MENU

Ads

Sabtu, 14 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 034

“Bersembunyi selagi masih ada kesempatan.”

“Baik. Bersembunyilah di rumah tetangga. Apakah Kuda Sempana akan memasukinya satu demi satu?”

“Ya.”

“Nah. Pergilah.”

Tetapi Ken Dedes tidak segera berdiri, sehingga Wiraprana itu menegurnya, “Pergilah selagi ada kemungkinan.

“Lalu bagaimanakah dengan kau, Kakang?”

“Biarkan aku. Aku tidak apa-apa.”

“Tetapi bagaimanakah nanti kalau Kuda Sempana itu kembali kemari?”

“Biarkan aku. Pergilah. Pergilah secepatnya sebelum Kuda Sempana datang.”

Ken Dedes pun berdiri. Namun ia masih ragu-ragu karenanya. Ia tidak sampai hati meninggalkan Wiraprana yang wajahnya merah biru sedang darah mengalir dari hidungnya. Wajah yang demikian itu pulalah yang pernah dilihatnya beberapa waktu yang lalu di bendungan. Dan ternyata kini berulang kembali.

“Ken Dedes pergilah cepat. Cepat!”

Ken Dedes itu pun segera melangkah, namun ia sudah terlambat. Dari balik pintu pringgitan muncullah Kuda Sempana berlari-lari. Ternyata dengan cepat Kuda Sempana telah berhasil mendorong emban tua itu jatuh terbanting. Betapa berat tangan Kuda Sempana itu, sehingga emban yang sudah tua itu tidak mampu untuk segera bangkit kembali. Dengan nafas terengah-engah perempuan itu mencoba untuk bangun, namun tubuhnya terasa seperti tidak bertulang lagi. Meskipun demikian, selagi Kuda Sempana masih tampak di matanya, segera ia melemparkan patremnya, ke arah anak muda itu. Tetapi sama sekali tidak berarti. Sebab dengan cepatnya Kuda Sempana berhasil menghindarinya.

Oleh kemarahan Kuda Sempana yang telah memuncak sampai ke ubun-ubunnya, maka anak muda itu bermaksud membunuh saja emban yang telah mencoba mengganggunya, tetapi segera ia teringat kepada Ken Dedes. Dengan demikian ia menggeram,

“He perempuan celaka. Biarlah kau hidup sampai aku berhasil menangkap Ken Dedes.”

Kuda Sempana itu segera meloncat berlari, dan sampai di halaman ia menarik nafas lega. Ia masih melihat Ken Dedes di situ. Ken Dedes yang melihat kedatangan Kuda Sempana itu kembali menjadi gemetar. Kin tak ada lagi yang dapat diharapkan untuk melindungi dirinya. Karena itu, maka dalam kebingungan ia melangkah terus. Berlari meninggalkan halaman rumahnya. Tetapi Kuda Sempana pun berlari pula mengejarnya. Wiraprana yang masih belum dapat bergerak memandangnya dengan penuh kecemasan. Sehingga karenanya tanpa sesadarnya ia berteriak,

“Kuda Sempana. Kau benar-benar telah keranjingan setan. Kemarilah kalau kau jantan.”

“Mampuslah kau Wiraprana,” sahut Kuda Sempana, sambil berlari mengejar Ken Dedes.

Demikian Ken Dedes meloncat keluar dari pintu halamannya, dilihatnya beberapa anak muda berdiri di luar. Dengan serta-merta ia berteriak, “Tolong! Tolonglah aku.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan. Kuda Sempana bukan orang yang dapat mereka lawan. Mereka tidak lebih dari beberapa orang cantrik yang telah terbaring di halaman Empu Purwa itu. Namun meskipun demikian anak-anak muda itu masih tetap berdiri tegak di tempatnya. Sudah barang tentu mereka tak akan dapat membiarkan seorang gadis dari lingkungannya mengalami nasib yang memedihkan. Sesaat kemudian muncullah Kuda Sempana dari pintu gerbang itu pula. Ketika ia melihat beberapa anak muda berdiri di hadapannya, maka langkahnya tertegun. Dengan kemarahan yang menyala-nyala ia berteriak,

“Apakah yang akan kalian lakukan?”



Tak seorang pun dari anak-anak muda itu yang menjawab. Mereka telah melihat apa yang terjadi di halaman. Tetapi mereka pun tak sampai hati melepaskan Ken Dedes dibawanya. Karena itu mereka masih saja berdiri tegak hampir berhimpitan. Sedang Ken Dedes yang gemetar berdiri di belakang mereka.

Kuda Sempana yang marah itu menjadi semakin marah. Ketika selangkah ia maju, maka anak-anak muda Panawijen itu pun berdesakan mundur. Mereka tidak berani langsung menentang kekerasan yang memancar dari mata Kuda Sempana Itu. Alangkah kecewanya Ken Dedes melihat kawan-kawannya yang ketakutan itu. Karena itu, maka ia tidak akan dapat menggantungkan dirinya kepada mereka. Sebab ternyata pula, ketika Kuda Sempana maju selangkah lagi, maka mereka pun telah berebut untuk menghindar.

Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berteriak, “Pergi! Pergi. Biarkan aku berbuat menurut kehendakku.”

Anak-anak muda itu menjadi ragu-ragu. Sekali lagi mereka saling berpandangan. Meskipun demikian, terpancarlah dari wajah-wajah mereka, bahwa mereka sama sekali tidak ikhlas melihat peristiwa itu. Tetapi mereka kurang keberanian untuk mencegahnya. Sebab mereka tahu, siapakah Kuda Sempana itu.

Kuda Sempana itu pun kemudian tidak bersabar lagi. Sekali lagi ia berteriak, “Pergi! Pergi, atau siapakah yang akan mati dahulu di antara kalian? Beberapa orang telah mencoba mencegah kemauanku. Sekarang kalian memperlambat pula. Karena itu, maka kemarahan yang bertumpuk undung di dalam dadaku, akan aku tumpahkan kepada kalian. Siapa yang tidak menuruti kemauanku meninggalkan tempat ini maka merelalah yang akan mati lebih dahulu.”

Anak-anak muda itu menjadi semakin cemas. Kuda Sempana benar-benar akan membunuh mereka yang mencoba menghalangi kemauannya. Tetapi apakah Kuda Sempana itu akan dibiarkannya untuk membawa Ken Dedes pergi. Ken Dedes yang menggigil di belakang mereka itu menjadi semakin takut. Anak-anak muda Panawijen ternyata kurang memiliki keberanian. Karena itu ia berbisik dengan suara gemetar,

“Tolonglah aku, Tolonglah.”

Sesaat ketika anak-anak muda itu mendengar suara Ken Dedes, mereka menjadi iba, dan seolah-olah mereka pun segera akan melindunginya. Namun apabila terpandang oleh mereka itu mata Kuda Sempana, maka kembali hati mereka keriput.

Kuda Sempana yang marah itu pun kemudian berkata, “Aku akan melangkah langsung mengambil gadis itu. Mingggir, atau siapa yang masih berdiri di hadapanku akan aku binasakan.”

Kuda Sempana tidak menunggu apapun lagi. Selanglah ia maju, dan anak-anak muda itu pun mundur pula. Ketika Kuda Sempana maju lagi, mereka pun mundur lagi selangkah. Dan ketika langkah Kuda Sempana menjadi semakin cepat, maka tiba-tiba mereka itu pun menyibak.

“Tolong, tolonglah aku!” jerit Ken Dedes.

Namun anak-anak muda itu telah menyibak, seakan-akan sengaja memberi jalan kepada Kuda Sempana untuk langsung dapat menangkap Ken Dedes. Ken Dedes menjadi bertambah ketakutan. Terbayanglah peristiwa yang mengerikan akan menimpanya. Karena itu tanpa malu-malu ia mengguncang-guncang tubuh seorang anak muda yang berdiri di dekatnya,

“Cegahlah, cegahlah. Aku tidak mau! Aku tidak mau!”

Hati anak muda itu pun terguncang pula. Alangkah ibanya kepada gadis itu. Tetapi ia tidak mau mati. Karena itu ia menjadi ragu-ragu. Dalam pada itu Kuda Sempana melangkah terus. Setiap langkah yang diayunkan, terasa seakan-akan sebuah tusukan sembilu di dada Ken Dedes. Sekali lagi ia mencoba menjerit sambil mengguncang-guncang tubuh anak muda yang berdiri di hadapannya,

“Aku tidak mau! Aku tidak mau!”

Tetapi pemuda itu tidak berani menatap nyala yang memancar dari mata Kuda Sempana. Karena itu, maka ia pun kemudian bergeser mundur. Pada saat yang demikian, pada saat Ken Dedes menjadi berputus asa, serta pada saat anak-anak muda Panawijen kehilangan akal, maka mereka dikejutkan oleh suara derap kuda yang menggema di padukuhan itu. Suaranya gemeretak seperti suara guruh yang sahut menyahut berputaran. Kuda Sempana terkejut mendengar derap kuda itu. Sesaat langkahnya tertegun. Diangkatnya wajahnya dan dicobanya untuk mengetahui, dari manakah arah suara itu.

Terasa sesuatu bergetar di dada anak muda itu. Sekilas tebersit gambaran anak muda yang bernama Mahisa Agni. “Tidak mungkin,” katanya di dalam hati, “anak itu berjalan kaki. Kalau ia tergesa-gesa pulang, secepatnya tengah malam nanti ia akan sampai.” Kemudian katanya pula di dalam hatinya itu, “Seandainya anak muda itu datang, maka aku sekarang tidak akan gentar lagi untuk menghadapinya.”

Meskipun demikian Kuda Sempana itu menjadi gelisah pula. Ketika tampak di matanya anak-anak muda Panawijen itu pun menjadi terkejut dan meperhatikan suara derap kuda itu, maka terdengar ia berteriak,

“Minggir, cepat!”

Namun sebelum Kuda Sempana meloncat menangkap Ken Dedes, maka terasa sesuatu berdesir di dalam hatinya. Dari tikungan dilihatnya seekor kuda meluncur secepat anak panah yang lepas dari busurnya. Debu putih mengepul berhamburan di belakang kaki-kaki kuda itu. Dan ketika Kuda Sempana melihat penunggangnya, jantung serasa berhenti berdenyut.

“Mahisa Agni” desisnya.

Anak muda itu adalah Mahisa Agni. Hatinya tersirap ketika ia melihat beberapa orang berkerumun di muka gerbang halaman rumah gurunya. Kudanya yang berlari kencang itu dicambuknya sehingga seakan-akan kuda itu terbang. Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama. Segera ia sampai di antara anak-anak muda yang berkerumun itu. Dengan sekuat tenaga ditariknya kekang kudanya, sehingga kuda itu meringkik sambil tegak di atas kedua kaki belakangnya. Demikian kuda itu menjejakkan kaki depannya, demikian Mahisa Agni meloncat turun.

Yang mula-mula terdengar adalah suara Ken Dedes menjerit, “Kakang. Kakang Mahisa Agni!”

Sebelum Kuda Sempana sempat menangkapnya, gadis itu meloncat berlari ke arah Mahisa Agni. Gadis yang ketakutan dan hampir berputus asa itu, dengan serta-merta memeluk tubuh Mahisa Agni sambil memuntahkan segenap himpitan perasaan di dalam dadanya. Ken Dedes itu menangis seperti kanak-kanak. Ketika tersentuh olehnya tubuh Mahisa Agni, yang dianggapnya sebagai kakak kandungnya itu, maka terasa seakan-akan ia telah menemukan perlindungan. Sebagai anak ayam yang bersembunyi dibalik sayap induk ketika seekor elang mengintainya, demikianlah apa yang dilakukan oleh Ken Dedes itu.

Kuda Sempana menyaksikan perbuatan itu dengan gigi yang gemeretak. Matanya yang menyala karena kemarahan yang membakar dadanya. seakan-akan hendak meloncat dari pelupuknya. Sehingga kemudian terdengar ia menggeram parau,

“Ken Dedes. Ikutlah aku!”

Ken Dedes tidak mendengar kata-kata itu. Ia baru tenggelam ke dalam tangisnya yang menyesakkan dadanya. Namun Mahisa Agnilah yang mendengar kata-kata itu. Karena itu didorongnya Ken Dedes perlahan-lahan ke samping sambil berkata,

“Minggirlah, Ken Dedes, biarlah anak muda itu aku layani.”

Ken Dedes mendengar kata-kata Mahisa Agni itu sebagai suatu peringatan, bahwa di belakangnya bahaya masih selalu mengintainya. Karena itu, maka segera dilepaskannya tangannya, dan bergeser menepi.

Kini Mahisa Agni itu berdiri dengan kokohnya menghadap ke arah Kuda Sempana yang telah bersiap pula. Dari wajah-wajah mereka, terbayang kemarahan yang telah memuncak. Sesaat mereka hanya berdiri raja saling berpandangan. Meskipun tak sepatah kata pun yang terloncat dari bibir mereka, namun dari mata mereka telah memancar perasaan dendam, benci dan segala macam. Suasana pun segera meningkat menjadi semakin tegang. Seakan-akan tanah tempat mereka berpijak itu telah menyala.

Dalam keheningan yang membara itu terdengar suara Mahisa Agni berat, “Apa yang telah kau lakukan di sini Kuda Sempana?”

Kuda Sempana memandang Ken Dedes sesaat, kemudian jawabnya, “Tak usah kau bertanya., kau sudah dapat menebaknya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya perlahan-lahan. Katanya, “Hem. Masih juga kau ulangi niatmu yang gila itu?”

“Sebelum aku berhasil, maka aku tak akan berhenti berusaha. Hanya orang-orang kerdil sajalah yang melupakan cita-citanya.”

“Kuda Sempana. Untuk yang terakhir kalinya aku memperingatkanmu. Urungkan niatmu. Kau akan dapat mencari gadis yang tak kalah cantiknya di Tumapel.”

“Gila. Kau jangan mengigau Mahisa Agni. Kau sangka nilai seorang gadis sama dengan nilai seekor ayam aduan? Yang dapat dipilih di pasar-pasar atau di kalangan adu jago? Agni aku mau menilai gadis yang aku kehendaki seperti aku menilai jiwaku sendiri.”

“Aku menghormati penilaian itu,” sahut Mahisa Agni, “tetapi kau tidak berpijak atas nilai timbal balik. Kau menilai dirimu dan nyawamu sendiri. Tetapi pernahkah kau bertanya kepadanya, kepada Ken Dedes, bagaimana ia menilai dirimu?”

Kuda Sempana diam sesaat. Kemarahannya kini menjadi semakin memuncak. Dan karena itulah maka matanya menjadi makin merah membara. Dihentak Kuda Sempana itu pun terbayang kembali peristiwa beberapa waktu yang lampau di pinggir kali. Mahisa Agni itu pula yang telah menggagalkan usahanya. Dan kini anak muda itu telah berdiri di hadapannya pula dalam persoalan yang sama.

Tetapi beberapa waktu yang lampau Kuda Sempana bukan Kuda Sempana yang sekarang. Kini ia telah menempa dirinya menjadi seorang yang jarang dicari bandingnya. Kini di dalam dirinya telah tersimpan kekuatan-kekuatan yang beberapa waktu yang lampau diungkapkannya.

Karena itu, menyadari keadaan diri, maka tiba-tiba Kuda Sempana itu tertawa. Suaranya terdengar aneh, di antara kemarahan yang menggelegak sampai ke kepalanya dan penghinaan terhadap setiap orang yang tidak menyadari, bahwa mereka berhadapan dengan Kuda Sempana. Dan disela-sela suara tertawanya itu terdengar ia berkata,

“He, Mahisa Agni, Apaknya kau berbangga atas kemenanganmu beberapa saat yang lampau di pinggir belumbang di bendungan. Huh. Kau sangka bahwa aku sedemikian bodohnya untuk kembali lagi ke Panawijen masih dalam tataranku yang dahulu? Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan bahwa Kuda Sempana mampu memaksakan kehendaknya atas siapa saja. Tetapi ternyata kau tidak menyadari keadaanmu. Karena itu, maka aku masih akan mencoba untuk mencegah peristiwa-peristiwa yang semakin buruk terjadi di sini.”

“Peristiwa itu tidak akan terjadi kalau kau dapat mengerti perasaan orang lain, Kuda Sempana. Kalau dapat mengerti perasaan anak-anak muda Panawijen, dan kalau kau dapat mengerti perasaan Ken Dedes sendiri,” sahut Mahisa Agni.

“Hem,” Kuda Sempana menggeram, “apakah kau benar-benar tidak mau melihat kenyataan tentang dirimu dan diriku?”

“Aku belum melihat kenyataan itu.”

“Baiklah,” berkata Kuda Sempana dengan suara parau. Kemudian matanya yang merah itu menjadi semakin membara, “Apakah aku harus membunuhmu?”

“Aku adalah kakak Ken Dedes. Kalau kau akan mengambilnya dengan bertaruh nyawa, maka aku pun akan mempertahankannya dengan taruhan yang sama.”

“Bagus!” teriak Kuda Sempana. Selangkah ia maju dan tiba-tiba anak muda itu bersiap untuk menyerang.

Beberapa anak muda yang melihat sikap itu segera berdesakan mundur. Mereka tidak mau tersentuh oleh kekuatan-kekuatan yang tidak dapat mereka duga sebelumnya. Karena itu maka lebih baik mereka menyingkir sejauh-jauhnya.

Kuda Sempana menjadi bangga melihat anak-anak muda sebayanya, kawan-kawannya bermain semasa mereka masih kanak-kanak sampai menginjak dewasa itu menjadi sedemikian takutnya melihat sikapnya yang garang. Tetapi ia menjadi sangat marah ketika ia melihat Mahisa Agni masih berdiri di tempatnya. Berdiri tegak seakan tidak lagi dapat digoyahkan oleh kekuatan apapun.

Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya. apapun yang akan terjadi. Dengan penuh kewaspadaan anak muda itu siap mempertahankan kehormatan keluarga gurunya.

“Tetapi apakah karena itu?” tiba-tiba tersembul pertanyaan di dalam hati Mahisa Agni itu sendiri, “hanya karena mempertahankan kehormatan keluarga gurunya?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Dengan tanpa disadarinya ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir kebimbangan yang merayap di hatinya. Justru pada saat ia telah siap untuk mempertaruhkan nyawanya. Perasaan yang pernah menghunjam melukai jantungnya itu masih saja sering mengganggunya. Dan kali ini pun perasaan itu mengusiknya pula. Bukankah Ken Dedes itu bukan saudaramu? Bukan pula gadis yang dapat mengerti perasaanmu? Kalau kemudian terjadi bencana atas dirinya, kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuknya?

Mahisa Agni itu pun kemudian mengatupkan giginya rapat-rapat. Dicobanya untuk menindas semua perasaan yang simpang siur di kepalanya. Dan ketika sekali lagi terpandang olehnya Kuda Sempana yang telah siap melontarkan serangan itu, maka Mahisa Agni pun segera bergeser setapak.

Kuda Sempana melihat keragu-raguan yang membayang di wajah Mahisa Agni. Karena itu ia berkata, ” Agni, apakah kau mempunyai pertimbangan lain?”

Pertanyaan itu justru semakin membakar hati anak muda itu. Justru semakin membulatkan tekadnya untuk mempertahankan Ken Dedes itu.

“Persetan! Apapun sebabnya,” teriaknya di dalam hatinya untuk menindas segala perasaan yang mencoba untuk mengabulkan tekadnya. Karena itulah maka terdengar Mahisa Agni itu menjawab, “Ya. Aku menjadi ragu-ragu. Apakah aku sebaiknya membunuhmu atau tidak.”

Kuda Sempana yang marah itu menggeram, “Jangan terlalu sombong!”

Mahisa tidak menjawab. Tetapi ia siap menunggu serangan sudah hampir terlontar. Sebenarnya Kuda Sempana pun tidak menunggu Mahisa Agni menjawab. Secepat kilat anak muda itu melontarkan sebuah serangan ke arah dada Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni pun telah siap pula menanti serangan itu, sehingga dengan cepatnya pula ia sempat menghindarinya. Kuda Sempana menyadari bahwa serangannya yang pertama itu pasti tidak akan dapat mengenai lawannya, karena itu, secepatnya pula ia menyerang berganda. Tetapi Agni pun tidak kalah tangkasnya, sehingga serangan-serangan itu tak mengenai sasarannya.

Namun untuk seterunya Mahisa Agni tidak saja membiarkan dirinya menjadi sasaran serangan-serangan Kuda Sempana. Sekali ia berputar dan untuk seterusnya maka dengan garangnya ia pun melancarkan serangan pula. Demikianlah maka kini mereka berdua terlibat dalam suatu perkelahian yang seru. Masing-masing telah dibakar oleh kemarahan, dan masing-masing telah bertekad untuk mempertaruhkan nyawa mereka. Karena itu, maka serangan-serangan mereka pun meluncur tanpa pengendalian.

Kuda Sempana yang merasa dirinya telah mendapatkan bekal yang cukup, bertempur dengan penuh kebanggaan diri. Setiap kali ia menyangka bahwa lawannya akan segera jatuh terjerembab dan dengan demikian ia akan segera berhasil membawa Ken Dedes pergi. Tetapi setiap kali pula ia menjadi kecewa, sebab lawannya mampu untuk menghindari setiap serangan-serangan mautnya. Bahkan semakin lama, Kuda Sempana itu menyadari, bahwa lawannya kali ini, meskipun kekuatannya sendiri telah jauh melampaui masa-masa yang lewat, namun yang dihadapinya itu pun bukan Mahisa Agni yang dahulu.

Beberapa kali Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Mahisa Agni itu pun memiliki kemampuan yang dapat mengimbangi kemampuannya.

Demikianlah maka perkelahian itu menjadi semakin cepat, sehingga, kemudian mereka seakan-akan menjadi luluh dalam sebuah putaran yang membingungkan. Yang dilihat oleh anak-anak muda Panawijen itu adalah sebuah pusaran yang kalut. Hanya beberapa kali mereka melihat bentuk-bentuk Mahisa Agni dan Kuda Sempana, namun sesaat kemudian mereka telah meloncat dan melontar berputaran, sehingga yang tampak hanyalah semacam gumpalan debu yang hitam putih bercampur baur.

Kuda Sempana itu ternyata benar-benar memiliki kelebihan dari anak-anak muda kebanyakan. Tangannya yang tangkas dan cepat bergerak menyambar-nyambar seperti sayap sepasang garuda yang berlaga di udara. Namun lawannya adalah seekor burung rajawali yang tangkas. Itulah sebabnya, maka keduanya kemudian menjadi seolah-olah dua ekor burung raksasa yang sedang bertempur, berebut sakti untuk merajai kerajaan langit yang terbentang dari kaki langit ke kaki langit di seputar bumi.

Tetapi semakin seru mereka bertempur, maka semakin nyata bahwa Kuda Sempana menjadi sangat heran. Mahisa Agni itu seakan-akan bahkan menjadi semakin segar, dan tenaganya bertambah-tambah. Kuda Sempana mengharap ia akan segera dapat mengakhiri perkelahian itu. Namun harapannya itu ternyata tak akan dapat dihayatinya. Kuda Sempana sama sekali tidak tahu, bahwa Mahisa Agni itu pun baru saja kembali dari sebuah perjalanan yang berat. Perjalanan yang memerlukan waktu berbulan-bulan untuk menempa dirinya. Menyadap kesempurnaan ilmu yang dimiliki oleh gurunya. Meskipun kesempurnaan yang dimilikinya adalah kesempurnaan yang tidak sempurna. Sebab tidak ada sesuatu yang sempurna di permukaan bumi ini. Yang tampak maupun yang tidak tampak. Yang sempurna hanyalah Yang Maha Sempurna.

Mahisa Agni menyadari sepenuhnya hal ini, sebagaimana gurunya mengatakan kepadanya. Karena itu, maka Mahisa Agni selalu menyadari pula, bahwa tidak ada ilmu yang tak dapat dilampaui. Yang paling sakti akan dikalahkan pula oleh yang lain, dan yang lain itu pun akhirnya akan jatuh pula. Sedang mereka yang terlalu cepat menepuk dada, maka ialah yang paling cepat akan jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Dan mereka yang tidak menyadarinya, maka alangkah pahit hidupnya.

Itulah sebabnya Mahisa Agni tidak menyombongkan dirinya. Ia bertempur dengan hati-hati. Setiap kali ia berusaha untuk mengetahui letak kekuatan lawannya dan baru dalam saat-saat yang pasti ia menyerangnya. Ia tidak berani menduga, apakah ilmunya jauh lebih baik dari ilmu lawannya, sebab tidak mustahil bahwa lawannya memiliki Kunci untuk menghancurkan ilmunya. Tetapi Mahisa Agni bertempur dengan tabah. Ia tidak takut apapun yang terjadi, namun ia tidak mengharap untuk dikalahkan oleh lawannya. Karena itu, maka ia tidak kehilangan kewaspadaan.

Sehingga dengan demikian, maka Kuda Sempana yang dikendalikan oleh nafsunya yang meluap-luap, dilambari oleh kepercayaan kepada diri yang berlebih-lebihan, maka ia pun cepat menjadi cemas. Ketika ia tidak segera dapat mengalahkan lawannya, maka ia menjadi gelisah. Justru karena kegelisahannya itu, maka tandangnya pun menjadi semakin kehilangan pengamatan. Sekali-sekali Kuda Sempana telah membuat kesalahan-kesalahan kecil, sehingga Mahisa Agni yang cermat itu segera dapat mempergunakan kesempatan itu. Kelemahan-kelemahan yang betapapun kecilnya, akan dapat dipergunakan oleh lawannya dalam perkelahian yang demikian. Dan kesalahan-kesalahan kecil itu pulalah yang sering membawa mereka ke dalam suatu bencana yang besar.

Beberapa kali terasa oleh Kuda Sempana tangan lawannya telah berhasil menerobos pertahanannya. Meskipun sentuhan-sentuhan itu belum merupakan bahaya yang sebenarnya, namun bahwa beberapa kali lawannya berhasil menembus ilmunya adalah merupakan suatu pertanda yang kurang menyenangkan. Tetapi lambat laun Kuda Sempana itu menyadari pula keadaannya. Akhirnya ia merasa, bahwa Mahisa Agni benar-benar mampu melawannya, bukan karena ia lengah. Bukan karena Kuda Sempana itu belum menumpahkan segenap ilmunya. Namun Mahisa Agni benar-benar telah memiliki ilmu tata bela diri yang setidak-tidaknya menyamainya.

Sekali terdengar Kuda Sempana itu menggeram. Dahulu ia menjadi sangat marahnya, dan dipergunakannya sebilah keris untuk mencoba membunuh Mahisa Agni. Tetapi kali ini Kuda Sempana sama sekali tidak ingin mempergunakan sebilah keris. Ia meyakinkan bahwa tangannya akan mampu meremukkan tulang belulang lawannya, melampaui sebuah tusukan keris. Karena itulah, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada menumpahkan kemarahannya dalam ilmunya yang paling utama. Karena itu, maka Kuda Sempana itu pun meloncat mundur. Direntangkannya kedua tangannya, kemudian dengan cepat ia melenting ke udara, untuk sesaat kemudian bersiap dalam sikap yang teguh kuat seperti gunung yang siap untuk meledak.

Mahisa Agni terkejut melihat sikap itu. Sesaat segera ia teringat kepada cerita Pasik tentang Kuda Sempana. Karena itu maka segera ia pun bersiap. Dari bibirnya itu terdengar ia berdesis,

“Kala Bama.”

Kuda Sempana terkejut mendengar desis itu. Mahisa Agni dapat menyebut dengan tepat nama ilmu yang akan dipergunakannya. Tetapi Kuda Sempana tidak sempat mengetahui dari mana Mahisa Agni mendengar nama Kala Bama itu. Dan Kuda Sempana pun tidak sempat memikirkan hal itu.

Mahisa Agni telah pernah membenturkan diri dengan Aji Kala Bama itu. Karena itu, ketika ia melihat sikap Kuda Sempana yang siap melontarkan kesaktiannya, maka Mahisa Agni pun segera membentengi dirinya. Tidak saja ia mempertahankan namun karena kemarahan yang telah memuncak pula, maka Mahisa Agni itu pun bersiap untuk membentur aji lawannya dengan ajinya sendiri, Gundala Sasra.

Dengan demikian, maka Mahisa Agni itu segera memusatkan segenap kekuatan lahir batin. Disilangkannya tangannya di muka dadanya, dan pada lututnya ia merendahkan dirinya sedikit. Terasa getaran di dadanya cepat mengalir ke segenap tubuhnya dan ke telapak tangannya. Getaran-getaran yang sudah dikenalnya. Dan kini getaran-getaran itu terasa semakin mudah dikuasainya. Sehingga waktu yang diperlukannya untuk mempersiapkan diri menjadi semakin pendek pula.

Sesaat kemudian, ketika Kuda Sempana siap mengayunkan aji pamungkasnya, maka Mahisa Agni pun telah bersiap sepenuhnya pula untuk melawannya. Karena itu, demikian ia melihat Kuda Sempana meloncat mengayunkan tangannya, maka Mahisa Agni pun segera melontar pula menyongsong serangan Kuda Sempana.

Untuk kedua kalinya, terjadilah benturan yang dahsyat antara Aji Kala Bama dan Aji Gundala Sasra. Benturan antara dua kekuatan yang tiada taranya. Dan seperti yang pernah terjadi, maka kali ini pun keduanya mengalami dorongan yang terasa seperti ledakan Gunung Merapi.

Mahisa Agni terlontar beberapa langkah surut, sekali ia terguling dan dengan mata yang berkunang-kunang ia mencoba mengawasi keadaan lawannya. Kuda Sempana pun terlempar pula. Dengan kerasnya ia terbanting wajahnya yang merah menyala tiba-tiba menjadi putih pucat. Sesaat ia memejamkan matanya untuk memusatkan segenap sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, untuk menjaga dirinya, supaya tidak kehilangan kesadaran.

Demikianlah anak-anak muda Panawijen melihat sesuatu yang belum dilihatnya selama hidup mereka. Mereka tidak tahu lagi, bagaimana mereka harus menilai pertempuran itu. Beberapa di antara mereka berloncatan mundur pada saat terjadi benturan antara dua kekuatan raksasa itu. Bahkan ada di antara mereka yang tanpa sesadarnya telah menekan dada sendiri. Seakan-akan dadanyalah yang telah terbentur oleh kekuatan aji yang dahsyat itu. Beberapa orang menjadi ngeri. Dengan telapak-telapak tangan mereka menutupi wajah masing-masing.

Namun sesaat kemudian mereka menarik nafas ketika mereka melihat Mahisa Agni telah bangkit dan berdiri bertelekan kedua lututnya. Tetapi sesaat yang pendek, Mahisa Agni itu pun telah tegak kembali. Terasa pula kini padanya, bahwa ada kelebihan kekuatan dari Aji Gundala Sasra dibandingkan dengan Kala Bama, sehingga karena itulah maka keadaan Mahisa Agni masih lebih baik dari keadaan Kuda Sempana.

Meskipun demikian Kuda Sempana yang keras hati itu perlahan-lahan dapat juga menguasai dirinya kembali. Ketika ia membuka matanya dan dilihatnya Mahisa Agni masih tegak berdiri dengan garangnya terdengar anak itu menggeram. Dengan susah payah Kuda Sempana itu pun memaksa dirinya untuk berdiri. Betapa sakit isi dadanya, namun dengan mengatupkan giginya rapat-rapat ia mencoba menahan perasaan itu.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar