MENU

Ads

Jumat, 24 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 192

Akuwu Tunggul Ametung yang berjalan di depan sekali mengerutkan keningnya melihat orang berlari-lari menyongsongnya. Tetapi segera disadarinya, bahwa bukan dirinyalah yang telah menarik perhatian segenap perghuni perkemahan, terutama orang-orang Panawijen, tetapi Mahisa Agni. Karena itu maka Akuwu itu pun kemudian menjadi acuh tidak acuh. Bahkan perlahan-lahan ia bergumam,

“Anak setan itu telah berhasil menolong dirinya sendiri tanpa pertolonganku. Persetan dengan orang-orang Panawijen yang menjadi gila karena kehadirannya. Aku tidak peduli lagi.”

Akuwu yang bersungut-sungut itu berjalan semakin cepat. Witantra dan Ken Arok terloncat-loncat di belakangnya. Sedang beberapa langkah lagi berjalan Mahisa Agni dan Kuda Sempana. Tetapi langkah mereka segera terhenti karena Ki Buyut tiba-tiba saja telah mendekap Mahisa Agni yang menjadi sedemikian kurus di dalam pandangan mata orang tua itu.

“Ternyata kau selamat ngger.” berkata orang tua itu terputus-putus.

Terasa tenggorokan Mahisa Agni pun menjadi kering. Perlahan-lahan ia menjawab, “Ya Ki Buyut. Aku selamat atas perlindungan Yang Maha Agung.”

“Syukurlah. Aku selalu berdoa untukmu ngger. Orang-orang Panawijen pun berdoa pula untukmu.”

“Terima kasih Ki Buyut.”

Tetapi Mahisa Agni tidak dapat berbicara lebih banyak. Kerongkongannya serasa tersumbat dan dadanya serasa menjadi sesak. Apalagi ketika sejenak kemudian ia sudah dikerumuni oleh orang-orang Panawijen yang memandanginya dengan sorot mata yang berapi-api. Lamat-lamat Mahisa Agni mendengar suara bergeramang diantara mereka,

“Mahisa Agni telah kembali, Mahisa Agni telah kembali.” lalu disusul oleh yang lain, “Ia berhasil lolos dari tangan Kebo Sindet.” tetapi yang lain berkata, “ia menjadi terlampau kurus dan hitam. Wajahnya kering dibakar oleh terik matahari dan punggungnya seolah-olah menjadi matang dipanggang api.”

“He.” yang lain hampir berteriak, “lihat, luka di tubuhnya. Jalur-jalur senjata telah merobek kulitnya. Belum terlampau kering. Darah masih tampak pada pakaiannya yang kotor dan kumal, meskipun sudah kering.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Mereka melihat jalur luka di beberapa tempat pada tubuh Mahisa Agni. Luka yang masih baru meskipun sudah tidak mengalirkan darah lagi. Tetapi belum ada seorang pun yang bertanya tentang luka itu. Hampir setiap mulut mengucapkan selamat atas kedatangannya, dan beberapa orang lagi sudah mulai bertanya-tanya bagaimana ia dapat melepaskan diri dari tangan Kebo Sindet.

“Apakah semalam Akuwu Tunggul Ametung membebaskanmu, Agni?” bertanya salah seorang dari orang-orang Panawijen.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ketika ia mengangkat wajahnya dilihatnya Akuwu Tunggul Ametung menjadi semakin jauh diikuti oleh Witantra. Tetapi ia melihat Ken Arok berdiri termangu-mangu agak jauh dari padanya. Dan sejenak kemudian setelah berpaling beberapa kali, Ken Arok itu melangkah kembali kepada Mahisa Agni. Beberapa orang menyibak ketika Ken Arok melangkah mendekati Mahisa Agni. Meskipun mereka telah berjumpa sebelumnya tetapi Ken Arok belum sempat mengucapkan selamat kepadanya. Karena itu maka berkata Ken Arok setelah ia berdiri di muka Mahisa Agni,

“Aku mengucapkan selamat Agni.”

Ditatapnya wajah Ken Arok tajam-tajam. Ia tahu benar bahwa Ken Arok telah mencoba berusaha untuk menyelamatkannya. Ken Arok telah mencegahnya, pada saat ia terpancing pergi ke Panawijen dan kemudian bersedia memberikan beberapa orang prajurit pilihan untuk mengawaninya. Tetapi ia menolak, dan dengan demikian Ken Arok sendirilah yang pergi menemaninya bersama Empu Gandring.

Karena itu tanpa sesadarnya Mahisa Agni berdesis, “Terima kasih Ken Arok.”

Ken Arek mengerutkan keningnya. Katanya sambil tersenyum, “Kenapa kau berterima kasih kepadaku?”

Mahisa Agnipun tersenyum pula. “Kau telah berusaha sebaik-baiknya. Sebelum aku ditangkap oleh kakak beradik iblis Kemundungan itu kau sudah memperingatkan aku. Tetapi aku tidak mendengarkan nasehatmu. Agaknya masih lebih menyenangkan apabila aku ditangkap oleh hantu Padang Karautan ini dari pada iblis dari Kemundungan.”

Ken Arok tertawa pendek, sambil menyahut, “Hantu Karautan adalah hantu yang paling baik hati.”

Mahisa Agni pun tertawa pula. Sedang orang-orang yang mengerumuni mereka sama sekali tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka dahulu memang pernah mendengar nama Hantu Karautan, tetapi mereka belum pernah melihatnya. Bahkan akhir-akhir ini hantu itu sudah tidak pernah terdengar lagi. Hanya beberapa anak-anak muda pernah dibingungkan oleh orang-orang yang menyebut dirinya hantu Karautan, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang yang sudah mereka kenal, menyamar diri dan berbuat aneh-aneh.



Tetapi alis Ken Arok terangkat sedikit ketika tanpa disengaja ia memandangi wajah Kuda Sempana yang pucat. Bahkan kemudian ia berkata kepadanya, “Selamat datang Kuda Sempana.”

Kuda Sempana tergagap mendengar sapa yang tidak disangka-sangkanya itu. Justru dengan demikian ia terdiam sejenak. Dipandanginya wajah Ken Arok yang seolah-olah memancarkan perasaan yang aneh terhadapnya. Apalagi ketika disadarinya bahwa semua mata kemudian berpindah kepadanya. Memandanginya dengan penuh pertanyaan di dalam setiap hati. Terasa keringat dingin mengalir di segenap tubuh Kuda Sempana itu. Ia melihat dendam yang menyala di dalam setiap dada, Orang-orang Panawijen itu seolah-olah telah berubah menjadi orang-orang yang liar dan siap untuk menerkamnya dan menyobek tubuhnya menjadi sewalang-walang. Tubuh Kuda Sempana terasa menjadi gemetar. Ia lebih senang dihukum gantung sekalipun di alun-alun Tumapel dari pada jatuh ketangan orang-orang yang kehilangan akal ini.

Tiba-tiba terdengar suaranya parau bergetar, “Jangan, jangan.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata itu. Ken Arok pun terkejut pula dan orang-orang Panawijen juga menjadi heran.

“Kenapa kau Kuda Sempana?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Tetapi di dalam kepalanya masih terbayang orang-orang Panawijen itu beramai-ramai mengerumuninya, masing-masing dengan senjata ditangan. Membelah dadanya dan kemudian mencincangnya. Ia berusaha lari dari Kebo Sindet untuk menghindarkan diri dari kekejamannya. Tetapi ternyata kini ia berada di antara serigala-srigala liar yang kelaparan. Ketika Kuda Sempana sekali lagi mencoba memandangi wajah-wajah orang Panawijen, tampak olehnya berpuluh-puluh pasang mata memancarkan dendam kepadanya. Berpuluh-puluh mata seolah-olah menyala dan akan membakarnya.

“Jangan, jangan.” sekali lagi ia berdesis.

“Kenapa kau Kuda Sempana?” sekali lagi Mahisa Agni bertanya. Dan orang-orang Panawijen yang mendengarnya menjadi saling berpandangan. Mereka tidak mengerti, apa yang dikatakan oleh Kuda Sempana itu.

“Oh.” desis Kuda Sempana di dalam hatinya, “mereka sudah mulai. Mereka sudah saling mengangguk dan memberi tanda untuk mulai mencincangku.”

Kuda Sempana menjadi semakin ngeri. Kenapa ia tidak mati saja dibunuh Mahisa Agni, dan kenapa ia begitu bodoh untuk ikut serta dengan Mahisa Agni pergi ke sarang serigala yang sedang gila ini. Kuda Sempana menjadi semakin ketakutan. Dilihatnya mata yang terpaku kepadanya itu. Sepasang-pasang, seolah-olah sudah menyala. Tiba-tiba Kuda Sempana itu melangkah surut dengan tubuh gemetar. Dan tiba-tiba pula tanpa disangka-sangka ia meloncat ke atas punggung kudanya. Dengan penuh ketakutan, disentakkannya kendali kudanya sehingga kuda itu melonjak dan berlari kencang-kencang.

Sekejab Mahisa Agni terpaku. Tetapi kemudian melonjaklah di dalam hatinya pertanyaan, “Apakah ia menjadi terganggu otaknya melihat bayangan kesalahannya yang bertumpuk-tumpuk itu pada wajah orang-orang Panawijen?”

Namun Mahisa Agni sejenak kemudian menyadari keadaan itu. Iapun segera meloncat di atas punggung kuda yang diambilnya dari Kemundungan. Kuda Kebo Sindet. Dan di pacunya pula kuda itu menyusul Kuda Sempana. Ternyata bahwa kuda Kebo Sindet itu adalah kuda yang baik sekali, sehingga Mahisa Agni kemudian berharap, bahwa ia akan dapat segera menyusul Kuda Sempana yang berpacu seperti orang gila.

“Kuda Sempana, kenapa kau?” Mabisa Agni mencoba memanggilnya. Tetapi Kuda Sempana sama sekali tidak berpaling. “Berhentilah.” Kuda Sempana masih tetap berpacu terus. “Kenapakah anak itu.” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, ia pasti telah dibayangi oleh dosa-dosa yang dibawanya. Mudah-mudahan ia tidak menjadi gila.

Mahisa Agni pun kemudian mempercepat derap kaki kudanya. Ia harus segera dapat menyusulnya. Dalam keadaan yang demikian Kuda Sempana akan dapat menjadi orang yang sangat berbahaya. Dikejauhan orang-orang Panawijen melihat dua ekor kuda itu berpacu semakin lama semakin jauh dan samar. Tetapi ternyata bahwa Mahisa Agni berhasil mendekati Kuda Sempana dan berpacu di sampingnya. Namun Mahisa Agni itu terkejut bukan buatan ketika tiba-tiba Kuda Sempana menarik pedang yang tergantung di lambungnya. Sejenak Mahisa Agni seolah-olah membeku di punggung kudanya yang masih berlari di samping kuda Kuda Sempana. Sorot matanya memancarkan keheranan dan keragu-raguan melihat sikap anak muda itu. Namun sejenak kemudian ia telah berhasil menguasai dirinya dan berkata,

“Kau kehilangan keseimbangan berpikir Kuda Sempana.”

“Persetan.” sahut Kuda Sempana sambil menggertakkan giginya, “Kau membawa ke tengah-tengah orang-orang gila itu untuk menjadikan aku pertunjukan yang menyenangkan sekali buat mereka. Kau bawa aku kepada mereka, supaya mereka mendapat kesempatan untuk melepaskan dendam akan mencincang tubuhku sampai lumat.”

“Kau salah paham.”

“Omong kosong. Aku melihat wajah-wajah yang bengis memancarkan dendam sedalam lautan. Mereka beramai-ramai ingin merobek-robek tubuhku melampaui buaya-buaya kerdil di Kemundungan.”

“Mereka sama sekali bukan orang-orang yang sebuas itu.”

“Aku melibat sorot mata mereka. Aku mendengar mereka berbisik-bisik untuk mencincangku.”

“Bagaimana kau dapat mendengar? Kau berdiri agak jauh dari mereka.”

“Ya, tetapi aku mendengarnya. Mereka mengira aku tawananmu dan sengaja kau bawa dan kau serahkan kepada mereka.”

“Tidak. Seandainya demikian aku tidak akan memberi kesempatan kau membawa pedangmu.”

“Itu hanya sebuah permainan yang licik. Kalau aku tahu demikian, maka aku biarkan kau mati dicincang oleh Kebo Sindet. Aku tidak akan memberikan pedangku kepadamu saat itu.”

“Kau salah mengerti Kuda Sempana. Aku akan menjadi jaminan bahwa kau tidak akan diperlakukan demikian.”

“Aku tidak mau. Kembalilah kepada mereka. Aku akan mencari jalanku sendiri. Aku akan menentukan nasibku sebagai seorang laki-laki. Aku tidak perlu perlindunganmu. Aku tidak perlu jaminan orang lain untuk keselamalan diriku. Aku sudah cukup kuat untuk membuat cetitera tentang hidupku sendiri.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia berpaling, maka orang-orang Panawijen sudah tidak tampak lagi. Seolah-olah telah bersembunyi dibalik garis batas antara langit dan bumi. Gerumbul-gerumbul liar telah menebari pandangannya pula.

“Hem.” Mahisa Agni berkata di dalam hati, “aku dapat berbuat sesuatu sekarang setelah orang-orang Panawijen itu tidak melihatnya, supaya tidak menumbuhkan kesan yang kurang baik kepada mereka.”

Kedua kuda itu masih saja berpacu, semakin lama semakin jauh. Di tangan kanan Kuda Sempana tergenggam pedangnya erat-erat, seolah-olah ia sedang menyongsong lawan yang datang dari arah yang berlawanan.

“Kuda Sempana.” terdengar suara Mahisa Agni, “cobalah kau berpikir agak tenang. Kau telah dihantui oleh kesalahan-kesalahanmu sendiri. Tetapi aku bukan orang yang tidak melihat kenyataan tentang dirimu. Pengalamanmu telah mengajarkan kepadamu, bahwa kau tidak boleh hanyut dalam arus perasaanmu. Kau harus mencoba berpikir. Keseimbangan antara nalar dan perasaan akan membuatmu menjadi tenang dan tidak terseret oleh arus yang membawamu ke sarang hantu semacam iblis Kemundungan itu.”

“Kau sendiri terperosok masuk ke dalamnya. Belajarlah pada pengalamanmu sendiri.”

“Ada perbedaan antara aku dan kau Kuda Sempana. Aku tidak ingin masuk ke dalamnya, karena aku mempunyai sikap yang berlawanan dengan mereka. Tetapi pada saat itu kau mempunyai beberapa persamaan kepentingan meskipun akhirnya kau hampir-hampir ditelannya. Bahkan gurumu pula.”

Kuda Sempana terdiam sejenak. Tetapi bayangan yang menghantuinya selalu mengikutinya kemana ia pergi. Wajah-wajah orang-orang Panawijen, sorot mata mereka, dan dosa yang tersimpan di dalam dirinya. Karena itu maka hatinya justru menjadi bertambah ngeri, sehingga dengan kasarnya ia berkata,

“Sekarang apa maumu Agni. Aku tidak mau kembali kepada orang-orang Panawijen yang menjadi liar seliar serigala kelaparan.”

“Percayalah kepadaku, Kuda Sempana. Aku akan mencoba berbuat sebaik-baiknya Aku bukan tidak mengenal terima kasih. Kepadamu dan kepada gurumu.”

“Bisa saja kau berkata Agni. Aku tidak dapat melihat hatimu.”

“Kau terlalu berprasangka karena wajah-wajah orang Panawijen itu kau anggap sebagai cermin yang dapat menunjukkan segala dosa-dosamu masa lalu. Tetapi mereka bukan pendendam. Mereka akan memaafkannya apabila kau telah benar-benar menyesalinya.”

“Omong kosong. Aku tidak akan datang kepada mereka. Aku akan menghadap Akuwu Tumapel, supaya aku digantung saja di alun-alun.”

“Akuwu Tumapel berada di perkemahan itu pula.”

Kuda Sempana terdiam pula sejenak. Kudanya masih berpacu semakin jauh, dan Mahisa Agni masih berada di sampingnya pula. Ia terkejut ketika Kuda Sempana kemudian membentaknya,

“Pergi kau. Kembalilah kepada orang-orang Panawijen yang mengelu-elukan kau. Jangan ikuti aku.”

“Aku akan membawamu kembali kepada mereka, Kuda Sempana.”

“Tidak.”

“Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi atasmu apabila kau pergi sekarang. Mungkin kau dapat menjadi seorang pertapa yang mencoba membersihkan diri dari noda-noda yang melekat di tubuhmu. Tetapi kalau sesuatu sebab telah mendorongmu sekali lagi berbuat kesalahan, maka kau akan tersesat semakin jauh dan jauh. Kau tidak akan menemukan lagi, jalan untuk kembali. Karena itu, dengarlah kata-kataku. Orang-orang Panawijen tidak akan berbuat apa-apa.”

“Tidak.”

“Jangan terlampau berkeras hati.”

“Cukup. Pergi kau. Jangan mencoba menghalangi aku. Aku akan mencari jalanku sendiri. Aku tidak mau dihinakan dan dibunuh seperti orang merampok macan.”

“Bukankah kau membawa pedang? Seandainya demikian, kau akan dapat melawan mereka. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan terjadi.”

“Tidak.”

Mahisa Agni mengerutkan dahinya. Ia menjadi bingung bagaimanakah cara yang sebaik-baiknya untuk membawa Kuda Sempana itu kembali kepada orang-orang Panawijen atas kehendaknya pula, bukan karena dipaksa dengan kekerasan. Tetapi agaknya Kuda Sempana sudah tidak dapat berpikir lagi. Bayangan-bayangan yang mengerikan telah mengganggunya dan menakut-nakutinya. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak berputus asa. Sekali lagi masih mencoba,

“Kuda Sempana. Jangan dipengaruhi oleh rasa bersalah terlampau dalam. Marilah, aku akan menjadi jaminan.”

“Tidak. Tidak, kau dengar.” tiba-tiba Kuda Sempana berteriak. Pandangan matanya menjadi terlampau tajam. Dengan suara parau ia berkata lantang, “Kembalilah kau Agni. Aku tidak memerlukanmu lagi. Aku tidak memerlukan orang-orang Panawijen itu pula. Aku tahu, kau memancing aku supaya aku berada di antara mereka. Kemudian aku akan menjadi tontonan yang paling mengerikan. Atau bahkan mungkin kau dan orang-orang Panawijen memerlukan tumbal untuk membuat bendungan itu dan menguburku hidup-hidup? Tidak. Aku tidak sebodoh itu.”

“Kau terlampau curiga.”

“Tidak. Pergi kau.”

“Aku tidak akan pergi Kuda Sempana. Aku akan mengikutimu seterusnya apabila kau tidak mau kembali kepada orang-orang Panawijen. Bukankah kau anak Panawijen, dilahirkan di Panawijen dan dibesarkan di Panawijen pula?”

“Persetan. Aku tidak peduli. Pergi kau. Kalau tidak, maka aku akan memaksamu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya Dengan sudut matanya ia mamandang ujung pedang Kuda Sempana yang sudah mulai bergetar.

“Pergi sebelum aku kehilangan kesabaran.” teriak Kuda Sempana semakin keras. Suaranya seolah-olah menggeletar memenuhi padang rumput Karautan yang luas itu.

“Tidak.” tiba-tiba suara Mahisa Agnipun meninggi.

“Setan kau Agni. Sejak semula aku memang ingin membunuhmu. Kalau kau tidak pergi juga maka kau akan terbunuh di sini. Mayatmu akan mengering dibakar oleh matahari, atau akan hancur dicincang oleh anjing-anjing liar yang berkeliaran di padang ini di malam hari.”

“Tidak. Aku tidak akan kembali tanpa membawamu.”

Terdengar Kuda Sempana menggeram. Tiba-tiba ditariknya kendali kudanya, sehingga kuda itu berhenti. “Kesempatan terakhir bagimu, Agni.” geram Kuda Sempana, “kalau tidak, aku penggal lehermu. Begitu tidak akan ada bedanya lagi. Aku hanya dapat dihukum mati satu kali meskipun aku membunuhmu pula di sini.”

Mahisa Agnipun kemudian berhenti pula. Dipandanginya mata Kuda Sempana yang menjadi liar, “Mudah-mudahan ia tidak berubah ingatan.” gumamnya di dalam hatinya.

Sementara itu ia masih mendengar Kuda Sempana berkata, “Setiap orang agaknya menunggu kedatanganmu dengan penuh pengharapan. Akuwu sendiri sudah bersedia mencarimu dan mencoba membebaskanmu. Tetapi ternyata kau justru mati disini karena tanganku.”

Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin lama semakin tegang. Kecemasan yang sangat telah mendebarkan jantungnya. Agaknya Kuda Sempana benar-benar tidak dapat lagi berpikir dengan bening.

“Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni, “apakah kau akan membunuh aku?”

“Ya.”

“Apakah kau sudah berpikir dengan baik, dan telah bulat di hatimu untuk melakukannya?”

“Ya. Kau terlalu memuakkan bagiku Meskipun begitu kau masih mendapat kesempatan terakhir. Pergilah.” Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Ia masih duduk diam di atas punggung kudanya yang diam pula. “Pergi. Pergi, pergi sejauh-jauhnya dari padaku. Cepat.” Kuda Sempana berteriak-teriak sekeras-kerasnya. Suaranya bergetar kesegenap ujung padang. Tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak bergerak. “Setan. Kau benar-benar mau mati.” Kuda Sempana menggeram. Matanya yang liar menjadi semakin liar.

“Jangan. Jangan Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni yang mencoba mencegahnya.

Tetapi Kuda Sempana sudah tidak mendengarnya. Tiba-tiba disentakkannya kudanya dan meloncat berlari. Sedang Kuda Sempana telah siap pula dengan pedangnya, menyerang Mahisa Agni yang masih duduk termangu-mangu.

Sementara itu diperkemahan orang-orang Panawijen menjadi bingung. Mereka tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja Kuda Sempana melarikan dirinya dan kemudian dikejar oleh Mahisa Agni. Mereka melihat bahwa Mahisa Agni semakin lama berhasil mendekati Kuda Sempana. Tetapi kedua ekor kuda yang semakin lama semakin kecil itu kemudian hilang ditelan cakrawala dan gerumbul-gerumbul kecil yang bertebaran disana-sini. Dan ternyata hal itu telah menumbuhkan kegelisahan pula. Bukan saja di antara orang-orang Panawijen, tetapi juga para prajurit Tumapel. Ken Arok yang masih berdiri termangu-mangu di samping Ki Buyut Panawijen berpaling ketika terasa pundaknya disentuh orang.

“Bagaimana dengan kedua orang yang memamerkan kecakapannya naik kuda itu.” suara itu adalah suara Kebo Ijo. Ken Arok tidak menjawab. Tetapi ia menarik nafas dalam-dalam. “Aku tidak tahu, apakah yang terpancang di dalam otak mereka. Mereka datang bersama-sama. Memamerkan diri, dan kemudian berlari-larian pergi lagi.” berkata Kebo Ijo pula.

“Ah.” Ken Arok berdesah dan Ki Buyut Panawijen mengerutkan keningnya yang sudah dikerutkan oleh garis-garis ketuaannya.

“Apakah kau dapat mengerti maksud mereka itu datang?” bertanya Kebo Ijo pula.

“Ada yang tidak wajar telah terjadi Kebo Ijo.” jawab Ken Arok kemudian. “aku tidak tahu, kenapa hal itu terjadi. Tetapi tanggapanku agak lain. Mereka sama sekali tidak bermaksud demikian. Mereka sendiri sama sekali tidak pernah merencanakan apa yang telah terjadi itu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi kemudian ia tersenyum. Senyum yang penuh prasangka. Sejenak ia tidak berkata apapun selain mengangguk-angguk. Ditatapnya padang yang luas itu seakan-akan ingin menembus batas langit dan melihat apa yang dilakukan Mahisa Agni dan Kuda Sempana.

“Hem.” tiba-tiba ia menarik nafas dalam-dalam, “permainan apakah yang sedang mereka perankan?”

Ken Arok tidak menyahut. Tetapi ia berkata, “Aku menjadi cemas. Mungkin aku dapat menyusulnya apabila perlu.”

“He,” Kebo Ijo terperanjat, “apakah kau benar-benar bermaksud demikian.”

“Apabila mereka tidak segera kembali.”

“Tidak ada gunanya. Kau tidak tahu kemana mereka pergi. Setelah mereka tidak tampak lagi, maka kita di sini mengerti, apakah mereka berbelok kekanan atau ke kiri atau terus ataupun lagi.”

“Aku mengenal padang rumput Karautan seperti aku mengenal rumahku sendiri.” jawab Ken Arok, “aku mengenal setiap sudutnya. Dan aku tahu caranya bagaimana menyusul Mahisa Agni dan Kuda Sempana meskipun aku tidak melihat arah mereka. Bukankah kuda-kuda mereka meninggalkan jejak? Aku pernah menjadi seorang pencari jejak. Meskipun seandainya sekarang turun hujan, aku akan dapat mengikuti jejaknya sampai keujung langit sekalipun.”

Kebo Ijo mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, aku percaya. Aku percaya kalau kau dapat mengikuti jejaknya. Tetapi dibalik sebuah gerumbul yang lebat kau akan diterkamnya.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. “Siapa?”

“Menurut penilaianku.” berkata Kebo ijo kemudian, “ternyata Mahisa Agni dan Kuda Sempana sama sekali belum terlepas dari tangan Kebo Sindet. Mereka datang kemari justru membawa tugas untuk memancingmu. Kau atau Akuwu. Dengan permainannya itu, maka mereka akan disusul. Nah, pada saatnya Kebo Sindet menerkammu dari balik gerumbul-gerumbul liar dan menjadikan kau alat untuk memeras seperti Mahisa Agni.”

Ken Arok terdiam sejenak. Tetapi kemudian berkata, “Tidak masuk akal. Buat apa Kebo Sindet menangkap aku? Kau barangkali atau Ki Buyut Panawijen? Jalan pikiranmu dipengaruhi oleh sikapmu yang aneh. Kau memandang setiap orang, setiap kejadian dan setiap persoalan dari segi yang paling buruk.”

Kebo Ijo menegangkan wajahnya. Tetapi kemudian ia tersenyum pula, “Aku senang mendengar penilaianmu atasku.”

“Coba katakan, siapakah manusia yang baik didunia ini? Mahisa Agni, Akuwu Tunggul Ametung, kakak seperguruanmu sendiri Witantra dan barangkali juga Mahendra. Semua jelek di dalam pandanganmu.”

Kini Kebo Ijo itu justru tertawa. Katanya, “Aku hanya memperingatkan kau supaya kau berhati-hati. Kebo Sindet adalah orang yang paling berbahaya.”

“Seandainya benar dugaanmu, bahwa Mahisa Agni telah dijadikan alat oleh Kebo Sindet bersama-sama dengan Kuda Sempana untuk memancing aku sekalipun, aku bersedia menghadapinya. Aku sama sekali tidak gentar seandainya aku bertemu dengan Kebo Sindet dimanapun.”

Suara tertawa Kebo Ijo mengeras. “Kau jangan terlampau sombong. Kau harus mampu membuat perhitungan atas kekuatan seseorang.”

“Itu soal lain. Tetapi aku berani berhadapan. Apakah kemudian aku akan mati dicincangnya, aku sama sekali tidak peduli.”

Suara tertawa Kebo ijo terhenti. Ia melihat wajah Ken Arok menjadi tegang. Agaknya orang itu berkata bersungguh-sungguh, sehingga Kebo Ijo pun tidak menyahut lagi.

“Meskipun demikian.” berkata Ken Arok kemudian, “aku tidak akan pergi menyusulnya sekarang. Aku akan menunggu. Apabila ia terlampau lama, barulah akan pergi. Sekarang kita akan melanjutkan kerja kita. Agaknya kita sudah sedikit terlambat.”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menyahut. Ia ikut saja diantara orang Panawijen dan para prajurit yang segera kembali ke perkemahan dan bersiap-siap untuk pergi ke bendungan melanjutkan kerja mereka. Ki Buyut yang kecemasan pun pergi pula kebendungan meskipun setiap kali diangkatnya wajahnya, dilemparkannya ke tengah-tengah padang untuk mencoba melihat seandainya Mahisa Agni kembali ketengah-tengah mereka lagi. Tetapi sampai matahari merayap semakin tinggi, mereka masih belum melihatnya. Bahkan kehadiran Mahisa Agni itu pun agaknya seperti sebuah mimpi saja. Datang lalu lenyap, meskipun kesannya masih tinggal di dalam angan-angan.

Ken Arok pun ternyata tidak bekerja dengan tenang. Ia memang merasa heran menanggapi peristivva itu. Mahisa Agni datang membawa Kuda Sempana. Lalu mereka berkejar-kejaran pergi.

“Kuda Sempana juga membawa pedang.” desisnya di dalam hati, “aku sama sekali tidak mengerti.”

Sedang Akuwu yang telah mendapat laporan tentang hal itu tidak pula kalah herannya. Sambil berjalan mondar mandir di dalam gubugnya yang rendah ia bergumam, “Anak itu sudah menjadi gila. Keduanya. Kuda Sempana dan Mahisa Agni.” Namun sejenak kemudian Akuwu itu berkata hampir berteriak, “Apabila sebentar lagi mereka tidak datang, siapkan pasukanmu Witantra. Aku akan menyusulnya. Aku menjadi curiga dan tidak menemukan jawabnya. Aku harus mengejar mereka, mencari kemanapun mereka pergi.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar