Ketika Sang Akuwu berpaling, dilihatnya kuda Mahendra itu seperti anak panah yang meluncur cepat sekali. Tiba-tiba, akuwu itu melambaikan tangannya memanggil Witantra
“Itukah adikmu?”
“Hamba. Akuwu.”
“Ternyata adikmu itu pandai berkuda. Aku senang kepada keterampilannya”
“Terima kasih Tuanku.”
“Tetapi otaknya terlalu tumpul. Kalau ia pergi berperang, dan ia lupa membawa senjatanya, apa yang akan dilakukan?”
“Anak itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Kini diangkatnya wajahnya dan dipandanginya jalur-jalur jalan yang menjelujur di hadapannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Akuwu itu berkata
“Sawah-sawah di sini cukup baik.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata “Kuda Sempana. Kaulah yang memimpin perburuan kali ini.”
Kembali dada Witantra berdesir. Agaknya kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik semakin nyata akan terjadi. Karena itu maka ia menyesal bahwa agak terlambat mengabarkannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Meskipun demikian, maka Witantra itu akan berusaha untuk memperlambat perjalanan mereka. Katanya,
“Akuwu. Hutan-hutan di sekitar Karautan memang banyak menyimpan binatang-binatang yang baik untuk diburu. Kijang, menjangan dan beberapa jenis harimau. Karena itu, maka kami akan mengharap bahwa Akuwu akan menjadi bergembira karenanya. Bukankah Akuwu belum pernah memiliki kijang yang berkulit belang?”
Agaknya Akuwu Tumapel itu tertarik juga kepada kata-kata Witantra. Katanya, “Apakah di Panawijen ada kijang berbulu belang?”
“Tidak di Panawijen Tuanku, tetapi di hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan.”
“He, Kuda Sempana,” berkata Akuwu itu, “kita berburu kijang berbulu belang di padang rumput Karautan.”
Kuda Sempana itu terkejut mendengar perintah Akuwu itu. Karena itu ia bertanya, “Apakah kita pergi berburu dahulu Tuanku?”
Pertanyaan itu benar-benar aneh bagi Witantra. Mereka berangkat untuk berburu. Kenapa pertanyaan Kuda Sempana itu justru tentang perburuan itu sendiri? Karena itu, maka Witantra itu seolah-olah mendapatkan beberapa petunjuk apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana.
“Hem,” desahnya di dalam hati, “ternyata aku terlalu bodoh sehingga aku terlambat memberitahukannya kepada Wiraprana. Mudah-mudahan Akuwu tertarik kepada kijang berbulu belang.”
Mendengar pertanyaan Kuda Sempana, Akuwu Tumapel itu mengerutkan alisnya. Segera ia teringat kepada cerita Kuda Sempana tentang seorang Empu yang telah merendahkan derajatnya sebagai seorang akuwu, karena itu, maka dengan geramnya ia berkata,
“Kita ke Panawijen.”
Witantra kini hampir yakin karenanya, bahwa Kuda Sempana pasti sudah berhasil membujuk akuwu untuk kepentingannya. Karena itu maka penyesalan yang bergolak di dalam dadanya menjadi semakin melonjak-lonjak.
“Mudah-mudahan Wiraprana tidak terlambat.”
Meskipun demikian, Witantra itu berkata, “Ampun Akuwu, tidak di Panawijen, tetapi di sebelah padang Karautan.”
“Apa?” bertanya akuwu itu sambil mengangkat wajahnya.
Hati Witantra tergetar karenanya. Namun jawabnya, “Kijang berbulu belang. Tidak saja bulunya Tuanku, tetapi kulitnya. Hamba pernah mendapatkannya dahulu. Kulitnya kini menghias dinding paman hamba di Kediri.”
Akuwu Tumapel itu menyipitkan sebelah matanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali. Kita mencari kijang berbulu belang.”
“Kalau nanti kita mendapatkannya Tuanku, biarlah nanti hamba mengolah kulitnya sebaik-baiknya untuk sebuah permadani di bawah kaki di muka tempat duduk Tuanku di istana, atau di muka bilik tempat peraduan Tuanku.”
“Bagus-bagus. Akan aku dapatkan kijang berbulu belang itu. Kalau tidak, maka aku akan mengulangi perburuan ini sampai aku mendapatkannya.”
Tiba-tiba Kuda Sempana yang kecemasan berkata, “Kijang itu telah lama punah.”
“He,” Akuwu Tumapel terkejut, “Apakah kau berkata benar?”
“Tidak!” sahut Witantra, “belum lama aku telah melihatnya, seorang pemburu membawa kijang serupa itu.”
“Kijang itu tidak terlalu baik. Raja Kediri pernah memesannya. Tetapi Akuwu Tumapel bukan Raja Kediri. Kenapa mesti menirunya? Biarlah suatu ketika Kediri meniru Akuwu Tumapel, meskipun Tumapel berada di dalam lingkungan kerajaan Kediri.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Kuda Sempana itu. Dan sebelum ia menjawab, Kuda Sempana telah berkata pula “Apakah kau sangka dalam menilai keindahan, Akuwu Tumapel iri ada di bawah Baginda Kertajaya. Kalau Baginda Kertajaya itu senang kepada Kijang berbulu belang, maka Akuwu Tumapel akan membuat perhiasan yang lain, yang jauh lebih indah dari Kijang berbulu belang itu.”
“Apakah itu?” tiba-tiba Akuwu Tumapel itu bertanya.
Kuda Sempana menjadi gelisah mendapat pertanyaan itu. Karena itu maka jawabnya, “Kita belum menemukan itu Tuanku. Namun suatu ketika akan kita dapatkan.”
“Ya. Suatu ketika akan kita dapatkan,” gumam Tunggul Ametung.
Witantra kemudian terdiam. Tetapi hatinya menjadi semakin gelisah. Apa lagi ketika Kuda Sempana mempercepat langkah kudanya.
“Setan itu telah berhasil mempengaruhi Akuwu Tumapel,” katanya di dalam hati. Karena itulah maka detak jantungnya terasa semakin cepat. Beberapa persoalan menghentak-hentak dadanya sehingga akhirnya Witantra itu tidak tahan lagi menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit perasaannya. Dengan cemas maka diberanikan dirinya bertanya,
“Akuwu, apakah kita tidak berburu kali ini?”
“Siapa bilang?” sahut akuwu itu.
“Tuanku, aku hanya menjadi bingung saja. Aku tadi mendengar adi Kuda Sempana bertanya, apakah kita pergi berburu dahulu. Apakah sesudah itu kita mempunyai suatu rencana yang lain?”
Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sambil meraba-raba suri kudanya Tunggul Ametung itu berkata, “Kita sedang berburu. Apapun yang kita buru.” Tunggul Ametung itu berhenti sejenak, kemudian katanya seterusnya, “Apakah kau sudah beristri Witantra?”
Witantra bingung mendengar pertanyaan itu. Meskipun demikian dijawabnya “Sudah Tuanku.”
“Nah. Siapakah di antara kalian yang belum kawin he?” bertanya Akuwu itu kepada para pengiringnya.
Tak seorang pun yang tahu maksud Akuwu itu. Meskipun demikian beberapa orang lantarannya menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Nah, nanti akan sempat giliran kalian kawin. Sekarang marilah kita memberi kesempatan pertama kepada Kuda Sempana. Kita sekarang sedang menjemput pengantin perempuan.”
Dada Witantra itu benar-benar hampir meledak mendengar kata Akuwu itu. Sebenarnyalah apa yang telah diduganya. Karena itu, tanpa disadarinya ia berpaling. Dan Mahendra telah hilang jauh di balik pedesaan.
“Gila!” Witantra itu menggeram di dalam hati.
Bukan saja Witantra, namun semua orang menjadi heran karenanya. Apakah yang harus mereka lakukan? Tiba-tiba mereka mendengar akuwu itu berkata lantang,
“Aku tidak mau dihinakan oleh siapa pun juga. Penghinaan terhadap orang-orangku hanya karena ia hamba akuwu adalah penghinaan bagiku. Karena itu maka sekarang aku sedang menunjukkan kekuasaanku.”
Kini Witantra sudah merasa pasti, apakah yang akan dihadapinya. Mengantarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes dengan paksa. Dengan kekerasan. Karena itu maka alangkah ia menjadi bersedih hati. Ia tidak tahu, alasan-alasan apakah yang dipakai oleh akuwu itu untuk meluluskan permintaan Kuda Sempana. Kalau semula akuwu ingin berangkat berburu, maka tiba-tiba maksud itu telah disimpangkannya oleh Kuda Sempana.
Rombongan Akuwu Tumapel itu berjalan berderap-derap di atas tanah berbatu-batu. Setiap bunyi telapak kaki kuda-kuda itu seakan-akan suara sangkakala yang meneriakkan kekuasaan di tangan Akuwu Tumapel. Tidak lebih daripada kekuasaan lahiriah. Dan Akuwu Tunggul Ametung itu sedang menunjukkan kekuasaan.
Sebenarnya Tunggul Ametung itu berpikir di dalam hatinya, “Tak ada orang dapat menentang kehendakku. Kalau ada orang yang mencoba menolak keputusanku, maka aku akan memaksanya dengan kekerasan. Aku mempunyai cukup prajurit, cukup senjata dan cukup apa saja untuk menindas mereka. Apalagi mereka yang telah menghina aku.”
Witantra semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Semakin dekat mereka dengan Panawijen, maka hatinya menjadi semakin sedih, sehingga ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, diberanikannya sekali lagi bertanya kepada Akuwu itu,
“Tuanku, apakah yang harus hamba lakukan nanti, apabila kita tidak pergi berburu?”
“Gila!” bentak Akuwu itu, “kau adalah seorang prajurit. Kau adalah alatku untuk menunjukkan kekuasaanku. Kalau aku sedang melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa Akuwu Tumapellah yang berkuasa di Tumapel, maka kau harus melindungi kekuasaan itu.”
“Hamba Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Hamba pun akan berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini, kekuasaan Tuanku yang manakah yang harus hamba amankan.”
“Apakah kau sudah tuli?” teriak Akuwu itu dengan marahnya. Suaranya menggelegar memenuhi dataran di sebelah timur Gunung Kawi itu, “aku akan mengambil seorang gadis bernama Ken Dedes di desa Panawijen. Orang tua itu menolak Kuda Sempana yang telah dipertunangkan sejak kecil, karena Kuda Sempana adalah pelayan dalam Akuwu Tumapel.” Witantra menarik nafas. Dan di dengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Nah, apakah itu bukan suatu penghinaan bagi Akuwu Tumapel?”
Witantra menarik bibirnya. Terasa betapa hatinya menjadi sakit. Ia tahu pasti bahwa Empu Purwa telah memberi keleluasaan kepada Ken Dedes untuk menjatuhkan pilihannya. Bahkan adiknya seperguruannya pun pernah terluka hatinya, sehingga hampir ia kehilangan keseimbangan pula dengan menantang Wiraprana berkelahi. Bahkan baru kemarin rasa-rasanya sekali lagi Mahendra berkelahi dengan Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Tetapi ia menentang perbuatan yang nurani dari adiknya itu. Kini ternyata Kuda Sempana lah yang berbuat curang.
Karena itu Witantra itu benar-benar menjadi sedih. Sedih atas peristiwa yang akan terjadi Peristiwa yang pasti akan menyinggung rasa keadilan. Sebagai seorang prajurit Witantra menyadari tugasnya. Ia tidak dapat mengingkari perintah yang diberikan oleh atasannya. Oleh Akuwu Tumapel itu. Namun ia tahu pasti, bahwa apa yang dilakukan itu telah berkisar dari kebenaran dan telah melanggar keadilan. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya, akuwu akan dapat berbuat apa saja. Merampas, membunuh, mengambil istri orang dan apa saja. Kalau ia melakukan perampasan, pemerasan dan sebagainya, maka ia adalah jauh lebih jahat dari perampok yang paling jahat sekalipun. Sebab sebenarnya akuwu lah yang harus melindungi rakyatnya dari ketakutan dan kesewenang-wenangan.
Tetapi Akuwu Tumapel telah mengatakan kepadanya, bahwa kini ia sedang menunjukkan kekuasaan. Dan dirinyalah alat dari kekuasaan itu. Dirinya sebagai manusia dan pedang yang tergantung di pinggangnya itu.
Kuda Sempana yang berkuda di ujung rombongan itu kemudian mempercepat jalan kudanya. Di hadapannya kini telah terbentang padang rumput Karautan. Agaknya mereka akan menerobos di tengah-tengah padang rumput itu.
Ken Arok tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ditatapnya padang yang terbentang luas di hadapannya itu dengan wajah yang sayu. Padang yang telah menggoreskan kenangan yang suram.
“Apakah aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi?” bisiknya di dalam hati. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Timbullah pertanyaan di dalam hatinya. “Apakah yang Maha Agung mau menerima aku menghadap dengan tangan yang dikotori oleh darah? Berpuluh-puluh orang telah menjadi korbanku di padang rumput ini.”
Tetapi Ken Arok tidak mendapat kesempatan untuk berangan-angan. Kini kuda mereka berjalan semakin cepat, dan sebentar lagi mereka akan sampai ke Panawijen. Tempat tinggal seorang gadis yang baru tumbuh dan berkembang. Namun tiba-tiba angin yang kencang telah melandanya. Angin prahara, yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun.
Demikianlah rombongan itu telah mengejutkan seluruh penduduk Panawijen. Ketika mereka melihat sebuah iring-iringan, dan di depan sendiri mereka melihat Kuda Sempana, maka seluruh penduduk Panawijen, apalagi anak-anak mudanya, menjadi ketakutan. Langsung mereka dapat menebak, bahwa Kuda Sempana telah datang kembali dengan kawan-kawannya. Apalagi ketika seorang tua berkata di antara mereka,
“He, lihat! Di belakang Kuda Sempana itu adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku pernah melihatnya, ketika aku pergi ke Tumapel dahulu.”
“Akuwu?” bertanya yang lain dengan tubuh gemetar.
“Ya.”
Penduduk Panawijen itu menjadi semakin takut. Dan Witantra pun benar-benar telah berputus asa untuk menyelamatkan gadis itu. Mahendra pasti terlambat, sehingga Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana pasti tak akan sempat menyembunyikan gadis itu. Sedang dirinya sendiri tidak mungkin untuk melakukannya. Ia adalah prajurit akuwu, sehingga dengan demikian, maka mau tidak mau ia harus berdiri di pihaknya.
Witantra itu tiba-tiba menangis dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pada suatu saat ia harus melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan rasa keadilannya. Ia harus melindungi suatu perbuatan yang ia tahu, bahwa perbuatan itu melanggar sendi penghidupan dan kebenaran. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menyaksikan perbuatan yang tercela itu terjadi di hadapan hidungnya tanpa dapat mencegahnya. Maka terjadilah pergulatan di dalam dirinya. Pergulatan antara kesetiaannya kepada Akuwu Tumapel dan kesetiaannya kepada kebenaran. Witantra itu menarik nafas dalam-dalam. Diingatnya tiba-tiba istrinya yang masih muda dan ibunya yang sudah tua.
“Hem,” ia berdesah di dalam hatinya.
Orang-orang itu pun harus menjadi bahan pertimbangannya. Kalau ia menentang perintah Akuwu Tunggul Ametung, maka akibatnya, ia akan kehilangan pangkat dan jabatannya. Bahkan mungkin ia akan diusir dari Tumapel. Lalu ke manakah ia akan pergi? Bagaimanakah kemudian dengan istri dan ibunya? Istri Witantra bukanlah seorang gadis yang dapat mengalami kesulitan-kesulitan.
Istrinya adalah seorang perempuan yang manja, yang hanya dapat menikmati kebesaran nama dan jabatannya. Bahkan istrinya itu bersedia dikawininya, karena Witantra adalah salah seorang pemimpin prajurit pengawal akuwu. Kalau kemudian ia kehilangan pangkat dan jabatannya, maka ia pasti akan kehilangan istrinya itu pula.
Kuda-kuda yang ditumpangi oleh rombongan dari Tumapel itu berjalan terus. Derap kakinya mengejutkan setiap penduduk Panawijen. Beberapa orang menjadi gemetar karenanya, dan beberapa orang mengeluh d dalam hatinya,
“Kasihan Empu Purwa. Gadisnya benar-benar akan hilang ditelan oleh Kuda Sempana.”
Berita tentang kedatangan akuwu itu pun segera menjalar ke telinga Ki Buyut Panawijen. Dengan debar di dalam dadanya ia bertanya, “Kau melihat Akuwu sendiri datang?”
“Ya,” sahut orang yang memberitahukan kepada Buyut itu.
“Di manakah Wiraprana?”
“Mungkin di rumah Empu Purwa.”
“Jangan melawan. Usahakan saja untuk menyembunyikan gadis itu. Cepat!”
“Tetapi orang-orang dari Tumapel itu berkuda. Aku tak akan dapat mendahuluinya.”
“Cobalah!” berkata Buyut itu, “aku akan segera dalang pula ke sana.”
Orang itu pun berusaha memenuhi permintaan tetua padukuhannya. Dengan penuh belas kasihan orang itu berlari menerobos halaman-halaman rumah tetangga-tetangganya dan melintasi kebun-kebun yang rimbun. Akhirnya ia sampai juga ke rumah Empu Purwa sebelum iring-iringan kuda yang harus berjalan melingkar-lingkar itu datang. Degan penuh kecemasan, maka segera ia bercerita tentang apa yang diketahuinya. Wiraprana dan Ken Dedes menjadi terkejut bukan buatan. Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi pucat dan tubuh Wiraprana bergetaran.
“Apakah mereka sedang menuju kemari?”
“Ya.”
Wiraprana menjadi bingung Dan tiba-tiba ia bergumam, “Kenapa Agni belum juga pulang. Ternyata ia hanya berbuat menurut kemauannya sendiri. Ia tidak berpikir tentang kami di sini.”
“Jangan hanya menyalahkan Kakang Agni,” potong Ken Dedes, “lalu apa yang harus kita lakukan?”
Wiraprana diam sesaat. Kemudian katanya “Pendapat ayah baik sekali. Mari kita bersembunyi di luar rumah ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang cantrik ia berkata “Katakan bahwa kami tidak ada di rumah. Sejak kemarin kami meninggalkan rumah ini.”
Cantrik itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik. Baik akan kukatakan kepada mereka.”
“Cepat pergilah!” desak emban tua yang masih sangat lemahnya setelah ia kemarin dicederai oleh Kuda Sempana.
“Tetapi apakah mereka tidak akan mencari kita di seluruh padukuhan ini,” desah Wiraprana.
“Cepat!” tiba-tiba emban tua itu membentak, “Jangan ributkan hal yang lain-lain. Bersembunyi.”
Wiraprana tidak membantah. Ia tidak sempat menjadi heran atas sikap emban yang tiba-tiba menjadi garang itu. Karena itu maka segera ia melangkah turun dari pendapa. Tetapi keduanya terlambat. Sebelum mereka mencapai regol halaman, maka tiba-tiba mereka mendengar derap kuda mendekati regol itu.
“Cepat kembali!” teriak emban tua itu, “panjatlah dinding belakang.”
Tetapi Wiraprana tidak sempat berbuat demikian. Sebelum sempat memutar tubuhnya, maka muncullah seekor kuda yang tegar dari regol pagar. Seekor, disusul oleh yang lain dan akhirnya halaman itu pun telah hampir penuh dengan kuda-kuda dan penunggangnya. Meskipun demikian, di luar regol itu pun masih ada dua tiga ekor kuda yang di punggungnya duduk prajurit-prajurit yang sudah siap untuk berbuat apa saja.
Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi lemah seakan-akan kehilangan segenap tulang belulangnya. Dilihatnya Kuda Sempana tersenyum di atas punggung kuda dan di sampingnya seorang yang gagah dengan pakaian gemerlapan. Tunggul Ametung sesaat diam terpaku. Inikah gadis yang disebut oleh Kuda Sempana itu? Karena itu, maka terdengar suaranya berat parau,
“Kuda Sempana, adakah gadis ini yang kau sebut-sebut bernama Ken Dedes?”
Kuda Sempana menarik keningnya. Sahutnya “Dari mana Tuanku tahu?”
Tunggul Ametung tertawa. “Aku hanya menduga. Gadis ini adalah gadis yang cantik sekali.”
Sekali lagi Kuda Sempana menarik keningnya. Ketika kemudian ia memandangi gadis itu, dilihatnya Ken Dedes menjadi pucat sepucat mayat. Tetapi Kuda Sempana tidak memedulikannya. Dengan lantang ia berkata,
“Atas nama Tuanku Akuwu Tumapel, maka aku diperintahkan untuk membawa Ken Dedes ke Tumapel.”
Meskipun hal itu sudah diduganya sejak Kuda Sempana itu memasuki regol halaman, namun kata-kata telah menampar hati Ken Dedes dan Wiraprana seperti gunung yang runtuh menimpa dadanya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes itu berpegangan lengan Wiraprana dengan eratnya seolah-olah tak akan dapat dipisahkan oleh kekuatan apapun. Namun mereka adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang terbatas. Karena itu, maka mereka tak akan dapat mencegah kekuatan-kekuatan yang berat melanda mereka dan menghanyutkan mereka ke dalam arus yang mengerikan
Kuda Sempana menjadi panas melihat sikap Ken Dedes itu. Karena itu maka ia membentak sekali lagi, “Ken Dedes. Kali ini jangan menentang kehendak Akuwu. Meskipun aku sendiri tidak terlalu bernafsu untuk membawamu serta, sebab kau adalah seorang gadis pedesaan, namun demikianlah kehendak Akuwu.”
Tidak hanya Wiraprana dan Ken Dedes saja yang terkejut mendegar kata-kata Kuda Sempana, namun timbullah berbagai persoalan pula di dalam hati Witantra.
“Kuda Sempana,” tiba-tiba Wiraprana itu berkata dengan suara yang bergetar, “apakah sebenarnya kehendakmu?”
“Jangan banyak cakap!” potong Kuda Sempana, “kau harus melepaskan Ken Dedes dan Ken Dedes harus pergi ke Tumapel.”
“Tidak!” bantah Ken Dedes.
“Sekali lagi, jangan menyangkal!” Kuda Sempana menjadi sangat marah, ia tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, sebab dengan demikian, maka persoalan yang sebenarnya akan mungkin didengar oleh Tunggul Ametung. Karena itu maka ia berteriak, “Wiraprana. Tinggalkan Ken Dedes, atau aku memaksamu?”
Witantra menjadi bingung mendengar nama itu disebut. Wiraprana sepanjang pengetahuannya berada di rumahnya. Tetapi tiba-tiba di sini ia berhadapan dengan Wiraprana pula. Namun sementara itu ia tidak mau memikirkan keanehan itu yang berputar-putar di dalam kepalanya adalah kekejian Kuda Sempana. Karena itu maka tiba-tiba kembali memberanikan diri bertanya kepada Tunggul Ametung,
“Tuanku, apakah peristiwa ini Tuanku lakukan atas permintaan Kuda Sempana itu?”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba akuwu menjawab, “Ya.”
Dada Witantra berdesir karenanya. Juga Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia sempat menyahut, Witantra telah bertanya pula,
“Apakah Tuanku telah menimbang baik buruknya, Akuwu memenuhi pemintaannya?”
“Aku tidak mau dihinanya!” teriak Akuwu itu, sehingga orang-orang yang belum pernah melihat Tunggul Ametung itu menjadi terkejut sehingga Ken Dedes menjadi gemetar ketakutan.
Witantra itu mendesak terus. Ia sudah terlalu biasa mendengar Tunggul Ametung berteriak-teriak. Apalagi kini dadanya sedang dipenuhi oleh perasaan muak atas perbuatan Kuda Sempana Katanya,
“Tuanku, apakah Tuanku yakin, bahwa orang tua gadis itu pernah menghina Tuanku?”
Tunggul Ametung menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil berkata, “Kuda Sempana mengatakan itu kepadaku.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Kuda Sempana, “Kau berkata sebenarnya Adi?”
“Kakang,” potong Kuda Sempana, “Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Apakah kau akan ikut menghina Akuwu di hadapan orang Panawijen?”
Sebelum Witantra menjawab, tiba-tiba kata-kata Kuda Sempana itu mengena sasarannya, sehingga sekali lagi Akuwu itu berteriak, “He, Witantra, apa kepentinganmu atas persoalan ini? Aku telah memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kuda Sempana mengambil gadis itu. Apa pedulimu?”
Namun Witantra telah tidak dapat menahan lagi sentuhan-sentuhan atas rasa keadilannya. Maka dengan tatagnya ia menjawab, “Akuwu. Hamba adalah seorang prajurit yang selama ini selalu setia akan tugas-tugas hamba. Namun selama ini hamba belum pernah melihat Akuwu Tunggul Ametung berbuat tergesa-gesa seperti kali ini. Tuanku, kali ini Tuanku berhadapan dengan Kuda Sempana dan orang-orang yang dikatakan telah menghina Tuanku itu. Apakah Tuanku Tunggul Ametung sama sekali tidak berhasrat untuk menanyakan kebenarannya kepada pihak-pihak yang bersangkutan?”
“He,” tiba-tiba Akuwu itu menjadi ragu-ragu. Ketika Kuda Sempana akan menyahut, maka Akuwu itu membentak, “Jangan berteriak Kuda Sempana. Kata-kata Witantra mengandung kebenaran.”
“Tetapi Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “orang yang licik itu akan dapat memutar balik kenyataan, Selain itu, maka bukanlah hamba telah mengatakan bahwa hamba telah memutuskan untuk menerima nasib hamba yang malang itu. Namun Tuanku memaksa hamba untuk melakukan perbuatan ini. Sekarang, apakah hamba harus menanggung malu untuk yang kedua kalinya, justru karena perintah Tuanku?”
“He,” kembali Akuwu itu menjadi bimbang. Sesaat kemudian ia berkata, “Ya, ya. Aku telah memerintahkan kepadamu.”
“Tuanku,” potong Witantra, “Tuanku dapat mencabut setiap perintah yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang tidak benar. Sekarang, apakah perintah Tuanku itu sudah didasari atas keterangan-keterangan yang benar? Kalau Tuanku mencabut perintah itu, sama sekali bukan kesalahan Tuanku, namun yang memberi keterangan itulah yang bersalah.”
Akuwu Tumapel itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba sekali lagi dipandangnya wajah gadis yang berdiri ketakutan di halaman rumahnya itu. Wajah seorang gadis yang tulus dan wajar, sewajar gadis pedesaan yang lain. Tanpa pulasan apapun wajah Ken Dedes telah memancar seperti bulan tanggal setengah.
Semua yang berdiri di halaman itu menjadi tegang. Semuanya memandang wajah Akuwu Tumapel. Alisnya yang tebal bergerak-gerak tak hentinya. Tiba-tiba Akuwu itu mengangkat dadanya dan berteriak nyaring,
“Akulah Akuwu Tumapel. Semua kekuasaan berada di tanganku.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Kuda Sempana, ambil gadis itu!”
“Itukah adikmu?”
“Hamba. Akuwu.”
“Ternyata adikmu itu pandai berkuda. Aku senang kepada keterampilannya”
“Terima kasih Tuanku.”
“Tetapi otaknya terlalu tumpul. Kalau ia pergi berperang, dan ia lupa membawa senjatanya, apa yang akan dilakukan?”
“Anak itu masih terlalu muda dan kurang pengalaman.”
Tunggul Ametung tidak menjawab. Kini diangkatnya wajahnya dan dipandanginya jalur-jalur jalan yang menjelujur di hadapannya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Akuwu itu berkata
“Sawah-sawah di sini cukup baik.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata “Kuda Sempana. Kaulah yang memimpin perburuan kali ini.”
Kembali dada Witantra berdesir. Agaknya kemungkinan-kemungkinan yang kurang baik semakin nyata akan terjadi. Karena itu maka ia menyesal bahwa agak terlambat mengabarkannya kepada Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Meskipun demikian, maka Witantra itu akan berusaha untuk memperlambat perjalanan mereka. Katanya,
“Akuwu. Hutan-hutan di sekitar Karautan memang banyak menyimpan binatang-binatang yang baik untuk diburu. Kijang, menjangan dan beberapa jenis harimau. Karena itu, maka kami akan mengharap bahwa Akuwu akan menjadi bergembira karenanya. Bukankah Akuwu belum pernah memiliki kijang yang berkulit belang?”
Agaknya Akuwu Tumapel itu tertarik juga kepada kata-kata Witantra. Katanya, “Apakah di Panawijen ada kijang berbulu belang?”
“Tidak di Panawijen Tuanku, tetapi di hutan-hutan di sekitar padang rumput Karautan.”
“He, Kuda Sempana,” berkata Akuwu itu, “kita berburu kijang berbulu belang di padang rumput Karautan.”
Kuda Sempana itu terkejut mendengar perintah Akuwu itu. Karena itu ia bertanya, “Apakah kita pergi berburu dahulu Tuanku?”
Pertanyaan itu benar-benar aneh bagi Witantra. Mereka berangkat untuk berburu. Kenapa pertanyaan Kuda Sempana itu justru tentang perburuan itu sendiri? Karena itu, maka Witantra itu seolah-olah mendapatkan beberapa petunjuk apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana.
“Hem,” desahnya di dalam hati, “ternyata aku terlalu bodoh sehingga aku terlambat memberitahukannya kepada Wiraprana. Mudah-mudahan Akuwu tertarik kepada kijang berbulu belang.”
Mendengar pertanyaan Kuda Sempana, Akuwu Tumapel itu mengerutkan alisnya. Segera ia teringat kepada cerita Kuda Sempana tentang seorang Empu yang telah merendahkan derajatnya sebagai seorang akuwu, karena itu, maka dengan geramnya ia berkata,
“Kita ke Panawijen.”
Witantra kini hampir yakin karenanya, bahwa Kuda Sempana pasti sudah berhasil membujuk akuwu untuk kepentingannya. Karena itu maka penyesalan yang bergolak di dalam dadanya menjadi semakin melonjak-lonjak.
“Mudah-mudahan Wiraprana tidak terlambat.”
Meskipun demikian, Witantra itu berkata, “Ampun Akuwu, tidak di Panawijen, tetapi di sebelah padang Karautan.”
“Apa?” bertanya akuwu itu sambil mengangkat wajahnya.
Hati Witantra tergetar karenanya. Namun jawabnya, “Kijang berbulu belang. Tidak saja bulunya Tuanku, tetapi kulitnya. Hamba pernah mendapatkannya dahulu. Kulitnya kini menghias dinding paman hamba di Kediri.”
Akuwu Tumapel itu menyipitkan sebelah matanya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Bagus. Bagus sekali. Kita mencari kijang berbulu belang.”
“Kalau nanti kita mendapatkannya Tuanku, biarlah nanti hamba mengolah kulitnya sebaik-baiknya untuk sebuah permadani di bawah kaki di muka tempat duduk Tuanku di istana, atau di muka bilik tempat peraduan Tuanku.”
“Bagus-bagus. Akan aku dapatkan kijang berbulu belang itu. Kalau tidak, maka aku akan mengulangi perburuan ini sampai aku mendapatkannya.”
Tiba-tiba Kuda Sempana yang kecemasan berkata, “Kijang itu telah lama punah.”
“He,” Akuwu Tumapel terkejut, “Apakah kau berkata benar?”
“Tidak!” sahut Witantra, “belum lama aku telah melihatnya, seorang pemburu membawa kijang serupa itu.”
“Kijang itu tidak terlalu baik. Raja Kediri pernah memesannya. Tetapi Akuwu Tumapel bukan Raja Kediri. Kenapa mesti menirunya? Biarlah suatu ketika Kediri meniru Akuwu Tumapel, meskipun Tumapel berada di dalam lingkungan kerajaan Kediri.”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Kuda Sempana itu. Dan sebelum ia menjawab, Kuda Sempana telah berkata pula “Apakah kau sangka dalam menilai keindahan, Akuwu Tumapel iri ada di bawah Baginda Kertajaya. Kalau Baginda Kertajaya itu senang kepada Kijang berbulu belang, maka Akuwu Tumapel akan membuat perhiasan yang lain, yang jauh lebih indah dari Kijang berbulu belang itu.”
“Apakah itu?” tiba-tiba Akuwu Tumapel itu bertanya.
Kuda Sempana menjadi gelisah mendapat pertanyaan itu. Karena itu maka jawabnya, “Kita belum menemukan itu Tuanku. Namun suatu ketika akan kita dapatkan.”
“Ya. Suatu ketika akan kita dapatkan,” gumam Tunggul Ametung.
Witantra kemudian terdiam. Tetapi hatinya menjadi semakin gelisah. Apa lagi ketika Kuda Sempana mempercepat langkah kudanya.
“Setan itu telah berhasil mempengaruhi Akuwu Tumapel,” katanya di dalam hati. Karena itulah maka detak jantungnya terasa semakin cepat. Beberapa persoalan menghentak-hentak dadanya sehingga akhirnya Witantra itu tidak tahan lagi menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang menghimpit perasaannya. Dengan cemas maka diberanikan dirinya bertanya,
“Akuwu, apakah kita tidak berburu kali ini?”
“Siapa bilang?” sahut akuwu itu.
“Tuanku, aku hanya menjadi bingung saja. Aku tadi mendengar adi Kuda Sempana bertanya, apakah kita pergi berburu dahulu. Apakah sesudah itu kita mempunyai suatu rencana yang lain?”
Akuwu Tumapel itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Sambil meraba-raba suri kudanya Tunggul Ametung itu berkata, “Kita sedang berburu. Apapun yang kita buru.” Tunggul Ametung itu berhenti sejenak, kemudian katanya seterusnya, “Apakah kau sudah beristri Witantra?”
Witantra bingung mendengar pertanyaan itu. Meskipun demikian dijawabnya “Sudah Tuanku.”
“Nah. Siapakah di antara kalian yang belum kawin he?” bertanya Akuwu itu kepada para pengiringnya.
Tak seorang pun yang tahu maksud Akuwu itu. Meskipun demikian beberapa orang lantarannya menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Nah, nanti akan sempat giliran kalian kawin. Sekarang marilah kita memberi kesempatan pertama kepada Kuda Sempana. Kita sekarang sedang menjemput pengantin perempuan.”
Dada Witantra itu benar-benar hampir meledak mendengar kata Akuwu itu. Sebenarnyalah apa yang telah diduganya. Karena itu, tanpa disadarinya ia berpaling. Dan Mahendra telah hilang jauh di balik pedesaan.
“Gila!” Witantra itu menggeram di dalam hati.
Bukan saja Witantra, namun semua orang menjadi heran karenanya. Apakah yang harus mereka lakukan? Tiba-tiba mereka mendengar akuwu itu berkata lantang,
“Aku tidak mau dihinakan oleh siapa pun juga. Penghinaan terhadap orang-orangku hanya karena ia hamba akuwu adalah penghinaan bagiku. Karena itu maka sekarang aku sedang menunjukkan kekuasaanku.”
Kini Witantra sudah merasa pasti, apakah yang akan dihadapinya. Mengantarkan Kuda Sempana mengambil Ken Dedes dengan paksa. Dengan kekerasan. Karena itu maka alangkah ia menjadi bersedih hati. Ia tidak tahu, alasan-alasan apakah yang dipakai oleh akuwu itu untuk meluluskan permintaan Kuda Sempana. Kalau semula akuwu ingin berangkat berburu, maka tiba-tiba maksud itu telah disimpangkannya oleh Kuda Sempana.
Rombongan Akuwu Tumapel itu berjalan berderap-derap di atas tanah berbatu-batu. Setiap bunyi telapak kaki kuda-kuda itu seakan-akan suara sangkakala yang meneriakkan kekuasaan di tangan Akuwu Tumapel. Tidak lebih daripada kekuasaan lahiriah. Dan Akuwu Tunggul Ametung itu sedang menunjukkan kekuasaan.
Sebenarnya Tunggul Ametung itu berpikir di dalam hatinya, “Tak ada orang dapat menentang kehendakku. Kalau ada orang yang mencoba menolak keputusanku, maka aku akan memaksanya dengan kekerasan. Aku mempunyai cukup prajurit, cukup senjata dan cukup apa saja untuk menindas mereka. Apalagi mereka yang telah menghina aku.”
Witantra semakin lama menjadi semakin berdebar-debar. Semakin dekat mereka dengan Panawijen, maka hatinya menjadi semakin sedih, sehingga ketika ia tidak dapat menahan hati lagi, diberanikannya sekali lagi bertanya kepada Akuwu itu,
“Tuanku, apakah yang harus hamba lakukan nanti, apabila kita tidak pergi berburu?”
“Gila!” bentak Akuwu itu, “kau adalah seorang prajurit. Kau adalah alatku untuk menunjukkan kekuasaanku. Kalau aku sedang melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa Akuwu Tumapellah yang berkuasa di Tumapel, maka kau harus melindungi kekuasaan itu.”
“Hamba Tuanku. Sebenarnyalah demikian. Hamba pun akan berbuat demikian. Tetapi untuk kali ini, kekuasaan Tuanku yang manakah yang harus hamba amankan.”
“Apakah kau sudah tuli?” teriak Akuwu itu dengan marahnya. Suaranya menggelegar memenuhi dataran di sebelah timur Gunung Kawi itu, “aku akan mengambil seorang gadis bernama Ken Dedes di desa Panawijen. Orang tua itu menolak Kuda Sempana yang telah dipertunangkan sejak kecil, karena Kuda Sempana adalah pelayan dalam Akuwu Tumapel.” Witantra menarik nafas. Dan di dengarnya Tunggul Ametung itu berkata pula, “Nah, apakah itu bukan suatu penghinaan bagi Akuwu Tumapel?”
Witantra menarik bibirnya. Terasa betapa hatinya menjadi sakit. Ia tahu pasti bahwa Empu Purwa telah memberi keleluasaan kepada Ken Dedes untuk menjatuhkan pilihannya. Bahkan adiknya seperguruannya pun pernah terluka hatinya, sehingga hampir ia kehilangan keseimbangan pula dengan menantang Wiraprana berkelahi. Bahkan baru kemarin rasa-rasanya sekali lagi Mahendra berkelahi dengan Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana. Tetapi ia menentang perbuatan yang nurani dari adiknya itu. Kini ternyata Kuda Sempana lah yang berbuat curang.
Karena itu Witantra itu benar-benar menjadi sedih. Sedih atas peristiwa yang akan terjadi Peristiwa yang pasti akan menyinggung rasa keadilan. Sebagai seorang prajurit Witantra menyadari tugasnya. Ia tidak dapat mengingkari perintah yang diberikan oleh atasannya. Oleh Akuwu Tumapel itu. Namun ia tahu pasti, bahwa apa yang dilakukan itu telah berkisar dari kebenaran dan telah melanggar keadilan. Dengan kekuatan dan kekuasaan yang ada padanya, akuwu akan dapat berbuat apa saja. Merampas, membunuh, mengambil istri orang dan apa saja. Kalau ia melakukan perampasan, pemerasan dan sebagainya, maka ia adalah jauh lebih jahat dari perampok yang paling jahat sekalipun. Sebab sebenarnya akuwu lah yang harus melindungi rakyatnya dari ketakutan dan kesewenang-wenangan.
Tetapi Akuwu Tumapel telah mengatakan kepadanya, bahwa kini ia sedang menunjukkan kekuasaan. Dan dirinyalah alat dari kekuasaan itu. Dirinya sebagai manusia dan pedang yang tergantung di pinggangnya itu.
Kuda Sempana yang berkuda di ujung rombongan itu kemudian mempercepat jalan kudanya. Di hadapannya kini telah terbentang padang rumput Karautan. Agaknya mereka akan menerobos di tengah-tengah padang rumput itu.
Ken Arok tiba-tiba mengerutkan keningnya. Ditatapnya padang yang terbentang luas di hadapannya itu dengan wajah yang sayu. Padang yang telah menggoreskan kenangan yang suram.
“Apakah aku akan dapat melupakan semua yang telah terjadi?” bisiknya di dalam hati. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Timbullah pertanyaan di dalam hatinya. “Apakah yang Maha Agung mau menerima aku menghadap dengan tangan yang dikotori oleh darah? Berpuluh-puluh orang telah menjadi korbanku di padang rumput ini.”
Tetapi Ken Arok tidak mendapat kesempatan untuk berangan-angan. Kini kuda mereka berjalan semakin cepat, dan sebentar lagi mereka akan sampai ke Panawijen. Tempat tinggal seorang gadis yang baru tumbuh dan berkembang. Namun tiba-tiba angin yang kencang telah melandanya. Angin prahara, yang tak akan dapat dibendung oleh siapa pun.
Demikianlah rombongan itu telah mengejutkan seluruh penduduk Panawijen. Ketika mereka melihat sebuah iring-iringan, dan di depan sendiri mereka melihat Kuda Sempana, maka seluruh penduduk Panawijen, apalagi anak-anak mudanya, menjadi ketakutan. Langsung mereka dapat menebak, bahwa Kuda Sempana telah datang kembali dengan kawan-kawannya. Apalagi ketika seorang tua berkata di antara mereka,
“He, lihat! Di belakang Kuda Sempana itu adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku pernah melihatnya, ketika aku pergi ke Tumapel dahulu.”
“Akuwu?” bertanya yang lain dengan tubuh gemetar.
“Ya.”
Penduduk Panawijen itu menjadi semakin takut. Dan Witantra pun benar-benar telah berputus asa untuk menyelamatkan gadis itu. Mahendra pasti terlambat, sehingga Mahisa Agni yang disangkanya Wiraprana pasti tak akan sempat menyembunyikan gadis itu. Sedang dirinya sendiri tidak mungkin untuk melakukannya. Ia adalah prajurit akuwu, sehingga dengan demikian, maka mau tidak mau ia harus berdiri di pihaknya.
Witantra itu tiba-tiba menangis dalam hatinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pada suatu saat ia harus melakukan pekerjaan yang bertentangan dengan rasa keadilannya. Ia harus melindungi suatu perbuatan yang ia tahu, bahwa perbuatan itu melanggar sendi penghidupan dan kebenaran. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia harus menyaksikan perbuatan yang tercela itu terjadi di hadapan hidungnya tanpa dapat mencegahnya. Maka terjadilah pergulatan di dalam dirinya. Pergulatan antara kesetiaannya kepada Akuwu Tumapel dan kesetiaannya kepada kebenaran. Witantra itu menarik nafas dalam-dalam. Diingatnya tiba-tiba istrinya yang masih muda dan ibunya yang sudah tua.
“Hem,” ia berdesah di dalam hatinya.
Orang-orang itu pun harus menjadi bahan pertimbangannya. Kalau ia menentang perintah Akuwu Tunggul Ametung, maka akibatnya, ia akan kehilangan pangkat dan jabatannya. Bahkan mungkin ia akan diusir dari Tumapel. Lalu ke manakah ia akan pergi? Bagaimanakah kemudian dengan istri dan ibunya? Istri Witantra bukanlah seorang gadis yang dapat mengalami kesulitan-kesulitan.
Istrinya adalah seorang perempuan yang manja, yang hanya dapat menikmati kebesaran nama dan jabatannya. Bahkan istrinya itu bersedia dikawininya, karena Witantra adalah salah seorang pemimpin prajurit pengawal akuwu. Kalau kemudian ia kehilangan pangkat dan jabatannya, maka ia pasti akan kehilangan istrinya itu pula.
Kuda-kuda yang ditumpangi oleh rombongan dari Tumapel itu berjalan terus. Derap kakinya mengejutkan setiap penduduk Panawijen. Beberapa orang menjadi gemetar karenanya, dan beberapa orang mengeluh d dalam hatinya,
“Kasihan Empu Purwa. Gadisnya benar-benar akan hilang ditelan oleh Kuda Sempana.”
Berita tentang kedatangan akuwu itu pun segera menjalar ke telinga Ki Buyut Panawijen. Dengan debar di dalam dadanya ia bertanya, “Kau melihat Akuwu sendiri datang?”
“Ya,” sahut orang yang memberitahukan kepada Buyut itu.
“Di manakah Wiraprana?”
“Mungkin di rumah Empu Purwa.”
“Jangan melawan. Usahakan saja untuk menyembunyikan gadis itu. Cepat!”
“Tetapi orang-orang dari Tumapel itu berkuda. Aku tak akan dapat mendahuluinya.”
“Cobalah!” berkata Buyut itu, “aku akan segera dalang pula ke sana.”
Orang itu pun berusaha memenuhi permintaan tetua padukuhannya. Dengan penuh belas kasihan orang itu berlari menerobos halaman-halaman rumah tetangga-tetangganya dan melintasi kebun-kebun yang rimbun. Akhirnya ia sampai juga ke rumah Empu Purwa sebelum iring-iringan kuda yang harus berjalan melingkar-lingkar itu datang. Degan penuh kecemasan, maka segera ia bercerita tentang apa yang diketahuinya. Wiraprana dan Ken Dedes menjadi terkejut bukan buatan. Wajah gadis itu tiba-tiba menjadi pucat dan tubuh Wiraprana bergetaran.
“Apakah mereka sedang menuju kemari?”
“Ya.”
Wiraprana menjadi bingung Dan tiba-tiba ia bergumam, “Kenapa Agni belum juga pulang. Ternyata ia hanya berbuat menurut kemauannya sendiri. Ia tidak berpikir tentang kami di sini.”
“Jangan hanya menyalahkan Kakang Agni,” potong Ken Dedes, “lalu apa yang harus kita lakukan?”
Wiraprana diam sesaat. Kemudian katanya “Pendapat ayah baik sekali. Mari kita bersembunyi di luar rumah ini.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Kemudian kepada seorang cantrik ia berkata “Katakan bahwa kami tidak ada di rumah. Sejak kemarin kami meninggalkan rumah ini.”
Cantrik itu menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Baik. Baik akan kukatakan kepada mereka.”
“Cepat pergilah!” desak emban tua yang masih sangat lemahnya setelah ia kemarin dicederai oleh Kuda Sempana.
“Tetapi apakah mereka tidak akan mencari kita di seluruh padukuhan ini,” desah Wiraprana.
“Cepat!” tiba-tiba emban tua itu membentak, “Jangan ributkan hal yang lain-lain. Bersembunyi.”
Wiraprana tidak membantah. Ia tidak sempat menjadi heran atas sikap emban yang tiba-tiba menjadi garang itu. Karena itu maka segera ia melangkah turun dari pendapa. Tetapi keduanya terlambat. Sebelum mereka mencapai regol halaman, maka tiba-tiba mereka mendengar derap kuda mendekati regol itu.
“Cepat kembali!” teriak emban tua itu, “panjatlah dinding belakang.”
Tetapi Wiraprana tidak sempat berbuat demikian. Sebelum sempat memutar tubuhnya, maka muncullah seekor kuda yang tegar dari regol pagar. Seekor, disusul oleh yang lain dan akhirnya halaman itu pun telah hampir penuh dengan kuda-kuda dan penunggangnya. Meskipun demikian, di luar regol itu pun masih ada dua tiga ekor kuda yang di punggungnya duduk prajurit-prajurit yang sudah siap untuk berbuat apa saja.
Tubuh Ken Dedes tiba-tiba menjadi lemah seakan-akan kehilangan segenap tulang belulangnya. Dilihatnya Kuda Sempana tersenyum di atas punggung kuda dan di sampingnya seorang yang gagah dengan pakaian gemerlapan. Tunggul Ametung sesaat diam terpaku. Inikah gadis yang disebut oleh Kuda Sempana itu? Karena itu, maka terdengar suaranya berat parau,
“Kuda Sempana, adakah gadis ini yang kau sebut-sebut bernama Ken Dedes?”
Kuda Sempana menarik keningnya. Sahutnya “Dari mana Tuanku tahu?”
Tunggul Ametung tertawa. “Aku hanya menduga. Gadis ini adalah gadis yang cantik sekali.”
Sekali lagi Kuda Sempana menarik keningnya. Ketika kemudian ia memandangi gadis itu, dilihatnya Ken Dedes menjadi pucat sepucat mayat. Tetapi Kuda Sempana tidak memedulikannya. Dengan lantang ia berkata,
“Atas nama Tuanku Akuwu Tumapel, maka aku diperintahkan untuk membawa Ken Dedes ke Tumapel.”
Meskipun hal itu sudah diduganya sejak Kuda Sempana itu memasuki regol halaman, namun kata-kata telah menampar hati Ken Dedes dan Wiraprana seperti gunung yang runtuh menimpa dadanya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes itu berpegangan lengan Wiraprana dengan eratnya seolah-olah tak akan dapat dipisahkan oleh kekuatan apapun. Namun mereka adalah manusia biasa. Manusia yang memiliki kekuatan dan ketahanan yang terbatas. Karena itu, maka mereka tak akan dapat mencegah kekuatan-kekuatan yang berat melanda mereka dan menghanyutkan mereka ke dalam arus yang mengerikan
Kuda Sempana menjadi panas melihat sikap Ken Dedes itu. Karena itu maka ia membentak sekali lagi, “Ken Dedes. Kali ini jangan menentang kehendak Akuwu. Meskipun aku sendiri tidak terlalu bernafsu untuk membawamu serta, sebab kau adalah seorang gadis pedesaan, namun demikianlah kehendak Akuwu.”
Tidak hanya Wiraprana dan Ken Dedes saja yang terkejut mendegar kata-kata Kuda Sempana, namun timbullah berbagai persoalan pula di dalam hati Witantra.
“Kuda Sempana,” tiba-tiba Wiraprana itu berkata dengan suara yang bergetar, “apakah sebenarnya kehendakmu?”
“Jangan banyak cakap!” potong Kuda Sempana, “kau harus melepaskan Ken Dedes dan Ken Dedes harus pergi ke Tumapel.”
“Tidak!” bantah Ken Dedes.
“Sekali lagi, jangan menyangkal!” Kuda Sempana menjadi sangat marah, ia tidak mau mengadakan perdebatan terlalu lama, sebab dengan demikian, maka persoalan yang sebenarnya akan mungkin didengar oleh Tunggul Ametung. Karena itu maka ia berteriak, “Wiraprana. Tinggalkan Ken Dedes, atau aku memaksamu?”
Witantra menjadi bingung mendengar nama itu disebut. Wiraprana sepanjang pengetahuannya berada di rumahnya. Tetapi tiba-tiba di sini ia berhadapan dengan Wiraprana pula. Namun sementara itu ia tidak mau memikirkan keanehan itu yang berputar-putar di dalam kepalanya adalah kekejian Kuda Sempana. Karena itu maka tiba-tiba kembali memberanikan diri bertanya kepada Tunggul Ametung,
“Tuanku, apakah peristiwa ini Tuanku lakukan atas permintaan Kuda Sempana itu?”
Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tiba-tiba akuwu menjawab, “Ya.”
Dada Witantra berdesir karenanya. Juga Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban itu. Namun sebelum ia sempat menyahut, Witantra telah bertanya pula,
“Apakah Tuanku telah menimbang baik buruknya, Akuwu memenuhi pemintaannya?”
“Aku tidak mau dihinanya!” teriak Akuwu itu, sehingga orang-orang yang belum pernah melihat Tunggul Ametung itu menjadi terkejut sehingga Ken Dedes menjadi gemetar ketakutan.
Witantra itu mendesak terus. Ia sudah terlalu biasa mendengar Tunggul Ametung berteriak-teriak. Apalagi kini dadanya sedang dipenuhi oleh perasaan muak atas perbuatan Kuda Sempana Katanya,
“Tuanku, apakah Tuanku yakin, bahwa orang tua gadis itu pernah menghina Tuanku?”
Tunggul Ametung menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi. Kemudian ditatapnya wajah Kuda Sempana sambil berkata, “Kuda Sempana mengatakan itu kepadaku.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya kepada Kuda Sempana, “Kau berkata sebenarnya Adi?”
“Kakang,” potong Kuda Sempana, “Jangan ikut campur dalam persoalan ini. Apakah kau akan ikut menghina Akuwu di hadapan orang Panawijen?”
Sebelum Witantra menjawab, tiba-tiba kata-kata Kuda Sempana itu mengena sasarannya, sehingga sekali lagi Akuwu itu berteriak, “He, Witantra, apa kepentinganmu atas persoalan ini? Aku telah memutuskan untuk memberi kesempatan kepada Kuda Sempana mengambil gadis itu. Apa pedulimu?”
Namun Witantra telah tidak dapat menahan lagi sentuhan-sentuhan atas rasa keadilannya. Maka dengan tatagnya ia menjawab, “Akuwu. Hamba adalah seorang prajurit yang selama ini selalu setia akan tugas-tugas hamba. Namun selama ini hamba belum pernah melihat Akuwu Tunggul Ametung berbuat tergesa-gesa seperti kali ini. Tuanku, kali ini Tuanku berhadapan dengan Kuda Sempana dan orang-orang yang dikatakan telah menghina Tuanku itu. Apakah Tuanku Tunggul Ametung sama sekali tidak berhasrat untuk menanyakan kebenarannya kepada pihak-pihak yang bersangkutan?”
“He,” tiba-tiba Akuwu itu menjadi ragu-ragu. Ketika Kuda Sempana akan menyahut, maka Akuwu itu membentak, “Jangan berteriak Kuda Sempana. Kata-kata Witantra mengandung kebenaran.”
“Tetapi Tuanku,” berkata Kuda Sempana, “orang yang licik itu akan dapat memutar balik kenyataan, Selain itu, maka bukanlah hamba telah mengatakan bahwa hamba telah memutuskan untuk menerima nasib hamba yang malang itu. Namun Tuanku memaksa hamba untuk melakukan perbuatan ini. Sekarang, apakah hamba harus menanggung malu untuk yang kedua kalinya, justru karena perintah Tuanku?”
“He,” kembali Akuwu itu menjadi bimbang. Sesaat kemudian ia berkata, “Ya, ya. Aku telah memerintahkan kepadamu.”
“Tuanku,” potong Witantra, “Tuanku dapat mencabut setiap perintah yang hanya berdasarkan keterangan-keterangan yang tidak benar. Sekarang, apakah perintah Tuanku itu sudah didasari atas keterangan-keterangan yang benar? Kalau Tuanku mencabut perintah itu, sama sekali bukan kesalahan Tuanku, namun yang memberi keterangan itulah yang bersalah.”
Akuwu Tumapel itu menjadi bingung. Namun tiba-tiba sekali lagi dipandangnya wajah gadis yang berdiri ketakutan di halaman rumahnya itu. Wajah seorang gadis yang tulus dan wajar, sewajar gadis pedesaan yang lain. Tanpa pulasan apapun wajah Ken Dedes telah memancar seperti bulan tanggal setengah.
Semua yang berdiri di halaman itu menjadi tegang. Semuanya memandang wajah Akuwu Tumapel. Alisnya yang tebal bergerak-gerak tak hentinya. Tiba-tiba Akuwu itu mengangkat dadanya dan berteriak nyaring,
“Akulah Akuwu Tumapel. Semua kekuasaan berada di tanganku.” Kemudian kepada Kuda Sempana ia berkata, “Kuda Sempana, ambil gadis itu!”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar