Sejenak kemudian Mahendra dan Kebo Ijo pun telah datang menemui Witantra. Dengan berbagai macam pesan, maka Witantra minta kepada Mahendra untuk memanggil Mahisa Agni ke Padang Karautan bersama dengan Sidatta. Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar, bahwa Mahisa Agni seolah-olah tidak mau lagi mempersoalkan hubungan antara adiknya dan Akuwu Tunggul Ametung. Mahendra mengerti betapa perasaan Mahisa Agni tersinggung. Ia merasa dikesampingkan oleh adiknya sebelum ia mengambil keputusan. Ia tidak mau menerima keadaan adiknya itu, sebagai sesuatu yang telah terlanjur.
Tetapi ia tidak mau menolak perintah kakaknya. Sehingga karena itu maka jawabnya, “Baik kakang, Aku akan mencoba bersama kakang Sidatta.”
Setelah keduanya berkemas, sedikit mengisi perut mereka dengan bekal yang mereka bawa, maka segera mereka meninggalkan halaman padepokan menuju ke Padang Karautan. Demikian mereka meninggalkan padesan, maka segera terasa, sinar matahari menyengat tubuh mereka.
“Bukan main panasnya,“ desis Mahendra.
Sidatta tersenyum. Jawabnya, “Sebuah perjalanan yang hangat.”
Mahendra mengangguk. Kemudian katanya pula, “Kita akan menyusur tidak jauh sepanjang sungai yang mengalir lewat padang itu. Pada sungai itulah bendungan akan dibangun. Tetapi bukan itu soalnya. Kalau kita kehausan, kita akan segera mendapatkan air.”
Sekali lagi Sidatta tersenyum. Kemudian mereka memacu kuda mereka meninggalkan kepulan debu yang putih. Mereka meluncur di jalan-jalan diantara sawah-sawah yang mengering menuju ke padang rumput Karautan yang panasnya bukan main. Tetapi perjalanan dengan kuda adalah jauh lebih cepat dari pada berjalan dengan kaki. Meskipun sekali-sekali mereka beristirahat di tebing-tebing sungai untuk mengambil air, dan memberi kuda mereka minum, namun waktu yang mereka perlukan tidak terlampau panjang. Sebelum matahari terbenam, mereka telah sampai ke tempat yang pernah dikenal oleh Mahendra.
“Kita hampir sampai,“ desis Mahendra sambil mengusap peluhnya.
Sidatta mengangguk. Wajahnya menjadi merah kehitaman dibakar oleh terik matahari. “Kuda kita terlampau lelah,“ berkata Sidatta.
“Kita berjalan perlahan-lahan,“ sahut Mahendra, “mudah-mudahan di tempat mereka bekerja terdapat sisa makanan hari ini. Perutku terlampau lapar.”
Sidatta tertawa. Tetapi tertawanya masam sekali, sebab sebenarnya perutnya pun telah menjadi lapar. Tetapi saat itu udara telah menjadi sejuk. Matahari telah terlampau rendah, bahkan sejenak kemudian warna merah di langit selapis demi selapis menjadi semakin hitam.
Mahendra dan Sidatta berjalan terus. Kuda-kuda mereka kini tidak lagi berpacu terlampau cepat. Sebentar lagi mereka sudah akan sampai di tempat yang mereka tuju. Dalam pada itu, langit pun semakin lama menjadi semakin pekat. Satu-satu bintang seakan muncul dari balik tirai yang hitam. Sidatta sekali-sekali melayangkan pandangan matanya jauh ke garis cakrawala. Padang rumput ini seolah-olah tidak bertepi.
“Adi Mahendra,“ berkata Sidatta kemudian, “apakah orang Panawijen akan membangun di tengah padang yang seluas ini?”
“Ya,“ sahut Mahendra sambil mengangguk.
“Mereka harus membuat saluran-saluran baru.”
“Tetapi kalau mereka berhasil,“ sahut Mahendra, “maka mereka akan dengan leluasa membuat suatu perencanaan menurut selera mereka. Mereka dapat mengatur sekehendak hati, sawah-sawah, ladang dan saluran-saluran air.”
“Kenapa mereka tidak memilih tempat lain. Menebas hutan misalnya? Mereka akan langsung mendapat suatu daerah yang tidak seterik padang ini.”
Mahendra menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin mereka merasa bahwa dengan membuka padang rumput ini, pekerjaan mereka jauh lebih ringan daripada menebas hutan. Kalau mereka berhasil membuat susukan yang besar dan mengalirkan airnya ke tengah-tengah padang rumput ini, maka padang ini pasti akan menjadi daerah yang subur.”
“Tebing ini terlampau dalam,“ desis Sidatta, “untuk menaikkan air dari dalam sungai itu, pasti diperlukan pekerjaan yang maha berat.”
Mahendra tersenyum. Kemudian katanya, “Kau dengar suara gemuruh.”
Sidatta memasang telinganya baik-baik, “Ya lamat-lamat dibawa angin.”
“Suara yang hilang timbul itu adalah suara jeram-jeram.”
“Oh,“ sahut Sidatta, “kalau demikian, maka orang-orang Panawijen pasti membuat bendungan diatas jeram-jeram itu.” Mahendra mengangguk. “Kalau begitu kita sudah dekat,“ berkata Sidatta, “mari kita percepat perjalanan ini.”
Tanpa menjawab ajakan itu, Mahendra menggerakkan kendali kudanya sehingga kudanya berjalan lebih cepat lagi. Suara jeram itu ternyata telah menjadi semakin jelas, dan membawa mereka ke arah yang dikehendaki. Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka disela-sela semak-semak yang tumbuh sepanjang tepi sungai, mereka telah melihat beberapa perapian yang menyala. Itu adalah perkemahan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja membuat sebuah bendungan.
Mahendra dan Sidatta semakin mempercepat kudanya. Langit kini telah menjadi hitam. Namun bintang-bintang berdesakan memenuhi wajah yang kelam itu. Ternyata suara derap kudanya telah mendahului mereka. Beberapa orang yang mendengar derap kuda itu terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka ingin menyampaikannya kepada Mahisa Agni yang ada diantara mereka. Tetapi Mahisa Agni sendiri telah mendengar derap itu pula.
“Aku mendengar derap kuda paman,“ desisnya.
Pamannya Empu Gandring yang duduk memeluk lututnya mengangkat wajahnya. Kemudian sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya. Aku mendengar.”
Mahisa Agni kemudian berdiri. Katanya, “Aku akan melihatnya.”
“Hati-hatilah,“ pesan pamannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian melangkah diantara kawan-kawannya yang sedang beristirahat setelah hampir sehari penuh mereka melakukan pekerjaan mereka, membangun sebuah bendungan. Dengan kemauan yang bulat mereka bekerja dengan sepenuh tenaga. Tak ada tempat bagi mereka yang hanya mampu berbicara dan berteriak-teriak tentang bendungan yang rusak. Tentang kesulitan dan tentang kelaparan yang mungkin akan melanda mereka. Yang penting bagi penduduk Panawijen kini adalah bekerja. Bekerja. Bendungan itu harus segera jadi, sebelum persediaan di dalam lumbung-lumbung mereka terkuras habis.
Anak-anak muda Panawijen menyadari, bahwa kini bukan masanya lagi untuk berbaring-baring di pasir tepian sungai sambil berdendang dan bergurau. Bukan masanya lagi untuk bersenang-senang dan mengadakan jamuan makan diantara mereka. Yang harus mereka lakukan kini adalah bekerja dan berprihatin.
Mahisa Agni kini telah berdiri diluar batas perkemahan orang-orang Panawijen. Beberapa langkah ia maju lagi untuk menyongsong dua bayangan orang-orang berkuda yang sudah semakin dekat. Tetapi melihat derap dan langkah kuda itu, Mahisa Agni menduga bahwa mereka bukanlah orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap mereka yang sedang membuat bendungan itu. Meskipun demikian beberapa orang kawan-kawannya telah menjadi cemas dan berdebar-debar, meskipun kecemasan itu disimpannya saja di dalam hati.
Salah seorang dari mereka yang duduk di samping Sinung Sari berbisik, “Sinung Sari. Siapakah yang datang itu?”
Sinung Sari menggelengkan kepalanya sambil berbisik pula, “Aku tidak tahu.”
“Bukankah kau dahulu pernah datang bersama dengan Mahisa Agni kemari? Dan bukankah kau berhasil mengalahkan hantu Karautan atau siapa yang kau katakan dahulu? Kuda Sempana barangkali? Mungkin orang itu datang kembali. Apakah kau tidak akan melawannya.”
Dada Sinung Sari berdesir. Memang ia pernah menyombongkan dirinya terhadap kawan-kawannya. Kalau benar yang datang itu Kuda Sempana atau siapa pun yang akan mengganggu mereka, apakah yang akan dilakukan? Ternyata Jinan dan Patalan yang mendengar pertanyaan itu menjadi berdebar-debar pula. Tetapi mereka menjadi lega ketika mereka mendengar suara Mahisa Agni menyambut orang yang datang itu,
“Kau Mahendra.”
Tetapi segera Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang prajurit datang bersama Mahendra itu. Sebelum Mahendra menjawab, maka keduanya telah berloncatan turun dari kuda mereka. Dengan akrabnya Mahendra kemudian bertanya,
“Bagaimana bendunganmu Agni?”
Mahisa Agni tersenyum kosong. Bendungan itu belum lagi dimulai. Yang mereka kerjakan selama ini barulah persiapan-persiapan untuk bendungan itu. Menancapkan patok-patok, mengisi berunjung-berunjung dengan batu-batu dan membuat barak-barak untuk berteduh di siang hari apabila mereka sedang beristirahat.
Maka jawab Agni kemudian, “Bendunganku sudah hampir siap. Siap untuk dimulai.”
Mahendra tertawa. Katanya kemudian, “Kau mungkin belum mengenal kawan seperjalananku. Namanya Sidatta, adalah salah seorang perwira dari pasukan kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengangguk hormat dan Sidatta pun pula. “Marilah tuan,“ Mahisa Agni mempersilahkan, “tetapi alangkah jeleknya tempat yang dapat kami pakai untuk menerima tuan.”
“Terima kasih,“ sahut Sidatta, “Kami dapat mengerti, bahwa tuan berada di tempat pekerjaan yang sedang tuan lakukan dengan tekad yang luar biasa. Membuat sebuah bendungan, membuat susukan dan menggali parit-parit adalah pekerjaan raksasa bagi padukuhan tuan.”
“Mudah-mudahan kami berhasil,“ gumam Mahisa Agni.
Maka mereka pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni duduk diantara anak-anak muda Panawijen. Tetapi atas permintaan Mahendra maka mereka mengambil tempat agak terpisah.
“Ada yang akan aku katakan,“ bisik Mahendra.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga apa yang akan dikatakan oleh Mahendra. Apalagi ia datang beserta seorang perwira dari Tumapel. Mahendra yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni segera berkata,
“Tetapi soalnya sama sekali tidak penting.”
Mahisa Agni menggigit bibinya. Ia tahu bahwa Mahendra hanya ingin menenangkannya sebelum mereka membicarakan persoalan yang sebenarnya. Tetapi bagi Mahisa Agni, persoalan yang menyangkut dirinya sendiri dengan istana Tunggul Ametung adalah menjemukan sekali. berkali-kali persoalan itu selalu membayanginya. Mengganggu ketenangannya dan pasti akan dapat mengganggu rencana kerja yang telah masak dan kini telah dimulai dilakukan bersama-sama dengan seluruh rakyat Panawijen.
Tidak ada bedanya dengan Kuda Sempana dan Empu Sada. Orang-orang itu pasti akan mengganggu pekerjaannya pula dengan caranya. Mungkin dengan orang-orang yang disebutnya bernama Wong Sarimpat dan mungkin dengan orang-orang lain lagi. Meskipun bentuknya berbeda, tetapi akibatnya akan sama saja. Memperlambat pekerjaan itu. Bahkan mungkin dengan kekuasaan yang ada pada Akuwu Tunggul Ametung, gangguan yang datang dari padanya akan justru lebih besar. Tetapi Mahisa Agni mencoba menahan perasaannya. Ia tidak segera menyahut. Ia menunggu apalagi yang akan di katakan oleh Mahendra.
Mahendra itu pun kemudian bergeser maju. Ditatapnya wajah Mahisa Agni. Sekali ia memandang berkeliling. Dan sambil berbisik ia berkata, “Agni. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak ingin mengganggumu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sambil mengangguk ia berkata, “Katakanlah Mahendra.”
“Baik,“ sahut Mahendra. Kemudian sekali lagi ia bergeser maju. Katanya, “Agni. Pagi-pagi benar aku sudah berjalan dari perkemahan di tengah-tengah hutan. Hampir tengah hari aku sampai ke padepokanmu di Panawijen. Baru sekejab aku beristirahat, aku harus berjalan kembali kemari. Aku ingin berterus terang Agni.“ Mahendra berhenti sesaat, dan dada Mahisa. Agni pun menjadi kian berdebar-debar. bahkan Sidatta pun menjadi berdebar-debar pula. Dalam pada itu Mahendra meneruskan, “Aku ingin berterus terang kepadamu, tetapi tidak kepada orang lain. Agni, aku agak terlampau lapar.”
“He?” mata Mahisa Agni terbelalak. Getar di dadanya bertambah cepat, namun kemudian anak muda itu tertawa. “Hem,“ gumamnya, “segenap otot-ototku menjadi tegang.”
Sidatta pun kemudian menggamit Mahendra sambil bertata, “Ah, terlampau berterus terang adi. Seorang ksatria tidak akan kelaparan meskipun tidak makan empat puluh hari empat puluh malam.”
Mahendra tertawa pula, “Aku tidak malu kepada mahisa Agni. Tetapi mungkin aku malu kepada orang lain.”
“Kalau hanya itu keperluanmu, maka aku akan memenuhinya dengan senang hati,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa. Kemudian ia pun bangkit dan berjalan ke barak, mengambil bekal yang diminta oleh Mahendra. Nasi jagung dan sambal kacang.
“Apakah anak muda itu mau juga makan makanan seperti ini,“ gumamnya, “tetapi apa boleh buat. Aku tidak mempunyai yang lain.”
Dengan menjinjing sebuah bungkusan kecil Mahisa Agni berjalan kembali ke tempat Mahendra dan Sidatta menunggu. Semula ia tidak menaruh perhatian apa-apa atas ceritera Mahendra tentang perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Mahendra itu pagi-pagi benar sudah harus berangkat dari sebuah perkemahan di tengah hutan. Kenapa dari sebuah perkemahan. Kalau ia hanya pergi berdua, kenapa mereka terpaksa berkemah di tengah hutan. Kenapa mereka tidak menempuh jalan lain, sepanjang padang rumput atau langsung menemuinya seperti yang pernah dilakukan oleh Mahendra dahulu dipadang ini. Tetapi anak muda itu telah pergi kepadepokannya, padepokan Empu Purwa.
Kini dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar kembali. Bukan karena kebetulan Mahendra menyebut semuanya itu. Pasti tersembunyi sesuatu maksud di belakangnya. Karena itu langkah Mahisa Agni menjadi semakin panjang. Ia ingin segera mengetahui, apa yang sudah dilakukan oleh Mahendra berdua dengan Sidatta.
Ketika Mahisa Agni sudah duduk di samping Mahendra kembali, maka segera ia bertanya, “Mahendra, dari manakah kau sebenarnya? Apakah kau baru saja menempuh perjalanan yang panjang sehingga kau terpaksa bermalam di perjalanan?”
Tetapi Mahendra telah mengecewakan Mahisa Agni, sebab ia menyahut, “Bungkusan apakah yang kau bawa ini?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia segera ingin tahu, dari mana dan untuk apa Mahendra datang kepadepokannya dan kemudian setelah beristirahat hanya sesaat yang pendek ia harus dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu dan datang ke padang ini, sehingga anak muda itu menjadi sangat lapar.
Meskipun sebenarnya Mahendra lapar, tetapi ia tidak perlu dengan tergesa-gesa dan berterus terang mengatakannya kepada Mahisa Agni. Maksud Mahendra adalah untuk mengurangi ketegangan yang tampak di wajah Mahisa Agni. Tetap dalam pada itu, setelah wajah Agni membayangkan senyum tiba-tiba kini wajah itu menjadi tegang kembali. Mahendra menjadi ragu-ragu. Apakah caranya itu dapat berhasil untuk berbicara dengan Mahisa Agni tanpa sikap yang tegang kaku.
Mahisa Agni yang sudah menjadi tegang kembali itu, menyerahkan bungkusannya sambil menjawab, “Nasi jagung. Apakah kau dan tuan Sidatta biasa makan nasi jagung?”
“Oh tentu,“ sahut Mahendra, “di Tumapel kami juga makan nasi jagung. Bukankah begitu kakang Sidatta?”
Sidatta mengangguk sambil tersenyum, “Ya. Aku juga biasa makan nasi jagung.”
“Apalagi sambal kacang,“ sela Mahendra setelah melihat isi bungkusan itu, “Apakah kau sendiri tidak makan Agni?”
“Baru saja,“ sahut Agni dengan dada yang berdebar-debar. Ia seakan-akan menjadi tidak bersabar menunggu Mahendra menyelesaikan makan. Seolah-olah terasa Mahendra sengaja makan terlalu lambat seperti juga Sidatta. Bahkan kemudian Mahendra itu berkata,
“Maaf Agni. Aku perlu air. Aku terlampau haus.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdiri juga untuk mengambil bumbung berisi air. Dalam pada itu ketika Mahisa Agni sedang meninggalkan Mahendra berdua dengan Sidatta, terdengar Mahendra berbisik,
“Kau lihat kakang. Baru melihat wajah-wajah kita, Mahisa Agni telah menjadi tegang. Aku tahu, ia sudah jemu membicarakan masalah adiknya yang satu itu. berkali-kali ia selalu diganggu oleh persoalan itu.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desahnya, “Melihat sikapnya maka anak muda itu benar-benar keras hati.”
“Sebenarnya tidak. Ia anak muda yang baik. Ia tidak mendendam seseorang. Aku pernah berkelahi melawannya karena kesalahanku. Tetapi aku selalu saja dikalahkan. Meskipun ia menang atasku, namun ia tidak berbuat apa-apa atasku ketika aku minta maaf. Ia tidak menghina aku dan tidak ingin membalas dendam. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap terlampau keras terhadap adiknya. Mungkin karena ia menjadi banyak kehilangan karena hilangnya adiknya itu. Ayah angkatnya yang juga menjadi gurunya, bendungan, sahabatnya yang juga bakal iparnya yang bernama Wiraprana yang dibunuh oleh Kuda Sempana, dan ia sendiri hampir terbunuh untuk mempertahankan adiknya. Tiba-tiba ia mendengar adiknya menerima lamaran Tunggul Ametung yang turut melarikan gadis itu.”
“Perasaannya tersinggung karenanya,“ desis Sidatta.
“Tersinggung agak terlampau parah,“ sambung Mahendra. Tetapi percakapan itu terhenti ketika Mahisa Agni datang sambil membawa bumbung air.
Mahisa Agni menjadi semakin kecewa ketika ia melihat nasi jagung Mahendra masih hampir utuh. Karena itu maka katanya, “Nasi itu sama sekali tidak memenuhi seleramu Mahendra?”
“O, tidak,“ sahut Mahendra, “aku senang sekali makan nasi jagung dan sambal kacang.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mencoba menyabarkan diri menunggu sampai mereka selesai makan. Tetapi hatinya yang selalu bergolak itu tidak dapat ditahannya. Maka terloncatlah pertanyaannya,
“Dari manakah kalian berdua Mahendra?”
Mahendra berhenti menyuapi mulutnya. Tetapi ia masih ragu-ragu untuk menjawab. Namun diluar kehendaknya Sidatta lah yang menjawab, “Kami baru saja menempuh sebuah perjalanan.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Sidatta meneruskan, tetapi orang itu berdiam diri sambil meneguk seteguk air dari bumbung. Karena Sidatta tidak meneruskan kata-katanya maka kembali Agni bertanya,
“Perjalanan jauh? Tetapi apakah kalian telah singgah ke padepokanku di Panawijen?”
“Ya,” sahut Mahendra. Ia tidak dapat menyembunyikan persoalan yang sebenarnya. Tetapi ia ingin mengatakannya dengan cara yang lain, “Kami berjalan-jalan bersama kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin bercuriga. Katanya, “Apakah Witantra sekarang berada di padepokanku di Panawijen?”
“Ya,“ sahut Mahendra acuh tak acuh sambil menyuapi mulutnya, “perjalanan yang sama sekali tidak menarik. Kami harus berjalan kaki dari Tumapel, lewat tengah hutan, untuk menghindari terik matahari.”
“Kenapa?”
Seolah-olah tidak ada soal yang penting sama sekali, Mahendra menjawab, “Kami mengantarkan adikmu.”
“Ken Dedes?“ desis Mahisa Agni.
“Ya. Ia sedemikian rindunya kepadamu sehingga ia memaksa untuk menemuimu. Tetapi setelah kami sampai di padukuhanmu, kau tidak ada. Dengan serta merta aku harus berjalan lagi ke padang rumput Karautan.”
“Bohong,” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Agni semakin tegang. Sidatta mengerutkan keningnya. Benar juga pesan Witantra dan Ken Dedes. Mahisa Agni bersikap agak terlampau keras.
Tetapi Mahendra sama sekali tidak terkejut. Ia masih tetap menyuapi mulutnya. Bahkan kemudian sambil tertawa ia berkata, “Ah, nasibmu benar-benar luar biasa. Enak dan cepat menjadi kenyang.”
“Aku tidak percaya Mahendra,“ berkata Agni tanpa menghiraukan kata Mahendra, “kalian datang untuk menangkap aku dan membawa aku menghadap Akuwu Tumapel karena aku pernah meninggalkan Tumapel sebelum aku menghadap.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya masih tetap tenang, dan mulutnya masih tetap mengunyah makanannya. Meskipun demikian, degup jantung Mahendra tidaklah setenang wajahnya. Bahkan ia kemudian menjadi cemas, bahwa caranya itu pun tidak akan menyenangkan Mahisa Agni.
Sidatta yang duduk di samping Mahendra sudah tidak lagi dapat menelan makanannya dengan lancar. Ia tidak pula bersabar mendengarkan cara Mahendra mengatakan maksudnya.
Dalam pada itu terdengar Mahendra menjawab, “Ah. Kenapa kami harus menangkapmu? Bukankah tidak ada alasan? Jangan berprasangka Mahisa Agni.”
Mahisa Agni terdiam. Ia melihat Mahendra itu masih saja sibuk dengan nasi jagung dan sambal kacang, seolah-olah memang tidak ada sesuatu yang penting. Tetapi kenapa ia begitu tergesa-gesa mencarinya. Apakah benar hanya karena Ken Dedes segera ingin menemuinya?. Tetapi menilik cara Mahendra makan dan ketenangannya menyampaikan ceritera perjalanannya, terasa bahwa Mahendra memang tidak sedang mengemban tugas yang terlampau penting.
Sidatta sekali menggeser duduknya dengan gelisah. Tetapi ia memahami cara Mahendra menyampaikan maksudnya, sehingga karena itu, ia mencoba untuk menahan perasaannya.
Tiba-tiba terdengar Mahendra berkata, “Adikmu ada di Panawijen sekarang Mahisa Agni.”
“Biar sajalah,“ jawab Mahisa Agni kosong.
Mendengar jawaban itu dahi Mahendra berkerut dan terasa dada Sidatta berdesir. “Ia sangat rindu kepadamu,“ Mahendra meneruskan.
“Anak itu telah menjadi seorang besar di Tumapel. Apalagi yang diharapkan daripadaku?”
“Bukankah ia adikmu?”
“Pada masa kita masih kanak-kanak ia adikku. Tetapi sekarang kami menempuh jalan hidup kami masing-masing. Ia tidak memerlukan aku lagi, dan aku tidak memerlukannya.”
Mahendra tersenyum. Senyum yang aneh. Namun ia hampir kehabisan akal untuk mencari jalan supaya ia dapat mengajak Mahisa Agni pergi ke Panawijen. Kalau ia tidak dapat membawa Mahisa Agni ke Panawijen, maka kemungkinan terbesar adalah Ken Dedes sendiri akan datang ke Padang Karautan untuk mengambil Mahisa Agni dan membawanya ke Tumapel. Dalam keadaan yang demikian segalanya akan dapat terjadi. Ken Dedes membawa serombongan prajurit yang sedang mengemban tugas dan disini banyak anak-anak muda yang pasti akan berpihak kepada Mahisa Agni. Tetapi Mahendra tidak mengetahui bahwa anak-anak muda yang berada di padang ini sebagian terbesar adalah anak-anak muda seperti Sinung Sari, Jinan dan Patalan.
Meskipun demikian Mahendra masih mencoba berkata, “Aku tadi belum mendapat hidangan apa-apa di padukuhanmu Agni. Seharusnya aku besok pagi-pagi harus sudah sampai di sana pula. Tetapi aku kira aku tidak akan kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Bukan saja Mahisa Agni, tetapi juga Sidatta. Tetapi agaknya Mahendra memang sedang memutar otaknya untuk memancing Mahisa Agni ke Panawijen.
“Kenapa?“ bertanya Mahisa Agni.
“Kau tahu perasaanku Agni,“ berkata Mahendra tiba-tiba dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “Aku sudah menerima keadaan yang aku hadapi sebagai suatu kenyataan yang tak dapat aku ingkari. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan dapat melihat gadis itu bersedih dan menangis terus menerus.”
“Kenapa?”
“Gadis itu merasa bahwa hidupnya kini benar-benar tinggal sebatang kara. Seolah-olah semua orang yang dikenalnya pada masa kanak-kanaknya, semua orang yang pernah dikasihinya sejak ia masih kanak-kanak telah meninggalkannya. Ayahnya dan kau.”
Tetapi ia tidak mau menolak perintah kakaknya. Sehingga karena itu maka jawabnya, “Baik kakang, Aku akan mencoba bersama kakang Sidatta.”
Setelah keduanya berkemas, sedikit mengisi perut mereka dengan bekal yang mereka bawa, maka segera mereka meninggalkan halaman padepokan menuju ke Padang Karautan. Demikian mereka meninggalkan padesan, maka segera terasa, sinar matahari menyengat tubuh mereka.
“Bukan main panasnya,“ desis Mahendra.
Sidatta tersenyum. Jawabnya, “Sebuah perjalanan yang hangat.”
Mahendra mengangguk. Kemudian katanya pula, “Kita akan menyusur tidak jauh sepanjang sungai yang mengalir lewat padang itu. Pada sungai itulah bendungan akan dibangun. Tetapi bukan itu soalnya. Kalau kita kehausan, kita akan segera mendapatkan air.”
Sekali lagi Sidatta tersenyum. Kemudian mereka memacu kuda mereka meninggalkan kepulan debu yang putih. Mereka meluncur di jalan-jalan diantara sawah-sawah yang mengering menuju ke padang rumput Karautan yang panasnya bukan main. Tetapi perjalanan dengan kuda adalah jauh lebih cepat dari pada berjalan dengan kaki. Meskipun sekali-sekali mereka beristirahat di tebing-tebing sungai untuk mengambil air, dan memberi kuda mereka minum, namun waktu yang mereka perlukan tidak terlampau panjang. Sebelum matahari terbenam, mereka telah sampai ke tempat yang pernah dikenal oleh Mahendra.
“Kita hampir sampai,“ desis Mahendra sambil mengusap peluhnya.
Sidatta mengangguk. Wajahnya menjadi merah kehitaman dibakar oleh terik matahari. “Kuda kita terlampau lelah,“ berkata Sidatta.
“Kita berjalan perlahan-lahan,“ sahut Mahendra, “mudah-mudahan di tempat mereka bekerja terdapat sisa makanan hari ini. Perutku terlampau lapar.”
Sidatta tertawa. Tetapi tertawanya masam sekali, sebab sebenarnya perutnya pun telah menjadi lapar. Tetapi saat itu udara telah menjadi sejuk. Matahari telah terlampau rendah, bahkan sejenak kemudian warna merah di langit selapis demi selapis menjadi semakin hitam.
Mahendra dan Sidatta berjalan terus. Kuda-kuda mereka kini tidak lagi berpacu terlampau cepat. Sebentar lagi mereka sudah akan sampai di tempat yang mereka tuju. Dalam pada itu, langit pun semakin lama menjadi semakin pekat. Satu-satu bintang seakan muncul dari balik tirai yang hitam. Sidatta sekali-sekali melayangkan pandangan matanya jauh ke garis cakrawala. Padang rumput ini seolah-olah tidak bertepi.
“Adi Mahendra,“ berkata Sidatta kemudian, “apakah orang Panawijen akan membangun di tengah padang yang seluas ini?”
“Ya,“ sahut Mahendra sambil mengangguk.
“Mereka harus membuat saluran-saluran baru.”
“Tetapi kalau mereka berhasil,“ sahut Mahendra, “maka mereka akan dengan leluasa membuat suatu perencanaan menurut selera mereka. Mereka dapat mengatur sekehendak hati, sawah-sawah, ladang dan saluran-saluran air.”
“Kenapa mereka tidak memilih tempat lain. Menebas hutan misalnya? Mereka akan langsung mendapat suatu daerah yang tidak seterik padang ini.”
Mahendra menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Mungkin mereka merasa bahwa dengan membuka padang rumput ini, pekerjaan mereka jauh lebih ringan daripada menebas hutan. Kalau mereka berhasil membuat susukan yang besar dan mengalirkan airnya ke tengah-tengah padang rumput ini, maka padang ini pasti akan menjadi daerah yang subur.”
“Tebing ini terlampau dalam,“ desis Sidatta, “untuk menaikkan air dari dalam sungai itu, pasti diperlukan pekerjaan yang maha berat.”
Mahendra tersenyum. Kemudian katanya, “Kau dengar suara gemuruh.”
Sidatta memasang telinganya baik-baik, “Ya lamat-lamat dibawa angin.”
“Suara yang hilang timbul itu adalah suara jeram-jeram.”
“Oh,“ sahut Sidatta, “kalau demikian, maka orang-orang Panawijen pasti membuat bendungan diatas jeram-jeram itu.” Mahendra mengangguk. “Kalau begitu kita sudah dekat,“ berkata Sidatta, “mari kita percepat perjalanan ini.”
Tanpa menjawab ajakan itu, Mahendra menggerakkan kendali kudanya sehingga kudanya berjalan lebih cepat lagi. Suara jeram itu ternyata telah menjadi semakin jelas, dan membawa mereka ke arah yang dikehendaki. Ketika mereka menjadi semakin dekat, maka disela-sela semak-semak yang tumbuh sepanjang tepi sungai, mereka telah melihat beberapa perapian yang menyala. Itu adalah perkemahan orang-orang Panawijen yang sedang bekerja membuat sebuah bendungan.
Mahendra dan Sidatta semakin mempercepat kudanya. Langit kini telah menjadi hitam. Namun bintang-bintang berdesakan memenuhi wajah yang kelam itu. Ternyata suara derap kudanya telah mendahului mereka. Beberapa orang yang mendengar derap kuda itu terkejut. Dengan tergesa-gesa mereka ingin menyampaikannya kepada Mahisa Agni yang ada diantara mereka. Tetapi Mahisa Agni sendiri telah mendengar derap itu pula.
“Aku mendengar derap kuda paman,“ desisnya.
Pamannya Empu Gandring yang duduk memeluk lututnya mengangkat wajahnya. Kemudian sambil menganggukkan kepalanya ia menjawab, “Ya. Aku mendengar.”
Mahisa Agni kemudian berdiri. Katanya, “Aku akan melihatnya.”
“Hati-hatilah,“ pesan pamannya.
Mahisa Agni itu pun kemudian melangkah diantara kawan-kawannya yang sedang beristirahat setelah hampir sehari penuh mereka melakukan pekerjaan mereka, membangun sebuah bendungan. Dengan kemauan yang bulat mereka bekerja dengan sepenuh tenaga. Tak ada tempat bagi mereka yang hanya mampu berbicara dan berteriak-teriak tentang bendungan yang rusak. Tentang kesulitan dan tentang kelaparan yang mungkin akan melanda mereka. Yang penting bagi penduduk Panawijen kini adalah bekerja. Bekerja. Bendungan itu harus segera jadi, sebelum persediaan di dalam lumbung-lumbung mereka terkuras habis.
Anak-anak muda Panawijen menyadari, bahwa kini bukan masanya lagi untuk berbaring-baring di pasir tepian sungai sambil berdendang dan bergurau. Bukan masanya lagi untuk bersenang-senang dan mengadakan jamuan makan diantara mereka. Yang harus mereka lakukan kini adalah bekerja dan berprihatin.
Mahisa Agni kini telah berdiri diluar batas perkemahan orang-orang Panawijen. Beberapa langkah ia maju lagi untuk menyongsong dua bayangan orang-orang berkuda yang sudah semakin dekat. Tetapi melihat derap dan langkah kuda itu, Mahisa Agni menduga bahwa mereka bukanlah orang-orang yang ingin berbuat jahat terhadap mereka yang sedang membuat bendungan itu. Meskipun demikian beberapa orang kawan-kawannya telah menjadi cemas dan berdebar-debar, meskipun kecemasan itu disimpannya saja di dalam hati.
Salah seorang dari mereka yang duduk di samping Sinung Sari berbisik, “Sinung Sari. Siapakah yang datang itu?”
Sinung Sari menggelengkan kepalanya sambil berbisik pula, “Aku tidak tahu.”
“Bukankah kau dahulu pernah datang bersama dengan Mahisa Agni kemari? Dan bukankah kau berhasil mengalahkan hantu Karautan atau siapa yang kau katakan dahulu? Kuda Sempana barangkali? Mungkin orang itu datang kembali. Apakah kau tidak akan melawannya.”
Dada Sinung Sari berdesir. Memang ia pernah menyombongkan dirinya terhadap kawan-kawannya. Kalau benar yang datang itu Kuda Sempana atau siapa pun yang akan mengganggu mereka, apakah yang akan dilakukan? Ternyata Jinan dan Patalan yang mendengar pertanyaan itu menjadi berdebar-debar pula. Tetapi mereka menjadi lega ketika mereka mendengar suara Mahisa Agni menyambut orang yang datang itu,
“Kau Mahendra.”
Tetapi segera Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika ia melihat seorang prajurit datang bersama Mahendra itu. Sebelum Mahendra menjawab, maka keduanya telah berloncatan turun dari kuda mereka. Dengan akrabnya Mahendra kemudian bertanya,
“Bagaimana bendunganmu Agni?”
Mahisa Agni tersenyum kosong. Bendungan itu belum lagi dimulai. Yang mereka kerjakan selama ini barulah persiapan-persiapan untuk bendungan itu. Menancapkan patok-patok, mengisi berunjung-berunjung dengan batu-batu dan membuat barak-barak untuk berteduh di siang hari apabila mereka sedang beristirahat.
Maka jawab Agni kemudian, “Bendunganku sudah hampir siap. Siap untuk dimulai.”
Mahendra tertawa. Katanya kemudian, “Kau mungkin belum mengenal kawan seperjalananku. Namanya Sidatta, adalah salah seorang perwira dari pasukan kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengangguk hormat dan Sidatta pun pula. “Marilah tuan,“ Mahisa Agni mempersilahkan, “tetapi alangkah jeleknya tempat yang dapat kami pakai untuk menerima tuan.”
“Terima kasih,“ sahut Sidatta, “Kami dapat mengerti, bahwa tuan berada di tempat pekerjaan yang sedang tuan lakukan dengan tekad yang luar biasa. Membuat sebuah bendungan, membuat susukan dan menggali parit-parit adalah pekerjaan raksasa bagi padukuhan tuan.”
“Mudah-mudahan kami berhasil,“ gumam Mahisa Agni.
Maka mereka pun kemudian dibawa oleh Mahisa Agni duduk diantara anak-anak muda Panawijen. Tetapi atas permintaan Mahendra maka mereka mengambil tempat agak terpisah.
“Ada yang akan aku katakan,“ bisik Mahendra.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah menduga apa yang akan dikatakan oleh Mahendra. Apalagi ia datang beserta seorang perwira dari Tumapel. Mahendra yang melihat perubahan wajah Mahisa Agni segera berkata,
“Tetapi soalnya sama sekali tidak penting.”
Mahisa Agni menggigit bibinya. Ia tahu bahwa Mahendra hanya ingin menenangkannya sebelum mereka membicarakan persoalan yang sebenarnya. Tetapi bagi Mahisa Agni, persoalan yang menyangkut dirinya sendiri dengan istana Tunggul Ametung adalah menjemukan sekali. berkali-kali persoalan itu selalu membayanginya. Mengganggu ketenangannya dan pasti akan dapat mengganggu rencana kerja yang telah masak dan kini telah dimulai dilakukan bersama-sama dengan seluruh rakyat Panawijen.
Tidak ada bedanya dengan Kuda Sempana dan Empu Sada. Orang-orang itu pasti akan mengganggu pekerjaannya pula dengan caranya. Mungkin dengan orang-orang yang disebutnya bernama Wong Sarimpat dan mungkin dengan orang-orang lain lagi. Meskipun bentuknya berbeda, tetapi akibatnya akan sama saja. Memperlambat pekerjaan itu. Bahkan mungkin dengan kekuasaan yang ada pada Akuwu Tunggul Ametung, gangguan yang datang dari padanya akan justru lebih besar. Tetapi Mahisa Agni mencoba menahan perasaannya. Ia tidak segera menyahut. Ia menunggu apalagi yang akan di katakan oleh Mahendra.
Mahendra itu pun kemudian bergeser maju. Ditatapnya wajah Mahisa Agni. Sekali ia memandang berkeliling. Dan sambil berbisik ia berkata, “Agni. Aku ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku tidak ingin mengganggumu.”
Dada Mahisa Agni berdesir. Sambil mengangguk ia berkata, “Katakanlah Mahendra.”
“Baik,“ sahut Mahendra. Kemudian sekali lagi ia bergeser maju. Katanya, “Agni. Pagi-pagi benar aku sudah berjalan dari perkemahan di tengah-tengah hutan. Hampir tengah hari aku sampai ke padepokanmu di Panawijen. Baru sekejab aku beristirahat, aku harus berjalan kembali kemari. Aku ingin berterus terang Agni.“ Mahendra berhenti sesaat, dan dada Mahisa. Agni pun menjadi kian berdebar-debar. bahkan Sidatta pun menjadi berdebar-debar pula. Dalam pada itu Mahendra meneruskan, “Aku ingin berterus terang kepadamu, tetapi tidak kepada orang lain. Agni, aku agak terlampau lapar.”
“He?” mata Mahisa Agni terbelalak. Getar di dadanya bertambah cepat, namun kemudian anak muda itu tertawa. “Hem,“ gumamnya, “segenap otot-ototku menjadi tegang.”
Sidatta pun kemudian menggamit Mahendra sambil bertata, “Ah, terlampau berterus terang adi. Seorang ksatria tidak akan kelaparan meskipun tidak makan empat puluh hari empat puluh malam.”
Mahendra tertawa pula, “Aku tidak malu kepada mahisa Agni. Tetapi mungkin aku malu kepada orang lain.”
“Kalau hanya itu keperluanmu, maka aku akan memenuhinya dengan senang hati,“ berkata Mahisa Agni sambil tertawa. Kemudian ia pun bangkit dan berjalan ke barak, mengambil bekal yang diminta oleh Mahendra. Nasi jagung dan sambal kacang.
“Apakah anak muda itu mau juga makan makanan seperti ini,“ gumamnya, “tetapi apa boleh buat. Aku tidak mempunyai yang lain.”
Dengan menjinjing sebuah bungkusan kecil Mahisa Agni berjalan kembali ke tempat Mahendra dan Sidatta menunggu. Semula ia tidak menaruh perhatian apa-apa atas ceritera Mahendra tentang perjalanannya. Tetapi tiba-tiba ia mengerutkan keningnya. Mahendra itu pagi-pagi benar sudah harus berangkat dari sebuah perkemahan di tengah hutan. Kenapa dari sebuah perkemahan. Kalau ia hanya pergi berdua, kenapa mereka terpaksa berkemah di tengah hutan. Kenapa mereka tidak menempuh jalan lain, sepanjang padang rumput atau langsung menemuinya seperti yang pernah dilakukan oleh Mahendra dahulu dipadang ini. Tetapi anak muda itu telah pergi kepadepokannya, padepokan Empu Purwa.
Kini dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar kembali. Bukan karena kebetulan Mahendra menyebut semuanya itu. Pasti tersembunyi sesuatu maksud di belakangnya. Karena itu langkah Mahisa Agni menjadi semakin panjang. Ia ingin segera mengetahui, apa yang sudah dilakukan oleh Mahendra berdua dengan Sidatta.
Ketika Mahisa Agni sudah duduk di samping Mahendra kembali, maka segera ia bertanya, “Mahendra, dari manakah kau sebenarnya? Apakah kau baru saja menempuh perjalanan yang panjang sehingga kau terpaksa bermalam di perjalanan?”
Tetapi Mahendra telah mengecewakan Mahisa Agni, sebab ia menyahut, “Bungkusan apakah yang kau bawa ini?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia segera ingin tahu, dari mana dan untuk apa Mahendra datang kepadepokannya dan kemudian setelah beristirahat hanya sesaat yang pendek ia harus dengan tergesa-gesa meninggalkan padepokan itu dan datang ke padang ini, sehingga anak muda itu menjadi sangat lapar.
Meskipun sebenarnya Mahendra lapar, tetapi ia tidak perlu dengan tergesa-gesa dan berterus terang mengatakannya kepada Mahisa Agni. Maksud Mahendra adalah untuk mengurangi ketegangan yang tampak di wajah Mahisa Agni. Tetap dalam pada itu, setelah wajah Agni membayangkan senyum tiba-tiba kini wajah itu menjadi tegang kembali. Mahendra menjadi ragu-ragu. Apakah caranya itu dapat berhasil untuk berbicara dengan Mahisa Agni tanpa sikap yang tegang kaku.
Mahisa Agni yang sudah menjadi tegang kembali itu, menyerahkan bungkusannya sambil menjawab, “Nasi jagung. Apakah kau dan tuan Sidatta biasa makan nasi jagung?”
“Oh tentu,“ sahut Mahendra, “di Tumapel kami juga makan nasi jagung. Bukankah begitu kakang Sidatta?”
Sidatta mengangguk sambil tersenyum, “Ya. Aku juga biasa makan nasi jagung.”
“Apalagi sambal kacang,“ sela Mahendra setelah melihat isi bungkusan itu, “Apakah kau sendiri tidak makan Agni?”
“Baru saja,“ sahut Agni dengan dada yang berdebar-debar. Ia seakan-akan menjadi tidak bersabar menunggu Mahendra menyelesaikan makan. Seolah-olah terasa Mahendra sengaja makan terlalu lambat seperti juga Sidatta. Bahkan kemudian Mahendra itu berkata,
“Maaf Agni. Aku perlu air. Aku terlampau haus.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia berdiri juga untuk mengambil bumbung berisi air. Dalam pada itu ketika Mahisa Agni sedang meninggalkan Mahendra berdua dengan Sidatta, terdengar Mahendra berbisik,
“Kau lihat kakang. Baru melihat wajah-wajah kita, Mahisa Agni telah menjadi tegang. Aku tahu, ia sudah jemu membicarakan masalah adiknya yang satu itu. berkali-kali ia selalu diganggu oleh persoalan itu.”
Sidatta mengangguk-anggukkan kepalanya. Desahnya, “Melihat sikapnya maka anak muda itu benar-benar keras hati.”
“Sebenarnya tidak. Ia anak muda yang baik. Ia tidak mendendam seseorang. Aku pernah berkelahi melawannya karena kesalahanku. Tetapi aku selalu saja dikalahkan. Meskipun ia menang atasku, namun ia tidak berbuat apa-apa atasku ketika aku minta maaf. Ia tidak menghina aku dan tidak ingin membalas dendam. Aku tidak tahu kenapa ia bersikap terlampau keras terhadap adiknya. Mungkin karena ia menjadi banyak kehilangan karena hilangnya adiknya itu. Ayah angkatnya yang juga menjadi gurunya, bendungan, sahabatnya yang juga bakal iparnya yang bernama Wiraprana yang dibunuh oleh Kuda Sempana, dan ia sendiri hampir terbunuh untuk mempertahankan adiknya. Tiba-tiba ia mendengar adiknya menerima lamaran Tunggul Ametung yang turut melarikan gadis itu.”
“Perasaannya tersinggung karenanya,“ desis Sidatta.
“Tersinggung agak terlampau parah,“ sambung Mahendra. Tetapi percakapan itu terhenti ketika Mahisa Agni datang sambil membawa bumbung air.
Mahisa Agni menjadi semakin kecewa ketika ia melihat nasi jagung Mahendra masih hampir utuh. Karena itu maka katanya, “Nasi itu sama sekali tidak memenuhi seleramu Mahendra?”
“O, tidak,“ sahut Mahendra, “aku senang sekali makan nasi jagung dan sambal kacang.”
Mahisa Agni tidak menyahut. Ia mencoba menyabarkan diri menunggu sampai mereka selesai makan. Tetapi hatinya yang selalu bergolak itu tidak dapat ditahannya. Maka terloncatlah pertanyaannya,
“Dari manakah kalian berdua Mahendra?”
Mahendra berhenti menyuapi mulutnya. Tetapi ia masih ragu-ragu untuk menjawab. Namun diluar kehendaknya Sidatta lah yang menjawab, “Kami baru saja menempuh sebuah perjalanan.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Ia menunggu Sidatta meneruskan, tetapi orang itu berdiam diri sambil meneguk seteguk air dari bumbung. Karena Sidatta tidak meneruskan kata-katanya maka kembali Agni bertanya,
“Perjalanan jauh? Tetapi apakah kalian telah singgah ke padepokanku di Panawijen?”
“Ya,” sahut Mahendra. Ia tidak dapat menyembunyikan persoalan yang sebenarnya. Tetapi ia ingin mengatakannya dengan cara yang lain, “Kami berjalan-jalan bersama kakang Witantra.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin bercuriga. Katanya, “Apakah Witantra sekarang berada di padepokanku di Panawijen?”
“Ya,“ sahut Mahendra acuh tak acuh sambil menyuapi mulutnya, “perjalanan yang sama sekali tidak menarik. Kami harus berjalan kaki dari Tumapel, lewat tengah hutan, untuk menghindari terik matahari.”
“Kenapa?”
Seolah-olah tidak ada soal yang penting sama sekali, Mahendra menjawab, “Kami mengantarkan adikmu.”
“Ken Dedes?“ desis Mahisa Agni.
“Ya. Ia sedemikian rindunya kepadamu sehingga ia memaksa untuk menemuimu. Tetapi setelah kami sampai di padukuhanmu, kau tidak ada. Dengan serta merta aku harus berjalan lagi ke padang rumput Karautan.”
“Bohong,” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Agni semakin tegang. Sidatta mengerutkan keningnya. Benar juga pesan Witantra dan Ken Dedes. Mahisa Agni bersikap agak terlampau keras.
Tetapi Mahendra sama sekali tidak terkejut. Ia masih tetap menyuapi mulutnya. Bahkan kemudian sambil tertawa ia berkata, “Ah, nasibmu benar-benar luar biasa. Enak dan cepat menjadi kenyang.”
“Aku tidak percaya Mahendra,“ berkata Agni tanpa menghiraukan kata Mahendra, “kalian datang untuk menangkap aku dan membawa aku menghadap Akuwu Tumapel karena aku pernah meninggalkan Tumapel sebelum aku menghadap.”
Mahendra mengerutkan keningnya. Tetapi wajahnya masih tetap tenang, dan mulutnya masih tetap mengunyah makanannya. Meskipun demikian, degup jantung Mahendra tidaklah setenang wajahnya. Bahkan ia kemudian menjadi cemas, bahwa caranya itu pun tidak akan menyenangkan Mahisa Agni.
Sidatta yang duduk di samping Mahendra sudah tidak lagi dapat menelan makanannya dengan lancar. Ia tidak pula bersabar mendengarkan cara Mahendra mengatakan maksudnya.
Dalam pada itu terdengar Mahendra menjawab, “Ah. Kenapa kami harus menangkapmu? Bukankah tidak ada alasan? Jangan berprasangka Mahisa Agni.”
Mahisa Agni terdiam. Ia melihat Mahendra itu masih saja sibuk dengan nasi jagung dan sambal kacang, seolah-olah memang tidak ada sesuatu yang penting. Tetapi kenapa ia begitu tergesa-gesa mencarinya. Apakah benar hanya karena Ken Dedes segera ingin menemuinya?. Tetapi menilik cara Mahendra makan dan ketenangannya menyampaikan ceritera perjalanannya, terasa bahwa Mahendra memang tidak sedang mengemban tugas yang terlampau penting.
Sidatta sekali menggeser duduknya dengan gelisah. Tetapi ia memahami cara Mahendra menyampaikan maksudnya, sehingga karena itu, ia mencoba untuk menahan perasaannya.
Tiba-tiba terdengar Mahendra berkata, “Adikmu ada di Panawijen sekarang Mahisa Agni.”
“Biar sajalah,“ jawab Mahisa Agni kosong.
Mendengar jawaban itu dahi Mahendra berkerut dan terasa dada Sidatta berdesir. “Ia sangat rindu kepadamu,“ Mahendra meneruskan.
“Anak itu telah menjadi seorang besar di Tumapel. Apalagi yang diharapkan daripadaku?”
“Bukankah ia adikmu?”
“Pada masa kita masih kanak-kanak ia adikku. Tetapi sekarang kami menempuh jalan hidup kami masing-masing. Ia tidak memerlukan aku lagi, dan aku tidak memerlukannya.”
Mahendra tersenyum. Senyum yang aneh. Namun ia hampir kehabisan akal untuk mencari jalan supaya ia dapat mengajak Mahisa Agni pergi ke Panawijen. Kalau ia tidak dapat membawa Mahisa Agni ke Panawijen, maka kemungkinan terbesar adalah Ken Dedes sendiri akan datang ke Padang Karautan untuk mengambil Mahisa Agni dan membawanya ke Tumapel. Dalam keadaan yang demikian segalanya akan dapat terjadi. Ken Dedes membawa serombongan prajurit yang sedang mengemban tugas dan disini banyak anak-anak muda yang pasti akan berpihak kepada Mahisa Agni. Tetapi Mahendra tidak mengetahui bahwa anak-anak muda yang berada di padang ini sebagian terbesar adalah anak-anak muda seperti Sinung Sari, Jinan dan Patalan.
Meskipun demikian Mahendra masih mencoba berkata, “Aku tadi belum mendapat hidangan apa-apa di padukuhanmu Agni. Seharusnya aku besok pagi-pagi harus sudah sampai di sana pula. Tetapi aku kira aku tidak akan kembali ke Panawijen.”
Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Bukan saja Mahisa Agni, tetapi juga Sidatta. Tetapi agaknya Mahendra memang sedang memutar otaknya untuk memancing Mahisa Agni ke Panawijen.
“Kenapa?“ bertanya Mahisa Agni.
“Kau tahu perasaanku Agni,“ berkata Mahendra tiba-tiba dengan wajah yang bersungguh-sungguh, “Aku sudah menerima keadaan yang aku hadapi sebagai suatu kenyataan yang tak dapat aku ingkari. Tetapi meskipun demikian, aku tidak akan dapat melihat gadis itu bersedih dan menangis terus menerus.”
“Kenapa?”
“Gadis itu merasa bahwa hidupnya kini benar-benar tinggal sebatang kara. Seolah-olah semua orang yang dikenalnya pada masa kanak-kanaknya, semua orang yang pernah dikasihinya sejak ia masih kanak-kanak telah meninggalkannya. Ayahnya dan kau.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar