MENU

Ads

Jumat, 24 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 193

Sementara itu di Padang Karautan Kuda Sempana menyerang Mahisa Agni sejadi-jadinya, tanpa terkendali sama sekali. Pedangnya menyambar-nyambar seperti loncatan kilat di langit. Kudanya pun ternyata kuda yang baik. Seperti garuda di angkasa yang setiap kali menukik. menyambar dengan dahsyatnya. Berputar-putar kemudian sekali lagi menyambar tidak henti-hentinya. Mata Kuda Sempana yang kemerah-merahan menjadi kian liar, seperti mata hantu yang kehausan melihat darah yang merah dan segar memancar dari luka.

Mahisa Agni menjadi semakin cemas melihat Kuda Sempana yang kehilangan akal. Agaknya ia benar-benar terganggu karena cermin yang membayangkan betapa besar kesalahan yang pernah diperbuatnya atas tanah kelahirannya, Panawijen. Sehingga karena itu maka ia telah kehilangan kesempatan untuk berpikir. Wajah-wajah orang Panawijen yang memancarkan harapan dan kegembiraan karena kehadiran Mahisa Agni, dalam tangkapan mata Kuda Sempana, seolah-olah wajah-wajah yang penuh membayangkan dendam dan kebencian kepadanya. Sehingga dengan demikian, Kuda Sempana telah memilih jalan untuk membunuh diri dari pada jatuh ketangan orang-orang Panawijen yang menurut anggapannya akan memperlakukannya dengan kejam.

Beberapa lama ia berada di tangan Kebo Sindet yang selalu memilih cara yang paling mengerikan untuk membunuh korbannya, sehingga hal itu berpengaruh terlampau dalam di dalam benaknya. Ketika ia berhadapan dengan orang-orang Panawijen, maka gambaran-gambaran itu muncul kembali, seolah-olah membayang disetiap wajah. Kebuasan dan kekejaman Kebo Sindet seakan-akan membayang satu-satu pada orang-orang Panawijen yang sedang menyambut kedatangan Mahisa Agni itu. Dan Kuda Sempana menjadi terlampau ngeri.

Kini ia bertempur mati-matian tanpa mengendalikan dirinya lagi. Ia memang ingin lepas dari tangan orang-orang Panawijen atau mati dengan menggenggam senjata di tangan. Karena itulah maka ia tidak mau surut. Dengan berteriak-teriak nyaring Kuda Sempana mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Ilmu yang diterimanya gurunya, Empu Sada, dipengaruhi oleh kekasaran dan kebuasan Kebo Sindet, menjadi ilmu yang tampaknya mengerikan sekali. Sekali-sekali tampak kegarangan Empu Sada yang meskipun kadang-kadang licik, namun kemudian dicerminkannya keliaran Kebo Sindet yang sama sekali tidak memperhatikan kesopanan di dalam tata perkelahian.

Tetapi Mahisa Agni kini bukan Mahisa Agni yang dahulu pernah juga berkelahi melawan Kuda Sempana. Mahisa Agni kini telah menjadi jauh lebih masak lahir dan batin. Ilmunya telah benar-benar mengendap meskipun ia masih memerlukan banyak pengalaman. Tempaan batin selama ia berada di sarang Kebo Sindetpun telah membuatnya bertambah dewasa dalam menghadapi setiap persoalan. Ternyata Mahisa Agni tidak menjadi seorang anak muda yang kehilangan kediriannya seperti yang dikehendaki oleh Kebo Sindet, meskipun pada saat-saat itu Mahisa Agni menunjukkan tanda-tanda yang demikian. Tetapi ternyata Mahisa Agni bahkan menjadi seorang yang matang lahir dan batinnya.

Itulah sebabnya maka dalam menghadapi Kuda Sempana itu pun ia sama sekali tidak terlampau tergesa-gesa. Dengan penuh pertimbangan ia melayaninya. Kadang-kadang kudanya pun didorongnya untuk berlari surut, kemudian berputar mengimbangi putaran-putaran kuda Kuda Sempana. Apabila dengan garangnya Kuda Sempana menyerangnya, maka Mahisa Agni pun dengan sigapnya mengelak. Tetapi sedemikian jauh, Mahisa Agni masih berbuat dalam landasan kesadarannya sepenuhnya. Ia tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan seseorang yang kehilangan akal dan bahkan sedang terganggu jiwanya. Karena itu, maka ia harus berbuat bijaksana. Itulah sebabnya, maka Mahisa Agni sama sekali tidak melakukan perlawanan dengan bersungguh-sungguh.

Tetapi ternyata Kuda Sempana yang sedang berhati gelap itu merasa semakin lama semakin gelap. Sikap Mahisa Agni ditanggapinya dari sudut yang gelap pula. Sehingga ketika Mahisa Agni masih juga belum melawannya berkelahi ia berteriak,

“Agni, apakah yang kau tunggu. Jangan terlampau menghina. Ayo, cabut pedangmu dan kita bertempur secara jantan. Aku atau kau yang akan mati terkapar di Padang Karautan ini.”

“Apakah itu perlu sekali kita lakukan Kuda Sempana.” bertanya Mahisa Agni.

“Kau jangan mencoba melemahkan tekadku. Aku benar-benar berusaba membunuhmu, atau kau yang membunuhku. Kita sudah mulai, dan hanya mautlah yang dapat menghentikannya.”

“Kau terlampau perasa. Sebaiknya kau mencoba berpikir.”

“Tidak ada kesempatan lagi. Sebelum aku menemukan keputusan aku sudah diikat di pinggir bendungan. Mungkin aku akan mengalami hukum picis. Dirobek-robek tubuhku perlahan-lahan.”

“Kau terlampau berprasangka.”

“Kau memancingku. Ayo, kita bertempur.”

Tandang Kuda Sempana ternyata semakin lama menjadi semakin liar. Ia sama sekali tidak mau mempergunakan otaknya. Bahkan didalam perkelahian itupun Kuda Sempana sama sekali sudah tidak mempertimbangkan lagi cara-cara yang dipergunakan. Unsur-unsur geraknya sama sekali tidak dipikirkannya. Sebenarnyalah bahwa ia telah berputus asa. Ia memang merasa bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan Mahisa Agni. Tetapi ia tidak mau menyerah dan dibawa kembali kepada orang-orang Panawijen yang disangkanya akan melepaskan dendam dan kebencian mereka.

Mahisa Agni pun semakin cemas melihat sikap Kuda Sempana itu. Wajahnya menjadi semakin cemas melihat sikap Kuda Sempana itu. Wajahnya menjadi tegang, dan kadang-kadang terbersit didalam hatinya untuk membawa Kuda Sempana dengan kekerasan. Tetapi apabila demikian, maka Kuda Sempana akan merasa semakin ngeri. Dalam keadaan demikian, ia dapat berbuat di luar dugaan. Setiap kemungkinan akan dipergunakannya untuk mencoba membunuh diri, menghindarkan diri dari kemungkinan mati dengan cara yang paling tidak disenanginya.

Sementara itu matahari sudah menjadi semakin tinggi. Sedang sama sekali belum ada tanda-tanda bahwa Kuda Sempana akan dapat mengerti. Semakin banyak keringat membasahi tubuhnya, maka agaknya ia pun menjadi semakin liar dan buas.

“Aku tidak akan dapat terus-menerus meladeni orang yang terganggu jiwanya ini.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya, “aku harus menemukan suatu cara untuk menjinakkannya. Tetapi apabila tidak mungkin, apaboleh buat. Kuda Sempana akan menjadi sangat berbahaya di dalam kegilaannya.”

Dengan demikian maka Mahisa Agni kemudian tidak saja hanya lelalu menghindari serangan Kuda Sempana, tetapi iapun kemudian mulai mengganggu lawannya pula. Sekali-sekali ia menangkis dan menyerangnya meskipun tidak menentukan akhir dari perkelahian itu. Mahisa Agni memang ingin membuat Kuda Sempana semakin bernafsu dan kemudian akan menjadi kelelahan.

“Mudah-mudahan ia kemudian dapat mempergunakan otaknya.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.



Demikianlah maka Kuda Sempana bertempur semakin sengit. Dikerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Keringatnya yang mengalir semakin deras, seakan-akan terperas dari tubuhnya. Tetapi senjatanya sama sekali tidak mampu menyentuh Mahisa Agni. Apa lagi melukainya. Karena itu maka hatinya menjadi semakin bingung dan pepat. Bayangan-bayangan yang mengerikan semakin lama semakin mencengkamnya dalam ketakutan.

“Ayo Agni. Kenapa kau ragu-ragu. Aku laki-laki juga seperti kau. Kalau aku tidak mampu membunuhmu, bunuhlah aku.”

Tetapi Mahisa Agni tidak menjawab. Sekali-sekali disentuhnya tubuh Kuda Sempana. Kadang-kadang agak keras sehingga Kuda Sempana merasakan akibat dari sentuhan-sentuhan itu. Sakit. Dan perasaan sakit itu semakin banyak menyengat tubuhnya. Hampir disegala tempat. Namun dengan demikian Kuda Sempana menjadi semakin bernafsu. Betapapun juga, ia tidak mau menyerah. Ia harus berkelahi sampai selesai. Dibunuh atau membunuh.

Karena itu, maka setelah ia tidak berhasil melawan Mahisa Agni dengan kewajaran ilmunya, maka dalam kegelapan hati, dikerahkannya segenap kemampuan lahir dan batinnya. Dibangunkannya ilmunya yang paling tinggi dalam tatarannya. Aji pamungkasnya. Disalurkannya segenap getaran di dalam dirinya, semua cadangan kekuatannya yang tersimpan di dalam tubuhnya ke dalam tangannya yang menggenggam pedang. Dada Mahisa Agni berdesir melihat sikap itu. Ia kenal, bahwa dengan demikian Kuda Sempana sudah sampai kepada puncak ilmunya. Sehingga dengan serta merta Mahisa Agni berteriak,

“Jangan Kuda Sempana, jangan.”

Tetapi hati yang gelap itu menjadi semakin gelap. Meskipun Kuda Sempana mendengarnya, tetapi ia sama sekali tidak menghiraukannya. Sehingga akhirnya ia telah sampai pada puncak kekuatannya.

Sejenak Mahisa Agni menjadi termangu-mangu. Bagaimana ia harus melawannya? la tahu, betapa kekuatan aji itu. Tetapi kesempurnaan di dalam pengucapannya, mereka berada dalam tingkatan yang jauh berbeda. Mahisa Agni telah mencapai tingkat sejajar dengan Empu Sada sendiri, meskipun masih diperlukan pengetrapan yang lebih mantap. Tetapi ia telah mampu melawan kekuatan aji yang dilepaskan oleh Kebo Sindet, meskipun senjatanyalah yang pada saat itu tidak berhasil bertahan karena benturan dua kekuatan yang luar biasa dahsyatnya, meskipun pedangnya waktu itu tidak kalah kuatnya dengan pedang yang dipergunakan oleh Kuda Sempana kini, yang diambilnya dari kumpulan senjata yang berpuluh-puluh jumlahnya di dalam sarang Kebo Sindet.

“Kekuatan kami saat itu hampir berimbang.” desis nya, “sehingga aku dan Kebo Sindet masing-masing tidak mengalami bencana di dalam diri masing-masing yang dapat menentukan hidup mati kami. Tetapi sekarang apakah Kuda Sempana tidak akan terganggu oleh benturan itu?”

Dalam keragu-raguan Mahisa Agni melihat Kuda Sempana telah mempersiapkan dirinya. Kini ia telah mulai meluncur di atas punggung kudanya, menyerangnya berlambaran aji tertingginya. Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar Tiba-tiba ditariknya kendali kudanya. Dilarikannya kudanya menghindari serangan Kuda Sempana.

“He, jangan lari pengecut.” teriak Kuda Sempana.

Tetapi Mahisa Agni tidak mempedulikannya. Dipacunya kudanya semakin cepat, sementara Kuda Sempana mengejarnya dengan penuh nafsu. Ternyata Mahisa Agni tidak berlari jauh. Ia hanya memutar kemudian melingkar-lingkar.

“Agni, marilah kita bertempur secara jantan. Tanggon sebagai laki-laki. Jangan berlari-larian.” teriak Kuda Sempana sambil mengacungkan pedangnya. Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia masih terus melarikan kudanya berputar-putar. “He, apakah kau sudah gila?” teriak Kuda Sempana pula.

Mahisa Agni tersenyum di dalam hati. Memang orang yang terganggu jiwanya dapat saja menyebut orang lain seolah-olah menjadi gila. Tetapi orang itu tidak sempat menilik ke dalam dirinya sendiri.

“Berhenti. Berhenti.”

Mahisa Agni tidak menghiraukannya. Bahkan kadang-kadang diperlambatnya kudanya, namun kemudian dipercepatnya. Ia menyadari bahwa kuda yang dipergunakan agak lebih baik dari Kuda Sempana. Sikap Mahisa Agni ternyata membuat Kuda Sempana menjadi semakin gila. Hatinya yang pepat menjadi semakin pepat. Ia benar-benar sudah tidak dapat membedakan mana yang baik dilakukan dan mana yang tidak. Sedemikian hatinya disaput oleh kekelaman, sehingga tidak dilihatnya lagi cara yang dapat dipergunakannya untuk menyerang Mahisa Agni, selain satu-satunya yang dapat dilakukannya. Melontarkan pedang kearahnya.

Dan ternyata Kuda Sempana yang sedang kegelapan itu mempergunakan cara itu. Dengan penuh kemarahan, dengan kekuatan aji pemungkasnya, maka dilontarkannya pedangnya kearah Mahisa Agni yang masih berputar-putar di sekitarnya. Ternyata lontaran pedang yang dilambari oleh kekuatan yang dahsyat itu, benar-benar mengagumkan. Seperti tatit yang meloncat di langit, pedangnya meluncur dengan kecepatan yang tidak terduga-duga, mengarah langsung ke leher Mahisa Agni.

Mahisa Agni terkejut melihat lontaran itu. Kekuatan aji Kuda Sempana didorong oleh kecepatan berlari kudanya, ternyata telah menimbulkan kekuatan yang luar biasa. Dan kekuatan yang luar biasa itu telah diungkapkan oleh lontaran pedangnya mengarah Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni kini telah memiliki ilmu yang cukup untuk menanggapi keadaan itu. Dengan kecepatan yang luar biasa pula, Mahisa Agni membungkukkan badannya melekat pada punggung kudanya, sehingga tepat pada saatnya, pedang Kuda Sempana terbang di atasnya. Kalau ia terlambat sekejap saja, maka ujung pedang itu pasti sudah melobangi tubuhnya.

Kuda Sempana memandangi senjatanya yang berlari di atas tubuh Mahisa Agni itu dengan dada yang berdebar-debar. Apalagi ketika ia melihat bahwa ia sama sekali tidak berhasil melukai Mahisa Agni, apalagi menjatuhkannya, agaknya anak muda itu tidak selalu mengejarnya meskipun seandainya tidak mematikannya. Tetapi ternyata bahwa pedangnya sama sekali tidak menyentuh sasarannya. Kuda Sempana menggeretakkan giginya ketika ia melihat Mahisa Agni kemudian tegak kembali di atas punggung kudanya sambil menarik nafas dalam-dalam. Sejenak kemudian terdengar suara Mahisa Agni,

“Kuda Sempana. Kau benar telah menjadi mata gelap. Apakah kau sadari apa yang telah kau lakukan?”

“Aku sadar sepenuhnya.” jawab Kuda Sempana.

“Bagaimana kalau pedang itu mengenai sasarannya dan aku jatuh terkapar, mati di Padang Karautan ini?”

“Sudah menjadi keputusanku. Kau atau aku.”

“Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni, “aku sudah bersusah payah berusaha membebaskan diri dari tangan Kebo Sindet karena aku masih ingin hidup. Aku masih ingin melihat bendungan di Padang Karautan itu dapat mengangkat air ke sawah-sawah. Aku masih ingin melihat hamparan tanah persawahan yang hijau di atas padang yang selama ini kering kerontang, untuk menggantikan padukuhan Panawijen yang menjadi kuning kemerah-merahan seperti habis terhakar.”

“Aku tidak peduli.”

“Mungkin kau tidak akan mempedulikan keinginan-inginanku itu. Tetapi kau sebagai anak Panawijen, yang dilahirkan dan dibesarkan di tanah itu, apakah kau tidak mempunyai keinginan serupa dengan aku.”

“Aku sudah terasing dari tanah ini. Aku sudah terasing dari orang-orang Panawijen. Wajah-wajah mereka menunjukkan kebencian dan kemarahan. Bahkan dendam. Buat apa aku kembali kepada mereka dengan keinginan-inginan yang cengeng seperti keinginanmu itu? Aku tidak mau. Aku bukan anak-anak lagi yang masih selalu merindukan perlindungan biyung.”

“Bukan itu soalnya Kuda Sempana. Soalnya karena kau sudah merasa berbuat salah. Jangan kau hantui hatimu sendiri dengan kesalahan-kesalahan itu. Kalau kau pada suatu saat tidak berani mengakhiri keadaan ini, maka kau akan terdorong semakin lama semakin jauh. Tetapi kalau kau berani memutuskan, bahwa sekarang adalah saatnya untuk kembali dan menyesali semua kesalahan itu, maka untuk seterusnya kau akan terlepas dari padanya.”

“Jangan membujuk aku.”

“Tidak. Aku tidak sedang membujukmu. Aku tahu, kaupun tidak sadang merajuk seperti anak-anak yang kecewa. Tetapi kau sedang ketakutan. Takut melihat bayanganmu sendiri. Bayangan yang penuh dengan noda.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu, “Tetapi kesalahanmu kini adalah, bahwa kau memandang setiap orang dengan sudut pandangan yang buram. Kau anggap bahwa setiap orang selalu menyimpan dendam di dalam hatinya.”

“Cukup. Kau jangan membual Agni. Aku bukan anak-anak yang dapat kau tipu dengan muslihat itu.”

“Terserahlah kepadamu. Tetapi dengar, Kuda Sempana. Seandainya orang-orang Panawijen itu menyimpan dendam di dalam hati, maka akulah yang paling mendendammu. Aku mengalami bencana yang jauh lebih dahsyat dari yang mereka alami. Aku menghayati betapa pahitnya hidup di tangan orang-orang gila seperti Kebo Sindet dengan segala macam rencananya.”

“Karena itulah maka kau mendendamku sampai ke ujung ubun-ubun. Karena itulah maka kau selalu mengejarku sampai saat ini untuk menjerumuskan aku ke dalam bencana yang paling dahsyat. Kau ingin melihat aku dicincang oleh orang-orang Panawijen atau dihukum picis diterik matahari padang yang kering, atau dikubur hidup-hidup untuk dijadikan tumbal bendungan yang masih belum siap itu.”

“Itulah yang aku maksud Kuda Sempana. Kau memandang semua orang dari segi itu. Dari segi yang gelap. Tetapi kau melupakan sifat-sifat orang-orang Panawijen. Kau memang terlalu lama terpisah daripada mereka. Tetapi percayalah, mereka bukan mendendam dan bukan orang-orang buas yang senang melihat darah. Apalagi melihat kekejaman yang melampaui batas. Bahkan seandainya hukum picis itu benar-benar ada, maka seandainya orang-orang Panawijen berkesempatan untuk menyaksikan, mereka pasti akan pingsan bersama-sama.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Tetapi tiba-tiba ia berteriak, “Tetapi tidak demikian dengan prajurit-prajurit Tumapel. Sudah lama mereka bekerja di Padang Karautan. Sudah lama mereka tidak melihat darah. Dan mereka akan mendapat umpan, Aku.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Begitukah sifat prajurit-prajurit Tumapel menurut tangkapanmu?”

Kuda Sempana tidak segera menyahut. Tetapi ditatapnya mata Mahisa Agni dengan tajamnya. Sekilas merambat di hatinya, setitik air yang bening. Tetapi sejenak kemudian ia berteriak pula,

“Omong kosong. Lihat, betapa dari sepasang matamu memancar dendam dan kebencian tiada taranya. Ayo, bersiaplah. Kita lanjutkan perkelahian ini sampai salah seorang dari kita mati. Kalau kau masih tetap memaksaku kembali kepada serigala-srigala kelaparan itu, maka ayolah. Kau atau aku.”

Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Wajah Kuda Sempana menjadi semakin liar. Meskipun kini ia sudah tidak bersenjata, tetapi agaknya ia benar-benar ingin bertempur sampai mati. Sejenak Mahisa Agni duduk dalam kebimbangan. Ditatapnya saja mata Kuda Sempana yang liar itu. Namun ketika Kuda Sempana telah bersiap untuk menyerangnya, maka Mahisa Agni itupun segera mempersiapkan dirinya pula. Tetapi tiba-tiba terbersit suatu pikiran yang dianggapnya baik untuk menundukkan Kuda Sempana.

Sementara itu Kuda Sempana telah mulai pula dengan serangannya. Meskipun tanpa senjata, tetapi Mahisa Agni terpaksa menghindarinya. Ia masih berusaha untuk tidak membuat benturan-benturan dengan Kuda Sempana supaya tidak terjadi sesuatu pada tubuhnya. Namun Kuda Sempana sama sekali sudah tidak dapat memperhitungkan lagi.

Mahisa Agni yang sedang memikirkan suatu cara untuk menguasai lawannya itu hanyalah selalu mencoba menghindar. Berputar-putar dan melingkar-lingkar saja. Didalam kepalanya bergolaklah suatu pikiran yang meskipun tidak dikehendaki tetapi agaknya dapat menolong keadaan. Kuda Sempana ternyata menjadi kehilangan pertimbangan karna didorong oleh rasa takut dan cemas akan nasibnya. Bukan karena ia takut mati, tetapi ia tidak mau diperlakukan dengan cara yang mengerikan. Sebab menurut gambaran-gambaran di dalam otaknya, orang-orang Panawijen akan melepaskan dendam yang tersimpan di dalam hati mereka dengan cara yang hampir setiap saat ditemuinya di dalam sarang Kebo Sindet.

“Aku harus membuat imbangan.” desis Mahisa Agni di dalam hatinya, “aku harus sedikit menyombongkan diri. Biarlah untuk saat-saat seperti ini.”

Mahisa Agni mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Kuda Sempana membentak-bentak, “Ayo Mahisa Agni. Tunjukkanlah kejantananmu. Jangan hanya selalu menghindar saja. Dimanakah keberanianmu yang kau banggakan selama ini?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali ia harus menghindar dan berputar, sementara Kuda Sempana sedang memperbaiki keadaannya, karena kudanya terdorong beberapa langkah.

“Kuda Sempana.” berkata Mabisa Agni kemudian, “Apakah kau sudah benar-benar siap untuk bertempur melawan aku?”

Kuda Sempana terkejut mendengar pertanyaan itu, sehingga dengan serta merta ia menjawab, “Apakah kau sudah menjadi buta, atau kehilangan dasar pengamatan? Kau lihat, aku sudah siap untuk berbuat apapun.”

Tiba-tiba Mahisa Agni tertawa, Kuda Sempana sekali lagi terperanjat mendengar suara tertawa itu. Meskipun perlahan-lahan, tetapi sangat menyakitkan hati. Hampir sepanjang perkenalannya dengan Mahisa Agni, ia belum pernah mendengar dan melihat Mahisa Agni tertawa seperti itu.

“Jangan bergurau Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni kemudian, “bersiaplah. Aku akan segera mulai.”

Terdengar Kuda Sempana menggeram, “Aku sudah siap. Siap untuk membunuh atau dihunuh.”

“Apakah kau benar-benar ingin melawan aku?”

“Persetan. Cepat, mulailah.”

“Kuda Sempana. Aku benar-benar akan mulai apabila kau benar-benar telah siap pula. Beradalah dalam kemungkinan yang setinggi-tingginya. Kau segera akan melawan Mahisa Agni.”

Wajah Kuda Sempana menjadi semakin marah. “Kau terlalu sombong, pembual. Ayo berbuatlah sesuatu. Jangan hanya berbicara tanpa ujung dan pangkal. Kalau kau ingin mempergunakan pedangmu, pergunakanlah.”

Telinga Kuda Sempana menjadi semakin sakit ketika ia mendengar sekali lagi Mahisa Agni tertawa. Lebih menyakitkan hati, “Kuda Sempana. Jangan terlampau bernafsu. Sebaiknya kau melihat dirimu lebih dahulu. Siapkah yang kau hadapi sekarang.”

Terasa dada Kuda Sempana berdesir. Dan ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Apabila kau menganggap bahwa orang-orang Panawijen ingin melepaskan dendamnya dengan perbuatan yang aneh-aneh, maka tanpa orang lain, tanpa bantuan orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel, aku pun dapat berbuat demikian atasmu. Ingat, aku telah berhasil membunuh Kebo Sindet meskipun tidak langsung. Aku telah dapat menempatkan diriku di tempat yang sejajar dengan Kebo Sindet. Aku berterima kasih bahwa kau telah memberikan pedang itu. Namun saat itu Kebo Sindet pun bersenjata pula. Nah, apa katamu tentang diriku. Apakah kau masih menantang Mahisa Agni untuk berkelahi?”

Terasa dada Kuda Sempana seolah-olah menjadi retak karenanya. Sebuah himpitan perasaan telah melanda jantungnya. Kata-kata itu benar-benar suatu penghinaan baginya. Sehingga dengan suara bergetar ia menjawab,

“Aku tidak peduli, apakah kau telah dapat menempatkan dirimu sejajar dengan Kebo Sindet atau tidak, tetapi ternyata bahwa kau tidak berani bertempur melawan aku sekarang.”

Dan suara tertawa Mahisa Agni yang menyakitkan hati itu terdengar lagi, “Memang ada perasaan segan padaku untuk berkelahi melawan kau, Kuda Sempana Aku pasti hanya akan merasa seperti anak-anak yang sedang sekedar bermain-main. Permainan yang menjemukan.”

“Cukup.” teriak Kuda Sempana, “kau sudah cukup banyak menghina aku Agni. Sekarang ayo kita mulai. Cepat. Kalau tidak, melawan atau tidak melawan, aku akan membunuhmu.”

“Tunggu.” berkata Mahisa Agni, “kalau kau mampu lakukanlah. Tetapi ingat, bahwa aku telah berhasil mengalahkan Kebo Sindet. Aku tidak akan berkeberatan kalau kau selalu mendesakku. Aku akan segera berbuat sesuatu. Tetapi kau pun harus ingat, bahwa aku bukan Kebo Sindet. Aku adalah seorang anak Panawijen.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Dan Mahisa Agni berkata seterusnya, “Aku adalah anak Panawijen yang paling dahsyat mengalami akibat dari perbuatanmu. Nah, kau akan dapat membayangkan, apakah yang kira-kira dapat aku lakukan atasmu. Aku pernah berada bersamamu di dalam sarang iblis itu, sehingga aku dapat mengerti berbagai macam cara yang dipergunakan oleh Kebo Sindet. Bukankah itu yang kau cemaskan, apabila kau berada di tengah-tengah orang-orang Panawijen?”

Kuda Sempana tidak segera menjawab. Kepalanya menjadi semakin tegang, dan otot-otot di keningnya bermunculan seolah-olah akan meledak.

“Atau…” berkata Mahisa Agni, “aku dapat membuatmu tidak berdaya, tetapi tidak membunuhmu. Aku dapat membawamu kepada orang-orang Panawijen yang kau sangka akan membunuhmu dengan cara yang kau takuti itu.”

Dada Kuda Sempana berdentangan semakin keras mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Ketakutan, kecemasan dan kemarahan bercampur baur di dalam dirinya. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan yang diakuinya di dalam hatinya, bahwa sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni akan mampu berbuat demikian apabila dikehendaki. Karena itu maka perasaan ngeri yang sangat telah merambati jantungnya. Namun Kuda Sempana ternyata menjadi semakin berputus asa. Ia tidak dapat membuat pertimbangan-angan lagi. Kini ia benar-benar ingin membunuh dirinya. Berkelahi dan mati. Tetapi kematian itu akan lebih baik daripada mati ditangan orang-orang Panawijen.

Sebelum Mahisa Agni sempat berbicara lagi, maka Kuda Sempana sudah menyerangnya pula. Semakin lama semakin dahsyat. Dan sekali lagi Mahisa Agni harus melayaninya, seperti melayani adik tersayang yang sedang bermain kejar-kejaran.

“Apakah kau tidak mengerti maksudku Kuda Sempana?” bertanya Mahisa Agni.

Kuda Sempana tidak menjawab. Ia menyerang semakin garang, sehingga Mahisa Agnipun menjadi semakin sibuk menghindarinya. Tetapi akhirnya Mahisa Agni sampai pada puncak permainannya. Ia ingin segera menghentikan polah Kuda Sempana. Dengan demikian maka Mahisa Agni kemudian tidak membiarkan dirinya terus menerus menghindar dan menjauh. Pada saatnya, maka Mahisa Agnipun segera mengambil peranan.

Ketika Kuda Sempana dengan garangnya menyerang Mahisa Agni seperti seekor elang menyambar mangsanya, maka dengan gerak yang tidak kalah cepatnya Mahisa Agni menghindar. Tetapi yang sama sekali tidak terduga-duga oleh Kuda Sempana, tiba-tiba saja Mahisa Agni itu menyerangnya. Serangan itu dengan tiba-tiba dan terlampau cepat bagi Kuda Sempana, sehingga ia tidak mampu untuk menghindarkan diri. Bahkan ia sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menangkis. Yang terasa olehnya kemudian adalah sentuan ibu jari tangan Mahisa Agni di punggungnya. Dua kali. Di sebelah menyebelah tulang punggungnya.

Meskipun sentuhan itu tidak terlampau keras, tetapi terasa sekujur tubuh Kuda Sempana menggigil. Sejenak disadarinya, bahwa sentuhan-sentuhan itu tepat mengenai bintik-bintik syarafnya. Dua dari padanya telah tersentuh oleh tangan Mahisa Agni sehingga tidak bekerja sewajarnya. Terasa kemudian kepala Kuda Sempana menjadi pening, dan seolah-olah ia kehilangan syaraf keseimbangannya. Terasa Padang Karautan itu berputar, semakin lama semakin cepat. Bahkan kemudian kudanya dan dirinya sendiri ikut pula berputar. Dengan gerak naluriah, maka ia menarik kekang kudanya dengan sisa-sisa tenaganya yang masih ada sehingga kudanya berhenti. Tetapi putaran yang semakin cepat itu masih terasa membelit dirinya, sehingga Kuda Sempana harus memejamkan matanya. Meskipun demikian, ia masih merasakan seakan-akan tubuhnya telah hanyut dalam suatu arus pusaran dari air yarg terhisap ke dalam bumi dengan derasnya.

Sejenak Kuda Sempana masih dapat bertahan. Tetapi sejenak kemudian ia telah benar-benar kehilangan keseimbangan, sehingga tiba-tiba tubuhnya menjadi miring. Ia tidak dapat lagi tetap duduk di atas punggung kudanya, karena ia sudah tidak dapat menguasai keseimbangan dirinya lagi. Kuda Sempana masih tetap sadar ketika ia terdorong ke samping dan jatuh dari atas punggung kuda itu. Tetapi ia merasa pula bahwa seseorang telah menahannya dan kemudian menariknya. Sesaat Kuda Sempana membuka matanya. Dalam putaran yang semakin cepat ia melihat Mahisa Agni meletakkannya berbaring di atas rerumputan yang kekuning-kuningan meskipun tanah di bawahnya telah menjadi basah.

“Lepaskan, lepaskan.” ia berteriak. Dengan marahnya Kuda Sempana berusaha untuk bangkit. Tetapi sekali lagi ia terjatuh karena tanah tempatnya berpijak seolah-olah berputar semakin cepat.

“Jangan mencoba bangun Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni.

“Persetan. Ayo, bunuhlah aku.”

“Dengan pedang?”

“Terserah kepadamu.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar