“Ken Dedes.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung. “Kita ternyata berhadapan dengan hantu yang dahsyat. Besok kau harus berusaha memanggil Jajar yang gemuk itu. Lima hari yang dikatakan oleh Jajar itu benar-benar saat yang di kehendaki oleh Kebo Sindet. Batas waktu yang diberikan oleh iblis dari Kemundungan itu. Kalau hari itu kita belum mendapatkan cara yang sebaik-baiknya untuk memecahkannya, mungkin Kebo Sindet akan mengambil cara lain. Cara yang tidak kita ketahui.”
“Apakah yang harus hamba katakan kepada Jajar itu Tuanku?”
“Katakan kepadanya, bahwa di hari yang kelima sejak perjanjian yang dibuatnya, yang sekarang telah berkurang dengan dua hari, permintaannya agar dipenuhinya.”
Ken Dedes terperanyat mendengar kesanggupan itu. Tanpa sesadarnya, dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah Tuanku akan memenuhi permintaannya, menyerahkan tiga pengadeg perhiasan?”
“Jangan bodoh.” suara Akuwu mengeras, tetapi sejenak kemudian disambungnya dengan nada yang datar, “aku mengharap bahwa aku tidak akan tertipu. Ken Dedes, kau harus berkata kepada Jajar itu, bahwa di hari yang ditentukan itu, Mahisa Agni harus dibawa oleh Kebo Sindet. Itu adalah syarat penyerahan. Kalau tidak maka semuanya tidak akan dapat terjadi. Kita hanya akan menjadi bulan-bulanan. Setiap kali ia menuntut sesuatu, dan setiap kali Mahisa Agni itu tidak akan juga diserahkannya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia menjadi heran, ”Jadi apakah maksud Tuanku? Setelah Kakang Mahisa Agni diserahkan, maka Tuanku akan memenuhi permintaannya?”
Ken Dedes melihat wajah Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia berkata hampir berteriak, “Aku adalah Akuwu Tumapel. Aku memegang kekuasaan tertinggi untuk menegakkan ketenteraman hidup rakyatku. Ya, Ken Dedes. Aku akan menyerahkan permintaan Kebo Sindet setelah Mahisa Agni itu diserahkan.”
Ken Dedes menjadi bingung mendengar kata-kata Akuwu yang saling bertentangan itu. Tetapi Akuwu kemudian memberikan penjelasan, “Tetapi setelah penyerahan itu selesai, setelah kita tidak mempunyai hutang lagi kepada Kebo Sindet maka aku akan menangkapnya. Aku akan membunuhnya.”
Wajah Ken Dedes menjadi berkerut-merut Apakah dengan demikian Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat dengan jujur dalam tukar menukar ini? Tetapi sejenak kemudian Ken Dedes telah dapat menyadarinya, bahwa yang dihadapi oleh Akuwu kini adalah Kebo Sindet. Bukan orang yang dapat diajak untuk berbicara dengan baik. Bukan orang yang masih mempunyai meskipun hanya sepercik kesadaran diri hidup dalam peradaban manusia.
“Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “kau harus dapat menyimpan rahasia ini. Kalau rahasia ini kau bocorkan, maka taruhannya adalah kakakmu, Mahisa Agni.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia ber desis, “Hamba Tuanku.”
“Pada hari yang ditentukan, Witantra akan menyiapkan sepasukan kecil prajurit untuk mengurung iblis itu supaya tidak dapat lepas. Aku tidak memerlukan terlampau banyak-orang, supaya Kebo Sindet tidak mengetahuinya. Aku sendirilah yang akan menghadapi iblis itu. Tidak ada orang lain yang akan dapat menandinginya. Mungkin orang-orang seperti Empu Gandring, atau Panji Bojong Santi, guru Witantra. Tetapi aku tidak perlu minta tolong kepada mereka itu. Aku sendiri yang akan mengakhiri perbuatan-perbuatannya yang gila itu.”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Ken Dedes. Tiba-tiba ia merasa matanya menjadi panas. Sejenak mereka dicengkam oleh kediaman. Dada Ken Dedes yang berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasakan kesungguhan kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu. Kali ini agaknya Akuwu Tunggul Ametung akan benar-benar bertindak.
“Nah.” sejenak kemudian terdengar, Akuwu itu berkata, “kau harus membantu aku. Kau panggil Jajar itu, dan kau beritahukan apa yang harus dilakukan. Tetapi awas, jangan sampai rencana ini didengar oleh siapa pun. Emban yang selalu berada di dekatmu pun tidak boleh mendengarnya.”
Ken Dedes kemudian membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ia menjawab, “Hamba Tuanku. Hamba akan melakukan segala titah. Hamba akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya sebagai pernyataan terima kasih hamba yang tiada taranya. Tetapi.…” suara Ken Dedes terputus ditengah.
“Tetapi.” Akuwu mengulangi.
“Tetapi, apakah tidak ada orang lain yang dapat Tuanku perintahkan untuk menangkap Kebo Sindet?” suara Ken Dedes menjadi semakin perlahan-lahan, “Kenapa mesti Tuanku sendiri.”
“Tidak. Tidak ada orang lain. Tetapi kenapa jika aku sendiri yang melakukannya?”
“Hamba menjadi cemas Tuanku, seperti kecemasan yang selama ini pernah hamba alami.”
“Oh.” tiba-tiba terasa sesuatu yang sejuk menyentuh dada Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tegang itu. Karena itu maka darahnya pun terasa berangsur menjadi dingin. Ternyata Ken Dedes mencemaskannya pula. Maka jawabnya, “Jangan cemas. Aku akan mengatasi keadaan.”
“Tetapi Tuanku, Kebo Sindet adalah orang yang licik seperti pernah Tuanku katakan.”
“Jangan takut.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya. Kini ia telah di kejar pula oleh kecemasan yang lain. Ia tidak dapat melepaskan diri dari keadaannya. Ia adalah seorang isteri. Betapapun juga, apabila Akuwu Tunggul Ametung benar-benar berhasrat menangani sendiri penangkapan Kebo Sindet, maka kepergiannya itu akan terasa juga berat dihatinya.
Permaisuri itu kini berdiri di sudut yang sulit. Kalau ia membiarkan kakaknya Mahisa Agni, maka ia akan selalu dikejar oleh perasaan bersalah. Mahisa Agni, selain satu-satunya keluarganya yang masih ada, meskipun bukan kakak kandungnya, juga seseorang yang telah melepaskannya dari bencana. Tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali. Tetapi apakah ia akan dapat melepaskan suaminya pergi dengan tanpa mencemaskannya, karena ia tahu siapakah yang akan dihadapinya? Apakah ia harus memilih salah satu dari keduanya? Biar sajalah Mahisa Agni hilang dan tidak perlu diketemukan tetapi Akuwu tidak pergi menghadapi Kebo Sindet, atau biar saja apa yang akan terjadi dengan Akuwu Tunggul Ametung, asalkan Mahisa Agni dapat dibebaskan?
Tetapi kemungkinan yang lain dapat saja terjadi. Yang paling pahit baginya adalah apabila Akuwu Tunggul Ametung gagal, bahkan ia sendiri terpaksa mengalami bencana sedang Mahisa Agni tidak dapat dilepaskan.
“Tidak.” Permaisuri itu mencoba menenteramkan dirinya sendiri, “Akuwu akan berhasil membebaskan Kakang Mahisa Agni dan sekaligus berhasil menangkap Kebo Sindet.”
Ken Dedes itu terkejut ketika ia mendengar suara Akuwu Tunggul Ametung perlahan-lahan, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan kau risaukan persoalan ini. Aku sudah mendapat gambaran menurut perhitunganku, bahwa aku akan berhasil. Aku akan membawa beberapa orang prajurit pengawal pilihan. Dan aku mempunyai keyakinan, bahwa betapa saktinya Kebo Sindet, ia tidak akan dapat melawan pusakaku. Ia akan hancur menjadi debu apabila ia mencoba melawan.” Ken Dedes masih belum menjawab.
“Sekarang tenteramkan hatimu. Aku mengharap akan berhasil. Marilah kita berdoa supaya usaha ini mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kini ia tidak dapat menahan titik air matanya Dengan tersendat-sendat ia menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Tidurlah.” desis Akuwu itu kemudian. “Lupakan semuanya, supaya kau dapat tidur nyenyak.”
“Hamba akan mencoba Tuanku.”
“Jangan lupa. Besok kau panggil Jajar itu. Katakan, bahwa permintaan Kebo Sindet akan dipenuhi dibatas terakhir. Tetapi Mahisa Agni harus dibawanya serta sebagai syarat penyerahan. Aku mengharap Kebo Sindet tidak akan berkeberatan karena ia memerlukan perhiasan itu.” suara Akuwu tiba-tiba merendah, “kalau cara ini gagal karena Kebo Sindet tidak bersedia, maka aku akan mengambil cara terkkhir. Menangkap Kebo Sindet itu lebih dahulu, baru mencari Mahisa Agni.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam, sambil berkata, “Hamba akan membenarkan setiap cara yang akan Tuanku tempuh. Sebab hamba sendiri tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukan. Tetapi hamba telah mengucapkan beribu terima kasih, karena Tuanku bersungguh-sungguh ingin membebaskan satu-satunya sisa keluarga hamba.”
“Sekarang tidurlah.” berkata Akuwu itu kemudian.
“Hamba Tuanku.”
Ken Dedes pun kemudian kembali ke biliknya. Seperti kata Akuwu Tunggul Ametung ia harus merahasiakan cara yang akan diambil olehnya. Dan ia akan mematuhinya. Ken Dedes terkejut ketika seakan-akan tiba-tiba saja ia melihat bayangan matahari jatuh di atas atap biliknya. Ternyata semalam suntuk ia tidak memejamkan matanya. Kegelisahan, kecemasan dan harapan bercampur baur di dalam dirinya. Tetapi ingatan Ken Dedes segera berkisar kepada Jajar yang gemuk. Juru taman yang telah menyampaikan pesan Kebo Sindet kepadanya tentang Mahisa Agni.
Hari ini ia harus menyampaikan pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Jajar itu. Tetapi ia harus berhati-hati supaya ia tidak terdorong mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkannya. Karena itu, maka meskipun mata hari belum meloncati dedaunan yang rendah di ujung halaman istana, namun Ken Dedes telah bersiap turun kehalaman dan kemudian masuk kedalam taman. Beberapa emban menjadi heran melihat kelakuannya. Pagi-pagi benar Permaisuri itu telah turun ke taman. Biasanya Ken Dedes tidak tergesa-gesa. Apabila matahari telah tinggi, barulah ia pergi.
Dalam pada itu, kedua juru taman, kawan Jajar yang gemuk di petamanan pun menjadi semakin heran. Pagi itu kawannya yang gemuk itu pun sudah berada di taman, ketika mereka datang. Duduk bersandar pohon sawo kecik. Ia sama sekali tidak menghiraukan kedua kawan-kawannya itu. Hanya seleret ia memandanginya sambil berpikir,
“Apakah orang-orang ini yang kemarin memukul aku?“ Tetapi ia tidak berkata apapun.
Tiba-tiba Jajar yang duduk terkantuk-kantuk itu terkejut ketika ia melihat seorang emban masuk ke dalam taman. Emban itu berhenti sejenak, berpaling dan menganggukkan kepalanya.
“He.“ tiba-tiba Jajar itu berteriak tanpa sesadarnya, “siapa yang datang?” Emban itu meletakkan telunjuknya dimuka mulutnya. “Siapa he?“ Jajar itu semakin keras berteriak. Emban itu menjadi jengkel. Perlahan-lahan ia berdesis, “Akuwu. Tuanku Akuwu.”
Jajar yang gemuk itu tidak mendengar dengan jelas, tetapi ia melihat gerak mulut emban itu. Dan ia menangkap maksudnya. Yang datang adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka tiba-tiba dadanya terasa seperti dihentakkan oleh kecemasan. Kalau Akuwu mendengar ia berteriak-teriak kepada embannya, maka setidak-tidaknya kepalanya akan menjadi pening.
“Aku harus bersembunyi.” katanya di dalam hati.
Ia tahu benar tabiat Akuwu Tunggul Ametung. Kalau Akuwu itu marah, maka apapun yang ada, pasti akan menerima akibat kemarahannya. Tetapi kalau Akuwu itu tidak segera menemukannya, maka sebentar nanti ia sudah melupakannya. Jajar yang gemuk itu segera berlari terbirit-birit. Hampir terjerembab ia menyusup regol butulan dan bersembunyi di belakang dinding, seperti seekor kera yang ketakutan.
Kedua kawannya menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menjadi semakin tidak mengerti apakah yang sebenarnya terjadi atas kawannya itu. Tetapi kesimpulan yang paling mudah mereka ambil adalah, Jajar yang gemuk itu sudah menjadi gila. Sejenak kemudian, maka dua orang emban yang lain memasuki petamanan istana. Disusul oleh seorang emban tua dan Permaisuri Ken Dedes.
Ken Dedes yang segera ingin membicarakan masalah Mahisa Agni dengan Jajar yang gemuk itu berusaha menahan hatinya. la tidak mau tergesa-gesa, supaya Jajar yang gemuk itu tidak sengaja memperlambat pembicaraan. Bahkan yang pertama-tama dilakukan adalah melihat ikan emas yang berenang di kolam yang tidak terlampau luas. Seperti biasa para emban melayaninya dan berusaha bergembira bersama Permaisuri. Tetapi setiap kali, tampaklah betapa hati Permaisuri itu dibayangi oleh kegelisahannya.
Akhirnya Ken Dedes tidak ingin menunda-nundanya lagi. Kepada seorang embannya ia berkata, “He, dimana juru taman yang gemuk itu?”
“Ampun Tuan Puteri. Tadi hamba melihat Jajar yang gemuk itu berada di dalam taman ini. Tetapi, agaknya ia sedang menyembunyikan dirinya di balik regol butulan.“ Emban itu menjadi heran kenapa Permaisuri mencari juru taman yang gemuk itu.
“Kenapa ia bersembunyi?”
“Mungkin karena Tuanku datang ketaman.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Panggillah kemari. Aku ingin berbicara.”
“Hamba Tuanku.”
Emban itu pun segera pergi mencari Jajar yang gemuk. Emban itu adalah emban yang pertama-tama masuk kedalam taman. Ialah yang melihat kemana Jajar yang gemuk itu lari terbirit-birit. Tertawanya hampir tidak tertahankan lagi ketika ia melihat Jajar yang gemuk itu duduk mendekap lututnya.
“He kenapa kau?” bentak emban itu begitu ia menjengukkan kepalanya di regol butulan.
Jajar yang gemuk itu ternyata terkejut bukan kepalang, sehingga terlonjak beberapa cengkang. Tetapi ketika dilihatnya seorang emban saja yang berdiri diregol butulan, ia mengumpat lantang,
“Gila kau. Apakah kau mau aku pilin lehermu.”
Emban itu tertawa. Jawabnya, “Apakah kau akan mencobanya?”
“Pergi. Jangan ganggu aku.”
Emban itu masih tertawa. “Ah, kenapa kau menjadi ketakutan? Aku menjunjung perintah Tuanku Akuwu. Kau dipanggil menghadap.”
“He aku? Kenapa?”
Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Mungkin Akuwu mendengar kau membentak-bentak ketika aku datang. Mungkin persoalan lain.”
Tiba-tiba tubuh Jajar itu gemetar. Ia tidak sempat berpikir lagi, bahwa seandainya Akuwu yang datang ke taman, meskipun biasanya diantar oleh beberapa emban dan Permaisuri, tetapi Akuwu pasti memerintahkan seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam untuk memanggil seseorang. Bukan seorang emban.
“Cepat, sebelum Akuwu mencarimu kemari.” berkata emban itu.
“Tetapi, tetapi,“ Jajar itu tergagap.
“Cepat.“ dan emban itu tidak menunggunya.
Segera ia pergi meninggalkan Jajar yang ketakutan. Tetapi Jajar itu tidak dapat ingkar. Apabila Akuwu memanggilnya, meskipun itu tidak biasa, bahwa seorang Akuwu memanggil seorang Jajar langsung, maka ia harus menghadap. Tubuh Jajar itu menjadi semakin gemetar ketika ia sudah berdiri. Langkahnya menjadi sangat berat, dan nafasnya seakan-akan terputus di kerongkongan. Tetapi ia harus melangkah terus. Betapapun hatinya menjadi berdebar-debar.
“Oh, kepalaku pasti akan dipukulnya. Atau aku harus berbuat hal-hal yang aneh-aneh. Itu tidak akan berarti apa-apa bagiku, tetapi bagaimana dengan perjanjian yang telah aku buat dengan kawan Kuda Sempana yang berwajah mayat itu. Dan bagaimana dengan rencanaku dengan adikku yang semalam sudah aku mulai.”
Jajar itu berhenti sejenak di sisi regol butulan. Tetapi ia harus melangkah terus. Begitu ia sampai diregol, maka segera ia berlutut dan berjalan maju sambil berjongkok. Tetapi tiba-tiba mulutnya berdesis. Ia tidak melihat Akuwu Tunggul Ametung. Yang dilihatnya hanyalah Permaisuri yang duduk di atas sebuah batu hitam dikelilingi oleh beberapa orang emban. Sedang emban yang memanggilnya sedang bersimpuh menghadap Permaisuri sambil menunjuk kapada Jajar yang gemuk itu.
“Oh apakah Permaisuri yang memanggilku?” nafasnya kini menjadi semakin sesak, “Gila emban itu. Ia membuat aku hampir pingsan. Ternyata Permaisuri yang memanggil aku menghadap.”
Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, tiga kali dan beberapa kali. Ditenangkannya hatinya. Tetapi karena yang dihadapinya kini bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka justru dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Jajar itu telah melupakan kelakar emban yang hampir menghentikan detak jantungnya. Tetapi kini ia dicengkam oleh harapan yang membubung sampai keawang-awang. Permaisuri itu pasti sudah membawa tiga pangadeg perhiasan. Tanpa sesadarnya Jajar itu tersenyum sendiri. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling mencari kedua kawannya. Ia harus menyatakan kemenangannya kepada mereka, bahwa benar-benar Permaisuri memanggilnya. Tetapi ia tidak menemukannya. Perlahan-lahan Jajar itu seakan-akan merayap mendekati Ken Dades Kemudian ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sambil berkata,
“Ampun Tuanku. Hamba telah menghadap.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus berhati-hati. Ia harus mengatakan apa yang dapat dikatakan dan menyimpan yang lain supaya ia tidak melepaskan kesalahan yang akibatnya akan dapat membahayakan Mahisa Agni.
“Jajar.” berkata Permaisuri itu, “aku akan berkata langsung pada persoalannya.”
Jajar itu menundukkan wajahnya memandangi butiran-butiran batu kerikil dikakinya. Begitu besar harapan mencengkam dadanya, maka batu-batu kerikil itu seolah-olah telah berubah menjadi butiran-butiran emas murni, intan dan berlian.
“Aku akan mendapatkannya.” katanya di dalam hatinya.
Perlahan-lahan ia mendengar Permaisuri itu pun berkata. Sepatah demi sepatah. Terang dan las-lasan. Tetapi, arah dari kata-kata Permaisuri itu ternyata tidak seperti yang dikehendakinya. Permaisuri itu tidak segera menyerahkan seperti perhiasan dari tiga pengadeg. Tetapi Permaisuri itu justru mengajukan beberapa syarat penyerahan. Mahisa Agni harus dibawa serta pada batas waktu yang di tentukan.
“O.“ keringat dingin mengalir membasahi punggung Jajar yang gemuk itu. Setelah ia terbang dengan angan-angannya sampai ke ujung langit, tiba-tiba ia jatuh terbanting ke dalam dasar jurang yang paling dalam.
“Apakah kau mendengar juru taman?”
Jajar itu terbungkam. Dadanya menjadi sesak, dan untuk sejenak ia tidak dapat menjawab pertanyaan Permaisuri itu.
“Bagaimana juru taman?“ ulang Permaisuri, “apakah kau mendengar dan mengerti?”
Dengan suara yang tergetar Jajar itu berkata, “Ampun Tuan Puteri. Hamba mendengarnya. Tetapi kawan Kuda Sempana itu tidak akan bersedia melakukannya.”
“Kau harus mencoba mengatakannya. Akuwu Tunggul Ametung tidak ingin menyerahkan barang-barang itu tanpa kehadiran kakang Miliisa Agni supaya kami tidak diingkarinya.”
“Tetapi orang itu tidak akan mau diingkari pula Tuanku, seperti yang pernah dikatakannya. Apabila Mahisa Agni dibawa serta, maka itu berarti membunuh diri bagi kawan Kuda Sempana, sebab tidak ada lagi yang akan menghalangi seandainya orang itu akan ditangkap setelah menyerahkan Mahisa Agni.”
Dada Ken Dedes berdesir. Kenapa Jajar yang gemuk ini dapat menebak perhitungan Akuwu Tunggul Ametung?. Tetapi Ken Dedes tidak dapat berbuat lain. Ia pun tidak ingin menjadi sumber pemerasan yang akan dapat di lakukan oleh Kebo Sindet terus menerus, apabila Mahisa Agni belum dilepaskan. Karena itu maka katanya,
“Terserahlah kepadanya. Tebusan itu terlampau mahal. Karena itu, jaminannya harus cukup kuat, dan tidak ada kemungkinan untuk ingkar.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Sejenak nalarnya menjadi pepat dan harapannya menjadi pecah berserakan. Kalau ia tidak berhasil membawa perhiasan itu, Kebo Sindet akan mengambil jalan lain yang tidak diketahuinya.
“Nah, lakukanlah perintah Akuwu Tunggul Ametung Jajar.”
“Sulit Tuanku. Ampun, tetapi hamba kira, hal itu tidak akan dapat terjadi.”
“Bukan kau yang harus menjawab. Tetapi Kebo Sindet, Kawan Kuda Sempana itu.”
Jajar itu terbungkam. Tetapi ia memutar otaknya. Namun kini tidak ada jalan lain kecuali menjunjung titah itu. “Apapun yang akan aku lakukan.“ katanya di dalam hati. Tiba-tiba terbersit ingatan dikepala Jajar yang gemuk itu, adiknya yang dijumpainya diperjudian dengan beberapa orang kawan-kawannya, orang-orang yang liar dan hampir tidak terkendali. Orang yang hidupnya tanpa arah dan tujuan. Sejenak Jajar itu berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi tegang, dan dadanya terasa menjadi bergetar.
“Apapun yang akan aku lakukan, tetapi aku memerlukan anak-anak gila itu.“ katanya di dalam hatinya.
“Juru taman.“ terdengar suara Ken Dedes, “lakukanlah. Besok kau harus menyampaikan hasil pembicaraarimu kepadaku. Mungkin aku turun ke taman, tetapi mungkin kau akan kupanggil ke istana.”
Jajar itu mengangguk dalam-dalam, “Hamba Tuanku. Hamba hanya dapat menjunjung titah Tuanku.”
“Baiklah, sekarang pergilah kepekerjaanmu.”
Sekali lagi Jajar itu membungkuk dalam-dalam, kemudian mundur dari hadapan Permaisuri itu. Tetapi itu ia sama sekali tidak melakukan pekerjaannya. Ia kembali ketempatnya bersembunyi. Dibalik dinding di sisi regol butulan. Sambil menggeretakkan giginya, dibantingnya dirinya di atas tanah berdebu. Perlahan-lahan Jajar itu menggeram,
“Setan alas. Bukan salahku kalau Mahisa Agni itu mampus dipenggal lehernya. Atau digantung di alun-alun Tumapel oleh iblis berwajah mayat itu.”
Wajah Jajar itu menjadi kian menegang. Ia mencoba mencari jalan penjelesaian yang menguntungkannya. Dicobanya menghubungkan persoalan itu dengan adik dan kawan-kawannya. Mungkin dapat ditemukan pemecahan yang baik buatnya. Tiba-tiba Jajar itu tersenyum. Ia menemukan suatu cara yang baginya sangat menyenangkan.
“Baik. Aku akan mempergunakan anak-anak itu.“ katanya di dalam hati, “Besok aku akan menghadap Permaisuri. Kenapa aku tidak dapat mengatasi persoalan ini? Oh, ternyata bahwa aku masih mampu mempergunakan otakku yang cemerlang. Aku akan mengatakan kepada Permaisuri, bahwa Kuda Sempana dan kawannya menyetujui permintaan Permaisuri itu. Tetapi sebelum hari itu sampai, maka Kuda Sempana dan kawannya harus dimusnahkan. Salah seorang dari anak-anak gila itu akan menjadi kawan Kuda Sempana untuk menerima perhiasan itu. Tak perlu ada Mahisa Agni. Tidak perlu takut bahwa pembawa perhiasan itu akan mengenal orang yang sebenarnya sama sekali bukan Kuda Sempana dan kawannya.
Sebab begitu orang yang bertugas membawa perhiasan itu datang mudah-mudahan aku sendiri yang akan diperintahkannya, atau satu dua orang prajurit, katakanlah lima sampai sepuluh, mereka pasti akan segera disergap oleh anak-anak liar yang kerjanya memang hanya berkelahi itu. Nah selesailah persoalannya. Kami kemudian harus lari. Lari dan bersembunyi untuk beberapa lama bersama anak-anak itu. Aku yakin bahwa adikku mampu mengumpulkan kawan-kawannya lebih dari lima belas orang dihari terkkhir itu, sedang dihari sebelumnya aku memerlukan tidak lebih dari sepuluh orang untuk menyingkirkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Jajar yang gemuk itu tersenyum kini. Wajahnya tidak lagi tegang dan dadanya tidak lagi berdebaran. Perlahan-lahan ia berdiri, dan ia berjalan mondar-mandir sambil memilin kumisnya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika teringat olehnya, bahwa selama ini ternyata ada orang-orang yang tak dikenal selalu mengintipnya. Satu atau dua orang menurut perhitungannya.
“Siapakah mereka?” Jajar itu berdesis. “Tetapi mereka pun akan dimusnahkan juga oleh anak-anak gila itu.” dijawabnya sendiri pertanyaannya, “mereka tidak akan berarti apa-apa. Mungkin mereka kawan-kawan Kuda Sempana yang bertugas, mengamati keadaan.”
Jajar yang gemuk itu kini tersenyum lagi. Orang-orang itu sama sekali tidak diperhitungkannya. Yang akan dihadapinya hanyalah dihari pertama Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat, kemudian dihari berikutnya, prajurit-prajurit Tumapel yang bertugas mengawal tebusan itu.
“Tetapi bagaimanakah kalau Akuwu sendiri yang mengantarkan perhiasan itu?. Ah tidak mungkin. Bodoh sekali kalau Akuwu Tunggul Ametung sampai merendahkan dirinya membawa tebusan itu.”
Sekali lagi Jajar itu tersenyum. Tersenyum, dan hampir setiap saat ia tersenyum karena kemenangan yang bakal didapatnya. Kemenangan atas Kuda Sempana serta kawannya, dan kemenangan atas Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisurinya.
“Aku akan menjadi kaya raya. Anak-anak gila itu akan menjadi pelindungku yang setia asal aku selalu memberi makan yang cukup.”
Demikianlah kerja Jajar gemuk itu sehari-harian ia sama sekali tidak peduli apakah Permaisuri masih berada di taman atau sudah kembali ke istana. Ia sama sekali tidak menyentuh tanaman yang harus disiangi atau disiram. Tetapi kedua kawannya yang telah menganggapnya benar-benar gila itu sama sekali tidak menegurnya. Apalagi ketika mereka melihat Jajar yang gemuk itu tersenyum-senyum sendiri. Ketika matahari sudah menjadi semakin rendah di barat, maka tidak seperti biasanya, kali ini Jajar itu tergesa-gesa pulang. Ia tidak menunggu sampai gelap dan tidak lagi berjalan sambil mengumpat-umpat. Jajar yang gemuk itu melangkah ke luar regol sambil tertawa kepada para penjaga.
“He, kenapa kau tertawa?” bertanya seorang penjaga.
Jajar itu sama sekali tidak menjawab. Bukan sepantasnya prajurit rendahan menegurnya. Seorang yang kaya raya, yang memiliki kekayaan yang tiada taranya. Tiga padukuhan lengkap dengan segala isi dan sawah ladangnya. Segala macam iwen dan Raja kaya. Perhiasan emas intan dan karang kitri. Tetapi prajurit itu tidak tahu apa yang bersarang di kepala Jajar yang gemuk itu. Karena itu, maka prajurit itu pun menjadi heran. Ketika dua orang juru taman lain lewat pula di regol itu maka ia bertanya,
“He, kenapa kawanmu juru taman yang gemuk itu.”
“Aku tidak tahu. Mungkin ia menjadi gila.” jawab mereka hampir berbareng.
Prajurit itu tersenyum. Ia sependapat dengan kedua juru taman itu, bahwa Jajar yang gemuk, yang selalu tertawa-tawa saja hari ini, tetapi yang kemarin terlampau gelisah dan cemas itu, agaknya telah menjadi gila. Tetapi, Jajar yang gemuk itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja kata orang tentang dirinya. Ia sebentar lagi akan menjadi seorang yang kaya raya.
“Aku harus bertemu dengan Kuda Sempana dan kawannya hari ini.” katanya di dalam hati, “mungkin pertemuan yang terakhir kalinya. Aku harus menentukan tempat untuk bertemu besok. Tetapi iblis itu tidak akan tahu, bahwa besok adalah harinya yang terkkhir. Besok mereka akan dikirim ke neraka oleh adikku dan kawan-kawannya.”
Jajar itu masih saja tersenyum. Otaknya yang dibanggakannya, ternyata sudah tidak mampu bekerja dengan baik. Ia tidak mau membayangkan apa kira-kira yang akan terjadi di hari batas yang telah ditentukan.
“Apakah yang harus hamba katakan kepada Jajar itu Tuanku?”
“Katakan kepadanya, bahwa di hari yang kelima sejak perjanjian yang dibuatnya, yang sekarang telah berkurang dengan dua hari, permintaannya agar dipenuhinya.”
Ken Dedes terperanyat mendengar kesanggupan itu. Tanpa sesadarnya, dengan serta-merta ia bertanya, “Apakah Tuanku akan memenuhi permintaannya, menyerahkan tiga pengadeg perhiasan?”
“Jangan bodoh.” suara Akuwu mengeras, tetapi sejenak kemudian disambungnya dengan nada yang datar, “aku mengharap bahwa aku tidak akan tertipu. Ken Dedes, kau harus berkata kepada Jajar itu, bahwa di hari yang ditentukan itu, Mahisa Agni harus dibawa oleh Kebo Sindet. Itu adalah syarat penyerahan. Kalau tidak maka semuanya tidak akan dapat terjadi. Kita hanya akan menjadi bulan-bulanan. Setiap kali ia menuntut sesuatu, dan setiap kali Mahisa Agni itu tidak akan juga diserahkannya.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi kemudian ia menjadi heran, ”Jadi apakah maksud Tuanku? Setelah Kakang Mahisa Agni diserahkan, maka Tuanku akan memenuhi permintaannya?”
Ken Dedes melihat wajah Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin tegang. Dan tiba-tiba ia berkata hampir berteriak, “Aku adalah Akuwu Tumapel. Aku memegang kekuasaan tertinggi untuk menegakkan ketenteraman hidup rakyatku. Ya, Ken Dedes. Aku akan menyerahkan permintaan Kebo Sindet setelah Mahisa Agni itu diserahkan.”
Ken Dedes menjadi bingung mendengar kata-kata Akuwu yang saling bertentangan itu. Tetapi Akuwu kemudian memberikan penjelasan, “Tetapi setelah penyerahan itu selesai, setelah kita tidak mempunyai hutang lagi kepada Kebo Sindet maka aku akan menangkapnya. Aku akan membunuhnya.”
Wajah Ken Dedes menjadi berkerut-merut Apakah dengan demikian Akuwu Tunggul Ametung telah berbuat dengan jujur dalam tukar menukar ini? Tetapi sejenak kemudian Ken Dedes telah dapat menyadarinya, bahwa yang dihadapi oleh Akuwu kini adalah Kebo Sindet. Bukan orang yang dapat diajak untuk berbicara dengan baik. Bukan orang yang masih mempunyai meskipun hanya sepercik kesadaran diri hidup dalam peradaban manusia.
“Ken Dedes.” berkata Akuwu Tunggul Ametung, “kau harus dapat menyimpan rahasia ini. Kalau rahasia ini kau bocorkan, maka taruhannya adalah kakakmu, Mahisa Agni.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia ber desis, “Hamba Tuanku.”
“Pada hari yang ditentukan, Witantra akan menyiapkan sepasukan kecil prajurit untuk mengurung iblis itu supaya tidak dapat lepas. Aku tidak memerlukan terlampau banyak-orang, supaya Kebo Sindet tidak mengetahuinya. Aku sendirilah yang akan menghadapi iblis itu. Tidak ada orang lain yang akan dapat menandinginya. Mungkin orang-orang seperti Empu Gandring, atau Panji Bojong Santi, guru Witantra. Tetapi aku tidak perlu minta tolong kepada mereka itu. Aku sendiri yang akan mengakhiri perbuatan-perbuatannya yang gila itu.”
Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Ken Dedes. Tiba-tiba ia merasa matanya menjadi panas. Sejenak mereka dicengkam oleh kediaman. Dada Ken Dedes yang berdebar-debar menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasakan kesungguhan kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu. Kali ini agaknya Akuwu Tunggul Ametung akan benar-benar bertindak.
“Nah.” sejenak kemudian terdengar, Akuwu itu berkata, “kau harus membantu aku. Kau panggil Jajar itu, dan kau beritahukan apa yang harus dilakukan. Tetapi awas, jangan sampai rencana ini didengar oleh siapa pun. Emban yang selalu berada di dekatmu pun tidak boleh mendengarnya.”
Ken Dedes kemudian membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Dengan suara yang dalam ia menjawab, “Hamba Tuanku. Hamba akan melakukan segala titah. Hamba akan mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya sebagai pernyataan terima kasih hamba yang tiada taranya. Tetapi.…” suara Ken Dedes terputus ditengah.
“Tetapi.” Akuwu mengulangi.
“Tetapi, apakah tidak ada orang lain yang dapat Tuanku perintahkan untuk menangkap Kebo Sindet?” suara Ken Dedes menjadi semakin perlahan-lahan, “Kenapa mesti Tuanku sendiri.”
“Tidak. Tidak ada orang lain. Tetapi kenapa jika aku sendiri yang melakukannya?”
“Hamba menjadi cemas Tuanku, seperti kecemasan yang selama ini pernah hamba alami.”
“Oh.” tiba-tiba terasa sesuatu yang sejuk menyentuh dada Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tegang itu. Karena itu maka darahnya pun terasa berangsur menjadi dingin. Ternyata Ken Dedes mencemaskannya pula. Maka jawabnya, “Jangan cemas. Aku akan mengatasi keadaan.”
“Tetapi Tuanku, Kebo Sindet adalah orang yang licik seperti pernah Tuanku katakan.”
“Jangan takut.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya. Kini ia telah di kejar pula oleh kecemasan yang lain. Ia tidak dapat melepaskan diri dari keadaannya. Ia adalah seorang isteri. Betapapun juga, apabila Akuwu Tunggul Ametung benar-benar berhasrat menangani sendiri penangkapan Kebo Sindet, maka kepergiannya itu akan terasa juga berat dihatinya.
Permaisuri itu kini berdiri di sudut yang sulit. Kalau ia membiarkan kakaknya Mahisa Agni, maka ia akan selalu dikejar oleh perasaan bersalah. Mahisa Agni, selain satu-satunya keluarganya yang masih ada, meskipun bukan kakak kandungnya, juga seseorang yang telah melepaskannya dari bencana. Tidak hanya satu kali, tetapi beberapa kali. Tetapi apakah ia akan dapat melepaskan suaminya pergi dengan tanpa mencemaskannya, karena ia tahu siapakah yang akan dihadapinya? Apakah ia harus memilih salah satu dari keduanya? Biar sajalah Mahisa Agni hilang dan tidak perlu diketemukan tetapi Akuwu tidak pergi menghadapi Kebo Sindet, atau biar saja apa yang akan terjadi dengan Akuwu Tunggul Ametung, asalkan Mahisa Agni dapat dibebaskan?
Tetapi kemungkinan yang lain dapat saja terjadi. Yang paling pahit baginya adalah apabila Akuwu Tunggul Ametung gagal, bahkan ia sendiri terpaksa mengalami bencana sedang Mahisa Agni tidak dapat dilepaskan.
“Tidak.” Permaisuri itu mencoba menenteramkan dirinya sendiri, “Akuwu akan berhasil membebaskan Kakang Mahisa Agni dan sekaligus berhasil menangkap Kebo Sindet.”
Ken Dedes itu terkejut ketika ia mendengar suara Akuwu Tunggul Ametung perlahan-lahan, “Sudahlah Ken Dedes. Jangan kau risaukan persoalan ini. Aku sudah mendapat gambaran menurut perhitunganku, bahwa aku akan berhasil. Aku akan membawa beberapa orang prajurit pengawal pilihan. Dan aku mempunyai keyakinan, bahwa betapa saktinya Kebo Sindet, ia tidak akan dapat melawan pusakaku. Ia akan hancur menjadi debu apabila ia mencoba melawan.” Ken Dedes masih belum menjawab.
“Sekarang tenteramkan hatimu. Aku mengharap akan berhasil. Marilah kita berdoa supaya usaha ini mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.”
Perlahan-lahan Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kini ia tidak dapat menahan titik air matanya Dengan tersendat-sendat ia menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Tidurlah.” desis Akuwu itu kemudian. “Lupakan semuanya, supaya kau dapat tidur nyenyak.”
“Hamba akan mencoba Tuanku.”
“Jangan lupa. Besok kau panggil Jajar itu. Katakan, bahwa permintaan Kebo Sindet akan dipenuhi dibatas terakhir. Tetapi Mahisa Agni harus dibawanya serta sebagai syarat penyerahan. Aku mengharap Kebo Sindet tidak akan berkeberatan karena ia memerlukan perhiasan itu.” suara Akuwu tiba-tiba merendah, “kalau cara ini gagal karena Kebo Sindet tidak bersedia, maka aku akan mengambil cara terkkhir. Menangkap Kebo Sindet itu lebih dahulu, baru mencari Mahisa Agni.”
Ken Dedes menundukkan kepalanya dalam-dalam, sambil berkata, “Hamba akan membenarkan setiap cara yang akan Tuanku tempuh. Sebab hamba sendiri tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukan. Tetapi hamba telah mengucapkan beribu terima kasih, karena Tuanku bersungguh-sungguh ingin membebaskan satu-satunya sisa keluarga hamba.”
“Sekarang tidurlah.” berkata Akuwu itu kemudian.
“Hamba Tuanku.”
Ken Dedes pun kemudian kembali ke biliknya. Seperti kata Akuwu Tunggul Ametung ia harus merahasiakan cara yang akan diambil olehnya. Dan ia akan mematuhinya. Ken Dedes terkejut ketika seakan-akan tiba-tiba saja ia melihat bayangan matahari jatuh di atas atap biliknya. Ternyata semalam suntuk ia tidak memejamkan matanya. Kegelisahan, kecemasan dan harapan bercampur baur di dalam dirinya. Tetapi ingatan Ken Dedes segera berkisar kepada Jajar yang gemuk. Juru taman yang telah menyampaikan pesan Kebo Sindet kepadanya tentang Mahisa Agni.
Hari ini ia harus menyampaikan pesan Akuwu Tunggul Ametung kepada Jajar itu. Tetapi ia harus berhati-hati supaya ia tidak terdorong mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkannya. Karena itu, maka meskipun mata hari belum meloncati dedaunan yang rendah di ujung halaman istana, namun Ken Dedes telah bersiap turun kehalaman dan kemudian masuk kedalam taman. Beberapa emban menjadi heran melihat kelakuannya. Pagi-pagi benar Permaisuri itu telah turun ke taman. Biasanya Ken Dedes tidak tergesa-gesa. Apabila matahari telah tinggi, barulah ia pergi.
Dalam pada itu, kedua juru taman, kawan Jajar yang gemuk di petamanan pun menjadi semakin heran. Pagi itu kawannya yang gemuk itu pun sudah berada di taman, ketika mereka datang. Duduk bersandar pohon sawo kecik. Ia sama sekali tidak menghiraukan kedua kawan-kawannya itu. Hanya seleret ia memandanginya sambil berpikir,
“Apakah orang-orang ini yang kemarin memukul aku?“ Tetapi ia tidak berkata apapun.
Tiba-tiba Jajar yang duduk terkantuk-kantuk itu terkejut ketika ia melihat seorang emban masuk ke dalam taman. Emban itu berhenti sejenak, berpaling dan menganggukkan kepalanya.
“He.“ tiba-tiba Jajar itu berteriak tanpa sesadarnya, “siapa yang datang?” Emban itu meletakkan telunjuknya dimuka mulutnya. “Siapa he?“ Jajar itu semakin keras berteriak. Emban itu menjadi jengkel. Perlahan-lahan ia berdesis, “Akuwu. Tuanku Akuwu.”
Jajar yang gemuk itu tidak mendengar dengan jelas, tetapi ia melihat gerak mulut emban itu. Dan ia menangkap maksudnya. Yang datang adalah Akuwu Tunggul Ametung. Karena itu maka tiba-tiba dadanya terasa seperti dihentakkan oleh kecemasan. Kalau Akuwu mendengar ia berteriak-teriak kepada embannya, maka setidak-tidaknya kepalanya akan menjadi pening.
“Aku harus bersembunyi.” katanya di dalam hati.
Ia tahu benar tabiat Akuwu Tunggul Ametung. Kalau Akuwu itu marah, maka apapun yang ada, pasti akan menerima akibat kemarahannya. Tetapi kalau Akuwu itu tidak segera menemukannya, maka sebentar nanti ia sudah melupakannya. Jajar yang gemuk itu segera berlari terbirit-birit. Hampir terjerembab ia menyusup regol butulan dan bersembunyi di belakang dinding, seperti seekor kera yang ketakutan.
Kedua kawannya menjadi heran melihat sikapnya. Mereka menjadi semakin tidak mengerti apakah yang sebenarnya terjadi atas kawannya itu. Tetapi kesimpulan yang paling mudah mereka ambil adalah, Jajar yang gemuk itu sudah menjadi gila. Sejenak kemudian, maka dua orang emban yang lain memasuki petamanan istana. Disusul oleh seorang emban tua dan Permaisuri Ken Dedes.
Ken Dedes yang segera ingin membicarakan masalah Mahisa Agni dengan Jajar yang gemuk itu berusaha menahan hatinya. la tidak mau tergesa-gesa, supaya Jajar yang gemuk itu tidak sengaja memperlambat pembicaraan. Bahkan yang pertama-tama dilakukan adalah melihat ikan emas yang berenang di kolam yang tidak terlampau luas. Seperti biasa para emban melayaninya dan berusaha bergembira bersama Permaisuri. Tetapi setiap kali, tampaklah betapa hati Permaisuri itu dibayangi oleh kegelisahannya.
Akhirnya Ken Dedes tidak ingin menunda-nundanya lagi. Kepada seorang embannya ia berkata, “He, dimana juru taman yang gemuk itu?”
“Ampun Tuan Puteri. Tadi hamba melihat Jajar yang gemuk itu berada di dalam taman ini. Tetapi, agaknya ia sedang menyembunyikan dirinya di balik regol butulan.“ Emban itu menjadi heran kenapa Permaisuri mencari juru taman yang gemuk itu.
“Kenapa ia bersembunyi?”
“Mungkin karena Tuanku datang ketaman.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Panggillah kemari. Aku ingin berbicara.”
“Hamba Tuanku.”
Emban itu pun segera pergi mencari Jajar yang gemuk. Emban itu adalah emban yang pertama-tama masuk kedalam taman. Ialah yang melihat kemana Jajar yang gemuk itu lari terbirit-birit. Tertawanya hampir tidak tertahankan lagi ketika ia melihat Jajar yang gemuk itu duduk mendekap lututnya.
“He kenapa kau?” bentak emban itu begitu ia menjengukkan kepalanya di regol butulan.
Jajar yang gemuk itu ternyata terkejut bukan kepalang, sehingga terlonjak beberapa cengkang. Tetapi ketika dilihatnya seorang emban saja yang berdiri diregol butulan, ia mengumpat lantang,
“Gila kau. Apakah kau mau aku pilin lehermu.”
Emban itu tertawa. Jawabnya, “Apakah kau akan mencobanya?”
“Pergi. Jangan ganggu aku.”
Emban itu masih tertawa. “Ah, kenapa kau menjadi ketakutan? Aku menjunjung perintah Tuanku Akuwu. Kau dipanggil menghadap.”
“He aku? Kenapa?”
Emban itu menggeleng, “Aku tidak tahu. Mungkin Akuwu mendengar kau membentak-bentak ketika aku datang. Mungkin persoalan lain.”
Tiba-tiba tubuh Jajar itu gemetar. Ia tidak sempat berpikir lagi, bahwa seandainya Akuwu yang datang ke taman, meskipun biasanya diantar oleh beberapa emban dan Permaisuri, tetapi Akuwu pasti memerintahkan seorang prajurit atau seorang Pelayan Dalam untuk memanggil seseorang. Bukan seorang emban.
“Cepat, sebelum Akuwu mencarimu kemari.” berkata emban itu.
“Tetapi, tetapi,“ Jajar itu tergagap.
“Cepat.“ dan emban itu tidak menunggunya.
Segera ia pergi meninggalkan Jajar yang ketakutan. Tetapi Jajar itu tidak dapat ingkar. Apabila Akuwu memanggilnya, meskipun itu tidak biasa, bahwa seorang Akuwu memanggil seorang Jajar langsung, maka ia harus menghadap. Tubuh Jajar itu menjadi semakin gemetar ketika ia sudah berdiri. Langkahnya menjadi sangat berat, dan nafasnya seakan-akan terputus di kerongkongan. Tetapi ia harus melangkah terus. Betapapun hatinya menjadi berdebar-debar.
“Oh, kepalaku pasti akan dipukulnya. Atau aku harus berbuat hal-hal yang aneh-aneh. Itu tidak akan berarti apa-apa bagiku, tetapi bagaimana dengan perjanjian yang telah aku buat dengan kawan Kuda Sempana yang berwajah mayat itu. Dan bagaimana dengan rencanaku dengan adikku yang semalam sudah aku mulai.”
Jajar itu berhenti sejenak di sisi regol butulan. Tetapi ia harus melangkah terus. Begitu ia sampai diregol, maka segera ia berlutut dan berjalan maju sambil berjongkok. Tetapi tiba-tiba mulutnya berdesis. Ia tidak melihat Akuwu Tunggul Ametung. Yang dilihatnya hanyalah Permaisuri yang duduk di atas sebuah batu hitam dikelilingi oleh beberapa orang emban. Sedang emban yang memanggilnya sedang bersimpuh menghadap Permaisuri sambil menunjuk kapada Jajar yang gemuk itu.
“Oh apakah Permaisuri yang memanggilku?” nafasnya kini menjadi semakin sesak, “Gila emban itu. Ia membuat aku hampir pingsan. Ternyata Permaisuri yang memanggil aku menghadap.”
Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali, tiga kali dan beberapa kali. Ditenangkannya hatinya. Tetapi karena yang dihadapinya kini bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka justru dadanya menjadi semakin berdebar-debar. Jajar itu telah melupakan kelakar emban yang hampir menghentikan detak jantungnya. Tetapi kini ia dicengkam oleh harapan yang membubung sampai keawang-awang. Permaisuri itu pasti sudah membawa tiga pangadeg perhiasan. Tanpa sesadarnya Jajar itu tersenyum sendiri. Ditebarkannya pandangan matanya berkeliling mencari kedua kawannya. Ia harus menyatakan kemenangannya kepada mereka, bahwa benar-benar Permaisuri memanggilnya. Tetapi ia tidak menemukannya. Perlahan-lahan Jajar itu seakan-akan merayap mendekati Ken Dades Kemudian ditundukkannya kepalanya dalam-dalam sambil berkata,
“Ampun Tuanku. Hamba telah menghadap.”
Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia harus berhati-hati. Ia harus mengatakan apa yang dapat dikatakan dan menyimpan yang lain supaya ia tidak melepaskan kesalahan yang akibatnya akan dapat membahayakan Mahisa Agni.
“Jajar.” berkata Permaisuri itu, “aku akan berkata langsung pada persoalannya.”
Jajar itu menundukkan wajahnya memandangi butiran-butiran batu kerikil dikakinya. Begitu besar harapan mencengkam dadanya, maka batu-batu kerikil itu seolah-olah telah berubah menjadi butiran-butiran emas murni, intan dan berlian.
“Aku akan mendapatkannya.” katanya di dalam hatinya.
Perlahan-lahan ia mendengar Permaisuri itu pun berkata. Sepatah demi sepatah. Terang dan las-lasan. Tetapi, arah dari kata-kata Permaisuri itu ternyata tidak seperti yang dikehendakinya. Permaisuri itu tidak segera menyerahkan seperti perhiasan dari tiga pengadeg. Tetapi Permaisuri itu justru mengajukan beberapa syarat penyerahan. Mahisa Agni harus dibawa serta pada batas waktu yang di tentukan.
“O.“ keringat dingin mengalir membasahi punggung Jajar yang gemuk itu. Setelah ia terbang dengan angan-angannya sampai ke ujung langit, tiba-tiba ia jatuh terbanting ke dalam dasar jurang yang paling dalam.
“Apakah kau mendengar juru taman?”
Jajar itu terbungkam. Dadanya menjadi sesak, dan untuk sejenak ia tidak dapat menjawab pertanyaan Permaisuri itu.
“Bagaimana juru taman?“ ulang Permaisuri, “apakah kau mendengar dan mengerti?”
Dengan suara yang tergetar Jajar itu berkata, “Ampun Tuan Puteri. Hamba mendengarnya. Tetapi kawan Kuda Sempana itu tidak akan bersedia melakukannya.”
“Kau harus mencoba mengatakannya. Akuwu Tunggul Ametung tidak ingin menyerahkan barang-barang itu tanpa kehadiran kakang Miliisa Agni supaya kami tidak diingkarinya.”
“Tetapi orang itu tidak akan mau diingkari pula Tuanku, seperti yang pernah dikatakannya. Apabila Mahisa Agni dibawa serta, maka itu berarti membunuh diri bagi kawan Kuda Sempana, sebab tidak ada lagi yang akan menghalangi seandainya orang itu akan ditangkap setelah menyerahkan Mahisa Agni.”
Dada Ken Dedes berdesir. Kenapa Jajar yang gemuk ini dapat menebak perhitungan Akuwu Tunggul Ametung?. Tetapi Ken Dedes tidak dapat berbuat lain. Ia pun tidak ingin menjadi sumber pemerasan yang akan dapat di lakukan oleh Kebo Sindet terus menerus, apabila Mahisa Agni belum dilepaskan. Karena itu maka katanya,
“Terserahlah kepadanya. Tebusan itu terlampau mahal. Karena itu, jaminannya harus cukup kuat, dan tidak ada kemungkinan untuk ingkar.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Sejenak nalarnya menjadi pepat dan harapannya menjadi pecah berserakan. Kalau ia tidak berhasil membawa perhiasan itu, Kebo Sindet akan mengambil jalan lain yang tidak diketahuinya.
“Nah, lakukanlah perintah Akuwu Tunggul Ametung Jajar.”
“Sulit Tuanku. Ampun, tetapi hamba kira, hal itu tidak akan dapat terjadi.”
“Bukan kau yang harus menjawab. Tetapi Kebo Sindet, Kawan Kuda Sempana itu.”
Jajar itu terbungkam. Tetapi ia memutar otaknya. Namun kini tidak ada jalan lain kecuali menjunjung titah itu. “Apapun yang akan aku lakukan.“ katanya di dalam hati. Tiba-tiba terbersit ingatan dikepala Jajar yang gemuk itu, adiknya yang dijumpainya diperjudian dengan beberapa orang kawan-kawannya, orang-orang yang liar dan hampir tidak terkendali. Orang yang hidupnya tanpa arah dan tujuan. Sejenak Jajar itu berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi tegang, dan dadanya terasa menjadi bergetar.
“Apapun yang akan aku lakukan, tetapi aku memerlukan anak-anak gila itu.“ katanya di dalam hatinya.
“Juru taman.“ terdengar suara Ken Dedes, “lakukanlah. Besok kau harus menyampaikan hasil pembicaraarimu kepadaku. Mungkin aku turun ke taman, tetapi mungkin kau akan kupanggil ke istana.”
Jajar itu mengangguk dalam-dalam, “Hamba Tuanku. Hamba hanya dapat menjunjung titah Tuanku.”
“Baiklah, sekarang pergilah kepekerjaanmu.”
Sekali lagi Jajar itu membungkuk dalam-dalam, kemudian mundur dari hadapan Permaisuri itu. Tetapi itu ia sama sekali tidak melakukan pekerjaannya. Ia kembali ketempatnya bersembunyi. Dibalik dinding di sisi regol butulan. Sambil menggeretakkan giginya, dibantingnya dirinya di atas tanah berdebu. Perlahan-lahan Jajar itu menggeram,
“Setan alas. Bukan salahku kalau Mahisa Agni itu mampus dipenggal lehernya. Atau digantung di alun-alun Tumapel oleh iblis berwajah mayat itu.”
Wajah Jajar itu menjadi kian menegang. Ia mencoba mencari jalan penjelesaian yang menguntungkannya. Dicobanya menghubungkan persoalan itu dengan adik dan kawan-kawannya. Mungkin dapat ditemukan pemecahan yang baik buatnya. Tiba-tiba Jajar itu tersenyum. Ia menemukan suatu cara yang baginya sangat menyenangkan.
“Baik. Aku akan mempergunakan anak-anak itu.“ katanya di dalam hati, “Besok aku akan menghadap Permaisuri. Kenapa aku tidak dapat mengatasi persoalan ini? Oh, ternyata bahwa aku masih mampu mempergunakan otakku yang cemerlang. Aku akan mengatakan kepada Permaisuri, bahwa Kuda Sempana dan kawannya menyetujui permintaan Permaisuri itu. Tetapi sebelum hari itu sampai, maka Kuda Sempana dan kawannya harus dimusnahkan. Salah seorang dari anak-anak gila itu akan menjadi kawan Kuda Sempana untuk menerima perhiasan itu. Tak perlu ada Mahisa Agni. Tidak perlu takut bahwa pembawa perhiasan itu akan mengenal orang yang sebenarnya sama sekali bukan Kuda Sempana dan kawannya.
Sebab begitu orang yang bertugas membawa perhiasan itu datang mudah-mudahan aku sendiri yang akan diperintahkannya, atau satu dua orang prajurit, katakanlah lima sampai sepuluh, mereka pasti akan segera disergap oleh anak-anak liar yang kerjanya memang hanya berkelahi itu. Nah selesailah persoalannya. Kami kemudian harus lari. Lari dan bersembunyi untuk beberapa lama bersama anak-anak itu. Aku yakin bahwa adikku mampu mengumpulkan kawan-kawannya lebih dari lima belas orang dihari terkkhir itu, sedang dihari sebelumnya aku memerlukan tidak lebih dari sepuluh orang untuk menyingkirkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Jajar yang gemuk itu tersenyum kini. Wajahnya tidak lagi tegang dan dadanya tidak lagi berdebaran. Perlahan-lahan ia berdiri, dan ia berjalan mondar-mandir sambil memilin kumisnya. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti ketika teringat olehnya, bahwa selama ini ternyata ada orang-orang yang tak dikenal selalu mengintipnya. Satu atau dua orang menurut perhitungannya.
“Siapakah mereka?” Jajar itu berdesis. “Tetapi mereka pun akan dimusnahkan juga oleh anak-anak gila itu.” dijawabnya sendiri pertanyaannya, “mereka tidak akan berarti apa-apa. Mungkin mereka kawan-kawan Kuda Sempana yang bertugas, mengamati keadaan.”
Jajar yang gemuk itu kini tersenyum lagi. Orang-orang itu sama sekali tidak diperhitungkannya. Yang akan dihadapinya hanyalah dihari pertama Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat, kemudian dihari berikutnya, prajurit-prajurit Tumapel yang bertugas mengawal tebusan itu.
“Tetapi bagaimanakah kalau Akuwu sendiri yang mengantarkan perhiasan itu?. Ah tidak mungkin. Bodoh sekali kalau Akuwu Tunggul Ametung sampai merendahkan dirinya membawa tebusan itu.”
Sekali lagi Jajar itu tersenyum. Tersenyum, dan hampir setiap saat ia tersenyum karena kemenangan yang bakal didapatnya. Kemenangan atas Kuda Sempana serta kawannya, dan kemenangan atas Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisurinya.
“Aku akan menjadi kaya raya. Anak-anak gila itu akan menjadi pelindungku yang setia asal aku selalu memberi makan yang cukup.”
Demikianlah kerja Jajar gemuk itu sehari-harian ia sama sekali tidak peduli apakah Permaisuri masih berada di taman atau sudah kembali ke istana. Ia sama sekali tidak menyentuh tanaman yang harus disiangi atau disiram. Tetapi kedua kawannya yang telah menganggapnya benar-benar gila itu sama sekali tidak menegurnya. Apalagi ketika mereka melihat Jajar yang gemuk itu tersenyum-senyum sendiri. Ketika matahari sudah menjadi semakin rendah di barat, maka tidak seperti biasanya, kali ini Jajar itu tergesa-gesa pulang. Ia tidak menunggu sampai gelap dan tidak lagi berjalan sambil mengumpat-umpat. Jajar yang gemuk itu melangkah ke luar regol sambil tertawa kepada para penjaga.
“He, kenapa kau tertawa?” bertanya seorang penjaga.
Jajar itu sama sekali tidak menjawab. Bukan sepantasnya prajurit rendahan menegurnya. Seorang yang kaya raya, yang memiliki kekayaan yang tiada taranya. Tiga padukuhan lengkap dengan segala isi dan sawah ladangnya. Segala macam iwen dan Raja kaya. Perhiasan emas intan dan karang kitri. Tetapi prajurit itu tidak tahu apa yang bersarang di kepala Jajar yang gemuk itu. Karena itu, maka prajurit itu pun menjadi heran. Ketika dua orang juru taman lain lewat pula di regol itu maka ia bertanya,
“He, kenapa kawanmu juru taman yang gemuk itu.”
“Aku tidak tahu. Mungkin ia menjadi gila.” jawab mereka hampir berbareng.
Prajurit itu tersenyum. Ia sependapat dengan kedua juru taman itu, bahwa Jajar yang gemuk, yang selalu tertawa-tawa saja hari ini, tetapi yang kemarin terlampau gelisah dan cemas itu, agaknya telah menjadi gila. Tetapi, Jajar yang gemuk itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja kata orang tentang dirinya. Ia sebentar lagi akan menjadi seorang yang kaya raya.
“Aku harus bertemu dengan Kuda Sempana dan kawannya hari ini.” katanya di dalam hati, “mungkin pertemuan yang terakhir kalinya. Aku harus menentukan tempat untuk bertemu besok. Tetapi iblis itu tidak akan tahu, bahwa besok adalah harinya yang terkkhir. Besok mereka akan dikirim ke neraka oleh adikku dan kawan-kawannya.”
Jajar itu masih saja tersenyum. Otaknya yang dibanggakannya, ternyata sudah tidak mampu bekerja dengan baik. Ia tidak mau membayangkan apa kira-kira yang akan terjadi di hari batas yang telah ditentukan.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar