MENU

Ads

Kamis, 05 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 003

“Ken Dedes sudah bangun,” berkata Empu Purwa perlahan.

Mahisa Agni tidak menjawab. Sejak semula ia sudah menyangka bahwa Ken Dedes dan para endanglah yang sedang merebus air sambil menunggu kedatangan mereka. Sekali mereka berjalan melingkari pertamanan di tengah-tengah halaman yang luas itu. Kemudian mereka berjalan di tanggul kolam yang berair bening. Di siang hari, kolam itu dipenuhi oleh itik, angsa, dan berati, berenang dengan riangnya. Kedatangan mereka disambut oleh Ken Dedes dengan penuh kemanjaan. Dengan bersungut-sungut terdengar ia bergumam,

“Ayah terlalu lama pergi bersama Kakang Agni. Semalam aku tidak tidur. Ayah berkata bahwa selambat-lambatnya senja kemarin sampai di rumah. Tetapi baru pagi ini ayah sampai.”

“Agni kerasan di Tumapel,” jawab Empu Purwa.

“Ah,” desah Ken Dedes, “barangkali gadis-gadis Tumapel menahannya.”

Mahisa Agni tersenyum kemalu-maluan. Ia tidak mau disangka demikian, namun ia tidak dapat mengatakan keadaan yang sebenarnya di padang Karautan. Karena itu menyahut,

“Aku berburu kelinci di Padang Karautan.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Katanya, “Ayah melewati padang rumput itu?” Empu Purwa mengangguk. “Tidaklah Ayah takut kepada hantu yang sering menghadang orang lalu di padang rumput itu?” desak Ken Dedes.

Sekali lagi Empu Purwa menggeleng. Katanya, “Tak ada hantu di sana. Yang ada adalah kelinci-kelinci dan anak-anak rusa.”

Ken Dedes tidak bertanya lagi tetapi wajahnya nampak bersungguh-sungguh. Tiba-tiba Ken Dedes melangkah maju mendekati Mahisa Agni. Ditatapnya sesuatu pada wajah anak muda itu.

“Kenapa wajahmu, Kakang?” bertanya Ken Dedes kemudian sambil meraba pipi Mahisa Agni.

Baru pada saat itu Mahisa Agni merasa wajahnya nyeri. Sebuah jalur kemerah-merahan membujur di wajahnya, di samping noda yang kebiru-biruan. Sekilas terasalah tangan hantu Karautan menghantam wajahnya itu pada saat ia berkelahi.

“Pipiku tersangkut dahan pada saat aku merunduk menangkap kelinci,” jawab Agni.

Meskipun Ken Dedes tidak bertanya lagi namun tampaklah kerut-kerut di keningnya sebagai pertanyaan hatinya. Kemudian tanpa disengajanya Ken Dedes mencibirkan bibirnya. Sesaat kemudian mereka telah duduk menghadapi minuman hangat. Air daun sereh dengan gula aren telah menyegarkan tubuh mereka.

“Kau terlalu lelah Agni,” berkata Empu Purwa. “Beristirahatlah.”

Sebenarnyalah bahwa Agni terlalu lelah. Perkelahiannya dengan Ken Arok telah memeras hampir seluruh tenaganya. Karena itu ia pun segera beristirahat pula. Karena kelelahan itulah maka ia pun segera jatuh tertidur. Betapapun lelahnya namun Agni tidak dapat tidur terlalu lama. Sudah menjadi kebiasaan anak muda itu bangun pagi-pagi sebelum matahari melampaui punggung bukit-bukit di sebelah timur.

Tetapi kali ini Mahisa Agni terlambat juga. Ketika ia membuka mata, dilihatnya cahaya matahari telah memanasi dinding-dinding ruang tidurnya. Karena itu segera ia bangkit dan segera pula dengan tergesa-gesa pergi ke belakang membersihkan diri. Ketika ia melangkah kembali masuk ke ruang dalam, Mahisa Agni terkejut mendengar sapa perlahan-lahan,

“Kau kerinan, Agni.”

Agni menoleh. Dilihatnya di sudut bale-bale besar yang terbentang di ruangan itu, Wiraprana duduk bersila. Senyumnya yang segar membayang di antara kedua bibirnya. Agni pun tersenyum pula. Jawabnya,

“Aku terlalu lelah.”



“Kau baru pulang semalam?” bertanya Prana.

“Bukan semalam,” jawab Agni, “pagi ini.”

“Lama benar kau pergi,” sahut Prana.

“Sepekan,” jawab Agni.

“Selesaikan dirimu. Kita pergi ke sawah kalau kau tidak terlalu lelah,” ajak Wiraprana.

Agni tidak menjawab. Segera ia membenahi diri. Sesaat kemudian mereka berdua telah turun ke halaman. Beberapa kali mata Agni mengitari seluruh ruangan dan halaman rumahnya untuk mencari Ken Dedes. Namun gadis itu tak ditemuinya. Ketika di halaman ia berpapasan dengan seorang cantrik, maka ia bertanya,

“Ke mana Ken Dedes?”

“Ke sungai, Ngger,” jawab cantrik itu.

“Apa yang dilakukan?” desak Agni.

“Ken Dedes membawa kelenting dan dijinjingnya bakul cucian,” jawab cantrik itu pula.

“Bapa Pendeta?” bertanya Agni pula.

“Di sanggar, sejak beliau datang bersama Angger,” jawab cantriknya itu.

Agni tidak bertanya lagi. Dan keduanya berjalan pula keluar halaman. Tiba-tiba langkah mereka terhenti ketika mereka melihat debu yang berhamburan dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari tidak terlalu kencang. Kuda itu berjalan searah dengan Agni dan Wiraprana.

Agni melihat kuda yang besar dan tegar itu dengan kagumnya. Di punggung kuda itu duduk seorang pemuda dengan pakaian yang rapi dan teratur. Kain lurik merah bergaris-garis cokelat, celana hitam mengkilat, dan timang bermata berlian. Di punggungnya terselip sebuah pusaka, keris berwrangka emas. Melihat anak muda yang duduk di atas punggung kuda itu wajah Agni menjadi terang. Ia tertawa sambil melambaikan tangannya dan dari sela-sela tertawanya terdengar ia menyapa,

“Kuda Sempana!”

Wiraprana berdiri saja di tempatnya. Ia melihat Agni dengan bibir yang ditarik ke sisi. Bisiknya, “Kau akan kecewa, Agni.”

Meskipun Agni mendengar bisik sahabatnya namun ia tidak segera menangkap maksudnya. Ia masih tegak di tepi jalan menanti anak muda yang berkuda dengan gagahnya itu. Mula-mula Mahisa menyangka bahwa Kuda Sempana tidak melihatnya. Karena itu sekali lagi menyapa,

“He, Kuda Sempana!”

Anak muda yang bernama Kuda Sempana itu memperlambat kudanya. Dilemparkan pandangannya ke arah Mahisa Agni. Namun hanya sebentar. Ia mengangguk tanpa kesan. Kemudian ia melanjutkan perjalanan. Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kuda Sempana baru beberapa tahun meninggalkan kampung halaman. Apakah anak itu telah melupakannya? Untuk meyakinkan dirinya, Mahisa Agni masih tetap berdiri menanti Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi kecewa ketika tiba-tiba kuda yang dinaikinya membelok masuk ke halaman. Justru halaman rumah gurunya.

“Bukankah itu Kuda Sempana?” tanpa sesadarnya Agni bertanya.

“Ya,” jawab Wiraprana.

“Kawan kita bermain dahulu?” Agni menegaskan.

“Ya,” jawab Prana.

“Bukankah anak itu baru beberapa tahun meninggalkan kita,” Agni meneruskan.

“Ya,” sahut Prana pula.

“Aneh,” berkata Agni seperti orang yang menyesal.

“Sudah aku katakan,” jawab Prana, “kau akan kecewa. Dua hari yang lampau, aku menyesal pula seperti kau sekarang. Anak itu sekarang menjadi pelayan dalam dari Akuwu Tunggul Ametung. Ia menjadi kaya dan tak mengenal kita lagi.”

“Barangkali ia tergesa-gesa,” Agni mencoba untuk memuaskan hatinya sendiri.

“Aku telah mengalami dua hari yang lampau. Ia memandangku seperti orang asing,” sahut Prana.

Tetapi Mahisa Agni masih belum yakin. Tak masuk di akalnya bahwa hanya karena menjadi pelayan dalam Akuwu Tumapel, seseorang dapat melupakan kawan-kawan bermain sejak masa kanak-kanaknya. Wiraprana melihat keragu-raguan itu. Maka katanya sambil tersenyum,

“Agni, agaknya kau tidak yakin akan kata-kataku. Cobalah kau temui anak itu.”

“Marilah,” ajak Agni.

Wiraprana menggeleng. Jawabnya, “Aku segan. Tak ada gunanya. Aku akan mendahului. Aku tunggu kau di atas tanggul.”

Mahisa Agni sejenak menjadi ragu-ragu. Tetapi bagaimanapun juga ia melihat sikap yang aneh pada Kuda Sempana. Apalagi anak muda itu masuk ke halaman rumah gurunya. Karena itu akhirnya ia berkata,

“Baiklah Prana, tunggulah aku di atas tanggul. Aku segera menyusul.”

Sekali lagi Wiraprana tersenyum. Kemudian ia memutar tubuhnya berjalan perlahan-lahan mendahului Agni, yang karena keinginannya untuk mengetahui keadaan Kuda Sempana, berjalan kembali ke halaman rumahnya. Ketika ia memasuki halaman, dilihatnya Kuda Sempana masih berada di atas punggung kudanya. Dengan sikap seorang bangsawan ia sedang bercakap-cakap dengan seorang cantrik.

“Sudah lama ia pergi?” terdengar Kuda Sempana itu bertanya.

“Sudah Angger,” jawab cantrik itu.

“Sendiri?” bertanya Kuda Sempana.

“Dengan beberapa endang, Angger,” jawab cantrik itu.

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ditebarkan pandangannya ke seluruh sudut halaman. Dan ketika dilihatnya Mahisa Agni, Kuda Sempana mengerutkan keningnya.

Mahisa Agni tersenyum dengan ramahnya. Dengan akrabnya ia berkata, “Sempana. Alangkah gagahnya kau sekarang.”

Anak muda itu memandang Mahisa Agni dengan tajam. Kemudian katanya, “Ya.”

Jawaban itu terlalu pendek bagi dua orang kawan yang telah lama tidak bertemu. Meskipun demikian Agni masih menyapanya lagi, “Apakah keperluanmu? Adakah aku dapat membantumu?”

Kuda Sempana menggeleng, “Aku tergesa-gesa.”

Perasaan kecewa mulai menjalari dada Mahisa Agni. Percayalah ia sekarang kepada Wiraprana bahwa hal yang diragukan itu benar-benar dapat terjadi.

Namun sekali lagi Agni bertanya, “Adakah sesuatu pesan untuk Bapa Pendeta?”

Sempana menggeleng. “Tidak,” katanya, “Aku tidak mempunyai sesuatu keperluan dengan Empu Purwa. Aku datang untuk putrinya.”

Terasa sesuatu berdesir di dalam dada Agni. Tetapi ia mencoba menguasai perasaannya. Dan tahulah ia sekarang, siapakah yang ditanyakan oleh Sempana kepada cantrik itu. Mahisa Agni terkejut ketika kemudian terdengar Kuda Sempana berkata,

“Aku tidak mempunyai banyak waktu.”

Anak muda yang gagah itu tidak menunggu jawaban siapa pun. Segera ia menarik kekang kudanya, dan kuda yang tegar itu pun berputar. Sesaat kemudian kuda itu telah menghambur meninggalkan halaman yang luas dan sejuk itu. Ketika Kuda Sempana telah hilang di balik pagar, bertanyalah cantrik itu kepada Mahisa Agni,

“Bukankah anak muda itu Angger Kuda Sempana?”

“Ya,” jawab Agni sambil mengangguk-angguk kepalanya.

“Tetapi,” cantrik itu meneruskan, “bukankah anak muda itu kawan Angger Agni bermain-main seperti Angger Wiraprana?”

Agni mengangguk. Ditatapnya sisa-sisa debu yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang mengagumkan itu. Jawabnya, “Begitulah.”

Cantrik itu tidak bertanya lagi ketika dilihatnya sorot mata Agni yang aneh. Karena itu, segera ia kembali pada pekerjaannya membersihkan halaman dan tanam-tanaman.

Agni pun kemudian tidak berkata-kata pula. Diayunkan kakinya keluar halaman. Ia telah berjanji pergi ke tanggul. Di sana Wiraprana menunggunya. Ia masih melihat Kuda Sempana melarikan kudanya lewat jalan yang akan dilaluinya namun ia sama sekali sudah tidak menaruh perhatian kepada anak muda yang sombong itu. Karena itu segera angan-angannya kembali kepada sahabatnya, Wiraprana.

Tanggul yang dimaksud Wiraprana adalah tanggul sebuah bendungan dari sebuah sungai kecil yang membujur agak jauh dari desanya. Dari sungai itulah sawah-sawahnya mendapat aliran air. Karena itu, baik Agni maupun Wiraprana sering benar pergi ke tanggul itu. Bahkan bukan saja anak-anak muda namun gadis-gadis pun selalu pergi ke sungai itu untuk mencuci pakaian-pakaian mereka dan mandi di belumbang kecil di bawah bendungan.

Tetapi Agni tidak langsung pergi ke tanggul itu. Ketika ia lewat di samping sawah Empu Purwa yang menjadi garapannya, ia berhenti. Dilihatnya beberapa batang rumput liar tumbuh di antara tanaman-tanamannya meskipun masa matun baru saja lampau. Karena itu ia memerlukan waktu sejenak untuk menyiangi tanamannya itu.

Wiraprana yang sudah sampai di pinggir kali, duduk dengan enaknya di atas sebuah batu padas yang menjorok agak tinggi. Ketika ia melihat bahwa tanggul dan bendungan cukup baik, maka yang dikerjakannya adalah menunggu Mahisa Agni, yang akan diajaknya untuk melihat apakah rumpon yang mereka buat telah masak untuk dibuka.

Wiraprana meredupkan matanya ketika ia melihat seekor kuda berlari kencang ke arahnya. Segera ia mengenal bahwa di atas punggung kuda itu duduk Kuda Sempana. Meskipun ia tidak tahu maksud kedatangan anak muda itu namun perasaan tidak senang telah menjalari dirinya sehingga tanpa sesadarnya ia turun dan duduk di balik batu padas itu. Ia sama sekali tidak ingin untuk bertemu dengan anak yang sombong itu meskipun timbul juga keinginannya untuk mengetahui, apakah maksud kedatangan anak muda itu ke bendungan.

Ketika Wiraprana melayangkan pandangannya ke belumbang kecil di bawah bendungan itu, dilihatnya beberapa orang gadis sedang mencuci. Satu di antara mereka adalah gadis yang dikenalnya dengan baik, sebaik ia mengenal Mahisa Agni. Gadis yang namanya selalu disebut oleh hampir setiap pemuda di kaki Gunung Kawi itu. Gadis itu adalah Ken Dedes.

Wiraprana menarik nafas. Tetapi kemudian ia dikejutkan oleh derap kaki kuda di sampingnya. Sekali lagi ia berkisar ke balik batu itu. Ia benar-benar tidak mau bertemu lagi dengan Kuda Sempana setelah hatinya dikecewakan dua hari yang lampau. Tetapi didesak oleh perasaannya maka dengan hati-hati ia mengintip apakah keperluan anak muda yang sombong itu. Ia menahan nafas ketika ia melihat Sempana berjalan hanya beberapa langkah di mukanya, kemudian membelok ke kanan, menuruni tebing sungai.

Beberapa orang gadis yang melihat kedatangan anak muda itu menjadi heran. Mereka telah biasa melihat Wiraprana, Mahisa Agni, dan anak-anak muda dari desa mereka berada di atas tanggul bendungan itu. Namun anak muda dengan pakaian yang sedemikian lengkapnya adalah jarang mereka lihat. Tetapi ketika anak muda itu menjadi semakin dekat, tiba-tiba terdengarlah hampir bersamaan dari mulut gadis-gadis itu sebuah sapa yang riang,

“Kuda Sempana!”

Tetapi sapa itu sama sekali tak berbekas di wajah Kuda Sempana yang seakan-akan telah membeku. Meskipun kemudian gadis-gadis itu menjadi riuh, namun Sempana sama sekali tak terpengaruh olehnya, sehingga akhirnya gadis-gadis itu pun menjadi heran dan berhenti dengan sendirinya. Tetapi di antara mereka, tampaklah Ken Dedes menjadi pucat. Tiba-tiba terasa tubuhnya gemetar seperti kedinginan. Ia melihat kedatangan Kuda Sempana seperti melihat hantu. Bagaimanapun ia mencoba menguasai dirinya namun tampak juga tubuhnya bergetar. Untunglah tak seorang pun dari kawan-kawannya memperhatikannya.

Kuda Sempana kemudian berdiri tegak di tepi belumbang kecil itu. Gadis-gadis yang berada di hadapannya itu seakan-akan tak dilihatnya selain seorang gadis yang dengan gemetar memperhatikan segala tingkah lakunya.

“Ken Dedes,” kemudian terdengar kata-kata itu meluncur dari mulutnya.

Meskipun ia berdiri dengan garangnya namun terdengar kata-katanya itu lunak dan lambat. Oleh kata-kata Sempana itu maka gadis-gadis itu pun seperti terpikat oleh sebuah pesona, bersama-sama menoleh ke arah Ken Dedes yang kemudian menundukkan wajahnya.

Ken Dedes sama sekali tidak menjawab sapa itu. Bahkan tubuhnya seraya menjadi lemas. Detak jantung di dadanya seakan-akan berdentang seperti guntur. Ketika sekali lagi ia mendengar anak muda itu memanggilnya maka ditundukkannya wajahnya semakin dalam.

“Ken Dedes,” berkata Sempana kemudian, “aku tidak banyak mempunyai waktu. Tinggalkan cucianmu sebentar. Ada sesuatu yang akan aku katakan kepadamu.”

Gadis-gadis yang lain pun saling berpandangan. Mereka memuji ketampanan Kuda Sempana namun mereka berteka-teki pula, mengapa Kuda Sempana menemui seorang gadis di pemandian. Sudah tidak adakah waktu yang lain?

“Aku telah datang ke rumahmu, Ken Dedes,” Kuda Sempana meneruskan, “Tetapi kau tak ada. Karena itu aku terpaksa menyusulmu.”

“Kakang Sempana,” akhirnya Ken Dedes terpaksa menjawabnya, “Tunggulah aku di rumah. Aku akan dapat membicarakannya dengan ayah dan Kakang Agni.”

“Marilah kita pulang bersama-sama,” ajak Sempana.

“Aku belum mandi,” bantah Ken Dedes, “dan cucianku belum selesai. Bukankah hari masih terlampau pagi?”

“Besok aku harus kembali ke Tumapel,” sahut Kuda Sempana, “siang nanti aku akan berkemas. Seandainya kau bersedia…” Sempana tak meneruskan kata-katanya. Ketika ia mendengar beberapa orang gadis menahan senyumnya, ditatapnya wajah gadis-gadis itu dengan tajamnya sehingga gadis-gadis itu pun menjadi ketakutan dan menjatuhkan pandangan mereka ke atas pasir. Ken Dedes menjadi semakin gemetar. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan. Tetapi pasti bahwa ia tak dapat memenuhi permintaan Kuda Sempana. Karena Ken Dedes tidak segera menjawab, Sempana mendesaknya, “Ken Dedes, berpakaianlah!”

Nafas Ken Dedes menjadi sesak. Apalagi ketika didengarnya Kuda Sempana meneruskan, “Bukankah tidak baik apabila aku menyatakan maksudku di sini?”

Sekali lagi terdengar suara-suara tertawa yang tertahan. Dan sekali lagi mata Sempana yang tajam beredar ke setiap wajah gadis-gadis di belumbang itu, dan sekali lagi gadis-gadis itu melemparkan pandangan jauh-jauh.

Mulut Ken Dedes telah benar-benar seperti membeku. Karena itu tak sepatah kata pun dapat diutarakan meskipun hatinya meronta-ronta. Adalah suatu aib yang mencoreng di wajahnya apabila kemudian Sempana tak dapat menahan hatinya dan melamarnya langsung tidak setahu ayahnya. Meskipun ia dapat menolak tetapi sikap yang demikian dari seorang pemuda adalah sikap yang tercela. Hanya gadis-gadis yang tak berhargalah yang akan pernah mengalami perlakuan demikian. Maka merataplah Ken Dedes di dalam hatinya,

“Apakah aku ini termasuk dalam lingkaran gadis-gadis yang demikian sehingga Sempana memperlakukan aku begini?” Hampir saja air mata Ken Dedes meledak seandainya ia tidak berusaha sekuat-kuatnya untuk menahannya.

Tetapi Sempana, pelayan dalam Akuwu Tumapel itu, benar-benar seperti orang mabuk. Katanya, “Ken Dedes, bukankah sejak aku pulang, aku telah berkata kepadamu bahwa suatu ketika aku akan datang ke rumahmu? Seharusnya kau tahu akan maksudku itu. Karena itu sekarang marilah kita pulang.”

Ken Dedes masih saja menundukkan wajahnya. Karena itu kemudian Kuda Sempana menjadi tidak sabar lagi. Sorot matanya menjadi semakin tajam. Beberapa orang gadis pergi menjauhinya. Mereka takut melihat sikap Sempana yang menjadi semakin garang. Dada Ken Dedes pun menjadi semakin sesak. Hatinya menjadi tegang. Tak ada yang dapat dilakukannya. Sekali ia mencoba menatap wajah Sempana tetapi wajah itu terlalu menakutkan baginya sehingga akhirnya kembali kepalanya ditundukkannya dalam-dalam.

Dalam kebingungan itu, tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang lain dari suara Kuda Sempana. Tidak terlalu keras namun kata demi kata dapat didengarnya dengan baik. Katanya,

“Kuda Sempana, adakah kau akan ikut serta mencuci pakaianmu di belumbang ini?”

Kuda Sempana terkejut. Ketika ia menoleh, dilihatnya Wiraprana berjalan perlahan-lahan ke arahnya. Karena itu wajah Sempana segera menjadi merah. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya menghadap Wiraprana. Dan dengan suara lantang ia berkata,

“Apa kerjamu di sini?”

“Menunggui tanggul,” jawab Wiraprana singkat.

Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar menjadi marah. Katanya, “Kau mencoba mencampuri urusanku?”

Wiraprana mengerutkan keningnya, “Apa yang aku campuri? Setiap hari aku berada di tempat ini. Mengail, membuka parit, mencuci pakaian, dan segala macam pekerjaan anak desa. Kaulah yang aneh. Seorang pelayan dalam Tumapel berada di bendungan.”

“Tutup mulutmu!” bentak Sempana.

Gadis-gadis yang melihat peristiwa itu menjadi ketakutan pula. Tubuh mereka bergetaran dan dada mereka menjadi sesak. Apalagi Ken Dedes sendiri. Di samping perasaan takut yang membelit hatinya maka ia pun merasa bahwa dirinyalah sebab dari pertengkaran itu. Karena itu maka ia menjadi semakin cemas. Meskipun ia merasa bersyukur pula atas kehadiran Wiraprana namun agaknya Kuda Sempana memandang kehadiran Wiraprana sebagai tantangan. Kuda Sempana tidak menjadi malu atau segan, bahkan ia bersikap sebagai lawan.

Pada saat Wiraprana berada di balik batu padas, dilihatnya sikap Kuda Sempana yang kurang wajar. Karena itu perlahan-lahan ia merunduk di balik-balik batu mendekatinya. Meskipun ia tidak jelas apa yang sebenarnya terjadi namun adalah pasti baginya bahwa Ken Dedes berada dalam kesulitan. Maka sikap Sempana itu adalah merupakan penjelasan baginya. Anak muda yang sombong itu benar-benar telah berbuat suatu kesalahan. Karena itu jawabnya tatag,

“Kuda Sempana. Jangan terlalu kasar. Bukankah dahulu kau setiap hari juga berada di bendungan ini. Bahkan malam hari pun kau kadang-kadang tidur di atas pasir di tepian itu bersama-sama aku? Marilah kita bersikap wajar. Juga terhadap gadis-gadis, kau sebaiknya bersikap wajar.”

“Jangan gurui aku anak desa yang sombong. Selama hidupmu kau dikungkung oleh kepicikan akal dan kesempitan pengetahuan,” jawab Sempana, “Aku telah mencoba berlaku sopan kepada Ken Dedes. Aku hanya ingin persoalanku cepat selesai.”

“Soalmu dan Ken Dedes benar-benar bukan urusanku,” sahut Wiraprana, “Kalau kalian berdua telah bersepakat maka adalah suatu dosa bagiku apabila aku datang kepadamu sekarang. Tetapi aku melihat sikap Ken Dedes lain dari sikap yang kau harapkan. Dan kau terlalu bersikap garang kepadanya.”

“Wiraprana!” bentak Kuda Sempana, “sekali lagi aku peringatkan, tinggalkan tempat ini!”

“Jangan bersikap demikian, Sempana,” jawab Wiraprana, “Jangan bersikap seperti orang hendak berkelahi. Aku bukan orang yang biasa berbuat demikian. Namun aku hanya ingin memperingatkan kepadamu. Pulanglah. Pergilah kepada ayahnya dan biarlah ayahnya bertanya kepadanya, apakah ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam perjalanan hidupnya.”

Kuda Sempana yang sombong itu tidak mau lagi mendengar kata-kata Wiraprana. Karena itu selangkah ia meloncat maju. Tangan kanannya terayun menampar mulut Wiraprana. Gerak Sempana cepat seperti kilat sehingga Wiraprana tak sempat mengelak. Terdengarlah seperti sebuah ledakan cambuk di pipi Wiraprana. Wiraprana terkejut. Ia terdorong beberapa langkah ke samping. Terasa betapa nyeri pukulan itu. Tetapi untunglah bahwa ia tidak terbanting ke air.

“Sempana,” katanya sambil berdesis menahan sakit, “jangan terlalu kasar.”

“Diam!” bentak Kuda Sempana, “Tinggalkan tempat ini!”

“Kau telah melanggar kebiasaan kampung halaman kita, Sempana,” berkata Wiraprana lantang, “adat itu tetap kita hormati.”

Sekali lagi Kuda Sempana tidak dapat mengendalikan dirinya. Tangannya terayun kembali ke wajah Wiraprana. Namun, kali ini Wiraprana tidak mau dikenai untuk kedua kalinya. Karena itu cepat-cepat ia membungkukkan badannya. Tangan Kuda Sempana hanya sejari terbang di atas kepalanya. Tetapi Sempana adalah pelayan dalam istana sehingga dengan cepat ia dapat membetulkan kesalahannya. Ketika dirasa tangannya tak menyentuh tubuh Wiraprana, segera ia mengulangi serangannya. Geraknya benar-benar tak diduga oleh Wiraprana. Karena itu, selagi ia masih membungkuk, terasa sebuah tamparan menyengat pipinya yang lain. Sekali lagi Wiraprana terdorong ke samping dan sekali lagi ia berdesis menahan sakit.

Ketika Wiraprana telah tegak kembali, terdengarlah giginya gemeretak dan matanya memancarkan sinar kemarahan. Telah dua kali pipinya di kedua sisi merasakan betapa berat tangan Kuda Sempana. Bagaimanapun juga Wiraprana adalah laki-laki juga seperti Kuda Sempana. Karena itu katanya lantang,

“Kuda Sempana. Jangan membusungkan dada hanya karena kau telah mendapat kedudukan baik di samping Akuwu Tunggul Ametung. Persoalanmu adalah persoalan adat kampung halaman.”

“Apa pedulimu!” bentak Kuda Sempana, “Kalau aku tidak dapat menemui ayah gadis yang aku senangi, aku masih mempunyai cara lain. Aku akan melarikannya. Kelak aku akan kembali dengan seorang cucu yang manis bagi Empu Purwa. Dan ia harus menerima kedatangan kami.”

Wajah Wiraprana menjadi merah padam. Katanya kepada Ken Dedes, “Adakah kau telah bersepakat untuk kawin lari?”

“Tidak! Tidak!” teriak Ken Dedes serta-merta.

“Hem,” geram Wiraprana kepada Kuda Sempana, “kalau kau telah bersepakat, aku tak dapat menghalangimu. Tetapi kalau tidak, dan kau akan memaksakan cara itu, aku akan mencegahmu.”

Kuda Sempana tertawa dengan sombongnya. Katanya, “Bagus. Seseorang dibenarkan untuk melakukan pencegahan. Tetapi tatacara itu pun menuntut pengorbanan bagi gadis yang diidamkan. Nyawaku menjadi taruhan.”

Wiraprana mengangkat alisnya. Ia ngeri mendengar kata-kata Kuda Sempana. Mengorbankan nyawa berarti kematian. Dan ia ngeri memikirkan kematian. Tetapi ia harus mencegahnya. Karena itu katanya,

“Aku tidak menghendaki bencana apa pun. Baik bagimu maupun bagiku. Tetapi aku hanya akan mencegahmu.”





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar