MENU

Ads

Jumat, 24 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 195

Sejenak kemudian terdengar suara Witantra, “Kebo Ijo, kau benar-benar harus menyadari keadaan dirimu. Memang sulit untuk mencari kesempatan seperti yang diberikan oleh Mahisa Agni kepadamu. Tetapi kau harus benar-benar mengakui di dalam hatiniu, bahwa kau telah berbuat salah. Sekarang katakanlah, bahwa kau telah mencabut ucapanmu tentang Tuan Puteri. Dan katakanlah di dalam hatimu seperti yang dimaksudkan oleh Mahisa Agni, bahwa kau menyesali perbuatanmu.”

Kebo Ijo mengangkat wajahnya. Dipandanginya kakak seperguruannya, Ken Arok dan Mahisa Agni berganti-ganti. Tetapi ia sadar, bahwa kakaknya memang sedang bersungguh-sungguh. Karena itu, maka tidak ada pilihan lain yang harus dilakukan, kecuali memenuhi perintah kakaknya itu.

“Katakanlah Kebo Ijo.” teriak Witantra.

Kebo Ijo menelan ludahnya, lalu katanya, “Aku cabut kata-kataku tentang Tuanku Permaisuri itu kakang. Aku memang tidak bersungguh-sungguh bermaksud demikian.”

“Bersungguh-sungguh atau tidak, tetapi sudah berapa puluh kali aku memperingatkan, jagalah mulutmu. Mulutmu akan dapat menjerumuskan kau ke dalam suatu keadaan yang paling parah. Mulutmu dan sikapmu. Aku menyayangkannya, bukan saja karena kau adik seperguruanku, tetapi lebih dari pada itu adalah hari depanmu sendiri.”

Kebo Ijo mengangguk, “Ya kakang.”

“Untunglah Mahisa Agni bersikap terlampau baik. Kalau tidak, maka kau harus berlutut dihadapannya dan minta maaf kepadanya. Karena sebenarnyalah bahwa Mahisa Agni berhak untuk merasa ikut serta membangun bendungan itu, meskipun selama ini ia tidak dapat ikut melakukannya.”

“Bukan sekedar ikut serta membangun.” potong Ken Arok, “tetapi sebenarnya bahwa Mahisa Agni lah yang membuat bendungan itu. Tanpa Mahisa Agni, tidak ada seorang pun yang mengangan-angankan bahwa di tengah-tengah Padang Karautan dapat dibangun sebuah bendungan yang akan merubah sekaligus wajah dari padang ini. Kini sudah terbayang sebuah pedukuhan, meskipun masih samar-samar karena pepohonan yang ditanam masih terlampau muda. Tetapi pedukuhan itu sudah dapat kita gambarkan. Pedukuhan yang dikelilingi oleh sawah dan ladang. Pategalan dan kebun-kebun yang subur. Kemudian sebuah petamanan yang terbesar di Tumapel. Semua itu adalah karena Mahisa Agni bertekad untuk menemukan ruang hidup yang baru bagi orang-orang Panawijen.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sependapat sepenuhnya dengan kata-kata Ken Arok itu. Sedang Kebo Ijo sama sekali tidak menyahut. la masih menundukkan kepalanya. Hanya kadang-kadang ia mencoba memandang Mahisa Agni dengan sudut matanya. Tetapi sesaat kemudian matanya telah hinggap kembali pada rerumputan yang basah di bawah kakinya. Kebo Ijo itu berpaling kearah kakaknya ketika ia mendengar kakaknya berkata,

“Pergilah ke tempatmu. Tidurlah. Untuk seterusnya kau harus berhati-hati. Besok aku dan Mahisa Agni harus mengikuti Akuwu kembali keistana. Sepeninggalku kau jangan membuat persoatan yang dapat mempersulit kedudukanmu sendiri.” Kebo Ijo tidak menyahut, Tetapi iapun tidak segera beranjak dari tempatnya. Tetapi Witantra tidak mempedulikannya lagi. Bahkan ia sendirilah yang kemudian melangkah pergi sambil berkata, “Akupun akan tidur, supaya besok aku tidak terlambat bangun.”

Witantra dan Ken Arok pun segera pergi pula meninggalkan Kebo Ijo yang masih berdiri tegak di tempatnya. Mahisa Agni yang ingin beristirahat itu pun segera melangkahkan kakinya pula. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia melihat Kebo Ijo berjalan kearahnya. Tetapi agaknya Kebo Ijo itu tidak ingin berjalan bersamanya. Ketika melampauinya, maka terdengar ia berdesis,

“Kau menjadi besar kepala mendengar pujian-pujian itu bukan, Agni. Dan kau merasa dirimu pahlawan dari keluhuran budi dengan sikapmu yang berpura-pura, agar aku tidak usah minta maaf kepadamu. Suatu ketika kau pasti akan menyesal karenanya.”

Tetapi Mahisa Agni tidak sempat untuk menjawab. Kebo Ijo ternyata melangkah terus dengan tergesa-gesa dan hilang di balik dinding-dinding gubug yang bertebaran. Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa dugaannya tentang anak itu keliru. Ketika Witantra menasehatinya, dilihatnya anak muda itu menundukkan kepalanya. Tetapi ternyata bukan karena pengertiannya atau penyesalannya atas kesalahannya, Ia berbuat demikian semata-mata sekedar menyenangkan hati kakak seperguruanya itu. Namun agaknya justru tumbuh dendam di dalam dadanya.

“Hem.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian hal itu tidak dihiraukannya lagi tentang dirinya sendiri. Tetapi ia justru mencemaskan hubungan Kebo Ijo dengan Kuda Sempana, Kuda Sempana yang baru melangkah setapak demi setapak meninggalkan dunianya yang kelam, apabila ia terbentur kepada sikap Kebo Ijo yang gila-gilaan itu, maka kemungkinan-kemungkinan yang tidak diharapkan dapat terjadi. Kuda Sempana akan menjadi liar lagi dan terjerumus semakin dalam kedunia yang gelap pekat.

“Aku harus memberitahukannya kepada Ken Arok besok sebelum aku pergi, supaya persoalan ini mendapat perhatiannya.” gumam Mahisa Agni itu kepada diri sendiri.

Sesaat kemudian, maka Mahisa Agni pun telah berbaring di dalam gubugnya. Beberapa orang yang telah berada di dalamnya, telah tidur dengan nyenyaknya. Mereka ternyata masih merasa terlampau lelah sejak mereka berkelahi dengan banjir yang melanda bendungan mereka. Sedang bahaya serupa masih akan datang setiap saat apabila hujan turun di ujung sungai.

Di hari berikutnya, Akuwu Tunggul Ametung benar-benar meninggalkan Padang Karautan bersama pengawal-pengawalnya dan Mahisa Agni. Sebelum mereka berangkat, Mahisa Agni memerlukan menyampaikan pesannya tentang Kuda Sempana dan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi karena sikap Kebo Ijo. Ketika serombongan kuda yang membawa Akuwu Tunggul Ametung dan pengiringnya sudah berderap menjauh, maka Kebo Ijo yang berdiri disamping Ken Arok pada saat mereka melepas rombongan itu pergi, segera saja berbisik,

“Hem, aku berbangga melihat rombongan itu.”

Ken Arok berpaling. Sambil mengerutkan dahinya ia bertanya, “Kenapa?”

“Bukankah mereka bermaksud menangkap Kebo Sindet?” desis Kebo Ijo. “Kebo Sindet seorang diri telah berhasil menggegerkan seluruh Tumapel. Bahkan Akuwu Tunggul Ametung memerlukan pergi sendiri untuk menangkapnya.”



Ken Arok tidak menyahut. Ketika ia melayangkan pandangan matanya ia masih melihat kuda-kuda itu yang semakin jauh. Seperti noda-noda yang kehitam-hitaman bergerak-gerak di bawah langit yang biru, di atas hamparan padang rumput yang luas. Tetapi Ken Arok itu berpaling ketika mendengar Kebo Ijo tertawa pendek,

“Akuwu adalah seorang yang luar biasa. Tetapi untuk menangkap seorang Kebo Sindet, ia terpaksa membawa sepasukan kecil prajurit-prajurit pilihan. Bahkan kau pun akan dibawanya pula.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Akuwu masih belum yakin bahwa Kebo Sindet hanya seorang diri saja. Mungkin ia mempunyai beberapa orang kawan di dalam sarangnya. Itulah sebabnya Akuwu membawa beberapa orang prajurit bersamanya.”

Kebo Ijo tertawa pula. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Mungkin. Mungkin pula demikian. Tetapi itu pun menggelikan. Apakah yang dapat dilakukan oleh prajurit-prajurit sandinya? Apakah mereka tidak menyelidiki lebih dahulu, apakah dan siapakah yang akan mereka hadapi?”

“Tentu sudah dilakukan.” jawab Ken Arok, “tetapi agaknya Akuwu kali ini ter-gesa-gesa.”

“Karena desakan isterinya yang cantik itu.” gumam Kebo Ijo, “Ternyata gadis Panawijen itu benar-benar membahayakan Akuwu sendiri. Ia tidak tahu bahaya yang dapat mengancam Akuwu. Ia hanya menuruti suara perasaannya saja, agar Mahisa Agni segera dilepaskan. Tetapi ia tidak mempertimbangkan segi-segi yang lain. Sedang Akuwu pun telah benar-benar jatuh di bawah telapak kaki perempuan itu. He, apakah kau pernah mendengar dongeng bahwa Akuwu telah memasrahkan seluruh Tumapel kepada Ken Dedes sesaat sebelum mereka kawin. Maksudku, pada saat Akuwu membujuk perempuan itu untuk menjadi permaisurinya.”

“Ah, ceritera itu tidak penting bagiku. Keduanya sama saja. Warisannya akan jatuh ketangan putera atau puteri mereka bersama-sama. Bukankah sama saja? Apakah keturunannya itu akan menerima dari ayah atau ibunya?”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tertawa. Dipandanginya bintik-bintik yang semakin lama menjadi semakin kecil ditengah-tengah padang yang luas Itu. Sejenak kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berdesis diantara suara tertawanya,

“He, apakah yang sedang kau renungkan?”

Ken Arok berpaling. Jawabnya, “Tidak ada. Aku tidak sedang merenungkan apa-apa.”

“Bohong.” Pandangan matanya tampak mengambang terlampau jauh. “Apakah kau sedang berpikir tentang hak atas Tumapel yang kini telah berada ditangan Ken Dedes dengan suka rela atas kehendak Akuwu Tunggul Ametung?”

“Buat apa aku memikirkannya? Sudah aku katakan bahwa hal itu tidak berpengaruh apapun.”

Kebo Ijo tertawa semakin keras. Katanya, “Apakah kau sudah pernah melihat Ken Dedes?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. “Apakah kau sedang mengigau?”

“Tidak. Aku bertanya kepadamu, apakah kau sudah pernah melihat Ken Dedes.”

“Tentu sudah.”

“Dari dekat dan untuk waktu yang lama? Bukankah kau berada dalam kesatuan yang lain dari Pengawal Istana? Hem, aku agaknya mendapat kesempatan menyaksikannya lebih dekat, Gadis itu memang cantik. Sayang, aku sudah beristeri Kalau belum… “ Kebo Ijo berhenti sejenak. Dipalingkannya wajahnya. Ketika tidak ada orang yang berdiri terlampau dekat dibelakangnya ia berbisik, “Kalau belum, aku akan membunuh Tunggul Ametung. Aku kawini Permaisuri itu. Aku akan mendapat seorang isteri yang sangat cantik dan sekaligus akan mendapat keturunan yang akan memiliki Tumapel.”

“Tutup mulutmu.” tiba-tiba Ken Arok membentak. Wajahnya menjadi semburat merah. Katanya kemudian, “Mulutmu memang terlampau jelek Kebo Ijo. Ingat, bahwa aku dapat berbuat banyak karena aku mendengar kata-katamu itu. Aku dapat melaporkannya kepada Witantra pimpinan pengawal. Apabila perlu, maka persoalan ini dapat sampai kepada Akuwu sendiri, dan kau tahu apakah hukumannya? Kau dapat dihukum mati karenanya.”

Kebo Ijo tiba-tiba tersentak. Dahinya menjadi berkerut-merut. Lalu katanya, “Ah. Jangan begitu. Kau sangka aku berkata bersungguh-sungguh.”

“Aku tahu bahwa kau sekedar bergurau. Tetapi kau harus selalu ingat pesan kakak seperguruanmu. Jagalah mulutmu, supaya kau tidak digantung tanpa sebab.”

“Dan bukankah hal itu sama sekali tidak terjadi? Akuwu Tunggul Ametung tidak mati terbunuh dan aku tidak mengawini isterinya?”

“Tetapi bagaimana kalau orang menuduhmu, bahwa kau sedang merencanakannya. Dan kau dihukum karena merencanakan pembunuhan atas Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, dengan tujuan merebut kekuasaan yang ada ditangannya dengan kekerasan.”

“Omong kosong. Hanya orang gila yang akan menuduh aku berbuat demikian.”

“Bukan orang gila. Kaulah yang gila. Untunglah bahwa hanya aku yang mendengar sendau guraumu yang gila ini. Kalau ada orang lain maka kemungkinannya akan dapat berbeda. Untuk seterusnya kau harus selalu ingat kepada pesan-pesan Witantra. Mulutmu akan dapat menyeretmu dalam kesulitan.”

Kebo Ijo tidak segera menjawab. Matanya kini menatap bintik-bintik yang telah mulai hilang dikejauhan, dibayangi oleh gerumbul-gerumbul liar yang tumbuh bertebaran di Padang Karautan itu.

“Ingat Kebo Ijo.” desis Ken Arok, “bukan orang gila yang menuduhmu, bahwa suatu ketika kau akan melakukannya. Tetapi orang-orang yang justru mempunyai otak yang baik, yang mencari kesempatan dan ingin menjerumuskan kau ke dalam kesulitan. Tidak semua orang baik kepadamu atau kepadaku atau kepada siapapun. Di Padang Karautan ini hampir setiap orang mengenal tabiatmu. Mulutmu terlampau besar dan kau mempunyai sifat yang meledak-ledak, bahkan kadang-kadang tidak terkendali. Kau ingat apa yang kau katakan kepada Mahisa Agni semalam. Mahisa Agni, betapapun juga adalah ipar tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Ingat hal itu.”

Kebo Ijo masih terbungkam. Namun wajahnya kini menjadi tegang. Beberapa orang yang berdiri agak jauh dari mereka, melihat wajah-wajah yang tegang itu. Tetapi mereka tidak mendengar apa yang sedang mereka percakapkan. Sejenak Ken Arok pun berdiam diri pula. la benar-benar menyesali sikap Kebo Ijo itu, meskipun Ken Arok sendiri meragukan penyesalan di dalam hati Kebo Ijo. Mungkin Kebo Ijo kini sedang mengumpatinya di dalam hatinya. Tetapi adalah kewajibannya untuk memberikan peringatan-peringatan kepadanya. Bahkan Ken Arok itu berkata di dalam hatinya,

“Kalau perlu aku dapat berbuat lebih keras, justru untuk kebaikan Kebo Ijo sendiri.”

Ken Arok pun kini dapat menyadari, mengapa Mahisa Agni memerlukan berpesan kepadanya, supaya ia mengawasi lebih banyak hubungan antara Kebo Ijo dan Kuda Sempana. Mereka bersama-sama berada di Padang Karautan dalam satu perkemahan. Mereka pasti akan sering bertermu dan bahkan berbicara. Hal-hal yang tidak dikehendaki akan dapat timbul. Sifat Kebo Ijo yang meledak-ledak dan Kuda Sempana yang sedang diguncang oleh keadaan, akan mudah sekali berbenturan.

Sesaat kemudian tiba-tiba Ken Arok itu berkata, “Marilah. Kita masih mempunyai banyak pekerjaan. Bendungan itu belum selesai benar. Kita masih harus mengerjakan penyelesaiannya.”

“Kenapa bukan Mahisa Agni yang menyelesaikan?” sahut Kebo Ijo acuh tidak acuh.

“Kau sudah mulai lagi?” desis Ken Arok.

“Oh.” tiba-tiba sja Kebo Ijo itu tertawa. “Baiklah, marilah kita bekerja.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Terlampau sulit untuk menguasai sifat Kebo Ijo. Tetapi ia bertekad untuk sedikit demi sedikit merubah sifat itu. Ken Arok merasa sayang, bahwa hari depan Kebo Ijo akan terganggu oleh sifatnya sendiri yang kurang terkendali. Ken Arok dan Kebo Ijo itu pun segera pergi kepekerjaan mereka, setelah mereka tidak dapat lagi melihat rombongan Akuwu Tunggul Ametung. Bersama-sama dengan orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel, mereka pergi ke tempat pekerjaan masing-masing. Ada yang pergi ke bendungan, kesusukan induk, parit-parit dan taman serta sendang buatan. Beberapa orang yang lain menggali parit-parit pengaman di sekitar bendungan, untuk mengurangi tekanan air apabila diperlukan.

Ken Arok sendiri selalu mondar-mandir dari satu tempat ketempat yang lain. Ia berusaha untuk melihat semua segi yang sedang dikerjakan supaya tidak terjadi kesalahan, sehingga pekerjaan itu akan terpaksa diulangi. Dengan demikian mereka akan kehilangan waktu dan tenaga.

Sedang Kebo Ijo pun selalu berbuat serupa. Seperti Ken Arok ia berpindah dari satu sudut kesudut yang lain. Sebenarnya ia cukup cakap melakukan pekerjaannya. Ia mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Tetapi yang sulit baginya, adalah mengendalikan diri, menahan mulutnya dan sifat-sifatnya yang sombong. Sehingga tanggapan orang-orang Panawijen dan para prajurit kepadanya jauh berbeda dengan tanggapan mereka terhadap Ken Arok.

Ki Buyut Panawijen kadang-kadang bertanya-tanya pula di dalam hatinya, apakah yang dikehendaki oleh Kebo Ijo itu sebenarnya? Tetapi orang tua itu mencoba untuk mengambil kesimpulan, bahwa sebenarnya Kebo Ijo hanya didorong oleh sifat-sifatnya yang kurang menyenangkan.

Kuda Sempana yang ditinggalkan di Padang Karautan itu, masih belum dapat segera menyesuaikan dirinya. Setiap ia melihat dua tiga orang berkumpul dan bercakap-cakap, ia selalu merasa bahwa orang itu sedang mempercakapkannya. Karena itu, maka setiap kali ia merasa cemas dan kadang-kadang menjadi bingung, meskipun setiap kali Ken Arok mencoba meletakkannya kedalam keadaan yang sewajarnya.

Setiap kali Ken Arok melihat Kuda Sempana duduk menyendiri. Bahkan kadang-kadang ia membenamkan diri di dalam gubugnya Sekali-sekali ia mencoba juga berkumpul dengan orang-orang Panawijen atau dengan prajurit-prajurit Tumapel atas anjuran Ken Arok, tetapi setiap kali ia merasa terasing. Oleh Ken Arok Kuda Sempana dibawa pula kebendungan untuk ikut serta bekerja bersama-sama. Tetapi ia selalu diam dan seolah-olah merasa kesepian di dalam hiruk-pikuk yang ribut itu. Semakin riuh orang-orang bekerja di sekitarnya, maka ia pun merasa semakin sepi dan sendiri.

“Saharusnya kau mencoba menyesuaikan dirimu.” berkata Ken Arok, “kau tidak perlu menyimpan prasangka apapun. Aku dan Ki Buyut sudah memberi penjelasan tentang dirimu dan agaknya orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel dapat menerima kau kembali di antara mereka.”

Kuda Sempana selalu tidak menjawab. Tetapi wajahnya yang ngelangut, seakan-akan masih memancarkan keputus-asaannya menghadapi hari depan yang baik.

“Lambat laun.” berkata Ken Arok didalam hatinya. “Mudah-mudahan ia tidak terbentur sikap Kebo Ijo.”

Dan ternyata sampai dihari-hari berikutnya, Kebo Ijo masih bersikap acuh tak acuh saja terhadap Kuda Sempana. Sikap itu adalah sikap yang sebaik-baiknya dilakukan. Sebab setiap perhatian yang diberikan oleh Kebo Ijo terhadap sesuatu, sudah pasti anak muda itu akan melihat pertama-tama dari segi yang kurang baik. Setelah ia terbentur pada beberapa kenyataan, barulah ia dapat berpikir.

Di hari-hari berikutnya orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel telah tenggelam kembali kedalam kerja yang sibuk. Mereka telah cukup beristirahat dan mereka telah mulai lagi dengan kerja mereka siang dan malam, meskipun tidak semalam penuh. Sebab pekerjaan merekapun kini berangsur berkurang. Bendungan mereka telah mendekati penyelesaian terakhir, sehingga para prajurit sebagian terbesar telah ditarik untuk dipekerjakan disendang buatan dan susukan induk. Beruntunglah mereka, bahwa hujan yang terlampau lebat tidak datang lagi dengan membawa banjir. Kadang-kadang air memang naik, tetapi tidak memhahayakan.

Beberapa hari telah lampau. Tetapi Mahisa Agni masih belum kembali ke Padang Karautan. Namun Ken Arok sama sekali tidak terlampau mengharapkannya. Ia dapat mengerti, betapa kerinduan mencengkam hati Ken Dedes atasnya. Satu-satunya keluarga yang masih dapat diharapkannya. Yang selama ini telah disangkanya hilang, ternyata datang kembali.

Namun, meskipun Ken Dedes menyambut kehadiran Mahisa Agni dengan tetesan air mata, tetapi tanpa diketahuinya, seorang emban tua menangis hampir pingsan di dalam biliknya karena kegembiraan yang tidak tertahankan. Emban tua yang hampir dicekik oleh keputus-asaan itu, telah menemukan satu-satunya anaknya kembali. Mahisa Agni ternyata masih hidup, dan kini dapat ditemuinya, meskipun ia harus menyembunyikan semua persoalan. Tetapi itu tidak penting baginya. Yang diharapkannya siang dan malam, yang selalu diucapkannya di dalam doanya kepada Yang Maha Agung, kini telah mengembalikan Mahisa Agni itu kembali dengan selamat.

Kegembiraan yang meluap itulah yang telah menahan Mahisa Agni untuk beberapa hari. Kegembiraan Permaisuri ternyata melimpah kepada Akuwu Tunggul Ametung pula. Ia telah melupakan kejengkelan hatinya, bahwa bukan dirinyalah yang berhasil menolong Mahisa Agni. Tetapi ia bergembira ketika dilihatnya wajah Permasurinya telah menjadi cerah. Secerah matahari di langit. Dengan demikian, terasalah kini, betapa ia dapat hidup dengan senang, dan merasa dirinya dalam hubungan yang wajar dengan Permaisurinya.

Tetapi Mahisa Agni pada saatnya harus minta diri kepada Ken Dedes, kepada emban tua pemomong Ken Dedes dan kepada Akuwu Tunggul Ametung. Ia ingin segera kembali ke Padang Karautan, setelah beberapa hari menikmati tata kehidupan yang belum pernah dialami. Hidup di dalam istana dalam limpahan kesenangan yang belum pernah diimpikan. Tetapi bendungan di Padang Karautan ternyata memberinya kebahagiaan tersendiri.

Bahkan Mahisa Agni merasa lebih terikat kepada bendungan itu dari pada istana Tumapel yang ditaburi oleh berbagai macam kemewahan. Meskipun di Padang Karautan ia tidur di dalam gubug yang sempit, di atas setumpuk rumput-rumput kering dan beralaskan tikar yang kasar, serta dikerumuni oleh semut dan nyamuk, namun Padang Karautan adalah dunia yang paling menyenangkan baginya, diantara kesibukan kerja dan menghijaunya tanaman yang sedang bersemi.

Meskipun Ken Dedes, emban tua pemomong Ken Dedes dan Akuwu Tunggul Ametung mencoba menahannya, namun Mahisa Agni harus segera kembali. Ia tidak betah tinggal di dalam kemewahan selagi orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel bekerja keras memeras keringat mereka. Demikianlah, Mahisa Agni itu pun akhirnya meninggalkan istana Tumapel. Tetapi kepergiannya kali ini tidak terlampau banyak menumbuhkan kecemasan dan kebingungan. Mahisa Agni pergi dengan tujuan tertentu dan untuk suatu tugas tertentu pula. Tetapi Mahisa Agni ternyata tidak langsung pergi ke Padang Karautan. Mumpung ia berada dalam perjalanan. Diperlukannya singgah kerumah pamannya Empu Gandring.

Mahisa Agni mencoba untuk mengejutkan pamannya. Ia tidak masuk lewat pintu depan, tetapi ia menyusup ke regol belakang, sehingga beberapa orang cantrik yang melihatnya menjadi terheran-heran.

“Siapakah kau?” bertanya seorang cantrik.

“Aku ingin menghadap Empu Gandring.” jawab Mahisa Agni.

“Apa keperluanmu?”

“Aku ingin memesan sebilah keris yang paling berharga dan paling bertuah dari antara segala macam keris.”

“Ah.” cantrik itu mengerutkan keningnya, “apakah kau berkata bersungguh-sungguh?”

“Tentu. Katakanlah kepada Empu Gandring, bahwa aku tamu dari Kemundungan.” Cantrik itu masih saja ragu-ragu.

“Cepatlah. Aku segera ingin bertemu dengan Empu Gandring.”

“Tetapi kenapa kau masuk lewat jalan yang tidak seharusnya kau lalui? Seharusnya kau masuk lewat pintu depan.”

“Oh.” Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “aku tidak mengerti. Tetapi itu tidak penting. Yang tenting bagiku adalah, segera bertemu dengan Empu Gandring. Aku segera ingin memesannya.”

Cantrik itu masih ragu-ragu. Dan Mahisa Agnipun menjadi semakin mendesaknya, “Cepat. Sampaikanlah kepada Empu Gandring. Empu sudah mengerti siapakah tamunya yang datang dari Kemundungan.”

Cantrik itu meng-angguk-anggukkan kepalanya. Dalam kebimbangan ia melangkah menuju keserambi belakang untuk mencari Empu Gandring. Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar suara dari batik regol halaman, justru diluar,

“Aku memang sudah tahu benar, siapakah tamuku dari Kemundungan.”

Ternyata bukan Mahisa Agni lah yang mengejutkan pamannya, tetapi justru ia sendirilah yang terkejut Ketika ia berpaling ternyata dilihatnya pamannya berdiri diregol halaman memandanginya dengan tajamnya.

“Paman.” desis Mahisa Agni.

Pamannya tersenyum, katanya, “Aku berbangga bahwa aku mendapat tamu dari Kemundungan.”

Sejenak Mahisa Agni tertegun ditempatnya. Namun sejenak kemudian segera ia melangkah dan berlutut di depan pamannya. Tetapi Empu Gandring segera memegang lengannya dan menariknya berdiri. Katanya,

“Marilah kita masuk Agni.”

Dibimbingnya Mahisa Agni masuk keruang dalam. Kemudian mereka duduk diatas tikar pandan yang putih.

“Aku tidak terkejut melihat kedatanganmu Agni. Agaknya kau terlampau berangan-angan akan mengejutkan aku, sehingga kau tidak melihat aku berdiri di ujung halaman. Aku melihat kau menyusup jalan sempit ini dan menuju ke regol belakang. Aku tahu, bahwa kau ingin mengejutkan aku.”

“Ya paman.” sahut Mahisa Agni sambil tersenyum.

“Aku memang sudah pasti bahwa kau akan terlepas dari tangan Kebo Sindet, Agni.”

“Dari siapakah paman tahu?”

“Apakah gurumu tidak pernah berkata bahwa aku menyusulmu ke Kemundungan dan bertemu dengan gurumu yang menunggui rawa-rawa yang berisi segala macam binatang air itu?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Gurunya memang pernah menyinggung-nyinggungnya.

“Apakah gurumu sendiri yang menangani Kebo Sindet itu?” bertanya Empu Gandring.

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu. Tetapi bukankah Empu Gandring itu adalah pamannya?. Maka akhirnya diceriterakannya apa saja yang pernah terjadi atasnya dan apa saja yang pernah dilakukannya. Gurunya dan Empu Sada bersama-sama telah mempergunakan dirinya untuk melawan Kebo Sindet dan mengalahkannya. Sehingga Kebo Sindet itu pun akhirnya terbunuh.

“Hem.” Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian menarik nafas dalam-dalam, “ternyata kau memiliki kemampuan yang luar biasa Agni. Aku menjadi iri hati terhadap kedua orang itu. Kenapa aku tidak menitipkan beberapa macam ilmu yang tidak berarti kepadamu juga?” Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi dengan demikian hatinya menjadi berdebar-debar. “Apakah kau tergesa-gesa melakukan perjalanan pula Agni, atau kau mempunyai kesempatan untuk tinggal disini beberapa hari?”

“Aku harus segera sampai ke Padang Karautan, paman. Aku telah merindukan kerja itu.”

“Aku mengharap kau tinggal disini sepekan saja. Mungkin aku masih belum dapat melepaskan rinduku. Begitu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Tetapi keningnya menjadi berkerut-merut. Ia ingin memenuhi permintaan pamannya yang pada saat-saat ia berada dalam keadaan yang sulit, telah berusaha pula untuk melindunginya, meskipun ternyata betapa tinggi ilmunya, namun ilmu itupun terbatas pula, Kemampuan manusia tidak akan dapat mencapai suatu tingkatan dimana ia tidak dapat dibatasi lagi, sehingga pamannya itupun ternyata tidak berhasil menyelamatkannya. Seperti Kebo Sindetpun akhirnya terkalahkan oleh orang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Tetapi iapun ingin segera berada di Padang Karautan pula. Diantara orang-orang Panawijen yang bekerja keras bersama-sama prajurit-prajurit Tumapel. Namun disamping itu, ia masih mempunyai tanggungan Kuda Sempana. Mudah-mudahan Kuda Sempana tidak menjadi liar dan pergi meninggalkan Padang Karautan itu. Yang dicemaskannya pula adalah Kebo Ijo. Apalagi hubungan yang mungkin sangat buruk antara Kebo Ijo dan Kuda Sempana.

Dalam keragu-raguan itu terdengar suara pamannya, “Apa kah kau masih ingin menunggui bendunganmu?”

Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Ya paman. Aku ingin melihat bendungan itu diselesaikan.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu betapa keinginan itu pasti memenuhi dada Mahisa Agni. Sekian lama ia terpisah dari pekerjaan itu. Dan kini ia tinggal melihat pekerjaan itu yang sudah hampir selesai.

“Ya, aku mengerti Agni.” desis pamannya, “kau pasti ingin berada di sana. Baiklah. Aku tidak akan menahanmu. Tetapi tersimpan di dalam diriku, keinginan untuk menyerahkan beberapa segi dari ilmuku kepadamu. Namun aku tidak tahu, apakah hal ini mungkin aku lakukan.”

“Kenapa paman?” bertanya Mahisa Agni, “aku akan sangat berterima kasih. Dengan demikian aku akan dapat melengkapi ilmu yang ada padaku.”

Tiba-tiba mata Empu Gandring menjadi suram. Katanya, “Ah, ilmumu sudah cukup baik Agni.”

“Tetapi aku akan dapat mengambil manfaat dari ilmu yang akan paman berikan.”

Empu Gandring mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ya, apabila aku masih dapat melihat kau datang kemari Agni. Apabila kau kelak berkesempatan, aku akan memberikan itu kepadamu.”

“Tentu paman. Aku akan memerlukan datang kemari.”

Tiba-tiba Empu Gandring menggeleng. “Mungkin kau akan datang lagi kemari, tetapi getaran di dalam dadaku, seakan-akan menolak kemungkinan, bahwa kau akan dapat menerima ilmuku.”

“Kenapa paman?”

Koleksi : Ki Ismoyo
Scanning : Ki Ismoyo
Retype : Ki Sukasrana
Proofing : Ki Mahesa
Cek ulang : Ki Arema






OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar