MENU

Ads

Kamis, 05 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 002

Tetapi tiba-tiba suara terhenti. Trisula itu di mata hantu seakan-akan cahaya yang menyilaukan matanya. Karena itu ia berteriak,

“Kalian curang. Sekarang kalian yang tidak berlaku adil. Kalian bertempur dengan alat untuk menyilaukan mataku.”

Empu Purwa menarik nafas. Ia sendiri tidak tahu, kenapa lawan muridnya itu menjadi silau sedangkan muridnya sendiri tidak. Demikianlah agaknya khasiat trisula itu meskipun kali ini harus berhadapan dengan kekasih Brahma. Maka terdengar jawaban pendeta tua itu,

“Senjata itu sama sekali tak menyilaukan mataku dan mata anakku. Kenapa kau menjadi silau?”

“Senjata itu agaknya kau peroleh dari setan-setan yang mempunyai daya seperti tenung,” bantah lawan Agni dengan kasarnya. “Sekarang kau akan menenungku.”

“Seandainya senjata itu aku terima dari setan-setan, bukankah hantu dapat melawan setan-setan. Sebab hantu dan setan mempunyai persamaan tabiat. Keduanya tidak mau mendengar ayam jantan berkokok,” sahut Empu Purwa.

Hantu padang rumput itu menggeram keras sekali. Ia tidak mau berbicara lagi. Dengan satu loncatan panjang ia menyerang Empu Purwa. Meskipun serangan itu datangnya tiba-tiba sekali namun Empu Purwa dengan cepat dapat menghindarkan diri. Ia adalah seorang pendeta yang mumpuni. Meskipun tak ada hasratnya untuk berkelahi namun adalah hak setiap hidup untuk mempertahankan hidupnya.

Mahisa Agni pun tidak tinggal diam. Segera ia meloncat menyerang hantu padang rumput. Dan kembali terjadi perkelahian yang sengit antara hantu berpisau dan Mahisa Agni dengan trisula di tangan. Meskipun demikian Mahisa Agni sama sekali tidak tahu apakah gunanya senjata itu apabila sama sekali tidak boleh ditusukkan ke tubuh lawannya. Namun ia tidak berani melanggar pantangan itu.

Karena itu dipegangnya trisula itu dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya dengan tangkas menangkis setiap serangan dan bahkan beberapa kali untuk menyerang lawannya. Dengan trisula di tangan kiri itu sebenarnya gerak Mahisa Agni justru terganggu. Tetapi terasa suatu keanehan terjadi atas lawannya itu. Tiba-tiba ia tidak segarang semula. Berkali-kali lawannya terpaksa meloncat menjauhi dan kadang-kadang tangannya terpaksa melindungi matanya. Mahisa Agni menjadi heran. Agaknya lawannya itu benar-benar menjadi silau.

“Inilah khasiat trisula ini,” pikir Mahisa Agni.

Dengan demikian ia dapat mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Digerakkannya trisula itu melingkar-lingkar seperti kemamang yang menari-nari di udara. Dan lawannya menjadi semakin terdesak. Dengan demikian Mahisa Agni dapat mengenainya lebih banyak, dan betapapun keras kulit hantu itu namun lambat laun terasa juga nyeri-nyeri di kulit dagingnya. Tenaga Mahisa Agni benar-benar sekuat raksasa. Pada umurnya menjelang seperempat abad itu, Mahisa Agni benar-benar merupakan seorang pemuda yang pilih tanding.

Akhirnya terasa bahwa tandang lawannya menjadi semakin susut meskipun tenaga Agni sendiri seakan-akan telah terperas habis. Berkali-kali hantu itu meloncat surut dan mundur. Semakin lama semakin jauh. Hingga akhirnya hantu itu berteriak,

“Kalau kau jantan, lepaskan trisula itu. Aku juga akan melepaskan pisauku.”

“Pisaumu itu tak berarti apa-apa,” sahut Empu Purwa, “Tetapi kau memiliki tanda-tanda yang aneh di atas kepalamu.”

“Jangan mencari-cari. Pertimbangkan tantanganku,” jawabnya.

Sekali lagi Empu Purwa mendekati mereka. Katanya dengan nada penuh kedamaian, “Berhentilah berkelahi.”

“Kalian menyerah?” jawab lawan Agni.

Mahisa Agnilah yang menyahut, “Tidak!”

Kembali terdengar suara Empu Purwa, “Berhentilah berkelahi! Dengarkan kata-kataku!”

Suaranya seakan-akan mengandung suatu wibawa yang agung. Mahisa Agni adalah muridnya sehingga ia sama sekali tak dapat berbuat lain daripada menghentikan perkelahian. Tetapi tidak saja Mahisa Agni yang terpengaruh oleh kata-kata itu, bahkan lawannya pun tiba-tiba meloncat mundur. Sehingga dengan demikian, pertempuran pun menjadi terhenti karenanya. Empu Purwa melangkah semakin dekat di antara kedua lawan itu. Katanya kemudian,



“Ki Sanak, kau memiliki tanda-tanda yang khusus pada dirimu. Karena itu aku dapat mengenalmu.”

“Kau kenal aku?” sahut hantu itu.

“Ya,” jawab Empu Purwa.

“Aku adalah penjaga padang rumput ini. Sato mara satu mati, jalma mara jalma mati. Aku lubangi tengkuknya dan aku hisap darahnya.”

“Tetapi beberapa orang menemukan korbanmu tanpa mengenakan pakaiannya. Tanpa ikat pinggang, tanpa uang dan perhiasan,” potong Empu Purwa. Hantu itu menggeram. Tetapi sebelum ia menjawab Empu Purwa telah meneruskan kata-katanya, “Jangan menyembunyikannya dirimu. Kau adalah kekasih dewa-dewa.” Tampak lawan Mahisa Agni itu mengerutkan keningnya.

“Siapakah namamu Ki Sanak?” desak Empu Purwa.

“Hantu tidak pernah punya nama,” jawabnya.

“Siapakah namamu Ki Sanak?” ulang Empu Purwa.

“Aku tak punya nama!” teriaknya keras-keras sehingga suaranya menggema di seluruh padang rumput Karautan.

Tetapi kembali terdengar suara Empu Purwa tenang perlahan-lahan, namun pasti, “Siapakah namamu Ki Sanak?”

Hantu yang menakutkan setiap orang itu tiba-tiba menundukkan kepalanya. Rambutnya yang liar berjuntai di atas bahunya. Angin yang lembut mengalir perlahan-lahan menggerakkan ujung-ujung rambut yang terurai lepas sebebas rumput alang-alang di padang rumput itu. Tanpa diduga oleh Mahisa Agni tiba-tiba terdengar mulut hantu itu menjawab,

“Namaku Ken Arok.”

Mahisa Agni terkejut mendengar nama itu. Tidak saja Mahisa Agni, tetapi yang menyebutkan nama itu pun terkejut pula. Dengan lantangnya ia berteriak, “Jangan ulangi namaku! Dan untuk seterusnya kau tak akan sempat menyebut namaku. Sebab kalian berdua akan kubunuh malam ini agar Ken Arok tetap tak dikenal orang.”

Tiba-tiba Mahisa Agni bersiap kembali. Nama Ken Arok adalah nama yang menakutkan. Tak ada bedanya dengan hantu di padang rumput Karautan, yang ternyata adalah Ken Arok itu sendiri.

“Kau adalah orang buruan,” berkata Agni dengan lantang, “selagi kau bernama hantu pun aku tidak takut. Apalagi ternyata kau adalah manusia terkutuk. Bersiaplah, kita bertempur sampai hayat kita menentukan, siapakah di antara kita yang akan berhasil keluar dari padang rumput ini.”

“Bagus!” teriak hantu yang ternyata bernama Ken Arok itu.

“Berpuluh, bahkan beratus orang, yang telah aku bunuh. Apa artinya kalian berdua?”

Sesaat kemudian Ken Arok dan Mahisa Agni telah siap untuk bertempur kembali namun segera Empu Purwa berkata, “Perkelahian di antara kalian tak ada gunanya. Sebab perkelahian itu tak akan sampai pada ujungnya. Ken Arok memiliki kelebihan dari manusia biasa sedangkan Agni membawa pusaka yang tak ada duanya di dunia ini.”

“Aku akan melayaninya, Bapa,” sahut Agni, “sehari, dua hari bahkan selapan pun aku tak akan meninggalkannya.”

“Sebelum ayam jantan berkokok kau sudah mati,” potong Ken Arok.

“Tak ada artinya, Agni,” berkata Empu Purwa. Kemudian kepada Ken Arok, pendeta tua itu berkata, “Arok, apakah kau dapat berkelahi dengan mata yang silau? Bagaimanakah kalau trisula itu berada di tanganku, kemudian Agni memukulmu semalam suntuk? Kau tak akan dapat membalasnya sebab aku akan menggerakkan trisula itu di tentang matamu.”

“Curang!” teriak Ken Arok dengan marah.

“Kau juga curang,” bantah Empu Purwa.

“Kenapa? Hanya karena aku memegang pisau ini? Baiklah. Kalau demikian pisauku akan aku buang. Kita bertempur tanpa senjata.”

“Bukan,” sahut Empu Purwa, “Bukan karena senjatamu. Tetapi kenapa kau seolah-olah menjadi kebal?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu benar-benar aneh. Akhirnya ia menjawab, “Bukan kehendakku. Sejak aku sadar tentang diriku, aku telah menjadi kebal. Dewa-dewalah yang membuat aku demikian. Bertanyalah kepada Dewa-dewa. Kalau itu kau anggap kecurangan, Dewalah yang membekali aku dengan kecurangan itu.”

“Bagus. Dewa pulalah yang memberi aku trisula itu,” sahut Empu Purwa, “Adakah itu juga suatu kecurangan?” Ken Arok menggeram. Tetapi ia tidak menjawab. Wajahnya menjadi tegang dan tangannya yang memegang pisau menjadi gemetar. Tetapi sesaat kemudian terdengar suara Empu Purwa lunak, “Kemarilah. Duduklah.”

Ken Arok dan Mahisa Agni sama sekali tidak tahu maksud pendeta tua itu. Karena itu, untuk sesaat mereka berdiri mematung sehingga orang tua itu mengulangi kata-katanya,

“Mahisa Agni dan Ken Arok. Kemarilah! Duduklah!”

Meskipun masih diliputi oleh keragu-raguan namun Mahisa Agni kemudian duduk di samping gurunya. Ken Arok masih tegak seperti tonggak.

“Kemarilah Arok,” panggil Empu Purwa dengan ramahnya.

Seperti orang yang kehilangan kesadaran, Ken Arok melangkah dua langkah maju. Kemudian menjatuhkan dirinya di samping pendeta tua itu.

“Arok,” kata pendeta tua itu, “seharusnya kau sadar dirimu. Siapakah engkau dan apakah yang akan terjadi atas dirimu. Kau memiliki beberapa kelebihan dari orang lain tetapi kelebihan itu telah kau salah gunakan.”

Ken Arok tidak segera menjawab. Ditatapnya mata orang tua itu. Di dalam malam yang gelap, mata itu seakan-akan memancarkan cahaya yang putih bening.

“Ken Arok. Apabila kau sedang berbaring menjelang tidur, tidakkah kau pernah menghitung berapa orang yang telah menjadi korbanmu? Tidakkah kau pernah membayangkan, bahwa orang yang menggeletak mati di padang rumput Karautan ini, atau di tempat-tempat lain yang pernah kau diami, tidak saja menimbulkan kengerian pada saat-saat matinya, tetapi peristiwa itu juga akan meninggalkan goresan yang dalam bagi keluarganya? Bagi anak-anak dan istri mereka yang menunggunya di rumah? Tidakkah kau pernah membayangkan bahwa seorang laki-laki pergi merantau untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi di jalan pulang laki-laki itu bertemu dengan seorang anak muda yang bernama Ken Arok. Di rumah anak-anaknya yang lapar menunggunya. Tetapi laki-laki itu tak akan pernah pulang.”

Ken Arok belum pernah mendengar seorang pun berkata demikian kepadanya. Kawan-kawannya pada masa kanak-kanaknya, ayah angkatnya yang bernama Lembong, Bango Samparan, dan orang-orang yang pernah datang pergi dalam perjalanan hidupnya. Yang dikenalnya hanyalah daerah-daerah yang gelap. Judi, tuak, perempuan, dan segala macam kejahatan. Sekali dua kali hidupnya terdampar juga ke rumah-rumah yang wajar. Namun tak sempat didengarnya nasihat dan petuah-petuah. Karena itu, maka kata-kata Empu Purwa itu mula-mula asing baginya. Tetapi kalimat-kalimat itu seperti embun yang menetes dari langit. Perlahan-lahan daun-daun rumput yang kering menjadi basah pula. Demikianlah kata-kata asing itu di hati Ken Arok. Meskipun ia belum mengenal seluruhnya, namun terasa bahwa ada dunia lain dari dunianya yang gelap.

“Ken Arok,” kembali terdengar suara Empu Purwa, “Kau masih muda. Masa depanmu masih panjang.”

Tiba-tiba Ken Arok menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan diamatinya tangannya. Tangan yang kotor karena darah dan air mata. Dan kini tangan itu menjadi gemetar. “Tak ada jalan lain yang dapat aku tempuh,” terdengar suaranya parau. Tetapi tidak sekeras semula.

“Banyak,” sahut Empu Purwa.

“Aku telah asing dari hidup manusia wajar. Semua orang menjauhi aku,” katanya.

“Mereka takut kepadamu. Kepada perbuatan-perbuatanmu,” jawab Empu Purwa.

Ken Arok menggeleng. Matanya menjadi sayu. Katanya, “Tidak. Sejak aku lahir di luar kehendakku. Aku adalah anak panas. Ayahku mati ketika ibuku diceraikannya. Dan orang menyalahkan aku. Kemudian menurut kata orang, pada masa aku masih bayi merah, aku dibuang di pekuburan. Aku dipelihara oleh Bapak Lembong. Seorang pencuri. Salahkah aku kalau aku kemudian mengikuti cara hidupnya?”

“Tidak,” sahut Empu Purwa, “Kau tidak bersalah. Tetapi kau akan lebih berbahagia kalau kau dapat menempuh cara hidup yang lain.”

Ken Arok memandang wajah pendeta tua itu dengan seksama. Kesan wajahnya telah berubah sama sekali dari semula. Matanya kini sudah tidak liar dan ganas. Bahkan kini menjadi suram. Sekali lagi ia menggeleng,

“Aku tidak tahu apakah masih ada cara hidup yang lain yang dapat aku jalani. Aku telah dijauhi oleh sanak-kadang.”

“Jangan risau,” sahut Empu Purwa, “meskipun kau dijauhi oleh sanak-kadang dan handai-taulan, apabila kau tundukkan kepalamu dan bersujud kepadanya, maka adalah sahabat manusia yang jauh lebih berharga dari sanak-kadang, handai, dan taulan.”

“Siapakah dia?” bertanya Ken Arok.

“Yang Maha Agung,” jawab Empu Purwa.

Perlahan-lahan namun langsung menusuk kalbu Ken Arok. Mahisa Agni telah sering mendengar gurunya berkata demikian kepadanya. Berkata tentang Yang Maha Kuasa, yang menciptakan langit dan bumi, kemudian memeliharanya dan kelak akan datang masanya langit dan bumi akan dihancurkannya.

Tetapi Ken Arok belum pernah mendengar sebutan itu. Karena itu ia masih berdiam diri menunggu penjelasan.

“Ken Arok,” Empu Purwa melanjutkan, “meskipun kau hidup sendiri di dunia ini, namun kau akan berbahagia kalau Yang Maha Agung itu tidak meninggalkanmu.”

Ken Arok masih berdiam diri. Kata-kata pendeta tua itu belum begitu jelas baginya. Ia sama sekali tidak kenal kepada Yang Maha Agung itu. Tetapi dalam kesibukan berpikir, tiba-tiba Ken Arok teringat pada pengalamannya. Ketika ia dikejar-kejar oleh orang Kemundungan. Ketika ia sudah tidak tahu apa yang harus dilakukan. Maka memanjatlah ia ke atas sebatang pohon tal. Tetapi orang-orang yang mengejarnya memotong batangnya. Pada saat itu, pada saat ia telah kehilangan akal, terdengarlah suara dari langit,

“Ken Arok, potonglah dua helai daun tal. Pakailah sebagai sayap. Dan kau akan dapat terbang melintasi sungai di bawah pohon tal itu.”

Kemudian, ketika dipotongnya dua pelepah daun tal serta dinaiknya, seakan-akan ia terbang melintasi sungai. Maka tiba-tiba melontarlah pertanyaan menusuk benaknya,

“Suara apakah yang telah menyelamatkan aku itu?”

Suara itu telah lama dilupakannya. Bahkan dianggapnya tidak pernah ada. Tetapi suara itu kini terngiang kembali. Jelas, seperti baru saja diucapkan. Akhirnya sampailah ia pada kesimpulan. Itulah suara Yang Maha Agung. Ken Arok terkejut sendiri pada kesimpulan yang ditemukannya. Bersamaan dengan itu, terbayanglah di matanya peristiwa-peristiwa yang pernah dialaminya. Perampokan, pembunuhan, perkosaan, dan segala jenis kejahatan. Tiba-tiba Ken Arok menjadi takut. Takut kepada penemuannya. Pada kesimpulan yang didapatnya. Kalau benar Yang Maha Agung itu ada maka akan diketahui semua perbuatannya. Ken Arok menjadi gemetar seperti orang kedinginan, wajahnya menjadi pucat. Dan dengan suara yang bergetar Ken Arok bertanya meyakinkan,

“Adakah Yang Maha Agung itu kenal kepadaku?”

“Ya,” sahut Empu Purwa, “Yang Maha Agung itu kenal kepadamu, kepadaku, kepada Agni, dan kepada semua manusia di dunia ini seperti seorang bapa mengenal anak-anaknya.”

“Tahukah Yang Maha Agung itu atas apa yang pernah dan sedang aku lakukan?” bertanya Ken Arok pula.

“Pasti,” jawab Empu Purwa.

Mendengar jawaban itu Ken Arok menjadi menggigil karenanya. Keringat dingin mengalir di seluruh wajah kulitnya. Tiba-tiba Mahisa Agni menjadi terkejut ketika tiba-tiba Ken Arok itu meloncat berdiri. Terdengarlah ia berteriak,

“Bohong! Bohong! Kau akan menakut-nakuti aku?”

Tanpa sesadarnya Mahisa Agni pun meloncat berdiri. Dengan kesiagaan penuh ia mengawasi Ken Arok yang berdiri tegang di muka gurunya. Matanya yang sayu suram kini menjadi liar kembali. Dengan ujung pisaunya ia menunjuk ke wajah Empu Purwa yang masih duduk dengan tenangnya. Katanya,

“Kau ingin melawan aku dengan cara pengecut itu? Berdirilah bersama-sama. Kita bertempur sampai binasa.”

Mahisa Agni telah bersiap. Ia akan dapat menyerang Ken Arok dengan satu loncatan. Tetapi ketika hampir saja ia meloncat menyerang, sekali lagi ia terkejut. Dilihatnya Ken Arok itu meloncat mundur dan tiba-tiba hantu padang rumput Karautan itu memutar tubuhnya dan berlari sekencang-kencangnya seperti kuda lepas dari ikatannya. Sesaat Agni diam mematung. Namun kemudian ia pun meloncat mengejar hantu yang mengerikan itu. Tetapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena suara gurunya,

“Agni! Biarkan ia lari. Kemarilah!”

Sekali lagi Agni tidak dapat memahami tindakan gurunya. Ken Arok adalah orang buruan yang berbahaya. Apakah orang itu akan dilepaskannya? Tetapi Mahisa Agni berhenti juga. Dengan wajah yang tegang karena pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dadanya, ia berjalan tergesa-gesa mendekati gurunya.

“Bapa,” katanya terbata-bata, “kenapa orang itu kita biarkan pergi?”

Empu Purwa menarik nafas. Perlahan-lahan orang tua itu berdiri. “Marilah kita lanjutkan perjalanan kita,” berkata orang tua itu. Seakan-akan ia tak mendengar pertanyaan muridnya, bahkan katanya kemudian, “Kita tidak akan sampai tengah malam nanti.”

Karena pertanyaannya tidak dijawab, Agni menjadi semakin tidak puas. Tetapi ia diam saja. Ia pun kemudian berjalan di samping gurunya. Sekali-kali matanya dilemparkannya jauh ke belakang tabir kelamnya malam. Hantu padang rumput Karautan telah hilang seakan-akan ditelan oleh raksasa hitam yang maha besar. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak bertanya-tanya lagi. Bintang gemintang di langit masih bercahaya gemerlapan. Beberapa pasang telah semakin bergeser ke barat. Dan embun pun perlahan-lahan turun. Agni masih berjalan di samping gurunya. Dengan matanya yang tajam, ditatapnya padang rumput yang terbentang di hadapannya. Beberapa tonggak lagi ia masih harus berjalan.

Dalam keheningan malam itu kemudian terdengar suara gurunya lirih, “Agni, masihkah kau berpikir tentang hantu padang Karautan?”

Mahisa Agni menoleh. Kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya Bapa.”

“Apa yang kau lihat pada anak muda itu?” bertanya gurunya. Mahisa Agni tidak tahu maksud gurunya. Karena itu untuk sesaat ia tidak menjawab sehingga Empu Purwa mengulangi, “Adakah sesuatu yang aneh yang kau lihat pada Ken Arok?”

“Apakah yang aneh itu?” bertanya Mahisa Agni.

“Itulah yang aku tanyakan kepadamu. Sesuatu yang tidak ada pada kebanyakan manusia,” sahut gurunya.

Mahisa Agni termenung sejenak. Dicobanya untuk membayangkan kembali tubuh lawannya. Dada yang bidang, sepasang tangan yang kokoh kuat, rambut yang liar berjuntai sampai ke pundaknya, dan wajahnya yang tampan namun penuh kekasaran dan kekerasan. Tiba-tiba Agni menggeleng, gumamnya seperti kepada diri sendiri,

“Tak ada. Tak ada yang aneh padanya.”

Empu Purwa mengangguk-angguk. Pikirnya, “Aku sudah menduga bahwa Agni tak melihat cahaya di ubun-ubun Ken Arok.” Tetapi yang keluar dari mulutnya adalah, “Memang tidak ada Agni namun ada cerita yang aneh tentang anak muda yang menjadi buruan itu.”

Mahisa Agni mengawasi wajah gurunya dengan seksama. Tetapi tak dilihatnya kesan apa pun pada wajah yang tua itu. Mungkin karena gelapnya malam. Mungkin karena di wajah pendeta tua itu segala sesuatu menjadi tenang, setenang permukaan telaga yang terlindung dari sentuhan angin. Tetapi kemudian terdengar Empu Purwa berkata,

“Agni, tak banyak yang aku dengar tentang asal-usul Ken Arok. Tetapi aku pernah mendengarnya dari mulut beberapa orang pendeta. Di antaranya pendeta di Sagenggeng. Bahwa dari kepala Ken Arok itu memancar cahaya yang kemerah-merahan. Dan cahaya yang demikian adalah ciri dari mereka yang dikasihi oleh Brahma.”

“Kalau demikian…?” kata-kata Mahisa Agni terputus.

“Ya,” Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ken Arok adalah kekasih Brahma. Bahkan orang pernah menganggap bahwa Ken Arok adalah pecahan Dewa Brahma sendiri.”

Mahisa Agni menundukkan wajahnya, ditatapnya ujung kakinya berganti-ganti. Seakan-akan ia sedang menghitung setiap langkah yang dibuatnya. Kembali menjalar di benaknya beberapa macam pertanyaan yang kadang-kadang sangat aneh baginya. Tiba-tiba teringatlah ia kepada trisula di tangannya. Ya, di tangan kirinya masih digenggamnya tangkai trisula yang terlalu kecil baginya. Tanpa sesadarnya, diamatinya trisula itu dengan seksama. Trisula itu benar-benar berkilauan namun tidak sampai menyilaukan baginya. Mahisa Agni terkejut ketika didengarnya gurunya berkata,

“Agni, cerita tentang trisula itu sama anehnya dengan cerita tentang orang buruan itu.” Agni mengangkat wajahnya. Sekali lagi dipandangnya wajah gurunya. Wajah yang sepi hening. “Trisula itu adalah hadiah dari Siwa,” Empu Purwa meneruskan.

Memang cerita itu aneh bagi Mahisa Agni. Karena itu ia menjadi heran. Kekasih Brahma yang hampir setiap saat menjalankan kejahatan, dan senjata hadiah Siwa di tangannya. Adakah dengan demikian berarti bahwa membenarkan segala macam kejahatan itu? Meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan namun Empu Purwa telah dapat menangkap dari wajah muridnya, maka katanya,

“Agni. Jangan kau risaukan apa yang sedang dilakukan oleh Brahma, Siwa, dan Wisnu sekali pun. Kalau pada suatu saat, orang-orang yang menurut cerita bersumber pada kekuatan Brahma harus berhadapan dengan orang-orang bersumber pada kekuatan Siwa atau Wisnu, itu bukanlah hal yang perlu kau herankan. Sebab, baik Siwa, Brahma, maupun Wisnu itu sendiri merupakan pancaran dari Maha Kekuasaan Yang Esa. Dan keesaan kekuasaan itulah yang mengatur mereka. Apa yang dilakukan Brahma, Wisnu, dan Siwa adalah satu rangkaian yang bersangkut-paut dengan tujuan tunggal. Apa yang diadakan oleh kekuasaan itu, kemudian dipeliharanya untuk kemudian, apabila sampai saatnya, dihancurkannya.”

Kini kembali Mahisa Agni menundukkan wajahnya. Ia dapat mengerti apa yang dikatakan oleh gurunya. Dan itulah sebabnya, maka gurunya tak mengizinkannya untuk mengejar Ken Arok, yang menurut kata orang adalah pecahan Dewa Brahma itu sendiri.

Kemudian, gurunya itu tidak berkata-kata lagi. Mereka berjalan saja menembus malam yang gelap dingin. Dan setapak demi setapak mereka mendekati rumah mereka. Desa Panawijen. Ketika mereka menjadi semakin dekat semakin dekat maka lupalah Mahisa Agni kepada Ken Arok, pada trisula di tangannya, pada cerita tentang Brahma dan Siwa, serta pada perkelahian yang baru saja dialami. Yang ada di dalam angan-angannya kemudian adalah kampung halamannya. Kampung halaman di mana ia meneguk ilmu dari gurunya, Empu Purwa. Tetapi, kampung halaman itu tidak akan demikian memukaunya apabila di sana tidak ada orang-orang tersangkut di dalam hatinya, selain gurunya, pendeta tua yang sabar dan tawakal itu.

Yang mula-mula hadir di dalam angan-angannya adalah seorang gadis yang memiliki kecantikan seperti yang dirindukan oleh bidadari sekali pun. Kadang-kadang Mahisa Agni menjadi heran, apabila dibandingkannya wajah gadis itu dan wajah ayahnya. Ayahnya bukanlah seorang yang berwajah tampan pada masa mudanya. Entahlah kalau ibunya seorang bidadari yang kamanungsan. Mahisa Agni belum pernah melihatnya. Bahkan anak gadis itu sendiri pun tak dapat mengingat wajah ibunya lagi. Dan gadis yang bernama Ken Dedes itu, di matanya tak ada yang memadainya. Sehingga tidaklah aneh bahwa setiap mulut yang tersebar dari lereng timur Gunung Kawi sampai ke Tumapel pernah menyebut namanya.

Tetapi gadis itu terlalu bersikap manja kepadanya, seperti seorang adik kepada seorang kakak yang sangat mengasihinya. Mahisa Agni tidak begitu senang pada sikap itu. Seharusnya Ken Dedes tidak menganggapnya sebagai seorang kakak. Tiba-tiba wajah Agni menjadi kemerah-merahan. Ia tidak berani meneruskan angan-angannya. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Perlahan-lahan Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terkejut ketika terdengar gurunya berkata,

“Agni, sebaiknya kau kembalikan trisula itu kepadaku. Aku mengharap bahwa kelak kau akan dapat memilikinya.”

“Oh,” terdengar sebuah desis perlahan dari mulut Agni. Cepat-cepat ia menyerahkan senjata aneh itu kepada gurunya tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kemudian mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Sudah tidak seberapa jauh lagi. Dari desa di hadapan mereka, terdengarlah kokok ayam jantan bersahut-sahutan.

“Hari menjelang pagi,” desis Empu Purwa.

“Kita terhalang di padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

Kembali mereka berdiam diri. Dan kembali Mahisa Agni berangan-angan. Kini yang hadir di dalam benaknya adalah sahabatnya. Seorang pemuda yang tampan, bertubuh tinggi tegap, bermata hitam mengkilat. Anak muda itu adalah putra Ki Buyut Panawijen. Hampir setiap hari Mahisa Agni bermain-main bersamanya. Menggembala kambing bersama. Bekerja di sawah bersama. Saling membantu seperti kakak-beradik yang rukun. Mereka berdua mempunyai banyak persamaan tabiat. Keduanya senang pada pekerjaan mereka sehari-hari.

Keduanya bekerja di antara penduduk Panawijen yang rajin. Menggali parit, membuat bendungan di sungai, dan membersihkan jalan-jalan desa, memelihara pura-pura, dan segala macam pekerjaan. Namun ada yang tak dapat dipersamakan di antara mereka. Mahisa Agni adalah seorang pemuda yang tangguh, yang hampir sempurna dalam ilmu tata beladiri dan tata bermain senjata. Berkelahi seorang diri dan bertempur dalam gelar-gelar perang. Sedangkan Wiraprana, anak muda putra Ki Buyut Panawijen, adalah seorang anak muda yang tak banyak perhatiannya pada ilmu tata beladiri meskipun dipelajarinya serba sedikit dari ayahnya. Meskipun anak muda itu rajin bekerja namun ia tidak setekun Mahisa Agni dalam menempa diri. Meskipun demikian, karena Agni tidak biasa menunjukkan kelebihannya, keduanya dapat bergaul dengan rapatnya.

Mereka memasuki desa mereka pada saat cahaya merah membayang di timur. Di telinga mereka masih menghambur suara kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Sekali-kali telah terdengar pula gerit senggot orang menimba air dari perigi-perigi di belakang rumah mereka. Ketika mereka, Empu Purwa dan Mahisa Agni, memasuki halaman rumah mereka yang dikelilingi oleh pagar batu setinggi orang, mereka melihat api menyala di ujung dapur.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar