“Biarlah aku pikirkan besok. Tetapi pada dasarnya, seorang dari kawan-kawan adikku akan memegang peranan sebagai kawan Kuda Sempana. Yang lain bersembunyi. Kalau tebusan itu datang, maka segera harus disergap.”
“Heh.” Jajar itu menarik-nafas dalam-dalam. Sama sekali tidak dihiraukannya kakinya yang lecet tersandung batu. Jajar itu tidak merasa pula ketika kakinya menyentuh duri kemarung.
“Dimana hari ini kawan Kuda Sempana itu akan menemui aku?” desisnya. Sekali-sekali Jajar itu berpaling. Tetapi ia tidak melihat Kuda Sempana dan kawannya. “Apakah aku pulang terlampau siang, sehingga keduanya tidak berani menampakkan dirinya?” gumamnya, “tetapi aku harus bertemu hari ini. Tidak ada kesempatan lagi. Besok adalah hari keempat. Kedua setan itu harus lenyap. Lusa hari yang terakhir, hari yang dijanjikan oleh Permaisuri. Hari yang menentukan perubahan hidupku. Dan aku akan segera menjadi kaya raya.”
Ketika Jajar itu sekali lagi berpaling, tampaklah keningnya menjadi berkerut-merut. Ia melihat dua orang berjalan searah dengan langkahnya. Lambat-lambat, seolah-olah membuat jarak yang tetap dari padanya.
Jajar itu menjadi curiga. “Siapakah mereka? Apakah mereka sekedar orang yang lewat saja di jalanan ini, ataukah mereka orang-orang yang sengaja mengikuti aku?” Hati Jajar yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. “Aku harus berhenti. Siapa pun orang itu harus aku hadapi. Lebih baik sekarang dan berhadapan daripada aku diintainya dan tiba-tiba saja disergapnya.”
Jajar itu berhenti. Ia melangkah menepi dan bersendar pada sebatang kayu. Tetapi tiba-tiba ia melihat dari arah lain, seorang laki-laki berjalan berlawanan arah dengan kedua orang yang disangka mengikutinya. Kecurigaannya kian bertambah.
“Huh, ternyata mereka telah mencegat aku dari arah yang berlawanan pula selain kedua orang yang telah mengikuti aku.”
Jajar itu tiba-tiba meraba lambungnya. Ketika tanganya menyentuh hulu kerisnya yang kecil, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.
“Mereka akan mengantarkan nyawa mereka, siapa pun mereka itu. Tetapi mereka pasti bukan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Semakin lama kudua orang yang datang dari arah belakang, dan seorang dari arah lain itu menjadi semakin dekat. Tetapi Jajar itu kemudian mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang itu telah mengenalnya. Keduanya adalah prajurit-prajurit Tumapel. Karena itu maka ia mengumpat perlahan,
“Setan alas. Agaknya prajurit-prajurit Tumapel yang berkeliaran di sini. Tetapi mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian keprajuritannya?” Jajar itu kemudian berpaling ke arah yang lain, seorang yang berjala perlahan-lahan kearahnya, “Tetapi orang itu, aku belum mengenalnya.”
Ketika kedua prajurit itu menjadi semakin dekat, maka Jajar itu maju selangkah. Tetapi wajahnya sudah tidak lagi setegang sebelumnya. Apalagi ketika ia melihat prajurit itu tertawa sambil menyapanya, “He, apakah kau menunggu Kami?”
“Kalian mengejutkan aku. Aku sangka kalian orang-orang asing yang mengikuti aku?”
“He.” kedua prajurit itu terkejut, “kenapa kau merasa dirimu diikuti oleh orang asing, Apakah kau mempunyai persoalan.”
“Oh.” Jajar itu tergagap, “Tidak. Tidak apa-apa.”
“Tetapi kenapa kau terlampau bercuriga?”
Jajar itu tidak menjawab. Ketika orang yang berjalan kearah yang berlawanan itu lewat dihadapannya, maka sambil berbisik ia bertanya kepada kedua prajurit itu, “Kau kenal orang itu.”
Kedua prajurit itu berpaling, mengawasi orang yang baru saja lewat itu pada punggungnya. Hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mereka, “Tidak. Aku belum kenal.”
“Kenapa ia berusaha menjumpai aku disini?”
“Siapa?”
“Orang itu. Mungkin ia akan berbuat sesuatu seandainya kalian tidak di sini.”
“Ah.” salah seorang dari kedua prajurit itu berdesah, “kau terlampau berprasangka. Kenapa kau tampaknya begitu gelisah dan gugup. Bukankah yang kau lewati ini jalan umum? Setiap orang dapat saja melewati jalan ini seperti kau dan aku. Kenapa kau menjadi bingung dan curiga. Lihat, itu seorang lagi lewat. O, ia tidak berjalan ke arah ini, ia berbelok ke kanan masuk ke dalam padesan. Dan lihat di belakang kita masih ada orang lewat meskipun tidak menuju kemari pula. Kenapa kau mencemaskannya?”
Jajar gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. “Ya, ya. Mereka hanya orang-orang lewat.“ Jajar itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba, “Tetapi kenapa kau tidak mengenakan pakaian keprajuritan? Kain bang, setagen hijau dan ikat pinggang kulit berwarna kuning, tidak menyandang pedang atau tombak, meskipun celana yang kau pakai itu celana keprajuritanmu?”
Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Lalu keduanya bersama-sama tertawa pendek. Salah seorang dari mereka menjawab sambil mengamat-amati pakaiannya sendiri.
“Kau terlampau banyak memperhatikan orang lain. Baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Sekarang kami, aku dan kawanku ini sedang tidak bertugas. Kami mendapat izin beristirahat seminggu di rumah. Itulah sebabnya kami diperkenankan memakai pakaian kami sendiri, bukan pakaian keprajuritan.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia mengamat-amati pakaian kedua prajurit itu. Dan Jajar itu pun bertanya pula, “Tetapi celanamu adalah celana keprajuritan.”
Suara tertawa kedua prajurit itu kian mengeras. Bahkan salah seorang dari mereka tidak dapat lagi menahan air matanya yang membasahi pelupuknya. “Kau lucu sekali.” katanya. “Baiklah, pertanyaan itu pun akan aku jawab. Aku tidak malu seandainya kau tahu keadaan kami sebenarnya. Aku tidak mempunyai celana yang lain yang pantas. Itulah sebabnya aku mempergunakan celana ini untuk berjalan-jalan.”
“Kenapa kalian berdua? Apakah kalian berdua tidak memiliki celana berbareng seperti berjanji? Aku adalah seorang Jajar. Seorang abdi yang paling rendah. Juga dibandingkan dengan kalian prajurit yang paling kecil, seharusnya aku masih lebih kecil lagi. Tetapi aku mempunyai celana selain celana peparing dari istana.”
“Oh.” prajurit yang lain menganguk-angguk, “kau benar. Tetapi kau harus tahu sebabnya. Kau tidak mempunyai anak dan isteri. Tetapi kami? Anakku lima dan anak kawanku ini tiga. Tetapi kenapa kau terlampau meributkan pakaian kami?”
“Tidak apa-apa.” Jajar itu menggeleng. Tetapi tiba-tiba tatapan matanya tersangkut kepada seseorang di kejauhan. Dan tiba-tiba pula ia berdesis, “Siapa itu?”
“He.” kedua prajurit itu terkejut, “siapa saja apa pedulimu. Kenapa kau tampak bingung dan gelisah?”
“Tidak apa-apa.”
“Dan kau akan tetap berdiri saja di situ? Apakah kau tidak akan pulang.”
“Aku memang akan pulang.”
“Marilah kita berjalan bersama-sama.” ajak prajurit itu.
“Pergilah dahulu. Aku berjalan kemudian.”
Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun kemudian minta diri untuk berjalan mendahului. Meskipun demikian ketika mereka berpaling, Jajar itu masih bertanya,
“Kenapa kalian berpaling?”
Kedua prajurit itu tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah suara tertawa mereka melambung dibawa angin. Namun terdengar Jajar yang gemuk itu mengumpat, “Setan alas. Apa kerja prajurit-prajurit itu berkeliaran di sini? Bukankah rumahnya di ujung lain dari kota ini?”
Tetapi kedua prajurit itu tidak mendengar. Keduanya berjalan terus meskipun sekali-sekali mereka masih juga berpaling. Ketika kedua prajurit itu telah menjadi kian jauh, Jajar itupun meneruskan langkahnya. Tetapi setiap kali ia melihat seseorang lewat di jalan itu pula, hatinya menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia selalu menengok ke belakang, seolah-olah takut diikuti oleh seseorang yang akan berbuat jahat kepadanya. Kegelisahan Jajar itu menjadi semakin tajam, seperti matahari yang semakin menurun. Cahayanya yang kemerah-merahan memancar menyebar dilangit yang jernih.
Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu bergumam, “Aku harus bertemu dengan kawan Kuda Sempana itu hari ini. Tetapi kenapa ia tidak menjumpai aku seperti biasanya?”
Dan Jajar yang kemarin mengumpat-umpat karena Kebo Sindet menemuinya di perjalanan itu, kini justru mengharap dapat bertemu dimanapun. Tetapi hampir ia meloncat ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya, dekat sekali di sampingnya ketika ia memasuki padesan.
“O, kau terlampau siang pulang hari ini Ki Sanak.”
Darahnya tersirap ketika ia melihat dua orang duduk di atas batu tepat di tikungan. Ia tidak segera dapat mengenal wajah keduanya, karena keduanya memakai tudung kepala, yang dibuat dari anyaman daun kelapa, hampir menutup seluruh wajahnya. Tudung kepala yang sering dipergunakan diwaktu hujan meskipun dalam ukuran yang kecil. Tetapi suara yang mempunyai ciri tersendiri itulah yang langsung memperkenalkannya kepada keduanya.
“Kaukah itu?“ Jajar itu hampir berteriak.
“Kenapa kau berteriak?“ bertanya Kebo Sindet.
“Kalian mengejutkan aku.”
Kebo Sindet dan Kuda Sempana segera berdiri. Dengan wajahnya yang beku Kebo Sindet memandangi Jajar yang gemuk itu, seolah-olah baru kali ini dilihatnya. Dan Jajar itu menjadi kian gelisah sehingga terloncat pertanyaannya.
“Kenapa kau heran melihat aku?”
Kebo Sindet itu menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi kau tampaknya terlalu gugup dan gelisah.”
“Siapa yang bilang?”
“Baiklah. Kau tidak gugup dan gelisah. Tetapi bagaimana kabarnya Permaisuri itu?”
Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya seolah-olah mencari seseorang. Tetapi ia tidak melihat orang lain. Meskipun demikian dicobanya untuk menembus rimbunnya dedaunan dan gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Tetapi ia tidak melihat seseorang.
“Katakan.“ desak Kebo Sindet. “Aku hampir kehilangan kesabaran. Kau sudah kehilangan tiga hari dengan hari ini. Waktumu tinggal besok dan lusa.”
Jajar itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba mencari-cari dengan penuh kecurigaan, kalau-kalau ada orang lain yang mendengarnya.
“Katakan.” sekali lagi Kebo Sindet mendesak, “jangan takut didengar orang lain. Bukankah ini bukan rahasia lagi?”
“Tetapi.” Jajar itu menjawab terbata-bata, “ kita berbicara di jalan yang mungkin dilewati orang-orang lain yang sama sekali tidak berkepentingan.”
“Aku tidak mencemaskannya.” sahut Kebo Sindet, “siapa pun yang mendengar dan mengetahui pembicaraan ini, aku tidak berkeberatan.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Baginya kata-kata Keko Sindet itu terdengar sangat aneh. Seharusnya ia merahasiakan dirinya dari setiap pembicaraan. Semakin banyak orang yang mengenalnya, maka bahaya baginya menjadi semakin besar.
Agaknya Kebo Sindet dapat meraba perasaan Jajar yang gemuk itu, maka katanya, “Jangan cemas. Mahisa Agni masih berada di tanganku. Sesuatu yang terjadi atasku, maka nasib Mahisa Agni akan menjadi terlampau buruk. Aku berjanji dengan kau sampai lusa. Apabila di pagi harinya aku tidak kembali, maka orang-orangku akan segera berbuat sesuatu atas Mahisa Agni.”
Dada Jajar itu berdesir. Tetapi tiba-tiba ia menggeram meskipun hanya di dalam hati, “Aku tidak peduli. Besok Kebo Sindet harus sudah binasa. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi atas Mahisa Agni. Biar saja ia dibunuh, ia bukan sanak, bukan kadangku.”
“Kenapa kau diam seperti sudah menjadi pikun. Apakah kau tidak bertemu lagi dengan Permaisuri?” bertanya Kibo Sindet.
“Hari ini aku telah bertemu.” berkata Jajar yang gemuk itu sambil memandang berkeliling. Ia masih saja bercuriga. Di jalan ini ia bertemu dengan dua orang prajurit. Dengan orang-orang asing yang belum dikenal dan orang-orang yang seakan-akan hilir mudik mengawasinya.
“Ternyata kau penakut.” Kebo Sindet hampir membentak, “benar jalan ini adalah jalan umum. Setiap orarig dapat saja lewat dijalan ini. Bagimu sebenarnya lebih baik. Tidak akan ada orang yang mencurigaimu karena kau bertemu dengan seseorang dan berbicara denganmu dijalan yang ramai ini. Ayo, katakanlah.”
Jajar itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dengaa hati-hati dikatakannya apa yang dikehendaki oleh Permaisuri. Dibatas waktu yang diberikan, Permaisuri akan mengirim orang untuk menyerahkan perhiasan itu, tetapi dengan syarat, Mahisa Agni harus dibawa serta. Jajar itu menjadi ngeri, dan seluruh bulunya tegak berdiri ketika ia melihat sorot mata Kebo Sindet. Meskipun wajahnya masih saja membeku, tetapi mata itu seolah-olah menjadi merah membara.
“Begitukah kehendak Permaisuri.”
Tanpa sesadarnya Jajar itu mengangguk dan berdesir, “Ya.”
“Dan kau tidak menjelaskan bahwa aku tidak akan bersedia menerima syarat itu?”
“Sudah aku katakan.”
“Kenapa syarat itu masih juga diajukan kepadaku?” mata Kebo Sindet menjadi semakin menyala, “Aku tidak mau masuk ke dalam wuwu. Aku bukan seorang anak yang dungu. Kau tahu, bahwa dengan demikian kau pun tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin kau akan ikut serta ditangkap bersama aku setelah Mahisa Agni itu lepas bersama tebusan yang akan dirampasnya kembali. Tumapel mempunyai prajurit yang tidak terhitung jumlahnya. Apakah kita akan dapat melawan.”
“Sudah aku katakan kepada Permaisuri.”
“Tetapi ia tidak mau mendengarkan begitu? Baiklah. Kalau demikian persoalan kita sudah selesai. Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi.”
“Tunggu.” Jajar itu benar berteriak.
“Apa lagi.”
“Sebenarnya aku sudah membuat perhitungan, bahwa kau pasti akan menolak. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah Permaisuri. Apa yang aku lakukan hanyalah sekedar sebuah permainan.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Matanya yang terpancang diwajahnya yang beku memandangi Jajar itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat jantungnya.
“Apa maksudmu?” desis Kebo Sindet itu kemudian.
Keringat dingin telah membasahi segenap tubuh Jajar yang gemuk itu. Tetapi otaknya mencoba bekerja sekuat-kuat kemampuannya. Sejenak kemudian ia berkata, “Bukankah waktu yang kau berikan masih dua hari.”
“Tetapi hanya akan membuang waktu saja bagiku.”
Jajar itu menggeleng. “Tidak.” Jantungnya dicengkam oleh kecemasan. Jika demikian rencananya akan bubrah. Akan pecah berserakan seperti harapannya untuk mendapatkan perhiasan yang akan bernilai seluas tanah perdikan yang besar. “Sudah aku katakan, bahwa aku hanya sekedar menyenangkan bati Permaisuri itu.“ berkata Jajar itu, “tetapi dengan demikian aku akan mendapat kesempatan untuk berbicara lebih banyak. Besok aku akan menyampaikan keterangan seperti yang kau katakan, bahwa kau akan menolak. Besok sore aku memerlukan kau. Aku yakin bahwa tidak akan ada pilihan lain dari Permaisuri itu kecuali memenuhi tuntutanmu.”
“Kau terlampau berbelit-belit.”
“Aku memerlukan sikap yang berbelit-belit untuk memaksa Permaisuri mempercayaiku. Kalau aku menolak untuk menyampaikan syarat ini kepadamu, maka aku akan kehilangan kesempatan, sebab aku menolak perintah Tuanku Permaisuri. Nah, besok kita akan bertemu. Aku tidak mau berteka-teki dan selalu gelisah. Katakan, dimana kau akan menemui aku besok. Waktu kita tinggal sedikit. Kau selama ini hanya menurut kemauanmu saja. Sebaiknya kita berbicara dengan pasti.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Tetapi sorot matanya masih belum pudar. Sejenak dipandanginya Kuda Sempana yang berdiri membeku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan seolah-olah ia menjadi acuh tidak acuh saja menanggapi pembicaraan itu.
“Bagaimana?” Jajar itulah yang kini mendesak, “dimana besok kita dapat bertemu? Katakan dengan pasti, supaya aku membuat perhitungan yang pasti pula. Waktuku tinggal dua hari. Kalau aku masih harus banyak berteka-teki, maka aku tidak segera dapat memusatkan perhitunganku atas tawaran-tawaran Permaisuri.”
Tiba-tiba Jajar itu mendengar Kebo Sindet menggeram, “Jangan memaksa. Aku akan menjumpaimu dimana saja aku inginkan. Jangan pula membuat tawaran-tawaran yang tidak masuk akal. Kau masih mendapat kesempatan. Tetapi ingat, kalau dua hari ini telah lewat dan kau masih belum mendapatkan tebusan itu, tidak ada ikatan apa-apa lagi di antara kita.”
“Baik. Aku akan mencoba, dalam dua hari ini. Tetapi katakan dimana aku besok bisa bertemu, berbicara agak panjang tanpa kecurigaan terhadap keadaan di sekitar kita.”
“Apakah yang harus dibicarakan?”
“Apa yang akan disampaikan Permaisuri besok kepadaku.”
“Permaisuri tinggal mengatakan ya atau tidak.”
“Lalu, apakah utusannya lusa harus membawa tebusan itu berkeliling kota dan menunggu kau menjumpai mereka itu di tempat yang kau sukai?“
Kebo Sindet terdiam sejenak. Lalu katanya, “Baik, aku akan menentukan tempat itu. Tetapi tidak sekarang. Aku tidak perlu cemas, sebab Mahisa Agni masih di tanganku.”
“Nah, kita bicara besok. Tetapi di mana? Kenapa kau cemaskan tempat yang akan kau tentukan itu, sedang kau tidak mencemaskan tempat yang akan kau pakai untuk menerima tebusan lusa?”
Sekali lagi Kebo Sindet terdiam sejenak. Dipandanginya Jajar yang gemuk itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat dadanya.
“Aku akan temui kau besok.”
“Mudah-mudahan aku dapat menekan Permaisuri, sehingga tebusan itu akan dapat kau bawa besok.”
“Hem.” Kebo Sindet menggeram, “apa ada kemungkinan demikian?”
“Tentu. Permaisuri berhati lemah. Agaknya Akuwu sudah tidak berkeberatan. Soalnya, bagaimana Permaisuri yakin bahwa kakaknya selamat. Kalau ini kau jamin kelak, maka aku kira tidak akan ada kesukaran lagi.” Kebo Sindet tidak menjawab. “Bagaimana?“ bertanya Jajar yang gemuk.
“Pergilah. Besok aku temui kau sesuka hatiku. Jangan mengatur aku. Aku dapat berbuat apa saja yang aku sukai.”
“Tetapi kau memerlukan tebusan itu bukan?” Kebo Sindet terdiam. “Mudah-mudahan aku besok telah membawanya. Aku harus memaksa dan menakut-nakuti Permaisuri.”
“Mudah-mudahan. Tetapi kau tidak perlu tahu, dimana aku akan menjumpaimu.”
“Hem.” Jajar itulah yang menggeram. “Terserah kepadamu. Aku sudah mencoba. Tetapi aku harap kau benar-benar dapat menjumpai aku.”
“Pasti.”
“Baiklah.” Jajar itupun segera pergi meninggalkan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Sejenak kemudian kedua orang itupun pergi pula, tetapi kearah yang berlawanan.
Di sepanjang langkahnya Jajar itu menggerutu tidak habis-habisnya, bahkan mengumpat-umpat. Seakan-akan Kebo Sindet itu telah mengetahui rencananya untuk membinasakannya besok, sehingga orang itu tidak mau mengatakan dengan pasti, di mana besok mereka dapat bertemu.
“Bagaimana aku akan menyiapkan orang-orangku.” gumam Jajar itu, “Setan alas. Orang itu benar-benar seperti setan.”
Tetapi sekali lagi Jajar yang gemuk itu hampir terlonjak. Tiba-tiba saja ia bertemu ditikungan, kedua prajurit yang telah dijumpainya tadi.
“Kau terkejut?” bertanya salah seorang prajurit itu.
Jajar itu mengerutkan keningnya, “Gila. Apa kerja mu di sini.”
“Bukankah kau sudah bertanya? Aku sedang beristirahat dan menikmati masa istirahat kami. Jelas. Kami berjalan-jalan saja kemana kami suka.”
Tetapi kecurigaan Jajar itu kian bertambah. Dengan gemetar ia berkata, “Kau sengaja mengintip aku bukan?”
“He.” prajurit-prajurit itu terkejut, “kau terlampau bercuriga. Kenapa aku harus mengintip kau. Tanpa mengintip aku melihat kau dari kejauhan, dari sudut desa itu. Bukankah kau berbicara dengan dua orang yang memakai tudung kepala dari daun kelapa. Akulah yang seharusnya mencurigaimu. Kau berbicara dengan orang-orang aneh. Bukankah tudung kepala macam itu biasa dipakai dihari hujan? Kedua orang itu memakainya dihari yang cerah. Tidak pula sedang panas terik, karena matahari hampir tenggelam. Apakah kedua kawanmu itu tidak sengaja menyembunyikan wajah-wajah mereka.”
“Gila kau. Kenapa kau berpikir sampai sedemikian jauh?” Jajar itu menjadi cemas.
“Karena itu, jangan terlampau mencurigai orang. Seandainya kau sedang berbicara tentang judi sekalipun aku tidak akan mempedulikan.”
“Baik. Baik.” Jajar itu menjawab dengan serta merta, “aku memang sedang berbicara tentang judi. Orang itu adalah seorang dukun yang sakti, yang dapat memberi petunjuk-petunjuk tentang cara-cara untuk memenangkan perjudian.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang bergumam, “Dan kau percaya?”
“Aku percaya.“ sahut Jajar itu.
Kedua prajurit itu hampir bersamaan tertawa. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian mereka melihat wajah Jajar yang berkerut-merut.
“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu.
”Tidak apa-apa.”
“Apakah kalian tidak percaya bahwa dalam pemusatan pikiran seseorang akan dapat mengenal petunjuk atau getaran-getaran yang dapat memberinya tanggapan atas sesuatu yang bakal terjadi meskipun samar-samar,” desak Jajar itu.
“He.” salah seorang prajurit itu menyahut dengan serta-merta, “Kau agaknya telah menjadi seorang yang mendalami masalah-masalah getaran alam semesta dalam tanggapan alam yang kecil? Seperti Sena melihat Dewa Ruci di dalam ceritera pewayangan yang dapat menimbulkan tanggapan timbal balik? Diri dalam kediriannya dan diri di dalam rangkuman alam semesta. Dewa Ruci yang hadir karena kehadiran Sena setelah berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan, dan kemudian Sena itu hadir di dalam diri Dewa Ruci dalam pencahariannya. Dan apa yang diketemukan? Keserasian tanggapan yang utuh. Begitu?” prajurit itu berhenti sejenak, lalu katanya,
“Aku pernah juga mendengar ceritera itu.” dan tiba-tiba prajurit itu berdesis, “Aku tidak menolak seseorang mempunyai kemampuan yang melebihi manusia yang lain. Itu adalah pertanda kebesaran Yang Maha Agung. Tetapi aku kira kelebihan kurnia Yang Maha Agung itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih besar bagi kemanusiaan. Bukan untuk menolongmu berjudi.”
“Jadi kau tidak percaya?” Jajar itu menegangkan lehernya.
”Aku percaya kepada kemampuan yang demikian.”
“Kenapa kau tertawa?”
Kedua prajurit itu justru tertawa semakin, keras. Salah seorang dari mereka berkata, “Pergilah ketempat perjudian itu. Kau nanti lupa kepada petunjuk-petunjuk yang telah kau dapatkan dari padanya. Kalau kau menang, pergunakanlah kemenanganmu untuk kebaikan.”
“Persetan.“ desis Jajar yang gemuk. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Kenapa kalian mengawasi aku. Kalian mencurigai aku dan tidak percaya bahwa kedua orarg itu tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan aku selain petunjuk-petunjuknya.”
“Siapa yang bilang? Kau jangan mengigau Jajar. Pergilah kalau kau mau pergi.”
Jajar itu menggeretakkan giginya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia menjadi semakin bercuriga kepada kedua prajurit itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu maka dengan wajah yang tegang, ia melangkah pergi. Ketika ia berpaling, ia mengumpat sejadi-jadinya di dalam hatinya karena salah seorang dari kedua prajurit itu bertanya,
“Kenapa kau berpaling?”
“Setan alas.“ desisnya. Dan ia masih mendengar kedua prajurit itu tertawa. “Tidak ada waktu untuk meributkan orang gila itu.” Jajar itu bergumam kepada diri sendiri.
Langkahnya menjadi semakin cepat. Meskipun sekali-sekali ia masih juga berpaling. Ia mengumpat sekali lagi ketika dilihatnya bayangan kedua prajurit itu menjadi semakin jauh, dan suasana disekitarnyapun menjadi semakin suram. Ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit, dilihatnya bayangan merah yang redup masih menyangkut dipinggiran mega putih yang berarak.
“Aku harus menemui anak-anak liar itu.” Jajar itu berkata kepada diri sendiri, “Tetapi di mana besok aku menemui kawan Kuda Sempana, dan di mana anak-anak itu harus menyiapkan dirinya?”
Jajar itu mencoba mengusir kejengkelannya. Ia ingin memusatkan pikirannya kepada persoalan yang akan dihadapinya besok. “Sayang.” ia bergumam, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi, sehingga aku tidak segera menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk melenyapkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Sekali-sekali Jajar itu menghentak-hentakkan kakinya. la ingin mengusir semua gangguan di dalam kepalanya. Ia ingin segera menemukan cara yang baik untuk membunuh Kebo Sindet.
“Persetan.” tiba-tiba ia menggeram, “aku besok harus menemui Permaisuri. Mengatakan bahwa Kuda Sempana dan kawannya bersedia menerima tawarannya. Tatapi besok aku harus dapat membunuh orang-orang yang tamak itu. Tetapi di mana ?. Hem.” sekali lagi ia menggeram.
Tanpa sesadarnya langkahnya menjadi semakin cepat. Matahari telah lenyap dibalik bukit. Di kejauhan Jajar itu melihat cahaya pelita dari balik dinding rumah. Sinarnya satu-satu berloncatan lewat lubang-lubang pintu yang belum tertutup rapat. Tiba-tiba Jajar itu tertegun. Ia berhenti di tengah jalan. Wajahnya menegang dan matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit.
“Aku harus menemukan cara.” desisnya. Setelah mengerutkan keningnya, maka diayunkannya lagi kakinya. Wajahnya kemudian menjadi terang. Katanya kepada diri sendiri, “Aku besok akan menghadap Permaisuri. Sesudah itu aku akan pulang, jauh sebelum waktunya. Aku kira Kuda Sempana dan kawannya itu tidak akan dapat menjumpai aku di jalan. Mereka tidak akan mengira bahwa aku akan pulang terlampau siang. Aku kemudian harus menyiapkan anak-anak itu di sekitar rumahku. Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat itu pasti akan mencariku di rumah.”
Jajar itu tersenyum sendiri. Langkahnya kini menjadi semakin ringan. Ketika ia memasuki sebuah lorong sempit, diantara halaman-halaman yang rimbun, langkahnya menjadi semakin cepat. Ia ingin segera sampai ketempat perjudian. Bukan saja ia ingin segera ikut bermain dadu, tetapi ia ingin segera tertemu dengan adiknya dan kawannya, anak-anak muda yang liar dan buas. Yang tidak mempunyai tujuan hidup sama sekali. Hidup bagi mereka adalah apa yang mereka lajukan dan apa yang ingin mereka lakukan. Tanpa pertimbangan peradaban dan ikatan-ikatan pergaulan yang berlaku. Jajar yang gemuk itu tersenyum sendiri. Seakan-akan ia telah menemukan apa yang dicarinya. Pemecahan yang paling baik, paling menguntungkan dan hasil yang sebanyaknya. Perhiasan tiga pengadeg .
“Hem.“ Jajar itu menarik nafas. Serasa semua angan-angan itu telah terjadi. Seakan-akan ia telah menjadi seorang yang kaya raya, meskipun hidup di tempat yang terpencil. Seraya kaki-kakinya menjadi berat, dan langkahnya telah membuat bekas-bekas yang dalam di atas tanah yang dilewatinya. “O, aku akan memiliki kekayaan yang seluas tanah perdikan yang paling kaya, meskipun aku harus pergi dari Tumapel.” Jajar itu tersenyum.
Ia menjadi kecewa ketika ia telah sampai di depan sebuah halaman yang luas, agak jauh di dalam padesan yang sepi. Regolnya yang besar selalu tertutup rapat. Jajar itu terpaksa menghentikan angan-angannya yang terbang tinggi sampai kesela-sela bintang yang berhamburan dilangit. Ia telah sampai ditempat yang ditujunya. Tempat perjudian. Perlahan-lahan didorongnya pintu regol yang besar itu. Ketika pintu itu terbuka sedikit, dilihatnya beberapa anak-anak muda berdiri di sekitar regol itu.
“Siapa?” salah seorang dari mereka menyapa. Jajar itu tidak menjawab. Tetapi ia langsung melangkah masuk. “O, kau.” desis salah seorang dari mereka.
Jajar itu masih belum menjawab. Seperti seorang Senapati perang ia melangkah di antara prajurit-prajuritnya. Sambil memandang kekiri dan kekanan ia mengangguk-angguk kecil.
Baru sejenak kemudian ia berdesis, “Apakah kawan-kawanmu sudah lengkap?”
Salah seorang dari anak-anak muda itu yang ternyata adalah adiknya menjawab, “Apakah kau memerlukan kami sekarang?”
“Tidak, tidak sekarang.” jawab Jajar itu. Tetapi lalu, “Apakah di dalam sudah banyak orang.”
“Kau akan ikut berjudi?” bertanya adiknya.
“Sedikit, aku akan menghilangkan pening dikepala.”
“Sudah banyak orang. Tetapi tidak ada yang pantas untuk disebut. Mereka penjudi-penjudi kecil yang tidak berarti.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. la sebenarnya juga termasuk penjudi-penjudi kecil yang tidak begitu berarti. Tetapi ia berkata didalam hatinya, “Sebentar lagi aku akan menjadi seorang yang besar dan terhormat disini. Aku akan membawa uang sekampil besar. Kalau kalah, sama sekali kalah, kalau menang aku akan menjadi semakin kaya. Tetapi seandainya aku kalah, uang sekampil itu pun tidak akan berarti apa-apa bagiku.”
“Heh.” Jajar itu menarik-nafas dalam-dalam. Sama sekali tidak dihiraukannya kakinya yang lecet tersandung batu. Jajar itu tidak merasa pula ketika kakinya menyentuh duri kemarung.
“Dimana hari ini kawan Kuda Sempana itu akan menemui aku?” desisnya. Sekali-sekali Jajar itu berpaling. Tetapi ia tidak melihat Kuda Sempana dan kawannya. “Apakah aku pulang terlampau siang, sehingga keduanya tidak berani menampakkan dirinya?” gumamnya, “tetapi aku harus bertemu hari ini. Tidak ada kesempatan lagi. Besok adalah hari keempat. Kedua setan itu harus lenyap. Lusa hari yang terakhir, hari yang dijanjikan oleh Permaisuri. Hari yang menentukan perubahan hidupku. Dan aku akan segera menjadi kaya raya.”
Ketika Jajar itu sekali lagi berpaling, tampaklah keningnya menjadi berkerut-merut. Ia melihat dua orang berjalan searah dengan langkahnya. Lambat-lambat, seolah-olah membuat jarak yang tetap dari padanya.
Jajar itu menjadi curiga. “Siapakah mereka? Apakah mereka sekedar orang yang lewat saja di jalanan ini, ataukah mereka orang-orang yang sengaja mengikuti aku?” Hati Jajar yang gelisah itu menjadi semakin gelisah. “Aku harus berhenti. Siapa pun orang itu harus aku hadapi. Lebih baik sekarang dan berhadapan daripada aku diintainya dan tiba-tiba saja disergapnya.”
Jajar itu berhenti. Ia melangkah menepi dan bersendar pada sebatang kayu. Tetapi tiba-tiba ia melihat dari arah lain, seorang laki-laki berjalan berlawanan arah dengan kedua orang yang disangka mengikutinya. Kecurigaannya kian bertambah.
“Huh, ternyata mereka telah mencegat aku dari arah yang berlawanan pula selain kedua orang yang telah mengikuti aku.”
Jajar itu tiba-tiba meraba lambungnya. Ketika tanganya menyentuh hulu kerisnya yang kecil, maka ia pun menarik nafas dalam-dalam.
“Mereka akan mengantarkan nyawa mereka, siapa pun mereka itu. Tetapi mereka pasti bukan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Semakin lama kudua orang yang datang dari arah belakang, dan seorang dari arah lain itu menjadi semakin dekat. Tetapi Jajar itu kemudian mengerutkan keningnya. Ternyata kedua orang itu telah mengenalnya. Keduanya adalah prajurit-prajurit Tumapel. Karena itu maka ia mengumpat perlahan,
“Setan alas. Agaknya prajurit-prajurit Tumapel yang berkeliaran di sini. Tetapi mereka sama sekali tidak mengenakan pakaian keprajuritannya?” Jajar itu kemudian berpaling ke arah yang lain, seorang yang berjala perlahan-lahan kearahnya, “Tetapi orang itu, aku belum mengenalnya.”
Ketika kedua prajurit itu menjadi semakin dekat, maka Jajar itu maju selangkah. Tetapi wajahnya sudah tidak lagi setegang sebelumnya. Apalagi ketika ia melihat prajurit itu tertawa sambil menyapanya, “He, apakah kau menunggu Kami?”
“Kalian mengejutkan aku. Aku sangka kalian orang-orang asing yang mengikuti aku?”
“He.” kedua prajurit itu terkejut, “kenapa kau merasa dirimu diikuti oleh orang asing, Apakah kau mempunyai persoalan.”
“Oh.” Jajar itu tergagap, “Tidak. Tidak apa-apa.”
“Tetapi kenapa kau terlampau bercuriga?”
Jajar itu tidak menjawab. Ketika orang yang berjalan kearah yang berlawanan itu lewat dihadapannya, maka sambil berbisik ia bertanya kepada kedua prajurit itu, “Kau kenal orang itu.”
Kedua prajurit itu berpaling, mengawasi orang yang baru saja lewat itu pada punggungnya. Hampir bersamaan mereka menggelengkan kepala mereka, “Tidak. Aku belum kenal.”
“Kenapa ia berusaha menjumpai aku disini?”
“Siapa?”
“Orang itu. Mungkin ia akan berbuat sesuatu seandainya kalian tidak di sini.”
“Ah.” salah seorang dari kedua prajurit itu berdesah, “kau terlampau berprasangka. Kenapa kau tampaknya begitu gelisah dan gugup. Bukankah yang kau lewati ini jalan umum? Setiap orang dapat saja melewati jalan ini seperti kau dan aku. Kenapa kau menjadi bingung dan curiga. Lihat, itu seorang lagi lewat. O, ia tidak berjalan ke arah ini, ia berbelok ke kanan masuk ke dalam padesan. Dan lihat di belakang kita masih ada orang lewat meskipun tidak menuju kemari pula. Kenapa kau mencemaskannya?”
Jajar gemuk itu menarik nafas dalam-dalam. “Ya, ya. Mereka hanya orang-orang lewat.“ Jajar itu berhenti sejenak, lalu tiba-tiba, “Tetapi kenapa kau tidak mengenakan pakaian keprajuritan? Kain bang, setagen hijau dan ikat pinggang kulit berwarna kuning, tidak menyandang pedang atau tombak, meskipun celana yang kau pakai itu celana keprajuritanmu?”
Kedua prajurit itu saling berpandangan sejenak. Lalu keduanya bersama-sama tertawa pendek. Salah seorang dari mereka menjawab sambil mengamat-amati pakaiannya sendiri.
“Kau terlampau banyak memperhatikan orang lain. Baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Sekarang kami, aku dan kawanku ini sedang tidak bertugas. Kami mendapat izin beristirahat seminggu di rumah. Itulah sebabnya kami diperkenankan memakai pakaian kami sendiri, bukan pakaian keprajuritan.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia mengamat-amati pakaian kedua prajurit itu. Dan Jajar itu pun bertanya pula, “Tetapi celanamu adalah celana keprajuritan.”
Suara tertawa kedua prajurit itu kian mengeras. Bahkan salah seorang dari mereka tidak dapat lagi menahan air matanya yang membasahi pelupuknya. “Kau lucu sekali.” katanya. “Baiklah, pertanyaan itu pun akan aku jawab. Aku tidak malu seandainya kau tahu keadaan kami sebenarnya. Aku tidak mempunyai celana yang lain yang pantas. Itulah sebabnya aku mempergunakan celana ini untuk berjalan-jalan.”
“Kenapa kalian berdua? Apakah kalian berdua tidak memiliki celana berbareng seperti berjanji? Aku adalah seorang Jajar. Seorang abdi yang paling rendah. Juga dibandingkan dengan kalian prajurit yang paling kecil, seharusnya aku masih lebih kecil lagi. Tetapi aku mempunyai celana selain celana peparing dari istana.”
“Oh.” prajurit yang lain menganguk-angguk, “kau benar. Tetapi kau harus tahu sebabnya. Kau tidak mempunyai anak dan isteri. Tetapi kami? Anakku lima dan anak kawanku ini tiga. Tetapi kenapa kau terlampau meributkan pakaian kami?”
“Tidak apa-apa.” Jajar itu menggeleng. Tetapi tiba-tiba tatapan matanya tersangkut kepada seseorang di kejauhan. Dan tiba-tiba pula ia berdesis, “Siapa itu?”
“He.” kedua prajurit itu terkejut, “siapa saja apa pedulimu. Kenapa kau tampak bingung dan gelisah?”
“Tidak apa-apa.”
“Dan kau akan tetap berdiri saja di situ? Apakah kau tidak akan pulang.”
“Aku memang akan pulang.”
“Marilah kita berjalan bersama-sama.” ajak prajurit itu.
“Pergilah dahulu. Aku berjalan kemudian.”
Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya. Tetapi mereka pun kemudian minta diri untuk berjalan mendahului. Meskipun demikian ketika mereka berpaling, Jajar itu masih bertanya,
“Kenapa kalian berpaling?”
Kedua prajurit itu tidak menjawab. Yang terdengar hanyalah suara tertawa mereka melambung dibawa angin. Namun terdengar Jajar yang gemuk itu mengumpat, “Setan alas. Apa kerja prajurit-prajurit itu berkeliaran di sini? Bukankah rumahnya di ujung lain dari kota ini?”
Tetapi kedua prajurit itu tidak mendengar. Keduanya berjalan terus meskipun sekali-sekali mereka masih juga berpaling. Ketika kedua prajurit itu telah menjadi kian jauh, Jajar itupun meneruskan langkahnya. Tetapi setiap kali ia melihat seseorang lewat di jalan itu pula, hatinya menjadi berdebar-debar. Setiap kali ia selalu menengok ke belakang, seolah-olah takut diikuti oleh seseorang yang akan berbuat jahat kepadanya. Kegelisahan Jajar itu menjadi semakin tajam, seperti matahari yang semakin menurun. Cahayanya yang kemerah-merahan memancar menyebar dilangit yang jernih.
Tiba-tiba Jajar yang gemuk itu bergumam, “Aku harus bertemu dengan kawan Kuda Sempana itu hari ini. Tetapi kenapa ia tidak menjumpai aku seperti biasanya?”
Dan Jajar yang kemarin mengumpat-umpat karena Kebo Sindet menemuinya di perjalanan itu, kini justru mengharap dapat bertemu dimanapun. Tetapi hampir ia meloncat ketika tiba-tiba saja ia mendengar seseorang menyapanya, dekat sekali di sampingnya ketika ia memasuki padesan.
“O, kau terlampau siang pulang hari ini Ki Sanak.”
Darahnya tersirap ketika ia melihat dua orang duduk di atas batu tepat di tikungan. Ia tidak segera dapat mengenal wajah keduanya, karena keduanya memakai tudung kepala, yang dibuat dari anyaman daun kelapa, hampir menutup seluruh wajahnya. Tudung kepala yang sering dipergunakan diwaktu hujan meskipun dalam ukuran yang kecil. Tetapi suara yang mempunyai ciri tersendiri itulah yang langsung memperkenalkannya kepada keduanya.
“Kaukah itu?“ Jajar itu hampir berteriak.
“Kenapa kau berteriak?“ bertanya Kebo Sindet.
“Kalian mengejutkan aku.”
Kebo Sindet dan Kuda Sempana segera berdiri. Dengan wajahnya yang beku Kebo Sindet memandangi Jajar yang gemuk itu, seolah-olah baru kali ini dilihatnya. Dan Jajar itu menjadi kian gelisah sehingga terloncat pertanyaannya.
“Kenapa kau heran melihat aku?”
Kebo Sindet itu menggeleng, “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi kau tampaknya terlalu gugup dan gelisah.”
“Siapa yang bilang?”
“Baiklah. Kau tidak gugup dan gelisah. Tetapi bagaimana kabarnya Permaisuri itu?”
Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya seolah-olah mencari seseorang. Tetapi ia tidak melihat orang lain. Meskipun demikian dicobanya untuk menembus rimbunnya dedaunan dan gerumbul-gerumbul perdu di sekitarnya. Tetapi ia tidak melihat seseorang.
“Katakan.“ desak Kebo Sindet. “Aku hampir kehilangan kesabaran. Kau sudah kehilangan tiga hari dengan hari ini. Waktumu tinggal besok dan lusa.”
Jajar itu tidak segera menjawab. Ia masih mencoba mencari-cari dengan penuh kecurigaan, kalau-kalau ada orang lain yang mendengarnya.
“Katakan.” sekali lagi Kebo Sindet mendesak, “jangan takut didengar orang lain. Bukankah ini bukan rahasia lagi?”
“Tetapi.” Jajar itu menjawab terbata-bata, “ kita berbicara di jalan yang mungkin dilewati orang-orang lain yang sama sekali tidak berkepentingan.”
“Aku tidak mencemaskannya.” sahut Kebo Sindet, “siapa pun yang mendengar dan mengetahui pembicaraan ini, aku tidak berkeberatan.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. Baginya kata-kata Keko Sindet itu terdengar sangat aneh. Seharusnya ia merahasiakan dirinya dari setiap pembicaraan. Semakin banyak orang yang mengenalnya, maka bahaya baginya menjadi semakin besar.
Agaknya Kebo Sindet dapat meraba perasaan Jajar yang gemuk itu, maka katanya, “Jangan cemas. Mahisa Agni masih berada di tanganku. Sesuatu yang terjadi atasku, maka nasib Mahisa Agni akan menjadi terlampau buruk. Aku berjanji dengan kau sampai lusa. Apabila di pagi harinya aku tidak kembali, maka orang-orangku akan segera berbuat sesuatu atas Mahisa Agni.”
Dada Jajar itu berdesir. Tetapi tiba-tiba ia menggeram meskipun hanya di dalam hati, “Aku tidak peduli. Besok Kebo Sindet harus sudah binasa. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi atas Mahisa Agni. Biar saja ia dibunuh, ia bukan sanak, bukan kadangku.”
“Kenapa kau diam seperti sudah menjadi pikun. Apakah kau tidak bertemu lagi dengan Permaisuri?” bertanya Kibo Sindet.
“Hari ini aku telah bertemu.” berkata Jajar yang gemuk itu sambil memandang berkeliling. Ia masih saja bercuriga. Di jalan ini ia bertemu dengan dua orang prajurit. Dengan orang-orang asing yang belum dikenal dan orang-orang yang seakan-akan hilir mudik mengawasinya.
“Ternyata kau penakut.” Kebo Sindet hampir membentak, “benar jalan ini adalah jalan umum. Setiap orarig dapat saja lewat dijalan ini. Bagimu sebenarnya lebih baik. Tidak akan ada orang yang mencurigaimu karena kau bertemu dengan seseorang dan berbicara denganmu dijalan yang ramai ini. Ayo, katakanlah.”
Jajar itu mengangguk-anggukan kepalanya. Kemudian dengaa hati-hati dikatakannya apa yang dikehendaki oleh Permaisuri. Dibatas waktu yang diberikan, Permaisuri akan mengirim orang untuk menyerahkan perhiasan itu, tetapi dengan syarat, Mahisa Agni harus dibawa serta. Jajar itu menjadi ngeri, dan seluruh bulunya tegak berdiri ketika ia melihat sorot mata Kebo Sindet. Meskipun wajahnya masih saja membeku, tetapi mata itu seolah-olah menjadi merah membara.
“Begitukah kehendak Permaisuri.”
Tanpa sesadarnya Jajar itu mengangguk dan berdesir, “Ya.”
“Dan kau tidak menjelaskan bahwa aku tidak akan bersedia menerima syarat itu?”
“Sudah aku katakan.”
“Kenapa syarat itu masih juga diajukan kepadaku?” mata Kebo Sindet menjadi semakin menyala, “Aku tidak mau masuk ke dalam wuwu. Aku bukan seorang anak yang dungu. Kau tahu, bahwa dengan demikian kau pun tidak akan mendapatkan apa-apa. Mungkin kau akan ikut serta ditangkap bersama aku setelah Mahisa Agni itu lepas bersama tebusan yang akan dirampasnya kembali. Tumapel mempunyai prajurit yang tidak terhitung jumlahnya. Apakah kita akan dapat melawan.”
“Sudah aku katakan kepada Permaisuri.”
“Tetapi ia tidak mau mendengarkan begitu? Baiklah. Kalau demikian persoalan kita sudah selesai. Kau tidak akan mendapat kesempatan lagi.”
“Tunggu.” Jajar itu benar berteriak.
“Apa lagi.”
“Sebenarnya aku sudah membuat perhitungan, bahwa kau pasti akan menolak. Tetapi aku tidak dapat membantah perintah Permaisuri. Apa yang aku lakukan hanyalah sekedar sebuah permainan.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Matanya yang terpancang diwajahnya yang beku memandangi Jajar itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat jantungnya.
“Apa maksudmu?” desis Kebo Sindet itu kemudian.
Keringat dingin telah membasahi segenap tubuh Jajar yang gemuk itu. Tetapi otaknya mencoba bekerja sekuat-kuat kemampuannya. Sejenak kemudian ia berkata, “Bukankah waktu yang kau berikan masih dua hari.”
“Tetapi hanya akan membuang waktu saja bagiku.”
Jajar itu menggeleng. “Tidak.” Jantungnya dicengkam oleh kecemasan. Jika demikian rencananya akan bubrah. Akan pecah berserakan seperti harapannya untuk mendapatkan perhiasan yang akan bernilai seluas tanah perdikan yang besar. “Sudah aku katakan, bahwa aku hanya sekedar menyenangkan bati Permaisuri itu.“ berkata Jajar itu, “tetapi dengan demikian aku akan mendapat kesempatan untuk berbicara lebih banyak. Besok aku akan menyampaikan keterangan seperti yang kau katakan, bahwa kau akan menolak. Besok sore aku memerlukan kau. Aku yakin bahwa tidak akan ada pilihan lain dari Permaisuri itu kecuali memenuhi tuntutanmu.”
“Kau terlampau berbelit-belit.”
“Aku memerlukan sikap yang berbelit-belit untuk memaksa Permaisuri mempercayaiku. Kalau aku menolak untuk menyampaikan syarat ini kepadamu, maka aku akan kehilangan kesempatan, sebab aku menolak perintah Tuanku Permaisuri. Nah, besok kita akan bertemu. Aku tidak mau berteka-teki dan selalu gelisah. Katakan, dimana kau akan menemui aku besok. Waktu kita tinggal sedikit. Kau selama ini hanya menurut kemauanmu saja. Sebaiknya kita berbicara dengan pasti.”
Kebo Sindet tidak segera menjawab. Tetapi sorot matanya masih belum pudar. Sejenak dipandanginya Kuda Sempana yang berdiri membeku tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan seolah-olah ia menjadi acuh tidak acuh saja menanggapi pembicaraan itu.
“Bagaimana?” Jajar itulah yang kini mendesak, “dimana besok kita dapat bertemu? Katakan dengan pasti, supaya aku membuat perhitungan yang pasti pula. Waktuku tinggal dua hari. Kalau aku masih harus banyak berteka-teki, maka aku tidak segera dapat memusatkan perhitunganku atas tawaran-tawaran Permaisuri.”
Tiba-tiba Jajar itu mendengar Kebo Sindet menggeram, “Jangan memaksa. Aku akan menjumpaimu dimana saja aku inginkan. Jangan pula membuat tawaran-tawaran yang tidak masuk akal. Kau masih mendapat kesempatan. Tetapi ingat, kalau dua hari ini telah lewat dan kau masih belum mendapatkan tebusan itu, tidak ada ikatan apa-apa lagi di antara kita.”
“Baik. Aku akan mencoba, dalam dua hari ini. Tetapi katakan dimana aku besok bisa bertemu, berbicara agak panjang tanpa kecurigaan terhadap keadaan di sekitar kita.”
“Apakah yang harus dibicarakan?”
“Apa yang akan disampaikan Permaisuri besok kepadaku.”
“Permaisuri tinggal mengatakan ya atau tidak.”
“Lalu, apakah utusannya lusa harus membawa tebusan itu berkeliling kota dan menunggu kau menjumpai mereka itu di tempat yang kau sukai?“
Kebo Sindet terdiam sejenak. Lalu katanya, “Baik, aku akan menentukan tempat itu. Tetapi tidak sekarang. Aku tidak perlu cemas, sebab Mahisa Agni masih di tanganku.”
“Nah, kita bicara besok. Tetapi di mana? Kenapa kau cemaskan tempat yang akan kau tentukan itu, sedang kau tidak mencemaskan tempat yang akan kau pakai untuk menerima tebusan lusa?”
Sekali lagi Kebo Sindet terdiam sejenak. Dipandanginya Jajar yang gemuk itu seakan-akan ingin melihat sampai kepusat dadanya.
“Aku akan temui kau besok.”
“Mudah-mudahan aku dapat menekan Permaisuri, sehingga tebusan itu akan dapat kau bawa besok.”
“Hem.” Kebo Sindet menggeram, “apa ada kemungkinan demikian?”
“Tentu. Permaisuri berhati lemah. Agaknya Akuwu sudah tidak berkeberatan. Soalnya, bagaimana Permaisuri yakin bahwa kakaknya selamat. Kalau ini kau jamin kelak, maka aku kira tidak akan ada kesukaran lagi.” Kebo Sindet tidak menjawab. “Bagaimana?“ bertanya Jajar yang gemuk.
“Pergilah. Besok aku temui kau sesuka hatiku. Jangan mengatur aku. Aku dapat berbuat apa saja yang aku sukai.”
“Tetapi kau memerlukan tebusan itu bukan?” Kebo Sindet terdiam. “Mudah-mudahan aku besok telah membawanya. Aku harus memaksa dan menakut-nakuti Permaisuri.”
“Mudah-mudahan. Tetapi kau tidak perlu tahu, dimana aku akan menjumpaimu.”
“Hem.” Jajar itulah yang menggeram. “Terserah kepadamu. Aku sudah mencoba. Tetapi aku harap kau benar-benar dapat menjumpai aku.”
“Pasti.”
“Baiklah.” Jajar itupun segera pergi meninggalkan Kebo Sindet dan Kuda Sempana. Sejenak kemudian kedua orang itupun pergi pula, tetapi kearah yang berlawanan.
Di sepanjang langkahnya Jajar itu menggerutu tidak habis-habisnya, bahkan mengumpat-umpat. Seakan-akan Kebo Sindet itu telah mengetahui rencananya untuk membinasakannya besok, sehingga orang itu tidak mau mengatakan dengan pasti, di mana besok mereka dapat bertemu.
“Bagaimana aku akan menyiapkan orang-orangku.” gumam Jajar itu, “Setan alas. Orang itu benar-benar seperti setan.”
Tetapi sekali lagi Jajar yang gemuk itu hampir terlonjak. Tiba-tiba saja ia bertemu ditikungan, kedua prajurit yang telah dijumpainya tadi.
“Kau terkejut?” bertanya salah seorang prajurit itu.
Jajar itu mengerutkan keningnya, “Gila. Apa kerja mu di sini.”
“Bukankah kau sudah bertanya? Aku sedang beristirahat dan menikmati masa istirahat kami. Jelas. Kami berjalan-jalan saja kemana kami suka.”
Tetapi kecurigaan Jajar itu kian bertambah. Dengan gemetar ia berkata, “Kau sengaja mengintip aku bukan?”
“He.” prajurit-prajurit itu terkejut, “kau terlampau bercuriga. Kenapa aku harus mengintip kau. Tanpa mengintip aku melihat kau dari kejauhan, dari sudut desa itu. Bukankah kau berbicara dengan dua orang yang memakai tudung kepala dari daun kelapa. Akulah yang seharusnya mencurigaimu. Kau berbicara dengan orang-orang aneh. Bukankah tudung kepala macam itu biasa dipakai dihari hujan? Kedua orang itu memakainya dihari yang cerah. Tidak pula sedang panas terik, karena matahari hampir tenggelam. Apakah kedua kawanmu itu tidak sengaja menyembunyikan wajah-wajah mereka.”
“Gila kau. Kenapa kau berpikir sampai sedemikian jauh?” Jajar itu menjadi cemas.
“Karena itu, jangan terlampau mencurigai orang. Seandainya kau sedang berbicara tentang judi sekalipun aku tidak akan mempedulikan.”
“Baik. Baik.” Jajar itu menjawab dengan serta merta, “aku memang sedang berbicara tentang judi. Orang itu adalah seorang dukun yang sakti, yang dapat memberi petunjuk-petunjuk tentang cara-cara untuk memenangkan perjudian.”
Kedua prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang bergumam, “Dan kau percaya?”
“Aku percaya.“ sahut Jajar itu.
Kedua prajurit itu hampir bersamaan tertawa. Sejenak mereka saling berpandangan, dan sejenak kemudian mereka melihat wajah Jajar yang berkerut-merut.
“Kenapa kalian tertawa?” bertanya Jajar itu.
”Tidak apa-apa.”
“Apakah kalian tidak percaya bahwa dalam pemusatan pikiran seseorang akan dapat mengenal petunjuk atau getaran-getaran yang dapat memberinya tanggapan atas sesuatu yang bakal terjadi meskipun samar-samar,” desak Jajar itu.
“He.” salah seorang prajurit itu menyahut dengan serta-merta, “Kau agaknya telah menjadi seorang yang mendalami masalah-masalah getaran alam semesta dalam tanggapan alam yang kecil? Seperti Sena melihat Dewa Ruci di dalam ceritera pewayangan yang dapat menimbulkan tanggapan timbal balik? Diri dalam kediriannya dan diri di dalam rangkuman alam semesta. Dewa Ruci yang hadir karena kehadiran Sena setelah berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang dicita-citakan, dan kemudian Sena itu hadir di dalam diri Dewa Ruci dalam pencahariannya. Dan apa yang diketemukan? Keserasian tanggapan yang utuh. Begitu?” prajurit itu berhenti sejenak, lalu katanya,
“Aku pernah juga mendengar ceritera itu.” dan tiba-tiba prajurit itu berdesis, “Aku tidak menolak seseorang mempunyai kemampuan yang melebihi manusia yang lain. Itu adalah pertanda kebesaran Yang Maha Agung. Tetapi aku kira kelebihan kurnia Yang Maha Agung itu dapat dimanfaatkan untuk kepentingan yang lebih besar bagi kemanusiaan. Bukan untuk menolongmu berjudi.”
“Jadi kau tidak percaya?” Jajar itu menegangkan lehernya.
”Aku percaya kepada kemampuan yang demikian.”
“Kenapa kau tertawa?”
Kedua prajurit itu justru tertawa semakin, keras. Salah seorang dari mereka berkata, “Pergilah ketempat perjudian itu. Kau nanti lupa kepada petunjuk-petunjuk yang telah kau dapatkan dari padanya. Kalau kau menang, pergunakanlah kemenanganmu untuk kebaikan.”
“Persetan.“ desis Jajar yang gemuk. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Kenapa kalian mengawasi aku. Kalian mencurigai aku dan tidak percaya bahwa kedua orarg itu tidak mempunyai kepentingan apa-apa dengan aku selain petunjuk-petunjuknya.”
“Siapa yang bilang? Kau jangan mengigau Jajar. Pergilah kalau kau mau pergi.”
Jajar itu menggeretakkan giginya. Ia sendiri tidak tahu, kenapa ia menjadi semakin bercuriga kepada kedua prajurit itu. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu maka dengan wajah yang tegang, ia melangkah pergi. Ketika ia berpaling, ia mengumpat sejadi-jadinya di dalam hatinya karena salah seorang dari kedua prajurit itu bertanya,
“Kenapa kau berpaling?”
“Setan alas.“ desisnya. Dan ia masih mendengar kedua prajurit itu tertawa. “Tidak ada waktu untuk meributkan orang gila itu.” Jajar itu bergumam kepada diri sendiri.
Langkahnya menjadi semakin cepat. Meskipun sekali-sekali ia masih juga berpaling. Ia mengumpat sekali lagi ketika dilihatnya bayangan kedua prajurit itu menjadi semakin jauh, dan suasana disekitarnyapun menjadi semakin suram. Ketika ia menengadahkan wajahnya kelangit, dilihatnya bayangan merah yang redup masih menyangkut dipinggiran mega putih yang berarak.
“Aku harus menemui anak-anak liar itu.” Jajar itu berkata kepada diri sendiri, “Tetapi di mana besok aku menemui kawan Kuda Sempana, dan di mana anak-anak itu harus menyiapkan dirinya?”
Jajar itu mencoba mengusir kejengkelannya. Ia ingin memusatkan pikirannya kepada persoalan yang akan dihadapinya besok. “Sayang.” ia bergumam, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi, sehingga aku tidak segera menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk melenyapkan Kuda Sempana dan kawannya itu.”
Sekali-sekali Jajar itu menghentak-hentakkan kakinya. la ingin mengusir semua gangguan di dalam kepalanya. Ia ingin segera menemukan cara yang baik untuk membunuh Kebo Sindet.
“Persetan.” tiba-tiba ia menggeram, “aku besok harus menemui Permaisuri. Mengatakan bahwa Kuda Sempana dan kawannya bersedia menerima tawarannya. Tatapi besok aku harus dapat membunuh orang-orang yang tamak itu. Tetapi di mana ?. Hem.” sekali lagi ia menggeram.
Tanpa sesadarnya langkahnya menjadi semakin cepat. Matahari telah lenyap dibalik bukit. Di kejauhan Jajar itu melihat cahaya pelita dari balik dinding rumah. Sinarnya satu-satu berloncatan lewat lubang-lubang pintu yang belum tertutup rapat. Tiba-tiba Jajar itu tertegun. Ia berhenti di tengah jalan. Wajahnya menegang dan matanya yang sipit itu menjadi semakin sipit.
“Aku harus menemukan cara.” desisnya. Setelah mengerutkan keningnya, maka diayunkannya lagi kakinya. Wajahnya kemudian menjadi terang. Katanya kepada diri sendiri, “Aku besok akan menghadap Permaisuri. Sesudah itu aku akan pulang, jauh sebelum waktunya. Aku kira Kuda Sempana dan kawannya itu tidak akan dapat menjumpai aku di jalan. Mereka tidak akan mengira bahwa aku akan pulang terlampau siang. Aku kemudian harus menyiapkan anak-anak itu di sekitar rumahku. Kuda Sempana dan kawannya yang berwajah mayat itu pasti akan mencariku di rumah.”
Jajar itu tersenyum sendiri. Langkahnya kini menjadi semakin ringan. Ketika ia memasuki sebuah lorong sempit, diantara halaman-halaman yang rimbun, langkahnya menjadi semakin cepat. Ia ingin segera sampai ketempat perjudian. Bukan saja ia ingin segera ikut bermain dadu, tetapi ia ingin segera tertemu dengan adiknya dan kawannya, anak-anak muda yang liar dan buas. Yang tidak mempunyai tujuan hidup sama sekali. Hidup bagi mereka adalah apa yang mereka lajukan dan apa yang ingin mereka lakukan. Tanpa pertimbangan peradaban dan ikatan-ikatan pergaulan yang berlaku. Jajar yang gemuk itu tersenyum sendiri. Seakan-akan ia telah menemukan apa yang dicarinya. Pemecahan yang paling baik, paling menguntungkan dan hasil yang sebanyaknya. Perhiasan tiga pengadeg .
“Hem.“ Jajar itu menarik nafas. Serasa semua angan-angan itu telah terjadi. Seakan-akan ia telah menjadi seorang yang kaya raya, meskipun hidup di tempat yang terpencil. Seraya kaki-kakinya menjadi berat, dan langkahnya telah membuat bekas-bekas yang dalam di atas tanah yang dilewatinya. “O, aku akan memiliki kekayaan yang seluas tanah perdikan yang paling kaya, meskipun aku harus pergi dari Tumapel.” Jajar itu tersenyum.
Ia menjadi kecewa ketika ia telah sampai di depan sebuah halaman yang luas, agak jauh di dalam padesan yang sepi. Regolnya yang besar selalu tertutup rapat. Jajar itu terpaksa menghentikan angan-angannya yang terbang tinggi sampai kesela-sela bintang yang berhamburan dilangit. Ia telah sampai ditempat yang ditujunya. Tempat perjudian. Perlahan-lahan didorongnya pintu regol yang besar itu. Ketika pintu itu terbuka sedikit, dilihatnya beberapa anak-anak muda berdiri di sekitar regol itu.
“Siapa?” salah seorang dari mereka menyapa. Jajar itu tidak menjawab. Tetapi ia langsung melangkah masuk. “O, kau.” desis salah seorang dari mereka.
Jajar itu masih belum menjawab. Seperti seorang Senapati perang ia melangkah di antara prajurit-prajuritnya. Sambil memandang kekiri dan kekanan ia mengangguk-angguk kecil.
Baru sejenak kemudian ia berdesis, “Apakah kawan-kawanmu sudah lengkap?”
Salah seorang dari anak-anak muda itu yang ternyata adalah adiknya menjawab, “Apakah kau memerlukan kami sekarang?”
“Tidak, tidak sekarang.” jawab Jajar itu. Tetapi lalu, “Apakah di dalam sudah banyak orang.”
“Kau akan ikut berjudi?” bertanya adiknya.
“Sedikit, aku akan menghilangkan pening dikepala.”
“Sudah banyak orang. Tetapi tidak ada yang pantas untuk disebut. Mereka penjudi-penjudi kecil yang tidak berarti.”
Jajar itu mengerutkan keningnya. la sebenarnya juga termasuk penjudi-penjudi kecil yang tidak begitu berarti. Tetapi ia berkata didalam hatinya, “Sebentar lagi aku akan menjadi seorang yang besar dan terhormat disini. Aku akan membawa uang sekampil besar. Kalau kalah, sama sekali kalah, kalau menang aku akan menjadi semakin kaya. Tetapi seandainya aku kalah, uang sekampil itu pun tidak akan berarti apa-apa bagiku.”
koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar