MENU

Ads

Selasa, 17 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 050

“Aku telah menyangka,” sahut Witantra. Meskipun suaranya agak gemetar, namun ia masih tetap tenang, “bahwa Adi tidak akan membiarkannya diambil orang setelah Adi menempuh segala macam cara untuk mendapatkannya.”

“Nah. Katakan kepadaku, siapakah laki-laki itu? Kakang sendiri atau siapa?”

“Aku telah beristri. Aku tidak akan mengambil istri yang lain dari istriku itu.”

“Ya. Itu bukan urusanku. Tetapi siapa?”

Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali ditatapnya wajah akuwu. Namun Tunggul Ametung yang garang itu menundukkan wajahnya.

“Adi Kuda Sempana,” sahut Witantra, “siapa pun yang akan mengambil gadis itu bukan soal. Tetapi aku ingin menjelaskan siapakah yang akan melakukan sayembara tanding untuk itu.”

“Sama sekali bukan sayembara,” potong Kuda Sempana, “sayembara adalah tuntutan gadis itu. Tetapi apa yang akan terjadi adalah kebiadaban. Perkosaan dan perampasan. Nah siapakah orangnya?”

“Oh,” desah Ken Arok mendengar kata-kata Kuda Sempana. Namun ia tidak meneruskannya. Tetapi di dalam hatinya berkecamuk perasaan yang aneh. Kuda Sempana itu dapat berkata dengan mulutnya sendiri. Kebiadaban, perkosaan dan perampasan. Alangkah anehnya manusia ini. Ia dapat mengatakannya untuk orang lain, tetapi terhadap tingkah lakunya sendiri?

Dan terdengar Witantra menjawab, “Mungkin Adi benar. Namun ini adalah akibat perbuatan Adi yang serupa pula.”

Wajah Kuda Sempana menjadi semakin membara mendengar jawaban Witantra itu. Ditatapnya mata Witantra seperti hendak ditembus sampai ke jantungnya untuk melihat siapakah orang yang telah berkhianat itu. Dalam kemarahan terdengar ia menggeram,

“Kakang Witantra, sebutkan orang itu! Apakah akan dinamakan sayembara tanding, apakah akan dinamakan apa saja. Aku tidak akan berkeberatan. Sekarang, besok atau kapan. Namun bagiku lebih cepat lebih baik.”

“Baiklah Adi,” sahut Witantra, “meskipun demikian, marilah kita sebutkan peraturan yang akan berlaku dalam perang tanding itu.”

“Omong kosong dengan segala macam peraturan. Aku tidak berbicara tentang peraturan, pada saat aku mengambil gadis itu,” jawab Kuda Sempana.

“Tetapi itu kurang baik. Marilah kita bersikap seperti orang-orang yang mempunyai adat. Adat yang akan menampakkan sifat-sifat kejantanan kita. Kita tidak sekedar ingin menang, tetapi kita uji, apakah kita laki-laki jantan, apakah kita selicik setan.”

“Bagus. Apakah peraturanmu?”

“Yang kalah harus mengaku kalah. Tak ada persoalan lagi di kemudian hari. Gadis itu berada di tangan yang menang. Apapun yang akan dilakukan atas gadis itu.”

“Apakah tandanya kalah?”

“Menyerah, atau menjadi tidak berdaya.”

“Sampai mati.”

“Itu tidak perlu.”



“Pengecut. Kalau salah seorang terbunuh apakah yang lain masih harus dihukum karena melakukan pembunuhan?”

Witantra mengerutkan keningnya. Kuda Sempana benar-benar sulit untuk diredakan. Namun Witantra dapat mengerti pula perasaannya. Karena itu, disadarinya bahwa pekerjaannya adalah pekerjaan yang sangat berat. Sejenak ia mengalami kesulitan mendengar pertanyaan Kuda Sempana itu, sehingga ia berdiam diri untuk menirnbang-nimbang.

Yang terdengar adalah suara Ken Arok perlahan-lahan, “Tidak.”

Witantra berpaling. Ken Arok yang merasa terlanjur mengucapkan kata-kata itu, segera menundukkan wajahnya. Ketika Witantra memandang wajah Tunggul Ametung sesaat tampaklah wajah itu menjadi tegang.

“Apa yang kau maksud Adi?” bertanya Witantra.

Ken Arok menjadi ragu-ragu, Meskipun demikian ia menjawab sambil menundukkan wajahnya, “Maksudku, kalau terpaksa terbunuh, bukankah itu berarti suatu kecelakaan? Kecelakaan yang tidak dapat dihindarkan, sehingga pihak yang lain tidak dapat dinyatakan bersalah.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian gumamnya lirih, “Ya demikianlah.”

“Bagus!” sambut Kuda Sempana sambil menggosokkan telapak tangannya. Seolah-olah pada saat itu juga telah siap melepaskan kekuatan pamungkasnya, Aji Kala Bama.

Kemudian terdengar Witantra berkata, “Kau sependapat?”

“Aku sependapat,” sahut Kuda Sempana, “Tetapi sebutkan kepadaku. Siapakah yang akan memasuki gelanggang?”

“Itu tidak penting, kau akan melihatnya nanti di arena.”

“Tidak perlu kau rahasiakan Kakang, Sekarang atau nanti aku akan melihatnya,” bantah Kuda Sempana. Tetapi ia menjadi ragu-ragu untuk sesaat, apakah orang itu Mahisa Agni? “Agni terluka,” katanya di dalam hati.

Witantra ragu-ragu sejenak. Sekali-sekali ia melihat Kuda Sempana memandang Ken Arok dengan tajamnya. Kuda Sempana itu pun menaruh curiga, pula kepada pelayan dalam yang baru itu. Tetapi ketika dilihatnya Ken Arok menundukkan wajahnya, maka segera ia mendesak,

“Siapa?”

Witantra menggigit Bibirnya. Banyak persoalan yang mengganggu perasaannya saat itu. tetapi kemudian hatinya menjadi bulat, gadis itu harus diselamatkan.

Karena itu, maka kemudian ia menjawab perlahan-lahan, “Aku, Adi.”

“Kau. Kau?” teriak Kuda Sempana hampir tidak percaya, Matanya seolah-olah hampir meloncat dari kepalanya. Sesaat ia terpukau, namun kemudian ia tertawa, Tertawa aneh sekali. Di antara suara tertawanya ia berkata, “Kau, jadi kau yang telah beristri seperti yang kau katakan tadi jatuh cinta kepada gadis Panawijen itu? Kalau demikian, maka aku benar-benar berbahagia. Gadis itu pasti gadis cantik sekali. Kalau tidak, maka tidak akan ia membuatmu gila Kakang Witantra. Lalu mau kau apakan istrimu yang tua itu? Kau buang? Kau buang? Atau kau madu?”

Witantra membiarkan Kuda Sempana mengumpat-umpat. Dibiarkannya anak muda itu melepaskan perasaan yang menghimpit dadanya dengan suara tertawanya yang menyakitkan hati itu. Tetapi, ternyata Ken Aroklah yang tidak tahan mendengarnya, sehingga sekali-kali ia mengangkat dagunya. Tetapi sebelum ia berkata apa-apa, terdengar suara Tunggul Ametung menggelegar memenuhi ruangan itu. Agaknya Akuwu Tumapel itu pun menjadi muak mendengar kata-kata Kuda Sempana.

“Tutup mulutmu Kuda Sempana! Jangan terlalu sombong! Dengar, gadis itu sama sekali tidak untuk Witantra. Tetapi aku. Aku. Ya. Akuwu Tunggul Ametung yang akan mengambilnya. Tetapi aku tidak mau memaksakan kehendak ini dengan kekuasaan, meskipun aku dapat melakukannya. Witantra akan berkelahi untukku. Tetapi kalau itu kau anggap tidak adil, maka ayo, pilihlah di antara kami. Aku sendiri atau Witantra yang akan maju ke arena. Aku sebagai Tunggul Ametung. Sama sekali tidak membawa kekuasaan Akuwu Tumapel untuk persoalan ini.”

Mulut Kuda Sempana segera terkatup rapat. Meskipun demikian hatinya bergelora dahsyat sekali. Ternyata Akuwu Tunggul Ametunglah yang akan mengambil Ken Dedes. Benar-benar tidak diduganya. Sesaat ia menyesal bahwa ia telah memungkinkan akuwu itu melihat wajah Ken Dedes. Namun kemudian ia menjadi tatag kembali. Akuwu tidak akan membawa kekuasaannya dalam persoalan ini. Sehingga ia diberinya izin memilih lawan Tunggul Ametung atau Witantra yang akan mewakilinya.

Untuk sesaat mulut orang-orang di ruangan itu tertutup rapat-rapat. Tak seorang pun yang segera mengucapkan kata-kata. Yang terdengar adalah nafas mereka bersahut-sahutan seakan-akan sedang berpacu. Kuda Sempana yang dicengkam oleh kedahsyatan gelora di dadanya duduk terpaku dengan tubuh gemetar. Sekejap dipandanginya wajah Tunggul Ametung yang tegang, sejenak kemudian ia berpaling ke arah Witantra yang duduk terpekur. Sekali-sekali ditatapnya juga kepala Ken Arok yang tunduk. Namun Tunggul Ametung tidak menunjuknya menjadi salah seorang yang dapat dipilihnya untuk menjadi lawannya.

Sesaat Kuda Sempana menimbang-nimbang. Apakah ia harus memilih Tunggul Ametung atau ia harus menunjuk Witantra? Kuda Sempana pernah mendengar kesaktian mereka berdua. Meskipun Kuda Sempana sebagai seorang pelayan dalam belum pernah pergi berperang bersama dengan salah seorang dari mereka, namun telah didengarnya, betapa nama-nama mereka menjadi buah bibir kawan dan lawan. Kini ia harus memilih salah seorang daripadanya. Tetapi Kuda Sempana kemudian menengadahkan wajahnya.

“Aku bukan prajurit pengawal raja,” katanya di dalam hati, “tetapi aku dipercaya untuk menjadi seorang pelayan dalam. Aku adalah seorang yang telah mendalami ilmu yang jarang dimiliki orang, Kala Bama. Meskipun seandainya mereka memiliki kekuatan melampaui kekuatan manusia biasa, maka dengan Kala Bama mereka pasti akan luluh.”

Tetapi Kuda Sempana menjadi ragu-ragu sesaat. Mahisa Agni adalah contoh dari mereka yang tidak dapat dihancurkan dengan Kala Bama. Berbeda dengan Wiraprana, yang mati oleh tangannya tanpa kesaktiannya itu dipergunakan. Ketika ia sedang sibuk menimbang-nimbang terdengar Tunggul Ametung yang hampir pingsan karena ketegangan itu, berteriak,

“Ayo, apakah kau tiba-tiba menjadi bisu? Pilih di antara kami berdua, aku atau Witantra!”

Kuda Sempana menarik keningnya. Ia harus cepat-cepat memberikan keputusan. Yang pernah didengarnya, Tunggul Ametung adalah seorang yang sakti tiada taranya. Ia memiliki sebuah pusaka, sebuah tongkat, atau lebih mirip sebuah penggada yang berwarna kekuning-kuningan. Sebuah penggada dari besi baja kuning. Alangkah saktinya pusaka itu, sehingga dengan agak berlebih-lebihan dikatakan orang, bahwa gunung akan runtuh dan lautan akan kering disambar oleh pusaka itu.

Kuda Sempana meraba kerisnya. Keris ini pun sakti bukan buatan. Dengan menunjukkan ujungnya, tanpa menyentuhnya, maka hutan rimba akan terbakar dan bintang bulan akan runtuh ke bumi. Tetapi segera ia menjadi kecewa, Mahisa Agni mampu meruntuhkan keris itu dari tangannya. Mahisa Agni tidak terbakar seperti hutan rimba, dan tidak runtuh seperti bulan bintang.

“Hem,” ia menggeram, “keris ini akan mampu membunuh lawannya, apabila aku berhasil menggoreskan pada kulit lawan.” Karena itu, maka ia tidak akan memilih Tunggul Ametung. Akhirnya setelah bulat tekadnya, maka diangkatnya wajahnya sambil berkata,

“Ampun Tuanku. Hamba akan memilih Kakang Witantra untuk maju, meskipun Tuanku yang menghendaki gadis itu.”

Tunggul Ametung memandang Kuda Sempana dengan tajamnya. “Kenapa?” ia bertanya.

“Kakang Witantra lebih baik bagi hamba,” jawab Kuda Sempana lancar.

Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Sesaat ia menjadi bimbang. Apakah Witantra dapat memenuhi janjinya, membebaskan gadis Panawijen itu, sebab sudah dilihatnya Kuda Sempana mampu membunuh Wiraprana dengan tangannya tanpa kesulitan. Namun Witantra adalah prajuritnya yang tepercaya, sehingga akhirnya ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata,

“Jadilah. Aku akan menyaksikan perang tanding ini. Kapan akan kalian lakukan?”

“Sekarang,” sahut Kuda Sempana.

Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu benar perasaan yang sedang bergolak di dalam dada Kuda Sempana. Karena itu ia bertanya kepada Witantra,

“Bagaimana pendapatmu?”

“Aku sudah menyangka bahwa Adi Kuda Sempana tidak akan dapat bersabar. Aku tidak berkeberatan. Sekarang,” jawab Witantra.

“Bagus. Aku siap menunggumu di luar Kakang Witantra,” berkata Kuda Sempana sambil beringsut dari tempatnya.

“Tunggu!” Tunggul Ametung menahannya. Katanya kemudian, “Aku akan memanggil beberapa orang saksi. Beberapa orang prajurit dan beberapa orang pelayan dalam.”

“Terserah pada Tuanku. Aku tunggu kau di alun-alun, Kakang.”

“Tidak di alun-alun,” potong Tunggul Ametung, “tetapi di halaman belakang istana ini.”

“Kenapa? Biarlah rakyat Tumapel menyaksikan perang tanding ini. Menyaksikan betapa Kuda Sempana mempertahankan haknya yang akan direbut orang.”

“Gila kau!” sahut Tunggul Ametung, “Apa kau sangka gadis itu sudah menjadi hakmu? Tidak, Kuda Sempana. Gadis itu belum hakmu. Akuwu Tunggul Ametung yang sengaja datang ke Panawijen untuk melindunginya dari kekotoran tanganmu, tahu?”

Kuda Sempana terkejut mendengar jawaban akuwu itu. Tetapi Witantra dan Ken Arok sama sekali tidak, sebab mereka sudah berjanji, bahwa akuwu akan mempertanggung-jawabkan pengambilan gadis itu, seolah-olah untuknya sendiri. Hal itu akan lebih baik baginya. Sedang, apabila ternyata Ken Dedes telah bebas dari tangan Kuda Sempana, maka biarlah gadis itu menentukan kehendaknya sebagai tebusan atas kesalahan yang telah terlanjur dilakukan oleh Tunggul Ametung itu.

Dan sebelum Kuda Sempana menjawab akuwu itu meneruskan, “Aku beri kesempatan kau melakukan perang tanding, sebab aku tahu bahwa kau pun merasa berhak pula atas gadis itu. Tetapi tidak di muka rakyat Tumapel. Rakyat Tumapel pasti akan menuntutmu, memenggal lehermu di alun-alun sebab kau telah berani mencoba merebut gadis itu dari tanganku, tangan Akuwu Tumapel.”

Kuda Sempana menjadi bingung mendengar keterangan akuwu itu Namun kemudian ia tidak peduli lagi. Cepat-cepat ia beringsut dan berjalan keluar dengan tanpa berkata sepatah kata pun.

Sesaat kemudian Witantra pun mundur pula dari hadapan akuwu, sehingga tinggallah kemudian Ken Arok yang mendapat perintah dari akuwu untuk mengundang beberapa orang perwira prajurit dari berbagai kesatuan dan para pimpinan pelayan dalam.

Sepeninggal Ken Arok, maka Tunggul Ametung segera masuk ke dalam biliknya, mengenakan pakaian kebesarannya untuk menanti persiapan yang dibuat oleh Witantra di halaman belakang istana. Sebuah arena kecil. Kepada beberapa orang juru taman Witantra memerintahkan menyiapkan tempat itu. Membentangkan tikar pandan di sekelilingnya dan beberapa perlengkapan yang lain.

Kuda Sempana yang melihat itu sama sekali tidak bersabar. Dengan lantang ia berkata, “Apa perlunya segala macam persiapan itu? Di sini kita bisa bertempur. Di manapun dan tanpa persiapan apapun.”

“Biarlah kali ini kita lakukan dengan baik, Adi. Meskipun tidak sempurna, biarlah kita lakukan dengan upacara perang tanding antara kesatria.”

“Persetan!” sahut Kuda Sempana yang kemudian berjalan mendekati Witantra, “Kakang Witantra, coba katakan kepadaku, hadiah apa yang dijanjikan kepadamu, sehingga demikian bernafsu kau memisahkan Ken Dedes dariku. Apakah kau dijanjikan untuk menjabat pangkat yang lebih tinggi, bukan sekedar perwira pengawal akuwu, tetapi akan diangkat menjadi senapati agung misalnya, atau Panglima Tumapel atau apa?”

Witantra memandang wajah Kuda Sempana yang penuh hinaan itu dengan tenang. Sekali ia mengangguk-anggukkan kepala, dan kemudian menjawab, “Aku tidak akan menerima hadiah apapun, Adi.”

“Omong kosong!” Kuda Sempana mencibirkan bibirnya, “Lalu apakah pamrihmu? Perempuan itu sendiri?”

Witantra menggelengkan kepalanya, tetapi sebelum ia menjawab Kuda Sempana telah mendahuluinya, “Atau kau sudah diganggu oleh penyakit syaraf. Lihat istana Tumapel gempar hanya karena seorang gadis. Akuwu ternyata curang. Ia mengantarkan aku dan merestui aku mengambil Ken Dedes, tetapi akhirnya ia berkata bahwa ia melindungi gadis itu dari kekotoran tanganku. Apakah demikian nilai janji Akuwu sekarang?”

“Tetapi kau telah menipunya. Nah, apakah demikian, nilai kemanusiaan sekarang?”

“Omong kosong!” kembali Kuda Sempana mencibirkan bibirnya dan kembali ia berkata, “Seluruh isi istana sudah gila. Karena seorang gadis desa, maka istana Tumapel menjadi gempar. Seorang perwira pengawal istana turun ke arena untuk merebut gadis desa itu. Huh!”

Witantra memandang Kuda Sempana dengan tajamnya. Kemudian perlahan-lahan ia berkata, “Kuda Sempana, persoalan ini bagiku bukan sekedar persoalan seorang gadis. Bukan sekedar soal perempuan itu. Tetapi persoalan ini merupakan contoh dari persoalan yang jauh lebih besar. Persoalan kemanusiaan, kebenaran, hak dan kewajiban.”

“Oh?” Kuda Sempana mengangkat wajahnya sambil menarik bibirnya ke sisi. Matanya diredupkannya sambil berkata, “Kakang Witantra ingin menjadi pahlawan?”

“Mungkin,” sahut Witantra sambil mengerutkan keningnya, “tetapi pahlawan atau bukan pahlawan adalah kewajibanku untuk mencegah kelaliman. Gadis itu adalah perwujudan dari tindak sewenang-wenang itu. Kali ini seorang gadis, keluarganya dan bahkan perasaan seluruh rakyat Panawijen. Namun gadis itu dapat berbentuk lain. Kalau kau telah berani merampas kebebasan seorang gadis untuk memenuhi keinginanmu, maka lain kali kau akan berbuat jauh lebih besar. Kalau kau memiliki kekuasaan, maka kau akan melakukannya melampaui apa yang kau lakukan sekarang. Mungkin kau akan merampas hak-hak yang jauh lebih berharga. Tidak hanya satu jiwa, tetapi beribu-ribu. Yang penting bukan gadis itu, gadis yang hanya satu gadis pedesaan. Tetapi yang penting adalah persoalannya. Kau merampas hak kemanusiaannya, dan adalah kewajibanku untuk mencegahnya. Itulah. Dan perkosaan yang kau lakukan dapat berupa perkosaan atas seorang gadis, tetapi juga dapat lain.”

Kuda Sempana menjadi tegang. Ia kini tidak mencibirkan bibirnya lagi. Tidak menarik bibir itu ke sisi dan tidak meredupkan matanya. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Katanya,

“Kau mencoba menghubungkannya, dengan persoalan yang disebut persoalannya, bukan bentuknya. Tetapi kau lupa bahwa untuk kepentingan yang lebih besar maka aku berbuat demikian. Dengan gadis itu di sisiku, aku akan lebih banyak berbuat untuk Tumapel untuk tanah ini.”

“Alasan yang terlalu dibuat-buat. Kau ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi adalah sesuai pengorbanan buat masalah yang lebih besar? Omong kosong! Yang terjadi adalah korban nafsumu yang tak terkendali. Kali ini kau bernafsu atas gadis itu, tetapi lain kali kau bernafsu untuk menjadi akuwu. Dapatkah kau katakan bahwa jabatan akuwu akan memberi kesempatan kepadamu berbuat lebih banyak atas tanah ini? Tumapel?”

“Persetan dengan uraianmu yang bodoh! Nah, kalau demikian apalagi yang kita tunggu?”

“Akuwu,” sahut Witantra.

Kuda Sempana menggeram. Ia benar-benar tidak dapat bersabar lagi. Namun Kuda Sempana itu tidak perlu menunggu terlalu lama. Sebentar kemudian datang Akuwu Tunggul Ametung diiringi oleh beberapa orang perwira. Di wajah-wajah mereka terbayanglah berbagai pertanyaan dan keragu-raguan. Namun di antara mereka, telah juga beredar kabar dari mulut ke mulut, bahwa Istana Tumapel sedang digemparkan oleh seorang gadis Panawijen. Namun beberapa orang perwira dapat mengerti, kenapa Witantra telah menyediakan dirinya dalam persoalan yang tampaknya tidak lebih dari rebutan seorang gadis itu, tetapi yang bagi Witantra, pandangannya jauh menembus pada pokok persoalannya.

Kemanusiaan, kebenaran dan kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi di hari-hari berikutnya, supaya tidak semua orang dapat berbuat seperti Kuda Sempana. Memenuhi nafsu sendiri dengan mengorbankan apa saja, bahkan nama Akuwu Tunggul Ametung sendiri.

Ketika Kuda Sempana melihat beberapa orang yang datang ke arena itu, maka ia menjadi gelisah. Ia menjadi cemas kalau akuwu sekali lagi mengingkari janji. Apabila ia berhasil mengalahkan Witantra maka akuwu akan dapat membuat alasan-alasan lain untuk menyingkirkannya. Sebab di tangan Tunggul Ametung terletak kekuasaan Tumapel. Ia ragu-ragu, apakah benar akuwu dalam hal ini tidak ingin mempergunakan kekuasaan? Bukankah karena kekuasaan akuwu pula maka Witantra dapat mewakilnya.

Tetapi Kuda Sempana tidak mau memusingkan dengan angan-angan yang mencemaskan. Ia akan berteriak di hadapan para satria itu perjanjian yang telah dibuatnya dengan Witantra dan akuwu. Apabila akuwu mengingkarinya biarlah para perwira itu akan dapat menilainya. Sesaat kemudian Kuda Sempana dengan tidak sabar sama sekali telah meloncat ke tengah-tengah gelanggang yang dikelilingi oleh beberapa orang perwira yang duduk di atas selapis tikar pandan. Witantra pun kemudian maju pula setelah menyembah dan berkata kepada Tunggul Ametung,

“Hamba akan mencoba berbuat sebaik-baiknya.”

Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Ia hanya mengangguk kecil penuh kebimbangan. Perasaannya kini justru tidak setenang malam tadi. Perasaannya kini mulai bergolak kembali. Ia takut, sebenarnya takut, bahwa Witantra tidak akan dapat mengalahkan Kuda Sempana. Perasaan akuwu kini bukanlah sekedar ingin membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana, namun tanpa diketahuinya sendiri, perasaan itu telah terdorong semakin jauh. Ia benar-benar ingin memenangkan sayembara ini. Memenangkan untuk memiliki hasil kemenangannya.

Beberapa orang perwira duduk acuh tak acuh. Bahkan ada di antara mereka menggerutu tak habis-habisnya. Kenapa ia harus menyaksikan perkelahian yang berpusar pada persoalan seorang gadis. Namun beberapa perwira yang lain menjadi cemas. Mereka memuji kejujuran Witantra dalam per kelahian itu. Ia benar-benar seorang yang tidak terlibat dalam suatu kepentingan pribadi atas gadis itu.

Ken Arok yang duduk di tepi arena itu pun memandang mereka yang telah siap bertempur dengan pandangan yang suram. Hatinya menjadi berdebar-debar dan bahkan suatu perasaan aneh telah merayapi hatinya. Seperti beberapa orang yang lain, maka Ken Arok jauh lebih dalam memuji Witantra di dalam hatinya. Ia benar-benar satu-satunya orang yang berjuang tanpa pamrih. Ia bertempur benar-benar untuk menegakkan kemanusiaan, hak atas dasar kewajiban. Ketika ia berpaling dan menyambar wajah Akuwu Tunggul Ametung yang tunduk, maka katanya di dalam hati,

“Akuwu berbuat seperti sekarang ini karena ia dikejar oleh perasaan bersalah, ia ingin menembus kesalahannya itu dengan membebaskan kembali Ken Dedes dan menghukum Kuda Sempana dengan cara lain. Cara yang tidak semata-mata mengingkari tingkah laku sendiri. Sedang Mahisa Agni yang terluka itu, berjuang untuk menyelamatkan adiknya. Untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Kuda Sempana bersedia bertempur di arena karena ia dilanda oleh nafsu yang tak terkendali. Nafsu untuk memiliki Ken Dedes meskipun hanya wadagnya saja.”

Tetapi tidak demikian dengan Witantra. Ken Dedes bukan sanak bukan kadang, bukan pula seorang gadis yang telah menyeret nafsunya, dan bukan pula gustinya. Bukan apa-apa. Ia benar-benar dapat mencuci tangannya seperti perwira-perwira yang lain, yang acuh tak acuh atas persoalan itu. Ia dapat tidur nyenyak dengan istri dan keluarganya di rumah. Atau apabila ia harus melihat perkelahian di arena ia dapat memuji, namun dapat pula mencela salah seorang daripadanya sambil membelai kumisnya tanpa bahaya.

Namun kini ia telah terjun ke arena dengan suka rela, karena ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, kemanusiaan telah diperkosa oleh kesewenang-wenangan. Ia melihat ketidak adilan dan ia melihat seseorang yang dapat memperalat kekuasaan dan pedang untuk mencapai maksudnya. Karena itu, Witantra yang merasa memiliki pedang pula di lambungnya, telah turun ke arena untuk melawan pedang dalam kesewenang-wenangannya.

Tak sepatah kata pun yang diucapkan Akuwu Tunggul Ametung sebelum perang tanding itu dimulai. Tak ada orang lain yang diperintahkannya untuk berbicara. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan bergumam lirih,

“Mulailah.”

Witantra mengangguk hormat, kemudian memutar tubuhnya menghadap Kuda Sempana. Namun Kuda Sempanalah yang kemudian berkata lantang, “Para perwira prajurit, kawan-kawanku pelayan dalam dan para pimpinan pemerintahan. Tuanku Akuwu telah melepaskan janji, arena ini adalah keputusan tertinggi. Siapa yang menang ia berhak menentukan sikapnya atas gadis Panawijen yang sekarang sedang sakit di istana. Dan aku sengaja turun karena untuk mempertahankan hakku atasnya.”

Belum lagi mulut Kuda Sempana terkatup rapat, terdengar akuwu membentak, “Jangan banyak bicara! Kalau kau tidak segera mulai, maka lawanmu adalah aku sendiri.”

Semua orang terkejut mendengar akuwu membentak. Beberapa orang menjadi kecut dan bingung, apakah sebenarnya yang telah terjadi. Namun beberapa orang tersenyum di dalam hati,

“Keduanya adalah orang-orang muda.”

Kuda Sempana pun terdiam pula. Ketika ia mencoba mencuri pandang, di pangkuan Tunggul Ametung terletak sebuah benda yang kuning gemerlap. Itulah pusakanya, yang dapat menggugurkan gunung dan dapat mengeringkan lautan. Sekali lagi tanpa disengajanya, Kuda Sempana meraba kerisnya. Kerisnya itu ada di lambungnya. Tetapi ketika ia memandangi tubuh Witantra keseluruhannya, maka Witantra sama sekali tidak membawa senjata apapun. Meskipun demikian. Kuda Sempana itu masih juga berkata, bahkan ditujukan kepada Akuwu Tunggul Ametung,

“Tidak, Tuanku hamba junjung. Hamba hanya ingin supaya para perwira mengetahui, apakah yang harus kami lakukan.”

“Diam! Diam! Diam!” teriak Akuwu Tunggul Ametung. Secengkang ia beringsut.

Tetapi Witantra yang menjadi cemas kalau Tunggul Ametung itu kemudian berdiri dan menerjunkan diri ke arena, maka segera ia meloncat menyerang sambil berteriak,

“Adi Kuda Sempana, aku akan segera mulai.”

Kuda Sempana melihat Witantra mulai dengan serangannya, namun tidak berbahaya. Meskipun demikian, Kuda Sempana menggeser ke samping untuk menghindari serangan itu. Tetapi agaknya Kuda Sempana itu masih belum puas dengan apa yang dikatakannya. Ia masih ingin berteriak lagi memperkecil arti tindakan Tunggul Ametung itu. Membatasi persoalannya sebagai suatu persoalan berebut gadis di antara dua orang jejaka. Bukan soal seperti yang dikatakan oleh Witantra, yang memandangnya dari segi lain. Dari segi hak, kemanusiaan dan beban kewajibannya sebagai seorang kesatria.

Karena itu, maka sekali lagi ia mencoba berteriak sambil meloncat surut. Namun Witantra melihat gelagat itu. Betapapun ia tetap dalam ketenangannya, tetapi perbuatan Kuda Sempana itu benar-benar tak menyenangkan. Karena itu, demikian Kuda Sempana mulai membuka mulutnya, maka mulai pulalah serangan Witantra berikutnya. Bukan sekedar serangan untuk mengejutkan lawannya. tetapi serangan kali ini benar-benar mengarah ke titik-titik yang berbahaya bagi lawannya. Sambil melontarkan diri, Witantra menyambar leher Kuda Sempana dengan ibu jarinya. Sedang tangannya yang lain masih berusaha menyerang perut lawannya dengan ujung-ujung jari pula.

Kuda Sempana kali ini benar-benar terkejut melihat gerak itu. Gerak yang langsung berusaha menyelesaikan perkelahian dengan menutup lubang pernafasannya. Karena itu, maka ia tidak sempat untuk berteriak lantang, namun sekali ia harus bergeser surut sambil merendahkan dirinya, sedang tangannya berusaha untuk memukul tangan Witantra ke samping. Tetapi Witantra dengan cepatnya menarik tangannya. Sekali ia berputar di atas satu kakinya, dan tiba-tiba tumitnya melayang dalam gerak melingkar menyambar lambung Kuda Sempana.

Kuda Sempana mengumpat di dalam hatinya. Witantra benar-benar tidak memberinya kesempatan. Karena itu, maka segera dilepaskannya maksudnya untuk berteriak-teriak di hadapan para perwira. Kini dipusatkannya segenap perhatiannya kepada Witantra.

“Hem,” Kuda Sempana menggeram, gumamnya di dalam hati, “Alangkah banyak rintangan yang harus aku lampaui. Untuk mendapatkan seorang istri yang cantik, aku harus berkali-kali mempertaruhkannya nyawaku. Tetapi Ken Dedes bagiku adalah lambang keteguhan tekadku. Kalau aku tidak mampu mempertahankannya maka dalam persoalan-persoalan yang lain aku pun akan selalu gagal.”

Dengan demikian, maka gerak Kuda Sempana menjadi semakin mantap. Kepada Wiraprana, kepada Mahisa Agni ia pernah berkata bahwa bagi seorang kesatria, wanita sama harganya dengan pusaka dan nyawanya. Karena itu, maka apapun yang akan ditempuh, maka Ken Dedes harus menjadi miliknya.

Ketika Matahari merambat semakin tinggi di langit, maka angin lembah pun semakin cepat mengalir, mendorong awan yang putih kelabu mengalir ke utara. Segumpal-segumpal. Dan kadang-kadang menyapu wajah matahari yang suram, seolah-olah matahari itu ingin menyembunyikan wajahnya dalam kecemasan melihat perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru. Demikian perkelahian itu mulai, demikian segenap perhatian tercurah ke dalam arena. Beberapa perwira yang semula acuh tak acuh saja, kini terpaksa melihat, bahwa keduanya tidak hanya sekedar bermain-main.

Tunggul Ametung sendiri, seakan-akan sebuah patung batu yang diam membeku. Namun betapa tegang wajahnya memandangi perkelahian itu. Semula, sebenarnyalah bahwa ia hampir saja meloncat ke dalam arena dan mendorong Witantra pergi, seandainya Witantra tidak segera mulai dengan serangannya. Akuwu sudah tidak dapat lagi mempertimbangkan, apakah dengan demikian namanya tidak akan terganggu karenanya. Sebab beberapa orang akan tetap menganggap bahwa Akuwu Tunggul Ametung bertempur dengan tangannya hanya untuk mendapatkan seorang gadis desa. Tetapi kini, akuwu masih memiliki kewibawaan. Seandainya yang terjadi itu sebuah sayembara tanding, maka seseorang perwira prajuritnya telah melakukan perintahnya. Seandainya ia berhasil maka namanya akan menjadi semakin baik, bahwa prajuritnya saja telah mampu menyelesaikan pekerjaan itu. Apalagi kalau ditanganinya sendiri.

Tetapi apapun yang terjadi, maka adalah pasti, bahwa masih akan ada orang yang mencibirkan bibirnya sambil berkata, “Kenapa Tunggul Ametung, seorang akuwu yang berkuasa di Tumapel, telah terlibat dalam persoalan seorang gadis dengan pelayan dalamnya sendiri?”

Namun mungkin ada orang lain yang menjawab, “Tetapi akuwu tidak berbuat sewenang-wenang. Ia memberi kesempatan kepada pelayan dalam itu untuk berjuang, meskipun seandainya ia mau, maka pelayan dalam itu dapat dibunuhnya tanpa sebab.”

Tetapi akuwu tidak dapat berbuat begitu. Meskipun di sudut hatinya yang paling jauh tersimpan pula kata-kata itu, mempergunakan kekuasaan untuk membunuh Kuda Sempana, namun beberapa orang telah menjadi saksi, bahwa akuwu sendiri telah mengantarkan Kuda Sempana mengambil gadis itu ke Panawijen.

Perkelahian antara Witantra dan Kuda Sempana itu semakin lama menjadi semakin seru. Masing-masing adalah seorang yang mendalami ilmu tata perkelahian dengan tekunnya. Meskipun umur Witantra terpaut beberapa tahun lebih tua, namun tenaga mereka berdua masih dalam tingkat yang sedang berkembang. Baik Witantra maupun Kuda Sempana. Karena itulah maka keduanya menjadi seperti sepasang burung rajawali yang bersabung di udara. Saling menyambar dan saling menerkam. Lontar melontar dalam kekuatan orang-orang muda. Desak mendesak silih berganti.

Meskipun demikian, Akuwu Tunggul Ametung selalu mengumpat di dalam hatinya. Ia melihat betapa gerak Witantra terlalu lamban. Kalau dirinya sendiri yang berada di arena itu, maka ia sudah akan menemukan beberapa kesempatan untuk menjatuhkan, atau setidak-tidaknya menekan lawannya. Dan sebenarnyalah akuwu dapat melakukannya. Ia tidak hanya sekedar dapat mencela, sebab akuwu sendiri mampu bergerak secepat burung walet yang menyambar ikan di wajah lautan. Namun apabila Tunggul Ametung memperhatikan Kuda Sempana, maka akuwu itu menarik nafasnya dalam-dalam. Witantra terlalu lamban dibanding dengan lawannya.

Sehingga dengan demikian maka perkelahian itu berlangsung dalam suasana yang semakin lama semakin tegang. Apalagi Kuda Sempana semakin lama menjadi semakin kehilangan pertimbangan. Yang ada di dalam kepalanya tinggallah suatu tekad untuk menghancurkan lawannya. Bukan saja sekedar mengalahkan, menundukkan untuk mendapat kemenangan, namun Kuda Sempana yang marah itu benar-benar ingin mengalahkan lawannya dalam tingkat yang tertinggi. Mati.

Itulah sebabnya ia memeras segenap kemampuan dan ilmunya. Ia ingin mencengangkan semua orang yang melihatnya. Seorang pelayan dalam telah berhasil mengalahkan sampai mati seorang perwira prajurit. Dengan demikian maka tidak saja ia akan berhasil memiliki seorang gadis yang telah menjadikannya gila, namun ia akan mendapat tempat yang baik di hati para pemimpin Tumapel. Tetapi apabila teringat olehnya, bahwa Witantra itu sedang mewakili Akuwu Tunggul Ametung, maka hatinya menjadi suram. Ia benar-benar dihadapkan pada persoalan yang amat pelik. Maju tatu, mundur ajur. Kalau ia berhasil mengalahkan Witantra, maka apakah akuwu benar-benar akan memenuhi janjinya? Tetapi apabila ia dapat dikalahkan, lenyaplah semua impiannya atas seorang gadis yang selama ini telah membungai lereng Gunung Kawi.

“Persetan dengan keputusan Akuwu nanti!” katanya di dalam hati, “Namun semua orang yang hadir ini telah mengetahui persoalan yang sedang terjadi. Kalau Akuwu tidak menepati janjinya, maka para kesatria akan mengutuknya.”

Karena itulah maka Kuda Sempana benar-benar berkelahi tanpa pengekangan diri. Setiap kesempatan dipergunakannya sebaik-baiknya untuk membinasakan lawannya. Ia sama sekali tidak canggung dan ragu-ragu. Apa saja yang dilakukan meluncur lepas dengan sekuat tenaganya. Geraknya semakin lama semakin lincah, menyambar-nyambar tanpa mempertimbangkan, apa yang sedang dilakukan oleh lawannya.

Witantra yang masih berusaha membatasi semua geraknya, merasakan tekanan Kuda Sempana semakin lama semakin keras. Bahkan kemudian ia melihat serangan-serangan Kuda Sempana atas bagian-bagian tubuhnya yang benar-benar berbahaya. Lambung leher dan bahkan mata. Witantra yang tenang itu akhirnya merasa juga, bahwa Kuda Sempana bertempur dalam tingkatan yang menentukan hidup atau mati. Witantra menggeram perlahan-lahan. Ia masih saja dijalari oleh kebimbangan. Apakah ia akan mengimbangi kegilaan Kuda Sempana itu? Apabila demikian, maka tidak ada bedanya antara mereka keduanya. Tetapi apabila ia tidak berbuat serupa, dengan mengekang semua serangan maka ia semakin lama pasti akan di sudutkan ke dalam kesulitan.

Ketika sekali ia mencoba memandang wajah Akuwu Tumapel, dilihatnya wajah itu merah padam seolah-olah hampir meledak. Tunggul Ametung itu menggigit bibirnya sambil mengepalkan kedua tangannya, yang bahkan sekali-kali memukul kaki-kakinya sendiri.

Witantra menyadari kegelisahan Tunggul Ametung. Akuwu itu pasti melihat keragu-raguannya. Akuwu itu pasti melihat bahwa ia dalam kebimbangan. Sehingga karena kebimbangannya itu ia banyak terdesak. Dan itu menggelisahkan sekali.

Koleksi : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sunda
Proofing : Ki Sunda
Recheck/Editing:






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar