“Hamba Tuanku,” sahut Kuda Sempana. Wajahnya menjadi semakin, suram, dan dadanya menjadi semakin berdebar-debar. “Tetapi Akuwu. Soalnya tidak sedemikian sederhana. Kalau orang itu mengingkari janjinya hanya karena hamba kurang tampan atau karena hamba sudah terlalu tua, bukanlah soal bagi hamba. Tetapi orang tua itu kemudian menolak hamba karena hamba ini hanyalah seorang abdi. Hanya seorang pelayan dalam.”
“Hem,” mata Tunggul Ametung itu pun terbelalak, “karena kau pelayan dalam?”
“Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Katanya “Nasibmu memang kurang baik. Tetapi sebenarnya demikian. Kau memang hanya seorang abdi. Ternyata orang tua itu ingin seorang menantu yang bukan seorang pelayan dalam.”
Kuda Sempana menarik alisnya. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Tunggul Ametung. Namun hanya sesaat, sebab sesaat kemudian ia telah menundukkan wajahnya kembali.
Dan terdengar Tunggul Ametung itu berkata pula, “Lupakan gadis itu, Kuda Sempana. Supaya kau tidak menjadi sakit karenanya. Lupakan persoalan itu, sebab pada dasarnya bukankah kau memang tidak ingin kawin dengan Ken Dedes?”
Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Senyum yang hanya sepintas melintas di bibirnya, tetapi sekejap kemudian kembali wajahnya menjadi suram. Sambil menyembah ia berkata,
“Ampun Tuanku. Hamba tidak akan sakit hati seandainya orang tua Ken Dedes menolak hamba karena hamba hanya seorang abdi, seorang pelayan dalam.”
“Lalu apa? Apa he?” Tunggul Ametung tiba-tiba kembali berteriak, “Kau mau berkata apa saja Kuda Sempana?”
Kuda Sempana menyembah kembali sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak takut mengatakannya kepada Tuanku, tetapi hamba ragu-ragu.”
“Bagus!” sahut Akuwu itu, “bagus, kau sudah tidak takut lagi. Tetapi jangan ragu-ragu. Kalau kau ragu-ragu, maka kau akan aku cekik juga sampai mati.”
“Tuanku,” Kuda Sempana menggeser duduknya, “Sebenarnyalah bahwa hamba ditolak karena hamba hanya seorang abdi. Tetapi seandainya hamba seorang abdi di Kediri, misalnya, maka hamba tidak akan mengalami nasib yang jelek itu. Hamba tidak menyesal atas gadis itu, tetapi hamba menyesal, bahwa orang tua itu telah merendahkan nama Akuwu Tumapel, Kuda Sempana hanya seorang abdi dari seorang akuwu, bukan seorang maharaja.”
“Apa? He? Apa katamu?” mata Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi merah menyala. Dengan gemetar ia meloncat maju dan berjongkok di hadapan Kuda Sempana yang duduk bersedeku, “Katakan, katakan sekali lagi!”
Kuda Sempana pun kemudian beringsut mundur. Sekali lagi ia menyembah, “Ampun Tuan. Hamba telah mengatakannya, bahwa orang tua itu menganggap bahwa abdi seorang akuwu tidak pantas untuk menjadi menantunya.”
“Siapa orang itu? He?” teriak Tunggul Ametung, “Siapa?”
“Orang tua gadis itu Akuwu. Seorang pendeta bernama Empu Purwa.”
“Gila!” katanya lantang. Kemudian Tunggul Ametung itu pun berteriak keras-keras, “Kuda Sempana, aku akan berburu ke Panawijen.”
“Ampun Tuanku. Ampun,” sahut Kuda Sempana, “sebaiknya Tuanku berburu ke timur.”
“Tidak, Aku akan ke Panawijen. Akan aku lihat orang tua itu.”
“Ampun Tuanku, hamba sudah tidak lagi mengharap gadis itu. Biarlah gadis itu kelak berbahagia dengan suaminya.”
“Tidak. Akan aku ambil gadis itu untukmu. Untuk seorang pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Kau dengar? Gadis itu akan aku ambil. Akan aku hadiahkan kepadamu Kuda Sempana. Akuwu berhak berbuat apa saja di daerahnya. Kau dengar?”
Kuda Sempana itu menyembah dengan takzimnya. Dengan suara yang parau ia berkata, “Tuanku. Hamba telah mengikhlaskannya seperti nasihat Tuanku. Biarlah gadis itu menemui kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau ia kemudian menemukan sisihan yang dapat membahagiakannya.”
“Jangan membantah perintahku! Siapkan para pengikut. Aku akan segera berangkat.”
“Tetapi tidak ke Panawijen Tuanku.”
“Tutup mulutmu! Adalah hakku untuk menentukan, ke mana aku akan pergi.”
Kuda Sempana menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun lagi. Bahkan yang terdengar suara akuwu itu lantang, “Kuda Sempana. Aku hargai kebaikan hatimu. Kau adalah seorang yang tidak mau memerkosa perasaan orang lain. Tetapi aku, Akuwu Tumapel, tidak mau dihina orang, meskipun lewat seorang pelayan dalamnya.” Kuda Sempana masih tunduk dalam-dalam. Maka didengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Siapkan kudaku! Bunyikan tanda untuk bersiap bagi para pengikut yang sudah aku tentukan.”
Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi perintah itu. Segera ia menyembah dan kemudian beringsut meninggalkan ruangan itu. Demikian ia keluar pintu, maka wajahnya yang lesu itu tiba-tiba berubah menjadi cerah. Betapa sebuah senyum yang segar terbayang di bibirnya. Dengan suara yang jernih ia berkata lirih,
“Inilah aku, Kuda Sempana!”
Kemudian Kuda Sempana itu pun berjalan tergesa-gesa ke luar halaman istana. Hampir-hampir ia lupa kepada perintah akuwu untuk segera membunyikan tanda. Ia baru mabuk atas kemenangan yang dicapainya. Akuwu telah dapat dipaksanya untuk menuruti kehendaknya dengan caranya. Karena itu, maka Kuda Sempana itu kadang-kadang tertawa dengan sendirinya. Kadang-kadang tampak alisnya terangkat dari wajahnya menjadi bersungguh-sungguh, namun kadang-kadang ia menutupi mulutnya dengan tangannya, karena ia tidak dapat menahan kegembiraannya.
“Sekarang, malang-malang putung, rawe-rawe rantas,” gumamnya seorang diri, “mudah-mudahan Mahisa Agni ada di rumah. Akuwu pasti akan membunuhnya.”
Sesaat kemudian terdengarlah bunyi kentongan di menara di sudut dinding luar istana. Bunyinya menggema memancar hampir ke segenap penjuru kota. Para prajurit dan pelayan istana segera mengetahuinya, bahwa Sang Akuwu akan pergi berburu.
Witantra pun kemudian mendengar suara itu. Maka segera ia pun menyiapkan dirinya. Namun kepada Mahisa Agni ia berkata, “Terlalu pagi. Biasanya Akuwu berangkat apabila Matahari telah sepenggalah.”
“Mungkin Sang Akuwu akan memilih daerah perburuan yang agak jauh,” sahut Mahisa Agni.
“Mungkin,” desis Witantra, dan kemudian katanya, “sudahlah Wiraprana, aku akan berangkat. Kentong pertama sudah berbunyi. Kentong kedua kami harus sudah berkumpul, dan kentong ke tiga kami akan berangkat.”
“Silakan Witantra. Aku akan menunggu di sini. Aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan hatimu.”
“Jangan berterima kasih Wiraprana. Aku hanya berbuat sekedarnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagimu.”
Setelah bermohon diri kepada ibu dan istrinya, maka Witantra itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan berlari ke istana Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Ketika Witantra sampai di alun-alun, beberapa orang telah berkumpul. Rombongan itu ternyata tidak begitu besar. Di antara lima orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh Witantra, terdapat tiga orang pelayan dalam yang ternyata tidak kalah tangguhnya dengan para prajurit itu. Mereka adalah Kuda Sempana, Watangan dan seorang pelayan dalam yang baru, yang diserahkan oleh seorang pendeta kepada akuwu, Ken Arok. Meskipun pengabdiannya belum lama, namun betapa ia dapat menarik hati Tunggul Ametung karena betapa anak itu sangat patuh akan kewajibannya. Di samping beberapa kelebihan yang sering dilakukannya tanpa sesadarnya.
“Ke mana kita akan berburu?” terdengar seorang prajurit bertanya kepada Witantra.
Witantra menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya, “aku belum mendengar titah Sang Akuwu.”
Kuda Sempana yang sedang diliputi oleh kegembiraan yang meluap-luap di dadanya tiba-tiba menjawab, “Ke barat, ke sekitar daerah padang rumput Karautan dan Padukuhan Panawijen.”
Hati Witantra itu berdesir mendengar jawaban Kuda Sempana. Panawijen. Adalah sangat kebetulan, bahwa semalam ia sedang mendengar persoalan yang terjadi di Panawijen. Jadi apakah ada hubungan antara apa yang didengarnya semalam dengan rencana perburuan ini.
Karena itu, Witantra segera bertanya meskipun ia seakan acuh tak acuh, “Karautan adalah sebuah padang rumput. Apakah kita sekarang akan berburu kelinci?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Di utara Karautan terbentang sebuah hutan yang sangat banyak menyimpan binatang-binatang pemakan rumput yang besar. Kijang, menjangan dan sebagainya.”
“Hem,” sahut Witantra, “Apakah Akuwu kali ini ingin berburu kijang? Akuwu adalah seorang yang gemar kepada pengalaman-pengalaman yang dahsyat. Bukankah Akuwu senang berburu harimau atau orang hutan raksasa di hutan Roban Kibar?”
Kuda Sempana mengangkat pundaknya, “Entahlah. Kali ini Akuwu ingin berburu ke sana.”
Witantra itu mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ia menjadi gelisah. Tanpa dikehendakinya ia telah terlibat dalam persoalan antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Karena itu maka setelah berpikir sejenak, ia berkata,
“Apakah Akuwu sudah siap untuk berangkat?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak tahu apakah yang tersimpan di hati Witantra itu. Karena itu maka kemudian ia menjawab, “Sudah. Akuwu sudah siap.”
“Aku akan menghadap,” gumam Witantra.
“Untuk apa?” bertanya Kuda Sempana dengan penuh kecurigaan.
“Aku akan mohon izin kepada Sang Akuwu, adikku ingin turut dalam perburuan ini.”
“Adikmu? Siapa?” Kuda Sempana menjadi semakin curiga.
“Mahendra,” jawab Witantra.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, ia kenal Mahendra, namun belum begitu akrab. Karena itu maka Kuda Sempana belum mendengar apakah yang pernah terjadi atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Karena itu katanya,
“Cobalah, mohonlah kepada Sang Akuwu.”
Witantra itu pun kemudian masuk ke halaman belakang istana. Setelah permohonannya disampaikan oleh seorang emban, maka Sang Akuwu yang sudah siap untuk berangkat itu memanggilnya,
“He Witantra, ada apa? Apakah kau juga akan kawin?”
Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Akuwu. Namun ia tidak berani bertanya. Setelah menyembah maka katanya, “Sang Akuwu, perkenankanlah kamba mengajukan sebuah permohonan sebelum Akuwu berangkat berburu?”
“Apa? Kau minta aku berburu ke timur, ke selatan atau ke mana? Aku sudah menentukan arah. Tak seorang pun dapat mengubah. Aku akan berburu ke barat.”
“Ampun Tuanku,” sembah Witantra, “hamba tidak berani berbuat demikian. Hamba hanya memohon izin kepada Tuanku. Apabila Tuanku berkenan di hati, adik hamba akan ikut serta berburu bersama dalam rombongan ini.”
“Siapakah adikmu itu?” bertanya Tunggul Ametung sambil mengerutkan bibirnya.
“Mahendra Tuanku.
Akuwu Tumapel itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa ia mau turut?”
“Tuanku. Adikku adalah seorang penakut. Mudah-mudahan dengan pengalaman ini adikku akan dapat menjadi seorang yang berpengalaman. Kalau Tuanku hendak pergi ke barat, maka menurut perhitungan hamba perburuan ini tidak akan sedemikian berat daripada apabila Tuanku pergi ke hutan Roban Kibar. Karena di sekitar padang Karautan hutannya tidak begitu lebat, sehingga tidak banyaklah binatang-binatang buas yang berbahaya.”
“Dari mana kau dengar he?” benak akuwu itu.
“Dari Kuda Sempana.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Demikianlah, bahwa Sang Akuwu akan berburu ke barat.”
“Hanya begitu?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus. Bawa adikmu. Kalau ia terampil, maka ia akan mendapat kesempatan bekerja di istana.”
“Terima kasih Tuanku.” Witantra itu pun kemudian mohon diri untuk memanggil adiknya.
Mahendra sama sebali tidak menyangka bahwa sepagi itu Witantra telah datang ke rumahnya. Mula-mula Mahendra heran, kenapa ia harus ikut serta berburu bersama akuwu. Namun akhirnya ia tahu juga maksudnya. Karena itu, maka dengan senang hati, Mahendra ikut serta bersama Witantra ke alun-alun dengan tergesa-gesa.
“Apakah aku tidak perlu membawa bekal apapun, Kakang?” bertanya Mahendra.
“Tidak usah, bekalku cukup banyak.”
Akhirnya Mahendra pun menyiapkan kudanya pula, dan ikut serta bersama Witantra. Ketika mereka sampai di alun-alun, maka semuanya telah benar-benar siap. Demikian Witantra dan Mahendra memasuki alun-alun itu, demikian mereka mendengar kentongan dipukul untuk kedua kalinya. Pertanda bahwa rombongan itu sudah siap untuk berangkat.
Sesaat kemudian, mereka melihat Akuwu keluar dari istana dengan sebuah busur yang sangat bagusnya melintang di punggungnya. Seorang pekatik telah siap di ujung tangga dengan seekor kuda berwarna hitam mengkilat. Kuda yang telah siap berangkat berburu. Di sisi kuda itu tergantung sebuah endong berisi sejumlah anak panah dan sebilah pedang panjang yang berwrangka emas.
Sekilas, Akuwu Tumapel itu melayangkan pandangan matanya berkeliling, ke arah beberapa orang yang sudah menunggu. Dilihatnya ketiga orang pelayan dalam istana, di antaranya Kuda Sempana. Lima orang prajurit di bawah pimpinan Witantra dan seorang anak muda yang belum dikenalnya.
“Itukah adikmu Witantra?”
Witantra mengangguk dalam-dalam, kemudian jawabnya, “Hamba Akuwu.”
“Hem adikmu itu gagah juga, segagah kau. Mudah-mudahan ia mampu membunuh kelinci.” Mahendra menggigit bibirnya. Namun ia tidak berkata apapun juga.
Dengan tangannya Akuwu Tumapel memberi tanda kepada rombongannya untuk berangkat. Maka terdengarlah suara kentongan yang ketiga kalinya. Demikian kentongan itu berbunyi, maka meloncatlah Akuwu Tunggul Ametung ke atas punggung kudanya. Para pengiringnya itu pun segera meloncat pula ke atas kuda masing-masing. Dan sesaat kemudian mereka mendengar Tunggul Ametung berkata,
“Ayo, kita berangkat!”
Iring-iringan itu kemudian mulai bergerak. Di depan sendiri Akuwu Tumapel berkuda dengan gagahnya. Akuwu itu benar-benar seorang yang gagah, apalagi di atas kuda hitam mengkilat. Kuda yang tegar dan besar. Di belakangnya Kuda Sempana mengiringinya sambil tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia baginya. Akuwu Tumapel itu ternyata dapat dikendalikannya untuk membantu mengambil gadis yang telah menyakitkan hatinya itu.
Di belakang Kuda Sempana berkuda berjajar dua orang kawan Kuda Sempana. Salah seorang daripadanya bernama Ken Arok. Seorang anak muda pendiam, namun di balik kediamannya itu tersimpan beberapa keanehan dan kekuatan-kekuatan yang tak dimiliki oleh anak-anak sebayanya. Baru di belakang mereka, di belakang para pelayan dalam itu, berkuda para prajurit. Lima orang ditambah dengan seorang adik seperguruan Witantra.
Di sepanjang perjalanan itu, Witantra benar menjadi bingung. Apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh rombongan ini? Apakah kebetulan saja kalau akuwu memilih arah ke barat, atau ada hubungan yang erat dengan maksud Kuda Sempana? Witantra menjadi ragu-ragu. Ia ingin segera memberitahukan persoalan itu apabila keadaan memaksa. Kalau tidak, maka biarlah ia tidak menggelisahkan Mahisa Agni yang sampai saat terakhir masih disangkanya Wiraprana. Tetapi, semakin lama hatinya semakin gelisah. Meskipun demikian ia masih ingin tahu ke mana mereka sebenarnya akan pergi.
Penduduk kota Tumapel, melihat kepergian akuwunya dengan berbagai tanggapan. Seorang di antaranya memujinya setinggi langit, katanya, “Tak ada akuwu segagah Akuwu Tumapel. Carilah di seluruh Kediri. Tubuhnya yang kokoh kuat. Masih muda lagi. Kalau ia pergi berburu seperti kali ini, maka benar-benar seperti Dewa Ngejawantah.”
Namun ada orang lain yang mencemoohkannya, “Huh, ia tidak mampu berbuat selain berburu. Apakah kemajuan yang pernah dicapainya selama ia menjadi akuwu. Lihat, meskipun ia sudah setua itu, namun ia masih belum juga berani kawin.”
Seperti apa yang dilakukannya, maka akuwu itu mempunyai beberapa bentuk tanggapan dari rakyat. Ada yang mencintainya sebagal seorang yang paling bermurah hati di dunia ini, namun ada yang mengumpatinya sebagai seorang yang paling kejam di muka bumi. Sebab akuwu itu berbuat apa saja yang ingin dilakukan sesaat-sesaat. Kadang-kadang ia lupa apa yang dikatakannya kemarin dan ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya besok.
Tetapi sebagian dari rakyat Tumapel melihat kemegahan Tunggul Ametung pada para pengiringnya. Dilihatnya seorang yang gagah berkuda di belakangnya, kemudian beberapa orang yang bertubuh tegap kekar. Mereka semuanya telah siap dalam kelengkapan seorang pemburu. Namun para prajurit itu tidak saja siap untuk berburu, namun apabila ada bahaya di sepanjang perjalanan mereka maka mereka pun siap untuk bertempur. Meskipun jumlah pengiring itu tidak demikian banyak, namun kekuatan itu telah berlebih-lebihan untuk menjelajahi daerah Tumapel yang aman.
Demikianlah, maka perjalanan itu tampaknya sebagai sebuah rombongan tamasya. Pada pagi yang cerah, ketika matahari pagi melemparkan sinarnya yang segar ke puncak-puncak pepohonan, menyentuh daun-daunan yang bergerak-gerak ditiup angin yang lembut. Di sebelah barat menjulang Gunung Kawi yang perkasa. Puncaknya tampak ke merah-merahan, bermandikan cahaya matahari yang berkilat-kilat.
Tetapi hati Witantra tidaklah secerah pagi itu. Meskipun ia tidak berkepentingan langsung dengan persoalan yang menyangkut Wiraprana, namun hatinya telah terlanjur terlibat ke dalamnya. Karena itu, di sepanjang perjalanan itu. Ia selalu berusaha mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu. Karena itu, maka kemudian ia mempercepat langkah kudanya dan menyampingi Ken Arok yang berkuda di belakang Kuda Sempana.
Setelah dekat Witantra bertanya kepada Ken Arok. “Adi, ke manakah kita ini sebenarnya akan pergi?”
Ken Arok menjawab dengan jujur. “Entahlah Kakang aku belum tahu pasti. Menurut Kuda Sempana kita akan pergi ke hutan di sekitar padang Karautan.” Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun dicobanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dijawabnya, “Ya pernah Kakang, sekali dua kali aku pernah lewat di hutan itu.”
“Aku pernah juga ke sana,” sahut Witantra, “tetapi hutan itu bukan tempat yang baik untuk berburu.”
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi debar di jantungnya menjadi semakin cepat. Hutan itu adalah hutan yang dikenalnya baik. Hutan dan padang rumput itu. Ia pernah tinggal di padang rumput itu beberapa lama. Dan ia selalu bersembunyi di hutan itu, apabila beberapa orang mengejarnya. Karena itu ia pun menjadi gelisah. Kalau ia boleh memilih, maka lebih baik baginya untuk tidak ikut di dalam rombongan itu. Sebab baik hutannya maupun padang rumput Karautan membawa kenangan yang pedih di dalam hatinya.
Teringatlah ia akan pertemuannya dengan seorang Empu yang bernama Empu Purwa beserta muridnya. Berkata Empu itu kepadanya, bahwa apabila ia dapat menempuh cara hidup yang lain, maka ia akan menjadi lebih berbahagia karenanya. Kini ia telah, menemukan jalan lain itu. Dan ia benar-benar merasa lebih berbahagia. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ia harus turut menjelajahi hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan. Daerah yang pernah dipakainya untuk melakukan pembantaian, perkosaan dan perampokan. Bulu kuduk Ken Arok itu berdiri serentak. Dan ia pun menundukkan wajahnya.
Witantra melihat perubahan wajah itu dengan heran. Tiba-tiba ia menjadi curiga. Apakah ada maksud-maksud yang tersembunyi dalam perburuan kali ini? Tetapi ia tidak dapat mendesaknya. Mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan. Meskipun demikian Witantra tidak segera mengambil kesimpulan. Ia tidak mau membuat keributan apabila persoalannya belum jelas. Karena itu ia kemudian berdiam diri sambil mengikuti Akuwu Tunggul Ametung dengan hati yang gelisah. Hati Witantra itu kemudian tergetar ketika tiba-tiba Akuwu Tumapel memperlambat kudanya. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana sambil berkata,
“Apakah aku berjalan ke arah yang benar?”
“Hamba Tuanku,” jawab Kuda Sempana.
“Aku pernah pergi ke Panawijen. Namun sudah terlalu lama. Sesudah itu, aku senang berburu ke timur. Karena itu, maka berjalanlah di depan Kuda Sempana, supaya arahnya tidak salah.”
Hati Witantra berdesir mendengar kata-kata Akuwu Tumapel itu. Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba Kuda Sempanalah yang harus menentukan arah. Karena itu maka hatinya menjadi semakin gelisah. Sekali-sekali Witantra itu berpaling kepada adik seperguruannya yang berada di paling belakang. Di dalam hatinya Witantra berkata,
“Hem. Apakah semuanya ini suatu hal yang kebetulan saja, atau Kuda Sempana telah sempat mempengaruhi hati Akuwu?” Dan hati Witantra itu menjadi semakin gelisah.
Tiba-tiba Witantra itu mempunyai dugaan yang kuat bahwa Kuda Sempana yang memegang peran kali ini. Apapun yang akan dilakukan oleh Sang Akuwu, namun Kuda Sempana akan mungkin untuk memanfaatkan setiap keadaan. Karena itu maka berkata Witantra itu di dalam hatinya,
“Kenapa aku tidak memberitahukan saja kepada Wiraprana apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana. Sebaiknya Wiraprana berusaha untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan. Sebaiknya Wiraprana itu pulang saja dan menyembunyikan Ken Dedes. Sebab kalau usaha Kuda Sempana mendapat persetujuan akuwu, maka tak ada seorang pun yang akan dapat mencegahnya.”
Meskipun demikian Witantra itu untuk beberapa saat masih ragu-ragu. Namun akhirnya jalan itulah yang dapat ditempuh sebaiknya. Seandainya kemudian akuwu tidak mempunyai kepentingan apa-apa atas gadis itu, maka sebagai usaha penyelamat tak akan ada ruginya. Karena itu, maka kemudian Witantra itu memperlambat kudanya dan berjalan di samping Mahendra. Sambil berbisik ia berkata,
“Mahendra. Kembalilah. Beri tahukanlah kepada Wiraprana bahwa kami sekarang berburu ke barat. Mungkin kami akan melewati Panawijen. Karena itu, usahakanlah selekas mungkin pulang dan sembunyikanlah Ken Dedes. Syukurlah bahwa akuwu tidak akan melibatkan diri atas hasutan Kuda Sempana.
Mahendra menganggukkan kepalanya. “Baik Kakang.”
“Tetapi biarlah aku minta izin dahulu kepada Akuwu. Nanti kami masih mengharap perjalanan kami berhenti di hutan perburuan meskipun hanya sebentar, sehingga Wiraprana akan dapat mendahului perjalanan kami. Tetapi kalau mungkin biarlah Wiraprana mencari jalan lain, selain padang rumput Karautan.”
“Baik Kakang.”
Witantra itu kemudian mempercepat kudanya dan dengan hati-hati ia mencoba berkuda di samping akuwu. Akuwu Tumapel itu berpaling sesaat. Ia mengerutkan keningnya. Kemudian ketika melihat Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam maka ia pun bertanya,
“Ada apa Witantra?”
Kuda Sempana yang berkuda di depannya berpaling dengan penuh kecurigaan. Dengan hati-hati ia berusaha mendengar percakapan itu.
“Ampun, Tuanku,” jawab Witantra, “adik hamba benar-benar belum berpengalaman. Apalagi ketika kami berangkat, adik hamba terlalu tergesa-gesa. Kini perkenankanlah adik hamba itu pulang untuk mengambil busurnya. Sebab alangkah janggalnya, apabila kami harus berburu tanpa busur.”
Akuwu itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, ia pun tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Adikmu itu gagah, segagah kau Witantra, namun ternyata ia lebih bodoh dari keledai. Apakah yang akan dilakukan kalau anak itu tidak membawa busur?”
“Itulah Tuanku. Anak itu hanya membawa anak panah.”
Kembali akuwu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Aku tidak berkeberatan anak itu pulang mengambil busurnya. Tetapi aku tidak senang melihat kecerobohannya.”
Witantra itu mengangguk sekali lagi. Namun sebelum ia surut ke belakang, maka tiba-tiba akuwu itu berkata “Tak ada gunanya adikmu itu mengambil busurnya. Kali ini sama sekali tidak memerlukan busur.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata akuwu itu, sehingga sekali lagi ia berpaling. Witantra pun tidak kalah terkejutnya pula. Bahkan ia bertanya “Kenapa tidak Akuwu?”
Akuwu mengangkat alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Dilihatnya Kuda Sempana. Kemudian akuwu itu tertawa. Namun tiba-tiba ia membentak, “Apapun yang akan dilakukan oleh adikmu itu aku tidak peduli. Kalau ia mau mengambil busurnya, biarlah ia mengambilnya. Kalau ia mau berburu dengan giginya itu pun bukan urusanku.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil berkata “Hamba Tuanku.”
Kini hati Witantra menjadi semakin gelisah. Maka kemudian katanya kepada Mahendra “Cepat! Pulanglah beri tahukan kepada Wiraprana supaya ia cepat-cepat pulang dan menyelamatkan gadisnya. Mungkin bahaya benar-benar akan mengancam.”
Mahendra tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar kuda dan seperti angin ia berpacu kembali ke Tumapel. Debu yang putih melonjak naik ke udara, dan suara telapak kaki-kaki kuda itu gemeretak memekakkan telinga.
“Hem,” mata Tunggul Ametung itu pun terbelalak, “karena kau pelayan dalam?”
“Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung menarik nafas. Katanya “Nasibmu memang kurang baik. Tetapi sebenarnya demikian. Kau memang hanya seorang abdi. Ternyata orang tua itu ingin seorang menantu yang bukan seorang pelayan dalam.”
Kuda Sempana menarik alisnya. Dengan sudut matanya ia memandang wajah Tunggul Ametung. Namun hanya sesaat, sebab sesaat kemudian ia telah menundukkan wajahnya kembali.
Dan terdengar Tunggul Ametung itu berkata pula, “Lupakan gadis itu, Kuda Sempana. Supaya kau tidak menjadi sakit karenanya. Lupakan persoalan itu, sebab pada dasarnya bukankah kau memang tidak ingin kawin dengan Ken Dedes?”
Kuda Sempana terdiam sesaat. Tetapi kemudian ia tersenyum. Senyum yang hanya sepintas melintas di bibirnya, tetapi sekejap kemudian kembali wajahnya menjadi suram. Sambil menyembah ia berkata,
“Ampun Tuanku. Hamba tidak akan sakit hati seandainya orang tua Ken Dedes menolak hamba karena hamba hanya seorang abdi, seorang pelayan dalam.”
“Lalu apa? Apa he?” Tunggul Ametung tiba-tiba kembali berteriak, “Kau mau berkata apa saja Kuda Sempana?”
Kuda Sempana menyembah kembali sambil berkata, “Ampun Tuanku. Hamba tidak takut mengatakannya kepada Tuanku, tetapi hamba ragu-ragu.”
“Bagus!” sahut Akuwu itu, “bagus, kau sudah tidak takut lagi. Tetapi jangan ragu-ragu. Kalau kau ragu-ragu, maka kau akan aku cekik juga sampai mati.”
“Tuanku,” Kuda Sempana menggeser duduknya, “Sebenarnyalah bahwa hamba ditolak karena hamba hanya seorang abdi. Tetapi seandainya hamba seorang abdi di Kediri, misalnya, maka hamba tidak akan mengalami nasib yang jelek itu. Hamba tidak menyesal atas gadis itu, tetapi hamba menyesal, bahwa orang tua itu telah merendahkan nama Akuwu Tumapel, Kuda Sempana hanya seorang abdi dari seorang akuwu, bukan seorang maharaja.”
“Apa? He? Apa katamu?” mata Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi merah menyala. Dengan gemetar ia meloncat maju dan berjongkok di hadapan Kuda Sempana yang duduk bersedeku, “Katakan, katakan sekali lagi!”
Kuda Sempana pun kemudian beringsut mundur. Sekali lagi ia menyembah, “Ampun Tuan. Hamba telah mengatakannya, bahwa orang tua itu menganggap bahwa abdi seorang akuwu tidak pantas untuk menjadi menantunya.”
“Siapa orang itu? He?” teriak Tunggul Ametung, “Siapa?”
“Orang tua gadis itu Akuwu. Seorang pendeta bernama Empu Purwa.”
“Gila!” katanya lantang. Kemudian Tunggul Ametung itu pun berteriak keras-keras, “Kuda Sempana, aku akan berburu ke Panawijen.”
“Ampun Tuanku. Ampun,” sahut Kuda Sempana, “sebaiknya Tuanku berburu ke timur.”
“Tidak, Aku akan ke Panawijen. Akan aku lihat orang tua itu.”
“Ampun Tuanku, hamba sudah tidak lagi mengharap gadis itu. Biarlah gadis itu kelak berbahagia dengan suaminya.”
“Tidak. Akan aku ambil gadis itu untukmu. Untuk seorang pelayan dalam Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Kau dengar? Gadis itu akan aku ambil. Akan aku hadiahkan kepadamu Kuda Sempana. Akuwu berhak berbuat apa saja di daerahnya. Kau dengar?”
Kuda Sempana itu menyembah dengan takzimnya. Dengan suara yang parau ia berkata, “Tuanku. Hamba telah mengikhlaskannya seperti nasihat Tuanku. Biarlah gadis itu menemui kebahagiaan. Aku akan merasa bahagia kalau ia kemudian menemukan sisihan yang dapat membahagiakannya.”
“Jangan membantah perintahku! Siapkan para pengikut. Aku akan segera berangkat.”
“Tetapi tidak ke Panawijen Tuanku.”
“Tutup mulutmu! Adalah hakku untuk menentukan, ke mana aku akan pergi.”
Kuda Sempana menjadi semakin tunduk. Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun lagi. Bahkan yang terdengar suara akuwu itu lantang, “Kuda Sempana. Aku hargai kebaikan hatimu. Kau adalah seorang yang tidak mau memerkosa perasaan orang lain. Tetapi aku, Akuwu Tumapel, tidak mau dihina orang, meskipun lewat seorang pelayan dalamnya.” Kuda Sempana masih tunduk dalam-dalam. Maka didengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Siapkan kudaku! Bunyikan tanda untuk bersiap bagi para pengikut yang sudah aku tentukan.”
Kuda Sempana tidak dapat berbuat lain kecuali mematuhi perintah itu. Segera ia menyembah dan kemudian beringsut meninggalkan ruangan itu. Demikian ia keluar pintu, maka wajahnya yang lesu itu tiba-tiba berubah menjadi cerah. Betapa sebuah senyum yang segar terbayang di bibirnya. Dengan suara yang jernih ia berkata lirih,
“Inilah aku, Kuda Sempana!”
Kemudian Kuda Sempana itu pun berjalan tergesa-gesa ke luar halaman istana. Hampir-hampir ia lupa kepada perintah akuwu untuk segera membunyikan tanda. Ia baru mabuk atas kemenangan yang dicapainya. Akuwu telah dapat dipaksanya untuk menuruti kehendaknya dengan caranya. Karena itu, maka Kuda Sempana itu kadang-kadang tertawa dengan sendirinya. Kadang-kadang tampak alisnya terangkat dari wajahnya menjadi bersungguh-sungguh, namun kadang-kadang ia menutupi mulutnya dengan tangannya, karena ia tidak dapat menahan kegembiraannya.
“Sekarang, malang-malang putung, rawe-rawe rantas,” gumamnya seorang diri, “mudah-mudahan Mahisa Agni ada di rumah. Akuwu pasti akan membunuhnya.”
Sesaat kemudian terdengarlah bunyi kentongan di menara di sudut dinding luar istana. Bunyinya menggema memancar hampir ke segenap penjuru kota. Para prajurit dan pelayan istana segera mengetahuinya, bahwa Sang Akuwu akan pergi berburu.
Witantra pun kemudian mendengar suara itu. Maka segera ia pun menyiapkan dirinya. Namun kepada Mahisa Agni ia berkata, “Terlalu pagi. Biasanya Akuwu berangkat apabila Matahari telah sepenggalah.”
“Mungkin Sang Akuwu akan memilih daerah perburuan yang agak jauh,” sahut Mahisa Agni.
“Mungkin,” desis Witantra, dan kemudian katanya, “sudahlah Wiraprana, aku akan berangkat. Kentong pertama sudah berbunyi. Kentong kedua kami harus sudah berkumpul, dan kentong ke tiga kami akan berangkat.”
“Silakan Witantra. Aku akan menunggu di sini. Aku mengucapkan terima kasih atas semua kebaikan hatimu.”
“Jangan berterima kasih Wiraprana. Aku hanya berbuat sekedarnya. Mudah-mudahan bermanfaat bagimu.”
Setelah bermohon diri kepada ibu dan istrinya, maka Witantra itu pun kemudian meloncat ke atas punggung kudanya, dan berlari ke istana Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Ketika Witantra sampai di alun-alun, beberapa orang telah berkumpul. Rombongan itu ternyata tidak begitu besar. Di antara lima orang prajurit pilihan yang dipimpin oleh Witantra, terdapat tiga orang pelayan dalam yang ternyata tidak kalah tangguhnya dengan para prajurit itu. Mereka adalah Kuda Sempana, Watangan dan seorang pelayan dalam yang baru, yang diserahkan oleh seorang pendeta kepada akuwu, Ken Arok. Meskipun pengabdiannya belum lama, namun betapa ia dapat menarik hati Tunggul Ametung karena betapa anak itu sangat patuh akan kewajibannya. Di samping beberapa kelebihan yang sering dilakukannya tanpa sesadarnya.
“Ke mana kita akan berburu?” terdengar seorang prajurit bertanya kepada Witantra.
Witantra menggelengkan kepalanya. “Entahlah,” jawabnya, “aku belum mendengar titah Sang Akuwu.”
Kuda Sempana yang sedang diliputi oleh kegembiraan yang meluap-luap di dadanya tiba-tiba menjawab, “Ke barat, ke sekitar daerah padang rumput Karautan dan Padukuhan Panawijen.”
Hati Witantra itu berdesir mendengar jawaban Kuda Sempana. Panawijen. Adalah sangat kebetulan, bahwa semalam ia sedang mendengar persoalan yang terjadi di Panawijen. Jadi apakah ada hubungan antara apa yang didengarnya semalam dengan rencana perburuan ini.
Karena itu, Witantra segera bertanya meskipun ia seakan acuh tak acuh, “Karautan adalah sebuah padang rumput. Apakah kita sekarang akan berburu kelinci?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Di utara Karautan terbentang sebuah hutan yang sangat banyak menyimpan binatang-binatang pemakan rumput yang besar. Kijang, menjangan dan sebagainya.”
“Hem,” sahut Witantra, “Apakah Akuwu kali ini ingin berburu kijang? Akuwu adalah seorang yang gemar kepada pengalaman-pengalaman yang dahsyat. Bukankah Akuwu senang berburu harimau atau orang hutan raksasa di hutan Roban Kibar?”
Kuda Sempana mengangkat pundaknya, “Entahlah. Kali ini Akuwu ingin berburu ke sana.”
Witantra itu mengerutkan keningnya. Meskipun demikian ia menjadi gelisah. Tanpa dikehendakinya ia telah terlibat dalam persoalan antara Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Karena itu maka setelah berpikir sejenak, ia berkata,
“Apakah Akuwu sudah siap untuk berangkat?”
Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak tahu apakah yang tersimpan di hati Witantra itu. Karena itu maka kemudian ia menjawab, “Sudah. Akuwu sudah siap.”
“Aku akan menghadap,” gumam Witantra.
“Untuk apa?” bertanya Kuda Sempana dengan penuh kecurigaan.
“Aku akan mohon izin kepada Sang Akuwu, adikku ingin turut dalam perburuan ini.”
“Adikmu? Siapa?” Kuda Sempana menjadi semakin curiga.
“Mahendra,” jawab Witantra.
Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam, ia kenal Mahendra, namun belum begitu akrab. Karena itu maka Kuda Sempana belum mendengar apakah yang pernah terjadi atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Karena itu katanya,
“Cobalah, mohonlah kepada Sang Akuwu.”
Witantra itu pun kemudian masuk ke halaman belakang istana. Setelah permohonannya disampaikan oleh seorang emban, maka Sang Akuwu yang sudah siap untuk berangkat itu memanggilnya,
“He Witantra, ada apa? Apakah kau juga akan kawin?”
Witantra mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu maksud Akuwu. Namun ia tidak berani bertanya. Setelah menyembah maka katanya, “Sang Akuwu, perkenankanlah kamba mengajukan sebuah permohonan sebelum Akuwu berangkat berburu?”
“Apa? Kau minta aku berburu ke timur, ke selatan atau ke mana? Aku sudah menentukan arah. Tak seorang pun dapat mengubah. Aku akan berburu ke barat.”
“Ampun Tuanku,” sembah Witantra, “hamba tidak berani berbuat demikian. Hamba hanya memohon izin kepada Tuanku. Apabila Tuanku berkenan di hati, adik hamba akan ikut serta berburu bersama dalam rombongan ini.”
“Siapakah adikmu itu?” bertanya Tunggul Ametung sambil mengerutkan bibirnya.
“Mahendra Tuanku.
Akuwu Tumapel itu berpikir sejenak. Kemudian katanya, “Kenapa ia mau turut?”
“Tuanku. Adikku adalah seorang penakut. Mudah-mudahan dengan pengalaman ini adikku akan dapat menjadi seorang yang berpengalaman. Kalau Tuanku hendak pergi ke barat, maka menurut perhitungan hamba perburuan ini tidak akan sedemikian berat daripada apabila Tuanku pergi ke hutan Roban Kibar. Karena di sekitar padang Karautan hutannya tidak begitu lebat, sehingga tidak banyaklah binatang-binatang buas yang berbahaya.”
“Dari mana kau dengar he?” benak akuwu itu.
“Dari Kuda Sempana.”
“Apa yang dikatakannya?”
“Demikianlah, bahwa Sang Akuwu akan berburu ke barat.”
“Hanya begitu?”
“Hamba Tuanku.”
“Bagus. Bawa adikmu. Kalau ia terampil, maka ia akan mendapat kesempatan bekerja di istana.”
“Terima kasih Tuanku.” Witantra itu pun kemudian mohon diri untuk memanggil adiknya.
Mahendra sama sebali tidak menyangka bahwa sepagi itu Witantra telah datang ke rumahnya. Mula-mula Mahendra heran, kenapa ia harus ikut serta berburu bersama akuwu. Namun akhirnya ia tahu juga maksudnya. Karena itu, maka dengan senang hati, Mahendra ikut serta bersama Witantra ke alun-alun dengan tergesa-gesa.
“Apakah aku tidak perlu membawa bekal apapun, Kakang?” bertanya Mahendra.
“Tidak usah, bekalku cukup banyak.”
Akhirnya Mahendra pun menyiapkan kudanya pula, dan ikut serta bersama Witantra. Ketika mereka sampai di alun-alun, maka semuanya telah benar-benar siap. Demikian Witantra dan Mahendra memasuki alun-alun itu, demikian mereka mendengar kentongan dipukul untuk kedua kalinya. Pertanda bahwa rombongan itu sudah siap untuk berangkat.
Sesaat kemudian, mereka melihat Akuwu keluar dari istana dengan sebuah busur yang sangat bagusnya melintang di punggungnya. Seorang pekatik telah siap di ujung tangga dengan seekor kuda berwarna hitam mengkilat. Kuda yang telah siap berangkat berburu. Di sisi kuda itu tergantung sebuah endong berisi sejumlah anak panah dan sebilah pedang panjang yang berwrangka emas.
Sekilas, Akuwu Tumapel itu melayangkan pandangan matanya berkeliling, ke arah beberapa orang yang sudah menunggu. Dilihatnya ketiga orang pelayan dalam istana, di antaranya Kuda Sempana. Lima orang prajurit di bawah pimpinan Witantra dan seorang anak muda yang belum dikenalnya.
“Itukah adikmu Witantra?”
Witantra mengangguk dalam-dalam, kemudian jawabnya, “Hamba Akuwu.”
“Hem adikmu itu gagah juga, segagah kau. Mudah-mudahan ia mampu membunuh kelinci.” Mahendra menggigit bibirnya. Namun ia tidak berkata apapun juga.
Dengan tangannya Akuwu Tumapel memberi tanda kepada rombongannya untuk berangkat. Maka terdengarlah suara kentongan yang ketiga kalinya. Demikian kentongan itu berbunyi, maka meloncatlah Akuwu Tunggul Ametung ke atas punggung kudanya. Para pengiringnya itu pun segera meloncat pula ke atas kuda masing-masing. Dan sesaat kemudian mereka mendengar Tunggul Ametung berkata,
“Ayo, kita berangkat!”
Iring-iringan itu kemudian mulai bergerak. Di depan sendiri Akuwu Tumapel berkuda dengan gagahnya. Akuwu itu benar-benar seorang yang gagah, apalagi di atas kuda hitam mengkilat. Kuda yang tegar dan besar. Di belakangnya Kuda Sempana mengiringinya sambil tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling bahagia baginya. Akuwu Tumapel itu ternyata dapat dikendalikannya untuk membantu mengambil gadis yang telah menyakitkan hatinya itu.
Di belakang Kuda Sempana berkuda berjajar dua orang kawan Kuda Sempana. Salah seorang daripadanya bernama Ken Arok. Seorang anak muda pendiam, namun di balik kediamannya itu tersimpan beberapa keanehan dan kekuatan-kekuatan yang tak dimiliki oleh anak-anak sebayanya. Baru di belakang mereka, di belakang para pelayan dalam itu, berkuda para prajurit. Lima orang ditambah dengan seorang adik seperguruan Witantra.
Di sepanjang perjalanan itu, Witantra benar menjadi bingung. Apakah yang kira-kira akan dilakukan oleh rombongan ini? Apakah kebetulan saja kalau akuwu memilih arah ke barat, atau ada hubungan yang erat dengan maksud Kuda Sempana? Witantra menjadi ragu-ragu. Ia ingin segera memberitahukan persoalan itu apabila keadaan memaksa. Kalau tidak, maka biarlah ia tidak menggelisahkan Mahisa Agni yang sampai saat terakhir masih disangkanya Wiraprana. Tetapi, semakin lama hatinya semakin gelisah. Meskipun demikian ia masih ingin tahu ke mana mereka sebenarnya akan pergi.
Penduduk kota Tumapel, melihat kepergian akuwunya dengan berbagai tanggapan. Seorang di antaranya memujinya setinggi langit, katanya, “Tak ada akuwu segagah Akuwu Tumapel. Carilah di seluruh Kediri. Tubuhnya yang kokoh kuat. Masih muda lagi. Kalau ia pergi berburu seperti kali ini, maka benar-benar seperti Dewa Ngejawantah.”
Namun ada orang lain yang mencemoohkannya, “Huh, ia tidak mampu berbuat selain berburu. Apakah kemajuan yang pernah dicapainya selama ia menjadi akuwu. Lihat, meskipun ia sudah setua itu, namun ia masih belum juga berani kawin.”
Seperti apa yang dilakukannya, maka akuwu itu mempunyai beberapa bentuk tanggapan dari rakyat. Ada yang mencintainya sebagal seorang yang paling bermurah hati di dunia ini, namun ada yang mengumpatinya sebagai seorang yang paling kejam di muka bumi. Sebab akuwu itu berbuat apa saja yang ingin dilakukan sesaat-sesaat. Kadang-kadang ia lupa apa yang dikatakannya kemarin dan ia tidak tahu apa yang akan dikatakannya besok.
Tetapi sebagian dari rakyat Tumapel melihat kemegahan Tunggul Ametung pada para pengiringnya. Dilihatnya seorang yang gagah berkuda di belakangnya, kemudian beberapa orang yang bertubuh tegap kekar. Mereka semuanya telah siap dalam kelengkapan seorang pemburu. Namun para prajurit itu tidak saja siap untuk berburu, namun apabila ada bahaya di sepanjang perjalanan mereka maka mereka pun siap untuk bertempur. Meskipun jumlah pengiring itu tidak demikian banyak, namun kekuatan itu telah berlebih-lebihan untuk menjelajahi daerah Tumapel yang aman.
Demikianlah, maka perjalanan itu tampaknya sebagai sebuah rombongan tamasya. Pada pagi yang cerah, ketika matahari pagi melemparkan sinarnya yang segar ke puncak-puncak pepohonan, menyentuh daun-daunan yang bergerak-gerak ditiup angin yang lembut. Di sebelah barat menjulang Gunung Kawi yang perkasa. Puncaknya tampak ke merah-merahan, bermandikan cahaya matahari yang berkilat-kilat.
Tetapi hati Witantra tidaklah secerah pagi itu. Meskipun ia tidak berkepentingan langsung dengan persoalan yang menyangkut Wiraprana, namun hatinya telah terlanjur terlibat ke dalamnya. Karena itu, di sepanjang perjalanan itu. Ia selalu berusaha mengetahui, apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu. Karena itu, maka kemudian ia mempercepat langkah kudanya dan menyampingi Ken Arok yang berkuda di belakang Kuda Sempana.
Setelah dekat Witantra bertanya kepada Ken Arok. “Adi, ke manakah kita ini sebenarnya akan pergi?”
Ken Arok menjawab dengan jujur. “Entahlah Kakang aku belum tahu pasti. Menurut Kuda Sempana kita akan pergi ke hutan di sekitar padang Karautan.” Dada Ken Arok berdesir mendengar pertanyaan itu. Namun dicobanya untuk menyembunyikan perasaannya. Dijawabnya, “Ya pernah Kakang, sekali dua kali aku pernah lewat di hutan itu.”
“Aku pernah juga ke sana,” sahut Witantra, “tetapi hutan itu bukan tempat yang baik untuk berburu.”
Ken Arok tidak menjawab. Tetapi debar di jantungnya menjadi semakin cepat. Hutan itu adalah hutan yang dikenalnya baik. Hutan dan padang rumput itu. Ia pernah tinggal di padang rumput itu beberapa lama. Dan ia selalu bersembunyi di hutan itu, apabila beberapa orang mengejarnya. Karena itu ia pun menjadi gelisah. Kalau ia boleh memilih, maka lebih baik baginya untuk tidak ikut di dalam rombongan itu. Sebab baik hutannya maupun padang rumput Karautan membawa kenangan yang pedih di dalam hatinya.
Teringatlah ia akan pertemuannya dengan seorang Empu yang bernama Empu Purwa beserta muridnya. Berkata Empu itu kepadanya, bahwa apabila ia dapat menempuh cara hidup yang lain, maka ia akan menjadi lebih berbahagia karenanya. Kini ia telah, menemukan jalan lain itu. Dan ia benar-benar merasa lebih berbahagia. Tetapi ia tidak dapat menolak. Ia harus turut menjelajahi hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan. Daerah yang pernah dipakainya untuk melakukan pembantaian, perkosaan dan perampokan. Bulu kuduk Ken Arok itu berdiri serentak. Dan ia pun menundukkan wajahnya.
Witantra melihat perubahan wajah itu dengan heran. Tiba-tiba ia menjadi curiga. Apakah ada maksud-maksud yang tersembunyi dalam perburuan kali ini? Tetapi ia tidak dapat mendesaknya. Mungkin ada sesuatu yang dirahasiakan. Meskipun demikian Witantra tidak segera mengambil kesimpulan. Ia tidak mau membuat keributan apabila persoalannya belum jelas. Karena itu ia kemudian berdiam diri sambil mengikuti Akuwu Tunggul Ametung dengan hati yang gelisah. Hati Witantra itu kemudian tergetar ketika tiba-tiba Akuwu Tumapel memperlambat kudanya. Kemudian ia berpaling kepada Kuda Sempana sambil berkata,
“Apakah aku berjalan ke arah yang benar?”
“Hamba Tuanku,” jawab Kuda Sempana.
“Aku pernah pergi ke Panawijen. Namun sudah terlalu lama. Sesudah itu, aku senang berburu ke timur. Karena itu, maka berjalanlah di depan Kuda Sempana, supaya arahnya tidak salah.”
Hati Witantra berdesir mendengar kata-kata Akuwu Tumapel itu. Perjalanan yang mereka tempuh sudah cukup jauh. Dan tiba-tiba Kuda Sempanalah yang harus menentukan arah. Karena itu maka hatinya menjadi semakin gelisah. Sekali-sekali Witantra itu berpaling kepada adik seperguruannya yang berada di paling belakang. Di dalam hatinya Witantra berkata,
“Hem. Apakah semuanya ini suatu hal yang kebetulan saja, atau Kuda Sempana telah sempat mempengaruhi hati Akuwu?” Dan hati Witantra itu menjadi semakin gelisah.
Tiba-tiba Witantra itu mempunyai dugaan yang kuat bahwa Kuda Sempana yang memegang peran kali ini. Apapun yang akan dilakukan oleh Sang Akuwu, namun Kuda Sempana akan mungkin untuk memanfaatkan setiap keadaan. Karena itu maka berkata Witantra itu di dalam hatinya,
“Kenapa aku tidak memberitahukan saja kepada Wiraprana apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana. Sebaiknya Wiraprana berusaha untuk mencegah hal-hal yang tidak diharapkan. Sebaiknya Wiraprana itu pulang saja dan menyembunyikan Ken Dedes. Sebab kalau usaha Kuda Sempana mendapat persetujuan akuwu, maka tak ada seorang pun yang akan dapat mencegahnya.”
Meskipun demikian Witantra itu untuk beberapa saat masih ragu-ragu. Namun akhirnya jalan itulah yang dapat ditempuh sebaiknya. Seandainya kemudian akuwu tidak mempunyai kepentingan apa-apa atas gadis itu, maka sebagai usaha penyelamat tak akan ada ruginya. Karena itu, maka kemudian Witantra itu memperlambat kudanya dan berjalan di samping Mahendra. Sambil berbisik ia berkata,
“Mahendra. Kembalilah. Beri tahukanlah kepada Wiraprana bahwa kami sekarang berburu ke barat. Mungkin kami akan melewati Panawijen. Karena itu, usahakanlah selekas mungkin pulang dan sembunyikanlah Ken Dedes. Syukurlah bahwa akuwu tidak akan melibatkan diri atas hasutan Kuda Sempana.
Mahendra menganggukkan kepalanya. “Baik Kakang.”
“Tetapi biarlah aku minta izin dahulu kepada Akuwu. Nanti kami masih mengharap perjalanan kami berhenti di hutan perburuan meskipun hanya sebentar, sehingga Wiraprana akan dapat mendahului perjalanan kami. Tetapi kalau mungkin biarlah Wiraprana mencari jalan lain, selain padang rumput Karautan.”
“Baik Kakang.”
Witantra itu kemudian mempercepat kudanya dan dengan hati-hati ia mencoba berkuda di samping akuwu. Akuwu Tumapel itu berpaling sesaat. Ia mengerutkan keningnya. Kemudian ketika melihat Witantra menganggukkan kepalanya dalam-dalam maka ia pun bertanya,
“Ada apa Witantra?”
Kuda Sempana yang berkuda di depannya berpaling dengan penuh kecurigaan. Dengan hati-hati ia berusaha mendengar percakapan itu.
“Ampun, Tuanku,” jawab Witantra, “adik hamba benar-benar belum berpengalaman. Apalagi ketika kami berangkat, adik hamba terlalu tergesa-gesa. Kini perkenankanlah adik hamba itu pulang untuk mengambil busurnya. Sebab alangkah janggalnya, apabila kami harus berburu tanpa busur.”
Akuwu itu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, ia pun tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Adikmu itu gagah, segagah kau Witantra, namun ternyata ia lebih bodoh dari keledai. Apakah yang akan dilakukan kalau anak itu tidak membawa busur?”
“Itulah Tuanku. Anak itu hanya membawa anak panah.”
Kembali akuwu tertawa terbahak-bahak. Katanya “Aku tidak berkeberatan anak itu pulang mengambil busurnya. Tetapi aku tidak senang melihat kecerobohannya.”
Witantra itu mengangguk sekali lagi. Namun sebelum ia surut ke belakang, maka tiba-tiba akuwu itu berkata “Tak ada gunanya adikmu itu mengambil busurnya. Kali ini sama sekali tidak memerlukan busur.”
Kuda Sempana terkejut mendengar kata-kata akuwu itu, sehingga sekali lagi ia berpaling. Witantra pun tidak kalah terkejutnya pula. Bahkan ia bertanya “Kenapa tidak Akuwu?”
Akuwu mengangkat alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Dilihatnya Kuda Sempana. Kemudian akuwu itu tertawa. Namun tiba-tiba ia membentak, “Apapun yang akan dilakukan oleh adikmu itu aku tidak peduli. Kalau ia mau mengambil busurnya, biarlah ia mengambilnya. Kalau ia mau berburu dengan giginya itu pun bukan urusanku.”
Witantra mengangguk dalam-dalam sambil berkata “Hamba Tuanku.”
Kini hati Witantra menjadi semakin gelisah. Maka kemudian katanya kepada Mahendra “Cepat! Pulanglah beri tahukan kepada Wiraprana supaya ia cepat-cepat pulang dan menyelamatkan gadisnya. Mungkin bahaya benar-benar akan mengancam.”
Mahendra tidak menunggu lebih lama lagi. Segera ia memutar kuda dan seperti angin ia berpacu kembali ke Tumapel. Debu yang putih melonjak naik ke udara, dan suara telapak kaki-kaki kuda itu gemeretak memekakkan telinga.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar