MENU

Ads

Jumat, 06 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 005

“Aku tidak bertanya akhir dari perkelahian itu,” potong ayahnya, “tetapi kenapa perkelahian itu mulai?”

Wiraprana pun menjadi ragu-ragu. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk dalam-dalam. Kemudian ketika ia melayangkan pandangannya ke atas tanggul, dilihatnya beberapa kepala gadis-gadis tampak berderet-deret mengintip. Dan tiba-tiba dilihatnya Ken Dedes masih berdiri menggigil di tebing sungai. Orang-orang yang berdiri memagari itu pun menjadi gelisah. Beberapa orang sebenarnya telah mendengar apa yang sebenarnya terjadi dari anak-anak mereka namun ketika di tempat itu hadir pula Empu Purwa maka mereka pun menjadi ragu-ragu pula untuk mengatakannya.

Tetapi sesaat kemudian Ki Buyut itu pun mendesak pula, “Wiraprana, tidakkah kau bisa berkata?”

Wiraprana menarik nafas dalam-dalam dan ketika ia sudah tidak dapat mengelak lagi, maka katanya, “Ayah, bertanyalah kepada mereka yang menceritakan perkelahian itu. Itulah mereka, anak-anak yang tadi sedang mencuci pakaian di belumbang ini. Mereka kini sedang mengintip apa pula yang akan terjadi di sini.”

Mendengar jawaban itu maka semua mata tiba-tiba bergerak ke atas tanggul. Sehingga tampak pulalah oleh mereka itu, kepala-kepala gadis yang sedang mengintip dengan keingintahuan, bagaimanakah akhir dari peristiwa itu.

Ken Dedes yang melihat semua mata memandang ke arah tanggul di atasnya, merasa seolah-olah mata itu memandangnya dengan penuh hinaan dan penyesalan. Ia merasa bahwa dirinya sebab dari keributan itu. Karena itu maka perasaan bersalah, malu, sesal, dan segala macam bercampur-baur di dalam dadanya. Alangkah rendah martabatnya sehingga beberapa orang laki-laki terpaksa berkelahi karenanya. Karena itu maka tiba-tiba perasaan yang bergolak di dadanya itu tak dapat dibendungnya lagi sehingga tiba-tiba gadis itu berlari menghambur sambil berteriak,

“Ayah, akulah yang bersalah.”

Empu Purwa terkejut mendengar teriakan itu. Ketika ia melihat anaknya berlari kepadanya, ia pun menyongsongnya. Demikian Ken Dedes sampai kepada ayahnya itu maka dengan serta-merta ia menjatuhkan dirinya sambil menangis sejadi-jadinya. Katanya di sela-sela tangis itu,

“Ayah. Akulah sumber dari malapetaka yang menimpa padukuhan kita yang damai. Karena itu Ayah, betapa hinanya aku maka adalah lebih baik bagiku kalau Ayah sudi membunuhku. Biarlah aku mati di hadapan penduduk Panawijen yang tenteram ini untuk menebus kesalahan dan arang yang mencoreng di wajah keluarga.”

“Ken Dedes,” sahut ayahnya, “kenapakah kau ini?”

“Bunuh saja aku, Ayah,” tangis gadis itu.

Empu Purwa kemudian tegak seperti patung. Ditatapnya rambut anaknya yang panjang berombak, terurai menutup punggungnya.

“Bangunlah anakku,” bisiknya, “katakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku adalah ayahmu.”

“Tidak!” teriak Ken Dedes, “Bunuh aku, Ayah.”

Ki Buyut Panawijen pun kemudian mendekatinya pula. Dengan lembut ia berkata, “Ken Dedes, jangan menyalahkan diri sendiri. Berkatalah apa yang terjadi.”

Mula-mula gadis itu tidak juga mau berkata. Tetapi lambat laun, setelah beberapa orang membujuknya, Ken Dedes pun mengangkat wajahnya, memandang ayahnya dengan sayu. Katanya,

“Apakah ada gunanya?”

“Berkatalah, supaya kami mendengar,” sahut Ki Buyut Panawijen.

Sebenarnya Ki Buyut itu pun telah dapat menduga, apa sebabnya maka tiba-tiba saja pedukuhannya yang tenteram itu diributkan oleh sebuah perkelahian yang mengerikan. Dan tiba-tiba pula ia pun menjadi malu. Satu di antara mereka yang berkelahi adalah anaknya.

“Hem,” pikirnya. “Adakah anakku berkelahi karena seorang gadis?”



Ken Dedes pun kemudian bercerita terbata-bata. Dikatakannya apa yang telah terjadi, sejak awal sampai orang-orang itu melihat apa yang terjadi di tepi sungai itu. Kuda Sempana pun mendengar kisah itu pula. Setiap kata yang diucapkan oleh gadis itu, serasa sebuah pukulan yang menampar dadanya. Diamat-amatnya setiap wajah dari orang-orang Panawijen. Terbayanglah pada wajah-wajah itu, perasaan sesal dan marah. Kuda Sempana tahu pasti bahwa orang-orang itu pasti akan menyalahkannya. Lalu apakah yang akan mereka lakukan? Nafas anak muda itu pun menjadi semakin cepat mengalir, dan karena itu maka digenggamnya hulu kerisnya semakin erat.

Tetapi kemudian Kuda Sempana itu pun sadar bahwa di hadapannya berdiri Mahisa Agni. Ketika dipandangnya wajah anak muda itu, hati Kuda Sempana berdesir. Dilihatnya Mahisa Agni pun telah bersiap pula.

“Hem,” geram Ki Buyut Panawijen setelah Ken Dedes selesai berbicara. Dipandanginya wajah Kuda Sempana yang kaku tegang. Kemudian terdengar Buyut Panawijen itu berkata, “Angger Kuda Sempana. Benarkah cerita putri Empu Purwa itu?”

Kuda Sempana mengerling ke setiap wajah laki-laki Panawijen yang berdiri melingkar di sekitarnya. Kemudian disambarnya pula wajah Mahisa Agni dan Wiraprana dengan sudut pandangannya. Kuda Sempana tak dapat mengelak lagi. Di hadapannya berdiri beberapa orang saksi. Selain Wiraprana dan Mahisa Agni, dilihatnya pula beberapa orang gadis berderet-deret di atas tanggul. Sehingga karena itu terpaksa ia mengangguk sambil berkata,

“Ya, Ki Buyut. Tetapi aku terdesak oleh keadaan. Aku telah mencoba datang ke rumah Ken Dedes. Tetapi gadis itu tak ada di rumah,”

“Adakah demikian adat di pedukuhan kita?” desak Ki Buyut, “Kenapa Angger Kuda Sempana tidak mencari ayahnya. Bahkan seharusnya dengan sebuah upacara?”

“Aku ingin mendapat kepastian sedangkan waktuku terlalu pendek. Besok aku harus terus kembali ke Tumapel,” jawab anak muda itu.

“Di pinggir sungai?” bertanya Ki Buyut.

Kuda Sempana tak dapat menjawab. Tetapi hatinya mengumpat. Hampir saja ia menyebut ada yang akan ditempuhnya. Melarikan Ken Dedes dan menyembunyikannya sampai terdapat keturunan daripadanya. Tetapi niat itu urung. Akibat dari adat itu pun tak akan mau ditanggungkan. Sebab bila niat itu gagal dan keluarga gadis yang dilarikan itu menuntutnya, ia akan dapat perlakuan yang mengerikan. Mati dirampok orang seperti seekor harimau yang masuk ke dalam padukuhan.

Karena Kuda Sempana tidak menjawab maka sejenak suasana menjadi sepi. Yang terdengar hanyalah gemericik air yang mengalir dan jatuh berderai dari atas bendungan. Bulatan demi bulatan melingkar di wajah air yang jernih itu, semakin lama semakin besar. Dan kemudian pecah membentur tepian. Yang satu disusul dengan yang lain. Tak henti-hentinya sejak bendungan itu selesai dibuat beberapa tahun lampau.

Di dalam kepala Ki Buyut Panawijen itu pun melingkar-lingkar pula berbagai pertanyaan. Tanpa terucapkan namun ia tahu apa yang akan ditempuh oleh Kuda Sempana. Dikenalnya anak itu sebagai anak yang cenderung menuruti kemauan sendiri. Karena itu tiba-tiba ia berdesis,

“Sayang. Sebenarnya kami, penduduk dari pedukuhan ini, merasa bangga bahwa seorang anaknya telah berhasil merebut hati sang Akuwu Tumapel sehingga mendapat tempat yang baik di sisinya. Kepercayaan itu sebenarnya kami rasakan sebagai suatu kepercayaan pula buat kami, penduduk Panawijen yang sepi. Angger Kuda Sempana akan dapat menjadi tempat kami untuk berteduh jika hujan turun dan bernaung jika terik matahari membakar tubuh. Tetapi sayang. Sayang….” Penyesalan yang dalam membayang di wajah Buyut Panawijen itu.

Tak seorang pun menyambung kata-kata itu. Mereka tinggal menunggu apa yang akan dilakukan oleh pimpinan pedukuhan itu. Namun timbullah di dalam setiap kepala, keragu-raguan untuk berbuat sesuatu. Pikiran itu bertolak dari pendapat yang sama pula. Kuda Sempana adalah pengawal dalam Akuwu Tumapel. Sedang setiap orang tahu sifat dan tabiat yang aneh dari Tunggul Ametung itu. Tunggul Ametung dapat berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang Akuwu namun ia dapat pula berbuat sekejam-kejamnya. Akuwu itu benar-benar orang yang keras hati, sekeras batu akik namun pada suatu saat hati itu dapat selunak kapas.

Karena itu tak seorang pun dapat membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Tunggul Ametung jika salah seorang pengawalnya mengalami perlakuan yang jelek di kampung halamannya. Meskipun demikian, adat harus ditegakkan. Meskipun Kuda Sempana itu senapati sekali pun, seharusnya ia mendapat perlakuan yang sama apabila telah dilakukan sesuatu kesalahan. Dan semuanya itu tergantung kepada Empu Purwa, ayah dari gadis yang akan dilarikan itu.

Maka akhirnya semua mata pun tertuju kepadanya. Apakah yang akan dikatakan oleh orang tua itu. Apabila orang tua itu menganggap bahwa Kuda Sempana telah melarikan anak gadisnya dan maksud itu dapat dicegah maka ia dapat menuntut hukuman atas anak muda itu.

Kuda Sempana pun sadar akan hal itu. Namun telah bulat tekad di dalam hatinya, bahwa wanita, pusaka, dan nyawanya tak berbeda nilainya. Karena itu maka ia pun telah bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan. Menghadapi Mahisa Agni sekali pun meskipun akan berakibat maut baginya.

Empu Purwa menyadari keadaannya. Ditatapnya setiap wajah dari tetangga-tetangganya itu. Dilihatnya keragu-raguan dan kecemasan di wajah-wajah itu. Sekali dipandangnya wajah anaknya pula. Pucat dan gemetar. Hatinya masih saja dicengkam oleh perasaan malu dan hina. Ketika kemudian Empu Purwa memandang wajah Mahisa Agni, dilihatnya wajah itu merah membara. Dengan tajam anak muda itu tak melepaskan pandangannya atas Kuda Sempana.

“Angger Kuda Sempana,” kemudian terdengar orang tua itu berkata, “adakah angger tadi benar-benar bermaksud melarikan Ken Dedes?”

Kuda Sempana menggigit bibirnya. Ketika terpandang olehnya wajah Wiraprana yang bengap merah biru, dilihatnya anak muda yang tinggi besar itu tersenyum sambil mengangguk kecil.

“Persetan!” umpatnya di dalam hati namun mulutnya terpaksa menyahut, “Ya, Empu.”

Empu Purwa menarik nafas dan hampir setiap mulut kemudian mengucap berbagai kata-kata yang tidak jelas. Ketika untuk sesaat kemudian Empu Purwa terdiam maka keadaan menjadi tegang. Orang-orang Panawijen itu melihat wajah Empu Purwa seakan-akan tanggul yang sudah penuh dengan air. Apabila tanggul itu bobol maka akan datanglah banjir. Dan orang-orang yang berdiri tegak memagari itu pun harus ikut serta. Dan Kuda Sempana adalah biduk yang akan digulung oleh kedahsyatan banjir itu. Tiba-tiba ketegangan itu dipecahkan oleh pertanyaan Empu Purwa kepada Kuda Sempana,

“Angger, adakah Angger menyesal?”

Pertanyaan itu benar-benar tak terduga. Baik oleh Kuda Sempana sendiri maupun oleh orang-orang Panawijen. Karena itu Kuda Sempana tidak segera menjawab. Ditatapnya wajah Empu Purwa dengan ragu. Sehingga Empu Purwa yang tua itu mengulangi pertanyaannya,

“Angger, adakah Angger menyesal atas perbuatan itu?”

Pertanyaan itu jelas. Kata demi kata. Setiap orang tahu maksud pertanyaan itu. Karena itu setiap orang menarik nafasnya. Seakan-akan mereka melihat air yang memenuhi tanggul itu menjadi surut. Namun Kuda Sempana masih belum menjawab. Di dalam dadanya timbullah suatu pergolakan yang riuh. Sudah pasti sama sekali tak dihendakinya apabila orang-orang sekampungnya akan beramai-ramai mengeroyoknya seperti seekor harimau yang tersesat masuk ke kampung. Tetapi untuk menarik diri terasa bahwa harga dirinya tersentuh.

Ketika dilihatnya Mahisa Agni tegak seperti karang, sekali lagi ia mengumpat di dalam hatinya, kalau saja anak gila itu tidak ada di sini maka orang-orang Panawijen, laki-laki perempuan, tua muda, akan dihadapinya. Tetapi kini Agni yang garang itu masih berdiri tegak di hadapannya. Maka sesaat Kuda Sempana pun membuat perhitungan-perhitungan. Ia tidak takut mati. Namun ia masih ingin menunda kematian itu. Meskipun demikian anak muda yang gagah itu pun tidak segera menjawab sehingga kemudian kembali terdengar suara pendeta tua itu,

“Angger, aku tahu, betapa berat untuk mengucapkan kata-kata yang tak pernah terucapkan. Apalagi oleh seorang satria seperti Angger Kuda Sempana. Karena itu maka baiklah aku pakai cara seorang tua. Kalau Angger Kuda Sempana menyesal, sarungkanlah keris angger.”

Kembali keadaan menjadi tegang. Semua mata terpaku ke tangan Kuda Sempana yang menggenggam kerisnya erat-erat. Kuda Sempana sendiri pun memandang tangannya itu. Dan tangan itu menjadi gemetar. Setiap orang yang memandang tangan itu pun kemudian menjadi ngeri. Keris itu benar-benar pusaka yang menakjubkan. Kalau Kuda Sempana tak mau menyarangkan keris itu maka keris itu pun segera akan menari-nari. Setiap orang akan dapat mengalami nasib yang jelek karenanya. Ketika tangan Kuda Sempana itu bergerak perlahan-lahan maka orang-orang yang terdekat pun bergeser. Namun semua orang menarik nafas lega ketika mereka melihat, ujung keris yang gemetar itu manjing ke dalam wrangkanya.

“Syukurlah” berkata Empu Purwa kemudian sambil mengangguk-angguk kecil, “ternyata Angger berjiwa besar.”

Kemudian, pendeta tua itu pun berkata kepada Buyut Panawijen, “Ki Buyut, marilah persoalan ini kita hadapi dengan jiwa besar pula. Marilah semuanya ini kita lupakan.”

Ki Buyut Panawijen mengangguk-angguk pula. Di dalam hatinya pun tersimpan perasaan semacam itu. Meskipun di sudut hati itu yang paling dalam melengking pula pertanyaan,

“Adakah Kuda Sempana itu akan dibiarkan membawa kesalahannya tanpa hukuman apapun?” Namun terdengar pula jawaban dari sudut yang lain, “Ayah gadis itu tak menuntutnya. Dan, bukankah anak muda itu pengawal dalam istana Tumapel.”

Ki Buyut Panawijen memandangi Kuda Sempana yang gagah itu. Pakaian kelengkapannya yang indah meskipun kotor dan kusut, sabuk bertimang emas dengan mata berlian. Akhirnya Buyut Panawijen itu pun berkata,

“Angger Kuda Sempana. Angger telah berbuat kesalahan. Tetapi untunglah segala sesuatu masih belum terlanjur. Aku tak dapat menyalahkan Wiraprana dan Angger Mahisa Agni, bukan karena Wiraprana itu anakku. Berterima kasihlah Angger Sempana kepada anak-anak muda yang mencegah Angger, sebelum Angger sempat menyentuh gadis yang akan Angger larikan, sehingga kebebasan Angger dari setiap hukuman tidak terasa sebagai pelanggaran yang mutlak atas adat di kampung kita. Namun janganlah hal ini menjadi contoh. Kalau Empu Purwa menghendaki, hukuman itu mempunyai alasan yang cukup untuk dijatuhkan. Tetapi dengan demikian, peristiwa ini akan benar-benar mengganggu ketenteraman pedukuhan kita. Maka bijaksanalah Empu Purwa. Meskipun demikian, tak dapat angin lalu tanpa menggoyangkan daun-daun pepohonan. Karena itu, baiklah aku minta, sebagai orang yang diserahi tanggung jawab atas pedukuhan ini, agar Angger Kuda Sempana segera meninggalkan kampung kita. Jangan kembali sebelum sampai pada bilangan tahun.”

Kuda Sempana yang gagah itu mengerutkan keningnya. Ia memandang hampir semua orang yang berdiri di sekelilingnya. Hukuman yang jauh lebih ringan dari yang diduganya itu tidak juga menyenangkan hatinya. Terasa bahwa sejak saat itu, ia akan dipisahkan dari tanah kelahirannya, sedikitnya untuk setahun.

“Persetan tanah kelahiran yang beku ini!” pikirnya, “Di Tumapel aku mempunyai lingkungan yang jauh lebih baik dari orang-orang yang bodoh dan keras kepala ini. Apakah artinya bagiku, bendungan, belumbang, rumpon, sawah, parit, dan segala macam yang pasti akan menjemukan. Di Tumapel, aku dapat bermain-main dengan kuda, tombak, dan kemewahan.”

Tetapi Kuda Sempana memandang Ken Dedes yang masih duduk di pasir tepian. Terasa hatinya berdesir. Dan tiba-tiba menyalalah dendam yang membakar hatinya atas kampung halamannya, atas orang-orang yang melingkungi hidupnya semasa kanak-kanaknya. Dan dendam itu harus ditumpahkan. Kalau ia tak dapat memetik bunga dari lereng Gunung Kawi itu maka biarlah bunga itu akan digugurkan saja dari tangkainya. Sama sekali ia tidak rela melihat orang lain, apalagi pemuda-pemuda desa seperti Agni atau Wiraprana, kelak akan memetiknya.

Sekali lagi Kuda Sempana memandangi setiap wajah itu dengan muaknya. Kemudian dengan tergesa-gesa ia meloncat pergi meninggalkan mereka dengan dendam yang membara di dadanya. Berpuluh-puluh pasang mata mengikuti langkah pemuda yang gagah itu. Sesaat kemudian Kuda Sempana telah meloncat ke atas punggung kudanya yang sedang asyik makan rerumputan segar. Namun ketika terasa sentuhan pada lambungnya, segera kuda yang tegar itu menengadah dan meloncatlah ia dengan lajunya meninggalkan tepian sungai itu. Beberapa orang menarik nafas lega. Mereka seakan merasa terlepas dari bencana. Ki Buyut Panawijen dan Empu Purwa pun mengangguk-anggukkan kepala mereka.

“Anak yang keras kepala,” desis Ki Buyut. Tak seorang pun yang menyahut. “Marilah kita tinggalkan tempat ini,” berkata Buyut Panawijen itu pula.

Beberapa orang yang lain pun segera bergerak mengikuti Buyut Panawijen itu. Tanpa berkata-kata sepatah pun, mereka mendaki tebing dan hilang di belakang tanggul.

Yang tinggal kemudian adalah Empu Purwa, Ken Dedes, Mahisa Agni, dan Wiraprana. Sedangkan gadis-gadis yang mengintip dari atas tanggul, satu demi satu menuruni tebing untuk mengambil cucian-cucian mereka yang tinggal di belumbang. Untuk beberapa saat Empu Purwa, Mahisa Agni, dan Wiraprana masih memandang ke arah Kuda Sempana menghilang. Empu yang tua dan bijaksana itu mengeluh di dalam hatinya. Sebenarnya Empu Purwa yang telah cukup banyak mengenyam pahit manisnya kehidupan, segera dapat mengerti bahwa Kuda Sempana sama sekali tidak ikhlas atas keputusan yang diambilnya. Namun perasaan itu sama sekali tak diungkapnya. Tetapi betapa pendeta tua itu terkejut ketika terdengar suara Mahisa Agni lirih,

“Bapa, adakah Kuda Sempana menerima keputusan ini dengan jujur?”

Empu Purwa memandang Agni dengan seksama. Ia pun sadar bahwa tidak mustahil orang-orang lain pun menyimpan pertanyaan yang demikian di dalam hatinya. Meskipun demikian ia menjawab,

“Angger Kuda Sempana adalah seorang satria yang berjiwa besar. Seorang yang demikian akan melihat kenyataan dengan jujur.”

Mahisa Agni kecewa mendengar jawaban itu. Tetapi ia sadar, bahwa di kampung halamannya, gurunya itu tidak lebih dari seorang pendeta yang meluluhkan diri dalam ketekunan beribadah. Di pedukuhan yang tenteram damai itu, tak seorang pun yang pernah melihat bahwa Empu Purwa yang tua dan alim itu mampu menggenggam segala macam senjata di kedua sisi tangannya. Mampu menghantam hancur lawan yang betapa pun tangguhnya hanya dengan tangannya.

Tetapi masa-masa yang demikian telah lampau bagi pendeta tua itu. Namun demikian, ia tidak menutup mata atas suatu kenyataan bahwa kadang-kadang kebenaran harus dibela dengan kemampuan yang demikian. Kadang-kadang diperlukan kekuatan jasmaniah untuk menegakkan keadilan dan terutama untuk melawan segala bentuk kejahatan dan pengingkaran atas kebenaran dan keadilan itu. Kebenaran dan keadilan yang sebenar-benarnya. Kebenaran dan keadilan yang dibenarkan oleh Yang Maha Agung. Karena itulah maka ia menempa anak muda yang bernama Agni itu. Semoga anak itu dapat mengamalkan ilmunya. Mengamalkan, dan bukan sebaliknya.

Pendeta tua itu tersentak ketika kemudian Wiraprana berkata, “Empu, aku melihat sesuatu membayang di wajah Kuda Sempana.”

“Apakah itu?” bertanya Empu Purwa.

“Dendam,” jawab Wiraprana.

“Oh,” sahut Empu Purwa, “Tidak. Jangan berprasangka, Ngger. Tak baik orang menyimpan dendam di dalam dirinya.”

“Yang menyimpan dendam itu bukan aku, Empu,” jawab Wiraprana sambil tersenyum, “tetapi Kuda Sempana.”

“Ya, ya,” potong pendeta itu cepat-cepat, “maksudku bukan Angger. Tetapi siapa saja, semua orang.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun wajahnya masih merah biru namun anak muda itu selalu tersenyum saja. Hanya kadang-kadang tampak ia menyeringai, kalau nyeri-nyeri di punggungnya terasa seperti menyengat-nyengat sampai ke ubun-ubun. Sesaat kemudian Empu Purwa itu teringat kepada anaknya yang masih duduk lesu di atas pasir. Dengan lembut orang tua itu berkata sambil menarik lengan putrinya,

“Ken Dedes, marilah kita pun pulang. Ambillah cucianmu.” Ken Dedes menatap wajah ayahnya. Wajah seorang yang paling dikasihi dari semua orang yang dikenalnya. “Adakah kau sudah selesai dengan cucianmu?” bertanya ayahnya. Ken Dedes menggeleng. “Apakah kau ingin menyelesaikannya,” bertanya ayahnya pula. Sekali lagi gadis itu menggeleng. “Kalau demikian, marilah kita pulang. Biarlah kau selesaikan di rumah,” ajak Empu Purwa.

Perlahan-lahan Ken Dedes berdiri dan berjalan ke belumbang untuk mengambil cuciannya. Namun wajahnya yang pucat itu selalu ditundukkannya. Tak berani ia menatap wajah kawan-kawannya yang seakan-akan memandangnya dengan penuh persoalan. Sesaat kemudian mereka itu pun pulang bersama-sama. Empu Purwa berjalan membimbing putrinya. Di belakang mereka berjalan Mahisa Agni dan Wiraprana, Namun kadang-kadang Wiraprana masih harus berpegangan pundak sahabatnya itu.

Di perjalanan itu pun mereka tak banyak bercakap-cakap. Mereka sedang asyik bermain-main dengan angan-angan. Di dalam kepala Mahisa Agni masih saja membayang wajah Kuda Sempana yang menyala-nyala liar. Karena itu, mau tidak mau Mahisa Agni harus berpikir,

“Bagaimanakah kalau anak itu datang sebelum waktu yang ditentukan? Apalagi kalau anak itu datang tidak seorang diri, tetapi dengan beberapa kawannya dari Tumapel?”

Tetapi kemudian dihiburnya sendiri hatinya, “Empu Purwa pasti tidak akan membiarkan anaknya mengalami nasib sedemikian Kalau perlu, perlu sekali, maka orang tua itu pasti akan membela anaknya. Kalau terpaksa, pasti ia akan mempertahankan dengan kekerasan pula.” Demikianlah batin Mahisa Agni menjadi agak tenteram karenanya.

Setelah mengantarkan Wiraprana, Agni pun segera pulang ke rumah gurunya. Dan sehari itu sama sekali tak dijumpainya Ken Dedes, yang kemudian merendam diri di dalam biliknya. Empu Purwa pun tidak dijumpainya di halaman atau di pendapa. Seorang cantrik berkata kepadanya bahwa Empu Purwa sedang berada di sanggarnya.

Terasa sehari-hari rumah itu menjadi sepi. Mahisa Agni berjalan hilir-mudik dengan gelisah. Sekali dipegangnya senggot timba untuk mengisi jambangan tetapi belum lagi pekerjaan itu selesai, Mahisa Agni telah berpindah pekerjaan. Diambilnya cangkul dan sabit. Dicobanya melupakan kegelisahan dengan menyiangi pertamanan di belakang. Namun pekerjaan ini pun tak menyenangkannya. Burung-burung peliharaannya yang bernyanyi riuh itu pun tak menarik perhatiannya.

Akhirnya Mahisa Agni pun menyekap diri di bilik belakang. Bilik yang dipergunakannya untuk mesu diri, melatih tubuh wadagnya sejak ia mulai berguru kepada Empu Purwa itu. Dengan serta-merta dilepasnya ikat pinggangnya, diikatkan di pinggangnya. Dengan sebuah loncatan tinggi Mahisa Agni mulai dengan latihannya. Latihan yang lain daripada saat-saat berlatih. Ia hanya ingin melepaskan kesepian dan kegelisahan yang mencengkamnya. Dilakukannya berbagai gerakan, dari yang paling sederhana sampai yang paling sulit yang pernah dipelajarinya. Dengan tangkasnya ia meloncat-loncat seperti kijang. Melingkar, berputar, dan melambung ke udara.

Ketika ia telah menjadi jemu dengan segala gerakan itu, tiba-tiba di tangannya telah tergenggam sebilah pedang yang diraihnya dari dinding biliknya. Dengan lincahnya Mahisa Agni mempermainkan pedangnya. Kadang-kadang ia mencoba membuat gerakan-gerakan yang indah namun tiba-tiba gerakannya menjadi cepat dan kaku.

Demikianlah Mahisa Agni melepaskan kejemuan dengan berbagai-bagai senjata. Pedang, tombak, cemeti, dan jenis-jenis senjata lain. Sehingga akhirnya Mahisa Agni menjadi lelah. Satu demi satu senjata-senjata itu dikembalikannya pada tempatnya, dan yang terakhir Mahisa Agni meletakkan tubuhnya di sudut bilik itu. Demikian lelahnya setelah semalam ia harus bertempur melawan hantu Karautan, pagi itu, dengan Kuda Sempana dan masa latihannya berlebih-lebihan, maka akhirnya Mahisa Agni pun tertidur dengan nyenyaknya.

Betapa mimpi yang aneh-aneh telah mengganggunya. Dilihatnya di dalam mimpi itu, Ken Dedes meloncat ke dalam perahu yang megah di sebuah danau yang tenang. Tetapi tiba-tiba air danau itu pun bergolaklah. Sebuah angin yang kencang telah mengguncang perahu yang megah itu sehingga perahu itu bergoyang dengan kerasnya. Ken Dedes yang berada di dalam perahu itu terlempar dan segera ditelan oleh gelombang yang ganas. Dan yang terakhir Mahisa Agni melihat perahu itu tenggelam. Bagaimanapun ia mencoba untuk menolong Ken Dedes maupun perahunya namun sia-sia. Bahkan akhirnya dirinya pun terguncang keras-keras.

Mahisa Agni terkejut. Perlahan-lahan ia membuka matanya. Dilihatnya bilik itu menjadi gelap. Seorang tua dengan lampu di tangan berdiri di sampingnya. “Agni,” berkata orang itu, “Apakah kau sedang bermimpi?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni bangkit. Dilihatnya keadaan di sekelilingnya. Ternyata ia masih berada di dalam biliknya. Sekali ia menggeliat, kemudian jawabnya, “Ya Guru, sebuah mimpi yang jelek.”

“Aku sudah menduga. Di dalam tidur kau menggeram,” sahut gurunya.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Syukurlah bahwa semuanya itu hanya terjadi di dalam mimpi. Namun meskipun demikian mimpi itu sangat mengganggunya. Sehingga kemudian terluncur juga dari mulutnya,

“Guru, mimpiku menggelisahkan sekali. Adakah setiap mimpi itu mempunyai arti?”

“Apakah mimpimu itu?” bertanya gurunya.

Mahisa Agni mencoba untuk menceritakan mimpinya. Sejak awal sampai betapa ia meronta-ronta melawan ombak yang menghempas-hempaskannya. Empu Purwa mengerutkan keningnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang. Namun kemudian ia tersenyum, katanya,

“Waktu mimpimu itu adalah waktu yang tak membawa arti. Mimpi yang mengandung makna adalah mimpi pada saat-saat antara ayam jantan berkokok untuk kedua dan ketiga kalinya. Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”

Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi senyumnya itu pun sama sekali tidak meyakinkan. Mahisa Agni telah mengenal gurunya baik-baik, sehingga ia tahu benar tabiat orang tua itu. Meskipun orang tua itu mencoba menghapuskan kesannya atas mimpi Mahisa Agni, namun tertangkap juga oleh Mahisa Agni, kegelisahan yang membayang di wajah itu, meskipun hanya sesaat. Tetapi ia tidak berani bertanya lebih lanjut.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “bersihkanlah dirimu. Kami sudah makan malam. Makanlah dahulu, kemudian datanglah kepadaku. Ada yang akan aku bicarakan.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gurunya memanggilnya. Pasti ada sesuatu yang penting. Mahisa Agni pun kemudian berdiri dan perlahan-lahan berjalan keluar. Panggilan gurunya itu agak mengganggunya, di samping mimpi yang menggelisahkan itu.

“Mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur,” gumamnya, “Mudah-mudahan.” Namun meskipun demikian Mahisa Agni tak dapat melupakannya.

Setelah membersihkan diri, Mahisa Agni segera pergi ke dapur. Dilihatnya Ken Dedes duduk di atas bale-bale bambu. Ketika dilihatnya ia datang, segera gadis itu menyapanya,

“Kau tertidur di bilik belakang Kakang?”

Mahisa Agni mengangguk. Ditatapnya wajah gadis itu. Pucat, dan tampak bendul di kedua pelupuk matanya. Agaknya gadis itu sehari-harian menangis di dalam biliknya.

Ken Dedes memalingkan wajahnya. Ia merasa Mahisa Agni memandang bendul di pelupuk matanya itu. “Apa yang kau tatap itu Kakang? Apakah kau belum pernah melihat mataku?” katanya sambil mencoba tersenyum.

“Bukan apa-apa,” jawab Agni.

Dan tiba-tiba saja sikapnya menjadi canggung. Ia telah berkumpul dengan Ken Dedes dalam satu rumah bertahun-tahun lamanya. Namun kini terasa gadis itu menjadi asing baginya.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar