“Apakah kau sudah membuat parit-parit untuk menyalurkan air seperti yang kau rencanakan. Apabila air terlampau tinggi-tinggi maka air akan mengalir lewat parit-pari yang dangkal itu sehingga mengurangi tekanan yang mendorong bendungan itu.”
“Belum Tuhanku.”
“He, kenapa belum? Apakah kau menunggu bendunganmu pecah.”
“Baru hari ini kami merencanakannya. Seandainya rencana itu dikerjakan, maka baru besoklah hamba mulai.”
“Oh kalian bekerja seperti siput. Kenapa tidak kau mulai malam ini?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi diberanikannya juga menjawab, “Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah terlampau letih, Tuanku.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jadi bagaimana dengan kau? Apakah kau tidak jadi pergi besok?”
“Seandainya hamba diperkenankan, hamba ingin menyelesaikan bendungan ini saja. Bukan karena hamba tidak sanggup untuk melakukan perintah, Tuanku, tetapi hamba hanya sekedar memberikan pertimbangan.”
“Apakah kau takut bertemu dengan Kebo Sindet?”
Dada Ken Arok tersirap mendengar pertanyaan itu. Seandainya yang bertanya bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka orang itu akan ditantangnya berlomba untuk menangkap Kebo Sindet, meskipun Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet bukanlah seorang yang dapat dianggapnya seperti orang-orang kebanyakan. Bahkan pada saat Mahisa Agni hilang, Ken Arok tahu pasti, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, meskipun pada saat itu ia tidak terbunuh oleh iblis-iblis dari Kemundungan kakak beradik. Tetapi tanpa diketahuinya sendiri, ia kini merasa bahwa ia akan mampu menghadapinya, menghadapi Kebo Sindet seorang lawan seorang.
Tetapi kepada Akuwu Tunggul Ametung, sambil menahan hati, Ken Arok menjawab, “Ampun, Tuanku. Seandainya, Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi mencari Mahisa Agni, maka hamba pasti akan berangkat. Untuk memenuhi perintah, maka seorang prajurit tidak boleh mengenal takut, meskipun seandainya ada juga perasaan itu di dalam dadanya. Karena itu, maka hamba akan melakukan segala perintah, Tuanku, apa pun yang akan terjadi atas diri hamba. Hamba sama sekali tidak memikirkan diri hamba sendiri, melainkan harapan yang telah dipupuk, selapis demi selapis di dalam dada orang-orang Panawijen, seperti selapis demi selapis brunjung yang disusun untuk membentuk bendungan itu, jangan sampai hanyut bersama banjir. Tetapi apabila Tuanku menghendaki lain, maka hamba pasti akan menjalankannya.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya. Katanya, “Aku percaya bahwa kau tidak akan mengenal takut. Tetapi pendapatmu benar juga. Bendungan ini memang memerlukan perhatian.” Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “Sebenarnya tanpa kau pun pasukanku telah cukup kuat. Seandainya Kebo Sindet mempunyai beberapa orang pengikut di dalam sarangnya, Witantra dan para pengawal pasti akan mampu berhadapan dengan orang-orang itu, sedang Kebo Sindet sendiri harus berhahapan dengan aku. Dengan Akuwu Tumapel.”
Sekali lagi dada Ken Arok berdesir. Tetapi yang ada di dalam hatinya adalah kesan yang lain. Ternyata Akuwu dapat mengerti juga keterangannya, dan bahkan membenarkannya.
“Ken Arok.” berkata Akuwu, “besok pada saat matahari terbit, aku akan meninggalkan bendungan ini. Aku serahkan semuanya di sini kepadamu. Bendungan ini dan taman yang mengalami kerusakan-kerusakan kecil itu. Pada saatnya, taman itu harus siap. Aku ingin menghadiahkannya kepada isteriku. Aku mengharap bahwa aku akan dapat menghadiahkannya sekaligus, taman itu dan kakaknya yang hampir membuatnya gila.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandangi wajah Witantra, maka Witantra itu pun mengangguk kecil.
“Lakukanlah pekerjaanmu sebaik-baikanya Ken Arok. Sekarang pergilah, aku akan segera tidur, supaya besok aku akan dapat bangun pada waktunya.” Akuwu diam sejenak, kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau pun harus menyiapkan pasukan kecilmu itu Witantra. Supaya besok pada saat matahari terbit, kita akan dapat berangkat segera.”
“Hamba, Tuanku. Segala titah, Tuanku akan hamba lakukan sebaik-baiknya.”
“Sekarang kalian boleh pergi.”
Ken Arok dan Witantra membungkukkan kepalanya bersama-sama sambil berkata hampir beriamaan pula, “Hamba, Tuanku.”
Keduanya pun kemudian pergi meninggalkan gubug Akuwu Tunggul Ametung. Witantra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkata-kata, “Akuwu kadang-kadang sempat juga berpikir dan mempertimbangkan, mana yang baik dilakukannya.”
Ken Arok mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum, “Ya. Akuwu kadang-kadang memang aneh.”
“Hem.” Witantra menarik nafas dalam-dalam, ”Akuwu yang memang aneh atau karena kita telah kejangkitan penjakit Kebo Ijo itu.”
Ken Arok kini tidak hanya sekedar tersenyum, tetapi ia tertawa. Dan Witantra pun tertawa pula. Katanya kemudian, “Sudahlah. Sudah terlampau malam untuk berjalan-jalan. Sedang besok kita akan melakukan tugas kisa masing-masing. Aku masih harus menemui Kebo Ijo malam ini, dan memberinya peringatan-peringatan. Aku akan memberinya banyak pesan agar ia tidak terjerumus ke dalam kesulitan karena kata-katanya dan mungkin sikapnya yang berlebih-lebihan.”
“Ya, sebaiknya kau memberinya pesan. Aku kadang-kadang mendapatkan kesulitan, karena Kebo Ijo benar-benar sukar dikendalikan. Pada saat ia datang ketempat ini, aku sudah harus melayaninya bemain-main. Untunglah pada saat itu gurumu datang tepat pada waktunya.”
“Aku mendengar pula. Kebo Ijo sendiri berkata kepadaku, meskipun tidak lengkap.”
“Aku kadang-kadang menjadi segan untuk menegurnya terus menerus seperti kanak-kanak. Aku segan juga kepadamu dan kepada gurumu. Aku takut menyinggung perasaanmu dan perguruanmu.”
Witantra tertawa. Katanya, “Kau terlampau berterus-terang. Aku senang mendengarnya. Demikian seharusnya supaya kita tidak menyimpan terlampau banyak persoalan. Tentang Kebo Ijo, aku titipkan kepadamu. Aku yakin kau dapat mengatasinya. Aku akan berpesan pula kepadanya, bahwa kau akan menjadi penggantiku dan pengganti guru disini. Kebo Ijo tidak boleh menjadi bersakit hati oleh teguranmu. Kalau perlu kau dapat berbuat lebih banyak atas namaku.”
“Terima kasih atas kepercayaan itu. Tetapi aku kira, ia akan menjadi baik kalau kau menganyamnya, sehingga aku tidak perlu berbuat apa-apa lagi.”
“Mudah-mudahan.” desis Witantra, “sekarang aku akan menyiapkan para pengawal, supaya Akuwu besok pagi tidak berteriak-teriak apabila aku terlambat sedikit.”
Keduanya pun kemudian segera berpisah. Witantra pergi menemui para pengawal yang dibawanya dari Tumapel. Besok mereka harus bersiap tepat pada saatnya. Kemudian di dalam gubugnya Witantra menunggu kedatangan Kebo Ijo untuk menemuinya. Sementara itu Ken Arok masih juga berjalan-jalan mengelilingi gubug-gubug yang sudah menjadi semakin lama semakin sepi. Malam menjadi semakin lama semakin dalam. Dikejauhan terdengar bilalang berderik-derik bersahut-sahutan di atas rerumputan yang masih basah. Angin yang dingin bertiup perlahan-lahan.
Ketika Ken Arok menengadahkan wajahnya kelangit, hatinya menjadi berdebar-debar. Ternyata mendung di langit masih juga mengalir berurutan meskipun tidak terlampau tebal, seperti noda-noda raksasa yang bergeser dipermukaan wajah malam yang gelap. Meskipun demikian satu-satu bintang tampak berkeredipan disudut-sudut langit yang tidak disaput oleh awan yang kelabu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam menghirup udara yang sejuk. Dipandanginya Padang Karautan yang seakan-akan tidak bertepi, menjorok ke dalam kelam yang pekat. Tiba-tiba Ken Arok tertegun sejenak. Ternyata langkahnya telah membawanya terlampau jauh. Dihadapannya, di dalam kesamaran malam, dilihatnya petamanan yang sedang di bangunnya.
“Hem, kakiku telah membawa aku kemari.”
Tetapi Ken Arok tidak segera kembali. Dilanjutkannya langkahnya. Dilihatnya petamanannya yang mengalami beberapa kerusakan. Tanah yang longsor di pinggir susukan induk, beberapa macam tanaman telah terendam air, dan pagar batu yang miring karena tanah yang bergeser akibat dorongan air yang keras.
“Taman ini perlu diperbaiki.” desisnya.
Tetapi Ken Arok memusatkan segenap perhatiannya pada waktu yang dekat kepada bendungannya. Mungkin besok atau lusa banjir akan datang lagi. Sejenak Ken Arok duduk di atas pagar batu merenungi malam yang gelap dan dingin. Sekilas-sekilas terbang kembali di dalam ingatannya, masa-masa lampaunya di Padang Karautan ini, selagi ia masih hidup sebagai hantu yang menakutkan. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali.
“Nasibmu memang terlampau baik Ken Arok.” suara itu terngiang ditelinganya. Suara Bango Samparan.
“Persetan.” Ken Arok menggeram, “Aku sama sekali tidak mau diganggunya lagi. Bukan karena aku tidak mengenal terima kasih. Aku akan bersedia memberinya bantuan untuk hidupnya sehari-hari. Tetapi caranya berpikir akan dapat menyesatkan aku lagi. Aku sudah mencoba untuk hidup seperti manusia biasa. Bukan seperti hantu di padang ini, yang hanya berlindung dari terik matahari di dalam semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu dan berlindung di bawah hujan dipereng-pereng kali.”
Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia mencoba mengusir pikiran yang mengganggunya itu.
“Aku tidak akan mau diganggunya lagi dengan pikiran-pikiran yang gila itu.” desis Ken Arok kemudian sambil berdiri, “aku harus bekerdja keras untuk menyelesaikan bendungan dan taman ini.”
Perlahan-lahan Ken Arok kemudian melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan petamanan itu, kembali ke gubugnya. Malam telah menjadi semakin larut, dan bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Tetapi Ken Arok masih berjalan seenaknya. Lelah tubuhnya justru terasa berkurang oleh segarnya angin malam. Tetapi lambat laun matanya menjadi terlampau berat, dan mulutnya pun mulai menguap.
“Aku harus beristirahat. Besok aku akan mulai dengan kerja yang lebih keras.”
Ken Arok itu pun kemudian mempercepat langkahnya, seolah-olah ia takut bahwa ia akan kehabisan sisa-sisa malam. Ketika ia sampai diperkemahan, ternyata seluruh isi perkemahan itu tertidur nyenyak. Tidak ada seorang pun lagi yang masih bangun. Penjaga yang bertugas malam itu ditemui oleh Ken Arok tidur bersandar seonggok batu sambil menggenggam tombak pendek. Sedang kawannya tidak jauh dari padanya, tidur mendekur di tanah yang basah.
“Hem.” Ken Arok berdesah, “mereka terlampau lelah.”
Karenanya maka Ken Arok tidak sampai hati untuk membangunkannya. Tetapi dengan demikian Ken Arok sendiri tidak segera pergi ke gubugnya untuk tidur. Sepi malam telah mencengkamnya untuk tetap bangun betapa matanya terasa terlampau berat. Dan bahkan akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja di luar, di atas berunjung-brunjung bambu di dekat para penjaga yang sedang tidur itu. Ken Arok tidak tahu, betapa lama ia tertidur. Tetapi tiba-tiba ia terbangun. Layap-layap ia mendengar sesuatu dikejauhan dibawa silirnya angin malam menyentuh lubang telinganya.
Ternyata telinga Ken Arok adalah telinga yang terlampau tajam. Yang seolah-olah dirangkapi oleh ilmu Sapta Pangrungu. Yang mempunyai ketajaman mendengar tujuh kali lipat dari telinga biasa. Namun agaknya malam yang terlampau sepi telah membantunya pula untuk dapat mendengar suara yang paling halus sekalipun. Dan yang didengarnya kini adalah telapak kaki-kaki kuda meskipun masih terlampau jauh. Ken Arok menggosok-gosok matanya dengan tangannya. Sekali lagi ia mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Dan perlahan-lahan ia berdesis,
“Ya, aku mendengar derap kaki-kaki kuda yang masih jauh sekali.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Malam sudah hampir sampai pada akhirnya. Sebentar lagi langit di ujung Timur akan dibayangi oleh warna-warna merah. Dan disaat yang demikian, ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekati perkemahannya. Perlahan-lahan Ken Arok bangkit dan turun dari atas berunjung-berunjung bambu. Suara derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin jelas mendekati perkemahan itu. Tetapi tidak terlampau banyak. Dua atau tiga.
“Siapakah mereka itu?” desisnya. Penjaga yang tidur bersandar batu itu masih juga tidur. Yang tidur mendengkur di tanah kini justru melingkar menyembunyikan tangannya yang kedinginan. “Biar sajalah.” desis Ken Arok, “Pada saatnya mereka akan terbangun.”
Ken Arok itu pun kemudian melangkah perlahan-lahan menyongsong arah derap kaki-kaki kuda itu. Ia belum tahu, apakah yang datang itu akan berbahaya bagi perkemahannya atau tidak. Namun kemudian dadanya terasa berdesir ketika ia melihat ternyata Akuwu Tunggul Ametung pun telah berdiri tegak seperti sebatang tonggak baja di muka gubugnya, dan di belakangnya Witantra berdiri dengan pedang di lambung. Tetapi Akuwu itu pun menjadi terkejut pula ketika ia mendengar desir langkah di belakangnya. Ketika ia berpaling ternyata Ken Arok telah berada beberapa langkah di belakangnya.
“Apakah yang kau dengar?” bertanya Akuwu.
“Derap kaki-kaki kuda.” sahut Ken Arok.
“Hem.” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya, “telingamu cukup baik. Tidak ada orang lain yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu selain kau.”
“Bukankah, Tuanku mendengar juga?” bertanya Ken Arok.
“Ya.” sahut Akuwu.
Ketiganya kemudian terdiam. Mereka mencoba memperhatikan derap yang semakin lama menjadi semakin dekat. “Berapa ekor kuda menurut tangkapan telingamu?” bertanya Akuwu kepada Ken Arok.
“Dua.”
“Kau?” Akuwu itu berpaling kepada Witantra.
“Dua.”
“Aku menduga bahwa ada dua ekor kuda yang datang.”
Ken Arok dan Witantra saling berpandangan sejenak. Ternyata perhitungan mereka sama seperti hitungan Akuwu Tunggul Ametung. Derap kaki-kaki kuda di Padang Karautan yang sepi itu semakin lama menjadi semakin jelas. Angin padang yang basah seolah-olah telah mengantarkan berita kedatangan penunggang-penunggang kuda itu jauh mendahului kuda-kuda itu sendiri.
“Apakah ada utusan dari istana?” desis Ken Arok.
“He.” Akuwu mengerutkan keningnya, “bukankah kau masih prajurit Tumapel?” Ken Arok menjadi heran, sehingga karena itu ia tidak segera menjawab. “Seorang prajurit Tumapel tidak akan bertanya demikian.” Ken Arok menjadi semakin tidak mengerti. “Arah itukah arah Tumapel?” bertanya Akuwu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia menyadari kekeliruannya, dan barulah ia tahu maksud pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. “Arah itu sama sekali bukan arah ke Tumapel.”
“Hamba, Tuanku. Hamba keliru. Hambat ternyata telah berkata tanpa memikirkannya lebih dahulu.”
Akuwu tidak menyahut. Perhatiannya kini tertumpah kepada dua ekor kuda itu, yang semakin lama menjadi semakin dekat.
“Aku mengharap Kebo Sindet yang datang kepadaku tanpa aku cari.” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Mudah-mudahan.” hampir bersamaan Ken Arok dan Witantra menyahut.
Tiba-tiba Akuwu itu berpaling, lalu bertanya, “Kenapa mudah-mudahan? Apakah kau hanya sekedar ingin melihat aku berkelahi seperti melihat ayam sabungan?”
Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi mereka sudah tahu benar tabiat Akuwu itu. Meskipun ia sendiri yang mengucapkannya, tetapi apabila orang lain mengatakannya pula, ia menjadi tidak bersenang hati.
Karena itu maka Witantra segera menyahut, “Bukan begitu, Tuanku, maksud hamba, bukankah dengan demikian pekerjaan, Tuanku akan lekas selesai. Tuanku dapat menangkap Kebo Sindet dan memaksanya berkata dimana disembunyikannya Mahisa Agni.”
“Bagaimanakah kalau aku yang ditangkapnya atau dibunuhnya?”
“Apakah hamba berdua dan semua prajurit yang ada di padang ini akan tetap berdiam diri?”
“Tidak. Tidak.” tiba-tiba Akuwu itu berteriak, “kau sangka aku tidak mampu melawannya sendiri? Kau sangka bahwa orang-orang macam kalian ini dapat menyelamatkan aku? Aku sendiri mampu berbuat apa saja.”
Witantra menundukkan kepalanya. Bukan karena ngeri, tetapi ia menyembunyikan bibirnya yang tersenyum. Katanya, “Hamba, Tuanku.”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menggeram, “Kalian tidak usah membangunkan mereka yang sedang tidur.”
“Hamba, Tuanku.”
“Aku akan melihat, siapakah yang datang itu.”
“Kemana, Tuanku akan pergi?”
Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah menyongsong ke arah derap kaki-kaki kuda yang menjadi semakin dekat.
“Tuanku.” Witantra mamanggil.
Tetapi Akuwu tidak menghiraukannya. Ia berjalan saja menerobos gelap malam tanpa berpaling sama sekali. Witantra tidak dapat membiarkannya pergi tanpa seorang pengawalpun. Dan ia tidak mendapat kesempatan untuk memanggil orang lain, sehingga karena itu, maka ia pun melangkah pula mengikuti sambil berkata,
“Tuanku sebaiknya tidak usah menyongsongnya. Ia akan datang kemari dan Tuanku akan melihat siapakah orang itu.”
Tetapi Akuwu seolah-olah sama sekali tidak mendengar. Ia melangkah terus, diikuti oleh Witantra yang membawa pedang di lambungnya. Namun hati Witantra itu menjadi agak tenteram ketika dilihatnya, dibawah kain panjang Akuwu Tunggul Ametung yang diselimutkan di badannya, tergantung sebuah penggada yang berwarna kekuning-kuningan yang seolah-olah bercahaya di dalam gelapnya malam.
“Akuwu telah membawa pusakanya. Ia akan menjadi seorang yang luar biasa dengan senjata itu di tangannya.” desis Witantra di dalam hatinya.
Ternyata Ken Arok pun kemudian tidak dapat membiarkan kedua orang itu pergi menyongsong derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka ia pun segera menyusul di belakangnya. Berloncat-loncatan sehingga akhirnya ia telah berjalan di samping Witantra.
Dengan dada tengadah Akuwu melangkah terus. Semakin lama bahkan semakin cepat. Seakan-akan ia menjadi tidak sabar lagi menunggu kuda-kuda itu mendekatinya. Derap kuda itu pun semakin lama menjadi semakin jelas. Dua ekor kuda. Suaranya menggeletar menggetarkan udara padang yang sepi. Hanyut bersama silirnya angin yang basah.
Akuwu Tunggul Ametung itu akhirnya berhenti. Ia berdiri tegak bertolak pinggang. Ia kini sudah mendapat keyakinan arah derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu ia tidak perlu maju lagi. Sebentar lagi kuda-kuda itu akan lewat tepat di mukanya. Dan seandainya yang menunggang kuda itu Kebo Sindet, maka ia harus menghentikannya dan menangkapnya.
“Aku tidak boleh mempergunakan pusaka ini.” desisnya.
Witantra yang tidak begitu jelas mendengar desis itu melangkah maju dan bertanya, “Apakah yang Tuanku katakan?”
Akuwu berpaling. Jawabnya, “Aku tidak berbicara kepadamu?”
“Apakah Tuanku maksudkan, Tuanku berbicara berbicara dengan Ken Arok.”
“Juga tidak. Aku berbicara kepada diriku sendiri. Aku tidak boleh mempergunakan senjataku, supaya Kebo Sindet tidak menjadi hancur sewalang-walang.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ken Arok maka Ken Arok pun sedang mengerutkan keningnya. Tetapi mereka percaya sepenuhnya akan kata-kata Akuwu itu. Memang pusaka Akuwu itu benar-benar luar biasa. Sentuhan pada sesuatu, akibatnya sangat dahsyat. Hancur berkeping-keping.
“Aku harus menangkapnya utuh.” berkata Akuwu itu.
Sekali lagi Ken Arok rnengerutkan keningnya dan Witantra menggigit bibirnya. “Ya.” berkata Witantra di dalam hati, “Akuwu tidak dapat menangkapnya separo atau sepertiga, apabila ia masih ingin mendengar pengakuan Kebo Sindet.”
Kini kuda itu sudah menjadi semakin dekat. Mata mereka yang tajam segera melihat bayangan yang samar-samar bergerak di Padang Karautan itu. Semakin lama semakin dekat. Bayangan itu langsung menuju kearah mereka. Tetapi beberapa langkah agak jauh, kedua ekor kuda itu berhenti. Seperti Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok dan Witantra yang ragu-ragu, penunggang-penunggang kuda itu pun ragu-ragu pula. Keduanya masih berada di atas punggung kuda masing-masing.
Akuwu Tunnggul Ametung tidak sabar lagi untuk menunggu. Tiba-tiba ia berteriak, “He, siapa di atas punggung kuda itu?” Tidak segera terdengar jawaban. “Turun.” teriak Akuwu, “turun dan datang kemari. Sebutkan siapakah kau berdua.”
Kedua bayangan di atas punggung kuda itu masih belum menyahut. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian mereka pun meloncat turun. Akuwu Tunggul Ametung dan kedua orang pengiringnya mengerutkan keningnya. Pada saat keduanya turun, maka tampaklah di lambung mereka sarung pedang yang mencuat ke samping.
“Mereka bersenjata pedang.” desis mereka di dalam hati.
Tetapi ternyata kedua orang itu masih saja berdiri di samping kuda masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung tidak sabar lagi menunggu lebih lama. Karena itu maka segera ia melangkah mendekati. Ia sama sekali tidak menghiraukannya ketika Witantra berdesis,
“Tuanku. Tunggu.”
Akuwu berjalan terus mendekati kedua orang itu. Witantra dan Kren Aroklah yang kemudian meloncat disampingnya, dikiri dan dikanan tanpa berjanji.
“Siapa kau?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
Terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah hamba berhadapan dengan, Tuanku Akuwu?”
“Ya.” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “akulah, Akuwu Tunggul Ametung.”
“Oh.” desis salah seorang dari kedua orang itu.
Kemudian dengan langkah yang pendek, salah seorang dari mereka menyongsong Akuwu Tunggul Ametung itu. Dengan hormatnya ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Dada Akuwu menjadi berdebar-debar. Kini jarak mereka menjadi lebih pendek. Dan Akuwu telah melihat bentuk orang yang sedang mengangguk kepadanya itu.
“He, siapa kau?”
“Hamba, Mahisa Agni.”
“He.”
Akuwu terperanjat meskipun bentuk Mahisa Agni itu sudah membuat Akuwu berdebar. Juga Witantra dan Ken Arok tidak kalah terkejut pula. Bahkan terasa dada mereka berdesir dan kemudian berdebar-debar. Sejenak mereka diam mematung. Tetapi sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung meloncat maju. Dicengkamnya pundak Mahisa Agni dan di guncang-guncangkannya. Katanya,
“He, kau masih hidup?”
“Seperti yang, Tuanku lihat.”
“Dan kau masih dapat melepaskan dirimu dari tangan Kebo Sindet yang gila itu?”
“Hamba, Tuanku.”
“Siapa yang menolongmu he?” bertanya Akuwu itu tiba.
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Gurunya berpesan kepadanya supaya ia tidak menyebut-nyebut namanya. Gurunya tidak ingin menimbulkan kenangan lagi bagi puterinya, apalagi dalam keadaan yang paling sulit dimasa-masa mendatang.
“Siapa he, siapa Setan, gendruwo atau dewa-dewa dari langit?”
“Tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian, “yang menolong hamba adalah guru Kuda Sempana. Empu Sada.”
“He?” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung terperanjat. Juga Witantra dan Ken Arok terperanjat pula.
“Jadi orang itu telah benar-benar menyesali perbuatannya?” bertanya Akuwu.
“Hamba, Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “He, kenapa kau tidak menunggu aku? Kenapa kau lari lebih dahulu dari tangan Kebo Sindet sebelum aku datang he?”
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia diam mematung, dan bahkan dipandanginya Witantra dan Ken Arok berganti-ganti, seolah-olah ia ingin mendapat penjelasan dari pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi Witantra dan Ken Arok itu pun tidak dapat berbuat apa-apa selain saling berpandangan pula.
“Kenapa?” kembali terdengar suara Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. “Kenapa kau tidak menunggu aku membebaskanmu? Kenapa Empu Sada he?”
Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia masih saja berdiri mematung.
“Kau tidak memberi kesempatan kepadaku.” berkata Akuwu itu kemudian, “Bukan kau, tetapi Empu Sada itu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menunjuklan bahwa aku pun mampu melakukannya. Tidak perlu orang lain. Ken Dedes harus yakin, bahwa aku dapat berbuat seperti yang diingininya, membebaskan Mahisa Agni dan memhunuh Kebo Sindet. Tetapi kesempatan itu kini sudah tertutup.”
Mahisa Agni masih berdiri saja sambil berdiam diri. Ia masih ragu-ragu, bagaimana ia harus menanggapi pikiran Akuwu Tunggul Ametung yang aneh itu.
“He, kenapa? Kenapa kau diam saja?” Akuwu itu kemudian berteriak, “apakah Empu Sada menganggap aku sama sekali tidak berdaya untuk bertindak atas Kebo Sindet itu? Itu suatu penghinaan bagi Akuwu Tunggul Ametung?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Samar-samar ia kini dapat menangkap perasaan Akuwu yang kecewa, karena seolah-olah ia tidak mampu melepaskannya. Akuwu ingin menunjukkan kepada Ken Dedes bahwa ialah yang berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tengan Kebo Sindet. Tetapi yang kemudian menggetarkan dada Mahisa Agni bukanlah sikap Akuwu Tunggul Ametung itu sendiri. Namun dengan demikian ternyata kepadanya, bahwa selama ini Ken Dedes selalu berusaha agar Akuwu membebaskannya dari tangan iblis dari Kemundungan itu.
Dan sebelum Akuwu itu berteriak lagi, Maiisa Agni mencoba untuk menjawab, “Ampun, Tuanku. Sebenarnyalah bahwa Tuanku mempunyai kemampuan lebih dari Empu Sada. Tetapi adalah suatu kebetulan saja bahwa Empu Sada bertemu dengan Kebo Sindet, berkelahi dan Kebo Sindet terbunuh. Kebetulan yang datang tepat pada waktunya, sebab pada saat itu Kebo Sindet telah siap untuk membunuh hamba dengan caranya, karena usahanya untuk mempergunakan hamba sebagai alat pemeras dirasanya telah gagal.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Lalu terdengar suaranya menggeram, “Bagaimanakah cara yang akan ditempuh oleh Kebo Sindet itu untuk membunuhmu? Gantung atau pancung atau apa?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Kebo Sindet belum sempat melakukannya. Tetapi yang telah diucapkan, cara itu adalah cara yang paling mengerikan. Hamba akan diikat di atas rawa-rawa yang menyimpan banyak sekali buaya-buaya kerdil. Kebo Sindet ingin melihat buaya-buaya itu menggapai-gapai hamba, sehingga pada saatnya, salah seekor dari padanya sempat merobek tubuh hamba dan menyeret ke dalam rawa-rawa.”
Wajah Akuwu Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, “Kejam sekali. Kejam sekali. Apakah kira-kira hal itu akan dilakukannya benar-benar?”
“Hamba, Tuanku. Demikianlah tabiat Keto Sindet itu.”
“Setan. Seharusnya akulah yang membunuhnya. Akulah yang harus menghentikan segala kejahatannya yang mengerikan itu.”
Akuwu bergumam seolah-olah kepada diri sendiri. Tiba-tiba teringat pula olehnya cara yang dipilih oleh Kebo Sindet untuk membunuh Jajar yang gemuk yang telah mencoba berkhianat kepadanya. Hidup-hidup di masukkan ke dalam api yang menelan rumahnya sendiri. Oleh kenangan itu, maka wajah Akuwu itu menjadi semakin tegang. Dengan tajamnya dipandanginya seseorang yang berdiri disamping kudanya, yang datang bersama-sama dengan Mahisa Agni.
Dan tiba-tiba pula Akuwu itu berteriak, “He bukankah kau Kuda Sempana?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar suara Akuwu dalam nada yang tinggi itu. Apalagi Kuda Sempana yang telah merasa banyak sekali menyimpan kesalahan, sehingga sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Witantra dan Ken Arok pun menjadi tegang pula. Mereka tahu benar, peranan apakah yang selama ini telah dilakukan oleh Kuda Sempana sehingga keadaan Mahisa Agni, Ken Dedes, dan bahkan seluruh Panawijen menjadi sedemikian buruknya.
“Jawab pertanyaanku.” Akuwu mulai berteriak lagi, “bukankah kau bernama Kuda Sempana?”
Terasa darah Kuda Sempana menjadi semakin cepat mengalir sehingga dadanya menjadi berdentangan.
“He, apa jawabmu?”
“Belum Tuhanku.”
“He, kenapa belum? Apakah kau menunggu bendunganmu pecah.”
“Baru hari ini kami merencanakannya. Seandainya rencana itu dikerjakan, maka baru besoklah hamba mulai.”
“Oh kalian bekerja seperti siput. Kenapa tidak kau mulai malam ini?”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Tetapi diberanikannya juga menjawab, “Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah terlampau letih, Tuanku.”
Akuwu mengerutkan keningnya. Lalu katanya, “Jadi bagaimana dengan kau? Apakah kau tidak jadi pergi besok?”
“Seandainya hamba diperkenankan, hamba ingin menyelesaikan bendungan ini saja. Bukan karena hamba tidak sanggup untuk melakukan perintah, Tuanku, tetapi hamba hanya sekedar memberikan pertimbangan.”
“Apakah kau takut bertemu dengan Kebo Sindet?”
Dada Ken Arok tersirap mendengar pertanyaan itu. Seandainya yang bertanya bukan Akuwu Tunggul Ametung, maka orang itu akan ditantangnya berlomba untuk menangkap Kebo Sindet, meskipun Ken Arok tahu, bahwa Kebo Sindet bukanlah seorang yang dapat dianggapnya seperti orang-orang kebanyakan. Bahkan pada saat Mahisa Agni hilang, Ken Arok tahu pasti, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, meskipun pada saat itu ia tidak terbunuh oleh iblis-iblis dari Kemundungan kakak beradik. Tetapi tanpa diketahuinya sendiri, ia kini merasa bahwa ia akan mampu menghadapinya, menghadapi Kebo Sindet seorang lawan seorang.
Tetapi kepada Akuwu Tunggul Ametung, sambil menahan hati, Ken Arok menjawab, “Ampun, Tuanku. Seandainya, Tuanku memerintahkan hamba untuk pergi mencari Mahisa Agni, maka hamba pasti akan berangkat. Untuk memenuhi perintah, maka seorang prajurit tidak boleh mengenal takut, meskipun seandainya ada juga perasaan itu di dalam dadanya. Karena itu, maka hamba akan melakukan segala perintah, Tuanku, apa pun yang akan terjadi atas diri hamba. Hamba sama sekali tidak memikirkan diri hamba sendiri, melainkan harapan yang telah dipupuk, selapis demi selapis di dalam dada orang-orang Panawijen, seperti selapis demi selapis brunjung yang disusun untuk membentuk bendungan itu, jangan sampai hanyut bersama banjir. Tetapi apabila Tuanku menghendaki lain, maka hamba pasti akan menjalankannya.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kemudian diangguk-anggukkannya kepalanya. Katanya, “Aku percaya bahwa kau tidak akan mengenal takut. Tetapi pendapatmu benar juga. Bendungan ini memang memerlukan perhatian.” Akuwu itu berhenti sebentar, lalu, “Sebenarnya tanpa kau pun pasukanku telah cukup kuat. Seandainya Kebo Sindet mempunyai beberapa orang pengikut di dalam sarangnya, Witantra dan para pengawal pasti akan mampu berhadapan dengan orang-orang itu, sedang Kebo Sindet sendiri harus berhahapan dengan aku. Dengan Akuwu Tumapel.”
Sekali lagi dada Ken Arok berdesir. Tetapi yang ada di dalam hatinya adalah kesan yang lain. Ternyata Akuwu dapat mengerti juga keterangannya, dan bahkan membenarkannya.
“Ken Arok.” berkata Akuwu, “besok pada saat matahari terbit, aku akan meninggalkan bendungan ini. Aku serahkan semuanya di sini kepadamu. Bendungan ini dan taman yang mengalami kerusakan-kerusakan kecil itu. Pada saatnya, taman itu harus siap. Aku ingin menghadiahkannya kepada isteriku. Aku mengharap bahwa aku akan dapat menghadiahkannya sekaligus, taman itu dan kakaknya yang hampir membuatnya gila.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling memandangi wajah Witantra, maka Witantra itu pun mengangguk kecil.
“Lakukanlah pekerjaanmu sebaik-baikanya Ken Arok. Sekarang pergilah, aku akan segera tidur, supaya besok aku akan dapat bangun pada waktunya.” Akuwu diam sejenak, kemudian kepada Witantra ia berkata, “Kau pun harus menyiapkan pasukan kecilmu itu Witantra. Supaya besok pada saat matahari terbit, kita akan dapat berangkat segera.”
“Hamba, Tuanku. Segala titah, Tuanku akan hamba lakukan sebaik-baiknya.”
“Sekarang kalian boleh pergi.”
Ken Arok dan Witantra membungkukkan kepalanya bersama-sama sambil berkata hampir beriamaan pula, “Hamba, Tuanku.”
Keduanya pun kemudian pergi meninggalkan gubug Akuwu Tunggul Ametung. Witantra sambil mengangguk-anggukkan kepalanya berkata-kata, “Akuwu kadang-kadang sempat juga berpikir dan mempertimbangkan, mana yang baik dilakukannya.”
Ken Arok mengerinyitkan alisnya. Kemudian ia tersenyum, “Ya. Akuwu kadang-kadang memang aneh.”
“Hem.” Witantra menarik nafas dalam-dalam, ”Akuwu yang memang aneh atau karena kita telah kejangkitan penjakit Kebo Ijo itu.”
Ken Arok kini tidak hanya sekedar tersenyum, tetapi ia tertawa. Dan Witantra pun tertawa pula. Katanya kemudian, “Sudahlah. Sudah terlampau malam untuk berjalan-jalan. Sedang besok kita akan melakukan tugas kisa masing-masing. Aku masih harus menemui Kebo Ijo malam ini, dan memberinya peringatan-peringatan. Aku akan memberinya banyak pesan agar ia tidak terjerumus ke dalam kesulitan karena kata-katanya dan mungkin sikapnya yang berlebih-lebihan.”
“Ya, sebaiknya kau memberinya pesan. Aku kadang-kadang mendapatkan kesulitan, karena Kebo Ijo benar-benar sukar dikendalikan. Pada saat ia datang ketempat ini, aku sudah harus melayaninya bemain-main. Untunglah pada saat itu gurumu datang tepat pada waktunya.”
“Aku mendengar pula. Kebo Ijo sendiri berkata kepadaku, meskipun tidak lengkap.”
“Aku kadang-kadang menjadi segan untuk menegurnya terus menerus seperti kanak-kanak. Aku segan juga kepadamu dan kepada gurumu. Aku takut menyinggung perasaanmu dan perguruanmu.”
Witantra tertawa. Katanya, “Kau terlampau berterus-terang. Aku senang mendengarnya. Demikian seharusnya supaya kita tidak menyimpan terlampau banyak persoalan. Tentang Kebo Ijo, aku titipkan kepadamu. Aku yakin kau dapat mengatasinya. Aku akan berpesan pula kepadanya, bahwa kau akan menjadi penggantiku dan pengganti guru disini. Kebo Ijo tidak boleh menjadi bersakit hati oleh teguranmu. Kalau perlu kau dapat berbuat lebih banyak atas namaku.”
“Terima kasih atas kepercayaan itu. Tetapi aku kira, ia akan menjadi baik kalau kau menganyamnya, sehingga aku tidak perlu berbuat apa-apa lagi.”
“Mudah-mudahan.” desis Witantra, “sekarang aku akan menyiapkan para pengawal, supaya Akuwu besok pagi tidak berteriak-teriak apabila aku terlambat sedikit.”
Keduanya pun kemudian segera berpisah. Witantra pergi menemui para pengawal yang dibawanya dari Tumapel. Besok mereka harus bersiap tepat pada saatnya. Kemudian di dalam gubugnya Witantra menunggu kedatangan Kebo Ijo untuk menemuinya. Sementara itu Ken Arok masih juga berjalan-jalan mengelilingi gubug-gubug yang sudah menjadi semakin lama semakin sepi. Malam menjadi semakin lama semakin dalam. Dikejauhan terdengar bilalang berderik-derik bersahut-sahutan di atas rerumputan yang masih basah. Angin yang dingin bertiup perlahan-lahan.
Ketika Ken Arok menengadahkan wajahnya kelangit, hatinya menjadi berdebar-debar. Ternyata mendung di langit masih juga mengalir berurutan meskipun tidak terlampau tebal, seperti noda-noda raksasa yang bergeser dipermukaan wajah malam yang gelap. Meskipun demikian satu-satu bintang tampak berkeredipan disudut-sudut langit yang tidak disaput oleh awan yang kelabu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam menghirup udara yang sejuk. Dipandanginya Padang Karautan yang seakan-akan tidak bertepi, menjorok ke dalam kelam yang pekat. Tiba-tiba Ken Arok tertegun sejenak. Ternyata langkahnya telah membawanya terlampau jauh. Dihadapannya, di dalam kesamaran malam, dilihatnya petamanan yang sedang di bangunnya.
“Hem, kakiku telah membawa aku kemari.”
Tetapi Ken Arok tidak segera kembali. Dilanjutkannya langkahnya. Dilihatnya petamanannya yang mengalami beberapa kerusakan. Tanah yang longsor di pinggir susukan induk, beberapa macam tanaman telah terendam air, dan pagar batu yang miring karena tanah yang bergeser akibat dorongan air yang keras.
“Taman ini perlu diperbaiki.” desisnya.
Tetapi Ken Arok memusatkan segenap perhatiannya pada waktu yang dekat kepada bendungannya. Mungkin besok atau lusa banjir akan datang lagi. Sejenak Ken Arok duduk di atas pagar batu merenungi malam yang gelap dan dingin. Sekilas-sekilas terbang kembali di dalam ingatannya, masa-masa lampaunya di Padang Karautan ini, selagi ia masih hidup sebagai hantu yang menakutkan. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali.
“Nasibmu memang terlampau baik Ken Arok.” suara itu terngiang ditelinganya. Suara Bango Samparan.
“Persetan.” Ken Arok menggeram, “Aku sama sekali tidak mau diganggunya lagi. Bukan karena aku tidak mengenal terima kasih. Aku akan bersedia memberinya bantuan untuk hidupnya sehari-hari. Tetapi caranya berpikir akan dapat menyesatkan aku lagi. Aku sudah mencoba untuk hidup seperti manusia biasa. Bukan seperti hantu di padang ini, yang hanya berlindung dari terik matahari di dalam semak-semak dan gerumbul-gerumbul perdu dan berlindung di bawah hujan dipereng-pereng kali.”
Dada Ken Arok menjadi berdebar-debar. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia mencoba mengusir pikiran yang mengganggunya itu.
“Aku tidak akan mau diganggunya lagi dengan pikiran-pikiran yang gila itu.” desis Ken Arok kemudian sambil berdiri, “aku harus bekerdja keras untuk menyelesaikan bendungan dan taman ini.”
Perlahan-lahan Ken Arok kemudian melangkahkan kakinya lagi, meninggalkan petamanan itu, kembali ke gubugnya. Malam telah menjadi semakin larut, dan bintang-bintang telah jauh berkisar dari tempatnya. Tetapi Ken Arok masih berjalan seenaknya. Lelah tubuhnya justru terasa berkurang oleh segarnya angin malam. Tetapi lambat laun matanya menjadi terlampau berat, dan mulutnya pun mulai menguap.
“Aku harus beristirahat. Besok aku akan mulai dengan kerja yang lebih keras.”
Ken Arok itu pun kemudian mempercepat langkahnya, seolah-olah ia takut bahwa ia akan kehabisan sisa-sisa malam. Ketika ia sampai diperkemahan, ternyata seluruh isi perkemahan itu tertidur nyenyak. Tidak ada seorang pun lagi yang masih bangun. Penjaga yang bertugas malam itu ditemui oleh Ken Arok tidur bersandar seonggok batu sambil menggenggam tombak pendek. Sedang kawannya tidak jauh dari padanya, tidur mendekur di tanah yang basah.
“Hem.” Ken Arok berdesah, “mereka terlampau lelah.”
Karenanya maka Ken Arok tidak sampai hati untuk membangunkannya. Tetapi dengan demikian Ken Arok sendiri tidak segera pergi ke gubugnya untuk tidur. Sepi malam telah mencengkamnya untuk tetap bangun betapa matanya terasa terlampau berat. Dan bahkan akhirnya ia memutuskan untuk tidur saja di luar, di atas berunjung-brunjung bambu di dekat para penjaga yang sedang tidur itu. Ken Arok tidak tahu, betapa lama ia tertidur. Tetapi tiba-tiba ia terbangun. Layap-layap ia mendengar sesuatu dikejauhan dibawa silirnya angin malam menyentuh lubang telinganya.
Ternyata telinga Ken Arok adalah telinga yang terlampau tajam. Yang seolah-olah dirangkapi oleh ilmu Sapta Pangrungu. Yang mempunyai ketajaman mendengar tujuh kali lipat dari telinga biasa. Namun agaknya malam yang terlampau sepi telah membantunya pula untuk dapat mendengar suara yang paling halus sekalipun. Dan yang didengarnya kini adalah telapak kaki-kaki kuda meskipun masih terlampau jauh. Ken Arok menggosok-gosok matanya dengan tangannya. Sekali lagi ia mencoba untuk meyakinkan pendengarannya. Dan perlahan-lahan ia berdesis,
“Ya, aku mendengar derap kaki-kaki kuda yang masih jauh sekali.”
Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Malam sudah hampir sampai pada akhirnya. Sebentar lagi langit di ujung Timur akan dibayangi oleh warna-warna merah. Dan disaat yang demikian, ia mendengar derap kaki-kaki kuda mendekati perkemahannya. Perlahan-lahan Ken Arok bangkit dan turun dari atas berunjung-berunjung bambu. Suara derap kaki-kaki kuda itu menjadi semakin jelas mendekati perkemahan itu. Tetapi tidak terlampau banyak. Dua atau tiga.
“Siapakah mereka itu?” desisnya. Penjaga yang tidur bersandar batu itu masih juga tidur. Yang tidur mendengkur di tanah kini justru melingkar menyembunyikan tangannya yang kedinginan. “Biar sajalah.” desis Ken Arok, “Pada saatnya mereka akan terbangun.”
Ken Arok itu pun kemudian melangkah perlahan-lahan menyongsong arah derap kaki-kaki kuda itu. Ia belum tahu, apakah yang datang itu akan berbahaya bagi perkemahannya atau tidak. Namun kemudian dadanya terasa berdesir ketika ia melihat ternyata Akuwu Tunggul Ametung pun telah berdiri tegak seperti sebatang tonggak baja di muka gubugnya, dan di belakangnya Witantra berdiri dengan pedang di lambung. Tetapi Akuwu itu pun menjadi terkejut pula ketika ia mendengar desir langkah di belakangnya. Ketika ia berpaling ternyata Ken Arok telah berada beberapa langkah di belakangnya.
“Apakah yang kau dengar?” bertanya Akuwu.
“Derap kaki-kaki kuda.” sahut Ken Arok.
“Hem.” Akuwu mengangguk-anggukkan kepalanya, “telingamu cukup baik. Tidak ada orang lain yang mendengar derap kaki-kaki kuda itu selain kau.”
“Bukankah, Tuanku mendengar juga?” bertanya Ken Arok.
“Ya.” sahut Akuwu.
Ketiganya kemudian terdiam. Mereka mencoba memperhatikan derap yang semakin lama menjadi semakin dekat. “Berapa ekor kuda menurut tangkapan telingamu?” bertanya Akuwu kepada Ken Arok.
“Dua.”
“Kau?” Akuwu itu berpaling kepada Witantra.
“Dua.”
“Aku menduga bahwa ada dua ekor kuda yang datang.”
Ken Arok dan Witantra saling berpandangan sejenak. Ternyata perhitungan mereka sama seperti hitungan Akuwu Tunggul Ametung. Derap kaki-kaki kuda di Padang Karautan yang sepi itu semakin lama menjadi semakin jelas. Angin padang yang basah seolah-olah telah mengantarkan berita kedatangan penunggang-penunggang kuda itu jauh mendahului kuda-kuda itu sendiri.
“Apakah ada utusan dari istana?” desis Ken Arok.
“He.” Akuwu mengerutkan keningnya, “bukankah kau masih prajurit Tumapel?” Ken Arok menjadi heran, sehingga karena itu ia tidak segera menjawab. “Seorang prajurit Tumapel tidak akan bertanya demikian.” Ken Arok menjadi semakin tidak mengerti. “Arah itukah arah Tumapel?” bertanya Akuwu. Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Barulah ia menyadari kekeliruannya, dan barulah ia tahu maksud pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. “Arah itu sama sekali bukan arah ke Tumapel.”
“Hamba, Tuanku. Hamba keliru. Hambat ternyata telah berkata tanpa memikirkannya lebih dahulu.”
Akuwu tidak menyahut. Perhatiannya kini tertumpah kepada dua ekor kuda itu, yang semakin lama menjadi semakin dekat.
“Aku mengharap Kebo Sindet yang datang kepadaku tanpa aku cari.” desis Akuwu Tunggul Ametung.
“Mudah-mudahan.” hampir bersamaan Ken Arok dan Witantra menyahut.
Tiba-tiba Akuwu itu berpaling, lalu bertanya, “Kenapa mudah-mudahan? Apakah kau hanya sekedar ingin melihat aku berkelahi seperti melihat ayam sabungan?”
Witantra dan Ken Arok mengerutkan keningnya. Tetapi mereka sudah tahu benar tabiat Akuwu itu. Meskipun ia sendiri yang mengucapkannya, tetapi apabila orang lain mengatakannya pula, ia menjadi tidak bersenang hati.
Karena itu maka Witantra segera menyahut, “Bukan begitu, Tuanku, maksud hamba, bukankah dengan demikian pekerjaan, Tuanku akan lekas selesai. Tuanku dapat menangkap Kebo Sindet dan memaksanya berkata dimana disembunyikannya Mahisa Agni.”
“Bagaimanakah kalau aku yang ditangkapnya atau dibunuhnya?”
“Apakah hamba berdua dan semua prajurit yang ada di padang ini akan tetap berdiam diri?”
“Tidak. Tidak.” tiba-tiba Akuwu itu berteriak, “kau sangka aku tidak mampu melawannya sendiri? Kau sangka bahwa orang-orang macam kalian ini dapat menyelamatkan aku? Aku sendiri mampu berbuat apa saja.”
Witantra menundukkan kepalanya. Bukan karena ngeri, tetapi ia menyembunyikan bibirnya yang tersenyum. Katanya, “Hamba, Tuanku.”
Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menggeram, “Kalian tidak usah membangunkan mereka yang sedang tidur.”
“Hamba, Tuanku.”
“Aku akan melihat, siapakah yang datang itu.”
“Kemana, Tuanku akan pergi?”
Akuwu Tunggul Ametung tidak menjawab. Dengan tergesa-gesa ia melangkah menyongsong ke arah derap kaki-kaki kuda yang menjadi semakin dekat.
“Tuanku.” Witantra mamanggil.
Tetapi Akuwu tidak menghiraukannya. Ia berjalan saja menerobos gelap malam tanpa berpaling sama sekali. Witantra tidak dapat membiarkannya pergi tanpa seorang pengawalpun. Dan ia tidak mendapat kesempatan untuk memanggil orang lain, sehingga karena itu, maka ia pun melangkah pula mengikuti sambil berkata,
“Tuanku sebaiknya tidak usah menyongsongnya. Ia akan datang kemari dan Tuanku akan melihat siapakah orang itu.”
Tetapi Akuwu seolah-olah sama sekali tidak mendengar. Ia melangkah terus, diikuti oleh Witantra yang membawa pedang di lambungnya. Namun hati Witantra itu menjadi agak tenteram ketika dilihatnya, dibawah kain panjang Akuwu Tunggul Ametung yang diselimutkan di badannya, tergantung sebuah penggada yang berwarna kekuning-kuningan yang seolah-olah bercahaya di dalam gelapnya malam.
“Akuwu telah membawa pusakanya. Ia akan menjadi seorang yang luar biasa dengan senjata itu di tangannya.” desis Witantra di dalam hatinya.
Ternyata Ken Arok pun kemudian tidak dapat membiarkan kedua orang itu pergi menyongsong derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu, maka ia pun segera menyusul di belakangnya. Berloncat-loncatan sehingga akhirnya ia telah berjalan di samping Witantra.
Dengan dada tengadah Akuwu melangkah terus. Semakin lama bahkan semakin cepat. Seakan-akan ia menjadi tidak sabar lagi menunggu kuda-kuda itu mendekatinya. Derap kuda itu pun semakin lama menjadi semakin jelas. Dua ekor kuda. Suaranya menggeletar menggetarkan udara padang yang sepi. Hanyut bersama silirnya angin yang basah.
Akuwu Tunggul Ametung itu akhirnya berhenti. Ia berdiri tegak bertolak pinggang. Ia kini sudah mendapat keyakinan arah derap kaki-kaki kuda itu. Karena itu ia tidak perlu maju lagi. Sebentar lagi kuda-kuda itu akan lewat tepat di mukanya. Dan seandainya yang menunggang kuda itu Kebo Sindet, maka ia harus menghentikannya dan menangkapnya.
“Aku tidak boleh mempergunakan pusaka ini.” desisnya.
Witantra yang tidak begitu jelas mendengar desis itu melangkah maju dan bertanya, “Apakah yang Tuanku katakan?”
Akuwu berpaling. Jawabnya, “Aku tidak berbicara kepadamu?”
“Apakah Tuanku maksudkan, Tuanku berbicara berbicara dengan Ken Arok.”
“Juga tidak. Aku berbicara kepada diriku sendiri. Aku tidak boleh mempergunakan senjataku, supaya Kebo Sindet tidak menjadi hancur sewalang-walang.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling kepada Ken Arok maka Ken Arok pun sedang mengerutkan keningnya. Tetapi mereka percaya sepenuhnya akan kata-kata Akuwu itu. Memang pusaka Akuwu itu benar-benar luar biasa. Sentuhan pada sesuatu, akibatnya sangat dahsyat. Hancur berkeping-keping.
“Aku harus menangkapnya utuh.” berkata Akuwu itu.
Sekali lagi Ken Arok rnengerutkan keningnya dan Witantra menggigit bibirnya. “Ya.” berkata Witantra di dalam hati, “Akuwu tidak dapat menangkapnya separo atau sepertiga, apabila ia masih ingin mendengar pengakuan Kebo Sindet.”
Kini kuda itu sudah menjadi semakin dekat. Mata mereka yang tajam segera melihat bayangan yang samar-samar bergerak di Padang Karautan itu. Semakin lama semakin dekat. Bayangan itu langsung menuju kearah mereka. Tetapi beberapa langkah agak jauh, kedua ekor kuda itu berhenti. Seperti Akuwu Tunggul Ametung, Ken Arok dan Witantra yang ragu-ragu, penunggang-penunggang kuda itu pun ragu-ragu pula. Keduanya masih berada di atas punggung kuda masing-masing.
Akuwu Tunnggul Ametung tidak sabar lagi untuk menunggu. Tiba-tiba ia berteriak, “He, siapa di atas punggung kuda itu?” Tidak segera terdengar jawaban. “Turun.” teriak Akuwu, “turun dan datang kemari. Sebutkan siapakah kau berdua.”
Kedua bayangan di atas punggung kuda itu masih belum menyahut. Sejenak keduanya saling berpandangan. Namun kemudian mereka pun meloncat turun. Akuwu Tunggul Ametung dan kedua orang pengiringnya mengerutkan keningnya. Pada saat keduanya turun, maka tampaklah di lambung mereka sarung pedang yang mencuat ke samping.
“Mereka bersenjata pedang.” desis mereka di dalam hati.
Tetapi ternyata kedua orang itu masih saja berdiri di samping kuda masing-masing. Akuwu Tunggul Ametung tidak sabar lagi menunggu lebih lama. Karena itu maka segera ia melangkah mendekati. Ia sama sekali tidak menghiraukannya ketika Witantra berdesis,
“Tuanku. Tunggu.”
Akuwu berjalan terus mendekati kedua orang itu. Witantra dan Kren Aroklah yang kemudian meloncat disampingnya, dikiri dan dikanan tanpa berjanji.
“Siapa kau?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.
Terdengar salah seorang dari mereka berkata, “Apakah hamba berhadapan dengan, Tuanku Akuwu?”
“Ya.” sahut Akuwu Tunggul Ametung, “akulah, Akuwu Tunggul Ametung.”
“Oh.” desis salah seorang dari kedua orang itu.
Kemudian dengan langkah yang pendek, salah seorang dari mereka menyongsong Akuwu Tunggul Ametung itu. Dengan hormatnya ia menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Dada Akuwu menjadi berdebar-debar. Kini jarak mereka menjadi lebih pendek. Dan Akuwu telah melihat bentuk orang yang sedang mengangguk kepadanya itu.
“He, siapa kau?”
“Hamba, Mahisa Agni.”
“He.”
Akuwu terperanjat meskipun bentuk Mahisa Agni itu sudah membuat Akuwu berdebar. Juga Witantra dan Ken Arok tidak kalah terkejut pula. Bahkan terasa dada mereka berdesir dan kemudian berdebar-debar. Sejenak mereka diam mematung. Tetapi sejenak kemudian Akuwu Tunggul Ametung meloncat maju. Dicengkamnya pundak Mahisa Agni dan di guncang-guncangkannya. Katanya,
“He, kau masih hidup?”
“Seperti yang, Tuanku lihat.”
“Dan kau masih dapat melepaskan dirimu dari tangan Kebo Sindet yang gila itu?”
“Hamba, Tuanku.”
“Siapa yang menolongmu he?” bertanya Akuwu itu tiba.
Mahisa Agni menjadi ragu-ragu sejenak. Gurunya berpesan kepadanya supaya ia tidak menyebut-nyebut namanya. Gurunya tidak ingin menimbulkan kenangan lagi bagi puterinya, apalagi dalam keadaan yang paling sulit dimasa-masa mendatang.
“Siapa he, siapa Setan, gendruwo atau dewa-dewa dari langit?”
“Tuanku.” berkata Mahisa Agni kemudian, “yang menolong hamba adalah guru Kuda Sempana. Empu Sada.”
“He?” sekali lagi Akuwu Tunggul Ametung terperanjat. Juga Witantra dan Ken Arok terperanjat pula.
“Jadi orang itu telah benar-benar menyesali perbuatannya?” bertanya Akuwu.
“Hamba, Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-angguk. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “He, kenapa kau tidak menunggu aku? Kenapa kau lari lebih dahulu dari tangan Kebo Sindet sebelum aku datang he?”
Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sejenak ia diam mematung, dan bahkan dipandanginya Witantra dan Ken Arok berganti-ganti, seolah-olah ia ingin mendapat penjelasan dari pertanyaan Akuwu Tunggul Ametung itu. Tetapi Witantra dan Ken Arok itu pun tidak dapat berbuat apa-apa selain saling berpandangan pula.
“Kenapa?” kembali terdengar suara Akuwu Tunggul Ametung. Mahisa Agni masih berdiri mematung. Ia menjadi ragu-ragu untuk menjawab. “Kenapa kau tidak menunggu aku membebaskanmu? Kenapa Empu Sada he?”
Mahisa Agni menjadi semakin tidak mengerti. Karena itu ia masih saja berdiri mematung.
“Kau tidak memberi kesempatan kepadaku.” berkata Akuwu itu kemudian, “Bukan kau, tetapi Empu Sada itu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk menunjuklan bahwa aku pun mampu melakukannya. Tidak perlu orang lain. Ken Dedes harus yakin, bahwa aku dapat berbuat seperti yang diingininya, membebaskan Mahisa Agni dan memhunuh Kebo Sindet. Tetapi kesempatan itu kini sudah tertutup.”
Mahisa Agni masih berdiri saja sambil berdiam diri. Ia masih ragu-ragu, bagaimana ia harus menanggapi pikiran Akuwu Tunggul Ametung yang aneh itu.
“He, kenapa? Kenapa kau diam saja?” Akuwu itu kemudian berteriak, “apakah Empu Sada menganggap aku sama sekali tidak berdaya untuk bertindak atas Kebo Sindet itu? Itu suatu penghinaan bagi Akuwu Tunggul Ametung?”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Samar-samar ia kini dapat menangkap perasaan Akuwu yang kecewa, karena seolah-olah ia tidak mampu melepaskannya. Akuwu ingin menunjukkan kepada Ken Dedes bahwa ialah yang berhasil melepaskan Mahisa Agni dari tengan Kebo Sindet. Tetapi yang kemudian menggetarkan dada Mahisa Agni bukanlah sikap Akuwu Tunggul Ametung itu sendiri. Namun dengan demikian ternyata kepadanya, bahwa selama ini Ken Dedes selalu berusaha agar Akuwu membebaskannya dari tangan iblis dari Kemundungan itu.
Dan sebelum Akuwu itu berteriak lagi, Maiisa Agni mencoba untuk menjawab, “Ampun, Tuanku. Sebenarnyalah bahwa Tuanku mempunyai kemampuan lebih dari Empu Sada. Tetapi adalah suatu kebetulan saja bahwa Empu Sada bertemu dengan Kebo Sindet, berkelahi dan Kebo Sindet terbunuh. Kebetulan yang datang tepat pada waktunya, sebab pada saat itu Kebo Sindet telah siap untuk membunuh hamba dengan caranya, karena usahanya untuk mempergunakan hamba sebagai alat pemeras dirasanya telah gagal.”
Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Lalu terdengar suaranya menggeram, “Bagaimanakah cara yang akan ditempuh oleh Kebo Sindet itu untuk membunuhmu? Gantung atau pancung atau apa?”
Mahisa Agni ragu-ragu sejenak. Kemudian jawabnya, “Kebo Sindet belum sempat melakukannya. Tetapi yang telah diucapkan, cara itu adalah cara yang paling mengerikan. Hamba akan diikat di atas rawa-rawa yang menyimpan banyak sekali buaya-buaya kerdil. Kebo Sindet ingin melihat buaya-buaya itu menggapai-gapai hamba, sehingga pada saatnya, salah seekor dari padanya sempat merobek tubuh hamba dan menyeret ke dalam rawa-rawa.”
Wajah Akuwu Tunggul Ametung tiba-tiba menjadi tegang. Terdengar ia menggeram, “Kejam sekali. Kejam sekali. Apakah kira-kira hal itu akan dilakukannya benar-benar?”
“Hamba, Tuanku. Demikianlah tabiat Keto Sindet itu.”
“Setan. Seharusnya akulah yang membunuhnya. Akulah yang harus menghentikan segala kejahatannya yang mengerikan itu.”
Akuwu bergumam seolah-olah kepada diri sendiri. Tiba-tiba teringat pula olehnya cara yang dipilih oleh Kebo Sindet untuk membunuh Jajar yang gemuk yang telah mencoba berkhianat kepadanya. Hidup-hidup di masukkan ke dalam api yang menelan rumahnya sendiri. Oleh kenangan itu, maka wajah Akuwu itu menjadi semakin tegang. Dengan tajamnya dipandanginya seseorang yang berdiri disamping kudanya, yang datang bersama-sama dengan Mahisa Agni.
Dan tiba-tiba pula Akuwu itu berteriak, “He bukankah kau Kuda Sempana?”
Dada Mahisa Agni berdesir mendengar suara Akuwu dalam nada yang tinggi itu. Apalagi Kuda Sempana yang telah merasa banyak sekali menyimpan kesalahan, sehingga sejenak ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Witantra dan Ken Arok pun menjadi tegang pula. Mereka tahu benar, peranan apakah yang selama ini telah dilakukan oleh Kuda Sempana sehingga keadaan Mahisa Agni, Ken Dedes, dan bahkan seluruh Panawijen menjadi sedemikian buruknya.
“Jawab pertanyaanku.” Akuwu mulai berteriak lagi, “bukankah kau bernama Kuda Sempana?”
Terasa darah Kuda Sempana menjadi semakin cepat mengalir sehingga dadanya menjadi berdentangan.
“He, apa jawabmu?”
koleksi : Ki Ismoyo
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema
scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Wijil
Cek ulang : Ki Arema
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar