Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar bahwa Kuda Sempana tidak akan tinggal diam untuk seterusnya. Namun Ken Arok pun mengetahui pula, bahwa Kuda Sempana mendendamnya.
“Anak yang keras kepala,“ gumam Witantra.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Sungguh-sungguh keras kepala.”
Sesaat mereka terdiam. Di regol halaman belakang masih dilihat oleh mereka, punggung-punggung yang terakhir meninggalkan halaman itu.
“Marilah adi, kita pulang.”
“Aku mendapat perintah untuk mengantar kakang.”
Witantra tersenyum. Namun ia menjawab, “Marilah antarkan aku.”
Ketika keduanya mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar suara Daksina.
“Hem,“ gumam ken Arok, “anak itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Suara Daksina memang baik, seperti desir angin yang kadang-kadang lembut, namun kadang-kadang deras menyentak, bahkan kadang-kadang bagaikan prahara yang melanda pepohonan dan menghentak gelombang di lautan. Namun kemudian kembali terdengar suaranya yang lembut, selembut gemersik angin pagi mengusap ujung dedaunan.
“Smaradahana,“ gumam Witantra.
Ken Arok hanya mengangguk-angguknya kepalanya. Ia telah banyak pula belajar tentang banyak hal mengenai kitab-kitab dan pengetahuan dari seorang pendeta yang memungutnya dari padang rumput Karautan, tetapi pengetahuan itu masih jauh dari cukup. Meskipun demikian, ternyata jiwanya mampu pula menerima sentuhan yang halus dari suara Daksina.
“Apakah kau pernah membaca kakawin itu?” bertanya Witantra.
Ken Arok mengeleng, “belum.”
“Ceritera tentang Dewa Cinta, Kama dan isterinya Ratih.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali belum pernah membaca ceritera itu, meskipun sedikit ia pernah juga mendengar tentang Dewa Kama yang terbakar oleh sinar mata Siwa yang sedang tiwikrama menjadi Rudra.
“Ceritera yang amat menarik,“ Witantra meneruskan, “terutama bagi anak-anak muda. Sindiran terhadap Baginda Kameswara dari Kediri beberapa puluh tahun hampir seabad yang lampau.” Kembali Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Daksina memilih ceritera itu.“ Witantra melanjutkan karena ia tahu, bahwa di arena ini menyala persoalan yang langsung menjangkiti cinta anak-anak muda. “Meskipun aku yang harus maju ke arena, namun aku hampir tidak berkepentingan selain aku ingin melihat kesewenang-wenangan Kuda Sempana dibatasi.”
Ken Arok masih belum menjawab selain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia senang pula mendengar suara Daksina yang bening bersih.
“Sebaiknya anak itu berhenti membaca,” tiba-tiba Witantra bergumam.
“Kenapa?” bertanya Ken Arok.
“Apabila Akuwu mendengar, maka ia marah. Ia merasa bahwa anak itu menyindir.”
“Tidak. Bukankah Akuwu bersungguh-sungguh dengan alasannya itu. Bukankah kemudian gadis itu akan dikembalikan ke Panawijen?”
Witantra tersenyum, jawabnya, “Kalau gadis itu bersedia, maka apakah halangannya seandainya Akuwu pun benar-benar menghendakinya, bukankah dengan demikian Ken Dedes akan merasa sedikit terhibur karenanya?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Tidak baik. Sebaiknya Akuwu menyerahkanya kembali kepada ayahnya.”
“Kecuali kalau gadis itu menolak Akuwu. Seharusnya Akuwu menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Tetapi kalau gadis itu bersedia, apakah salahnya?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. tetapi hatinya berkata, “Tidak. Seharusnya Akuwu benar-benar bersih dari segenap pamrih mengenai gadis itu. Kalau Akuwu bersedia mengembalikan Ken Dedes kepada ayahnya, maka Akuwu benar seorang yang berhati jantan. Seorang yang bersedia mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun Witantra tak akan mungkin dihidupkan lagi, tetapi setidak-tidaknya di dalam lingkungan keluarganya Ken Dedes akan mendapatkan hiburan.”
Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lain di dalam lubuk hatinya, “Bagaimanakah kalau Ken Dedes merasa terhibur, apabila ia menjadi permaisuri Akuwu.”
Tiba-tiba wajah Ken Arok menjadi tegang, ia tidak tahu apakah sebabnya ia menjadi risau mengenai nasib gadis itu seterusnya. “Persetan,” geramnya di dalam hati.
Ken Arok itu kemudian terkejut ketika Witantra berkata, “Marilah adi, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?”
“Oh,“ sahut Ken Arok tergagap, “Ya, aku akan mengantarkan kakang pulang. Sebaiknya aku tidak kembali ke barak. Kalau Kuda Sempana datang ke bilikku, dan aku kehilangan kesabaran, maka kami pasti akan bertengkar.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tinggallah sehari ini di rumahku. Mudah-mudahan besok atau lusa Kuda Sempana telah dapat berpikir bening, sehingga ia akan dapat melupakan segala peristiwa yang telah terjadi atasnya.”
“Mudah-mudahan,“ desis Ken Arok. Namun kemudian ia berkata, “Diamlah aku menyuruh Daksina berhenti membaca.”
Witantra tersenyum. Dibiarkannya Ken Arok melangkah ke gubug di sudut di balik dinding halaman belakang istana. Sesaat setelah Ken Arok itu menghilang di balik dinding, maka suara Daksina pun berhenti. Keduanya itu pun kemudian pergi meninggalkan halaman belakang istana itu pergi ke rumah Witantra. Kuda-kuda mereka masih tertambat di tempatnya. Dan sejenak kemudian terdengarlah kaki-kaki sepasang kuda berlari meninggalkan istana Tumapel.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung berjalan tergesa-gesa kembali ke istana. Tetapi ia sama sekali tidak langsung menuju ke biliknya. Dengan tergesa-gesa seakan-akan ia akan kehilangan kesempatan, Akuwu itu berjalan masuk ke ruang dalam, dan langsung menuju ke Sentong tengen. Sejenak Tunggul Ametung berdiri diam di muka bilik itu. ia tidak mendengar sesuatu kecuali nafas yang memburu. Namun sesaat kemudian terdengar langkah seorang keluar dari bilik itu.
Demikian melampaui warana, emban yang ikut merawat Ken Dedes terkejut melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak di muka pintu, sehingga dengan tergesa-gesa ia bersimpuh sambil menyembah,
“Ampun tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak apa-apa. Aku ingin menengok gadis itu.”
Emban itu masih bersimpuh sambil menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis itu masih belum tenang benar tuanku.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah sekarang gadis itu tertidur?”
Emban itu menggeleng, “Tidak tuanku.”
“Apakah aku boleh masuk?” bertanya Akuwu itu.
Emban itu heran mendengar pertanyaan Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung adalah pemilik istana ini, dan semua orang akan tunduk pada perintahnya. Tetapi tiba-tiba Akuwu itu bertanya kepadanya, apakah ia boleh masuk ke dalam bilik ini. Karena itu, maka emban itu pun menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.
“Bagaimana, apakah boleh masuk?” desak Tunggul Ametung.
“Ya. Ya.” emban itu tergagap, “sekehendak tuankulah.”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan masuk ke sentong tengen.”
Emban itu menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa Akuwu berterima kasih kepadanya. Namun Akuwu itu tidak berkata apa-apa lagi. perlahan-lahan ia melangkah maju. Melampaui tlundak pintu, kemudian melingkari warana memasuki ruang tidur Ken Dedes yang masih saja ditunggui oleh Nyai Puroni.
Tetapi demikian Tunggul Ametung masuk, Akuwu itu terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja, ketika Ken Dedes melihatnya, dengan serta merta gadis itu bangkit dan menunjuk wajahnya. Sambil berkata lantang,
“Nah, kaulah Tunggul Ametung. Kaulah sumber dari bencana yang menimpa keluarga. Ayo kembalikan aku ke Panawijen, atau bunuh aku sama sekali.”
Sesaat Akuwu berdiri mematung. Ia adalah Akuwu yang memegang seluruh kekuasaan Tumapel di tangannya. Ia adalah orang yang paling berkuasa di dalam dan diluar istana. Juga di Panawijen. Tiba-tiba gadis itu menudingnya sambil membentaknya tanpa takut.
Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Puroni cemas, “Nini, tenanglah ngger. Tenanglah. Tidurlah, biarlah nanti aku memberitahukan kepadamu, apa yang telah terjadi, Jangan risau anakku dan jangan menjadi bingung. Tuanku Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel.”
“Apa peduliku, apakah Tunggul Ametung menjadi Akuwu, apakah ia menjadi Maharaja sekalipun, namun ia tidak lebih dari seorang perampok yang keji. Ayo, Tunggul Ametung. Bunuhlah aku.”
Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Seorang yang mudah tersinggung, dan seorang yang mudah pula menjadi sangat cemas apabila tiba-tiba Akuwu itu kehilangan kesabaran. Ia tidak tahu, apakah yang telah terjadi, namun mengumpati Tunggul Ametung adalah berbahaya sekali bagi kesalamatannya.
Tetapi Nyai Puroni itu benar-benar menjadi heran. Ia melihat Akuwu yang garang itu, berdiri kaku di tempatnya. Kepalanya terkulai tunduk dalam-dalam. Sepatah katapun ia tidak menyahut dan bahkan Akuwu itu sama sekali tidak berani menatap wajah gadis yang sedang marah itu.
Sekali-kali Tunggul Ametung mencoba mengangkat wajahnya, namun kembali ia turtunduk. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi gemetar dan terasa seakan-akan dadanya bergetaran.
“Apakah aku benar-benar sudah gila,“ desahnya di dalam hati.
Karena ketika ia mencoba memandang gadis itu, ia dikejutkan oleh cahaya yang berkilat cerah. Namun setiap kali ia berusaha memandang cahaya itu tak dapat tertangkap oleh wadagnya.
Sementara itu masih terdengar suara Ken Dedes lantang, “Ayo Tunggul Ametung. Kenapa kau berdiri saja seperti patung. Bukankah kau mempunyai seribu pusaka di istanamu. Ayo, ayo, bukankah di lambungmu itu tergantung senjata sipat kandel Tumapel? Kenapa kau diam saja seperti patung.”
Desir di dada Tunggul Ametung menjadi semakin tajam. Baru kini disadarinya, bahwa pusakanya masih tergantung pada ikat pinggangnya. Pusaka yang tidak setiap orang pernah melihatnya.
Nyai Puroni menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Usahanya untuk melilihkan hati Ken Dedes selalu sia-sia. Tetapi kembali Nyai Puroni mendengar sendiri mulut Akuwu Tunggul Ametung itu berdesis,
“Maafkan aku Ken Dedes. Aku sama sekali tidak sengaja membuat kau mengalami nasib yang sedemikian jeleknya.”
Mata Ken Dedes itu pun menjadi semakin menyala karenanya. Dan terdengar suaranya lantang, “Jangan bersembunyi Tunggul Ametung. Kau datang membawa bencana di padepokan ayahku. Kau telah membawa bencana bagi keluargaku, bagi hidupku. Kenapa kau tidak saja membunuh aku? Kenapa kau lindungi Kuda Sempana yang biadab itu? Kenapa?”
Akuwu masih menundukkan kepalanya. Suatu hal yang hampir tidak pernah dilakukan. Dihadapan setiap utusan Maharaja di Kediri sekalipun Tunggul Ametung selalu menengadahkan wajahnya. Namun kini, dihadapan seorang gadis padesan Tunggul Ametung itu tunduk tumungkul seperti seorang tawanan. Dan terdengar kemudian Tunggul Ametung itu menjawab perlahan-lahan,
“Ken Dedes. Aku telah mencoba memperbaiki kesalahanku. Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi.”
Ken Dedes itu terhenyak sejenak. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya yang pucat. “Apa katamu?” terdengar ia bertanya untuk meyakinkan.
“Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi,” sahut Akuwu.
“Kenapa?”
Seperti anak-anak yang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari ibunya yang sedang marah, Tunggul Ametung menjawab dengan jujur. “Kuda Sempana telah dikalahkan dalam perang tanding, dengan perjanjian, untuk seterusnya ia harus melepaskan tuntutannya atas dirimu.”
Ken Dedes tidak segera mengerti keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu. Apakah yang dimaksud dengan perang tanding yang dapat melepaskan tuntutan Kuda Sempana atas dirinya? Karena itu maka untuk sejenak Ken Dedes terdiam. Tanpa mengenal takut, ditatapnya wajah Tunggul Ametung, yang tunduk. Tetapi Akuwu itu tidak meneruskan kata-katanya sebagai penjelasan.
Karena itu, maka terdengarlah suara Ken Dedes, “Apakah maksudmu Tunggul Ametung.”
Alangkah janggalnya panggilan itu di telinga Nyai Puroni serta emban yang duduk di pintu. Ken Dedes langsung menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Kalau Akuwu itu kemudian menyadarinya, maka ia pasti akan sangat marah. Bahkan seandainya dirinya sendiri, atau emban yang duduk di pintu itu, bahkan seorang senapati pun, apabila berani mengucapkan nama Akuwu itu tanpa sebutan apapun maka adalah suatu pertanda bahwa hidupnya akan mendapat kesulitan. Tetapi sekarang, gadis pedesan itu dengan beraninya bahkan dengan menuding wajah Akuwu itu. Aneh. Apakah yang sebenarnya telah terjadi.
Tunggul Ametung sendiri tidak segera menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Sekali ia mengangkat wajahnya namun ketika dilihatnya mata gadis itu, kembali ia menunduk. Mata yang memancarkan tuntutan atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Mata yang memancarkan jeritan hatinya yang duka. Dan mata yang memancar itu adalah mata seorang gadis yang aneh. Seorang gadis yang seakan-akan memiliki cahaya yang bersinar dari tubuhnya. Cahaya yang membuat Akuwu Tunggul Ametung itu merasa dirinya hampir menjadi gila.
“Gadis itu bukan gadis kebanyakan”, desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya.
Karena Tunggul Ametung tidak segera menjawab, maka terdengar Ken Dedes mengulangi pertanyaannya, “He Tunggul Ametung, apakah yang kau maksud dengan perang tanding. Dan apakah hubungannya dengan Kuda Sempana?”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia ingin mencoba menyampaikan beberapa penjelasan mengenai perang tanding itu. Mencoba mengatakan kepada Ken Dedes bahwa dengan kekalahan Kuda Sempana dalam perang tanding itu, maka tuntutannya atas Ken Dedes telah digugurkan. Ia mengambil gadis itu dengan kekerasan, maka dengan kekerasan pula usaha itu telah digagalkan.
“Gila,“ teriak Ken Dedes. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa aku kau perlakukan seperti itu Tunggul Ametung. Kenapa aku kalian perlakukan seperti barang yang dapat kalian perebutkan dengan berkelahi dan saling membunuh sekalipun. Tunggul Ametung, Akuwu yang memiliki kekuasan tertinggi di Tumapel, kenapa kau berbuat demikian? Kenapa kau menganggap bahwa aku tidak lebih daripada barang yang seandainya paling berharga sekalipun, sehingga dipertaruhkan dengan nyawa? Tidak. Aku mempunyai pendirianku sendiri. Aku mempunyai kehendak, akal dan penilaian atas persoalanku. Bukan kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Tetapi aku. Aku sendiri.”
Peristiwa itu adalah peristiwa yang benar-benar aneh bagi Nyai Puroni. Aneh, karena semang gadis padesan dengan beraninya menentang Akuwu, membaluti kata-katanya kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Tak pernah dijumpai sepanjang umurnya seorang gadis yang sedemikian beraninya. Setiap perempuan di Tumapel, setiap gadis, pada umumnya selalu menundukkan kepalanya, menerima nasib yang diletakkan oleh orang tuanya, oleh suaminya apalagi seorang Akuwu atasnya. Tetapi gadis ini tidak berbuat demikian.
Namun, Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang benar-benar aneh. Semakin banyak Ken Dedes berbicara, semakin tajam Ken Dedes mengumpat-umpatinya, hatinya menjadi semakin tertarik kepada gadis itu. Gadis itu baginya menjadi seakan-akan sebuah mutiara yang bercahaya dengan sinarnya. yang tajam menusuk langsung ke hulu hatinya.
Gadis yang berani itu pasti memiliki kekhususannya dari gadis-gadis yang lain. bahkan gadis kota sekalipun. Meskipun gadis itu gadis padesan, namun tanda-tanda yang dirasakan oleh Akuwu Tunggul Ametung menjadikannya semakin yakin, bahwa gadis itu adalah gadis yang memiliki kelebihan-kelebihan.
Karena itulah maka sekali lagi Akuwu ingin menjelaskan persoalan yang dikehendakinya dengan perang tanding itu. katanya, “Ken Dedes. Karena aku mempunyai penilaian yang demikian atasmu, bahwa kau memiliki pendirian, penilaian dan lebih-lebih lagi adalah hak atas dirimu sendiri dan jalan hidupmu, maka aku telah melepaskan kau dari Kuda Sempana.”
“Apakah artinya itu?” bertanya Ken Dedes.
“Kau kini dapat menentukan hidupmu sendiri. Tidak ada keharusan bagimu untuk tunduk pada setiap kehendak orang lain kecuali atas kerelaan hatimu.”
“Tetapi apa artinya kedatangan kalian ke Panawijen. Kau tidak mencegah perbuatan Kuda Sempana, dan bahkan kau melindunginya.”
“Aku terdorong dalam kekhilafan, Ken Dedes. Kuda Sempana telah menipuku.”
“Kau dapat menghukumnya, bahkan menghukum mati sekalipun.”
“Ya. Tetapi aku sendiri telah melakukan kesalahan pula. Karena itu aku tidak dapat menghukumnya karena alasan itu, sebab ia berbuat dalam perlindunganku. Satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku itu adalah membebaskan kau dari tangannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya atas keluargamu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia merasakan di dalam hatinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu berkata dengan jujur. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, seakan-akan semua kemarahan dan luapan perasaannya perlahan-lahan menjadi tenang. Meskipun demikian, hati Ken Dedes itu masih juga gelap. Apakah yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya. Apabila seseorang telah berhasil melepaskannya dari Kuda Sempana, lalu apakah hak orang itu atas dirinya? Apakah dengan demikian ia hanya akan berpindah tangan kepada orang yang bahkan sama sekali tak dikenalnya? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat demikian pula atas orang yang kedua itu.
Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes itu kepada Mahisa Agni. Kenapa kakaknya itu membiarkannya dilarikan oleh Kuda Sempana? Apakah Mahisa Agni tidak tahu apa yang terjadi atasnya? Kalau saja Mahisa mengetahui, bahwa dengan perang tanding dirinya akan dapat dibebaskan, ia mengharap, bahwa pada waktu ketika Mahisa Agni datang ke Tumapel dan melepaskannya. Tetapi kapan? Sehari, seminggu atau sebulan. Atau sesudah ia kehilangan harapan untuk dapat kembali ke padepokan?.
Dalam pada itu, maka kembali terdengar Ken Dedes bertanya, “Akuwu Tunggul Ametung. Setelah perang tanding ini berlangsung, dan menurut katamu, setelah aku dapat dibebaskan dari Kuda Sempana, lalu apakah aku akan dapat segera pulang?”
Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Tunggul Ametung. Tiba-tiba ia dihadapkan pula suatu masalah yang sangat berat baginya. Seharusnya, menurut rencananya semula, ia hanya ingin membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana sebagai tebusan atas kesalahannya. Tetapi tiba-tiba alangkah beratnya untuk melepaskan gadis itu pulang kembali ke Panawijen. Alangkah sulitnya untuk memenuhi rencananya.
Setelah ia melihat Ken Dedes dari dekat, setelah ia mendengar Ken Dedes menangis, dan setelah ia sendiri melihat Ken Dedes dengan beraninya mempertahankan kebebasannya untuk menentukan jalan hidupnya, serta setelah ia melihat gadis itu dengan tabahnya mengumpat-umpatinya, maka tiba-tiba Tunggul Ametung benar-benar telah terpesona. Ken Dedes telah benar-benar menarik hatinya. Karena itu, ketika ia mendengar pertanyaan Ken Dedes itu, hatinya seolah-olah membeku. Tak ada jawaban yang dapat diberikannya.
“Akuwu,“ Ken Dedes mengulang, “bagaimana?”
Tunggul Ametung tergagap. Ia harus menjawab. Tetapi ia tidak segera mendapatkan jawaban itu. Sehingga kembali terdengar Ken Dedes mendesaknya, “Akuwu Tunggul Ametung, apakah aku segera dapat kembali pulang.”
Tiba-tiba dalam kebingungan Tunggul Ametung bertanya, “Ken Dedes. Kalau kau ingin segera pulang, apakah yang menarik bagimu di Panawijen?”
Ken Dedes merasa aneh mendengar pertanyaan itu sehingga sahutnya, “Panawijen adalah tempat kelahiranku. Panawijen adalah padepokan ayahku. Panawijen adalah tempat aku bermain bersama kakakku Mahisa Agni, dan Panawijen adalah tempat aku menyongsong masa depanku.”
Tunggul Ametung menjadi semakin bingung. Dan dalam kebingungan itu ia menjawab, “Ya. Ken Dedes. Sebenarnya kau akan segera dapat pulang ke kampung halaman, tetapi aku takut, apabila dengan demikian luka di hatimu akan menjadi semakin parah,”
Mendengar jawaban itu, maka kegelisahan di hati Ken Dedes menjadi menyala kembali. Dengan penuh ketegangan ia memandang Akuwu Tunggul Ametung. Terdengarlah kemudian suaranya gemetar,
”Kenapa Akuwu?”
Tunggul Ametung .menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi ia telah terdorong menyatakan tentang luka di hati gadis itu. Karena itu ia menjawab,
”Ken Dedes, Terserahlah kepadamu seandainya kelak kau ingin kembali ke Panawijen. Tetapi jangan segera.”
“Kenapa? Ya, kenapa?”
Tunggul Ametung terdiam sesaat. Dicobanya menatap wajah gadis itu. Namun kembali ia menundukan kepalanya. Di dalam mata Ken Dedes itu seakan-akan tercermin segenap kesalahan, kekhilafan dan ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya. Seakan-akan dilihatnya kembali bagaimana Kuda Sempana datang kepadanya, dan mengusulkan untuk pergi berburu ke arah lain dari pada arah Panawijen. Diingatnya bagaimana Kuda Sempana merajuknya, mengatakan kepadanya bahwa ia ditolak karena seorang pelayan dalam Akuwu Tumapel.
“Gila,” geramnya di dalam hati. Ia menyesal bahwa ia terlalu cepat mengambil keputusan. Namun itu adalah sifatnya-sifatnya yang dibawanya sejak ia dilahirkan. tergesa-gesa, lekas marah dan kadang-kadang kurang pertimbangan.
Sekarang ia mengalami kegoncangan akibat sifat-sifatnya itu. Sifat-sifatnya yang kurang menguntungkannya. Baik sebagai seorang Akuwu, maupun sebagai manusia yang bergaul diantara sesama. Dan sekarang ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes yang mendesak itu,
”Kenapa?”
“Ken Dedes,” jawab Tunggul Ametung, “tinggallah disini beberapa saat. Kemudian kau akan dapat mengambil keputusan menurut kehendakmu. Tetapi jangan tergesa-gesa kembali. Biarlah kelak aku sendiri akan mengantarkanmu.”
“Tetapi aku ingin tahu, kenapa luka hatiku akan menjadi semakin parah?”
Ketika Akuwu tidak segera menjawab, maka angan-angan Ken Dedes sendiri telah beredar, mencoba mencari jawabnya. tiba-tiba dikenangnya, bahwa pada saat Kuda Sempana mengambilnya, Witantra telah dijatuhkannya. apakah yang terjadi atas anak muda itu seterusnya. Dalam kegelisahan, kebingungan dan ketakutan pada saat itu ia melihat Wiraprana terbanting jatuh. Ia masih dapat mengingat kembali, ketika tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya. pada anak muda itu. Dikenangnya betapa pucat wajah Wiraprana saat itu. Dan apakah saat itu Wiraprana masih bernafas? Tiba-tiba Ken Dedes yang duduk dengan tegangnya itu memekik kecil. Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya seakan-akan ingin menghilangkan bayangan-angan yang hilir mudik di dalam rongga mata hatinya.
“Wiraprana,“ desisnya, “bagaimana dengan Wiraprana?”
Tunggul Ametung terkejut mendengar Ken Dedes memekik dan kemudian menyebut nama anak muda yang ternyata telah terbunuh itu. Sentong tengen itu sesaat dicengkam oleh kesepian yang tegang. Ken Dedes mencoba menunggu apakah Akuwu Tunggul Ametung dapat memberinya keterangan tentang Wiraprana. Namun Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi terpaku diam, keragu-raguan dan kecemasan merayap-rayap di dalam dadanya. Apakah akibatnya seandainya diberitahukannya tentang nasib Wiraprana itu.
Tetapi Ken Dedes itu kemudian mendesaknya, “Akuwu, bagaimanakah dengan Wiraprana itu?”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dicobanya mengingkari, katanya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian Ken Dedes. Aku pergi bersama Kuda Sempana meninggalkan Panawijen. Aku melihat Wiraprana terjatuh, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Bukankah kau juga melihatnya.”
“Ya. Aku melihat. Tetapi aku segera menjadi tak sadar lagi. Nah, apakah yang telah terjadi?”
“Aku tidak tahu.”
“Bohong.”
Sekali lagi Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia kini benar-benar menjadi bingung. Nyai Puroni yang melihat percakapan itu dengan penuh keheranan, melihat, seakan-akan yang berdiri dengan gelisah dan cemas itu bukan Akuwu Tunggul Ametung yang dikenalnya sehari-hari. Bukan seorang yang keras hati, yang membentak-bentak dan berteriak-teriak. Bukan seorang yang aneh seperti yang sering dilakukannya atas hamba-hambanya. Sekali waktu dipukulnya seorang pelayan dalam, namun tiba-tiba orang itu dipanggilnya, dan diberinya ia hadiah sepotong kain panjang. Atau pernah seorang emban disiramnya dengan air jahe yang terlalu pedas, tetapi ketika ia melihat emban itu menangis, maka segera diberinya emban itu uang.
Sekarang Tunggul Ametung benar-benar seperti seorang anak yang merasa dirinya berdosa terhadap orang tuanya. Seperti seorang anak yang menghadapi ibunya yang sangat diseganinya. Tunduk dan gelisah.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ken Dedes serak, “Akuwu, bagaimanakah nasib Wiraprana itu?”
Tiba-tiba pecahlah ketahanan Tunggul Ametung mendengar pertanyaan itu. Seperti orang yang berbuat tidak atas kehendaknya sediri ia berkata, “Wiraprana terbunuh.”
Alangkah dahsyatnya suara itu terdengar di telinga Ken Dedes, seperti petir yang langsung menyambar dinding-dinding hatinya. Meledak dan seakan-akan memecahkan jantungnya. Sesaat Ken Dedes terpaku seperti patung. Namun tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya di pembaringan sambil menelungkupkan wajahnya. Sekali ia memekik, menyebut nama Wiraprana, kemudian ia tenggelam dalam tangisnya yang sedih.
“Hem,“ Akuwu Tunggul Ametung berdesah. Ditatapnya gadis yang malang itu. Ketika terdengar olehnya tangis itu semakin keras, maka kembali penyesalan menghentak-hentak dada Akuwu Tunggul Ametung. Dan sejalan dengan itu, maka keinginannya untuk menebus kesalahannya pun menjadi semakin besar.
“Anak yang keras kepala,“ gumam Witantra.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Sungguh-sungguh keras kepala.”
Sesaat mereka terdiam. Di regol halaman belakang masih dilihat oleh mereka, punggung-punggung yang terakhir meninggalkan halaman itu.
“Marilah adi, kita pulang.”
“Aku mendapat perintah untuk mengantar kakang.”
Witantra tersenyum. Namun ia menjawab, “Marilah antarkan aku.”
Ketika keduanya mulai melangkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba langkah mereka terhenti. Lamat-lamat mereka mendengar suara Daksina.
“Hem,“ gumam ken Arok, “anak itu sama sekali tidak mempedulikan apa saja.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Suara Daksina memang baik, seperti desir angin yang kadang-kadang lembut, namun kadang-kadang deras menyentak, bahkan kadang-kadang bagaikan prahara yang melanda pepohonan dan menghentak gelombang di lautan. Namun kemudian kembali terdengar suaranya yang lembut, selembut gemersik angin pagi mengusap ujung dedaunan.
“Smaradahana,“ gumam Witantra.
Ken Arok hanya mengangguk-angguknya kepalanya. Ia telah banyak pula belajar tentang banyak hal mengenai kitab-kitab dan pengetahuan dari seorang pendeta yang memungutnya dari padang rumput Karautan, tetapi pengetahuan itu masih jauh dari cukup. Meskipun demikian, ternyata jiwanya mampu pula menerima sentuhan yang halus dari suara Daksina.
“Apakah kau pernah membaca kakawin itu?” bertanya Witantra.
Ken Arok mengeleng, “belum.”
“Ceritera tentang Dewa Cinta, Kama dan isterinya Ratih.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia sama sekali belum pernah membaca ceritera itu, meskipun sedikit ia pernah juga mendengar tentang Dewa Kama yang terbakar oleh sinar mata Siwa yang sedang tiwikrama menjadi Rudra.
“Ceritera yang amat menarik,“ Witantra meneruskan, “terutama bagi anak-anak muda. Sindiran terhadap Baginda Kameswara dari Kediri beberapa puluh tahun hampir seabad yang lampau.” Kembali Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Daksina memilih ceritera itu.“ Witantra melanjutkan karena ia tahu, bahwa di arena ini menyala persoalan yang langsung menjangkiti cinta anak-anak muda. “Meskipun aku yang harus maju ke arena, namun aku hampir tidak berkepentingan selain aku ingin melihat kesewenang-wenangan Kuda Sempana dibatasi.”
Ken Arok masih belum menjawab selain mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia senang pula mendengar suara Daksina yang bening bersih.
“Sebaiknya anak itu berhenti membaca,” tiba-tiba Witantra bergumam.
“Kenapa?” bertanya Ken Arok.
“Apabila Akuwu mendengar, maka ia marah. Ia merasa bahwa anak itu menyindir.”
“Tidak. Bukankah Akuwu bersungguh-sungguh dengan alasannya itu. Bukankah kemudian gadis itu akan dikembalikan ke Panawijen?”
Witantra tersenyum, jawabnya, “Kalau gadis itu bersedia, maka apakah halangannya seandainya Akuwu pun benar-benar menghendakinya, bukankah dengan demikian Ken Dedes akan merasa sedikit terhibur karenanya?”
Ken Arok mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Tidak baik. Sebaiknya Akuwu menyerahkanya kembali kepada ayahnya.”
“Kecuali kalau gadis itu menolak Akuwu. Seharusnya Akuwu menyerahkannya kembali kepada ayahnya. Tetapi kalau gadis itu bersedia, apakah salahnya?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak menjawab. tetapi hatinya berkata, “Tidak. Seharusnya Akuwu benar-benar bersih dari segenap pamrih mengenai gadis itu. Kalau Akuwu bersedia mengembalikan Ken Dedes kepada ayahnya, maka Akuwu benar seorang yang berhati jantan. Seorang yang bersedia mengakui kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya. Meskipun Witantra tak akan mungkin dihidupkan lagi, tetapi setidak-tidaknya di dalam lingkungan keluarganya Ken Dedes akan mendapatkan hiburan.”
Tetapi tiba-tiba terdengar suara yang lain di dalam lubuk hatinya, “Bagaimanakah kalau Ken Dedes merasa terhibur, apabila ia menjadi permaisuri Akuwu.”
Tiba-tiba wajah Ken Arok menjadi tegang, ia tidak tahu apakah sebabnya ia menjadi risau mengenai nasib gadis itu seterusnya. “Persetan,” geramnya di dalam hati.
Ken Arok itu kemudian terkejut ketika Witantra berkata, “Marilah adi, apakah kau akan mengantarkan aku pulang?”
“Oh,“ sahut Ken Arok tergagap, “Ya, aku akan mengantarkan kakang pulang. Sebaiknya aku tidak kembali ke barak. Kalau Kuda Sempana datang ke bilikku, dan aku kehilangan kesabaran, maka kami pasti akan bertengkar.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Tinggallah sehari ini di rumahku. Mudah-mudahan besok atau lusa Kuda Sempana telah dapat berpikir bening, sehingga ia akan dapat melupakan segala peristiwa yang telah terjadi atasnya.”
“Mudah-mudahan,“ desis Ken Arok. Namun kemudian ia berkata, “Diamlah aku menyuruh Daksina berhenti membaca.”
Witantra tersenyum. Dibiarkannya Ken Arok melangkah ke gubug di sudut di balik dinding halaman belakang istana. Sesaat setelah Ken Arok itu menghilang di balik dinding, maka suara Daksina pun berhenti. Keduanya itu pun kemudian pergi meninggalkan halaman belakang istana itu pergi ke rumah Witantra. Kuda-kuda mereka masih tertambat di tempatnya. Dan sejenak kemudian terdengarlah kaki-kaki sepasang kuda berlari meninggalkan istana Tumapel.
Dalam pada itu, Akuwu Tunggul Ametung berjalan tergesa-gesa kembali ke istana. Tetapi ia sama sekali tidak langsung menuju ke biliknya. Dengan tergesa-gesa seakan-akan ia akan kehilangan kesempatan, Akuwu itu berjalan masuk ke ruang dalam, dan langsung menuju ke Sentong tengen. Sejenak Tunggul Ametung berdiri diam di muka bilik itu. ia tidak mendengar sesuatu kecuali nafas yang memburu. Namun sesaat kemudian terdengar langkah seorang keluar dari bilik itu.
Demikian melampaui warana, emban yang ikut merawat Ken Dedes terkejut melihat Akuwu Tunggul Ametung berdiri tegak di muka pintu, sehingga dengan tergesa-gesa ia bersimpuh sambil menyembah,
“Ampun tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak apa-apa. Aku ingin menengok gadis itu.”
Emban itu masih bersimpuh sambil menundukkan wajahnya. Perlahan-lahan ia berkata, “Gadis itu masih belum tenang benar tuanku.”
Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Apakah sekarang gadis itu tertidur?”
Emban itu menggeleng, “Tidak tuanku.”
“Apakah aku boleh masuk?” bertanya Akuwu itu.
Emban itu heran mendengar pertanyaan Tunggul Ametung. Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel. Tunggul Ametung adalah pemilik istana ini, dan semua orang akan tunduk pada perintahnya. Tetapi tiba-tiba Akuwu itu bertanya kepadanya, apakah ia boleh masuk ke dalam bilik ini. Karena itu, maka emban itu pun menjadi bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu.
“Bagaimana, apakah boleh masuk?” desak Tunggul Ametung.
“Ya. Ya.” emban itu tergagap, “sekehendak tuankulah.”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Sambil menganggukkan kepalanya ia berkata, “Terima kasih. Aku akan masuk ke sentong tengen.”
Emban itu menjadi semakin tidak mengerti. Kenapa Akuwu berterima kasih kepadanya. Namun Akuwu itu tidak berkata apa-apa lagi. perlahan-lahan ia melangkah maju. Melampaui tlundak pintu, kemudian melingkari warana memasuki ruang tidur Ken Dedes yang masih saja ditunggui oleh Nyai Puroni.
Tetapi demikian Tunggul Ametung masuk, Akuwu itu terkejut bukan buatan. Tiba-tiba saja, ketika Ken Dedes melihatnya, dengan serta merta gadis itu bangkit dan menunjuk wajahnya. Sambil berkata lantang,
“Nah, kaulah Tunggul Ametung. Kaulah sumber dari bencana yang menimpa keluarga. Ayo kembalikan aku ke Panawijen, atau bunuh aku sama sekali.”
Sesaat Akuwu berdiri mematung. Ia adalah Akuwu yang memegang seluruh kekuasaan Tumapel di tangannya. Ia adalah orang yang paling berkuasa di dalam dan diluar istana. Juga di Panawijen. Tiba-tiba gadis itu menudingnya sambil membentaknya tanpa takut.
Yang terdengar kemudian adalah suara Nyai Puroni cemas, “Nini, tenanglah ngger. Tenanglah. Tidurlah, biarlah nanti aku memberitahukan kepadamu, apa yang telah terjadi, Jangan risau anakku dan jangan menjadi bingung. Tuanku Tunggul Ametung adalah Akuwu Tumapel.”
“Apa peduliku, apakah Tunggul Ametung menjadi Akuwu, apakah ia menjadi Maharaja sekalipun, namun ia tidak lebih dari seorang perampok yang keji. Ayo, Tunggul Ametung. Bunuhlah aku.”
Tunggul Ametung adalah seorang yang aneh. Seorang yang mudah tersinggung, dan seorang yang mudah pula menjadi sangat cemas apabila tiba-tiba Akuwu itu kehilangan kesabaran. Ia tidak tahu, apakah yang telah terjadi, namun mengumpati Tunggul Ametung adalah berbahaya sekali bagi kesalamatannya.
Tetapi Nyai Puroni itu benar-benar menjadi heran. Ia melihat Akuwu yang garang itu, berdiri kaku di tempatnya. Kepalanya terkulai tunduk dalam-dalam. Sepatah katapun ia tidak menyahut dan bahkan Akuwu itu sama sekali tidak berani menatap wajah gadis yang sedang marah itu.
Sekali-kali Tunggul Ametung mencoba mengangkat wajahnya, namun kembali ia turtunduk. Bahkan kemudian tubuhnya menjadi gemetar dan terasa seakan-akan dadanya bergetaran.
“Apakah aku benar-benar sudah gila,“ desahnya di dalam hati.
Karena ketika ia mencoba memandang gadis itu, ia dikejutkan oleh cahaya yang berkilat cerah. Namun setiap kali ia berusaha memandang cahaya itu tak dapat tertangkap oleh wadagnya.
Sementara itu masih terdengar suara Ken Dedes lantang, “Ayo Tunggul Ametung. Kenapa kau berdiri saja seperti patung. Bukankah kau mempunyai seribu pusaka di istanamu. Ayo, ayo, bukankah di lambungmu itu tergantung senjata sipat kandel Tumapel? Kenapa kau diam saja seperti patung.”
Desir di dada Tunggul Ametung menjadi semakin tajam. Baru kini disadarinya, bahwa pusakanya masih tergantung pada ikat pinggangnya. Pusaka yang tidak setiap orang pernah melihatnya.
Nyai Puroni menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu. Usahanya untuk melilihkan hati Ken Dedes selalu sia-sia. Tetapi kembali Nyai Puroni mendengar sendiri mulut Akuwu Tunggul Ametung itu berdesis,
“Maafkan aku Ken Dedes. Aku sama sekali tidak sengaja membuat kau mengalami nasib yang sedemikian jeleknya.”
Mata Ken Dedes itu pun menjadi semakin menyala karenanya. Dan terdengar suaranya lantang, “Jangan bersembunyi Tunggul Ametung. Kau datang membawa bencana di padepokan ayahku. Kau telah membawa bencana bagi keluargaku, bagi hidupku. Kenapa kau tidak saja membunuh aku? Kenapa kau lindungi Kuda Sempana yang biadab itu? Kenapa?”
Akuwu masih menundukkan kepalanya. Suatu hal yang hampir tidak pernah dilakukan. Dihadapan setiap utusan Maharaja di Kediri sekalipun Tunggul Ametung selalu menengadahkan wajahnya. Namun kini, dihadapan seorang gadis padesan Tunggul Ametung itu tunduk tumungkul seperti seorang tawanan. Dan terdengar kemudian Tunggul Ametung itu menjawab perlahan-lahan,
“Ken Dedes. Aku telah mencoba memperbaiki kesalahanku. Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi.”
Ken Dedes itu terhenyak sejenak. Tampaklah kerut-kerut di wajahnya yang pucat. “Apa katamu?” terdengar ia bertanya untuk meyakinkan.
“Kuda Sempana tidak akan dapat mengganggumu lagi,” sahut Akuwu.
“Kenapa?”
Seperti anak-anak yang mendapat pertanyaan-pertanyaan dari ibunya yang sedang marah, Tunggul Ametung menjawab dengan jujur. “Kuda Sempana telah dikalahkan dalam perang tanding, dengan perjanjian, untuk seterusnya ia harus melepaskan tuntutannya atas dirimu.”
Ken Dedes tidak segera mengerti keterangan Akuwu Tunggul Ametung itu. Apakah yang dimaksud dengan perang tanding yang dapat melepaskan tuntutan Kuda Sempana atas dirinya? Karena itu maka untuk sejenak Ken Dedes terdiam. Tanpa mengenal takut, ditatapnya wajah Tunggul Ametung, yang tunduk. Tetapi Akuwu itu tidak meneruskan kata-katanya sebagai penjelasan.
Karena itu, maka terdengarlah suara Ken Dedes, “Apakah maksudmu Tunggul Ametung.”
Alangkah janggalnya panggilan itu di telinga Nyai Puroni serta emban yang duduk di pintu. Ken Dedes langsung menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Kalau Akuwu itu kemudian menyadarinya, maka ia pasti akan sangat marah. Bahkan seandainya dirinya sendiri, atau emban yang duduk di pintu itu, bahkan seorang senapati pun, apabila berani mengucapkan nama Akuwu itu tanpa sebutan apapun maka adalah suatu pertanda bahwa hidupnya akan mendapat kesulitan. Tetapi sekarang, gadis pedesan itu dengan beraninya bahkan dengan menuding wajah Akuwu itu. Aneh. Apakah yang sebenarnya telah terjadi.
Tunggul Ametung sendiri tidak segera menjawab pertanyaan Ken Dedes itu. Sekali ia mengangkat wajahnya namun ketika dilihatnya mata gadis itu, kembali ia menunduk. Mata yang memancarkan tuntutan atas kesalahan yang pernah dilakukannya. Mata yang memancarkan jeritan hatinya yang duka. Dan mata yang memancar itu adalah mata seorang gadis yang aneh. Seorang gadis yang seakan-akan memiliki cahaya yang bersinar dari tubuhnya. Cahaya yang membuat Akuwu Tunggul Ametung itu merasa dirinya hampir menjadi gila.
“Gadis itu bukan gadis kebanyakan”, desis Akuwu Tunggul Ametung di dalam hatinya.
Karena Tunggul Ametung tidak segera menjawab, maka terdengar Ken Dedes mengulangi pertanyaannya, “He Tunggul Ametung, apakah yang kau maksud dengan perang tanding. Dan apakah hubungannya dengan Kuda Sempana?”
Akuwu Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Bagaimanapun juga ia ingin mencoba menyampaikan beberapa penjelasan mengenai perang tanding itu. Mencoba mengatakan kepada Ken Dedes bahwa dengan kekalahan Kuda Sempana dalam perang tanding itu, maka tuntutannya atas Ken Dedes telah digugurkan. Ia mengambil gadis itu dengan kekerasan, maka dengan kekerasan pula usaha itu telah digagalkan.
“Gila,“ teriak Ken Dedes. Napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan dengan terbata-bata ia berkata, “Kenapa aku kau perlakukan seperti itu Tunggul Ametung. Kenapa aku kalian perlakukan seperti barang yang dapat kalian perebutkan dengan berkelahi dan saling membunuh sekalipun. Tunggul Ametung, Akuwu yang memiliki kekuasan tertinggi di Tumapel, kenapa kau berbuat demikian? Kenapa kau menganggap bahwa aku tidak lebih daripada barang yang seandainya paling berharga sekalipun, sehingga dipertaruhkan dengan nyawa? Tidak. Aku mempunyai pendirianku sendiri. Aku mempunyai kehendak, akal dan penilaian atas persoalanku. Bukan kalian yang akan menentukan jalan hidupku. Tetapi aku. Aku sendiri.”
Peristiwa itu adalah peristiwa yang benar-benar aneh bagi Nyai Puroni. Aneh, karena semang gadis padesan dengan beraninya menentang Akuwu, membaluti kata-katanya kata dengan kata, kalimat dengan kalimat. Tak pernah dijumpai sepanjang umurnya seorang gadis yang sedemikian beraninya. Setiap perempuan di Tumapel, setiap gadis, pada umumnya selalu menundukkan kepalanya, menerima nasib yang diletakkan oleh orang tuanya, oleh suaminya apalagi seorang Akuwu atasnya. Tetapi gadis ini tidak berbuat demikian.
Namun, Akuwu Tunggul Ametung adalah orang yang benar-benar aneh. Semakin banyak Ken Dedes berbicara, semakin tajam Ken Dedes mengumpat-umpatinya, hatinya menjadi semakin tertarik kepada gadis itu. Gadis itu baginya menjadi seakan-akan sebuah mutiara yang bercahaya dengan sinarnya. yang tajam menusuk langsung ke hulu hatinya.
Gadis yang berani itu pasti memiliki kekhususannya dari gadis-gadis yang lain. bahkan gadis kota sekalipun. Meskipun gadis itu gadis padesan, namun tanda-tanda yang dirasakan oleh Akuwu Tunggul Ametung menjadikannya semakin yakin, bahwa gadis itu adalah gadis yang memiliki kelebihan-kelebihan.
Karena itulah maka sekali lagi Akuwu ingin menjelaskan persoalan yang dikehendakinya dengan perang tanding itu. katanya, “Ken Dedes. Karena aku mempunyai penilaian yang demikian atasmu, bahwa kau memiliki pendirian, penilaian dan lebih-lebih lagi adalah hak atas dirimu sendiri dan jalan hidupmu, maka aku telah melepaskan kau dari Kuda Sempana.”
“Apakah artinya itu?” bertanya Ken Dedes.
“Kau kini dapat menentukan hidupmu sendiri. Tidak ada keharusan bagimu untuk tunduk pada setiap kehendak orang lain kecuali atas kerelaan hatimu.”
“Tetapi apa artinya kedatangan kalian ke Panawijen. Kau tidak mencegah perbuatan Kuda Sempana, dan bahkan kau melindunginya.”
“Aku terdorong dalam kekhilafan, Ken Dedes. Kuda Sempana telah menipuku.”
“Kau dapat menghukumnya, bahkan menghukum mati sekalipun.”
“Ya. Tetapi aku sendiri telah melakukan kesalahan pula. Karena itu aku tidak dapat menghukumnya karena alasan itu, sebab ia berbuat dalam perlindunganku. Satu-satunya cara untuk menebus kesalahanku itu adalah membebaskan kau dari tangannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukannya atas keluargamu.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Ia merasakan di dalam hatinya bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu berkata dengan jujur. Ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, seakan-akan semua kemarahan dan luapan perasaannya perlahan-lahan menjadi tenang. Meskipun demikian, hati Ken Dedes itu masih juga gelap. Apakah yang akan terjadi atas dirinya selanjutnya. Apabila seseorang telah berhasil melepaskannya dari Kuda Sempana, lalu apakah hak orang itu atas dirinya? Apakah dengan demikian ia hanya akan berpindah tangan kepada orang yang bahkan sama sekali tak dikenalnya? Bagaimana kalau ada orang lain yang berbuat demikian pula atas orang yang kedua itu.
Tiba-tiba teringatlah Ken Dedes itu kepada Mahisa Agni. Kenapa kakaknya itu membiarkannya dilarikan oleh Kuda Sempana? Apakah Mahisa Agni tidak tahu apa yang terjadi atasnya? Kalau saja Mahisa mengetahui, bahwa dengan perang tanding dirinya akan dapat dibebaskan, ia mengharap, bahwa pada waktu ketika Mahisa Agni datang ke Tumapel dan melepaskannya. Tetapi kapan? Sehari, seminggu atau sebulan. Atau sesudah ia kehilangan harapan untuk dapat kembali ke padepokan?.
Dalam pada itu, maka kembali terdengar Ken Dedes bertanya, “Akuwu Tunggul Ametung. Setelah perang tanding ini berlangsung, dan menurut katamu, setelah aku dapat dibebaskan dari Kuda Sempana, lalu apakah aku akan dapat segera pulang?”
Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Tunggul Ametung. Tiba-tiba ia dihadapkan pula suatu masalah yang sangat berat baginya. Seharusnya, menurut rencananya semula, ia hanya ingin membebaskan Ken Dedes dari tangan Kuda Sempana sebagai tebusan atas kesalahannya. Tetapi tiba-tiba alangkah beratnya untuk melepaskan gadis itu pulang kembali ke Panawijen. Alangkah sulitnya untuk memenuhi rencananya.
Setelah ia melihat Ken Dedes dari dekat, setelah ia mendengar Ken Dedes menangis, dan setelah ia sendiri melihat Ken Dedes dengan beraninya mempertahankan kebebasannya untuk menentukan jalan hidupnya, serta setelah ia melihat gadis itu dengan tabahnya mengumpat-umpatinya, maka tiba-tiba Tunggul Ametung benar-benar telah terpesona. Ken Dedes telah benar-benar menarik hatinya. Karena itu, ketika ia mendengar pertanyaan Ken Dedes itu, hatinya seolah-olah membeku. Tak ada jawaban yang dapat diberikannya.
“Akuwu,“ Ken Dedes mengulang, “bagaimana?”
Tunggul Ametung tergagap. Ia harus menjawab. Tetapi ia tidak segera mendapatkan jawaban itu. Sehingga kembali terdengar Ken Dedes mendesaknya, “Akuwu Tunggul Ametung, apakah aku segera dapat kembali pulang.”
Tiba-tiba dalam kebingungan Tunggul Ametung bertanya, “Ken Dedes. Kalau kau ingin segera pulang, apakah yang menarik bagimu di Panawijen?”
Ken Dedes merasa aneh mendengar pertanyaan itu sehingga sahutnya, “Panawijen adalah tempat kelahiranku. Panawijen adalah padepokan ayahku. Panawijen adalah tempat aku bermain bersama kakakku Mahisa Agni, dan Panawijen adalah tempat aku menyongsong masa depanku.”
Tunggul Ametung menjadi semakin bingung. Dan dalam kebingungan itu ia menjawab, “Ya. Ken Dedes. Sebenarnya kau akan segera dapat pulang ke kampung halaman, tetapi aku takut, apabila dengan demikian luka di hatimu akan menjadi semakin parah,”
Mendengar jawaban itu, maka kegelisahan di hati Ken Dedes menjadi menyala kembali. Dengan penuh ketegangan ia memandang Akuwu Tunggul Ametung. Terdengarlah kemudian suaranya gemetar,
”Kenapa Akuwu?”
Tunggul Ametung .menarik nafas dalam-dalam. Ia menjadi ragu-ragu sesaat. Tetapi ia telah terdorong menyatakan tentang luka di hati gadis itu. Karena itu ia menjawab,
”Ken Dedes, Terserahlah kepadamu seandainya kelak kau ingin kembali ke Panawijen. Tetapi jangan segera.”
“Kenapa? Ya, kenapa?”
Tunggul Ametung terdiam sesaat. Dicobanya menatap wajah gadis itu. Namun kembali ia menundukan kepalanya. Di dalam mata Ken Dedes itu seakan-akan tercermin segenap kesalahan, kekhilafan dan ketergesa-gesaan yang pernah dilakukannya. Seakan-akan dilihatnya kembali bagaimana Kuda Sempana datang kepadanya, dan mengusulkan untuk pergi berburu ke arah lain dari pada arah Panawijen. Diingatnya bagaimana Kuda Sempana merajuknya, mengatakan kepadanya bahwa ia ditolak karena seorang pelayan dalam Akuwu Tumapel.
“Gila,” geramnya di dalam hati. Ia menyesal bahwa ia terlalu cepat mengambil keputusan. Namun itu adalah sifatnya-sifatnya yang dibawanya sejak ia dilahirkan. tergesa-gesa, lekas marah dan kadang-kadang kurang pertimbangan.
Sekarang ia mengalami kegoncangan akibat sifat-sifatnya itu. Sifat-sifatnya yang kurang menguntungkannya. Baik sebagai seorang Akuwu, maupun sebagai manusia yang bergaul diantara sesama. Dan sekarang ia harus menjawab pertanyaan Ken Dedes yang mendesak itu,
”Kenapa?”
“Ken Dedes,” jawab Tunggul Ametung, “tinggallah disini beberapa saat. Kemudian kau akan dapat mengambil keputusan menurut kehendakmu. Tetapi jangan tergesa-gesa kembali. Biarlah kelak aku sendiri akan mengantarkanmu.”
“Tetapi aku ingin tahu, kenapa luka hatiku akan menjadi semakin parah?”
Ketika Akuwu tidak segera menjawab, maka angan-angan Ken Dedes sendiri telah beredar, mencoba mencari jawabnya. tiba-tiba dikenangnya, bahwa pada saat Kuda Sempana mengambilnya, Witantra telah dijatuhkannya. apakah yang terjadi atas anak muda itu seterusnya. Dalam kegelisahan, kebingungan dan ketakutan pada saat itu ia melihat Wiraprana terbanting jatuh. Ia masih dapat mengingat kembali, ketika tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya. pada anak muda itu. Dikenangnya betapa pucat wajah Wiraprana saat itu. Dan apakah saat itu Wiraprana masih bernafas? Tiba-tiba Ken Dedes yang duduk dengan tegangnya itu memekik kecil. Ditutupinya wajahnya dengan kedua tangannya seakan-akan ingin menghilangkan bayangan-angan yang hilir mudik di dalam rongga mata hatinya.
“Wiraprana,“ desisnya, “bagaimana dengan Wiraprana?”
Tunggul Ametung terkejut mendengar Ken Dedes memekik dan kemudian menyebut nama anak muda yang ternyata telah terbunuh itu. Sentong tengen itu sesaat dicengkam oleh kesepian yang tegang. Ken Dedes mencoba menunggu apakah Akuwu Tunggul Ametung dapat memberinya keterangan tentang Wiraprana. Namun Akuwu Tunggul Ametung itu menjadi terpaku diam, keragu-raguan dan kecemasan merayap-rayap di dalam dadanya. Apakah akibatnya seandainya diberitahukannya tentang nasib Wiraprana itu.
Tetapi Ken Dedes itu kemudian mendesaknya, “Akuwu, bagaimanakah dengan Wiraprana itu?”
Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dicobanya mengingkari, katanya, “Aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian Ken Dedes. Aku pergi bersama Kuda Sempana meninggalkan Panawijen. Aku melihat Wiraprana terjatuh, tetapi aku tidak tahu apa yang terjadi kemudian. Bukankah kau juga melihatnya.”
“Ya. Aku melihat. Tetapi aku segera menjadi tak sadar lagi. Nah, apakah yang telah terjadi?”
“Aku tidak tahu.”
“Bohong.”
Sekali lagi Tunggul Ametung menarik nafas dalam-dalam. Ia kini benar-benar menjadi bingung. Nyai Puroni yang melihat percakapan itu dengan penuh keheranan, melihat, seakan-akan yang berdiri dengan gelisah dan cemas itu bukan Akuwu Tunggul Ametung yang dikenalnya sehari-hari. Bukan seorang yang keras hati, yang membentak-bentak dan berteriak-teriak. Bukan seorang yang aneh seperti yang sering dilakukannya atas hamba-hambanya. Sekali waktu dipukulnya seorang pelayan dalam, namun tiba-tiba orang itu dipanggilnya, dan diberinya ia hadiah sepotong kain panjang. Atau pernah seorang emban disiramnya dengan air jahe yang terlalu pedas, tetapi ketika ia melihat emban itu menangis, maka segera diberinya emban itu uang.
Sekarang Tunggul Ametung benar-benar seperti seorang anak yang merasa dirinya berdosa terhadap orang tuanya. Seperti seorang anak yang menghadapi ibunya yang sangat diseganinya. Tunduk dan gelisah.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ken Dedes serak, “Akuwu, bagaimanakah nasib Wiraprana itu?”
Tiba-tiba pecahlah ketahanan Tunggul Ametung mendengar pertanyaan itu. Seperti orang yang berbuat tidak atas kehendaknya sediri ia berkata, “Wiraprana terbunuh.”
Alangkah dahsyatnya suara itu terdengar di telinga Ken Dedes, seperti petir yang langsung menyambar dinding-dinding hatinya. Meledak dan seakan-akan memecahkan jantungnya. Sesaat Ken Dedes terpaku seperti patung. Namun tiba-tiba gadis itu menjatuhkan dirinya di pembaringan sambil menelungkupkan wajahnya. Sekali ia memekik, menyebut nama Wiraprana, kemudian ia tenggelam dalam tangisnya yang sedih.
“Hem,“ Akuwu Tunggul Ametung berdesah. Ditatapnya gadis yang malang itu. Ketika terdengar olehnya tangis itu semakin keras, maka kembali penyesalan menghentak-hentak dada Akuwu Tunggul Ametung. Dan sejalan dengan itu, maka keinginannya untuk menebus kesalahannya pun menjadi semakin besar.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar