MENU

Ads

Minggu, 26 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 200

Tepat pada saat itu pulalah Kebo Ijo meloncat dengan garangnya seperti hunga api yang meloncat diantara awan yang hitam. Tepat sekali. Hampir tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Pedangnya terjulur lurus kedepan mengarah langsung ke jantung Mahisa Agni. Seandainya lawannya tidak segera menanggapi keadaan maka ia pasti akan tersobek dadanya pada tusukan yang pertama.

Kebo Ijo yang sudah bermata gelap itu tidak melihat Mahisa Agni memungut pedang yang dilemparkannya. Bahkan ia tidak melihat anak muda itu sempat menghindarkan diri. Sehingga dengan demikian, maka genggaman pedangnya menjadi semakin erat. Apabila ujung pedang itu menghunjam ke dalam dada, di sela-sela tulang rusuk lawannya, maka pedang itu harus langsung menghunjam ke arah jantung.

Tetapi yang terjadi benar-benar tidak terduga, sehingga terasa darah Kebo Ijo seolah-olah membeku. Betapa terkejut anak muda itu, ketika terasa pedangnya seolah-olah membentur dinding baja. Tetapi sejenak kemudian, ia tidak dapat melihat dengan jelas. Semuanya menjadi kabur. Yang tampak olehnya hanyalah bayangan yang seakan-akan bergeser, kemudian menggeliat dan meluncur ke samping. Sebuah sentuhan telah mengenai punggungnya. Sentuhan itu tidak terlampau keras, namun sentuhan itu seolah-olah membuat tubuhnya menjadi tidak berdaya sama sekali, sehingga hampir di luar sadarnya, ia terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh di tanah.

Kebo Ijo masih berusaha cepat-cepat untuk bangkit. Tetapi ketika kedua tangannya menahan tanah, maka seolah-olah kedua tangannya itu sudah tidak bertenaga sama sekali, sehingga sekali lagi ia jatuh terjerembab. Kebo Ijo menggeram. Yang dapat dilakukan adalah berguling perlahan-lahan. Ketika ia sudah menengadah, maka pandangan matanya yang kabur, semakin lama menjadi semakin terang. Yang pertama-tama dilihatnya berdiri disampingnya adalah Mahisa Agni. Ditangannya tergenggam sebilah pedang. Sama sekali bukan pedang yang telah dilemparkannya kepadanya, tetapi padang itu adalah pedangnya. Dengan gerak naluriah, Kebo Ijo berusaha untuk bangkit sambil menggeretakkan giginya. Tetapi untuk kesekian kalinya ia terjatuh dan terbaring lagi di atas tanah yang lembab.

“Jangan mencoba untuk bangkit.“ berkata Mahisa Agni, “tidak akan ada gunanya. Sebaiknya kau berbaring saja di situ. Akuwu pasti akan bersedia menengokmu.”

“Persetan.“ teriak Kebo Ijo.

“Jangan menyesal.“ sahut Mahisa Agni. “Dengar, suara sorak yang serasa akan meruntuhkan langit itu adalah pertanda bahwa Akuwu Tunggul Ametung sudah datang. Terserah kepadamu, apakah kau akan menyambut atau kau ingin berbaring di situ saja sampai Akuwu datang dan menanyakan kau. Apabila demikian, maka kau akan segera mendapat pertolongan.”

“Tutup mulutmu. Tutup mulutmu. Kau curang. Apabila kau benar-benar jantan berikanlah pedangku.”

“He?“ Mahisa Agni menjadi heran, “aku bukan pelayanmu. Ambilah sendiri.”

“Persetan.“ Kebo Ijo mengumpat-umpat. Tetapi ia masih belum dapat bangkit. Ia masih berbaring di atas tanah sambil mengumpat tidak habis-habisnya. Segala macam usaha telah di lakukannya, tetapi ia tidak dapat membebaskan diri dari keadaan karena sentuhan tangan Mahisa Agni.

Mahisa Agni pun masih berdiri ditempatnya. Sorak para prajurit dan orang-orang Tumapel menjadi semakin riuh. Agaknya Akuwu dan rombongannya telah menjadi semakin dekat.

“Kebo ijo.” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah kau mendengar sorak yang ramai itu? Dan apakah kau tahu apakah artinya?”

“Tutup mulutmu.“ Kebo Ijo membentak, “kalau kau jantan, berikan pedang itu,”

“Apakah kau memerlukannya?”

“Aku tetap pada pendirianku. Aku harus membunuhmu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Di kejauhan sorak yang semakin keras selalu menyentuh telinganya. Sehingga dengan demikian ia menjadi termangu-mangu. Namun ia masih ingin mencoba untuk menjinakkan Kebo Ijo. Karena itu, maka selangkah ia maju. Diserahkannya pedang Kebo Ijo kepadanya sambil berkata,

“Ini pedangmu.”

Dengan serta merta Kebo Ijo ingin merebut pedang itu dari tangan Mahisa Agni. Tetapi tangannya serasa tidak mungkin digerakkannya lagi. Betapa ia berusaha, namun tangan itu hanya terangkat perlahan-lahan sekali. Meskipun demikian Kebo Ijo itu masih juga berusaha menerima pedangnya, Tetapi demikian tangannya menggenggam pedang, maka tangan itupun terkulai dengan lemahnya. Pedang yang setiap hari disandangnya, yang setiap kali ditimang-timangnya itu, kini beratnya seratus kali lipat.

“Apakah kau akan mempergunakan pedangmu?“ bertanya Mahisa Agni.

“Pengecut yang licik. Kau tidak berkelahi secara jantan. Kau membuat aku setengah lumpuh, karena kau takut berhadapan sebagai laki-laki.”



Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia menjadi semakin bingung. Ternyata Kebo Ijo itu sama sekali tidak menjadi lunak, bahkan sebaliknya ia menjadi semakin liar.

“Apakah aku akan mempergunakan cara lain.“ desisnya di dalam hati, “agaknya Akuwu sudah menjadi semakin dekat.”

Tetapi Mahisa Agni tidak mempunyai cara yang lebih baik. Menurut perhitungannya, orang-orang Panawijen dan para prajurit itu baru melibat umbul-umbul dan tanda-tanda kebesarannya di kejauhan. Jarak itu masih akan ditempuhnya dalam waktu yang cukup lama. Apalagi kedatargan mereka bersama Ken Dedes, yang pasti naik sebuah tandu yang dipikul oleh beberapa orang. Perjalanan yang demikian tentu akan terlalu lambat. Karena itu, maka menurut perhitungan Mahisa Agni, ia masih mempunyai sedikit waktu untuk mempergunakan cara lain dalam usahanya untuk menundukkan Kebo Ijo.

Ketika Kebo Ijo masih saja mengumpat-umpatinya, maka Mahisa Agni itupun segera berjongkok disampingnya. Dengan sebuah sentuhan tangan, Mahisa Agni telah memberikan sedikit kemungkinan bagi Kebo Ijo untuk bergerak. Tetapi Mahisa Agni berbuat lebih dari pada itu. Diurutnya punggung Kebo Ijo beberapa kali. Maka sesaat kemudian maka Kebo Ijo itupun segera meloncat dengan garangnya sambil memutar pedangnya.

“Kau benar-benar bodoh Agni.” Desisnya, “aku tidak akan dapat berbuat lengah untuk kedua kalinya. Sekarang, sampailah saatnya kau berkubur di Padang Karautan, di samping bendungan yang kau impi-impikan itu. Tetapi kau untuk seterusnya tidak akan melihat betapa airnya mengalir ke parit-parit dan tanah persawahan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi dengan acuh tidak acuh ia memandang pedang yang dilemparkan Kebo Ijo kepadanya.

“Cepat ambil.“ teriak Kebo Ijo.

Mahisa Agni pun segera memungut pedang itu. Tetapi Kebo Ijo menjadi terkejut, ketika ia melihat Mahisa Agni justru mematahkan pedang itu menjadi beberapa potong. Ya, beberapa potong hanya dengan tangannya.

“Gila.” ia menggeram.

Namun ia sama sekali tidak mau mempertimbangkan lagi perbuatannya. Justru dengan demikian hatinya menjadi semakin terbakar. Dengan serta merta ia meloncat menyerang Mahisa Agni dengan sepenuh tenaga. Mahisa Agni memang mengharap Kebo Ijo menjadi semakin marah dan menyerangnya. Semakin cepat semakin baik, karena sorak-sorai di kejauhan itu pun semakin menggetarkan udara. Kesempatan yang datang itu pun dipergunakannya sebaik-baiknya. Kali ini ia tidak ingin melumpuhkan Kebo Ijo. Tetapi ia sengaja mempergunakan cara yang lain, yang agak lebih kasar.

Pada saat pedang Kebo Ijo meluncur mengarah kejantungnya, maka Mahisa Agni pun dengan lincahnya menghindar. Tetapi ia tidak hanya menghindar saja. Dengan kecepatan yang melampaui kecepatan bergerak Kebo Ijo. Mahisa Agni pun menyerangnya pula dengan tangannya. Sebuah pukulan yang keras meskipun hanya sebagian saja dari tenaganya yang dipergunakan, telah mengenai pelipis Kebo Ijo sehingga ia ter-huyung-huyung beberapa langkah surut. Tetapi Mahisa Agni yang mempunyai kemampuan jauh di atas kemampuan Kebo Ijo itu tidak membiarkannya. Sekali lagi ia meloncat maju, dan sekali lagi Kebo Ijo tidak sempat menghindarkan dirinya. Tinju Mahisa Agni telah menyentuh keningnya yang berkeringat.

Pukulan itu telah mendorong Kebo Ijo beberapa langkah. Dengan susah payah ia mencoba mempertahankan keseimbangannya. Tetapi yang terjadi adalah di luar kemungkinan yang dapat dilakukan. Tangan kiri Mahisa Agni ternyata telah mengenai dagunya. Ketika kepalanya tertengadah, maka perutnya serasa akan meledak. Sebuah tinju yang keras telah membuatnya hampir muntah. Dalam keadaan yang demikian, ia masih merasakan beberapa pukulan Mahisa Agni mengenai pundak, dada dan lambungnya. Kemudian kaki Mahisa Agni telah melemparkannya dan membantingnya jatuh terjerembab.

Betapa sakitnya seluruh tubuh Kebo Ijo itu. Rasanya tulang-tulangnya menjadi remuk dan patah-patah. Hanya dalam waktu yang terlampau singkat, ia sudah hampir kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu. Meskipun seperti pada saat ia dilumpuhkan, sehingga sama sekali tidak dapat berbuat sesuatu, namun kali ini keadaan itu disertai dengan perasaan sakit yang luar biasa. Sejenak kemudian Kebo Ijo masih saja berbaring di atas tanah. Sekali-sekali mulutnya menyeringai menahan sakit yang serasa menyengat-nyengat seluruh kulitnya. Dibeberapa bagian tubuhnya terdapat noda-noda merah kebiru-biruan. Dan di beberapa tempat yang lain, kulitnya seperti terbakar.

Mahisa Agni melihat Kebo Ijo menjadi kesakitan. Meskipun tidak ada luka-luka yang berbahaya, namun rasanya Kebo Ijo sudah tidak akan dapat melawannya lagi. Namun Mahisa Agni masih ingin membuat Kebo Ijo jera sama sekali. Karena itu, maka Mahisa Agnipun segera berdiri didekatnya sambil bertolak pinggang.

“Bangkitlah.” berkata Marisa Agni, “ambil pedangmu yang terlepas itu.” Kebo Ijo tidak segera menjawab. Tetapi matanya menyorotkan dendam yang menyala di dalam dadanya. “Aku melihat kebencian di wajahmu. Marilah kita selesaikan persoalan kita sampai tuntas.” desak Mahisa Agni. Tetapi Kebo Ijo tidak segera menjawab.

“Kenapa kau diam saja?” bertanya Mahisa Agni, “bukankah kau yang ingin kita berkelahi. Kau memberi kesempatan kepadaku, seperti yang kau sebutkan sendiri bahwa hukuman yang harus aku jalani adalah berkelahi melawan kau. Sekarang, kenapa kau berhenti?” Kebo Ijo masih diam membeku.

Sementara itu dikejauhan sorak sorak para prajurit Tumapel dan rakyat Panawijen menjadi semakin keras.

“Akuwu telah menjadi semakin dekat. Terserah kepadamu, apakah kau akan tetap berbaring di situ, atau kau akan ikut serta menyambut kedatangannya.”

Mahisa Agni kemudian tidak dapat menunggu lebih lama lagi. Menurut dugaannya, maka Akuwu pasti sudah menjadi semakin dekat. Karena itu, maka segera ia melangkah dengan tergesa-gesa meninggalkan Kebo Ijo yang masih berbaring. Ia mengharap bahwa Kebo Ijo itu nanti akan bangkit dengan sendirinya, karena ia tidak menyentuh bagian-bagian yang dapat menghentikan kerja beberapa jalur urat. Yang terjadi hanyalah sekedar benturan lahiriah. Pukulan-pukulan yang tidak dilambari oleh kekuatan lain dari pada kekuatan Mahisa Agni sehari-hari meskipun dengan demikian Kebo Ijo telah menjadi merah biru.

Ternyata perhitungan Mahisa Agni itu tidak meleset. Sesaat kemudian Kebo Ijo itu pun merangkak-rangkak sambil menahan sakit. Baru kemudian ia berhasil berdiri sambil menekankan tangannya pada kedua sisi lambungnya. Punggungnya serasa patah, dan pelipisnya menjadi nyeri.

“Setan.“ ia mengumpat.

Tetapi sejalan itu tumbuhlah keheranannya atas kemampuan Mahisa Agni itu. Hampir tanpa dapat membalas ia telah dihujani dengan pukulan yang bertubi-tubi. Gerak Kebo Ijo seolah-olah tidak mencerminkan seorang yang telah berguru bertahun-tahun lamanya. Ia harus menelan begitu saja setiap pukulan yang datang seperti banjir, terus menerus, tanpa dapat dihindarinya.

“Dari mana anak setan itu mempelajari ilmu yang gila itu.“ berkata Kebo Ijo di dalam hatinya, “terakhir aku melihat dalam kemampuannya berkelahi, aku sama sekali tidak mengaguminya. Aku tidak melihat perubahan-perubahan yang tampaknya dapat berkembang. Tetapi tahu-tahu kini aku berhadapan dengan hantu yang aneh.”

Kebo Ijo itu tersadar ketika ia mendengar sorak yang bergemuruh semakin keras. Perlahan-lahan ia melangkah dengan ragu-ragu. Dikibaskannya pakaiannya yang kotor dan tidak teratur. Kemudian dicobanya untuk membenahinya.

“Setan itu telah mengotori pakaianku.“ desisnya, “tetapi aku tidak akan sempat berganti pakaian selengkapnya.”

Kebo Ijo itupun kemudian tertatih-tatih pergi ke gubugnya. Diusapinya tubuhnya yang kotor dengan kainnya yang kotor pula, kemudian dengan tergesa-gesa menggantinya dengan yang bersih. Dengan tergesa-gesa pula ia berlari keluar. Ia ingin melihat Akuwu itu datang, Tetapi sekali lagi ia mengumpat,

“Pedangku ketinggalan.”

Kini ia berlari-lari kecil mengambil pedangnya. Kemudian langsung pergi ke ujung perkemahan itu tetapi ia tidak segera mendekati Ken Arok yang kini telah dikawani pula pula oleh Mahisa Agni selain Ki Buyut Panawijen dan keempat prajurit perambas jalan.

Ternyata Akuwu masih belum sampai keujung perkemahan itu meskipun tidak begitu jauh lagi. Umbul-umbul, rontek dan tunggul-tunggul telah tampak semakin jelas. Di dalam padang yang terbuka, maka iring-iringan itu tampak hampir selengkapnya. Sebuah tandu yang diangkat oleh beberapa orang. Tandu yang ditumpangi oleh Ken Dedes. Kemudian sepasukan pengawal yang dipimpin oleh Witantra sendiri. Sepasukan prajurit dan beberapa macam perbekalan lainnya.

Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen beserta keempat orang prajurit Tumapel itu pun telah bersiap untuk menyongsongnya. Ken Arok sekali-sekali masih berpaling. Ia masih mencari Kebo Ijo untuk bersama-sama menyongsong kedatangan Akuwu Tunggul Ametung itu. Ketika terlihat olehnya Kebo Ijo berdiri termangu-mangu, maka dilambaikannya tangannya, memberi isyarat, agar Kebo Ijo itu mendekat.

Dengan segan Kebo Ijo melangkah maju. Meskipun Ken Arok telah mendengar apa yang telah terjadi dari Mahisa Agni, tetapi ia sama sekali tidak bertanya apapun kepadanya. Ketika Kebo Ijo telah berada di sampingnya sambil bersunguh-sunguh, terdengar Ken Arok itu berkata,

“kita menyongsongnya.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Tetapi ia ikut melangkah di antara beberapa orang yang berjalan langsung menyongsong kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Iring-iringan itu semakin lama menjadi semakin dekat. Akuwu benar-benar datang dengan segala kebesarannya sebagai seorang Akuwu yang besar.

Sorak sorai yang gemuruh terdengar menjadi semakin keras. Para prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen pun kemudian maju menyongsong iring-iringan itu di belakang Ken Arok, berdesak-desakkan. Ada di antara mereka yang hanya ingin sekedar melihat Ken Dedes sekarang, setelah menjadi seorang Permaisuri. Tetapi ada pula yang benar-benar melimpahkan perasaan terima kasihnya kepada Akuwu Tunggul Ametung yang telah membantu orang-orang Panawijen menyelesaikan bendungan yang akan dapat memberi harapan dimasa mendatang. Bahkan Akuwu telah ikut menanganinya sendiri, pada saat bendungan itu dihantam oleh banjir yang pertama.

Akuwu yang berkuda di depan tandu yang dihiasi dengan berbagai macam perhiasan, merasa bangga pula atas sambutan itu. Ia dapat menunjukkan kepada Permaisurinya, betapa rakyatnya mencintainya dengan sepenuh hati.

Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan Kebo Ijo beserta keempat prajurit yang mendahului perjalanan Akuwu itu kemudian berdiri berjajar. Mereka berdiri tegak seperti patung ketika beberapa prajurit pengawal yang berada didepan Akuwu Tunggul Ametung lewat di atas punggung kuda dengan membawa beberapa macam tanda-tanda rontek, tunggul dan perisai kebesaran. Kemudian dibelakang mereka beberapa langkah adalah Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Dan dibelakang Akuwu itulah duduk Permaisurinya, Ken Dedes di dalam tandu yang bertirai sehelai kain yang tipis. Ken Arok dan kawan-kawannya segera membungkukkan badannya ketika Akuwu sampai di depan mereka. Dengan tangannya Akuwu memberi isyarat agar para prajurit yang berada di depannya berhenti sejenak.

“Hamba menyampaikan selamat atas kedatangan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung.“ berkata Ken Arok kemudian dengan hormatnya, “kami, para prajurit Tumapel di Padang Karautan dan rakyat Panawijen telah siap menyambut kedatangan Tuanku. Kami akan menerima segala titah tuanku bagi kami.”

Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilayangkannya pandangan matanya beredar di antara para prajurit Tumapel dan rakyat Panawijen yang kini justru terdiam.

“Hendaknya kalian mendapat perlindungan dari Yang Maha Agung.” berkata Akuwu itu kemudian kepada para prajurit dan rakyat Panawijen, “dijauhkanlah kalian dari bencana dan bahaya. Diberikannya kebijaksanaan dan kecakapan pada pimpinan kalian. Selamatlah kalian menyambut kedatangan kami.”

Sorak yang membahana serasa akan membelah langit. Gemuruh seperti guruh yang bersabung di langit. Akuwu Tunggul Ametung tersenyum melihat sambutan itu. Kemudian kepada Ken Arok ia berkata,

“Aku dan Permaisuriku akan melihat bendungan itu. Kami akan lewat di sampingnya, kemudian langsung pergi ke taman.”

“Semua persiapan telah selesai untuk menyambut kedatangan Tuanku beserta Tuan Puteri. Semuanya telah tersedia.“ sahut Ken Arok. Tetapi ia bertanya, “Namun apakah Tuanku akan pergi ke bendungan langsung saat ini juga? Apakah Tuanku tidak pergi ke pesanggrahan yang telah kami siapkan? baru nanti atau besok Tuanku pergi ke bendungan itu.”

Akuwu Tunggul Ametung menggelengkan kepalanya, katanya, “Permaisuriku ingin segera melihat bendungan itu. Karena itu, kita sekarang akan lewat di dekat dibendungan. Hanya lewat, lalu langsung menuju ke pesanggrahan di dekat taman yang telah kalian siapkan.”

Ken Arok menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada Kebo Ijo ia berkata, “Kau akan menjadi penuntun jalan. Pergilah di depan bersama para prajuit berkuda itu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia mengangguk dan menjawab, “Baik. Akan aku lakukan.”

Kebo Ijo pun segera berjalan mendahului, dan langung berada di depan prajurit-prajurit berkuda. Sejenak kemudian maka iring-iringan itu pun berjalan pula perlahan-lahan di belakang derap kaki Kebo Ijo. Kebo Ijo yang berjalan di paling depan itu memang mempunyai sikap seorang prajurit. Ia berjalan dengan tegapnya, meskipun hatinya mengumpat-umpat. Kadang-kadang tanpa sesadarnya diamatinya ujung celananya yang kotor. Didalam rati ia bergumam,

“Untunglah aku sudah berganti meskipun hanya kain panjangku. Kalau tidak, aku akan malu sekali. Kali ini pun agaknya Ken Arok benar-benar ingin membuat aku kehilangan akal. Hem, apakah punggungku masih juga kotor.”

Meskipun langkah Kebo Ijo cukup tegap, namun ia sendiri selalu dibayang-bayangi oleh keragu-raguan. Seolah-olah setiap mata memandang kepadanya. Kepada tubuhnya yang kotor dan noda-noda kebiru-biruan di beberapa tempat. Sedang tulang-tulangnya masih saja terasa nyeri-nyeri dan kepalanya masih agak pening.

“Mahisa Agni memang anak setan.” geramnya.

Tetapi ia harus berjalan terus. Di belakangnya beberapa ekor kuda mengikutinya. Kemudian Akuwu Tunggul Ametung di atas punggung kudanya didampingi oleh Ken Arok dan Mahisa Agni. Dibelakang mereka berjalan Ki Buyut Panawijen didepan tandu Permaisuri yang ditabiri oleh tirai tipis. Baru di belakang tandu itulah para prajurit pengawal berkuda berderap dengan gagahnya di bawah pimpinan langsung pemimpinnya, Witantra yang berada diluar barisan.

Para prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan dan rakyat Panawijen segera mengikuti iring-iringan itu pula, sehingga iring-iringan itu menjadi semakin panjang. Seperti seekor ular raksasa yang merayap perlahan-lahan di padang rumput yang luas. Perlahan-lahan iring-iringan itu maju mengikuti langkah kaki Kebo Ijo. Semakin lama menjadi semakin mendekati bendungan yang telah mengangkat air ke dalam susukan induk. Gemericik airnya telah mulai terdengar lamat-lamat, dan wajah air yang tenang di atas bendungan itupun telah tampak berkilat-kilat memantulkan cahaya matahari.

Kebo Ijo telah mengetahui, apakah yang harus dilakukannya. Ia harus membawa iring-iringan itu sekedar lewat di pinggir sungai, berputar lewat jalan yang telah dibuat di pinggir susukan induk, pergi ke taman yang telah disiapkan pula untuk menerima kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Bendungan itu pun semakin lama menjadi semakin dekat. Beberapa saat kemudian Kebo Ijo telah menginjakkan kakinya di atas tanah berpasir. Ketika ia berpaling dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung memperlambat kudanya dan kemudian berjalan di samping tandu Permaisurinya.

“Itulah bendungan itu.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung, “air telah naik dan masuk ke dalam susukan induk itu mengalir membelah Padang Karautan dan pada ujungnya terdapat sebuah sendang buatan di dalam sebuah taman.”

Kebo Ijopun kemudian berhenti pula. Agaknya Permaisuri akan memerlukan melihat bendungan itu. Tetapi meskipun tandu itu berhenti, namun tandu itu tidak diletakkan di tanah. Ternyata Permaisuri tidak akan turun. Ia hanya akan melihat bendungan itu sekilas.

Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut dan prajurit-prajurit yang lainnya berhenti pula di dekat bendungan itu. Perlahan-lahan tirai yang tipis itu tersingkap. Namun Ken Dedes tidak menjengukkan kepalanya. Ia hanya memandangi bendungan itu dari dalam tandu. Seorang perempuan tua yang berada di dalam tandu itu pula, memandangi bendungan itu seperti juga Ken Dedes. Tanpa berkedip. Sebuah kebanggaan memercik di dalam dadanya. Namun Permaisuri itu sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

Ken Arok yang berada di sisi tandu itu tidak dapat menangkap kesan Permaisuri itu sama sekali. Ia tidak dapat melihat wajah Permaisuri itu dengan jelas, karena tirai yang tipis itu. Tirai itu hanya tersingkap sedikit di samping yang mengarah kebendungan.

“Mudah-mudahan bendungan itu memberinya kepuasan.“ desis Ken Arok di dalam hatinya, “apalagi taman itu. Selagi masih gadis, Permaisuri itu adalah anak Panawijen, Sudah tentu ia tidak dapat melepaskan diri dari tempat ia dilahirkan.”

Sejenak kemudian tirai itu tertutup kembali, Akuwu yang berada di punggung kudanya di depan tandu itu kemudian memberi isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk meneruskan perjalanan. Kebo Ijo pun menangkap isyarat itu pula. Dan mulailah kakinya berderap di depan pasukan berkuda yang mendahului Akuwu, dengan membawa beberapa jenis tanda kebesaran.

Kini Akuwu tidak lagi berada di depan tandu Permaisurinya, tetapi ia berada beberapa langkah di sampingnya. Terdengar Akuwu berbicara perlahan-lahan dengan Permaisurinya. Dalam pembicaraan yang tidak jelas itu, Ken Arok dan Mahisa Agni baru mendapat kesan, bahwa Permaisuri itu menjadi kagum dan bangga, bahwa akhirnya bendungan itu dapat terwujud. Bendungan yang dapat memberikan tanah garapan yang baru bagi orang-orang Panawijen.

Sementara itu iring-iringan itu menjalar terus menyusur jalan di sepanjang susukan induk, Setiap kali Ken Dedes menyingkapkan tirai yang tipis itu untuk melihat-lihat, dedaunan yang mulai menghijau. Pepohonan yang sudah bertambah besar. Tanah persawahan yang ditumbuhi oleh bibit-bibit yang sudah semakin berkembang. Hijau dalam siraman sinar matahari. Pantulan titik-titik air yarg memeriyik di susukan induk, membuat loncatan-loncatan bintik-bintik yang berkeredipan menyambut kedatangan Permaisuri Tumapel. Sekali-sekali Permaisuri itu berbicara perlahan-lahan dengan emban tua yang berada di dalam tandu itu pula. Namun hanya sepatah-sepatah, kemudian mereka terdiam lagi.

Kebo Ijo berjalan terus dengan tegapnya di depan iring-iringan yang panjang itu. Para prajurit Tumapel dan orang-orang Panawijen mengikuti pula di belakang mereka. Kini perhatian mereka tertuju kepada Permaisuri yang masih berada di belakang tirai itu. Mereka telah dirangsang oleh suatu keinginan untuk dapat melihat wajahnya. Apalagi orang-orang Panawijen, yang melihat Ken Dedes di masa kanak-kanak, berlari-larian antara gadis-gadis desa sebayanya. Bermain jirak dan dakon. Mencuci di bendungan yang kini telah pecah. Gadis itu bermain nini lowok pula di malam-malam purnama. Melagukan tembang yang riang.

Sampai pada suatu ketika gadis itu telah ditimpa oleh malapetaka. Tetapi malapetaka itu ternyata telah mengantarkannya masuk ke dalam istana Akuwu Tunggul Ametung, sehingga kini ia kembali ke padukuhannya dalam kelengkapan dan kebesaran seorang Permaisuri. Tetapi Permaisuri itu masih berada di dalam tirai yang tipis. Mereka hanya dapat melihat sebuah bayangan yang bergerak-gerak di dalam tandu itu, tetapi mereka tidak dapat melihat dengan jelas. Betapa wajah bunga di sebelah Timur Gunung Kawi itu akan menjadi semakin cemerlang, dengan hiasan Mahkota seorang Permaisuri.

Perlahan iring-iringan itu maju terus mendekati taman buatan yang telah dikerjakan oleh Ken Arok. Didalam pesanggrahan di samping taman itu, beberapa orang telah sibuk sejak malam tadi. Apalagi juru masak. Mereka sibuk mempersiapkan hidangan tidak saja bagi Akuwu Tunggul Ametung, tetapi juga bagi setiap prajurit pengawalnya, dan bahkan bagi setiap orang yang berada di dalam iring-iringan itu, sehingga hampir semua juru masak di Tumapel dikerahkan, dan bahkan juru masak prajurit-prajurit Tumapel dan orang-orang Pawijen yang telah berada di Padang Karautan. Sehingga dengan demikian, maka di belakang pesanggrahan itu, terdapat bangunan yang cukup besar untuk menyediakan makanan di samping dapur khusus untuk menyediakan makan bagi Akuwu dan Permaisurinya dengan juru-juru masak yang terpilih.

Perjalanan itu sendiri, ternyata telah memberikan kesan yang mendalam di hati Ken Dedes. Perasaan bangga dan haru telah bergelut di dalam dadanya. Ia melihat kehijauan yang segar di daerah baru ini, setelah pedukuhannya yang lama dibakar oleh kekeringan yang parah.

Kebo Ijo akhirnya telah melangkah masuk ke dalam pintu gerbang taman yang terbuka. Dua orang prajurit bersenjata tombak berdiri sebelah menyebelah. Sejenak kemudian, maka ujung iring-iringan itu pun telah memasuki taman itu pula, langsung menuju ke pinggir sendang, yang sengaja dipersiapkan untuk menerima kedatangan Akuwu dan Permaisuri. Karena itu, ketika mereka berhenti, tandu itupun perlahan-lahan diletakkannya di atas tanah. Permaisuri Ken Dedes tidak akan tetap berada didalamnya, tetapi kali ini ia akan turun, menyaksikan taman yang dibuat untuknya.

Akuwu Tunggul Ametung pun telah turun pula dari kudanya. Seorang prajurit menerima kuda itu dan menuntunnya menjauh. Perlahan-lahan Akuwu melangkah mendekati tandu Permaisurinya untuk menolongnya melangkah keluar.

Para pemimpin pengawal, Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang lain, berdiri tegak berderet-deret di muka tandu Permaisuri itu untuk memberi hormat kepadanya.

Perlahan-lahan tirai tandu itupun tersingkap. Dan perlahan-lahan Pemaisuri itu beringsut menepi. Sejenak kemudian dilayangkannya pandangan matanya atas mereka yang berdiri berjajar menyambutnya.

Mata Permaisuri yang berkilat-kilat itu seperti sinar permata yang paling kemilau menyambar setiap wajah. Ketika sorot mata itu menyentuh wajah pemimpin prajurit Tumapel di Padang Karautan yang telah menyelesaikan tugasnya, membuat taman itu untuknya, maka serasa sebuah getaran melonjak di dalam dadanya. Ia melihat sesuatu yang lain pada wajah itu. Tetapi ia tidak dapat segera mengetahui, apakah yang di anggapnya berbeda dengan wajah-wajah yang lain.

Namun getar di dalam dadanya telah mengguncangkan seluruh urat darahnya. Jantungnya tiba-tiba terasa berdebaran dan wajahnya menjadi panas. Dengan sekuat tenaga Permaisuri itu mencoba menahan dirinya untuk tidak menumbuhkan kesan apapun di wajahnya. Namun dengan demikian, Permaisuri sudah memusatkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya untuk melawan keadaan yang tiba-tiba saja dihadapinya.

koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar