MENU

Ads

Rabu, 18 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 051

PdLS-11
TERNYATA BUKAN SAJA Tunggul Ametung, yang menjadi gelisah. Beberapa orang perwira menjadi gelisah pula. Namun sebagian dari mereka sama sekali tidak memikirkan nasib gadis Panawijen itu apabila Witantra dikalahkan, sebab mereka hampir tidak tahu menahu persoalan itu. Yang mereka cemaskan, seandainya Witantra dapat dikalahkan oleh Kuda Sempana, maka sebagai prajurit-prajurit Tumapel, mereka akan menjadi malu. Harga diri mereka akan tersinggung karenanya. Mereka menjadi cemas benar-benar karena nama mereka sendiri. Karena kepentingan mereka masing-masing. Meskipun di dalam hati mereka tersimpan juga perasaan heran akan kelincahan Kuda Sempana. Sebagai pelayan dalam yang mempunyai kedudukan setengah prajurit itu, Kuda Sempana benar-benar dapat dibanggakan.

Berbeda dengan beberapa pelayan dalam yang hadir di tepi arena itu. Seperti juga para prajurit, mereka tidak menghiraukan persoalan yang tengah mereka perjuangkan. Mereka kini hanya dapat melihat suatu kebanggaan di dalam lingkungannya. Kuda Sempana ternyata tidak kalah tangkas dan lincahnya, meskipun ia sedang bertempur melawan seorang perwira prajurit pengawal istana. Salah seorang dari mereka tidak dapat mengendalikan perasaannya. Sehingga dengan penuh gelora kebanggaan ia berbisik kepada seorang pelayan dalam lain yang duduk di sampingnya,

“Lihat, bukankah di lingkungan kami, ada juga seorang yang tidak kalah tangkasnya dari mereka yang telah disebut prajurit sepenuhnya?”

“Gila kau,” sahut kawannya itu, “itu bukan suatu keistimewaan. Sedang seorang petani, anak padesan mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Bahkan membunuhnya pun ia mampu.”

“Ah. Petani yang mana?”

Kawannya itu mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku mendengar dari seorang perempuan tua, keluarga petani itu. Kuda Sempana pernah diampuninya, meskipun seandainya ia mau, maka ia akan dapat memenggal leher Kuda Sempana itu dengan mudahnya.”

Pelayan dalam yang sedang berbangga itu mengerutkan keningnya. Apakah yang dikatakan kawannya itu sebenarnya telah terjadi atau hanya kawannya itu menjadi iri hati atas ketrampilan Kuda Sempana. Dengan ragu-ragu ia bertanya,

“Apakah kau berkata sebenarnya, atau perempuan tua itu membual?”

“Sebenarnya. Kuda Sempana belum apa-apa. Lihat, kalau Witantra telah dapat menindas keragu-raguannya maka Kuda Sempana akan segera dapat dilemparkan dari arena.”

“Gila. Apakah kau tidak berbangga atas kemenangan kawan kita itu?”

“Hm. Tidak. Terkutuklah Kuda Sempana itu. Kau iri hati.”

“Tidak. Aku berani melawannya. Aku pernah bertempur dengan anak padesaan yang mampu mengalahkan Kuda Sempana itu. Dan anak muda itu belum mampu mengalahkan aku.”

Pelayan dalam itu berpaling. Ia terkejut ketika dilihat wajah kawannya yang merah membara. Kawannya itu ternyata adalah Ken Arok. Pelayan dalam, kawan Ken Arok yang tidak banyak mengetahui persoalannya itu menjadi sangat heran. Kenapa Ken Arok seolah-olah menjadi marah melihat perkelahian itu, sehingga tanpa sesadarnya ia bertanya,

“Kenapa kau Ken Arok.”

Ken Arok tidak menjawab. Matanya yang bulat masih saja memandang perkelahian itu hampir tanpa berkedip.

“Ken Arok,” berkata kawannya, “bukankah dengan demikian maka orang tidak akan dapat menganggap kami orang-orang banci yang tidak berarti di halaman istana ini selain menjadi pesuruh. Mengantarkan perintah Akuwu akan melihat gedung-gedung perbendaharaan, memelihara pusaka-pusaka dan pekerjaan itu yang semacamnya. Bukankah dengan demikian mata seluruh penduduk Tumapel akan terbuka, bahwa kami pun prajurit-prajurit yang mampu mengerahkan tenaga dan bertempur seperti selayaknya prajurit.”

“Tidak perlu,” sahut Ken Arok pendek.

Kawan itu menjadi semakin heran. Dengan dahi berkerut-kerut ia bertanya pula, “Kenapa? Apakah kita tidak memiliki kebanggaan atas kesatuan kita?”

“Kali ini yang penting bukan kesatuan. Bukan seorang pelayan dalam dan seorang prajurit. Kalau kau berpikir demikian, dan para prajurit itu juga berpikir seperti kamu, maka akan segera timbul pertengkaran antara kita.”



“Bukan begitu Ken Arok. Bukan begitu.”

“Sudahlah. Lihat, sekarang Witantra sudah agak maju. Ia sudah hampir berhasil menindas kebimbangannya. Ia terlalu jujur dan baik hati.”

Kawannya masih tetap tidak dapat mengerti, kenapa Ken Arok tidak berpihak kepada Kuda Sempana. Sehingga sekali lagi ia bertanya, “Kenapa kau berpihak pada perwira itu, apakah sebentar lagi akan berpindah ke kesatuannya.”

“Tidak. Tetapi aku melihat persoalannya. Bukan siapakah yang sedang melakukan. Aku tidak peduli apakah Kuda Sempana itu dari kesatuanku apakah ia adikku atau ayahku sekalipun. Ia berada di pihak yang salah.”

Kawannya mengerutkan keningnya. Sekali ia menarik nafas. Kenapa Kuda Sempana bersalah. Kalau ia bersalah, maka Akuwu pasti akan menangkap dan menghukumnya. Pasti ada sesuatu sebab, kenapa Akuwu memberinya kesempatan. Tetapi ketika ia hampir membuka mulutnya, terdengar ken Arok berdesis tajam,

“Jangan bicara lagi. Aku tidak senang mendengarnya. Sebab kau berpihak tanpa mengetahui persoalannya. Sedang aku berpihak pada kebenaran. Nanti kita akan bertengkar sendiri. Besok kalau kau sudah mendengar ceritera yang sebenarnya kau akan sependapat dengan aku.”

Orang itu mengurungkan niatnya. Ketika ia memperhatikan perkelahian di arena, maka kembali keningnya berkerut. Perkelahian itu telah berubah sama sekali. Ia tidak melihat lagi Kuda Sempana mendesak Witantra terus menerus. Kini yang dilihatnya perkelahian itu menjadi agak seimbang. Hanya sekali-kali Kuda Sempana berhasil mendorong Witantra surut dan mencoba memburunya. Namun sesaat kemudian Witantra telah menemukan keseimbangannya kembali, sehingga dengan cepatnya ia mendahului menyerang dan segera ia mendapatkan tempatnya kembali.

Pelayan dalam kawan Ken Arok, mengerutkan keningnya. Ia mulai ragu-ragu dengan penglihatannya. Apakah benar Witantra akan dapat mengalahkan Kuda Sempana? Namun kemungkinan itu masih jauh. Sekali-kali ia masih melihat Kuda Sempana menguasai arena. Karena itu ia menarik nafas dalam-dalam.

Bahkan kembali ia bergumam, “Kedudukan Kuda Sempana masih cukup baik.”

Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia menggigit bibirnya untuk menahan kejengkelannya. Namun kawannya itu agaknya sama sekali tidak puas dengan pendirian Ken Arok, sehingga ia berkata,

“Huh, aku sangka, Witantra itu tidak akan bertahan lebih lama. Ia hanya sekedar orang yang berlagak sakti. Lihat itu adik-adik seperguruannya yang nakalnya bukan main. Kebo Ijo. Untung ia tidak jadi kawin dengan adikku. Sekarang bakal isterinya hampir-hampir tak pernah diperhatikannya lagi. Ia sudah akan kawin meskipun masih terlalu muda karena kebengalannya. Masih terpandanglah adiknya yang lain Mahendra.”

Ken Arok menjadi semakin jemu mendengar kata-kata itu. Kalau tidak di lingkungan orang banyak maka mulut orang itu pasti sudah disumbatnya. Namun kini ia hanya dapat menggeser untuk beberapa jengkal.

Tetapi orang itu benar-benar menjengkelkan. Ia bergeser pula mengikutinya sambil berkata, “He, Ken Arok. Apakah kau ingin supaya kau yang mengganti Kuda Sempana bertempur melawan Witantra supaya kau mendapat hadiah itu?”

Ken Arok menggeram. Akhirnya ia menjawab. “Aku ingin menggantikan Witantra dan mencekik leher Kuda Sempana.”

Kawannya tertawa perlahan. Desisnya, “Kau benar iri. Kalau tidak kau tidak akan berbuat begitu.”

Ken Arok hampir tak dapat menguasai dirinya. Sesaat ia bingung bagaimana caranya membungkam mulut kawannya itu. Tiba-tiba itu, tangannya yang kuat itu perlahan-lahan menyobek tikar tempat duduknya, dan dari bawah tikar itu diambilnya sebuah batu. Ketika kawan di sampingnya masih berkata pula, Ken Arok memotongnya,

“Kau mau diam atau tidak?”

Orang itu bahkan tertawa meskipun perlahan-lahan. Kemudian jawabnya, “Itu adalah urusanku. Apakah aku mau berkata terus, atau aku mau diam.”

“Tetapi kau mengganggu aku.”

“Salahmu. Kalau kau terasa terganggu.”

“Jangan tunggu sampai aku membungkam mulutmu.”

Orang itu membelalakkan matanya dengan marahnya. Bahkan ia berkata, “Jangan sombong orang baru. Aku bunuh kau nanti.”

Kini Ken Arok benar tidak dapat menahan dirinya. Sehingga dengan geramnya ia menunjukan sebuah batu di tangannya itu sambil berkata, “Lihat, inilah mulutmu itu.”

“Mau apa kau,“ tantang kawannya.

Ken Arok tidak menjawab, tetapi tiba-tiba kedua tangannya meremas batu di tangannya sehingga pecah menjadi tiga. Ternyata karena luapan kemarahannya, Ken Arok telah menghimpun kekuatannya di dalam tangannya itu, sehingga dengan satu gerakan yang luar biasa dahsyatnya, tangannya berhasil memecahkan batu itu tanpa berkisar dari tempat duduknya. Kawannya pelayan dalam yang duduk di samping, yang dengan bicaranya telah membakar kemarahan Ken Arok itu terkejut bukan alang kepalang. Seperti melihat hantu di bawah terik matahari ia membelalakkan matanya.

“Batu itu pecah,” gumamnya di dalam hati, “ya, pecah. Dan sepasang mata ini telah melihat.”

Tiba-tiba tubuhnya menggigil menahan perasaannya yang bergolak itu. Hampir tidak mungkin terjadi, dan ia tidak akan percaya seandainya orang lain yang mengatakan kepadanya, bahwa sambil duduk tepekur Ken Arok mampu memecahkan batu-batu dengan jari-jarinya. Tetapi itu telah terjadi. Mulut orang itu bergetar, namun ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ketika Ken Arok meletakkan pecahan batu itu di pangkuannya, orang itu sama sekali tidak mampu untuk menerima dengan tangannya. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok berdesis,

“Nah. Lihat batu itu, Kalau kau berkata sepatah kata lagi, apalagi memuji Kuda Sempana atau mengancam membunuh aku, maka mulutmulah yang akan aku remas seperti batu itu. Aku yakin bahwa mulutmu pasti lebih lunak daripada batu. Bagaimana?”

Seperti dikuasai oleh kekuatan yang tak dimengerti maka orang itu menganggukkan kepalanya berkali-kali seakan-akan ia ingin meyakinkan, bahwa ia benar-benar tidak akan berkata sepatah katapun lagi.

“Lihat arena itu,“ geram Ken Arok.

Orang itu mengangkat wajahnya, dan dilihatnya apa yang terjadi di arena. Kembali ia terkejut. Keseimbangan perkelahian itu benar-benar telah berubah. Ternyata, Witantra yang mendapat tekanan terus menerus tanpa terkendali, akhirnya sedikit demi sedikit kesabarannya berguguran seperti batu padas di pinggir lautan. Sedikit demi sedikit gelombang menggamitnya siang dan malam. Sehingga akhirnya, selapis demi selapis, betapapun tipisnya, batu padas itu pun akan rontok.

Demikianlah Witantra kemudian telah hampir kehilangan kesabaranya. Dengan sekuat tenaga ia telah berhasil menindas keragu-raguannya. Namun meskipun demikian, ia sama sekali tidak kehilangan ketenangan dan kesadarannya, bahwa apa yang dilakukan bukanlah suatu nyala dendam di dalam hati, bukan suatu keharusan untuk memusnahkan, tetapi sekedar untuk menundukkan hati Kuda Sempana yang keras sekeras batu hitam.

Demikianlah kemudian ternyata, bahwa prajurit perwira pengawal istana itu dapat menguasai keadaan sebaik-baiknya. Betapapun dahsyatnya tenaga dan kemampuan Kuda Sempana, namun ilmu yang tersimpan di dalam diri Witantra mampu mengimbanginya. Witantra adalah seorang yang memiliki perbendaharaan pengalaman yang sangat luas. Perang tanding, gelar-gelar perang dan bahkan dalam perang-perang berubah yang kacau. Itulah sebabnya, maka ia mempunyai banyak cara untuk menundukkan musuh-musuhnya.

Kali ini Witantra menempuh cara yang sangat sederhana. Dibiarkannya lawannya bekerja mati-matian. Dilayaninya lawan itu secukupnya, asal dirinya sendiri tidak terjatuhkan karenanya. Dan kemudian dibiarkannya lawan itu menjadi sedemikian bernafsu. Akhirnya lawannya akan berhenti kelelahan. Demikianlah maka setiap kali Witantra hanya memancing nafsu Kuda Sempana yang sedang meluap-luap. Sekali ia menyerang, menyentuhnya apabila mungkin, atau menekannya seketat-ketatnya. Apabila Kuda Sempana kemudian melepaskan semua kekuatan, kemampuan dan tenaganya, maka dibiarkannya kuda Sempana menghabiskan nafasnya sendiri. Witantra melawannya sekedar untuk membebaskan dirinya dari serangan yang berbahaya.

Beberapa orang melihat cara yang ditempuh Kuda Sempana itu. Akuwu Tumapel pun melihat pula. Dalam kebingungannya Akuwu Tumapel tidak dapat menilai, apakah cara itu adalah cara yang sebaik-baiknya. Sekali-kali ia berpaling, dicarinya orang-orang yang akan dapat diajaknya berbicara untuk mengurangi ketegangan yang menghimpit perasaannya. Tetapi orang-orang yang duduk di belakangnya adalah orang-orang yang sama sekali tidak tahu menahu persoalan itu dengan baik, sehingga Akuwu takut, seandainya ada kata-katanya yang terloncat tanpa disadarinya.

Tetapi agak jauh di belakang, tiba-tiba dilihatnya Ken Arok dengan wajah yang tidak kalah tegangnya dengan wajah Tunggul Ametung sendiri. Karena itu dengan serta merta, Tunggul Ametung melambaikan tangannya, memanggil Ken Arok untuk maju dan duduk di sampingnya. Ken Arok menjadi ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ditebarkannya pandangan matanya berkeliling. Ia mengerutkan keningnya ketika dirasanya semua mata sejenak melepaskan perkelahian di arena dan memandang kepadanya.

Sekali lagi Tunggul Ametung melambaikan tangannya. Dan Ken Arok tidak dapat menolaknya. Apabila ia tidak segera datang, maka Tunggul Ametung itu pasti akan berteriak-teriak membentaknya. Karena itu, sambil berjongkok ia beringsut maju. Melampaui beberapa pemimpin pelayan dalam dan kemudian beberapa perwira dari berbagai kesatuan. Akhirnya ia duduk di belakang Tunggul Ametung. Namun terasa Tunggul Ametung itu menyambar tangannya dan menariknya dekat di sampingnya.

Alangkah kuatnya tangan itu. Ketika jari-jari Tunggul Ametung menyentuhnya, serasa sebuah himpitan besi melingkari tangannya. Sehingga sebelum ia menyadari keadaannya, ia sudah terpaksa beringsut maju. Ken Arok menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena ia duduk di samping Akuwu, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan, namun demikian, diketahuinya, betapa kuatnya tangan Akuwu Tunggul Ametung. Betapa tenaga yang tersirat dan di dalam tubuhnya.

Baru Sejenak kemudian, tubuh Ken Arok telah dibasahi oleh keringat dinginnya. Sebagai seorang pelayan dalam dari tingkat yang paling rendah, maka tiba-tiba ia harus duduk di samping Akuwu Tunggul Ametung, di muka para perwira dan pimpinan pemerintahan. Betapapun juga hati Ken Arok bergetar semakin cepat. Mungkin Akuwu lebih mengenalnya dari kawan-kawannya, dan itu hanya karena seorang Pendeta langsung menyerahkannya untuk menghamba kepada Tunggul Ametung sendiri. Tetapi untuk kemudian langsung duduk di sampingnya dalam keadaan yang resmi itu benar-benar mendebarkan.

Ternyata beberapa orang pun menjadi heran, kenapa Akuwu memanggil seorang pelayan dalam yang belum lama menghambakan diri di Tumapel. Namun segera mereka kehilangan perhatian atas persoalan itu, sebab mereka semuanya telah mengenal tabiat dari Akuwu Tunggul Ametung.

Di samping kegelisahannya tentang dirinya, Ken Arok tak habis pikirnya, kekuatan apakah yang menyebabkan tangan Akuwu itu serasa sekeras besi. Seorang pelayan dalam, kawannya, hampir mati beku melihat jari-jarinya mampu memecahkan sebutir batu. Apalagi kalau dirasakannya betapa keras dan kuatnya tangan Tunggul Ametung dalam keadaan yang wajar itu. Bagaimanakah kira-kira kekuatan tangan itu apabila dilambari oleh pemusatan kekuatan lahir dan batinnya. Mustahil seorang Akuwu tidak menyimpan ilmu yang kuat di dalam dirinya.

“Kalau Akuwu Tunggul Ametung sendiri yang tampil di arena, maka aku kira Kuda Sempana akan menjadi lumat,” pikir Ken Arok.

Sementara perkelahian masih berlangsung terus. Witantra masih membiarkan lawannya menyerangnya dengan sepenuh nafsu kemarahannya. Witantra masih melayaninya dengan cara yang sama, membiarkan lawannya berhenti kelelahan.

Akuwu Tunggul Ametung menggeram-geram dan demikian katanya kepada Ken Arok perlahan “serangan itu lihat dalam perkelahian itu?”

Ken Arok menjadi bingung. Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Apakah sebenarnya yang dilihatnya? Kuda Sempana bertempur mati-matian dan Witantra berjuang untuk mempertahankan dirinya?

Sekali lagi Tunggul Ametung mendesaknya, “He apa yang kau lihat? Apakah kau tidur?”

Ken Arok tidak dapat menjawab lain dari pada yang dilihatnya, Karena itu dengan terburu-buru ia berkata, “Hamba melihat kakang Witantra mencoba mengalahkan lawannya dengan memberinya kesempatan berbuat sebanyak-banyaknya sehingga kemudian ia akan menjadi sangat lelah.”

“Ya. Kedua-duanya tolol,” geram Tunggul Ametung, “alangkah bodohnya Kuda Sempana. Ia dapat berbuat lain dari pada menghabiskan nafasnya. Dan alangkah bodohnya Witantra. Ia dapat mempersingkat perkelahian itu dan ia akan cepat selesai pula.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Pendapat Akuwu Tunggul Ametung itu tepat benar menurut penilaian Ken Arok. Sekali ia berpaling memandangi wajah Akuwu yang tegang, namun kemudian kembali matanya terlempar ke arena, kepada Witantra dan Kuda Sempana yang lagi memeras tenaganya.

Tetapi, Witantra dan Kuda Sempana sendiri ternyata berada dalam keadaan yang berbeda. Meskipun di dalam dada Witantra kadang-kadang timbul pula keinginannya untuk segera mengakhiri perkelahian, namun untuk menundukkan Kuda Sempana bukanlah pekerjaan yang terlalu mudah baginya. Sekali-kali ia telah mencoba pula, menyerang seperti badai menghantam gunung meskipun ia masih selalu diganggu oleh kesadarannya bahwa ia tidak harus mencederai lawannya, namun Kuda Sempana mampu saja menyelamatkan dirinya, dan masih saja berhasil bertahan dan menyerangnya… terasa oleh Witantra bahwa agaknya Kuda Sempana masih dapat mengendalikan dirinya sehingga geraknya… kan segenap kemarahan dan sakit hatinya… kemudian dipergunakan oleh Witantra.

Dalam pada itu Kuda Sempana yang sedang berkelahi mati-matian itu, benar-benar kehilangan pengamatan. Bagi mereka yang duduk diluar arena, segera dapat melihat, bahwa Witantra menunggunya sampai tenaganya terperas habis. Tetapi bagi Kuda Sempana sendiri yang berada di arena, yang melihat perkelahian itu tanpa jarak, tidaklah segera ia dapat merasakan siasat Witantra itu. Apalagi Witantra melakukan dengan baik dan cermat. Sekali-kali Witantra ia memancingnya dalam pemerasan tenaga dan nafas, namun kemudian dibiarkannya Kuda Sempana menyerangnya bertubi-tubi.

Ia hanya berusaha menghindari serangan-serangan itu dan mencoba membiarkan Kuda Sempana menjadi semakin garang. Namun perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat pula. Kuda Sempana benar-benar telah mengerahkan segenap kemampuan dan kecakapannya. Sehingga beberapa orang yang berada diluar arena menjadi semakin tegang. Apakah Witantra akan tetap pada pendiriannya? Membiarkan Kuda Sempana berhenti dengan sendirinya?”

Tetapi keadaan ternyata segera berubah. Witantra semakin lama semakin kehilangan kesempatan untuk mempertahankan diri. Serangan-serangan Kuda Sempana mengalir seperti banjir bandang. Dilandanya semua yang menghalang-halanginya. Semakin lama semakin dahsyat, dan semakin lama derunya semakin cepat. Sehingga kemudian Witantra pun selalu terdesak.

Akhirnya Witantra tidak dapat bertahan dengan caranya. Meskipun ia akan dapat lebih lama bertahan, namun apabila pada suatu ketika serangan Kuda Sempana benar-benar berhasil mengenainya di tempat-tempat yang berbahaya, maka ia pasti akan kehilangan semua kesempatan. Karena itu, maka tiba-tiba ia merubah caranya. Meskipun ia tidak ingin mencelakakan Kuda Sempana, tetapi melawan seseorang yang bertempur diantara hidup dan mati, maka adalah bukan salahnya apabila ia terpaksa mengerahkan segenap kemampuan yang ada pula. Itulah sebabnya kemudian Witantra menggeram dan dengan dahsyatnya ia mulai membalas setiap serangan dengan serangan.

Perubahan pada tata gerak Witantra benar-benar menarik perhatian mereka yang berada diluar arena. Mereka melihat bahwa Witantra berusaha untuk menemukan keseimbangan dalam perkelahian itu. Namun dengan demikian, maka dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan yang sama sekali tidak dikendaki. Dalam perkelahian yang sama-sama keras dan tegang, maka perkelahian itu akan benar-benar menjadi perang tanding dalam tingkat yang tertinggi. Sampai mati.

Witantra semula sama sekali tidak menghendakinya. namun ia tidak mau menjadi korban karenanya. Ia menghindari pembunuhan, tetapi ia juga tidak mau terbunuh dalam arena itu. Serangan-serangan Witantra yang kemudian menjadi semakin dahsyat, terasa pula oleh Kuda Sempana. Anak muda yang semula merasa bahwa ia akan berhasil mengusai lawannya, tiba-tiba menjadi cemas dan ragu-ragu. Kenapa tiba-tiba saja Witantra mampu melawan semua serangan-serangannya dan bahkan dengan dahsyatnya segera menyerang kembali? Dalam kecemasan itu, Witantra mendesaknya terus. Bahkan kemudian terdengar Witantra berdesis,

”Sampai kapan perkelahian itu akan berlangsung adi?”

Kuda Sempana menggeram. Ia tidak peduli apa saja yang akan terjadi atas dirinya. dan diri lawannya sehingga karena itu ia menjawab, “Sampai setiap orang tahu bahwa memang akulah yang berhak atas gadis itu.”

“Jangan berkeras kepala,“ sahut Witantra, “aku akan memperketat serangan seterusnya, apabila kau tidak segera mengakui, bahwa kau akan melepaskan niatmu memiliki Ken Dedes itu.”

“Setan,“ hampir saja Kuda Sempana berteriak, namun untunglah bahwa suaranya seolah-olah tersangkut di kerongkongan.

Namun dengan demikian kemarahannya menanjak sampai ke puncak ubun-ubunnya. Sehingga tanpa sesadarnya, Kuda Sempana telah benar-benar memeras segenap tenaga yang ada di dalam dirinya. Tetapi ternyata Kuda Sempana benar-benar tidak mampu melampaui ketangguhan tenaga Witantra yang mempunyai pengalaman yang sangat luas itu. Apalagi ketika Witantra tidak ia lagi sekedar menunggu Kuda Sempana kelelahan, setelah ia menentukan tekad, bahwa apabila terjadi sesuatu di dalam arena itu, ia sama sekali tidak menghendakinya. Namun adalah mungkin sekali bahwa bermain air akan dapat menjadi basah. Meskipun demikian, Witantra masih saja menyadari keadaan. Ia benar-benar tidak ingin mencelakakan lawannya, apalagi membunuhnya. Ia hanya ingin menjatuhkannya, dan apabila terpaksa melukainya, maka luka itu akan segera dapat disembuhkan.

Tetapi tidak demikian dengan Kuda Sempana. Ia telah kehilangan segala macam ketenangan berpikir. Kini ia merasa bahwa tenaganya semakin lama menjadi semakin surut sebelum ada tanda-tanda bahwa ia akan segera mampu mengalahkan Witantra, bahkan Witantra itu nampaknya semakin lama menjadi semakin garang. Karena itu, setelah ia kehabisan segenap pertimbangannya, setelah ia kehilangan setiap kesempatan untuk memenangkan pertandingan itu, maka sampailah ia pada kesimpulan yang berbahaya. Ia kini sedang melakukan perang tanding, sehingga apapun yang dilakukan, yang bersumber pada dirinya, baginya sama sekali tidak menyalahi ketentuan dan kejantanan. Karena setiap kemampuan yang ada pada dirinya adalah bagian dari dirinya itu, dirinya yang sedang melangsungkan perang tanding di arena. Maka dengan demikian, Kuda Sempana sampai pada kesimpulan bahwa suatu ketika akan dipergunakannya kemampuannya yang tertinggi.

Tunggul Ametung yang menyaksikan perubahan-bahan di dalam tata gerak Witantra, mengangguk-anggukkan kepalanya. Wajahnya kini tidak lagi setegang beberapa saat sebelumnya, seakan-akan ia telah menemukan keyakinan, bahwa Witantra akan dapat menguasai keadaan betapapun lambatnya. Semula Tunggul Ametung benar-benar tidak telaten melihat cara Witantra bertempur. Menunggu, membiarkan lawannya berbuat terlampau banyak. Itu membuang waktu dan waktu baginya adalah sangat penting pada saat-saat itu. Karena tiba-tiba saja ia ingin melihat, apakah gadis yang sedang sakit itu telah menjadi berkurang, atau bahkan menjadi semakin keras.

“Mudah-mudahan dukun tua itu mampu mengurangi penderitaannya,“ gumamnya di dalam hati.

Namun dengan demikian, nafsunya untuk segera melihat perkelahian itu berakhir menjadi semakin besar. Ia ingin segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke sentong tengen melihat gadis Panawijen yang telah menggemparkan istana Tumapel itu. Ketika Akuwu Tunggul Ametung itu berpaling, dilihatnya Ken Arok menarik nafas dalam-dalam, Ken Arok itu pun segera menemukan perubahan-pebahan yang terjadi dalam perkelahian itu. Karena itu, maka iapun menjadi berlega hati.

“Apa,” desis Tunggul Ametung.

Ken Arok terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga tanpa sesadarnya ia menyembah, “Ampun tuanku. Hamba tidak apa-apa.”

“Ada sesuatu yang kau lihat?”

“Hamba tuanku.”

“Witantra mau mati?”

“Tidak tuanku. Kakang Witantra merubah tata geraknya.”

“Anak yang bodoh itu masih saja membuang-buang waktu. Ia takut Kuda Sempana lecet kulitnya. Apa pedulinya kalau Kuda Sempana sendiri bertempur dengan sepenuh tenaganya, bahkan dengan kasar dan keras.”

Ken Arok tidak menjawab. Ia hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba mata Ken Arok itu pun terbelalak. Bukan saja Ken Arok tetapi hampir semua orang yang berada di tepi arena itu. Apalagi Tunggul Ametung sendiri. Sesaat ia terdiam seperti patung, namun kemudian mulutnya berdesis,

“Gila, Kuda Sempana itu.”

Tetapi Kuda Sempana berbuat terus. Ia sudah bertekad untuk membunuh atau dibunuh, sehingga karena itulah maka tidak ada pilihan lain dari pada melepaskan puncak kesaktiannya, aji Kala Bama. Apa yang dilakukan oleh Kuda Sempana benar-benar mengejutkan para perwira dan kesatria yang berada diluar arena. Segera mereka memaklumi apa yang akan dilakukan oleh Kuda Sempana. Sebagian dari mereka menjadi cemas, heran dan sebagian lagi merasa aneh bahwa Kuda Sempana memiliki kekuatan yang akan disalurkan lewat sebuah ilmu yang pasti dahsyat sekali. Namun mereka masih harus menilai, sampai sejauh mana kekuatan itu dapat menembus kekuatan lawannya.

Bahkan ada diantara mereka yang terpaksa menahan nafasnya. Mereka yang merasa dalam dirinya tidak memiliki rangkapan apapun selain kekuatan-kekuatan tenaganya serta ketrampilan geraknya menjadi ngeri. Apakah Witantra akan mampu melawan Kuda Sempana dalam puncak kekuatannya. Mereka hanya mengharap ketrampilan dan kelincahan Witantra, sehingga ia mampu menghindari setiap sentuhan dari kekuatan yang akan dipancarkan oleh lawannya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar