MENU

Ads

Minggu, 19 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 188

“Tetapi taman itu tergenang air sama sekali. Mungkin sebagian menjadi rusak karenanya.”

Beberapa orang yang mendengarnya tanpa mereka sengaja segera berpaling kearah taman yang sedang disiapka oleh Ken Arok agak jauh ketengah Padang Karautan. Tetapi mereka tidak melihat sesuatu selain sebuah kelompok yang hijau kehitam-hitaman dikejauhan. Seperti bayangan sebuah puntuk kecil menjorok ditengah-tengah padang yang luas.

Tetapi mereka telah membayangkan, bahwa taman itu telah digenangi air yang meluap dari sendang buatan karena air susukan induk yang menampung banjir. Dan mereka membayangkan, bahwa sebagian dari pepohonan yang baru tumbuh dan berkembang akan menjadi berserakan.

Tetapi seperti perintah Akuwu Tunggul Ametung sendiri bendungan itu jauh lebih penting dari taman yang sedang disiapkan itu. Apabila bendungan itu gagal, maka taman itu pun tidak akan dapat diselesaikan, karena tidak ada air yang akan menggenangi sendang buatan. Dan tanahnya pun akan menjadi kering.

Orang-orang Panawijen yang berdiri di ujung bendungan itu pun masih juga berdiri rapat. Di antara mereka terdapat para prajurit Tumapel yang dengan tegang melihat, apakah air masih akan naik terus dan menghanyutkan bendungan. Mereka kemudian menguak ketika mereka melihat Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok dan beberapa orang yang lain berjalan ketepi sungai di ujung bendungan itu. Meskipun mereka masih kelelahan, tetapi mereka ingin juga melihat apakah yang kini terjadi dengan bendungan mereka.

Air yang keruh masih juga bergulung-gulung? seolah-olah menggoncang bendungan itu perlahan-lahan. Tetapi kini sebagian dari arus banjir itu telah meluap dan tumpah tertampung pada susukan induk yang mengalir membelah Padang Karautan. Mulut susukan induk itu ternyata semakin lama menjadi semakin besar disobek oleh arus air yang tidak tertahankan. Namun dengan demikian bahaya bagi bendungan itu pun menjadi berkurang.

Tetapi di sana-sini tampak tebing susukan itu menjadi longsor. Susukan itu memang belum siap benar menerima arus air, apalagi arus banjir. Namun terlebih penting lagi bagi mereka, adalah menjelamatkan bendungan itu. Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Arok menjadi berdebar-debar memandang air yang keruh kehitam-hitaman itu bergulung-gulung di depan bendungan. Mereka masih membayangkan bahwa bencana masih bisa terjadi.

Dalam ketegangan itu tiba-tiba terdengar seseorang berbisik, “Air telah turun.”

Kawannya yang berdiri di sampingnya mencoba melihat permukaan air yang keruh itu. Dan tiba-tiba ia berdesis pula, “Ya, air telah turun.”

Desis itu kemudian menjalar dari mulut ke mulut. Mereka memang melihat bendungan itu seolah-olah naik semakin tinggi. Jarak permukaan air dan bendungan itu menjadi semakin lebar.

“Air telah turun.” desis itu terdengar terus.

“Ya, air telah turun.”

Sejenak kemudian hampir setiap mulut mengatakan tentang air yang telah mulai turun, meskipun belum selebar tapak tangan. Tetapi hal itu telah menumbuhkan kegembiraan bagi orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel. Kemungkinan bahwa bendungan itu akan hanyut menjadi semakin kecil, meskipun mereka harus memeras tenaga pada saat banjir yang pertama itu.

Hampir setiap orang menarik nafas dalam-dalam pada saat yang bersamaan. Mereka menyaksikan air semakin lama memang semakin surut. Sedang langit pun menjadi semakin cerah. Agaknya di ujung sungai itu pun hujan sudah teduh. Sejenak Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Arok berdiri saja mematung, seolah-olah mereka ingin meyakinkan apakah benar-benar air sudah mulai turun.

Ternyata mereka pun kemudian melihat, seolah-olah bendungan itu bergerak naik menyembul dari permukaan air. Akuwu Ken Arok, Kebo Ijo, Ki Buyut Panawijen dan beberapa orang yang berada disekitarnya pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Bahkan terdengar Ken Arok berdesis perlahan,

“Air memang sudah turun.”

“Ya.” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “kalian berhasil menyelamatkannya. Tetapi ingat, ini baru banjir yang pertama dalam musim hujan ini. Pada saat-saat mendatang akan datang banjir yang kedua dan berikutnya.”

“Kami akan bekerja sekuat tenaga kami, Tuanku, semoga banjir yang kemudian tidak pula menghancurkan bendungan ini.”

“Kalian telah berhasil menyelamatkannya kini. Kalian dapat melihat bagian-bagian yang masih harus kalian sempunakan. Jangan kalian lepaskan tali-tali pengikat brunjung-brunjung dengan patok-patok di tepian. Ternyata tali-tali dan tambang-tambang itu telah membantu menyelamatkan berdungan ini, sampai pada saatnya kalian yakin, bahwa bendungan kalian telah sempurna.”

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba, Tuanku. Tali-tali itu justru akan hamba tambah lagi. Tetapi hamba akan dapat membuat parit-parit pembantu, untuk membuang air yang berlebihan apabila banjir datang. Hamba dapat memotong saluran induk itu dan mengorbankan beberapa bagian dari tanah persawahan untuk membuat parit-parit yang dapat mengurangi tekanan banjir. Parit-parit yang dangkal yang hanya berguna apabila air naik terlampau tinggi.”



Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. “Pikiran itu adalah pikiran yang sangat baik, yang segera dapat dipergunakan untuk melawan banjir yang pasti akan datang susul menyusul selama musim basah ini. Meskipun menurut perhitungan pranata mangsa, hujan yang paling lebat masih akan turun satu atau dua bulan lagi.”

Tetapi tiba-tiba Akuwu itu pun memalingkan wajahnya, memandang kejauhan agak ketengah Padang Karautan. Dilihatnya segerumbul tanaman yang hijau Perlahan-lahan ia berdesis,

“Apakah yang kira-kira terjadi atas taman itu setelah banjir.”

“Mungkin sebagian akan menjadi rusak, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Lalu bergumam, “Pekerjaanmu berikutnya adalah memperbaiki petamanan itu.

Ken Arok megerutkan keningnya. Dipandanginya segerumbul tanaman yang hijau kehitam-hitaman dikejauhan. Taman itu tampak menjadi semakin segar. Tetapi Ken Arok menyadari, bahwa ada bagian-bagian yang pasti harus diperbaikinya. Meskipun demikian, bahwa bendungan itu terselamatkan, adalah suatu hal yang sangat menggembirakannya. Tanpa disadari ia merasa bertanggung jawab terhadap Mahisa Agni tentang keselamatan bendungan itu. Seolah-olah Mahisa Agni telah memberikan beban itu diatas pundaknya, tanpa dapat diserahkannya kepada orang lain. Dan baginya terasa, tanggung jawab atas bendungan itu justru lebih dari tanggung jawabnya membuat taman yang justru dibebankan oleh Akuwu Tunggul Ametung. Apalagi setelah Akuwu Tunggul Ametung sendiri bersikap demikian pula. Keselamatan bendungan itulah yang tebih penting dari segalanya.

Ternyata air semakin lama semakin susut meskipun perlahan-lahan sekali. Tetapi dengan demikian bahaya bagi bendungan itu pun susut pula meskipun juga perlahan-lahan sekali. Ketika orang-orang yang berada di ujung bendungan itu yakin bahwa bencana yang lebih besar sudah tidak akan menimpa lagi untuk saat itu, maka ketegangan di dalam dada mereka pun perlahan-lahan menjadi semakin kendor. Beberapa orang telah bergerak dari tempatnya, mundur beberapa langkah.

Sedang Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok, Ki Buyut Panawijen, Kebo Ijo dan beberapa orang lain segera meninggalkan tempat itu, duduk di atas batu-batu sambil melepaskan ketegangangan yang selama ini mencengkam hati mereka. Witantra yang duduk di belakang Akuwu Tunggul Ametung, masih saja merenungi orang-orang yang berdiri di pinggir sungai yang banjir itu.

Namun tiba-tiba Ken Arok bergumam, “Sebelum air surut, orang-orang yang berada di seberang tidak dapat pulang keperkemahan malam ini.”

Akuwu pun berpaling kearah mereka. Mereka pun masih juga berdiri di ujung bendungan di seberang. Tetapi agaknya ketegangan di dalam hati mereka pun telah menjadi reda.

“Bagaimana mereka makan hari ini?” bertanya Akuwu.

Ken Arok mengerutkan keningnya, “Hamba belum tahu, Tuanku.”

“Mereka harus berpuasa sehari ini. Nanti apabila air semakin surut, mereka akan dapat meniti bendungan menyeberang kemari bersama-sama.”

“Hamba, Tuanku.” sahut Ken Arok.

“Mereka pun harus beristirahat untuk melepaskan ketegangan dan kelelahan.”

“Hamba, Tuanku.”

“Tetapi besok mereka harus bekerja lebih berat. Banjir pasti akan datang susul menyusul.”

“Hamba, Tuanku.”

“Tetapi … “ tiba-tiba Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya, “Bagaimana dengan kau sendiri?”

Ken Arok tidak segera dapat menjawab. Ia masih belum tahu maksud pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu.

“Maksudku.” Akuwu meneruskan, “apakah kau sempat meninggalkan bendungan ini dalam keadaan demikian?” Terasa dada Ken Arok berdesir. Kini ia tahu benar maksud itu. Ternyata Akuwu masih juga bermaksud membawanya mencari Mahisa Agni. “Tetapi bagaimana dengan bendungan ini?” pertanyaan itu selalu mengganggunya. Justru pada saat udara selalu mendung dan hujan dapat turun setiap saat. “Aku tahu keberatanmu.” desis Akuwu itu kemudian, “justru akulah yang memberimu pekerjaan di Padang Karautan ini.” Ken Arok masih belum dapat menjawab.

“Biarlah soal ini kita tunda sampai besok. Aku sudah kehilangan gairah hari ini. Aku terlalu lelah setelah berusaha mengambilmu dari dalam air itu.”

Ken Arok mengangguk dalam-dalam sambil berkata, “Hamba, Tuanku. Sebaiknya, Tuanku beristirahat di perkemahan, Besok hamba tinggal menerima perintah, Tuanku.”

Tunggul Ametung mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Kau harus membuat pertimbang. Aku tidak dapat memaksamu, kau menghadapi pekerjaan yang cukup berat pula disini.”

“Hamba, Tuanku.” sahut Ken Arok.

“Sekarang aku akan kembali ke gubug itu.” berkata Akuwu itu kemudian. Ternyata orang yang dalam hidup sehari-hari hanya menuruti kehendak sendiri saja itu dapat juga membuat pertimbangan yang menyangkut kepentingan orang lain. Katanya, “Jangan lupa kepada orang-orang di seberang. Mereka pasti merasa lelah dan lapar seperti kalian. Usahakan, secepatnya mereka dapat dihubungi, maka mereka harus mendapat makan mereka.”

“Hamba, Tuanku.” sahut Ken Arok sambil membungkukkan badannya.

Akuwu itu pun segera berdiri dan meniggalkan tempat itu, kembali ke gubug yang disediakan untuknya. Ia memang merasa terlampau letih setelah bermain-main dengan sebatang bambu untuk menggait Ken Arok dari dalam air. Tetapi Ken Arok pun tidak kalah lelahnya. Ia sudah mengerahkan segenap kekuatannya untuk bertahan diri dari dorongan arus air yang meluap-luap.

Ketika Akuwu Tunggul Ametung telah menjadi semakin jauh bersama pengawal-pengawalnya, maka terdengar Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Huh, apa saja yang dikatakan oleh Akuwu Tunggul Ametung itu?”

“Kenapa?”

“Seperti seorang yang sedang mimpi. Apakah ia tidak melihat kesibukanmu disini? Ia masih juga dapat bertanya kepadamu untuk mencari anak yang hilang itu.”

“Ah.”

Orang itu memang terlampau aneh dan terlampau memikirkan diri sendiri. Dihadapannya kakang Witantra tidak lebih dari seekor kerbau penarik pedati. Diam sambil menundukkan kepala. Kemudian ngangguk dalam-dalam sambil berkata,

“Segala titah, Tuanku hamba junjung di atas kepala. Dan kau pun rupanya akan dijangkiti penjakit itu pula.”

“Jangan berkata begitu Kebo Ijo.” desis Ken Arok, “Witantra adalah pimpinan pengawalnya. Apakah yang harus dilakukannya? Ia sudah berbuat sebaik-baiknya melakukan tugas dan tanggung jawabnya.”

Kebo Ijo tersenyum. Tetapi senyumnya mengandung arti yang terasa sangat menyakitkan hati. Bahkan tanpa segan-segan dihadapan orang-orang Panawijen ia menggeliat sambil berdesis,

“Hem, memang sebaiknya berbuat demikian. Kau dan kakang Witantra akan segera naik pangkat.”

Ken Arok mencoba untuk menahan diri. Ketika ia berpaling dan memandangi wajah Ki Buyut Panawijen, tampak orang tua itu terheran-heran. Ia tidak mendengar seluruhnya kata-kata Kebo Ijo, tetapi ia melihat sikap Kebo Ijo yang aneh. Tetapi Ki Buyut Panawijen itu tidak bertanya apapun. Bahkan kemudian ia pun pergi meninggalkan kedua prajurit Tumapel yang mendapat tugas untuk memimpin pembuatan bendungan itu.

“Hati-hatilah berbicara.” berkata Ken Arok Kemudian. Kebo Ijo tidak menjawab. Ia hanya tertawa saja sambil melangkah pergi.

“Anak itu memang terlampau menuruti perasaannya saja.” gumam Ken Arok, “Keduanya, Kebo Ijo dan Akuwu Tunggul Ametung mempunyai beberapa persamaan. Meledak-ledak dan bahkan kadang-kadang tidak terkendali. Tetapi Akuwu adalah orang yang luar biasa. Otaknya terlampau tajam meskipun hanya kadang-kadang saja digunakan. Kekuatannya pun luar biasa. Ia mempunyai banyak kelebihan dari orang-orang kebanyakan.”

Dipandanginya langkah Kebo Ijo yang gontai. Anak muda itu pun sebenarnya kelelahan pula. Mungkin juga kejemuan telah melanda jantungnya. Telah cukup lama ia berada di Padang Karautan. Berbeda dengan Ken Arok sendiri, yang tidak meninggalkan apa pun di Tumapel, maka Kebo Ijo meninggalkan keluarganya. Isterinya mungkin selalu merasa kesepian seperti Kebo Ijo itu pula.

Tetapi Ken Arok sejenak kemudian sudah berusaha untuk melupakannya. Ia sudah mengenal betul tabiat anak muda itu, meskipun ia tidak menyukainya. Kadang-kadang perbuatan Kebo Ijo itu dapat berbahaya bagi dirinya sendiri.

Pada saat guru Kebo Ijo itu berada di padang ini, maka kelakuan Kebo Ijo tampak agak lebih baik. Tetapi kemudian pada suatu saat ketika Kebo Ijo itu sudah ditinggalkan lagi oleh gurunya kembali ke Tumapel, maka sifat-sifatnya tumbuh kembali betapapun ia mencoba mengekangnya. Kehadiran kakak seperguruannya kurang dapat mempengaruhinya, apalagi setelah ia merasa dirinya cukup dewasa dan sudah berkeluarga pula. Meskipun dihadapan kakak seperguruannya, ia mencoba berbuat sebaik-baiknya.

“Anak itu tidak juga menjadi jera.” gumamnya kemudian, “tetapi justru kata-katanya yang lebih berbahaya dari perbuatannya. Dihadapanku ia berkata seperti itu, mungkin dihadapan orang lain, bahkan mungkin dihadapan anak buahnya, ia pun berkata demikian pula. Mungkin kata-katanya terdorong lebih jauh lagi, dan bahkan mungkin akan sampai pada kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan oleh seorang prajurit.”

Tetapi Ken Arok tidak dapat berbuat apa-apa. Kakak seperguruan Kebo Ijo ada dipadang ini pula. Biarlah saudara seperguruannya itulah yang memberinya petunjuk-petunjuk seperlunya supaya tidak terjadi salah paham. Ketika Ken Arok kemudian memandangi orang-orang yang berdiri di ujung bendungan itu, dilihatnya beberapa orang telah bercakap-cakap dengan asyiknya. Mereka telah terlepas dari ketegangan yang mencengkam dada mereka. Sebagian lagi telah duduk melepaskan lelah dan bahkan ada yang sudah pergi meninggalkan tebing.

Ternyata bahwa air sungai telah benar-benar menjadi surut. Tetapi Ken Arok itu pun kemudian justru pergi ke pinggir sungai itu kembali. Diamatinya bendungan yang saat itu telah berhasil mereka selamatkan. Dicobanya untuk mencari kemungkinan yang lebih baik disaat-saat banjir datang dikemudian hari.

“Disini harus dibuat parit-parit pertolongan untuk membuang air yang terlampau tinggi.” desisnya di dalam hati. Terbayang di kepalanya, susukan yang dangkal, yang menampung air yang meluap apabila banjir mencapai keadaan yang membahayakan.

Namun sejenak kemudian Ken Arok pun teringat kepada orang-orang yang berada di seberang. Mereka masih berdiri berderet di pinggir sungai. Beberapa orang tampak melambaikan tangan mereka untuk memberikan isyarat. Mereka ingin tahu apakah yang harus mereka kerjakan.

Beberapa orang justru mengganggu mereka dengan berbagai tingkah laku. Tetapi mereka itu pun segera menyadari bahwa apabila banjir tidak segera susut cukup banyak, mereka akan terpaksa berada di seberang sampai besok. Bahkan apabila hujan turun lagi di ujung sungai, dan banjir menjadi bertambah pula, mereka terpaksa menunggu lagi sampai hari berikutnya, sampai bendungan itu dapat dilewatinya.

“Mereka harus mendapat makan.” gumam Ken Arok.

Seorang prajurit yang mendengar menyahut, “Ya, seperti kita di sini, mereka pun pasti juga lapar.”

Ken Arok berpaling. Sejenak ia mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia tersenyum, “Apakah kau juga lapar?” Prajurit itu tersenyum pula. Tetapi ia tidak menjawab. “Tetapi kau tidak usah cemas. Juru adang, sudah melakukan tugasnya dengan baik. Kau akan segera mendapat rangsummu. Tetapi bagaimana dengan mereka?” Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi wajahnya menjadi kemerah-merahan.

Karena prajurit itu masih diam, maka Ken Arok meneruskan, “Aku kira nasi telah masak. Kalian akan segera dapat makan.” Wajah prajurit itu menjadi semakin merah. Tetapi kemudian ia mengerutkan keningnya ketika ia mendengar Ken Arok berkata, “Bendungan itu sudah tidak membahayakan lagi. Apabila kita berhati-hati, kita akan dapat menitinya.” Dan sebelum prajurit itu menjawab, Ken Arok sudah melangkah meninggalkannya.

Ternyata Ken Arok itu pergi ke ujung bendungan. Ditatapnya bendungan itu dengan seksama, seakan-akan ingin mengukur kekuatannya, apakah bendungan itu tidak berbahaya apabila ia pergi ke seberang meniti di atasnya.

“He, Ken Arok.” terdengar seseorang memanggilnya. Ketika Ken Arok berpaling, dilihatnya Kebo Ijo berdiri di antara beberapa orang prajurit. “Kemana kau?” ia bertanya.

“Aku akan pergi ke seberang.” jawab Ken Arok pendek.

Kebo Ijo rnengerutkan keningnya. Katanya, “Kau selalu berbuat nekad. Lihat, air masih terlampau besar.”

“Aku akan meniti di atas bendungan.”

“Terlampau berbahaya. Sedikit gocangan telah cukup melemparkan kau ke dalam air yang seolah-olah sedang bergumul itu.”

“Aku harus berhati-hati supaya aku tidak tergelincir.”

“Apakah ada sesuatu yang penting sekali harus kau kerjakan di seberang.”

“Orang-orang di seberang itu cukup gelisah. Aku harus datang untuk menenteramkannya dan memberitahukan apa yang harus mereka kerjakan.”

Kebo Ijo mengangkat pundaknya. Ia tidak menyahut lagi, tetapi tampak di wajahnya, bahwa ia agak mencemaskannya.

“Ada juga perasaan cemas di dalam dadanya buat orang lain.” Ken Arok bergumam di dalam hatinya. Sedang kakinya telah mulai menyentuh ujung bendungan.

Perlahan-lahan dan dengan sangat hati-hati ia mulai meniti bendungan itu. Beberapa orang segera datang berkerumun di ujung jembatan. Ada di antara mereka yang mencoba mencegahnya. Tetapi Ken Arok berjalan terus. Ia cukup mengerti kekuatan bendungannya dan kekuatan air yang sudah mulai surut itu, sehingga menurut perhitungannya, maka bendungan itu sama sekali sudah tidak berbahaya. Hanya apabila ia tidak hati-hati ia akan dapat tergelincir masuk ke dalam air yang bergulung-gulung dengan warnanya yang keruh.

Ternyata perhitungan Ken Arok itu benar. Sampai ke ujung yang lain di seberang, Ken Arok tidak mengalami peristiwa apapun. Ia selamat menginjakkan kakinya ke seberang. Kedatangannya segera dikerumuni oleh prajurit-prajuritnya. Prajurit-prajurit yang cemas dan tidak mengerti apa yang sebaiknya mereka lakukan, selain menunggu. Menunggu untuk waktu yang tidak mereka ketahui.

“Akulah yang membawa kalian ke seberang ini, karena itu, maka aku datang menjemput kalian.”

“Apakah kami harus menyeberang?” bertanya seseorang.

“Meniti di atas bendungan itu.” jawab Ken Arok, “tetapi tidak bersama-sama, karena bendungan itu masih belum kuat benar. Satu demi satu atau dua. Tetapi jangan lebih dari lima orang sekaligus.”

Prajurit-prajurit itu saling berpandangan. Ada yang tampak ragu-ragu, tetapi ada yang segera menjawab, “Baiklah. Satu-satu berurutan dengan jarak yang agak panjang, sehingga tidak terlampau banyak yang berada sekaligus di atas bendungan itu. Bukankah begitu?”

“Ya.” sahut Ken Arok pendek.

“Baiklah.” sahut prajurit yang lain, yang bertubuh gemuk, “supaya kita tidak terlampau lama kedinginan di sini. Di sana kita dapat segera berganti pakaian. Kemudian duduk menghangatkan diri dimuka perapian.”

“Maksudmu, di muka perapian tempat menanak nasi?” potong kawannya.

“Ah.” desah Ken Arok, “dimana-mana aku bertemu dengan orang yang kelaparan.”

Prajurit yang gemuk itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah ada orang lain selain aku yang kelaparan?”

“Hus.” desis Ken Arok, “sekarang bersiaplah. Siapakah yang akan pergi dahulu? Jangan berebut. Aku akan menyeberang paling akhir, setelah kalian selesai.”

Beberapa orang prajurit saling berpandangan. Namun kemudian mereka pun segera pergi satu demi satu ke ujung bendungan itu. Seorang yang sudah menyentuh bendungan itu dengan kakinya menjadi ragu-ragu. Air yang bergejolak di depan bendungan itu membuatnya agak pening.

“Aku menjadi singunen.” Katanya.

“Jangan kau tatap air yang bergerak itu. Kau akan merasa seakan-akan terhisap olehnya, dan kau akan terjun ke dalamnya.”

“Marilah, siapa yang akan berjalan di depan.” berkata prajurit itu sambil melangkah surut.

Tetapi orang lain pun menjadi ragu-ragu pula. Sehingga akhirnya Ken Arok bertanya, “Tidak ada yang berani berjalan dahulu?”

Seorang prajurit yang berewok melangkah maju. Katanya, “Biarlah aku berjalan dahulu.”

“Kau tidak singunen.” bertanya kawannya.

“Tidak. Rumahku pinggir Bengawan. Aku sudah biasa melihat air banjir.”

“Pergilah.” berkata Ken Arok.

Prajurit itu pun segera berjalan perlahan-lahan meniti bendungan yang sudah menjadi semakin banyak tersembul di permukaan air. Perlahan-lahan sekali dan sangat berhati-hati. Seorang yang lain segera menyusulnya beberapa langkah di belakangnya. Setelah mereka agak ketengah maka seorang yang lain mulai menginjak bendungan itu pula. Berturut-turut seperti pesan Ken Arok. Sehingga dalam saat yang bersamaan, di atas bendungan itu tidak berdiri lebih dari lima orang.

Karena kawan-kawannya yang lain kemudian berani meniti bendungan itu, maka prajurit-prajurit yang semula ragu-ragu pun akhirnya berani juga melakukannya, meskipun sama sekali tidak berani berpaling dan memandang air yang seolah-olah akan menelannya. Apalagi apabila mereka melihat putaran air di muka susukan induk, seolah-olah mereka akan ikut serta terhisap dan hanyut ke dalamnya.

Orang-orang yang berada di seberang, kemudian berkumpul kembali menyaksikan kawan-kawannya yang berjalan beriringan menyeberang di atas bendungan. Betapapun juga, mereka menjadi tegang pula karenanya.

Ternyata prajurit-prajurit yang meniti jembatan itu memerlukan waktu yang agak panjang. Ketika warna-warna suram telah mulai mengambang di atas Padang Karautan, mereka mencoba mempercepat langkah mereka, meskipun mereka tidak boleh lengah. Mereka masih harus tetap berhati-hati supaya tidak tergelincir masuk. Namun mereka berusaha sebelum gelap, mereka harus sudah selesai. Apabila malam yang gelap sudah menyelubungi padang, maka meniti bendungan itu akan menjadi terlampau sulit dan berbahaya. Tetapi untuk menunggu sampai esok bagi para prajurit itu pasti akan terlampau lama, sebab hampir sehari-harian mereka belum makan. Apalagi pakaian mereka telah basah kuyup oleh hujan yang seperti dicurahkan dari langit.

Seperti air yang bergumul di depan bendungan itu, maka prajurit yang ada di seberang itu pun semakin lama menjadi semakin susut pula. Akhirnya tinggal beberapa orang saja bersama dengan Ken Arok. Sedang langit sudah menjadi semakin merah kehitam-hitaman.

“Cepat.” desis seorang prajurit yang bertubuh kecil berkumis tipis, “kita harus selesai sebelum gelap, supaya kita tidak terjerumus masuk ke dalam air.”

“Jangan terlalu tergesa-gesa.” berkata Ken Arok, “hati-hati jangan sampai tergelincir.”

Dan prajurit-prajurit itu memang tidak dapat terlalu tergesa-gesa dan harus selalu berhati-hati. Tetapi akhirnya prajurit yang terakhir telah menyentuhkan kakinya di atas bendungan. Namun pada saat itu hari telah mulai menjadi gelap, sehingga dengan ragu-ragu prajurit itu melangkahkan kakinya, Sekali-sekali ia berhenti menarik nafas dalam-dalam. Sedang suara air yang sedang banjir masih saja bergemuruh mengganggu telinganya. Lamat-lamat dalam keremangan ujung malam dapat dilihatnya air bergulung-gulung di depan bendungan yang sedang dititinya.

“Jangan tergesa-gesa.” berkata Ken Arok yang berjalan di belakang prajurit yang terakhir itu. ”Lebih baik perlahan-lahan dan hati-hati daripada tergesa-gesa tetapi masuk ke dalam air itu.”

“Ya.” jawab prajurit itu.

Selangkah-selangkah mereka maju. Beberapa orang di seberang ternyata dapat mengerti kesulitan para prajurit yang sedang menyeberang itu. Ternyata beberapa orang dari mereka segera menyediakan obor-obor untuk membantu menerangi bendungan. Tetapi obor-obor itu kadang malah membuat para prajurit yang menyeberang menjadi silau.

Namun akhirnya semuanya dapat sampai ke seberang dengan selamat. Ken Arok lah yang terakhir menginjakkan kakinya di pinggir seberang sambil menarik nafas dalam-dalam. Ketika dilihatnya prajurit yang gemuk masih berdiri di dekat bendungan itu sambil berceritera kepada kawannya, maka berkatalah Ken Arok,

“Apakah kau sudah memanasi dirimu di perapian sambil makan? Aku kira kau terlampau lapar dan aku kira nasi sudah masak.”

Prajurit yang gemuk itu tertawa. Jawabnya, “Aku masih belum lapar. Sudah terbiasa bagiku, dua hari dua malam tidak makan dan tidak minum.”

“Itukah sebabnya kau menjadi gemuk?” bertanya kawannya yang berdiri di sampingnya.

Sekali lagi prajurit itu tertawa lepas, sehingga beberapa orang berpaling kepadanya sehingga tiba-tiba ditutupnya mulutnya dengan tangannya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar