MENU

Ads

Jumat, 24 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 191

PdLS-39
SELANGKAH Kuda Sempana maju dengan kaki gemetar. Kemudian terdengar suaranya parau, “Hamba Tuanku, Hamba adalah Kuda Sempana.”

“O.” Akuwu menggeretakkan giginya, “kau telah ikut dalam pengkhianatan itu. Kau telah menjadikan semuanya rusak sama sekali. Dan sekarang kau masih berani menampakkan dirimu setelah kau lari dari istana tanpa menjalani hukuman yang aku jatuhkan kepadamu atas permintaan Permaisuriku.”

Kuda Sempana sama sekali tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam. Namun kemudian dentang jantungnya menjadi reda setelah ia menemukan ketenangan di dalam dirinya. Ia telah pasrah kepada nasib yang akan membawanya. Hidup yang sesungguhnya bagi Kuda Sempana telah terhenti sejak ia berada di dalam tangan Kebo Sindet. Karena itu, maka apapun yang akan terjadi atasnya kini sudah tidak lagi menggetarkan jantungnya. Apalagi ia tahu pasti, bahwa Akuwu Tunggul Ametung dihadapan prajurit-prajuritnya, sama sekali bukan Kebo Sindet.

Seandainya Akuwu Tunggul Ametung memutuskan untuk menghukumnya sampai mati, maka cara yang dipakainya pasti cara yang wajar, yang biasa dilakukan, apabila terpaksa seseorang dihukum mati karena kesalahan-kesalahannya yang tidak mungkin diampuni lagi. Seandainya ia termasuk orang-orang yang demikian, maka bagi Kuda Sempana sama sekali sudah tidak menggetarkan jantungnya. Karena Kuda Sempana sama sekali tidak menyahut, dan bahkan hanya menundukkan kepalanya saja, maka Akuwu itu berkata pula,

“He, Kuda Sempana. Apakah kau tidak punya otak yang dapat mencegahmu untuk datang menemuiku seperti ini, karena hal itu akan dapat membawamu ketiang gantungan?” Kuda Sempana masih belum menjawab. “Apakah kau sekarang menjadi bisu, he, setelah kau menjadi pengikut Kebo Sindet? Bukankah kau ikut serta mencoba memeras Ken Dedes dengan mempergunakan Jajar yang gemuk itu, dan bahkan kau ikut berkelahi dan membunuh beberapa orang yang dipergunakan oleh Jajar yang gemuk itu untuk menjebak Kebo Sindet?”

Kuda Sempana semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. Akuwu ternyata tahu semua yang telah dilakukan. “Dan kau ikut pula mengikat Jajar yang gemuk itu di rumahnya yang sedang terbakar?”

Kuda Sempana sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Ditatapnya saja rerumputan yang basah oleh sisa-sisa air hujan yang seperti dicurahkan dari langit.

“Nah, sekarang kau datang menyerahkan dirimu. Hukuman lipat sepuluh dari yang seharusnya. Kau harus menanggung segala macam kesalahan yang dilakukan oleh Kebo Sindet pula.” Akuwu itu berhenti sejenak, “sayang bahwa hukuman gantung hanya dapat dilakukan satu kali atas seseorang. Aku sebenarnya ingin menggantungmu sepuluh kali di alun-alun, dan seandainya aku dapat menangkap Kebo Sindet maka ia harus digantung sepuluh tahun. Tetapi sayang sekali bahwa kau hanya dapat melakukan hukuman itu satu kali, lalu mati.”

Betapapun juga dada Kuda Sempana terasa tersentuh oleh kata-kata Akuwu. Meskipun kedengarannya aneh, namun ternyata Akuwu mencoba untuk mencurahkan segala macam perasaannya. Kemarahan, kejengkelan, kekecewaan dan segala macam perasaan.

“He, apa katamu Kuda Sempana?”

Kuda Sempana tidak menyahut. Mulutnya serasa terbungkam dan ia memang sama sekali kehilangan nafsu untuk menjawab, apalagi membela diri, untuk mendapat pengampunan. Terasa menyesak di dadanya, pengakuan atas segala macam kesalahan yang telah dilakukannya, sejak ia masih menjadi seorang Pelayan Dalam, sejak Ken Dedes masih seorang gadis desa. Sekilas terbayang kembali usahanya yang pertama kali untuk memaksa Ken Dedes mengikutinya ke Tumapel, melakukan cara yang memang dapat ditempuh. Kawin lari sampai mereka mempunyai anak, dan orang tua gadis itu terpaksa mengakunya sebagai seorang menantu. Tetapi ternyata Ken Dedes tidak mau dan bahkan Mahisa Agni berhasil pula menggagalkannya, untuk melarikan saja gadis itu. Cara yang dapat ditempuhnya pula untuk mendapatkan Ken Dedes. Tetapi semuanya itu telah gagal. Sehingga ia terpaksa mengelabui Akuwu Tunggul Ametung dan rasanya ia telah berhasil mengambil Ken Dedes dari Panawijen. Tetapi sekali lagi ia gagal dan bahkan ia harus menjalani hukuman yang paling hina.

Akhirnya ia menjadi semakin jauh tersesat. Semakin jauh. Tanpa disadarinya ia telah terdampar di Kemundungan, di sarang iblis yang paling mengerikan. Kakak beradik Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Kuda Sempana menggigit bibirnya. Adalah wajar sekali bahwa sekarang Akuwu Tunggul Ametung menghadapkannya pada hukuman yang paling berat yang dapat diberikan kepadanya. Tetapi dalam pada itu, dalam kediamannya, ia mendengar suara Mahisa Agni,

“Ampun Tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Hamba ingin memohon, agar Tuanku sudi mempertimbangkannya Kuda Sempana telah melakukan banyak sekali kesalahan, bahkan sudah mendekati bentuk-bentuk kejahatan. Tetapi ia sudah menjalani hukumannya, jauh lebih berat dari hukuman yang dapat Tuanku berikan. Hukuman yang lebih berat dari hukuman mati.”

“He, kau sudah gila pula Mahisa Agni.” potong Akuwu Tunggul Ametung, “kaulah yang seharusnya minta kepadaku hukuman yang paling berat atasnya. Atas namamu sendiri dan atas nama adikmu, Ken Dedes. Sekarang, agaknya kau ingin minta kepadaku untuk memperingan hukuman atas Kuda Sempana. Benar begitu?”

“Hamba Tuanku. Sebenarnya hamba memang telah melihat, betapa ia menjalani hukumannya di Kemundungan.”

“Kau sudah benar-benar gila agaknya. Bukankah di Kemundungan Kuda Sempana telah menjadi salah seorang pengikut Kebo Sindet yang paling setia?”

“Ampun Tuanku, Itulah yang akan hamba katakan. Di Kemundungan Kuda Sempana telah menjalani hukuman mati meskipun ia masih hidup. Ia telah melepaskan diri dari kepentingan kemanusiaannya. Tidak atas kehendak sendiri, dengan ikhlas melepaskan kepentingan-kepentingan diri dan kehendak diri sendiri, tetapi ia telah dipaksa oleh keadaan di sekitarnya.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya Katanya, “Apakah kau sedang mengigau?”



“Ampun Tuanku. Sebenarnyalah demikian.”

“Coba katakan, apakah yang sudah terjadi atasnya di Kemundungan. Apakah Kuda Sempana tidak menjadi kepala dari pengikut-pengikut Kebo Sindet.”

“Kebo Sindet adalah seorang yang melakukan segala macam kejahatannya seorang diri sepeninggal adiknya Wong Sarimpat.”

“Kemudian kedudukan Wong Sarimpat telah diganti oleh Kuda Sempana.”

“Tidak Tuanku. Kuda Sempana tidak lebih baik kedudukannya dari kuda tunggangan Kebo Sindet yang sekarang hamba pakai. Ia sudah kehilangan segala-galanya. Hidupnya memang telah terhenti perlahan-lahan sehingga sampai suatu saat, ia menjadi beku seperti segumpal batu yang mati, yang dapat diperlakukan apa saja.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Tampaklah keragu-raguan memancar di wajahnya. Sekali dipandanginya wajah Kuda Sempana tajam-tajam, lalu pandangan matanya berpindah ke wajah Mahisa Agni. Bahkan kemudian dipalingkannya mukanya kepada Witantra dan Ken Arok seakan-akan minta pertimbangan dari padanya. Tetapi Witantra dan Ken Arok tidak menunjukkan kesan apapun di wajahnya, selain keragu-raguan pula. Tetapi yang berkata demikian adalah Mahisa Agni. Orang yang seharusnya paling mendendam kepada Kuda Sempana, sehingga mau tidak mau Akuwu harus mempertimbangkannya.

“Agni.” berkata Akuwu, “apakah sikapmu itu dipengaruhi oleh jasa yang telah diberikan kepadamu dari Empu Sada yang kebetulan adalah guru Kuda Sempana?”

Mahisa Agni mengerutkan dahinya. Kemudian jawabnya, “Sebagian memang benar Tuanku. Empu Sada telah menolong hamba melepaskan diri dari tangan iblis Kemundungan itu. Empu Sada pun minta pula kepada hamba, menyampaikan permohonan maafnya untuk muridnya yang sesat. Tetapi pengalaman Kuda Sempana telah mengajar kepadanya, bahwa apa yang telah dilakukannya itu ternyata suatu kesalahan yang sangat besar. Mudah-mudahan ia telah benar-benar menjadi seorang yang baik, yang menyesali semua perbuatannya lahir dan batin dan tidak akan mengulanginya lagi.”

Sorot mata Akuwu Tunggul Ametung tiba-tiba menyambar wajah Mahisa Agni dengan tajamnya. Selangkah ia maju sambil berkata keras-keras. “Kenapa bukan Empu Sada itu sendiri yang menghadap aku dan mohon maaf untuknya sendiri dan untuk muridnya he? Kenapa permohonan ampun atas kesalahan yang sedemikian besarnya, yang telah menggoncangkan Tumapel, yang telah menelan beberapa korban jiwa dan membuat Permaisuriku selalu dihantui oleh kecemasan, hanya dipesankan kepadamu?”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia tidak dapat menjawab. Ketika dipandanginya Kuda Sempana dengan sudut matanya, maka dilihatnya anak muda itu semakin menunduk.

“He, kenapa? Bukankah itu telah merendahkan Akuwu Tunggul Ametung dari Tumapel.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dicobanya untuk menjawab, “Ampun Tuanku. Empu Sadapun telah merasa babwa seharusnya ia sendiri menghadap Tuanku untuk mohon ampun atas segala kesalahannya dan kesalahan muridnya. Tetapi Empu Sada merasa ketakutan untuk melakukannya. Ia tidak mempunyai cukup kekuatan untuk berani berhadapan dengan Tuanku Akuwu Tunggul Ametung justru setelah ia berhasil menolong hamba dan melepaskan muridnya dari tangan Kebo Sindet. Bukan saja karena ia silau memandang kebesaran Akuwu Tunggul Ametung tetapi ia telah memutuskan untuk tidak lagi berada di lingkungan kehidupan yang wajar. Ia telah membuang dirinya, menyepi, menjauhkan diri dari segala masalah duniawi. Justru setelah ia merasa bahwa ia telah berbuat terlampau banyak kesalahan.”

Akuwu terdiam sejenak mendengar keterangan Mahisa Agni itu. Tetapi kemudian ia berkata, “Alasan itu baik juga dikemukakan. Mudah-mudahan aku dapat mempercayainya meskipun hampir tidak masuk akal. Kalau benar Empu Sada berbuat demikian, bukan sekedar ceritera yang dengan tergesa-gesa disusun oleh Mahisa Agni, maka Empu Sada adalah seorang yang terlampau bodoh.” Akuwu berhenti sejenak, lalu kepada Kuda Sempana ia bertanya, “He, Kuda Sempana, apakah keuntungan yang didapat oleh gurumu dengan menjauhi pergaulan hidup yang wajar? Kalau benar ia merasa telah terlalu banyak membuat kesalahan, kenapa ia kemudian menjauhkan dirinya? Apakah dengan demikian ia merasa, bahwa kesalahan-kesalahannya itu akan terhapus dengan sendirinya tanpa berbuat sesuatu bagi sesama yang telah dinodai oleh kesalahan-kesalahannya? He, Kuda Sempana. Seorang yang mengasingkan diri itu tidak lebih dari seorang yang hilang, lalu tanpa mempunyai arti lagi selain dikenang. Padahal kenangan yang ditinggalkannya adalah kenangan yang hitam, selain sepercik jasanya telah melepaskan Mahisa Agni.”

Sekali lagi Akuwu berhenti, lalu, “bagiku Kuda Sempana, Empu Sada adalah orang yang menyimpan ilmu di dalam dirinya. Ia dapat berbuat banyak dengan ilmunya untuk kepentingan kemanusiaan. Itu aku memberinya lebih banyak arti dari pada menyingkir. Coba apakah yang dapat diberikan sebagai penebus segala macam kesalahannya apabila ia terpisah dari pergaulan? Menyepi, bertapa dan kemudian duduk tepekur mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung? Tetapi bagiku, bakti kepada Yang Maha Agung dengan mewujudkannya dalam tingkah laku, perbuatan dan pikiran yang bermanfaat bagi pergaulan, adalah lebih tinggi nilainya dari pada yang dilakukannya sekarang. Baik bagi manusia dan sudah tentu bagi Yang Maha Agung. Apalagi kalau ia berhasil mendorong orang lain mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Agung. Dan itu hanya dapat dilakukan apabila ia berada diantara orang-orang yang akan didorongnya itu. Barulah Empu Sada dapat dikatakan menyesali kesalahan-kesalahan yang pernah dibuatnya.”

Kuda Sempana sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Bahkan Mahisa Agnipun kemudian menunduk pula. Witantra dan Ken Arok tanpa disadarinya sendiri mengangguk-angguk kecil. Mereka tidak pernah mendengar Akuwu Tunggul Ametung berkata sedemikian ber-sungguh-sungguh seperti saat itu.

Sejenak Padang Karautan itu menjadi terlampau sepi. Yang masih terdengar adalah derik suara bilalang dan cengkerik. Namun tanpa mereka sadari, ternyata cahaya di Timur menjadi semakin terang. Orang-orang yang berdiri di padang itupun menjadi semakin jelas tampak garis-garis wajahnya.

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Kini ia melihat betapa Kuda Sempana dan Mahisa Agni menjadi kurus dan cekung. Wajah-wajah mereka menunjukkan keprihatinan yang berat selama mereka berada di tangan iblis Kemundungan. Sama sekali tidak nampak kegarangan dan kebuasan di wajah Kuda Sempana. Bahkan wajah itu seolah-olah menjadi beku dan dingin. Tidak ada lagi pancaran yang menyorotkan gairah hidup dari dalam dirinya. Sepi dan beku.

Melihat keaadaan itu, maka kemarahan Akuwu Tunggul Ametung menjadi mereda. Ia mempercayai keterangan Mahisa Agni tentang Kuda Sempana. Keadaannya di dalam sarang iblis Kemundungan itu tidak jauh berbeda, bahkan tidak lebih baik dari kuda tunggangan Kebo Sindet. Dengan demikian, maka nafsunya untuk menjatuhkan hukuman kepada Kuda Sempana itupun lambat laun seakan-akan dihanyutkan oleh silirnya angin pagi. Semakin terang, maka semakin jelas nampak oleh kedua anak-anak muda itu telah mengalami suatu masa yang terlampau berat bagi mereka. Pakaiannya yang kusut kumal, basah oleh air hujan, dan wajah-wajah mereka yang suram.

Akuwu Tunggul Ametung menarik napas. Kemudian ia berkata, “Aku akan mempertimbangkan serupa keterangan Mahisa Agni. Tetapi aku tidak akan melepaskan pengawasan atasmu Kuda Sempana.”

Terasa seolah-olah setetes embun menitik pada hati Kuda Sempana yang gersang. Perlahan-lahan ia membungkuk sambil berkata, “Hamba hanya dapat mengucapkan beribu terima kasih Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan keningnya. Dipandanginya kemudian wajah Witantra dan Ken Arok berganti-ganti. Katanya, “Witantra, apakah kau sependapat, bahwa untuk sementara Kuda Sempana kita beri kesempatan untuk tetap hidup?”

Witantra mengangguk. Jawabnya, “Hamba Tuanku.”

Kemudian kepada Ken Arok ia bertanya, “Apa katamu Ken Arok?”

“Hambapun sependapat Tuanku.”

“Baik. Aku serahkan orang ini kepadamu, meskipun aku belum mengembalikan ia pada kedudukannya semula. Seandainya ia dapat diterima kembali untuk menjadi seorang Pelayan Dalam di istana, maka ia harus mulai lagi dari tingkat yang paling bawah. Orang ini akan berada di dalam lingkunganmu.”

Ken Arok mengerutkan dahinya. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain kecuali menjawab, “Hamba Tuanku. Hamba akan mencoba berbuat sebaik-baiknya.”

“Nah, terserahlah kepadamu. Bawalah orang ini. Aku tidak akan membawanya ke Tumapel.” Akuwu itu berhenti sejenak, lalu, “Hanya Mahisa Agnilah yang ikut aku keistana.”

Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Diberanikannya dirinya berkata, “Ampun Tuanku. Hamba ingin melihat bendungan yang sudah lama sekali hamba tinggalkan. Hamba belum tahu apakah bendungan itu sudah jadi atau belum. Seandainya masih ada yang harus dikerjakan maka biarlah hamba tinggal di padang ini untuk ikut serta mengerjakannya.”

Akuwu tidak segera menjawab. Tetapi tampak wajahnya nenjadi tegang. Dipandanginya wajah Mahisa Agni tajam-tajam. Lalu sejenak kemudian ia berkata, “Kenapa kau tidak mau ikut? Adikmu hampir mati menunggu kau datang kepadanya. Sekarang kau menolak untuk ikut pergi ke Tumapel.”

Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Ternyata Ken Dedes benar-benar menjadi prihatin karena kehilangan orang yang dianggapnya sebagai kakaknya. Perasaan prihatin seorang adik. Mahisa Agni menarik napas dalam-dalam. Namun kemudian dadanya telah digetarkan oleh ingatannya tentang bendungan Karautan. Ia menyangka bahwa bendungan itu masih belum selesai sama sekali. Ternyata Ken Arok sampai saat ini masih berada di padang itu.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka terdengar suara Akuwu, “Bagaimana pertimbanganmu?”

Mahisa Agni masih belum dapat segera menjawab. Di pandanginya Witantra yang berdiri dekat di samping Akuwu Tunggul Ametung. Dan Witantra itu sendiri berkata di dalam hatinya,

“Kenapa Akuwu tidak membawanya ke perkemahan lebih dahulu, kemudian berbicara dengan baik sambil duduk di antara orang-orang Panawijen yang pasti akan bergembira menerima kedatangannya?” Tetapi Witantra tidak mengucapkannya. Ia tidak mau menyinggung perasaan Akuwu yang sering meledak-ledak itu.

Tetapi ternyata Ken Arok lah yang mendapat jalan untuk mengatakan. Agaknya Ken Arok pun berpikir seperti itu pula. Maka katanya, “Ampun Tuanku. Sebentar lagi hamba harus sudah mulai dengan pekerjaan hamba bersama dengan orang-orang Panawijen dan para prajurit, karena matahari akan segera naik. Perkenankanlah hamba untuk kembali kepada kawan-kawan itu.” Ken Arok berhenti sejenak. Kemudian, “Dan apakah tidak sebaiknya Mahisa Agni Tuanku perkenankan hari ini melihat bendungannya yang sudah hampir siap, supaya ia dapat menikmatinya pula, untuk sekedar melupakan keprihatinan yang dialaminya? Apabila kemudian Mahisa Agni harus ikut ke Tumapel, terserahlah kepada Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung menengadahkan wajahnya. Langit sudah menjadi cerah oleh sinar pagi yang memancari wajah Padang Karautan yang seolah-olah luas tidak bertepi.

Perlahan-lahan Akuwu itu mengangguk-anggukkan kepalanya Katanya, “Marilah kita kembali. Aku tidak dapat berbicara sambil berdiri saja di sini. Aku harus berbicara dengan Mahisa Agni dalam keadaan yang lebih baik, tidak di sini sambil mematung.”

Witantra menggigit bibirnya. Hampir saja ia tertawa. Bukankah Akuwu sendiri yang berbuat demikian sehingga ia harus berbicara sambil berdiri tegak seperti patung?. Akuwu Tunggul Ametung itu pun kemudian berjalan kembali ke gubugnya, Terlampau tergesa-gesa seperti sedang ditunggu oleh suatu keadaan yang terlampau penting untuk segera ditanggapi.

Ternyata orang-orang Panawijen dan para prajurit di perkemahan mereka telah bangun dan telah mulai mempersiapkan diri. Mereka sama sekali tidak mengerti, bahwa Akuwu Tunggul Ametung, Witantra dan Ken Arok pergi menyongsong dua orang berkuda yang ternyata adalah Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Para pengawal Akuwu memang menjadi gelisah ketika dilihatnya, Akuwu tidak ada ditempatnya. Tetapi karena Witantra juga tidak ada, maka mereka menyangka, bahwa Akuwu sedang berjalan-jalan melihat-lihat diantar oleh Witantra. Tetapi bahwa mereka tidak melihat Akuwu pergi, telah membuat mereka menjadi berdebar-debar. Tetapi di sudut lain orang bertanya-tanya tentang Ken Arok. Kemanakah orang itu pergi?.

Beberapa orang menaruh perhatian, tetapi yang lain seolah-olah acuh tidak acuh saja. Adalah kebiasaan Ken Arok untuk pergi kemana saja tanpa diketahui oleh orang lain, sehingga kadang-kadang memang dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan. Tetapi ia akan segera kembali dan melakukan pekerjaannya, memimpin pembuatan bendungan yang masih belum siap itu. Tetapi ternyata kali ini, bukan saja Ken Arok yang tidak ada di tempatnya, juga Akuwu Tunggul Ametung dan Witantra.

“Ah, mereka pergi berjalan-jalan. Mungkin mereka pergi ke taman yang sebagian telah dirusakkan oleh banjir itu.” berkata Kebo Ijo di dalam hatinya, kemudian, “persetan dengan ketiga orang itu. Seandainya mereka matipun aku tidak akan kehilangan apa-apa.”

Kebo Ijo seolah-olah sama sekali tidak berkepentingan sama sekali atas kepergian ketiga orang yang tanpa diketahui oleh seorang pun itu. Namun, kemudian ia datang kepada para prajurit pengawal dan bertanya,

“Kemana Akuwu Tunggul Ametung?”

“Kami tidak tahu.” sahut salah seorang prajurit.

“Apakah tidak ada seorang pun yang bertugas berjaga-jaga di muka gubugnya?”

“Ada.”

“Tetapi kenapa tidak ada seorang pun yang tahu kemana ia pergi. Lalu apakah kerja para pengawal? Seandainya aku tidak bertugas di bendungan ini, dan seandainya aku mendapat tugas untuk mengawalnya, maka aku pasti tahu kemana ia pergi.”

Prajurit itu tidak menjawab. Tetapi seorang perwira datang kepada Kebo Ijo dan berkata, “Aku sudah mengusulnya. Kenapa tidak seorang pun yang melihat Akuwu pergi.”

“Lalu?”

“Aku akan bertanggung jawab kepada Ki Witantra yang agaknya pergi bersama Akuwu Tunggul Ametung.”

“Tetapi kenapa para penjaga tidak melihat mereka keluar dari gubug masing-masing?”

“Para prajurit agaknya merasa terlampau letih. Mereka tidak tertahankan lagi dan jatuh tertidur di tempatnya, seperti seseorang yang kena sirep.”

“Dan kau juga tertidur?”

“Ya, aku juga tertidur. Dan kau pun tidur juga.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Perlahan-lahan ia melangkahkan kakinya meninggalkan gubug Akuwu yang kosong, namun yang kini justru ditunggui oleh dua orang penjaga. Ketika dilayangkannya pandangan matanya jauh ke Padang Karautan maka yang dilihatnya adalah gerumbul-gerumbul perdu yang berserakan disana-sini. Gerumbul yang kadang-kadang rimbun meskipun daunnya masih belum terlampau segar, tetapi kadang-kadang ada yang kering kerontang, seperti baru saja habis terbakar. Tiba-tiba Kebo Ijo itu mengerutkan keningnya. Ia melihat beberapa orang berjalan kaki sambil menuntun kuda. Dua ekor kuda di antara lima orang yang berjalan kaki.

“Siapakah mereka itu?” desisnya di dalam hati.

Sejenak Kebo Ijo berdiri termangu-mangu. Kemudian dilambaikannya tangannya memanggil seseorang yang berdiri tidak jauh dari padanya. Katanya, “He, panggil Ki Buyut kemari.”

Orang itu segera menyampaikannya kepada Ki Buyut Panawijen yang kemudian dengan tergesa-gesa datang kepadanya.

“Siapakah mereka Ki Buyut?” bertanya Kebo Ijo.

“Ah, mataku sudah tidak cukup jelas untuk melihat sedemikian jauh. Barangkali angger segera dapat mengenal mereka.”

“Yang berjalan paling depan, pasti Akuwu Tunggul Ametung, yang lain meskipun tidak begitu jelas tetapi pasti Kakang Witantra dan Ken Arok. Lalu yang menjadi pertanyaan, siapakah kedua orang lain yang menuntun kuda itu?”

Ki Buyut yang tua itu mencoba mengerutkan keningnya dan mempertajam pandangan matanya. Tetapi meskipun hari telah menjadi terang, namun ia tidak segera dapat melihat orang-orang yang masih seperti bintik-bintik yang merayap semakin dekat di antara gerumbul-gerumbul yang tumbuh bertebaran di sana-sini. Namun semakin lama bintik-bintik itu menjadi semakin besar. Semakin lama menjadi semakin jelas. Dan Kebo Ijo menjadi semakin yakin bahwa yang berdiri dipaling depan adalah Akuwu Tunggul Ametung. Ia tidak dapat dikelabui lagi oleh langkahnya yang seakan-akan selalu gelisah. Yang lain benar-benar Witantra dan Ken Arok, yang dicari oleh sementara orang diperkemahan itu. Dan yang dua kemudian?. Dada Kebo Ijo menjadi berdebar-debar. Semakin lama wajah-wajah mereka pun menjadi semakin jelas Demikian pula kedua orang yang sedang menuntun kuda itu pun menjadi semakin jelas pula.

“Kuda Sempana.” desisnya.

“Siapa?” bertanya Ki Buyut dengan serta merta.

“Kuda Sempana.” jawab Kebo Ijo.

“Kuda Sempana?” Ki Buyut mengulangi, “apakah Akuwu Tunggul Ametung sudah berhasil menangkapnya?”

“Entahlah.” sahut Kebo Ijo.

“Lalu siapakah yang seorang lagi?”

Dada Kebo Ijo menjadi semakin berdebar-debar. Semakin jelas olehnya bahwa yang seorang itu adalah Mahisa Agni. Ya, Mahisa Agni. Begitu keras debar jantung di dalam dadanya, sehingga tangannya pun kemudian menjadi gemetar. Hampir tidak dapat dipercayainya, bahwa yang datang itu adalah Kuda Sempana dan Mahisa Agni.

“Siapakah yang seorang itu ngger?” bertanya Ki Buyut itu pula.

Perlahan-lahan, dalam dada yang berat Kebo Ijo menjawab, “Mahisa Agni, Ki Buyut.”

“He.”

Ki Buyut Panawijen hampir terlonjak mendengar jawaban itu, sehingga sejenak ia diam dalam kebingungan dan kebimbangan. Namun semakin jelas pula baginya, bahwa orang-orang yang datang itu memang seperti orang-orang yang disebut-sebut oleh Kebo Ijo.

“Jadi benar yang satu lagi itu Angger Mahisa Agni?” desis Ki Buyut Panawijen dengan suara yang gemetar pula.

Kebo Ijo tidak segera menyahut. Dipandanginya orang-orang yang sedang berjalan mendekat itu dengan saksama. Tidak salah lagi, mereka adalah Akuwu Tunggul Ametung, Witantra, Ken Arok, Kuda Sempana dan yang seorang itu adalah Mahisa Agni. Wajah Kebo Ijo tiba-tiba menjadi tegang. Dan terdengarlah orang itu bardesis,

“Anak itu masih tetap hidup.”

Ki Buyat barpaling kepadanya. Wajahnya diwarnai oleh perasaan yang aneh. Kedatangan Mahisa Agni yang tidak disangka-sangkanya itu telah menggoncangkan dadanya. Tetapi ia tidak mengerti, kenapa wajah Kebo Ijo tiba-tiba menjadi tegang. Maka dengan serta merta Ki Buyut itu bertanya,

“Aku tidak mengerti ngger, bukankah kita memang mengharap angger Mahisa Agni tetap hidup?”

“Oh.” Kebo Ijo tergagap, “Ya, ya. Kita memang mengharap ia tetap hidup tetap sehat dan tetap seorang yang sombong dan berkepala besar.”

“Aku tidak mengerti ngger.”

Kebo Ijo tidak menjawab. Tatapan matanya masih melekat kepada orang-orang yang berjalan semakin dekat. Dan ia mendengar Ki Buyut berkata, “Aku mengharap sekali anak itu pulang. Aku takut kehilangan untuk kedua kalinya. Anakku telah mati terbunuh. Dibunuh oleh Kuda Sempana. Kemudian aku menganggap angger Mahisa Agni sebagai anakku sendiri. Kalau terjadi sesuatu, maka aku akan kehilangan dia. Aku akan kehilangan untuk yang kedua kalinya.”

“Ya, ya. Ki Buyut ternyata tidak kehilangan dia. Bahkan anak itu datang sambil membawa Kuda Sempana. Mungkin ia berhasil melepaskan diri dari tangan Kebo sindet sambil menangkap Kuda Sempana sekaligus.”

Ki Buyut merasakan nada kata-kata Kebo Ijo bukan seperti yang diharapkannya Tetapi ia kemudian tidak menyahut lagi. Kini ia memandangi orang-orang yang datang yang semakin lama menjadi semakin dekat, semakin dekat. Ki Buyut ternyata tidak dapat menahan kegembiraan hatinya karena kehadiran Mahisa Agni. Ia sama sekali tidak menghiraukan lagi kehadiran Kuda Sempana, yang telah membunuh anaknya. Tetapi kegembiraan hatinya yang meluap itu telah merampas segenap perhatiannya, sehingga tiba-tiba ia meloncat berlari-larian menyongsong Mahisa Agni.

Kedatangan Mahisa Agni ternyata telah menggemparkan perkemahan itu. Sejenak kemudian setiap mulut telah menyebut namanya. Dengan serta merta orang-orang Panawijen segera berlari-larian menyongsongnya, menyusul Ki Buyut yarg sudah medahului mereka.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar