Dengan nafas terengah-engah Kuda Sempana kemudian mampu juga untuk bangkit dan mencoba berdiri. Betapa lemahnya tubuh yang kesakitan itu, namun akhirnya Kuda Sempana itu pun berhasil tegak pula di atas kedua kakinya yang gemetar. Dengan mata yang menyala ia memandang Mahisa Agni tanpa berkedip, sedang Mahisa Agni pun memandangnya dengan nyala kemarahan di hatinya. Karena itu, maka ketika nafasnya telah teratur kembali, terdengar suaranya bernada rendah,
“Kuda Sempana Kesempatan terakhir bagi kita masing-masing. Kau atau aku yang binasa.”
Kuda Sempana menggeram. Kalau Mahisa Agni menyerangnya pada saat ia masih dalam keadaan itu, maka sudah pasti ia tidak akan mampu untuk melawannya. Karena itu, maka ia mencoba untuk mendapatkan waktu sejenak, mengatur jalan pernafasan dan mengurangi perasaan sakit yang menyengat-nyengat segenap tubuhnya.
Ketika Mahisa Agni itu bergeser setapak, maka Kuda Sempana itu berkata, “Hem, Agni. Dari mana kau tahu, bahwa aku sedang menyiapkan aji Kala Bama?”
Mahisa Agni memandang Kuda Sempana dengan seksama. Kemudian jawabnya, “Apakah pedulimu, dari mana aku tahu nama itu?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara gemetar di samping mereka, “Sudahlah Anakmas. Jangan bertengkar lagi.”
Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang yang berdiri dengan ragu-ragu di antara anak-anak muda Panawijen. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, namun wajahnya membayangkan kecemasan yang membakar dirinya. Orang itu adalah Ki Buyut Panawijen.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat terdengar suaranya, “Ki Buyut. Kuda Sempana telah berbuat untuk kedua kalinya. Apakah kita masih akan memberi kesempatan kepadanya untuk berbuat untuk ketiga kalinya?”
Buyut Panawijen itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian kembali terbayang di wajahnya kecemasannya atas nasib padukuhannya. Ia tahu benar siapa Kuda Sempana itu. Ia melihat anak muda itu bertempur melawan Mahisa Agni. Dan ia melihat benturan ilmu yang dahsyat itu. Karena itu, maka Buyut Panawijen itu telah membuat perhitungan tersendiri. Kalau Kuda Sempana itu binasa di padukuhannya, maka apakah kawannya akan tetap berdiam diri, dan apakah guru serta saudara-saudara seperguruannya juga akan tetap berdiam diri. Seandainya mereka itu mencoba menuntut balas, maka apakah Mahisa Agni dapat melindungi padukuhan itu dari bencana.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melihat kemungkinan itu. Kuda Sempana adalah seorang yang keras kepala. Karena itu maka katanya, “Ki Buyut. Beberapa saat yang lampau, anak muda itu telah mendapat kesempatan pula. Ki Buyut pada waktu itu telah memberinya peringatan, sedang Empu Purwa pun saat itu memaafkannya. Tetapi kini ternyata ia datang kembali selagi rumah ini kosong, Empu Purwa tidak ada dan aku pun tidak ada. Untunglah aku segera kembali sebelum terlambat sekali.”
Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pendapat Mahisa Agni itu. Tetapi sekali lagi ia dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sebagai akibat dari peristiwa ini.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu membayang di wajah Ki Buyut Panawijen, berkata, “Ki Buyut. Persoalan ini bukan persoalan penduduk Panawijen dengan Kuda Sempana. Tetapi jadikanlah persoalan ini persoalan antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Kalau Akuwu Tumapel merasa perlu untuk mengusut dan menghukum orang yang telah mencederai Kuda Sempana, biarlah Mahisa Agni menjalani hukuman itu.”
Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Apakah yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya? Namun dibiarkannya Mahisa Agni dan Ki Buyut itu berbicara. Ia mencoba mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditenangkannya hatinya diperasnya segenap kemampuan yang ada dalam dirinya untuk memulihkan kekuatannya. Dan ternyata kekuatan Kuda Sempana itu lambat laun menjadi bertambah baik, meskipun nyeri-nyeri masih terasa menyengat-nyengat bagian dalam dadanya, serta pedih-pedih di kulitnya.
Dalam pada itu Ki Buyut Panawijen berkata pula, “Apakah yang akan Angger lakukan atas Angger Kuda Sempana?”
“Aku akan menangkapnya, membawanya kepada Sang Akuwu. Apakah Sang Akuwu tidak akan mengambil sesuatu tindakan atas orangnya yang bersalah?” sahut Mahisa Agni.
Sekali lagi Kuda Sempana berdesir. Kalau benar Mahisa Agni berhasil menangkapnya dan membawanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, maka akibatnya sama sekali tak akan dapat diduga. Mungkin ia akan mendapat pengampunan dan hanya akan mendapat peringatan. Namun apabila hati Akuwu itu sedang gelap, maka tidak mustahil seketika itu juga, perutnya akan disobek dengan pusakanya. Akuwu itu mempunyai sifat-sifat yang aneh. Yang tak dapat disangka-sangka dan diperhitungkan. Sehingga karena itulah maka ada di antara naraprada yang terlalu setia kepadanya, namun ada juga yang menyimpan dendam di dalam hatinya.
Mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka apakah ia tidak akan terbawa pula. Setidak-tidaknya akan menjadi saksi? Buyut Panawijen adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya, hidup dalam suasana yang tenteram damai. Hampir sepanjang jabatannya ia tidak pernah menjumpai persoalan-persoalan yang mengharuskannya berhadapan dengan Akuwu Tumapel.
Pada saat Buyut Panawijen itu berbimbang hati maka tiba-tiba ia terkejut melihat Wiraprana dengan wajah yang merah biru tertatih-tatih keluar dari halaman Empu Purwa. Demikian Wiraprana itu melihat Mahisa Agni, maka dengan serta-merta ia berkata,
“Hem. Syukurlah kau sudah datang Agni.”
Mahisa Agni berdesir melihat wajah yang biru lebam itu. Agaknya Wiraprana pun telah berjuang mati-matian. Namun keadaannya tidak memungkinkan untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana itu.
Dalam pada itu terdengarlah Ki Buyut Panawijen bertanya kepada anaknya itu, “Wiraprana, apakah yang telah terjadi?”
“Seperti yang Ayah lihat. Untuk kedua kalinya aku hampir mati dibunuh oleh Kuda Sempana. Apabila ada kesempatan, Kuda Sempana pasti akan membunuhku dalam pertikaian yang ketiga.”
Mendengar kata-kata anaknya itu, maka mau tidak mau dada Buyut Panawijen itu terguncang pula, Agaknya apa yang dikatakan anaknya itu benar-benar dapat terjadi. Kuda Sempana benar-benar tidak mau melepaskan maksudnya untuk mendapatkan Ken Dedes yang sudah dipertunangkan dengan anaknya itu. Karena itu, maka kini Buyut Panawijen itu terpaksa mengambil beberapa bebahu baru untuk memperhitungkan setiap kemungkinan. Dengan wajah yang tegang, maka sekali lagi ia memandangi Kuda Sempana, Mahisa Agni dan anaknya berganti-ganti. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian kembali ia menjadi bingung.
Kuda Sempana yang berdiri tegak seperti patung itu, Kini telah mendapat waktu untuk sedikit mendapatkan kekuatannya kembali. Namun disadarinya, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Mahisa Agni. Ternyata Mahisa Agni pun telah mendapatkan kekuatan-kekuatan baru, sehingga ia mampu melawan Aji Kala Bama, dan bahkan dapat melampauinya. Karena itu, maka sesaat ia menjadi bimbang pula. Apakah ia masih harus melawannya? Dengan demikian, maka hampir pasti bahwa Mahisa Agni akan berhasil menangkapnya.
Ketika Kuda Sempana itu masih sibuk mempertimbangkan setiap kemungkinan, terdengarlah Mahisa Agni menggeram, “Ki Buyut yang bijaksana. Serahkan semua persoalan kepadaku, dan serahkan semua pertanggungan jawab kepadaku. Kuda Sempana harus mendapat hukuman yang wajar. Tidak di Panawijen, tetapi di Tumapel. Sehingga meyakinkan kita, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan membuat kegaduhan kembali.”
Buyut Panawijen itu masih bimbang sesaat, namun kemudian tampaklah ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi belum sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya. Semua orang yang berdiri di sekitarnya menjadi tegang. Semua memandang kepada orang tua itu Dalam ketegangan itu terdengar suara Wiraprana,
“Apakah Ayah masih ingin melihat perkelahian dan keributan di Panawijen ini? Atau Ayah ingin melihat setan itu kelak membunuh aku?”
Ki Buyut Panawijen itu mengangkat wajahnya. Seakan-akan ada yang dicarinya di antara awan yang mengalir dihanyutkan oleh pegunungan yang lembut. Orang tua itu menarik nafas ketika dilihatnya segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya. Burung itu kemudian seperti lenyap ditelan kebiruan langit di atas cakrawala.
Hati orang tua itu berdesir. Dari arah yang lain Buyut Panawijen melihat seekor alap-alap terbang ke arah burung yang bergerombol itu. Kalau burung alap-alap itu kemudian menyambar salah seekor burung yang bergerombol itu, maka tak ada seekor pun yang akan berani mencoba mencegah dan melawannya. Bersama-sama pun tidak, karena Burung alap-alap itu jauh lebih kuat dari burung-burung itu. Orang-orang yang berdiri mengitari Mahisa Agni masih tegak seperti patung, Agak jauh dari mereka berdiri dengan tegangnya Kuda Sempana yang terpelanting karena benturan aji masing-masing. Sedang Ki Buyut Panawijen masih saja ragu-ragu mengambil keputusan.
Dalam kekakuan suasananya itu, sekali-kali Kuda Sempana mengerling ke segenap sudut. Ia sedang berpikir untuk mencoba mencari jalan yang akan dapat menyelamatkannya. Kalau ia bertempur sekali lagi, maka ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat melawan Mahisa Agni. Apalagi kalau beberapa orang membantu Mahisa Agni untuk menangkapnya.
Sementara itu Mahisa Agni sedang menunggu dengan gelisahnya, apa yang akan dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen. Bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus tetap menghormati keputusannya sebagai seorang tetua dari padukuhan itu, sedang anaknya, yang wajahnya biru lebam itu, hampir-hampir tidak sabar menunggunya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak mereka sangka. Kuda Sempana itu tiba-tiba meloncat dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, berlari kencang meninggalkan orang yang sedang kebingungan itu. Sesaat tak seorang pun yang bergerak diri tempatnya. Mereka terkejut melihat sikap Kuda Sempana. Yang mula-mula menyadari keadaan itu adalah Mahisa Agni. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Mahisa Agni itu segera berlari mengejarnya.
Tetapi dada anak muda murid Empu Purwa itu segera berdesir tajam. Kuda Sempana yang memiliki kelebihan beberapa kejap serta jarak beberapa langkah itu ternyata berlari menuju ke kuda Mahisa Agni yang sedang sibuk makan dedaunan di pagar-pagar dan rerumputan liar di tepi-tepi jalan.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni, “Manakah kejantananmu itu?”
Kuda Sempana tidak memedulikannya. Ia berlari sekuat tenaga yang masih ada padanya. Dan sebelum Mahisa Agni berhasil menangkapnya, anak muda itu telah meloncat ke atas punggung kuda.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Tetapi Kuda Sempana tidak menghiraukannya lagi. Cepat-cepat ditariknya kendali kudanya, dan dengan sebuah sentuhan pada perutnya, maka larilah kuda itu menghambur seperti angin. Meskipun demikian Kuda Sempana itu masih sempat berteriak nyaring,
“Mahisa Agni. Sekali akan datang waktunya, aku membalas semua sakit hatiku kepadamu, kepada penduduk Panawijen, kepada semuanya.”
“Licik!” teriak Mahisa Agni. Dengan serta ia meraih sebutir batu dan dilemparkannya kepada Kuda Senapan. Namun kuda yang dinaiki oleh anak muda itu sudah semakin jauh. Meskipun demikian batu itu masih juga mengenai tengkuk Kuda Sempana.
“Setan!| desis Kuda Sempana. Terasa tengkuknya menjadi sakit. Tetapi ia sudah semakin jauh dan Mahisa Agni itu tidak akan dapat menyusulnya lagi.
Mahisa Agni kini berdiri tegak seperti sebuah tonggak yang membeku. Wajahnya membara karena kemarahannya, sekali-sekali terdengar ia menggeram. Dipandanginya debu yang mengepul tinggi yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari seperti dikejar hantu. Nafas Mahisa Agni itu pun terasa berkejaran lewat lubang hidungnya. Terdengar giginya gemeretak di antara suaranya yang menggeram seperti harimau yang sedang marah.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba ia mendengar Wiraprana berteriak, “Agni! Di halaman rumah ini ada seekor kuda. Kuda yang tadi dipakai oleh Kuda Sempana.”
Mahisa Agni terkejut Segera ia berpaling sambil bertanya, “Adakah seekor kuda di halaman?”
“Ya,” sahut Wiraprana.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi kecewa kembali. Ia telah kehilangan beberapa waktu. Kuda yang tadi dinaikinya adalah kuda yang luar biasa. Dengan seekor kuda yang lain. apakah ia akan mampu mengejar Kuda Sempana? Kalau Kuda Sempana itu sampai di Tumapel lebih dahulu, maka ia tidak akan dapat mencarinya. Apalagi kalau Kuda Sempana itu bersembunyi di dalam istana. Karena itu dengan penuh kekecewaan yang mencengkam dadanya akhirnya ia berkata,
“Tidak ada gunanya. Kuda itu sudah terlalu jauh.”
“Kuda itu baik dan tegar. Kuda yang biasa dipakai oleh Kuda Sempana,” jawab Wiraprana
Sekali lagi sekilas harapan Mahisa Agni untuk menyusul anak muda itu. Kuda itu adalah kuda yang tegar seperti yang dilihatnya di Tumapel. Karena itu, maka Mahisa Agni itu meloncat tanpa berkata sepatah kata pun langsung masuk ke halaman. Dan. dilihatnya kuda itu masih berdiri di sana. Dengan tangkasnya Mahisa Agni itu segera meloncat ke atas punggungnya, dan dengan tergesa-gesa ditariknya kekang kuda itu. Sesaat kemudian kuda itu pun segera meloncat pula berlari. Sambil memacu kudanya Mahisa Agni berteriak,
“Hati-hatilah di rumah. Aku akan mengejar Kuda Sempana sampai ke manapun. Aku tak akan kembali sebelum aku menyelesaikan pekerjaan ini.”
Tak seorang pun sempat menjawab. Kuda yang dinaikinya itu pun ternyata kuda yang sangat baik. Karena itu, maka kuda itu berlari lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka yang menyaksikan perlombaan berkuda itu menahan napas mereka. Mereka melihat peristiwa demi peristiwa seperti di dalam mimpi, sehingga untuk beberapa saat mereka terpesona dan diam mematung di tempat masing-masing.
Mahisa Agni yang telah dibakar oleh kemarahannya itu memacu kudanya secepat angin. Tetapi disadarinya pula bahwa kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu pun kuda yang baik pula, sebaik kuda yang dipakainya. Karena itu, maka kemungkinan untuk dapat menyusulnya adalah kecil sekali. Tetapi meskipun Mahisa Agni tidak akan dapat menyusulnya, namun ia akan pergi ke Tumapel, mencari kesempatan untuk bertemu dengan anak muda itu.
Mahisa Agni sudah tidak memperhitungkan lagi, apa yang dapat terjadi atas dirinya seandainya Kuda Sempana mengerahkan beberapa orang kawan untuk melawannya. Namun ia yakin, bahwa ia berada di pihak yang benar. Karena itu, maka Akuwu Tumapel pasti akan menghukum Kuda Sempana kalau ia mempunyai kesempatan untuk menyampaikannya, atau Akuwu itu dapat mendengar dari siapa pun.
“Kalau aku tidak dapat menemui Kuda Sempana atau menghadap Akuwu, maka aku akan mencoba minta pertolongan Witantra,” katanya di dalam hati, “anak muda itu pun seorang yang agak dekat pula dengan Akuwu.”
Mendapat cara yang dianggapnya baik itu, Mahisa Agni semakin mantap. Kudanya berpacu melewati jalan-jalan berdebu. Dilihatnya kemudian di hadapannya terbentang padang rumput Karautan.
“Apakah Kuda Sempana juga melewati padang itu?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya, “Kalau ia memilih jalan lain, lewat Talrampak misalnya, maka ada kemungkinan bagiku untuk menyusulnya sebelum ia sampai ke Tumapel.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Ia melihat telapak kuda yang baru menghunjam dalam-dalam di muka kaki kudanya menjelujur ke arah yang ditempuhnya pula,
“Hem,” geramnya, “anak itu lewat padang ini pula.”
Karena itu Mahisa Agni menjadi kecewa. Harapannya untuk menyusul Kuda Sempana menjadi semakin tipis. Tetapi ia tidak berputus asa. Kini ia tidak menempuh jalan setapak yang dilewati Kuda Sempana. Dipotongnya arah menerobos padang rumput itu dan dilewatinya gerumbul-gerumbul kecil yang bertebaran di sana-sini.
“Mudah-mudahan aku berhasil,” gumamnya.
Kuda yang dipakai Mahisa Agni itu sebenarnya adalah kuda yang sangat baik. Betapa lincahnya kuda itu menghindari rintangan-rintangan yang berada di hadapannya. Dengan tangkas kuda itu meloncati gerumbul-gerumbul kecil dan lubang-lubang yang digali oleh air hujan. Ketika kemudian Mahisa Agni telah melampaui padang itu, serta diikutinya pula jalan yang meninggalkan padang rumput itu, dilihatnya jauh di hadapannya debu yang naik ke udara.
“Itulah!” gumamnya, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan Kuda Sempana kali ini.”
Meskipun kudanya itu telah berlari sekencang angin, namun Mahisa Agni merasa seakan-akan kuda itu merangkak saja dengan malasnya. Berkali-kali dilecutinya kuda itu dengan ujung kekangnya. namun masih saja terasa bahwa kuda itu berlari terlalu lamban.
Beberapa orang yang bekerja di sawah-sawah mereka, memandangnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati. Apakah sedang ada perlombaan berpacu kuda? Para petani itu saling berpandangan satu sama lain. Tetapi tak seorang pun yang tahu, apakah yang sedang dilakukan oleh anak-anak muda yang memacu kudanya seperti takut dikejar hantu.
“Anak-anak muda memang kadang-kadang aneh,” gumam salah seorang dari mereka, “mereka memacu kudanya seperti dikejar setan. Apakah mereka tidak takut seandainya kudanya itu tergelincir dan terguling?”
Tetapi sesaat kemudian kembali mereka melakukan pekerjaan mereka Dua anak muda yang berpacu berturut-turut itu tentu akan menjadi bahan pembicaraan mereka nanti di gardu-gardu atau di banjar-banjar desa.
Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah dilewatinya. Matanya tertancap pada debu yang keputih-putihan yang seakan-akan merayap dengan cepatnya di jalan-jalan berdebu di hadapannya Tetapi Mahisa Agni itu menjadi kecewa karena jarak di antara mereka tidak menjadi semakin pendek.
Kuda Sempana yang berpacu di muka itu pun telah memperhitungkan kemungkinan, bahwa Mahisa Agni akan mempergunakan kudanya untuk mengejarnya. Karena itu sejak loncatan pertama kudanya telah dipacunya secepat mungkin. Dan Kuda Sempana itu menjadi berbesar hati, karena ternyata kuda yang dipakainya itu pun merupakan kuda yang tidak kalah kuatnya dari kudanya sendiri.
Ketika Kuda Sempana itu kemudian menengadahkan wajahnya maka ia pun tersenyum. Setelah ia berpacu beberapa lama, maka di langit seakan-akan terbentang cahaya yang suram dan di bumi mulailah gelap merayap dari kaki-kaki bukit, merambat ke puncaknya. Namun sesaat Kuda Sempana masih melihat debu mengepul jauh di belakangnya. Dan disadarinya bahwa Mahisa Agni sedang mengejarnya. Tetapi apabila malam tiba, maka kesempatannya untuk melepaskan diri menjadi semakin besar.
Mahisa Agni menjadi sengat kecewa ketika malam datang meskipun perlahan-lahan. Warna keputih-putihan yang mengepul di hadapannya menjadi semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya Mahisa Agni kehilangan kesempatan untuk dapat melihat debu yang dilemparkan oleh kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Tetapi kemudian ia bergumam, “Kalau aku tidak dapat menemukannya malam ini, biarlah aku menunggu sampai besok atau lusa. Kalau aku menunggunya di alun-alun maka suatu waktu aku pasti akan melihatnya keluar atau memasuki istana Akuwu.”
Karena itu Mahisa Agni tidak berhenti berpacu. Ia mengharap seandainya ada sesuatu yang menghambat perjalanan Kuda Sempana maka ia akan mendapat kesempatan itu. Tetapi Kuda Sempana berjalan tanpa hambatan. Kudanya berlari dengan kencangnya menuju ke kota kebanggaannya, di mana ia mendapat kesempatan yang baik di dalam hidupnya. Tumapel. Dan Tumapel itu semakin lama semakin dekat. Itulah sebabnya, maka kembali Kuda Sempana tersenyum. Ketika ia berpaling, dilihatnya di belakangnya warna hitam yang kelam. Karena itulah maka hati Kuda Sempana menjadi semakin besar. Maka kini dapatlah dipastikan, bahwa kali ini ia akan dapat menghindarkan diri dari Mahisa Agni.
“Kali ini aku masih kalah Agni,” katanya di dalam hati, “tetapi aku akan datang kembali membawa kemenangan. Ternyata aku tidak akan berhasil memetik bunga itu. Karena itu, maka biarlah angin yang lebih kencang menggugurkannya.”
Sementara itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan jejak buruannya. Ketika malam menjadi semakin kelam, ia tidak tahu lagi, ke mana Kuda Sempana melarikan diri. Apalagi ketika Kuda Sempana telah mematuki kota. Berpuluh-puluh jalan simpang yang dapat ditempuhnya. Dan berpuluh-puluh pintu yang dapat dimasukinya. Karena itu, maka ketika kuda Mahisa Agni memasuki gerbang kota Tumapel, maka segera ia memperlambat jalan kudanya. Ia takut kalau derap kaki kuda itu akan mengejutkan setiap orang yang tinggal sebelah menyebelah jalan yang dilewatinya. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni menjadi sangat kecewa. Serta ia menjadi bingung, ke mana ia harus pergi.
Yang mula-mula tersirat di dalam hatinya adalah rumah Witantra. Orang itu belum banyak dikenalnya, namun dalam waktu yang pendek ia mendapat kesan, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang jujur meskipun agaknya terlalu keras memegang ketetapan. Ketetapan yang berlaku dalam tata pergaulannya sebagai seorang prajurit, ketetapan yang berlaku di dalam tata pergaulannya sehari-hari di luar lingkungan keprajuritan dan bahkan ketetapan-ketetapan yang dibuatnya di dalam hatinya sendiri.
Tetapi tak ada orang lain yang dapat disinggahinya di Tumapel. Di kota itu belum banyak orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Ada satu dua orang sahabat-sahabat gurunya, tetapi sahabat-sahabat gurunya itu pun belum begitu mengenalnya. Karena itu, maka tak ada yang dapat ditempuhnya selain pergi ke rumah Witantra itu. Kecuali ia akan mendapat tempat untuk bermalam apabila anak muda itu tidak berkeberatan, maka banyak hal-hal yang dapat ditanyakannya kepadanya tentang Kuda Sempana dan tentang Akuwu Tumapel. Maka dengan agak ragu-ragu akhirnya Mahisa Agni pergi juga ke rumah Witantra.
Meskipun malam belum terlalu dalam, namun rumah itu sudah tampak sepi. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin ragu-ragu. Di muka regol halaman dihentikannya kudanya, dan perlahan-lahan kuda itu dituntunnya masuk ke halaman. Tetapi Mahisa Agni melihat nyala pelita yang terang di pringgitan rumah itu. Karena itu ia menjadi gembira. Agaknya penghuni rumah itu ada di rumahnya. Dengan, hati-hati Mahisa Agni mengetuk pintu depan, dan terdengarlah sebuah sapa dari dalam,
“Siapa?”
“Aku, Wiraprana,” sahut Agni.
“He?” terdengar seseorang terkejut mendengar jawaban Agni. Sesaat kemudian terdengar pula langkah seseorang membuka pintu. Ketika pintu itu terbuka, Mahisa Agni melihat Witantra berdiri di muka pintu sambil menatapnya. “Kau,” desis Witantra terkejut.
“Ya,” sahut Mahisa Agni, “aku datang kembali.”
“Mari, masuklah,” Witantra itu mempersilakan.
Mahisa Agni itu pun kemudian masuk ke dalam pringgitan. Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada dua orang perempuan yang kemudian berdiri dan membalas anggukan kepala itu.
“Silakan,” berkata perempuan yang tua, “kami akan ke belakang.”
Mahisa Agni itu pun kemudian duduk bersama Witantra. Ternyata kedua perempuan itu adalah ibu dan istrinya.
Dengan penuh keheranan Witantra itu pun kemudian bertanya, “Kenapa kau cepat kembali? Apakah kau terlambat datang?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak. Aku datang kembali untuk menyampaikan terima kasihku kepadamu. Karena pertolonganmu, maka aku masih sempat menggagalkan maksud Kuda Sempana itu.”
“Syukurlah,” gumam Witantra, “sebenarnya kuda itu tidak terlalu tergesa-gesa. Aku masih memiliki yang lain.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Namun kemudian diceritakan apa yang telah terjadi, dan dikatakannya pula, bahwa kuda yang dibawanya adalah kuda milik Kuda Sempana.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Bukan main,” gumamnya, “anak itu benar-benar keras kepala.”
“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku ingin mendapatkan nasihatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas anak muda itu. Apakah aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung atau aku harus menemuinya sendiri?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Sulit,” desisnya, “Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Aku adalah pengawalnya yang hampir setiap hari bergaul. Namun aku masih belum juga mengenal sifat-sifatnya dengan baik. Akuwu itu adalah seorang yang ramah dan baik hati, namun ia adalah seorang yang kejam dan kasar.”
Witantra itu berhenti sesaat, dan Mahisa Agni pun menundukkan kepalanya. Direnungkannya setiap kemungkinan yang dapat ditempuhnya. Tetapi ia tidak menemukan cara apapun yang dianggapnya baik. Tanpa sesadarnya tiba-tiba terloncat dari mulutnya,
“Tetapi aku harus mencegahnya untuk mengulangi perbuatannya.”
“Ya,” sahut Witantra, “kau benar.”
“Tetapi bagaimana?”
Witantra itu pun kemudian berdiam diri pula. Karena itu, maka pringgitan itu menjadi sepi. Lampu minyak yang menyala tersangkut di dinding di atas gelodok melemparkan sinar kemerah-merahan. Lidahnya yang seolah-olah melonjak-lonjak telah mencetak bayangan yang hitam dan bergerak-gerak.
Witantra itu kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata, “Besok Akuwu akan berburu. Aku telah mendapat perintah untuk mengikutinya.”
“Berburu?” bertanya Mahisa Agni, “ke mana?”
Witantra itu tidak segera menjawab. Ia memang tidak tahu ke mana Akuwu akan berburu. Sehingga sejenak kemudian katanya, “Akuwu Tunggul Ametung tidak pernah merencanakan, ke mana akan berburu. Apabila rombongan telah bersiap, barulah Akuwu bertanya kepada para pengiringnya, ke mana sebaiknya mereka pergi. Namun kadang-kadang Akuwu sendiri menentukan arah perjalanan rombongan itu. Karena itulah maka sampai sekarang aku belum tahu ke mana besok aku akan pergi.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia belum tahu apakah hubungannya dengan keperluannya mencegah perbuatan Kuda Sempana seterusnya. Baru kemudian setelah Witantra itu berkata, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Wiraprana,” berkata Witantra, “kau besok bisa tinggal di sini selama aku pergi. Biasanya Kuda Sempana ikut pula mengantarkan Akuwu, sehingga dengan demikian, aku akan dapat selalu mengawasinya. Dengan demikian maka kita mempunyai waktu sehari untuk memikirkan persoalanmu itu. Apabila besok Kuda Sempana tidak ikut, biarlah aku memberitahukan kepadamu, dan segeralah pulang ke Panawijen.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Witantra itu. Kemudian katanya, “Aku selalu mengganggumu dengan pekerjaan-pekerjaan yang menjemukan.”
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kita saling memerlukan dalam setiap kesempatan. Aku tahu, bahwa Kuda Sempana telah melakukan kesalahan. Karena itu aku harus membantu mencegah kesalahan-kesalahan berikutnya, meskipun aku tidak dapat berbuat secara langsung. Sebab dengan demikian akan dapat menimbulkan keretakan dalam lingkungan istana. Setidak-tidaknya antara aku dan Kuda Sempana yang kedua-duanya hamba-hamba istana.”
“Kuda Sempana Kesempatan terakhir bagi kita masing-masing. Kau atau aku yang binasa.”
Kuda Sempana menggeram. Kalau Mahisa Agni menyerangnya pada saat ia masih dalam keadaan itu, maka sudah pasti ia tidak akan mampu untuk melawannya. Karena itu, maka ia mencoba untuk mendapatkan waktu sejenak, mengatur jalan pernafasan dan mengurangi perasaan sakit yang menyengat-nyengat segenap tubuhnya.
Ketika Mahisa Agni itu bergeser setapak, maka Kuda Sempana itu berkata, “Hem, Agni. Dari mana kau tahu, bahwa aku sedang menyiapkan aji Kala Bama?”
Mahisa Agni memandang Kuda Sempana dengan seksama. Kemudian jawabnya, “Apakah pedulimu, dari mana aku tahu nama itu?”
Kuda Sempana menggigit bibirnya. Namun tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara gemetar di samping mereka, “Sudahlah Anakmas. Jangan bertengkar lagi.”
Ketika mereka berpaling, mereka melihat seorang yang berdiri dengan ragu-ragu di antara anak-anak muda Panawijen. Seorang yang bertubuh tinggi kekar, namun wajahnya membayangkan kecemasan yang membakar dirinya. Orang itu adalah Ki Buyut Panawijen.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dengan berat terdengar suaranya, “Ki Buyut. Kuda Sempana telah berbuat untuk kedua kalinya. Apakah kita masih akan memberi kesempatan kepadanya untuk berbuat untuk ketiga kalinya?”
Buyut Panawijen itu ragu-ragu sejenak. Namun kemudian kembali terbayang di wajahnya kecemasannya atas nasib padukuhannya. Ia tahu benar siapa Kuda Sempana itu. Ia melihat anak muda itu bertempur melawan Mahisa Agni. Dan ia melihat benturan ilmu yang dahsyat itu. Karena itu, maka Buyut Panawijen itu telah membuat perhitungan tersendiri. Kalau Kuda Sempana itu binasa di padukuhannya, maka apakah kawannya akan tetap berdiam diri, dan apakah guru serta saudara-saudara seperguruannya juga akan tetap berdiam diri. Seandainya mereka itu mencoba menuntut balas, maka apakah Mahisa Agni dapat melindungi padukuhan itu dari bencana.
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat melihat kemungkinan itu. Kuda Sempana adalah seorang yang keras kepala. Karena itu maka katanya, “Ki Buyut. Beberapa saat yang lampau, anak muda itu telah mendapat kesempatan pula. Ki Buyut pada waktu itu telah memberinya peringatan, sedang Empu Purwa pun saat itu memaafkannya. Tetapi kini ternyata ia datang kembali selagi rumah ini kosong, Empu Purwa tidak ada dan aku pun tidak ada. Untunglah aku segera kembali sebelum terlambat sekali.”
Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Ia dapat mengerti sepenuhnya pendapat Mahisa Agni itu. Tetapi sekali lagi ia dicemaskan oleh peristiwa-peristiwa yang dapat terjadi sebagai akibat dari peristiwa ini.
Mahisa Agni yang melihat keragu-raguan itu membayang di wajah Ki Buyut Panawijen, berkata, “Ki Buyut. Persoalan ini bukan persoalan penduduk Panawijen dengan Kuda Sempana. Tetapi jadikanlah persoalan ini persoalan antara Kuda Sempana dan Mahisa Agni. Kalau Akuwu Tumapel merasa perlu untuk mengusut dan menghukum orang yang telah mencederai Kuda Sempana, biarlah Mahisa Agni menjalani hukuman itu.”
Dada Kuda Sempana berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Apakah yang akan dilakukan Mahisa Agni atasnya? Namun dibiarkannya Mahisa Agni dan Ki Buyut itu berbicara. Ia mencoba mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Ditenangkannya hatinya diperasnya segenap kemampuan yang ada dalam dirinya untuk memulihkan kekuatannya. Dan ternyata kekuatan Kuda Sempana itu lambat laun menjadi bertambah baik, meskipun nyeri-nyeri masih terasa menyengat-nyengat bagian dalam dadanya, serta pedih-pedih di kulitnya.
Dalam pada itu Ki Buyut Panawijen berkata pula, “Apakah yang akan Angger lakukan atas Angger Kuda Sempana?”
“Aku akan menangkapnya, membawanya kepada Sang Akuwu. Apakah Sang Akuwu tidak akan mengambil sesuatu tindakan atas orangnya yang bersalah?” sahut Mahisa Agni.
Sekali lagi Kuda Sempana berdesir. Kalau benar Mahisa Agni berhasil menangkapnya dan membawanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, maka akibatnya sama sekali tak akan dapat diduga. Mungkin ia akan mendapat pengampunan dan hanya akan mendapat peringatan. Namun apabila hati Akuwu itu sedang gelap, maka tidak mustahil seketika itu juga, perutnya akan disobek dengan pusakanya. Akuwu itu mempunyai sifat-sifat yang aneh. Yang tak dapat disangka-sangka dan diperhitungkan. Sehingga karena itulah maka ada di antara naraprada yang terlalu setia kepadanya, namun ada juga yang menyimpan dendam di dalam hatinya.
Mendengar jawaban Mahisa Agni itu. Buyut Panawijen mengerutkan keningnya. Kalau demikian, maka apakah ia tidak akan terbawa pula. Setidak-tidaknya akan menjadi saksi? Buyut Panawijen adalah seorang yang hampir sepanjang hidupnya, hidup dalam suasana yang tenteram damai. Hampir sepanjang jabatannya ia tidak pernah menjumpai persoalan-persoalan yang mengharuskannya berhadapan dengan Akuwu Tumapel.
Pada saat Buyut Panawijen itu berbimbang hati maka tiba-tiba ia terkejut melihat Wiraprana dengan wajah yang merah biru tertatih-tatih keluar dari halaman Empu Purwa. Demikian Wiraprana itu melihat Mahisa Agni, maka dengan serta-merta ia berkata,
“Hem. Syukurlah kau sudah datang Agni.”
Mahisa Agni berdesir melihat wajah yang biru lebam itu. Agaknya Wiraprana pun telah berjuang mati-matian. Namun keadaannya tidak memungkinkan untuk mencegah perbuatan Kuda Sempana itu.
Dalam pada itu terdengarlah Ki Buyut Panawijen bertanya kepada anaknya itu, “Wiraprana, apakah yang telah terjadi?”
“Seperti yang Ayah lihat. Untuk kedua kalinya aku hampir mati dibunuh oleh Kuda Sempana. Apabila ada kesempatan, Kuda Sempana pasti akan membunuhku dalam pertikaian yang ketiga.”
Mendengar kata-kata anaknya itu, maka mau tidak mau dada Buyut Panawijen itu terguncang pula, Agaknya apa yang dikatakan anaknya itu benar-benar dapat terjadi. Kuda Sempana benar-benar tidak mau melepaskan maksudnya untuk mendapatkan Ken Dedes yang sudah dipertunangkan dengan anaknya itu. Karena itu, maka kini Buyut Panawijen itu terpaksa mengambil beberapa bebahu baru untuk memperhitungkan setiap kemungkinan. Dengan wajah yang tegang, maka sekali lagi ia memandangi Kuda Sempana, Mahisa Agni dan anaknya berganti-ganti. Sekali ia menarik nafas dalam-dalam, namun kemudian kembali ia menjadi bingung.
Kuda Sempana yang berdiri tegak seperti patung itu, Kini telah mendapat waktu untuk sedikit mendapatkan kekuatannya kembali. Namun disadarinya, bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Mahisa Agni. Ternyata Mahisa Agni pun telah mendapatkan kekuatan-kekuatan baru, sehingga ia mampu melawan Aji Kala Bama, dan bahkan dapat melampauinya. Karena itu, maka sesaat ia menjadi bimbang pula. Apakah ia masih harus melawannya? Dengan demikian, maka hampir pasti bahwa Mahisa Agni akan berhasil menangkapnya.
Ketika Kuda Sempana itu masih sibuk mempertimbangkan setiap kemungkinan, terdengarlah Mahisa Agni menggeram, “Ki Buyut yang bijaksana. Serahkan semua persoalan kepadaku, dan serahkan semua pertanggungan jawab kepadaku. Kuda Sempana harus mendapat hukuman yang wajar. Tidak di Panawijen, tetapi di Tumapel. Sehingga meyakinkan kita, bahwa untuk seterusnya ia tidak akan membuat kegaduhan kembali.”
Buyut Panawijen itu masih bimbang sesaat, namun kemudian tampaklah ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi belum sepatah kata pun yang terloncat dari mulutnya. Semua orang yang berdiri di sekitarnya menjadi tegang. Semua memandang kepada orang tua itu Dalam ketegangan itu terdengar suara Wiraprana,
“Apakah Ayah masih ingin melihat perkelahian dan keributan di Panawijen ini? Atau Ayah ingin melihat setan itu kelak membunuh aku?”
Ki Buyut Panawijen itu mengangkat wajahnya. Seakan-akan ada yang dicarinya di antara awan yang mengalir dihanyutkan oleh pegunungan yang lembut. Orang tua itu menarik nafas ketika dilihatnya segerombolan burung terbang melintas di atas kepalanya. Burung itu kemudian seperti lenyap ditelan kebiruan langit di atas cakrawala.
Hati orang tua itu berdesir. Dari arah yang lain Buyut Panawijen melihat seekor alap-alap terbang ke arah burung yang bergerombol itu. Kalau burung alap-alap itu kemudian menyambar salah seekor burung yang bergerombol itu, maka tak ada seekor pun yang akan berani mencoba mencegah dan melawannya. Bersama-sama pun tidak, karena Burung alap-alap itu jauh lebih kuat dari burung-burung itu. Orang-orang yang berdiri mengitari Mahisa Agni masih tegak seperti patung, Agak jauh dari mereka berdiri dengan tegangnya Kuda Sempana yang terpelanting karena benturan aji masing-masing. Sedang Ki Buyut Panawijen masih saja ragu-ragu mengambil keputusan.
Dalam kekakuan suasananya itu, sekali-kali Kuda Sempana mengerling ke segenap sudut. Ia sedang berpikir untuk mencoba mencari jalan yang akan dapat menyelamatkannya. Kalau ia bertempur sekali lagi, maka ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat melawan Mahisa Agni. Apalagi kalau beberapa orang membantu Mahisa Agni untuk menangkapnya.
Sementara itu Mahisa Agni sedang menunggu dengan gelisahnya, apa yang akan dikatakan oleh Ki Buyut Panawijen. Bagaimanapun juga, Mahisa Agni harus tetap menghormati keputusannya sebagai seorang tetua dari padukuhan itu, sedang anaknya, yang wajahnya biru lebam itu, hampir-hampir tidak sabar menunggunya.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba terjadilah sesuatu yang sama sekali tidak mereka sangka. Kuda Sempana itu tiba-tiba meloncat dengan sisa-sisa tenaga yang ada padanya, berlari kencang meninggalkan orang yang sedang kebingungan itu. Sesaat tak seorang pun yang bergerak diri tempatnya. Mereka terkejut melihat sikap Kuda Sempana. Yang mula-mula menyadari keadaan itu adalah Mahisa Agni. Tanpa menghiraukan apapun lagi, Mahisa Agni itu segera berlari mengejarnya.
Tetapi dada anak muda murid Empu Purwa itu segera berdesir tajam. Kuda Sempana yang memiliki kelebihan beberapa kejap serta jarak beberapa langkah itu ternyata berlari menuju ke kuda Mahisa Agni yang sedang sibuk makan dedaunan di pagar-pagar dan rerumputan liar di tepi-tepi jalan.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni, “Manakah kejantananmu itu?”
Kuda Sempana tidak memedulikannya. Ia berlari sekuat tenaga yang masih ada padanya. Dan sebelum Mahisa Agni berhasil menangkapnya, anak muda itu telah meloncat ke atas punggung kuda.
“Kuda Sempana!” teriak Mahisa Agni sekali lagi.
Tetapi Kuda Sempana tidak menghiraukannya lagi. Cepat-cepat ditariknya kendali kudanya, dan dengan sebuah sentuhan pada perutnya, maka larilah kuda itu menghambur seperti angin. Meskipun demikian Kuda Sempana itu masih sempat berteriak nyaring,
“Mahisa Agni. Sekali akan datang waktunya, aku membalas semua sakit hatiku kepadamu, kepada penduduk Panawijen, kepada semuanya.”
“Licik!” teriak Mahisa Agni. Dengan serta ia meraih sebutir batu dan dilemparkannya kepada Kuda Senapan. Namun kuda yang dinaiki oleh anak muda itu sudah semakin jauh. Meskipun demikian batu itu masih juga mengenai tengkuk Kuda Sempana.
“Setan!| desis Kuda Sempana. Terasa tengkuknya menjadi sakit. Tetapi ia sudah semakin jauh dan Mahisa Agni itu tidak akan dapat menyusulnya lagi.
Mahisa Agni kini berdiri tegak seperti sebuah tonggak yang membeku. Wajahnya membara karena kemarahannya, sekali-sekali terdengar ia menggeram. Dipandanginya debu yang mengepul tinggi yang dilemparkan oleh kaki-kaki kuda yang berlari seperti dikejar hantu. Nafas Mahisa Agni itu pun terasa berkejaran lewat lubang hidungnya. Terdengar giginya gemeretak di antara suaranya yang menggeram seperti harimau yang sedang marah.
Dalam ketegangan itu, tiba-tiba ia mendengar Wiraprana berteriak, “Agni! Di halaman rumah ini ada seekor kuda. Kuda yang tadi dipakai oleh Kuda Sempana.”
Mahisa Agni terkejut Segera ia berpaling sambil bertanya, “Adakah seekor kuda di halaman?”
“Ya,” sahut Wiraprana.
Namun Mahisa Agni kemudian menjadi kecewa kembali. Ia telah kehilangan beberapa waktu. Kuda yang tadi dinaikinya adalah kuda yang luar biasa. Dengan seekor kuda yang lain. apakah ia akan mampu mengejar Kuda Sempana? Kalau Kuda Sempana itu sampai di Tumapel lebih dahulu, maka ia tidak akan dapat mencarinya. Apalagi kalau Kuda Sempana itu bersembunyi di dalam istana. Karena itu dengan penuh kekecewaan yang mencengkam dadanya akhirnya ia berkata,
“Tidak ada gunanya. Kuda itu sudah terlalu jauh.”
“Kuda itu baik dan tegar. Kuda yang biasa dipakai oleh Kuda Sempana,” jawab Wiraprana
Sekali lagi sekilas harapan Mahisa Agni untuk menyusul anak muda itu. Kuda itu adalah kuda yang tegar seperti yang dilihatnya di Tumapel. Karena itu, maka Mahisa Agni itu meloncat tanpa berkata sepatah kata pun langsung masuk ke halaman. Dan. dilihatnya kuda itu masih berdiri di sana. Dengan tangkasnya Mahisa Agni itu segera meloncat ke atas punggungnya, dan dengan tergesa-gesa ditariknya kekang kuda itu. Sesaat kemudian kuda itu pun segera meloncat pula berlari. Sambil memacu kudanya Mahisa Agni berteriak,
“Hati-hatilah di rumah. Aku akan mengejar Kuda Sempana sampai ke manapun. Aku tak akan kembali sebelum aku menyelesaikan pekerjaan ini.”
Tak seorang pun sempat menjawab. Kuda yang dinaikinya itu pun ternyata kuda yang sangat baik. Karena itu, maka kuda itu berlari lepas seperti anak panah yang lepas dari busurnya. Mereka yang menyaksikan perlombaan berkuda itu menahan napas mereka. Mereka melihat peristiwa demi peristiwa seperti di dalam mimpi, sehingga untuk beberapa saat mereka terpesona dan diam mematung di tempat masing-masing.
Mahisa Agni yang telah dibakar oleh kemarahannya itu memacu kudanya secepat angin. Tetapi disadarinya pula bahwa kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu pun kuda yang baik pula, sebaik kuda yang dipakainya. Karena itu, maka kemungkinan untuk dapat menyusulnya adalah kecil sekali. Tetapi meskipun Mahisa Agni tidak akan dapat menyusulnya, namun ia akan pergi ke Tumapel, mencari kesempatan untuk bertemu dengan anak muda itu.
Mahisa Agni sudah tidak memperhitungkan lagi, apa yang dapat terjadi atas dirinya seandainya Kuda Sempana mengerahkan beberapa orang kawan untuk melawannya. Namun ia yakin, bahwa ia berada di pihak yang benar. Karena itu, maka Akuwu Tumapel pasti akan menghukum Kuda Sempana kalau ia mempunyai kesempatan untuk menyampaikannya, atau Akuwu itu dapat mendengar dari siapa pun.
“Kalau aku tidak dapat menemui Kuda Sempana atau menghadap Akuwu, maka aku akan mencoba minta pertolongan Witantra,” katanya di dalam hati, “anak muda itu pun seorang yang agak dekat pula dengan Akuwu.”
Mendapat cara yang dianggapnya baik itu, Mahisa Agni semakin mantap. Kudanya berpacu melewati jalan-jalan berdebu. Dilihatnya kemudian di hadapannya terbentang padang rumput Karautan.
“Apakah Kuda Sempana juga melewati padang itu?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya, “Kalau ia memilih jalan lain, lewat Talrampak misalnya, maka ada kemungkinan bagiku untuk menyusulnya sebelum ia sampai ke Tumapel.”
Tetapi Mahisa Agni menjadi kecewa. Ia melihat telapak kuda yang baru menghunjam dalam-dalam di muka kaki kudanya menjelujur ke arah yang ditempuhnya pula,
“Hem,” geramnya, “anak itu lewat padang ini pula.”
Karena itu Mahisa Agni menjadi kecewa. Harapannya untuk menyusul Kuda Sempana menjadi semakin tipis. Tetapi ia tidak berputus asa. Kini ia tidak menempuh jalan setapak yang dilewati Kuda Sempana. Dipotongnya arah menerobos padang rumput itu dan dilewatinya gerumbul-gerumbul kecil yang bertebaran di sana-sini.
“Mudah-mudahan aku berhasil,” gumamnya.
Kuda yang dipakai Mahisa Agni itu sebenarnya adalah kuda yang sangat baik. Betapa lincahnya kuda itu menghindari rintangan-rintangan yang berada di hadapannya. Dengan tangkas kuda itu meloncati gerumbul-gerumbul kecil dan lubang-lubang yang digali oleh air hujan. Ketika kemudian Mahisa Agni telah melampaui padang itu, serta diikutinya pula jalan yang meninggalkan padang rumput itu, dilihatnya jauh di hadapannya debu yang naik ke udara.
“Itulah!” gumamnya, “Mudah-mudahan aku tidak kehilangan Kuda Sempana kali ini.”
Meskipun kudanya itu telah berlari sekencang angin, namun Mahisa Agni merasa seakan-akan kuda itu merangkak saja dengan malasnya. Berkali-kali dilecutinya kuda itu dengan ujung kekangnya. namun masih saja terasa bahwa kuda itu berlari terlalu lamban.
Beberapa orang yang bekerja di sawah-sawah mereka, memandangnya dengan penuh pertanyaan di dalam hati. Apakah sedang ada perlombaan berpacu kuda? Para petani itu saling berpandangan satu sama lain. Tetapi tak seorang pun yang tahu, apakah yang sedang dilakukan oleh anak-anak muda yang memacu kudanya seperti takut dikejar hantu.
“Anak-anak muda memang kadang-kadang aneh,” gumam salah seorang dari mereka, “mereka memacu kudanya seperti dikejar setan. Apakah mereka tidak takut seandainya kudanya itu tergelincir dan terguling?”
Tetapi sesaat kemudian kembali mereka melakukan pekerjaan mereka Dua anak muda yang berpacu berturut-turut itu tentu akan menjadi bahan pembicaraan mereka nanti di gardu-gardu atau di banjar-banjar desa.
Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukan apa yang telah dilewatinya. Matanya tertancap pada debu yang keputih-putihan yang seakan-akan merayap dengan cepatnya di jalan-jalan berdebu di hadapannya Tetapi Mahisa Agni itu menjadi kecewa karena jarak di antara mereka tidak menjadi semakin pendek.
Kuda Sempana yang berpacu di muka itu pun telah memperhitungkan kemungkinan, bahwa Mahisa Agni akan mempergunakan kudanya untuk mengejarnya. Karena itu sejak loncatan pertama kudanya telah dipacunya secepat mungkin. Dan Kuda Sempana itu menjadi berbesar hati, karena ternyata kuda yang dipakainya itu pun merupakan kuda yang tidak kalah kuatnya dari kudanya sendiri.
Ketika Kuda Sempana itu kemudian menengadahkan wajahnya maka ia pun tersenyum. Setelah ia berpacu beberapa lama, maka di langit seakan-akan terbentang cahaya yang suram dan di bumi mulailah gelap merayap dari kaki-kaki bukit, merambat ke puncaknya. Namun sesaat Kuda Sempana masih melihat debu mengepul jauh di belakangnya. Dan disadarinya bahwa Mahisa Agni sedang mengejarnya. Tetapi apabila malam tiba, maka kesempatannya untuk melepaskan diri menjadi semakin besar.
Mahisa Agni menjadi sengat kecewa ketika malam datang meskipun perlahan-lahan. Warna keputih-putihan yang mengepul di hadapannya menjadi semakin lama semakin kabur. Dan akhirnya Mahisa Agni kehilangan kesempatan untuk dapat melihat debu yang dilemparkan oleh kuda yang dipakai oleh Kuda Sempana itu.
“Hem,” Mahisa Agni menggeram. Tetapi kemudian ia bergumam, “Kalau aku tidak dapat menemukannya malam ini, biarlah aku menunggu sampai besok atau lusa. Kalau aku menunggunya di alun-alun maka suatu waktu aku pasti akan melihatnya keluar atau memasuki istana Akuwu.”
Karena itu Mahisa Agni tidak berhenti berpacu. Ia mengharap seandainya ada sesuatu yang menghambat perjalanan Kuda Sempana maka ia akan mendapat kesempatan itu. Tetapi Kuda Sempana berjalan tanpa hambatan. Kudanya berlari dengan kencangnya menuju ke kota kebanggaannya, di mana ia mendapat kesempatan yang baik di dalam hidupnya. Tumapel. Dan Tumapel itu semakin lama semakin dekat. Itulah sebabnya, maka kembali Kuda Sempana tersenyum. Ketika ia berpaling, dilihatnya di belakangnya warna hitam yang kelam. Karena itulah maka hati Kuda Sempana menjadi semakin besar. Maka kini dapatlah dipastikan, bahwa kali ini ia akan dapat menghindarkan diri dari Mahisa Agni.
“Kali ini aku masih kalah Agni,” katanya di dalam hati, “tetapi aku akan datang kembali membawa kemenangan. Ternyata aku tidak akan berhasil memetik bunga itu. Karena itu, maka biarlah angin yang lebih kencang menggugurkannya.”
Sementara itu, Mahisa Agni benar-benar kehilangan jejak buruannya. Ketika malam menjadi semakin kelam, ia tidak tahu lagi, ke mana Kuda Sempana melarikan diri. Apalagi ketika Kuda Sempana telah mematuki kota. Berpuluh-puluh jalan simpang yang dapat ditempuhnya. Dan berpuluh-puluh pintu yang dapat dimasukinya. Karena itu, maka ketika kuda Mahisa Agni memasuki gerbang kota Tumapel, maka segera ia memperlambat jalan kudanya. Ia takut kalau derap kaki kuda itu akan mengejutkan setiap orang yang tinggal sebelah menyebelah jalan yang dilewatinya. Meskipun demikian, hati Mahisa Agni menjadi sangat kecewa. Serta ia menjadi bingung, ke mana ia harus pergi.
Yang mula-mula tersirat di dalam hatinya adalah rumah Witantra. Orang itu belum banyak dikenalnya, namun dalam waktu yang pendek ia mendapat kesan, bahwa anak muda itu adalah anak muda yang jujur meskipun agaknya terlalu keras memegang ketetapan. Ketetapan yang berlaku dalam tata pergaulannya sebagai seorang prajurit, ketetapan yang berlaku di dalam tata pergaulannya sehari-hari di luar lingkungan keprajuritan dan bahkan ketetapan-ketetapan yang dibuatnya di dalam hatinya sendiri.
Tetapi tak ada orang lain yang dapat disinggahinya di Tumapel. Di kota itu belum banyak orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Ada satu dua orang sahabat-sahabat gurunya, tetapi sahabat-sahabat gurunya itu pun belum begitu mengenalnya. Karena itu, maka tak ada yang dapat ditempuhnya selain pergi ke rumah Witantra itu. Kecuali ia akan mendapat tempat untuk bermalam apabila anak muda itu tidak berkeberatan, maka banyak hal-hal yang dapat ditanyakannya kepadanya tentang Kuda Sempana dan tentang Akuwu Tumapel. Maka dengan agak ragu-ragu akhirnya Mahisa Agni pergi juga ke rumah Witantra.
Meskipun malam belum terlalu dalam, namun rumah itu sudah tampak sepi. Karena itu maka Mahisa Agni menjadi semakin ragu-ragu. Di muka regol halaman dihentikannya kudanya, dan perlahan-lahan kuda itu dituntunnya masuk ke halaman. Tetapi Mahisa Agni melihat nyala pelita yang terang di pringgitan rumah itu. Karena itu ia menjadi gembira. Agaknya penghuni rumah itu ada di rumahnya. Dengan, hati-hati Mahisa Agni mengetuk pintu depan, dan terdengarlah sebuah sapa dari dalam,
“Siapa?”
“Aku, Wiraprana,” sahut Agni.
“He?” terdengar seseorang terkejut mendengar jawaban Agni. Sesaat kemudian terdengar pula langkah seseorang membuka pintu. Ketika pintu itu terbuka, Mahisa Agni melihat Witantra berdiri di muka pintu sambil menatapnya. “Kau,” desis Witantra terkejut.
“Ya,” sahut Mahisa Agni, “aku datang kembali.”
“Mari, masuklah,” Witantra itu mempersilakan.
Mahisa Agni itu pun kemudian masuk ke dalam pringgitan. Dengan membungkukkan badannya ia memberi hormat kepada dua orang perempuan yang kemudian berdiri dan membalas anggukan kepala itu.
“Silakan,” berkata perempuan yang tua, “kami akan ke belakang.”
Mahisa Agni itu pun kemudian duduk bersama Witantra. Ternyata kedua perempuan itu adalah ibu dan istrinya.
Dengan penuh keheranan Witantra itu pun kemudian bertanya, “Kenapa kau cepat kembali? Apakah kau terlambat datang?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak. Aku datang kembali untuk menyampaikan terima kasihku kepadamu. Karena pertolonganmu, maka aku masih sempat menggagalkan maksud Kuda Sempana itu.”
“Syukurlah,” gumam Witantra, “sebenarnya kuda itu tidak terlalu tergesa-gesa. Aku masih memiliki yang lain.”
“Terima kasih,” sahut Agni. Namun kemudian diceritakan apa yang telah terjadi, dan dikatakannya pula, bahwa kuda yang dibawanya adalah kuda milik Kuda Sempana.
Witantra menarik nafas dalam-dalam. “Bukan main,” gumamnya, “anak itu benar-benar keras kepala.”
“Witantra,” berkata Mahisa Agni kemudian, “aku ingin mendapatkan nasihatmu. Apakah yang sebaiknya aku lakukan atas anak muda itu. Apakah aku harus menyampaikannya kepada Akuwu Tunggul Ametung atau aku harus menemuinya sendiri?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Sulit,” desisnya, “Akuwu Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Aku adalah pengawalnya yang hampir setiap hari bergaul. Namun aku masih belum juga mengenal sifat-sifatnya dengan baik. Akuwu itu adalah seorang yang ramah dan baik hati, namun ia adalah seorang yang kejam dan kasar.”
Witantra itu berhenti sesaat, dan Mahisa Agni pun menundukkan kepalanya. Direnungkannya setiap kemungkinan yang dapat ditempuhnya. Tetapi ia tidak menemukan cara apapun yang dianggapnya baik. Tanpa sesadarnya tiba-tiba terloncat dari mulutnya,
“Tetapi aku harus mencegahnya untuk mengulangi perbuatannya.”
“Ya,” sahut Witantra, “kau benar.”
“Tetapi bagaimana?”
Witantra itu pun kemudian berdiam diri pula. Karena itu, maka pringgitan itu menjadi sepi. Lampu minyak yang menyala tersangkut di dinding di atas gelodok melemparkan sinar kemerah-merahan. Lidahnya yang seolah-olah melonjak-lonjak telah mencetak bayangan yang hitam dan bergerak-gerak.
Witantra itu kemudian mengangkat wajahnya sambil berkata, “Besok Akuwu akan berburu. Aku telah mendapat perintah untuk mengikutinya.”
“Berburu?” bertanya Mahisa Agni, “ke mana?”
Witantra itu tidak segera menjawab. Ia memang tidak tahu ke mana Akuwu akan berburu. Sehingga sejenak kemudian katanya, “Akuwu Tunggul Ametung tidak pernah merencanakan, ke mana akan berburu. Apabila rombongan telah bersiap, barulah Akuwu bertanya kepada para pengiringnya, ke mana sebaiknya mereka pergi. Namun kadang-kadang Akuwu sendiri menentukan arah perjalanan rombongan itu. Karena itulah maka sampai sekarang aku belum tahu ke mana besok aku akan pergi.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia belum tahu apakah hubungannya dengan keperluannya mencegah perbuatan Kuda Sempana seterusnya. Baru kemudian setelah Witantra itu berkata, ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Wiraprana,” berkata Witantra, “kau besok bisa tinggal di sini selama aku pergi. Biasanya Kuda Sempana ikut pula mengantarkan Akuwu, sehingga dengan demikian, aku akan dapat selalu mengawasinya. Dengan demikian maka kita mempunyai waktu sehari untuk memikirkan persoalanmu itu. Apabila besok Kuda Sempana tidak ikut, biarlah aku memberitahukan kepadamu, dan segeralah pulang ke Panawijen.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih kepada Witantra itu. Kemudian katanya, “Aku selalu mengganggumu dengan pekerjaan-pekerjaan yang menjemukan.”
Witantra menggeleng, jawabnya, “Kita saling memerlukan dalam setiap kesempatan. Aku tahu, bahwa Kuda Sempana telah melakukan kesalahan. Karena itu aku harus membantu mencegah kesalahan-kesalahan berikutnya, meskipun aku tidak dapat berbuat secara langsung. Sebab dengan demikian akan dapat menimbulkan keretakan dalam lingkungan istana. Setidak-tidaknya antara aku dan Kuda Sempana yang kedua-duanya hamba-hamba istana.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar