MENU

Ads

Senin, 06 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 168

“Untuk apa?”

“Aku mempunyai janji dengan Permaisuri. Setidak-tidaknya Permaisuri akan mengirimkan pesannya lewat embannya.”

“He.” kedua kawannya saling berpandangan, “apakah Permaisuri berjanji akan turun ketaman menemuimu.”

“Ya.”

“Hari ini?”

“Ya.”

Sekali lagi kedua Jajar itu saling berpandangan. Salah seorang dari mereka berkata, “Bukan saatnya lagi Permaisuri turun ketaman. Lihat, matahari hampir terbenam.”

Jajar yang gemuk itu tidak menjawab. Tetapi ia masih saja duduk bersandar pohon sawo kecik di taman istana Tumapel. Kedua kawannya segera meninggalkannya. Di regol mereka saling berbisik,

“O. Jajar itu benar-benar telah gila. Agaknya, kesempatan yang diberikan oleh Permaisuri kemarin telah membuatnya semakin gila. Ia menunggu Permaisuri atau utusannya untuk menyampaikan pesan kepadanya.”

Tiba-tiba keduanya tertawa hampir meledak. Ketika mereka berpaling, mereka melihat Jajar yang duduk bersandar pohon sawo itu memandangnya dengan tajam. Bahkan kemudian mengacungkan tinjunya kepada kedua kawannya. Tetapi kedua kawannya masih saja tertawa. Perlahan-lahan mereka meninggalkan taman itu, dan hari pun menjadi semakin suram. Jajar yang menunggu itu pun menjadi terlampau kecewa. Ia masih juga mengharap seseorang muncul diregol pertamanan dan menyampaikan pesan kepadanya. Tetapi sampai hari menjadi gelap, tidak seorangpun yang datang.

“Gila.“ desisnya. Ia kehilangan harapan bahwa hari itu Permaisuri akan datang kepadanya membawa tiga pengadeg perhiasan. “Setidak-tidaknya dua pengadeg .“ desisnya. Jajar itu menggeliat. Lalu berdiri bertolak pinggang. “Apakah aku membuat harga tebusan terlampau mahal sehingga Permaisuri itu lebih senang mengorbankan kakaknya?“ Jajar itu menyesal karenanya. Desisnya, “Kalau aku berjumpa dengan Permaisuri aku akan menurunkan tawaranku.”

Akhirnya Jajar itupun meninggalkan taman itu dengan hati kecewa. Bahkan ia bersungut-sungut perlahan, “Bukan salahku kalau Mahisa Agni besok dipenggal kepalanya atau digantung dialun-alun. Bukan salahku. Aku sudah memberikan jasa-jasa baikku untuk kepentingan kemanusiaan, melepaskan Mahisa Agni dari tangan setan-setan itu.”

Ketika Jajar itu keluar dari istana, hari sudah mulai gelap. Diregol-regol ia melihat beberapa orang prajurit memandanginya dengan heran. Bahkan ialah seorang dari padanya bertanya, “He, juru taman, kenapa kau baru pulang?”

Juru taman yang sedang kecewa itu menjawab acuh tak acuh, “Aku tertidur.“ Dan Jajar itu sama sekali tidak memperhatikannya lagi ketika para prajurit itu tertawa.

Kekecewaannya telah mendorongnya untuk berjalan tergesa-gesa. Tetapi di sebuah tikungan ia terhenti. Hampir-hampir ia melonjak karena terperanjat . Tanpa diduga-duga, dihadapannya, di dalam keremangan malam ia melihat bayangan yang bergerak-gerak. Semakin lama semakin dekat. Tidak hanya sesosok bayangan, tetapi dua. Dan keduanya itu berjalan mendekatinya. Jajar itu masih berdiri tegak di tempatnya. Ia menunggu dua sosok bayangan itu menjadi semakin dekat. Meskipun ia belum tahu siapakah keduanya, tetapi Jajar gemuk itu segera mempersiapkan dirinya, seandainya dua orang itu bermaksud jahat kepadanya.

“Apakah keduanya adalah kawan-kawanku yang iri hati?“ Jajar itu berdesis di dalam hatinya. “Atau bahkan sama sekali tidak berkepentingan dengan aku. Keduanya hanya orang-orang lewat saja seperti aku?”

Tetapi Jajar itu melihat keduanya di tengah-tengah jalan, seakan-akan sengaja mencegatnya di tempat itu, di tikungan yang gelap itu. Darahnya serasa berhenti ketika ia mendengar salah seorang dari kedua bayangan itu menyapanya,

“Selamat malam Ki Sanak.”

Terasa bulu-bulu Jajar yang gemuk itu serentak berdiri. Sapa itu benar-benar telah membuat dadanya bergetar. Ia segera menyadari, bahwa yang berdiri dihadapannya itu adalah Kuda Sempana dan kawannya yang wajahnya seperti wajah mayat yang beku. Jajar itu tidak segera menjawab. Dicobanya mengamati keduanya dengan seksama. Dan semakin lama ia semakin jelas, bahwa sebenarnyalah yang berbicara kepadanya itu adalah kawan Kuda Sempana yang berwajah beku sebeku mayat.

“Apakah kau baru pulang?” bertanya Kebo Sindet.



“Ya.” sahut Jajar itu.

“Aku menunggumu terlampau lama disini.” berkata Kebo Sindet kemudian. “Bukankah tidak biasa kau pulang sampai malam begini?”

“Ya.“ sahut Jajar itu.

“Kenapa kau pulang terlampau malam?“ bertanya Kebo Sindet pula.

“Aku menunggu Permaisuri. Tetapi Permaisuri hari ini tidak pergi ketaman. Aku ingin mendengar penjelasan tentang permintaanmu itu.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Aku menunggu kau disini untuk kepentingan itu juga. Seandainya kau sudah mendapat kabar apalagi mendapatkan barangnya, aku akan menjadi senang sekali. Tetapi bagaimana ?”

“Sudah aku katakan. Aku belum dapat bertemu dengan Permaisuri hari ini.”

Kebo Sindet tidak segera menyahut. Namun kebekuan wajahnya membuat Jajar itu menjadi berdebar-debar. “Apakah aku berhadapan dengan hantu?“ desisnya di dalam hati.

“Baiklah.“ berkata Kebo Sindet, “kau masih mempunyai waktu empat hari lagi.”

“Tetapi bagaimana apabila dalam empat hari ini Permaisuri tidak pergi ketaman?”

Jajar itu menjadi heran ketika ia melibat Kebo Sindent itu menengadahkan wajahnya. Sejenak. Dan sejenak kemudian orang itu menjawab pertanyaan Jajar yang gemuk itu. Tetapi sekali lagi Jajar itu menjadi heran. Jarak mereka tidak begitu jauh, hanya beberapa langkah saja, tetapi Kebo Sindet berkata terlampau keras.

“Waktumu tinggal empat hari lagi Ki Sanak. Apa bila empat hari ini kau tidak berhasil, maka perjanjian kita batal.”

Jajar yang keheranan itu bertanya, “Apakah akibat dari pembatalan perjanjian ini?”

“Tidak ada akibat apa-apa. Kita masing-masing dapat berbuat sekehendak kita sendiri. Kita tidak terikat lagi oleh perjanjian apapun.”

“Dan kau dapat menghubungi orang lain lagi untuk keperluan ini?”

“Tentu. Aku dapat menghubungi orang lain yang akan lebih dapat aku harapkan dari padamu.”

“Aku minta waktu.”

“Waktumu masih empat hari. Kau harus berkata kepada Permaisuri, bahwa nasib Mahisa Agni tergantung pada kesediaannya. Tidak ada pembicaraan lain. Kau mengerti?”

“Sejak kemarin aku sudah mengerti. Tetapi kau pun harus mengerti bahwa tidak setiap hari Permaisuri pergi ke taman, dan persoalan yang dihadapinya bukan hanya persoalan Mahisa Agni saja. Apa lagi Akuwu Tunggul Ametung.”

“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun. Aku memberi waktu lima hari. Sehari sudah lampau, maka yang tinggal adalah empat hari lagi.”

“Cobalah mengerti.”

“Aku tidak ingin tawar menawar mengenai waktu. Kalau barang-barang yang aku kehendaki sudah ada di tanganku, maka kita dapat mengadakan tawar menawar, berapa banyak aku dapat memberimu selain yang kau dapatkan dari usahamu sendiri.”

“Kau mementingkan dirimu sendiri.” bantah Jajar itu, “aku sudah berusaha dan akan terus berusaha. Tetapi seandainya aku mundur sehari dua hari bagaimana?”

“Tidak. Tidak ada waktu lagi.”

Jajar itu terdiam sejenak. Pikirannya saat itu hanya dicengkam oleh kegelisahan, apabila dalam empat hari ini Permaisuri tidak hadir ditaman, sehingga ia tidak sempat memikirkan persoalan-persoalan yang lain.

“Sudahlah. Pulanglah meskipun tidak ada seorang pun yang menunggu di rumah. Mungkin kau akan segera tidur, atau kau masih mempunyai acara-acara lain, berkeliaran di sepanjang jalan-jalan gelap dan pergi mengunjungi rumah-rumah perjudian.”

“Aku tidak pernah berjudi.”

“Jangan membohongi aku, pergilah.”

Jajar itu tidak sempat menjawab. Kebo Sindet dan Kuda Sempana yang seolah-olah seperti orang bisu itupun kemudian meninggalkannya dan hilang di dalam kegelapan.

“Setan alas.” Jajar yang gemuk itu mengumpat sendiri.

Perlahan-lahan ia mengayunkan kakinya meneruskan langkahnya. Tetapi sekali lagi ia tertegun ketika ia mendengar gemerisik dedaunan di pinggir jalan. Jajar yang gemuk itu mencoba untuk melihat kearah suara itu. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Malam menjadi semakin gelap dan suara gemerisik itu berasal dari dalam bayangan gerumbul-gerumbul yang pekat hitam. Tetapi Jajar itu mendengar desir dipinggir jalan itu semakin lama semakin jauh.

“Ada yang mengintip pembicaraanku.“ desisnya.

Dada Jajar itu menjadi berdebar-debar. Berbagai dugaan membayang di kepalanya. “Siapakah yang mencoba untuk mengintip itu?“ ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah kawan-kawanku yang iri hati itu? Juru taman yang bodoh dan sombong? Atau prajurit-prajurit yang melihat Permaisuri berbicara dengan aku mengikutiku dan ingin mendengar persoalanku dengan Permaisuri? Atau mungkin kawan-kawan Kuda Sempana yang mengawasinya? Seandainya aku berusaha untuk menangkapnya, maka ia memerlukan kawan untuk membantunya. Hem, mungkin Kuda Sempana mengetahui dan merasa, bahwa ia berdua bersama kawannya yang wajahnya sebeku mayat itu tidak sanggup melawan aku seorang.” Jajar yang gemuk itu masih berdiri tegak ditempatnya. Ia yakin bahwa suara gemerisik itu adalah suara langkah orang yang tersuruk-suruk pergi menjauh.

Tiba-tiba pertanyaan di dalam dirinya berkisar kepada sikap kawan Kuda Sempana yang wajahnya dapat menegakkan bulu-bulunya. Orang itu menengadahkan wajahnya dan memiringkan kepalanya seolah-olah mencoba menangkap sesuatu dengan pendengarannya. Kalau demikian apakah orang itu mendengar juga suara desir dipinggir jalan itu? Lalu apakah sebabnya maka suaranya menjadi kian mengeras dan seolah-olah dengan sengaja diperdengarkan kepada orang-orang yang sedang mengintainya? Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. “Ah.” sekali lagi ia berdesah, “kalau begitu maka orang-orang ini adalah kawan-kawan Kuda Sempana. Mereka ingin memancing ke keruhan, kemudian bersama-sama mengeroyok aku.”

Jajar yang gemuk itu mengangkat dadanya. “Hem.“ ia menarik nafas dalam-dalam, “agaknya Kuda Sempana dan kawannya itu mampu menilai, siapakah aku. Mereka terpaksa memanggil kawan-kawannya untuk menghadapi aku seorang diri.”

Jajar itu kemudian mengayunkan kakinya, melangkah perlahan-perlahan pulang kerumahnya. Tetapi sekali lagi ia tertegun, sehingga langkahnya terhenti. Bukan karena ia mendengar langkah orang lain, bukan karena ia melihat sesosok bayangan, tetapi ia tersentak oleh pikirannya sendiri.

“Kalau orang-orang itu kawan-kawan Kuda Sempana yang sengaja memancing kekeruhan, lalu apa pamrihnya? Aku belum berhasil membawa apapun dari istana.”

Wajah Jajar itu menjadi tegang. Tiba-tiba ia sampai pada suatu kesimpulan yang mendirikan bulu romanya. “O, mereka sedang menunggu aku. Kalau aku membawa perhiasan itu, maka mereka akan beramai-ramai menangkapku dan membunuhku. Mungkin aku akan dibantainya seperti membantai sapi di pembantaian.”

Terasa tubuh Jajar itu menjadi gemetar. Dan tanpa sesadarnya ia berpaling, seolah-olah ada orang yang sedang mengikutinya. Meskipun kemudian ia tidak melihat seorangpun, namun hatinya masih juga berdebar-debar.

“Setan alas.” ia mengumpat. Dan sejenak kemudian maka ia pun segera berjalan cepat-cepat pulang kerumahnya.

Dihari berikutnya, pagi-pagi benar Jajar itu telah berada di taman. Jauh sebelum waktunya, sehingga para prajurit yang sedang bertugas menjadi heran. Apalagi kedua kawan-kawannya, juru taman yang hampir-hampir saja berkelahi dengan Jajar yang gemuk itu. Ketika mereka datang, mereka melihat juru taman itu telah duduk bersandar pohon sawo kecik.

“He.” bisik salah seorang dari padanya, “orang yang gemuk itu benar-benar telah menjadi gila. Agaknya ia sudah jemu hidup.”

“Aku tidak tahu, bagaimana jalan pikiran orang gila itu. Mungkin ia pernah bertemu Permaisuri sebelum berada di istana ini.”

“Nasibnya akan jauh lebih jelek dari Kuda Sempana yang pernah menjadi gila karena Permaisuri itu pula.”

Keduanya berusaha untuk menahan tawa mereka, supaya tidak menyinggung perasaan kawannya yang dianggapnya sedang gila itu. Tetapi mereka tidak mangerti, apakah yang menyebabkan Jajar itu menjadi gila. Tanpa menyapa, maka kedua kawannya itu langsung melakukan pekerjaan mereka. Dibiarkannya Jajar yang gemuk itu duduk saja bersandar pohon sawo kecik.

Ternyata yang bergolak di kepala Jajar itu kini menjadi semakin kisruh. Ia tidak saja digelisahkan oleh sikap Permaisuri yang agaknya acuh tidak acuh, tetapi juga oleh suara gemerisik di tikungan ketika ia bertemu dengan Kuda Sempana dan Keho Sindet. Ketika matahari memanjat langit semakin tinggi, Jajar itu menjadi semakin gelisah. Ia tidak melihat seorang pun turun dari serambi belakang istana dan berjalan ke taman. Meskipun ia hampir mati karena debar jantungnya, namun Permaisuri tidak juga kunjung datang.

Sementara itu, Permaisuri pun menjadi gelisah pula di biliknya. Akuwu Tunggul Ametung masih belum mengatakan apa yang dilakukannya. Dengan demikian maka kekecewaan dihatinya semakin menjadi tebal pula. Akuwu Tunggul Ametung ternyata hanyalah seorang yang berbuat sesuka hatinya untuk kepentingan dirinya sendiri. Persoalan-persoalan yang tidak langsung menyangkut kepentingannya, tidak akan banyak mendapat perhatian. Seandainya Mahisa Agni itu bukan kakak angkatnya, maka perhatiannya pasti akan hilang sama sekali terhadap persoalan yang demikian. Sehingga seandainya kini Akuwu Tunggul Ametung berbuat sesuatu, itupun sekedar untuk kepentingan dirinya sendiri, supaya ia tidak selalu terganggu oleh kemuraman Permaisurinya.

Tetapi Ken Dedes masih mencoba menyabarkan dirinya. Ia masih belum akan bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, apa yang sudah dilakukannya. Meskipun hatinya selalu dicengkam oleh kegelisahan, namun ia masih bertahan dan mencoba untuk tidak berwajah muram. Matahari yang semakin tinggi akhirnya ngglewang disebelah Barat. Sinarnya menjadi kemerah-merahan dan akhirnya pudar sama sekali dibalik Gunung.

Jajar gemuk yang menunggu Permaisuri di taman benar-benar menjadi bingung. Ia tidak dapat lagi duduk dengan tenang. Sekali-sekali ia berdiri, berjalan mondar-mandir. Setiap kali dijenguknya di regol pertamanan apabila ia mendengar langkah seseorang. Tetapi yang lewat adalah Pelayan Dalam yang bersenjata, atau prajurit Pengawal Istana.

“Setan alas.“ Jajar itu mengumpat, “mereka selalu mengganggu saja.” Tetapi yang ditunggunya, Permaisuri atau utusannya, tidak juga kunjung datang. “Apakah Permaisuri benar-benar merelakan kakaknya itu?” berkata Jajar itu di dalam hatinya, “mungkin tawaranku benar-benar terlalu tinggi, sehingga tidak ada seorang pun yang nilainya sama seperti tuntutanku. O, kalau aku sempat betemu, maka tuntutan itu akan aku turunkan. Dua pengadeg sudah cukup. Atau kalau masih terasa terlampau tinggi, satu setengah pengadeg saja. Ah, barangkali cukup sepengadeg ditambah dengan beberapa potong perhiasan. Bahkan apabila perlu, sepengadeg saja sudah cukup. Aku tidak akan menyerahkannya kepada Kebo Sindet. Aku harus menemukan jalan untuk menghindar dari padanya.”

Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Terbayang olehnya beberapa orang yang selalu mengendap-endap di sekitar Kuda Sempana dan kawannya yang menunggunya di tikungan gelap.

“Mungkin hari ini mereka telah menunggu aku lagi.” Desisnya, “aku harus mencari jalan lain. Meskipun aku belum membawa perhiasan-perhiasan itu, tetapi aku harus menghindari mereka.”

Jajar itu pun menjadi kehilangan harapannya, bahwa hari itu ia akan dapat bertemu dengan Permaisuri, ketika gelap malam telah turun menyelimuti istana Tumapel. Dengan wajah yang suram, Jajar itu kemudian berjalan tertatih-tatih keluar taman. Langkahnya menjadi terlampau berat dan lambat. Ia masih berharap bertemu dengan Permaisuri di serambi belakang istana atau barangkali satu dua embannya diutus untuk menunggu dan memanggilnya. Karena itu maka Jajar yang gemuk itu berjalan sambil menebarkan pandangan matanya berkeliling. Setidak-tidaknya ia bertemu dengan seorang emban yang dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi ia tidak bertemu dengan seorang emban yang dapat menjawab pertanyaannya. Tetapi ia tidak bertemu seorangpun dari emban-emban itu. Yang dijumpainya adalah para peronda yang berdiri diregol belakang dan dilihatnya prajurit-prajurit yang duduk digardu sambil terkantuk-kantuk.

“Oh.”

Jajar itu berdesah. Tetapi ia harus menerima kenyataan itu. Permaisuri tidak datang ke taman dan tidak mengirimkan utusan apapun. Seperti kemarin Jajar yang gemuk itu berjalan cepat-cepat meninggalkan istana. Tetapi hari ini ia tidak ingin lewat jalan yang ditempuhnya kemarin. Ia akan mengambil jalan lain supaya ia tidak diganggu lagi oleh kawan Kuda Sempana yang berwajah mengerikan itu. Dengan tergesa-gesa ia meloncat-loncat di jalan kecil, menyusur diantara rumah-rumah yang berhalaman luas dan berdinding cukup tinggi. Diregol-regol halaman ia melihat lampu-lampu minjak tergantung, melontarkan nyalanya yang kemerah-merahan. Apabila angin yang silir bertiup lembut, maka nyala lampu itupun berguncang perlahan-lahan pula.

“Setan alas.” Jajar itu mengumpat-umpat di sepanjang jalan, “Setan alas.”

Ketika ia muncul dari jalan sempit di sela-sela halaman-halaman yang luas itu, maka sampailah ia di tempat terbuka. Ia harus melintasi sebuah parit dan kemudian ia akan sampai pada jalan kecil yang menyilang. Sekali lagi ia berbelok, maka sampailah ia di rumahnya.

“Setan itu tidak akan mengganggu aku lagi hari ini.” tetapi Jajar itu mengumpat, “kalau aku pulang juga, maka mereka pasti akan mencari aku dirumah.”

Tiba-tiba langkahnya berhenti. Dirabanya sakunya. Ia masih mempunyai beberapa keping uang. “Aku akan singgah di tempat perjudian saja. Kalah atau menang, aku akan dapat melupakan kegelisahan ini. Persetan Kuda Sempana dan kawannya itu.”

Sejenak Jajar yang gemuk itu termangu-mangu. Tetapi hatinya kemudian menjadi tetap. Ia tidak akan pulang, supaya ia dapat melupakan kegelisahan dan kekecewaannya. Tetapi alangkah terperanjatnya Jajar yang gemuk itu. Ketika ia mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia mendengar seseorang menyapanya,

“He, akan kemana kau Ki Sanak. Apakah kau tidak akan pulang. Bukankah arah kerumahmu, bukan arah yang kau ambil itu?”

Sambil terlonjak Jajar itu memutar tubuhnya. Tiba-tiba saja ia telah berdiri berhadapan dengan Kuda Sempana dan kawannya. Meskipun keduanya masih berada di dalam bayang-bayang yang lebih gelap, namun Jajar itu segera mengenalinya, bahwa kedua orang itu adalah Kuda Sempana dan kawannya.

“Bagaimanakah kabarnya?” bertanya kawan Kuda Sempana.

Jajar itu menggeretakkan giginya, “Belum. Aku belum menerima apapun.”

Kebo Sindet mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju mendekati Jajar itu, “Benar begitu?”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia masih menahan diri, katanya, “Apakah kau beranggapan lain? Aku hampir gila menunggu Permaisuri di taman itu. Tetapi ia tidak kunjung datang. Embannya pun tidak juga datang menemui aku di taman.”

Kebo Sindet tidak segera menjawab. Ia maju lagi selangkah mendekati Jajar yang gemuk itu. Dengan tajamnya diamatinya wajah Jajar yang gemuk itu. Jajar itu melihat mata Kebo Sindet pada wajahnya yang beku. Tiba-tiba kengerian yang sangat telah mencengkam dadanya, seakan-akan ia berdiri berhadapan dengan hantu yang paling menakutkan. Tetapi sekali lagi Jajar yang gemuk itu menjadi heran ketika Kebo Sindet mengangkat wajahnya, memiringkan sedikit kepalanya seolah-olah ia sedang mendengarkan sesuatu. Dan sekali lagi Jajar itu menjadi semakin bingung ketika tiba-tiba saja suara Kebo Sindet menjadi semakin keras dalam nada yang semakin tinggi,

“Ki Sanak. Kali ini aku percaya bahwa kau memang belum bertemu dengan Permaisuri. Waktumu tinggal tiga hari. Kalau dalam tiga hari ini kau tidak berhasil, maka perjanjian kita batal. Kau tahu?”

Tanpa sesadarnya Jajar itu menganggukkan kepalanya, “Ya. Aku tahu.”

“Baik, sekarang pergilah kemana kau suka. Aku kira kau tidak akan pulang, tetapi kau akan mencari tempat untuk melepaskan kejemuanmu. Berjudi barangkali?”

“Aku tidak pernah berjudi.”

“Jangan bohong.“ sahut Kebo Sindet, “bagiku sama saja. Apakah kau sering berjudi atau tidak. Tidak ada bedanya untuk mendapatkan tebusan itu.” Jajar itu tidak menjawab. “Pergilah.“ desis Kebo Sindet, “waktumu sudah berkurang satu hari lagi.”

Jajar itu tidak sempat menjawab. Ia berdiri saja seperti patung ketika ia melihat Kebo Sindet itu melangkah meninggalkannya. Kuda Sempana yang benar-benar seperti orang bisu berjalan saja di belakangnya. Ketika mereka sudah tidak tampak lagi, maka Jajar itu segera menyadari dari dirinya dan keadaannya. Sekali ia mengumpat sambil memilin kumisnya,

“Setan alas.” Namun kengerian dihatinya tidak juga dapat diusirnya. “Aku sudah mengambil jalan lain, tetapi setan itu dapat menjumpaiku di sini.“ desis Jajar yang gemuk itu, “ternyata ia tidak menunggu di jalan yang akan aku lalui. Tetapi agaknya ia menunggu di depan regol istana. Setan itu pasti mengikuti aku dan menghentikanku di sini, di tempat sepi.“ Jajar yang gemuk itu menggeretakkan giginya, “Besok aku akan mengambil jalan yang lain untuk keluar dari istana. Bukan regol depan, tetapi regol butulan.”

Sambil menggeram Jajar itu melangkahkan kakinya. Tetapi sekali lagi ia tertegun. Seperti kemarin ia mendengar desir daun-daun kering.

“He.“ Jajar itu hampir kehilangan keseimbangan karena berbagai perasaan yang menyesakkan dadanya, “siapa kau? Kenapa kau selalu mengintip aku. Ayo keluarlah dari persembunyianmu, cepat atau aku harus memaksamu keluar?” Tidak ada jawaban. “Ajo keluar.” Jajar itu berteriak, tetapi tidak juga ada jawaban.

Jajar yang sedang diamuk oleh perasaan sendiri itu tiba-tiba kehilangan pengamatan diri. Dengan serta merta ia meloncat maju ke arah suara gemerisik di tepi jalan sempit di belakang rimbunnya dedaunan. Tetapi langkahnya terhenti. Terasa sesuatu menghantam keningnya. Terlampau keras, sehingga matanya menjadi berkunang-kunang. Sejenak ia kehilangan keseimbangan dan telempar jatuh di tanah. Kepala Jajar yang gemuk itu menjadi pening. Tertatih-tatih ia mencoba untuk berdiri. Meskipun dengan susah payah, akhirnya ia berhasil tegak diatas kedua kakinya. Namun sementara itu ia telah mendengar langkah berlari menjauh. Tidak hanya seorang, tetapi dua orang.

“Oh.” nafas Jajar itu menjadi terengah-engah.

Dengan nanar dipandanginya keadaan sekelilingnya yang gelap. Tetapi ia tidak melihat seorang pun. Ia kini tidak lagi mendengar suara apapun kecuali suara cengkerik yang berderik-derik bersahut-sahutan.

“Oh, setan alas.” Desisnya, “siapa yang berani bermain-main dengan aku? Sayang, aku didahuluinya. Kalau tidak, kepalanya pasti aku pilin sehingga patah.” Tetapi orang yang memukulnya telah lari menghilang di kejauhan.

Hati Jajar itu menjadi kian kisruh. Otaknya menjadi kabur. Ia sama sekali tidak tahu soal apakah sebenarnya yang sedang dihadapinya. Kuda Sempana dan kawannya yang mengerikan, kemudian orang-orang yang mengintainya dan telah memukul keningnya.

“Oh, oh, aku hampir gila karenanya.“

Jajar itu mengumpat tidak habis-habisnya. Ia mengumpati Permaisuri Ken Dedes pula karena sikapnya yang menurut penilaian Jajar yang gemuk itu, acuh tidak acuh saja.

“Pasti emban tua itulah yang menghasutnya. Emban tua itu takut kehilangan perhatian seandainya Mahisa Agni dilepaskan. Ia ingin Mahisa Agni itu tidak usah dibebaskan. Dengan demikian maka satu-satunya orang yang terdekat pada Ken Dedes selain Akuwu adalah emban tua itu sendiri. Ia merasa sebagai pengganti ibu bapa dan keluarga Permaisuri itu karena tidak ada orang lain.”

Jajar itu pun kemudian pergi meninggalkan tempat itu sambil tidak henti-hentinya mengumpat. Ia melangkah asal saja melangkah. Tiba-tiba ia tersentak oleh angan-angannya sendiri,

“Oh, kenapa aku tidak berbuat sesuatu? Aku harus menemui adikku dan kawan-kawannya. Hem. alangkah bodohnya aku. Aku harus berbuat sesuatu. Harus. Kuda Sempana dan kawannya itu harus tahu, siapakah aku ini. Adikku akan membantuku menyelesaikan masalahnya. Aku akan menerima semua perhiasan itu sendiri.” Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu tersenyum. Langkahnya menjadi semakin mantap. Ia mengharap dapat bertemu dengan adiknya di tempat perjudian.

Sementara itu Ken Dedes, Permaisuri Tunggul Ametung tidak dapat lagi menahan dirinya. Didera oleh kegelisahannya maka diberanikan dirinya untuk bertanya kepada Akuwu Tunggul Ametung, apakah yang sudah dilakukannya untuk membebaskan Mahisa Agni.

“Aku tidak berbuat dengan tergesa-gesa Ken Dedes. Aku harus berhati-hati. Ternyata yang kita hadapi adalah Kebo Sindet. Seorang yang tidak saja mempunyai banyak kelebihan dari orang lain, tetapi ia adalah setan yang tidak dapat di sanak.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung.

“Ampun Tuanku. Tetapi apakah Akuwu telah berbuat sesuatu?”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Ia merasa tersinggung oleh pertanyaan itu. Katanya, “Kau tidak mempercayai aku Ken Dedes.”

“Bukan maksud hamba tidak mempercayai Tuanku. Tetapi hamba yang siang dan malam digelisahkan saja oleh persoalan itu, ingin mendengar apakah yang kira-kira akan dapat terjadi dengan Kakang Mahisa Agni.”

Hampir saja Akuwu Tunggul Ametung mengumpat. Mahisa Agni bagi Ken Dedes agaknya lebih penting dari segala-galanya, lebih penting dari dirinya, Akuwu Tumapel. Tetapi Akuwu itu tidak dapat melepaskan perasaannya begitu saja. Ia tidak dapat melupakan bahwa Ken Dedes adalah seseorang yang kinacek. Seseorang yang memiliki kelebihan yang aneh dari orang lain.

“Ken Dedes.“ berkata Akuwu Tunggul Ametung itu kemudian, “aku telah berbuat banyak untuk kepentingan Mahisa Agni. Aku dapat mengambil beberapa kesimpulan. Sebenarnya aku sengaja tidak akan memberitahukannya kepadamu, sebelum aku mendapat keputusan yang terakhir, apa yang akan aku lakukan.”

“Ampun Tuanku. Hamba tidak dapat menahan diri terlampau lama di dalam kegelisahan dan kecemasan.”

Wajah Akuwu Tunggul Ametung menjadi tegang. “Baik, baik. Aku akan mengatakannya.”

Ken Dedes mengerutkan wajahnya. Ia tahu benar, nada suara Akuwu Tunggul Ametung adalah nada yang tidak menyenangkan. Tetapi ia tidak mempedulikannya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar