MENU

Ads

Minggu, 19 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 187

Tiba-tiba saja orang itu melepaskan pegangannya. Dengan tangkasnya ia meloncat berdiri. Dipandanginya Mahisa Agni dan Kuda Sempana dengan mata yang paling liar dan dengan wajah yang merah membara, semerah darah yang meleleh dari luka-luka di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba Kebo Sindet itu tertawa. Mengerikan sekali, seperti suara hantu dari dalam kubur yang mendapat mayat baru bagi santapannya. Disela-sela suara tertawanya ia berkata,

“Nah. Mahisa Agni yang sombong. Kini kau akan sampai pada suatu batas kematian dengan cara yang paling mengerikan yang pernah terjadi atas diri seseorang. Jangan menyesal. Kau tidak akan dapat melawan aku. Aku kini bersenjata, dan kau sama sekali tidak.”

Terasa dada kedua anak-anak muda itu berdesir. Mereka tidak menyangka bahwa Kebo Sindet masih mampu berdiri tegak dengan garangnya. Suara tertawa Kebo Sindet masih menggetarkan udara. Semakin lama semakin keras, semakin keras. Akhirnya suara tertawa yang mengerikan itu sampai kepuncaknya. Terdengar suara itu meninggi.

Tetapi Mahisa Agni dan Kuda Sempana terkejut, ketika tiba-tiba suara tertawa itu terputus. Mereka melihat Kebo Sindet terhuyung-huyung dan sesaat lagi mereka melihat orang itu berteriak. Matanya yang liar menjadi semakin liar. Namun tiba-tiba orang itu jatuh di atas lututnya. Dengan susah payah ia bertahan, namun tampak pada wajahnya bahwa Kebo Sindet sedang menahan rasa sakit yang amat sangat. Meskipun demikian ia masih juga berteriak,

“Mahisa Agni, berlututlah. Berlututlah sebelum kau mati. Kau juga Kuda Sempana. Kau ternyata telah berkhianat. Kau pun akan mengalami nasib serupa dengan Mahisa Agni. Kau…”

Kebo Sindet tidak dapat menyelesaikan kalimatnya, Dadanya telah digoncangkan oleh perasaan sakit yang tidak tertahankan. Ia menahan dirinya sambil bertelekan pada goloknya. Tetapi tiba-tiba ditengadahkannya dadanya. Dan seolah-olah mendapat kekuatannya kembali ia mengangkat goloknya dan menunjuk Mahisa Agni dengan ujung golok itu.

“Kemari. Kemari.” ia berteriak, “aku bunuh kalian, Aku bunuh…” suaranya terputus.

Sejenak Kebo Sindet menengadahkan wajahnya, seolah-olah ingin melihat apakah mendung masih tebal tergantung di langit. Namun sejenak kemudian perlahan-perlahan tubuh itu seakan-akan bergoyang. Dan sejenak berikutnya Kebo Sindet itu roboh di atas tanah berlumpur yang basah.

Hujan masih jatuh dari Iangit. Meskipun sudah tidak terlampau lebat. Seleret cahaya dari Utara memancar berkeredipan diantara titik-titik air hujan yang menjadi semakin mereda. Sesilir angin bertiup dari Selatan, menggerakkan ujung dedaunan yang sedang mengangguk-angguk ditimpa oleh titik-titik hujan satu-satu. Langit semakin lama menjadi semakin cerah, dan hujan pun menjadi semakin tipis.

Perlahan-lahan Mahisa Agni dan Kuda Sempana melangkah mendekati tubuh Kebo Sindet yang diam membeku. Goloknya masih erat di dalam genggamannya. Tetapi ternyata orang itu sudah tidak bernafas lagi.

“Kebo Sindet telah mati.” desih Mahisa Agni.

“Ya.” sahut Kuda Sempana pendek.

Mereka kemudian menyentuh tubuh yang membeku itu. Menelentangkannya dan dengan wajah tegang memandangi wajah yang hampir tidak pernah bergetar oleh tanggapan yang bagaimanapun juga. Kali ini wajah itu pun membeku pula. Bahkan masih tampak betapa ketegangan mencengkam jantungnya. Tetapi dari sepasang matanya sama sekali sudah tidak memancar apa pun lagi. Sorot yang menyala di mata itu telah pudar, bahkan telah padam sama sekali.

Sejenak Mahisa Agni dan Kuda Sempana masih berdiri di sisi mayat itu. Perlahan-lahan tubuh Mahisa Agni kini mulai merasa, betapa nyeri dan pedih menyengat segenap bagian tubuhnya. Tulang-tulangnya serasa berpatahan dan kulitnya menjadi lenyu, akibat perkelahiannya melawan Kebo Sindet agaknya memang terlampau payah bagi dirinya. Luka-lukanya kini terasa betapa sakit dan pedih. Ketika tanpa disengajanya ia berpaling, maka dadanya berdesir. Dilihatnya bangkai buaya-buaya kerdil berserakan di pinggir rawa-rawa itu.

“Aneh.” Mahisa Agni berdesis, “Apakah Kebo Sindet dalam keadaannya itu mampu membunuh sekian banyak binatang air yang cukup lincah menghadapinya itu?”

Tetapi Mahisa Agni melihat kenyataan itu. Bangkai-bangkai binatang air itu berserakan di pinggir rawa-rawa. Bahkan Mahisa Agni masih melihat permukaan air di pinggiran rawa-rawa itu bergolak seakan-akan mendidih. Ternyata buaya-buaya kerdil itu sedang berebut bangkai kawan-kawan mereka sendiri. Bau darah telah membuat mereka menjadi semakin buas dan garang. Ternyata bukan saja Mahisa Agni yang menjadi heran melihat sekian banyak bangkai berceceran. Bangkai buaya-buaya yang mencoba mengejar Kebo Sindet yang tertarik ketepian.

Perlahan-lahan terdengar Mahisa Agni berdesis, “Bukan main. Kebo Sindet benar-benar seorang yang luar biasa. Dalam keadaannya ia masih mampu melakukan perlawanan yang luar biasa atas buaya-buaya yang buas itu.”

Kuda Sempana mengangguk perlahan-lahan. Ia tidak dapat membayangkan kekuatan apakah yang dapat membuatnya begitu tangkas dan garang. Bahkan Mahisa Agni berkata di dalam hatinya,

“Seandainya aku yang mengalami nasib itu, apakah aku dapat berbuat seperti itu?”

Dengan wajah yang disaput oleh keheranan mereka kedua anak-anak muda itu sejenak berdiri saja membeku di samping mayat Kebo Sindet. Sejenak mereka merenung apa yang baru saja terjadi atas diri mereka. Terasa bulu-bulu diseluruh tubuh Mahisa Agni meremang. Bagaimanakah kiranya seandainya ia harus mengulangi peristiwa yang baru saja terjadi?.



“Mengerikan sekali.” tiba-tiba Mahisa Agni itu berdesis.

Kuda Sempana berpaling mendengar desis itu. Bahkan ia bertanya, “Apakah yang mengerikan?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia menjawab, “Buaya-buaya itu.”

Kuda Sempana percaya saja akan jawaban Mahisa Agni. Ia tidak tahu, apakah yang sebenarnya bergolak di dalam dada anak muda yang masih tampak lemah dan pucat itu.

“Bagaimanakah dengan mayat itu?” terdengar Mahisa Agni kemudian bertanya.

“Terserahlah kepadamu.” jawab Kuda Sempana.

“Marilah kita jauhkan dari rawa-rawa ini, supaya buaya-buaya kerdil itu tidak mencium bau darahnya dan nanti malam menyeretnya ke dalam sarang mereka.”

Kuda Sempana ragu-ragu sejenak. Kemudian terdengar ia bertanya, “apakah kau tidak ingin beristirahat dahulu?”

Mahisa Agni menarik nafas sekali lagi. Perlahan-lahan ia menggeleng, “Biarlah aku menitikkan keringat sampai tuntas. Nanti aku akan beristirahat dengan tenang.”

“Baiklah.” jawab Kuda Sempana.

Tetapi ketika keduanya mulai berlutut disamping mayat Kebo Sindet untuk mengangkatnya, mereka terkejut oleh desir dedaunan di dalam gerumbul tidak jauh dari mereka. Mereka melihat daun-daun yang bergerak. Tetapi mereka menyadari, bahwa bukan angin dan bukan titik-titik air hujan yang telah mengguncangnya.

Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri. Di sebelahnya Kuda Sempana pun telah berdiri tegak sambil menengadahkan dadanya. la mendengar gemerisik pula dan melihat dedaunan yang bergoyang di gerumbul dihadapan mereka. Mahisa Agni yang masih lemah itu mencoba menenangkan pernafasannya. Dicobanya untuk mengusai segenap sisa-sisa kekuatan yang ada padanya, supaya apabila diperlukan, ia masih juga mampu mengadakan perlawanan untuk membela dirinya.

Daun yang bergoyang-goyang itu semakin keras berguncang. Namun sejenak kemudian Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya dari dalam gerumbul itu seseorang merangkak keluar. Dan ternyata orang itu adalah orang yang telah dikenal dengan sebaik-baiknya. Empu Purwa.

“Guru.” dengan serta merta Mahisa Agni berdesis.

Empu Purwa itu kemudian menggeliat sambil bertelekan lambung, desahnya, “penat sekali aku bersembunyi di dalam gerumbul itu. Hampir aku tidak tahan. Air hujan yang melimpah dari langit membuat aku hampir-hampir tidak dapat bernafas. Apalagi setelah aku melihat beberapa buah gerumbul yang lain telah tersapu rata oleh perkelahian yang baru saja terjadi.” orang tua itu berhenti sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Bagaimana dengan kau Agni?”

Mahisa Agni pun menarik nafas dalam-dalam pula. Kemudian jawabnya, “Aku selamat guru. Dan inilah Kebo Sindet.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Selangkah ia maju mendekat sambil bergumam, “Bersyukurlah kepada Yang Maha Agung. Aku melihat seluruhnya. Sejak kau mulai sampai kau berhasil melemparkan Kebo Sindet ke dalam rawa-rawa.”

Mahisa Agni mengangguk lemah, “Ya guru.”

“Semula aku menjadi cemas melihat keadaanmu. Kau terlampau bernafsu, sehingga kau kurang cermat mempersiapkan dirimu di dalam perlawananmu atas Kebo Sindet itu. Hampir-hampir kau menjadi korban ketergesa-gesaanmu itu.” Empu Purwa berhenti sejenak, lalu, “Tetapi sekali lagi kau harus mengucap sukur. Kau mendapatkan pertolongan dalam keadaan yang sulit itu. Ternyata Angger Kuda Sempana telah menolongmu.”

“Ya guru.” jawab Mahisa Agni perlahan-lahan.

“Kau harus berterima kasih kepadanya.”

“Ya guru. Aku berterima kasih kepada Kuda Sempana.”

“Akulah yang harus berterima kasih kepada Mahisa Agni. Ia telah membebaskan aku dari kemungkinan yang paling pahit dari akhir hidupku. Dibunuh oleh Kebo Sindet dengan caranya.” Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Kemudian katanya semakin lambat, “Kini terserah kepada Mahisa Agni. Tetapi aku mengharap, bahwa seandainya ia ingin juga membunuh aku, mudah-mudahan ia mempergunakan cara yang lebih baik dari cara yang akan dipilih oleh Kebo Sindet.”

“Ah.” Empu Purwa berdesah, “apakah Mahisa Agni juga akan membunuhmu?”

“Seandainya demikian, itu pun wajar sekali.” sahut Kuda Sempana.

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Didampinginya Mahisa Agni yang berdiri tegak ditempatnya, meskipun tubuhnya masih tampak lemah, Namun orang tua itu telah mendapat keyakinan, menilik sikap dan wajah muridnya, bahwa Mahisa Agni sudah pasti tidak akan melakukannya. Meskipun demikian Empu Purwa itu bertanya kepada muridnya,

“Apakah kau akan berbuat demikian?”

Mahisa Agni menggeleng lemah. Jawabnya, “Tidak guru. Aku tidak mempunyai kepentingan apa pun untuk membunuhnya sekarang. Kebo Sindet sudah mati. Mudah-mudahan kejahatannya mati pula bersamanya.”

Dada Kuda Sempana berdesir. Ia tahu benar maksud kata-kata Mahisa Agni tentang Kebo Sindet. Ia tahu benar, bahwa Mahisa Agni mengharap, agar ia masih belum dicengkam dalam pengaruh orang yang telah mengurungnya beberapa lama itu. Karena itu maka katanya,

“Aku mengharap seperti harapanmu itu pula Agni. Mudah-mudahan kejahatan Kebo Sindet mati bersama matinya. Aku mengharap bahwa selama aku di sini, kejahatan dan wataknya itu tidak terlampau banyak mempengaruhi otakku. Aku sendiri bukanlah orang baik-baik, tetapi mudah-mudahan kejahatan yang ada di dalam diriku tidak bertambah-tambah karenanya.”

Empu Purwa menggelengkan kepalanya. Katanya, “Ada dua kemungkinan Ngger. Kau memang dapat menjadi semakin tersesat seperti Kebo Sindet, seandainya kau menemukan kepuasan di sarang ini, atau kau merasa mendapat daerah pelarian yang dapat melupakan segala bentuk kekecewaanmu. Tetapi aku kira kau tidak menemukannya di dalam dunia Kebo Sindet. Kau agaknya bertambah kecewa dan kehilangan gairah untuk menentukan hari depanmu. Bahkan mungkin kau telah sampai pada suatu garis perbatasan dari daerah keputus asan. Setapak kau maju lagi maka hidupmu tidak terasa kau miliki lagi.”

“Bukan setapak lagi Kiai.” sahut Kuda Sempana, ”aku telah sampai ke daerah itu. Aku sudah menjadi putus asa dan kehilangan hidupku sendiri. Aku sama sekali menjadi acuh tidak acuh tentang diriku, tentang keadaan di sekitarku dan tentang apa saja. Karena itu aku pun tidak akan mengacuhkan lagi sendainya Mahisa Agni akan membunuh ku.”

Empu Purwa tersenyum. Katanya, “Pengakuanmu itu mempunyai arti penting di dalam langkah-langkahmu kemudian. Pengakuanmu telah membawa kau selangkah surut dari daerah yang tidak kau kenal itu. Dari sikap acuh tidak acuh tentang hari depanmu sendiri. Mudah-mudahan kau berhasil menemukan dirimu kembali.”

Kuda Sempana menundukkan kepalanya. Sekilas terbang di dalam angan-angannya masa-masa yang telah pernah dilampauinya. Sebersit penyesalan melonjak di dalam dadanya. Tetapi segera ia sadar, bahwa ia telah berdiri di atas keadaannya kini. Dan kata-kata Empu Purwa itu agaknya dapat menyentuh hatinya. Menemukan dirinya kembali dalam keseimbangan yang wajar.

Hujan yang tercurah dari langit telah berangsur teduh. Titik-titik kecil yang masih berjatuhan satu-satu melontarkan kilatan sinar yang memancar dari langit. Sejenak mereka yang berdiri di atas tanah berlumpur itu saling berdiam diri. Empu Purwa merenungi mayat Kebo Sindet dengan mata yang hampir tidak berkedip.

Namun sejenak kemudian ia berkata, “Memang seharusnya ia mati. Tidak ada usaha yang dapat nyelamatkannya.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya, lalu katanya, “Aku sudah berusaha guru. Seandainya ia harus mati, biarlah ia mati dengan cara yang lebih baik.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku melihat bahwa kalian telah berusaha. Aku melihat, betapa Angger Kuda Sempana berlari-lari memotong sulur-sulur batang beringin. Tetapi kalian tidak berhasil. Golok yang kau lemparkan itu pun hanya dapat menyelamatkannya dari beberapa ekor buaya yang kelaparan. Sedang jumlah buaya di dalam rawa-rawa itu cukup banyak, apalagi di sekitar tempat ini.”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya dipandanginya mayat Kebo Sindet yang arang kranjang. “Tetapi orang itu terlampau dahsyat.” desisnya, “dalam keadaannya, ia masih mampu membunuh sekian banyak buaya-buaya kerdil.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berpaling kearah bangkai buaya yang berserakan di pinggir rawa-rawa, bahkan dilayangkannya pandangan matanya beredar di wajah air yang keruh itu.

“Aku tidak dapat membayangkan, apakah yang terjadi seandainya akulah yang terperosok masuk ke dalamnya.” gumam Mahisa Agni seolah-olah kepada diri sendiri.

Empu Purwa tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut. Namun tiba-tiba ia memutar tubuhnya sambil berkata, “Marilah kita lihat. Hati-hati, jangan sampai tergelincir.”

Sejenak Mahisa Agni terdiam. Ia menjadi heran. Mengapa gurunya mempunyai perhatian yang demikian besar terhadap buaya-buaya kerdil yang telah menjadi bangkai itu. Namun sejenak kemudian dilangkahkannya kakinya, mengikuti langkah gurunya. Dan dibelakang mereka Kuda Sempana berjalan pula mengikuti mereka.

Ketika mereka telah sampai diantara mayat-mayat buaya-buaya kerdil itu, mereka pun segera berhenti. Seleret dipandanginya warna air yang masih memerah. Mereka masih melihat sesuatu yang bergerak-gerak di antara warna air yang merah itu. Buaya-buaya kerdil.

Namun sekali lagi terdengar Mahisa Agni berdesis, “Bukan main. Kebo Sindet berhasil membunuh sekian banyak buaya-buaya ini dalam keadaannya. Sebelah tangannya berpegangan pada sulur kayu yang kami tarik. Sambil berbaring ia harus melawan buaya-buaya ini.”

Gurunya tidak menyahut. Tetapi dipandanginya saja bangkai-bangkai buaya itu, sehingga Mahisa Agni dan Kuda Sempana pun kemudian ikut pula memandangi bangkai-bangkai itu seperti sedang menghitungnya. Di antara buaya-buaya itu terdapat luka-luka yang panjang. Ternyata ayunan golok Kebo Sindet benar-benar dahsyat dan mengerikan. Sekali ayun, buaya yang disentuhnya tidak akan dapat hidup lagi.

Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat pada beberapa ekor diantara mereka tidak ditemukan bekas sobekan golok pada tubuh bangkai itu. Bahkan buaya-buaya itu hampir tidak terluka sama sekali. Hal itu agaknya telah sangat menarik perhatian Mahisa Agni sehingga selangkah ia maju. Diamatinya beberapa ekor bangkai buaya di antara mereka. Yang ada pada bangkai-bangkai itu hanyalah luka yang tidak terlampau besar. Pada umumnya sebuah lubang dikepalanya.

Bukan saja Mahisa Agni yang sangat tertarik atas luka yang aneh itu, tetapi Kuda Sempana pun agaknya menaruh perhatiannya pula. Seperti Mahisa Agni, maka ia pun mengamat-amati luka yang baginya agak terlampau aneh.

“Apakah Kebo Sindet telah melubangi kepala buaya-buaya kerdil ini dengan tusukan goloknya?” pertanyaan itu membersit di dalam hati Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Tetapi sebagai seeorang yang mengenal bermacam-macam jenis senjata, mereka menjadi ragu-ragu. Luka-luka tusukan golok itu tidak akan meninggalkan bekas yang demikian.

“Kau heran melihat lubang-lubang itu?” bertanya Empu Purwa sambil tersenyum.

Mahisa Agni mengangguk kecil. Jawabnya, “Ya guru. Luka-luka ini tidak dapat kami mengerti. Senjata Kebo Sindet adalah sebuah golok. Dan golok tidak akan dapat menimbulkan luka-luka yang demikian.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Jangan kau hiraukan luka-luka itu. Buang sajalah bangkai-bangkai itu ke dalam rawa-rawa. Lalu kalian masih mempunyai pekerjaan lagi, menguburkan mayat Kebo Sindet. Sesudah itu, sebaiknya kalian meninggalkan tempat ini. Kalian masih mempunyai hari depan yang cukup panjang untuk mulai dengan kehidupan yang baru.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi agaknya ia masih belum puas sebelum dapat menemukan sebab dari luka yang berbentuk lubang itu. Maka katanya,

“Baiklah guru. Bangkai ini akan aku buang ke dalam rawa-rawa Tetapi lubang-lubang ini selalu menimbulkan pertanyaan bagiku. Apakah yang sudah dilakukan oleh Kebo Sindet sehingga ia berhasil melakukan keanehan ini. Dalam keadaannya yang parah dengan sebelah tangan yang menggengam golok dan yang lain berpegangan pada sulur itu, namun ia masih mampu membunuh sekian banyak buaya-buaya kerdil ini dengan luka-luka yang terlampau aneh bagi kami.”

Sekali lagi Empu Purwa tersenyum. Katanya, “Apakah kau ingin tahu benar, apakah sebabnya maka luka-luka itu berbentuk lubang? Dan apakah sebabnya Kebo Sindet berhasil membunuh sekian banyak buaya kerdil ini?”

Hampir bersamaan Mahisa Agni dan Kuda Sempana menganggukkan kepalanya, “Ya Kiai.”

Empu Purwa mengangguk-angguk perlahan. Kemudian diedarkannya pandangan matanya, mencari sesuatu di atas tanah-tanah berlumpur itu. Tiba-tiba orang tua itu membungkukkan badannya memungut sebutir batu kecil sebesar telur merpati.

“Lihatlah.” katanya sambil melepaskan batu itu jatuh di atas tanah yang gembur, “lihatlah bekasnya. Sebuah lubang.”

Dada kedua anak-anak muda itu berdesir. Mereka melihat sebuah lubang pada tanah yang gembur, mirip seperti lubang-lubang yang ada di kepala beberapa ekor buaya-buaya kerdil itu.

“Tetapi.” tiba-tiba Mahisa Agni berdesis, “bagaimana mungkin Kebo Sindet mampu melakukannya.”

Empu Purwa mengerutkan keningnya. Tetapi ia kemudian melangkahkan kakinya sambil berkata, “Sudahlah, jangan hiraukan. Kalian masih mempunyai banyak pekerjaan.”

Mahisa Agni dan Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka memandangi bangkai-bangkai yang berserakan itu. Namun kemudian mereka menyadari, bahwa pekerjaan mereka memang masih banyak. Melemparkan bangkai-bangkai itu ke dalam rawa-rawa dan kemudian menguburkan Kebo Sindet.

Tetapi ketika mereka akan segera mulai, terdengar Empu Purwa berkata, “Sebaiknya kalian menunggu tanah menjadi agak kering, supaya tidak terlampau licin. Kalau kau tergelincir maka kau lah yang akan masuk ke dalam rawa-rawa itu. Terutama Mahisa Agni, beristirahatlah dahulu. Mungkin kau masih mempunyai sisa makanan.”

Mahisa Agni mengangguk kecil sambil menjawab, “Ya guru. Aku memang merasa terlampau letih.”

“Itu adalah wajar sekali.” jawab gurunya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.

Mahisa Agni dan Kuda Sempana pun kemudian melangkah pula dengan hati-hati meninggalkan tempat itu untuk sejenak beristirahat. Tubuh Mahisa Agni masih terasa lemah sekali. Tulang-tulangnya masih terasa nyeri dan otot-ototnya pun masih terlampau tegang. Namun dalam pada itu, ia mendapat kesempatan untuk memikirkan lubang-lubang di kepala buaya-buaya kerdil itu. Sehingga akhirnya ia berdesis,

“Ternyata guru pun sudah berusaha, membantu melepaskan Kebo Sindet dari mulut-mulut buaya itu.”

“He.” Kuda Sempana bertanya.

“Gurulah yang melakukannya.” jawab Mahisa Agni, “dilemparinya buaya-buaya itu dengan batu dari tempat persembunyiannya, supaya tubuh Kebo Sindet tidak diseret masuk ke dalam rawa-rawa itu.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya, Tetapi kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya. “Itu adalah mungkin sekali. Ternyata Empu Purwa telah berbuat banyak.” Kuda Sempana berhenti sejenak, lalu, “Kini aku tahu, apakah kira-kira yang terjadi di sini. Agaknya selama ini kau tetap berada di dalam asuhan gurumu, yang dahulu aku sangka tidak lebih dari seorang tua yang tidak banyak berarti di Panawijen. Kau mendapat kesempatan itu, sehingga kau mampu mengalahkan Kebo Sindet.”

Tetapi Kuda Sempana dan bahkan Mahisa Agni terperanjat ketika mereka mendengar jawaban dari belakang mereka, “Bukan saja aku yang telah berbuat banyak, Kuda Sempana. Tetapi apakah kau sudah mengenal orang ini?”

Dengan serta merta keduanya berpaling. Mereka terperanjat, terlebih-lebih lagi adalah Kuda Sempana ketika dilihatnya seseorang berdiri di samping Empu Purwa itu sambil tersenyum kepadanya. Sejenak Kuda Sempana seakan-akan membeku di tempatnya. Sama sekali tidak diduganya, bahwa ia akan dapat bertemu di tempat itu. Peristiwa yang tiba-tiba itu ternyata telah membuat goncangan di dalam dadanya.

Orang itu masih berdiri di samping Empu Purwa sambil tersenyum. Ditatapnya saja wajah Kuda Sempana yang menjadi pucat, namun kemudian menjadi kemerah-merahan penuh kebimbangan dan kecemasan. Wajah orang itu dikenalnya dengan baik, tetapi ciri kekhususannya tidak dilihatnya waktu itu.

“Apakah kau ragu-ragu Kuda Sempana?” bertanya orang itu, “Mungkin kau merasa aneh bahwa aku tidak membawa tongkat panjangku, tetapi kini aku membawa pedang.” Dada Kuda Sempana tergetar. Tetapi ia tidak segera menjawab.

“Tongkat itu telah aku serahkan kepada muridku yang aku anggap paling jauh dari padaku saat itu. Muridku yang sama sekali tidak menarik perhatianku karena sifat-sifatnya yang tidak sejalan dengan perguruanku. Tetapi ternyata murid itu adalah murid yang paling dekat dengan jalan yang benar. Jalan yang kita jauhi bersama-sama sehingga tampak oleh kita anak itu adalah anak yang paling bengal diantara kita.”

Kuda Sempana masih berdiri kaku ditempatnya. Tetapi debar di dadanya menjadi semakin bergelora.

“Tetapi kau tidak usah ragu-ragu Kuda Sempana, bahwa aku adalah gurumu.”

Terasa sesuatu mendesak di dalam hatinya. Sekian lama ia terlempar ke dalam neraka yang paling pedih. Sekian lama ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu atas kehendaknya sendiri. Dan ia menekan perasaan itu dalam-dalam dilubuk hati. Kini tiba-tiba ia bertemu dengan gurunya. Gurunya yang dahulu selalu berusaha untuk memenuhi keinginannya, meskipun ia harus memberikan imbalan kepadanya. Gurunya yang telah pernah disangkanya mati, setelah beberapa kali bertemu dengan Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Pertemuan-pertemuannya dengan gurunya, selama ia berada di bawah pengaruh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat, telah membuatnya kehilangan jalur-jalur ikatan batin. Tiba-tiba kini orang itu berdiri dihadannya.

Kuda Sempana akhirnya tidak dapat lagi menahan gelora hatinya yang sudah sekian lama membeku, Tiba-tiba ia meloncat dan berlutut di depan Empu Sada. Banyak sekali yang akan ditumpahkannya untuk mengurangi kepepatan hati. Banyak sekali yang akan dikatakannya untuk melapangkan perasaannya. Tetapi kerongkongannya serasa tersumbat, sehingga sama sekali tidak sepatah kata pun yang diucapkannya.

“Aku tahu sebagian besar dari perasaanmu, karena aku melihat sikapmu pada saat-saat terakhir. Kau agaknya telah menyesali semuanya yang terjadi atasmu. Bukan sekedar kesulitan jasmaniah yang kau alami tetapi kau menyesali pula sebab-sebab dari peristiwa yang telah menyeretmu di tempat ini.”

Empu Sada berhenti sejenak, lalu, “dan penyesalanmu itu adalah jalan yang sudah terbuka bagimu untuk menemukan kembali hari depan yang wajar. Kalau kau menyesali semua perbuatanmu dengan jujur, maka dalam umurmu yang masih muda itu, kau pasti masih akan menemukan kesempatan.”

Kuda Sempana tidak dapat berkata apa pun selain menundukkan kepalanya. Kini penyesalan yang tajam telah memuncak di dalam hatinya. Tetapi semuanya telah terjadi. Noda yang hitam telah melekat pada perjalanan hidupnya.

Tetapi ia mendengar gurunya berkata, “Hari depanmu masih panjang.”

Kuda Sempana masih juga berdiam diri. Ia tidak dapat berbuat apa-apa selain menundukkan kepala. Terasa tangan gurunya meraba pundaknya dan menarik berdiri. Seperti anak-anak yang sedang berlati berjalan, ia dibimbing oleh gurunya dan dibawanya duduk bersama-sama di samping sebongkah batu besar. Empu Purwa dan Mahisa Agni pun ikut pula bersama mereka, duduk di atas batu-batu kecil yang basah. Tetapi tubuh dan pakaian mereka pun ternyata masih basah kuyup oleh hujan. Bahkan warna darah masih melekat pada pakaian Mahisa Agni.

Ketika gurunya melihat setitik-titik darah masih meleleh dari luka-luka anak muda itu, maka segera diberikannya obat yang untuk sementra dapat memempatkan darah, sehingga luka-luka itu menjadi tertutup karenanya. Sambil berbicara tentang Kuda Sempana dan hari-hari yang akan datang, maka mereka pun beristirahat sebelum mereka mengerjakan pekerjaan yang telah menunggu mereka. Melemparkannya bangkai-bangkai buaya ke dalam rawa-rawa dan menguburkan Kebo Sindet.

Pada saat itu. Ken Arok pun duduk dengan lemahnya di atas sebuah brunjung bambu yang masih belum dilemparkan ke dalam sungai. Disamping-sampingnya duduk Akuwu Tunggul Ametung, Ki Buyut Panawijen, Kebo Ijo dan beberapa orang lain. Mereka melihat, betapa Ken Arok menahankan lelah dan kecemasan. Nafasnya menjadi terengah-engah dan tubuhnya terasa gemetar. Tetapi bibirnya membayangkan sebuah senyum kelegaan.

“Mudah-mudahan bendungan itu selamat.” desisnya.

Akuwu Tunggul Ametung pun ternyata sedang kelelahan pula setelah dengan sekuat tenaganya, ia menarik Ken Arok dari dalam air yang melandanya.

“Aku kira bendungan itu akan selamat.” berkata Akuwu itu pula.

Ken Arok tidak menyahut. Ia melihat orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel masih berdiri memagari ujung bendungan. Tetapi bahwa hujan telah menjadi reda adalah suatu harapan bagi orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel bahwa bendungan mereka akan terselamatkan.

“Air tidak naik lagi.” desis seseorang.

“Ya.” sahut yang lain, “sebagian telah berhasil meluncur lewat susukan induk.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar