Mahisa Agni menarik nafas. Kemudian katanya, “Kuda Sempana. Orang-orang yang kini masih tinggal di Panawijen, menunggu kemungkinan untuk berpindah tempat bersama-sama, masih belum tahu perkembangan yang terjadi atas dirimu. Jasmaniah apalagi rokhaniah. Karena itu kedatanganmu akan membuat geseran-geseran yang sebenarnya tidak kita kehendaki atas orang-orang itu. Perempuan-perempuan, kanak-anak dan orang-orang tua.”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Lalu dihembuskannya nafas panjang-panjang. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya sambil berdesah, “Kau benar Agni. Tetapi lalu apakah sebaliknya yang aku lakukan? Apakah aku akan bersembunyi saja di tengah-tengah Padang Karautan, di antara gerumbul-gerumbul perdu.”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya “Tidak mungkin. Kalau seseorang dengan tidak sengaja menjumpai kau berada di sana, maka angan-angannya segera akan terbang ke dalam suatu keadaan yang dapat merugikan namamu yang selama ini sedang kau usahakan menjadi bersih kembali.”
Sejenak Kuda Sempana terdiam. Pendapat Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Bahkan mungkin seseorang akan menyangkanya, sepeninggal Kebo Sindet, maka ia telah mewarisi pekerjaannya meskipun tidak sedahsyat iblis dari Kemundungan itu. Namun untuk tetap tinggal di perkemahan ini, dan kemudian bertemu dengan Ken Dedes dan Akuwu Tungul Ametung, hatinya masih terasa terlampau pedih.
Sementara itu Ken Arok telah menjadi gelisah. Ia harus segera menemui empat orang prajurit yang mendalului perjalanan Akuwu, karena orang-orang itu mungkin membawa pesan-pesan yang harus dilakukannya.
Dalam pada itu, tiba-tiba Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok. “Aku kira kita tidak akan berkeberatan seandainya Kuda Sempana pergi ke Panawijen. Kita akan mencari alasan apapun seandainya akuwu bertanya tentang dirinya. Tetapi biarlah seseorang mengawaninya.”
Ken Arok tidak segera menyawab. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Kuda Sempana berganti-ganti. Namun dalam pada itu terdengar Kuda Sempana menyahut,
“Apakah kau cemaskan bahwa aku benar-benar akan melarikan diri?”
Mahisa Agni menggeleng, “Sudah aku katakan. Hanya orang yang gila yang akan melarikan diri dari keadaan yang kau hayati sekarang. Aku mempunyai pikiran untuk menyuruh satu atau dua orang mengawanimu, supaya kau tidak terasing di padukuan itu. Supaya ada orang yang menjelaskan tentang keadaanmu sekarang.”
Kuda Sempana menundukkan kepalanya, “Maafkan aku. Kalau begitu aku akan sangat berterima kasih.”
“Hal itu memang lebih baik bagimu daripada kau berkeliaran selama sepuluh hari di Padang Karautan tanpa arah dan tujuan. Banyak sekali godaan yang akan berusaha menyeretmu ke dalam keadaan yang tidak kau inginkan sendiri.”
“Aku mengerti.”
“Nah, bagaimana pertimbanganmu Ken Arok?”
“Aku sependapat. Biarlah satu dua orang mengawaninya. Tetapi siapakah orang yang akan mengawaninya? Setiap orang berkeinginan untuk menyambut Akuwu Tunggul Ametung dan ingin ikut bergembira bersamanya setelah mereka bekerja keras sekian lama.”
“Aku dapat menunjuk orangnya atas persetujuan Ki Buyut Panawijen. Orang itu hanya mengantar Kuda Sempana. Kemudian pada hari yang kedua atau ketiga, setelah Kuda Sempana dimengerti keadaannnya oleh orang-orang Panawijen, maka pengantar itu akan segera kembali kepadang ini, untuk bersama-sama bergembira. Ia masih mempunyai waktu cukup untuk itu.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah kepadamu Agni. Aku menyetujui semua yang kau anggap baik. Sekarang aku minta diri untuk menemui empat orang prajurit yang menjadi perambas jalan Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Arok pun segera meninggalkan Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Ia harus segera menemui keempat orang prajurit itu. Mungkin ada sesuatu yang harus segera dikerjakan.
Sepeninggal Ken Arok, maka Kuda Sempana pun segera mempersiapkan dirinya pula. Segera ia menerima pedangnya kembali. Tetapi selama perjalanannya ke Panawijen, Mahisa Agni telah menasehatkan untuk tidak mengenakan pedang di lambungnya. Sebaiknya pedang itu digantungkannya saja pada kudanya, supaya tidak menimbulkan kesan yang mengejutkan pada saat ia memasuki Panawijen. Pedang di lambung akan segera dapat dilihat, sebagai suatu kesiagaan untuk berkelahi. Tetapi pedang yang tergantung di kudanya, tidak segera akan dilihat orang. Mungkin kesannya akan jauh berbeda. Kuda Sempana dengan pedang di lambung dan Kuda Sempana yang tidak bersenjata, meskipun senjata itu sebenarnya dapat dipergunakan apabila perlu.
Sementara Kuda Sempana mempersiapkan dirinya, maka Mahisa Agni telah mendapatkan dua orang atas persetujuan Ki Buyut Panawijen untuk menemani Kuda Sempana pergi. Dengan demikian, kedatangan Kuda Sempana kepadukuhan Panawijen tidak akan terlampau mengejutkan orang-orang yang masih tinggal di sana.
“Hati-hatilah Kuda Sempana.” pesan Mahisa Agni, “kau harus menuju ke arah yang berlawanan dari arah Akuwu Tunggul Ametung yang akan segera datang. Perambas jalannya telah datang, dan pasti sebentar lagi Akuwu akan menyusul.”
“Ya Agni. Aku akan pergi ke Barat, kemudian berbelok menyusur sungai. Aku kira Akuwu tidak akan menempuh jalan itu. Aku kira Akuwu akan datang dari Timur.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemungkinan yang terbesar adalah demikian. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah. Tetapi kau harus selalu mencoba memandang kekejauhan. Kau harus segera menghindar apabila kau kemudian ternyata melihat iring-iringan apapun. Dari kejauhan kau pasti akan sukar membedakan, apakah iring-iringan itu iring-iringan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Aku kira aku dapat membedakannya Agni. Akuwu akan datang dengan kebesaran. Panji-panji, tunggul dan rontek-rontek yang dibawanya pasti akan segera dapat aku kenal.”
“Mudah-mudahan upacara kebesaran itu dibawanya lengkap. Nah, sekarang mumpung masih sempat berangkatlah.”
Kuda Sempana dan dua orang yang mengawaninya segera meloncat naik ke atas punggung kuda masing-masing. Tetapi wajah Kuda Sempana segera menjadi tegang ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo telah muncul pula dari antara gubug-gubug di perkemahan itu.
“Kemana kau akan lari Kuda Sempana? Agaknya kau telah bersepakat dengan Mahisa Agni, menghindarkan diri dari hukumanku. Apakah orang semacam kau masih pantas diampuni?“ Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Akan kau sembunyikan dimana anak itu Agni?”
Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Hampir saja ia meloncat turun dari kudanya. Tetapi dengan herannya ia melihat Mahisa Agni yang seolah-olah acuh tidak acuh saja atas kehadiran Kebo Ijo itu. Bahkan ia berkata,
“Hati-hatilah Kuda Sempana. Sampaikan salamku kepada mereka.”
Sejenak Kuda Sempana tidak dapat berkata sepatah katapun. Perhatiannya terbelah antara pesan Mahisa Agni dan sikap Kebo Ijo. Karena itu, maka dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti.
“He, Mahisa Agni.“ terdengar Kebo Ijo berteriak, “apakah kau tuli, he? Akan kau sembunyikan dimana anak itu? Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Meskipun kau yang membawanya kemari, tetapi kau tidak akan aku ikut sertakan menanggung kesalahannya apabila kau tidak campur tangan. Sekarang pergilah. Biarlah aku urus sendiri anak yang sombong dan keras kepala ini. Ken Arok kini sedang berbicara dengan prajurit-prajurit perambas jalan. Setelah aku mendesaknya, ia akhirnya menyerahkan persoalan Kuda Sempana kepadaku disaksikan oleh prajurit-prajurit perambas jalan. Mereka adalah prajurit-prajurit Pengawal istana, bawahan kakang Witantra.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling. Bahkan katanya, “Kuda Sempana. Mumpung masih sempat, pergilah. Ingat jangan kau turuti saja perasaanmu. Kau harus berusaha mengendalikan dirimu. Sudah banyak kau korbankan perasaanmu untuk menemukan dunia baru. Karena itu, maka jagalah dirimu. Kau memang masih harus banyak berkorban perasaan. Tetapi kau akan berkasil.”
“Agni.“ Kebo Ijo berteriak, “apakah kau memang telah bersepakat untuk menentang kekuasaan prajurit Tumapel di Padang Karautan.”
Mahisa Agni masih belum berpaling. Ketika ia melihat Kuda Sempana menggeretakkan giginya, maka ia berkata, “Salah satu dari ujianmu. Sekarang berangkatlah. Cepat. Jangan kau hiraukan Kebo Ijo itu. Ia tidak akan dapat berlari secepat kudamu. Jangan berkecil hati. Kau tidak lari dari padanya. Tetapi kau menghindarkan dirimu dari kesulitan yang tidak perlu.”
Kuda Sempana ragu-ragu sejenak. Dan ia masih mendengar Kebo Ijo berkata lantang, “Apa yang kau katakan itu Agni? Ingat. Apabila Kuda Sempana lari dari Padang Karautan, maka kaulah yang bertanggung jawab. Kaulah yang akan menerima hukuman yang seharusnya dibebankan kepada Kuda Sempana.”
Betapapun Mahisa Agni mencoba menahan dirinya, namun terasa dadanya berdesir pula. Meskipun demikian, ia masih sempat berkata kepada Kuda Sempana, “Cepat. Kau telah mengenal aku. Jangan kau cemaskan aku. Ken Arok telah membenarkan sikapku.”
“Tidak. Ken Arok telah menarik keputusannya.”
“Jangan hiraukan. Cepat pergi.”
“Jangan coba melarikan diri.“ teriak Kebo Ijo.
Ternyata Kebo Ijo tidak hanya sekedar berteriak-teriak. Ternyata secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan meloncat maju kearah Kuda Sempana. Tetapi tepat pada saatnya Mahisa Agni telah memukul perut kuda itu sehingga kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana itu meloncat dan berlari.
“Setan.“ Kebo Ijo mengumpat. Ia masih mencoba mengejar kuda yang berlari semakin kencang itu, tetapi justru semakin lama menjadi semakin jauh.
Sementara itu Mahisa Agni memberi tanda kepada dua orang yang akan mengawani Kuda Sempana ke Panawijen untuk segera berangkat menyusulnya.
“Hati-hati.” pesan Mahisa Agni, “hindarilah anak yang telah menjadi gila itu. Jangan hiraukan, tetapi jangan sampai tersentuh tangannya anak itu luar biasa.”
Keduanya mengangguk. Mereka segera menggerakkan kekang kudanya dan menyentuh dengan tangannya, sehingga kuda-kuda itupun segera meloncat berlari. Tetapi mereka harus berhati-hati. Mereka melingkar beberapa jauh, supaya Kebo Ijo tidak dapat menahan mereka. Terdengar Kebo Ijo mengumpat-umpat. Ketika ternyata bahwa langkah kakinya tidak dapat menyusul derap kaki-kaki kuda itu, maka iapun segera berhenti dengan nafas terengah-engah. Bahkan kemudian diacung-acungkannya pedangnya. Tetapi Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin jauh, disusul oleh kedua orang yang akan mengawaninya ke Panawijen. Sambil menggeretakkan giginya Kebo Ijo berpaling. Darahnya serasa melonjak sampai kekepala ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri ditempatnya.
“Anak gila itulah yang telah menyebabkan aku kehilangan Kuda Sempana.“ Kebo Ijo menggeram. Matanya menjadi merah karena kemarahan dan kekecewaan yang bercampur baur. “Anak itulah yang harus menerima akibatnya.”
Tiba-tiba otak Kebo Ijo menjadi gelap pepat, disaput oleh kemarahan dan kekecewaan. Perlahan-lahan ia berjalan kembali mendekati Mahisa Agni. Pedangnya masih berada di dalam genggamannya setelah diacung-acungkan kepada Kuda Sempana. Mahisa Agni melihat sikap Kebo Ijo itu dengan hati yang berdebar-debar. Apakah ia harus kehilangan akal dan melayani anak yang bengal itu. Namun tumbuh juga di dalam hatinya, keinginan untuk sedikit memberi peringatan kepadanya. Supaya ia dapat mencoba mengekang dirinya.
Tetapi Mahisa Agni ragu-ragu. Bagaimanapun juga Kebo Ijo adalah seorang pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan. meskipun ia tidak tahu, kenapa anak itulah yang dikirim oleh Akuwu untuk membantu Ken Arok. Kenapa tidak orang lain. Kehadiran Kebo Ijo pasti hanya akan menambah beban saja bagi Ken Arok, meskipun Kebo Ijo sebenarnya juga seorang pekerja yang rajin. Namun sikapnyalah yang terlampau mengecewakan. Kebo Ijo yang memegang pedang di tangannya itu semakin lama menjadi semakin dekat. Debar jantung Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin cepat pula. Ia masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah yang sebaik-baiknya dilakukan.
“Aku tidak dapat mengharapkan Ken Arok saat ini.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “ia sedang menerima keempat prajurit itu. Seandainya ia ada di sini, maka aku tidak akan perlu berbuat apa-apa. Semuanya aku serahkan saja kepadanya. Tetapi sekarang aku sendiri di sini.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sedang Kebo Ijo itupun melangkah semakin lama menjadi semakin dekat, dengan wajah yang tegang dan mata yang menyala. Debar jantung Mahisa Agni terasa menjadi semakin cepat bergetar. Setiap langkah Kebo Ijo terasa seperti tusukan yang tajam menghujam ke dalam tubuhnya. Betapa keragu-raguan telah mencangkam dadanya.
“Bagaimanapun juga, adalah lebih baik dari pada Kebo Ijo harus berkelahi lagi melawan Kuda Sempana.” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Ketika ia memandang kekejauhan dilihatnya Kuda Sempana sudah hampir hilang di balik cakrawala. Yang tampak adalah bintik-bintik yang kecil bergerak-gerak diantara semak-semak yang liar.
“Mahisa Agni.” sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo membentak, “apakah kau tidak tahu, bahwa aku adalah orang kedua di Padang Karautan ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ditatapnya mata Kebo Ijo yang seolah-olah sedang membara.
“He, apakah kau tuli atau bisu?“ teriak Kebo Ijo.
“Jangan membentak-bentak seperti terhadap anak kecil Kebo Ijo.“ sahut Mahisa Agni sareh, “marilah kita berbicara sebagai orang-orang yang telah dewasa. Janganlah selalu memanjakan perasaanmu yang meledak-ledak itu.”
“Tutup mulutmu. Aku mempunyai kekuasaan di sini.”
“Aku tahu, tetapi aku tahu juga batas-batas kekuasaanmu.”
“Apa? Kau sangka kekuasaanku terbatas. Aku adalah prajurit Tumapel. Justru aku adalah salah seorang pimpinmu di sini. Kalau Ken Arok tidak ada, maka akulah yang memutuskan semua persoalan.”
“Tetapi sekarang Ken Arok ada. Karena itu, jangan memutuskan persoalan apapun. Serahkanlah kepada Ken Arok.”
“Tidak. Akupun berwenang. Aku mempunyai kekuasaan yang jauh lebih besar dari kau. Kau hanyalah seorang pedukuhan Panawijen. Sedang aku adalah pinipinan prajurit.”
“Apakah bedanya? Seorang pedukuhan dan seorang prajurit? Kita adalah orang-orang Tumapel. Kita adalah isi dari tanah ini dalam sudut yang berbeda-beda. Tetapi kitalah, kita semualah yang wajib memenuhi wadah ini. Salah satu ujudnya adalah bendungan itu. Kita bersama-sama telah membangun sebuah bendungan yang akan memberi manfaat kapada kita semuanya. Apalagi? Kenapa kau masih menyebut perbedaan di antara kita.”
“Tutup mulutmu.“ Kebo Ijo membentak, “sekali lagi kau harus mendengar, aku adalah seorang prajurit. Aku dapat berbuat apa saja atasmu, atas orang-orang biasa seperti kau.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Apakah Ken Arok itu bukan seorang prajurit?”
Kebo Ijo terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa dengan Ken Arok?”
“Kebo Ijo.“ berkata Mahisa Agni yang masih mencoba menahan dirinya, “seharusnya kau bercermin kepadanya. Ken Arok adalah orang yang paling berkuasa di dalam kesatuan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini. Tetapi sikapnya jauh berbeda dengan sikapmu. Tetapi aku, aku yang sudah mengenalmu cukup lama, dapat mengerti, bahwa demikianlah tabiat Kebo ijo. Sejak kau belum menyebut dirimu seorang prajurit, kau adalah seorang yang dikuasai oleh perasaanmu yang meledak-ledak itu. Tetapi justru sekarang kau harus merubah sikapmu. Kau sudah semakin dewasa. Hatimu seharusnya sudah menjadi semakin mengendap. Kau harus dapat membedakan, mana yang baik untukmu sendiri dan mana yang buruk. Kau harus dapat juga membedakan, mana yang baik untuk lingkunganmu sebagai seorang prajurit dan mana yang tidak.”
“Persetan dengan sesorahmu.“ Kebo Ijo menggeram, “aku telah kehilangan Kuda Sempana. Aku barus mendapatkan gantinya.”
“Kenapa tidak kau kejar saja anak itu.”
“Kau yang gila.”
“Sudahlah. Jangan terlampau mendendam. Lihat, bendungan itu telah selesai dibuat oleh orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel. Akuwu telah memberikan banyak sekali bantuan, selain peralatan dan tenaga. Akuwu telah mengirimkan bahan-bahan makanan, bukan saja untuk para prajurit tetapi juga untuk orang-orang Panawijen. Kesan itu terlampau dalam menghunjam di dalam hati kami. Kami berterima kasih sekali atas semua bantuan itu. Karena itu. Kebo Ijo kau jangan membuat semuanya itu rusak. Kau jangan merubah kesan yang mendalam di dalan hati kami. Kau seorang akan dapat merusakkan segala macam rasa terima kasih kami, atau setidak-tidaknya mengurangi. Karena itu cobalah mengekang diri.”
“Cukup, cukup. Kau tidak berhak memberikan nasehat itu kepadaku.”
“Bukan aku sendiri yang berpendirian demikian. Kakakmu, seorang prajurit yang bukan saja menjadi pimpinan di Padang Karautan, bahkan seorang perwira pimpinan Pasukan Pengawal Istana seisinya pun berpendirian demikian, supaya kau mencoba mengekang dirimu.”
”Persetan dengan kakang Witantra. Persoalan ini adalah persoalanku dan Kuda Sempana.”
“Sekedar persoalan pribadi?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi nyala matanya menjadi semakin berkobar, “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Tetapi karena kau telah memungkinkan Kuda Sempana pergi, maka kaulah yang akan menerima hukumanku.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia masih belum tahu, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sebentar lagi Akuwu akan datang. Apakah yang akan dikatakan nanti apabila ia mengetahui perselisihan ini. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni melayangkan pandangan matanya berkeliling. Ia tidak melihat seorangpun. Agaknya setelah keempat prajurit yang mendahului Akuwu itu datang mereka telah berkumpul di ujung perkemahan ini, untuk melihat Akuwu yang pasti segera akan datang dengan kebesarannya.
“Jangan mencari jalan untuk lari.” bentak Kebo Ijo, “nasibmu agaknya memang terlampau jelek. Kau terlepas dari tangan Kebo Sindet, tetapi kau akan mati di tanganku. Tak akan ada lagi orang yang akan menolongmu. Gurumu pun tidak.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia sendiri menghadapi keadaan yang sama sekali tidak diduganya. Ia berada dalam keadaan tanpa pilihan. Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba.
“Kebo Ijo. Cobalah katakan kepadaku. Apakah sebabnya maka kau dan Kuda Sempana bertengkar, bahkan kau telah menyebut-nyebut hukuman mati? Hukuman mati hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah melakukan kesalahan yang luar biasa, dan tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung sudah memaafkan Kuda Sempana. Ki Buyut Panawijen yang seharusnya mendendamnya seperti aku sendiri mendendam, sudah memaafkannya pula. Kenapa tiba-tiba saja kau yang tidak terlibat di dalam persoalan-persoalan sebelumnya, menjatuhkan hukuman mati atasnya? Ketika ia lari, maka akulah yang kau sebut-sebut harus menerima hukuman itu. Aku lah yang kini akan kau bunuh. Cobalah renungkan. Pantaskah aku mendapat hukuman mati, seandainya aku menggantikan kedudukan Kuda Sempana? Apakah perbuatan Kuda Sempana sudah benar-benar melampaui batas?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu telah berhasil menyentuh hatinya. Dan bahkan ia bertanya pula kepada diri sendiri di dalam dadanya, “Ya, apakah kesalahan Kuda Sempana?”
Sejenak Kebo Ijo terdiam. Mereka terlibat dalam persoalan itu, hanya karena Kebo Ijo tordorong mengatakan persoalan-persoalan yang telah menyinggung perasaan Kuda Sempana. Tetapi tiba-tiba Kebo Ijo menggeretakkan giginya. Ia tidak ingin dipengaruhi pertanyaan itu. Ia sudah terlanjur dibakar oleh nafsunya untuk berkelahi.
Karena itu maka jawabnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah menjatuhkan keputusan.”
“Keputusan itu dapat dirubah. Lebih baik kau sendirilah yang merubah, dari pada dirubah oleh orang lain. Oleh Ken Arok misalnya.”
“Tidak. Aku akan melakukannya sebelum Ken Arok datang. Ia sedang menemui prajurit-prajurit itu, sambil menunggu kedatangan Akuwu.”
“Seandainya kau bunuh aku Kebo Ijo. Apakah yang akan kau katakan kepada Akuwu? Aku adalah kakak Permaisuri Akuwu itu.”
Sekali lagi Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Huh, apakah kau hanya berani bernaung di bawah lindungan adikmu itu? Apakah kau bukan seorang laki-laki yang berani bertindak atas namamu sendiri.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kita berhadapan sebagai laki-laki.”
“O, akhirnya itulah maksudmu sebenarnya.” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “persoalannya akan berbeda dari seseorang yang akan menjatuhkan hukuman atas suatu kesalahan. Kalau kau akan menghukum seseorang, maka orang itu tidak akan dapat berbuat jantan seperti yang kau maksud. Kalau kesalahan itu meyakinkan, kejantanan seseorang adalah menerima hukuman itu dengan dada tengadah.”
“Persetan. Sudah aku katakan. Hukuman itu memberi kesempatan kepada Kuda Sempana dan kemudian kepadamu untuk melakukan perang tanding melawan aku. Mengerti.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya. Di dalam hati ia mengharap, mudah-mudahan ada seseorang yang melihat peristiwa itu, kemudian melaporkannya kepada Ken Arok. Dengan demikian, maka Ken Arok dapat mengambil tindakan atas Kebo Ijo, sehingga perkelahian yang diinginkan itu tidak usah terjadi. Tetapi agaknya di sekitar tempat itu sudah terlampau sepi.
“Kau masih akan lari?” bentak Kebo Ijo.
“Kalau maksudmu tidak kau urungkan, kau akan mendapat hukuman dari Akuwu.”
“Aku tidak peduli. Aku dapat mengarang sebuah ceritera tentang dirimu.”
“Ken Arok menjadi saksi, apakah yang sedang kau lakukan.”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Aku tidak peduli. Kita berkelahi secara jantan.”
“Kalau demikian kita perlu saksi.”
“Persetan. Kau mengulur waktu dengan licik supaya ada orang lain yang melihat, kemudian menyelamatkan kau.”
Tanpa disangka-sangka oleh Kebo Ijo, Mahisa Agni itu mengangguk dan menjawab, “Ya. Kau benar. Aku berusaha mengulur waktu, supaya ada orang yang melihat peristiwa ini, melaporkannya kepada Ken Arok, dan memanggilmu.”
“Licik, kau pengecut. Aku tidak peduli. Aku akan menghitung sampai tiga kali. Aku akan menyerangmu. Melawan atau tidak melawan terserah kepadamu.”
“Kau berpedang. Aku tidak membawa senjata.”
“Aku tidak peduli. Carilah senjata ke gubug-gubug itu, Kau akan menemukan pedang.”
“Baik. Aku akan mencarinya.”
“Tidak. Tidak. Kau pasti akan lari, Tunggu disitu. Aku akan mengambil pedang itu untukmu.”
Kebo Ijo tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Selangkah ia mendekati sebuah gubug tanpa melepaskan pandangan matanya dari Mahisa Agni iang masih berdiri diam dalam kebimbangan. Sebenarnya ia dapat lari saat itu. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Betapapun juga, adalah tidak menyenangkan sekali untuk lari terbirit-birit menghindarkan diri lari perkelahian, meskipun perkelahian itu sama sekali tidak menyenangkannya.
Sejenak kemudian ia melihat Kebo Ijo menyelinap ke dalam sebuah gubug. Kesempatan menjadi semakin banyak baginya untuk lari. Tetapi kakinya seolah-olah menjadi berat, seberat bandul timah. Agaknya kemudaannyalah yang telah menahannya. Dengan demikian, maka ia masih tetap berdiri ditempatnya dengan penuh kebimbangan ketika Kebo Ijo muncul dari dalam sebuah gubug dengan meninting sebilah pedang. Tetapi pedang itu adalah pedang yang terlampau jelek untuk bertempur melawan pedang Kebo Ijo.
Dengan dada tengadah dilemparkannya pedang itu ke hadapan Mahisa sambil berkata, “Aku akan mulai menghitung. Dengarlah baik-baik. Aku akan menyerang apabila aku sampai pada hitungan ketiga. Melawan atau tidak melawan.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini kesempatan untuk menghindari perkelaian dengan Kebo Ijo menjadi semakin sempit. Kebo Ijo hanya memberinya waktu tiga hitungan lagi. Terasa keringat dingin membasahi punggung Mahisa Agni. Ia tahu bahwa tidak bijaksana apabila terjadi benturan antara mereka yang dengan susah payah selama ini telah bekerja bersama-sama demikian eratnya untuk membangun sebuah bendungan yang kini telah jadi. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah mendengar Kebo Ijo itu berteriak “Satu ….”
Mahisa Agni sudah tidak mempunyai pilihan lain daripada berbuat sesuatu, meskipun akibatnya akan tidak pernah dilupakan oleh Kebo Ijo. Tetapi ia harus melupakan. Namun sebelum Kebo Ijo menyebut bilangan berikutnya, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dikejauhan. Orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel telah memekikkan kata-kata sambutan atas kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Agaknya mereka telah melihat dikejauhan, tanda-tanda kebesaran Akuwu Tunggul Ametung yang sudah menjadi kian mendekat.
“Dengar,” desis Mahisa Agni, “Akuwu telah datang. Kita tunda persoalan kita sampai lain kali.”
Wajah Kebo Ijo menyadi semakin tegang. Ia belum melihat Mahisa Agni memungut pedang yang dilemparkannya. Namun orang yang keras kepala itu menyahut, “Aku tidak dapat menunda lagi. Cepat, ambil pedang itu. Kalau kau segera mati, maka aku masih akan sempat melempar mayatmu ke sungai.”
Mahisa Agni kini telah benar-benar menjadi gelisah Ia ingin melihat Akuwu itu mendekati perkemahan. Tetapi agaknya Kebo Ijo telah benar-benar menjadi gila.
“Dua.” tiba-tiba Kebo Ijo berteriak. bersamaan dengan itu, ia telah benar-benar bersiaga. Agaknya ia tidak akan bermain-main lagi. Ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya. Membunuh didalam kegilaannya itu.
Akhirnya Mahisa Agni tidak mempunyai pilihan lain. Justru tepat pada saat Akuwu datang. “Aku harus mempercepat penyelesaiannya.” katanya di dalam hati. “Mudah-mudahan tidak meninggalkan bekas apapun, selain di hati Kebo Ijo.”
Mahisa Agni kemudian tidak mempunyai pilihan lain dari pada menunggu serangan Kebo Ijo yang bakal datang. Sesaat lagi, apabila ia telah menyebutkan bilangan yang ketiga. Sekejap kemudian bibir Kebo Ijo mulai bergerak. Maka meluncurlah kata-katanya, mengucapkan bilangan yang ketiga.
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Lalu dihembuskannya nafas panjang-panjang. Perlahan-lahan ia menganggukkan kepalanya sambil berdesah, “Kau benar Agni. Tetapi lalu apakah sebaliknya yang aku lakukan? Apakah aku akan bersembunyi saja di tengah-tengah Padang Karautan, di antara gerumbul-gerumbul perdu.”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya “Tidak mungkin. Kalau seseorang dengan tidak sengaja menjumpai kau berada di sana, maka angan-angannya segera akan terbang ke dalam suatu keadaan yang dapat merugikan namamu yang selama ini sedang kau usahakan menjadi bersih kembali.”
Sejenak Kuda Sempana terdiam. Pendapat Mahisa Agni itu dapat dimengertinya. Bahkan mungkin seseorang akan menyangkanya, sepeninggal Kebo Sindet, maka ia telah mewarisi pekerjaannya meskipun tidak sedahsyat iblis dari Kemundungan itu. Namun untuk tetap tinggal di perkemahan ini, dan kemudian bertemu dengan Ken Dedes dan Akuwu Tungul Ametung, hatinya masih terasa terlampau pedih.
Sementara itu Ken Arok telah menjadi gelisah. Ia harus segera menemui empat orang prajurit yang mendalului perjalanan Akuwu, karena orang-orang itu mungkin membawa pesan-pesan yang harus dilakukannya.
Dalam pada itu, tiba-tiba Mahisa Agni berkata kepada Ken Arok. “Aku kira kita tidak akan berkeberatan seandainya Kuda Sempana pergi ke Panawijen. Kita akan mencari alasan apapun seandainya akuwu bertanya tentang dirinya. Tetapi biarlah seseorang mengawaninya.”
Ken Arok tidak segera menyawab. Ditatapnya wajah Mahisa Agni dan Kuda Sempana berganti-ganti. Namun dalam pada itu terdengar Kuda Sempana menyahut,
“Apakah kau cemaskan bahwa aku benar-benar akan melarikan diri?”
Mahisa Agni menggeleng, “Sudah aku katakan. Hanya orang yang gila yang akan melarikan diri dari keadaan yang kau hayati sekarang. Aku mempunyai pikiran untuk menyuruh satu atau dua orang mengawanimu, supaya kau tidak terasing di padukuan itu. Supaya ada orang yang menjelaskan tentang keadaanmu sekarang.”
Kuda Sempana menundukkan kepalanya, “Maafkan aku. Kalau begitu aku akan sangat berterima kasih.”
“Hal itu memang lebih baik bagimu daripada kau berkeliaran selama sepuluh hari di Padang Karautan tanpa arah dan tujuan. Banyak sekali godaan yang akan berusaha menyeretmu ke dalam keadaan yang tidak kau inginkan sendiri.”
“Aku mengerti.”
“Nah, bagaimana pertimbanganmu Ken Arok?”
“Aku sependapat. Biarlah satu dua orang mengawaninya. Tetapi siapakah orang yang akan mengawaninya? Setiap orang berkeinginan untuk menyambut Akuwu Tunggul Ametung dan ingin ikut bergembira bersamanya setelah mereka bekerja keras sekian lama.”
“Aku dapat menunjuk orangnya atas persetujuan Ki Buyut Panawijen. Orang itu hanya mengantar Kuda Sempana. Kemudian pada hari yang kedua atau ketiga, setelah Kuda Sempana dimengerti keadaannnya oleh orang-orang Panawijen, maka pengantar itu akan segera kembali kepadang ini, untuk bersama-sama bergembira. Ia masih mempunyai waktu cukup untuk itu.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Terserahlah kepadamu Agni. Aku menyetujui semua yang kau anggap baik. Sekarang aku minta diri untuk menemui empat orang prajurit yang menjadi perambas jalan Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Arok pun segera meninggalkan Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Ia harus segera menemui keempat orang prajurit itu. Mungkin ada sesuatu yang harus segera dikerjakan.
Sepeninggal Ken Arok, maka Kuda Sempana pun segera mempersiapkan dirinya pula. Segera ia menerima pedangnya kembali. Tetapi selama perjalanannya ke Panawijen, Mahisa Agni telah menasehatkan untuk tidak mengenakan pedang di lambungnya. Sebaiknya pedang itu digantungkannya saja pada kudanya, supaya tidak menimbulkan kesan yang mengejutkan pada saat ia memasuki Panawijen. Pedang di lambung akan segera dapat dilihat, sebagai suatu kesiagaan untuk berkelahi. Tetapi pedang yang tergantung di kudanya, tidak segera akan dilihat orang. Mungkin kesannya akan jauh berbeda. Kuda Sempana dengan pedang di lambung dan Kuda Sempana yang tidak bersenjata, meskipun senjata itu sebenarnya dapat dipergunakan apabila perlu.
Sementara Kuda Sempana mempersiapkan dirinya, maka Mahisa Agni telah mendapatkan dua orang atas persetujuan Ki Buyut Panawijen untuk menemani Kuda Sempana pergi. Dengan demikian, kedatangan Kuda Sempana kepadukuhan Panawijen tidak akan terlampau mengejutkan orang-orang yang masih tinggal di sana.
“Hati-hatilah Kuda Sempana.” pesan Mahisa Agni, “kau harus menuju ke arah yang berlawanan dari arah Akuwu Tunggul Ametung yang akan segera datang. Perambas jalannya telah datang, dan pasti sebentar lagi Akuwu akan menyusul.”
“Ya Agni. Aku akan pergi ke Barat, kemudian berbelok menyusur sungai. Aku kira Akuwu tidak akan menempuh jalan itu. Aku kira Akuwu akan datang dari Timur.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemungkinan yang terbesar adalah demikian. Karena itu maka jawabnya, “Baiklah. Tetapi kau harus selalu mencoba memandang kekejauhan. Kau harus segera menghindar apabila kau kemudian ternyata melihat iring-iringan apapun. Dari kejauhan kau pasti akan sukar membedakan, apakah iring-iringan itu iring-iringan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Aku kira aku dapat membedakannya Agni. Akuwu akan datang dengan kebesaran. Panji-panji, tunggul dan rontek-rontek yang dibawanya pasti akan segera dapat aku kenal.”
“Mudah-mudahan upacara kebesaran itu dibawanya lengkap. Nah, sekarang mumpung masih sempat berangkatlah.”
Kuda Sempana dan dua orang yang mengawaninya segera meloncat naik ke atas punggung kuda masing-masing. Tetapi wajah Kuda Sempana segera menjadi tegang ketika tiba-tiba saja Kebo Ijo telah muncul pula dari antara gubug-gubug di perkemahan itu.
“Kemana kau akan lari Kuda Sempana? Agaknya kau telah bersepakat dengan Mahisa Agni, menghindarkan diri dari hukumanku. Apakah orang semacam kau masih pantas diampuni?“ Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Akan kau sembunyikan dimana anak itu Agni?”
Wajah Kuda Sempana menjadi tegang. Hampir saja ia meloncat turun dari kudanya. Tetapi dengan herannya ia melihat Mahisa Agni yang seolah-olah acuh tidak acuh saja atas kehadiran Kebo Ijo itu. Bahkan ia berkata,
“Hati-hatilah Kuda Sempana. Sampaikan salamku kepada mereka.”
Sejenak Kuda Sempana tidak dapat berkata sepatah katapun. Perhatiannya terbelah antara pesan Mahisa Agni dan sikap Kebo Ijo. Karena itu, maka dipandanginya kedua orang itu berganti-ganti.
“He, Mahisa Agni.“ terdengar Kebo Ijo berteriak, “apakah kau tuli, he? Akan kau sembunyikan dimana anak itu? Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Meskipun kau yang membawanya kemari, tetapi kau tidak akan aku ikut sertakan menanggung kesalahannya apabila kau tidak campur tangan. Sekarang pergilah. Biarlah aku urus sendiri anak yang sombong dan keras kepala ini. Ken Arok kini sedang berbicara dengan prajurit-prajurit perambas jalan. Setelah aku mendesaknya, ia akhirnya menyerahkan persoalan Kuda Sempana kepadaku disaksikan oleh prajurit-prajurit perambas jalan. Mereka adalah prajurit-prajurit Pengawal istana, bawahan kakang Witantra.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia sama sekali tidak berpaling. Bahkan katanya, “Kuda Sempana. Mumpung masih sempat, pergilah. Ingat jangan kau turuti saja perasaanmu. Kau harus berusaha mengendalikan dirimu. Sudah banyak kau korbankan perasaanmu untuk menemukan dunia baru. Karena itu, maka jagalah dirimu. Kau memang masih harus banyak berkorban perasaan. Tetapi kau akan berkasil.”
“Agni.“ Kebo Ijo berteriak, “apakah kau memang telah bersepakat untuk menentang kekuasaan prajurit Tumapel di Padang Karautan.”
Mahisa Agni masih belum berpaling. Ketika ia melihat Kuda Sempana menggeretakkan giginya, maka ia berkata, “Salah satu dari ujianmu. Sekarang berangkatlah. Cepat. Jangan kau hiraukan Kebo Ijo itu. Ia tidak akan dapat berlari secepat kudamu. Jangan berkecil hati. Kau tidak lari dari padanya. Tetapi kau menghindarkan dirimu dari kesulitan yang tidak perlu.”
Kuda Sempana ragu-ragu sejenak. Dan ia masih mendengar Kebo Ijo berkata lantang, “Apa yang kau katakan itu Agni? Ingat. Apabila Kuda Sempana lari dari Padang Karautan, maka kaulah yang bertanggung jawab. Kaulah yang akan menerima hukuman yang seharusnya dibebankan kepada Kuda Sempana.”
Betapapun Mahisa Agni mencoba menahan dirinya, namun terasa dadanya berdesir pula. Meskipun demikian, ia masih sempat berkata kepada Kuda Sempana, “Cepat. Kau telah mengenal aku. Jangan kau cemaskan aku. Ken Arok telah membenarkan sikapku.”
“Tidak. Ken Arok telah menarik keputusannya.”
“Jangan hiraukan. Cepat pergi.”
“Jangan coba melarikan diri.“ teriak Kebo Ijo.
Ternyata Kebo Ijo tidak hanya sekedar berteriak-teriak. Ternyata secepat kilat ia telah mencabut pedangnya dan meloncat maju kearah Kuda Sempana. Tetapi tepat pada saatnya Mahisa Agni telah memukul perut kuda itu sehingga kuda yang ditunggangi oleh Kuda Sempana itu meloncat dan berlari.
“Setan.“ Kebo Ijo mengumpat. Ia masih mencoba mengejar kuda yang berlari semakin kencang itu, tetapi justru semakin lama menjadi semakin jauh.
Sementara itu Mahisa Agni memberi tanda kepada dua orang yang akan mengawani Kuda Sempana ke Panawijen untuk segera berangkat menyusulnya.
“Hati-hati.” pesan Mahisa Agni, “hindarilah anak yang telah menjadi gila itu. Jangan hiraukan, tetapi jangan sampai tersentuh tangannya anak itu luar biasa.”
Keduanya mengangguk. Mereka segera menggerakkan kekang kudanya dan menyentuh dengan tangannya, sehingga kuda-kuda itupun segera meloncat berlari. Tetapi mereka harus berhati-hati. Mereka melingkar beberapa jauh, supaya Kebo Ijo tidak dapat menahan mereka. Terdengar Kebo Ijo mengumpat-umpat. Ketika ternyata bahwa langkah kakinya tidak dapat menyusul derap kaki-kaki kuda itu, maka iapun segera berhenti dengan nafas terengah-engah. Bahkan kemudian diacung-acungkannya pedangnya. Tetapi Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin jauh, disusul oleh kedua orang yang akan mengawaninya ke Panawijen. Sambil menggeretakkan giginya Kebo Ijo berpaling. Darahnya serasa melonjak sampai kekepala ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri ditempatnya.
“Anak gila itulah yang telah menyebabkan aku kehilangan Kuda Sempana.“ Kebo Ijo menggeram. Matanya menjadi merah karena kemarahan dan kekecewaan yang bercampur baur. “Anak itulah yang harus menerima akibatnya.”
Tiba-tiba otak Kebo Ijo menjadi gelap pepat, disaput oleh kemarahan dan kekecewaan. Perlahan-lahan ia berjalan kembali mendekati Mahisa Agni. Pedangnya masih berada di dalam genggamannya setelah diacung-acungkan kepada Kuda Sempana. Mahisa Agni melihat sikap Kebo Ijo itu dengan hati yang berdebar-debar. Apakah ia harus kehilangan akal dan melayani anak yang bengal itu. Namun tumbuh juga di dalam hatinya, keinginan untuk sedikit memberi peringatan kepadanya. Supaya ia dapat mencoba mengekang dirinya.
Tetapi Mahisa Agni ragu-ragu. Bagaimanapun juga Kebo Ijo adalah seorang pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan. meskipun ia tidak tahu, kenapa anak itulah yang dikirim oleh Akuwu untuk membantu Ken Arok. Kenapa tidak orang lain. Kehadiran Kebo Ijo pasti hanya akan menambah beban saja bagi Ken Arok, meskipun Kebo Ijo sebenarnya juga seorang pekerja yang rajin. Namun sikapnyalah yang terlampau mengecewakan. Kebo Ijo yang memegang pedang di tangannya itu semakin lama menjadi semakin dekat. Debar jantung Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin cepat pula. Ia masih saja dicengkam oleh keragu-raguan. Apakah yang sebaik-baiknya dilakukan.
“Aku tidak dapat mengharapkan Ken Arok saat ini.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “ia sedang menerima keempat prajurit itu. Seandainya ia ada di sini, maka aku tidak akan perlu berbuat apa-apa. Semuanya aku serahkan saja kepadanya. Tetapi sekarang aku sendiri di sini.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sedang Kebo Ijo itupun melangkah semakin lama menjadi semakin dekat, dengan wajah yang tegang dan mata yang menyala. Debar jantung Mahisa Agni terasa menjadi semakin cepat bergetar. Setiap langkah Kebo Ijo terasa seperti tusukan yang tajam menghujam ke dalam tubuhnya. Betapa keragu-raguan telah mencangkam dadanya.
“Bagaimanapun juga, adalah lebih baik dari pada Kebo Ijo harus berkelahi lagi melawan Kuda Sempana.” desis Mahisa Agni di dalam hatinya. Ketika ia memandang kekejauhan dilihatnya Kuda Sempana sudah hampir hilang di balik cakrawala. Yang tampak adalah bintik-bintik yang kecil bergerak-gerak diantara semak-semak yang liar.
“Mahisa Agni.” sejenak kemudian terdengar Kebo Ijo membentak, “apakah kau tidak tahu, bahwa aku adalah orang kedua di Padang Karautan ini?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ditatapnya mata Kebo Ijo yang seolah-olah sedang membara.
“He, apakah kau tuli atau bisu?“ teriak Kebo Ijo.
“Jangan membentak-bentak seperti terhadap anak kecil Kebo Ijo.“ sahut Mahisa Agni sareh, “marilah kita berbicara sebagai orang-orang yang telah dewasa. Janganlah selalu memanjakan perasaanmu yang meledak-ledak itu.”
“Tutup mulutmu. Aku mempunyai kekuasaan di sini.”
“Aku tahu, tetapi aku tahu juga batas-batas kekuasaanmu.”
“Apa? Kau sangka kekuasaanku terbatas. Aku adalah prajurit Tumapel. Justru aku adalah salah seorang pimpinmu di sini. Kalau Ken Arok tidak ada, maka akulah yang memutuskan semua persoalan.”
“Tetapi sekarang Ken Arok ada. Karena itu, jangan memutuskan persoalan apapun. Serahkanlah kepada Ken Arok.”
“Tidak. Akupun berwenang. Aku mempunyai kekuasaan yang jauh lebih besar dari kau. Kau hanyalah seorang pedukuhan Panawijen. Sedang aku adalah pinipinan prajurit.”
“Apakah bedanya? Seorang pedukuhan dan seorang prajurit? Kita adalah orang-orang Tumapel. Kita adalah isi dari tanah ini dalam sudut yang berbeda-beda. Tetapi kitalah, kita semualah yang wajib memenuhi wadah ini. Salah satu ujudnya adalah bendungan itu. Kita bersama-sama telah membangun sebuah bendungan yang akan memberi manfaat kapada kita semuanya. Apalagi? Kenapa kau masih menyebut perbedaan di antara kita.”
“Tutup mulutmu.“ Kebo Ijo membentak, “sekali lagi kau harus mendengar, aku adalah seorang prajurit. Aku dapat berbuat apa saja atasmu, atas orang-orang biasa seperti kau.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Tetapi ia menjawab, “Apakah Ken Arok itu bukan seorang prajurit?”
Kebo Ijo terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian iapun bertanya, “Kenapa dengan Ken Arok?”
“Kebo Ijo.“ berkata Mahisa Agni yang masih mencoba menahan dirinya, “seharusnya kau bercermin kepadanya. Ken Arok adalah orang yang paling berkuasa di dalam kesatuan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini. Tetapi sikapnya jauh berbeda dengan sikapmu. Tetapi aku, aku yang sudah mengenalmu cukup lama, dapat mengerti, bahwa demikianlah tabiat Kebo ijo. Sejak kau belum menyebut dirimu seorang prajurit, kau adalah seorang yang dikuasai oleh perasaanmu yang meledak-ledak itu. Tetapi justru sekarang kau harus merubah sikapmu. Kau sudah semakin dewasa. Hatimu seharusnya sudah menjadi semakin mengendap. Kau harus dapat membedakan, mana yang baik untukmu sendiri dan mana yang buruk. Kau harus dapat juga membedakan, mana yang baik untuk lingkunganmu sebagai seorang prajurit dan mana yang tidak.”
“Persetan dengan sesorahmu.“ Kebo Ijo menggeram, “aku telah kehilangan Kuda Sempana. Aku barus mendapatkan gantinya.”
“Kenapa tidak kau kejar saja anak itu.”
“Kau yang gila.”
“Sudahlah. Jangan terlampau mendendam. Lihat, bendungan itu telah selesai dibuat oleh orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel. Akuwu telah memberikan banyak sekali bantuan, selain peralatan dan tenaga. Akuwu telah mengirimkan bahan-bahan makanan, bukan saja untuk para prajurit tetapi juga untuk orang-orang Panawijen. Kesan itu terlampau dalam menghunjam di dalam hati kami. Kami berterima kasih sekali atas semua bantuan itu. Karena itu. Kebo Ijo kau jangan membuat semuanya itu rusak. Kau jangan merubah kesan yang mendalam di dalan hati kami. Kau seorang akan dapat merusakkan segala macam rasa terima kasih kami, atau setidak-tidaknya mengurangi. Karena itu cobalah mengekang diri.”
“Cukup, cukup. Kau tidak berhak memberikan nasehat itu kepadaku.”
“Bukan aku sendiri yang berpendirian demikian. Kakakmu, seorang prajurit yang bukan saja menjadi pimpinan di Padang Karautan, bahkan seorang perwira pimpinan Pasukan Pengawal Istana seisinya pun berpendirian demikian, supaya kau mencoba mengekang dirimu.”
”Persetan dengan kakang Witantra. Persoalan ini adalah persoalanku dan Kuda Sempana.”
“Sekedar persoalan pribadi?”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Tetapi nyala matanya menjadi semakin berkobar, “Aku tidak peduli. Aku tidak peduli. Tetapi karena kau telah memungkinkan Kuda Sempana pergi, maka kaulah yang akan menerima hukumanku.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia masih belum tahu, apakah yang sebaiknya dilakukan. Sebentar lagi Akuwu akan datang. Apakah yang akan dikatakan nanti apabila ia mengetahui perselisihan ini. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni melayangkan pandangan matanya berkeliling. Ia tidak melihat seorangpun. Agaknya setelah keempat prajurit yang mendahului Akuwu itu datang mereka telah berkumpul di ujung perkemahan ini, untuk melihat Akuwu yang pasti segera akan datang dengan kebesarannya.
“Jangan mencari jalan untuk lari.” bentak Kebo Ijo, “nasibmu agaknya memang terlampau jelek. Kau terlepas dari tangan Kebo Sindet, tetapi kau akan mati di tanganku. Tak akan ada lagi orang yang akan menolongmu. Gurumu pun tidak.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini ia sendiri menghadapi keadaan yang sama sekali tidak diduganya. Ia berada dalam keadaan tanpa pilihan. Meskipun demikian Mahisa Agni masih mencoba.
“Kebo Ijo. Cobalah katakan kepadaku. Apakah sebabnya maka kau dan Kuda Sempana bertengkar, bahkan kau telah menyebut-nyebut hukuman mati? Hukuman mati hanya akan diberikan kepada mereka yang sudah melakukan kesalahan yang luar biasa, dan tidak ada harapan lagi untuk diperbaiki. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung sudah memaafkan Kuda Sempana. Ki Buyut Panawijen yang seharusnya mendendamnya seperti aku sendiri mendendam, sudah memaafkannya pula. Kenapa tiba-tiba saja kau yang tidak terlibat di dalam persoalan-persoalan sebelumnya, menjatuhkan hukuman mati atasnya? Ketika ia lari, maka akulah yang kau sebut-sebut harus menerima hukuman itu. Aku lah yang kini akan kau bunuh. Cobalah renungkan. Pantaskah aku mendapat hukuman mati, seandainya aku menggantikan kedudukan Kuda Sempana? Apakah perbuatan Kuda Sempana sudah benar-benar melampaui batas?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu telah berhasil menyentuh hatinya. Dan bahkan ia bertanya pula kepada diri sendiri di dalam dadanya, “Ya, apakah kesalahan Kuda Sempana?”
Sejenak Kebo Ijo terdiam. Mereka terlibat dalam persoalan itu, hanya karena Kebo Ijo tordorong mengatakan persoalan-persoalan yang telah menyinggung perasaan Kuda Sempana. Tetapi tiba-tiba Kebo Ijo menggeretakkan giginya. Ia tidak ingin dipengaruhi pertanyaan itu. Ia sudah terlanjur dibakar oleh nafsunya untuk berkelahi.
Karena itu maka jawabnya, “Aku tidak peduli. Aku sudah menjatuhkan keputusan.”
“Keputusan itu dapat dirubah. Lebih baik kau sendirilah yang merubah, dari pada dirubah oleh orang lain. Oleh Ken Arok misalnya.”
“Tidak. Aku akan melakukannya sebelum Ken Arok datang. Ia sedang menemui prajurit-prajurit itu, sambil menunggu kedatangan Akuwu.”
“Seandainya kau bunuh aku Kebo Ijo. Apakah yang akan kau katakan kepada Akuwu? Aku adalah kakak Permaisuri Akuwu itu.”
Sekali lagi Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Huh, apakah kau hanya berani bernaung di bawah lindungan adikmu itu? Apakah kau bukan seorang laki-laki yang berani bertindak atas namamu sendiri.”
“Apa yang harus aku lakukan?”
“Kita berhadapan sebagai laki-laki.”
“O, akhirnya itulah maksudmu sebenarnya.” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “persoalannya akan berbeda dari seseorang yang akan menjatuhkan hukuman atas suatu kesalahan. Kalau kau akan menghukum seseorang, maka orang itu tidak akan dapat berbuat jantan seperti yang kau maksud. Kalau kesalahan itu meyakinkan, kejantanan seseorang adalah menerima hukuman itu dengan dada tengadah.”
“Persetan. Sudah aku katakan. Hukuman itu memberi kesempatan kepada Kuda Sempana dan kemudian kepadamu untuk melakukan perang tanding melawan aku. Mengerti.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia mengedarkan pandangan matanya. Di dalam hati ia mengharap, mudah-mudahan ada seseorang yang melihat peristiwa itu, kemudian melaporkannya kepada Ken Arok. Dengan demikian, maka Ken Arok dapat mengambil tindakan atas Kebo Ijo, sehingga perkelahian yang diinginkan itu tidak usah terjadi. Tetapi agaknya di sekitar tempat itu sudah terlampau sepi.
“Kau masih akan lari?” bentak Kebo Ijo.
“Kalau maksudmu tidak kau urungkan, kau akan mendapat hukuman dari Akuwu.”
“Aku tidak peduli. Aku dapat mengarang sebuah ceritera tentang dirimu.”
“Ken Arok menjadi saksi, apakah yang sedang kau lakukan.”
Kebo Ijo terdiam sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Aku tidak peduli. Kita berkelahi secara jantan.”
“Kalau demikian kita perlu saksi.”
“Persetan. Kau mengulur waktu dengan licik supaya ada orang lain yang melihat, kemudian menyelamatkan kau.”
Tanpa disangka-sangka oleh Kebo Ijo, Mahisa Agni itu mengangguk dan menjawab, “Ya. Kau benar. Aku berusaha mengulur waktu, supaya ada orang yang melihat peristiwa ini, melaporkannya kepada Ken Arok, dan memanggilmu.”
“Licik, kau pengecut. Aku tidak peduli. Aku akan menghitung sampai tiga kali. Aku akan menyerangmu. Melawan atau tidak melawan terserah kepadamu.”
“Kau berpedang. Aku tidak membawa senjata.”
“Aku tidak peduli. Carilah senjata ke gubug-gubug itu, Kau akan menemukan pedang.”
“Baik. Aku akan mencarinya.”
“Tidak. Tidak. Kau pasti akan lari, Tunggu disitu. Aku akan mengambil pedang itu untukmu.”
Kebo Ijo tidak menunggu jawaban Mahisa Agni. Selangkah ia mendekati sebuah gubug tanpa melepaskan pandangan matanya dari Mahisa Agni iang masih berdiri diam dalam kebimbangan. Sebenarnya ia dapat lari saat itu. Tetapi ada sesuatu yang menahannya. Betapapun juga, adalah tidak menyenangkan sekali untuk lari terbirit-birit menghindarkan diri lari perkelahian, meskipun perkelahian itu sama sekali tidak menyenangkannya.
Sejenak kemudian ia melihat Kebo Ijo menyelinap ke dalam sebuah gubug. Kesempatan menjadi semakin banyak baginya untuk lari. Tetapi kakinya seolah-olah menjadi berat, seberat bandul timah. Agaknya kemudaannyalah yang telah menahannya. Dengan demikian, maka ia masih tetap berdiri ditempatnya dengan penuh kebimbangan ketika Kebo Ijo muncul dari dalam sebuah gubug dengan meninting sebilah pedang. Tetapi pedang itu adalah pedang yang terlampau jelek untuk bertempur melawan pedang Kebo Ijo.
Dengan dada tengadah dilemparkannya pedang itu ke hadapan Mahisa sambil berkata, “Aku akan mulai menghitung. Dengarlah baik-baik. Aku akan menyerang apabila aku sampai pada hitungan ketiga. Melawan atau tidak melawan.”
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Kini kesempatan untuk menghindari perkelaian dengan Kebo Ijo menjadi semakin sempit. Kebo Ijo hanya memberinya waktu tiga hitungan lagi. Terasa keringat dingin membasahi punggung Mahisa Agni. Ia tahu bahwa tidak bijaksana apabila terjadi benturan antara mereka yang dengan susah payah selama ini telah bekerja bersama-sama demikian eratnya untuk membangun sebuah bendungan yang kini telah jadi. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan untuk menghindar.
Sesaat kemudian Mahisa Agni telah mendengar Kebo Ijo itu berteriak “Satu ….”
Mahisa Agni sudah tidak mempunyai pilihan lain daripada berbuat sesuatu, meskipun akibatnya akan tidak pernah dilupakan oleh Kebo Ijo. Tetapi ia harus melupakan. Namun sebelum Kebo Ijo menyebut bilangan berikutnya, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dikejauhan. Orang-orang Panawijen dan prajurit Tumapel telah memekikkan kata-kata sambutan atas kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Agaknya mereka telah melihat dikejauhan, tanda-tanda kebesaran Akuwu Tunggul Ametung yang sudah menjadi kian mendekat.
“Dengar,” desis Mahisa Agni, “Akuwu telah datang. Kita tunda persoalan kita sampai lain kali.”
Wajah Kebo Ijo menyadi semakin tegang. Ia belum melihat Mahisa Agni memungut pedang yang dilemparkannya. Namun orang yang keras kepala itu menyahut, “Aku tidak dapat menunda lagi. Cepat, ambil pedang itu. Kalau kau segera mati, maka aku masih akan sempat melempar mayatmu ke sungai.”
Mahisa Agni kini telah benar-benar menjadi gelisah Ia ingin melihat Akuwu itu mendekati perkemahan. Tetapi agaknya Kebo Ijo telah benar-benar menjadi gila.
“Dua.” tiba-tiba Kebo Ijo berteriak. bersamaan dengan itu, ia telah benar-benar bersiaga. Agaknya ia tidak akan bermain-main lagi. Ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakannya. Membunuh didalam kegilaannya itu.
Akhirnya Mahisa Agni tidak mempunyai pilihan lain. Justru tepat pada saat Akuwu datang. “Aku harus mempercepat penyelesaiannya.” katanya di dalam hati. “Mudah-mudahan tidak meninggalkan bekas apapun, selain di hati Kebo Ijo.”
Mahisa Agni kemudian tidak mempunyai pilihan lain dari pada menunggu serangan Kebo Ijo yang bakal datang. Sesaat lagi, apabila ia telah menyebutkan bilangan yang ketiga. Sekejap kemudian bibir Kebo Ijo mulai bergerak. Maka meluncurlah kata-katanya, mengucapkan bilangan yang ketiga.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar