MENU

Ads

Kamis, 26 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 082

“Nah, Witantra, kemarilah.“ Ulang Panji Bojong Santi.

Witantra, Mahendra, dan Kebo Ijo kemudian melangkah bersama-sama. Pedang-pedang mereka masih erat di dalam genggaman tangan mereka. Dengan penuh kesiap-siagaan mereka berjalan beberapa langkah di samping Empu Sada. Tetapi Empu Sada itu berdiri saja seperti tonggak. Ketika mereka telah berada di samping guru mereka, maka Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam sambil berkata,

“Untung guru segera datang. Kalau tidak, maka kami pasti akan ditelan oleh anak-anak Empu Sada.”

Panji Bojong Santi tidak menjawab. Tetapi ia berkata kepada Empu Sada, “Anak-anak ayam kini telah kembali ke induk masing-masing. Nah, Empu yang baik. Apakah sebenarnya yang kau kehendaki?”

Empu Sada memutar tubuhnya. Ditatapnya Panji Bojong Santi dengan penuh kebencian. Namun ia tidak segera menjawab. Ketika kemudian ia berpaling, dilihatnya ketiga murid-muridnya, Kuda Sempana, Cundaka yang lebih senang disebut Bahu Reksa Kali Elo dan Sungsang pun masih menggenggam pedangnya masing-masing. Sesaat suasana menjadi sepi tegang. Mereka berdiri berhadapan di dalam kelompok masing-masing, seolah-olah mereka telah berjanji untuk mengadakan perang tanding. Seorang guru dengan tiga orang murid masing-masing.

Yang terdengar kemudian adalah suara angin malam yang mengalir diantara dedaunan. Suara burung malam dikejauhan dan suara anjing-anjing liar berebutan makan. Dalam keheningan itulah maka Empu Sada mencoba membuat perimbangan dari dua kekuatan yang sudah berhadap-hadapan. Tetapi ia tidak dapat mengingkari kenyataan. Orang-orangnya tidak akan mampu menghadapi para prajurit Tumapel yang lebih banyak berpengalaman dan terlatih cukup baik. Apalagi kini ia tidak sempat mengikat para pemimpinnya dalam satu perkelahian, karena kehadiran Panji Bojong Santi. Karena itu, yang terdengar kemudian adalah suara giginya yang gemeretak.

Yang berbicara kemudian adalah Panji Bojong Santi, “Bagaimana Empu, apakah kita masih sempat untuk melihat anak-anak kita berkelahi, atau kau mempunyai keputusan lain?”

Empu Sada menggelengkan kepalanya, “Tidak,“ katanya dalam nada yang keras, “Kali ini rencanaku telah kau rusakkan. Aku tidak dapat berkata lain dari pada itu. Tetapi kesalahan yang telah kau lakukan ini membuat aku mendendammu, seperti aku mendendam Empu Gandring yang mengganggu aku pula.”

“Aku telah mendengar dari Mahendra,“ sahut Panji Bojong Santi, “tetapi seperti Empu Gandring aku ingin memperingatkanmu, jangan bermain-main bersama Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kau akan dapat ditelannya Empu. Seperti Empu Gandring, menurut Mahendra, aku mengganggapmu lain dari kedua orang-orang liar itu.”

Sekali lagi Empu Sada berteriak, “Apa pedulimu?”

“Aku hanya memperingatkan. Aku masih mengharap kau lepaskan segala macam keinginanmu yang aneh-aneh itu. Jangan terlampau kau manjakan muridmu yang bernama Kuda Sempana. Seandainya Mahendra yang berbuat seperti Kuda Sempana, maka ia akan aku lepaskan untuk berbuat sendiri, atas tanggung jawabnya sendiri. Tetapi Mahendra tidak berbuat demikian. Ia menyadari keadaannya.”

Empu Sada tertawa, meskipun nadanya pahit. Katanya, “Kau menjadi ketakutan seperti Empu Gandring itu juga.”

Panji Bojong Santi tidak segera menjawab. Dilihatnya Empu Sada berdiri dengan gemetar menahan marah. Tetapi kemarahan itu benar-benar tidak mampu dilepaskannya, karena ia berhadapan dengan Panji yang kurus itu. Kalau ia memaksa diri untuk bertempur, maka pasti tidak akan mencapai penyelesaian. Perkelahian itu tidak akan berkesudahan. Tetapi apakah murid-muridnya mampu melawan ketiga murid Bojong Santi itu?”

Empu Sada menggeram. Ia menyesal bahwa selama ini ia tidak benar-benar menempa muridnya dengan kesadaran. Ia memberikan ilmunya dengan acuh tak acuh. Meskipun murid-muridnya menjadi orang-orang yang melampaui orang kebanyakan, namun mereka tidak dapat menyamai murid-murid Bojong Santi dan murid Empu Purwa yang bernama Mahisa Agni. Empu Sada menyesal. Namun waktu telah berjalan terlampau jauh. Saat-saat itu ia hanya sekedar menjual ilmunya. Dengan sedikit harta dan benda, Empu Sada telah dengan mudahnya menerima seseorang menjadi muridnya. Tetapi murid-murid itu pun tidak mempunyai tingkatan yang serasi menurut urut-urutannya. Siapa yang lebih banyak memberinya sesuatu, ialah yang lebih banyak menerima ilmu.

Tetapi ketika ia harus berhadapan dengan perguruan lain, terasa bahwa apa yang dilakukannya itu keliru. Kini harga dirinya langsung tersentuh, ketika ia berhadapan dalam jumlah yang sama. Namun sudah pasti, bahwa ketiga muridnya tidak akan mampu berhadapan dengan ketiga murid Panji Bojong Santi.

Untuk menenteramkan dirinya sendiri, Empu Sada itu berkata di dalam hatinya. “Belum terlambat. Aku masih dapat menempa beberapa orang diantara murid-muridku untuk menyamai ketiga murid Panji yang gila ini. Mungkin ketiga muridku ini, mungkin yang lain lagi. Namun kelebihanku adalah, aku mempunyai banyak murid, sedang Panji yang gila ini hanya tiga dan Empu Purwa hanya satu. Apalagi Gandring tukang membuat keris itu. Ia hampir tidak pernah mempedulikan apa-apa selain keris-kerisnya.”

Keheningan yang sejenak itu kemudian dipecahkan oleh suara Panji Bojong Santi, “Empu Sada, apakah kau masih tetap berkeinginan bekerja bersama-sama dengan kedua orang liar itu?”

“Tentu,“ jawab Empu Sada, “aku sudah melihat kalian menjadi ketakutan. Kau dan Empu Gandring.”

“Ya, aku memang takut,” sahut Bojong Santi.

“Nah. Kau sudah mengaku. Karena itu, jangan menghalangi aku.”



“Kau belum tahu apa yang aku takutkan. Bukan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.”

“Apa yang kau takutkan?”

“Kau.”

“Kenapa aku?” Empu Sada menjadi heran.

“Aku takut kalau kau akan menjadi korban ketamakanmu. Aku takut kalau kau akan lenyap ditelan oleh kedua orang itu setelah kau mencoba menghubunginya.”

Sekali lagi Empu Sada tertawa. Tetapi tiba-tiba terdengar ia bersiul panjang. Apa yang terjadi kemudian adalah terlampau cepat sehingga Witantra dan saudara-saudara seperguruannya berdiri saja memandangi mereka yang tiba-tiba meloncat dan menghilang ke dalam semak-semak. Baru sejenak kemudian Witantra menyadari keadaan. Dengan serta merta ia berkata,

“Apakah kita biarkan mereka lari?”

“Jangan hiraukan mereka kini,“ jawab gurunya, “bukankah kalian mempunyai tanggungan? Kalau kalian berhasil menyelamatkan gadis itu, kalian harus sudah mengucap syukur atas lindungan Yang Maha Agung.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Gumamnya, “Ya guru.”

Tetapi Kebo Ijo lah yang kemudian bertanya, “Kenapa guru tiba-tiba saja berada di tempat ini?”

Panji Bojong Santi mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Aku sudah menyangka bahwa hal ini akan terjadi. Sejak aku mendengar ceritera Mahendra yang bertemu dengan Empu Sada dipadang Karautan. Berita tentang perjalanan Ken Dedes ini sudah didengar oleh hampir setiap orang Tumapel yang pasti telah didengar pula oleh salah seorang saudara seperguruan Kuda Sempana yang tersebar di mana-mana. Aku sudah menyangka bahwa Empu Sada akan melakukan pencegatan ini. Karena itu, aku memerlukan mengikuti arak-arakan sejak dari Tumapel.”

“Kenapa guru tidak berjalan saja bersama-sama kami dalam satu rombongan?”

“Aku lebih senang berjalan sendiri. Aku tidak biasa berjalan menurut irama yang ditentukan oleh Witantra.”

Witantra tersenyum. Katanya, “Terima kasih guru. Kalau guru tidak hadir disini, maka aku dan semua anak buahku akan musna. Bukan saja itu, tetapi namaku akan hancur pula bersama lenyapnya bakal permaisuri.”

Tiba-tiba Bojong Santi menggeleng, “Tidak. Kau salah angka.”

“Kenapa?” bertanya ketiga muridnya hampir serentak.

“Ketika aku menahan Kuda Sempana dan kedua kawan-kawannya, aku melihat seseorang di sekitar tempat itu. Aku sudah mengenalnya meskipun belum terlampau akrab.”

“Siapa?”

“Ayah gadis itu.”

“Empu Purwa?”

“Ya. Ia berada di tempat ini juga sekarang. Mungkin Empu Purwa mendengar pula percakapan ini. Kalau aku tidak ada di tempat ini, orang tua itu tidak akan sampai hati membiarkan gadisnya diambil oleh Kuda Sempana.”

“Tetapi kenapa Empu Purwa itu tidak menampakkan dirinya dihadapan puterinya.”

Panji Bojong Santi menarik nafas dalam-dalam. Tiba-tiba dilayangkan pandangan matanya berkeliling, seakan-akan mencari seseorang di dalam gelapnya malam. Tetapi yang dikatakan adalah,

“Kembalilah kepada tugasmu. Cepat. Sebelum Empu Sada mendahuluimu. Kalau orang itu datang, beri aku tanda. Panggil saja namaku keras, tanpa siul-siulan atau segala macam tanda sandi. Aku tetap disini.”

Witantra segera menyadari keadaannya. Saat itu ia masih harus mempertanggung jawabkan seorang gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung, Karena itu tiba-tiba ia menyahut,

“Ya guru. Aku akan segera kembali ke perkemahan.”

“Pergilah.”

Witantra pun kemudian segera mohon diri bersama saudara-saudara seperguruannya. Dengan tergesa-gesa mereka menyusuri dedaunan dan ranting-ranting perdu, kembali ke tempat para prajurit Tumapel menunggu dengan cemas. Ternyata jalan kembali itu agak lebih mudah ditempuhnya daripada saat mereka mencari Empu Sada. Mereka kini dapat melihat bayangan api di ujung pepohonan sebagai penunjuk arah, meskipun kadang-kadang bayangan itu sama sekali tidak dapat mereka lihat karena rimbunnya batang-batang kayu. Tetapi sekali-sekali cahaya yang kemerah-merahan dapat menunjukkan kemana mereka harus pergi. Agaknya beberapa orang prajurit tetap memelihara supaya api tidak padam, sehingga mereka dapat lebih cermat mengawasi keadaan.

Sepeninggal Witantra dan kedua saudara seperguruannya. Panji Bojong Santi masih saja berdiri tegak seperti patung, seakan-akan sengaja ia membiarkan dirinya tidak bergerak dan tidak dikenal diantara batang-batang kayu. Tetapi Panji Bojong Santi itu agaknya sedang menunggu seseorang, ia yakin bahwa orang yang ditunggunya itu pasti akan datang.

Ternyata Bojong Santi tidak menjadi kecewa karenanya. Sejenak kemudian ia mendengar gemersik halus di sampingnya. Namun orang tua yang kurus itu sama sekali tidak bergeser dari tempatnya. Ketika dari semak-semak muncul seseorang, maka dengan serta merta Panji Bojong Santi itu memutar tubuhnya sambil mengangguk dalam-dalam, katanya,

“Selamat malam Empu.”

“Terpujilah tuan, karena tuan telah menolong anakku dari bencana. Langsung atau tidak langsung.”

Panji Bojong Santi tersenyum. Jawabnya, “Empu terlampau merendahkan diri. Apakah artinya tenagaku dibanding dengan Empu sendiri. Kalau aku tahu bahwa tuan ada disini, maka aku tidak akan bersombong diri, mencegah perbuatan Kuda Sempana. Sebab pasti tuan sendiri akan berbuat jauh lebih baik dari yang aku lakukan. Aku melihat kehadiran tuan setelah aku terlanjur mengikat Kuda Sempana dalam perkelahian.”

Orang yang baru datang itu, yang ternyata adalah Empu Purwa, kini tersenyum pula. Katanya, “Tetapi aku memang tidak dapat berbuat secepat tuan. Tuan telah mendahuluiku. Namun adalah lucu sekali, bahwa agaknya maksud kita bersamaan. Aku pun sebenarnya ingin memanggil Empu Sada dan ketiga muridnya seperti yang tuan lakukan.”

Panji Bojong Santi tertawa. “Aku sudah menyangka,” jawabnya, “kalau tidak tuan pasti langsung menolong puteri tuan di perkemahan. Dan inilah yang tidak aku ketahui. Ketika Witantra bertanya kepadaku, kenapa tuan tidak menampakan diri, bahkan langsung di arena, maka aku tidak dapat menjawabnya.”

Empu Purwa kini tidak tersenyum lagi. Bahkan kemudian ia menarik nafas dalam. Namun segera ia berusaha menghilangkan segala macam kesan yang mencengkam perasaannya. Katanya,

“Aku mendengarkan percakapan tuan dengan murid-murid tuan. Aku sebenarnya ingin tahu, apakah jawab tuan atas pertanyaan itu.”

“Tentu aku tidak akan dapat menjawab,“ sahut Panji Bojong Santi.

Sekali lagi Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku hanya ingin bermain-main sembunyi-sembunyian seperti tuan.”

Panji Bojong Santi menangkap kesan yang suram dalam kata-kata Empu Purwa. Terasa sebuah sentuhan halus pada perasaan orang tua itu. Sehingga karena itu, maka berkata Panji kurus itu,

“Maaf Empu. Mungkin pertanyaan itu tidak berkenan di hati tuan.”

“Oh, tidak,“ jawab Empu Purwa tergesa-gesa, “tidak. Tidak apa-apa. Mungkin ada baiknya aku mengatakan kepada tuan supaya beban yang menyumbat dadaku dapat melimpah keluar. Selama ini tak ada seorang pun yang dapat membantu meringankan perasaanku.”

Panji Bojong Santi sama sekali tidak menyahut. Ia menyesal bahwa pertanyaannya agaknya telah mengungkat kepahitan perasaan Empu Purwa. Tetapi pertanyaan itu sudah terlanjur diucapkan.

“Tuan,“ berkata Empu Purwa kemudian, “pertanyaanya adalah pertanyaan yang wajar. Kadang-kadang aku sendiri bertanya demikian. Kenapa aku tidak langsung menemui anakku yang mungkin sangat mengharap hal itu terjadi.”

Panji Bojong Santi hanya menganggukkan kepalanya saja. Tetapi ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun.

“Tetapi aku tidak dapat melakukannya,“ berkata Empu Purwa seterusnya, “meskipun sebenarnya keinginan yang demikian melonjak-lonjak pula di dalam dadaku.”

Empu Purwa terdiam sesaat, sehingga suasana menjadi sepi hening. Dikejauhan lamat-lamat terdengar suara burung ekak menusuk-nusuk telinga dengan suaranya yang parau menyakitkan.

“Tuan,“ berkata Empu Purwa kemudian, “betapa rinduku kepada puteriku, namun betapa kecewanya aku terhadapnya. Sejak anak itu hilang, aku sudah tidak mengharap dapat bertemu lagi. Aku tidak mau kehilangan, tetapi apakah aku harus melawan Akuwu Tunggul Ametung? Bukan karena Tunggul Ametung mempunyai kesaktian tanpa batas, tetapi ia adalah pemimpin pemerintahan. Perlawananku akan dapat menimbulkan malapetaka bagi Tumapel. Tiba-tiba aku mendengar kemudian, bahwa anak itu telah menjadi seorang bakal Permaisuri. Alangkah kecewanya hatiku. Tetapi aku tidak ingin mengecewakan hati puteriku. Kalau telah berkenan di hatinya, biarlah ia menemukan kebahagiaan. Tetapi kekecewaanku terhadap tingkah laku Tunggul Ametung yang melindungi Kuda Sempana mengambil anakku, tidak akan dapat terhapus dari dinding hatiku. Karena itu, lebih baik aku tidak bertemu lagi dengan puteriku. Biarlah ia menemukan kebahagiaan yang dikehendakinya, aku adalah orang tua. Hari depannya masih jauh lebih panjang dari hari depanku.”

Bojong Santi tidak berkata sepatah katapun. Ia dapat merasakan betapa pedih hati orang tua itu. Ia dihadapkan kepada keadaan yang serba salah. Betapa rindunya orang tua itu kepada puterinya, tetapi betapa kecewanya ia menghadapi perkembangan keadaan puterinya itu. Mungkin ia dapat melepaskan perasaan rindunya dengan menemui gadis itu, memeluknya seperti masa-masa lampau sambil menghibur dan membesarkan hati gadis itu. Tetapi apabila disadarinya bahwa di sisi gadis itu kelak akan berdiri Tunggul Ametung, maka dadanya pasti segera akan menyala kembali.

Sesaat kedua orang tua itu saling berdiam diri. Dibiarkannya angin malam membelai tubuh-tubuh yang sudah mulai dihiasi lengan keriput-keriput kulit. Betapa mereka sakti tiada tandingnya, namun mereka tidak dapat melawan kekuasaan tangan Penciptanya. Mereka tidak akan mampu melawan umur mereka sendiri yang semakin lama menjadi semakin tua. Meskipun mereka mampu bertempur melawan setiap orang sakti, namun mereka tidak dapat melawan kekuasaan maut yang semakin tua menjadi semakin mendekat.

Empu Purwa pun menyadari hal itu pula. Apabila orang tua itu sedang merenungi kepahitan hidupnya, maka kelak ia kembali kepada Sumber hidup itu sendiri. Dicarinya ketenteraman dan hiburan yang sejati. Sehingga dengan demikian, maka hatinya pun menjadi mengendap. Ia tidak lagi bernafsu membiarkan dirinya dikuasai oleh kemarahan dan kekecewaan. Sehingga dengan demikian, kemudian ia dapat menempatkan kepentingan anaknya yang masih muda itu di atas kepentingannya sendiri. Tetapi sebagai manusia, Empu Purwa adalah manusia perasa. Manusia yang kadang-kadang hanyut dilanda perasaannya sendiri. Perasaan yang tersinggung oleh sentuhan-sentuhan yang kadang-kadang dapat menggoncangkan keseimbangan berpikir.

Empu Purwa pun menyadari pula. Ia menyesal bahwa karena goncangan perasaan, ia telah mengutuk orang-orang Panawijen, bahkan memecahkan bendungannya pula. Ia kini menyesal bahwa ia mengutuk setiap orang yang turut melarikan anaknya, bahwa mereka akan mati dengan keris. Tetapi semuanya telah terjadi. Dan orang tua itu tidak mau terjadi pula peristiwa-peristiwa serupa. Karena itu, lebih baik ia tidak bertemu dengan puterinya, supaya ia tidak mengalami goncangan perasaan, dan berbuat diluar keseimbangan berpikir.

Malam yang sunyi itu pun menjadi semakin malam. Di langit bintang-bintang yang gemerlapan seolah-olah ditaburkan di atas layar yang hitam legam. Suara-suara burung engkak yang parau sekali-sekali masih terdengar, menjerit-jerit. Dalam kesunyian itu, kembali terdengar Empu Purwa berkata,

“Aku lebih baik menemani tuan disini.”

Panji Bojong Santi mengangguk-anggukkan kepalanya. Terasa betapa dalam luka di hati Empu Purwa. Karena itu maka jawabnya kemudian, “Terima kasih tuan. Aku akan senang sekali apabila tuan bersedia menemani aku disini.”

“Bukankah kita tidak lagi mempunyai pekerjaan?” berkata Empu Purwa, “dan bukankah tuan berjanji kepada murid-murid tuan, bahwa tuan akan tetap berada disini.”

Bojong Santi menjawab, “Ya. Itulah sebabnya, aku bergembira bahwa tuan sudi menemani aku.”

Empu Purwa tersenyum. Tetapi senyumnya terasa hambar. Katanya kemudian, “Aku akan beristirahat. Mungkin tuan juga lelah setelah bermain kejar-kejaran dengan murid-murid Empu Sada.”

Panji Bojong Santi pun tersenyum. Jawabnya, “Ya. Aku juga ingin duduk.”

Keduanya kemudian duduk berhadapan di atas rumput-rumput kering. Namun sejenak mereka tidak berbicara apapun. Empu Purwa masih mencoba menenangkan perasaannya yang terasa mulai bergolak. Sedang Panji Bojong Santi mencoba memahami sepenuhnya semua kata-kata Empu Purwa.

“Bersukurlah aku, bahwa gadisku tidak mengalami banyak persoalan seperti gadis Empu Purwa,“ berkata Bojong Santi itu di dalam hatinya.

Ia berdoa semoga anaknya kelak akan mendapatkan jalan yang baik, meskipun tidak usah menjadi seorang permaisuri Akuwu. Karena Panji Bojong Santi itu pun mempunyai seorang anak gadis pula, maka apa yang dirasakan Empu Purwa, seolah-olah dapat dirasakannya pula. Namun di samping itu, Panji Bojong Santi itu pun menyimpan perasaan iba terhadap Ken Dedes yang malang. Garis hidupnya seakan-akan selalu diliputi oleh duka dan derita. Mudah-mudahan, seperti Empu Purwa menginginkan, berbahagialah gadis itu kelak setelah ia menjadi seorang permaisuri.

Sejenak kemudian barulah mereka mulai berbicara kembali. Tetapi mereka sudah tidak membincangkan Ken Dedes lagi. Apa yang mereka percakapkan adalah soal-soal yang tidak berarti, menjelang hari-hari tua mereka. Tetapi akhirnya pembicaraan itu sampai pula kepada Empu Sada, yang akan mencoba mempergunakan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat.

“Kasian Empu Sada,“ gumam Empu Purwa, “ia akan terjerumus ke dalam kesulitan yang besar.”

“Mudah-mudahan ia mengurungkan niatnya,“ sahut Panji Bojong Santi.

Kembali mereka berdiam sejenak. Kembali Bojong Santi mencoba merasakan perasaan Empu Purwa. Betapapun kekecewaan membakar hati seorang ayah, namun ternyata ia tidak sampai hati melihat anaknya mengalami bencana. Empu Purwa, meskipun tidak mau menemui gadisnya, namun ia berada hampir di segala tempat untuk mengawasi anaknya. demikianlah cinta orang tua terhadap anaknya, dan adakah demikian pula sebaliknya?.

Dalam pada itu Witantra dan kedua saudara seperguruannya telah berada kembali diantara anak buahnya. Sidatta segera menanyakan apakah yang sebenarnya terjadi dengan Kuda Sempana. Sebelum Witantra menjawab, maka Kebo Ijo telah menyahut dengan lantangnya. Diceritakannya apa yang dilihatnya dan apa yang dialaminya. Lancar dan penuh tekanan, sehingga setiap orang menjadi sangat asyik mendengarnya. Tidak terkecuali Ken Dedes sendiri.

Gadis bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung itu mendengarkan dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi dengan dirinya, apabila Kuda Sempana berhasil dengan rencananya. Mungkin ia telah mengambil keputusan untuk membunuh diri.

“Untunglah bahwa guru datang,“ berkata Kebo Ijo, “kalau tidak, kita semua pasti akan musnah dibakar oleh kemarahan Empu Sada.”

Yang mendengar ceritera itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun mengucapkan terima kasih di dalam hati mereka.

“Guruku adalah seorang yang bijaksana, yang dapat memperhitungkan apa yang kira-kira akan terjadi dengan kita di perjalanan ini,“ berkata Kebo Ijo pula. Dan setiap orang pun menjadi semakin kagum.

Tetapi dalam pada itu Witantra berkata, “Sudahlah Kebo Ijo jangan membual.”

“Bukankah sebenarnya demikian kakang,“ sahut Kebo Ijo, “langsung apa tidak langsung, bukankah guru kita yang telah menyelamatkan puteri? Guru berbuat demikian tanpa pamrih. Kita adalah prajurit-prajurit Tumapel. Adalah kewajiban kita untuk mempertahankan tuan puteri, tetapi guru, sama sekali tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Namun ia telah berbuat, dan bahkan menentukan.”

“Kau sendiri telah mengurangi nilai dari perbuatan guru kita Kebo Ijo,“ berkata Witantra.

“Kenapa?”

“Hanya orang-orang yang ingin menerima pujian, ingin menerima balas jasa sajalah yang dengan bangganya memamerkan jasa itu kepada orang lain,“ potong Mahendra, “apakah guru akan senang mendengar kau berceritera semacam itu?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba menjadi murung, tetapi ia tidak berkata apapun lagi.

“Bukankah guru berkata,“ Mahendra meneruskan, “bahwa seandainya guru tidak hadir, maka ada orang lain yang dapat berbuat serupa. Bahkan orang itu adalah ayah tuan puteri sendiri.”

“Mahendra,“ potong Witantra.

Mahendra terkejut mendengar suara kakak seperguruannya. Sesaat ia tidak mengerti maksud kakaknya, kenapa ia memotong kata-katanya. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia telah terdorong menyebut ayah Ken Dedes, sedangkan orang tua itu sengaja tidak mau menunjukkan dirinya. Meskipun Witantra dan Mahendra tidak tahu sebabnya, kenapa orang tua itu tidak hadir di perkemahan ini, namun pastilah ada sesuatu sebab, kenapa orang tua itu lebih baik bersembunyi di belakang rumpun-rumpun liar.

Tetapi segera Mahendra terkejut ketika didengarnya suara Ken Dedes dengan serta merta, “Mahendra, apakah kau bertemu dengan ayah?”

Mahendra memandang Ken Dedes sesaat. Hanya sesaat, kemudian ia menundukkan wajahnya. Hatinya menjadi berdebar-debar. Bukan saja karena pertanyaan Ken Dedes itu, tetapi sesaat ia melihat wajah yang pernah menggoncangkan hatinya itu, maka jantungnya seakan-akan semakin cepat berdenyut.

Sementara itu, yang menjawab adalah Witantra, “Tidak tuan puteri. Kami tidak bertemu dengan ayah tuan puteri. Kami hanya membayangkan dan menduga, bahwa ayah tuan puteri tidak akan sampai hati apabila bencana menimpa diri tuan puteri.”

“Kakang Witantra,“ berkata Ken Dedes kemudian, “berkatalah sebenarnya.”

“Hamba berkata sebenarnya tuan puteri,“ sahut Witantra sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam, “guru hambalah yang berkata kepada kami bertiga, bahwa kemungkinan besar adalah ayah tuan puteri akan selalu membayangi kemana tuan puteri pergi. Namun itu hanyalah dugaan semata-mata.”

Ken Dedes mengerutkan keningnya. Wajahnya yang pucat karena peristiwa yang mendebarkan jantung itu kini menjadi semakin suram, perlahan-lahan gadis itu duduk di sisi tandunya. Sesaat ia memandangi api yang masih menyala, namun kemudian tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan mengusap matanya dengan selendangnya. Hati Ken Dedes itu tiba-tiba serasa tersayat ketika ia mengenangkan keadaan ayahnya dibandingkan dengan keadaannya sendiri,

“Apakah ayah bergembira melihat keadaanku?” katanya di dalam hati, “atau ayah kini telah membenciku?”

Perkemahan itu kini menjadi sunyi senyap. Mahendra yang menundukkan wajahnya, mencoba untuk menguasai perasaannya. Ia tidak mau menjadi gila seperti Kuda Sempana. Ketika sekali ia memandang Ken Dedes dengan sudut matanya, ia terkejut. Gadis itu menangis meskipun ditahannya. Mahendra menyesal bukan kepalang. Perkataannyalah yang telah menuntun gadis itu ke dalam suatu kenangan yang pahit. Ia kehilangan ayahnya.

Tak seorang pun yang kemudian berbicara diantara mereka. Para prajurit itu pun kemudian beristirahat didekat perapian, berkelompok-kelompok. Beberapa orang telah menyingkirkan beberapa korban dari orang-orang Empu Sada. Seorang dari mereka yang terluka, telah dicoba oleh para prajurit Tumapel untuk mengobatinya dengan reramuan yang memang telah tersedia. Namun karena lukanya terlampau parah, maka orang itu pun tidak tertolong pula. Tiga orang yang terbunuh dalam pertempuran itu. Sedang dua orang prajurit Tumapel mendapat luka-luka. Tetapi untunglah bahwa luka itu tidak terlampau parah sehingga keadaan mereka tidak berbahaya.

Semalam itu hampir tak seorang pun yang dapat memejamkan matanya. Meskipun Ken Dedes berusaha sambil bersandar pada sisi tandunya, namun semua yang pernah terjadi seakan-akan selalu membayang. Bahkan menjadi sedemikian jelasnya, sehingga terasa seolah-olah baru siang tadi terjadi. berturut-turut sehingga saat yang terakhir, yang baru saja terjadi. Kuda Sempana baginya benar-benar seperti hantu yang selalu menakut-nakutinya kemana ia pergi dan dimana saja ia berada.

Tetapi Witantra sendiri saat itu dapat beristirahat dengan tenangnya meskipun tidak juga sempat tertidur. Ia tahu benar bahwa gurunya berada tidak terlampau jauh dari padanya, bahkan ia pun percaya bahwa ayah gadis itu pun berada di sana pula.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar