PdLS-01
Bagian I – Bunga di Kaki Gunung Kawi
HAMPIR BERSAMAAN KEDUANYA mengangkat wajahnya, memandang ke dataran langit yang biru bersih. Warna-warna semburat merah yang dilontarkan oleh matahari yang kelelahan di punggung-punggung bukit di sebelah barat masih tampak menyangkut di ujung pepohonan.
“Langit bersih,” desis salah seorang di antaranya. Seorang tua dengan rambut yang telah memutih.
“Ya,” sahut orang kedua. Seorang pemuda yang berwajah jantan, namun penuh kelembutan. Matanya yang bening memancarkan cahaya keteguhan hatinya, yang memandang hari depan dengan penuh pengharapan, namun penuh pergulatan dan perjuangan yang dilandasi dengan pasrah diri tulus ikhlas kepada takdir Yang Maha Agung.
Keduanya diam sejenak. Tetapi kaki mereka masih terayun dalam langkah yang berirama. Lambat-lambat mereka maju terus menyusur dataran sebelah timur Gunung Kawi, menuju ke rumah mereka di Desa Panawijen.
“Mahisa Agni,” kembali orang tua berambut putih itu berbicara.
“Ya, Bapa Pendeta,” sahut pemuda yang bernama Mahisa Agni itu.
“Kita akan kemalaman di perjalanan,” sambung pendeta tua itu.
“Tak apalah. Kalau kita berjalan terus, sebelum tengah malam kita akan sampai,” sahut Mahisa Agni.
“Kau tidak lelah?” bertanya pendeta itu kembali.
Mahisa Agni menarik nafas. Bertahun-tahun ia berguru kepada pendeta itu. Dan bertahun-tahun ia mendapat gemblengan lahir dan batin. Namun setelah bertahun-tahun itu, masih saja ia dianggapnya anak-anak yang selalu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan. Meskipun demikian, Mahisa Agni dapat mengerti sepenuhnya. pendeta tua yang bernama Empu Purwa itu tak beranak laki-laki. Ia hanya beranak seorang perempuan. Dinamainya anak itu Ken Dedes yang didapatnya sebelum ia mengenakan pakaian pendeta.
Bahkan, dirasanya bahwa sikap gurunya jauh melampaui sikap seorang guru biasa. Diperlakukannya Mahisa Agni seperti anak sendiri. Kadang-kadang, Mahisa Agni menangkap juga hasrat yang tersirat dari sikap gurunya. Ken Dedes telah menjelang dewasa. Dan gadis itu cantiknya bukan main. Seolah-olah bunga melati yang putih berkembang di antara semak-semak yang lebat dan besar di lereng Gunung Kawi. Bahkan, diam-diam ia bersyukur pula atas kesempatan yang pernah ditemuinya itu. Berdiam dalam satu rumah dengan seorang gadis yang tiada taranya. Kecantikannya dan kejernihan hatinya. Tetapi angan-angannya segera terpecah ketika didengarnya Empu Purwa berkata mengulangi,
“Kau tidak lelah Agni?”
“Tidak, Bapa,” cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.
“Bagus,” sahut Empu Purwa, “kakimu telah cukup terlatih. Bagaimana dengan pernafasanmu?”
“Baik, Bapa,” jawab Mahisa Agni.
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah senyumnya menghiasi bibirnya yang tebal. Tetapi senyum itu tiba-tiba lenyap seperti asap ditiup angin. Dengan penuh minat Mahisa Agni memandang wajah gurunya. Mula-mula ia menjadi ragu. Apakah sebabnya? Tetapi ketika ia memandang ke depan, dilihatnya padang rumput Karautan. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya padang rumput yang di sana-sini diselingi oleh gerumbul-gerumbul itulah yang telah mempengaruhi pikiran gurunya.
Meskipun tak sepatah kata pun yang terlontar dari mulut anak muda itu, namun pandangan matanya memancarkan beberapa pertanyaan tentang padang rumput yang terkenal itu kepada gurunya. Agaknya gurunya pun tanggap pada pertanyaan muridnya, sehingga dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata,
“Itulah padang rumput Karautan. Padang rumput yang terkenal sepi. Dijauhi oleh setiap orang yang menempuh perjalanan. Mereka lebih suka melingkar agak jauh. Lewat Pedukuhan Talrampak atau Desa Kaligeneng.”
Mahisa Agni memandang tanah yang terbentang di hadapannya dengan tajam. Sebentar kemudian ia memandang matahari. Namun matahari yang dicarinya telah tenggelam di balik gunung. Dan malam yang hitam pun perlahan-lahan telah turun menyelimuti Gunung Kawi.
“Apakah hantu itu benar-benar ada?” bertanya Mahisa Agni. Namun sama sekali ketakutan tidak mempengaruhi hatinya. Ia hanya ingin meyakinkan pendengarannya atas hantu Padang Karautan.
“Kau percaya kepada hantu?” terdengar Empu Purwa bertanya pula.
“Entahlah,” Mahisa Agni tersenyum. Dan gurunya tersenyum pula. “Aku terlalu sering mendengar cerita tentang hantu di padang rumput Karautan,” berkata Mahisa Agni.
“Apakah kau bermaksud supaya kita mengambil jalan melingkar?” bertanya gurunya.
“Tidak Guru,” cepat-cepat Mahisa Agni menyahut menyambut. Ia memang tidak takut. Bahkan ia ingin melihat hantu itu. Karena itu ia meneruskan, “Aku ingin membuktikannya.”
“Apa yang pernah kau dengar tentang hantu itu?” bertanya gurunya pula.
“Hantu itu suka mengganggu. Bahkan memiliki sifat-sifat kejam dan bengis. Beberapa orang pernah menjadi korban,” jawab Mahisa Agni.
“Banyak orang yang mati oleh hantu itu. Begitu saja?” sela Empu Purwa.
“Tidak. Kadang-kadang orang yang berani lewat dalam rombongan-rombongan besar menemukan korban-korban itu dalam keadaan telanjang. Darahnya kering dihisap oleh hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Cerita itu memang mengerikan. Dan apa yang sering terjadi di padang rumput itu pun memang benar-benar mengerikan. Namun tidak seperti yang kau dengar,” potong gurunya.
“Apakah yang pernah Bapa Guru ketahui tentang hantu itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Marilah kita lihat,” jawab Empu Purwa, “yang aku dengar pun terlalu mengerikan.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Meskipun ia tidak takut, namun perasaan yang aneh menjalari hatinya. Tetapi, ketika ia melihat gurunya berjalan dengan tetap dan tenang, langkahnya pun menjadi tenang pula.
Ketika bintang gubuk penceng menjadi semakin jelas di ujung langit sebelah selatan, sampailah mereka di padang rumput yang mengerikan itu. Ketika Mahisa Agni menginjakkan kakinya di atas batu-batu padas dan kemudian menjejakkannya pada rumput-rumput alang-alang, kembali hatinya berdebar-debar. Ditatapnya dalam kekelaman malam, gerumbul-gerumbul berserakan. Seonggok demi seonggok, seperti batu-batu besar yang berserak-serak di dalam telaga yang luas.
Tak sepatah kata pun yang meloncat dari mulut kedua orang itu. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan di samping gurunya, sedang gurunya tetap berjalan dengan tenang. Seakan-akan mereka sedang menikmati sinar bulan yang cemerlang. Ketika seekor kelinci meloncat dari semak-semak di depan mereka, Mahisa Agni terkejut. Kemudian ia tersenyum sendiri. Dirabanya dadanya yang berdebar-debar.
“Apakah aku sudah menjadi seorang penakut?” pikirnya.
Tanpa sengaja diingatnya cerita Ken Dedes yang didengarnya dari kawan-kawannya. Hantu itu mirip seperti manusia. Gagah tegap. Wajahnya sama sekali tak menakutkan. Bahkan seseorang pernah melihatnya di bawah sinar obor yang dibawanya. Wajah itu tampan meskipun kotor. Tetapi sifat-sifatnyalah yang mengerikan. Hantu itu tidak biasa membiarkan korbannya hidup. Meskipun kadang-kadang ada juga yang tak dibunuhnya. Dan yang tinggal hidup itulah yang menyebarkan cerita tentang hantu di padang rumput Karautan.
Tak seorang pun yang dapat mengalahkannya, apalagi menangkapnya. Jagabaya-jagabaya dari pedukuhan di sekitar padang rumput itu pun telah mencobanya. Bahkan bersama-sama dalam rombongan yang besar. Namun hantu itu pandai menghilang dengan meninggalkan lima atau enam orang korban.
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba gurunya berhenti. Ia pun segera berhenti pula. Diikutinya arah pandang mata pendeta tua itu. Dan kemudian perlahan-lahan terdengar Empu Purwa berkata dengan ramahnya,
“Nah Ki Sanak. Aku sudah mengira kalau kau menunggu kedatanganku.”
Mahisa Agni masih belum melihat seorang pun. Namun telinganya yang tajam kemudian mendengar pula gemerisik daun-daun di dalam semak-semak di samping mereka. Dan kemudian terdengarlah dengus kasar dan sebuah bayangan meloncat dengan cepatnya, seperti petir yang berlari di langit. Sesaat kemudian bayangan itu telah berdiri di hadapan mereka.
Dada Mahisa Agni bergetar cepat sekali. Hantu itu bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti gadis seperti Ken Dedes saja namun kini benar-benar telah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar kembali. Apalagi kemudian ketika didengarnya hantu itu tertawa. Nadanya tinggi seperti memanjat tebing Gunung Kawi menggapai langit. Karena itu maka terasa telinganya menjadi sakit.
Ketika suara itu kemudian lenyap, terdengarlah hantu itu berkata, “Kau sudah tahu kalau aku akan menghadangmu?”
“Hantu itu dapat berbicara seperti manusia,” pikir Mahisa Agni.
“Ya, Ki Sanak,” terdengar gurunya menjawab.
“Dan kau sengaja menemui aku?” bertanya hantu itu pula.
“Ya,” jawab gurunya pula.
“Kau terlalu sombong,” kembali bantu itu tertawa menyakitkan telinga. Kemudian katanya pula, “Ada keperluanmu menemui aku?”
“Bisa juga ia diajak berbicara,” pikir Mahisa Agni.
“Ada,” sahut Empu Purwa, “sekadar singgah di padang rumputmu ini. Aku sedang menempuh perjalanan pulang dari Tumapel.”
“Katakan keperluanmu!” potong hantu itu.
“Jangan tergesa-gesa,” berkata Empu Purwa dengan tenangnya. “Apakah waktumu terlalu sempit?”
“Aku tidak mau mendengar ayam jantan berkokok,” jawabnya.
Mahisa Agni berpikir pula, “Kalau begitu benar kata orang, hantu tidak mau mendengar suara ayam berkokok.”
Tetapi gurunya menjawab dengan kata yang mengejutkan hatinya. “Jangan menakut-nakuti aku Ki Sanak. Aku lebih takut kepada orang daripada kepada hantu.”
Hantu itu menggeram. Kemudian membentak, “Jawab! Apa keperluanmu!”
“Ada beberapa pertanyaan untukmu Ki Sanak,” sahut Empu Purwa. Suaranya tetap renyah dan ramah.
Dalam kesempatan itu Mahisa Agni dapat memandang wajah hantu itu dengan seksama. Benar mirip seperti manusia. Bahkan ia tidak melihat perbedaannya sama sekali selain rambutnya yang panjang terurai dengan liarnya berjuntai di atas pundaknya yang bidang. Dalam keremangan malam, tak dilihatnya apa-apa yang mengerikan pada tubuh hantu itu. Bahkan ia sependapat dengan kabar yang pernah didengarnya, hantu itu berwajah tampan.
“Tak ada waktu. Aku akan membunuh kalian dan minum darah kalian,” teriak hantu itu.
Bulu kuduk Mahisa Agni serentak berdiri. Ngeri juga ia mendengar kata-kata itu. Meskipun ia tidak takut mati namun mati dibunuh hantu sama sekali belum pernah terlintas di dalam benaknya. Apalagi kemudian darahnya akan diminumnya pula.
“Darahku tidak sesegar air degan Ki Sanak,” jawab Empu Agni dengan tenang. “Apakah kau selalu haus?”
“Jangan berbicara lagi! Berjongkok dan aku isap tengkukmu sampai kau mati,” hantu itu berteriak semakin keras.
Adalah di luar dugaan Mahisa Agni kalau tiba-tiba Empu Purwa menjawab, “Kalau demikian kehendakmu, apa boleh buat.”
Kemudian kepada Mahisa Agni gurunya itu berkata, “Agni, adalah sudah menjadi kebiasaan hantu-hantu pengisap darah, mengisap korbannya lewat luka di tengkuknya yang ditimbulkan oleh gigi-gigi hantu itu. Kalau hantu ini akan menggigit tengkukku dan kemudian mengisap darahku, aku tak akan melawannya. Karena itu lihatlah dengan seksama, bagaimana caranya melubangi tengkukku.”
Empu Purwa tidak menunggu jawaban. Segera ia berlutut di hadapan hantu itu sambil menundukkan kepalanya. Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Apa yang dilakukan gurunya itu sama sekali tidak masuk di akalnya. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang menjadi bingung. Hantu itu pun tiba-tiba menjadi bingung pula. Ketika ia melihat orang tua itu berlutut di mukanya maka segera ia bergeser surut.
“Apa yang akan kau lakukan?” bentaknya.
“Memenuhi perintahmu. Berjongkok dan kau akan mengisap darahku,” jawab Empu Purwa.
Kembali hantu itu menjadi bingung. Matanya tiba-tiba bertambah liar. Kemudian katanya berteriak, “Bagus. Kau juga anak muda. Berjongkoklah dan tundukkan kepalamu.”
“Biarlah ia hidup,” potong Empu Purwa. “Biarlah ia menjadi saksi bahwa hantu di padang rumput Karautan telah melubangi tengkukku dengan giginya, kemudian minum darahku dari lubang itu pula.”
Terdengarlah gigi hantu itu gemeretak. Ia telah benar-benar menjadi marah. Kemudian katanya, “Tidak peduli apa yang kau ketahui tentang diriku. Sebab sesaat lagi kau berdua akan mati di padang rumput ini.”
Bersamaan dengan kata-katanya itu, tiba-tiba Mahisa Agni melihat benda yang berkilat-kilat di tangan hantu itu, yang ditariknya dari pinggangnya.
“Pisau?” desis hatinya, “Adakah hantu memerlukan sebuah pisau untuk membunuh seseorang? Bukankah guru berkata kalau hantu melubangi tengkuk korbannya dengan giginya?”
Otak Mahisa Agni adalah otak yang cerah. Karena itu segera ia tanggap atas sasmita gurunya. Demikian ia melihat hantu itu mengayunkan pisaunya, segera ia meloncat menyerang secepat tatit.
Hantu itu terkejut melihat serangan Mahisa Agni yang demikian cepat dan dahsyat. Karena itu ia tidak sempat menancapkan pisau itu di tengkuk orang tua yang berjongkok di hadapannya. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Dengan merendahkan diri, hantu itu berhasil membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Bahkan segera hantu itu pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.
Mahisa Agni tidak mau membuang waktu lagi. Demikian serangannya yang pertama gagal, segera ia mempersiapkan diri untuk mengulangi serangannya pula. Namun, sebelum ia meloncat maju, hantu itu telah menyerangnya pula. Serangannya cepat dan berbahaya. Bahkan terasa betapa kuat tenaganya. Satu kakinya terjulur ke depan sedangkan kedua tangannya seperti akan menerkamnya.
Untunglah bahwa Mahisa Agni itu murid Empu Purwa. Apa yang telah dipelajari dan didalaminya sampai kini, benar-benar merupakan bekal yang cukup baginya. Karena itu, ketika serangan hantu itu tiba, Mahisa Agni segera menghindar dengan cepatnya. Menarik satu kakinya ke belakang dan mencondongkan tubuhnya. Hantu itu seperti terbang beberapa cengkang di hadapannya. Dengan cepatnya Mahisa Agni mempergunakan kesempatan itu. Tangan kirinya segera terayun deras sekali ke arah tengkuk lawannya. Terasa pukulannya mengena.
Mahisa Agni mempergunakan sebagian besar tenaganya. Maka lawannya segera terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di tanah. Namun benar-benar mengherankan. Segera tubuh itu berguling-guling untuk kemudian melenting bangun. Sesaat kemudian hantu itu telah berdiri tegak di atas kedua kakinya. Bahkan segera pula ia melontar maju dengan tangan dan jari-jari yang mengembang, seperti hendak meremas muka Mahisa Agni.
Mahisa Agni adalah anak muda yang cukup terlatih. Pengetahuannya tentang tata beladiri cukup baik. Bahkan beberapa pengetahuan dari perguruan lain pun banyak diketahuinya pula. Tetapi ia belum pernah menyaksikan cara bertempur seperti yang dilakukan hantu ini. Cepat, kuat, namun kasarnya bukan main. Bahkan seakan-akan hantu itu bertempur tanpa aturan apa pun yang mengikatnya. Ia menyerang dan melawan dengan cara yang tak berketentuan. Tetapi satu kenyataan, pukulannya yang tepat mengenai tengkuk hantu itu seakan-akan tak berbekas. Kulit hantu itu benar-benar seperti berlapis batu. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera menjadi cemas. Pikirnya,
“Asal aku dapat merabanya seperti kulit daging manusia biasa.” Memang Mahisa Agni pernah mendengar cerita bahwa tubuh hantu tak akan dapat disentuh tangan.
Tetapi kali ini ia telah dapat menyentuh dan merasakan sentuhan itu. Bahkan hantu itu pun jatuh tersungkur terdorong oleh tenaganya. Karena itu hatinya menjadi semakin besar. Dan sejalan dengan itu, ia bertempur semakin sengit. Hantu itu masih bertempur dengan kasarnya. Seperti angin pusaran ia membelit kemudian menghantam dari segala arah. Kadang-kadang pukulannya sama sekali tak terarah, demikian saja meluncur dengan derasnya seperti batu meluncur dari tangan.
Mahisa Agni terpaksa harus menyesuaikan dirinya. Dengan tangkasnya ia meloncat, menghindar, dan menyerang. Dicarinya celah-celah dari gerakan-gerakan yang sama sekali tak teratur itu. Sebenarnya Mahisa Agni banyak mempunyai kesempatan. Kalau saja ia tidak sedang bertempur dengan hantu dari padang rumput Karautan maka pukulannya yang pertama pasti telah meruntuhkan lawannya, yang sama sekali tidak memiliki ilmu tatabela diri itu. Namun sekali hantu itu jatuh tersungkur, sekali ia meloncat bangkit. Sepuluh kali ia terguling di tanah, sepuluh kali ia melenting berdiri.
Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin heran. Ia telah hampir mengerahkan segenap tenaganya. Namun hantu itu masih saja melayaninya dengan caranya yang khusus. Mula-mula anggapannya tentang hantu itu telah hampir larut, sejak ia melihat pisau di tangan lawannya itu. Tetapi kenyataan yang dihadapinya telah menimbulkan keraguan pula.
“Aneh,” pikirnya, “aku tidak mengharap bahwa pada suatu kali aku akan bertempur melawan hantu berpisau.”
Empu Purwa sudah tidak berjongkok lagi. Ia berdiri tegak mengawasi muridnya yang lagi bertempur. Ia melihat betapa Mahisa Agni dengan lancar mempergunakan ilmu yang telah diturunkannya kepada anak muda itu. Cepat, lincah, dan tangguh. Kadang-kadang muridnya itu seperti terbang melingkar-lingkar tetapi kadang-kadang seperti batu karang yang tegak tertanam di pasir pantai. Sekali-kali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya namun sekali-kali tampak ia mengerutkan keningnya. Lawan muridnya itu benar-benar aneh. Ia melihat dengan pasti, tangan muridnya telah menyentuh tubuh lawannya, namun lawannya itu benar-benar seperti kebal, kalis dari segala macam bahaya yang menimpanya.
Mahisa Agni masih bertempur dengan sengitnya. Kini ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Bahkan segala macam ilmu yang dimilikinya telah ditumpahkannya untuk melawan hantu yang tidak pandai dalam ilmu tata bela diri namun tak dapat dijatuhkannya itu. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin kabur. Hantu padang rumput itu menyerang membabi-buta. Semakin lama semakin kasar. Ia meloncat-loncat maju dan menerjang dengan kaki, tangan, dan pisaunya. Sekali-kali ia terpental surut oleh pukulan lawannya dan jatuh terjerembab namun sesaat kemudian ia telah maju pula.
Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bingung, bagaimana menyelesaikan pertempuran itu, bahkan Empu Purwa pun beberapa kali menarik nafas dalam-dalam. Muridnya memiliki tenaga yang kuat seperti seekor banteng. Namun tenaga muridnya itu seakan-akan tak berarti. Tiba-tiba Empu Purwa mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Matanya yang lunak bening menjadi seakan-akan menyala. Dan dadanya bergetar seperti gempa.
Empu Purwa yang tua itu melihat bayangan cahaya yang kemerah-merahan di atas kepala hantu padang Karautan itu. Samar-samar namun jelas baginya. Jelas bagi orang setua pendeta itu. Pendeta yang telah masak dalam berbagai ilmu lahir batin, yang kasatmata dan tidak kasatmata. Namun pendeta itu yakin bahwa muridnya pasti tak dapat melihatnya. Karena itu Empu Purwa menjadi gelisah. Sekali-sekali ia menarik nafas panjang.
Malam yang kelam, semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin mengalir perlahan-lahan membelai batang-batang rumput di padang Karautan. Meskipun demikian betapa panas hati Mahisa Agni, dan betapa panas pula hati lawannya. Sebenarnyalah bahwa lawannya itu pun menjadi marah sekali. Tak pernah ia menemukan lawan setangguh Mahisa Agni. Karena itu segera dikerahkan segenap kekuatannya. Dengan menggeram ia menyerang sejadi-jadinya. Dan kemarahan itulah yang telah menyalakan warna semburat merah di ubun-ubunnya. Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Gerak Mahisa Agni menjadi semakin cepat dan kuat sedangkan lawannya menjadi semakin keras dan kasar.
Empu Purwa melihat bayangan warna merah itu dengan cemas. Ia masih memerlukan beberapa saat untuk meyakinkannya. Dan akhirnya, sekali lagi pendeta tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dari mulutnya terdengar ia berdesis,
“Brahma. Hem, aneh. Kenapa Dewa Brahma membiarkan anak itu menjadi hantu di padang rumput ini? Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik daripada menyamun, membunuh, dan memerkosa?” Kembali ia memandangi warna merah di ubun-ubun lawan muridnya. Warna itu masih ada. Bahkan semakin jelas baginya.
“Menurut pendengaranku, beberapa orang menyatakan bahwa warna itu adalah ciri keturunan Brahma,” sambungnya.
Tiba-tiba pendeta tua teringat pada pusakanya. Sebuah trisula. Amat kecil dan berwarna kuning. Didapatnya trisula itu dari almarhum gurunya. Turun-temurun dari guru ke murid. Dan trisula itu pun kelak akan diserahkannya kepada Mahisa Agni. Menurut cerita gurunya, trisula itu pertama-tama turun ke bumi sebagai sinar yang membelah langit, kemudian seperti guruh meledak di lereng Gunung Semeru.
Yang pertama-tama menemukan trisula itu adalah Empu Wikan. Seorang Empu Sakti yang bertapa di kaki bukit Semeru. Ketika Empu Wikan mendengar guruh meledak di malam hening maka timbullah kecurigaan di dalam hatinya. Maka dengan hati yang berdebar-debar dipanjatnya tebing Gunung Semeru. Dari kejauhan ia masih melihat sinar yang memancar tegak sebesar lidi jantan menusuk langit. Ketika ia mendekati sinar itu terasa betapa panasnya, Empu sakti itu pun harus bersemedi. Dalam semedinya terdengar suara gemuruh di atas kepalanya. Berkata suara itu,
“Empu Wikan yang bijaksana, yang dijauhi oleh segala bencana di sekitarnya. Apabila sinar itu nanti lenyap, datanglah ke titik tegaknya di bumi. Kau akan menemukan sebuah trisula sebagai tanda kebesaran Siwa. Aku hadiahkan trisula itu kepadamu sebagai tanda kebesaran namamu. Simpanlah pusaka itu dan serahkanlah turun-temurun kepada murid-murid terkasih. Tetapi ingat Empu Wikan, pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Tetapi ia akan dapat memengaruhi hati musuh yang bagaimana pun saktinya.”
Kenangan Empu Purwa pecah ketika lawan muridnya jatuh hampir menimpanya. Sekali terguling namun sesaat kemudian telah tegak kembali dan dengan garangnya menerkam muridnya seperti seekor serigala lapar menerkam kambing. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seekor kambing. Dengan merendahkan diri, diangkatnya kaki kanannya langsung menghantam perut lawannya. Sekali lagi lawannya terpental dan terbanting. Namun sekali lagi hantu padang rumput itu meloncat bangkit. Telah berpuluh kali ia terjatuh namun ia masih segar, sesegar mula-mula mereka bertemu.
Akhirnya Empu Purwa kasihan juga melihat muridnya. Tandangnya sudah mulai susut. Peluh telah membalut seluruh tubuhnya dilekati debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki mereka yang bergulat antara hidup dan mati itu.
“Agni, kau tak akan mampu mengalahkannya,” pikir pendeta tua itu. Karena itu maka segera ia harus menolongnya. Membebaskan muridnya dari libatan lawannya yang keras dan kasar.
Tetapi ia tidak dapat menghilangkan pengaruh warna merah di kepala lawan muridnya itu dari angan-angannya. Sekali lagi ia menimbang-nimbang. Hantu padang rumput itu adakah kekasih Brahma sedangkan pusaka di tangannya adalah hadiah Siwa. Karena itu maka perlahan-lahan ia maju mendekati titik pertempuran. Lawan muridnya itu, ketika melihat Empu Purwa mendekati mereka, berkata dengan parau,
“Ayo, kau yang tua sekali. Majulah bersama-sama. Selama kau masih belum mampu menangkap angin, selama itu kau jangan mengharap lepas dari padang rumput ini.”
“Agni,” berkata Empu Purwa tanpa menjawab kata-kata hantu itu, “Lepaskan lawanmu!”
Mahisa Agni heran mendengar tegur gurunya. Selama ini, apabila gurunya melepasnya bertempur, tak pernah ditariknya kembali sebelum tubuhnya menjadi lemas atau bahaya maut telah hampir menelannya. Meskipun ia merasa tenaganya telah surut namun hantu itu pun tak mampu menyentuhnya. Karena itu ia merasakan suatu keanehan pada gurunya kali ini. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak berani menolak perintah itu. Dengan satu loncatan panjang ia melepaskan lawannya.
“Jangan lari!” terdengar kembali suara hantu itu. Suara parau dan kasar.
“Tak ada gunanya ia meneruskan.”
“Tidak!” jawab Agni, “Aku tak akan lari.”
“Ia tak akan lari,” sahut Empu Purwa, “tetapi ia tak akan melawanmu dengan cara demikian.”
“Cara apa pun yang akan dipergunakannya, mari maju bersama-sama,” potong hantu itu.
“Tidak,” jawab Empu Purwa, “Aku sudah terlalu tua. Tetapi aku ingin berlaku adil.”
“Kenapa?” sahut lawan Agni.
“Kau mempergunakan senjata,” jawab pendeta tua itu.
“Pakailah senjata!” teriak hantu padang Karautan itu.
“Aku akan memberinya senjata,” sahut Empu Purwa.
“Jangan banyak bicara. Berikan sekarang. Kemudian aku akan segera membunuhnya,” lagi-lagi hantu itu berteriak.
Perlahan-lahan Empu Purwa menarik trisula dari dalam sarung kecilnya, berwarna kuning berkilauan.
“Agni,” katanya, “pergunakan trisula ini. Tetapi ingat, jangan kau tusukkan ke tubuhnya. Pengaruhi saja perasaannya dengan senjata itu.”
“Gila!” potong lawan Agni, “Kau berkata demikian sengaja supaya aku mendengarnya. Tusukkan ke tubuhku. Aku tak akan mati.”
Bagian I – Bunga di Kaki Gunung Kawi
HAMPIR BERSAMAAN KEDUANYA mengangkat wajahnya, memandang ke dataran langit yang biru bersih. Warna-warna semburat merah yang dilontarkan oleh matahari yang kelelahan di punggung-punggung bukit di sebelah barat masih tampak menyangkut di ujung pepohonan.
“Langit bersih,” desis salah seorang di antaranya. Seorang tua dengan rambut yang telah memutih.
“Ya,” sahut orang kedua. Seorang pemuda yang berwajah jantan, namun penuh kelembutan. Matanya yang bening memancarkan cahaya keteguhan hatinya, yang memandang hari depan dengan penuh pengharapan, namun penuh pergulatan dan perjuangan yang dilandasi dengan pasrah diri tulus ikhlas kepada takdir Yang Maha Agung.
Keduanya diam sejenak. Tetapi kaki mereka masih terayun dalam langkah yang berirama. Lambat-lambat mereka maju terus menyusur dataran sebelah timur Gunung Kawi, menuju ke rumah mereka di Desa Panawijen.
“Mahisa Agni,” kembali orang tua berambut putih itu berbicara.
“Ya, Bapa Pendeta,” sahut pemuda yang bernama Mahisa Agni itu.
“Kita akan kemalaman di perjalanan,” sambung pendeta tua itu.
“Tak apalah. Kalau kita berjalan terus, sebelum tengah malam kita akan sampai,” sahut Mahisa Agni.
“Kau tidak lelah?” bertanya pendeta itu kembali.
Mahisa Agni menarik nafas. Bertahun-tahun ia berguru kepada pendeta itu. Dan bertahun-tahun ia mendapat gemblengan lahir dan batin. Namun setelah bertahun-tahun itu, masih saja ia dianggapnya anak-anak yang selalu mendapat perhatian yang berlebih-lebihan. Meskipun demikian, Mahisa Agni dapat mengerti sepenuhnya. pendeta tua yang bernama Empu Purwa itu tak beranak laki-laki. Ia hanya beranak seorang perempuan. Dinamainya anak itu Ken Dedes yang didapatnya sebelum ia mengenakan pakaian pendeta.
Bahkan, dirasanya bahwa sikap gurunya jauh melampaui sikap seorang guru biasa. Diperlakukannya Mahisa Agni seperti anak sendiri. Kadang-kadang, Mahisa Agni menangkap juga hasrat yang tersirat dari sikap gurunya. Ken Dedes telah menjelang dewasa. Dan gadis itu cantiknya bukan main. Seolah-olah bunga melati yang putih berkembang di antara semak-semak yang lebat dan besar di lereng Gunung Kawi. Bahkan, diam-diam ia bersyukur pula atas kesempatan yang pernah ditemuinya itu. Berdiam dalam satu rumah dengan seorang gadis yang tiada taranya. Kecantikannya dan kejernihan hatinya. Tetapi angan-angannya segera terpecah ketika didengarnya Empu Purwa berkata mengulangi,
“Kau tidak lelah Agni?”
“Tidak, Bapa,” cepat-cepat Mahisa Agni menjawab.
“Bagus,” sahut Empu Purwa, “kakimu telah cukup terlatih. Bagaimana dengan pernafasanmu?”
“Baik, Bapa,” jawab Mahisa Agni.
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah senyumnya menghiasi bibirnya yang tebal. Tetapi senyum itu tiba-tiba lenyap seperti asap ditiup angin. Dengan penuh minat Mahisa Agni memandang wajah gurunya. Mula-mula ia menjadi ragu. Apakah sebabnya? Tetapi ketika ia memandang ke depan, dilihatnya padang rumput Karautan. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Agaknya padang rumput yang di sana-sini diselingi oleh gerumbul-gerumbul itulah yang telah mempengaruhi pikiran gurunya.
Meskipun tak sepatah kata pun yang terlontar dari mulut anak muda itu, namun pandangan matanya memancarkan beberapa pertanyaan tentang padang rumput yang terkenal itu kepada gurunya. Agaknya gurunya pun tanggap pada pertanyaan muridnya, sehingga dari sela-sela bibirnya terdengar ia berkata,
“Itulah padang rumput Karautan. Padang rumput yang terkenal sepi. Dijauhi oleh setiap orang yang menempuh perjalanan. Mereka lebih suka melingkar agak jauh. Lewat Pedukuhan Talrampak atau Desa Kaligeneng.”
Mahisa Agni memandang tanah yang terbentang di hadapannya dengan tajam. Sebentar kemudian ia memandang matahari. Namun matahari yang dicarinya telah tenggelam di balik gunung. Dan malam yang hitam pun perlahan-lahan telah turun menyelimuti Gunung Kawi.
“Apakah hantu itu benar-benar ada?” bertanya Mahisa Agni. Namun sama sekali ketakutan tidak mempengaruhi hatinya. Ia hanya ingin meyakinkan pendengarannya atas hantu Padang Karautan.
“Kau percaya kepada hantu?” terdengar Empu Purwa bertanya pula.
“Entahlah,” Mahisa Agni tersenyum. Dan gurunya tersenyum pula. “Aku terlalu sering mendengar cerita tentang hantu di padang rumput Karautan,” berkata Mahisa Agni.
“Apakah kau bermaksud supaya kita mengambil jalan melingkar?” bertanya gurunya.
“Tidak Guru,” cepat-cepat Mahisa Agni menyahut menyambut. Ia memang tidak takut. Bahkan ia ingin melihat hantu itu. Karena itu ia meneruskan, “Aku ingin membuktikannya.”
“Apa yang pernah kau dengar tentang hantu itu?” bertanya gurunya pula.
“Hantu itu suka mengganggu. Bahkan memiliki sifat-sifat kejam dan bengis. Beberapa orang pernah menjadi korban,” jawab Mahisa Agni.
“Banyak orang yang mati oleh hantu itu. Begitu saja?” sela Empu Purwa.
“Tidak. Kadang-kadang orang yang berani lewat dalam rombongan-rombongan besar menemukan korban-korban itu dalam keadaan telanjang. Darahnya kering dihisap oleh hantu itu,” sahut Mahisa Agni.
“Cerita itu memang mengerikan. Dan apa yang sering terjadi di padang rumput itu pun memang benar-benar mengerikan. Namun tidak seperti yang kau dengar,” potong gurunya.
“Apakah yang pernah Bapa Guru ketahui tentang hantu itu?” bertanya Mahisa Agni.
“Marilah kita lihat,” jawab Empu Purwa, “yang aku dengar pun terlalu mengerikan.”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Meskipun ia tidak takut, namun perasaan yang aneh menjalari hatinya. Tetapi, ketika ia melihat gurunya berjalan dengan tetap dan tenang, langkahnya pun menjadi tenang pula.
Ketika bintang gubuk penceng menjadi semakin jelas di ujung langit sebelah selatan, sampailah mereka di padang rumput yang mengerikan itu. Ketika Mahisa Agni menginjakkan kakinya di atas batu-batu padas dan kemudian menjejakkannya pada rumput-rumput alang-alang, kembali hatinya berdebar-debar. Ditatapnya dalam kekelaman malam, gerumbul-gerumbul berserakan. Seonggok demi seonggok, seperti batu-batu besar yang berserak-serak di dalam telaga yang luas.
Tak sepatah kata pun yang meloncat dari mulut kedua orang itu. Dengan penuh kewaspadaan Mahisa Agni berjalan di samping gurunya, sedang gurunya tetap berjalan dengan tenang. Seakan-akan mereka sedang menikmati sinar bulan yang cemerlang. Ketika seekor kelinci meloncat dari semak-semak di depan mereka, Mahisa Agni terkejut. Kemudian ia tersenyum sendiri. Dirabanya dadanya yang berdebar-debar.
“Apakah aku sudah menjadi seorang penakut?” pikirnya.
Tanpa sengaja diingatnya cerita Ken Dedes yang didengarnya dari kawan-kawannya. Hantu itu mirip seperti manusia. Gagah tegap. Wajahnya sama sekali tak menakutkan. Bahkan seseorang pernah melihatnya di bawah sinar obor yang dibawanya. Wajah itu tampan meskipun kotor. Tetapi sifat-sifatnyalah yang mengerikan. Hantu itu tidak biasa membiarkan korbannya hidup. Meskipun kadang-kadang ada juga yang tak dibunuhnya. Dan yang tinggal hidup itulah yang menyebarkan cerita tentang hantu di padang rumput Karautan.
Tak seorang pun yang dapat mengalahkannya, apalagi menangkapnya. Jagabaya-jagabaya dari pedukuhan di sekitar padang rumput itu pun telah mencobanya. Bahkan bersama-sama dalam rombongan yang besar. Namun hantu itu pandai menghilang dengan meninggalkan lima atau enam orang korban.
Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba gurunya berhenti. Ia pun segera berhenti pula. Diikutinya arah pandang mata pendeta tua itu. Dan kemudian perlahan-lahan terdengar Empu Purwa berkata dengan ramahnya,
“Nah Ki Sanak. Aku sudah mengira kalau kau menunggu kedatanganku.”
Mahisa Agni masih belum melihat seorang pun. Namun telinganya yang tajam kemudian mendengar pula gemerisik daun-daun di dalam semak-semak di samping mereka. Dan kemudian terdengarlah dengus kasar dan sebuah bayangan meloncat dengan cepatnya, seperti petir yang berlari di langit. Sesaat kemudian bayangan itu telah berdiri di hadapan mereka.
Dada Mahisa Agni bergetar cepat sekali. Hantu itu bukan sekedar cerita untuk menakut-nakuti gadis seperti Ken Dedes saja namun kini benar-benar telah berdiri di hadapannya. Tiba-tiba hatinya menjadi berdebar-debar kembali. Apalagi kemudian ketika didengarnya hantu itu tertawa. Nadanya tinggi seperti memanjat tebing Gunung Kawi menggapai langit. Karena itu maka terasa telinganya menjadi sakit.
Ketika suara itu kemudian lenyap, terdengarlah hantu itu berkata, “Kau sudah tahu kalau aku akan menghadangmu?”
“Hantu itu dapat berbicara seperti manusia,” pikir Mahisa Agni.
“Ya, Ki Sanak,” terdengar gurunya menjawab.
“Dan kau sengaja menemui aku?” bertanya hantu itu pula.
“Ya,” jawab gurunya pula.
“Kau terlalu sombong,” kembali bantu itu tertawa menyakitkan telinga. Kemudian katanya pula, “Ada keperluanmu menemui aku?”
“Bisa juga ia diajak berbicara,” pikir Mahisa Agni.
“Ada,” sahut Empu Purwa, “sekadar singgah di padang rumputmu ini. Aku sedang menempuh perjalanan pulang dari Tumapel.”
“Katakan keperluanmu!” potong hantu itu.
“Jangan tergesa-gesa,” berkata Empu Purwa dengan tenangnya. “Apakah waktumu terlalu sempit?”
“Aku tidak mau mendengar ayam jantan berkokok,” jawabnya.
Mahisa Agni berpikir pula, “Kalau begitu benar kata orang, hantu tidak mau mendengar suara ayam berkokok.”
Tetapi gurunya menjawab dengan kata yang mengejutkan hatinya. “Jangan menakut-nakuti aku Ki Sanak. Aku lebih takut kepada orang daripada kepada hantu.”
Hantu itu menggeram. Kemudian membentak, “Jawab! Apa keperluanmu!”
“Ada beberapa pertanyaan untukmu Ki Sanak,” sahut Empu Purwa. Suaranya tetap renyah dan ramah.
Dalam kesempatan itu Mahisa Agni dapat memandang wajah hantu itu dengan seksama. Benar mirip seperti manusia. Bahkan ia tidak melihat perbedaannya sama sekali selain rambutnya yang panjang terurai dengan liarnya berjuntai di atas pundaknya yang bidang. Dalam keremangan malam, tak dilihatnya apa-apa yang mengerikan pada tubuh hantu itu. Bahkan ia sependapat dengan kabar yang pernah didengarnya, hantu itu berwajah tampan.
“Tak ada waktu. Aku akan membunuh kalian dan minum darah kalian,” teriak hantu itu.
Bulu kuduk Mahisa Agni serentak berdiri. Ngeri juga ia mendengar kata-kata itu. Meskipun ia tidak takut mati namun mati dibunuh hantu sama sekali belum pernah terlintas di dalam benaknya. Apalagi kemudian darahnya akan diminumnya pula.
“Darahku tidak sesegar air degan Ki Sanak,” jawab Empu Agni dengan tenang. “Apakah kau selalu haus?”
“Jangan berbicara lagi! Berjongkok dan aku isap tengkukmu sampai kau mati,” hantu itu berteriak semakin keras.
Adalah di luar dugaan Mahisa Agni kalau tiba-tiba Empu Purwa menjawab, “Kalau demikian kehendakmu, apa boleh buat.”
Kemudian kepada Mahisa Agni gurunya itu berkata, “Agni, adalah sudah menjadi kebiasaan hantu-hantu pengisap darah, mengisap korbannya lewat luka di tengkuknya yang ditimbulkan oleh gigi-gigi hantu itu. Kalau hantu ini akan menggigit tengkukku dan kemudian mengisap darahku, aku tak akan melawannya. Karena itu lihatlah dengan seksama, bagaimana caranya melubangi tengkukku.”
Empu Purwa tidak menunggu jawaban. Segera ia berlutut di hadapan hantu itu sambil menundukkan kepalanya. Sesaat Mahisa Agni menjadi bingung. Apa yang dilakukan gurunya itu sama sekali tidak masuk di akalnya. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang menjadi bingung. Hantu itu pun tiba-tiba menjadi bingung pula. Ketika ia melihat orang tua itu berlutut di mukanya maka segera ia bergeser surut.
“Apa yang akan kau lakukan?” bentaknya.
“Memenuhi perintahmu. Berjongkok dan kau akan mengisap darahku,” jawab Empu Purwa.
Kembali hantu itu menjadi bingung. Matanya tiba-tiba bertambah liar. Kemudian katanya berteriak, “Bagus. Kau juga anak muda. Berjongkoklah dan tundukkan kepalamu.”
“Biarlah ia hidup,” potong Empu Purwa. “Biarlah ia menjadi saksi bahwa hantu di padang rumput Karautan telah melubangi tengkukku dengan giginya, kemudian minum darahku dari lubang itu pula.”
Terdengarlah gigi hantu itu gemeretak. Ia telah benar-benar menjadi marah. Kemudian katanya, “Tidak peduli apa yang kau ketahui tentang diriku. Sebab sesaat lagi kau berdua akan mati di padang rumput ini.”
Bersamaan dengan kata-katanya itu, tiba-tiba Mahisa Agni melihat benda yang berkilat-kilat di tangan hantu itu, yang ditariknya dari pinggangnya.
“Pisau?” desis hatinya, “Adakah hantu memerlukan sebuah pisau untuk membunuh seseorang? Bukankah guru berkata kalau hantu melubangi tengkuk korbannya dengan giginya?”
Otak Mahisa Agni adalah otak yang cerah. Karena itu segera ia tanggap atas sasmita gurunya. Demikian ia melihat hantu itu mengayunkan pisaunya, segera ia meloncat menyerang secepat tatit.
Hantu itu terkejut melihat serangan Mahisa Agni yang demikian cepat dan dahsyat. Karena itu ia tidak sempat menancapkan pisau itu di tengkuk orang tua yang berjongkok di hadapannya. Beberapa langkah ia meloncat mundur. Dengan merendahkan diri, hantu itu berhasil membebaskan diri dari serangan Mahisa Agni. Bahkan segera hantu itu pun telah siap menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.
Mahisa Agni tidak mau membuang waktu lagi. Demikian serangannya yang pertama gagal, segera ia mempersiapkan diri untuk mengulangi serangannya pula. Namun, sebelum ia meloncat maju, hantu itu telah menyerangnya pula. Serangannya cepat dan berbahaya. Bahkan terasa betapa kuat tenaganya. Satu kakinya terjulur ke depan sedangkan kedua tangannya seperti akan menerkamnya.
Untunglah bahwa Mahisa Agni itu murid Empu Purwa. Apa yang telah dipelajari dan didalaminya sampai kini, benar-benar merupakan bekal yang cukup baginya. Karena itu, ketika serangan hantu itu tiba, Mahisa Agni segera menghindar dengan cepatnya. Menarik satu kakinya ke belakang dan mencondongkan tubuhnya. Hantu itu seperti terbang beberapa cengkang di hadapannya. Dengan cepatnya Mahisa Agni mempergunakan kesempatan itu. Tangan kirinya segera terayun deras sekali ke arah tengkuk lawannya. Terasa pukulannya mengena.
Mahisa Agni mempergunakan sebagian besar tenaganya. Maka lawannya segera terdorong ke depan dan jatuh tersungkur di tanah. Namun benar-benar mengherankan. Segera tubuh itu berguling-guling untuk kemudian melenting bangun. Sesaat kemudian hantu itu telah berdiri tegak di atas kedua kakinya. Bahkan segera pula ia melontar maju dengan tangan dan jari-jari yang mengembang, seperti hendak meremas muka Mahisa Agni.
Mahisa Agni adalah anak muda yang cukup terlatih. Pengetahuannya tentang tata beladiri cukup baik. Bahkan beberapa pengetahuan dari perguruan lain pun banyak diketahuinya pula. Tetapi ia belum pernah menyaksikan cara bertempur seperti yang dilakukan hantu ini. Cepat, kuat, namun kasarnya bukan main. Bahkan seakan-akan hantu itu bertempur tanpa aturan apa pun yang mengikatnya. Ia menyerang dan melawan dengan cara yang tak berketentuan. Tetapi satu kenyataan, pukulannya yang tepat mengenai tengkuk hantu itu seakan-akan tak berbekas. Kulit hantu itu benar-benar seperti berlapis batu. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak segera menjadi cemas. Pikirnya,
“Asal aku dapat merabanya seperti kulit daging manusia biasa.” Memang Mahisa Agni pernah mendengar cerita bahwa tubuh hantu tak akan dapat disentuh tangan.
Tetapi kali ini ia telah dapat menyentuh dan merasakan sentuhan itu. Bahkan hantu itu pun jatuh tersungkur terdorong oleh tenaganya. Karena itu hatinya menjadi semakin besar. Dan sejalan dengan itu, ia bertempur semakin sengit. Hantu itu masih bertempur dengan kasarnya. Seperti angin pusaran ia membelit kemudian menghantam dari segala arah. Kadang-kadang pukulannya sama sekali tak terarah, demikian saja meluncur dengan derasnya seperti batu meluncur dari tangan.
Mahisa Agni terpaksa harus menyesuaikan dirinya. Dengan tangkasnya ia meloncat, menghindar, dan menyerang. Dicarinya celah-celah dari gerakan-gerakan yang sama sekali tak teratur itu. Sebenarnya Mahisa Agni banyak mempunyai kesempatan. Kalau saja ia tidak sedang bertempur dengan hantu dari padang rumput Karautan maka pukulannya yang pertama pasti telah meruntuhkan lawannya, yang sama sekali tidak memiliki ilmu tatabela diri itu. Namun sekali hantu itu jatuh tersungkur, sekali ia meloncat bangkit. Sepuluh kali ia terguling di tanah, sepuluh kali ia melenting berdiri.
Semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin heran. Ia telah hampir mengerahkan segenap tenaganya. Namun hantu itu masih saja melayaninya dengan caranya yang khusus. Mula-mula anggapannya tentang hantu itu telah hampir larut, sejak ia melihat pisau di tangan lawannya itu. Tetapi kenyataan yang dihadapinya telah menimbulkan keraguan pula.
“Aneh,” pikirnya, “aku tidak mengharap bahwa pada suatu kali aku akan bertempur melawan hantu berpisau.”
Empu Purwa sudah tidak berjongkok lagi. Ia berdiri tegak mengawasi muridnya yang lagi bertempur. Ia melihat betapa Mahisa Agni dengan lancar mempergunakan ilmu yang telah diturunkannya kepada anak muda itu. Cepat, lincah, dan tangguh. Kadang-kadang muridnya itu seperti terbang melingkar-lingkar tetapi kadang-kadang seperti batu karang yang tegak tertanam di pasir pantai. Sekali-kali orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya namun sekali-kali tampak ia mengerutkan keningnya. Lawan muridnya itu benar-benar aneh. Ia melihat dengan pasti, tangan muridnya telah menyentuh tubuh lawannya, namun lawannya itu benar-benar seperti kebal, kalis dari segala macam bahaya yang menimpanya.
Mahisa Agni masih bertempur dengan sengitnya. Kini ia telah mengerahkan segenap tenaganya. Bahkan segala macam ilmu yang dimilikinya telah ditumpahkannya untuk melawan hantu yang tidak pandai dalam ilmu tata bela diri namun tak dapat dijatuhkannya itu. Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin kabur. Hantu padang rumput itu menyerang membabi-buta. Semakin lama semakin kasar. Ia meloncat-loncat maju dan menerjang dengan kaki, tangan, dan pisaunya. Sekali-kali ia terpental surut oleh pukulan lawannya dan jatuh terjerembab namun sesaat kemudian ia telah maju pula.
Bukan saja Mahisa Agni yang menjadi bingung, bagaimana menyelesaikan pertempuran itu, bahkan Empu Purwa pun beberapa kali menarik nafas dalam-dalam. Muridnya memiliki tenaga yang kuat seperti seekor banteng. Namun tenaga muridnya itu seakan-akan tak berarti. Tiba-tiba Empu Purwa mengerutkan keningnya. Wajahnya menjadi tegang. Matanya yang lunak bening menjadi seakan-akan menyala. Dan dadanya bergetar seperti gempa.
Empu Purwa yang tua itu melihat bayangan cahaya yang kemerah-merahan di atas kepala hantu padang Karautan itu. Samar-samar namun jelas baginya. Jelas bagi orang setua pendeta itu. Pendeta yang telah masak dalam berbagai ilmu lahir batin, yang kasatmata dan tidak kasatmata. Namun pendeta itu yakin bahwa muridnya pasti tak dapat melihatnya. Karena itu Empu Purwa menjadi gelisah. Sekali-sekali ia menarik nafas panjang.
Malam yang kelam, semakin lama menjadi semakin dalam. Angin yang dingin mengalir perlahan-lahan membelai batang-batang rumput di padang Karautan. Meskipun demikian betapa panas hati Mahisa Agni, dan betapa panas pula hati lawannya. Sebenarnyalah bahwa lawannya itu pun menjadi marah sekali. Tak pernah ia menemukan lawan setangguh Mahisa Agni. Karena itu segera dikerahkan segenap kekuatannya. Dengan menggeram ia menyerang sejadi-jadinya. Dan kemarahan itulah yang telah menyalakan warna semburat merah di ubun-ubunnya. Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin dahsyat. Gerak Mahisa Agni menjadi semakin cepat dan kuat sedangkan lawannya menjadi semakin keras dan kasar.
Empu Purwa melihat bayangan warna merah itu dengan cemas. Ia masih memerlukan beberapa saat untuk meyakinkannya. Dan akhirnya, sekali lagi pendeta tua itu menarik nafas dalam-dalam. Dari mulutnya terdengar ia berdesis,
“Brahma. Hem, aneh. Kenapa Dewa Brahma membiarkan anak itu menjadi hantu di padang rumput ini? Tidak adakah pekerjaan yang lebih baik daripada menyamun, membunuh, dan memerkosa?” Kembali ia memandangi warna merah di ubun-ubun lawan muridnya. Warna itu masih ada. Bahkan semakin jelas baginya.
“Menurut pendengaranku, beberapa orang menyatakan bahwa warna itu adalah ciri keturunan Brahma,” sambungnya.
Tiba-tiba pendeta tua teringat pada pusakanya. Sebuah trisula. Amat kecil dan berwarna kuning. Didapatnya trisula itu dari almarhum gurunya. Turun-temurun dari guru ke murid. Dan trisula itu pun kelak akan diserahkannya kepada Mahisa Agni. Menurut cerita gurunya, trisula itu pertama-tama turun ke bumi sebagai sinar yang membelah langit, kemudian seperti guruh meledak di lereng Gunung Semeru.
Yang pertama-tama menemukan trisula itu adalah Empu Wikan. Seorang Empu Sakti yang bertapa di kaki bukit Semeru. Ketika Empu Wikan mendengar guruh meledak di malam hening maka timbullah kecurigaan di dalam hatinya. Maka dengan hati yang berdebar-debar dipanjatnya tebing Gunung Semeru. Dari kejauhan ia masih melihat sinar yang memancar tegak sebesar lidi jantan menusuk langit. Ketika ia mendekati sinar itu terasa betapa panasnya, Empu sakti itu pun harus bersemedi. Dalam semedinya terdengar suara gemuruh di atas kepalanya. Berkata suara itu,
“Empu Wikan yang bijaksana, yang dijauhi oleh segala bencana di sekitarnya. Apabila sinar itu nanti lenyap, datanglah ke titik tegaknya di bumi. Kau akan menemukan sebuah trisula sebagai tanda kebesaran Siwa. Aku hadiahkan trisula itu kepadamu sebagai tanda kebesaran namamu. Simpanlah pusaka itu dan serahkanlah turun-temurun kepada murid-murid terkasih. Tetapi ingat Empu Wikan, pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Tetapi ia akan dapat memengaruhi hati musuh yang bagaimana pun saktinya.”
Kenangan Empu Purwa pecah ketika lawan muridnya jatuh hampir menimpanya. Sekali terguling namun sesaat kemudian telah tegak kembali dan dengan garangnya menerkam muridnya seperti seekor serigala lapar menerkam kambing. Tetapi Mahisa Agni bukanlah seekor kambing. Dengan merendahkan diri, diangkatnya kaki kanannya langsung menghantam perut lawannya. Sekali lagi lawannya terpental dan terbanting. Namun sekali lagi hantu padang rumput itu meloncat bangkit. Telah berpuluh kali ia terjatuh namun ia masih segar, sesegar mula-mula mereka bertemu.
Akhirnya Empu Purwa kasihan juga melihat muridnya. Tandangnya sudah mulai susut. Peluh telah membalut seluruh tubuhnya dilekati debu yang dihambur-hamburkan oleh kaki-kaki mereka yang bergulat antara hidup dan mati itu.
“Agni, kau tak akan mampu mengalahkannya,” pikir pendeta tua itu. Karena itu maka segera ia harus menolongnya. Membebaskan muridnya dari libatan lawannya yang keras dan kasar.
Tetapi ia tidak dapat menghilangkan pengaruh warna merah di kepala lawan muridnya itu dari angan-angannya. Sekali lagi ia menimbang-nimbang. Hantu padang rumput itu adakah kekasih Brahma sedangkan pusaka di tangannya adalah hadiah Siwa. Karena itu maka perlahan-lahan ia maju mendekati titik pertempuran. Lawan muridnya itu, ketika melihat Empu Purwa mendekati mereka, berkata dengan parau,
“Ayo, kau yang tua sekali. Majulah bersama-sama. Selama kau masih belum mampu menangkap angin, selama itu kau jangan mengharap lepas dari padang rumput ini.”
“Agni,” berkata Empu Purwa tanpa menjawab kata-kata hantu itu, “Lepaskan lawanmu!”
Mahisa Agni heran mendengar tegur gurunya. Selama ini, apabila gurunya melepasnya bertempur, tak pernah ditariknya kembali sebelum tubuhnya menjadi lemas atau bahaya maut telah hampir menelannya. Meskipun ia merasa tenaganya telah surut namun hantu itu pun tak mampu menyentuhnya. Karena itu ia merasakan suatu keanehan pada gurunya kali ini. Meskipun demikian, Mahisa Agni tidak berani menolak perintah itu. Dengan satu loncatan panjang ia melepaskan lawannya.
“Jangan lari!” terdengar kembali suara hantu itu. Suara parau dan kasar.
“Tak ada gunanya ia meneruskan.”
“Tidak!” jawab Agni, “Aku tak akan lari.”
“Ia tak akan lari,” sahut Empu Purwa, “tetapi ia tak akan melawanmu dengan cara demikian.”
“Cara apa pun yang akan dipergunakannya, mari maju bersama-sama,” potong hantu itu.
“Tidak,” jawab Empu Purwa, “Aku sudah terlalu tua. Tetapi aku ingin berlaku adil.”
“Kenapa?” sahut lawan Agni.
“Kau mempergunakan senjata,” jawab pendeta tua itu.
“Pakailah senjata!” teriak hantu padang Karautan itu.
“Aku akan memberinya senjata,” sahut Empu Purwa.
“Jangan banyak bicara. Berikan sekarang. Kemudian aku akan segera membunuhnya,” lagi-lagi hantu itu berteriak.
Perlahan-lahan Empu Purwa menarik trisula dari dalam sarung kecilnya, berwarna kuning berkilauan.
“Agni,” katanya, “pergunakan trisula ini. Tetapi ingat, jangan kau tusukkan ke tubuhnya. Pengaruhi saja perasaannya dengan senjata itu.”
“Gila!” potong lawan Agni, “Kau berkata demikian sengaja supaya aku mendengarnya. Tusukkan ke tubuhku. Aku tak akan mati.”
https://pelangidilangitsingasari.blogspot.com/2026/02/pelangi-di-lagit-singasari-001.html
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
===============================


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar