MENU

Ads

Selasa, 07 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 171

PdLS-35
TETAPI Jajar itu tidak langsung masuk ke dalam. Ia ingin berunding dengan anak-anak gila itu dahulu. Katanya, “Ayo, siapa diantara kalian yang akan mewakili kawan-kawanmu untuk berbicara dengan aku? Jangan terlampau banyak supaya aku tidak bingung. Dua orang saja, tiga dengan adikku.”

Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Lalu tanpa berjanji mereka menunjuk dua orang yang seakan-akan telah mereka jadikan pimpinan mereka.

“Mari, kita berbicara. Tetapi jika kalian membocorkan rahasia pembicaraan ini, maka terkutuklah kalian sampai keanak cucu.”

Kedua orang yang ditunjuk oleh kawan-kawannya itu tertawa. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku tidak mempunyai anak cucu. Istripun aku tidak mempunyainya.”

“Kalian harus kawin. Sesudah ini, sesudah pekerjaan ini selesai.”

“Oh, apa yang akan kami pergunakan untuk kawin? Perempuan pasti menginginkan sesuatu. Rumah, pakaian, sawah dan tetek bengek.”

“Sesudah pekerjaan kalian selesai, maka kalian pasti akan memilikinya. Memiliki semua yang kalian perlukan itu.”

“Kalau aku mempunyai kekayaan, aku akan berjudi.” sela yang lain.

“Kenapa begitu?” bertanya Jajar itu.

“Hidup seperti yang dilakukan oleh orang-orang itu, adalah kehidupan yang tidak jujur. Orang mengikat diri dalam suatu ikatan yang tidak dikehendakinya sendiri.”

“He.“ Jajar itu mengerutkan keningnya.

“Jangan pura-pura tidak tahu. Kenapa kau juga tidak kawin saja? Nah, bukankah kau juga sependapat, bahwa hidup yang demikian itu adalah kehidupan yang menjemukan? Seperti burung yang memasukkan dirinya sendiri kedalam sangkar? Adalah bohong sama sekali, bahwa seseorang dapat mendapatkan kesenangan, yang menurut orang cengeng disebut kebahagiaan di dalam perkawinan.”

“Kau lucu.” desis Jajar itu.

“Tidak. Tidak lucu. Aku berkata sebenarnya seperti apa yang sebenarnya tersimpan di dalam dada setiap orang. Kau lihat ketidak jujuran itu? Aku mempunyai kawan yang kawin. Katanya ia berbahagia. Tetapi apa yang dilakukan? Sambil bersembunyi-sembunyi ia mencari perempuan lain. Sedang isterinya tidak tahu sama sekali. Isterinya menganggap suaminya adalah orang yang paling suci. Begitukah hidup yang baik, yang jujur? Sebaliknya, kawanku yang lain. Suaminya merasa isterinya yang paling tercinta adalah seorang perempuan yang bersih seputih kapas. Tetapi apa yang terjadi? Aku sendiri pernah lima kali diterimanya di dalam rumahnya selagi suaminya berada di sawah, menunggu air di malam hari. Bertanyalah kepada adikmu, kepada orang yang lain. Nah bukankah mereka selalu diselimuti oleh kebohongan dan ketidak jujuran? Katakan ada suami isteri yang bersih. Tetapi apakah kau yakin, bahwa suami isteri itu tidak selalu menentang perasaan sendiri?”

Jajar itu mengerutkan keningnya. Ia memang tidak kawin, tetapi bukan karena alasan-alasan yang diucapkan oleh anak itu. Ia tidak kawin karena merasa dirinya tidak mampu untuk kawin. Bukan karena alasan-alasan lain. Bukan karena ia takut untuk menghadapi kenyataan-kenyataan yang diucapkan oleh anak itu.

“Bagaimana?“ anak muda yang berambut kusut tanpa disisir itu mendesak, “kau sependapat?”

Jajar itu belum menjawab. Ia merasakan ketidaksamaan dalam hal itu. Tetapi Jajar itu tidak dapat mengucapkan. Jajar itu tidak dapat menyusun kalimat-kalimat yang baik untuk mengatakan perasaannya. Ia tidak dapat mengerti apa yang disebut kejujuran di dalam hal ini. Apakah seseorang yang tidak membiarkan segala macam keinginan terpenuhi itu tidak jujur? Ia dapat mengerti tentang laki-laki atau perempuan yang diam-diam telah meninggalkan kebersihan perkawinannya. Tetapi ia tidak mengerti pendapat anak yang liar itu bahwa suami isteri yang mengekang diri untuk mempertahankan nilai-nilai perkawinannya yang putih itupun dianggapnya tidak jujur, karena menentang perasaan sendiri.

Tetapi akhirnya Jajar itu hanya bergumam, “Kau hanya ingin membenarkan sikapmu.”

Anak itu tertawa pendek, “Kau salah. Aku ingin jujur terhadap diriku sendiri. Aku tidak mau membohongi diriku sendiri. Inilah aku.”



“Bagaimana kau?”

“Aku lakukan apa yang aku ingini. Aku tidak mau terikat oleh apapun. Aku adalah manusia yang bebas. Manusia yang tidak menjadi budak peradaban dan segala macam adat dan peraturan-peraturan yang dibuat manusia sendiri untuk mengikat dirinya sendiri dan mengajari membohongi diri.”

Jajar itu terdiam sejenak. Sekali lagi ia mendapatkan kesulitan untuk mengatakan perasaannya. Tetapi perasaannya sama sekali tidak sesuai dengan pikiran itu.

“Bagaimana?” anak itu masih tertawa. Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Nah, kau sependapat?”

Tetapi Jajar itu menjawab, “Aku tidak tahu. Tetapi apakah dengan demikian kau tidak hanya sekedar ingin membenarkan sikapmu yang liar dan tidak terkendali? Kau hanya meminjam istilah yang dapat menyelamatkan perasaanmu sendiri dari kejaran-kejaran kegelisahanmu. Kau mencoba untuk menyembunyikan diri dari ketakutan dan kecemasan tentang hari-harimu yang mendatang, karena kau sekarang hanya sekedar dikuasai oleh nafsu yang tidak terkendali. Lalu kau menyebutnya dengan kata-kata yang dapat memberimu ketentraman, yaitu kejujuran. Begitu? Dengan demikian kau dapat membebaskan dirimu dari jalan dan pandangan hidup yang berlaku. Dengan bangga kau berkata, ‘Aku jujur terhadap diriku. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Aku ingin berbuat seperti ini, memanjakan nafsu.’ begitu?”

Anak muda itu terperanjat mendengar jawaban Jajar yang gemuk itu. Ia tidak menyangka bahwa Jajar yang tidak juga kawin itu beranggapan demikian. Karena itu sejenak justru ia tidak dapat mengucapkan sesuatu.

“He.“ Jajar itu menghela nafasnya, “kita telah salah memilih bahan pembicaraan. Aku mempunyai keperluan yang khusus. Tidak ingin berbicara tentang jalan hidup kita masing-masing. Ayo kita berbicara.”

“Heh.“ anak muda itu agaknya masih belum puas, “kau tidak senang melihat aku memilih jalan hidup seperti ini. Tetapi kau ingin berbuat jauh lebih dahsyat dari apa yang kita lakukan.”

Jajar itu mengerutkan keningnya, tetapi lalu tersenyum. Akalnya ternyata masih dapat menguasai dirinya, “Kita telah memilih jalan hidup kita masing-masing. Jalan yang berbeda tetapi mempunyai beberapa persamaan. Aku menginginkan apa yang aku ingini, dan kau memilih apa yang kau pilih. Tetapi keduanya tidak dibenarkan oleh ukuran peradapan yang wajar.”

Wajah anak muda itu menegang, tetapi iapun kemudian tertawa pula, “Marilah, kita berbicara. Kita adalah orang-orang yang liar, tetapi jujur terhadap diri sendiri.”

Jajar itupun kemudian melangkah pergi diikuti oleh adiknya dan kedua anak-anak muda yang akan mewakili teman-temannya kesudut halaman itu. Tetapi meskipun demikian Jajar itu masih sempat berpikir,

“Seandainya semua orang berbuat demikian, jujur sejujur-jujurnya terhadap perasaan sendiri tanpa mau mengikatkan diri kepada ketetapan peradahan yang telah disetujui bersama, apakah yang kira-kira akan terjadi? Tidak ada ikatan antara seseorang dan orang yang lain. Tidak ada perkawinan, tida ada keluarga.” Tetapi Jajar itu kemudian berdesis, “Persetan, aku harus mendapatkan perhiasan tiga pengadeg. Aku harus menjadi kaya raya. Aku akan kawin dengan perempuan yang paling cantik.“ Tiba-tiba ia mengerinyitkan keningnya, “Tetapi bagaimana kalau perempuan yang paling cantik itu tidak jujur. Ia kawin bukan karena ia mencintai aku, tetapi karena kekayaanku. Lalu seperti yang dikatakan oleh anak ini, ia menerima orang lain di dalam rumahku.”

“Persetan. Persetan.” Jajar itu menggeretakkan giginya.

Akhirnya mereka berhenti di sudut halaman, ditempat yang terlindung oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh disana-sini. Dengan hati-hati Jajar itu menceriterakan apa yang ingin dilakukannya besok, sesuai dengan rencananya.

“Kalian jangan gagal.” desis Jajar yang gemuk itu. “Kalau kalian gagal, maka semua rencana akan gagal juga.”

“Percayalah. Terhadap seekor harimau loreng kami tidak takut. Apalagi Kuda Sempana berdua.”

“Tunggulah disekitar halaman rumahku. Kalau mereka telah masuk, jangan tunggu lebih lama lagi. Pancinglah mereka dengan segala macam persoalan. Kalau kalian kemudian berkelahi, bunuh saja keduanya. Mayatnya harus disembunyikan, sampai pihak istana selesai mengurus penyerahan tebusan itu, kita tidak mempunyai urusan lagi.”

Kedua anak-anak muda dan adik Jajar yang gemuk itu mencoba membayangkan apa yang harus mereka lakukan. Mereka harus bersiaga tanpa diketahui oleh kedua orang yang dimaksud oleh Jajar yang gemuk itu. Kemudian apa bila mereka telah berada di dalam rumah, maka mereka harus menyergapnya. Mengepung rumah itu supaya mereka tidak lolos, dan menyeret mereka ke dalam perkelahian.

“Apakah kalian telah mengerti apa yang akan kalian lakukan?“ Jajar itu bertanya.

Ketiganya mengangguk-anggukkan kepalanya. Adiknya menyahut, “Ya, kami sudah tahu. Dan kami akan melakukan sebaik-baiknya.”

“Hati-hati. Kuda Sempana adalah seorang bekas Pelajan Dalam istana yang mendapat kepercayaannya. Kemampuannya berkelahi tidak kalah dengan seorang prajurit, bahkan seorang prajurit pilihan.”

Adik Jajar itu tertawa pendek, “Aku sudah tahu, apa yang mampu dilakukan oleh seorang Pelajan Dalam. Aku tahu pula kemampuan seorang prajurit pilihan sekalipun. Aku sendiri akan dapat menyelesaikannya.”

“Tetapi kawannya itu.“ potong Jajar yang gemuk.

“Apakah kawan Kuda Sempana itu mempunyai nyawa rangkap tiga?“ sahut anak muda yang lain, “kita kini telah berempat. Apalagi ditambah dengan beberapa kawan. Betapapun dahsyat orang itu, tetapi ia tidak akan mampu melawan kami. Mungkin seorang lawan seorangpun aku mampu membunuhnya. Tetapi supaya kita yakin bahwa rencana ini tidak gagal, akan membawa kawan lima orang lagi, sehingga kita berjumlah sembilan orang.”

“Sembilan orang.“ Jajar itu mengulangi, “Kuda Sempana sendiri memerlukan dua orang untuk dapat membunuhnya segera, dan kawannya itu akan dibunuh beramai-ramai oleh tujuh orang. Bukankah begitu.”

“Berlebih-lebihan. Tetapi biarlah hatimu menjadi tenteram.“ potong adiknya, “Kau tahu apa yang dapat dilakukan dan yang sering kami lakukan.”

“Ya aku tahu. Kalian terlampau sering berkelahi dan memang mampu untuk melakukannya.”

“Nah, apakah kalian masih mencemaskan nasib kami atau mencemaskan nasib Kuda Sempana dan kawannya?”

“Aku percaya. Sembilan orang. Kalau kita gagal dengan sembilan orang, maka baiklah kita bersama-sama membunuh diri. Kita akan menjadi sangat malu.“ berkata Jajar yang gemuk itu.

Ketiga anak-anak muda itu tertawa. Salah seorang, dari mereka berkata, “Jadi kau yakin?”

“Aku yakin dihari pertama. Besok untuk membunuh Kuda Sempana dan kawannya. Tetapi bagaimana dihari kedua. Lusa?”

“Berapa orang kau butuhkan?”

“Aku belum tahu pasti, siapakah dan berapakah jumlahnya, orang-orang yang harus datang untuk menyerahkan tebusan itu. Tetapi besok aku akan minta kepada Permaisuri, bahwa Kuda Sempana dan kawannya minta supaya mereka menyerahkan uang itu sendiri dan hanya satu dua orang pengawal.”

“Apa Permaisuri dan Akuwu Tunggul Ametung akan menyetujuinya?“ bertanya adiknya.

“Aku akan berusaha. Aku dapat mengatakan bahwa apabila tidak demikian maka Kuda Sempana dan kawannya itu tidak bersedia membawa Mahisa Agni, karena mereka bercuriga bahwa orang-orang Tumapel akan berbuat curang.”

Anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kau memang pintar.“ salah seorang dari mereka bergumam, “Mudah-mudahan Permaisuri cukup bodoh untuk menyetujuinya.”

“Mahisa Agni baginya terlampau berharga.”

“Lalu berapa orang kau perlukan? Tiga, atau lima?”

“Hus.“ Jajar itu berdesis, “jangan terlampau memandang ringan persoalan ini. Mungkin Permaisuri menyediakan beberapa orang prajurit untuk mengawasi serah terima itu.”

“Ya, tetapi berapa orang yang kau perlukan? Itu saja. Aku tidak sempat memikirkan segala macam persoalannya.”

“Aku tinggal menyediakan. Sebut saja. Kalau kau masih perlu mempertimbangkannya, pertimbangkan saja lebih dahulu didalam kepalamu sebelum kau menyebut jumlahnya.”

“Setan alas.” geram Jajar itu, “kalian memang terlampau malas. Otak kalian akan menjadi tumpul, setumpul lutut kalian itu.”

“Aku tidak sempat.”

“Baiklah. Aku minta kalian datang bersama-sama kawan-kawan kalian sebanyak limabelas orang.”

“He, sebanyak itu? Apakah kita akan berperang melawan Tumapel? Berapa orang prajurit yang akan ikut kau pada saat penyerahan itu. Berapa? Ada sepuluh orang atau lebih? Kau menghina kami. Kalau yang datang hanya lima orang, maka lima orang sudah cukup untuk melawan mereka dan membinasakan. Seorang menurut katamu akan menjadi Kuda Sempana didalam kegelapan, dan seorang lagi menjadi kawannya. Sedang yang seorang menjadi bayangan Mahisa Agni. Tiga orang. Begitu bukan maksudmu? Dengan demikian maka jumlah yang diperlukan sebanyak-banyaknya adalah sepuluh orang dengan kau sendiri.”

“Kalian tidak usah ikut berpikir. Otak kalian sudah terlanjur tumpul. Biarlah aku saja yang memikirkan. Kau hanya tahu jumlah yang aku perlukan. Kau tidak akan tahu darimana aku mendapatkan angka itu. Lima belas orang. Apakah kalian bersedia.”

“Setan alas, kaupun setan alas.“ geram salah seorang dari anak-anak muda itu.

“Nah, bagaimana. Apakah diantara kalian tidak ada sejumlah itu?”

“Hem.” adik Jajar itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian, “Ya, kami sanggupi. Jangankan limabelas seratuspun akan dapat terkumpul dalam malam ini sebelum matahari muncul.”

“Benar begitu?“ bertanya Jajar itu ragu-ragu. Anak-anak muda itu saling berpandangan sejenak. Mereka merasakan keragu-raguan Jajar yang gemuk itu, seolah-olah Jajar itu kurang mempercayai mereka. Karena itu maka salah seorang dari mereka berganti bertanya, “Kau tidak percaya? Apakah kau ingin membuktikan?”

“Bukan, bukan karena aku tidak percaya. Tetapi baiklah. Aku kira kita tidak memerlukan orang begitu banyak. Lima belas orang saja. Kalau kalian, kurang yakin, kalian dapat menambah menurut pertimbangan kalian sendiri.”

“Kalau kau bertanya tentang pertimbangan kami, maka lima orang sudah cukup untuk melawan lima belas orang prajurit seperti yang kau katakan. Apakah kau tidak percaya?”

“Aku percaya. Tetapi aku memerlukan keyakinan dan kepastian. Itulah sebabnya, maka lebih baik kita kelebihan tenaga daripada kita mengalami kegagalan.”

“Lalu apa lagi yang harus kami kerjakan?”

“Tidak ada. Tetapi ingat. Sesudah itu aku akan meninggalkan Tumapel. Kalian sebaiknya ikut aku.”

“Buat apa?”

“Kalian menjadi pelindungku yang baik, dan kalian pun harus menghindari kejaran prajurit-prajurit Tumapel.”

“Mereka tidak mengenal kami. Hanya kaulah yang pasti dikenal dan dicurigai, meskipun kau berpura-pura berada dipihak mereka. Tetapi kami tidak. Kalau upah kami sudah kau berikan, maka terserahlah kepadamu, kemana aku akan pergi. Aku tidak memperdulikanmu lagi.”

“He? Kalian tidak takut kepada prajurit-prajurit Tumapel?”

“Hanya kaulah yang tahu, bahwa kami yang menyerang mereka. Meskipun ada satu dua diantara para prajurit itu yang masih hidup, tetapi mereka tidak mengenal kami. Kalau pihak istana kemudian tahu, bahwa kami terlihat di dalamnya, maka sumbernya adalah kau.”

“Setan alas.“ geram Jajar itu, “kalian sudah mulai mengancam. Tetapi itu mustahil. Aku ingin, aku pun tidak dicurigai. Aku ingin mendapat kesan bahwa akupun terbunuh diantara prajurit-prajurit Tumapel yang mati. Dengan demikian tidak akan ada orang yang mencari aku. Prajurit-prajurit Tumapel mengira bahwa sergapan itu dilakukan oleh orangnya Kuda Sempana.”

“Mudah-mudahan.“ desis adik Jajar yang gemuk itu.

“Nah, sekian saja untuk malam ini Jangan lupa. Kepung rumahku. Kalian harus bersiaga disekitar rumahku sejak matahari turun. Jangan menunggu malam. Banyak tempat untuk bersembunyi. Halaman rumahku cukup rimbun.”

“Aku tahu.“ jawab salah seorang dari mereka, “halaman rumahmu besar-besar seperti hutan alang-alang. Kau seorang juru taman diistana, tetapi rumahmu sendiri tidak pernah mendapat perawatan. Apalagi halaman dan petaman.”

Juru taman itu tersenyum. Katanya, “Sebentar lagi aku akan meninggalkan rumah yang jelek itu. Sekarang aku akan masuk kedalam rumah perjudian itu. Jangan lupa persetujuan yang telah kita buat.”

“Kau akan ikut berjudi?“ bertanya adiknya.

“Ya.”

“Kau akan terlambat bangun besok pagi. Kau akan kehilangan kesempatan bertemu dengan Permaisuri.” Jajar itu mengerutkan keningnya.

“Lakukanlah dahulu rencana besarmu ini. Jangan tenggelam dalam perjudian, sebelum kau berhasil.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau pintar juga. Baiklah aku pulang. Tetapi hati-hati, kalau kalian gagal, kita bersama akan digantung dialun-alun Tumapel, menjadi tontonan meskipun dihari pertama kalian berhasil membunuh Kuda Sempana dan kawannya itu.”

“Jangan takut.”

Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak dipandanginya ketiga anak muda itu berganti-ganti, seolah-olah ingin melihat kekuatan yang tersimpan di dalam diri mereka. Jajar itu terkejut ketika tiba-tiba saja salah seorang dari ketiga anak-anak muda itu bertanya,

“Kau masih tetap ragu-ragu?”

“Tidak, tidak. Aku sudah tidak ragu-ragu lagi.”

“Apakah kau ingin membuktikan aku mencabut pohon semboja itu.”

“Tidak, tidak, aku sudah percaya.”

“Atau meloncati atap regol halaman ini?”

“Tidak, tidak. Aku sudah percaya.”

Anak-anak muda itu tertawa. “Baiklah.“ desis salah seorang dari mereka, “akupun percaya bahwa kau juga mampu melakukannya. Sekarang pulanglah, dan tidurlah dengan nyenyak.”

“Baiklah.“ Jajar itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu minta diri kepada anak-anak muda itu.

Diperjalanan pulang, Jajar itu kadang-kadang tersenyum seorang diri. Terbayang kemenangannya yang akan terjadi besok. Wajah yang beku sebeku mayat itu tidak akan dapat mengganggunya lagi. Mata yang memancar seperti bara dalam kebekuan wajah itu tidak akan membuatnya kehilangan akal lagi. Ketika Jajar itu kemudian berbaring dipemberingannya, maka senyum itu masih juga membayang diwajahnya. Sejenak kemudian juru taman yang gemuk itu telah tertidur dibelai oleh mimpi yang menyenangkan sekali.

Ketika matahari menjenguk dari balik pebukitan diujung Timur, Jajar itu telah berjalan dengan tergesa-gesa keistana. Jarak itu terasa terlampau jauh. Ia ingin segera bertemu dengan Permaisuri dan menipunya. Membohonginya. Tetapi yang akan dilakukan bukan sekedar menipu dan berbohong, tetapi sesudah menipu dan bohong, yang akan dilakukan adalah pembunuhan. Pembunuhan yang keji tanpa memikirkan akibat dan pertanggungan jawab atas perbuatannya itu.

Ketika ia melewati regol-regol halaman istana, regol luar kemudian regol dalam dan regol petamanan, Jajar itu sama sekali sudah tidak sempat berpaling kepada para penjaga. Ia berjalan saja dengan tergesa-gesa seolah-olah regol itu segera akan ditutup. Para penjaga yang melihatnya saling berpandangan sejenak. Lalu mereka tersenyum. Para prajurit itu telah mendengar ceritera tentang juru taman yang mereka sangka telah menjadi gila.

“Tetapi ia tidak berbahaya.” desis salah seorang prajurit.

“E, siapa bilang.” sahut yang lain, “hampir saja ia berkelahi dengan kedua kawannya yang lain.”

“Itulah, ia tidak berbahaya. Ia masih sempat merasa takut melawan kedua kawannya, seperti kedua kawannya yang ragu-ragu, sehingga perkelahian itu menjadi urung. Kalau Jajar itu menjadi benar-benar gila dan berbahaya, maka ia tidak akan terlalu banyak bicara. Mungkin kedua kawannya itu telah dikelewangnya.”

“Kasian.” desis yang lain, “tetapi apakah kegilaannya itu tidak membahayakan Permaisuri.”

“Tidak. Terhadap Permaisuri ia benar-benar takut. Sekali dua kali ia dipanggil. Ia menundukkan kepalanya hampir mencium tanah.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka memandangi Jajar yang berjalan tergesa gesa itu sampai hilang dibalik dinding-dinding yang tinggi. Jajar itu sendiri segera pergi kepetaman. Tetapi ia menjadi kecewa ketika ia belum melihat Permaisuri berada di petaman itu.

“Aku harus menunggu. O, hampir gila aku dibuatnya. Menunggu adalah pekerjaan yang menjemukan sekali. Menunggu dan menunggu itulah yang akan membuatku gila.”

Kali ini Jajar yang gemuk itu tidak mau menunggu dibawah pohon sawo kecik. Ia merasa tersiksa duduk bersandar pohon yang besar dan rindang itu. Ia ingin melewatkan waktunya dengan kesibukan, agar ia tidak merasakan kejemuan yang mengoyak dadanya. Jajar yang gemuk itu segera mengambil alat-alatnya. Cangkul dan sebuah parang. Dengan nafas terengah-engah ia mengaduk tanah untuk mencoba menyiangi tanaman. Tetapi karena hatinya tidak berada dipekerjaannya, maka pekerjaannyapun tidak dapat dilakukannya dengan baik. Namun yang dilakukan itu telah mengherankan kedua kawannya yang datang kemudian. Sambil berbisik mereka berkata,

“He, ia telah mau bekerja.”

Tetapi mereka menjadi terperanjat. “O, pohon kembang gambir itu akan mati kalau ia berbuat demikian. Itu sama sekali tidak menyiangi, tetapi menebas akar-akarnya sampai habis.” desis salah seorang dari mereka.

“Biar sajalah.” berkata yang lain.

Kedua Jajar yang lain itu kemudian sama sekali tidak menghiraukannya lagi. Merekapun segera bekerja ditempat yang lain. Disudut-sudut petamanan. Memotong daun-daun yang kuning, dan mencabut rerumputan liar yang tumbuh disana sini, diantara tanaman bunga-bungaan yang sedang semarak.

Tetapi ternyata bukan Jajar yang gemuk itu saja yang gelisah. Ternyata Permaisuripun telah diganggu oleh kegelisahannya. Ia ingin segera mendengar keterangan Jajar yang gemuk itu, apakah Kebo Sindet bersedia membawa Mahisa Agni. Kalau Kebo Sindet itu bersedia, maka berjalanlah rencana Akuwu Tunggul Ametung, meskipun tidak jujur sepenuhnya. Tetapi terhadap orang-orang seperti itu, Akuwu Tunggul Ametung memang perlu bertindak untuk mencegah perbuatan yang serupa dimasa-masa mendatang. Tetapi apabila Kebo Sindet menolak, Akuwu masih mempunyai waktu untuk menentukan sikapnya.

Karena kegelisahan itulah maka Ken Dedespun hari ini telah mengejutkan para emban dan emban pemomongnya yang setia. Meskipun hari masih terlampau pagi, tetapi Ken Dedes telah bersiap turun ketaman untuk bertemu dengan Jajar yang gemuk itu. Tetapi keheranan para emban tidak setajam kedua kawan Jajar yang gemuk itu. Para emban tahu, bahwa Permaisuri sedang dirisaukan oleh orang-orang yang telah mengambil Mahisa Agni dan menyembunyikannya. Sedang para juru taman tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Keheranan mereka memuncak, ketika mereka melihat Permaisuri turun ketaman jauh lebih cepat dari kebiasaannya. Kedua Jajar itu tidak dapat mengerti, apakah yang sebenarnya telah terjadi. Apalagi ketika Permaisuri langsung memanggil Jajar yang gemuk yang dengan gelisahnya mengisi waktunya dengan segala macam pekerjaan yang tidak berarti, bahkan kadang-kadang membuat beberapa macam tanaman menjadi layu. Ketika Jajar yang gemuk itu menghadap Permaisurii maka dadanya serasa akan bengkah. Berjijal-jijal persoalan yang akan dikatakannya bersama-sama. Tetapi justru karena itu, maka mulutnya masih saja terbungkam.

“Bagaimana juru taman?” bertanya Ken Dedes langsung pada persoalannya, “apakah kau sudah bertemu dengan Kebo Sindet dan mengatakan pesanku kemarin.”

Jajar itu membungkuk dalam-dalam, jawabnya gemetar, “Hamba Tuanku, hamba telah bertemu dan menyampaikan pesan Tuan Puteri kepadanya.”

“Apa katanya?” Ken Dedes hampir tidak sabar lagi menunggu Jajar itu membuka mulutnya.

“Tuanku.” Jajar itu mencoba mengatur nafasnya yang terengah-engah, “hamba telah menyampaikannya dan menyarankannya untuk dapat mengerti maksud Tuan Puteri.”

“Ya, lalu bagaimana jawabnya?”

“Tuan Puteri, ampun, ternyata Kebo Sindet, kawan Kuda Sempana itu dapat mengerti. Ia dapat menerima pesan itu dengan beberapa syarat pula.”

“Apakah syarat itu?”

“Tuanku. Ampunkan hamba. Sama sekali bukan maksud hamba untuk melakukannya, tetapi semata-mata atas pesan Kebo Sindet itu.”

“Ya, katakanlah. Katakanlah selengkapnya.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar