Tiba-tiba terdengarlah suara Tunggul Ametung itu dalam nada yang rendah, “Maafkan aku Ken Dedes.”
Ken Dedes masih menangis terus, seakan-akan ia tidak mendengar kata-kata itu. Tetapi Akuwu itu kemudian melangkah maju, benar-benar seperti tidak atas kehendak sendiri. Dua langkah dari pembaringan Ken Dedes, Tunggul Ametung berhenti. dari antara bibirnya itu kemudian terloncat kata-kata,
“Ken Dedes. aku minta maaf kepadamu. Aku telah berusaha berbuat apa saja untuk mengurangi kesalahanku. Kalau apa yang sudah aku lakukan itu masih belum cukup bagimu Ken Dedes, maka apa saja yang kau ingini seterusnya pasti akan aku penuhi. Aku adalah Akuwu Tumapel. Kekuasaanku atas tanah ini berada di tanganku.
“Tuanku,” potong Nyai Puroni yang menyangka bahwa Tunggul Ametung benar-benar telah kehilangan segala pengamatan diri.
Ia ingin memperingatkan kepadanya, supaya setiap kata dan perbuatannya benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi sebelum ia berkata lebih lanjut, Akuwu Tunggul Ametung telah berkata,
“Ken Dedes. Berkatalah. Apakah yang kau kehendaki daripadaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.”
“Tuanku,“ sekali lagi Nyai Puroni memotong.
Namun Tunggul Ametung seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Tak ada yang lebih berharga yang ada padaku dari pada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa apa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku. Karena itu Ken Dedes, jangan kau sedihkan yang telah terlanjur terjadi. Akulah orang yang paling menyesal atas peristiwa yang menyedihkan itu. Tinggallah untuk sementara disini. Tenangkan hatimu, dan barulah kau berpikir apakah yang akan kau lakukan kemudian. Namun ada harapanku yang akan dapat kau pertimbangkan. Menyerahkan istana ini kepadamu dengan segenap isinya.”
Ken Dedes mendengar kata-kata itu dengan jelas. Kalimat demi kalimat. Namun ia tidak memperhatikannya. Kepalanya yang tertelungkup itu masih saja tersentak-sentak oleh isaknya. Sehingga karena itu, ia sama sekali tidak menjawab, apalagi mengangkat wajahnya. Dibiarkannya Akuwu Tunggul Ametung berdiri mematung di samping pembaringannya.
Tunggul Ametung itu terkejut ketika ia merasa Nyai Puroni menggamit ujung kakinya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Nyai Puroni yang tegang. Tunggul Ametung segera menyadari apa yang terkandung di dalam hati orang tua itu. Tetapi seakan-akan ia telah terbenam dalam tekad yang bulat. Menebus kesalahannya dengan apa saja yang ada padanya.
Tetapi dalam penilaian Nyai Puroni, Tunggul Ametung itu tidak saja menyesal atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan yang tidak diketahui oleh perempuan tua itu, namun Tunggul Ametung itu benar-benar sedang jatuh cinta. Cinta bagi seorang yang masih semuda Tunggul Ametung adalah bagaikan kekuatan yang tersimpan di dalam perut Gunung Semeru. Setiap saat akan meledak dengan dahsyat, sedahsyat ledakan yang terjadi saat ini. Menyerahkan apa saja yang ada padanya kepada gadis Panawijen itu.
Tetapi Nyai Puroni itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sudah tidak mungkin lagi mencegah perbuatan Akuwu Tunggul Ametung itu, atau setidak-tidaknya memberinya peringatan. Semuanya sudah dikatakan oleh Akuwu dan perkataan seorang Akuwu adalah janji yang sulit untuk dicabut kembali tanpa alasan-alasan yang terlalu kuat.
Namun di samping itu, dukun tua itu benar-benar merasa kecewa, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar tenggelam dalam arus perasaannya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Ken Dedes akan dapat menjadi permaisurinya dan langsung dapat mencampuri tata pemerintahan. Bukankah dengan demikian maka gadis padesan itu dapat membuat putih hitam atas tanah Tumapel? Nyai Puroni, yang telah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun itu menjadi sangat menyesalkan keadaan itu. Kenapa Akuwu tidak dapat mengendalikan perasaannya?
Tetapi bukan saja ia menyesalkan sikap Tunggul Ametung, namun tiba-tiba ia menjadi sangat kecewa pula kepada Ken Dedes. Gadis itu seakan-akan telah melanggar segala adat dan kebiasaan istana Tumapel. Gadis itu sama sekali tidak tunduk pada setiap peraturan yang berlaku bahkan ia telah berani menyebut nama Tunggul Ametung begitu saja. Betapapun juga kemarahan seseorang, namun kepada Akuwu ia tidak akan dapat berbuat demikian. Tetapi ken Dedes itu telah melakukannya. Namun dukun tua itu menyimpan kekecewaan itu di dalam dadanya. Ia tidak berani mengatakannya di muka Tunggul Ametung yang sedang jatuh cinta itu.
Sesaat kemudian bilik itu menjadi sepi, yang terdengar adalah suara isak Ken Dedes yang pedih. Nyai Puroni yang telah menjadi kecewa itu, sama sekali tidak bernafsu lagi untuk menghiburnya. Bahkan ia menjadi jemu menunggui gadis itu di sentong tengen. Telah hampir satu hari satu malam ia berada dalam bilik itu, dan hanya keluar sesaat apabila ia pergi ke belakang dan makan, berganti-gantian dengan emban yang sekarang duduk diluar. Namun ternyata bahwa ia menemui kekecewaan.
Ketika Akuwu Tunggul Ametung kemarin mengucapkan janjinya, Nyai Puroni telah merasa aneh dan heran. Tetapi ia mengharap bahwa Akuwu akan berubah pendirian selagi janji itu belum didengar oleh orang lain, apalagi Ken Dedes sendiri. Tetapi kini janji itu langsung telah diberikan kepada gadis Panawijen itu. Gadis padesan yang terlalu kecil dibandingkan dengan kebesaran Akuwu Tumapel.
Tetapi Tunggul Ametung sendiri memandang Ken Dedes tidak terlampau kecil. Bahkan Akuwu itu melihat kebesaran yang memancar dari diri gadis itu. Dari sikapnya dan dari balik kewadagannya.
Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes masih juga menangis, berkatalah Tunggul Ametung, “Ken Dedes, aku tidak ingin kau mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Pikirkanlah semua kata-kataku. Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Semuanya aku katakan dengan jujur. Seperti aku dengan jujur mengakui segenap kesalahanku. Sekarang cobalah tenangkan hatimu. Apa yang sudah terjadi tak akan dapat diulang kembali. Namun pertimbangan apa yang aku katakan, menjelang hari depanmu yang masih panjang.”
Kali in pun Ken Dedes seolah-olah tidak mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung. Ia masih saja terbenam dalam isak tangisnya, kekecewaan dan penyesalan yang tiada taranya.
“Baiklah aku pergi dulu Ken Dedes,“ berkata Tunggul Ametung itu. Namun kata-kata lenyap tiada jawaban. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Tunggul Ametung melangkah surut, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata, “Nyai, rawatlah gadis ini baik-baik.”
Nyai Puroni menganggukkan kepalanya, tetapi betapa hambar perasaannya. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung kemudian tidak berkata apapun lagi. Segera ia melangkah meninggalkan ruang itu. Di muka pintu dilihatnya seorang emban duduk bersimpuh dan menyembahnya ketika ia lewat.
“Layani gadis itu seperti kau melayani aku,” perintah Tunggul Ametung.
Emban itu menjadi heran. Dipandanginya wajah Akuwu sesaat, namun kemudian jawabnya, “Hamba tuanku.”
Tunggul Ametung itu pun kemudian pergi ke biliknya, kepada seorang pelayan diperintahkannya memanggil Daksina.
“Hamba tuanku,“ sahut pelayan itu.
“Cepat. Ia harus datang sekarang membawa kitab yang paling baik yang dikenalnya.”
“Hamba tuanku,“ sahut pelayan itu yang kemudian berlari-lari pergi ke rumah Daksina di halaman belakang istana.
Sejenak kemudian Daksina datang sambil membawa Kidung yang lagi dibacanya di rumahnya, Smaradahana.
“Ya bacalah,“ perintah Akuwu.
Dengan suaranya yang lembut Daksina kemudian membaca rontal Kidung Smaradahana. Akuwu yang sedang dilanda oleh berbagai perasaan itu merasa betapa hatinya menjadi penat. Suara Daksina itu seolah-olah langsung menyentuh membelai seisi dadanya. perlahan-lahan Akuwu dapat mengendapkan kesibukan perasaannya, sehingga sesaat kemudian Tunggul Ametung itu tertidur.
Ken Dedes yang kemudian ditinggalkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, masih saja meratapi nasibnya yang pahit. Ia tidak dapat mengerti kenapa hal itu harus menimpa pada dirinya. Namun sekejap-sekejap terngiang juga kata-kata Akuwu Tunggul Ametung di telinganya. Terasa bahwa Tunggul Ametung telah mencoba berkata setulus hatinya. Terasa bahwa Akuwu itu benar-benar telah menumpahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam dadanya. Bahkan kadang-kadang di telinga Ken Dedes itu masih juga terulang-ulang kata-kata Tunggul Ametung,
“Ken Dedes, berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dari padaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.“ Kemudian Tunggul Ametung itu berkata pula, “Ken Dedes, tak ada yang lebih berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku.”
Ketika Ken Dedes kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya Nyai Puroni duduk tepekur di sisi pembaringannya. Karena tidak ada orang lain, maka kepada Nyai Puroni itulah Ken Dedes ingin menceriterakan dan menumpahkan segenap tekanan yang menghimpit dadanya selama ini. Ketika dilihatnya Nyai Puroni masih saja menundukkan wajahnya, maka perlahan-lahan terdengar Ken Dedes itu memanggil,
“Nyai.”
Nyai Puroni mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu sudah tidak sebening ketika ia pertama-tama memasuki ruangan itu. “Apa ngger,” sahutnya.
“Apakah Nyai mengetahui maksud Akuwu Tunggu Ametung dengan segenap kata-katanya itu?”
Nyai Puroni mengangkat keningnya. Kemudian sambil mencibirkan bibirnya ia berkata, “Perkataan seorang laki-laki biasa.”
“Kenapa Nyai?” bertanya Ken Dedes.
Nyai Puroni tidak segera menjawab. Sekali dipandangnya wajah gadis padesan itu. “Memang cantik,” gumamnya di dalam hati.
Tetapi tiba-tiba pula merayap pada dinding jantungnya, perasaan iri hati atas nasib Ken Dedes yang sangat baik itu. Telah berapa tahun ia mengabdikan diri pada Akuwu Tunggul Ametung, namun tidak pernah ia menerima limpahan kebaikan hati sepersepuluh dari yang diterima oleh Ken Dedes. Sebagai seorang dukun, ia masih saja harus melakukan pekerjaannya dengan keadaan yang sama seperti dua tiga tahun yang lampau.
Kemenakannya, seorang gadis yang cantiknya menyamai bidadari dan diabdikannya pula di istana ini, sejak ia menginjak gerbang istana dua tahun yang lampau sampai saat ini masih saja tidak lebih dari seorang emban juru makanan. Sekali-kali Akuwu Tunggul Ametung memuji kepandaiannya memasak. Namun besok Akuwu telah melupakannya pula. Sekarang tiba-tiba di istana itu hadir seorang gadis desa, berkain lurik kasar, berkulit kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari, namun langsung ditempatkan oleh Akuwu di sentong tengen. Dan bahkan telinganya sendiri mendengar betapa Tunggul Ametung telah mengucapkan suatu janji yang tak ternilai.
Ketika dukun tua itu tidak segera menjawab, maka kembali Ken Dedes bertanya, “Kenapa Nyai? Kenapa dengan seorang laki-laki biasa?”
Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kau masih terlalu muda ngger. Kau belum tahu apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukankah kau mendengar bahwa Tunggul Ametung itu akan menyerahkan apa saja yang ada padanya kepadamu? Nah, itulah suatu pertanda bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu sedang mencoba merayumu. Tetapi jangan kau harap bahwa kau akan dapat menjadi seorang permaisuri yang benar-benar memiliki kekuasaan di Tumapel melampaui kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes memandang Nyai Puroni dengan heran. Ia mendengar Akuwu berkata demikian kepadanya. Tetapi ia melihat perubahan sikap, nada dan tekanan kata-kata Nyai Puroni.
Dan sebelum Ken Dedes berkata apapun, maka kembali Nyai Puroni itu berkata, “Nah, karena itu jangan terlalu berbangga dengan dirimu ngger. Kau kini berani menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Mungkin kini Akuwu masih dapat menahan kemarahannya karena keinginannya untuk mendapat kesediaanmu. Tetapi nanti, apabila ibarat bunga, madumu telah habis dihisapnya, maka kau akan dilemparkan ke dalam parit.”
“Nyai,“ potong Ken Dedes.
Nyai Puroni, dukun tua yang berwajah bening dan lembut itu tiba-tiba tertawa. Suaranya bernada tinggi meskipun perlahan-lahan. Katanya, “Jangan takut. Itu adalah akibat biasa bagi seorang gadis yang diingini oleh Tunggul Ametung. Pembaringan ini dapat menjadi saksi. Berapa banyak gadis seperti angger ini, yang mula-mula berbaring di sentong tengen akhirnya berkeliaran di sepanjang jalan Tumapel. Ada diantara mereka yang menjadi gila dan ada pula yang membunuh dirinya sendiri.”
“Nyai terlalu mengerikan.”
“Ya. Aku berkata sebenarnya.”
“Tetapi, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi apapun disini, apalagi seorang permaisuri.”
Nyai Puroni tersenyum. Senyumnya menjadi semakin menakutkan. Wajahnya kini sama sekali berubah. Sinar matanya yang lembut tiba-tiba kini seakan-akan membakar jantung Ken Dedes. Katanya,
“Oh, oh. Jangan mengelabui orang tua ngger. Adakah di dunia ini seseorang yang menolak kebahagiaan itu tanpa mengetahui akibatnya?”
“Nyai,” bantah Ken Dedes, “bukankah Nyai melihat keadaanku pada saat aku datang? Kalau aku benar-benar berkeinginan seperti yang Nyai katakan, maka aku sekarang akan terbakar oleh kegirangan tiada bandingnya.”
“Aku orang tua ngger. Aku memang pernah melihat, seorang gadis tanpa diminta pendapatnya, langsung dibawa oleh Akuwu. Gadis itu menjadi ketakutan seperti angger ini. Tetapi ketika diketahuinya bahwa yang akan didapatnya adalah istana dan kekuasaan atas Tumapel, maka dengan serta merta ia menerimanya. Tetapi akibatnya?”
“Oh,“ Ken Dedes menutup wajahnya.
Tetapi bagaimanapun juga Ken Dedes bukan seorang yang sangat bodoh. Ia melihat pada saat-saat Akuwu Tunggul Ametung datang bersama Kuda Sempana. Ia melihat, bahwa Akuwu belum mengenal dirinya. Dan ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh Kuda Sempana atasnya. Karena itu ia menjadi bimbang atas keterangan Nyai Puroni itu. Mungkin Akuwu pernah berbuat demikian, namun kehadiran dirinya di Tumapel bukan atas kehendak Tunggul Ametung, tetapi atas kehendak Kuda Sempana. Meskipun demikian, Ken Dedes tidak membantah lagi. Dibiarkannya Nyai Puroni berkata terus
“Nah ngger. Terserah kepada angger. Apakah angger akan menerima nasib seperti itu? Seperti gadis-gadis yang kemudian membunuh diri atau berkeliaran sepanjang jalan karena terganggu ingatannya.” Ken Dedes menutupi wajahnya semakin rapat. Suara itu benar-benar seperti suara hantu di tengah-tengah tanah pekuburan.
Nyai Puroni yang melihat Ken Dedes ketakutan, menjadi gembira. Ia mengharap gadis itu menolak. Dengan demikian ia tidak harus menyembah seorang gadis desa apabila ia benar diangkat menjadi seorang permaisuri. Mungkin Nyai Puroni dapat mencari gadis-gadis terhormat atau bahkan seorang gadis dari istana Kediri untuk permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Bukan hanya seorang gadis dari Panawijen.
Sebelum Akuwu berhasil mendapatkan seorang permaisuri, dapat saja Tunggul Ametung mengambil satu atau dua orang selir. Kalau berkenan di hati Akuwu, maka kemenakannya yang kini menjadi juru makanan dapat juga diambilnya. Tetapi jangan gadis desa ini. Gadis yang menjadi seorang selir pun kurang pantas meskipun cantik.
Ketika kemudian Nyai Puroni masih saja menakut-nakuti, maka akhirnya hati Ken Dedes menjadi tidak tahan lagi. Sahutnya, “Nyai, bukankah Nyai telah mendengarnya sendiri, bahwa yang membawa aku kemari adalah Kuda Sempana. Sama sekali bukan Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi atas persetujuanku.”
Nyai Puroni terdiam sesaat, sejak semula memang ia telah menyangka bahwa semua itu adalah pokal Kuda Sempana. Bahkan semula menaruh belas yang dalam kepada gadis yang malang itu. Tetapi tiba-tiba perasaan iri dan dengki telah menyala di dalam hatinya, seolah-olah telah membakar hangus segala sifatnya. Sifat seorang dukun yang pengasihi dan berhati lembut. Harga dirinya sebagai seorang perempuan istana menghadapi seorang gadis desa, mendorongnya untuk menolak kehadiran Ken Dedes di dalam istana Tumapel. Setelah berdiam diri sejenak maka Nyai Puroni itu kemudian menjawab,
“Apapun sebabnya ngger, namun kau sekarang telah berada di sentong tengen ini. Kalau kau mau mendengar nasehatku, jangan kau penuhi permintaan Akuwu. Meskipun dikatakannya untuk menebus kesalahan dan apa saja. Kau harus dapat membedakan. Seorang laki-laki berkata sungguh-sungguh atau seorang laki-laki sedang merayu. Kalau benar Tunggul Ametung akan menebus kesalahannya, dan segenap permintaanmu akan dipenuhi, cobalah, mintalah kau dikembalikan ke rumahmu. Mintalah tanah yang luas dan mintalah ternak dan iwen untuk bekal hidupmu kelak. Mudah-mudahan kau akan menemukan suami yang baik kelak dan kau akan dapat hidup dengan baik pula ngger.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Kata-kata Nyai Puroni mempunyai pengaruh yang sangat aneh di dalam dirinya. Ken Dedes, gadis desa yang manja, yang kurang sekali memiliki pengalaman itu, ternyata dapat membedakan nada dan tekanan kata-kata yang diucapkan oleh Tunggul Ametung dan Nyai Puroni. Ia melihat kejujuran membayang di wajah Akuwu yang suram dan dalam. Tetapi di balik kata-kata Nyai Puroni terasa ada yang kurang wajar. Orang tua yang baik dan lembut itu tiba-tiba saja berubah menjadi seorang yang berlidah tajam. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak segera dapat menarik kesimpulan dari semua pembicaraan yang didengarnya.
Tetapi karena itu, maka ia terpaksa berpikir. Dengan demikian maka ia tidak lagi tenggelam dalam arus perasaannya. Perasaan duka dan hampir putus asa. Justru karena itu, maka tiba-tiba ia mulai dengan pertimbangan-pertimbangan yang semakin lama menjadi semakin bening. Ia mulai berpikir dan mempertimbangkan semua peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, atas keluarganya dan atas Wiraprana yang malang.
Ketika kemudian terbersit di dalam hatinya. bahwa segala akhir dari peristiwa adalah terletak di tangan Yang Maha Agung, maka Ken Dedes benar-benar dapat mengendapkan hatinya. Adalah wewenang dari setiap orang untuk mempertimbangkan, merencanakan dan mengusahakan jalan dan arah hidupnya. Namun kadang-kadang yang Maha Agung berkehendak lain dari kehendak orang itu sendiri. Namun yang berlaku itulah keadilan yang sebenarnya yang dianugerahkan oleh sumber Hidup manusia kepada manusia. Sedang Yang Maha Agung itu pun pasti akan mendengar setiap permohonan dari mahluk terkasihnya, sepanjang permohonannya itu wajar menurut penilaian tertinggi, bukan penilaian manusia. Itulah sebabnya maka manusia diwajibkan berusaha, sebagai ungkapan kesungguhan atas permohonannya.
Beberapa saat kemudian Nyai Puroni masih saja memberikan beberapa pendapat kepada Ken Dedes. Berbagai-bagai hal dikemukakannya dan diberikannya beberapa contoh yang dapat menambah kecemasan hati gadis Panawijen itu. namun kini Ken Dedes sama sekali tidak menjawab. Satu patah katapun tidak. Sehingga akhirnya Nyai Puroni itu berhenti dengan sendirinya.
Namun dukun tua itu, sama sekali tidak dapat menangkap kesan wajah Ken Dedes. Ia mengharap gadis itu ketakutan, dan nanti apabila Tunggul Ametung datang kembali, maka ia akan minta dikembalikan ke Panawijen, sesuai dengan janji Akuwu, akan memberi apa saja yang dimintanya.
Karena Ken Dedes sama sekali tidak menjawab semua kata-katanya, dan tidak segera dapat memberinya kesan atas semua kata-katanya, maka Nyai Puroni itu menjadi kecewa. Meskipun demikian ia mengharap bahwa gadis desa itu akan menuruti kata-katanya. Untuk memberinya waktu, maka Nyai Puroni itu pun kemudan berkata,
“Pikirkan nasehatku ngger. Aku ingin Akuwu tidak membuat korban-korban baru. Aku akan pergi ke belakang sebentar. Biarlah emban diluar itu mengawasimu disini. Tetapi ingat, jangan kau katakan nasehatku kepada siapapun, supaya kau tidak terancam oleh kekerasan. Sebab Akuwu dapat merayumu dengan kata-kata, namun dapat juga memaksamu dengan senjata. Bukankah kau seorang gadis yang lemah? Nah, simpanlah nasehatku dan pertimbangkanlah seorang diri.”
Kali ini Ken Dedes mengangguk sambil berkata, “Baik Nyai.”
Nyai Puroni itu pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Diluar dijumpainya seorang emban duduk sambil mengantuk.
“He,“ desis Nyai Puroni sambil menyentuh pundaknya.
Emban itu terkejut. “Ada apa Nyai,” sahutnya tergagap.
“Aku akan pergi sejenak. Tungguilah gadis itu. Jangan kau ganggu dengan ceritera-ceritera yang aneh-aneh. Ia masih saja mengigau. Mungkin ia masih dibayangi oleh ketakutan, sehingga pertanyaannya sangat aneh.”
Emban yang masih menguap sekali dua kali itu mengangguk sambil menjawab, “Baik Nyai. Dan sekarang Nyai akan pergi kemana?”
“Aku akan ke belakang sebentar.”
“Bukankah Nyai tidak pergi terlalu lama? Aku takut menunggui gadis itu seorang diri. Kalau tiba-tiba ia pingsan kembali, maka aku akan menjadi pingsan pula.”
“Tidak, aku tidak terlalu lama. Tetapi ingat. Gadis itu masih dipengaruhi oleh ketakutan. Karena itu, jangan membantah pertanyaannya. Biarkan saja apa yang dikatakan. Kau dengar.”
Meskipun emban itu tidak mengerti maksud Nyai Puroni namun ia menganggukkan kepalanya, “Baik Nyai,“ jawabnya.
“Pertanyaannya sangat aneh,“ Nyai Puroni meneruskan, “tetapi ingat-ingat, jangan dibantah, sebab ia akan menjadi kecewa dan pingsan kembali. Ia mendendam Akuwu, sehingga ia menganggap Akuwu terlalu jahat. Tetapi ingat, jangan dibantah.”
“Ya, ya,“ sahut emban itu.
Nyai Puroni itu pun kemudian melangkah pergi. Menuruni tangga di ruang dalam dan kemudian menyeberang serambi dan sampailah ia ke halaman belakang. Sepeninggal Nyai Paroni, emban yang ditinggalkan di muka pintu pun segera melangkah masuk. Ditemuinya Ken Dedes berbaring di pembaringan sambil mengusapi air matanya, namun gadis itu sudah tidak menangis lagi. Ketika dilihatnya seorang emban berjalan masuk ke bilik itu, Ken Dedes bangkit dan menganggukkan kepalanya.
“Silahkan berbaring, puteri… eh… “
“Jangan panggil aku demikian. Aku adalah seorang gadis desa, gadis Panawijen.”
“Bagaimana aku harus memanggil?”
“Panggil namaku, Ken Dedes. Siapakah namamu?”
“Oh,“ emban itu menjadi gelisah. Katanya selanjutnya, “namaku Madri.”
“Madri,“ ulang Ken Dedes, “nama yang bagus.”
Emban itu menjadi heran mendengar Ken Dedes memuji namanya. Kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni sama sekali tak ditemuinya pada wajah gadis Panawijen itu. Bahkan gadis itu sempat menanyakan namanya dan memuji nama itu. Meskipun demikian emban itu tidak berkata-kata untuk sejenak. Diletakkannya tubuhnya di samping pembaringan Ken Dedes.
“Duduklah disini Madri,“ ajak Ken Dedes.
“Oh. Jangan. Jangan. Aku adalah seorang emban meskipun namaku bagus.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Gadis emban ini menarik perhatiannya. Agaknya gadis ini gadis yang cukup jujur.
“Apakah emban tidak boleh di pembaringan ini?” bertanya Ken Dedes.
“Tidak. Emban hanya boleh duduk di lantai.”
Kembali Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah emban yang menunduk itu. Kemudian dipandanginya tubuhnya sendiri. Ternyata emban itu tampak lebih bersih daripadanya. Kulitnya, pakaiannya dan rambutnya. Tetapi kini Ken Dedes tidak mau lagi hanyut dalam arus perasaannya. Ia mencoba untuk menghadapi setiap persoalan dengan akal pikirannya. Karena itu, meskipun ia melihat kekurangannya, namun ia tidak segera merasa betapa kecil dirinya.
Setelah mereka terdiam sesaat, maka timbullah keinginan Ken Dedes untuk mengetahui kebenaran kata-kata Nyai Puroni. Meskipun semula ia menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar ia bertanya,
“Emban, siapakah yang pernah berbaring di pembaringan ini?”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Teringat pula olehnya pesan Nyai Puroni untuk tidak membantah setiap kata-kata gadis itu. Namun pertanyaan ini tidak berkesan apa-apa baginya, bukan pertanyaan seorang yang ketakutan dan akan jatuh pingsan. Karena itu maka dijawabnya.
“Belum ada. Belum pernah ada seorang pun yang dibaringkan di pembaringan ini.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Pada pertanyaannya yang pertama ia telah semakin meragukan kebenaran keterangan Nyai Puroni. Karena itu, maka ia bertanya pula,
“Madri, sentong apakah ini namanya. Begitu baiknya, penuh dengan ukiran dan perhiasan-perhiasan.”
“Sentong ini adalah sentong yang selama ini selalu kosong. Sentong ini disediakan untuk permaisuri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian apakah maksud Tunggul Ametung sebenarnya? kenapa ia ditempatkan di sentong ini sejak permulaan?. Kembali Ken Cedes bertanya kepada emban yang muda itu,
“Kenapa bukan kau Madri. Kenapa bukan kau yang cantik itu dibaringkan di pembaringan ini?”
“Ah,” desah Madri sambil menggigit ujung kainnya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Jadi Akuwu Tunggul Ametung belum pernah mempermaisuri?”
“Belum. Belum,” jawab emban itu.
“Belum berselir?”
“Belum, belum.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia ingin mencoba bertanya. Kali ini Ken Dedes ingin mengetahui, kenapa Nyai Puroni tidak memberi gadis itu pesan, agar ia berbohong pula kepadanya. Katanya,
“Tetapi Madri. Aku pernah mendengar bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah beberapa kali mengambil gadis-gadis dan kemudian segeralah tidak dipakainya lagi, maka gadis-gadis itu dibuangkannya ke tepi-tepi jalan? Begitu?”
Madri terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian teringatlah ia akan pesan Nyai Puroni supaya ia mengiakan semua pertanyaan gadis yang sedang mendendam itu, supaya gadis itu tidak gusar dan pingsan kembali. Tetapi sebenarnya Madri bukanlah gadis yang terlalu bodoh. Bahkan ia mempunyai otak yang cukup baik, apalagi emban itu adalah emban yang jujur. Meskipun demikian ia tidak berani menolak pesan Nyai Puroni. Seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu, maka pasti dirinyalah yang akan dipersalahkan. Namun emban itu masih ingin bertanya kepada Ken Dedes katanya,
Ken Dedes masih menangis terus, seakan-akan ia tidak mendengar kata-kata itu. Tetapi Akuwu itu kemudian melangkah maju, benar-benar seperti tidak atas kehendak sendiri. Dua langkah dari pembaringan Ken Dedes, Tunggul Ametung berhenti. dari antara bibirnya itu kemudian terloncat kata-kata,
“Ken Dedes. aku minta maaf kepadamu. Aku telah berusaha berbuat apa saja untuk mengurangi kesalahanku. Kalau apa yang sudah aku lakukan itu masih belum cukup bagimu Ken Dedes, maka apa saja yang kau ingini seterusnya pasti akan aku penuhi. Aku adalah Akuwu Tumapel. Kekuasaanku atas tanah ini berada di tanganku.
“Tuanku,” potong Nyai Puroni yang menyangka bahwa Tunggul Ametung benar-benar telah kehilangan segala pengamatan diri.
Ia ingin memperingatkan kepadanya, supaya setiap kata dan perbuatannya benar-benar dipertimbangkan sebaik-baiknya. Tetapi sebelum ia berkata lebih lanjut, Akuwu Tunggul Ametung telah berkata,
“Ken Dedes. Berkatalah. Apakah yang kau kehendaki daripadaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.”
“Tuanku,“ sekali lagi Nyai Puroni memotong.
Namun Tunggul Ametung seakan-akan tidak mendengarnya. Bahkan Akuwu itu berkata, “Ken Dedes. Tak ada yang lebih berharga yang ada padaku dari pada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa apa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku. Karena itu Ken Dedes, jangan kau sedihkan yang telah terlanjur terjadi. Akulah orang yang paling menyesal atas peristiwa yang menyedihkan itu. Tinggallah untuk sementara disini. Tenangkan hatimu, dan barulah kau berpikir apakah yang akan kau lakukan kemudian. Namun ada harapanku yang akan dapat kau pertimbangkan. Menyerahkan istana ini kepadamu dengan segenap isinya.”
Ken Dedes mendengar kata-kata itu dengan jelas. Kalimat demi kalimat. Namun ia tidak memperhatikannya. Kepalanya yang tertelungkup itu masih saja tersentak-sentak oleh isaknya. Sehingga karena itu, ia sama sekali tidak menjawab, apalagi mengangkat wajahnya. Dibiarkannya Akuwu Tunggul Ametung berdiri mematung di samping pembaringannya.
Tunggul Ametung itu terkejut ketika ia merasa Nyai Puroni menggamit ujung kakinya. Ketika ia berpaling dilihatnya wajah Nyai Puroni yang tegang. Tunggul Ametung segera menyadari apa yang terkandung di dalam hati orang tua itu. Tetapi seakan-akan ia telah terbenam dalam tekad yang bulat. Menebus kesalahannya dengan apa saja yang ada padanya.
Tetapi dalam penilaian Nyai Puroni, Tunggul Ametung itu tidak saja menyesal atas kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan dan yang tidak diketahui oleh perempuan tua itu, namun Tunggul Ametung itu benar-benar sedang jatuh cinta. Cinta bagi seorang yang masih semuda Tunggul Ametung adalah bagaikan kekuatan yang tersimpan di dalam perut Gunung Semeru. Setiap saat akan meledak dengan dahsyat, sedahsyat ledakan yang terjadi saat ini. Menyerahkan apa saja yang ada padanya kepada gadis Panawijen itu.
Tetapi Nyai Puroni itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa. Ia sudah tidak mungkin lagi mencegah perbuatan Akuwu Tunggul Ametung itu, atau setidak-tidaknya memberinya peringatan. Semuanya sudah dikatakan oleh Akuwu dan perkataan seorang Akuwu adalah janji yang sulit untuk dicabut kembali tanpa alasan-alasan yang terlalu kuat.
Namun di samping itu, dukun tua itu benar-benar merasa kecewa, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah benar-benar tenggelam dalam arus perasaannya. Bukankah dengan demikian berarti bahwa Ken Dedes akan dapat menjadi permaisurinya dan langsung dapat mencampuri tata pemerintahan. Bukankah dengan demikian maka gadis padesan itu dapat membuat putih hitam atas tanah Tumapel? Nyai Puroni, yang telah mengabdikan diri sejak bertahun-tahun itu menjadi sangat menyesalkan keadaan itu. Kenapa Akuwu tidak dapat mengendalikan perasaannya?
Tetapi bukan saja ia menyesalkan sikap Tunggul Ametung, namun tiba-tiba ia menjadi sangat kecewa pula kepada Ken Dedes. Gadis itu seakan-akan telah melanggar segala adat dan kebiasaan istana Tumapel. Gadis itu sama sekali tidak tunduk pada setiap peraturan yang berlaku bahkan ia telah berani menyebut nama Tunggul Ametung begitu saja. Betapapun juga kemarahan seseorang, namun kepada Akuwu ia tidak akan dapat berbuat demikian. Tetapi ken Dedes itu telah melakukannya. Namun dukun tua itu menyimpan kekecewaan itu di dalam dadanya. Ia tidak berani mengatakannya di muka Tunggul Ametung yang sedang jatuh cinta itu.
Sesaat kemudian bilik itu menjadi sepi, yang terdengar adalah suara isak Ken Dedes yang pedih. Nyai Puroni yang telah menjadi kecewa itu, sama sekali tidak bernafsu lagi untuk menghiburnya. Bahkan ia menjadi jemu menunggui gadis itu di sentong tengen. Telah hampir satu hari satu malam ia berada dalam bilik itu, dan hanya keluar sesaat apabila ia pergi ke belakang dan makan, berganti-gantian dengan emban yang sekarang duduk diluar. Namun ternyata bahwa ia menemui kekecewaan.
Ketika Akuwu Tunggul Ametung kemarin mengucapkan janjinya, Nyai Puroni telah merasa aneh dan heran. Tetapi ia mengharap bahwa Akuwu akan berubah pendirian selagi janji itu belum didengar oleh orang lain, apalagi Ken Dedes sendiri. Tetapi kini janji itu langsung telah diberikan kepada gadis Panawijen itu. Gadis padesan yang terlalu kecil dibandingkan dengan kebesaran Akuwu Tumapel.
Tetapi Tunggul Ametung sendiri memandang Ken Dedes tidak terlampau kecil. Bahkan Akuwu itu melihat kebesaran yang memancar dari diri gadis itu. Dari sikapnya dan dari balik kewadagannya.
Sejenak kemudian, ketika Ken Dedes masih juga menangis, berkatalah Tunggul Ametung, “Ken Dedes, aku tidak ingin kau mengambil sikap dengan tergesa-gesa. Pikirkanlah semua kata-kataku. Aku sama sekali tidak bermaksud buruk. Semuanya aku katakan dengan jujur. Seperti aku dengan jujur mengakui segenap kesalahanku. Sekarang cobalah tenangkan hatimu. Apa yang sudah terjadi tak akan dapat diulang kembali. Namun pertimbangan apa yang aku katakan, menjelang hari depanmu yang masih panjang.”
Kali in pun Ken Dedes seolah-olah tidak mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung. Ia masih saja terbenam dalam isak tangisnya, kekecewaan dan penyesalan yang tiada taranya.
“Baiklah aku pergi dulu Ken Dedes,“ berkata Tunggul Ametung itu. Namun kata-kata lenyap tiada jawaban. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Tunggul Ametung melangkah surut, kemudian kepada Nyai Puroni ia berkata, “Nyai, rawatlah gadis ini baik-baik.”
Nyai Puroni menganggukkan kepalanya, tetapi betapa hambar perasaannya. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”
Tunggul Ametung kemudian tidak berkata apapun lagi. Segera ia melangkah meninggalkan ruang itu. Di muka pintu dilihatnya seorang emban duduk bersimpuh dan menyembahnya ketika ia lewat.
“Layani gadis itu seperti kau melayani aku,” perintah Tunggul Ametung.
Emban itu menjadi heran. Dipandanginya wajah Akuwu sesaat, namun kemudian jawabnya, “Hamba tuanku.”
Tunggul Ametung itu pun kemudian pergi ke biliknya, kepada seorang pelayan diperintahkannya memanggil Daksina.
“Hamba tuanku,“ sahut pelayan itu.
“Cepat. Ia harus datang sekarang membawa kitab yang paling baik yang dikenalnya.”
“Hamba tuanku,“ sahut pelayan itu yang kemudian berlari-lari pergi ke rumah Daksina di halaman belakang istana.
Sejenak kemudian Daksina datang sambil membawa Kidung yang lagi dibacanya di rumahnya, Smaradahana.
“Ya bacalah,“ perintah Akuwu.
Dengan suaranya yang lembut Daksina kemudian membaca rontal Kidung Smaradahana. Akuwu yang sedang dilanda oleh berbagai perasaan itu merasa betapa hatinya menjadi penat. Suara Daksina itu seolah-olah langsung menyentuh membelai seisi dadanya. perlahan-lahan Akuwu dapat mengendapkan kesibukan perasaannya, sehingga sesaat kemudian Tunggul Ametung itu tertidur.
Ken Dedes yang kemudian ditinggalkan oleh Akuwu Tunggul Ametung, masih saja meratapi nasibnya yang pahit. Ia tidak dapat mengerti kenapa hal itu harus menimpa pada dirinya. Namun sekejap-sekejap terngiang juga kata-kata Akuwu Tunggul Ametung di telinganya. Terasa bahwa Tunggul Ametung telah mencoba berkata setulus hatinya. Terasa bahwa Akuwu itu benar-benar telah menumpahkan segenap perasaan yang tersimpan di dalam dadanya. Bahkan kadang-kadang di telinga Ken Dedes itu masih juga terulang-ulang kata-kata Tunggul Ametung,
“Ken Dedes, berkatalah. Apakah yang kau kehendaki dari padaku untuk menebus kesalahan itu. Aku serahkan semua yang ada padaku kepadamu. Aku sendiri, tanah ini dan segenap kekuasaan atas Tumapel.“ Kemudian Tunggul Ametung itu berkata pula, “Ken Dedes, tak ada yang lebih berharga yang ada padaku daripada itu. Sehingga dengan sejujur-jujurnya aku berkata, bahwa yang ada padaku telah aku sediakan untuk menebus kesalahanku.”
Ketika Ken Dedes kemudian mengangkat wajahnya, dilihatnya Nyai Puroni duduk tepekur di sisi pembaringannya. Karena tidak ada orang lain, maka kepada Nyai Puroni itulah Ken Dedes ingin menceriterakan dan menumpahkan segenap tekanan yang menghimpit dadanya selama ini. Ketika dilihatnya Nyai Puroni masih saja menundukkan wajahnya, maka perlahan-lahan terdengar Ken Dedes itu memanggil,
“Nyai.”
Nyai Puroni mengangkat wajahnya. Tetapi wajah itu sudah tidak sebening ketika ia pertama-tama memasuki ruangan itu. “Apa ngger,” sahutnya.
“Apakah Nyai mengetahui maksud Akuwu Tunggu Ametung dengan segenap kata-katanya itu?”
Nyai Puroni mengangkat keningnya. Kemudian sambil mencibirkan bibirnya ia berkata, “Perkataan seorang laki-laki biasa.”
“Kenapa Nyai?” bertanya Ken Dedes.
Nyai Puroni tidak segera menjawab. Sekali dipandangnya wajah gadis padesan itu. “Memang cantik,” gumamnya di dalam hati.
Tetapi tiba-tiba pula merayap pada dinding jantungnya, perasaan iri hati atas nasib Ken Dedes yang sangat baik itu. Telah berapa tahun ia mengabdikan diri pada Akuwu Tunggul Ametung, namun tidak pernah ia menerima limpahan kebaikan hati sepersepuluh dari yang diterima oleh Ken Dedes. Sebagai seorang dukun, ia masih saja harus melakukan pekerjaannya dengan keadaan yang sama seperti dua tiga tahun yang lampau.
Kemenakannya, seorang gadis yang cantiknya menyamai bidadari dan diabdikannya pula di istana ini, sejak ia menginjak gerbang istana dua tahun yang lampau sampai saat ini masih saja tidak lebih dari seorang emban juru makanan. Sekali-kali Akuwu Tunggul Ametung memuji kepandaiannya memasak. Namun besok Akuwu telah melupakannya pula. Sekarang tiba-tiba di istana itu hadir seorang gadis desa, berkain lurik kasar, berkulit kehitam-hitaman dibakar oleh terik matahari, namun langsung ditempatkan oleh Akuwu di sentong tengen. Dan bahkan telinganya sendiri mendengar betapa Tunggul Ametung telah mengucapkan suatu janji yang tak ternilai.
Ketika dukun tua itu tidak segera menjawab, maka kembali Ken Dedes bertanya, “Kenapa Nyai? Kenapa dengan seorang laki-laki biasa?”
Nyai Puroni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya, “Kau masih terlalu muda ngger. Kau belum tahu apa yang dikatakan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Bukankah kau mendengar bahwa Tunggul Ametung itu akan menyerahkan apa saja yang ada padanya kepadamu? Nah, itulah suatu pertanda bahwa Akuwu Tunggul Ametung itu sedang mencoba merayumu. Tetapi jangan kau harap bahwa kau akan dapat menjadi seorang permaisuri yang benar-benar memiliki kekuasaan di Tumapel melampaui kekuasaan Akuwu Tunggul Ametung.”
Ken Dedes memandang Nyai Puroni dengan heran. Ia mendengar Akuwu berkata demikian kepadanya. Tetapi ia melihat perubahan sikap, nada dan tekanan kata-kata Nyai Puroni.
Dan sebelum Ken Dedes berkata apapun, maka kembali Nyai Puroni itu berkata, “Nah, karena itu jangan terlalu berbangga dengan dirimu ngger. Kau kini berani menyebut nama Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebutan apapun. Mungkin kini Akuwu masih dapat menahan kemarahannya karena keinginannya untuk mendapat kesediaanmu. Tetapi nanti, apabila ibarat bunga, madumu telah habis dihisapnya, maka kau akan dilemparkan ke dalam parit.”
“Nyai,“ potong Ken Dedes.
Nyai Puroni, dukun tua yang berwajah bening dan lembut itu tiba-tiba tertawa. Suaranya bernada tinggi meskipun perlahan-lahan. Katanya, “Jangan takut. Itu adalah akibat biasa bagi seorang gadis yang diingini oleh Tunggul Ametung. Pembaringan ini dapat menjadi saksi. Berapa banyak gadis seperti angger ini, yang mula-mula berbaring di sentong tengen akhirnya berkeliaran di sepanjang jalan Tumapel. Ada diantara mereka yang menjadi gila dan ada pula yang membunuh dirinya sendiri.”
“Nyai terlalu mengerikan.”
“Ya. Aku berkata sebenarnya.”
“Tetapi, aku sama sekali tidak berkeinginan untuk menjadi apapun disini, apalagi seorang permaisuri.”
Nyai Puroni tersenyum. Senyumnya menjadi semakin menakutkan. Wajahnya kini sama sekali berubah. Sinar matanya yang lembut tiba-tiba kini seakan-akan membakar jantung Ken Dedes. Katanya,
“Oh, oh. Jangan mengelabui orang tua ngger. Adakah di dunia ini seseorang yang menolak kebahagiaan itu tanpa mengetahui akibatnya?”
“Nyai,” bantah Ken Dedes, “bukankah Nyai melihat keadaanku pada saat aku datang? Kalau aku benar-benar berkeinginan seperti yang Nyai katakan, maka aku sekarang akan terbakar oleh kegirangan tiada bandingnya.”
“Aku orang tua ngger. Aku memang pernah melihat, seorang gadis tanpa diminta pendapatnya, langsung dibawa oleh Akuwu. Gadis itu menjadi ketakutan seperti angger ini. Tetapi ketika diketahuinya bahwa yang akan didapatnya adalah istana dan kekuasaan atas Tumapel, maka dengan serta merta ia menerimanya. Tetapi akibatnya?”
“Oh,“ Ken Dedes menutup wajahnya.
Tetapi bagaimanapun juga Ken Dedes bukan seorang yang sangat bodoh. Ia melihat pada saat-saat Akuwu Tunggul Ametung datang bersama Kuda Sempana. Ia melihat, bahwa Akuwu belum mengenal dirinya. Dan ia mengetahui apa yang pernah dilakukan oleh Kuda Sempana atasnya. Karena itu ia menjadi bimbang atas keterangan Nyai Puroni itu. Mungkin Akuwu pernah berbuat demikian, namun kehadiran dirinya di Tumapel bukan atas kehendak Tunggul Ametung, tetapi atas kehendak Kuda Sempana. Meskipun demikian, Ken Dedes tidak membantah lagi. Dibiarkannya Nyai Puroni berkata terus
“Nah ngger. Terserah kepada angger. Apakah angger akan menerima nasib seperti itu? Seperti gadis-gadis yang kemudian membunuh diri atau berkeliaran sepanjang jalan karena terganggu ingatannya.” Ken Dedes menutupi wajahnya semakin rapat. Suara itu benar-benar seperti suara hantu di tengah-tengah tanah pekuburan.
Nyai Puroni yang melihat Ken Dedes ketakutan, menjadi gembira. Ia mengharap gadis itu menolak. Dengan demikian ia tidak harus menyembah seorang gadis desa apabila ia benar diangkat menjadi seorang permaisuri. Mungkin Nyai Puroni dapat mencari gadis-gadis terhormat atau bahkan seorang gadis dari istana Kediri untuk permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Bukan hanya seorang gadis dari Panawijen.
Sebelum Akuwu berhasil mendapatkan seorang permaisuri, dapat saja Tunggul Ametung mengambil satu atau dua orang selir. Kalau berkenan di hati Akuwu, maka kemenakannya yang kini menjadi juru makanan dapat juga diambilnya. Tetapi jangan gadis desa ini. Gadis yang menjadi seorang selir pun kurang pantas meskipun cantik.
Ketika kemudian Nyai Puroni masih saja menakut-nakuti, maka akhirnya hati Ken Dedes menjadi tidak tahan lagi. Sahutnya, “Nyai, bukankah Nyai telah mendengarnya sendiri, bahwa yang membawa aku kemari adalah Kuda Sempana. Sama sekali bukan Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi atas persetujuanku.”
Nyai Puroni terdiam sesaat, sejak semula memang ia telah menyangka bahwa semua itu adalah pokal Kuda Sempana. Bahkan semula menaruh belas yang dalam kepada gadis yang malang itu. Tetapi tiba-tiba perasaan iri dan dengki telah menyala di dalam hatinya, seolah-olah telah membakar hangus segala sifatnya. Sifat seorang dukun yang pengasihi dan berhati lembut. Harga dirinya sebagai seorang perempuan istana menghadapi seorang gadis desa, mendorongnya untuk menolak kehadiran Ken Dedes di dalam istana Tumapel. Setelah berdiam diri sejenak maka Nyai Puroni itu kemudian menjawab,
“Apapun sebabnya ngger, namun kau sekarang telah berada di sentong tengen ini. Kalau kau mau mendengar nasehatku, jangan kau penuhi permintaan Akuwu. Meskipun dikatakannya untuk menebus kesalahan dan apa saja. Kau harus dapat membedakan. Seorang laki-laki berkata sungguh-sungguh atau seorang laki-laki sedang merayu. Kalau benar Tunggul Ametung akan menebus kesalahannya, dan segenap permintaanmu akan dipenuhi, cobalah, mintalah kau dikembalikan ke rumahmu. Mintalah tanah yang luas dan mintalah ternak dan iwen untuk bekal hidupmu kelak. Mudah-mudahan kau akan menemukan suami yang baik kelak dan kau akan dapat hidup dengan baik pula ngger.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Kata-kata Nyai Puroni mempunyai pengaruh yang sangat aneh di dalam dirinya. Ken Dedes, gadis desa yang manja, yang kurang sekali memiliki pengalaman itu, ternyata dapat membedakan nada dan tekanan kata-kata yang diucapkan oleh Tunggul Ametung dan Nyai Puroni. Ia melihat kejujuran membayang di wajah Akuwu yang suram dan dalam. Tetapi di balik kata-kata Nyai Puroni terasa ada yang kurang wajar. Orang tua yang baik dan lembut itu tiba-tiba saja berubah menjadi seorang yang berlidah tajam. Tetapi Ken Dedes sama sekali tidak segera dapat menarik kesimpulan dari semua pembicaraan yang didengarnya.
Tetapi karena itu, maka ia terpaksa berpikir. Dengan demikian maka ia tidak lagi tenggelam dalam arus perasaannya. Perasaan duka dan hampir putus asa. Justru karena itu, maka tiba-tiba ia mulai dengan pertimbangan-pertimbangan yang semakin lama menjadi semakin bening. Ia mulai berpikir dan mempertimbangkan semua peristiwa-peristiwa yang telah terjadi atas dirinya, atas keluarganya dan atas Wiraprana yang malang.
Ketika kemudian terbersit di dalam hatinya. bahwa segala akhir dari peristiwa adalah terletak di tangan Yang Maha Agung, maka Ken Dedes benar-benar dapat mengendapkan hatinya. Adalah wewenang dari setiap orang untuk mempertimbangkan, merencanakan dan mengusahakan jalan dan arah hidupnya. Namun kadang-kadang yang Maha Agung berkehendak lain dari kehendak orang itu sendiri. Namun yang berlaku itulah keadilan yang sebenarnya yang dianugerahkan oleh sumber Hidup manusia kepada manusia. Sedang Yang Maha Agung itu pun pasti akan mendengar setiap permohonan dari mahluk terkasihnya, sepanjang permohonannya itu wajar menurut penilaian tertinggi, bukan penilaian manusia. Itulah sebabnya maka manusia diwajibkan berusaha, sebagai ungkapan kesungguhan atas permohonannya.
Beberapa saat kemudian Nyai Puroni masih saja memberikan beberapa pendapat kepada Ken Dedes. Berbagai-bagai hal dikemukakannya dan diberikannya beberapa contoh yang dapat menambah kecemasan hati gadis Panawijen itu. namun kini Ken Dedes sama sekali tidak menjawab. Satu patah katapun tidak. Sehingga akhirnya Nyai Puroni itu berhenti dengan sendirinya.
Namun dukun tua itu, sama sekali tidak dapat menangkap kesan wajah Ken Dedes. Ia mengharap gadis itu ketakutan, dan nanti apabila Tunggul Ametung datang kembali, maka ia akan minta dikembalikan ke Panawijen, sesuai dengan janji Akuwu, akan memberi apa saja yang dimintanya.
Karena Ken Dedes sama sekali tidak menjawab semua kata-katanya, dan tidak segera dapat memberinya kesan atas semua kata-katanya, maka Nyai Puroni itu menjadi kecewa. Meskipun demikian ia mengharap bahwa gadis desa itu akan menuruti kata-katanya. Untuk memberinya waktu, maka Nyai Puroni itu pun kemudan berkata,
“Pikirkan nasehatku ngger. Aku ingin Akuwu tidak membuat korban-korban baru. Aku akan pergi ke belakang sebentar. Biarlah emban diluar itu mengawasimu disini. Tetapi ingat, jangan kau katakan nasehatku kepada siapapun, supaya kau tidak terancam oleh kekerasan. Sebab Akuwu dapat merayumu dengan kata-kata, namun dapat juga memaksamu dengan senjata. Bukankah kau seorang gadis yang lemah? Nah, simpanlah nasehatku dan pertimbangkanlah seorang diri.”
Kali ini Ken Dedes mengangguk sambil berkata, “Baik Nyai.”
Nyai Puroni itu pun kemudian berdiri dan melangkah keluar. Diluar dijumpainya seorang emban duduk sambil mengantuk.
“He,“ desis Nyai Puroni sambil menyentuh pundaknya.
Emban itu terkejut. “Ada apa Nyai,” sahutnya tergagap.
“Aku akan pergi sejenak. Tungguilah gadis itu. Jangan kau ganggu dengan ceritera-ceritera yang aneh-aneh. Ia masih saja mengigau. Mungkin ia masih dibayangi oleh ketakutan, sehingga pertanyaannya sangat aneh.”
Emban yang masih menguap sekali dua kali itu mengangguk sambil menjawab, “Baik Nyai. Dan sekarang Nyai akan pergi kemana?”
“Aku akan ke belakang sebentar.”
“Bukankah Nyai tidak pergi terlalu lama? Aku takut menunggui gadis itu seorang diri. Kalau tiba-tiba ia pingsan kembali, maka aku akan menjadi pingsan pula.”
“Tidak, aku tidak terlalu lama. Tetapi ingat. Gadis itu masih dipengaruhi oleh ketakutan. Karena itu, jangan membantah pertanyaannya. Biarkan saja apa yang dikatakan. Kau dengar.”
Meskipun emban itu tidak mengerti maksud Nyai Puroni namun ia menganggukkan kepalanya, “Baik Nyai,“ jawabnya.
“Pertanyaannya sangat aneh,“ Nyai Puroni meneruskan, “tetapi ingat-ingat, jangan dibantah, sebab ia akan menjadi kecewa dan pingsan kembali. Ia mendendam Akuwu, sehingga ia menganggap Akuwu terlalu jahat. Tetapi ingat, jangan dibantah.”
“Ya, ya,“ sahut emban itu.
Nyai Puroni itu pun kemudian melangkah pergi. Menuruni tangga di ruang dalam dan kemudian menyeberang serambi dan sampailah ia ke halaman belakang. Sepeninggal Nyai Paroni, emban yang ditinggalkan di muka pintu pun segera melangkah masuk. Ditemuinya Ken Dedes berbaring di pembaringan sambil mengusapi air matanya, namun gadis itu sudah tidak menangis lagi. Ketika dilihatnya seorang emban berjalan masuk ke bilik itu, Ken Dedes bangkit dan menganggukkan kepalanya.
“Silahkan berbaring, puteri… eh… “
“Jangan panggil aku demikian. Aku adalah seorang gadis desa, gadis Panawijen.”
“Bagaimana aku harus memanggil?”
“Panggil namaku, Ken Dedes. Siapakah namamu?”
“Oh,“ emban itu menjadi gelisah. Katanya selanjutnya, “namaku Madri.”
“Madri,“ ulang Ken Dedes, “nama yang bagus.”
Emban itu menjadi heran mendengar Ken Dedes memuji namanya. Kesan yang dikatakan oleh Nyai Puroni sama sekali tak ditemuinya pada wajah gadis Panawijen itu. Bahkan gadis itu sempat menanyakan namanya dan memuji nama itu. Meskipun demikian emban itu tidak berkata-kata untuk sejenak. Diletakkannya tubuhnya di samping pembaringan Ken Dedes.
“Duduklah disini Madri,“ ajak Ken Dedes.
“Oh. Jangan. Jangan. Aku adalah seorang emban meskipun namaku bagus.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya. Gadis emban ini menarik perhatiannya. Agaknya gadis ini gadis yang cukup jujur.
“Apakah emban tidak boleh di pembaringan ini?” bertanya Ken Dedes.
“Tidak. Emban hanya boleh duduk di lantai.”
Kembali Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya wajah emban yang menunduk itu. Kemudian dipandanginya tubuhnya sendiri. Ternyata emban itu tampak lebih bersih daripadanya. Kulitnya, pakaiannya dan rambutnya. Tetapi kini Ken Dedes tidak mau lagi hanyut dalam arus perasaannya. Ia mencoba untuk menghadapi setiap persoalan dengan akal pikirannya. Karena itu, meskipun ia melihat kekurangannya, namun ia tidak segera merasa betapa kecil dirinya.
Setelah mereka terdiam sesaat, maka timbullah keinginan Ken Dedes untuk mengetahui kebenaran kata-kata Nyai Puroni. Meskipun semula ia menjadi ragu-ragu, namun kemudian terdengar ia bertanya,
“Emban, siapakah yang pernah berbaring di pembaringan ini?”
Emban itu mengangkat wajahnya. Sejenak ia menjadi ragu-ragu. Teringat pula olehnya pesan Nyai Puroni untuk tidak membantah setiap kata-kata gadis itu. Namun pertanyaan ini tidak berkesan apa-apa baginya, bukan pertanyaan seorang yang ketakutan dan akan jatuh pingsan. Karena itu maka dijawabnya.
“Belum ada. Belum pernah ada seorang pun yang dibaringkan di pembaringan ini.”
Ken Dedes mengerutkan keningnya. Pada pertanyaannya yang pertama ia telah semakin meragukan kebenaran keterangan Nyai Puroni. Karena itu, maka ia bertanya pula,
“Madri, sentong apakah ini namanya. Begitu baiknya, penuh dengan ukiran dan perhiasan-perhiasan.”
“Sentong ini adalah sentong yang selama ini selalu kosong. Sentong ini disediakan untuk permaisuri.”
Dada Ken Dedes berdesir mendengar jawaban itu. Kalau demikian apakah maksud Tunggul Ametung sebenarnya? kenapa ia ditempatkan di sentong ini sejak permulaan?. Kembali Ken Cedes bertanya kepada emban yang muda itu,
“Kenapa bukan kau Madri. Kenapa bukan kau yang cantik itu dibaringkan di pembaringan ini?”
“Ah,” desah Madri sambil menggigit ujung kainnya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Jadi Akuwu Tunggul Ametung belum pernah mempermaisuri?”
“Belum. Belum,” jawab emban itu.
“Belum berselir?”
“Belum, belum.”
Ken Dedes menarik nafas dalam-dalam. Sekali lagi ia ingin mencoba bertanya. Kali ini Ken Dedes ingin mengetahui, kenapa Nyai Puroni tidak memberi gadis itu pesan, agar ia berbohong pula kepadanya. Katanya,
“Tetapi Madri. Aku pernah mendengar bahwa Akuwu Tunggul Ametung pernah beberapa kali mengambil gadis-gadis dan kemudian segeralah tidak dipakainya lagi, maka gadis-gadis itu dibuangkannya ke tepi-tepi jalan? Begitu?”
Madri terkejut mendengar pertanyaan itu. Namun kemudian teringatlah ia akan pesan Nyai Puroni supaya ia mengiakan semua pertanyaan gadis yang sedang mendendam itu, supaya gadis itu tidak gusar dan pingsan kembali. Tetapi sebenarnya Madri bukanlah gadis yang terlalu bodoh. Bahkan ia mempunyai otak yang cukup baik, apalagi emban itu adalah emban yang jujur. Meskipun demikian ia tidak berani menolak pesan Nyai Puroni. Seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan pada gadis itu, maka pasti dirinyalah yang akan dipersalahkan. Namun emban itu masih ingin bertanya kepada Ken Dedes katanya,
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar