MENU

Ads

Senin, 06 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 167

“Aku akan menjadi gila.”

“Seandainya Tuanku tidak mempunyai waktu, perkenankan hamba menyelesaikannya sendiri. Tetapi hamba ingin Tuanku memberikan keleluasaan kepada hamba untuk memilih jalan yang dapat hamba tempuh.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Hamba belum tahu Tuanku. Mungkin atas izin Tuanku hamba akan mempergunakan beberapa kekuatan prajurit, namun mungkin hamba terpaksa mempergunakan tebusan. Karena itu, seandainya Tuanku tidak berkeberatan, biarlah hamba menyelesaikan persoalan ini.”

“Oh, tidak. Tidak.“ potong Akuwu Tunggul Ametung, “kau tidak boleh berbuat sendiri. Apalagi memboroskan kekayaan istana Tumapel. Kau tahu Ken Dedes, aku sedang berpikir bagaimana aku dapat menjadikan istana ini menjadi istana yang terbaik dan termegah di seluruh Kediri. Aku ingin kau memiliki sejumlah perhiasan yang paling berharga dari Permaisuri-permaisuri Akuwu di seluruh Kediri. Bahkan di dalam persidangan Agung nanti, apabila kau mendapat kesempatan untuk pergi bersamaku, bersama-sama dengan Permaisuri dari daerah-daerah lain diwilayah Kediri, kau akan menjadi seorang Permaisuri yang paling cantik. Kau akan menjadi Permaisuri yang memiliki segala macam perhiasan melampaui yang lain, bahkan harus melampaui Permaisuri Maharaja Kediri.”

Tetapi perlahan-lahan Ken Dedes menggelengkan kepalanya, “Itu sama sekali tidak perlu bagi hamba Tuanku.”

“Oh, alangkah bodohnya kau. Aku ingin kau menjadi Permaisuri tercantik. Aku ingin kau menjadi Permaisuri yang paling kajen keringan.”

“Tetapi itu sama sekali bukan untuk hamba. Tetapi itu semata-mata hanya sekedar untuk kebanggaan Tuanku. Untuk kepentingan Tuanku sendiri.”

“Ken Dedes.”

“Apabila Tuanku berpikir untuk kepentingan hamba, maka biarlah hamba menentukan semuanya itu sendiri meskipun menurut pertimbangan-pertimbangan Tuanku.”

“Tidak. Tidak. Kau tidak dapat berbuat menurut kehendakmu. Aku adalah Akuwu Tumapel. Bukan kau.”

Terasa dada Ken Dedes menjadi bergelora. Tiba-tiba tumbuhlah keberanian di dalam dirinya untuk memaksakan kehendaknya. Desakan yang ada di dalam dirinya sudah tidak tertahankan lagi. Karena itu maka katanya,

“Benar Tuanku. Tuanku adalah Akuwu Tumapel. Tetapi ingatkah Tuanku, bahwa Tuanku pernah berkata kepada hamba, bahwa Tuanku telah menyerahkan apa saja yang Tuanku miliki kepada hamba? Bukankah itu berarti bahwa hambalah yang kini mempunyai kekuasaan atas segala-galanya, bahkan atas Tuanku Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Tuanku telah berkata, apapun yang ada di dalam istana, bahkan seluruh milik dan kekuasaan Tuanku telah Tuanku berikan kepada hamba. Tidak hanya satu kali, tetapi berulang kali Tuanku katakan. Sejak aku pertama-tama masuk ke dalam istana ini. Kemudian, beberapa saat menjelang perkawinan, dan pada saat-saat perkawinan itu hampir berlangsung, ketika hamba mohon penundaan karena tiadanya Kakang Mahisa Agni. Nah, apakah Tuanku akan ingkar?”

Wajah Tunggul Amctung tiba-tiba menjadi merah, semerah soga. Terhentak ia berdiri. Tubuhnya menjadi gemetar dan wajahnya menegang. Sesaat justru ia terbungkam. Tetapi terasa darahnya seolah-olah mendidih di dalam dirinya. Apalagi ketika dilihatnya Ken Dedes tidak lagi menundukkan kepalanya, bahwa wajah Permaisuri itu kini terangkat seolah-olah menantangnya. Tetapi justru karena itu maka sejenak Akuwu itu terdiam. Ia berdiri saja membeku dalam ketegangan. Tubuhnya bergetar oleh getaran jantung yang berdentangan di dalam dadanya. Dalam keadaannya itu Akuwu Tunggul Ametung telah kehilangan pengendalian diri. Siapa pun yang berada didekatnya, ia tidak dapat mempertimbangkannya lagi. Kemarahannya benar-benar telah memuncak sampai di kepalanya. Namun baru sejenak kemudian ia mampu berkata dengan suara yang terputus-putus,

“Kau, kau berani berkata begitu kepadaku he anak Panawijen. Aku adalah Akuwu Tunggul Ametung. Aku telah mengambil kau dari lembah kepapaan masuk ke dalam istana ini. Sekarang kau, minta suatu yang tidak akan mungkin dapat kau miliki. Kekuasaan atas Tumapel.”

Akuwu Tunggul Ametung terhenti sesaat justru karena kalimat-kalimat yang berdesakan ingin melontar keluar dalam waktu yang bersamaan. Namun saat itu ternyata telah dipergunakan oleh Ken Dedes yang justru menjadi semakin berani.

“Tuanku. Hamba tidak pernah minta apa pun dari Tuanku sebelum ini. Sebelum hamba membicarakan masalah Kakang Mahisa Agni. Tetapi Tuanku sendirilah yang memberikannya kepada hamba. Meskipun demikian hamba tidak akan pernah mempergunakan segala macam wewenang karena akibat pelimpahan kekuasaan atas Tumapel itu dari Tuanku, seandainya Tuanku sudi mendengarkan permohonan hamba yang barangkali tidak akan berarti apa-apa bagi Tuanku dan sama sekali tidak akan mengganggu waktu dan terlampau banyak mempergunakan pikiran. Tetapi Tuanku sama sekali tidak berminat membicarakan Kakang Mahisa Agni. Seandainya, Kakang Mahisa Agni dibunuh sekalipun oleh Kuda Sempana maka hamba tidak akan menyesal, apabila Tuanku telah berusaha meskipun tidak berhasil. Tetapi Tuanku sama sekali tidak menaruh minat apapun atas satu-satunya keluarga hamba, satu-satunya orang yang mengerti tentang diri hamba.”

“Omong kosong.” bentak Akuwu Tunggul Ametung, “aku telah mencoba untuk menjadi orang yang paling dekat padamu. Untuk mengerti keadaanmu dan untuk menjadi pegangan hidupmu. Tetapi agaknya kau telah menyia-nyiakannya.”

“Hamba akan berterima kasih seandainya Tuanku mencoba, hanya mencoba untuk mengerti keadaan hamba. Tetapi Tuanku tidak berbuat demikian, sehingga hamba terpaksa menyebut-nyebut pelimpahan kekuasaan yang pernah Tuanku ucapkan.”

“Tidak. Tidak. Kau memang anak yang tidak tahu budi. Kau memang anak yang terlampau tamak, he, perempuan Panawijen.”



“Cukup.” tiba-tiba suara Ken Dedes melengking tinggi mengatasi suara Akuwu Tunggul Ametung.

Sehingga Tunggul Ametung itupun terkejut. Tetapi bukan saja Akuwu Tunggul Ametung yang terkejut, namun Ken Dedes sendiri pun terkejut karenanya. Sejenak keduanya terbungkam. Namun sejenak kemudian Ken Dedes menundukkan kepalanya. Betapa ia mencoba bertahan, namun titik-titik air matanya berjatuhan satu-satu di atas pangkuannya. Namun titik air mata itu sama sekali tidak dapat mendinginkan jantungnya yang serasa membara. Betapa sakit hatinya mendengar kata-kata Akuwu Tunggul Ametung itu. Betapa pedihnya luka yang hampir sembuh itu kini terkorek kembali.

Di antara isak tangisnya, terdengar Ken Dedes berkata, “Ya Tuanku. Tuanku benar. Hamba memang hanya sekedar seorang perempuan yang papa. Hamba memang berasal dari sebuah padepokan kecil di Panawijen. Tetapi apakah atas kehendak hamba maka hamba masuk ke dalam istana ini? Sebagai manusia hamba mempunyai perasaan dan nalar. Seandainya hamba dapat menyaput perasaan hamba dengan gemerlapnya kckayaan istana ini, seandainya luka dihati hamba dapat disembuhkan dengan emas, intan berlian yang tidak hanya tiga pengadeg.

Seandainya, ya seandainya semua itu dapat mengobati hati hamba, maka hamba benar-benar seorang yang tidak tahu diri, orang yang tamak dan kerdil. Tetapi Tuanku, ketahuilah, bahwa semuanya itu tidak berarti apa-apa bagi luka dihati hamba. Tidak akan dapat menawarkan duka yang menghentak-hentak di dalam dada hamba. Yang dapat menjinakkan perasaan hamba saat itu satunya adalah kebaikan hati Tuanku. Tuanku aku anggap sebagai satu-satunya orang yang mengerti akan keadaan hamba, meskipun Tuanku pula yang telah melindungi Kuda Sempana mengambil hamba dari naungan orang tua hamba, sehingga orang tua hamba yang tinggal satu-satunya itu telah membuang diri dengan meninggalkan akibat yang parah bagi Panawijen. Ternyata orang tua hamba telah kehilangan keseimbangan berpikir karena hamba hilang dari padanya. Tetapi kini, ternyata hamba melihat Tuanku sebenarnya. Hamba melihat bahwa Tuanku tidak lebih dari manusia biasa.“

Ken Dedes berhenti sejenak untuk menelan ludahnya yang serasa menyumbat kerongkongan. Ketika ia mengangkat wajahnya, dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung berdiri membeku. Namun ketegangan di wajahnya masih membayangkan hatinya yang panas. Tetapi Ken Dedes sudah tidak menghiraukannya lagi. Bahkan ia berkata terus meskipun ia kemudian menundukkan kepalanya pula,

“Ternyata Tuanku adalah manusia biasa yang hanya dikuasai oleh pamrih. Hamba kini menduga bahwa bukan karena sesal, maka Tuanku melepaskan hamba dari tangan Kuda Sempana.”

“Ken Dedes.“ Akuwu Tunggul Ametung memotong, tetapi Ken Dedes berkata terus dengan nada tinggi.

“Tunggu Tuanku. Hamba belum selesai. Hamba hanya ingin mengatakan bahwa Tuanku adalah seorang manusia yang hanya melihat kepentingan diri. Tuanku hanya mengerti tentang keinginan Tuanku sendiri. Tuanku melepaskan hamba dari Kuda Sempana, Tuanku berjanji untuk melimpahkan segalanya kepada hamba, Tuanku memberikan bantuan kepada Kakang Mahisa Agni di Padang Karautan dan yang lain-lain ternyata hanya terdorong oleh nafsu Tuanku sendiri, supaya Tuanku dapat berbuat sekehendak hati Tuanku atas hamba.”

“Bohong, bohong.“ Akuwu Tunggul Ametung berteriak. Hampir-hampir ia lupa diri dan meloncat menampar pipi Ken Dedes yang putih dan basah oleh air mata. Tetapi untunglah bahwa ia masih mampu menahan dirinya meskipun dadanya serasa hampir meledak. Dengan lantangnya ia berkata dalam nada yang tinggi hampir melengking. “Oh, Ken Dedes. Kau anggap Mahisa Agni itu manusia yang paling utama di dunia ini sehingga kau bersedia mengorbankan segalanya untuknya. Kau anggap bahwa persoalannya adalah persoalan yang maha penting, melampaui persoalanmu sendiri sehingga hampir-hampir kau korbankan dirimu sendiri untuknya? Ken Dedes, apakah engkau tidak menyadari bahwa kini kau berhadapan dengan Akuwu Tunggul Ametung yang berkuasa tanpa batas di Tumapel atas nama Maharaja Kediri.”

“Hamba mengerti Tuanku.“ jawab Ken Dedes. Meskipun matanya telah menjadi basah oleh air mata, tetapi kini ia menengadahkan wajahnya, “Tetapi yang penting bagi hamba, bukanlah terlepasnya Kakang Mahisa Agni.“ Suara Ken Dedes menjadi bergetar karena hentakan jantungnya di dalam dada, “Sudah hamba katakan, bahwa seandainya Kakang Mahisa Agni terbunuh sekalipun hamba tidak akan menyesal apabila Tuanku telah berusaha berbuat sesuatu.”

“Oh begitu.” potong Tunggul Ametung, “Baik. Baik. Besok aku kerahkan seluruh pasukan Tumapel untuk mencari Kebo Sindet. Aku tidak akan gagal. Aku tidak perlu lagi mempersoalkan seperti berulang kali kau katakan, bahwa cara itu akan berbahaya bagi keselamatan Mahisa Agni.”

“Itu lebih baik dari pada Tuanku tidak berbuat apapun.“ Ken Dedes menyahut, “tetapi apa yang Tuanku lakukan itu sama sekali tidak bersungguh-sungguh. Tuanku hanya melepaskan kemarahan dan luapan-luapan kejemuan saja.“ Ken Dedes berhenti sejenak. Keringatnya telah memenuhi punggungnya sehingga kembannya menjadi kuyup seperti kainnya menjadi kuyup oleh air mata. “Yang penting bagi hamba Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, yang kini telah hamba ketahui adalah, bahwa Tuanku sama sekali tidak mencoba mengerti perasaan hamba. Tuanku tidak memperhatikan kepahitan perasaan hamba selama ini. Baik Tuanku sebagai Akuwu Tumapel, maupun sebagai Tuanku Tunggul Ametung, suami hamba.”

Darah Akuwu Tunggul Ametung serasa benar-benar telah mendidih. Tidak pernah ia berhadapan dengan seseorang yang berani menentang matanya apabila ia sedang marah, apalagi menjawab kata-katanya sepatah dengan sepatah. Tetapi anak Panawijen yang telah dipungutnya dari kepapaan itu berani berbuat demikian terhadapnya. Ia berani menentang matanya dan berani membantah kata-katanya sepatah dengan sepatah. Betapa luapan kemarahannya tidak tertahankan lagi. Matanya telah menjadi merah, dan giginya menjadi gemeretak. Tangannya bergetar seakan-akan istana ini akan diruntuhkannya. Dan yang berada di hadapannya itu tidak lebih dari perempuan Panawijen. Perempuan padesan.

Tiba-tiba saja Akuwu Tunggul Ametung kehilangan segala macam pertimbangannya. Ia tidak lagi dapat mengekang diri. Ia tidak lagi melibat bahwa yang duduk dihadapannya itu hanyalah sekedar seorang perempuan, namun perempuan itu adalah Permaisurinya sendiri. Dalam kegelapan hati, maka Akuwu itu melangkah maju. Tangannya sudah bergetar. Hampir saja ia berteriak dan menunjuk hidung Ken Dedes, dan mengucapkan umpatan yang paling menyakitkan hati. Tetapi langkah itu tiba-tiba terhenti. Wajahnya yang tegang menjadi semakin tegang. Sejenak ia berdiri mematung, namun kemudian Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa itu melangkah surut. Tubuhnya kian bergetar dan keringat dinginnya semakin banyak mengalir dipunggungnya.

Ken Dedes yang duduk dengan gemetar, karena kemarahan dan kekecewam yang membara didadanya, tiba-tiba menjadi heran. Ia sudah pasrah atas apa saja yang akan dilakukan Akuwu itu atasnya, bahkan dibunuh sekalipun, la tidak akan menghindar. Ia hanya ingin Akuwu Tunggul Ametung mendengar perasaan yang selama ini menyesak di dadanya. Dan itu sudah ditumpahkannya. Ia sudah cukup puas, meskipun akibatnya akan sangat berbahaya baginya. Ia sudah meredupkan matanya ketika Akuwu Tunggul Ametung melangkah maju, meskipun dadanya tetap tengadah. Ia tidak perlu melihat tangan Akuwu yang mungkin akan mencengkam lehernya.

Tetapi tiba-tiba langkah Akuwu itu tertegun. Bahkan kemudian ia melihat Akuwu Tunggul Ametung itu melangkah surut. Setapak demi setapak. Wajahnya yang membara segera berubah menjadi pucat sepucat mayat meskipun masih dalam ketegangan. Matanya yang membelalak seolah-olah akan meloncat dari pelupuknya. Dengan gemetar Akuwu itu memalingkan wajahnya. Tangannya seolah-olah ingin menolakkan sesuatu yang meloncat dari wajah Ken Dedes yang keheranan.

“Tidak. Tidak.“ teriak Akuwu itu. Ken Dedes menjadi semakin heran. Akuwu itu melangkah semakin jauh dari padanya. “Aku tidak akan berbuat apa-apa. Aku tidak akan berbuat apa-apa.”

Ken Dedes yang keheranan itu kemudian menjadi cemas. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Tetapi ia melihat Akuwu itu seakan-akan berada di dalam ketakutan yang amat sangat. Akuwu Tunggul Ametung yang perkasa. Yang tidak pernah gentar melihat lawan yang betapapun kuatnya. Bahkan seorang yang telah mampu membunuh seekor gajah yang sedang mengamuk hanya seorang diri. Betapa kemarahan dan kekecewaan membakar dada Ken Dedes, namun ia menjadi sangat cemas melihat keadaan Akuwu Tunggul Ametung. Apabila terjadi sesuatu atasnya, maka ialah yang akan bertanggung jawab. Di dalam ruangan itu hanyalah ada mereka berdua saja. Sedangkan para emban dan pelayan, pasti ada yang mendengar pertengkaran mereka. Tetapi lebih daripada itu, bagaimanapun juga Akuwu Tunggul Ametung itu adalah suaminya.

Karena itu, maka perlahan-lahan ia berdiri. Selangkah ia maju sambil berdesis, “Tuanku. Tuanku. Kenapakah Tuanku?”

Akuwu Tunggul Ametung itu justru menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya menjadi gemetar dan keringat dinginnya menjadi semakin banyak mengalir.

“Tuanku.” terdengar suara Ken Dedes lirih.

“Tidak. Tidak Ken Dedes, aku tidak akan berluat apa-apa atasmu.”

“Ya, Tuanku.“ sahut Ken Dedes, “hamba tahu. Tuanku tidak akan berbuat apa-apa atas hamba. Tetapi kenapa Tuanku menjadi seolah-olah ketakutan.”

“Hentikan Ken Dedes. Hentikan.”

Ken Dedes menjadi semakin heran. Kini ia berdiri di belakang Akuwu Tunggul Ametung yang masih saja menutupi wajahnya yang pucat dengan kedua tangannya.

“Ampun Tuanku. Apakah yang sudah hamba perbuat? Hamba tidak berbuat apa-apa seperti Tuanku juga tidak akan berbuat apa-apa atas hamba.”

“Oh.“ Akuwu Tunggul Ametung mencoba menenangkan hatinya yang seolah-olah dicengkam oleh kecemasan yang sangat. “Aku melihatnya lagi. Aku melihatnya lagi. Lebih dahsyat dari yang pernah aku lihat. Terasa betapa panasnya. Kepalaku hampir terbakar olehnya.”

“Apakah yang Tuanku lihat?“ bertanya Ken Dedes yang menjadi semakin heran pula.

Akuwu Tunggul Ametung menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkannya wajahnya. Tetapi ia masih belum berani berpaling, “Panas sekali. Panas sekali.”

“Apakah yang panas Tuanku.”

“Wajahku.”

“Oh.“ Ken Dedes berkata lembut, “mungkin Tuanku menjadi sangat marah. Tuanku telah dibakar oleh perasaan sendiri. Seperti kebanyakan orang yang sedang diamuk oleh kemarahan, seperti hamba pula, maka wajah ini akan menjadi panas.”

Akuwu Tunggul Ametung tidak segera menyahut. Tetapi jawaban Ken Dedes itu mengherankannya pula. Dengan demikian ia mendapatkan kesimpulan, bahwa Ken Dedes sama sekali tidak sengaja berbuat sesuatu.

“Lalu bagaimanakah hal itu dapat terjadi?“ pikirnya.

Perlahan-lahan Akuwu Tunggul Ametung berpaling. Ia melihat Ken Dedes berdiri tegak dibelakangnya. Ken Dedes seperti yang selalu dilihatnya. Seperti yang pernah dilihatnya di Panawijen, seperti yang sehari-hari dilihatnya di istana. Seperti yang baru saja dibentak-bentaknya. Tetapi yang tiba-tiba saja Permaisuri itu seolah-olah menjadi orang yang lain, yang menakjubkan menurut penglihatannya. Anak Panawijen, puteri seorang pendeta itu seolah-olah berubah menjadi gumpalan cahaya yang menyilaukannya. Bahkan terasa betapa panasnya.

Akuwu Tunggul Ametung pernah melihat dari tubuh Ken Dedes itu memancar cahaya yang silau. Tetapi sesaat tadi ia melihat bukan saja sekedar cahaya yang silau, yang memancar dari bagian-bagian tubuhnya. Kali ini ia melihat Ken Dedes itu dalam keseluruhannya telah memancarkan cahaya yang menyilaukan, bahkan terasa panas di wajahnya. Akuwu Tunggul Ametung kini berdiri termangu-mangu. Ken Dedes yang kini adalah Ken Dedes Permaisurinya. Yang memandangnya dengan penuh keheranan namun juga kecemasan.

“Apakah yang telah terjadi Tuanku?“ bertanya Ken Dedes pula.

Akuwu Tunggul Ametung menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mengambil kesimpulan bahwa Ken Dedes sendiri tidak menyadari apa yang telah terjadi dengan dirinya. Karena itu maka Akuwu itupun menjawab,

”Tidak apa-apa. Aku hampir-hampir lupa diri dan berbuat di luar kesadaran. Maafkan aku.”

“Tuanku tidak bersalah. Tuanku adalah seorang yang paling berkuasa di Tumapel. Tuanku dapat berbuat apa saja sekehendak Tuanku.”

Akuwu itu tidak menjawab. Tetapi ia tidak dapat mengingkari penglihatannya. Ia sadar bahwa Ken Dedes memang bukan sekedar seorang anak yang dipungutnya dari kepapaan. Seorang anak padepokan yang kecil. Akuwu itu pernah mendengar dari seseorang tua bahwa orang yang bercahaya dari dalam dirinya, adalah seorang yang linuwih. Seorang yang dari dalam dirinya seolah-olah memancar api yang paling panas dan menyorotkan sinar yang paling terang, ia adalah seorang pilihan yang kelak akan menurunkan orang-orang besar.

“Apakah Ken Dedes juga akan dapat menurunkan orang besar?“ berkata Akuwu itu di dalam hatinya, “lebih besar dari aku? Bahkan sebesar Raja Kediri?” Dada Tunggul Ametung menjadi berdebar-debar.

Jika demikian, maka Ken Dedes harus merasa dirinya berbahagia di istana ini. Ia harus menjadi seorang Permaisuri yang dapat memberi keturunan kepadaku. Anakku akan mewarisi anugerah yang mengalir di tubuh Ken Dedes.

Karena itu maka tiba-tiba Tunggul Ametung itu berkata, “Ken Dedes. Baiklah. Baiklah aku akan berusaha untuk melepaskan Mahisa Agni.”

Ken Dedes terkejut mendengar keputusan Akuwu Tunggul Ametung yang tiba-tiba itu. Sejenak ia berdiri saja terpaku di tempatnya. Karena jantungnya yang berdebar-debar terlampau cepat, maka Permaisuri itu seolah-olah menjadi beku di tempatnya.

“Ken Dedes.“ berkata Akuwu itu, “kau dengar? Aku akan berusaha melepaskan Mahisa Agni. Tetapi aku harus berhati-hati supaya usaha itu tidak gagal karena keingkaran. Baik Kebo Sindet yang mengambil Mahisa Agni, maupun Jajar yang gemuk itu.”

Ken Dedes tidak segera menyahut. Ia melangkah surut dan perlahan-lahan duduk ditempatnya kembali. Terasa sesuatu kini bergetar di dalam dadanya. Ia merasa gembira atas keputusan itu, tetapi ia tidak dapat menyingkirkan perasaan kecewa yang telah mencengkam jantungnya. Keputusan Akuwu tiba-tiba saja berubah itu menumbuhkan berbagai persoalan di dalam diri Ken Dedes. Apalagi ia menyaksikan sikap Akuwu yang tidak wajar, seolah-olah orang yang perkasa itu menjadi ketakutan.

“Apakah yang membuatnya ketakutan?“ pertanyaan itu selalu timbul saja di dalam dirinya, “agaknya ketakutannyalah yang telah memaksanya untuk merubah keputusan. Bukan karena kesadaran di dalam dirinya bahwa seharusnya ia mengerti tentang perasaanku, perasaan seorang isteri.”

Terasa perasaan kecewa masih saja selalu mengganggu Permaisuri itu. Meskipun ia tidak tahu, apakah yang menyebabkan Akuwu menjadi seolah-olah ketakutan, tetapi dengan demikian maka Ken Dedes masih saja menganggap bahwa Akuwu itu berbuat demikian karena kepentingan diri semata-mata. Untuk menghindarkan dirinya dari ketakutan yang agaknya sangat mengganggunya. Tetapi seharusnya ia tidak menolak kesempatan itu. Apa pun yang menyebabkannya, namun setiap kesempatan untuk melepaskan Mahisa Agni harus diterimanya sebaik-baiknya. Ken Dedes itu kemudian mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata,

“Bagaimana Ken Dedes. Apakah kau mendengar bahwa aku akan berusaha melepaskan Mahisa Agni?”

Ken Dedas menganggukkan kepalanya, jawabnya, “Hamba Tuanku. Hamba mengucapkan terima kasih atas kesempatan itu.”

“Tetapi aku tidak akan berbuat tergesa-gesa. Aku akan melihat setiap kemungkinan. Aku harus yakin bahwa aku tidak berada di jalan yang salah.”

“Hamba Tuanku. Hamba kira Tuanku tidak akan kekurangan cara untuk berusaha membebaskan Kakang Mahisa Agni.”

“Ya, ya. Aku akan berusaha.”

“Terima kasih Tuanku, hamba mengharap bahwa usaha itu akan segera berhasil. Agaknya orang-orang yang mengambil Kakang Mahisa Agni itu sudah tidak dapat bersabar lagi menunggu.”

“Ya ya. Aku akan berbuat secepat-cepatnya.“ berkata Akuwu itu kemudian, “Nah, sekarang pergilah tidur. Beristirahatlah supaya hatimu menjadi tenang. Kau adalah seorang Permaisuri. Kau adalah bulan di langit yang gelap, bagi Tumapel. Kalau kau menjadi suram, maka Tumapel menjadi suram. Kalau kau menjadi cerah, maka Tumapel akan menjadi cerah.”

“Kalau Tuanku telah melenyapkan awan yang menyaput bulan, maka bulan akan menjadi selalu cerah.”

“Ah.“ Akuwu Tunggul Ametung berdesah. “Baiklah, baiklah.”

Sejenak kemudian maka Permaisuri itupun segera kembali ke biliknya. Di luar biliknya, duduk emban tua pemomongnya. Ketika emban itu melihat Ken Dedes mendatanginya, maka dengan tergesa-gesa diusapnya air yang mengambang di matanya.

“Kenapa kau bibi?” bertanya Ken Dedes, “apakah kau menangis?”

“Tidak Tuan Puteri. Hamba tidak menangis.”

“Tetapi pipimu basah bibi.”

Emban tua itu menggeleng, “Tidak Tuan Puteri. Hamba hanya terlampau mengantuk. Hamba tidak tahu, apakah sebabnya.”

“Kau mengelak bibi. Apakah kau mendengar pertengkaranku dengan Tuanku Akuwu, dan kau menangis karenanya? Lalu kau mendahului aku kemari?” Emban tua itu menundukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.

Ken Dedespun kemudian tidak bertanya lagi. Ia langsung masuk ke dalam biliknya dan emban itupun mengikutinya di belakangnya. Kemudian dibantunya Permaisuri itu melepaskan pakaiannya untuk berganti dengan pakaian tidurnya.

“Akuwu telah menyatakan kesediaannya, bibi.” berkata Ken Dedes itu kemudian, “tetapi aku belum tahu, apa yang akan dikerjakannya?” Emban itu tidak menyahut. Tetapi ia tidak berani mengangkat wajahnya. “Mudah-mudahan Akuwu berhasil.” desis Ken Dedes kemudian. Tetapi emban tua itu tidak pula menjawab. Ketika Ken Dedes berpaling ke arahnya dilihatnya setitik air jatuh di lantai. “Kau menangis lagi bibi?” Ken Dedes menjadi heran.

Emban tua itu tidak dapat ingkar lagi. Titik-titik air telah merayap dipipinya yang sudah berkerut-merut.

“Kenapa kau menangis?”

“Hamba terharu mendengar keputusan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, Tuan Puteri.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Bagi Ken Dedes, emban itu adalah seorang yang bergaul dengan Mahisa Agni sejak anak muda itu masih kanak-kanak. Karena itu maka pasti telah tumbuh ikatan batin pula di antara keduanya. Di antara Mahisa Agni dan emban tua itu. Karena itu dibiarkannya saja emban itu menitikkan air matanya, sambil membenahi pakaian yang baru dilepasnya. Ketika malam menjadi semakin malam, maka emban itu pun meninggalkan bilik Ken Dedes. Permaisuri itu berbaring diatas pembaringannya. Tetapi matanya seakan-akan tidak mau terpejam. Angan-angannya masih saja berkeliaran kemana-mana, Mahisa Agni, Padang Karautan, Akuwu Tunggul Ametung dan orang-orang yang telah menyembunyikan Mahisa Agni.

Namun karena letihnya, maka semakin lama maka mata yang bulat itu pun menjadi semakin redup. Bayangan cahaya pelita di dinding ruangan itupun tampaknya menjadi semakin kabur. Akhirnya Ken Dedes itupun tertidur. Dihari berikutnya Ken Dedes menunggu saja dengan cemas, apakah yang sudah dilakukan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak berani bertanya lagi, seolah-olah ia tidak percaya akan kesanggupan Akuwu. Tetapi Akuwu tidak menyebut-nyebutnya lagi. Akuwu tidak mengatakan kepadanya, usaha apakah yang sudah dilakukan. Meskipun demikian Ken Dedes masih mengharap bahwa Akuwu telah berbuat dengan diam-diam.

Dihari itu Ken Dedes hampir tidak keluar dari biliknya. Ia duduk saja dengan hati yang berdebar-debar. Emban pemomongnya mengawaninya dengan telaten, meskipun sebenarnya hatinya sendiri dicengkam oleh kecemasan yang dahsyat. Namun, apabila ia selalu berada di samping Ken Dedes, maka ia mengharap bahwa ia akan ikut serta mendengar perkembangan selanjutnya. Tetapi hari itu Akuwu Tunggul Ametung sama sekali tidak mengatakan apapun tentang usahanya melepaskan Mahisa Agni. Meskipun demikian Ken Dedes masih tetap berharap, kalau tidak hari ini, besok atau lusa Akuwu pasti akan berbuat sesuatu. Mungkin Akuwu merasa tidak perlu lagi minta pertimbangan-pertimbangan dari padanya. Mungkin Akuwu akan mengejutkannya, dengan membawa kepadanya Mahisa Agni yang sudah terbebaskan.

“Tetapi mungkin...” Ken Dedes tidak berani mendengar suara hatinya sendiri. Dicobanya untuk mengusir kecemasan yang menyesak di dalam dirinya. Tetapi ia tidak pernah berhasil. “Ada juga baiknya aku tidak tercengkam oleh kegelisahan ini.” katanya di dalam hati, “dengan kegelisahan, kecemasan dan prasangka-prasangka, Kakang Mahisa Agni tidak akan dapat tertolong.”

Tetapi sampai saat matahari lingsir ke Barat dan kemudian bertengger di atas punggung bukit, Akuwu Tunggul Ametung tidak mengatakan apapun. Dan Ken Dedes masih harus bersabar menunggu sampai besok.

Di pertamanan Jajar gemuk yang telah berhasil menghubungi Permaisuri itu pun menunggu dengan gelisahnya. Ternyata Ken Dedes sama sekali tidak turun ke taman. Bahkan embannya pun sama sekali tidak ada yang diutusnya untuk menyampaikan pesan apapun kepadanya.

“Eh.” desis Jajar yang gemuk itu, “kenapa Permaisuri tidak memanggil aku atau mengirimkan pesannya kepadaku.”

Ketika kawan-kawannya telah siap pergi meninggalkan taman, ia masih saja duduk di bawah pohon sawo kecik sambil menahan kegelisahannya. Ia sama sekali tidak ingin meninggalkan taman itu sebelum dapat bertemu dengan Ken Dedes, ia sudah ditelan oleh mimpinya, perhiasan yang tidak ternilai harganya.

“He.” sapa temannya yang kemarin akan berkelahi dengan Jajar yang gemuk itu, “apakah kau tidak pulang?”

Jajar yang gemuk itu menggeleng. “Tidak.” dan diluar sadarnya, terdorong oleh kesombongannya ia berkata, “Aku menunggu Permaisuri.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar