PdLS-17
NAMUN SESAAT kemudian kembali timbul pertanyaan. Tetapi kenapa Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang belum juga menampakkan dirinya? Kalau para prajurit Tumapel ini dibiarkan terlampau lama menunggu, maka mereka akan berhasil menguasai keadaan. Tetapi kalau sekarang ketiganya datang dan menyerang beberapa orang prajurit yang mengawal Ken Dedes itu, maka agaknya Kuda Sempana akan berhasil membawa gadis itu. Sebab Empu Sada yakin, bahwa ketiga muridnya akan dapat mengalahkan beberapa orang prajurit yang berjaga-jaga di sekitar Ken Dedes.
Tetapi Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang yang ditunggu-tunggunya tidak juga segera datang. Apakah mereka tidak mendengar segala macam keributan ini karena mereka terlampau jauh bersembunyi, atau tiba-tiba mereka tertidur di tempat persembunyian mereka?
Dalam kegelisahan itu maka terdengar Empu Sada berteriak nyaring, “Kuda Sempana. Telah sampai saatnya kau melakukaa tugasmu.”
Suara Empu Sada itu menggelora seolah-olah memenuhi hutan itu. Daun-daunan bergetaran dan ranting-ranting bergoyang-goyang karena gelombang suara orang tua itu. Gemanya memukul setiap pepohonan dan membuat bunyi ulangan yang serupa melingkari sampai jarak yang sangat jauh. Tetapi Empu Sada tidak segera melihat ketiga muridnya. Bahkan yang dilihatnya, para prajurit Tumapel semakin lama semakin menguasai keadaan. Apalagi ketika Empu Sada kemudian melihat, bahwa orang-orangnya telah mulai lelah karena gerak dan tandang mereka yang berlebih-lebihan. Sebab menurut perhitungan mereka, apa yang terjadi dengan mereka, tidak akan berlangsung lama.
Witantra dan kawan-kawannya pun menjadi heran. Kenapa Kuda Sempana yang telah dipanggil oleh gurunya itu tidak juga muncul. Namun dengan demikian timbullah berbagai dugaan diantara mereka. Diantaranya menyangka bahwa Kuda Sempana sengaja menunggu sampai orang-orang Tumapel menjadi lengah benar-benar, sedang yang lain menganggap bahwa apa yang terjadi itu telah berubah dari rencana semula.
Tetapi bagi Ken Dedes sendiri, nama Kuda Sempana itu telah hampir membuatnya pingsan. Kuda Sempana bagi Ken Dedes sungguh menakutkan, melampaui hantu yang paling mengerikan sekalipun. Ternyata kini orang yang menakutkan itu datang kembali kepadanya, bahkan kali ini dengan membawa sejumlah kawan yang bersedia membantunya. Meskipun Ken Dedes merasa, bahwa para prajurit Tumapel telah berusaha melindunginya sejauh-jauh mungkin, namun melihat keributan perkelahian itu, hati Ken Dedes pun menjadi sangat cemas karenanya. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut Kuda Sempana sebagai alasan untuk memohon kepada Akuwu sejumlah pengawal yang akan mengantarnya. Ternyata ucapannya itu kini terjadi, seperti sebuah mimpi dara-asih.
Karena itu maka kini Ken Dedes telah berpegangan erat-erat pada tandunya, seolah-olah ia ingin segera meloncat masuk dan dengan cepat-cepat berjalan ke Panawijen. Dalam keadaan yang demikian, teringat olehnya murid ayahnya, Mahisa Agni yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Telah beberapa kali Mahisa Agni melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Meskipun kemudian Kuda Sempana berhasil membawanya, namun yang terjadi itu adalah benar-benar diluar kemampuan Mahisa Agni. Kini Kuda Sempana itu kembali menghantuinya. Dan disini tidak ada Mahisa Agni. Justru ia sedang berjalan ke padukuhan Mahisa Agni, untuk menunjukkan kebesarannya, supaya Mahisa Agni menyadari, bahwa ia telah salah menafsirkan maksud Akuwu Tunggul Ametung.
Pertempuran yang hiruk pikuk masih terjadi. Orang-orang Empu Sada masih saja bertempur sambil berteriak-teriak. Namun Kuda Sempana dan kedua saudara seperguruannya masih belum menampakkan dirinya.
Empu Sada yang gelisah, sekali lagi berseru, “He Kuda Sempana, apakah kau tertidur? Cepat bangunlah, pertempuran telah hampir selesai. Pintu telah terbuka bagimu.”
Suara Empu Sada itu pun melontar memenuhi hutan. Dikejauhan terdengar suara anjing hutan menggonggong berkepanjangan, seakan-akan menyahut seruan orang tua bertongkat panjang itu. Namun Kuda Sempana belum juga tampil ke medan peperangan. Empu Sada pun menjadi semakin gelisah. Namun dengan demikian kemarahannya pun semakin menyala di dalam dadanya. Dalam kegelisahan itu Empu Sada mencoba membuat perhitungan atas anak buahnya dan para prajurit Tumapel. Ketika ia mendengar salah seorang dari orangnya memekik tinggi dan kemudian jatuh terguling karena dadanya tersobek oleh ujung tombak, maka matanya yang cekung, tiba-tiba seperti memancarkan api. Korban telah jatuh di pihaknya, sedang Kuda Sempana belum juga menampakkan dirinya. Di samping kemarahannya, orang tua itu pun menjadi jengkel pula kepada Kuda Sempana.
Tetapi tempat yang paling baik untuk menumpahkan kemarahannya itu adalah Witantra dan kawan-kawannya. Karena itu, maka segera ia mengambil keputusan, untuk secepat-cepatnya membinasakan Witantra dan kawan-kawannya, kemudian membinasakan segenap prajurit Tumapel sebelum orang-orangnya menjadi punah. Bersama-sama dengan orang-orangnya itu, maka ia pasti segera akan dapat melumpuhkan pasukan Tumapel itu, untuk seterusnya dengan kasar mengambil gadis bakal Permaisuri Akuwu Tumapel untuk muridnya.
Tetapi apabila diingatnya, bahwa muridnya kini sama sekali tidak menampakkan dirinya, maka Empu Sada pun menjadi ragu-ragu untuk melakukan keputusannya dan bahkan menjadi acuh tak acuh akan gadis itu. Namun berbagai pertimbangan yang lain telah mendorongnya untuk meneruskan rencananya. Kalau Kuda Sempana tidak meneruskan rencananya, biarlah. Aku sudah terlanjur melawan pemimpin prajurit Tumapel ini. Mau tidak mau aku harus mengambil alih pertanggungan jawabnya. Sehingga wajarlah kalau aku yang akan mengambil keuntungan dari pencegatan ini. Bukankah bakal permaisuri itu memiliki perhiasan yang tiada-tara nilai harganya.
Dengan ketetapan hati, Empu Sada itu pun kemudian bertempur dengan hampir segenap kemampuannya supaya pekerjaannya cepat selesai sebelum orang-orangnya semakin banyak menjadi korban. Meskipun orang-orang itu adalah murid-murid dari murid-muridnya, namun ia tidak dapat membiarkan korban berjatuhan apabila hal itu masih mungkin dihindari.
Demikianlah pertempuran antara Empu Sada dan keempat lawannya menjadi semakin dahsyat. Terasa bagi keempat lawannya, bahwa Empu Sada telah benar-benar hampir sampai puncak kewajaran ilmunya, meskipun ia belum mempergunakan ilmu pemungkasnya, seperti yang telah diturunkannya kepada murid-muridnya, Kuda Sempana, Cundaka dan beberapa orang yang lain.
Witantra dan ketiga kawannya terpaksa memeras tenaganya pula. Namun bagaimanapun juga, terasa bahwa suatu ketika mereka pasti akan dibinasakan oleh Empu Sada itu Kemudian akan lenyap pulalah gadis yang harus dipertanggung-jawabkan. Witantra itu pun kemudian menggeram. Alangkah aib namanya. Ketika ia bertugas untuk mengawal Ken Dedes, seorang bakal permaisuri Tumapel hanya dalam jarak antar Tumapel dan Panawijen, ia telah gagal. Kematiannya bukanlah hal yang dicemaskannya. Tetapi dengan hilangnya Ken Dedes, maka namanya akan menjadi buah pembicaraan setiap prajurit dan bahkan setiap orang Tumapel, bahwa hilangnya Ken Dedes, adalah karena tidak kemampuan Witantra, pimpinan pasukan pengawal istana.
Tetapi ternyata bahwa kegelisahan Empu Sada berpengaruh juga dalam pertempuran itu. Sekali-sekali orang tua itu masih mencoba mencari Kuda Sempana diantara orang-orang yang sedang bertempur hiruk-pikuk itu. Namun setiap kali orang itu menjadi kecewa dan menggeram marah. Dalam hal demikian, kembali orang tua itu memperketat serangannya.
Sehingga akhirnya tenaga Kebo Ijo semakin lama semakin menjadi surut. Nafas Mahendra pun menjadi semakin terengah-engah, bahkan seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Tangkai pedangnya pun menjadi basah pula, dan terasa seolah-olah pedang itu ingin meloncat dari genggamannya. Sidatta pun tidak kalah cemasnya ketika tangannya seakan menjadi semakin lemah.
Tetapi Empu Sada pun tidak pula kalah cemasnya. Ia pun dapat menduga bahwa sebentar lagi, korban akan berjatuhan di pihaknya apabila Kuda Sempana dan kawan-kawannya tidak segera tampil ke medan. Betapa ia mengerahkan kemampuannya untuk membunuh Witantra dan kawan-kawannya sebelum ia berhasil membantu orang-orangnya, namun ia memerlukan waktu pula.
Karena itu dengan nada penuh kejengkelan sekali lagi ia berteriak, “He, Kuda Sempana, dimana kau?”
Pertanyaan itu telah menimbulkan pikiran baru bagi para perwira yang berdiri di samping Ken Dedes. Pertanyaan itu meyakinkannya bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Sehingga karena itu ia telah mengambil suatu sikap untung-untungan. Kepada seorang prajurit yang dipercayainya ia berkata,
“Gantikan tempatku. Berdua, sebelah menyebelah. Aku akan membantu kakang Witantra dan kakang Sidatta, kalau terjadi sesuatu, cepat, panggil aku kemari.”
“Baik,“ sahut prajurit itu yang kemudian berdua dengan seorang kawannya mereka berdiri sebelah menyebelah tandu Ken Dedes di dalam lingkaran beberapa kawannya yang lain. Di tangan prajurit itu tergenggam sebatang tombak pendek dan Prajurit yang lain menggegam pedang yang panjang.
Ketika kedua Prajurit itu telah bersiap di kedua sisi tandu itu, maka berkatalah perwira itu kepada Ken Dedes, “Tuan Puteri, hamba mohon ijin untuk membantu kakang Witantra yang agaknya mengalami kesulitan. Apabila terjadi sesuatu disini, biarlah hamba segera datang kemari.”
Ken Dedes ragu-ragu sesaat, tetapi ketika ia melihat kedua prajurit yang bertubuh besar kekar dan berwajah keras berdiri di kedua sisi tandunya ia mengangguk sambil berkata,
“Tetapi kau harus segera kembali apabila kami disini memerlukan.”
“Hamba tuan Puteri,“ jawab perwira itu.
Dan tanpa menunggu lagi segera ia meloncat menembus lingkaran prajurit yang dibuatnya. Dengan tangkasnya segera ia terjun dalam pertempuran bersama dengan Witantra dengan kawan-kawannya. Sepasang senjatanya segera berputaran. Dengan kesegaran tenaganya cepat ia dapat mempengaruhi keadaan.
Witantra terkejut melihat kehadirannya. Karena itu dengan serta merta ia bertanya, “Kau datang juga kemari?”
“Aku telah menyerahkannya kepada para prajurit pilihan. Aku akan segera kembali ke sana kalau diperlukan.”
Witantra tidak menjawab. Ia memang memerlukan bantuan itu. Dan ia sependapat, apabila diperlukan, biarlah ia meninggalkan arena ini. Dengan kehadiran lawan barunya, maka pekerjaan Empu Sada menjadi kian berat. Namun dengan demikian ia menjadi semakin marah. Orang baru itu hanya akan mampu memperpanjang waktu, tetapi tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari bencana.
Tetapi memperpanjang waktu itu pun benar-benar telah mencemaskan hati Empu Sada. Di sekitarnya ia melihat bahwa orang-orangnya pun telah menjadi kian sulit. Kalau semua mereka sengaja membuat kegaduhan dengan serangan-serangan yang tidak teratur, maka semakin lama mereka benar-benar menjadi tidak teratur bukan karena kesengajaan. Ternyata prajurit Tumapel lebih berpengalaman dalam pertempuran bersama. Mungkin orang-orang Empu Sada itu seorang-seorang tidak kalah dari para prajurit Tumapel, tetapi kerja sama dan bertempur dalam pasangan-pasangan yang serasi, ternyata para prajurit Tumapel telah melampaui mereka.
Orang tua bertongkat panjang itu pun menggeram. Kemarahannya kini telah memuncak. Dengan demikian maka tidak lagi dapat mengekang dirinya dalam pertempuran itu. Namun melawan lima orang perwira prajurit pengawal Akuwu Tumapel, ternyata Empu Sada memerlukan waktu pula.
Sampai demikian jauh, ternyata Kuda Sempana dan kawan-kawannya masih belum menampakkan dirinya pula. Bahkan sampai saat-saat yang sangat mencemaskan Empu Sada, sehingga akhirnya Empu Sada mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkelahian itu menurut seleranya sendiri. Ia tidak tertarik lagi kepada rencananya yang telah disusunnya bersama Kuda Sempana.
“Aku musnahkan saja semua orang Tumapel ini,“ katanya di dalam hati. Dan ia benar-benar ingin melaksanakannya.
Ken Dedes yang melihat perkelahian itu, hatinya benar-benar menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sedang berlangsung antara Empu Sada dan kelima lawannya. Namun menurut penilaian Ken Dedes, apabila lawan Witantra bukan benar-benar orang yang sangat sakti, maka ia pasti tidak memerlukan tiga orang untuk mencoba melawannya. Bahkan lima orang pun tidak segera dapat mengatasi keadaan. Mereka seakan-akan mampu berlari-lari melingkari Empu Sada, untuk kemudian berloncatan menjauh bersama-sama sebelum satu dua orang menyerangnya dari arah yang berbeda.
Tetapi apabila Ken Dedes melihat pertempuran di sudut-sudut yang lain, ia melihat para prajurit Tumapel selalu berusaha mendesak dan bahkan mengejar orang-orang liar itu berlari-lari melingkar-lingkar. Tetapi para penyerang itu masih saja berteriak-teriak tak menentu dengan nada yang menyakitkan telinga, meskipun suara teriakan-teriakan itu tidak sekeras pada saat-saat mereka datang.
Ketika mereka kemudian telah sampai ke puncak yang paling gawat dari pertempuran itu, baik bagi Witantra dan kawan-kawannya, maupun bagi orang Empu Sada, yang masing-masing selalu terdesak oleh lawan-lawan mereka, dikejauhan terdengar sebuah suitan nyaring. Sekali, dua kali dan kemudian diulangi lagi sekali, sehingga menjadi tiga kali. Suara itu seperti suara seekor burung yang melengking memecah gelap malam. Ternyata suara itu telah mengejutkan semua orang yang berada di arena pertempuran itu.
Bagi Witantra dan para prajurit Tumapel suara itu seakan-akan suara hantu yang telah siap menerkam mereka dan sikap yang sangat mengerikan. Dalam kesulitan itu, maka mereka masih harus menunggu bencana yang bakal datang. Para prajurit yang berada di sekitar Ken Dedes pun segera merapatkan diri, seakan-akan mereka mendapat perintah untuk menghadapi kemungkinan yang paling akhir dari perjuangan mereka.
Tetapi Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kedua perwira bawahan Witantra menjadi semakin terkejut melihat sikap Empu Sada. Ternyata orang tua itu pun terkejut bukan buatan mendengar suara suitan tiga kali berturut-turut. Seperti disengat seribu lebah biru Empu Sada itu melontar surut beberapa langkah. Diangkatnya wajahnya sambil memanjangkan lehernya.
Witantra dan kawan-kawannya yang menjadi keheranan. justru berdiri saja tegak di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesuatu yang bukan seharusnya. Mereka menyangka bahwa suara suitan itu adalah pertanda kehadiran Kuda Sempana dan kawan-kawannya yang mungkin bukan saja tiga orang, tapi dengan beberapa orang lain. Namun menilik sikap Empu Sada, maka kemungkinan itu pasti berbeda dari peristiwa yang akan mereka hadapi.
Terdengar Empu Sada itu menggeram. Sekali dilayangkannya pandangan matanya kepada orang-orangnya yang masih bertempur melawan prajurit-prajurit Tumapel. Ternyata mereka semakin menjadi terdesak. Dalam ketegangan itu sekali lagi dikejauhan terdengar suara itu. Suara suitan tiga kali berturut-turut.
“Setan,“ geram Empu Sada, “apa pula yang terjadi dengan anak cengeng itu?”
Witantra masih tegak di tempatnya. Kawannya pun masih belum berbuat sesuatu. Namun di dalam dada mereka berdetaklah berbagai pertanyaan tentang sikap orang tua yang mengerikan itu. Tiba-tiba Witantra dan kawan-kawannya dikejutkan oleh suitan Empu Sada itu. Mirip dengan sebuah siulan panjang. Suaranya menyusup menembus gelap malam melingkar-lingkar di dalam hutan. Witantra dan kawan-kawannya tidak tahu sama sekali sasmita sandi semacam itu. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri mereka menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin siulan Empu Sada itu memperdengarkan kidung kematian bagi mereka dan para prajurit Tumapel.
Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan mereka. Mendengar suara siulan itu. maka serentak orang-orang Empu Sada berteriak semakin keras, namun apa yang mereka lakukan justru sebaliknya. Mereka berlari-larian di arena itu untuk sesaat, kemudian dengan cepatnya mereka meloncat menyusup ke dalam gerumbul-gerumbul yang gelap di balik rimbunnya hutan. Beberapa orang prajurit Tumapel berusaha mengejar mereka, namun terdengar Witantra memberi aba-aba,
“Biarkan mereka.”
Para prajurit Tumapel terhenti di tempatnya. Terasa pula oleh mereka itu, suasana yang seolah-olah menyimpan rahasia. Suara-suara suitan dan siulan, kegelapan malam diantara batang-batang pohonan, Empu Sada yang masih berdiri di tempatnya dan suara teriakan-teriakan orang-orang yang berbuat seakan-akan orang-orang liar itu yang semakin lama menjadi semakin lemah. Keadaan itu pulalah yang memaksa Witantra mencegah anak buahnya terjerumus di dalam keadaan yang tak mereka kenal.
Sesaat setiap orang di perkemahan itu berdiri tegak di tempatnya. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang, namun mulut mereka terkatub rapat-rapat. Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, kedua perwira bawahan Witantra. Para prajurit, Ken Dedes dan bahkan Empu Sada sendiri. Mereka seakan-akan sedang menunggu suatu peristiwa yang akan meledak setiap saat.
Tetapi yang terdengar kemudian sekali lagi suara suitan kini menjadi kian dekat. Tiga kali berturut-turut. bahkan kini tidak saja dilontarkan oleh seseorang, tetapi dua orang hampir bersamaan. Sekali lagi terdengar Empu Sada menggeram. Diantara suaranya yang berat terdengar ia mengumpat,
“Setan manakah yang berani mengganggu Empu Sada dan murid-muridnya.”
Kata-kata Empu Sada itu pun mengejutkan Witantra dan kawan-kawannya. Terasa bahwa Empu Sada merasa terganggu karena suara-suara suitan itu. Karena itu maka Witantra dan kawan-kawannya menjadi semakin tidak mengerti, apakah yang sedang terjadi.
Namun mereka terkejut ketika Empu Sada itu berteriak lantang, “He, Kuda Sempana. Dimana kau? Siapakah yang telah berani mencoba menghalangi rencana kami itu?” Suara Empu Sada menggelegar seperti suara guruh di musim kesanga.
Tetapi suara Empu Sada itu tidak segera mendapat jawaban. Sejenak mereka terpaku menunggu, apakah yang bakal terjadi, dan apakah jawaban yang akan mereka dengar atas pertanyaan Empu Sada itu. Namun jawaban itu tidak segera mereka dengar. Empu Sada yang masih berdiri tegak itu sekali lagi menggeram. Wajahnya menjadi semakin tegang dan tubuhnya gemetar menahan marah. Tetapi dengan demikian, Witantra dan kawan-kawannya perlahan-lahan dapat mengurai keadaan. Ternyata dugaan mereka benar, ada sesuatu yang tidak wajar menurut rencana Empu Sada.
Ketika sejenak kemudian masih juga tidak ada jawaban, maka sekali lagi terdengar Empu Sada berteriak, “Kuda Sempana, sekali lagi aku beri tanda. Aku akan segera datang.”
Alangkah terkejut mereka bersama-sama ketika sekali lagi terdengar suara tidak begitu jauh dari tempat mereka. Meskipun suara itu tidak jelas, namun terdengar juga lamat-lamat,
“Aku disini guru. Ada orang gila yang menghalangi aku.”
Empu Sada tidak menunggu lebih lama lagi. Cepat-cepat ia meloncat meninggalkan Witantra dan kawan-kawannya. Hilang di dalam semak-semak. Adalah pasti bahwa Empu Sada berusaha untuk menolong muridnya. Agaknya suitan-suitan itu adalah tanda dari murid-murid Empu Sada untuk menyatakan bahwa mereka berada dalam bahaya.
Witantra masih berdiri sejenak di tempatnya. Tetapi tanggapannya atas peristiwa itu telah memaksanya untuk mencoba mengikuti Empu Sada. Karena itu maka katanya, “Sidatta, tetaplah disini berdua. Aku, Mahendra dan Kebo Ijo akan mencoba melihat apa yang terjadi dengan orang tua itu.”
Wajah Sidatta yang masih tegang tampak berkerut. Ia masih lihat peristiwa ini diliputi oleh suatu keragu-raguan yang tidak menentu. Karena itu katanya, “Kakang Witantra, apakah tidak terlampau berbahaya bagi kakang untuk pergi ke dalam semak-semak yang tidak kakang kenal.”
“Aku tidak akan pergi terlampau jauh. Kalau Kuda Sempana dapat kami dengar dari sini, maka suaraku pun pasti akan kalian dengar apabila kalau aku memerlukan kalian.“ jawab Witantra.
Sidatta menganggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya sendiri terpancar keinginannya untuk melihat, kenapa Kuda Sempana tidak dapat menyelesaikan rencananya dengan baik. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan perkemahan itu tanpa penjagaan. Karena itu maka katanya,
“Silahkan kakang. Tetapi kakang, kita akan saling memberikan tanda apabila kita saling memerlukan.”
“Baik,“ sahut Witantra, yang kemudian bersama dengan kedua adik seperguruannya, menyusup ke dalam semak-semak dan hilang di balik rimbunnya dedaunan.
Tetapi mereka bertiga tidak segera dapat menemukan arah, kemana mereka harus pergi. Mereka hanya mampu membuat ancar-ancar arah suara Kuda Sempana. Tetapi suara itu pun tidak begitu jelas bagi mereka. Karena itu untuk sesaat mereka berjalan dengan hati-hati ke arah itu. Mereka menyibak dedaunan dan menyusup di bawah akar-akar pepohonan. Mereka tidak dapat mencari jalan lain. Mereka hanya dapat memintas lurus ke tempat yang mereka sangka akan didatangi oleh Empu Sada pula. Namun dalam pada itu, mereka tetap dalam kewaspadaan, sebab mereka masih belum dapat menentukan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin mereka masih tetap berada dalam jebakan Empu Sada yang membuat rencana demikian berbelit-belit.
Tetapi setelah mereka berjalan beberapa lama, mereka sama sekali belum menemukan apa-apa. Mereka tidak mendengar suara apapun dan bahkan mereka seolah-olah terkurung dalam sebuah goa yang gelap pepat. Hitam dan kelam di sekeliling mereka. Yang dapat mereka lihat hanyalah bayangan dedaunan yang menggapai-gapai ditiup angin malam, seperti tangan-tangan hantu raksasa yang akan menerkam mereka.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang seakan-akan meledak-ledak tidak begitu jauh dari tempat mereka. Suara itu adalah suara Empu Sada dalam nada yang tinggi menyakitkan telinga. Diantara suara tertawa itu terdengar ia berkata,
“He, rupanya kau yang datang kelinci kurus.”
Tak ada suara menyahut. Yang terdengar masih saja suara tertawa Empu Sada. Bukan karena orang tua itu menjadi bergembira, atau menemukan permainan yang menyenangkan, tetapi nada suaranya melontarkan keheranan dan kebencian yang melonjak-lonjak di dalam dadanya.
Witantra memasang telinganya baik-baik. Perlahan-lahan ia menemukan arah yang harus dianutnya. Karena itu maka segera ia berbisik kepada adik-adik seperguruannya,
“Kita menerobos ke Utara.”
Mahendra dan Kebo Ijo tidak menjawab. Dengan pedang terhunus mereka berjalan terbongkok-bongkok menghindari sulur-sulur yang bergayutan pada pepohonan. Tetapi kini mereka melangkah dengan pasti. Mereka telah menemukan arah. Semakin dekat mereka dengan arah suara tertawa Empu Sada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi kemudian suara tertawa itu tidak mereka dengar lagi. Meskipun demikian mereka berjalan terus.
Tiba-tiba mereka tertegun ketika beberapa puluh langkah lagi dihadapan mereka, terdengar suara Empu Sada, ”Kuda Sempana, kenapa tidak kau bunuh saja kelinci ini he? kenapa kau dan kedua saudara seperguruanmu itu berteriak-teriak memanggil aku? Bukankah membunuhnya tidak lebih sulit dari pada membantai ayam sakit-sakitan.”
Tidak terdengar jawaban. Seolah-olah yang berada di tempat itu hanyalah Empu Sada seorang diri. Setiap kali ia berbicara, maka tak ada suara yang menyahut. Kali ini Kuda Sempana itu pun tidak menjawab. Kembali tumbuh keragu-raguan di dalam hati Witantra. Apakah ini bukan salah satu pokal Empu Sada untuk memisahkannya dari para prajurit yang lain, ataukah memang ada tujuan tersembunyi yang tidak dimengertinya? Tetapi jarak itu sudah dekat, sehingga Witantra pun memutuskan untuk maju beberapa langkah lagi.
Ketika mereka maju meloncati beberapa dahan-dahan yang rontok dan melintang dihadapan mereka, maka segera mereka melihat, bagian yang luang dari hutan itu. Bagian yang meskipun sempit namun cukup memberikan tempat untuk bertempur seperti tempat yang mereka pergunakan untuk berkemah. Dengan hati-hati Witantra melangkah lagi beberapa langkah. Dari sela-sela rimbunnya dedaunan ia mencoba melihat, apa yang ada di tempat yang agak longgar itu.
Namun malam gelapnya bukan kepalang. Tetapi di tempat yang longgar itu, kepekatan malam seakan-akan menipis. Sinar bintang-bintang di langit tidak tertutup oleh dedaunan dan dahan-dahan kayu yang rimbun di atasnya. Dan apa yang dilihatnya benar-benar menggetarkan hatinya, meskipun seakan-akan hanyalah bayangan-bayangan hantu yang hitam legam.
Mereka terdiri dari lima orang. Namun Witantra dapat memastikan, bahwa seorang diantaranya adalah Empu Sada. yang tiga adalah murid-murid Empu Sada sendiri. Namun yang satu, berdiri agak terlampau ke sudut, sehingga Witantra hampir tidak dapat melihatnya, seandainya bayangan itu tidak bergerak. Yang tampak hanya hitam. Bahkan garis-garis bentuknya pun tak dapat dikenalnya.
Namun betapa terkejut Witantra yang tiba-tiba mendengar Empu Sada berteriak, “He, siapa yang mencoba mengintip pertemuan ini?”
Sebelum Witantra menjawab, ia melihat salah seorang dari kelima bayangan itu memutar tubuhnya dan maju selangkah, tepat ke arah Witantra dan adik-adik seperguruannya bersembunyi.
Tetapi Witantra lebih terkejut lagi ketika ia mendengar bayangan yang di sudut itu berkata, “Biarkan mereka berada di sana.”
Sesaat Witantra terpaku di tempatnya. Bukan saja Witantra, namun kedua saudara seperguruannya pun terkejut pula mendengar suara itu. Bahkan Kebo Ijo, yang termuda diantara mereka bertiga tidak dapat menahan perasaannya. Setelah sekian lama mereka berjuang melawan Empu Sada, dan bahkan hampir saja mereka mengalami bencana, tiba-tiba mereka melihat kehadiran orang itu. Karena itu, meledaklah kegembiraan Kebo Ijo. Hampir berteriak ia memanggil orang yang berdiri di dalam bayangan yang kelam itu,
“Guru. Gurukah itu?” Witantra menggamit tangan Kebo Ijo, tetapi anak muda itu tidak memperhatikannya. Bahkan selangkah ia meloncat maju dan sekali lagi memanggil, “Guru. Kami bertiga dengan kakang Witantra dan kakang Mahendra.”
Orang yang berdiri di sudut yang gelap itu menyahut, “kemarilah.”
Kebo Ijo menjadi ragu-ragu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak seperti patung. Kalau ia berjalan ke tempat gurunya berdiri, Empu Sada itu dapat dengan tiba-tiba memotong jalannya, dan dengan sebuah serangan mungkin ia telah terpelanting untuk tidak bangun lagi. Tongkat yang panjang itu pasti mampu mematahkan tulang-tulang rusuknya. Sehingga dengan demikian, anak muda itu berpaling kepada kedua saudaranya. Kalau mereka berjalan bersama-sama, maka kemungkinan untuk mempertahankan diri menjadi lebih besar.
Agaknya gurunya melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya mengulangi, “Kemarilah. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Jangan hiraukan Empu Sada. Ia orang yang baik hati. Ia pasti tidak akan berbuat sesuatu.”
Empu Sada menggeram. Selangkah ia maju sambil bergumam, “Kalau kalian bergerak selangkah, maka kalian akan berkubur di hutan ini.”
“Kita akan terlampau banyak pekerjaan Empu,” berkata bayangan di kegelapan, yang ternyata adalah guru Witantra yang kekurus-kurusan dan bernama Panji Bojong Santi, “Kalau kau membunuh murid-muridku, maka sedikitnya kita harus mengubur enam orang sekaligus disini.”
“Kenapa enam,“ teriak Empu Sada.
“Apakah kau tidak mengerti hitungan sama sekali? Bukankah tiga ditambah dengan tiga itu berjumlah enam?”
“Kenapa enam?” sekali lagi Empu Sada berteriak, “aku hanya membunuh tiga orang.”
“Kau membunuh muridku tiga orang dan aku membunuh muridmu tiga orang. Bukankah jumlahnya enam.”
Sekali lagi Empu Sada menggeram. Kali ini lebih keras lagi. Tetapi ia tidak menyahut.
Tetapi Kuda Sempana, Cundaka dan Sungsang yang ditunggu-tunggunya tidak juga segera datang. Apakah mereka tidak mendengar segala macam keributan ini karena mereka terlampau jauh bersembunyi, atau tiba-tiba mereka tertidur di tempat persembunyian mereka?
Dalam kegelisahan itu maka terdengar Empu Sada berteriak nyaring, “Kuda Sempana. Telah sampai saatnya kau melakukaa tugasmu.”
Suara Empu Sada itu menggelora seolah-olah memenuhi hutan itu. Daun-daunan bergetaran dan ranting-ranting bergoyang-goyang karena gelombang suara orang tua itu. Gemanya memukul setiap pepohonan dan membuat bunyi ulangan yang serupa melingkari sampai jarak yang sangat jauh. Tetapi Empu Sada tidak segera melihat ketiga muridnya. Bahkan yang dilihatnya, para prajurit Tumapel semakin lama semakin menguasai keadaan. Apalagi ketika Empu Sada kemudian melihat, bahwa orang-orangnya telah mulai lelah karena gerak dan tandang mereka yang berlebih-lebihan. Sebab menurut perhitungan mereka, apa yang terjadi dengan mereka, tidak akan berlangsung lama.
Witantra dan kawan-kawannya pun menjadi heran. Kenapa Kuda Sempana yang telah dipanggil oleh gurunya itu tidak juga muncul. Namun dengan demikian timbullah berbagai dugaan diantara mereka. Diantaranya menyangka bahwa Kuda Sempana sengaja menunggu sampai orang-orang Tumapel menjadi lengah benar-benar, sedang yang lain menganggap bahwa apa yang terjadi itu telah berubah dari rencana semula.
Tetapi bagi Ken Dedes sendiri, nama Kuda Sempana itu telah hampir membuatnya pingsan. Kuda Sempana bagi Ken Dedes sungguh menakutkan, melampaui hantu yang paling mengerikan sekalipun. Ternyata kini orang yang menakutkan itu datang kembali kepadanya, bahkan kali ini dengan membawa sejumlah kawan yang bersedia membantunya. Meskipun Ken Dedes merasa, bahwa para prajurit Tumapel telah berusaha melindunginya sejauh-jauh mungkin, namun melihat keributan perkelahian itu, hati Ken Dedes pun menjadi sangat cemas karenanya. Ia menyesal bahwa ia telah menyebut Kuda Sempana sebagai alasan untuk memohon kepada Akuwu sejumlah pengawal yang akan mengantarnya. Ternyata ucapannya itu kini terjadi, seperti sebuah mimpi dara-asih.
Karena itu maka kini Ken Dedes telah berpegangan erat-erat pada tandunya, seolah-olah ia ingin segera meloncat masuk dan dengan cepat-cepat berjalan ke Panawijen. Dalam keadaan yang demikian, teringat olehnya murid ayahnya, Mahisa Agni yang sudah dianggapnya sebagai kakak kandungnya sendiri. Telah beberapa kali Mahisa Agni melepaskannya dari tangan Kuda Sempana. Meskipun kemudian Kuda Sempana berhasil membawanya, namun yang terjadi itu adalah benar-benar diluar kemampuan Mahisa Agni. Kini Kuda Sempana itu kembali menghantuinya. Dan disini tidak ada Mahisa Agni. Justru ia sedang berjalan ke padukuhan Mahisa Agni, untuk menunjukkan kebesarannya, supaya Mahisa Agni menyadari, bahwa ia telah salah menafsirkan maksud Akuwu Tunggul Ametung.
Pertempuran yang hiruk pikuk masih terjadi. Orang-orang Empu Sada masih saja bertempur sambil berteriak-teriak. Namun Kuda Sempana dan kedua saudara seperguruannya masih belum menampakkan dirinya.
Empu Sada yang gelisah, sekali lagi berseru, “He Kuda Sempana, apakah kau tertidur? Cepat bangunlah, pertempuran telah hampir selesai. Pintu telah terbuka bagimu.”
Suara Empu Sada itu pun melontar memenuhi hutan. Dikejauhan terdengar suara anjing hutan menggonggong berkepanjangan, seakan-akan menyahut seruan orang tua bertongkat panjang itu. Namun Kuda Sempana belum juga tampil ke medan peperangan. Empu Sada pun menjadi semakin gelisah. Namun dengan demikian kemarahannya pun semakin menyala di dalam dadanya. Dalam kegelisahan itu Empu Sada mencoba membuat perhitungan atas anak buahnya dan para prajurit Tumapel. Ketika ia mendengar salah seorang dari orangnya memekik tinggi dan kemudian jatuh terguling karena dadanya tersobek oleh ujung tombak, maka matanya yang cekung, tiba-tiba seperti memancarkan api. Korban telah jatuh di pihaknya, sedang Kuda Sempana belum juga menampakkan dirinya. Di samping kemarahannya, orang tua itu pun menjadi jengkel pula kepada Kuda Sempana.
Tetapi tempat yang paling baik untuk menumpahkan kemarahannya itu adalah Witantra dan kawan-kawannya. Karena itu, maka segera ia mengambil keputusan, untuk secepat-cepatnya membinasakan Witantra dan kawan-kawannya, kemudian membinasakan segenap prajurit Tumapel sebelum orang-orangnya menjadi punah. Bersama-sama dengan orang-orangnya itu, maka ia pasti segera akan dapat melumpuhkan pasukan Tumapel itu, untuk seterusnya dengan kasar mengambil gadis bakal Permaisuri Akuwu Tumapel untuk muridnya.
Tetapi apabila diingatnya, bahwa muridnya kini sama sekali tidak menampakkan dirinya, maka Empu Sada pun menjadi ragu-ragu untuk melakukan keputusannya dan bahkan menjadi acuh tak acuh akan gadis itu. Namun berbagai pertimbangan yang lain telah mendorongnya untuk meneruskan rencananya. Kalau Kuda Sempana tidak meneruskan rencananya, biarlah. Aku sudah terlanjur melawan pemimpin prajurit Tumapel ini. Mau tidak mau aku harus mengambil alih pertanggungan jawabnya. Sehingga wajarlah kalau aku yang akan mengambil keuntungan dari pencegatan ini. Bukankah bakal permaisuri itu memiliki perhiasan yang tiada-tara nilai harganya.
Dengan ketetapan hati, Empu Sada itu pun kemudian bertempur dengan hampir segenap kemampuannya supaya pekerjaannya cepat selesai sebelum orang-orangnya semakin banyak menjadi korban. Meskipun orang-orang itu adalah murid-murid dari murid-muridnya, namun ia tidak dapat membiarkan korban berjatuhan apabila hal itu masih mungkin dihindari.
Demikianlah pertempuran antara Empu Sada dan keempat lawannya menjadi semakin dahsyat. Terasa bagi keempat lawannya, bahwa Empu Sada telah benar-benar hampir sampai puncak kewajaran ilmunya, meskipun ia belum mempergunakan ilmu pemungkasnya, seperti yang telah diturunkannya kepada murid-muridnya, Kuda Sempana, Cundaka dan beberapa orang yang lain.
Witantra dan ketiga kawannya terpaksa memeras tenaganya pula. Namun bagaimanapun juga, terasa bahwa suatu ketika mereka pasti akan dibinasakan oleh Empu Sada itu Kemudian akan lenyap pulalah gadis yang harus dipertanggung-jawabkan. Witantra itu pun kemudian menggeram. Alangkah aib namanya. Ketika ia bertugas untuk mengawal Ken Dedes, seorang bakal permaisuri Tumapel hanya dalam jarak antar Tumapel dan Panawijen, ia telah gagal. Kematiannya bukanlah hal yang dicemaskannya. Tetapi dengan hilangnya Ken Dedes, maka namanya akan menjadi buah pembicaraan setiap prajurit dan bahkan setiap orang Tumapel, bahwa hilangnya Ken Dedes, adalah karena tidak kemampuan Witantra, pimpinan pasukan pengawal istana.
Tetapi ternyata bahwa kegelisahan Empu Sada berpengaruh juga dalam pertempuran itu. Sekali-sekali orang tua itu masih mencoba mencari Kuda Sempana diantara orang-orang yang sedang bertempur hiruk-pikuk itu. Namun setiap kali orang itu menjadi kecewa dan menggeram marah. Dalam hal demikian, kembali orang tua itu memperketat serangannya.
Sehingga akhirnya tenaga Kebo Ijo semakin lama semakin menjadi surut. Nafas Mahendra pun menjadi semakin terengah-engah, bahkan seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat. Tangkai pedangnya pun menjadi basah pula, dan terasa seolah-olah pedang itu ingin meloncat dari genggamannya. Sidatta pun tidak kalah cemasnya ketika tangannya seakan menjadi semakin lemah.
Tetapi Empu Sada pun tidak pula kalah cemasnya. Ia pun dapat menduga bahwa sebentar lagi, korban akan berjatuhan di pihaknya apabila Kuda Sempana dan kawan-kawannya tidak segera tampil ke medan. Betapa ia mengerahkan kemampuannya untuk membunuh Witantra dan kawan-kawannya sebelum ia berhasil membantu orang-orangnya, namun ia memerlukan waktu pula.
Karena itu dengan nada penuh kejengkelan sekali lagi ia berteriak, “He, Kuda Sempana, dimana kau?”
Pertanyaan itu telah menimbulkan pikiran baru bagi para perwira yang berdiri di samping Ken Dedes. Pertanyaan itu meyakinkannya bahwa ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Sehingga karena itu ia telah mengambil suatu sikap untung-untungan. Kepada seorang prajurit yang dipercayainya ia berkata,
“Gantikan tempatku. Berdua, sebelah menyebelah. Aku akan membantu kakang Witantra dan kakang Sidatta, kalau terjadi sesuatu, cepat, panggil aku kemari.”
“Baik,“ sahut prajurit itu yang kemudian berdua dengan seorang kawannya mereka berdiri sebelah menyebelah tandu Ken Dedes di dalam lingkaran beberapa kawannya yang lain. Di tangan prajurit itu tergenggam sebatang tombak pendek dan Prajurit yang lain menggegam pedang yang panjang.
Ketika kedua Prajurit itu telah bersiap di kedua sisi tandu itu, maka berkatalah perwira itu kepada Ken Dedes, “Tuan Puteri, hamba mohon ijin untuk membantu kakang Witantra yang agaknya mengalami kesulitan. Apabila terjadi sesuatu disini, biarlah hamba segera datang kemari.”
Ken Dedes ragu-ragu sesaat, tetapi ketika ia melihat kedua prajurit yang bertubuh besar kekar dan berwajah keras berdiri di kedua sisi tandunya ia mengangguk sambil berkata,
“Tetapi kau harus segera kembali apabila kami disini memerlukan.”
“Hamba tuan Puteri,“ jawab perwira itu.
Dan tanpa menunggu lagi segera ia meloncat menembus lingkaran prajurit yang dibuatnya. Dengan tangkasnya segera ia terjun dalam pertempuran bersama dengan Witantra dengan kawan-kawannya. Sepasang senjatanya segera berputaran. Dengan kesegaran tenaganya cepat ia dapat mempengaruhi keadaan.
Witantra terkejut melihat kehadirannya. Karena itu dengan serta merta ia bertanya, “Kau datang juga kemari?”
“Aku telah menyerahkannya kepada para prajurit pilihan. Aku akan segera kembali ke sana kalau diperlukan.”
Witantra tidak menjawab. Ia memang memerlukan bantuan itu. Dan ia sependapat, apabila diperlukan, biarlah ia meninggalkan arena ini. Dengan kehadiran lawan barunya, maka pekerjaan Empu Sada menjadi kian berat. Namun dengan demikian ia menjadi semakin marah. Orang baru itu hanya akan mampu memperpanjang waktu, tetapi tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari bencana.
Tetapi memperpanjang waktu itu pun benar-benar telah mencemaskan hati Empu Sada. Di sekitarnya ia melihat bahwa orang-orangnya pun telah menjadi kian sulit. Kalau semua mereka sengaja membuat kegaduhan dengan serangan-serangan yang tidak teratur, maka semakin lama mereka benar-benar menjadi tidak teratur bukan karena kesengajaan. Ternyata prajurit Tumapel lebih berpengalaman dalam pertempuran bersama. Mungkin orang-orang Empu Sada itu seorang-seorang tidak kalah dari para prajurit Tumapel, tetapi kerja sama dan bertempur dalam pasangan-pasangan yang serasi, ternyata para prajurit Tumapel telah melampaui mereka.
Orang tua bertongkat panjang itu pun menggeram. Kemarahannya kini telah memuncak. Dengan demikian maka tidak lagi dapat mengekang dirinya dalam pertempuran itu. Namun melawan lima orang perwira prajurit pengawal Akuwu Tumapel, ternyata Empu Sada memerlukan waktu pula.
Sampai demikian jauh, ternyata Kuda Sempana dan kawan-kawannya masih belum menampakkan dirinya pula. Bahkan sampai saat-saat yang sangat mencemaskan Empu Sada, sehingga akhirnya Empu Sada mengambil keputusan untuk menyelesaikan perkelahian itu menurut seleranya sendiri. Ia tidak tertarik lagi kepada rencananya yang telah disusunnya bersama Kuda Sempana.
“Aku musnahkan saja semua orang Tumapel ini,“ katanya di dalam hati. Dan ia benar-benar ingin melaksanakannya.
Ken Dedes yang melihat perkelahian itu, hatinya benar-benar menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang sedang berlangsung antara Empu Sada dan kelima lawannya. Namun menurut penilaian Ken Dedes, apabila lawan Witantra bukan benar-benar orang yang sangat sakti, maka ia pasti tidak memerlukan tiga orang untuk mencoba melawannya. Bahkan lima orang pun tidak segera dapat mengatasi keadaan. Mereka seakan-akan mampu berlari-lari melingkari Empu Sada, untuk kemudian berloncatan menjauh bersama-sama sebelum satu dua orang menyerangnya dari arah yang berbeda.
Tetapi apabila Ken Dedes melihat pertempuran di sudut-sudut yang lain, ia melihat para prajurit Tumapel selalu berusaha mendesak dan bahkan mengejar orang-orang liar itu berlari-lari melingkar-lingkar. Tetapi para penyerang itu masih saja berteriak-teriak tak menentu dengan nada yang menyakitkan telinga, meskipun suara teriakan-teriakan itu tidak sekeras pada saat-saat mereka datang.
Ketika mereka kemudian telah sampai ke puncak yang paling gawat dari pertempuran itu, baik bagi Witantra dan kawan-kawannya, maupun bagi orang Empu Sada, yang masing-masing selalu terdesak oleh lawan-lawan mereka, dikejauhan terdengar sebuah suitan nyaring. Sekali, dua kali dan kemudian diulangi lagi sekali, sehingga menjadi tiga kali. Suara itu seperti suara seekor burung yang melengking memecah gelap malam. Ternyata suara itu telah mengejutkan semua orang yang berada di arena pertempuran itu.
Bagi Witantra dan para prajurit Tumapel suara itu seakan-akan suara hantu yang telah siap menerkam mereka dan sikap yang sangat mengerikan. Dalam kesulitan itu, maka mereka masih harus menunggu bencana yang bakal datang. Para prajurit yang berada di sekitar Ken Dedes pun segera merapatkan diri, seakan-akan mereka mendapat perintah untuk menghadapi kemungkinan yang paling akhir dari perjuangan mereka.
Tetapi Witantra, Mahendra, Kebo Ijo dan kedua perwira bawahan Witantra menjadi semakin terkejut melihat sikap Empu Sada. Ternyata orang tua itu pun terkejut bukan buatan mendengar suara suitan tiga kali berturut-turut. Seperti disengat seribu lebah biru Empu Sada itu melontar surut beberapa langkah. Diangkatnya wajahnya sambil memanjangkan lehernya.
Witantra dan kawan-kawannya yang menjadi keheranan. justru berdiri saja tegak di tempatnya. Seolah-olah mereka melihat sesuatu yang bukan seharusnya. Mereka menyangka bahwa suara suitan itu adalah pertanda kehadiran Kuda Sempana dan kawan-kawannya yang mungkin bukan saja tiga orang, tapi dengan beberapa orang lain. Namun menilik sikap Empu Sada, maka kemungkinan itu pasti berbeda dari peristiwa yang akan mereka hadapi.
Terdengar Empu Sada itu menggeram. Sekali dilayangkannya pandangan matanya kepada orang-orangnya yang masih bertempur melawan prajurit-prajurit Tumapel. Ternyata mereka semakin menjadi terdesak. Dalam ketegangan itu sekali lagi dikejauhan terdengar suara itu. Suara suitan tiga kali berturut-turut.
“Setan,“ geram Empu Sada, “apa pula yang terjadi dengan anak cengeng itu?”
Witantra masih tegak di tempatnya. Kawannya pun masih belum berbuat sesuatu. Namun di dalam dada mereka berdetaklah berbagai pertanyaan tentang sikap orang tua yang mengerikan itu. Tiba-tiba Witantra dan kawan-kawannya dikejutkan oleh suitan Empu Sada itu. Mirip dengan sebuah siulan panjang. Suaranya menyusup menembus gelap malam melingkar-lingkar di dalam hutan. Witantra dan kawan-kawannya tidak tahu sama sekali sasmita sandi semacam itu. Karena itu, mereka harus mempersiapkan diri mereka menghadapi setiap kemungkinan yang dapat terjadi. Mungkin siulan Empu Sada itu memperdengarkan kidung kematian bagi mereka dan para prajurit Tumapel.
Tetapi yang terjadi adalah berbeda dengan dugaan mereka. Mendengar suara siulan itu. maka serentak orang-orang Empu Sada berteriak semakin keras, namun apa yang mereka lakukan justru sebaliknya. Mereka berlari-larian di arena itu untuk sesaat, kemudian dengan cepatnya mereka meloncat menyusup ke dalam gerumbul-gerumbul yang gelap di balik rimbunnya hutan. Beberapa orang prajurit Tumapel berusaha mengejar mereka, namun terdengar Witantra memberi aba-aba,
“Biarkan mereka.”
Para prajurit Tumapel terhenti di tempatnya. Terasa pula oleh mereka itu, suasana yang seolah-olah menyimpan rahasia. Suara-suara suitan dan siulan, kegelapan malam diantara batang-batang pohonan, Empu Sada yang masih berdiri di tempatnya dan suara teriakan-teriakan orang-orang yang berbuat seakan-akan orang-orang liar itu yang semakin lama menjadi semakin lemah. Keadaan itu pulalah yang memaksa Witantra mencegah anak buahnya terjerumus di dalam keadaan yang tak mereka kenal.
Sesaat setiap orang di perkemahan itu berdiri tegak di tempatnya. Wajah-wajah mereka menjadi semakin tegang, namun mulut mereka terkatub rapat-rapat. Witantra, Mahendra, Kebo Ijo, kedua perwira bawahan Witantra. Para prajurit, Ken Dedes dan bahkan Empu Sada sendiri. Mereka seakan-akan sedang menunggu suatu peristiwa yang akan meledak setiap saat.
Tetapi yang terdengar kemudian sekali lagi suara suitan kini menjadi kian dekat. Tiga kali berturut-turut. bahkan kini tidak saja dilontarkan oleh seseorang, tetapi dua orang hampir bersamaan. Sekali lagi terdengar Empu Sada menggeram. Diantara suaranya yang berat terdengar ia mengumpat,
“Setan manakah yang berani mengganggu Empu Sada dan murid-muridnya.”
Kata-kata Empu Sada itu pun mengejutkan Witantra dan kawan-kawannya. Terasa bahwa Empu Sada merasa terganggu karena suara-suara suitan itu. Karena itu maka Witantra dan kawan-kawannya menjadi semakin tidak mengerti, apakah yang sedang terjadi.
Namun mereka terkejut ketika Empu Sada itu berteriak lantang, “He, Kuda Sempana. Dimana kau? Siapakah yang telah berani mencoba menghalangi rencana kami itu?” Suara Empu Sada menggelegar seperti suara guruh di musim kesanga.
Tetapi suara Empu Sada itu tidak segera mendapat jawaban. Sejenak mereka terpaku menunggu, apakah yang bakal terjadi, dan apakah jawaban yang akan mereka dengar atas pertanyaan Empu Sada itu. Namun jawaban itu tidak segera mereka dengar. Empu Sada yang masih berdiri tegak itu sekali lagi menggeram. Wajahnya menjadi semakin tegang dan tubuhnya gemetar menahan marah. Tetapi dengan demikian, Witantra dan kawan-kawannya perlahan-lahan dapat mengurai keadaan. Ternyata dugaan mereka benar, ada sesuatu yang tidak wajar menurut rencana Empu Sada.
Ketika sejenak kemudian masih juga tidak ada jawaban, maka sekali lagi terdengar Empu Sada berteriak, “Kuda Sempana, sekali lagi aku beri tanda. Aku akan segera datang.”
Alangkah terkejut mereka bersama-sama ketika sekali lagi terdengar suara tidak begitu jauh dari tempat mereka. Meskipun suara itu tidak jelas, namun terdengar juga lamat-lamat,
“Aku disini guru. Ada orang gila yang menghalangi aku.”
Empu Sada tidak menunggu lebih lama lagi. Cepat-cepat ia meloncat meninggalkan Witantra dan kawan-kawannya. Hilang di dalam semak-semak. Adalah pasti bahwa Empu Sada berusaha untuk menolong muridnya. Agaknya suitan-suitan itu adalah tanda dari murid-murid Empu Sada untuk menyatakan bahwa mereka berada dalam bahaya.
Witantra masih berdiri sejenak di tempatnya. Tetapi tanggapannya atas peristiwa itu telah memaksanya untuk mencoba mengikuti Empu Sada. Karena itu maka katanya, “Sidatta, tetaplah disini berdua. Aku, Mahendra dan Kebo Ijo akan mencoba melihat apa yang terjadi dengan orang tua itu.”
Wajah Sidatta yang masih tegang tampak berkerut. Ia masih lihat peristiwa ini diliputi oleh suatu keragu-raguan yang tidak menentu. Karena itu katanya, “Kakang Witantra, apakah tidak terlampau berbahaya bagi kakang untuk pergi ke dalam semak-semak yang tidak kakang kenal.”
“Aku tidak akan pergi terlampau jauh. Kalau Kuda Sempana dapat kami dengar dari sini, maka suaraku pun pasti akan kalian dengar apabila kalau aku memerlukan kalian.“ jawab Witantra.
Sidatta menganggukkan kepalanya. Sebenarnya di dalam hatinya sendiri terpancar keinginannya untuk melihat, kenapa Kuda Sempana tidak dapat menyelesaikan rencananya dengan baik. Tetapi ia tidak dapat meninggalkan perkemahan itu tanpa penjagaan. Karena itu maka katanya,
“Silahkan kakang. Tetapi kakang, kita akan saling memberikan tanda apabila kita saling memerlukan.”
“Baik,“ sahut Witantra, yang kemudian bersama dengan kedua adik seperguruannya, menyusup ke dalam semak-semak dan hilang di balik rimbunnya dedaunan.
Tetapi mereka bertiga tidak segera dapat menemukan arah, kemana mereka harus pergi. Mereka hanya mampu membuat ancar-ancar arah suara Kuda Sempana. Tetapi suara itu pun tidak begitu jelas bagi mereka. Karena itu untuk sesaat mereka berjalan dengan hati-hati ke arah itu. Mereka menyibak dedaunan dan menyusup di bawah akar-akar pepohonan. Mereka tidak dapat mencari jalan lain. Mereka hanya dapat memintas lurus ke tempat yang mereka sangka akan didatangi oleh Empu Sada pula. Namun dalam pada itu, mereka tetap dalam kewaspadaan, sebab mereka masih belum dapat menentukan apa yang sebenarnya telah terjadi. Mungkin mereka masih tetap berada dalam jebakan Empu Sada yang membuat rencana demikian berbelit-belit.
Tetapi setelah mereka berjalan beberapa lama, mereka sama sekali belum menemukan apa-apa. Mereka tidak mendengar suara apapun dan bahkan mereka seolah-olah terkurung dalam sebuah goa yang gelap pepat. Hitam dan kelam di sekeliling mereka. Yang dapat mereka lihat hanyalah bayangan dedaunan yang menggapai-gapai ditiup angin malam, seperti tangan-tangan hantu raksasa yang akan menerkam mereka.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara tertawa yang seakan-akan meledak-ledak tidak begitu jauh dari tempat mereka. Suara itu adalah suara Empu Sada dalam nada yang tinggi menyakitkan telinga. Diantara suara tertawa itu terdengar ia berkata,
“He, rupanya kau yang datang kelinci kurus.”
Tak ada suara menyahut. Yang terdengar masih saja suara tertawa Empu Sada. Bukan karena orang tua itu menjadi bergembira, atau menemukan permainan yang menyenangkan, tetapi nada suaranya melontarkan keheranan dan kebencian yang melonjak-lonjak di dalam dadanya.
Witantra memasang telinganya baik-baik. Perlahan-lahan ia menemukan arah yang harus dianutnya. Karena itu maka segera ia berbisik kepada adik-adik seperguruannya,
“Kita menerobos ke Utara.”
Mahendra dan Kebo Ijo tidak menjawab. Dengan pedang terhunus mereka berjalan terbongkok-bongkok menghindari sulur-sulur yang bergayutan pada pepohonan. Tetapi kini mereka melangkah dengan pasti. Mereka telah menemukan arah. Semakin dekat mereka dengan arah suara tertawa Empu Sada mereka menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi kemudian suara tertawa itu tidak mereka dengar lagi. Meskipun demikian mereka berjalan terus.
Tiba-tiba mereka tertegun ketika beberapa puluh langkah lagi dihadapan mereka, terdengar suara Empu Sada, ”Kuda Sempana, kenapa tidak kau bunuh saja kelinci ini he? kenapa kau dan kedua saudara seperguruanmu itu berteriak-teriak memanggil aku? Bukankah membunuhnya tidak lebih sulit dari pada membantai ayam sakit-sakitan.”
Tidak terdengar jawaban. Seolah-olah yang berada di tempat itu hanyalah Empu Sada seorang diri. Setiap kali ia berbicara, maka tak ada suara yang menyahut. Kali ini Kuda Sempana itu pun tidak menjawab. Kembali tumbuh keragu-raguan di dalam hati Witantra. Apakah ini bukan salah satu pokal Empu Sada untuk memisahkannya dari para prajurit yang lain, ataukah memang ada tujuan tersembunyi yang tidak dimengertinya? Tetapi jarak itu sudah dekat, sehingga Witantra pun memutuskan untuk maju beberapa langkah lagi.
Ketika mereka maju meloncati beberapa dahan-dahan yang rontok dan melintang dihadapan mereka, maka segera mereka melihat, bagian yang luang dari hutan itu. Bagian yang meskipun sempit namun cukup memberikan tempat untuk bertempur seperti tempat yang mereka pergunakan untuk berkemah. Dengan hati-hati Witantra melangkah lagi beberapa langkah. Dari sela-sela rimbunnya dedaunan ia mencoba melihat, apa yang ada di tempat yang agak longgar itu.
Namun malam gelapnya bukan kepalang. Tetapi di tempat yang longgar itu, kepekatan malam seakan-akan menipis. Sinar bintang-bintang di langit tidak tertutup oleh dedaunan dan dahan-dahan kayu yang rimbun di atasnya. Dan apa yang dilihatnya benar-benar menggetarkan hatinya, meskipun seakan-akan hanyalah bayangan-bayangan hantu yang hitam legam.
Mereka terdiri dari lima orang. Namun Witantra dapat memastikan, bahwa seorang diantaranya adalah Empu Sada. yang tiga adalah murid-murid Empu Sada sendiri. Namun yang satu, berdiri agak terlampau ke sudut, sehingga Witantra hampir tidak dapat melihatnya, seandainya bayangan itu tidak bergerak. Yang tampak hanya hitam. Bahkan garis-garis bentuknya pun tak dapat dikenalnya.
Namun betapa terkejut Witantra yang tiba-tiba mendengar Empu Sada berteriak, “He, siapa yang mencoba mengintip pertemuan ini?”
Sebelum Witantra menjawab, ia melihat salah seorang dari kelima bayangan itu memutar tubuhnya dan maju selangkah, tepat ke arah Witantra dan adik-adik seperguruannya bersembunyi.
Tetapi Witantra lebih terkejut lagi ketika ia mendengar bayangan yang di sudut itu berkata, “Biarkan mereka berada di sana.”
Sesaat Witantra terpaku di tempatnya. Bukan saja Witantra, namun kedua saudara seperguruannya pun terkejut pula mendengar suara itu. Bahkan Kebo Ijo, yang termuda diantara mereka bertiga tidak dapat menahan perasaannya. Setelah sekian lama mereka berjuang melawan Empu Sada, dan bahkan hampir saja mereka mengalami bencana, tiba-tiba mereka melihat kehadiran orang itu. Karena itu, meledaklah kegembiraan Kebo Ijo. Hampir berteriak ia memanggil orang yang berdiri di dalam bayangan yang kelam itu,
“Guru. Gurukah itu?” Witantra menggamit tangan Kebo Ijo, tetapi anak muda itu tidak memperhatikannya. Bahkan selangkah ia meloncat maju dan sekali lagi memanggil, “Guru. Kami bertiga dengan kakang Witantra dan kakang Mahendra.”
Orang yang berdiri di sudut yang gelap itu menyahut, “kemarilah.”
Kebo Ijo menjadi ragu-ragu. Dilihatnya Empu Sada berdiri tegak seperti patung. Kalau ia berjalan ke tempat gurunya berdiri, Empu Sada itu dapat dengan tiba-tiba memotong jalannya, dan dengan sebuah serangan mungkin ia telah terpelanting untuk tidak bangun lagi. Tongkat yang panjang itu pasti mampu mematahkan tulang-tulang rusuknya. Sehingga dengan demikian, anak muda itu berpaling kepada kedua saudaranya. Kalau mereka berjalan bersama-sama, maka kemungkinan untuk mempertahankan diri menjadi lebih besar.
Agaknya gurunya melihat keragu-raguan itu, sehingga katanya mengulangi, “Kemarilah. Witantra, Mahendra dan Kebo Ijo. Jangan hiraukan Empu Sada. Ia orang yang baik hati. Ia pasti tidak akan berbuat sesuatu.”
Empu Sada menggeram. Selangkah ia maju sambil bergumam, “Kalau kalian bergerak selangkah, maka kalian akan berkubur di hutan ini.”
“Kita akan terlampau banyak pekerjaan Empu,” berkata bayangan di kegelapan, yang ternyata adalah guru Witantra yang kekurus-kurusan dan bernama Panji Bojong Santi, “Kalau kau membunuh murid-muridku, maka sedikitnya kita harus mengubur enam orang sekaligus disini.”
“Kenapa enam,“ teriak Empu Sada.
“Apakah kau tidak mengerti hitungan sama sekali? Bukankah tiga ditambah dengan tiga itu berjumlah enam?”
“Kenapa enam?” sekali lagi Empu Sada berteriak, “aku hanya membunuh tiga orang.”
“Kau membunuh muridku tiga orang dan aku membunuh muridmu tiga orang. Bukankah jumlahnya enam.”
Sekali lagi Empu Sada menggeram. Kali ini lebih keras lagi. Tetapi ia tidak menyahut.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar