PdLS-02
KARENA MAHISA AGNI masih tegak di pintu, berkatalah Ken Dedes, “Apakah kau akan berdiri saja di situ?”
“Oh,” dan Mahisa Agni pun berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk membersihkan piring-piring tanah dan mangkuk.
“Kau terlambat makan Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi. Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil mempersiapkan makan Agni.
“Aku lelah sekali,” jawab Agni.
Ken Dedes menundukkan wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata, “Aku sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau”.
Dan tiba-tiba terdengar Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”
Ken Dedes tersadar dari angan-angannya. Karena itu ia pun menjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih, bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”
“Oh,” Mahisa Agni pun tersenyum, “maafkan aku.”
Dan Mahisa Agni pun makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya. Bagi Mahisa Agni, hal yang demikian itu sudah sering benar dialami. Ken Dedes yang bersikap sebagai seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak berbicara seperti biasanya. Bahkan kadang-kadang ia tunduk diam dan sekali-sekali dipandanginya titik-titik yang jauh di dalam kegelapan malam. Dan tiba-tiba terdengar gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam,
“Kakang, Ayah memanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.” Jantung Mahisa Agni pun berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya. “Kalau demikian,” pikir Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu. Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga persoalan-persoalan lain.” Mahisa Agni menarik nafas panjang.
“Kenapa kau berdesah?” bertanya Ken Dedes.
Mahisa Agni terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”
“Bohong!” bantah Ken Dedes.
Sikap manjanya kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam tangkapan Mahisa Agni. Dan tiba-tiba gadis itu memberengut. Katanya,
“Kau tidak mengacuhkan aku.”
“Kenapa?” bertanya Agni, “bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”
“Tidak,” sahut gadis itu, “aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.”
“Aku mendengar,” jawab Agni.
“Apa yang aku katakan?” ia bertanya.
“Bapa Pendeta memanggil kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.
“Kau mendengarnya?” desis Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”
“Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.
“Kau tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang. Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?” tuduh Ken Dedes.
“Ah,” bantah Mahisa Agni, “jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya. Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”
“Bohong,” Ken Dedes mencibirkan bibirnya.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melihat putri gurunya yang manja namun bersungguh-sungguh itu.
“Aku benar-benar terlalu kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”
“Bohong. Bohong,” sekali lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.
“Sudahlah Ken Dedes. Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,” berkata Agni kemudian.
“Bukankah sebenarnya demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab Ken Dedes.
Mahisa Agni diam saya. Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa Agni.
“Terima kasih Ken Dedes,” sambut Mahisa Agni.
Ken Dedes yang hampir melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang berterima kasih kepadaku?”
Agni menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi, bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,
“Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai kembang.”
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.
“Kakang,” gadis itu berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh, “Ayah memanggil aku.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”
Tetapi tiba-tiba gadis itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”
“He,” Agni tidak mengerti, “kenapa?”
“Kau tidak bersungguh-sungguh. Kau bertanya karena aku tadi berkata demikian,” Ken Dedes bersungut.
“Ah,” desah Mahisa Agni, “lalu bagaimanakah aku harus bersikap. Ken Dedes, sebenarnyalah aku ingin mengetahui, apakah sebabnya kau dipanggil oleh Bapa Pendeta. Bukankah hal yang demikian itu bukan menjadi kebiasaan?”
Ken Dedes mengangguk. Dan kembali ia bersungguh-sungguh. Katanya, “Aku tak tahu. Mungkin Ayah marah kepadaku.”
“Aku sangka tidak. Sebab kau tidak bersalah. Namun mungkin pula ada hubungannya dengan peristiwa pagi tadi.” Mahisa Agni diam sebentar, kemudian ia meneruskan perlahan-lahan, “Aku pun dipanggilnya.”
“Oh,” desis Ken Dedes. Tetapi tak ada sepatah kata pun lagi yang melontar dari sela-sela bibirnya yang tipis itu.
Untuk sesaat mereka berdua berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Para endang telah hampir selesai dengan pekerjaan mereka. Sehingga kemudian Agni pun berkata,
“Ken Dedes, pergilah kau dahulu. Bapa Pendeta sudah lama menunggu.”
“Mungkin,” sahut Ken Dedes, “Baiklah aku pergi dahulu. Kapankah Kakang akan menghadap Ayah?”
“Sebentar lagi aku datang,” jawab Agni
Ken Dedes pun kemudian berdiri. Ketika ia berjalan keluar. Mahisa Agni mengikutnya dengan pandangan matanya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar seorang cantrik batuk-batuk di sudut dapur.
“Apa kerjamu di situ?” pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Agni.
“Mengisi jambangan,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ah,” Mahisa Agni kemudian tidak memedulikan lagi. Segera ia pun berdiri dan dengan langkah panjang-panjang ia pun pergi meninggalkan ruangan itu
Di pringgitan, Empu Purwa duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang putih. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding. Kadang-kadang dikecupnya mangkuk air sere hangat-hangat sambil menggigit gula kelapa. Sedap. Dengan sabarnya ia menunggu putrinya dan Mahisa Agni datang kepadanya seperti permintaannya. Hal yang demikian hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan kedua anak itu di mana saja mereka bertemu. Di pendapa, di pertamanan, di tepi kolam atau di perjalanan. Namun agaknya kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian pentingnya sehingga ia harus berbicara bersungguh-sungguh. Ketika kemudian putrinya muncul dari balik pintu, Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Duduklah Ken Dedes, di mana Mahisa Agni? Hampir aku mengantuk menunggumu di sini.”
Ken Dedes adalah gadis yang manja. Ayahnya itu pun suka pula bergurau. Namun kali ini tampaklah wajahnya bersungguh-sungguh. Hening. Namun sepi. Karena itu, Ken Dedes pun tidak berani bersikap manja seperti sikapnya sehari-hari. Dengan wajah tunduk ia pun segera duduk di muka ayahnya.
“Di mana Agni?” ayahnya bertanya.
“Di dapur Ayah,” jawab Ken Dedes, “baru saya Kakang Agni selesai makan.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. “Biarlah kita tunggu,” katanya.
Ken Dedes menjadi semakin berdebar-debar. Apakah persoalan itu penting sekali? Meskipun demikian ia sudah dapat meraba-raba. Pasti ayahnya akan bertanya kepadanya, hubungan apakah yang pernah dilakukan dengan Kuda Sempana. Dan Ayahnya itu akan menjadikan Mahisa Agni sebagai saksi. Sesaat kemudian Agni pun datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. Seperti Ken Dedes, dada anak muda itu pun berdebar-debar pula.
Setelah keduanya duduk beberapa saat, berkatalah Empu Purwa, “Mahisa Agni dan Ken Dedes. Aku sangka kalian menduga-duga di dalam hati, persoalan yang agak bersungguh-sungguh ini. Namun aku rasa kalian telah menemukan jawabannya”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Belum Bapa. Sewaktu Bapa minta aku datang sampai pada saat ini, tak ada yang dapat aku kira-kirakan.”
Empu Purwa tersenyum. Dipandanginya anak gadisnya. Kemudian katanya, “Benarkah begitu Ken Dedes?” Ken Dedes mengangguk. Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa peristiwa pagi tadi harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah percakapan.”
Ken Dedes pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, Karena itu, tiba-tiba terasa air matanya mengambang di pelupuk matanya yang masih bendul.
Ketika Empu Purwa melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak menyalahkanmu.”
Justru karena kata-kata itu, air mata Ken Dedes menjadi semakin banyak, dan kemudian setetes demi setetes membasahi pangkuannya,
“Jangan menangis,” sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai kepada persoalannya.”
Ketika Empu Purwa diam sejenak maka pringgitan itu menjadi sepi. Di kejauhan terdengar bunyi jangkrik sahut-menyahut dengan siul angkup nangka dihembus angin. Ngelangut. Nyala lampu di dapur pun telah padam. Tak terdengar lagi suara cantrik dan endang yang lagi bergurau, Padepokan Empu Purwa telah mulai lelap tertidur.
“Ken Dedes,” suara Empu Purwa lirih, namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di belumbang di samping rumah kita ini, kau akan sempat memperhatikan dirimu. Telah hampir dua puluh tahun kau menikmati sinar matahari, Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”
Wajah Ken Dedes yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai searang gadis remaja Ken Dedes sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan-keinginan yang tak dimengertinya sendiri. Kadang-kadang timbullah nafsunya untuk selalu menghias diri. Tiba-tiba gadis itu menjadi malu. Apakah ayahnya sering melihatnya becermin di wajah air kolam yang tenang diam itu?
Bahkan pernah gadis itu melempari angsa dengan batu ketika tiba-tiba saja angsa itu menggoyang-goyang permukaan air selagi ia becermin. Apalagi ketika terasa perubahan-perubahan yang terjadi pada wadagnya, ketika tubuhnya mekar seperti bunga yang sedang kembang. Dan sekarang jawaban atau persoalan-persoalan yang tak dimengertinya itu didengarnya dari ayahnya. Ken Dedes sudah dewasa.
“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang akan timbul karenanya, karena kedewasaanmu itu.”
Kembali Empu Purwa berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin mengetahui. apakah yang terasa di hati anak gadisnya. Ken Dedes diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar isaknya. Dan sekali-kali pula ia mengusap hidungnya dengan ujung kainnya.
“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula pada orang-orang lain. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting dalam hidup ini.”
Mahisa Agni pun masih duduk tepekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin Empu Purwa berkata langsung sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya Empu Purwa ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.
“Ken Dedes,” berkata orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi pagi tadi adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi setiap gadis. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah melewati kesulitan-kesulitan yang panjang. Bahkan bagi mereka yang tak beruntung, masa ini dilampauinya dengan melangkah bencana.
Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi, namun aku belum pernah menyampaikan kepadamu. Sejak beberapa minggu yang lampau telah datang berturut-turut kepadaku beberapa orang dengan upacara yang tak kau mengerti maknanya. Yang pasti, hanya kau sangka upacara-upacara keagamaan biasa. Namun ketahuilah anakku, mereka adalah utusan-utusan yang datang untuk menanyakan, apakah Ken Dedes telah cukup waktunya untuk meninggalkan masa remajanya.”
Ken Dedes berdesir mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hal itu pernah terjadi. Dan kini ia mengerti, bahwa beberapa anak muda pernah datang melamarnya. Karena itu maka terasa jantungnya semakin berdebar-debar. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan Ken Dedes menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun bahwa hal itu pernah terjadi. Dan tiba-tiba saja ia ingin benar mengetahui, siapa sajakah yang pernah datang kepada gurunya untuk melamar gadis itu. Tetapi ia tak sampai hati untuk bertanya. Karena itu Mahisa Agni menjadi gelisah,
“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu aku wenang untuk menolak atau menerima lamaran itu.”
Mahisa Agni menjadi bertambah gelisah. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah pula, sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.
Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan pilihan dari sekian lamaran-lamaran yang pernah aku terima. Seandainya, ya, seandainya kau dilahirkan sebagai putri seorang raja atau setidak-tidaknya putri seorang akuwu, maka aku dapat mendirikan sayembara untukmu. Sayembara tanding atau sayembara ketangkasan. Tetapi kau tidak lebih dari seorang anak pendeta yang hidup di pedukuhan yang terpencil. Kau tidak lebih dari anak seorang kecil yang miskin. Karena itu anakku, aku tak akan pantas untuk membuat sayembara apa pun.”
Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak jantung Mahisa Agni dan Ken Dedeslah yang serasa terdengar berdentingan di dalam dada mereka.
Karena itu ketika Empu Purwa meneruskan kata-katanya maka perhatian kedua anak muda itu tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang mereka dengar, “Meskipun demikian, Anakku. Masa depanmu adalah di tanganmu. Karena itu, meskipun aku tidak mengadakan sayembara terbuka, aku mengenal satu bentuk sayembara yang dapat aku selenggarakan. Tetapi sudah pasti, aku tidak akan mengumumkannya kepada siapa pun juga, sebab dengan demikian maka akan berteriaklah segenap tetangga kita dengan tawa mereka yang asam. Empu Purwa tidak berpijak di atas buminya, dan merasa dirinya terlalu besar. Karena itu anakku, akan aku selenggarakan sayembara ini dengan diam-diam”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kata-kata gurunya. Bagaimana mungkin sayembara dapat diselenggarakan dengan diam-diam. Bukankah sayembara itu diselenggarakan untuk diikuti oleh mereka yang mengetahui dan dengan penuh kesadaran akan tujuan sayembara itu. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin berminat kepada setiap kata yang akan didengarnya
“Adapun bentuk sayembara itu, Anakku,” Empu Purwa berkata seterusnya, “adalah sayembara pilih.”
“Sayembara pilih?” Mahisa Agni bergumam.
“Sayembara ini,” kata orang tua itu, “sering terjadi pula untuk putri-putri luhur. Sayembara semacam ini biasanya diselenggarakan di tempat-tempat terbuka. Putri yang diperebutkan itu berada di menara, sedang para pengikut berjalan berturut-turut di bawah menara itu. Siapa yang menerima selendang putri itu, ialah yang terpilih dan memenangkan sayembara.”
Malam yang sepi menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti suara orang berbisik-bisik.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. “Adil,” serunya di dalam hati.
Himpitan ketegangan di hati Ken Dedes pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang datang melamarnya. Apabila demikian, Ken Dedes memejamkan matanya. Ia tak tahu, apakah yang terjadi dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya bahwa ia pasti akan keberatan seandainya ayahnya menerima baginya siapa pun dari mereka. Ken Dedes menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan,
“Tetapi Ken Dedes. Aku tidak akan dapat menyelenggarakan sayembara pilih yang demikian itu. Aku tidak akan membuat untukmu sebuah menara, dan di bawah menara itu beberapa orang satria berkuda dengan pakaian yang indah-indah lewat berturut-turut dengan penuh harapan untuk menerima kemurahan hatimu. Tidak, Anakku. Yang akan aku selenggarakan adalah sebuah sayembara pilih yang sederhana sekali. Dengarlah baik-baik Ken Dedes. Apabila diperkenankan oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta menentukannya sendiri masa depan itu, meskipun aku tak akan melepaskan tanganku.”
Empu Purwa berhenti sejenak. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang tidak aku ingini dan tentu saja kalian juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau menentukan pilihan.”
Wajah Ken Dedes yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya, perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Ken Dedes menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada Mahisa Agni. Namun dilihatnya pemuda itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah ketika terdengar Empu Purwa berkata,
“Nah Ken Dedes, dapatkah kini sayembara pilih yang sederhana ini kita mulai?”
Ken Dedes tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah kata pun dapat diucapkan. Karena Ken Dedes tidak menjawab, maka berkatalah Empu Purwa,
“Biarlah kau berapa dalam keadaanmu, seorang gadis yang harus memilih satu di antara beberapa anak muda. Dan biarlah aku menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku harap kau menganggukkan kepalamu, supaya aku segera dapat menjawab kepada orang-orang tua mereka.”
Ken Dedes menjadi bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, gadis menatap wajah Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni itu telah menundukkan wajahnya kembali.
“Dengarlah nama itu baik-baik, Ken Dedes,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau menganggukkan kepala mu, biarlah Mahisa Agni menjadi saksi.”
Tetapi mulut Ken Dedes terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab. Gadis itu hanya dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.
“Yang pertama,” berkata Empu Purwa. Ken Dedes menjadi bertambah bingung. Bahkan Mahisa Agni pun menjadi sangat gelisah.
“Seorang anak muda yang kaya, putra Buyut Tatrampak, Namanya Jumna. Bukankah anak muda itu pernah kau kenal?”
Wajah Ken Dedes masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun anak muda itu tampan dan gagah, namun sama sekali tak terlintas di kepala Ken Dedes, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.
Empu Purwa menarik nafas. Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak menghendakinya,” gumamnya, “Sekarang, dengarlah. Orang kedua. Kau pasti telah mengenalnya. Putra, pamanmu Paniat. Saudagar yang terkenal sampai ke daerah Tumapel. Bukankah anak itu kawan bermain Mahisa Agni? Namanya Pandaya.”
Mahisa Agni mengangguk kosong. Setiap nama yang disebut gurunya, serasa sebuah goresan, di dadanya. Dua luka telah menganga. Jumna dan yang kedua, Pandaya. Dengan tegang, Mahisa Agni menatap wajah Ken Dedes yang tepekur. Sesaat ia menunggu, dan Ken Dedes tetap mematung.
Empu Purwa lah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian disebutnya anak muda yang ketiga, Mahendra, seorang anak muda dari Tumapel, putra sahabat Empu Purwa. Ken Dedes belum pernah mengenal anak muda itu, sehingga nama itu sama sekali tak menarik perhatiannya.
Nama-nama berikutnya adalah Lembu Santan, Jumerut dan Galung Paran. Namun seperti Mahendra, nama-nama itu baru didengarnya kali ini, sehingga dengan demikian, jangankan mengangguk, bahkan Ken Dedes menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya. Sedang Mahisa Agni pun tak kalah tegangnya. Setiap kali anak muda itu menarik nafas panjang, dan setiap Empu Purwa menyebut nama yang lain, keningnya tampak berkerut.
Empu Purwa tak dapat melepaskan tangkapan perasaan Mahisa Agni, namun ia masih akan menyebut satu nama lagi, katanya, “Ken Dedes, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung sebuah sayembara? Akulah pengganti dari setiap pemuda yang datang berturut-turut di bawah menaramu. Nah, dengarlah nama ini. Putra sahabatku seorang empu yang bijaksana, ahli membuat senjata. Beberapa kali anak muda itu pernah berkunjung kemari bersama ayahnya. Nama anak itu Wajastra. Bukankah anak itu pernah kau kenali?”
“Wajastra?” nama itu diulang oleh Mahisa Agni di dalam hatinya. Nama yang baik dan anak muda itu pun baik pula kepadanya.
Wajastra adalah seorang pendiam. Seperti ayahnya, anak muda itu berminat benar pada pekerjaan ayahnya. Dengan tekun ia pun ikut pula membantu dan bahkan dengan pesatnya ia maju dalam bidangnya. Ken Dedes telah mengenal anak muda itu dengan baik, seperti Mahisa Agni mengenalnya. Mendengar nama itu Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba kecemasan menjalar di dadanya. Ia sadar kini, bahwa ia mencemaskan Ken Dedes. Diam-diam ia berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes kali ini pun tidak menganggukkan kepalanya.
Sesaat ruangan itu menjadi kaku dan tegang. Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes dengan tajamnya, seakan-akan kedua tangannya akan terjulur dan menahan kepala itu supaya tidak bergerak. Sedang Empu Purwa masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun memandangi putrinya dengan baik. Tetapi kali ini pun nama itu tidak dapat menggerakkan hati Ken Dedes. Karena itulah maka kepalanya pun tidak bergerak pula. Meskipun Empu Purwa menunggunya beberapa saat. Namun Ken Dedes itu sama sekali tidak mengangguk.
“Oh,” dan Mahisa Agni pun berjalan memasuki ruangan itu. Dilihatnya beberapa endang sedang sibuk membersihkan piring-piring tanah dan mangkuk.
“Kau terlambat makan Kakang. Ayah, para cantrik dan endang, dan aku sudah makan. Ayah mencarimu tadi. Ternyata kau ditemukannya di bilik belakang,” berkata Ken Dedes sambil mempersiapkan makan Agni.
“Aku lelah sekali,” jawab Agni.
Ken Dedes menundukkan wajahnya. Jawaban Agni itu bagi Ken Dedes terdengar seolah-olah berkata, “Aku sangat lelah Ken Dedes, setelah aku berkelahi mempertahankan kau”.
Dan tiba-tiba terdengar Ken Dedes berdesis, “Terima kasih, Kakang.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Maka ia pun bertanya, “Kenapa terima kasih?”
Ken Dedes tersadar dari angan-angannya. Karena itu ia pun menjadi tersipu-sipu. Sahutnya, “Terima kasih, bahwa kau masih akan memberi aku pekerjaan dengan bekas-bekas makan itu.”
“Oh,” Mahisa Agni pun tersenyum, “maafkan aku.”
Dan Mahisa Agni pun makanlah. Anak muda itu duduk bersila di atas bale-bale bambu, sedang Ken Dedes duduk pula di sampingnya. Dilayaninya Mahisa Agni dengan cermatnya. Tidak bedanya ia melayani ayahnya. Bagi Mahisa Agni, hal yang demikian itu sudah sering benar dialami. Ken Dedes yang bersikap sebagai seorang adik itu, tahu benar apa yang harus dilakukan untuk ayah dan saudara tuanya. Namun, kali ini terasa sikap itu agak berbeda. Ken Dedes tidak banyak berbicara seperti biasanya. Bahkan kadang-kadang ia tunduk diam dan sekali-sekali dipandanginya titik-titik yang jauh di dalam kegelapan malam. Dan tiba-tiba terdengar gadis itu bergumam tanpa melepaskan pandangannya yang menghunjam ke gelap malam,
“Kakang, Ayah memanggil aku menghadap setelah Kakang selesai makan malam.” Jantung Mahisa Agni pun berdesir. Gadis itu pun dipanggil pula oleh ayahnya. “Kalau demikian,” pikir Mahisa Agni, “masalahnya pasti masalah gadis itu. Mungkin akibat sikap Kuda Sempana siang tadi. Agaknya gurunya pun melihat ketidak ikhlasan anak itu. Tetapi mungkin, meskipun terdorong oleh peristiwa pagi tadi, ada juga persoalan-persoalan lain.” Mahisa Agni menarik nafas panjang.
“Kenapa kau berdesah?” bertanya Ken Dedes.
Mahisa Agni terkejut. Dicobanya tersenyum. Jawabnya, “Aku lupa bahwa aku sudah terlalu kenyang.”
“Bohong!” bantah Ken Dedes.
Sikap manjanya kadang-kadang masih tampak, meskipun ia mencoba bersikap sungguh-sungguh. Dan tiba-tiba saja Ken Dedes kini telah benar-benar menjadi gadis dewasa di dalam tangkapan Mahisa Agni. Dan tiba-tiba gadis itu memberengut. Katanya,
“Kau tidak mengacuhkan aku.”
“Kenapa?” bertanya Agni, “bukankah aku memperhatikan setiap kata-katamu.”
“Tidak,” sahut gadis itu, “aku berbicara dengan sungguh-sungguh. Tetapi mendengar pun kau tidak.”
“Aku mendengar,” jawab Agni.
“Apa yang aku katakan?” ia bertanya.
“Bapa Pendeta memanggil kau menghadap,” Agni mengulangi kata-kata Ken Dedes.
“Kau mendengarnya?” desis Ken Dedes, “kalau demikian kau benar-benar tidak menaruh perhatian.”
“Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh pula,” Agni mencoba membela diri.
“Kau tidak memberikan tanggapan apa-apa. Kau tidak terkejut dan kau tidak bertanya, kenapa aku dipanggil Ayah. Bahkan kau malahan berdesah karena kau makan terlalu kenyang. Mungkin kau baru merenungkan sesuatu sehingga perut kakang sendiri pun Kakang lupakan. Apakah Kakang Agni sedang merenungkan Witri atau Sita yang manis itu?” tuduh Ken Dedes.
“Ah,” bantah Mahisa Agni, “jangan mengada-ada Ken Dedes. Aku mendengar kata-katamu dan aku merenungkannya. Aku sedang berpikir apakah kira-kira sebabnya.”
“Bohong,” Ken Dedes mencibirkan bibirnya.
Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tersenyum melihat putri gurunya yang manja namun bersungguh-sungguh itu.
“Aku benar-benar terlalu kenyang,” Mahisa Agni bergumam, “justru karena aku merenungkan kata-katamu.”
“Bohong. Bohong,” sekali lagi gadis itu mencibirkan bibirnya.
“Sudahlah Ken Dedes. Nanti Bapa Pendeta terlalu lama menunggu. Disangkanya aku terlalu lama makan,” berkata Agni kemudian.
“Bukankah sebenarnya demikian. Kakang makan terlalu lama meskipun Kakang makan terlalu cepat,” jawab Ken Dedes.
Mahisa Agni diam saya. Dipandangnya Ken Dedes itu, yang kemudian berdiri membenahi piring-piring dan mangkuk-mangkuk. Diambilnya kendi dari glodog dan disodorkannya kepada Mahisa Agni.
“Terima kasih Ken Dedes,” sambut Mahisa Agni.
Ken Dedes yang hampir melangkah pergi berhenti memandangi Mahisa Agni, katanya, “Sejak kapan Kakang berterima kasih kepadaku?”
Agni menundukkan wajahnya. Ia tidak menjawab kata-kata itu. Sehingga Ken Dedes pun melangkah pergi. Dengan sudut matanya Mahisa Agni melihat gadis itu. Tidak terlalu tinggi, bulat dan langsing. Pekerjaannya sehari-hari telah membentuk tubuh gadis itu menjadi serasi. Kuat namun tidak terlalu kasar. Dan tiba-tiba Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,
“Hem, benar juga kata anak-anak muda. Putri Bapa Pendeta itu bagaikan Bunga di lereng Gunung Kawi. Dan bunga itu kini mulai kembang.”
Mahisa Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kembali ia tunduk dalam-dalam ketika Ken Dedes datang kepadanya dan kembali duduk di sampingnya.
“Kakang,” gadis itu berkata pula. Kali ini bersungguh-sungguh, “Ayah memanggil aku.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya, katanya, “Kenapa kau dipanggil?”
Tetapi tiba-tiba gadis itu memberengut kembali. Katanya, “Kakang, kau menggodaku sejak tadi.”
“He,” Agni tidak mengerti, “kenapa?”
“Kau tidak bersungguh-sungguh. Kau bertanya karena aku tadi berkata demikian,” Ken Dedes bersungut.
“Ah,” desah Mahisa Agni, “lalu bagaimanakah aku harus bersikap. Ken Dedes, sebenarnyalah aku ingin mengetahui, apakah sebabnya kau dipanggil oleh Bapa Pendeta. Bukankah hal yang demikian itu bukan menjadi kebiasaan?”
Ken Dedes mengangguk. Dan kembali ia bersungguh-sungguh. Katanya, “Aku tak tahu. Mungkin Ayah marah kepadaku.”
“Aku sangka tidak. Sebab kau tidak bersalah. Namun mungkin pula ada hubungannya dengan peristiwa pagi tadi.” Mahisa Agni diam sebentar, kemudian ia meneruskan perlahan-lahan, “Aku pun dipanggilnya.”
“Oh,” desis Ken Dedes. Tetapi tak ada sepatah kata pun lagi yang melontar dari sela-sela bibirnya yang tipis itu.
Untuk sesaat mereka berdua berdiam diri. Masing-masing sibuk dengan angan-angannya sendiri. Para endang telah hampir selesai dengan pekerjaan mereka. Sehingga kemudian Agni pun berkata,
“Ken Dedes, pergilah kau dahulu. Bapa Pendeta sudah lama menunggu.”
“Mungkin,” sahut Ken Dedes, “Baiklah aku pergi dahulu. Kapankah Kakang akan menghadap Ayah?”
“Sebentar lagi aku datang,” jawab Agni
Ken Dedes pun kemudian berdiri. Ketika ia berjalan keluar. Mahisa Agni mengikutnya dengan pandangan matanya. Tanpa sesadarnya ia mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar seorang cantrik batuk-batuk di sudut dapur.
“Apa kerjamu di situ?” pertanyaan itu demikian saja meluncur dari mulut Agni.
“Mengisi jambangan,” jawabnya sambil tersenyum.
“Ah,” Mahisa Agni kemudian tidak memedulikan lagi. Segera ia pun berdiri dan dengan langkah panjang-panjang ia pun pergi meninggalkan ruangan itu
Di pringgitan, Empu Purwa duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang putih. Dilipatnya kedua tangannya di dadanya, sambil duduk bersandar dinding. Kadang-kadang dikecupnya mangkuk air sere hangat-hangat sambil menggigit gula kelapa. Sedap. Dengan sabarnya ia menunggu putrinya dan Mahisa Agni datang kepadanya seperti permintaannya. Hal yang demikian hampir tak pernah dilakukan. Ia berbicara dengan kedua anak itu di mana saja mereka bertemu. Di pendapa, di pertamanan, di tepi kolam atau di perjalanan. Namun agaknya kali ini ada sesuatu yang dianggapnya sedemikian pentingnya sehingga ia harus berbicara bersungguh-sungguh. Ketika kemudian putrinya muncul dari balik pintu, Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Duduklah Ken Dedes, di mana Mahisa Agni? Hampir aku mengantuk menunggumu di sini.”
Ken Dedes adalah gadis yang manja. Ayahnya itu pun suka pula bergurau. Namun kali ini tampaklah wajahnya bersungguh-sungguh. Hening. Namun sepi. Karena itu, Ken Dedes pun tidak berani bersikap manja seperti sikapnya sehari-hari. Dengan wajah tunduk ia pun segera duduk di muka ayahnya.
“Di mana Agni?” ayahnya bertanya.
“Di dapur Ayah,” jawab Ken Dedes, “baru saya Kakang Agni selesai makan.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. “Biarlah kita tunggu,” katanya.
Ken Dedes menjadi semakin berdebar-debar. Apakah persoalan itu penting sekali? Meskipun demikian ia sudah dapat meraba-raba. Pasti ayahnya akan bertanya kepadanya, hubungan apakah yang pernah dilakukan dengan Kuda Sempana. Dan Ayahnya itu akan menjadikan Mahisa Agni sebagai saksi. Sesaat kemudian Agni pun datang pula. Langsung ia duduk di atas tikar pandan itu. Seperti Ken Dedes, dada anak muda itu pun berdebar-debar pula.
Setelah keduanya duduk beberapa saat, berkatalah Empu Purwa, “Mahisa Agni dan Ken Dedes. Aku sangka kalian menduga-duga di dalam hati, persoalan yang agak bersungguh-sungguh ini. Namun aku rasa kalian telah menemukan jawabannya”
Mahisa Agni menggeleng. Jawabnya, “Belum Bapa. Sewaktu Bapa minta aku datang sampai pada saat ini, tak ada yang dapat aku kira-kirakan.”
Empu Purwa tersenyum. Dipandanginya anak gadisnya. Kemudian katanya, “Benarkah begitu Ken Dedes?” Ken Dedes mengangguk. Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Aku menyesal bahwa peristiwa pagi tadi harus terjadi. Dengan demikian keluarga kita akan menjadi buah percakapan.”
Ken Dedes pun menjadi semakin tunduk. Perkataan ayahnya itu mengingatkannya kepada berbagai perasaannya yang bercampur baur. Malu, sedih, takut dan segala macam, Karena itu, tiba-tiba terasa air matanya mengambang di pelupuk matanya yang masih bendul.
Ketika Empu Purwa melihat anaknya bersedih, cepat-cepat ia meneruskan, “Tetapi itu bukan salahmu, Anakku. Banyak saksi-saksi yang berkata demikian. Dan aku pun tak menyalahkanmu.”
Justru karena kata-kata itu, air mata Ken Dedes menjadi semakin banyak, dan kemudian setetes demi setetes membasahi pangkuannya,
“Jangan menangis,” sambung ayahnya, “aku belum selesai. Bahkan aku belum sampai kepada persoalannya.”
Ketika Empu Purwa diam sejenak maka pringgitan itu menjadi sepi. Di kejauhan terdengar bunyi jangkrik sahut-menyahut dengan siul angkup nangka dihembus angin. Ngelangut. Nyala lampu di dapur pun telah padam. Tak terdengar lagi suara cantrik dan endang yang lagi bergurau, Padepokan Empu Purwa telah mulai lelap tertidur.
“Ken Dedes,” suara Empu Purwa lirih, namun dalam malam yang sepi itu terdengar jelas kata demi kata, “kalau kau sekali-sekali becermin di belumbang di samping rumah kita ini, kau akan sempat memperhatikan dirimu. Telah hampir dua puluh tahun kau menikmati sinar matahari, Karena itu, sadari anakku, kau telah menginjak masa dewasa.”
Wajah Ken Dedes yang tunduk itu menjadi semakin tunduk. Sebagai searang gadis remaja Ken Dedes sudah merasakan, betapa sesuatu selalu bergolak di dalam dadanya. Banyaklah keinginan-keinginan yang tak dimengertinya sendiri. Kadang-kadang timbullah nafsunya untuk selalu menghias diri. Tiba-tiba gadis itu menjadi malu. Apakah ayahnya sering melihatnya becermin di wajah air kolam yang tenang diam itu?
Bahkan pernah gadis itu melempari angsa dengan batu ketika tiba-tiba saja angsa itu menggoyang-goyang permukaan air selagi ia becermin. Apalagi ketika terasa perubahan-perubahan yang terjadi pada wadagnya, ketika tubuhnya mekar seperti bunga yang sedang kembang. Dan sekarang jawaban atau persoalan-persoalan yang tak dimengertinya itu didengarnya dari ayahnya. Ken Dedes sudah dewasa.
“Karena itu, Anakku,” terdengar ayahnya berkata pula, “banyaklah persoalan-persoalan yang akan timbul karenanya, karena kedewasaanmu itu.”
Kembali Empu Purwa berhenti. Ditatapnya wajah anaknya yang tunduk. Orang tua itu ingin mengetahui. apakah yang terasa di hati anak gadisnya. Ken Dedes diam seperti patung. Hanya sekali-kali terdengar isaknya. Dan sekali-kali pula ia mengusap hidungnya dengan ujung kainnya.
“Tetapi kau jangan cemas anakku,” sambung ayahnya, “persoalan-persoalan yang timbul karena kedewasaanmu adalah persoalan-persoalan yang wajar, yang pasti akan timbul pula pada orang-orang lain. Sebab setiap orang pada dasarnya akan mengalami persoalan yang sama. Setelah ia menjadi dewasa maka akan dilampauinya suatu masa yang penting dalam hidup ini.”
Mahisa Agni pun masih duduk tepekur. Namun terasa seakan-akan jantungnya berdentang-dentang. Orang tua itu berbicara terlalu lambat baginya. Ia ingin Empu Purwa berkata langsung sampai ke ujungnya, untuk mengurangi ketegangan di hatinya. Tetapi agaknya Empu Purwa ingin berhati-hati sehingga kata-katanya tidak akan menyinggung perasaan anaknya.
“Ken Dedes,” berkata orang tua itu, “setelah kau menyadari keadaanmu, maka apa yang terjadi pagi tadi adalah persoalan yang wajar. Hanya bentuknyalah yang berbeda-beda bagi setiap gadis. Ada yang langsung mengalami masa baik, namun ada pula yang pernah melewati kesulitan-kesulitan yang panjang. Bahkan bagi mereka yang tak beruntung, masa ini dilampauinya dengan melangkah bencana.
Karena itu anakku. Selagi bencana yang tak dikehendaki itu datang, aku ingin memberi tahukan kepadamu, bahwa sebenarnyalah hal ini pernah terjadi, namun aku belum pernah menyampaikan kepadamu. Sejak beberapa minggu yang lampau telah datang berturut-turut kepadaku beberapa orang dengan upacara yang tak kau mengerti maknanya. Yang pasti, hanya kau sangka upacara-upacara keagamaan biasa. Namun ketahuilah anakku, mereka adalah utusan-utusan yang datang untuk menanyakan, apakah Ken Dedes telah cukup waktunya untuk meninggalkan masa remajanya.”
Ken Dedes berdesir mendengar kata-kata ayahnya itu. Ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa hal itu pernah terjadi. Dan kini ia mengerti, bahwa beberapa anak muda pernah datang melamarnya. Karena itu maka terasa jantungnya semakin berdebar-debar. Wajahnya tiba-tiba menjadi merah dan Ken Dedes menahan hatinya dengan menggigit bibirnya.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. Belum pernah ia mendengar dari siapa pun bahwa hal itu pernah terjadi. Dan tiba-tiba saja ia ingin benar mengetahui, siapa sajakah yang pernah datang kepada gurunya untuk melamar gadis itu. Tetapi ia tak sampai hati untuk bertanya. Karena itu Mahisa Agni menjadi gelisah,
“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa seterusnya, “aku adalah ayahmu. Karena itu aku wenang untuk menolak atau menerima lamaran itu.”
Mahisa Agni menjadi bertambah gelisah. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah pula, sehingga tak disengajanya ia menggeser duduknya.
Tetapi ayahnya meneruskan, “Anakku. Adalah suatu kesulitan bagiku untuk menentukan pilihan dari sekian lamaran-lamaran yang pernah aku terima. Seandainya, ya, seandainya kau dilahirkan sebagai putri seorang raja atau setidak-tidaknya putri seorang akuwu, maka aku dapat mendirikan sayembara untukmu. Sayembara tanding atau sayembara ketangkasan. Tetapi kau tidak lebih dari seorang anak pendeta yang hidup di pedukuhan yang terpencil. Kau tidak lebih dari anak seorang kecil yang miskin. Karena itu anakku, aku tak akan pantas untuk membuat sayembara apa pun.”
Kembali orang tua itu berhenti. Dan kembali ruangan itu dicengkam kesepian. Hanya detak jantung Mahisa Agni dan Ken Dedeslah yang serasa terdengar berdentingan di dalam dada mereka.
Karena itu ketika Empu Purwa meneruskan kata-katanya maka perhatian kedua anak muda itu tercurah seluruhnya kepada setiap kata yang mereka dengar, “Meskipun demikian, Anakku. Masa depanmu adalah di tanganmu. Karena itu, meskipun aku tidak mengadakan sayembara terbuka, aku mengenal satu bentuk sayembara yang dapat aku selenggarakan. Tetapi sudah pasti, aku tidak akan mengumumkannya kepada siapa pun juga, sebab dengan demikian maka akan berteriaklah segenap tetangga kita dengan tawa mereka yang asam. Empu Purwa tidak berpijak di atas buminya, dan merasa dirinya terlalu besar. Karena itu anakku, akan aku selenggarakan sayembara ini dengan diam-diam”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kata-kata gurunya. Bagaimana mungkin sayembara dapat diselenggarakan dengan diam-diam. Bukankah sayembara itu diselenggarakan untuk diikuti oleh mereka yang mengetahui dan dengan penuh kesadaran akan tujuan sayembara itu. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin berminat kepada setiap kata yang akan didengarnya
“Adapun bentuk sayembara itu, Anakku,” Empu Purwa berkata seterusnya, “adalah sayembara pilih.”
“Sayembara pilih?” Mahisa Agni bergumam.
“Sayembara ini,” kata orang tua itu, “sering terjadi pula untuk putri-putri luhur. Sayembara semacam ini biasanya diselenggarakan di tempat-tempat terbuka. Putri yang diperebutkan itu berada di menara, sedang para pengikut berjalan berturut-turut di bawah menara itu. Siapa yang menerima selendang putri itu, ialah yang terpilih dan memenangkan sayembara.”
Malam yang sepi menjadi semakin sepi. Yang terdengar kini adalah angin malam yang lembut membelai daun-daun pepohonan yang sedang tertidur nyenyak. Gemeresik seperti suara orang berbisik-bisik.
Mahisa Agni menarik nafas panjang-panjang. “Adil,” serunya di dalam hati.
Himpitan ketegangan di hati Ken Dedes pun tiba-tiba serasa berguguran. Sejak semula ia mendengarkan kata-kata ayahnya dengan penuh kecemasan. Mula-mula ia menyangka bahwa ayahnya akan menyebut untuknya sebuah nama dari nama-nama mereka yang datang melamarnya. Apabila demikian, Ken Dedes memejamkan matanya. Ia tak tahu, apakah yang terjadi dengan dirinya. Dan tiba-tiba disadarinya bahwa ia pasti akan keberatan seandainya ayahnya menerima baginya siapa pun dari mereka. Ken Dedes menjadi malu sendiri. Seakan-akan ayahnya dapat membaca setiap perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Apalagi ketika ayahnya meneruskan,
“Tetapi Ken Dedes. Aku tidak akan dapat menyelenggarakan sayembara pilih yang demikian itu. Aku tidak akan membuat untukmu sebuah menara, dan di bawah menara itu beberapa orang satria berkuda dengan pakaian yang indah-indah lewat berturut-turut dengan penuh harapan untuk menerima kemurahan hatimu. Tidak, Anakku. Yang akan aku selenggarakan adalah sebuah sayembara pilih yang sederhana sekali. Dengarlah baik-baik Ken Dedes. Apabila diperkenankan oleh Yang Maha Agung, maka menilik tata lahir yang kasatmata, engkau masih akan menempuh suatu masa yang panjang. Karena itu masa-masa itu harus kau lewati dengan gairah dan ketenteraman. Maka adalah menjadi kewajibanmu untuk ikut serta menentukannya sendiri masa depan itu, meskipun aku tak akan melepaskan tanganku.”
Empu Purwa berhenti sejenak. Dan Ken Dedes pun menjadi gelisah kembali. Yang terdengar kemudian adalah kata-kata Empu Purwa pula, “Anakku, supaya tak terulang peristiwa yang tidak aku ingini dan tentu saja kalian juga, maka sudah sampai saatnya kini, kau menentukan pilihan.”
Wajah Ken Dedes yang kemerah-merahan menjadi panas. Terasa seluruh bulu-bulu tubuhnya meremang. Kata-kata itu sudah diduganya. Namun ketika diucapkan juga oleh ayahnya, perasaannya tersentuh pula. Untuk sesaat Ken Dedes menjadi bingung. Tak tahu apa yang akan dilakukan. Hanya tiba-tiba saja, tanpa sesadarnya ia mengerling kepada Mahisa Agni. Namun dilihatnya pemuda itu tunduk kaku. Tetapi wajah itu kemudian menengadah ketika terdengar Empu Purwa berkata,
“Nah Ken Dedes, dapatkah kini sayembara pilih yang sederhana ini kita mulai?”
Ken Dedes tidak menjawab. Namun desir di jantungnya serasa semakin tajam menggores. Dan ia menjadi semakin gelisah. Nafasnya menjadi semakin cepat mengalir. Tetapi tak sepatah kata pun dapat diucapkan. Karena Ken Dedes tidak menjawab, maka berkatalah Empu Purwa,
“Biarlah kau berapa dalam keadaanmu, seorang gadis yang harus memilih satu di antara beberapa anak muda. Dan biarlah aku menyebut nama-nama itu. Kalau nama itu berkenan di hatimu, Anakku, maka aku harap kau menganggukkan kepalamu, supaya aku segera dapat menjawab kepada orang-orang tua mereka.”
Ken Dedes menjadi bertambah bingung karenanya. Sekali lagi tanpa disadarinya, gadis menatap wajah Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni itu telah menundukkan wajahnya kembali.
“Dengarlah nama itu baik-baik, Ken Dedes,” berkata ayahnya, “kalau pada suatu saat kau menganggukkan kepala mu, biarlah Mahisa Agni menjadi saksi.”
Tetapi mulut Ken Dedes terbungkam. Dan ayahnya pun tidak memaksanya untuk menjawab. Gadis itu hanya dimintanya menganggukkan kepalanya, apabila telah jatuh pilihannya.
“Yang pertama,” berkata Empu Purwa. Ken Dedes menjadi bertambah bingung. Bahkan Mahisa Agni pun menjadi sangat gelisah.
“Seorang anak muda yang kaya, putra Buyut Tatrampak, Namanya Jumna. Bukankah anak muda itu pernah kau kenal?”
Wajah Ken Dedes masih terpaku pada anyaman tikar pandan tempat duduknya. Dan ia sama sekali tidak menggerakkan kepalanya. Meskipun anak muda itu tampan dan gagah, namun sama sekali tak terlintas di kepala Ken Dedes, bahwa pada suatu saat ia akan hidup bersamanya.
Empu Purwa menarik nafas. Tampaklah kerut keningnya, “Baiklah. Kau tak menghendakinya,” gumamnya, “Sekarang, dengarlah. Orang kedua. Kau pasti telah mengenalnya. Putra, pamanmu Paniat. Saudagar yang terkenal sampai ke daerah Tumapel. Bukankah anak itu kawan bermain Mahisa Agni? Namanya Pandaya.”
Mahisa Agni mengangguk kosong. Setiap nama yang disebut gurunya, serasa sebuah goresan, di dadanya. Dua luka telah menganga. Jumna dan yang kedua, Pandaya. Dengan tegang, Mahisa Agni menatap wajah Ken Dedes yang tepekur. Sesaat ia menunggu, dan Ken Dedes tetap mematung.
Empu Purwa lah yang kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan kemudian disebutnya anak muda yang ketiga, Mahendra, seorang anak muda dari Tumapel, putra sahabat Empu Purwa. Ken Dedes belum pernah mengenal anak muda itu, sehingga nama itu sama sekali tak menarik perhatiannya.
Nama-nama berikutnya adalah Lembu Santan, Jumerut dan Galung Paran. Namun seperti Mahendra, nama-nama itu baru didengarnya kali ini, sehingga dengan demikian, jangankan mengangguk, bahkan Ken Dedes menjadi jemu dan penat oleh ketegangan yang menekannya. Sedang Mahisa Agni pun tak kalah tegangnya. Setiap kali anak muda itu menarik nafas panjang, dan setiap Empu Purwa menyebut nama yang lain, keningnya tampak berkerut.
Empu Purwa tak dapat melepaskan tangkapan perasaan Mahisa Agni, namun ia masih akan menyebut satu nama lagi, katanya, “Ken Dedes, nama ini, adalah nama yang terakhir. Terserah kepada keputusanmu. Bukankah sudah aku katakan, bahwa kini sedang berlangsung sebuah sayembara? Akulah pengganti dari setiap pemuda yang datang berturut-turut di bawah menaramu. Nah, dengarlah nama ini. Putra sahabatku seorang empu yang bijaksana, ahli membuat senjata. Beberapa kali anak muda itu pernah berkunjung kemari bersama ayahnya. Nama anak itu Wajastra. Bukankah anak itu pernah kau kenali?”
“Wajastra?” nama itu diulang oleh Mahisa Agni di dalam hatinya. Nama yang baik dan anak muda itu pun baik pula kepadanya.
Wajastra adalah seorang pendiam. Seperti ayahnya, anak muda itu berminat benar pada pekerjaan ayahnya. Dengan tekun ia pun ikut pula membantu dan bahkan dengan pesatnya ia maju dalam bidangnya. Ken Dedes telah mengenal anak muda itu dengan baik, seperti Mahisa Agni mengenalnya. Mendengar nama itu Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba kecemasan menjalar di dadanya. Ia sadar kini, bahwa ia mencemaskan Ken Dedes. Diam-diam ia berdoa, mudah-mudahan Ken Dedes kali ini pun tidak menganggukkan kepalanya.
Sesaat ruangan itu menjadi kaku dan tegang. Mahisa Agni memandang wajah Ken Dedes dengan tajamnya, seakan-akan kedua tangannya akan terjulur dan menahan kepala itu supaya tidak bergerak. Sedang Empu Purwa masih duduk sambil melipat tangannya. Orang tua itu pun memandangi putrinya dengan baik. Tetapi kali ini pun nama itu tidak dapat menggerakkan hati Ken Dedes. Karena itulah maka kepalanya pun tidak bergerak pula. Meskipun Empu Purwa menunggunya beberapa saat. Namun Ken Dedes itu sama sekali tidak mengangguk.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
===============================


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar