangan-keterangan yang didengarnya. Apalagi ketika ia melihat bagaimana teraturnya Laskar Banyubiru menerima kedatangannya, sehingga anehlah kalau hanya beberapa orang gerombolan liar sampai dapat berhasil merampas kedua pusaka itu. Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, kembali Palindih bertanya,

“Anakmas, bolehkah aku bertanya lagi, kenapa Anakmas tidak segera menyerahkan kedua keris itu ke Demak setelah Anakmas berhasil merampasnya, sehingga sampai Sultan Demak terpaksa memerintahkan petugas-petugasnya untuk datang mengambilnya? Untunglah bahwa Sultan Demak cukup bijaksana sehingga masih juga beliau mengirimkan hadiah-hadiah untuk Anakmas.”

Pertanyaan yang demikian, sama sekali tak diduganya. Karena itu Gajah Sora menjadi bingung. Memang ia merasakan suatu kekhilafan bahwa sampai beberapa hari ia masih belum menyerahkan keris itu. Tetapi maksudnya mula-mula adalah untuk menenangkan suasana dahulu. Pada suatu saat secara tiba-tiba ia akan mengejutkan Baginda dengan penyerahan kedua pusaka itu. Disamping itu ia terlalu percaya pada kekuatan laskarnya dan lingkungan ayahnya, Sora Dipayana. Namun bagaimanapun ia telah berbuat suatu kekhilafan. Karena itu, karena ia tidak mungkin berkata lain, maka dengan jujur ia menjawab,

“Paman, memang aku telah melakukan kekhilafan.”

JAWABAN Gajah Sora itu sama sekali juga tidak diduga oleh Palindih, seperti juga Gajah Sora tidak menduga bahwa ia akan mendapat pertanyaan yang demikian. Dan jawaban ini telah mengejutkannya. Sebab ia melihat dari mata Gajah Sora bahwa ia telah berkata sejujur-jujurnya. Karena itu ia jadi bimbang. Namun bagaimanapun keterangan Gajah Sora tentang hilangnya kedua pusaka itu sangatlah aneh baginya. Memang, Arya Palindih pernah mendengar nama-nama beberapa orang penjahat ulung. Bahkan ia mendengar pula bahwa diantaranya pernah berhasil memasuki Istana Demak dan hampir saja memasuki Gedung Perbendaharaan. Untung pada saat itu, seorang perwira yang perkasa dari pengawal raja yang bernama Rangga Tohjaya dapat mencegahnya. Arya Palindih juga pernah mendengar tokoh-tokoh angkatan yang lebih tua daripada Lawa Ijo yang berhasil memasuki istana itu, sebagai siluman-siluman yang berbahaya. Namun meskipun demikian, lepas dari masalah percaya atau tidak percaya, Palindih adalah seorang perwira yang tegas dan taat akan kewajibannya. Ia adalah prajurit sejati, namun cukup bijaksana. Karena itu berkatalah Arya Palindih,

“Anakmas, pengakuan Anakmas bahwa Anakmas khilaf telah membuka pikiranku.Tetapi bagaimanapun juga aku adalah prajurit yang mendapat tugas untuk meminta kembali pusaka-pusaka istana itu. Dan aku telah melakukan tugasku. Sayang bahwa menurut keterangan Anakmas, kedua pusaka itu telah lenyap. Karena aku tidak mendapat kekuasaan untuk bertindak lebih jauh, maka aku tidak akan melakukan hal-hal lain kecuali melaporkan peristiwa ini kepada Baginda Sultan. Baru kemudian kalau ada kewajiban-kewajiban lain serta ketentuan-ketentuan lain, mungkin aku segera akan datang kembali ke Banyubiru.”

Kata-kata Arya Palindih itu merupakan angin sejuk yang telah mengendorkan semua wajah-wajah yang tegang dari semua yang hadir di pendapa itu. Bahkan Mahesa Jenar yang mendengar percakapan dari balik dinding, juga menarik nafas lega. Dengan demikian setidak-tidaknya ada waktu sehari dua hari untuk mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan yang akan datang. Untunglah seandainya dalam waktu yang singkat itu Ki Ageng Pandan Alas atau Ki Ageng Sora Dipayana setidak-tidaknya telah mendapat keterangan tentang kedua pusaka yang hilang itu.

Gajah Sora yang dapat menanggapi keadaan serta kebijaksanaan Arya Palindih segera menjawab, “Paman, aku sejak semula memang percaya bahwa Paman selalu bertindak bijaksana. Meskipun demikian aku akan selalu berusaha untuk meyakinkan Paman bahwa aku telah berkata dengan jujur. Aku berjanji bahwa aku akan berusaha sekuat tenaga serta kemampuan yang ada di daerah ini, berusaha menemukan kembali kedua keris yang hilang itu sebagai bukti kesetiaanku kepada negara.”

Arya Palindih mendengarkan ucapan Gajah Sora itu sambil mengangguk-anggukkan kepala. Di dalam hatinya menjalar suatu pengertian yang berpengaruh. Akhirnya dengan kata-kata yang lunak ia berkata, “Anakmas…, Anakmas adalah bekas prajurit pilihan pada masa Anakmas masih muda. Bagaimanapun juga aku tidak bisa mengerti peristiwa yang terjadi menurut ceritera Anakmas, namun aku percaya bahwa oleh jiwa kepahlawanan yang tersimpan di dalam dada Anakmas itu, maka Anakmas telah berlaku sebenarnya.”

Baik Gajah Sora, Arya Palindih, Mahesa Jenar dan semuanya yang hadir di pendapa itu menyadari, bila sampai terjadi suatu bentrokan, akibatnya pasti akan jelek sekali. Sebab Laskar Banyubiru tidak dapat dianggap remeh. Laskar yang berakar pada jiwa rakyat yang setia. Mungkin Demak akan dapat mengatasinya dengan tidak banyak kesukaran. Tetapi korbannya pasti akan banyak sekali. Tidak saja korban jiwa, tetapi korban yang lebih besar artinya bagi negara yang pada saat itu sedang terancam oleh kekuasaan penjajahan Portugis yang sudah membangun pangkalannya di Malaka. Maka usaha yang pertama, yang harus diutamakan adalah memperkuat garis armada Banten – Jakarta – Cirebon – Demak – terus ke timur – Supit Urang – langsung ke Hitu dan Ambon, sebagai garis utama untuk melumpuhkan usaha Portugis, terutama di bidang perniagaan laut dan kesiap-siagaan armada, yang setiap saat dapat menerobos ke wilayah Demak. Bersandarkan pada kesadaran itulah, maka kemudian Arya Palindih yang tegas namun bijaksana itu berkata,

“Anakmas, aku kira tugasku kali ini sudah selesai, meskipun tidak seperti yang aku harapkan. Dengan demikian aku akan minta diri, dan mudah-mudahan perkembangan selanjutnya tidak akan menyulitkan Anakmas dan kami.”

Meskipun Gajah Sora mencoba menahannya, Arya Palindih sudah memutuskan untuk segera pulang ke Demak dan melaporkan apa yang sudah terjadi, dengan harapan bersama bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan dengan baik. Sepeninggal Arya Palindih, segera Gajah Sora mengadakan pertemuan dengan segenap pembantunya serta Mahesa Jenar. Namun banyak hal yang tak dapat mereka selesaikan. Sebab kuncinya terletak pada kedua keris yang hilang itu. Tetapi adalah menjadi kewajiban Gajah Sora untuk memerintahkan kepada semua laskarnya agar tidak berbuat hal-hal yang dapat mengeruhkan suasana. Tetapi bagaimanapun, setelah peristiwa kedatangan utusan dari Demak itu, Gajah Sora menjadi perenung. Mahesa Jenar yang semula bermaksud meninggalkan Banyubiru, kemudian menjadi tidak sampai hati. Karena itu ditahankannya dirinya untuk tetap tinggal di Banyubiru sebagai kawan berunding dan berbincang Gajah Sora.

Hiburan yang utama bagi Gajah Sora adalah anaknya yang kini sudah hampir pulih kembali. Bahkan sudah mulai lagi dengan tingkahnya yang aneh-aneh dan diluar kebiasaan anak-anak yang sebaya dengan Arya Salaka, yang kadang-kadang sangat memusingkan kepala ayahnya. Meskipun pada umumnya Arya tidak berani membantah peringatan-peringatan ayahnya, tetapi kadang-kadang diluar pengawasan ia melakukan hal-hal yang berbahaya. BEBERAPA hari kemudian tidak terjadi hal-hal yang luar biasa. Rakyat dengan tenang dan tenteram bekerja di sawah serta ladang mereka. Padi-padi yang sudah mulai menguning, bahkan ada diantaranya yang sudah masak untuk dipetik. Berduyun-duyunlah wanita turun kesawah serta saling menolong memotong padi, sedang laki-laki bergotong royong bekerja menyiapkan sawah-sawah yang telah dituai untuk ditanami kembali. Rumah-rumah yang terbakar pada saat penyerbuan gerombolan-gerombolan liar itu, secara gotong royong telah dibangun kembali. Bahkan tampak lebih kokoh dan lebih baik daripada yang semula. Kehidupan yang aman damai telah memancar kembali menjiwai daerah Perdikan Banyubiru.

Tetapi, tidak demikian halnya dengan perasaan Gajah Sora. Meskipun sehari-hari ia tampak tenang dan segar, serta seperti biasanya ia ikut serta bekerja dengan rakyat Banyu Biru untuk kesejahteraan daerahnya, namun didalam hatinya tersimpan duri yang selalu menusuk-nusuk perasaannya. Bagaimanapun, ia tidak dapat melupakan, bahwa akan datang saatnya ia harus mempertanggung-jawabkan hilangnya kembali keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Meskipun ia dapat mengharapkan etikad baik dari Arya Palindih, namun bagaimanapun usaha-usaha dari pihak ketiga pasti masih selalu ada. Usaha-usaha dari golongan yang tidak ingin melihat kehidupan damai di Banyubiru khususnya, dan Demak pada umumnya. Tidak aneh kalau hal ini didalangi oleh orang-orang yang sengaja merongrong kebesaran Demak untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Sebab di dalam lingkungan mereka ada orang-orang yang cukup tangkas otaknya. Pasingsingan, Bugel Kaliki, Sima Rodra tua dapat mewayangkan orang-orang dalam yang tidak teguh imannya.

Karena itu, karena kecurigaannya kepada golongan-golongan yang ingin dengan sengaja mengeruhkan suasana. Gajah Sora telah mengambil kebijaksanaan untuk mengirimkan beberapa orang kepercayaannya ke Demak untuk mengetahui perkembangan keadaan. Orang-orang itu bertugas untuk mendengarkan desas-desus tentang keadaan Banyu Biru yang tersiar dipusat pemerintahan itu, serta kalau perlu mengadakan perlawanan dengan menceriterakan keadaan yang sebenarnya kepada kalangan yang seluas-luasnya. Tetapi akhirnya, dengan dada yang gemuruh Gajah Sora mendengar laporan dari salah seorang kepercayaannya itu, bahwa di Demak telah berkembang keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Di Demak dengan tak diketahui sumbernya, telah tersiar berita bahwa kini di Banyubiru telah diadakan latihan keprajuritan secara teratur dan besar-besaran, sebagai salah satu usaha untuk tetap mempertahankan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Orang-orang Gajah Sora yang tidak seberapa jumlahnya itu telah berusaha untuk menyebarkan berita yang sebenarnya, namun rupanya arus kabar yang sengaja mengeruhkan suasana itu tak dapat dibendungnya. Bahkan akhirnya telah mempengaruhi beberapa pejabat Istana Demak. Belum lagi Gajah Sora sempat mendalami serta mengupas masalah itu, datanglah orangnya yang kedua dengan suatu berita yang lebih mengejutkan lagi, yaitu, bahwa Demak telah mengirim satu pasukan untuk meneliti keadaan di Banyubiru. Mendengar berita ini, pikiran Gajah Sora seolah-olah menjadi gelap. Karena itu segera ia memanggil pembantu-pembantunya beserta Mahesa Jenar. Apakah yang sebaiknya mereka lakukan apabila pasukan dari Demak itu benar-benar mendatangi Banyubiru. Persoalan ini kemudian menjadi buntu. Tak seorangpun yang dapat memberikan ketetapan pendirian. Tetapi bagaimanapun, mereka merasa bahwa sebenarnya mereka sama sekali tak bersalah dengan hal ini. Gajah Sora hanyalah berbuat suatu kekhilafan yang sebenarnya tak begitu besar seandainya akibatnya menjadi lain. Akhirnya, ketika tak seorangpun yang berhasil memecahkan persoalan itu dengan sebaik-baiknya, maka satu-satunya kemungkinan adalah menunggu sampai pasukan dari Demak itu datang, dan kemudian bersama-sama memperbincangkan masalahnya. Gajah Sora sadar bahwa ia tidak boleh tergesa-gesa mengambil sikap, sebab kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan selalu akan terjadi. Maka yang dapat dilakukan sekarang adalah mempertinggi kewaspadaan. Diantara mereka yang selalu gelisah karena keadaan, maka yang paling gelisah adalah Mahesa Jenar, karena ia dapat melihat kebenaran sikap masing-masing. Ia tidak dapat menyalahkan Ki Ageng Gajah Sora seandainya orang itu tetap merasa tak bersalah. Sebab ia sendiri telah berjuang mati-matian untuk merampas keris-keris itu, dan kemudian dengan sekuat tenaga pula telah dipertahankannya. Juga orang-orang Gajah Sora pasti akan mempertahankan kepala daerah mereka yang mereka segani dan cintai itu.

Tetapi sebaliknya, ia mengerti juga alasan Sultan Demak seandainya Baginda murka. Sebab Baginda merasa bahwa yang paling berhak atas kedua pusaka itu adalah pemerintah. MALAM harinya, Mahesa Jenar hampir tidak dapat memejamkan mata. Ia selalu berangan-angan apakah kiranya yang terjadi seandainya pasukan Demak itu telah berada di Banyubiru. Yang menambah kesulitan pikiran Mahesa Jenar adalah, lalu bagaimana dengan dirinya sendiri? Baru ketika ayam berkokok untuk ketiga kalinya, Mahesa Jenar terlena diatas pembaringannya untuk beberapa saat. Sebab sebentar kemudian ia mendengar hiruk-pikuk di halaman. Segera ia meloncat bangun dan lari keluar. Dilihatnya beberapa orang telah berada di sana, sedang Ki Ageng Gajah Sora dengan wajah merah menyala berdiri di ambang pintu rumahnya.

Segera Mahesa Jenar naik ke pendapa, langsung menuju kepada Gajah Sora. “Kakang…, apakah yang terjadi?”

Gajah Sora memandang Mahesa Jenar dengan pandangan yang gelisah. “Aku tahu kesulitanmu Adi, karena itu sebaiknya kau tidak ikut serta,” jawabnya.

“Apakah yang akan Kakang lakukan?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Aku tidak dapat menahan diri lagi,” jawabnya. “Aku telah memerintahkan untuk menyiapkan laskar Banyubiru. Aku tidak peduli akan apa yang terjadi. Aku hormati kebesaran Demak sebagai pimpinan tertinggi atas segala pemerintahan di daerah-daerah, namun alangkah kerdilnya pikiran mereka.”

Mendengar jawaban Gajah Sora itu darah Mahesa Jenar serasa berhenti. Dengan penuh kebingungan ia bertanya kembali, “Apa yang telah mereka lakukan?”

Sementara itu terdengarlah tanda bahaya bergema di seluruh lereng bukit Telamaya, disusul dengan tanda-tanda supaya laskar Banyubiru berkumpul di alun-alun. Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah mendengar tanda-tanda itu. Apa yang telah mereka lakukan…?. Gajah Sora tidak menjawab, tetapi sorot matanya bertambah menyala. Ketika dilihatnya kudanya telah siap di halaman, tanpa menjawab pertanyaan Mahesa Jenar, ia berlari melintasi pendapa dan langsung meloncat ke atas punggung kudanya. Sesaat kemudian Gajah Sora sudah lenyap diantara beberapa orang yang bersama-sama memacu kudanya ke alun-alun, dimana sudah berkumpul segenap Laskar Banyubiru. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar berdiri kebingungan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi untunglah bahwa Mahesa Jenar mempunyai otak yang jernih, sehingga beberapa saat kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya kembali. Maka dengan tangkasnya ia meloncat ke belakang, ke kandang kuda. Diambilnya kuda abu-abu yang biasa dipakainya. Dengan cekatan ia mempersiapkan pelananya. Dan dalam sekejap kemudian, ia telah berlari diatas punggung kuda abu-abu itu menyusul Gajah Sora, serta apabila mungkin mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Tetapi ketika ia keluar dari halaman, segera di arah timur tampak api menyala-nyala. Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang, sehingga terlontar suatu teriakan tertahan.

“Tak mungkin…. Tak mungkin. Tentara Demak bukan gerombolan-gerombolan liar yang biasa membakar rumah dan merampok isinya.”

Maka segera timbul gambaran di dalam otaknya, bahwa ini pasti suatu usaha pengadu-dombaan. Walaupun demikian ia bermaksud untuk membuktikan siapakah yang telah berbuat gila itu. Segera ia menarik kekang kudanya, dan memutar ke arah api yang menyala-nyala di sebelah timur itu. Kudanya yang lari secepat angin itu, dalam beberapa saat kemudian telah hampir sampai di tempat api yang menyala-nyala. Di beberapa tempat, ia bertemu dengan orang-orang yang berusaha mengungsikan diri. Kepada salah seorang diantaranya, ia bertanya,

“He…, Kakang yang menjauhkan diri dari keributan, tahukan kau siapakah yang membakari rumah-rumah itu?”

Orang itu berhenti sejenak, lalu memandang kepada Mahesa Jenar dengan heran. Tetapi bagaimanapun ia selalu mengharap perlindungan dari manapun datangnya. Maka jawabnya, “Aku tidak tahu, tetapi mereka selalu berteriak-teriak, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit dari Demak yang mendapat perintah untuk menghancurkan Banyubiru, sebab Banyubiru akan memberontak terhadap Demak.”

“Bagaimanakah cara mereka berpakaian?” selidik Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Mereka memakai baju merah, ikat kepala merah dan celana merah pula. Adapun kainnya berwarna hitam,” jawab pengungsi itu.

“Wiratamtama,” desis Mahesa Jenar. “Terimakasih, Kakang,” kata Mahesa Jenar kepada orang itu sambil menarik kekang kudanya, yang kemudian berlari kembali secepat angin ke arah api yang semakin lama semakin tinggi seolah-olah akan menjilat langit.

Pakaian orang-orang yang membakar rumah itu, adalah pakaian prajurit Demak dari kesatuan penggempur yang bernama Wiratamtama, yang terdiri dari orang-orang pilihan dan perwira, bahkan dapat dikatakan sama dengan pasukan pengawal raja, yang disebut kesatuan Nara Manggala. Tetapi pakaian mereka agak berbeda. Sebab Nara Manggala memakai ikat kepala biru, ikat pinggang kuning. Karena itu ia semakin bernafsu untuk mengetahui siapakah sebenarnya yang telah menamakan diri mereka prajurit-prajurit dari Demak itu. Ketika matahari mulai bercahaya di arah timur, Mahesa Jenar sampai di tempat kebakaran. Ternyata orang yang membakar rumah-rumah itu sebagian besar sudah melarikan diri. Tinggallah di sana-sini beberapa orang saja yang masih berusaha untuk menemukan barang-barang yang berharga dari rumah-rumah yang terbakar itu.

Melihat kelakuan mereka yang tak ubahnya dengan anjing yang mengais di keranjang sampah, hati Mahesa Jenar terbakar oleh kemarahannya yang memuncak. Ia tidak saja merasa marah, bahwa orang-orang yang menamakan diri prajurit-prajurit itu telah membakar rumah-rumah penduduk yang tak bersalah, tetapi kelakuan mereka adalah suatu penghinaan langsung terhadap kebesaran nama Wiratamtama khususnya dan prajurit Demak umumnya. Karena itu segera ia dapat mengambil kesimpulan, bahwa sama sekali mereka bukanlah prajurit-prajurit Demak yang sebenarnya. Karena itu tanpa bertanya-tanya lagi Mahesa Jenar segera menyerbu ke arah mereka. BEBERAPA orang yang sedang sibuk mencari barang-barang itu, segera terkejut ketika mereka mendengar derap kuda mendekati mereka, apalagi ketika dilihatnya seorang yang belum dikenalnya langsung menuju ke arah mereka, dengan sikap yang garang. Segera mereka melihat bahaya yang datang. Tetapi karena jumlah mereka yang banyak itu, mereka sama sekali tidak takut ketika dilihatnya bahwa yang datang hanyalah seorang. Meskipun demikian mereka bersiap-siap pula menanti kedatangan Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang memacu kudanya seperti badai, dengan penuh kemarahan langsung menyerang orang-orang yang menantinya dengan sikap tak acuh itu. Baru ketika tiga orang bersama-sama terpelanting dengan meninggalkan suara parau yang terputus, sadarlah mereka bahwa yang datang itu bukan orang sembarangan. Dengan kebingungan karena terkejut mereka mencoba mempersiapkan senjata-senjata mereka, tetapi itu tidaklah banyak gunanya, sebab sekejap kemudian Mahesa Jenar telah mengulangi serangannya. Sekali lagi dua orang sekaligus terlempar dengan mengumandangkan teriakan tinggi. Orang-orang lain yang melihat kelima kawannya sudah menggeletak tak bernyawa itu, menjadi ketakutan, dan dengan tidak menunggu lebih lama lagi segera mereka melarikan diri bercerai-berai. Mahesa Jenar segera berusaha menangkap salah seorang diantaranya. Dan kemudian membantingnya di tanah. Dengan ibu jarinya yang kuat Mahesa Jenar siap menekan leher orang itu. Sementara itu ia bertanya,

“Siapakah kau sebenarnya?”

Orang itu menjadi ketakutan setengah mati. Karena itu, meskipun ia berusaha menjawab, tetapi mulutnya menjadi tergagap-gagap tak keruan. Mahesa Jenar menyumpah-nyumpah di dalam hati. Karena bagaimanapun ia memaksa, mulut orang itu pasti tak akan dapat mengeluarkan kata-kata yang dapat dimengerti. Akhirnya dengan sangat marah Mahesa Jenar menarik bajunya sehingga orang itu berdiri. Bersamaan dengan itu darah Mahesa Jenar tersirap sampai ke kepala, ketika dilihatnya, melingkar perut orang itu sebuah ikat pinggang yang lebar, dengan gambar dua ekor uling yang saling melilit. Karena itu Mahesa Jenar berteriak nyaring,

“Kau dari gerombolan Uling Rawa Pening…?”

Mulut orang itu tampak bergerak-gerak, tapi suara yang keluar dari mulutnya tak ubahnya seperti suara orang bisu. Meskipun demikian karena kepalanya mengangguk-angguk, tahulah Mahesa jenar bahwa orang itu benar-benar dari gerombolan Uling Rawa Pening. Karena itu marahnya semakin membara di dalam dadanya. Alangkah banyaknya unsur-unsur yang ingin merusak kedamaian tanah perdikan kecil di lereng bukit Telamaya itu. Tetapi kemudian Mahesa Jenar terkejut ketika ia mendengar suara tertawa di belakangnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Arya Salaka agak jauh di belakangnya, duduk di atas kuda hitamnya. Begitu asyiknya Mahesa Jenar mengurusi tangkapannya, sehinga ia sama sekali tak memperhatikan kedatangan Arya yang tentu dengan sengaja bersembunyi dan sangat berhati-hati.

“Apa kerjamu di situ Arya? teriak Mahesa Jenar.

“Apa pula yang Paman kerjakan itu?” jawab Arya berteriak pula.

Mendapat jawaban yang nakal itu, Mahesa Jenar menjadi jengkel. “Kemarilah,” panggilnya keras-keras.

Perlahan-lahan Arya menjalankan kudanya mendekati Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak mau dekat benar, sebab ia mengira bahwa Mahesa Jenar akan marah kepadanya. Dengan masih memegangi tangkapannya erat-erat, Mahesa Jenar mengulangi pertanyaannya.

“Apa kerjamu disini?”

Arya menjadi agak bingung, sebab ternyata Mahesa Jenar benar-benar tak senang akan kehadirannya. Meskipun demikian ia menjawab dengan jujur. “Aku melihat Paman memacu kuda ke arah timur. Aku kira pasti ada hal-hal yang menarik sehingga aku ingin ikut melihatnya.”

“Lalu apa yang sudah kau lihat?” desak Mahesa Jenar.

“Paman Mahesa Jenar menangkap kelinci,” jawab Arya.

Mau tidak mau Mahesa Jenar menjadi geli mendengar jawaban Arya. Memang anak itu nakalnya bukan main. “Nah, ayo lekas pulang, perintah Mahesa Jenar.

“Nanti bersama Paman,” jawab Arya.

Mahesa Jenar menjadi bertambah jengkel. “Pulanglah Arya, supaya ayahmu tidak marah.”

“Aku takut pulang sendiri,” jawabnya mengelak.

Mahesa Jenar menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu betul bahwa Arya sama sekali tidak takut. Maka mau tidak mau ia harus mengantar anak itu pulang. Lalu dengan sebuah sentakan yang keras Mahesa Jenar mendorong tangkapannya sehingga orang itu terdorong dan terbanting menelentang. Matanya memancarkan perasaan takut yang amat sangat, sedang nafasnya seperti berdesak berebut keluar. Arya menjadi geli melihat orang itu.

“Tidakkah Paman bermaksud membunuh orang itu?”

Mendengar kata-kata Arya orang itu menjadi semakin ketakutan, sehingga akhirnya malahan Mahesa Jenar menjadi kasihan kepadanya. “Kalau kau masih mempunyai sisa tenaga, pergilah cepat-cepat menjauhi aku sebelum aku mencekikmu,” katanya. Orang itu menjadi ragu-ragu sebentar mendengar kata-kata Mahesa Jenar, seperti ia tidak percaya pada pendengarannya. Sampai kemudian terdengar, “Pergilah!”

Orang itu segera berdiri dan mundur beberapa langkah. Sesaat kemudian ia memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya menjauhi Mahesa Jenar, seperti kuda pacu di lapangan pertandingan. Arya melihat kelakuan orang itu seperti sebuah permainan yang menyenangkan. Maka timbullah kenakalannya, untuk menakut-nakuti orang itu.

“Tangkap orang itu, Paman…, tangkap orang itu. Ia akan melaporkan kepada pemimpinnya bahwa Paman ada di sini.”

Mendengar Arya berteriak-teriak, orang itu berlari semakin cepat tanpa menoleh, dibarengi dengan suara tertawa. Arya bergelak-gelak. Arya baru berhenti tertawa ketika didengarnya Mahesa Jenar berkata, “Marilah Arya, ada kerja yang lebih penting daripada menunggumu bermain-main di sini.”

BELUM lagi habis kata-kata Mahesa Jenar, sayup-sayup menyusur lereng perbukitan terdengarlah suara sangkakala bergema. Mahesa Jenar terkejut mendengar suara itu. Maka tanpa sesadarnya ia berkata, “Itulah pasukan dari Demak.”

“Dari Demak?” ulang Arya.

Mahesa Jenar memandang wajah Arya yang masih memancarkan kebeningan hatinya itu dengan saksama. Meskipun anak itu nakalnya bukan main, tetapi hatinya bersih, sebersih hati ayahnya.

“Marilah kita lihat,” ajaknya.

Kemudian mereka berdua melarikan kuda mereka naik ke lereng yang lebih tinggi lagi. Dari sana dapatlah mereka melihat sebuah iring-iringan besar berjalan perlahan-lahan seperti semut yang merayapi dinding-dinding batu. Mahesa Jenar menjadi terkejut bukan kepalang, ketika ia melihat pasukan Demak itu berjalan sudah dengan gelar perang. Bukan lagi merupakan barisan yang akan mengunjungi sebuah wilayah kerajaannya. Gelar itu merupakan gelar yang langsung akan dapat menghantam pertahanan lawan. Yaitu gelar Cakra Byuha. Hati Mahesa Jenar berdebar sangat kerasnya. Mungkin beberapa penyelidik dari Demak telah menangkap tanda bahwa yang sudah dibunyikan oleh Gajah Sora, serta mereka mungkin salah terima terhadap nyala yang tidak boleh tidak pasti mereka saksikan. Nyala api yang ditimbulkan oleh kelakuan gerombolang Uling dari Rawapening, yang merasa sangat berkepentingan apabila di Banyubiru timbul keributan-keributan. Segera Mahesa Jenar pun teringat bahwa Gajah Sora telah pula menyiapkan pasukannya. Maka apabila tidak ada pencegahan, pertempuran yang dahsyat pasti akan terjadi. Karena itu dengan tergesa-gesa Mahesa Jenar mengajak Arya Salaka untuk segera kembali menemui Ki Ageng Gajah Sora. Dengan kecepatan penuh, Mahesa Jenar dan Arya Salaka melarikan kuda masing-masing langsung menuju ke alun-alun Banyubiru.

Ketika mereka sudah memasuki kota, kembali dada Mahesa Jenar terpukul oleh suatu kenyataan bahwa Gajah Sora telah membawa pasukannya untuk menyongsong pasukan Demak itu dengan gelar yang seimbang. Yaitu gelar Gajah Meta. Gajah Sora tampak garang di atas kuda putihnya. Di tangannya tergenggam erat pusaka Banyubiru yang sakti, Kyai Bancak. Disampingnya dengan kepala menengadah tampak orang yang telah agak lanjut usianya, tetapi ialah satu-satunya kepercayaan yang tak pernah berkisar dari samping Gajah Sora, yaitu Wanamerta. Di sisi yang lain dengan kepala tegak dan dada yang terbuka, seorang pemuda yang kelak akan terkenal namanya sebagai seorang perwira, yaitu Penjawi. Di belakangnya berturut-turut berjalan beberapa perwira pilihan. Di belakangnya lagi berkibarlah dengan megahnya bendera-bendera lambang kebesaran tanah perdikan Banyubiru. Panji-panji di atas dasar merah terlukis gambar seekor gajah berwarna kuning keemasan. Di samping bendera itu berkibar pula beberapa panji-panji kemegahan serta umbul-umbul beraneka warna, yang bertangkaikan tombak-tombak yang sudah tak bersarung.

Melihat pasukan itu, sejenak Mahesa Jenar tertegun. Ia adalah bekas seorang prajurit yang tidak saja satu dua kali mengalami pertempuran-pertempuran hebat. Tetapi ketika ia melihat tata barisan Gajah Sora dan gelar Gajah Meta, hatinya kagum juga. Ia jadi percaya bahwa Laskar Banyubiru merupakan laskar yang sudah masak di bawah pimpinan seorang yang mempunyai pengetahuan yang cukup. Tetapi ketika ia teringat akan kemungkinan yang terjadi apabila pasukan ini bertemu dengan pasukan Demak, darahnya menjadi berdesir cepat. Maka segera ia melarikan kudanya, langsung menuju ke arah Gajah Sora.

Gajah Sora melihat kedatangan Mahesa Jenar, tetapi sikapnya menjadi agak lain dari biasanya. Dengan pandangan kosong, Gajah Sora menghentikan kudanya dan bertanya hambar, “Apakah maksud Adi Mahesa Jenar menemui aku?”

Mahesa Jenar merasakan perbedaan sikap ini, tetapi ia tidak peduli. Dengan suara yang perlahan-lahan tetapi jelas ia menceriterakan apa yang dilihatnya. Orang-orang yang menyaru sebagai prajurit-prajurit Demak telah membakari rumah-rumah penduduk. Dengan demikian maka laporan yang sampai kepada Gajah Sora pasti prajurit-prajurit Demak yang melakukan pembakaran itu. Gajah Sora mendengar dengan baik kata-kata Mahesa Jenar, tetapi wajahnya sama sekali tidak berubah.

“Meskipun demikian” ia bertanya, “Lalu apa kata Adi Mahesa Jenar terhadap gelar Cakra Byuha itu?”

Mendengar pertanyaan itu terasa sesuatu berdesir di dada Mahesa Jenar. Rupa-rupanya Gajah Sora telah mengetahui bahwa prajurit Demak mendekati Banyubiru dalam gelar perang yang berbahaya. Karena itu untuk beberapa saat ia tidak menjawab. Baru kemudian Mahesa Jenar berkata,

“Kakang Gajah Sora, ini adalah suatu kesalahpahaman yang berbahaya.”

“Sudahlah Adi,” potong Gajah Sora. “Aku sudah mengatakan bahwa aku menyadari kesulitan Adi sekarang ini. Karena itu aku persilahkan Adi kembali saja.”

Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tidak senang mendengar kata-kata Gajah Sora itu, tetapi ketika ia akan menjawab, dilihatnya Gajah Sora melambaikan tangannya, dan iring-iringan itu mulai bergerak kembali. Iring-iringan raksasa yang terdiri ribuan prajurit yang terpecah-pecah menjadi bagian-bagian dalam gelar yang lengkap, Gajah Meta. Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Ia merasa bahwa agak terlambat untuk menahan Gajah Sora, namun ia tidak putus asa. Tanpa mengingat kemungkinan yang dapat terjadi atas dirinya apabila ia bertemu dengan prajurit-prajurit Demak, Mahesa Jenar mengikuti perjalanan pasukan Banyubiru, untuk menyongsong kedatangan pasukan-pasukan dari Demak. Setelah itu tak sepatah katapun yang terdengar. Masing-masing berjalan tanpa bersuara. Di kepala masing-masing berputarlah berbagai masalah yang berbeda-beda.

SELANGKAH demi selangkah Laskar Banyubiru maju terus, dan selangkah demi selangkah mereka semakin dekat dengan pasukan-pasukan yang datang. Tetapi setiap jengkal mereka maju, setiap kali pula dada Mahesa Jenar merasa terbentur sesuatu yang seolah-olah hendak pecah oleh ketegangan yang semakin memuncak. Sebentar kemudian pasukan itu menyusup, menerobos pepohonan dan kebun-kebun yang sedang memamerkan buah-buahan yang lebat, menembus pagar-pagar dan meloncati dinding-dinding rendah untuk tidak mengubah tata barisan mereka, dalam gelar perang Dirada Meta. Kemudian muncullah pasukan itu di lapangan terbuka, sebuah padang rumput tempat para penggembala melepaskan binatang-binatang peliharaan. Masih dalam tata barisan yang teratur, mereka menuruni lereng bukit Telamaya. Sejenak kemudian Gajah Sora melambaikan tangannya, dan berhentilah iring-iringan pasukan Banyubiru. Bersamaan dengan itu hampir berbareng terdengarlah gumam yang seperti mengumandang diantara anggota laskar itu. Sebab jauh di hadapan mereka, di bawah kaki bukit Telamaya, tampaklah dalam gelar Cakra Byuha pasukan-pasukan dari Demak.

Lebih dari itu semua adalah goncangan dada Mahesa Jenar. Kini benar-benar dadanya serasa akan meledak. Tidak saja sedapat mungkin dirinya selalu berusaha untuk menjauhi setiap prajurit dari Demak, untuk melenyapkan segala kenangan pada masa kebanggaannya sebagai seorang prajurit pengawal raja, tetapi sekaligus ia merasa terharu melihat kebesaran pasukan itu. Meskipun masih belum begitu jelas, tetapi bagi Mahesa Jenar apa yang dilihatnya itu seolah-olah telah melekat di pelupuk matanya. Dengan membeda-bedakan warna pakaian mereka yang tampak seperti kelompok-kelompok yang beraneka warna, Mahesa Jenar segera mengenal pasukan dari kesatuan apa saja yang telah ditugaskan untuk datang ke Banyubiru. Karena pengenalan itu pula Mahesa Jenar merasakan suatu tekanan yang dahsyat dalam hatinya. Sebab ia mengetahui dengan pasti bahwa benar-benar pasukan itu merupakan pasukan tempur yang kuat sekali.

Dalam gelar Cakra Byuha yang merupakan lingkaran bergerak itu, tampaklah dalam kelompok depan pasukan Wira Tamtama dengan bendera yang terkenal, Tunggul Dahana, bendera yang mempunyai dasar merah dan bergaris hitam lintang melintang. Pada gerigi di sebelah kiri tampak pasukan penggempur Angkatan Laut Demak yang terkenal. Pasukan ini diikut sertakan dengan suatu kemungkinan terjadi pertempuran di daerah rawa-rawa. Di bawah panji-panji Sura Pati, yaitu sebuah panji-panji yang berwarna merah bergambar ikan sura raksasa yang menggigit sebilah keris berwarna putih, pasukan penggempur Angkatan Laut yang bernama Wira Jala Pati itu merupakan kesatuan yang mengerikan. Yang lebih menggetarkan dada Mahesa Jenar adalah pasukan yang berada dalam lingkungan gerigi sebelah kanan. Pasukan ini adalah pasukan yang tak asing lagi baginya. Sebab ia sendiri pernah menjadi bagian pasukan tersebut, yaitu pasukan Nara Manggala di bawah panji-panji Garuda Rekta, panji-panji yang berwarna kuning, dengan lukisan seekor garuda berwarna merah, yaitu pasukan pengawal raja. Mahesa Jenar sadar bahwa pasukan inilah yang harus membawa kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten dengan selamat sampai di Istana.

Sedang pada gerigi bagian belakang, yang jumlahnya tidak begitu banyak, tampaklah pasukan inti dari pasukan pengawal kota, yang disebut pasukan Manggala Sraya, dengan bendera merah bergaris silang putih, bernama Tunggul Mega. Tetapi lebih dari segala itu, lebih dari kemegahan bendera-bendera Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega, adalah panji-panji yang berada di tengah lingkaran yang bergerigi itu. Sebuah panji-panji yang dikelilingi oleh sekelompok kecil prajurit dari kesatuan Manggala Pati yang hampir dapat dikatakan kesatuan berani mati. Panji-panji itu adalah bendera Kerajaan Demak yang berwarna gula kelapa. Menyaksikan semuanya itu, Mahesa Jenar seolah-olah mendadak menjadi seorang lumpuh yang duduk di atas kudanya. Kesadarannya hilang, dan ia menurut saja kemana kudanya berjalan. Hal itu bukanlah disebabkan ia merasa takut berhadapan dengan kesatuan itu. Sebab ia adalah setingkat dengan setiap perwira yang memimpin setiap kesatuan dalam pasukan Demak itu. Bahkan mungkin Mahesa Jenar masih memiliki kelebihan-kelebihan yang langsung diterima dari gurunya. Tetapi perasaan yang tak dapat disebutkan sebabnya telah menjalari dirinya.

Tanpa disengaja, Mahesa Jenar memandang ke arah Gajah Sora yang masih diam seperti patung memandangi pasukan Demak yang mendekatinya. Perasaannya bergolak hebat. Sebenarnya Gajah Sora sama sekali tidak mencemaskan pasukannya. Sebab ia merasa bahwa kekuatan kedua pasukan itu tidak akan terlalu banyak terpaut. MESKIPUN nilai dari setiap anggota Laskar Banyubiru tidak dapat menandingi prajurit-prajurit dari Demak, Gajah Sora juga mempunyai beberapa orang pilihan dan mempunyai pasukan yang lebih banyak. Kalau perlu ia dapat mengubah gelarnya dalam gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba seperti banjir melanda pasukan Demak. Untuk beberapa saat pasukan Banyubiru di bawah panji-panji Dirada Sakti, yaitu panji-panji merah berlukiskan gajah yang berwarna kuning emas itu masih diam tak bergerak, sementara pasukan Demak semakin lama semakin dekat. Karena itu semakin jelaslah kemudian setiap langkah dari setiap orang dalam gelar Cakra Byuha yang sempurna. Namun sampai sekian mereka masih belum dapat mengenal orang-orang yang diserahi tugas memimpin pasukan Demak itu.

Sesaat kemudian setelah pasukan itu menjadi semakin dekat, tampaklah seorang yang duduk diatas kuda berwarna sawo, yang agaknya memegang pimpinan, melambaikan tangannya. Maka segera berhentilah pasukan itu. Pemimpin pasukan itu, yang karena jaraknya yang masih agak jauh, belum dapat dikenal, segera memanggil dua orang pembantunya. Rupanya mereka sedang merundingkan siasat. Mahesa Jenar kini merasa bahwa ia sudah tidak akan mampu berbuat sesuatu. Dua pasukan yang sudah berhadapan agaknya sukar untuk ditahannya. Apalagi ketika yang diduganya benar-benar terjadi. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak tidak mungkin dapat melawan pasukan Banyubiru dalam gelar yang demikian, sebab keadaan medan memang menguntungkan pasukan Banyubiru yang berada di tempat yang lebih tinggi. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, pasukan Demak harus mengubah tata barisannya sehingga mereka dapat mencapai tempat yang sama tinggi. Pemimpin pasukan Demak itu dilihatnya mengangkat kedua tangannya dan kemudian dengan gerak melingkar tangannya bersilang dan kemudian direntangkan kembali. Itu adalah suatu aba-aba untuk mengubah tata barisannya.

Pasukan Demak adalah pasukan yang terlatih baik. Karena itu segera setiap pimpinan kelompok dengan serentak mengulangi aba-aba pimpinan pasukan, dan sesaat kemudian pasukan itu tampaknya menjadi berserak-serakan tak karuan. Tetapi sebenarnya mereka sedang bergerak untuk menempati tempat-tempat mereka dalam gelar perang yang baru, Garuda Nglayang. Meskipun dengan gelar ini pasukan Demak sama sekali tak bermaksud mengepung pasukan Banyubiru, tetapi mereka berusaha untuk mencapai tempat yang cukup tinggi, sebab dengan gelar yang memencar ini, sayap-sayap kanan dan kiri akan dapat maju mendahului induk pasukannya, dan seterusnya menerjang dari arah lambung. Melihat pasukan dari Demak telah memulai dengan gerakannya, setiap laskar Banyubiru segera menjadi gelisah. Mereka serentak memandang kepada Gajah Sora, untuk menunggu perintah lebih lanjut, terutama pimpinan-pimpinan kelompok. Sebenarnya Gajah Sora segera dapat berusaha mencegah maksud pasukan Demak itu dengan mengubah gelarnya pula. Hal ini disadari oleh setiap pemimpin laskar Banyubiru. Karena mereka pun telah siaga untuk melaksanakan perubahan gelar itu.

Namun untuk beberapa saat Gajah Sora tidak memberikan perintah sesuatu. Bantaran dan Sawungrana yang memegang pimpinan sebagai ujung-ujung gading dalam gelar Dirada Meta, Pandan Kuning dengan beberapa pasukan pilihan sebagai pengawal panji-panji Dirada Sakti, menjadi semakin gelisah. Wanamerta dan Panjawi pun tidak dapat mengetahui sebabnya, kenapa mereka masih harus diam menunggu. Mahesa Jenar juga menebak-nebak di dalam hati, apakah maksud sebenarnya dari Gajah Sora itu. Ataukah ia mempunyai suatu siasat di luar pengetahuannya?. Andaikata Mahesa Jenar memegang pimpinan, pasukan Banyubiru harus segera berubah dalam gelar Wulan Panunggal, untuk menghalangi sayap-sayap gelar Garuda Nglayang yang melengkung itu, sehingga dapat mengimbangi kekuatan sayap Garuda Nglayang, apalagi jumlah mereka lebih banyak. Dalam setiap perhitungan perang, waktu memegang peranan yang penting, sehingga meskipun hanya sekejap, kadang-kadang mempunyai arti yang besar. Demikianlah pasukan Demak yang terlatih baik itu, hanya memerlukan waktu yang singkat untuk dapat menempati kedudukannya yang baru. Bahkan pasukan sayap kanan dan kiri telah mulai mendaki tebing.

Melihat semuanya itu, Panjawi dan Sawungrana hanya dapat saling memandang, dan sekali dua kali mereka melemparkan pandangannya kepada Mahesa Jenar yang berada di luar kedudukan gelar, meskipun ia berada tidak jauh dari mereka itu. Sebenarnya di dalam hati Mahesa Jenar tersimpanlah suatu kecemasan yang sangat besar, melihat tingkah laku Gajah Sora. Mungkinkah ia menjadi mata gelap dan putus asa, sehingga sejak langkah pertama sudah akan dipergunakan gelar-gelar yang menentukan seperti gelar Samodra Rob atau Gelatik Neba, yang sebenarnya sama sekali tidak perlu? Memang, gelar itu akan cepat mencapai penyelesaian, tetapi korbannya tak akan dapat dihitung lagi. Karena itu Mahesa Jenar menunggu perkembangan keadaan dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi dalam keadaan yang demikian ia tidak akan mengganggu pemimpin pasukan. Sementara itu, sayap-sayap kiri dan kanan dari pasukan Demak telah mencapai tempat yang sama tinggi dengan pasukan Banyubiru. Bahkan mereka telah siap pula melancarkan serangan ke arah lambung pasukan Banyubiru yang masih mempergunakan gelar Dirada Meta. Dalam hal ini dengan suatu isyarat tangan dari pemimpin mereka, pastilah mereka akan segera bergerak.

Tetapi rupanya dalam barisan Demak pun terjadi sesuatu. Pemimpin pasukan mereka ternyata tidak segera memberikan aba-aba untuk mulai menyerang. Agaknya mereka menjadi heran pula, kenapa dalam keadaan yang demikian pasukan Banyubiru masih belum juga menunjukkan tanda-tanda untuk mulai bertindak. Karena itu, pemimpin pasukan dari Demak itu pun tidak tergesa-gesa bertindak. SEMENTARA itu, terjadilah suatu hal yang sama sekali tak terduga-duga. Dengan suara lirih dan dalam, terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora memanggil Wanamerta dan Panjawi. Sesaat kemudian Gajah Sora memalingkan mukanya, mencari Mahesa Jenar, dan dengan isyarat ia diminta mendekatinya. Ketika Mahesa Jenar melihat wajah Ki Ageng Gajah Sora, ia menjadi terkejut. Wajah itu nampak begitu suram dan basah oleh keringat yang tak sempat diusapnya. Segera ia menarik kekang kudanya, dan cepat-cepat mendekatinya. Agaknya telah terjadi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat, sehingga ketika Mahesa Jenar telah berada di sampingnya, semakin jelas bahwa tubuh Gajah Sora gemetar. Kemudian dengan suara yang bergetar pula ia berkata,

“Paman Wanamerta, tetua tanah perdikan Banyubiru. Panjawi, harapan masa datang, dan Adi Mahesa Jenar yang berpandangan luas. Harap kalian mengetahui keputusanku…. Aku sama sekali tidak gentar menghadapi pasukan dari Demak itu, meskipun ternyata terdiri dari pasukan penggempur yang kuat.” Gajah Sora berhenti sebentar, lalu lanjutnya, “Tetapi aku tak akan melawannya.” Mendengar kata-kata Gajah Sora itu, Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar sangat terkejut. Segera wajah-wajah mereka memancarkan perasaan mereka yang menyimpan berbagai pertanyaan. Tetapi tak seorangpun yang menyatakannya. “Dengarlah dengan baik,” sambung Gajah Sora, “Mungkin Adi Mahesa Jenar yang paling dapat mengerti perasaanku.”

Gajah Sora diam sebentar untuk menelan ludah yang seolah-olah menyumbat kerongkongan. Matanya yang sayu dan kemerah-merahan itu, tanpa berkedip memandang ke arah bendera Gula Kelapa yang berbentuk segitiga panjang sebagai lambang kebesaran Demak.

“Beberapa tahun yang lampau…,” lanjut Gajah Sora, “Aku pernah bertempur melawan orang-orang Portugis di Semenanjung Malaka untuk mempertahankan kebesarannya. Pada saat itu diatas kapalku berkibar pula dengan megahnya bendera Gula Kelapa itu. Haruskah aku sekarang melawannya? Tidak, aku tidak bisa.”

Kembali Gajah Sora terdiam. Dan kembali Gajah Sora menelan ludah beberapa kali. Matanya nampak semakin merah bukan oleh nyala kemarahan. Mendengar kata-kata itu, bulu tengkuk Mahesa Jenar serasa serentak berdiri. Kata-kata itu langsung menyusup ke perasaannya yang paling dalam. Agaknya perasaan yang demikian pulalah yang menyebabkan dirinya seperti orang yang kehilangan pegangan. Tetapi Wanamerta dan Panjawi mempunyai tanggapan yang lain. Wajahnya menjadi tegang. Mereka tidak begitu mengerti maksud Gajah Sora. Karena itu Wanamerta segera bertanya,

“Bagaimanakah maksud Ki Ageng sebenarnya?”

“Lalu apakah yang akan Ki Ageng lakukan?” sela Panjawi yang menjadi semakin gelisah.

“Aku akan berbicara dengan mereka,” jawab Gajah Sora.

Mendengar jawabnya itu Wanamerta dan Panjawi saling memandang dengan kebingungan. “Mereka tidak datang untuk berbicara,” jawab Panjawi kemudian, “Tetapi mereka datang dengan gelar perang.”

Kembali mata Ki Ageng Gajah Sora melekat pada Sang Saka Gula Kelapa yang seolah-olah melambaikan tangan-tangannya kepada Gajah Sora, sebagai salam hangat setelah agak lama tidak bertemu. Karena itu hati Ki Ageng Gajah Sora menjadi semakin terkoyak-koyak.

“Kalau mereka tidak dapat berbicara,” kata Gajah Sora selanjutnya, “aku akan menyertai mereka ke Demak. Sebab aku percaya bahwa pemerintahan berjalan dalam garis-garis hukum. Bagaimanapun juga masalah ini adalah masalah kita bersama yang harus dapat kita selesaikan, tanpa pertumpahan darah.”

Wanamerta dan Panjawi agaknya masih belum begitu mengerti maksud Gajah Sora, sehingga terdengar suara Wanamerta agak tertahan, “Anakmas, kami adalah orang-orang yang bersedia dibujur-lintangkan untuk keselamatan Anakmas.”

Gajah Sora memandang Wanamerta dengan penuh pengertian dan haru. Tetapi ia sudah mempunyai suatu ketetapan bahwa ia sama sekali tak bermaksud menodai Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu katanya, “Paman…, aku tahu kesetiaan Paman dan segenap laskar Banyubiru. Tetapi aku harap Paman juga mengetahui kesetiaanku kepada bendera itu, Sang Saka Gula Kelapa, sebagai lambang kesatuan negara. Termasuk Banyubiru. Sebab Banyubiru sendiri tak ada artinya di muka bumi ini, kalau tidak bersama-sama dengan daerah-daerah lainnya berkembang di taman sarinya. Negara kita ini. Sebaliknya, negara kita ini tidak pula akan tegak melawan badai sejarah kalau tidak berakar di dalam jiwa rakyat di daerah-daerah, termasuk Paman dan seluruh rakyat Banyubiru.”

Wanamerta dan Panjawi menundukkan mukanya dalam-dalam. Di dalam hatinya telah membayang sedikit pengertian akan ucapan pemimpinnya yang sangat dicintainya itu. Namun bagaimanapun, agaknya amat sulit baginya untuk melepas Gajah Sora pergi sebagai seorang terdakwa yang telah melakukan pengkhianatan. Karena itu Wanamerta masih mencoba bertanya,

“Anakmas, tidakkah Anakmas dapat berbicara dengan mereka dalam kesempatan lain yang lebih baik, sehingga Anakmas tidak dianggap sebagai seorang tangkapan?”

“Tak akan ada lagi kesempatan kecuali ini, Paman. Sebab kalau aku tidak mempergunakan kesempatan ini, pasti akan terjadi pertumpahan darah sesama kita yang tak ada artinya,” jawab Ki Ageng Gajah Sora.

Kembali Wanamerta menundukkan kepalanya. Ia kenal betul akan sifat dan watak Gajah Sora. Apabila ia sudah menjatuhkan keputusan, maka tak seorang pun yang akan dapat mengubahnya. Karena itu, dengan perasaan yang tertekan ia terpaksa berdiam diri. Sebaliknya Panjawi yang masih belum dapat mengendapkan dirinya, berkata menyela,

“Ki Ageng…, sebenarnya kami lebih senang apabila Ki Ageng memerintahkan kepada kami untuk menghunus pedang kami daripada melepaskan Ki Ageng pergi sebagai seorang tawanan.”

GAJAH SORA tersenyum pahit. Lalu jawabnya, “Aku bukanlah tawanan prajurit yang kalah perang, Panjawi. Hal ini pasti disadari pula oleh orang-orang Demak itu, bahwa aku masih tegak di hadapan pasukanku yang belum pasti dapat mereka kalahkan.”

“Karena itu berikanlah kepada kami perintah, Ki Ageng,” sahut Panjawi yang agaknya masih berdarah panas.

“Panjawi…” jawab Gajah Sora, “Memang di dalam tubuhmu mengalir darah jantan sejati. Tetapi dengarlah perintahku baik-baik. Kau dan Wanamerta tetap berada di tempatmu. Jagalah bahwa tak seorang pun dalam pasukan ini yang berkisar dari tempatnya.”

Mendengar perintah itu, dada Panjawi serasa menerima pukulan yang maha dahsyat, sampai ia memejamkan mata beberapa saat untuk dapat menenangkan perasaannya kembali.

“Adi Mahesa Jenar…” kata Gajah Sora kepada Mahesa Jenar yang selama itu dengan penuh pergolakan di dalam dadanya memperhatikan setiap kata-kata Gajah Sora. “Wanamerta dan Panjawi, Di manakah Arya?” Pertanyaan ini mengejutkan benar, sebab untuk beberapa saat Mahesa Jenar telah melupakan anak ini. “Bukankah tadi anak itu datang di belakang Adi?” sambung Gajah Sora.

“Benar, Kakang,” jawab Mahesa Jenar agak gugup sambil melayangkan pandangannya berkeliling, sampai akhirnya tertumbuk pada seekor kuda hitam dengan seorang anak di punggungnya dan tampaknya dengan enaknya melihat dua pasukan yang hampir bertempur itu seperti melihat rombongan pawai prajurit.

Melihat hal itu jantung Mahesa Jenar berdesir. Apakah yang terjadi andaikata kedua pasukan itu benar-benar bertempur, sedangkan Arya berada diatas sebuah gundukan tanah dalam garis serangan sayap kanan pasukan Demak. Andaikata sampai terjadi sesuatu atasnya pastilah ia harus mempertanggung-jawabkannya. Maka dengan isyarat Arya dipanggil untuk mendekati ayahnya. Tetapi rupa-rupanya anak itu agak takut, sehingga isyarat itu sampai harus diulangi dua kali.

Ketika Arya telah berada disampingnya, dengan pandangan yang semakin sayu dan kata-kata yang gemetar, Ki Ageng Gajah Sora berkata kepada Arya, “Arya…, kau telah pernah mempergunakan tombakku yang sakti ini. Karena itu, pada hari ini tombak ini aku hadiahkan kepadamu.”

Arya yang tidak tahu masalahnya, mendengar kata-kata ayahnya itu menjadi terkejut dan menduga-duga, tetapi sekejap kemudian ia menjadi kegirangan. Wajahnya berseri-seri dan dengan segera ia maju mendekat. Sebaliknya adalah Wanamerta, Panjawi dan Mahesa Jenar. Ketika mereka mendengar kata Gajah Sora itu dada mereka bergoncang hebat. Sebab mereka sadar akan arti kata-kata itu. Dengan demikian maka Ki Ageng Gajah Sora telah menyerahkan pemerintahan Banyubiru kepada putra satu-satunya yang belum dewasa.

“Apakah artinya ini Ki Ageng?” tanya Panjawi dengan suara bergetar.

“Ayah akan menghadiahkan tombak itu kepadaku,” sahut Arya dengan riangnya. “Dan bukankah ayah bermaksud mengijinkan aku untuk turut bertempur sekarang ini?” Semua yang mendengar kata-kata Arya itu menarik nafas dalam-dalam. Lebih-lebih Gajah Sora sendiri.

“Arya, aku tidak bermaksud demikian. Sebab hari ini aku akan bepergian jauh sekali, dan belum tentu kapan akan kembali. Kaulah yang berhak untuk memiliki pusaka itu, tetapi sementara biarlah pusaka itu kau titipkan kepada eyangmu Wanamerta,” kata Gajah Sora dengan suara lembut.

Wajah Arya yang riang itu segera berubah menjadi kecewa dan bertanya-tanya. Pandangannya beredar diantara orang-orang yang berada di sekitarnya seperti minta penjelasan. Akhirnya ia bertanya,

“Ayah akan pergi jauh sekali?”

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk. “Selama ayah pergi, kau tidak boleh nakal Arya. Kau harus menurut segala petunjuk eyangmu Wanamerta. Dan yang akan melanjutkan pelajaranmu dan olah kanuragan adalah pamanmu Mahesa Jenar. Bukankah begitu Adi…?”

Mahesa Jenar menjadi agak kebingungan, tetapi ia tidak dapat berkata lain daripada mengiyakan. Sesaat kemudian kembali Gajah Sora memandangi bendera Gula Kelapa yang melambai kepadanya. Sesaat kemudian dilayangkan pandangannya kepada seluruh anak buahnya yang berbaris teratur di belakangnya dalam gelar Dirada Meta. Tiba-tiba Gajah Sora mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Pemimpin pasukan Demak yang rupa-rupanya cukup bijaksana dan tidak berbuat sesuatu, ketika ia menyaksikan Gajah Sora sedang berunding dengan bawahannya, juga mengangkat tangan kanannya untuk menjawab isyarat Gajah Sora. Sekali lagi Gajah Sora memandang kepala barisannya. Kemudian ia berkata kepada Wanamerta,

“Sepeninggalku perintahkan pasukan ini mengundurkan diri, Paman. Aku percayakan Banyubiru dalam kebijaksanaan paman selama aku pergi. Aku juga minta agar Adi Mahesa Jenar sudi menjadi pelindung daerah yang tak berarti ini. Aku titipkan Arya kepadamu,” lanjut Gajah Sora kepada Mahesa Jenar.

Kemudian, sehabis mengucapkan kata-kata itu, Gajah Sora menarik kekang kudanya yang kemudian berlari dengan kencangnya menuju ke arah pasukan dari Demak. Melihat Gajah Sora telah datang seorang diri, pemimpin pasukan dari Demak itupun segera menyongsongnya bersama dua orang pengawalnya. Melihat Ki Ageng Gajah Sora pergi seorang diri ke arah pasukan-pasukan dari Demak itu, Arya terkejut. Untuk beberapa saat ia diam kebingungan. Tetapi setelah ingatannya berjalan kembali, ia berteriak memanggil. Untunglah bahwa Mahesa Jenar cepat bertindak, menangkap kendali kuda Arya yang hampir berlari memburu. Sambil memanggil-manggil ayahnya, Arya meronta-ronta memukul-mukul tangan Mahesa Jenar yang memegang kendali kudanya itu. WANAMERTA memandangi Arya dengan dada yang sesak. Perlahan-lahan ia mendekati anak itu dan menghibur sebisa-bisanya. Namun untuk beberapa saat Arya masih saja berusaha untuk melepaskan tangan Mahesa Jenar dan berteriak-teriak sejadi-jadinya.

Sebenarnya bukan saja Arya yang menjadi bingung dan meronta-ronta, tetapi segenap hati laskar Banyubiru menjadi bingung, dan meronta-ronta pula. Bahkan kemudian terdengarlah suara bergumam yang semakin lama semakin keras. Bantaran dan Sawungrana tampak menjadi gelisah. Sedang Pandan Kuning yang tak dapat menahan diri lagi berteriak nyaring,

“Apakah artinya ini semua Kakang Wanamerta…?”

Wanamerta dapat mengerti semuanya itu, dapat mengerti kenapa seluruh laskar Banyubiru menjadi gelisah dan bingung. Karena itu segera ia mengangkat tangannya untuk menenangkan keadaan, sedang tangannya yang lain mengacungkan pusaka Kyai Bancak tinggi-tinggi sebagai suatu pernyataan bahwa ia telah mendapatkan wewenang atas nama Arya Salaka untuk memimpin daerah perdikan Banyubiru. Sementara itu keributan agak dapat ditenangkan, tetapi hati laskar Banyubiru itu sama sekali tak dapat ditenangkan. Mereka, dengan darah yang bergelora melihat Ki Ageng Gajah Sora berlari di atas kudanya menemui pemimpin pasukan dari Demak yang datang menyongsongnya. Apalagi beberapa saat kemudian seluruh laskar Banyubiru yang berada di lereng bukit Telamaya itu menyaksikan dengan jelas bahwa pemimpin mereka Ki Ageng Gajah Sora pergi meninggalkan mereka bersama-sama dengan pemimpin pasukan dari Demak itu, yang sebentar kemudian memberi aba-aba kepada seluruh prajurit Demak untuk menarik gelar Garuda Nglayang itu menjadi suatu barisan tidak dalam gelar perang.

Rasa-rasanya laskar Banyubiru itu hampir meledak ketika mereka menyadari bahwa pemimpin mereka telah pergi menyertai pasukan dari Demak, yang menurut anggapan mereka tidak lebih dari seorang tawanan. Dalam keadaan yang demikian, segera Wanamerta membalikkan kudanya dan merasa perlu untuk memberi penjelasan. Segera dengan isyarat tangan ia memanggil segenap pimpinan kelompok dalam kesatuan laskar Banyubiru.

“Anak-anakku Laskar Banyubiru yang setia kepada pemimpinnya. Atas nama kekuasaan yang telah diserahkan kepada Arya Salaka, aku perintahkan kepadamu untuk tetap tenang, dan setelah ini menarik kembali seluruh laskar kita. Penjelasan mengenai hal ini akan aku berikan kemudian,” kata Wanamerta.

Mendengar keterangan singkat dari seorang kepercayaan Gajah Sora itu beberapa orang menjadi ribut, sedang beberapa orang lagi menjadi kebingungan. Tetapi bagaimanapun laskar Banyubiru adalah laskar yang patuh dan setia sehingga bagaimanapun terjadi pergolakan di dalam dada namun mereka harus mentaati perintah pemimpin mereka atau yang dikuasakan. Dan sekarang, ternyata Wanamerta yang memegang pusaka Kyai Bancak itu berbicara atas nama Pemimpin tanah perdikan Banyubiru. Karena itu tak seorangpun yang berani melanggar perintahnya. Panjawi yang sebenarnya sama sekali tidak rela melepaskan Gajah Sora, menjadi gemetar tubuhnya. Wajahnya jadi sebentar merah dan sebentar kemudian memutih pucat hampir seperti mayat. Giginya terdengar gemeretak dan pengertian perasaan yang bercampur aduk antara marah, kecewa, dan bingung, tetapi juga kesadaran dan pengertian bahwa apa yang dikatakan Gajah Sora adalah benar.

Sementara itu iring-iringan pasukan Demak itu berjalan terus semakin jauh, meninggalkan kepulan debu putih yang segera lenyap disapu angin pegunungan. Sebentar kemudian pasukan yang membawa Ki Ageng Gajah Sora itu lenyap sedikit demi sedikit di tikungan, seperti ditelan oleh anak pegunungan yang menonjol di hadapan laskar Banyubiru itu. Bersama dengan lenyapnya pasukan Demak itu dari pemandangan mereka, terdengarlah Arya Salaka terisak-isak. Wanamerta segera mendekatinya dan kembali ia mencoba menenangkan Arya yang meskipun berusaha menahan tangisnya tetapi akhirnya air matanya terurai mengalir. Melihat hal itu hati Panjawi semakin bergelora, meskipun ia sadar bahwa tak ada yang dapat dilakukan.

“Arya…, marilah kita pulang,” kata Wanamerta lembut. Dengan masih terisak, Arya menggelengkan kepalanya. “Pulanglah, Arya…” sambung Mahesa Jenar, “Bukankah ayahmu telah berpesan supaya kau menuruti nasehat kakekmu Wanamerta?”

Arya memandang Mahesa Jenar dengan mata merah yang basah. Seolah-olah ia ingin menanyakan, kenapa Mahesa Jenar tidak berbuat sesuatu untuk menyelamatkan ayahnya. “Tidakkah Paman pulang ke Banyubiru?” tanya Arya di sela-sela isaknya.

“Pasti, Arya,” jawab Mahesa Jenar. “Aku akan pulang ke Banyubiru, tetapi berjalanlah dahulu, aku segera akan menyusul.”

Sekali lagi Arya memandang kepada Mahesa Jenar dengan penuh pertanyaan. Tetapi sejenak kemudian ia pun menjadi agak tenang. Bersama-sama dengan Wanamerta, Panjawi dan seluruh laskar Banyubiru, Arya berjalan kembali ke Banyubiru, kecuali Mahesa Jenar. Kepada Wanamerta, Panjawi dan Arya Salaka, Mahesa Jenar minta izin untuk tinggal sebentar dan kemudian akan segera menyusul kembali. SEPENINGGAL pasukan Banyubiru, Mahesa Jenar mengendarai kudanya perlahan-lahan di sepanjang lereng-lereng bukit. Rasanya ada sesuatu yang tidak menentramkan hatinya. Firasatnya yang agak tajam menangkap sesuatu yang tidak wajar akan terjadi. Beberapa saat kemudian Mahesa Jenar muncul di sebelah bukit yang menghalangi pandangannya, dan kembali tampak debu berhamburan jauh di bawah kakinya. Itulah iring-iringan pasukan dari Demak.

Tanpa disengaja, kudanya dilarikan agak cepat ke arah yang sama dengan pasukan itu. Jaraknya semakin lama semakin dekat. Tetapi apabila jarak itu sudah terlalu dekat, maka memungkinkan orang-orang Demak itu dapat melihatnya, sehingga segera ia menghentikan kudanya dan berdiri di tempat yang agak tersembunyi. Tetapi ketika sudah agak jauh dari Banyubiru, tiba-tiba darah Mahesa Jenar tersirat ketika melihat di lereng-lereng bukit di sekitar jalan yang dilewati pasukan Demak itu tampak bintik-bintik yang bergerak-gerak. Ia menjadi curiga, dan dengan penuh perhatian dicobanya untuk mengetahui apakah sebenarnya yang tampak bergerak-gerak itu. Mahesa Jenar menjadi semakin terperanjat ketika ia yakin bahwa bintik-bintik yang bergerak-gerak itu adalah manusia-manusia yang bersenjata. Tetapi sebelum sempat ia berbuat sesuatu, orang-orang bersenjata yang bergerak-gerak di lereng-lereng bukit di sekitar jalan itu telah mulai dengan sebuah serangan yang melanda seperti air pasang. Inilah gelar Samodra Rob yang menyerang gelombang demi gelombang dengan jumlah pasukan yang besar.

Dari jarak yang agak jauh, Mahesa Jenar melihat iring-iringan pasukan Demak itu berhenti, dan sebentar kemudian ia melihat gerakan yang cepat dari pasukan itu menjadi sebuah gelar Gedong Minep. Ini agak aneh bagi Mahesa Jenar, kenapa pasukan dari Demak itu mengambil gelar yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk melawan gelar Samodra Rob. Tetapi, terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa di dalam pasukan dari Demak itu ada seorang yang akan dibawa menghadap kepada Sultan Demak. Jadi pastilah bahwa pemimpin pasukan penyerang itu berusaha untuk membebaskan Gajah Sora. Mendapat pikiran yang demikian, dada Mahesa Jenar menjadi sesak. Tetapi sementara itu ia tidak dapat berbuat sesuatu. Dalam hati Mahesa Jenar tersimpullah suatu tafsiran bahwa ini adalah suatu kesengajaan dari pihak-pihak yang ingin melihat suasana Banyubiru menjadi semakin keruh. Ternyata bahwa mereka telah menyiapkan pasukan untuk bermacam-macam kemungkinan dan kepentingan. Di lembah, di bawah lereng-lereng bukit Telamaya itu segera terjadi suatu pertarungan yang sengit. Gelar Samodra Rob itu bagai gelombang menghantam pasukan dari Demak yang berada dalam kedudukan yang kurang menguntungkan.

Hal ini rupanya kemudian disadari bahayanya. Maka dengan suatu gerakan melingkar, pasukan Demak yang terlatih baik itu mengubah gelarnya menjadi seolah-olah suatu permainan yang selalu bergerak-gerak. Kedudukan mereka nampaknya menjadi sangat lemah di bagian depan sehingga banyak lubang pertahanan yang dengan mudahnya disusupi oleh penyerang. Tetapi tidaklah demikian sebenarnya. Melihat perubahan itu, Mahesa Jenar yang hanya dapat melihat dari jauh, menarik nafas lega, seolah-olah ialah pemimpin pasukan dari Demak itu. Dan segera tampak bahwa pasukan penyerang itu tidak banyak dapat berbuat melawan satu pasukan yang teratur baik dan terdiri dari orang-orang pilihan. Pasukan Demak itu telah mengubah gelarnya menjadi gelar Jurang Grawah. Gelar yang dapat menampung berapa pun banyaknya air yang mengalir melandanya. Meskipun serangan-serangan lawannya itu seolah-olah dengan mudah dapat menyusup ke dalam gelar pasukan Demak, tetapi demikian gelombang itu masuk, demikian gelombang itu dibinasakan oleh pasukan-pasukan yang justru berada di garis kedua dan ketiga. Tetapi karena jumlah penyerang-penyerang itu sedemikian banyaknya, maka pertempuran itu pun berlangsung dengan hebatnya.

Mahesa Jenar melihat pertempuran itu tanpa bergerak dari punggung kudanya, seolah-olah ia terpaku di atasnya. Meskipun hatinya bergelora hebat, ia hanya dapat menekan dadanya dengan tangannya. Sebab dalam kedudukannya yang sekarang, tidaklah mungkin ia turut campur. Tiba-tiba tanpa disengaja, mata Mahesa Jenar merayap ke atas bukit kecil di sebelah lembah, dimana pertempuran yang hebat itu terjadi. Di sana, dilihatnya beberapa bayangan yang ternyata adalah orang-orang berkuda. Cepat pikiran Mahesa Jenar bekerja. Dan ia dapat mengambil kesimpulan bahwa orang-orang itu pastilah dalang dari keributan ini. Karena itu, ia bermaksud untuk mengetahui, siapakah kiranya yang berdiri di atas bukit kecil itu. Mendapat pikiran itu, terus saja Mahesa Jenar memutar kudanya, dan dengan mengambil jalan melingkar ia menuju ke arah bukit kecil, dimana orang-orang yang dicurigainya itu berada. Dengan hati-hati ia berusaha untuk mendekati orang itu dari arah belakang.

Maka setelah Mahesa Jenar berhasil mencapai bukit kecil itu, ia segera turun dari kudanya dan menambatkannya pada sebatang pohon dengan ikatan yang tidak begitu keras, supaya apabila setiap saat diperlukan, tidak terlalu sukar baginya untuk melepaskan tali itu. Dengan hati-hati sekali ia merangkak naik dan selalu berusaha untuk melindungi dirinya dengan batang-batang pohon dan daun-daun yang rimbun. Bahkan kadang-kadang ia memilih jalan menyusur tebing-tebing yang curam agar tidak menarik perhatian. Di atas bukit itu ternyata beberapa orang berkuda yang dengan saksama mengikuti jalannya pertempuran di lembah. Mahesa Jenar yang dengan sangat hati-hati berhasil mendekati mereka, segera mengenal siapakah mereka itu. PADA saat Mahesa Jenar mengetahui orang-orang yang berkuda itu, rasanya dirinya seperti terlempar ke dalam sebuah khayalan yang sangat menakutkan dan sukar untuk dipercaya. Karena itu jantungnya terasa seperti berdentam-dentam tak keruan. Cepat ia berusaha menguasai diri dan mengatur pernafasan untuk menenangkan dirinya. Meskipun demikian, ia menjadi gemetar juga. Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah orang yang cukup berpengalaman, sehingga apa yang dilakukan bukanlah pencetusan perasaannya belaka, tetapi juga hasil dari pemikirannya yang masak.

Karena itu, meskipun di hadapannya berdiri tokoh-tokoh yang seolah-olah merupakan kejadian yang hanya dapat terjadi di dalam mimpi, namun ia tetap dapat mempergunakan pikirannya dengan baik. Orang-orang berkuda itu adalah deretan dari tokoh-tokoh yang dikenalnya sebagai tokoh-tokoh golongan hitam yang cukup tangguh. Diantaranya adalah Lawa Ijo dan Padas Gunung yang rupanya telah sembuh, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Suami-istri Sima Rodra, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan yang lebih mengejutkan hati Mahesa Jenar adalah hadirnya Lembu Sora bersama-sama dengan mereka. Dengan demikian maka apa yang terjadi di Banyubiru seolah-olah kini menjadi terang benderang baginya. Berkumpulnya tokoh-tokoh itu adalah suatu petunjuk yang jelas. Karena itu setelah ia mendapat kesimpulan dari peristiwa yang tak tersangka itu, otaknya pun segera bekerja keras. Yang harus diusahakan pertama-tama adalah menarik pasukan pasukan yang menyerang pasukan dari Demak itu. Sesudah itu entahlah apa yang akan terjadi dengan dirinya.

Menilik tata tempat mereka berada, Mahesa Jenar dapat mengambil kesimpulan, bahwa Lembu Sora yang berada di tempat paling depan adalah orang yang paling berkepentingan dengan pertempuran itu. Sedang menurut perhitungan Mahesa Jenar, laskar yang paling banyak dari para penyerang itu adalah laskar Lembu Sora. Sekali lagi Mahesa Jenar melayangkan pandangannya ke lembah yang semakin samar dilapisi debu yang mengepul tinggi. Tetapi dengan jelas ia dapat menyaksikan pertempuran yang semakin dahsyat. Laskar penyerang itu kemudian hampir kehilangan pegangan, sehingga serangannya sudah mengarah ke gelar Gelatik Neba. Melihat hal itu, maka Mahesa Jenar merasa perlu untuk segera bertindak sebelum korban semakin banyak yang jatuh. Bagi Lembu Sora dan orang-orang seperti Lawa Ijo dan sebagainya, banyaknya korban tidak merupakan soal. Yang penting, adalah maksud mereka tercapai. Setelah berpikir berulang kali, dan menimbang untung-ruginya, Mahesa Jenar memutuskan untuk mengambil jalan yang sangat berbahaya. Sebab sudah tidak ada pilihan lain baginya kecuali menempuh bahaya itu.

Dengan lebih berhati-hati lagi Mahesa Jenar merangkak semakin dekat dengan orang-orang berkuda. Untung mereka terlalu asyik menyaksikan pertempuran di lembah, sehinggga kehadiran Mahesa Jenar sama sekali tak mereka ketahui. Maka dengan suatu gerakan yang cepat sekali, seperti harimau yang menerkam mangsanya, Mahesa Jenar sambil menggeram meloncati Lembu Sora yang sama sekali tidak menduganya. Karena itu, ia sama sekali tidak bersiaga, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Segera Mahesa Jenar mendekapnya dan karena dorongan kekuatan loncatannya maka Mahesa Jenar telah mendorong Lembu Sora sehingga keduanya jatuh berguling dari atas kuda. Mahesa Jenar yang telah memperhitungkan setiap gerakannya dengan saksama, segera dapat menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebaliknya, Lembu Sora menjadi bingung, dan untuk beberapa saat ia seperti kehilangan pikirannya.

Lembu Sora menjadi sadar ketika lengan Mahesa Jenar yang kuat telah melingkari lehernya. Cepat tangan kanannya bergerak meraba hulu kerisnya yang terselip di lambung. Tetapi ia menjadi terkejut ketika keris itu sudah tidak ada. Ketika Lembu Sora berusaha untuk mencapai tangkai pedangnya, tiba-tiba terasa ujung sebuah senjata tajam melekat di punggungnya. Tahulah ia sekarang bahwa orang yang mendorongnya telah berhasil pula menghunus kerisnya. Segera Lembu Sora menggigil karena marah, matanya merah menyala dan nafasnya mengalir bertambah cepat.

“Orang gila manakah yang telah melakukan pekerjaan terkutuk ini?” kata Lembu Sora sambil menggeram.

Sementara itu, orang-orang lain yang menyaksikan kejadian yang hanya sekejap itu menjadi tertegun. Sesaat mereka pun menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang dilakukan.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab, “Akulah, Mahesa Jenar.”

“Kau orang Pandanaran…,” desis Lembu Sora semakin marah, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Sebab setiap ia bergerak, keris yang menempel di punggungnya itu terasa semakin menekan.

“Ya,” jawab Mahesa Jenar singkat.

“Aku sudah menduga bahwa kau tidak berani berlaku sebagai seorang jantan,” sambung Lembu Sora.

“Aku hanya dapat berlaku jantan terhadap orang jantan pula,” jawab Mahesa Jenar.

“Kau kira aku tidak mampu membunuhmu kalau kau menyerang aku berhadapan?” kata Lembu Sora hampir berteriak.

“Aku tidak peduli, tetapi membinasakan kakak kandung dengan caramu itu, adalah bukan laku seorang jantan. Kau bermaksud membinasakan pasukan Demak itu, dengan harapan Gajah Sora yang tertuduh berbuat khianat dengan menipu dan kemudian menjebak. Adakah itu laku seorang jantan?”

“Aku sedang berusaha membebaskannya,” jawab Lembu Sora.

MAHESA JENAR memang sudah menduga bahwa Lembu Sora pasti akan beralasan demikian. Karena itu ia meneruskan, “Membebaskan Ki Ageng Gajah Sora dan kemudian tidak memberinya tempat menetap karena ia akan selalu diburu oleh alat-alat negara? Ki Ageng Lembu Sora, kau tidak usah banyak bercerita. Sekarang perintahkan orang-orangmu untuk menarik laskarmu yang menyerang pasukan Demak itu.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar itu, Lembu Sora terkedjut bukan buatan. Karena itu pula maka darahnya menjadi semakin mendidih membakar hatinya. Sementara itu, orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu telah mulai memiliki kesadarannya kembali. Dan bersamaan dengan itu pula mereka menjadi cemas sebab sebagian dari mereka telah mengenal siapakah Mahesa Jenar, bahkan Lawa Ijo, Wadas Gunung, Jaka Soka dan Sima Rodra telah mengetahui sampai di mana kekuatan Mahesa Jenar.

“Mahesa Jenar…” jawab Lembu Sora, “Kau jangan mencoba-coba menakut-nakuti aku dengan permainanmu yang licik itu. Kau kira aku dapat kau paksa dengan caramu yang murahan ini?”

Mahesa Jenar tidak menjawab, tetapi keris di punggung Lembu Sora itu semakin menekan, sehingga ia terpaksa menahan napas. Kawan-kawan Lembu Sora hanya dapat menyaksikan semuanya itu dengan hati yang berdebar-debar. Mereka sama sekali tak berani berbuat sesuatu, sebab dengan demikian berarti riwayat Lembu Sora akan berakhir. Meskipun demikian, Lawa Ijo telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa Lembu Sora.

“Tuan, Rangga Tohjaya yang perwira. Aku telah mengenal dan merasakan betapa dahsyatnya ilmu Tuan yang dinamakan Sasra Birawa. Tetapi meskipun demikian aku yakin kalau Tuan tak dapat mengalahkan kami semua ini sekaligus,” katanya sambil tertawa dalam.

“Lawa Ijo…” jawab Mahesa Jenar, “Aku tidak merasa bahwa aku akan dapat mengalahkan kalian. Yang penting bagiku sekarang adalah Ki Ageng Lembu Sora memerintahkan orang-orangnya untuk menarik diri dari pertempuran. Setelah itu, aku tidak tahu apakah yang akan terjadi dengan diriku. Tetapi mudah-mudahan Ki Ageng Lembu Sora akan menjadi pelindungku yang baik.”

“Kau gila!” bentak Lembu Sora. “Lepaskan aku, dan marilah kita berhadapan sebagai orang-orang jantan.”

“Itu adalah soal yang mudah,” sahut Mahesa Jenar, “Tetapi perintahkan orang-orangmu menarik diri.”

Mendengar kata-kata itu Lembu Sora menjadi semakin marah, sampai dadanya serasa akan pecah. Apalagi ketika ujung keris itu serasa semakin menekan punggungnya. Akhirnya ia tidak mempunyai pilihan lain, kecuali menuruti permintaan Mahesa Jenar. Ditatapnya satu persatu wajah-wajah yang kaku tegang di sekitarnya tanpa mendapatkan suatu kesan apapun juga. Kemudian berkatalah ia kepada salah seorang yang berkuda itu,

“Berilah tanda untuk menarik pasukan.”

Orang yang diajaknya berbicara itu rupanya ragu-ragu. Beberapa kali ia memandang berkeliling, dan seolah-olah ia minta penjelasan dari setiap orang yang berada di situ. Tetapi setiap wajah yang ditatapnya hanyalah mengesankan kebimbangan dan ketegangan. Sampai akhirnya ia memandang wajah Jaka Soka. Hanya wajah inilah yang berkesan lain. Mahesa Jenar yang pada saat itu juga memandang Jaka Soka, melihat suatu perasaan yang aneh. Apalagi ketika kemudian ia berkata kepada orang yang memandangnya untuk mendapat penjelasan itu.

“Jenawi, tak usah kau beri tanda untuk menarik pasukan,” katanya. Semuanya yang mendengar kata-kata yang diucapkan dengan jelas itu menjadi terkejut. Lebih-lebih Lembu Sora sendiri, sampai ia membentak kepada Jaka Soka, “Apakah maksudmu?”

Tampaklah senyum menghias bibir Jaka Soka. Sedang matanya yang redup itu memandang Lembu Sora dengan sinar yang aneh. Pandangan yang demikianlah yang pernah menarik Mahesa Jenar dalam suatu perjalanan menyeberang hutan Tambakbaya. Meskipun wajah Jaka Soka itu cukup tampan dan bersih, namun wajah yang demikian bagi Mahesa Jenar tidaklah lebih atau kurang daripada wajah iblis yang paling berbahaya. Mereka menjadi bertambah terkejut lagi ketika mereka mendengar jawaban Jaka Soka atas pertanyaan Lembu Sora,

“Maksudku… Ki Ageng, tak usah laskar Ki Ageng itu ditarik. Biarlah mereka membinasakan pasukan Demak itu. Dengan demikian bukankah benar kata Rangga Tohjaya atau Mahesa Jenar itu, bahwa Ki Ageng Gajah Sora tak akan mendapat tempat lagi di dunia ini, sebab selalu akan diburu oleh alat-alat negara. Syukur kalau segera ia dapat tertangkap dan dihukum mati.”

“Aku tidak berkata tentang Kakang Gajah Sora,” potong Lembu Sora, “Tetapi tentang aku sendiri.”

Kembali Jaka Soka tersenyum. “Kalau kau juga mati karena Mahesa Jenar, adalah baik sekali bagi kami. Dengan demikian saingan kami telah berkurang satu orang lagi,” katanya.

“Tutup mulutmu,” bentak Lembu Sora sambil menggigil karena marah yang tak tertahankan lagi. “Kalau aku dapat lepas dari tangan pengecut ini, aku ingin meremas mulutmu itu Jaka Soka,” sambungnya lagi.

Kembali terdengar Jaka Soka berkata di sela-sela senyumnya, “Jangan marah Ki Ageng, dan jangan menyesal atas nasib jelek yang kau alami.”

Tubuh Lembu Sora, menjadi semakin menggigil, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa oleh tekanan keris Mahesa Jenar. Sedang kawan-kawannya yang lain pun tidak kalah terkejutnya mendengar kata-kata Jaka Soka itu, sampai terdengar Uling Kuning yang kasar berkata, “Tidakkah kau dapat diam Ular Laut gila?”

Mendengar kata-kata Uling Kuning itu, malahan Jaka Soka tertawa lembut. “Jangan berpura-pura Uling Kuning,” katanya.

“Atau akukah yang harus menutup mulutmu?” potong Uling Kuning.

Jaka Soka agaknya tidak senang mendengar kata-kata Uling Kuning yang kasar itu, sehingga ia memutar kudanya menghadap Uling Kuning. “Cobalah kalau kau mau,” katanya. ULING KUNING ternyata betul-betul orang yang kasar dan terburu nafsu. Hampir saja ia mendera kudanya menyerang Jaka Soka kalau saja kakaknya, Uling Putih tidak mencegahnya.

“Kenapa kau perlu mendengarkan omongan orang gila itu?” kata Uling Putih.

Terdengarlah Lawa Ijo menyambung, “Alangkah beraninya kalian. Tetapi apa yang dapat kalian perbuat atas orang itu. Orang yang sudah jelas menghalangi usaha kami?”

Sejenak kemudian mereka semuanya saling berdiam diri. Otak mereka bekerja keras untuk dapat mencapai suatu penyelesaian tanpa merugikan diri sendiri. Tetapi kesepian yang tegang itu kemudian tersobek oleh suara Mahesa Jenar yang lantang,

“Aku tidak peduli apakah kalian ini sebenarnya sedang bersekutu atau sedang bersaing. Tetapi sekali lagi aku minta, tariklah pasukan penyerang itu.”

Mahesa Jenar mengakhiri kata-katanya sambil menekankan kerisnya lebih keras lagi. Terdengar Ki Ageng Lembu Sora berdesis perlahan. Kemudian katanya, “Kalian tak akan dapat berbuat sesuatu atas tanah ini serta segala isinya tanpa aku. Karena itu jangan halangi Jenawi memberi tanda untuk menarik pasukan.”

Semua mata kemudian tertuju kepada Jaka Soka yang masih dalam keadaan siaga untuk menghadapi Uling Kuning. Tetapi sesaat kemudian tampaklah kembali sebuah senyuman di bibirnya. Senyum iblisnya.

“Rupa-rupanya kalian lebih senang berpura-pura, meskipun kalian sudah tahu akhir dari peristiwa ini. Baik mengenai tanah perdikan Banyu Biru maupun mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Apakah kalian kira bahwa pertemuan akhir tahun itu nanti akan dapat memberi kepuasan kita semuanya? Itu adalah omong kosong yang besar. Kalian tahu pasti bahwa Kyai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten itu akan menuntut kematian demi kematian, sampai akhirnya ia jatuh di tangan orang yang terkuat diantara kita, bahkan guru-guru kita atau pendekar-pendekar angkatan tua itu. Meskipun demikian aku akan tetap hadir di pertemuan akhir tahun, yang sebenarnya tak berarti apa-apa itu. Nah sekarang aku tidak mempunyai urusan lagi di sini. Aku akan pergi saja, dan pulang ke Nusakambangan.”

Setelah berkata demikian segera ia memutar kudanya dan menderanya. Kuda itu segera meloncat dan berlari, seperti gila, diikuti oleh dua orang berkuda yang berlari menyusulnya. Kedua orang itu pasti pembantu-pembantu kepercayaannya. Sejenak kemudian orang yang bernama Jenawi itu bergerak maju. Sekali lagi ia masih memandangi setiap wajah yang ada disitu. Sesudah tidak ada kesan-kesan lain, maka segera ia mengambil sebuah bundaran logam yang mengkilap. Dengan bermain-main sinar matahari yang memantul dari logam itu, ia sebenarnya sedang memberikan aba-aba ke arah bukit di seberang tempat pertempuran itu. Ternyata tanda-tanda yang dikirim lewat logam yang mengkilap itu dapat sampai ke alamatnya. Dan karena itulah kemudian dari balik gerumbul-gerumbul di lereng sebelah, terdengar suara sangkakala mengumandang dengan nyaringnya. Itulah aba-aba kepada para laskar Lembu Sora yang bergabung dengan laskar-laskar para tokoh hitam untuk mengundurkan diri. Tetapi yang terbanyak dari laskar penyerang itu adalah laskar Lembu Sora, sebab dialah yang merasa paling berkepentingan dengan tanah perdikan Banyubiru.

Sebentar kemudian segera tampaklah perubahan pada pertempuran yang berlangsung dengan hebatnya di lembah. Pasukan gabungan yang menyerang pasukan Demak itu segera berpencaran dan mengundurkan diri cerai berai. Sebab sebenarnya mereka merasakan betapa dahsyatnya bertempur pasukan-pasukan Wira Tamtama, Wira Jala Pati, Nara Manggala, Manggala Sraya, dan lebih-lebih kesatuan Manggala Pati yang mengawal Sang Saka Gula Kelapa. Karena itu ketika mereka mendengar tanda untuk mengundurkan diri, maka dengan tidak perlu diulang lagi, mereka telah saling berebut dahulu meloncat menjauhi prajurit-prajurit Demak yang bertempur dengan semangat yang tinggi sebagai pengemban kewajibannya, melindungi ketenteraman negara. Sekali lagi bulu tengkuk Mahesa Jenar rasa-rasanya tegak berdiri, ketika dilihatnya bendera-bendara Tunggul Dahana, Sura Pati, Garuda Rekta dan Tunggul Mega tetap berkibar dengan megahnya, memagari Sang Saka Gula Kelapa.

Pasukan Demak yang menyaksikan penyerang-penyerangnya berlari cerai berai, ternyata sama sekali tidak berusaha untuk mengejar atau menghancurkan dengan senjata-senjata jarak jauh. Tetapi ketika pertempuran itu telah reda segera pasukan Demak itu mengubah gelarnya menjadi Gedong Minep kembali. Dan dalam gelar ini mereka akan melanjutkan perjalanan kembali ke Demak. Beberapa orang dari prajurit Demak itu segera merawat kawan-kawan mereka yang terluka, malahan ada beberapa diantaranya yang gugur, untuk dibawa bersama-sama dengan mereka. Melihat kenyataan itu, meskipun korban dari kedua belah pihak itu sama sekali tak seimbang, tetapi terlukanya seorang saja dari prajurit Demak telah dapat menjadi sebab murkanya Sultan Demak. Dan pasti Gajah Sora yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala kemurkaan itu. Mengenangkan hal itu jantung Mahesa Jenar berdenyut semakin cepat. Dan karena kenangannya yang melambung itu pulalah, maka ia menjadi lengah.

SEBENARNYA Lembu Sora bukan pula orang yang dapat diremehkan. Bagaimanapun ia adalah putra Ki Ageng Sora Dipayana, seperti juga Gajah Sora. Karena itu ia pun cukup mempunyai kekuatan yang tidak dapat dianggap ringan. Ketika tekanan ujung keris Mahesa Jenar tiba-tiba mengendor, tahulah Lembu Sora bahwa perhatian Mahesa Jenar hampir seluruhnya tertuju kepada pasukan-pasukan di lembah. Entahlah, ia sedang menekuri kekalahan pasukan gabungan itu, atau sedang berbangga hati karena pasukan Demak masih tampak segar bugar, atau ia sedang mengenangkan nasib Gajah Sora. Tetapi suatu kenyataan bahwa Mahesa Jenar telah meninggalkan sikap hati-hati. Karena itu Lembu Sora ingin mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.

Pada saat itu, pada saat Mahesa Jenar sedang hanyut dalam arus kenangannya yang mengawang, tiba-tiba Lembu Sora yang mempunyai kekuatan besar sekali itu, menjatuhkan dirinya setelah dengan cepat sekali ia merenggut lengan Mahesa Jenar yang melingkar di lehernya. Demikian ia berguling di tanah, demikian kakinya menyambar perut Mahesa Jenar yang agak kurang bersiaga. Demikian keras tendangan Lembu Sora, juga karena Mahesa Jenar sama sekali tidak menduga bahwa hal yang demikian akan terjadi, maka segera ia terdorong ke belakang beberapa langkah. Hanya karena keuletan serta pengalamannya maka ia tidak sampai jatuh terlentang. Meskipun mendadak, perut Mahesa Jenar terasa mual dan sakit, namun ia segera dapat menguasai keseimbangannya kembali. Meskipun demikian hatinya berguncang karena terkejut. Juga orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi terkejut pula, tetapi cepat mereka dapat menanggapi keadaan.

Karena itu, ketika mereka melihat Mahesa Jenar surut beberapa langkah, serta segera dapat menguasai dirinya kembali, mereka tidak mau memberi kesempatan sama sekali. Lebih-lebih Lawa Ijo yang tahu pasti sampai dimana kedahsyatan tangan Mahesa Jenar. Maka sebelum Mahesa Jenar dapat menguasai diri sepenuhnya, Lawa Ijo mendera kudanya, langsung menyerang Mahesa Jenar dengan tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pisau belati panjang yang putih mengkilap. Tetapi ia menjadi gugup ketika dilihatnya, dalam sekejap Mahesa Jenar telah berdiri dengan marahnya. Di atas satu kakinya, tangan kirinya menyilang dada sedang tangan kanannya terangkat tinggi- tinggi. Lawa Ijo telah mengenal unsur gerak Mahesa Jenar yang demikian itu. Maka ketika ia telah hampir sampai di hadapan Mahesa Jenar, dengan kebingungan dan tanpa perhitungan ia meloncat dari kudanya. Meskipun gerakannya itu sama sekali tak dihitungkan dengan saksama, namun ia berhasil menyelamatkan nyawanya.

Sebab pada saat itu benar-benar karena marah yang tak tertahankan Mahesa Jenar telah memutuskan untuk melawan orang-orang itu dengan Sasra Birawa yang menjadi andalannya. Tetapi pada saat ia mengayunkan ilmunya, Lawa Ijo dengan gugup telah menjatuhkan dirinya, sehingga tangannya tidak berhasil menghancurkan dada Lawa Ijo. Tetapi pukulan Mahesa Jenar itu telah mengenai punggung kuda Lawa Ijo, yang kemudian dengan dahsyatnya kuda itu memekik tinggi, tetapi sekejap kemudian seperti batu saja jatuh terguling tak bernafas lagi. Tulang belakang kuda itu patah serta beberapa tulang iganya remuk. Melihat kedahsyatan pukulan Mahesa Jenar, semua yang menyaksikan terguncang hatinya. Namun tak ada pilihan lain dari mereka itu, kecuali melawan bersama-sama. Maka dengan menggeram dahsyat Sima Rodra segera menyerang dengan tombak pusakanya dan bersamaan dengan itu sepasang Uling Rawa Pening pun telah mengayunkan cambuknya.

Cepat Mahesa Jenar meloncat undur untuk menghindari tombak Sima Rodra yang menyambar dengan dahsyatnya. Dan pada saat itu pula Lembu Sora telah mencabut pedangnya yang berukuran luar biasa besarnya. Tetapi meskipun ia masih belum berani mendekat. Baru ketika Lawa Ijo telah bersiaga pula, mereka menyerang bersama-sama dari arah yang berbeda-beda. Sebenarnya untuk menghadapi sekian banyak tokoh-tokoh sakti itu Mahesa Jenar merasa bahwa tenaganya tidak akan mencukupi. Tetapi apapun yang terjadi, pantang ia menghindari. Karena itu, segera ia menghimpun segenap kekuatan yang ada padanya untuk dapat memberikan perlawanan yang sebesar-besarnya. Dengan ayunan yang deras sekali, Lembu Sora mengarahkan pedangnya ke leher Mahesa Jenar, dan bersamaan dengan itu pula Lawa Ijo menusuk ke arah lambung, untuk menangkap gerakan Mahesa Jenar apabila ia menghindari sambaran pedang Lembu Sora dengan merendahkan diri.

Tetapi ternyata Mahesa Jenar sama sekali tak menghindar dengan merendahkan diri, bahkan dengan loncatan yang keras ia menerkam Lawa Ijo. Gerakan ini sangat mengejutkannya, sehingga dengan cepat ia menarik pisaunya dan segera pisau itu dipergunakannya untuk melindungi dirinya dengan gerakan-gerakan yang berputar. Tetapi Mahesa Jenar pun segera mengurungkan serangannya. Sementara itu pedang Lembu Sora yang berat telah berdesing di belakang punggungnya. Cepat ia memutar tubuhnya dan dengan dahsyatnya tangan Mahesa Jenar menyusul arah gerakan pedang itu, dengan sisi telapak tangannya yang berlandaskan ilmunya Sasra Birawa. Ternyata akibatnya adalah hebat sekali. Pedang Lembu Sora adalah bukan pedang sewajarnya. Tetapi adalah pedang yang dibuat khusus untuknya, dengan ukuran yang tidak lazim, serta dari baja pilihan. Tetapi demikian sisi telapak tangan Mahesa Jenar menyentuh punggung pedang itu, terdengarlah gemeretak pedang itu patah dan disusul dengan keluhan tertahan. Terasa betapa nyerinya tangan Lembu Sora sampai pangkal pedang itu terlempar. Ia sama sekali tidak menduga bahwa kedahsyatan ilmu Sasra Birawa itu mampu mematahkan pedangnya. Ketika ia melihat kuda Lawa Ijo jatuh dan mati, ia masih belum begitu kagum, meskipun hal itu telah mengejutkannya pula. Apalagi ia tidak segera dapat menyaksikan bahwa pukulan Mahesa Jenar itu telah meremukkan tulang-tulang iga kuda itu.

KARENA terkejut, heran dan kagum campur-aduk, juga pada saat itu ia teringat ceritera ayahnya tentang beberapa orang sahabatnya, diantaranya adalah Ki Ageng Pengging Sepuh yang terkenal dengan ilmu Sasra Birawa, Lembu Sora menjadi seperti terpaku di tempatnya. Kesempatan itulah yang akan dipergunakan oleh Mahesa Jenar. Ia sudah tidak dapat memaafkan lagi kesalahan Lembu Sora yang sudah sampai hati mengkhianati kakaknya. Maka segera ia bersiaga dan bersiap meloncat ke arah Lembu Sora dengan pukulan mautnya. Tetapi keadaan segera berubah dan berselisih dengan rencananya. Mahesa Jenar pernah melawan Wadas Gunung bersama dengan kira-kira 20 orang sekaligus, dan dengan suatu keyakinan yang penuh ia akan dapat mengalahkan mereka. Sekarang ia berhadapan tidak lebih dari 8 atau 9 orang. Tetapi mereka bukanlah Wadas Gunung, Carang Lampit, Cemara Aking, Bagolan dan sebagainya. Mereka yang dihadapi sekarang adalah Lawa Ijo, Suami Isteri Sima Rodra, Sepasang Uling dan Lembu Sora. Karena itu keadaannya akan sangat jauh berbeda.

Pada saat itu, pada saat ia telah mengambil suatu kepastian akan dapat membalaskan sakit hati Gajah Sora, mendadak ketika ia hampir meloncat, menyerbulah kuda Suami-Istri Soma Rodra seperti gila menerjangnya. Dan bersamaan dengan itu pula meluncurlah dua buah sinar putih dari tangan Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Meskipun mereka tidak pernah bertempur berpasangan, tetapi karena ilmu mereka cukup tinggi, mereka dengan mudahnya saling menyesuaikan diri dan saling mengisi. Demikianlah Sima Rodra dan sebagainya telah bekerja mati-matian untuk menyelamatkan Lembu Sora. Mengalami serangan-serangan yang hampir bersamaan itu, Mahesa Jenar terpaksa mengurungkan serangannya. Dengan merendahkan diri dan memutar tubuhnya sekaligus, ia berhasil menghindari serangan dua pisau Lawa Ijo dan Wadas Gunung. Tetapi pada saat itu kuda suami-istri Sima Rodra telah demikian dekatnya. Untuk menghindarkan diri dari injakan kaki kedua ekor kuda itu, Mahesa Jenar terpaksa berguling-guling beberapa kali.

Dengan gerakannya itu, Mahesa Jenar berhasil menyelamatkan dirinya, tetapi serangan berikutnya telah mendatanginya pula. Dengan cara yang sama dengan Sima Rodra, Uling dari Rawa Pening menyerang berpasangan pula. Serangan itu tidak kurang hebatnya. Ditambah lagi dengan sepasang cambuk yang berdesing-desing di udara. Agar tidak terinjak oleh kaki-kaki kuda itu, Mahesa Jenar melenting jauh dan berusaha untuk tegak di atas kedua kakinya. Tetapi malang bagi Mahesa Jenar. Ternyata ia terlalu jauh meloncat, sehingga ketika ia tegak berdiri, ia telah berada tepat di tepi jurang. Dan celakanya, tanah tempat ia berpijak itu runtuh. Seperti terseret Mahesa Jenar dengan cepatnya meluncur ke dalam jurang yang sangat dalam. Peristiwa itu sama sekali tak terduga oleh siapapun. Karena itu, mereka yang menyaksikan jadi terperanjat. Serentak mereka berlarian ke tepi jurang itu untuk melihat Mahesa Jenar tergulung ke bawah, dan sebentar kemudian hilang ditelan semak-semak dan batang-batang ilalang yang tumbuh di tepi-tepi jurang itu.

Mahesa Jenar sendiri merasa, seolah-olah telah terhisap oleh suatu kekuatan raksasa sehingga tidak ada kemungkinan untuk melawannya. Sesaat setelah ia terguling, masih dilihatnya semua benda bergerak dengan cepatnya ke atas, seolah-olah hendak terbang ke arah matahari yang dengan megahnya mengapung di langit. Tetapi sesaat kemudian terasalah dirinya membentur sesuatu yang sangat keras sehingga seolah-olah Mahesa Jenar terputar melintang dengan kepala ke bawah. Sesaat kemudian ia menjadi sangat pening, pemandangannya semakin kabur dan kabur. Akhirnya ia tidak tahu lagi apakah yang terjadi seterusnya. Lawan-lawan Mahesa Jenar yang berada di atas jurang itu, setelah debar jantung mereka tenang kembali, menjalarlah perasaan lega di dalam dada mereka. Sebab apabila mereka terpaksa bertempur, meskipun mereka bekerja bersama, pasti akan jatuh korban diantara mereka, sebelum mereka dapat bersama-sama membinasakan Mahesa Jenar.

Meskipun demikian, mereka merasa betapa panas hati mereka, karena dengan tindakannya yang luar biasa itu, Mahesa Jenar telah menggagalkan maksud mereka untuk menghancurkan tentara Demak, atau setidak-tidaknya membuat tentara itu lumpuh, sehingga dengan demikian hukuman yang akan dijatuhkan kepada Gajah Sora pasti sangat berat. Tetapi dengan serangan yang tak begitu berarti itu, masih ada kemungkinan bagi Gajah Sora untuk mengelakkan diri, atau malahan diantara para prajurit Demak itu dapat memberikan keterangan bahwa serangan itu bukan dari Laskar Banyubiru. Tetapi bagaimanapun, usaha mereka ada juga hasilnya meskipun hanya sedikit. Yang pasti adalah bahwa Gajah Sora untuk beberapa saat tidak berada di Banyubiru. Keadaan ini pasti akan dapat dipergunakan sebagai modal untuk melaksanakan rencana-rencana yang akan disusun kemudian. Karena itu, ketika sudah tidak ada lagi yang akan mereka lakukan, serta mereka telah yakin bahwa Mahesa Jenar tidak akan mungkin menyelamatkan diri dalam keadaan yang demikian, maka segera mereka meninggalkan tempat itu. Selanjutnya mereka menuju ke tempat yang telah mereka tentukan sebagai tempat berkumpul bagi segenap laskar gabungan.

Namun bagaimanapun, kata-kata Uling Laut dari Nusakambangan, Jaka Soka sebagai seorang pemimpin Bajak Laut yang sangat ditakuti, membekas pula di dalam otak mereka. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten pasti akan menuntut kematian demi kematian, sampai kedua pusaka itu jatuh ke tangan orang yang terkuat. Dan wajarlah apabila orang yang terkuat itu kemudian dapat merajai golongannya. Demikianlah hampir sepanjang jalan tak seorang pun dari mereka yang mengucapkan kata-kata. Mereka sedang sibuk menaksir-naksir diri, menaksir-naksir kekuatan gerombolan masing-masing serta orang-orang mereka yang dapat mereka percaya. Sebab, akhirnya dalam tata pergaulan yang tak terikat oleh hukum itu, kekuatan jasmaniahlah yang akan dapat menentukan siapakah yang berkuasa. SEMENTARA itu, Laskar Banyubiru yang menarik diri kembali, telah sampai di alun-alun Banyubiru. Wanamerta, Panjawi, Arya Salaka dan beberapa pimpinan laskar yang lain segera menghadap Nyai Ageng Gajah Sora dan menceriterakan apa yang telah terjadi. Nyai Ageng mendengarkan cerita itu dengan berdiam dan menundukkan kepala. Tetapi kemudian nampaklah butiran-butiran airmata setetes demi setetes jatuh di pangkuannya. Sebenarnya ia adalah seorang wanita yang tabah, yang sadar akan kedudukan suaminya sebagai seorang kepala daerah perdikan yang sekaligus menjadi panglima laskarnya.

Namun mengalami peristiwa kali ini, Nyai Ageng Gajah Sora tidak dapat menahan airmatanya. Bahkan kemudian didekapnya Arya Salaka, anak laki-laki satu-satunya, dan kemudian kepala anak itu ditekankan ke dadanya seakan-akan tak ingin melepaskannya lagi. Maka setelah cukup mereka memberikan laporan mereka, Wanamerta dan kawan-kawannya segera mohon diri untuk memberikan beberapa keterangan kepada laskar Banyubiru yang masih berkumpul di alun-alun, dan yang kemudian akan dibubarkan. Tetapi dalam keadaan ini Wanamerta sadar bahwa Banyubiru harus tetap mempertinggi kewaspadaan, dan bahkan Wanamerta telah mengambil keputusan untuk mengadakan persiapan yang lebih saksama dengan mengadakan latihan-latihan keprajuritan. Sementara itu, matahari tetap beredar dalam garis perjalanannya. Angin pegunungan yang sejuk bertiup semakin sore semakin kencang, menggoyang pepohonan dan merontokkan daun-daun kuning yang telah tidak dapat berpegangan lebih erat lagi. Pada saat itu, ketika Arya sedang duduk bertopang dagu di atas tangga pendapa rumahnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor kuda abu-abu lengkap dengan pelananya, tetapi tanpa penunggangnya. Kuda itu berjalan perlahan-lahan memasuki halaman. Arya kenal betul bahwa kuda itu adalah kuda yang dipergunakan oleh Mahesa Jenar, karena itu segera ia berlari ke pintu gerbang untuk menengok apakah Mahesa Jenar masih berada di luar halaman. Tetapi di luar gerbang itu sama sekali tak ada seorangpun kecuali dua orang laskar yang sedang berkawal.

“Kau lihat kuda ini, Kakang?” tanya Arya kepada salah seorang.

“Ya, aku melihat,” jawab orang itu.

“Tanpa penunggang?” tanya Arya lagi, menegaskan.

“Ya,” jawab orang itu pula, “Kuda itu datang tanpa penunggangnya.”

Segera Arya menjadi sangat cemas. Apakah yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Segera ia meloncat ke atas punggung kuda itu dan dilarikan ke arah timur untuk melihat barangkali Mahesa Jenar langsung pergi ke mata air tempat ia biasa mandi. Tetapi hatinya menjadi kecewa ketika di sanapun ia tidak melihat orang yang dicarinya. Dengan perasaan yang semakin cemas segera Arya kembali ke pendapa. Setelah itu ia meloncat turun, langsung berlari ke pringgitan, dimana Wanamerta yang belum sampai hati meninggalkan rumah itu, sedang tidur untuk melepaskan lelah.

“Eyang Wanamerta…!” teriak Arya, “Lihatlah ke halaman.”

Wanamerta terkejut mendengar Arya berteriak. Segera ia meloncat ke halaman dan apa yang dilihatnya adalah seekor kuda abu-abu tanpa penunggang. Wanamerta pun kenal kuda itu, maka iapun menjadi terkejut dan kemudian cemas.

“Apakah kuda ini datang tanpa penunggangnya?”

“Ya, Eyang,” jawab Arya. “Kuda itu datang tanpa penunggang.”

“Dimanakah Anakmas Mahesa Jenar?” gerutu Wanamerta seolah-olah kepada diri sendiri.

“Aku telah mencarinya ke belik tempat Paman Mahesa Jenar sering mandi dan tidur di bawah beringin di lereng sebelah, tetapi di sana Paman tidak ada,” sahut Arya.

Wajah Wanamerta tampak berkerut-kerut. Ia agaknya sedang berpikir dan kecemasan. Sesaat kemudian dipanggilnya pengawal gerbang. “Panggil Adi Pandan Kuning, Sawungrana, Bantaran serta Panjawi. Suruhlah mereka membawa anak buah masing-masing 10 orang. Kami akan mencari Anakmas Mahesa Jenar. Mudah-mudahan tidak ada apa-apa dengan anakmas itu,” perintahnya.

Yang disuruhnya segera melangkah pergi dengan tergesa-gesa ke kandang kuda, dimana kudanya ditambatkan. Dan sebentar kemudian orang itu telah meluncur di atas punggung kudanya seperti dilemparkan. Sebentar kemudian orang-orang yang dipanggil itu telah lengkap berkumpul di pendapa. Mereka mendengar keterangan singkat dari Wanamerta bahwa kuda abu-abu yang dipergunakan Mahesa Jenar telah kembali tanpa penunggangnya. Karena itu dicemaskan kalau Mahesa Jenar telah menemui sesuatu kecelakaan. Padahal hadirnya Mahesa Jenar di Banyubiru pada saat itu, pada saat Ki Ageng Gajah Sora tidak ada, sangat diperlukan untuk melindungi tanah perdikan yang sedang kehilangan pemimpinnya, serta terancam bahaya dari segala penjuru. Setelah mengadakan pembicaraan sebentar, maka dibagilah pekerjaan mereka. Bantaran dan anak buahnya tetap berada di halaman itu, Sawungrana menjadi penghubung di antara halaman itu dengan rombongan pencari yang terdiri dari Wanamerta sendiri, Pandan Kuning, Panjawi dan anak buahnya. Mereka masing-masing telah menyiapkan alat-alat untuk mengirimkan tanda-tanda bahaya apabila setiap saat diperlukan. Sementara itu para penjaga pun telah diperintahkan untuk memukul tanda supaya setiap laskar Banyubiru tetap dalam keadaan siap.

Ketika segala sesuatunya telah siap, maka segera rombongan itu berangkat, disusul dengan rombongan Sawungrana dengan arah yang sama, tetapi dengan kecepatan yang lebih kecil. Mereka pertama-tama menuju ke tempat mereka melihat Mahesa Jenar yang terakhir kalinya, yaitu pada saat pasukan Banyubiru akan ditarik kembali dari daerah pertempuran. SAMPAI di tempat itu segera beberapa orang berusaha untuk mendapatkan jejak kaki kuda. Dan ketika jejak itu diketemukan maka mereka mencoba untuk mengikuti dengan harapan dapat memecahkan teka-teki hilangnya Mahesa Jenar.

“Mudah-mudahan kuda itu hanya nakal saja sehingga penunggangnya ditinggalnya lari,” desis Wanamerta perlahan-lahan. Tetapi nyata bahwa dibalik kata-katanya itu tersembunyi suatu pergolakan perasaan yang dahsyat.

Dengan tekunnya mereka mencoba untuk mengikuti terus jejak seekor kuda yang mereka sangka adalah kuda yang dipakai oleh Mahesa Jenar, sebab arah kuda ini berbeda dengan arah kuda-kuda yang lain dari laskar Banyubiru. Kalau jejak kuda yang lain berjalan ke arah barat, maka jejak yang seekor berjalan kearah timur. Mereka menemukan jejak ini berhenti di sebuah tempat yang agak tinggi, dan yang kemudian melingkar menuju ke sebuah bukit di sebelah lembah. Tetapi mereka akhirnya menemukan jejak itu terputus. Dan tahulah mereka bahwa kuda itu telah ditambatkan di sebatang pohon. Dari tempat itu disebarlah beberapa orang untuk menyelidik beberapa tempat dengan suatu harapan bahwa mereka akan menjumpai Mahesa Jenar sedang mencari kudanya. Tetapi yang mereka jumpai adalah mengejutkan sekali. Beberapa orang yang tersebar itu ada yang sampai pada bekas daerah pertempuran antara pasukan Demak dengan laskar Lembu Sora. Di situ, mereka menemukan beberapa bekas darah, senjata senjata yang tertinggal dan sebagainya. Sedang orang lain, yang juga mencari Mahesa Jenar telah sampai di atas gundukan tanah, dan mereka pun menjumpai bekas-bekas perkelahian. Seekor kuda ditemukan telah mati. Yaitu kuda Lawa Ijo yang telah dibunuh oleh Mahesa Jenar dengan tangannya.

Wanamerta mendengar semua laporan itu dengan dahi yang berkerut-kerut. Otaknya berputar seperti baling-baling. Ia tidak dapat mengambil kesimpulan apapun dari apa yang telah disaksikan oleh anak buahnya. Tetapi yang pasti adalah keadaan telah menjadi semakin gawat. Dan sesuatu dapat terjadi atas Banyubiru. Maka terlintaslah dalam angan-angannya bahaya dari segala penjuru siap untuk menerkam tanah perdikan yang seolah-olah sedang lumpuh itu. Setelah beberapa saat mereka tak mendapatkan suatu hasil apapun, mereka segera kembali dengan hati gelisah. Pada malam hari itu juga beberapa pemimpin Banyubiru segera mengadakan pertemuan. Mereka membicarakan segala segi yang mungkin terjadi pada keadaan seperti itu. Akhirnya, setelah mereka membahas beberapa masalah, sampailah mereka pada suatu keputusan, bahwa satu-satunya kemungkinan, apabila keadaan memaksa, mereka akan minta bantuan kepada Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit. Sebab dalam pertimbangan mereka, Ki Ageng Lembu Sora adalah adik Ki Ageng Gajah Sora.

Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa Lembu Sora sendiri ternyata memegang peranan penting dalam kekisruhan-kekisruhan yang terjadi. Hilangnya Mahesa Jenar, terutama bagi Arya Salaka, terasa menekan sekali dalam dadanya. Ia telah kehilangan ayahnya, dan kemudian orang yang dipercaya oleh ayahnya untuk mengasuh serta menjadi gurunya dalam olah kanuragan. Disamping itu Mahesa Jenar adalah kawan bermain-main yang menyenangkan. Itulah sebabnya maka kemudian ia menjadi pendiam dan selalu bermenung. Ibunya yang tidak kalah sedihnya, namun yang selalu berusaha untuk menghiburnya, kadang-kadang menjadi sangat cemas melihat perkembangan Arya dari hari ke hari. Ia lebih senang menyendiri dan pergi ke tempat-tempat yang sepi. Kadang-kadang malahan ia sama sekali tidak mau tidur di dalam rumah, tetapi untuk beberapa malam Arya Salaka tidur dihalaman belakang.

Wanamerta, Panjawi dan lain-lainnya juga telah berusaha sedapat-dapatnya untuk menggugah kegembiraan Arya, tetapi usaha mereka sama sekali tak berhasil. Sehingga akhirnya mereka hanya dapat menyaksikan dengan hati cemas atas sifat-sifat Arya yang telah berubah itu. Dalam pada itu, apa yang telah terjadi dengan Mahesa Jenar? Pada saat Mahesa Jenar terpelanting ke dalam jurang, ia menjadi tidak sadarkan diri dan tidak tahu apakah yang telah terjadi. Tetapi pada saat ia membuka matanya, ia telah berada di dalam sebuah pondok yang kecil, beratap daun ilalang. Pada saat itu kepalanya rasanya telah retak, dan perasaan nyeri telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ketika Mahesa Jenar mencoba untuk bergerak, sendi-sendi tulangnya terasa sakit bukan main. Akhirnya ia terpaksa mengurungkan niatnya untuk bergerak dan bangun. Yang dapat dilakukannya pada saat itu hanyalah menggerakkan kepalanya untuk melihat-lihat seluruh isi rumah itu. Tetapi di dalam rumah itu tak dilihatnya barang apapun kecuali bale-bale tempat ia terbaring, paga bambu dengan sebuah kendhi dan jlupak minyak di atasnya, cangkul di sudut, dan parang pemotong kayu terselip di dinding.

Beberapa saat kemudian, terdengarlah langkah perlahan-lahan memasuki ruang itu. Dan muncullah dari pintu samping, seorang tua yang rambutnya telah memutih, berdahi lebar dan berhidung besar. Wajahnya tampak kasar dan terbakar oleh panas matahari. Tetapi mata orang itu memancarkan sinar kejujuran dan kebaikan hatinya. Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar telah membuka matanya, tampaklah ia tersenyum lebar.

“Nah, Angger…, rupa-rupanya Angger telah sadar,” katanya.

SEGERA Mahesa Jenar tahu bahwa orang itulah yang telah menemukan dan menolongnya pada saat ia pingsan. Meskipun dengan masih agak sukar Mahesa Jenar menjawab perlahan. “Ya bapak.”

Orang itu mengangguk, lalu duduk dibale, sambungnya, ” jangan angger bergerak dahulu. Biarlah kekuatan angger pulih.”

Mahesa Jenar tidak menjawab. Tetapi ia mencoba menganggukkan kepalanya. Dan sekali lagi orang tua itu tersenyum lebar. Mahesa Jenar mencoba mengamati orang itu lebih seksama. Kecuali berdahi lebar dan berhidung lebar, memang orang itu sama sekali tidak tampan. Tetapi tubuhnya adalah tubuh idaman bagi setiap lelaki. Mungkin karena ia harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya setiap hari, maka badannya masih tampak segar dan kuat. Ototnya kokoh menjalar hampir keseluruh bagian tubuhnya. Orang tua itu meskipun tidak begitu tinggi, tetapi tidak pula pendek.

Rupanya orang itu sadar ia sedang diamati. Kembali senyumnya yang lebar menghiasi bibirnya. “Adakah sesuatu yang aneh pada diriku ?.” Mahesa Jenar terkejut mendengar pertanyaan orang itu. Karena itu ia segera dengan perlahan-lahan menggelengkan kepala. “Angger..,” sambung orang tua itu, “usahakanlah supaya angger dapat tidur. Jangan berfikir hal yang dapat mengganggu ketentraman perasaan angger. Disini angger dapat beristirahat seenaknya, sebab tidak ada orang lain yang tinggal disini kecuali aku seorang diri.” Kembali Mahesa Jenar mencoba mengangguk. “Bagus,” orang tua itu melanjutkan, “tidurlah. Atau barangkali angger mau minum.”

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, orang itu telah melangkah keluar rumah menyambar kendi diatas pagar, dan sebentar lagi ia telah masuk kembali. Dengan perlahan dan sangat cermat ia menuangkan air kendi kedalam mulut Mahesa Jenar. Sebenarnya memang leher Mahesa Jenar terasa kering sekali. Seakan-akan sisi lehernya telah lekat menjadi satu. Dengan air yang dituangkan kedalam mulutnya, maka lehernya terasa menjadi sejuk. Bahkan seluruh tubuhnya menjadi segar. Meskipun demikian ia masih belum mampu untuk bangun.

“Jangan coba untuk bangun dahulu,” orang tua itu melarangnya. “Tidurlah. Aku akan mencari kayu, merebus air, barangkali angger suka air jeruk.”

Sesudah berkata demikian orangitu segera melangkah pergi. dan tinggallah Mahesa Jenar seorang diri, berbaring didalam ruangan kecil yang kosong itu. Otaknya yang telah dapat bekerja dengan wajar, sedikit demi sedikit dapat mengenal kembali apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia merasa bersyukur bahwa ia tidak lumat terbanting kedalam jurang. Sebab kalau tidak ia pasti sudah binasa. Sebab bagaimanapun dahsyatnya kekuatan Sasra Birawa yang dimilikinya, namun untuk melawan tujuh orang sekaligus, agaknya ada diluar batas kemampuannya. Kemudian oleh angin yang menghembus lewat pintu disamping tempat berbaring Mahesa Jenar, serta tubuhnya yang terasa sudah agak segar, maka Mahesa Jenar akhirnya jatuh tertidur. Ketika ia terbangun, dilihatnya orang tua itu telah duduk disampingnya. Tangannya memegang seberkas lontar. Tanpa menoleh kepada Mahesa Jenar orang tua itu mulai membaca naskah yang tertulis didalam lontar itu. Maka segera menggemalah lagu bait demi bait dari kidung yang berisikan sebuah cerita yang agaknya menarik hati. Pada saat itu tubuh Mahesa Jenar telah mulai terasa agak kuat. Karena itu ia telah dapat berusaha untuk duduk dibelakang orang tua yang sedang membaca lontar itu, yang seakan-akan tidak memperhatikannya.

Bait pertama dari cerita itu menggambarkan tentang dua orang sahabat yang pergi merantau untuk berguru kepada seorang sakti. Meskipun kedua orang itu hanyalah sahabat saja, namun mereka telah merasa dirinya lebih dari dua orang bersaudara. Karena itu apapun yang terjadi selalu mereka tanggung bersama. Akhirnya sampailah mereka kesuatu lembah yang amat sepi. Lembah yang sama sekali tak pernah disentuh oleh kaki manusia. Disana dijumpainya seorang petapa yang telah menjauhkan diri dari kehidupan. Ia hanya tinggal mengabdikan sisa hidupnya untuk menyembah Yang Maha Agung. Kedua orang sahabat itu kemudian menyerahkan hidup matinya kepada sang petapa sakti. Petapa yang telah menjauhkan diri dari kesibukan manusia itu semula ragu. Tetapi karena kesadaran akan pembinaan kebajikan, akhirnya kedua orang itu diterima menjadi muridnya. Diajarinya mereka berdua tentang berbagai ilmu lahir dan batin. Jaya Kawijayan dan olah kanuragan sehingga kedua sahabat itu kemudian menjadi dua orang yang gagah perkasa.

Petapa sakti itu mengharap agar kedua pemuda itu dapat melanjutkan dharma bhaktinya kepada tata pergaulan manusia membina kebajikan dan memusnahkan kejahatan. Adapun petapa sakti itu, tak seorangpun yang pernah mengenal wajahnya, serta nama yang sebenarnya. Sebab ia selalu memakai topeng yang sangat kasar buatannya, berjubah abu-abu dan menyebut dirinya Pasingsingan. Mendengar nama Pasingsingan disebutkan, Mahesa Jenar terkejut bukan main. Tanpa disengaja ia mengulangi nama itu sampai orang itu terkejut dan berhenti. PERLAHAN-LAHAN ia menoleh kepada Mahesa Jenar, dan ketika ia melihat Mahesa Jenar duduk di belakangnya, lagi-lagi orang itu tersenyum lebar. “Rupanya Angger telah berangsur baik, dan telah dapat duduk pula, ” katanya.

“Begitulah, Bapak,” jawab Mahesa Jenar.

“Tetapi agaknya, adakah yang menarik perhatian Angger dalam ceritera ini?” tanya orangtua itu kemudian.

Tetapi ketika Mahesa Jenar akan menjawab terdengar orang itu melanjutkan, “Aku pernah mendengar kata orang bahwa lagu dapat dipergunakan untuk banyak tujuan. Dalam peperangan, lagu dapat membangkitkan semangat bertempur dan berkorban. Seorang prajurit yang telah kehilangan semangat, akan bangkit keberaniannya apabila ia mendengar sangkakala dalam irama yang menggelora. Sebaliknya, lagu akan sangat berguna pula dalam waktu bercinta.”

Orang itu berhenti berbicara. Kemudian terdengarlah ia tertawa berderai. “Anakmas pasti pernah bercinta,” katanya tiba-tiba.

Perkataan itu mengejutkan Mahesa Jenar. Tanpa disengaja ia menggelengkan kepala. Melihat Mahesa Jenar menggeleng, orangtua itu mengerutkan keningnya, dan dengan nada keheranan ia bertanya, “Angger belum pernah bercinta?” Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah oleh pertanyaan itu. Tetapi sekali lagi tanpa disengaja ia menggelengkan kepalanya pula. Orangtua itu kemudian mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah aku berkata tentang masalah yang lain.”

Ia berhenti sebentar, lalu sambungnya, “Kata orang, lagu dapat pula menyembuhkan atau mengurangi rasa sakit. Nah, tadi aku mencoba untuk mengurangi rasa sakit yang sedang Angger derita, meskipun suaraku sama sekali tak merdu dan lagunya pun barangkali banyak yang salah.”

“Terima kasih, Bapak,” sahut Mahesa Jenar. “Mungkin karena lagu itu pula aku jadi berangsur baik. Tetapi isi ceritera yang Bapak lagukan itu pun sangat menarik perhatianku.”

“Angger juga tertarik pada ceritera-cerita semacam itu?” katanya pula. “Kalau begitu kita mempunyai persamaan kesenangan. Tetapi, sampai sekarang aku masih belum mengenal siapakah Angger ini sebenarnya?”

Oleh pertanyaan orangtua itu, barulah Mahesa Jenar menyadari kekakuan hubungannya dengan orang itu. Sebab masing-masing masih belum saling mengenal namanya. Karena itu, ketika orangtua itu menanyakan namanya, segera dijawabnya.

“Namaku Mahesa Jenar, Bapak…, dan siapakah Bapak ini pula?”

“Akh, aku adalah orang yang sama sekali tak berarti. Tetapi meskipun demikian, baiklah Angger mengenal namaku.” Ia berhenti sebentar untuk menarik nafas, kemudian melanjutkan, “Namaku adalah Ki Paniling.”

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya sambil mengulangi nama itu. Kemudian ia bertanya pula, “Ceritera yang Bapak baca sangat menarik perhatianku. Dari manakah ceritera itu Bapak dapatkan?”

Kening orangtua itu berkerut kembali. Agaknya ia sedang mengingat-ingat. Tetapi kemudian sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia menjawab, “Aku tidak ingat lagi Angger, di mana dan kapan aku mendapatkan naskah itu. Tetapi aku kira itu adalah salinan dari naskah-naskah yang ada di mana-mana. Jadi bukanlah berisikan suatu ceritera yang sedemikian menarik perhatian.”

Bagaimanapun, keinginan Mahesa Jenar untuk mengetahui sebanyak-banyaknya tentang isi naskah itu, yang telah menyebut-nyebut nama Pasingsingan, namun ia selalu berusaha untuk menguasai diri. Sebab ia masih belum tahu benar dengan siapakah ia berhadapan. Meskipun menilik sikap, kesederhanaan, cara berpikir serta hal-hal lain, orang itu bukanlah orang jahat, namun ia tidak dapat meninggalkan sikap hati-hati.

“Masih panjangkah ceritera itu?” tanya Mahesa Jenar kemudian.

“Tidak,” jawab Ki Paniling, “Angger ingin membaca sendiri?”

Mahesa Jenar menganggukkan kepalanya. Ki Paniling kemudian menyerahkan lontar yang dibacanya itu kepada Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar kemudian menjadi kecewa ketika kelanjutan dari ceritera itu hanyalah tinggal beberapa bait saja, yang menceriterakan tentang keperkasaan dua orang murid Pasingsingan yang seakan-akan dapat terbang seperti burung rajawali. Adapun nama dari kedua orang itu, yang dianggap lebih tua karena memiliki beberapa kelebihan adalah Radite, sedang yang muda disebut Anggara.

“Tidakkah Bapak mempunyai kelanjutan ceritera ini?” tanya Mahesa Jenar dengan penuh keinginan untuk mengetahui.

Orangtua itu mengangguk-angguk sejenak, lalu berkata, “Menurut ingatanku, aku ada mempunyai tiga jilid dari naskah itu. Tetapi cobalah nanti Bapak cari, barangkali sedang dipinjam orang selagi mereka punya keperluan.”

Kemudian orangtua itu berdiri, sambil melangkahkan kaki ke luar ia berkata, “Istirahatlah Angger. Bapak akan mencari jilid kedua dan ketiga dari kitab itu.” Lalu hilanglah orangtua itu di balik pintu.

Mahesa Jenar heran mendengar kata-kata Ki Paniling. Kemanakah ia akan mencari kedua jilid yang lain? Adakah di sekitar rumah ini? Atau rumah-rumah orang lain? Tiba-tiba timbullah keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekeliling tempat itu. Perlahan-lahan Mahesa Jenar mengingsar tubuhnya ke tepi tempat pembaringannya. Ketika dirasa bahwa tulang-tulangnya telah tidak begitu nyeri lagi, maka dengan sangat hati-hati ia mencoba berdiri. Ia merasa gembira sekali, bahwa agaknya kekuatannya telah berangsur-angsur menjadi baik dan ia sudah tidak merasakan kesulitan apa-apa untuk berjalan. Karena itu perlahan-lahan dan hati-hati Mahesa Jenar melangkah ke luar rumah. Ia menjadi agak bingung ketika sampai di halaman. Ia tidak dapat lagi mengetahui dengan pasti, di manakah utara dan di mana selatan.

KETIKA memandang ke arah matahari terbit, Mahesa Jenar juga agak keheran-heranan. Ia dapat memastikan bahwa pada saat itu hari masih pagi. Kalau demikian maka ia telah melampaui satu malam berada di dalam pondok Ki Paniling. Kemudian dengan tubuh yang masih belum sehat benar, Mahesa Jenar melangkah lebih jauh lagi. Ia semakin bertambah heran ketika di depan halaman Ki Paniling itu terdapat sebuah jalur desa. Maka keinginannya untuk mengetahui keadaan di sekitarnya menjadi semakin besar. Setapak demi setapak Mahesa Jenar melangkah menuruti jalan kecil itu, sehingga kemudian barulah ia percaya bahwa sebenarnya ia telah dirawat oleh seorang yang sama sekali bukan orang yang terasing, tetapi orang biasa. Mungkin seorang petani miskin yang tinggal di dalam sebuah kampung kecil bersama-sama dengan orang-orang miskin lainnya.


OBJEK WISATA MANCA NEGARA



Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar