MENU

Ads

Kamis, 26 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 084

Tetapi Ken Dedes pun sejak memasuki padukuhannya selalu diliputi oleh sebuah pertanyaan yang belum terjawab pula. Ia tidak melihat seorang laki-laki muda dan bahkan hampir tidak dilihatnya laki-laki selain orang-orang tua. Hal itu telah menambah kegelisahannya di samping keharuan yang menusuk-nusuk hati. Namun ia masih belum sempat untuk bertanya kepada seseorang, kemana gerangan setiap laki-laki dari pedukuhannya. Apakah Mahisa Agni pun tidak ada di padepokannya? Dan apakah karena laki-laki Panawijen menjadi ketakutan akan sesuatu, sehingga mereka pergi meninggalkan Padukuhan ini.

Kedatangan Ken Dedes telah benar menimbulkan berbagai tanggapan bagi para penduduk Panawijen yang melihatnya. Mereka belum pernah mendengar kabar yang meyakinkan sampai ke kampung halamannya, bahwa Ken Dedes kini justru seorang bakal permaisuri Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni yang mengetahui dengan pasti akan hal itu, sama sekali tidak mengatakannya kepada kawan-kawannya atau kepada siapapun, karena hatinya sendiri yang menjadi resah.

Orang-orang Panawijen itu pun kemudian berbondong ikut pula di belakang iring-iringan itu, sehingga semakin lama menjadi semakin panjang. Perempuan-perempuan tua, gadis-gadis anak-anak dan laki-laki tua. Hampir semua penghuni yang tinggal, mengikuti iringan itu sepanjang jalan pedukuhan mereka. Tetapi Ken Dedes masih belum melihat seorang anak muda pun. Ia belum melihat Ki Buyut Panawijen. Belum melihat laki-laki yang pernah dikenalnya selain yang sudah terlampau tua dan sudah dipenuhi oleh uban diatas kepalanya.

Witantra yang kini berjalan di samping Sidatta pun melihat keganjilan itu. Tetapi disimpannya pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan yang mengetuk hati Ken Dedes itu di dalam hatinya. Sekali-sekali ia berpaling memandangi wajah Sidatta. Tetapi perwira itu agaknya tidak sempat memperhatikan para penyambutnya. Matahari semakin tinggi mendaki langit, maka iring-iringan itu pun menjadi semakin dalam memasuki padukuhan Panawijen. Iring-iringan itu langsung menuju ke padepokan di ujung padukuhan itu. Padepokan Empu Purwa.

Ketika orang-orang Panawijen mengetahui arah dari iring-iringan itu segera mereka berbisik diantara sesamanya. Seorang perempuan yang kurus berdesis, “Apakah gadis itu akan pulang kembali?”

Perempuan yang berjalan di sisinya menyahut, “Mungkin gadis itu belum tahu bahwa ayahnya telah pergi meninggalkan padukuhannya karena hatinya yang sedih kehilangan gadis satu-satunya.” Keduanya terdiam. Namun mereka menjadi iba di dalam hati.

Ken Dedes sendiri, merasa bahwa sesuatu yang tidak wajar telah terjadi di pedukuhannya. Tanah yang kering, anak-anak muda yang seakan-akan lenyap dari padukuhannya adalah pertanda yang pertama-tama dapat dilihatnya. Untuk menghibur diri sendiri ia berkata di dalam hatinya,

“Mungkin anak-anak muda Panawijen yang bukan anak-anak muda yang cukup berani. Mungkin mereka menjadi ketakutan melihat iring-iringan ini sehingga mereka bersembunyi. Nanti apabila mereka menyadari bahwa kami tidak akan berbuat sesuatu, mereka pasti akan datang kembali. Tetapi Kakang Mahisa Agni pasti berpendirian lain. Kakang Mahisa Agni adalah bukan seorang penakut sehingga ia pasti tidak akan turut bersembunyi dengan anak-anak muda yang lain.” Karena pikiran itulah, maka Ken Dedes berjalan terus menuju kepadepokannya.

Ketika iringan itu membelok pada tikungan terakhir, hati Ken Dedes berdesir keras. Dikejauhan ia melihat ujung lorong yang dilalui itu. Di sisi lorong itulah terletak padepokannya. Padepokan Empu Purwa. Dengan gelora yang semakin cepat di dalam dada gadis itu, maka iring-iringan itu menjadi semakin dekat dengan regol halaman Padepokan Empu Purwa.

Yang mula-mula sampai di regol itu adalah Sidatta dan Witantra. Sejenak mereka berdiri tegak sambil memandangi halaman Padepokan itu. Sidatta belum pernah melihatnya, karena itu ia tidak melihat perubahan yang terjadi. Meskipun demikian ia berkata di dalam hatinya,

“Padepokan ini agaknya kurang terpelihara. Tanam-tanamannnya menjadi layu dan rerumputannya menjadi kering.” Tetapi ia tidak berkata sepatah kata pun tentang tanggapannya itu.

Berbeda dengan Witantra. Ia pernah melihat halaman yang dahulu sejuk segar. Halaman yang diwarnai oleh kehijauan dedaunan dan bunga yang beraneka warna. Kini yang dilihatnya adalah daun-daun kering, rumput-rumput kering dan bunga-bunga yang layu. Kuning gersang. Dilumuri oleh debu yang putih. Meskipun Witantra seorang prajurit yang hampir tidak sempat menikmati warna-warna tetumbuhan, namun hatinya serasa dilanda oleh suatu perasaan yang aneh. Halaman ini sekarang seperti padang rumput yang kering.

Sementara itu tandu Ken Dedes berjalan semakin maju. Di mukanya berjalan Mahendra dan kemudian Kebo Ijo dengan beberapa orang prajurit. Mereka pun kemudian berhenti pula di belakang Witantra dan Sidatta. Para prajurit itu pun kemudian menyibak, memberi jalan kepada para pengusung tandu untuk maju mendekati regol halaman itu.

Demikian tandu itu sampai di depan regol, terdengarlah Ken Dedes memekik kecil. Tanpa ada sesadarnya kedua belah tangannya menutupi mulutnya. Matanya tiba-tiba terbeliak dan jantungnya memukul terlampau keras. Apa yang dilihatnya tentang halaman rumahnya benar-benar telah menghentak dadanya sehingga serasa akan pecah.

Sejenak para pengusung tandu itu tertegun. Mereka mendengar Ken Dedes memekik kecil, sehingga mereka tidak segera melangkahkan kaki-kaki mereka memasuki halaman.

Dalam pada itu, dari sisi pendapa rumah di padepokan itu, muncullah beberapa emban. Emban yang telah dikenal oleh Ken Dedes. Emban kawannya bermain sejak kanak-kanak. Betapa hatinya tergetar ketika ia melihat emban-emban itu berdiri tegak dengan wajah yang pucat. Bukan saja pucat karena ketakutan melihat iring-iringan prajurit itu, namun wajah itu memang pucat dan sayu. Tubuh-tubuh mereka tiba-tiba telah menjadi semakin kurus. Sekurus tanaman di halaman padepokan itu.

Sesaat Ken Dedes terpaku diam. Bagaimana mungkin semuanya segera berubah dalam waktu yang tidak terlampau lama. Bagaimana mungkin emban-emban itu menjadi cepat bertambah kurus dan sayu. Wajah-wajah yang dahulu memancar gembira, kini menjadi seolah-olah pelita yang kehabisan minyak. Wajah emban-emban itu demikian suramnya sehingga hampir-hampir Ken Dedes tak percaya, bahwa emban itulah yang dahulu pernah dikenalnya. Ken Dedes kemudian, setelah melihat keadaan padepokannya, benar-benar tidak lagi dapat menguasai dirinya. Ia tidak lagi teringat akan kedudukannya. Ia tidak peduli apakah yang seharusnya dan sebaiknya dilakukan sebagai seorang bakal permaisuri. Dengan serta merta ia berteriak,

“Aku akan turun. Aku akan turun.”

Para pengusungnya terkejut mendengar teriakan itu, mereka menjadi ketakutan dan dengan tergesa-gesa mereka meletakkan tandu. Ken Dedes pun segera meloncat turun dari tandu itu. Sesaat ia memandangi para emban yang berdiri di sisi pendapa. Tampaklah betapa wajah para emban itu menjadi tegang. Hampir tidak percaya mereka melihat, bahwa yang turun dari tandu dalam pakaian yang cerah itu adalah Ken Dedes.

Ken Dedes yang tidak dapat lagi menahan diri segera berlari-lari mendapatkan emban-emban itu. Seorang emban yang sebaya benar dengan Ken Dedes, yang hampir setiap hari bermain bersama, berkumpul dalam setiap saat, mengerjakan pekerjaan mereka bersama, ternyata menjadi sangat terharu. Seperti Ken Dedes ia pun tidak dapat mengendalikan dirinya. Sambil berlari pula ia menyongsong gadis yang pernah dianggapnya hilang itu. Sejenak kemudian keduanya saling berpelukan dan bertangisan. Para emban yang lain pun segera berkumpul, mengelilingi kedua gadis itu.



Witantra, Sidatta, Mahendra dan para prajurit yang lain melihat pertemuan itu dengan hati yang tersentuh-sentuh pula. Tetapi mereka kini berdiri saja mematung, menunggu perintah apa yang harus mereka lakukan. Tetapi rupanya Ken Dedes yang sedang meluapkan rasa rindunya kepada orang-orang yang pernah dikenalnya baik-baik dan seolah-olah tidak akan bertemu lagi itu, tidak lagi mempedulikan para pengiringnya. Dengan air mata yang satu-satu menetes, maka gadis itu kemudian berjalan diiringkan oleh beberapa orang emban memasuki pendapa rumahnya dan hilang di balik pintu di belakang pendapa. Witantra menggigit bibirnya. Ketika berpaling ke arah Sidatta, perwira itu mengangkat bahunya.

“Kita tidak mendapat perintah apapun,“ desis Witantra. Sidatta mengangguk.

Kemudian Witantra harus mengambil sikap sendiri untuk melindungi keamanan bakal permaisuri. Maka katanya kepada Sidatta, “Kau disini bersama para prajurit, aku akan berada di halaman belakang supaya tidak seorang pun yang tidak kita kehendaki memasuki halaman ini dari belakang.”

“Apakah ada regol butulan di halaman belakang?” bertanya Sidatta.

Witantra tersenyum, jawabnya, “Aku belum pernah melihat halaman belakang. Tetapi adalah berbahaya sekali kalau kita tidak sempat mengawasinya. Seandainya tidak ada regol butulan sekalipun agaknya untuk meloncati dinding batu setinggi ini tidak terlampau sulit.”

“Mungkin seseorang atau beberapa orang akan dapat memasuki tempat ini lewat belakang kakang, tetapi apakah mereka akan dapat membawa tuan puteri meloncat dinding ini?”

“Adi Sidatta.” Sahut Witantra, “Seseorang yang menjadi kecewa, bahkan merasa bahwa usahanya telah gagal, akan dapat berbuat hal-hal diluar dugaan. Orang yang demikian akan dapat menjadi berputus asa dan berpendirian, lebih baik dihancurkan sama sekali daripada tidak berhasil memiliki.”

“Hanya orang yang berputus asa yang berbuat demikian.”

“Ternyata Kuda Sempana dan Empu Sada pun telah menjadi putus asa. Apa yang dilakukan sekarang sebenarnya adalah luapan dendam yang tak dapat diendapkan. Aku sangka Kuda Sempana sudah tidak lagi mengharap akan memiliki Ken Dedes seperti impiannya masa-masa lampau. Apa yang dilakukan sekarang adalah, pancaran dari hati yang gelap.”

Sidatta menganggukkan kepalanya. Ia sependapat dengan Witantra. Bukan saja dalam persoalan ini, persoalan seorang gadis, namun dalam persoalan-persoalan yang akan terjadi pula perbuatan serupa. Keinginan yang gagal memang dapat menimbulkan perbuatan yang tidak terduga-duga.

Kisah-kisah kidung dan kakawin-kakawin mengatakan, betapa kadang-kadang orang mengorbankan dirinya, keluarganya dan bahkan negerinya untuk mendapatkan suatu cita-cita. Kalau cita-cita itu menjadi kabur, maka yang tinggal hanyalah bentuk keputusasaan. Demikian pulalah yang terjadi dalam pemerintahan. Seorang gadis akan sama bentuknya dengan sebuah pusaka dan jabatan. Seseorang yang gagal mendapatkan gadis idaman, atau sebuah pusaka keramat atau sebuah keinginan untuk memangku jabatan agung, maka akibatnya dapat mengerikan sekali.

Kegagalan itu akan dikorbankan tanpa kesadaran bahkan kadang-kadang timbullah malapetaka apabila kegagalan itu dibakar oleh pandangan yang mengerikan, yang bertekad untuk hancur bersama, gagal bersama. Karena pendirian yang demikian itu, akan terjadi, membakar perahu yang sedang berlayar di tengah lautan, hanya karena orang itu tidak tahan melihat orang lain menjadi nakhoda, bukan dirinya sendiri.

Betapa indahnya sebuah cita-cita, namun apabila dilandasi oleh hati yang hitam, pikiran yang kelam dan cara-cara yang sesat, maka akan lenyaplah keindahan yang hakiki. Dan manusia akan menjadi korban dari ketamakan mereka sendiri. Manusia akan menggali liang dimana ia sendiri akan terperosok kedalamnya. Hanya mereka yang menyadari dirinya, menyadari kemanusiaannya yang lahir dari sebuah kekuasaan yang Maha Kuasa, akan dapat membuat neraca yang seimbang dari usaha, perjuangan dan cita-cita lahiriahnya dengan kewajiban yang membebaninya akibat dari adanya, atas kuasa dari Yang Maha Kuasa itu, sehingga akan terpenuhilah Kebaktian yang utuh kepada Yang Maha Agung dan pengabdian yang tulus kepada kemanusiaannya sebagai suatu sikap rohaniah dan badaniah.

Tetapi ternyata bahwa Kuda Sempana telah menjadi bureng, menjadi kehilangan keseimbangan, sehingga apa yang akan dilakukan mungkin sekali diluar perhitungan. Karena itu, maka Witantra tidak dapat membiarkan halaman belakang tanpa pengawasan. Bersama saudara seperguruannya, dan dua orang prajurit ia pergi ke halaman belakang dan duduk di bawah sebatang pohon kemuning. Namun alangkah memelasnya. Pohon yang rindang itu, selalu meruntuhkan daun-daunnya yang telah menjadi kekuning-kuningan. Apabila hujan tidak segera turun, maka padukuhan Panawijen pasti akan dilanda kekeringan yang dahsyat.

“Apakah sebabnya?” pikir Witantra. Tetapi ia tidak bertanya kepada siapapun.

Mahendra dan Kebo Ijo pun kemudian duduk beristirahat di bawah rimbunnya dedaunan pula. Di sudut lain tampak kedua prajurit Tumapel duduk pula bersandar dinding halaman. Udara di padepokan itu terasa panas sekali.

“Pohon bunga-bungaan dan petamanan sudah menjadi kering,“ pikir Witantra di dalam hatinya, “lalu apakah kerja para emban yang menunggui padepokan ini, apabila untuk menyiram tanaman-tanaman itu saja tidak dapat dilakukan?”

Tetapi Witantra itu berpikir lain ketika ia melihat kolam-kolam yang kering. Kolam-kolam yang tidak berair.

Di halaman depan, Sidatta segera mengatur para prajuritnya. Beberapa orang segera dapat beristirahat, sedang dua orang bergantian harus tetap berada di regol halaman. Mereka harus mengawasi setiap keadaan yang mungkin dapat berakibat tidak seperti yang diharapkan.

Perempuan dan orang-orang tua, anak-anak dan gadis-gadis yang mengikuti iring-iringan itu pun kemudian berdiri berjejal-jejal diluar regol. Mereka kini yakin benar, bahwa yang berada diatas tandu itu memang Ken Dedes yang pernah dilarikan orang. Tetapi alangkah mengherankan, bahwa gadis itu kini kembali dalam keadaan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Tetapi orang-orang Panawijen itu tidak berani memasuki regol halaman karena di dalam halaman itu dilihatnya para prajurit Tumapel bertebaran dan dua orang penjaga yang berdiri di sisi sebelah-menyebelah regol halaman.

Witantra yang di halaman belakang dan Sidatta kini tinggal duduk menunggu, apa yang seharusnya mereka lakukan. Dalam pada itu, Sidatta memerintahkan kepada para prajurit yang berkewajiban untuk menyiapkan perbekalan mereka.

“Kita akan tinggal disini sampai kapan kakang?” bertanya perwira bawahan Sidatta.

Sidatta menggeleng sambil tersenyum, “Aku tidak tahu. Tetapi menurut pesan Akuwu, tuan puteri harus segera kembali, sesudah bertemu dengan kakaknya, Mahisa Agni. Bahkan tuan puteri diharap untuk kembali bersama-sama dengan kakaknya itu.”

Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ken Dedes yang masuk ke dalam rumahnya tanpa memberikan pesan apapun itu, masih saja belum menampakkan dirinya.

Sementara itu Ken Dedes yang berada di dalam rumah, segera dikerumuni oleh para endang. Betapa banyak pertanyaan yang harus dijawab oleh Ken Dedes dari para endang itu, tetapi betapa pula banyak pertanyaan yang tersimpan di dalam hatinya sendiri. Karena itu, sebelum ia mengatakan tentang dirinya, maka yang pertama-tama ditanyakannya adalah

“Dimana kakang Mahisa Agni?”

Para endang itu saling berpandangan sejenak, seolah-olah mereka menjadi ragu-ragu untuk menjawab, sehingga Ken Dedes mendesaknya, “Dimana kakang Agni?”

Salah seorang endang mencoba untuk mengatakan jawabnya, “ke Padang rumput Karautan.”

“Ke Padang Karautan? Apa kerjanya di sana?”

“Membuat bendungan,“ sahut endang yang lain.

Dahi Ken Dedes tampak berkerut-kerut. Tiba-tiba ia pun teringat akan semua penglihatannya di sepanjang jalan. Kering kerontang. Sehingga dengan serta merta ia bertanya,

“Endang, kenapa sawah-sawah di Panawijen menjadi kering. Halaman padepokan ini pun menjadi kering dan bahkan Panawijen tampak begini gersang?”

Kembali para endang menjadi ragu-ragu. Namun Ken Dedes mendesaknya lagi, sehingga seorang endang terpaksa menjawab, “Bendungan kita itu pecah.”

“Pecah,“ Ken Dedes terkejut bukan buatan.

Umur bendungan itu sudah melampaui umurnya. Musim hujan dan banjir telah berpuluh kali dilalui hanya dengan kerusakan-kerusakan kecil yang segera dapat diperbaiki. Tetapi kenapa tiba-tiba bendungan itu pecah.

Endang yang mengatakannya bendungan itu berkata pula, “Empu Purwa lah yang memecahkan bendungan itu.”

“Ayah. Jadi ayah yang memecah bendungan itu?”

Endang itu mengangguk. Tetapi wajahnya menjadi tegang. Ia menyesal bahwa ia telah mengatakannya. Tetapi kata-kata itu telah terlanjur meloncat dari mulutnya. Keringat Ken Dedes segera mengalir membasahi pakaiannya yang cemerlang. Ia tidak dapat mengerti kenapa ayahnya memecah bendungan itu. Sehingga karena itu maka ia bertanya pula,

“Kenapa ayah memecahkan bendungan itu?”

Endang itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin kakang Mahisa Agni dapat menjawab pertanyaan itu.”

Hati Ken Dedes menjadi kian berdebar-debar. Sekali lagi ia bertanya, “Dimana kakang Agni.”

“Ke Padang Karautan. Setiap laki-laki dan anak-anak muda pergi ke Padang Karautan untuk membangun bendungan itu.”

“Beberapa hari yang lampau kakang Agni telah datang ke Tumapel,“ sahut Ken Dedes.

“Ya, pada saat itu semua orang telah berangkat ke Padang Karautan. Tinggal kakang Agni dan beberapa orang yang masih menyelesaikan beberapa pekerjaan disini. membuat tampar ijuk dan patok-patok. Begitu kakang Agni datang dari Tumapel, segera mereka berangkat menyusul yang telah berangkat lebih dahulu bersama Ki Buyut Panawijen.”

Terasa sesuatu bergolak di dalam Dada Ken Dedes. banyak benar yang telah terjadi sepeninggalnya di kampung halamannya ini. Namun keterangan emban itu bagi Ken Dedes merupakan jawaban pula atas pertanyaan yang selalu mengganggunya sejak ia memasuki padukuhan Panawijen. Sejak ia memasuki padukuhan ini, ia tidak melihat seorang pun laki-laki dan anak-anak muda Panawijen. Itulah agaknya, maka setiap laki-laki kecuali orang-orang tua tidak ada di rumah. Ternyata mereka sedang berada dipadang rumput Karautan untuk membuat bendungan yang baru.

Tetapi keinginan Ken Dedes untuk segera bertemu dengan Mahisa Agni rasa-rasanya tak dapat ditunda-tunda. Apalagi ia memang mendapat pesan dari Akuwu Tunggul Ametung, supaya segera kembali bersama-sama dengan Mahisa Agni sebagai tebusan atas hukuman yang telah dijatuhkannya kepada Mahisa Agni dan emban pemomongnya. Tetapi Mahisa Agni kini tidak ada di rumah.

Tiba-tiba Ken Dedes menyadari keadaannya. Ia datang sebagai seorang calon permaisuri yang disertai oleh serombongan prajurit. Karena itu, maka katanya, “Biarlah aku minta seseorang memanggil kakang Mahisa Agni.”

Para endang itu pun saling berpandangan. Alangkah besarnya kekuasaan Ken Dedes kini. Ia dapat memerintahkan seseorang untuk kepentingannya. Dan para endang itu pun kemudian melihat bahwa hal itu benar terjadi. Ketika Ken Dedes keluar dari rumahnya dan berdiri di pendapa sambil melambaikan tangannya, maka segera menghadaplah Sidatta. Sambil mengangguk dalam-dalam Sidatta bertanya,

“Apakah ada perintah tuan puteri.”

“O,“ dada setiap endang yang berdiri di belakangnya melonjak.

Serasa mereka berada di dalam mimpi. Ken Dedes datang dengan pakaian yang cemerlang. Memanggil seorang perwira yang gagah hanya dengan lambaian tangannya. Kini perwira itu membungkuk hormat dihadapannya sambil menyebutnya tuan puteri.

“Dimanakah kakang Witantra?“ bertanya Ken Dedes.

“Di halaman belakang tuan Puteri,“ jawab Sidatta.

“Panggillah,“ perintah Ken Dedes.

Sekali lagi Sidatta menganggukkan kepalanya. Kemudian ia meninggalkan Ken Dedes yang masih berdiri saja di pendapa.

Seorang endang yang tidak dapat menahan diri tiba-tiba berbisik, “Siapakah orang itu?”

Ken Dedes berpaling. Betapapun hatinya sedang risau, namun ketika terpandang mata endang yang aneh itu, ia tersenyum. Jawabnya, “Namanya Sidatta. Ia adalah seorang perwira dari prajurit pengawal Akuwu.”

“He,“ endang itu terkejut. Pandang matanya menjadi semakin aneh. Kawan-kawannya pun terkejut pula. Hampir tidak percaya endang itu bertanya pula, “Kenapa ia begitu hormat kepadamu?”

Senyum Ken Dedes menjadi semakin lebar. Namun kemudian ia bertanya, “Apakah yang dikatakan oleh emban pemomongku beberapa hari yang lalu atau oleh kakang Mahisa Agni?”

Endang itu menggelengkan kepalanya, jawabnya, “Tak ada yang dikatakan selain berita keselamatan.”

“Tidak dikatakan dimana aku berada?”

Endang itu berpikir sejenak, jawabnya, “Di Tumapel.”

“Maksudku, di Tumapel aku tinggal di rumah siapa?”

Para endang itu pun saling berpandangan. Tetapi mereka benar-benar tidak banyak mengerti tentang keadaan Ken Dedes, sehingga kemudian mereka itu pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiba-tiba seorang endang yang lain, yang agak lebih muda dari Ken Dedes berkata,

“Kau belum menjawab pertanyaan-pertanyaan kami tentang dirimu. Kamilah yang selalu menjawab pemanyaanmu.”

Sekali lagi Ken Dedes tersenyum, tetapi ia tidak sempat menjawabnya, karena Witantra dan Sidatta kini telah naik ke pendapa.

“Kakang Witantra,“ berkata Ken Dedes kemudian, “ternyata kakang Mahisa Agni tidak berada di rumah.”

Witantra mengangguk, katanya, “Menurut pertimbangan tuan puteri apakah yang sebaiknya kami lakukan?”

Sejenak Ken Dedes berdiam diri. Ketika ia memandang ke halaman dilihatnya beberapa orang prajurit sedang beristirahat sambil mencari tempat untuk berteduh. Karena itu, tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Apakah mereka tidak terlampau lelah, apabila beberapa diantaranya harus langsung menuju ke Padang Karautan?.

Dalam keragu-raguan itu terdengar Witantra bertanya, “Barangkali seseorang tahu kemana ia pergi?”

Ken Dedes mengangguk sambil menjawab, “Ya. Menurut para endang, kakang Mahisa Agni pergi ke Padang rumput Karautan untuk membuat bendungan.”

Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Apakah menurut pertimbangan tuan putri, salah seorang dari kami perlu memanggilnya?”

Ken Dedes masih ragu-ragu. Ia melihat betapa tubuh para prajurit itu telah dilumuri oleh keringat mereka yang seperti diperas dari dalam tubuh mereka.

Tetapi Witantra berkata, “Apabila demikian, maka biarlah salah seorang dari kami pergi menyusulnya. Mahendra lah satu-satunya orang yang pernah melihat tempat dimana bendungan itu akan dibangun.”

“Bagaimana menurut pendapatmu kakang Witantra?”

“Apabila berkenan di hati tuan puteri.”

“Apakah Mahendra tidak terlampau lelah?”

“Ia akan pergi berkuda.”

“Sendiri?”

“Ia sudah mengenal padang Karautan. Ia sudah mengenal hantu padang. Meskipun demikian biarlah adi Sidatta pergi bersamanya.”

“Hamba akan melakukannya,“ berkata Sidatta.

“Apabila kalian tidak terlampau lelah, terserahlah kepada Kakang Witantra. Tetapi, pesanku kakang, jangan menimbulkan kesan yang dapat membuat keadaanku lebih sulit. Kakang Agni hatinya terlampau keras.”

Sidatta mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling memandangi wajah Witantra dilihatnya orang itu menganggukkan kepalanya sambil menjawab, “Ia tuan puteri. Hamba telah mengenal serba sedikit tentang kakak tuan. Memang kakak tuan puteri berhati keras, namun jujur. Karena itu, biarlah nanti adi Sidatta dan Mahendra dapat menyesuaikan dirinya menghadapi kakak tuan puteri.”

Hati Sidatta menjadi bertanya-tanya. Bukankah kakak Ken Dedes itu juga seorang anak muda Panawijen. Seorang anak padesan? Tetapi pertanyaan itu dibiarkannya melingkar-lingkar di dalam dadanya.

Sementara itu Ken Dedes berkata pula, “Apabila terdapat kesulitan, jangan mencoba memaksa. Aku ingin kakang Mahisa Agni datang kemari. Tetapi kalau terpaksa, aku akan menjemputnya sendiri ke Padang Karautan.”

Witantra menganggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baik tuan puteri. Biarlah Mahendra dan adi Sidatta berangkat sekarang.”

“Terserah kepadamu kakang.”

Keduanya kemudian mengundurkan diri dari pendapa. Namun tampak betapa wajah Sidatta memancarkan beberapa macam pertanyaan. Meskipun pertanyaan itu tetap disimpannya, tetapi Witantra dapat merasakannya, sehingga katanya,

“Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang berhati keras. Telah beberapa kali ia berkelahi melawan Mahendra, tetapi Mahendra selalu dikalahkan.”

“Adi Mahendra dikalahkannya?” bertanya Sidatta yang menjadi keheran-heranan.

“Ya,“ sahut Witantra, “anak itu melampaui Mahendra dalam banyak hal.”

Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Apakah nanti kalau anak muda itu bertemu dengan adi Mahendra tidak akan terjadi sesuatu?”

Witantra menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Mahendra telah minta maaf kepadanya.”

“Minta maaf?” Sidatta menjadi bingung.

“Ya. Mahendra selalu di pihak yang bersalah.”

Sidatta tidak berkata apa-apa lagi. Ia tahu benar sifat pemimpinnya itu. Ia tidak pernah berkata lain dari pada menurut tanggapannya yang sewajarnya. Meskipun orang itu saudara seperguruannya, kalau ia berbuat salah, maka Witantra akan berkata demikian.

Witantra pun kemudian segera memanggil Mahendra dari halaman belakang, sementara perwira yang seorang lagi ditugaskannya mengawasi halaman belakang itu. Dalam pada itu Ken Dedes telah kembali masuk ke dalam rumahnya. Orang-orang yang masih berkerumun diluar regol menjadi kecewa ketika mereka melihat Ken Dedes tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk menemuinya. Tetapi mereka tidak segera pergi.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar