“Tidak. Aku tidak akan memembunuhmu. Akan aku biarkan saja kau di sini. Bila terik matahari membara di langit, kau akan kepanasan, tetapi bila hujan yang lebat turun, kau akan kedinginan. Itu akan terjadi terus-menerus sebelum anjing-anjing liar menemukanmu di sini. Aku tidak tahu, manakah yang lebih buas, anjing-anjing liar itu atau buaya-buaya kerdil di rawa-rawa Kemundungan.”
“Setan.” Kuda Sempana mengumpat, “ayo, bunuh aku.”
“Ya, aku memang sedang membunuhmu. Tetapi tidak dengan ujung pedang. Aku mempunyai caraku sendiri.”
“Pengecut, pengkhianat. Ternyata kau lebih jahat dari Kebo Sindet.”
“Mungkin. Mungkin aku lebih jahat dari Kebo Sindet. Tetapi aku kira orang-orang Panawijen itu tidak akan berbuat begitu atasmu.”
Terdengar Kuda Sempana menggeram. Tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Ia masih merasa dirinya berputar. Sambil meng-umpat-umpat ia memegang kedua belah keningnya dengan telapak tangannya. Tetapi ia tidak dapat menolong dirinya. Syaraf keseimbangannya ternyata sedang terganggu. Tiba-tiba Kuda Sempana merasa sentuhan pada punggungnya. Ia merasakan urutan yang menyelusur sisi tulang belakangnya. Kemudian sebuah tekanan yang keras sehingga terasa punggungnya menjadi sakit sekali.
“Patahkan. Patahkan punggungku.” ia berteriak, “berbuatlah sekehendak hatimu. Tetapi bunuhlah aku secepatnya.”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi terasa sesuatu merayapi kepalanya. Kemudian perlahan-lahan terasa kepalanya tidak berputar lagi, sehingga sedikit demi sedikit ia membuka matanya.
“Duduklah.” terdengar suara Mabisa Agni, “buka matamu. Kau sudah baik.”
Kuda Sempana membuka matanya perlahan-lahan. Dilihatnya Mahisa Agni berdiri di sampingnya. Meskipun kepalanya masih terlampau pening, tetapi Padang Karautan itu sudah tidak berputaran lagi. Sesaat Kuda Sempana membeku, duduk di atas rerumputan. Digelengkannya kepalanya dan dipijitnya keningnya. Perasaan pening itu masih mengganggu. Tetapi perlahan-lahan menjadi semakin berkurang. Ketika ia kemudian berpaling di lihatnya Mahisa Agni telah duduk di sampingnya. Tiba-tiba isi dadanya meluap kembali. Dengan serta-merta ia meloncat berdiri Meskipun kepalanya masih terasa pening namun ia berkata,
“Kenapa tidak kau bunuh saja aku Agni, Sekarang aku sudah mampu lagi berkelahi melawanmu. Ayo, atau kau lah yang akan aku bunuh.”
Mahisa Agni masih tetap duduk di tempatnya. Dipandanginya Kuda Sempana dengan tenangnya. Kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan, “duduklah Kuda Sempana.”
“Tidak. Aku akan bertempur sampai mati.”
“Jangan terlampau keras kepala. Kau sebenarnya sudah menyadari keadaanmu. Tetapi kau mencoba untuk bertahan pada pendirianmu.”
Kuda Sempana tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Mahisa Agni tajam-tajam. Hatinya berdesir ketika ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Lihat Kuda Sempana, itu pedangmu yang kau lemparkan kepadaku. Ambillah, mungkin kau masih memerlukannya.”
Kuda Sempana masih berdiri di tempatnya. Perasaan aneh telah menjalari dadanya, sehingga sejenak ia terpaku diam.
“Ambillah, dan duduklah. Aku ingin berbicara. Dengan mulut, tidak dengan pedang.” Kuda Sempana sama sekali tidak bergerak. Tidak beranjak dan tidak menyahut. “Kau masih belum mempercayainya. Jangan kau takut-takuti hatimu dengan soal-soal yang kau buat-buat di dalam kepalamu sendiri. Kau buat bayangan-bayangan yang menakutkan dan kemudian kau sendiri menjadi ketakutan karenanya. Kau reka-reka di dalam angan-anganmu sesuatu yang mengerikan. Tetapi kemudian kau percayai angan-angan itu seolah-olah benar-benar akan terjadi.” Kuda Sempana masih mematung.
“Ambillah pedangmu. Cepat.” Kuda Sempana masih belum bergerak. “Kenapa kau masih diam? Apakah kepalamu masih pening atau bahkan seakan-akan masih berputaran.” Tanpa sesadarnya Kuda Sempana menggeleng. “Nah, kalau begitu, ambil pedangmu.”
Kuda Sempana tidak menyadari, pengaruh apakah yang telah menggerakkannya melangkah ke arah pedangnya yang terletak di tanah. Ia berpaling dengan penuh keragu-raguan, kemudian membungkuk memungut pedangnya itu. Dengan ragu-ragu disarungkannya pedangnya pada wrangkanya. Mahisa Agni yang masih duduk di tempatnya menarik nafas dalam-dalam. Ternyata atas kehendaknya sendiri Kuda Sempana telah menyarungkan pedangnya. Dengan demikian ia berharap bahwa ia untuk selanjutnya akan dapat berbicara dengan baik-baik. Tetapi untuk sesaat Mahisa Agni masih berdiam diri ditempatnya. Dipandanginya saja Kuda Sempana yang kemudian melangkah perlahan-lahan ke arahnya.
“Duduklah.” berkata Mabisa Agni kemudian.
“Tidak.” jawab Kuda Sempana. Tetapi suaranya telah menjadi lemah, “aku masih ingin bertempur.”
“Duduklah.” ulang Mahisa Agni.
Ternyata kata-katanya itu mengandung perbawa yang kuat, yang tidak terlawan oleh Kuda Sempana dalam keadaannya itu. Karena itu, maka seolah-olah tanpa dikehendakinya sendiri, ia pun perlahan-lahan meletakkan dirinya, duduk beberapa langkah dari Mahisa Agni.
“Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni, “maaf, bahwa aku telah membuatmu kehilangan keseimbangan. Bukan maksudku untuk menyakitimu, tetapi aku hanya ingin berbuat demikian sebagai pengantar pembicaraan. Kau tidak dapat mendengarkan kata-kataku tanpa sedikit tekanan. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan mengganggumu untuk seterusnya.” Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kepalanya menunduk.
“Kau terlampau jauh berprasangka atas orang-orang Panawijen. Aku tahu, bahwa kau ternyata telah dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Tetapi dengarlah aku, bahwa orang-orang Panawijen tidak akan berbuat apa-apa atasmu. Aku akan menjelaskan kepada mereka, bahwa kau telah menyesali segala kesalahan itu. Bahwa keadaanmu telah membuat kau terbangun dari mimpi yang buruk itu.”
“Kau menjebakku.” sahut Kuda Sempana meskipun sudah tidak terlampau garang.
“Buat apa aku menjebakmu? Kalau aku mau, aku dapat berbuat apa saja atasmu. Karena itu aku terpaksa membuatmu kehilangan keseimbangan. Maksudku, supaya kau sadari, bahwa aku dapat berbuat seperti yang kau angan-angankan itu tanpa membujukmu, kemudian menangkapmu beramai-ramai. Aku sendiri mampu melakukannya. Melumpuhkan kau, mengikatmu dibelakang kudaku dan menyeretmu kepada orang-orang Panawijen itu untuk bersama-sama mencincang mu. Tetapi aku tidak melakukannya. Masihkah kau menganggap bahwa aku sedang membujukmu? Masihkah kau menganggap bahwa karena aku tidak mampu menangkapmu sendiri, lalu aku menjebakmu di antara orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel?”
Kuda Sempana tidak segera menjawab. Perlahan-lahan pikirannya mulai bekerja kembali, meskipun harus dituntun setapak demi setapak oleh Mahisa Agni. Tetapi sejenak kemudian tumbuhlah pengakuan di dalam diri Kuda Sempana bahwa Mahisa Agni itu berkata sebenarnya. Ia dapat berbuat seperti yang dikatakannya. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Dalam kediamannya ia mendengar suara Mahisa Agni,
“Marilah. Berdirilah. Kita kembali kepada orang-orang Panawijen yang pasti sedang dihadapkan pada suatu teka-teki tentang diri kita.”
Sekali lagi Kuda Sempana didorong oleh suatu kekuatan yang tidak dimengertinya, membawanya berdiri dan melangkah kearah kudanya yang sedang asyik makan rumput. Dan sejenak kemudian keduanya telah berada di punggung kuda masing-masing, yang berlari kembali ke perkemahan orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel.
Betapa beratnya, namun Kuda Sempana akhirnya dapat diterima juga oleh orang-orang Panawijen dan Prajurit-prajurit Tumapel atas tanggung jawab Mahisa Agni. Meskipun dengan membentak-bentak dan berteriak namun Akuwu Tunggul Ametung pun memaafkannya pula. Tetapi untuk sementara Kuda Sempana diserahkan kepada Ken Arok dan Mahisa Agni, supaya diawasinya. Dan untuk sementara Kuda Sempana harus tetap berada di Padang Karautan bersama-sama dengan Ken Arok dan orang-orang Panawijen.
“Kau tidak dapat berada kembali dilingkungan istana.” berkata Akuwu Tunggul Ametung.
Kuda Sempana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam sekali. Perlahan-lahan ia menyahut, “Hamba berterima kasih sekali bahwa Tuanku tidak menggantung hamba di alun-alun. Dimanapun hamba akan diletakkan hamba tidak akan berkeberatan.”
Kuda Sempana yang sudah agak lama tidak bergaul dengan Akuwu terkejut ketika tiba-tiba Akuwu berteriak, “Apa hakmu untuk berkeberatan, he?” Kuda Sempana menjadi gelisah. Tetapi dicobanya untuk mengingat-ingat sifat-sifat Akuwu Tunggul Ametung, pada saat ia masih berada di istana. “Kau tidak punya hak sama sekali untuk berkata begitu. Kau memang harus menjalani setiap perintahku.”
“Hamba Tuanku.” jawab Kuda Sempana.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meraba-raba dagunya. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Bagaimana dengan kau?”
“Hamba tinggal di padang ini Tuanku.” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kau harus pergi ke istana. Terserah kepadamu. Sehari atau dua hari, supaya adikmu percaya, bahwa kau masih hidup. Supaya ia menjadi agak tenteram dan tidak selalu dicengkam oleh kegelisahan dan kebingungan. Kegelisahannya adalah kegelisahanku. Dan kegelisahanku adalah kegelisahan seluruh Tumapel.”
Mahisa Agni termenung sejenak. Ia dapat mengerti, betapa Ken Dedes selalu gelisah memikirkannya. Ia adalah satu-satunya orang yang masih dianggap keluarganya. Tetapi bagaimanakah dengan dirinya sendiri?
“Bagaimana?” desak Akuwu Tunggul Ametung, “aku memerlukanmu. Untuk kepentingan adikmu.”
Akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menolak lagi. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Hamba akan menurut segala perintah Tuanku. Hamba akan ikut serta ke istana untuk sehari atau dua hari. Selebihnya hamba akan tinggal di dekat bendungan ini, bendungan yang masih harus diselesaikan ini.”
“Untuk selanjutnya terserah kepadamu. Besok kita berangkat. Kembali ke Tumapel. Kuda Sempana tinggal di sini. Untuk sementara aku serahkan kepada Ken Arok selama Mahisa Agni berada di Tumapel. Untuk seterusnya orang itu menjadi tanggung jawab kalian berdua. Apakah kalian mengerti?”
Keduanya hampir bersamaan menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Baik.” berkata Akuwu itu selanjutnya, “tetapi taman itu harus segera siap pula. Setelah Mahisa Agni berada kembali di sini, maka kau mendapat kesempatan lebih banyak Ken Arok. Kecuali perhitunganmu terhadap banjir yang setiap saat dapat melanda bendungan itu, maka taman itu pun harus mendapat perhatian pula Di sini sekarang ada Ken Arok, Mahisa Agni dan Kebo Ijo.”
Sekali lagi hampir bersamaan Ken Arok dan Mahisa Agni menjawab, “Hamba Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya Kebo Ijo duduk di sudut ruangan itu pula. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Karena itu Akuwu tidak melihat, bahwa anak bengal itu sedang menahan senyumnya kuat-kuat. Baginya semua itu terasa terlampau menggelikan.
Sesaat kemudian kepada Witantra, Akuwu berkata, “Besok, pada pagi-pagi hari kita berangkat kembali ke Tumapel. Siapkan orang-orangmu.”
Kini Witantra lah yang menjawab sambil mengangguk, “Hamba Tuanku.”
Pembicaraan itu pun segera berakhir. Masing-masing pergi kepada kewajibannya. Tetapi ternyata matahari telah menjadi terlampau rendah dan sesaat kemudian hilang di balik garis batas di ujung Barat. Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya awan yang kelabu mengambang di langit perlahan-lahan hanyut oleh arus angin padang yang basah.
“Mudah-mudahan tidak turun hujan lebat.” desisnya.
Selangkah-selangkah ia berjalan menuju ke bendungan. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah beristirahat. Untuk sementara mereka tidak lagi bekerja siang dan malam sejak bendungan itu dilanda banjir. Mereka seolah-olah memerlukan waktu beristirahat sehari dua hari setelah memeras seluruh tenaga dan ketegangan perasaan yang memuncak. Tetapi di siang hari, mereka bekerja dengan sepenuh tenaga pula, sehingga bendungan itu sudah memiliki alat pengaman yang lebih banyak, setelah banjir yang pertama memberi mereka petunjuk-petunjuk letak kelemahannya.
Ketika Mahisa Agni berada di ujung bendungan, terasa hatinya berdesir. Bendungan yang dahulu hanya ada di dalam angan-angannya, yang pada saat ia meninggalkan tempat itu masih belum berbentuk, kini benar-benar telah ada. Bendungan itu benar-benar telah berwujud. Bahkan bendungan itu telah lulus pada ujiannya yang pertama. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Meskipun senja menjadi semakin samar, namun ia masih dapat melihat jalur-jalur yang menggores Padang Karautan itu. Susukan induk yang menjelujur ketengah-tengah padang dan akan menumpahkan airnya di sendang buatan, di dalam taman yang dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian parit-parit yang menyelusur seperti akar pepohonan di dalam tanah. Kotak-kotak sawah dengan pematang-pematangnya. Semuanya itu telah membuat dada Mahisa Agni seolah-olah mengembang. Karena itu maka sejenak ia berdiri mematung. Dipandanginya alam yang terbentang di hadapannya. Alam yang luas, yang baru mulai dijamah oleh tangan manusia.
“Mudah-mudahan kami berhasil.” desis Mahisa Agni, “mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini dibenarkan oleh Yang Maha Agung.”
Ketika kemudian angin yang lembut mengusap keningnya, maka Mahisa Agni pun mengusap wajahnya. Terasa udara yang dingin menyusup sampai ke pembuluh darahnya. Di dalam dadanya berdesir suatu kebanggan dan harapan yang tidak terkira, karena bendungan yang kini tinggal mengetrapkan penyelesaian yang terakhir dan merampungkan jalur-jalur pengaman apabila banjir datang terlalu deras. Impian yang dahulu tersimpan di dalam hatinya itu kini telah hampir berwujud. Sekian lama ia berada di dalam kungkungan iblis Kemundungan, tetapi sekian lama pekerjaan ini berjalan terus. Tepat pada saatnya ia berhasil melepaskan diri, bendungan ini telah sampai pada penyelesaian terakhir.
Apalagi apabila di ujung susukan induk ini kelak akan dibangun sebuah taman. Maka daerah ini, yang dahulu merupakan jantung Padang Karautan yang jarang dirambah oleh manusia, kelak pasti akan menjadi suatu padepokan yang subur dan semakin-lama akan menjadi semakin ramai. Betapa angan-angan yang dipenuhi oleh harapan itu mencengkam dada Mahisa Agni, sehingga untuk sejenak ia merenung ditempatnya. Baru ketika terasa gerimis kecil menyentuh tubuhnya Mahisa Agni menyadari dirinya. Ditengadahkan wajahnya dan dilihatnya langit yang hitam.
“Hujan.” desisnya, “Mudah-mudahan banjir tidak datang terlampau keras.”
Mahisa Agni masih mendengar deru air yang masih agak deras mengalir di sungai yang telah dibatasi oleh bendungan itu. Tetapi dalam kegelapan malam Mahisa Agni tidak dapat melihat, betapa keruh dan betapa banyak sesungguhnya air yang tertahan di atas bendungan itu. Karena gerimis menjadi semakin deras, maka Mahisa Agnipun segera meninggalkan bendungan itu kembali ke dalam gubugnya. Perlahan-lahan ia bergumam di dalam dirinya,
“Besok aku harus ikut bersama Akuwu ke Tumapel. Mudah-mudahan tidak terlampau lama berada disana. Aku ingin menunggui bagaimana bendungan ini terselesaikan.”
Begitu asyik Mahisa Agni bergelut dengan angan-angannya, sehingga ia tidak melihat seseorang berdiri di ujung perkemahan. Mahisa Agni berjalan bebera langkah dimuka orang itu, tetapi Mahisa Agni yang berjalan sambil menunduk itu tidak melihatnya. Baru ketika orang itu terbatuk kecil, langkah Mahisa Agni tertegun. Dipalingkannya wajahnya, dan dilihatnya seseorang berdiri acuh tidak acuh.
“Kau Kebo Ijo.” sapa Mahisa Agni.
Kebo Ijo berpaling. Desisnya, “Darimana kau Mahisa Agni?”
“Aku melihat bendungan itu Kebo Ijo. Ternyata aku menjadi sangat berterima kasih, bahwa selama aku tidak ada di sini, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel telah menyelesaikannya.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dan sesaat kemudian Mahisa Agni menjadi terkejut karena Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Kenapa kau berterima kasih kepada kami semua yang selama ini bekerja tidak mengenal lelah, siang dan malam, apalagi ketika banjir yang pertama itu melanda bendungan yang belum siap benar itu. Akuwu sendiri telah banyak sekali berbuat untuk menyelamatkannya, bahkan menyelamatkan Ken Arok sendiri.”
“Justru karena itulah aku sangat berterima kasih.” jawab Mahisa Agni.
Suara tertawa Kebo Ijo mengeras. Katanya, “Aneh sekali. Apakah hakmu untuk menyatakan terima kasih kepada kami.”
Mahisa Agni terdiam. Sepasang matanya memancarkan berbagai pertanyaan yang bergolak di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Kebo Ijo. Namun sejenak kemudian ia mendengar Kebo Ijo itu berkata lebih lanjut,
“Mahisa Agni, kau yang sama sekali tidak ikut berbuat apapun atas bendungan itu, jangan terlampau ikut berbangga karenanya. Apalagi kau merasa bahwa seakan-akan kaulah yang berhak untuk disebut sebagai pahlawan. Kau mungkin merasa bahwa bendungan itu bendunganmu, sehingga kau merasa wajib dan berhak berterima kasih kepada kami.” Kebo Ijo itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ketahuilah, bahwa bendungan itu bukan bendunganmu. Bendungan itu adalah milik kami yang telah bekerja mati-matian. Sekarang kau datang ke dalam lingkungan kami. Akulah yang lebih berhak mengucapkan terima kasih kepadamu, seandainya kau mau membantu meskipun sekedar melemparkan sebongkah batu disaat terakhir. Itupun barangkali tidak dapat kau lakukan. Bukankah kau besok harus pergi ke Tumapel bersama Akuwu untuk menengok adikmu yang terlampau manja itu? Nah, tinggallah di Tumapel sepekan atau sebulan. Datanglah kemari apabila bendungan itu telah selesai. Tetapi ingat, jangan mengucapkan terima kasih kepadaku. Setelah kau tidak mempunyai sangkut paut dengan bendungan ini.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Wajahnya sekilas dijalari oleh warna merah. Tanpa sesadarnya dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Sepi. Tak ada seorangpun yang tampak. Tetapi Mahisa Agni tidak tahu, apakah orang-orang yang berada di dalam gubug itu sudah tidur atau masih bangun dan mendengar percakapan itu.
“Nah.” berkata Kebo Ijo, “sekarang tidurlah. Jangan kau hiraukan lagi bendungan itu. Ia telah tumbuh tanpa kau. Dan ia akan siap pula tanpa bantuanmu.”
Terasa goresan di dada Mahisa Agni menjadi semakin dalam. Bahkan kemudian timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah demikian anggapan setiap orang yang berada di perkemahan ini? Apakah mereka menganggap bahwa aku sama sekali tidak berarti lagi bagi mereka, karena aku tidak ikut serta berbuat banyak? Apakah demikian pula anggapan orang-orang Panawijen?”
Setitik keringat dingin mengembun di kening Mahisa Agni. Namun ia masih saja berdiam diri dalam kenangan seribu macam pertanyaan. Kebo Ijo melihat kebimbangan di dalam sikap Mahisa Agni. Agaknya kata-katanya berhasil menusuk langsung kedalam hati anak muda itu. Maka timbullah kegembiraan di hati Kebo Ijo yang aneh itu. Ia memang bertabiat demikian. Dan tabiatnya itulah yang telah mendorongnya kedalam perbuatan-perbuatan yang berbahaya bagi dirinya.
Karena Mahisa Agni tidak menjawab, maka berkata Kebo Ijo itu, “Apa lagi yang kau tunggu Agni. Pergilah tidur. Kau dapat menganyam angan-angan, bahwa kau besok akan bertemu dengan adikmu yang kini telah menjadi seorang permaisuri. Kau akan ikut merasakan kamukten yang didapatkannya. Nah, nikmatilah. Tetapi jangan menyinggung tentang bendungan ini.”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Terasa pergolakan di dalam dadanya menjadi semakin keras.
“Tetapi sambutan orang-orang Panawijen itu begitu baik kepadaku. Bahkan prajurit-prajurit Tumapel pun bersikap baik.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
“Jangan bersedih.” berkata Kebo Ijo seterusnya, “kau memang lebih baik berada di Tumapel. Nunut kamukten yang didapatkan oleh adikmu dengan modal parasnya yang cantik.”
“Cukup.” tiba-tiba Mahisa Agni memotong, “kau boleh menghina aku dengan cara apapun, tetapi jangan menghina orang lain yang kau sangkut pautkan dengan aku. Sikapmu itu sejak dahulu memuakkan sekali bagiku. Mungkin kau benar, bahwa aku memang tidak dapat ikut berbangga dengan bendungan itu. Tetapi seandainya aku berbangga di dalam hati, itu adalah hakku, karena aku ikut serta meletakkan dasar bagi terbangunnya bendungan ini. Akulah yang memilih tempat, membuat rencananya dan memulainya. Tetapi aku tidak akan memperhitungkannya seperti seseorang yang meminjamkan jasanya kepada orang lain. Dihargai atau tidak dihargai, diakui atau tidak diakui itu sama sekali bukan urusanku dan bukan tujuanku. Siapapun yang membangun bendungan ini, aku tidak peduli. Tetapi aku merasa bersenang hati bahwa orang-orang Panawijen akan mendapat tempat dan ruangan baru untuk hidup. Tetapi yang sangat memuakkan adalah caramu menghina aku dan keluargaku. Kau sebut-sebut nama Ken Dedes dengan cara yang sangat menyakitkan hati.”
Dada Mahisa Agni berguncang ketika justru ia mendengar Kebo Ijo tertawa, “Apakah kau menjadi sakit hati karenanya? Aku mengatakan yang sebenarnya. Sama sekali bukan ceritera yang aku hisap dari ujung ibu jari kakiku. Bukankah Akuwu mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana dan Sempana mengambilnya karena ia cantik?”
Terasa dada Mahisa Agni bergetar, Tetapi justru dengan demikian ia menyadari keadannya sepenuhnya. Karena itu maka iapun menarik nafas dalam-dalam seolah-olah hendak mengendapkan segala macam perasaan yang membakar dadanya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya bahwa Kebo Ijo sengaja membuatnya marah. Ia tidak tahu, apakah maksud anak muda itu. Tetapi bukanlah sebaiknya untuk melayaninya. Seandainya demikian, maka pasti akan timbul keributan, justru pada saat Akuwu Tunggul Ametung ada diperkemahan itu, dan justru setelah ia datang, sehingga kesan tentang dirinya pasti akan menjadi kurang baik. Pasti ada orang yang menganggap bahwa setelah diperkemahan itu ada Mahisa Agni, maka timbullah suatu bentrokan diantara mereka. Karena itu, maka Mahisa Agni itupun berusaha untuk menahan hatinya kuat-kuat. Dianggapnya ia tidak mendengar apapun. Dianggapnya suara Kebo Ijo itu seperti bunyi desir angin di dedaunan.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni tidak mau mendengarkannya lagi. Ia ingin meninggalkannya dan pergi ke gubug yang disediakan untuknya bersama beberapa orang lain. Tetapi ketika baru saja kakinya melangkah ia mendengar Kebo Ijo itu tertawa lagi,
“He, kemana? Tidur? Baiklah. Tetapi sekali lagi, jangan mimpi tentang gelar pahlawan karena kau berhasil membuat bendungan. Lebih baik kau bermimpi tentang adikmu yang berhasil menjerat hati Akuwu karena kecantikannya.” Kebo Ijo berhenti sejenak, “He, adikmu memang cantik. Itulah sebabnya kakang Mahendra pernah menjadi gila dan berkelahi dengan kau di luar padukuhanmu karena kau mengaku bakal suami gadis itu.”
Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati. Seandainya Mahisa Agni masih belum mendapatkan kemantapan tentang dirinya dan berhasil mengalahkan Kebo Sindet, maka Kebo Ijo pasti sudah diterkamnya. Tetapi kini sikapnya menjadi lain. Ia tidak menyerangnya. Ditahankannya kemarahan di dalam hatinya. Namun terdengar giginya bergemeretak. Tetapi tiba-tiba mereka berdua, Mahisa Agni dan Kebo Ijo terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar dari balik perkemahan seseorang berkata,
“Kau sudah menjadi gila Kebo Ijo.” Ketika mereka berpaling, mereka melihat Witantra berdiri di sudut sebuah gubug yang pendek, “Apakah kau sadari apa yang kau katakan. Aku mendengar sebagian besar dari kata-katamu. Aku sengaja membiarkannya karena aku ingin tahu, bagaimanakah sikapmu sebenarnya. Dan kini aku melihatnya.” Witantra berhenti sejenak, lalu, “sebagai seorang pengawal bahkan yang diserahi tanggung jawab atas keselamatan, tubuh dan namanya, aku menganggap bahwa kau sudah sepantasnya mendapat hukuman. Kau telah menghina Tuan Putri Ken Dedes.”
Kebo Ijo sejenak menjadi pucat. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum, “Aku hanya bergurau kakang.”
“Tidak, kau tidak sedang bergurau. Aku dapat membedakan nada yang sama sekali bukan bergurau.” Witantra memotong, “tetapi sebagai seorang tua aku akan berbuat lain. Aku masih melihat kemungkinan yang baik dihari depanmu yang panjang. Karena itu, aku minta, supaya kau cabut kata-katamu supaya kesalahanmu dimaafkan. Dan kau harus minta maaf pula kepada Mahisa Agni. Lakukanlah.”
Sepercik warna merah membayang di wajah Kebo Ijo. Ia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang mendengar kata-katanya, apalagi kakak seperguruannya yang gubugnya jauh berada di ujung lain. Karena itu untuk sejenak ia berdiri saja mematung. Agaknya kakaknya itu mendengar seluruh pembicaraannya. Dan kakaknya tidak percaya bahwa ia hanya sekedar bergurau saja. Namun yang tidak disangka-sangka oleh Kebo Ijo, adalah bahwa kakaknya itu menyuruhnya untuk mencabut kata-katanya dan minta maaf kepada Mahisa Agni.
Karena Kebo Ijo masih berdiam diri, maka Witantra itu berkata pula, “Lakukanlah Kebo Ijo, Hukuman itu terlampau ringan buatmu.”
Tetapi Kebo Ijo tidak segera berbuat sesuatu. Wajahnya yang pucat, kemudian kemerah-merahan, kini menjadi tegang.
“Apakah kau tidak bersedia?” Tidak ada jawaban.
Namun sekali lagi mereka terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “Kebo Ijo, sebaiknya kau tinggalkan kebiasaanmu yang buruk itu.”
Serentak mereka berpaling, dan segera mereka melihat siapakah yang berbicara itu. Ken Arok.
“Sudah beberapa kali aku nasehatkan, jangan membuat soal-soal yang tidak perlu.”
Wayah Kebo Ijo menjadi semakin tegang. Dan ia mendengar Witantra berkata semakin keras pula, “Lakukanlah. Kau harus mencabut kata-katamu dihadapanku, pimpinan pengawal Akuwu Tunggul Ametung dan kini ada dua saksi. Kemudian kau harus minta maaf kepada Mahisa Agni.”
Kebo Ijo kini berdiri gemetar. Ia tidak membayangkan bahwa hal serupa itu akan mungkin dilakukannya. Sejenak ia dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi menilik sorot mata kakak seperguruannya, ia tidak dapat bermain-main lagi. Kakaknya itu agaknya benar-benar marah kepadanya. Apalagi kini telah hadir pula Ken Arok, yang ternyata mendengar pula pembicaraannya.
“Lakukanlah Kebo Ijo.” terdengar suara Ken Arok, “bukan suatu penghinaan bagimu. Tetapi dengan demikian kau akan selalu teringat, bahwa sikapmu yang demikian itu sama sekali tidak menguntungkan bagimu dan bagi siapapun juga. Kaupun harus ingat, bagaimana kau untuk pertama kali berada ditempat ini. Belum sehari kau sudah menumbuhkan persoalan. Sekarang, kedatangan Mahisa Agni kau songsong dengan sikapmu yang aneh itu.”
Wajah Kebo Ijo menjadi semakin tegang. Setitik keringat dingin merentul di dahinya. “Lakukanlah.” berkata Witantra. Ia nampak bersungguh-sungguh.
Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni, “Kebo Ijo. Kalau kakakmu menghendaki kata-katamu itu dicabut, cabutlah. Tetapi bahwa kau harus minta maaf kepadaku hal itu tidak perlu kau ucapkan dengan kata-kata, tetapi asal pengakuan bersalah itu telah tumbuh di dalam hatimu, sebenarnya telah cukup bagiku.”
Kebo Ijo berpaling sejenak. Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Sekilas tampak perubahan pada wajah itu, tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak tahu, apakah yang bergolak di dalam dada Kebo Ijo, sehingga terungkap pada perubahan wajah itu. Namun sejenak kemudian Kebo Ijo itu menundukkan wajahnya.
Witantra dan Ken Arok merasakan sentuhan yang lembut di dalam hati mereka. Pernyataan Mahisa Agni itu benar-benar telah menumbuhkan perasaan hormat di dalam diri mereka. Sehingga dengan demikian, maka sejenak mereka terdiam. Padang Karautan itu pun kemudian menjadi sunyi. Suara bilalang terdengar bersahut-sahutan dikejauhan. Sekali-sekali terasa angin yang lembut mengusap wajah-wajah mereka yang tegang.
“Setan.” Kuda Sempana mengumpat, “ayo, bunuh aku.”
“Ya, aku memang sedang membunuhmu. Tetapi tidak dengan ujung pedang. Aku mempunyai caraku sendiri.”
“Pengecut, pengkhianat. Ternyata kau lebih jahat dari Kebo Sindet.”
“Mungkin. Mungkin aku lebih jahat dari Kebo Sindet. Tetapi aku kira orang-orang Panawijen itu tidak akan berbuat begitu atasmu.”
Terdengar Kuda Sempana menggeram. Tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Ia masih merasa dirinya berputar. Sambil meng-umpat-umpat ia memegang kedua belah keningnya dengan telapak tangannya. Tetapi ia tidak dapat menolong dirinya. Syaraf keseimbangannya ternyata sedang terganggu. Tiba-tiba Kuda Sempana merasa sentuhan pada punggungnya. Ia merasakan urutan yang menyelusur sisi tulang belakangnya. Kemudian sebuah tekanan yang keras sehingga terasa punggungnya menjadi sakit sekali.
“Patahkan. Patahkan punggungku.” ia berteriak, “berbuatlah sekehendak hatimu. Tetapi bunuhlah aku secepatnya.”
Tidak terdengar jawaban. Tetapi terasa sesuatu merayapi kepalanya. Kemudian perlahan-lahan terasa kepalanya tidak berputar lagi, sehingga sedikit demi sedikit ia membuka matanya.
“Duduklah.” terdengar suara Mabisa Agni, “buka matamu. Kau sudah baik.”
Kuda Sempana membuka matanya perlahan-lahan. Dilihatnya Mahisa Agni berdiri di sampingnya. Meskipun kepalanya masih terlampau pening, tetapi Padang Karautan itu sudah tidak berputaran lagi. Sesaat Kuda Sempana membeku, duduk di atas rerumputan. Digelengkannya kepalanya dan dipijitnya keningnya. Perasaan pening itu masih mengganggu. Tetapi perlahan-lahan menjadi semakin berkurang. Ketika ia kemudian berpaling di lihatnya Mahisa Agni telah duduk di sampingnya. Tiba-tiba isi dadanya meluap kembali. Dengan serta-merta ia meloncat berdiri Meskipun kepalanya masih terasa pening namun ia berkata,
“Kenapa tidak kau bunuh saja aku Agni, Sekarang aku sudah mampu lagi berkelahi melawanmu. Ayo, atau kau lah yang akan aku bunuh.”
Mahisa Agni masih tetap duduk di tempatnya. Dipandanginya Kuda Sempana dengan tenangnya. Kemudian terdengar ia berkata perlahan-lahan, “duduklah Kuda Sempana.”
“Tidak. Aku akan bertempur sampai mati.”
“Jangan terlampau keras kepala. Kau sebenarnya sudah menyadari keadaanmu. Tetapi kau mencoba untuk bertahan pada pendirianmu.”
Kuda Sempana tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Mahisa Agni tajam-tajam. Hatinya berdesir ketika ia mendengar Mahisa Agni berkata, “Lihat Kuda Sempana, itu pedangmu yang kau lemparkan kepadaku. Ambillah, mungkin kau masih memerlukannya.”
Kuda Sempana masih berdiri di tempatnya. Perasaan aneh telah menjalari dadanya, sehingga sejenak ia terpaku diam.
“Ambillah, dan duduklah. Aku ingin berbicara. Dengan mulut, tidak dengan pedang.” Kuda Sempana sama sekali tidak bergerak. Tidak beranjak dan tidak menyahut. “Kau masih belum mempercayainya. Jangan kau takut-takuti hatimu dengan soal-soal yang kau buat-buat di dalam kepalamu sendiri. Kau buat bayangan-bayangan yang menakutkan dan kemudian kau sendiri menjadi ketakutan karenanya. Kau reka-reka di dalam angan-anganmu sesuatu yang mengerikan. Tetapi kemudian kau percayai angan-angan itu seolah-olah benar-benar akan terjadi.” Kuda Sempana masih mematung.
“Ambillah pedangmu. Cepat.” Kuda Sempana masih belum bergerak. “Kenapa kau masih diam? Apakah kepalamu masih pening atau bahkan seakan-akan masih berputaran.” Tanpa sesadarnya Kuda Sempana menggeleng. “Nah, kalau begitu, ambil pedangmu.”
Kuda Sempana tidak menyadari, pengaruh apakah yang telah menggerakkannya melangkah ke arah pedangnya yang terletak di tanah. Ia berpaling dengan penuh keragu-raguan, kemudian membungkuk memungut pedangnya itu. Dengan ragu-ragu disarungkannya pedangnya pada wrangkanya. Mahisa Agni yang masih duduk di tempatnya menarik nafas dalam-dalam. Ternyata atas kehendaknya sendiri Kuda Sempana telah menyarungkan pedangnya. Dengan demikian ia berharap bahwa ia untuk selanjutnya akan dapat berbicara dengan baik-baik. Tetapi untuk sesaat Mahisa Agni masih berdiam diri ditempatnya. Dipandanginya saja Kuda Sempana yang kemudian melangkah perlahan-lahan ke arahnya.
“Duduklah.” berkata Mabisa Agni kemudian.
“Tidak.” jawab Kuda Sempana. Tetapi suaranya telah menjadi lemah, “aku masih ingin bertempur.”
“Duduklah.” ulang Mahisa Agni.
Ternyata kata-katanya itu mengandung perbawa yang kuat, yang tidak terlawan oleh Kuda Sempana dalam keadaannya itu. Karena itu, maka seolah-olah tanpa dikehendakinya sendiri, ia pun perlahan-lahan meletakkan dirinya, duduk beberapa langkah dari Mahisa Agni.
“Kuda Sempana.” berkata Mahisa Agni, “maaf, bahwa aku telah membuatmu kehilangan keseimbangan. Bukan maksudku untuk menyakitimu, tetapi aku hanya ingin berbuat demikian sebagai pengantar pembicaraan. Kau tidak dapat mendengarkan kata-kataku tanpa sedikit tekanan. Tetapi percayalah bahwa hal itu tidak akan mengganggumu untuk seterusnya.” Kuda Sempana tidak menyahut. Tetapi tiba-tiba kepalanya menunduk.
“Kau terlampau jauh berprasangka atas orang-orang Panawijen. Aku tahu, bahwa kau ternyata telah dikejar-kejar oleh perasaan bersalah. Tetapi dengarlah aku, bahwa orang-orang Panawijen tidak akan berbuat apa-apa atasmu. Aku akan menjelaskan kepada mereka, bahwa kau telah menyesali segala kesalahan itu. Bahwa keadaanmu telah membuat kau terbangun dari mimpi yang buruk itu.”
“Kau menjebakku.” sahut Kuda Sempana meskipun sudah tidak terlampau garang.
“Buat apa aku menjebakmu? Kalau aku mau, aku dapat berbuat apa saja atasmu. Karena itu aku terpaksa membuatmu kehilangan keseimbangan. Maksudku, supaya kau sadari, bahwa aku dapat berbuat seperti yang kau angan-angankan itu tanpa membujukmu, kemudian menangkapmu beramai-ramai. Aku sendiri mampu melakukannya. Melumpuhkan kau, mengikatmu dibelakang kudaku dan menyeretmu kepada orang-orang Panawijen itu untuk bersama-sama mencincang mu. Tetapi aku tidak melakukannya. Masihkah kau menganggap bahwa aku sedang membujukmu? Masihkah kau menganggap bahwa karena aku tidak mampu menangkapmu sendiri, lalu aku menjebakmu di antara orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel?”
Kuda Sempana tidak segera menjawab. Perlahan-lahan pikirannya mulai bekerja kembali, meskipun harus dituntun setapak demi setapak oleh Mahisa Agni. Tetapi sejenak kemudian tumbuhlah pengakuan di dalam diri Kuda Sempana bahwa Mahisa Agni itu berkata sebenarnya. Ia dapat berbuat seperti yang dikatakannya. Tetapi ia tidak berbuat demikian. Dalam kediamannya ia mendengar suara Mahisa Agni,
“Marilah. Berdirilah. Kita kembali kepada orang-orang Panawijen yang pasti sedang dihadapkan pada suatu teka-teki tentang diri kita.”
Sekali lagi Kuda Sempana didorong oleh suatu kekuatan yang tidak dimengertinya, membawanya berdiri dan melangkah kearah kudanya yang sedang asyik makan rumput. Dan sejenak kemudian keduanya telah berada di punggung kuda masing-masing, yang berlari kembali ke perkemahan orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel.
Betapa beratnya, namun Kuda Sempana akhirnya dapat diterima juga oleh orang-orang Panawijen dan Prajurit-prajurit Tumapel atas tanggung jawab Mahisa Agni. Meskipun dengan membentak-bentak dan berteriak namun Akuwu Tunggul Ametung pun memaafkannya pula. Tetapi untuk sementara Kuda Sempana diserahkan kepada Ken Arok dan Mahisa Agni, supaya diawasinya. Dan untuk sementara Kuda Sempana harus tetap berada di Padang Karautan bersama-sama dengan Ken Arok dan orang-orang Panawijen.
“Kau tidak dapat berada kembali dilingkungan istana.” berkata Akuwu Tunggul Ametung.
Kuda Sempana menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dalam sekali. Perlahan-lahan ia menyahut, “Hamba berterima kasih sekali bahwa Tuanku tidak menggantung hamba di alun-alun. Dimanapun hamba akan diletakkan hamba tidak akan berkeberatan.”
Kuda Sempana yang sudah agak lama tidak bergaul dengan Akuwu terkejut ketika tiba-tiba Akuwu berteriak, “Apa hakmu untuk berkeberatan, he?” Kuda Sempana menjadi gelisah. Tetapi dicobanya untuk mengingat-ingat sifat-sifat Akuwu Tunggul Ametung, pada saat ia masih berada di istana. “Kau tidak punya hak sama sekali untuk berkata begitu. Kau memang harus menjalani setiap perintahku.”
“Hamba Tuanku.” jawab Kuda Sempana.
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya sambil meraba-raba dagunya. Kemudian kepada Mahisa Agni ia berkata, “Bagaimana dengan kau?”
“Hamba tinggal di padang ini Tuanku.” jawab Mahisa Agni.
“Tetapi kau harus pergi ke istana. Terserah kepadamu. Sehari atau dua hari, supaya adikmu percaya, bahwa kau masih hidup. Supaya ia menjadi agak tenteram dan tidak selalu dicengkam oleh kegelisahan dan kebingungan. Kegelisahannya adalah kegelisahanku. Dan kegelisahanku adalah kegelisahan seluruh Tumapel.”
Mahisa Agni termenung sejenak. Ia dapat mengerti, betapa Ken Dedes selalu gelisah memikirkannya. Ia adalah satu-satunya orang yang masih dianggap keluarganya. Tetapi bagaimanakah dengan dirinya sendiri?
“Bagaimana?” desak Akuwu Tunggul Ametung, “aku memerlukanmu. Untuk kepentingan adikmu.”
Akhirnya Mahisa Agni tidak dapat menolak lagi. Sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam ia menjawab, “Hamba akan menurut segala perintah Tuanku. Hamba akan ikut serta ke istana untuk sehari atau dua hari. Selebihnya hamba akan tinggal di dekat bendungan ini, bendungan yang masih harus diselesaikan ini.”
“Untuk selanjutnya terserah kepadamu. Besok kita berangkat. Kembali ke Tumapel. Kuda Sempana tinggal di sini. Untuk sementara aku serahkan kepada Ken Arok selama Mahisa Agni berada di Tumapel. Untuk seterusnya orang itu menjadi tanggung jawab kalian berdua. Apakah kalian mengerti?”
Keduanya hampir bersamaan menjawab, “Hamba Tuanku.”
“Baik.” berkata Akuwu itu selanjutnya, “tetapi taman itu harus segera siap pula. Setelah Mahisa Agni berada kembali di sini, maka kau mendapat kesempatan lebih banyak Ken Arok. Kecuali perhitunganmu terhadap banjir yang setiap saat dapat melanda bendungan itu, maka taman itu pun harus mendapat perhatian pula Di sini sekarang ada Ken Arok, Mahisa Agni dan Kebo Ijo.”
Sekali lagi hampir bersamaan Ken Arok dan Mahisa Agni menjawab, “Hamba Tuanku.”
Akuwu Tunggul Ametung mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya Kebo Ijo duduk di sudut ruangan itu pula. Tetapi kepalanya menunduk dalam-dalam. Karena itu Akuwu tidak melihat, bahwa anak bengal itu sedang menahan senyumnya kuat-kuat. Baginya semua itu terasa terlampau menggelikan.
Sesaat kemudian kepada Witantra, Akuwu berkata, “Besok, pada pagi-pagi hari kita berangkat kembali ke Tumapel. Siapkan orang-orangmu.”
Kini Witantra lah yang menjawab sambil mengangguk, “Hamba Tuanku.”
Pembicaraan itu pun segera berakhir. Masing-masing pergi kepada kewajibannya. Tetapi ternyata matahari telah menjadi terlampau rendah dan sesaat kemudian hilang di balik garis batas di ujung Barat. Ketika Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya awan yang kelabu mengambang di langit perlahan-lahan hanyut oleh arus angin padang yang basah.
“Mudah-mudahan tidak turun hujan lebat.” desisnya.
Selangkah-selangkah ia berjalan menuju ke bendungan. Orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah beristirahat. Untuk sementara mereka tidak lagi bekerja siang dan malam sejak bendungan itu dilanda banjir. Mereka seolah-olah memerlukan waktu beristirahat sehari dua hari setelah memeras seluruh tenaga dan ketegangan perasaan yang memuncak. Tetapi di siang hari, mereka bekerja dengan sepenuh tenaga pula, sehingga bendungan itu sudah memiliki alat pengaman yang lebih banyak, setelah banjir yang pertama memberi mereka petunjuk-petunjuk letak kelemahannya.
Ketika Mahisa Agni berada di ujung bendungan, terasa hatinya berdesir. Bendungan yang dahulu hanya ada di dalam angan-angannya, yang pada saat ia meninggalkan tempat itu masih belum berbentuk, kini benar-benar telah ada. Bendungan itu benar-benar telah berwujud. Bahkan bendungan itu telah lulus pada ujiannya yang pertama. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling. Meskipun senja menjadi semakin samar, namun ia masih dapat melihat jalur-jalur yang menggores Padang Karautan itu. Susukan induk yang menjelujur ketengah-tengah padang dan akan menumpahkan airnya di sendang buatan, di dalam taman yang dikehendaki oleh Akuwu Tunggul Ametung. Kemudian parit-parit yang menyelusur seperti akar pepohonan di dalam tanah. Kotak-kotak sawah dengan pematang-pematangnya. Semuanya itu telah membuat dada Mahisa Agni seolah-olah mengembang. Karena itu maka sejenak ia berdiri mematung. Dipandanginya alam yang terbentang di hadapannya. Alam yang luas, yang baru mulai dijamah oleh tangan manusia.
“Mudah-mudahan kami berhasil.” desis Mahisa Agni, “mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini dibenarkan oleh Yang Maha Agung.”
Ketika kemudian angin yang lembut mengusap keningnya, maka Mahisa Agni pun mengusap wajahnya. Terasa udara yang dingin menyusup sampai ke pembuluh darahnya. Di dalam dadanya berdesir suatu kebanggan dan harapan yang tidak terkira, karena bendungan yang kini tinggal mengetrapkan penyelesaian yang terakhir dan merampungkan jalur-jalur pengaman apabila banjir datang terlalu deras. Impian yang dahulu tersimpan di dalam hatinya itu kini telah hampir berwujud. Sekian lama ia berada di dalam kungkungan iblis Kemundungan, tetapi sekian lama pekerjaan ini berjalan terus. Tepat pada saatnya ia berhasil melepaskan diri, bendungan ini telah sampai pada penyelesaian terakhir.
Apalagi apabila di ujung susukan induk ini kelak akan dibangun sebuah taman. Maka daerah ini, yang dahulu merupakan jantung Padang Karautan yang jarang dirambah oleh manusia, kelak pasti akan menjadi suatu padepokan yang subur dan semakin-lama akan menjadi semakin ramai. Betapa angan-angan yang dipenuhi oleh harapan itu mencengkam dada Mahisa Agni, sehingga untuk sejenak ia merenung ditempatnya. Baru ketika terasa gerimis kecil menyentuh tubuhnya Mahisa Agni menyadari dirinya. Ditengadahkan wajahnya dan dilihatnya langit yang hitam.
“Hujan.” desisnya, “Mudah-mudahan banjir tidak datang terlampau keras.”
Mahisa Agni masih mendengar deru air yang masih agak deras mengalir di sungai yang telah dibatasi oleh bendungan itu. Tetapi dalam kegelapan malam Mahisa Agni tidak dapat melihat, betapa keruh dan betapa banyak sesungguhnya air yang tertahan di atas bendungan itu. Karena gerimis menjadi semakin deras, maka Mahisa Agnipun segera meninggalkan bendungan itu kembali ke dalam gubugnya. Perlahan-lahan ia bergumam di dalam dirinya,
“Besok aku harus ikut bersama Akuwu ke Tumapel. Mudah-mudahan tidak terlampau lama berada disana. Aku ingin menunggui bagaimana bendungan ini terselesaikan.”
Begitu asyik Mahisa Agni bergelut dengan angan-angannya, sehingga ia tidak melihat seseorang berdiri di ujung perkemahan. Mahisa Agni berjalan bebera langkah dimuka orang itu, tetapi Mahisa Agni yang berjalan sambil menunduk itu tidak melihatnya. Baru ketika orang itu terbatuk kecil, langkah Mahisa Agni tertegun. Dipalingkannya wajahnya, dan dilihatnya seseorang berdiri acuh tidak acuh.
“Kau Kebo Ijo.” sapa Mahisa Agni.
Kebo Ijo berpaling. Desisnya, “Darimana kau Mahisa Agni?”
“Aku melihat bendungan itu Kebo Ijo. Ternyata aku menjadi sangat berterima kasih, bahwa selama aku tidak ada di sini, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel telah menyelesaikannya.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Dan sesaat kemudian Mahisa Agni menjadi terkejut karena Kebo Ijo tiba-tiba saja tertawa. Katanya, “Kenapa kau berterima kasih kepada kami semua yang selama ini bekerja tidak mengenal lelah, siang dan malam, apalagi ketika banjir yang pertama itu melanda bendungan yang belum siap benar itu. Akuwu sendiri telah banyak sekali berbuat untuk menyelamatkannya, bahkan menyelamatkan Ken Arok sendiri.”
“Justru karena itulah aku sangat berterima kasih.” jawab Mahisa Agni.
Suara tertawa Kebo Ijo mengeras. Katanya, “Aneh sekali. Apakah hakmu untuk menyatakan terima kasih kepada kami.”
Mahisa Agni terdiam. Sepasang matanya memancarkan berbagai pertanyaan yang bergolak di dalam dadanya. Ia sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan Kebo Ijo. Namun sejenak kemudian ia mendengar Kebo Ijo itu berkata lebih lanjut,
“Mahisa Agni, kau yang sama sekali tidak ikut berbuat apapun atas bendungan itu, jangan terlampau ikut berbangga karenanya. Apalagi kau merasa bahwa seakan-akan kaulah yang berhak untuk disebut sebagai pahlawan. Kau mungkin merasa bahwa bendungan itu bendunganmu, sehingga kau merasa wajib dan berhak berterima kasih kepada kami.” Kebo Ijo itu berhenti sejenak, lalu, “Tetapi ketahuilah, bahwa bendungan itu bukan bendunganmu. Bendungan itu adalah milik kami yang telah bekerja mati-matian. Sekarang kau datang ke dalam lingkungan kami. Akulah yang lebih berhak mengucapkan terima kasih kepadamu, seandainya kau mau membantu meskipun sekedar melemparkan sebongkah batu disaat terakhir. Itupun barangkali tidak dapat kau lakukan. Bukankah kau besok harus pergi ke Tumapel bersama Akuwu untuk menengok adikmu yang terlampau manja itu? Nah, tinggallah di Tumapel sepekan atau sebulan. Datanglah kemari apabila bendungan itu telah selesai. Tetapi ingat, jangan mengucapkan terima kasih kepadaku. Setelah kau tidak mempunyai sangkut paut dengan bendungan ini.”
Terasa dada Mahisa Agni berdesir. Wajahnya sekilas dijalari oleh warna merah. Tanpa sesadarnya dilayangkannya pandangan matanya berkeliling. Sepi. Tak ada seorangpun yang tampak. Tetapi Mahisa Agni tidak tahu, apakah orang-orang yang berada di dalam gubug itu sudah tidur atau masih bangun dan mendengar percakapan itu.
“Nah.” berkata Kebo Ijo, “sekarang tidurlah. Jangan kau hiraukan lagi bendungan itu. Ia telah tumbuh tanpa kau. Dan ia akan siap pula tanpa bantuanmu.”
Terasa goresan di dada Mahisa Agni menjadi semakin dalam. Bahkan kemudian timbul pertanyaan di dalam hatinya, “Apakah demikian anggapan setiap orang yang berada di perkemahan ini? Apakah mereka menganggap bahwa aku sama sekali tidak berarti lagi bagi mereka, karena aku tidak ikut serta berbuat banyak? Apakah demikian pula anggapan orang-orang Panawijen?”
Setitik keringat dingin mengembun di kening Mahisa Agni. Namun ia masih saja berdiam diri dalam kenangan seribu macam pertanyaan. Kebo Ijo melihat kebimbangan di dalam sikap Mahisa Agni. Agaknya kata-katanya berhasil menusuk langsung kedalam hati anak muda itu. Maka timbullah kegembiraan di hati Kebo Ijo yang aneh itu. Ia memang bertabiat demikian. Dan tabiatnya itulah yang telah mendorongnya kedalam perbuatan-perbuatan yang berbahaya bagi dirinya.
Karena Mahisa Agni tidak menjawab, maka berkata Kebo Ijo itu, “Apa lagi yang kau tunggu Agni. Pergilah tidur. Kau dapat menganyam angan-angan, bahwa kau besok akan bertemu dengan adikmu yang kini telah menjadi seorang permaisuri. Kau akan ikut merasakan kamukten yang didapatkannya. Nah, nikmatilah. Tetapi jangan menyinggung tentang bendungan ini.”
Mahisa Agni masih tetap berdiam diri. Terasa pergolakan di dalam dadanya menjadi semakin keras.
“Tetapi sambutan orang-orang Panawijen itu begitu baik kepadaku. Bahkan prajurit-prajurit Tumapel pun bersikap baik.” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya.
“Jangan bersedih.” berkata Kebo Ijo seterusnya, “kau memang lebih baik berada di Tumapel. Nunut kamukten yang didapatkan oleh adikmu dengan modal parasnya yang cantik.”
“Cukup.” tiba-tiba Mahisa Agni memotong, “kau boleh menghina aku dengan cara apapun, tetapi jangan menghina orang lain yang kau sangkut pautkan dengan aku. Sikapmu itu sejak dahulu memuakkan sekali bagiku. Mungkin kau benar, bahwa aku memang tidak dapat ikut berbangga dengan bendungan itu. Tetapi seandainya aku berbangga di dalam hati, itu adalah hakku, karena aku ikut serta meletakkan dasar bagi terbangunnya bendungan ini. Akulah yang memilih tempat, membuat rencananya dan memulainya. Tetapi aku tidak akan memperhitungkannya seperti seseorang yang meminjamkan jasanya kepada orang lain. Dihargai atau tidak dihargai, diakui atau tidak diakui itu sama sekali bukan urusanku dan bukan tujuanku. Siapapun yang membangun bendungan ini, aku tidak peduli. Tetapi aku merasa bersenang hati bahwa orang-orang Panawijen akan mendapat tempat dan ruangan baru untuk hidup. Tetapi yang sangat memuakkan adalah caramu menghina aku dan keluargaku. Kau sebut-sebut nama Ken Dedes dengan cara yang sangat menyakitkan hati.”
Dada Mahisa Agni berguncang ketika justru ia mendengar Kebo Ijo tertawa, “Apakah kau menjadi sakit hati karenanya? Aku mengatakan yang sebenarnya. Sama sekali bukan ceritera yang aku hisap dari ujung ibu jari kakiku. Bukankah Akuwu mengambil Ken Dedes dari Kuda Sempana dan Sempana mengambilnya karena ia cantik?”
Terasa dada Mahisa Agni bergetar, Tetapi justru dengan demikian ia menyadari keadannya sepenuhnya. Karena itu maka iapun menarik nafas dalam-dalam seolah-olah hendak mengendapkan segala macam perasaan yang membakar dadanya. Kini ia sadar sesadar-sadarnya bahwa Kebo Ijo sengaja membuatnya marah. Ia tidak tahu, apakah maksud anak muda itu. Tetapi bukanlah sebaiknya untuk melayaninya. Seandainya demikian, maka pasti akan timbul keributan, justru pada saat Akuwu Tunggul Ametung ada diperkemahan itu, dan justru setelah ia datang, sehingga kesan tentang dirinya pasti akan menjadi kurang baik. Pasti ada orang yang menganggap bahwa setelah diperkemahan itu ada Mahisa Agni, maka timbullah suatu bentrokan diantara mereka. Karena itu, maka Mahisa Agni itupun berusaha untuk menahan hatinya kuat-kuat. Dianggapnya ia tidak mendengar apapun. Dianggapnya suara Kebo Ijo itu seperti bunyi desir angin di dedaunan.
Dengan demikian, maka Mahisa Agni tidak mau mendengarkannya lagi. Ia ingin meninggalkannya dan pergi ke gubug yang disediakan untuknya bersama beberapa orang lain. Tetapi ketika baru saja kakinya melangkah ia mendengar Kebo Ijo itu tertawa lagi,
“He, kemana? Tidur? Baiklah. Tetapi sekali lagi, jangan mimpi tentang gelar pahlawan karena kau berhasil membuat bendungan. Lebih baik kau bermimpi tentang adikmu yang berhasil menjerat hati Akuwu karena kecantikannya.” Kebo Ijo berhenti sejenak, “He, adikmu memang cantik. Itulah sebabnya kakang Mahendra pernah menjadi gila dan berkelahi dengan kau di luar padukuhanmu karena kau mengaku bakal suami gadis itu.”
Kata-kata itu benar-benar menyakitkan hati. Seandainya Mahisa Agni masih belum mendapatkan kemantapan tentang dirinya dan berhasil mengalahkan Kebo Sindet, maka Kebo Ijo pasti sudah diterkamnya. Tetapi kini sikapnya menjadi lain. Ia tidak menyerangnya. Ditahankannya kemarahan di dalam hatinya. Namun terdengar giginya bergemeretak. Tetapi tiba-tiba mereka berdua, Mahisa Agni dan Kebo Ijo terkejut ketika tiba-tiba mereka mendengar dari balik perkemahan seseorang berkata,
“Kau sudah menjadi gila Kebo Ijo.” Ketika mereka berpaling, mereka melihat Witantra berdiri di sudut sebuah gubug yang pendek, “Apakah kau sadari apa yang kau katakan. Aku mendengar sebagian besar dari kata-katamu. Aku sengaja membiarkannya karena aku ingin tahu, bagaimanakah sikapmu sebenarnya. Dan kini aku melihatnya.” Witantra berhenti sejenak, lalu, “sebagai seorang pengawal bahkan yang diserahi tanggung jawab atas keselamatan, tubuh dan namanya, aku menganggap bahwa kau sudah sepantasnya mendapat hukuman. Kau telah menghina Tuan Putri Ken Dedes.”
Kebo Ijo sejenak menjadi pucat. Tetapi sejenak kemudian ia tersenyum, “Aku hanya bergurau kakang.”
“Tidak, kau tidak sedang bergurau. Aku dapat membedakan nada yang sama sekali bukan bergurau.” Witantra memotong, “tetapi sebagai seorang tua aku akan berbuat lain. Aku masih melihat kemungkinan yang baik dihari depanmu yang panjang. Karena itu, aku minta, supaya kau cabut kata-katamu supaya kesalahanmu dimaafkan. Dan kau harus minta maaf pula kepada Mahisa Agni. Lakukanlah.”
Sepercik warna merah membayang di wajah Kebo Ijo. Ia tidak menyangka bahwa ada orang lain yang mendengar kata-katanya, apalagi kakak seperguruannya yang gubugnya jauh berada di ujung lain. Karena itu untuk sejenak ia berdiri saja mematung. Agaknya kakaknya itu mendengar seluruh pembicaraannya. Dan kakaknya tidak percaya bahwa ia hanya sekedar bergurau saja. Namun yang tidak disangka-sangka oleh Kebo Ijo, adalah bahwa kakaknya itu menyuruhnya untuk mencabut kata-katanya dan minta maaf kepada Mahisa Agni.
Karena Kebo Ijo masih berdiam diri, maka Witantra itu berkata pula, “Lakukanlah Kebo Ijo, Hukuman itu terlampau ringan buatmu.”
Tetapi Kebo Ijo tidak segera berbuat sesuatu. Wajahnya yang pucat, kemudian kemerah-merahan, kini menjadi tegang.
“Apakah kau tidak bersedia?” Tidak ada jawaban.
Namun sekali lagi mereka terkejut ketika mereka mendengar seseorang berkata, “Kebo Ijo, sebaiknya kau tinggalkan kebiasaanmu yang buruk itu.”
Serentak mereka berpaling, dan segera mereka melihat siapakah yang berbicara itu. Ken Arok.
“Sudah beberapa kali aku nasehatkan, jangan membuat soal-soal yang tidak perlu.”
Wayah Kebo Ijo menjadi semakin tegang. Dan ia mendengar Witantra berkata semakin keras pula, “Lakukanlah. Kau harus mencabut kata-katamu dihadapanku, pimpinan pengawal Akuwu Tunggul Ametung dan kini ada dua saksi. Kemudian kau harus minta maaf kepada Mahisa Agni.”
Kebo Ijo kini berdiri gemetar. Ia tidak membayangkan bahwa hal serupa itu akan mungkin dilakukannya. Sejenak ia dicengkam oleh kebimbangan. Tetapi menilik sorot mata kakak seperguruannya, ia tidak dapat bermain-main lagi. Kakaknya itu agaknya benar-benar marah kepadanya. Apalagi kini telah hadir pula Ken Arok, yang ternyata mendengar pula pembicaraannya.
“Lakukanlah Kebo Ijo.” terdengar suara Ken Arok, “bukan suatu penghinaan bagimu. Tetapi dengan demikian kau akan selalu teringat, bahwa sikapmu yang demikian itu sama sekali tidak menguntungkan bagimu dan bagi siapapun juga. Kaupun harus ingat, bagaimana kau untuk pertama kali berada ditempat ini. Belum sehari kau sudah menumbuhkan persoalan. Sekarang, kedatangan Mahisa Agni kau songsong dengan sikapmu yang aneh itu.”
Wajah Kebo Ijo menjadi semakin tegang. Setitik keringat dingin merentul di dahinya. “Lakukanlah.” berkata Witantra. Ia nampak bersungguh-sungguh.
Tetapi yang terdengar kemudian adalah suara Mahisa Agni, “Kebo Ijo. Kalau kakakmu menghendaki kata-katamu itu dicabut, cabutlah. Tetapi bahwa kau harus minta maaf kepadaku hal itu tidak perlu kau ucapkan dengan kata-kata, tetapi asal pengakuan bersalah itu telah tumbuh di dalam hatimu, sebenarnya telah cukup bagiku.”
Kebo Ijo berpaling sejenak. Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Sekilas tampak perubahan pada wajah itu, tetapi Mahisa Agni sama sekali tidak tahu, apakah yang bergolak di dalam dada Kebo Ijo, sehingga terungkap pada perubahan wajah itu. Namun sejenak kemudian Kebo Ijo itu menundukkan wajahnya.
Witantra dan Ken Arok merasakan sentuhan yang lembut di dalam hati mereka. Pernyataan Mahisa Agni itu benar-benar telah menumbuhkan perasaan hormat di dalam diri mereka. Sehingga dengan demikian, maka sejenak mereka terdiam. Padang Karautan itu pun kemudian menjadi sunyi. Suara bilalang terdengar bersahut-sahutan dikejauhan. Sekali-sekali terasa angin yang lembut mengusap wajah-wajah mereka yang tegang.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar