MENU

Ads

Minggu, 19 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 190

“Apakah kau sudah membuat parit-parit untuk menyalurkan air seperti yang kau rencanakan. Apabila air terlampau tinggi-tinggi maka air akan mengalir lewat parit-pari yang dangkal itu sehingga mengurangi tekanan yang mendorong bendungan itu.”

“Belum Tuhanku.”

“He, kenapa belum? Apakah kau menunggu bendunganmu pecah.”

“Baru hari ini kami merencanakannya. Seandainya rencana itu dikerjakan, maka baru besoklah hamba mulai.”

“Oh kalian bekerja seperti siput. Kenapa tidak kau mulai malam ini?”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi diberanikannya juga menjawab, “Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah terlampau letih, Tuanku.”

Akuwu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jadi bagaimana dengan kau? Apakah kau tidak jadi pergi besok?”

“Seandainya hamba diperkenankan, hamba ingin menyelesaikan bendungan ini saja. Bukan karena hamba tidak sanggup untuk melakukan perintah, Tuanku, tetapi hamba hanya sekedar memberikan pertimbangan.”

“Apakah kau takut bertemu dengan Kebo Sindet?”

Dada Ken Arok tersirap mendengar pertanyaan itu. Seandainya yang bertanya bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka orang itu akan ditantangnya berlomba untuk menangkap Kebo Sindet, meskipun Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet bukanlah seorang yang dapat dianggapnya seperti orang-orang kebanyakan. Bahkan pada saat Mahisa Agni hilang, Ken Arok tahu pasti, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, meskipun pada saat itu ia tidak terbunuh oleh iblis-iblis dari Kemundungan kakak beradik. Tetapi tanpa diketahuinya sendiri, ia kini merasa bahwa ia akan mampu menghadapinya, menghadapi Kebo Sindet seorang lawan seorang.

Tetapi kepada Akuwu Tunggul Ametung, sambil menahan hati, Ken Arok menjawab, “Ampun, Tuanku. Seandainya, Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi mencari Mahisa Agni, maka hamba pasti akan berangkat. Untuk memenuhi perintah, maka seorang prajurit tidak boleh mengenal takut, meskipun seandainya ada juga perasaan itu di dalam dadanya. Karena itu, maka hamba akan melakukan segala perintah, Tuanku, apa pun yang akan terjadi atas diri hamba. Hamba sama sekali tidak memikirkan diri hamba sendiri, melainkan harapan yang telah dipupuk, selapis demi selapis di dalam dada orang-orang Panawijen, seperti selapis demi selapis brunjung yang disusun untuk membentuk bendungan itu, jangan sampai hanyut bersama banjir. Tetapi apabila Tuanku menghendaki lain, maka hamba pasti akan menjalankannya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya. Katanya, “Aku percaya bahwa kau tidak akan mengenal takut. Tetapi pendapatmu benar juga. Bendungan ini memang memerlukan perhatian.” Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “Sebenarnya tanpa kau pun pasukanku telah cukup kuat. Seandainya Kebo Sindet mempunyai beberapa orang pengikut di dalam sarangnya, Witantra dan para pengawal pasti akan mampu berhadapan dengan orang-orang itu, sedang Kebo Sindet sendiri harus berhahapan dengan aku. Dengan Akuwu Tumapel.”

Sekali lagi dada Ken Arok berdesir. Tetapi yang ada di dalam hatinya adalah kesan yang lain. Ternyata Akuwu dapat mengerti juga keterangannya, dan bahkan membenarkannya.

“Ken Arok.” berkata Akuwu, “besok pada saat matahari terbit, aku akan meninggalkan bendungan ini. Aku serahkan semuanya di sini kepadamu. Bendungan ini dan taman yang mengalami kerusakan-kerusakan kecil itu. Pada saatnya, taman itu harus siap. Aku ingin menghadiahkannya kepada isteriku. Aku mengharap bahwa aku akan dapat menghadiahkannya sekaligus, taman itu dan kakaknya yang hampir membuatnya gila.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandangi wajah Witantra, maka Witantra itu pun mengangguk kecil.

“Lakukanlah pekerjaanmu sebaik-baikanya Ken Arok. Sekarang pergilah, aku akan segera tidur, supaya besok aku akan dapat bangun pada waktunya.” Akuwu diam sejenak, kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau pun harus menyiapkan pasukan kecilmu itu Witantra. Supaya besok pada saat matahari terbit, kita akan dapat berangkat segera.”

“Hamba, Tuanku. Segala titah, Tuanku akan hamba lakukan sebaik-baiknya.”

“Sekarang kalian boleh pergi.”

Ken Arok dan Witantra membungkukkan kepalanya bersama-sama sambil berkata hampir beriamaan pula, “Hamba, Tuanku.”

Keduanya pun kemudian pergi meninggalkan gubug Akuwu Tunggul Ametung. Witantra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkata-kata, “Akuwu kadang-kadang sempat juga berpikir dan mempertimbangkan, mana yang baik dilakukannya.”



Ken Arok mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum, “Ya. Akuwu kadang-kadang memang aneh.”

“Hem.” Witantra menarik nafas dalam-dalam, ”Akuwu yang memang aneh atau karena kita telah kejangkitan penjakit Kebo Ijo itu.”

Ken Arok kini tidak hanya sekedar tersenyum, tetapi ia tertawa. Dan Witantra pun tertawa pula. Katanya kemudian, “Sudahlah. Sudah terlampau malam untuk berjalan-jalan. Sedang besok kita akan melakukan tugas kisa masing-masing. Aku masih harus menemui Kebo Ijo malam ini, dan memberinya peringatan-peringatan. Aku akan memberinya banyak pesan agar ia tidak terjerumus ke dalam kesulitan karena kata-katanya dan mungkin sikapnya yang berlebih-lebihan.”

“Ya, sebaiknya kau memberinya pesan. Aku kadang-kadang mendapatkan kesulitan, karena Kebo Ijo benar-benar sukar dikendalikan. Pada saat ia datang ketempat ini, aku sudah harus melayaninya bemain-main. Untunglah pada saat itu gurumu datang tepat pada waktunya.”

“Aku mendengar pula. Kebo Ijo sendiri berkata kepadaku, meskipun tidak lengkap.”

“Aku kadang-kadang menjadi segan untuk menegurnya terus menerus seperti kanak-kanak. Aku segan juga kepadamu dan kepada gurumu. Aku takut menyinggung perasaanmu dan perguruanmu.”

Witantra tertawa. Katanya, “Kau terlampau berterus-terang. Aku senang mendengarnya. Demikian seharusnya supaya kita tidak menyimpan terlampau banyak persoalan. Tentang Kebo Ijo, aku titipkan kepadamu. Aku yakin kau dapat mengatasinya. Aku akan berpesan pula kepadanya, bahwa kau akan menjadi penggantiku dan pengganti guru disini. Kebo Ijo tidak boleh menjadi bersakit hati oleh teguranmu. Kalau perlu kau dapat berbuat lebih banyak atas namaku.”

“Terima kasih atas kepercayaan itu. Tetapi aku kira, ia akan menjadi baik kalau kau menganyamnya, sehingga aku tidak perlu berbuat apa-apa lagi.”

“Mudah-mudahan.” desis Witantra, “sekarang aku akan menyiapkan para pengawal, supaya Akuwu besok pagi tidak berteriak-teriak apabila aku terlambat sedikit.”

Keduanya pun kemudian segera berpisah. Witantra pergi menemui para pengawal yang dibawanya dari Tumapel. Besok mereka harus bersiap tepat pada saatnya. Kemudian di dalam gubugnya Witantra menunggu kedatangan Kebo Ijo untuk menemuinya. Sementara itu Ken Arok masih juga berjalan-jalan mengelilingi gubug-gubug yang sudah menjadi semakin lama semakin sepi. Malam menjadi semakin lama semakin dalam. Dikejauhan terdengar bilalang berderik-derik bersahut-sahutan di atas rerumputan yang masih basah. Angin yang dingin bertiup perlahan-lahan.

Ketika Ken Arok menengadahkan wajahnya kelangit, hatinya menjadi berdebar-debar. Ternyata mendung di langit masih juga mengalir berurutan meskipun tidak terlampau tebal, seperti noda-noda raksasa yang bergeser dipermukaan wajah malam yang gelap. Meskipun demikian satu-satu bintang tampak berkeredipan disudut-sudut langit yang tidak disaput oleh awan yang kelabu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam menghirup udara yang sejuk. Dipandanginya Padang Karautan yang seakan-akan tidak bertepi, menjorok ke dalam kelam yang pekat. Tiba-tiba Ken Arok tertegun sejenak. Ternyata langkahnya telah membawanya terlampau jauh. Dihadapannya, di dalam kesamaran malam, dilihatnya petamanan yang sedang di bangunnya.

“Hem, kakiku telah membawa aku kemari.”

Tetapi Ken Arok tidak segera kembali. Dilanjutkannya langkahnya. Dilihatnya petamanannya yang mengalami beberapa kerusakan. Tanah yang longsor di pinggir susukan induk, beberapa macam tanaman telah terendam air, dan pagar batu yang miring karena tanah yang bergeser akibat dorongan air yang keras.

“Taman ini perlu diperbaiki.” desisnya.

Tetapi Ken Arok memusatkan segenap perhatiannya pada waktu yang dekat kepada bendungannya. Mungkin besok atau lusa banjir akan datang lagi. Sejenak Ken Arok duduk di atas pagar batu merenungi malam yang gelap dan dingin. Sekilas-sekilas terbang kembali di dalam ingatannya, masa-masa lampaunya di Padang Karautan ini, selagi ia masih hidup sebagai hantu yang menakutkan. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali.

“Nasibmu memang terlampau baik Ken Arok.” suara itu terngiang ditelinganya. Suara Bango Samparan.

“Persetan.” Ken Arok menggeram, “Aku sama sekali tidak mau diganggunya lagi. Bukan karena aku tidak mengenal terima kasih. Aku akan bersedia memberinya bantuan untuk hidupnya sehari-hari. Tetapi caranya berpikir akan dapat menyesatkan aku lagi. Aku sudah mencoba untuk hidup seperti manusia biasa. Bukan seperti hantu di padang ini, yang hanya berlindung dari terik matahari di dalam semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu dan berlindung di bawah hujan dipereng-pereng kali.”

Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia mencoba mengusir pikiran yang mengganggunya itu.

“Aku tidak akan mau diganggunya lagi dengan pikiran-pikiran yang gila itu.” desis Ken Arok kemudian sambil berdiri, “aku harus bekerdja keras untuk menyelesaikan bendungan dan taman ini.”

Perlahan-lahan Ken Arok kemudian melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan petamanan itu, kembali ke gubugnya. Malam telah menjadi semakin larut, dan bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Tetapi Ken Arok masih berjalan seenaknya. Lelah tubuhnya justru terasa berkurang oleh segarnya angin malam. Tetapi lambat laun matanya menjadi terlampau berat, dan mulutnya pun mulai menguap.

“Aku harus beristirahat. Besok aku akan mulai dengan kerja yang lebih keras.”

Ken Arok itu pun kemudian mempercepat langkahnya, seolah-olah ia takut bahwa ia akan kehabisan sisa-sisa malam. Ketika ia sampai diperkemahan, ternyata seluruh isi perkemahan itu tertidur nyenyak. Tidak ada seorang pun lagi yang masih bangun. Penjaga yang bertugas malam itu ditemui oleh Ken Arok tidur bersandar seonggok batu sambil menggenggam tombak pendek. Sedang kawannya tidak jauh dari padanya, tidur mendekur di tanah yang basah.

“Hem.” Ken Arok berdesah, “mereka terlampau lelah.”

Karenanya maka Ken Arok tidak sampai hati untuk membangunkannya. Tetapi dengan demikian Ken Arok sendiri tidak segera pergi ke gubugnya untuk tidur. Sepi malam telah mencengkamnya untuk tetap bangun betapa matanya terasa terlampau berat. Dan bahkan akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja di luar, di atas berunjung-brunjung bambu di dekat para penjaga yang sedang tidur itu. Ken Arok tidak tahu, betapa lama ia tertidur. Tetapi tiba-tiba ia terbangun. Layap-layap ia mendengar sesuatu dikejauhan dibawa silirnya angin malam menyentuh lubang telinganya.

Ternyata telinga Ken Arok adalah telinga yang terlampau tajam. Yang seolah-olah dirangkapi oleh ilmu Sapta Pangrungu. Yang mempunyai ketajaman mendengar tujuh kali lipat dari telinga biasa. Namun agaknya malam yang terlampau sepi telah membantunya pula untuk dapat mendengar suara yang paling halus sekalipun. Dan yang didengarnya kini adalah telapak kaki-kaki kuda meskipun masih terlampau jauh. Ken Arok menggosok-gosok matanya dengan tangannya. Sekali lagi ia mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Dan perlahan-lahan ia berdesis,

“Ya, aku mendengar derap kaki-kaki kuda yang masih jauh sekali.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Malam sudah hampir sampai pada akhirnya. Sebentar lagi langit di ujung Timur akan dibayangi oleh warna-warna merah. Dan disaat yang demikian, ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekati perkemahannya. Perlahan-lahan Ken Arok bangkit dan turun dari atas berunjung-berunjung bambu. Suara derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin jelas mendekati perkemahan itu. Tetapi tidak terlampau banyak. Dua atau tiga.

“Siapakah mereka itu?” desisnya. Penjaga yang tidur bersandar batu itu masih juga tidur. Yang tidur mendengkur di tanah kini justru melingkar menyembunyikan tangannya yang kedinginan. “Biar sajalah.” desis Ken Arok, “Pada saatnya mereka akan terbangun.”

Ken Arok itu pun kemudian melangkah perlahan-lahan menyongsong arah derap kaki-kaki kuda itu. Ia belum tahu, apakah yang datang itu akan berbahaya bagi perkemahannya atau tidak. Namun kemudian dadanya terasa berdesir ketika ia melihat ternyata Akuwu Tunggul Ametung pun telah berdiri tegak seperti sebatang tonggak baja di muka gubugnya, dan di belakangnya Witantra berdiri dengan pedang di lambung. Tetapi Akuwu itu pun menjadi terkejut pula ketika ia mendengar desir langkah di belakangnya. Ketika ia berpaling ternyata Ken Arok telah berada beberapa langkah di belakangnya.

“Apakah yang kau dengar?” bertanya Akuwu.

“Derap kaki-kaki kuda.” sahut Ken Arok.

“Hem.” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya, “telingamu cukup baik. Tidak ada orang lain yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu selain kau.”

“Bukankah, Tuanku mendengar juga?” bertanya Ken Arok.

“Ya.” sahut Akuwu.

Ketiganya kemudian terdiam. Mereka mencoba memperhatikan derap yang semakin lama menjadi semakin dekat. “Berapa ekor kuda menurut tangkapan telingamu?” bertanya Akuwu kepada Ken Arok.

“Dua.”

“Kau?” Akuwu itu berpaling kepada Witantra.

“Dua.”

“Aku menduga bahwa ada dua ekor kuda yang datang.”

Ken Arok dan Witantra saling berpandangan sejenak. Ternyata perhitungan mereka sama seperti hitungan Akuwu Tunggul Ametung. Derap kaki-kaki kuda di Padang Karautan yang sepi itu semakin lama menjadi semakin jelas. Angin padang yang basah seolah-olah telah mengantarkan berita kedatangan penunggang-penunggang kuda itu jauh mendahului kuda-kuda itu sendiri.

“Apakah ada utusan dari istana?” desis Ken Arok.

“He.” Akuwu mengerutkan keningnya, “bukankah kau masih prajurit Tumapel?” Ken Arok menjadi heran, sehingga karena itu ia tidak segera menjawab. “Seorang prajurit Tumapel tidak akan bertanya demikian.” Ken Arok menjadi semakin tidak mengerti. “Arah itukah arah Tumapel?” bertanya Akuwu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia menyadari kekeliruannya, dan barulah ia tahu maksud pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. “Arah itu sama sekali bukan arah ke Tumapel.”

“Hamba, Tuanku. Hamba keliru. Hambat ternyata telah berkata tanpa memikirkannya lebih dahulu.”

Akuwu tidak menyahut. Perhatiannya kini tertumpah kepada dua ekor kuda itu, yang semakin lama menjadi semakin dekat.

“Aku mengharap Kebo Sindet yang datang kepadaku tanpa aku cari.” desis Akuwu Tunggul Ametung.

“Mudah-mudahan.” hampir bersamaan Ken Arok dan Witantra menyahut.

Tiba-tiba Akuwu itu berpaling, lalu bertanya, “Kenapa mudah-mudahan? Apakah kau hanya sekedar ingin melihat aku berkelahi seperti melihat ayam sabungan?”

Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi mereka sudah tahu benar tabiat Akuwu itu. Meskipun ia sendiri yang mengucapkannya, tetapi apabila orang lain mengatakannya pula, ia menjadi tidak bersenang hati.

Karena itu maka Witantra segera menyahut, “Bukan begitu, Tuanku, maksud hamba, bukankah dengan demikian pekerjaan, Tuanku akan lekas selesai. Tuanku dapat menangkap Kebo Sindet dan memaksanya berkata dimana disembunyikannya Mahisa Agni.”

“Bagaimanakah kalau aku yang ditangkapnya atau dibunuhnya?”

“Apakah hamba berdua dan semua prajurit yang ada di padang ini akan tetap berdiam diri?”

“Tidak. Tidak.” tiba-tiba Akuwu itu berteriak, “kau sangka aku tidak mampu melawannya sendiri? Kau sangka bahwa orang-orang macam kalian ini dapat menyelamatkan aku? Aku sendiri mampu berbuat apa saja.”

Witantra menundukkan kepalanya. Bukan karena ngeri, tetapi ia menyembunyikan bibirnya yang tersenyum. Katanya, “Hamba, Tuanku.”

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menggeram, “Kalian tidak usah membangunkan mereka yang sedang tidur.”

“Hamba, Tuanku.”

“Aku akan melihat, siapakah yang datang itu.”

“Kemana, Tuanku akan pergi?”

Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah menyongsong ke arah derap kaki-kaki kuda yang menjadi semakin dekat.

“Tuanku.” Witantra mamanggil.

Tetapi Akuwu tidak menghiraukannya. Ia berjalan saja menerobos gelap malam tanpa berpaling sama sekali. Witantra tidak dapat membiarkannya pergi tanpa seorang pengawalpun. Dan ia tidak mendapat kesempatan untuk memanggil orang lain, sehingga karena itu, maka ia pun melangkah pula mengikuti sambil berkata,

“Tuanku sebaiknya tidak usah menyongsongnya. Ia akan datang kemari dan Tuanku akan melihat siapakah orang itu.”

Tetapi Akuwu seolah-olah sama sekali tidak mendengar. Ia melangkah terus, diikuti oleh Witantra yang membawa pedang di lambungnya. Namun hati Witantra itu menjadi agak tenteram ketika dilihatnya, dibawah kain panjang Akuwu Tunggul Ametung yang diselimutkan di badannya, tergantung sebuah penggada yang berwarna kekuning-kuningan yang seolah-olah bercahaya di dalam gelapnya malam.

“Akuwu telah membawa pusakanya. Ia akan menjadi seorang yang luar biasa dengan senjata itu di tangannya.” desis Witantra di dalam hatinya.

Ternyata Ken Arok pun kemudian tidak dapat membiarkan kedua orang itu pergi menyongsong derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka ia pun segera menyusul di belakangnya. Berloncat-loncatan sehingga akhirnya ia telah berjalan di samping Witantra.

Dengan dada tengadah Akuwu melangkah terus. Semakin lama bahkan semakin cepat. Seakan-akan ia menjadi tidak sabar lagi menunggu kuda-kuda itu mendekatinya. Derap kuda itu pun semakin lama menjadi semakin jelas. Dua ekor kuda. Suaranya menggeletar menggetarkan udara padang yang sepi. Hanyut bersama silirnya angin yang basah.

Akuwu Tunggul Ametung itu akhirnya berhenti. Ia berdiri tegak bertolak pinggang. Ia kini sudah mendapat keyakinan arah derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu ia tidak perlu maju lagi. Sebentar lagi kuda-kuda itu akan lewat tepat di mukanya. Dan seandainya yang menunggang kuda itu Kebo Sindet, maka ia harus menghentikannya dan menangkapnya.

“Aku tidak boleh mempergunakan pusaka ini.” desisnya.

Witantra yang tidak begitu jelas mendengar desis itu melangkah maju dan bertanya, “Apakah yang Tuanku katakan?”

Akuwu berpaling. Jawabnya, “Aku tidak berbicara kepadamu?”

“Apakah Tuanku maksudkan, Tuanku berbicara berbicara dengan Ken Arok.”

“Juga tidak. Aku berbicara kepada diriku sendiri. Aku tidak boleh mempergunakan senjataku, supaya Kebo Sindet tidak menjadi hancur sewalang-walang.”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ken Arok maka Ken Arok pun sedang mengerutkan keningnya. Tetapi mereka percaya sepenuhnya akan kata-kata Akuwu itu. Memang pusaka Akuwu itu benar-benar luar biasa. Sentuhan pada sesuatu, akibatnya sangat dahsyat. Hancur berkeping-keping.

“Aku harus menangkapnya utuh.” berkata Akuwu itu.

Sekali lagi Ken Arok rnengerutkan keningnya dan Witantra menggigit bibirnya. “Ya.” berkata Witantra di dalam hati, “Akuwu tidak dapat menangkapnya separo atau sepertiga, apabila ia masih ingin mendengar pengakuan Kebo Sindet.”

Kini kuda itu sudah menjadi semakin dekat. Mata mereka yang tajam segera melihat bayangan yang samar-samar bergerak di Padang Karautan itu. Semakin lama semakin dekat. Bayangan itu langsung menuju kearah mereka. Tetapi beberapa langkah agak jauh, kedua ekor kuda itu berhenti. Seperti Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok dan Witantra yang ragu-ragu, penunggang-penunggang kuda itu pun ragu-ragu pula. Keduanya masih berada di atas punggung kuda masing-masing.

Akuwu Tunnggul Ametung tidak sabar lagi untuk menunggu. Tiba-tiba ia berteriak, “He, siapa di atas punggung kuda itu?” Tidak segera terdengar jawaban. “Turun.” teriak Akuwu, “turun dan datang kemari. Sebutkan siapakah kau berdua.”

Kedua bayangan di atas punggung kuda itu masih belum menyahut. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian mereka pun meloncat turun. Akuwu Tunggul Ametung dan kedua orang pengiringnya mengerutkan keningnya. Pada saat keduanya turun, maka tampaklah di lambung mereka sarung pedang yang mencuat ke samping.

“Mereka bersenjata pedang.” desis mereka di dalam hati.

Tetapi ternyata kedua orang itu masih saja berdiri di samping kuda masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung tidak sabar lagi menunggu lebih lama. Karena itu maka segera ia melangkah mendekati. Ia sama sekali tidak menghiraukannya ketika Witantra berdesis,

“Tuanku. Tunggu.”

Akuwu berjalan terus mendekati kedua orang itu. Witantra dan Kren Aroklah yang kemudian meloncat disampingnya, dikiri dan dikanan tanpa berjanji.

“Siapa kau?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

Terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah hamba berhadapan dengan, Tuanku Akuwu?”

“Ya.” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “akulah, Akuwu Tunggul Ametung.”

“Oh.” desis salah seorang dari kedua orang itu.

Kemudian dengan langkah yang pendek, salah seorang dari mereka menyongsong Akuwu Tunggul Ametung itu. Dengan hormatnya ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Dada Akuwu menjadi berdebar-debar. Kini jarak mereka menjadi lebih pendek. Dan Akuwu telah melihat bentuk orang yang sedang mengangguk kepadanya itu.

“He, siapa kau?”

“Hamba, Mahisa Agni.”

“He.”

Akuwu terperanjat meskipun bentuk Mahisa Agni itu sudah membuat Akuwu berdebar. Juga Witantra dan Ken Arok tidak kalah terkejut pula. Bahkan terasa dada mereka berdesir dan kemudian berdebar-debar. Sejenak mereka diam mematung. Tetapi sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung meloncat maju. Dicengkamnya pundak Mahisa Agni dan di guncang-guncangkannya. Katanya,

“He, kau masih hidup?”

“Seperti yang, Tuanku lihat.”

“Dan kau masih dapat melepaskan dirimu dari tangan Kebo Sindet yang gila itu?”

“Hamba, Tuanku.”

“Siapa yang menolongmu he?” bertanya Akuwu itu tiba.

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Gurunya berpesan kepadanya supaya ia tidak menyebut-nyebut namanya. Gurunya tidak ingin menimbulkan kenangan lagi bagi puterinya, apalagi dalam keadaan yang paling sulit dimasa-masa mendatang.

“Siapa he, siapa Setan, gendruwo atau dewa-dewa dari langit?”

“Tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian, “yang menolong hamba adalah guru Kuda Sempana. Empu Sada.”

“He?” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung terperanjat. Juga Witantra dan Ken Arok terperanjat pula.

“Jadi orang itu telah benar-benar menyesali perbuatannya?” bertanya Akuwu.

“Hamba, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “He, kenapa kau tidak menunggu aku? Kenapa kau lari lebih dahulu dari tangan Kebo Sindet sebelum aku datang he?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia diam mematung, dan bahkan dipandanginya Witantra dan Ken Arok berganti-ganti, seolah-olah ia ingin mendapat penjelasan dari pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi Witantra dan Ken Arok itu pun tidak dapat berbuat apa-apa selain saling berpandangan pula.

“Kenapa?” kembali terdengar suara Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. “Kenapa kau tidak menunggu aku membebaskanmu? Kenapa Empu Sada he?”

Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia masih saja berdiri mematung.

“Kau tidak memberi kesempatan kepadaku.” berkata Akuwu itu kemudian, “Bukan kau, tetapi Empu Sada itu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menunjuklan bahwa aku pun mampu melakukannya. Tidak perlu orang lain. Ken Dedes harus yakin, bahwa aku dapat berbuat seperti yang diingininya, membebaskan Mahisa Agni dan memhunuh Kebo Sindet. Tetapi kesempatan itu kini sudah tertutup.”

Mahisa Agni masih berdiri saja sambil berdiam diri. Ia masih ragu-ragu, bagaimana ia harus menanggapi pikiran Akuwu Tunggul Ametung yang aneh itu.

“He, kenapa? Kenapa kau diam saja?” Akuwu itu kemudian berteriak, “apakah Empu Sada menganggap aku sama sekali tidak berdaya untuk bertindak atas Kebo Sindet itu? Itu suatu penghinaan bagi Akuwu Tunggul Ametung?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Samar-samar ia kini dapat menangkap perasaan Akuwu yang kecewa, karena seolah-olah ia tidak mampu melepaskannya. Akuwu ingin menunjukkan kepada Ken Dedes bahwa ialah yang berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tengan Kebo Sindet. Tetapi yang kemudian menggetarkan dada Mahisa Agni bukanlah sikap Akuwu Tunggul Ametung itu sendiri. Namun dengan demikian ternyata kepadanya, bahwa selama ini Ken Dedes selalu berusaha agar Akuwu membebaskannya dari tangan iblis dari Kemundungan itu.

Dan sebelum Akuwu itu berteriak lagi, Maiisa Agni mencoba untuk menjawab, “Ampun, Tuanku. Sebenarnyalah bahwa Tuanku mempunyai kemampuan lebih dari Empu Sada. Tetapi adalah suatu kebetulan saja bahwa Empu Sada bertemu dengan Kebo Sindet, berkelahi dan Kebo Sindet terbunuh. Kebetulan yang datang tepat pada waktunya, sebab pada saat itu Kebo Sindet telah siap untuk membunuh hamba dengan caranya, karena usahanya untuk mempergunakan hamba sebagai alat pemeras dirasanya telah gagal.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Lalu terdengar suaranya menggeram, “Bagaimanakah cara yang akan ditempuh oleh Kebo Sindet itu untuk membunuhmu? Gantung atau pancung atau apa?”

Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Kebo Sindet belum sempat melakukannya. Tetapi yang telah diucapkan, cara itu adalah cara yang paling mengerikan. Hamba akan diikat di atas rawa-rawa yang menyimpan banyak sekali buaya-buaya kerdil. Kebo Sindet ingin melihat buaya-buaya itu menggapai-gapai hamba, sehingga pada saatnya, salah seekor dari padanya sempat merobek tubuh hamba dan menyeret ke dalam rawa-rawa.”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, “Kejam sekali. Kejam sekali. Apakah kira-kira hal itu akan dilakukannya benar-benar?”

“Hamba, Tuanku. Demikianlah tabiat Keto Sindet itu.”

“Setan. Seharusnya akulah yang membunuhnya. Akulah yang harus menghentikan segala kejahatannya yang mengerikan itu.”

Akuwu bergumam seolah-olah kepada diri sendiri. Tiba-tiba teringat pula olehnya cara yang dipilih oleh Kebo Sindet untuk membunuh Jajar yang gemuk yang telah mencoba berkhianat kepadanya. Hidup-hidup di masukkan ke dalam api yang menelan rumahnya sendiri. Oleh kenangan itu, maka wajah Akuwu itu menjadi semakin tegang. Dengan tajamnya dipandanginya seseorang yang berdiri disamping kudanya, yang datang bersama-sama dengan Mahisa Agni.

Dan tiba-tiba pula Akuwu itu berteriak, “He bukankah kau Kuda Sempana?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar suara Akuwu dalam nada yang tinggi itu. Apalagi Kuda Sempana yang telah merasa banyak sekali menyimpan kesalahan, sehingga sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Witantra dan Ken Arok pun menjadi tegang pula. Mereka tahu benar, peranan apakah yang selama ini telah dilakukan oleh Kuda Sempana sehingga keadaan Mahisa Agni, Ken Dedes, dan bahkan seluruh Panawijen menjadi sedemikian buruknya.

“Jawab pertanyaanku.” Akuwu mulai berteriak lagi, “bukankah kau bernama Kuda Sempana?”

Terasa darah Kuda Sempana menjadi semakin cepat mengalir sehingga dadanya menjadi berdentangan.

“He, apa jawabmu?”

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Pelangi di Langit Singasari 189

“Ah, aku akan pergi.” desisnya kemudian.

“Kemana?” bertanya kawannya.

“Keperapian. Mungkin aku masih dapat mengeringkan pakaianku dan mendapat rangsum hangat.”

Prajurit yang gemuk itu tidak menunggu kawannya menjawab. Segera ia melangkah pergi. Sekali ia berpaling sambil tertawa. Cahaya obor yang kemerah-merahan membuat bayangan yang lucu pada wajahnya yang gemuk.

Tetapi bukan saja prajurit yang gemuk itu yang pergi kedapur. Prajurit-prajurit yang lain pun segera menyusul. Ada di antara mereka yang memerlukan berganti pakaian lebih dahulu, tetapi ada juga yang langsung dengan pakaian basah, menerima rangsum hangat sambil duduk-duduk di muka perapian. Ternyata mereka benar-benar telah lapar sehingga mereka makan tanpa banyak berbicara.

Ken Arok berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. Meskipun ia sendiri belum makan, tetapi ia senang melihat prajurit-prajuritnya makan dengan lahapnya. Satu-dua di antara mereka masih sempat berkelakar, meskipun sambil menyuapi mulut-mulut mereka dengan suapan-suapan yang besar. Ken Arok berpaling ketika terasa pundaknya ditepuk seseorang. Ternyata Kebo Ijo telah berdiri di belakangnya. Sambil tersenyum anak muda itu berkata,

“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, yang kalis dari segala bahaya, yang bidjaksana dan yang dilindungi oleh Bintang Cakra telah memanggilmu.”

“Ah.” Ken Arok berdesah.

“Aku berkata sesungguhnya, bahwa kau harus menghadapnya sekarang juga. Bahkan sebenarnya sejak tadi kau dicarinya, tetapi ternyata kau masih berada di seberang.”

“Aku percaya bahwa Akuwu memanggilku. Tetapi sebutan yang kau ucapkan adalah sebutan bagi Maharaja Kediri.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Akuwu itu merasa dirinya lebih besar dari Maharaja Kediri.”

“Kaulah yang beranggapan begitu.”

“Huh.” Katanya, “ia merasa bukan manusia biasa lagi. Ia merasa dirinya jauh lebih berharga dari pada kita. Dan Kakang Witantra membiarkan dirinya direndahkan. Agaknya kau pun akan berlutut sambil mencium kakinya pula.”

Ken Arok rnengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Adi Kebo Ijo, jangan berkata begitu. Aku tahu bahwa Akuwu memang kadang-kadang berbuat sekehendak sendiri. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia sudah lupa diri. Itu adalah tabiatnya, seperti kau sering berkata menurut seleramu sendiri.”

“Tetapi ia benar-benar seperti Maharaja yang paling perkasa. Suatu ketika aku cekik ia sampai mati.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tampaklah perubahan pada wajahnya. Namun sejenak justru ia berdiam diri. Ia tidak segera menanggapi kata-kata Kebo Ijo itu, karena ia sama sekali tidak senang mendengarnya. Ken Arok menggigit bibirnya ketika ia mendengar justru Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang berdiri dikejauhan, yang mendengar suara tertawanya, serentak berpaling kearahnya. Ada diantara mereka yang ikut tertawa meskipun tidak mengetahui persoalannya, hanya karena melihat cara tertawa Kebo Ijo yang menggelikan. Tetapi ada juga yang acuh tidak acuh sambil menyuapi mulutnya dengan nasi hangat.

“Kebo Ijo.” berkata Ken Arok kemudian, “aku sudah mencoba memperingatkanmu. Jangan terdorong mengucapkan kata-kata yang begitu tajam.”

“Kau cemas bahwa aku akan melakukannya? Jangan takut kehilangan tempat untuk menghambakan diri Ken Arok. Aku tidak akan benar-benar melakukannya.” sahut Kebo Ijo.

“Aku tahu bahwa kau tidak akan melakukannya. Tetapi kelakar yang demikian agak berlebih-lebihan. Sebaiknya kau mengucapkan kata-kata yang lain, yang tidak langsung menusuk perasaan. Mungkin aku dapat mengerti caramu bergurau. Tetapi mungkin orang lain tidak, atau justru meskipun orang lain tahu benar, bahwa kau hanya bergurau, namun mereka yang tidak senang denganmu akan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya.”

“Apakah kepentingan orang lain dengan aku? Apakah yang diinginkannya dariku? Kedudukanku yang tidak pernah naik pangkat ini, justru karena aku tidak dapat menjilat kaki Akuwu itu, atau apa?”



“Kau benar-benar tidak mampu mengendalikan lidahmu. Coba katakan berapa tahun kau mengabdikan diri menjadi seorang prajurit di Tumapel. Coba sebutkan di antara orang-orangmu, apakah tidak ada yang sudah lebih dari dua kali lipat waktu pengabdiannya kepada Akuwu Tunggul Ametung dan masih saja berada di tingkat di bawahmu.”

“Tetapi mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas untuk disebut namanya.”

“Sedang kau.” Ken Arok memotong, “adalah orang yang berilmu tinggi dan tidak ada duanya.”

Wajah Kebo Ijo tiba-tiba menegang. Tetapi hanya sesaat, kemudian terdengar sekali lagi suara tertawanya lepas mengumandang di Padang Karautan yang sudah mulai gelap.

“Ah, sudahlah.” berkata Ken Arok, “tetapi ingat-ingatlah pesanku supaya kau tidak terjerumus dalam kesulitan. Jangan kau lepaskan saja kata-katamu tanpa pertimbangan dan pengendalian.”

“Baiklah.” sahut Kebo Ijo, “akan aku pergunakan mulutku untuk memujinya supaya aku segera diangkat menjadi senapati agung.”

Ken Arok tidak menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar tidak senang mendengar kelakar yang berlebih-lebihan justru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun ia masih mendengar suara tertawa Kebo Ijo namun Ken Arok itu melangkah pergi meninggalkannya. Akuwu Tunggul Ametung yang memanggilnya, mungkin sudah terlalu lama menunggunya. Karena itu maka langkahnya pun menjadi tergesa-gesa, tidak saja supaya ia segera sampai ke gubug yang dipergunakan oleh Akuwu Tunggul Ametung untuk beristirahat, tetapi juga supaya ia segera menjauhi Kebo Ijo.

“Anak itu harus mendapat peringatan.” desis Ken Arok, “tetapi karena kakak seperguruannya ada di sini, biarlah aku katakan saja kepadanya tentang adiknya itu.”

Langkah Ken Arok itu pun segera terhenti. Dilihatnya gubug itu sepi. Namun perlahan-lahan supaya tidak mengejutkan, ia berjalan mendekati pintu. Ia terhenti ketika ia melihat Witantra keluar dari dalam gubug itu. Perlahan-lahan Witantra berkata,

“Akuwu sedang tidur.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukan kah Akuwu Tunggul Ametung memanggil aku.”

“Ya. Sejak sore ia mencarimu.”

“Kebo Ijo baru saja menyampaikan pesan itu ke padaku.”

“Ya.”

“Dan sekarang Akuwu sedang tidur?”

“Ya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kadang-kadang memang terbersit kejengkelan di dalam hatinya. Tergesa-gesa ia datang memenuhi panggilannya, tetapi yang memanggilnya itu ternyata sedang tidur. Tetapi justru dengan demikian ia teringat kepada Kebo Ijo. Ia ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya selagi ia bertemu dengan Witantra. Maka sejenak kemudian ia berkata,

“Aku ingin berbicara dengan kau Witantra.”

Witantra mengerinyitkan alisnya. “Tentang?”

“Tentang adikmu Kebo Ijo.”

Kini Witantra lah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar tabiat dan kebiasaan Kebo Ijo. Katanya kemudian, “Apakah anak itu mengganggu pekerjaanmu disini? Aku sebenarnya juga kurang sependapat, bahwa Kebo Ijo lah yang dikirim oleh Akuwu untuk membantu pekerjaanmu.”

“Tidak.” Ken Arok menggeleng, “Kebo Ijo sama sekali tidak mengganggu. Ia termasuk pekerja yang baik, meskipun mula-mula agak canggung. Tetapi pada saat-saat terakhir ia merupakan tenaga yang ikut menentukan.”

“Lalu?”

“Kita duduk di sini Witantra.”

Witantra mengangguk. Keduanya segera duduk di atas rerumputan dimuka gubug itu. “Adikmu memang senang berkelakar dan bergurau.” berkata Ken Arok.

“Ya.” Witantra mengangguk, lalu diteruskannya, “bukankah kau merasa terganggu oleh kelakarnya yang berlebih-lebihan?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Agaknya kakak seperguruan Kebo Ijo itu pun telah menyadari sifat-sifatnya, yang kadang-kadang terlampau berlebih-lebihan, bahwa sering sudah melampaui batas. Hal yang demikian seharusnya tidak boleh berkepanjangan.

Sejenak kemudian maka ia pun menjawab, “Sebenarnya aku sendiri tidak merasa terlampau terganggu. Tetapi aku mencemaskannya, bahwa kadang-kadang kelakarnya dapat membahayakannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang dikatakannya?”

“Tentang Akuwu Tunggul Ametung.” jawab Ken Arok, “kadang-kadang terloncat ucapan-ucapannya yang mendebarkan hati.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “mungkin sekali, Anak itu benar-benar anak yang bengal. Apakah yang dikatakannya tentang Akuwu?”

“Mungkin pernah mendengar apa yang dikatakannya tentang kita?”

“Dalam hubungan dengan Akuwu?”

“Ya.”

“Ya. Aku memang sering mendengar. Anak itu menganggap kita terlampau merendahkan diri dihadapan Akuwu Tunggul Ametung.”

“Begitulah. Lalu bagaimana sikapnya sendiri?”

“Seperti seekor tikus dihadapan seekor kucing. Tetapi anak itu memang harus mendapat peringatan. Apakah yang dikatakan kepadamu?”

“Itu tidak terlampau berbahaya baginya, Witantra. Tetapi yang lebih menyinggung perasaan orang-orang yang dekat dengan Akuwu adalah sebutan-sebutannya yang mengandung hinaan atas Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan.” Ken Arok diam sejenak. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, seolah-olah takut didengar orang lain. Lalu, “Kebo Ijo pernah berkata kepadaku, meskipun aku tahu bahwa ia hanya bergurau”, katanya, “Aku akan mencekiknja sampai mati.”

“Ah.” Witantra berdesah, “begitukah?”

“Ya. Aku cemas apabila seseorang pernah mendengar ia berkata begitu pula.”

“Hem.” Witantra menarik nafas dalam-dalam, “sebenarnyalah demikian Ken Arok. Aku pernah mendapat laporan dari seorang prajurit pengawal. Ia mendengar Kebo Ijo memaki Akuwu meskipun sambil tertawa. Sebagai seorang prajurit pengawal, ia lapor kepadaku tentang seorang prajurit yang lain yang bersikap demikian.”

“Apakah yang sudah kau lakukan?”

“Aku panggil anak itu. Aku memarahinya hampir separo malam. Tampaknya ia menjadi jera. Tetapi kini penyakit itu agaknya telah kambuh kembali.”

“Nah, terserahlah kepadamu Witantra, untuk kepentingan adikmu itu sendiri.”

“Terima kasih. Aku akan memperhatikannya.”

“Baiklah. Sekarang, sebelum Akuwu bangun, aku akan beristirahat sejenak. Aku akan berganti pakaian, makan dan duduk-duduk bersama prajurit-prajurit yang sedang beristirahat itu.”

Witantra rnengerutkan keningnya. Lalu ia berkata, “Aku ikut bersamamu. Aku ingin melihat-lihat keadaan mereka disini sebelum besok aku pergi mengawal Akuwu ke Kemundungan.”

Keduanya pun kemudian berdiri. Witantra melambaikan tangannya, memanggil seorang prajurit yang dibawanya dari Tumapel, prajurit pengawal, “Lakukan tugasmu baik-baik. Aku akan pergi sebentar. Laporkan kepada perwira yang sedang bertugas.”

Prajurit itu menganggukkan kepalanya, sedang tangan kirinya menggenggam hulu pedangnya yang masih berada di dalam sarungnya. “Baik.” Jawabnya, “akan aku lakukan.”

Witantra pun kemudian melangkah bersama-sama dengan Ken Arok, sementara itu, prajurit pengawal itu melaporkannya kepada perwira pengawal bawahan Witantra, yang segera mengambil alih tugasnya, berjaga-jaga di depan gubug Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tidur itu. Beberapa langkah kemudian, maka kedua orang itu terhenti ketika mereka melihat Kebo Ijo mendatanginya. Sambil tertawa ia bertanya kepada Ken Arok,

“Kenapa kau tidak menghadap Akuwu?”

“Akuwu sedang tidur.” jawab Ken Arok.

“He.” Kebo Ijo mengerutkan keningnya, “tetapi ia memanggilmu menurut Kakang Witantra.”

“Ya.” sahut Witantra, “tetapi pada saat Ken Arok datang, Akuwu sudah tertidur. Mungkin ia terlampau lelah setelah bekerja keras hari ini.”

Wajah Kebo Ijo menjadi berkerut-merut. Tetapi kemudian meledaklah suara tertawanya.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Witantra.

“Tidak apa-apa.” Kebo Ijo menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa.”

Sejenak Ken Arok dan Witantra saling berpandangan. Namun kemudian mereka meneruskan langkah mereka tanpa menghiraukan anak yang masih saja tertawa-tawa itu. Tetapi ternyata Kebo Ijo tidak membiarkannya pergi. Ia pun kemudian mengikutnya di belakang. Sejenak kemudian ia bertanya,

“Kakang, apakah Akuwu akan membicarakan tentang keberangkatannya besok bersama Ken Arok?”

“Aku tidak tahu.” sahut kakanya.

“Tetapi bukankah itu yang dimaksud oleh Akuwu Tunggul Ametung? Membawa sepasukkan prajurit untuk membebaskan Mahisa Agni?”

“Ya.”

“Apakah Ken Arok besok harus ikut serta?”

“Aku tidak tahu.”

“Hem.” Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja berjalan mengikuti Ken Arok dan Witantra, “Aku kira begitulah. Dan seandainya benar, maka Akuwu benar-benar berbuat aneh.”

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan serta merta.

“Bendungan ini seharusnya jauh lebih penting dari pada seorang Mahisa Agni. Apakah perlunya Akuwu bersusah payah berusaha membebaskannya?”

Langkah Witantra tertegun mendengar kata-kata Kebo Ijo. Ken Arok pun kemudian terhenti juga. Bahkan keduanya kemudian berpaling memandangi Kebo Ijo yang kemudian berdiri tegak di belakang mereka.

“Kebo Ijo.” berkata Witantra kemudian, “kita adalah prajurit. Kita sebaiknya mentabukan perintah yang dijatuhkan atas kita. Memang mungkin perintah itu tidak tepat. Apabila demikian kita dapat memberikan pertimbangan seperlunya. Nah, adalah wajar sekali apabila besok, seandainya Akuwu masih ingin membawa Ken Arok, kita dapat mengajukan keberatan-keberatan itu.”

Kebo Ijo tidak segera menyahut. Diangguk-anggukkannya kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia berkata, “Apakah sebenarnya pentingnya Mahisa Agni bagi Akuwu.”

“Ia kakak Tuan Puteri Ken Dedes, Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

“Tetapi Mahisa Agni sendiri adalah seorang anak padesan. Kalau ia hilang di dalam sarang iblis Kemundungan itu, adalah nasibnya yang terlampau jelek. Buat apa benarnya Akuwu memaksa diri untuk mencarinya dengan sepasukan prajurit? Bagiku, hal itu tidak akan banyak memberikan arti bagi Tumapel. Pantaslah kiranya, apabila yang hilang itu seorang putera Raja, setidak-tidaknya putera Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Bukan hanya sekedar anak padesan. Apabila Tuan Puteri Ken Dedes merajuk, biarlah Akuwu mengancamnya untuk mengembalikan saja kepadepokannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Sebaiknya kau tidak usah ikut memperbincangkannya. Itu adalah persoalan Akuwu Tunggul Ametung.”

Kebo Ijo justru tertawa pendek, “Aku kasihan melihat Akuwu begitu bersusah payah untuk seorang pidak pedarakan.”

“Kau. Keliru Kebo Ijo.” Ken Aroklah yang kemudian menyahut, “kau membedakan antara seorang anak pidak pedarakan dengan seorang pangeran atau putera Akuwu di dalam persoalan ini.”

“Sudah tentu. Nilai dari mereka jauh berbeda.”

“Tidak Kebo Ijo. Baik ia seorang pangeran, bahkan seorang pangeran dari seorang Maharaja sekalipun dan seorang yang paling rendah dan paling hina, berhak mendapat perlindungan.”

“O, tentu. Sudah tentu. Tetapi harus disesuaikan dengan kedudukannya. Kalau yang hilang seorang pangeran, pantaslah Akuwu sendiri yang pergi mencarinya. Tetapi kalau hanya seorang Mahisa Agni?”

“Mahisa Agni kini adalah seorang kakak dari Permaisuri Akuwu sendiri.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kau terbalik mengucapkannya Ken Arok. Seharusnya kau berkata, “Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung hanyalah adik Mahisa Agni. Anak dari pedukuhan Panawijen.”

“Kau telah menarik garis perbedaan terlampau tajam antara seorang yang lahir di dalam lingkungan yang baik dan orang-orang yang lahir dalam keadaan yang buruk.”

“Tentu. Aku sendiri harus menghargai keturunanku.”

“Kau sudah gila Kebo Ijo.” desis Witantra, “diamlah supaya aku tidak memaksamu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak ingin diam, ia masih ingin berbicara Namun Witantralah yang berbicara pula, “Pergilah beristirahat. Tetapi sebelumnya, dengarlah dahulu sebagai bekalmu berangan-angan sebelum tidur. Tak ada perbedaan apa-apa antara yang kebetulan lahir sebagai seorang yang sangat miskin. Mereka berhak mendapat perlindungan yang sama, Mahisa Agni yang kini berada dalam bahaya yang mengerikan harus mendapat pertolongan.”

Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan berbicara karena Ken Arok berkata, “Kebo Ijo. Nilai seseorang tidak saja tergantung kepada darah keturunan. Tetapi tergantung pula atas perbuatannya sendiri. Atas apa yang dikerjakannya.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu, “Aku adalah seorang yang paling hina ketika dilahirkan. Tetapi penilaian orang terhadap diriku kini telah menjadi jauh berbeda. Apakah kau pernah membayangkannya, bahwa aku seolah-olah terbuang di masa-masa itu. Disaat aku baru dilahirkan?” Kebo Ijo tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Ken Arok yang tegang. “Tetapi sekarang aku mendapat kesempatan ini.” Ken Arok meneruskannya.

Kini Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia masih mempunyai kesadaran untuk tidak membuat keributan. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Baiklah. Itu memang bukan persoalanku. Tetapi bagiku Mahisa Agni sama sekali tidak cukup bernilai untuk memaksa Akuwu meninggalkan istana. Lebih baik baginya untuk berburu kijang di hutan-hutan.”

“Pergilah Kebo Ijo.” potong Witantra, “beristirahatlah, tetapi jangan tidur dulu. Aku perlu menemuimu.”

Kebo Ijo menjadi heran, sehingga terloncat pertanyaannya, ”Kenapa nanti? Bukankah kita sudah bertemu.”

Adik seperguruan Witantra itu memang menjengkelkan sekali, sehingga Witantra menyahut agak keras, ”Aku perlu berbicara dengan kau seorang diri. Aku nanti ingin memberimu peringatan supaya kau tidak malu dilihat orang. Kau telah membuat banyak sekali kesalahan. Mengerti?”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Diangkatnya pundaknya sambil berdesis, “Baiklah kakang. Sebaiknya aku makan dahulu sebanyaknya sebelum aku menghadap kakang nanti.”

“Lebih baik begitu. Makanlah, supaya mulutmu berhenti berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat dan kadang-kadang dapat berbahaya bagimu.” sahut Witantra.

Kebo Ijo menganggukakan kepalanya. Perlahan-lahan ia melangkah pergi meninggalkan Ken Arok dan Witantra yang mengawasinya. “Anak itu benar-benar bengal. Umurnya sudah cukup dewasa, dan ia sudah berkeluarga pula. Tetapi sifatnya itu masih kadang-kadang membuat aku pusing dan bahkan guru sendiri. Ia dapat menjadi seorang yang baik dihadapan guru. Tetapi kemudian penyakitnya itu datang lagi mengganggunya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kakak seperguruannya ini pun telah dibuatnya pening. Apalagi orang lain. Tetapi bahwa kata-katanya terlampau sering melukai hati orang lain dan kadang-kadang tanpa terkendali itulah yang harus mendapat perhatian. Saudara-saudara seperguruannya dan kawan-kawannya yang dekat, yang telah mengerti akan tabiatnya, tidak akan menjerumuskannya ke dalam kesulitan, bahwa akan berusaha melindunginya, meskipun kemudian memberikan peringatan yang keras kepadanya. Tetapi orang-orang lain akan berbuat sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Bahkan mungkin akan menjerumuskannya ke dalam kesulitan.

Ken Arok tersadar ketika Witantra kemudian berkata, “Biarlah anak itu makan. Nanti aku akan memberinya peringatan. Mungkin aku perlu menakutinya dengan berbagai macam cara, atau mengancamnya.”

“Mudah-mudahan kau berhasil.” desis Ken Arok.

Keduanya pun kemudian melanjutkan langkah mereka pergi ketempat para prajurit sedang beristirahat dan makan. Ken Arok pun kemudian ikut pula makan bersama mereka. Tetapi Witantra agaknya sudah makan lebih dahulu di gubugnya. Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Ken Arok dan Witantra pun kembali ke gubug Akuwu Tunggul Ametung. Begitu mereka mendekat, maka terdengar suara Akuwu yang ternyata sedang terbangun,

“He, apakah Ken Arok sudah datang?”

“Hamba, Tuanku.” sahut pengawal, ”itulah Ken Arok sudah datang.”

“Suruh ia masuk.”

“Hamba, Tuanku.”

Tetapi ketika pengawal itu hampir saja mengucapkan kata-kata untuk memberi tahukan panggilan itu kepada Ken Arok terdengar Ken Arok berdesis perlahan-lahan,

“Aku sudah mendengarnya.”

Pengawal itu mengerinyitkan alisnya, Tetapi ia pun kemudian tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ken Arok bersama Witantra kemudian melangkah masuk ke dalam gubug yang rendah itu. Kemudian mereka duduk di atas tikar yang dibentangkan di atas batang-batang rumput yang sudah kering.

“Kau baru datang?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

“Tidak, Tuanku.” jawab Ken Arok, “hamba telah menghadap sejak lama.”

“Bohong. Aku berteriak-teriak memanggilmu. Yang selalu menyahut hanyalah para pengawal. Bahkan Witantra pun pergi pula.”

“Hamba berdua hanya sekedar berjalan-jalan di luar, Tuanku.” berkata Witantra.

“Tetapi kalian tidak mendengar panggilanku.”

“Mungkin hamba berdua berjalan-jalan agak terlampau jauh. Agaknya kami lupa untuk mengingat-ingat waktu dan jarak, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Aku ingin berbicara dengan kalian.”

Witantra dan Ken Arok hampir bersamaan menjawab, “Hamba, Tuanku.”

Akuwu yang masih berada di pembaringannya itu menguap. Diusapnya matanya dengan jari-jarinya. Kemudian katanya, “Besok pagi aku akan meneruskan perjalananku. Aku harus menemukan Mahisa Agni supaya hidupku menjadi tenteram.”

Terbersit desis di dalam dada Ken Arok, “Hem, ada juga kebenarannya apabila seseorang mengatakan bahwa Akuwu Tunggul Ametung hanya memikirkan dirinya sendiri, meskipun tidak sepenuhnya. Tetapi pada saat-saat tertentu maka dirinya sendirilah yang menjadi pusat segala persoalan.” Tetapi tiba-tiba dikenangnya pada saat ia hampir hanyut didorong oleh arus banjir yang meluap kesusukan induk. “Hem Akuwu memang orang yang aneh. Apakah hatinya terlampau meledak-ledak sehingga kadang-kadang dirinya sendiri tidak mampu menguasainya? Ada beberapa persamaan sifat diantara Akuwu Tunggul Ametung ini dengan Kebo Ijo.”

“He.” Akuwu itu membentak, “kenapa kalian diam saja.”

Ken Arok dan Witantra terperanjat juga. Dan bersama-sama pula mereka menjawab, “Hamba, Tuanku.”

“Aku ingin mendapat kepastian apakah aku besok akan berangkat bersamamu Ken Arok?”

“Hamba menunggu perintah, Tuanku.” jawab Ken Arok, “tetapi apabila diperkenankan hamba ingin mengajukan pertimbangan untuk itu.”

“Apa pertimbanganmu.”

“Langit sudah menjadi semakin tebal dilapisi oleh air, Tuanku. Hujan pasti akan semakin turun, sedang bendungan itu masih belum siap sama sekali, meskipun sebagian terbesar telah selesai dan bahkan telah dapat diselamatkan dari banjir yang pertama. Tetapi hamba masih selalu dicemaskannya. Apabila datang banjir yang lebih besar lagi, maka bendungan itu akan mengkhawatirkan.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia