PdLS-40
SEKALl lagi Empu Gandring menggeleng. “Aku tidak tahu. Tetapi sekarang aku sudah tua, meskipun belum terlalu tua.“ Empu Gandring terdiam sejenak. Lalu, “tetapi baiklah kita tidak berbicara tentang segala macam kemungkinan yang tidak kita ketahui dengan pasti. Sekarang kau telah berada di sini. Kau akan bermalam bukan? Aku akan mempergunakan waktu yang singkat ini. Meskipun aku tidak dapat memberikan ilmu kanuragan kepadamu, karena kini sudah memiliki kemampuan melampui aku, tetapi aku mempunyai pengetahuan yang belum kau miliki, yang aku kira dapat kau pelajari dalam waktu yang singkat. Aku adalah seorang pembuat keris, nah, kau akan dapat mempelajari, bagaimana aku membuat ramuan-ramuan bisa untuk warangan dan untuk menolaknya. Kau akan dapat mempelajari kemungkinan pengobatan dan kau dapat memperkembangkannya sendiri. Apakah kau bersedia?”
“Tentu, tentu paman. Aku sangat berterima kasih. Semua ilmu dan pengetahuan akan sangat berarti bagiku?”
“Baiklah. Tetapi kini kau perlu beristirahat. Nanti malam aku akan memberimu pengetahuan itu. Sekarang kau dapat menemui orang-orang yang pernah kau kenal di sini di masa kecilmu. Tetapi aku kira mereka tidak akan dapat mengenal kau lagi setelah sekian tahun kau tidak menginjak halaman rumah ini.”
Demikianlah maka Mahisa Agni semalam berada di rumah pamannya. Dengan bersungguh-sungguh ia mempelajari dengan cepat, mengenai ramuan-ramuan obat-obatan, bisa dan penawarnya. Meskipun ilmu itu lama sekali belum cukup tetapi Mahisa Agni akan dapat memperkembangkan sendiri. Ia akan dapat menemukan banyak bahan-bahan di Padang Karautan. Ular, binatang-binatang berbisa lainnya, lebah, dan kadal hijau. Tetapi juga berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, bunga-bungaan dan buah-buahan.
Ketika kemudian fajar pecah di ujung timur, maka barulah Empu Gandring selesai. Dengan wajah yang lelah, orang tua itu berkata, “Apakah kau benar-benar akan pergi pagi ini?”
“Ya paman.”
“Semalam suntuk kau tidak beristirahat.”
“Perjalananku tidak terlampau berat. Aku dapat tidur di atas punggung kuda.”
Empu Gandring tersenyum. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Mudah-mudahan aku masih sempat melihat kau datang kemari Agni.”
“Tentu paman. Aku akan datang kemari secepatnya.”
“Aku percaya. Tetapi mudah-mudahan kau masih dapat melihat aku berada di dalam rumah ini.”
“Kenapa?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu Agni. Tetapi aku merasa bahwa sebaiknya aku segera menurunkan ilmu yang ada padaku kepada orang lain sebelum terlambat. Aku percaya kepadamu lebih dari orang-orang lain, bahkan keluargaku sendiri.”
“Aku akan segera datang paman. Sebelum terjadi sesuatu atas paman. Apabila bendungan itu sudah selesai, aku akan tinggal di sini beberapa lama. Aku akan menerima segala petunjuk dan ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu yang lain. Olah kajiwan dan segala bentuk pengengahuan.”
Tetapi wajah pamannya itu masih saja suram. Perlahan-lahan ia berdesah. Katanya, “Aku tidak tahu, kenapa aku selalu diganggu oleh kegelisahan di saat-saat terakhir. Kedatanganmu memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepadaku Agni. Sepeninggalmu aku akan menjadi gelisah lagi, meskipun sudah tidak seperti kemarin, sebelum kau datang.”
Mahisa Agni tidak segera menyahut. Terasa sentuhan-sentuhan halus pada pusat jantungnya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh pamannya. Tetapi ia melihat, betapa orang tua itu dibayangi oleh kegelisahan yang sangat.
“Agni.” terdengar suara orang tua itu dengan nada yang dalam, “kalau kelak kau tidak dapat melihatku lagi, maka usahakanlah untuk mengembangkan setitik ilmu yang aku berikan kepadamu, sekedar sebagai bekal untuk memulainya. Selama ini aku akan menyusun aksara-aksara di atas rontal, tentang ilmu pengobatan, bisa-bisa dan sedikit uraian tentang ilmu kanuragan. Pada suatu saat datanglah kau kepadaku Agni. Aku akan memberikannya kepadamu. Tetapi seandainya kau sudah tidak menemui aku lagi, dan aku tidak dapat menitipkan ilmu kanuragan itu langsung kepadamu, maka kau akan dapat menemukan rontal itu.”
“Paman.” potong Mahisa Agni, “apakah yang sebenarnya terjadi dengan paman? Apakah paman sedang menunggu lawan yang menurut perhitungan paman, melampaui kemampuan paman untuk melawannya? Apabila demikian paman, maka aku akan tinggal di sini. Aku akan tinggal di sini Aku akan mencoba membantu paman, meskipun aku harus minta diri kepada Ken Arok lebih dakulu.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Ah, aku memang sedang diburu-buru oleh mimpi yang menegangkan urat syarafku. Tidak Agni. Aku tidak apa-apa. Aku tidak sedang menunggu seorang musuh pun, sebab aku sampai saat ini tidak merasa punya persoalan apa pun, dengan siapa pun.”
“Tetapi kenapa paman merasa gelisah?”
“Itulah Agni.“ jawab pamannya, “baru sesaat ini aku sadar. Inilah keringkikan jiwaku. Inilah kelemahanku. Seharusnya aku tidak menjadi gelisah.“ Empu Gandring berhenti sesaat. Lalu, “Sudahlah, kita tidak usah berbicara tentang diriku, kegelisahanku dan kelemahan jiwaku. Aku akan mencoba untuk menyadari setiap keadaan dengan akal. Tidak sekedar dengan perasaan saja. Meskipun demikian aku akan tetap berpesan kepadamu Agni, seandainya kau belum datang, dan aku sudah selesai dengan rontalku, maka rontal itu akan berada di atap rumah ini, di bawah ijuk di sudut Barat bagian depan. Kau mengerti?”
Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian ia tidak mendesak pamannya, kenapa ia menjadi gelisah sekali. Seolah-olah ia sedang berada di dalam bahaya yang dahsyat. Tetapi pamannya itu tidak mengatakan apapun juga. Seandainya, Padang Karautan tidak mempunyai daya hisapan yang luar biasa atasnya, maka ia pasti akan mengurungkan niatnya. Ia ingin berada bersama pamannya, untuk mengurangi kegelisahan orang tua itu. Menurut pengertiaannya, Empu Gandring adalah seorang yang hampir mumpuni. Seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Ia dapat berdiri berjajar dengan Kebo Sindet, Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain-lain. Tetapi kenapa orang tua itu tiba-tiba telah dibayangi oleh kegelisahan yang sedemikian tajamnya?
Sekali lagi Mahisa Agni dicengkam oleh kebimbangan. Tidak sekedar karena ia ingin menerima ilmu yang akan diberikan oleh pamannya untuk melengkapi ilmunya, tetapi ia melihat sesuatu yang tidak dimengertinya membayang di hati pamannya. Namun Padang Karautan ternyata tidak dapat dikesampingkannya. Ia merasa, bahwa ia harus segera berada di antara orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan. Ia merasa wajib untuk berada di tengah-tengah kerja itu. Karena itu, alangkah berat hatinya, apabila ia harus menunda lagi keberangkatannya.
“Aku harus mengesampingban semua persoalan, untuk sementara.“ desisnya di dalam hati, “aku harus di tengah-tengah kerja itu.”
Dengan demikian maka betapa berat hatinya, namun akhirnya Mahisa Agni pun harus minta diri kepada pamannya. Dengan berat hati pula pamannya melepaskannya.
“Ingat Agni. Kalau kau mendapat kesempatan, segeralah datang. Tetapi kalau tidak, maka ingat pulalah, bahwa aku akan menyimpannya di atas atap, di bawah susunan ijuk. Di sudut Barat bagian depan dari rumah ini.”
“Aku akan segera datang paman. Tentu.“
“Ya, ya. Mudah-mudahan kau segera datang. Meskipun demikian aku akan berpesan kepada setiap orang di padepokanku ini, bahwa kau akan mendapat keleluasaan untuk berbuat apa saja di rumah ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasa dihadapkan pada suatu teka-teki yang tidak dapat ditebakinya, sedang agaknya Empu Gandring sendiri masih belum dapat mengetahui tebakan dari teka-tekinya itu. Ketika kemudian matahari naik di atas perbukitan, maka Mahisa Agni itu pun segera meninggalkan padepokan pamannya. Meskipun hatinya masih selalu dibayangi oleh beribu pertanyaan, namun ia tidak dapat berbuat lain dari pada pergi ke Padang Karautan.
Empu Gandring masih berdiri di regol halaman rumahnya ketika Mahisa Agni hilang di tikungan. Terasa dadanya dipenuhi oleh pergolakan perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi gelisah. la merasa bahwa ada kerjanya yang seolah-olah masih belum selesai. Kerja yang besar, yang justru tidak dimengertinya sendiri. Tetapi ternyata kedatangan Mahisa Agni telah memberikan ketenteraman yang besar kepadanya. Ia merasakan seolah-olah ia telah mendapatkan saluran yang dipercaya.
“Aku harus segera mengerjakannya.“ desis Empu Gandring itu, “mudah-mudahan aku akan mendapat ketentraman hati.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa perlahan-lahan hatinya yang bergolak itu dapat mengendap. Bahkan kemudian ia bertanya kepada diri sendiri,
“Kenapa aku menjadi gelisah? Inilah kelemahanku. Seharusnya aku selalu berpaling kepada Yang Maha Agung. Dengan demikian aku akan mendapat kedamaian hati.”
Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandangi tikungan dikejauhan, maka yang dilihatnya hanyalah dinding batu yang kehitam-hitaman. Namun kehadiran Mahisa Agni ternyata meninggalkan pengaruh yang cukup besar pada diri orang tua itu. Ia merasa menemukan sebagian dari yang dicari-carinya di saat-saat terakhir, meskipun perasaan itu kurang dikenalnya sendiri, tetapi reacananya yang tiba-tiba saja tumbuh untuk menggoreskan aksara-aksara di atas rontal dan kemudian menyimpannya untuk Mahisa Agni, benar-benar telah membuatnya seolah-olah terlepas dari sebagian beban yang berat yang selama ini ditanggungkannya. Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan ia melangkah melintasi halaman rumahnya.
“Aku harus mendapat penenangan.“ desisnya, “aku harus mencoba untuk melepaskan diri dari perasan ini.” Terasa jantung Empu Gandring menjadi berdebar-debar. “Mudah-mudahan aku dapat mengenal getaran yang bergolak di dalam hati. Aku yakin, bahwa teka-teki ini pasti mengandung arti.”
Empu Gandring itu mengangguk-angguk kecil. Langkahnya yang perlahan-lahan itu langsung membawanya ke sanggar pribadinya. Ia ingin menyepi sejenak, mencoba melihat ke dalam diri.
“Kalau waktu itu akan segera datang, apa boleh buat.“ gumamnya, “Manusia tidak akan mampu menghindar dari padanya apabila Yang Maha Agung memang menghendakinya.”
Tetapi yang sebenarnya menggelisahkan Empu Gandring bukanlah perasaan yang kadang-kadang tumbuh di dalam hatinya tentang dirinya, tentang hari akhirnya. Tetapi ia harus mendapat saluran yang dapat melanjutkan kerjanya selama ini. Bukan sekedar kerja tanpa arah. Kerja yang sudah dilakukannya adalah kerja yang akan dapat berkembang terus. Untuk itu diperlukan seseorang yang dipercaya. Yang tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan justru setelah memiliki bekal ilmu yang sudah disusunnya.
“Aku percaya kepada Mahisa Agni.“ katanya kepada diri sendiri, “seandainya perasaanku ini benar, bahwa saat itu hampir datang, maka aku harus segera menyusun ilmu itu dan menggoreskannya ke atas rontal. Mudah-mudahan pada saatnya Mahisa Agni akan datang dan menemukan rontal itu. Mudah-mudahan pula ia tertarik akan isinya dan dipelajarinya.”
Perlahan-lahan Empu Gandring itu menutup pintu sanggarnya. Kemudian duduk tepekur, memusatkan segala macam rasa dan nalarnya dalam usahanya mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Agung. Orang tua itu ingin mendapatkan kebeningan pikiran untuk memulai dengan kerjanya, menyusun aksara-aksara di atas rontal.
Sementara itu Mahisa Agni berpacu dengan lajunya, langsung menuju ke Padang Karautan. Perjalanan itu kini sama sekali tidak memberikan persoalan apapun kepadanya. Tidak ada apapun yang terjadi, yang dapat mengganggunya. Di Padang Karautan, kerja yang dilakukan oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel menjadi semakin tipis. Bendungan itu telah hampir sampai pada penyelesaian terakhir, sedang taman yang dipesan oleh Akuwu Tunggul Ametung pun kini telah berbentuk Pepohonan yang hijau tumbuh dengan suburnya. Sedang sendang buatan itu pun telah menampung air yang naik lewat susukan induk. Meskipun masih belum selesai seluruhnya, tetapi taman itu sudah dapat dilihat dan dinilai, bahwa kerja yang telah dilakukan adalah kerja yang berat dan besar.
Mahisa Agni yang telah berada di tengah-tengah kerja itu pun merasa menemukan dirinya kembali, setelah ia terpisah untuk beberapa lama dari bendungan yang direncanakannya. Bahwa ia harus mengalami masa yang pahit di dalam hidupnya, berada di dalam lingkungan iblis di Kemundungan. Namun ternyata ia dapat memetik manfaat dari keadaan itu. Justru di dalam maka yang paling pahit itu ia mendapatkan tingkat yang lebih tinggi lagi dari ilmunya. Meskipun pada saat itu ia terpaksa merendahkan diri, seolah-olah ia sudah kehilangan segala macam gairah buat masa depannya, tetapi pada saatnya ia bangkit dan menemukan kebebasannya.
Beberapa kali Mahisa Agni memang merasa tersinggung oleh sikap Kebo Ijo, yang kadang-kadang benar-benar tidak terkendali. Tetapi justru lambat laun ia menjadi kebal seperti juga Ken Arok. Kata-kata Kebo Ijo, dan bahkan sikapnya, sama sekali tidak dihiraukannya, meskipun kadang-kadang ia harus masih berdesis menahan perasaannya.
Sedang Kuda Sempana pun lambat laun dapat menemukan jalan untuk menempatkan dirinya kembali ke tengah-tengah pergaulan atas tuntunan Ken Arok dan Mahisa Agni. Meskipun kadang-kadang usaha itu terbentur pada sikap Kebo Ijo, tetapi dengan penuh minat, Ken Arok dan Mahisa Agni berusaha menghindarkan segala macam benturan-benturan yang dapat terjadi.
Demikianlah, maka pada saatnya, bendungan dan taman itu pun telah siap. Dengan penuh haru, orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang sedang bertugas di padang itu menyaksikan air yang naik kesusukan induk, menyusur di sepanjang saluran itu, bercabang-cabang menyobek Padang Karautan dan merambat sampai ke kotak-kotak sawah yang sudah mulai menghijau ditaburi bibit yang telah tumbuh subur. Agak jauh di ujung susukan induk itu terdapat sebuah taman yang indah. Pepohonan yang hijau subur, tumbuh-tumbuhan perdu dan bunga yang sudah mulai berkembang dengan warna yang beraneka. Sebuah sendang buatan dengan getek bambu yang terapung, bergerak-gerak di permukaan air. Ditengah-tengahnya sebuah puntuk kecil bertengger di atas tebing batu yang disusun dengan baiknya.
Kemudian sebuah parit yang melepaskan air yang berlebihan, mengalir keluar dari taman itu, sekali lagi membelah Padang Karautan mengaliri pategalan yang sudah menghijau pula. Disitulah nanti akan dibangun padesan yang baru, apabila pohon-pohonan sudah cukup besar. Pohon buah-buahan dan pohon-pohon pelindung yang diperlukan, telah tumbuh pula dengan suburnya. Dikelilingi oleh rumpun-rumpun bambu yang mulai berdaun. Sebagian dari Padang Karautan itu kini telah benar-benar berubah bentuknya. Satu lingkungan kehidupan yang bakal hadir ditengah-tengah padang itu akan memberikan kemungkinan yang besar dihari mendatang tidak saja bagi Padang Karautan, tetapi bagi Tumapel dalam keseluruban.
Ternyata harapan yang tersimpan di dalam setiap orang Panawijen kini terpenuhi. Mereka akan dapat meninggalkan pedukuhan mereka yang telah menjadi semakin kering. Titik-titik air hujan hanya akan dapat menolong sementara, dimusim basah. Apabila kelak musim menjadi kering, Panawijen akan menjadi semakin kuning dan gersang. Orang-orang Panawijen itu tidak akan dapat mengharap bantuan terus-menerus dari orang lain. Sekalipun dari istana Turnapel. Mereka tidak dapat hidup dengan menunggu uluran tangan belas kasihan, atau bahkan lebih dari pada itu, uluran tangan dengan pamrih-pamrih tertentu yang akan dapat menjerat kehidupan mereka sendiri di hari yang akan datang. Karena itu, setiap kesempatan harus dipergunakan untuk menemukan kemungkinan hidup di atas kekuatan dan nafas sendiri.
Karena itulah maka kini lahir kehidupan yang hijau di tengah-tengah Padang Karautan. Orang-orang Panawijen tidak pernah melupakan uluran tangan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi uluran tangan itu telah dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang tepat. Tidak sekedar untuk makan mereka sehari-hari, sedang untuk hari esok menunggu lagi uluran tangan berikutnya. Tetapi selama itu, mereka telah memanfaatkannya untuk membangun bendungan di Padang Karautan bersama-sama dengan prajurit-prajurit Tumapel pula. Dan bendungan ini telah siap. Dengan demikian maka pada saatnya orang-orang Panawijen itu akan dapat menelan makan dan minum mereka dari hasil keringat sendiri. Apabila tanaman itu menghijau, berbunga, kemudian berbuah, maka akan segera datang musim menunai untuk yang pertama kalinya. Apabila demikian, maka orang-orang Panawijen itu akan berdiri dengan dada tengadah dan berkata,
“Kami telah berhasil bernafas dengan dada kami sendiri.”
Ki Buyut Panawijen yang tua itu tidak dapat menahan keharuan yang melonjak di dalam dadanya. Setitik air mata membasahi pipinya yang telah berkeriput karena umurnya. Namun meskipun demikian ia masih sempat melihat, bendungan Karautan itu dapat mengaliri sawah yang telah mereka buat, masih sempat melihat tanaman yang mulai menghijau. Namun ia masih berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan ia masih sempat pula melihat, orang-orang Panawijen memindahkan dirinya dari daerah lama yang gersang itu ke daerah yang baru, yang hijau dan subur.
“Kita harus merayakan kemenangan ini.“ desis Ki Buyut.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah Ki Buyut. Kita rayakan kemenangan ini. Kita sudah menaklukkan tanah yang liar dan kemudian menjinakkannya.”
“Bagus.” teriak Kebo Ijo, “kita potong lembu dan kerbau yang sudah tidak kita pergunakan lagi.”
“Ah.“ terdengar Mahisa Agni berdesah. Ketika ditatapnya mata Ken Arok, maka dilihatnya mata itu menyipit.
Perlahan-lahan Ken Arok berkata, “Jangan Kebo Ijo. Sejak semula kita bekerja bersama-sama dengan mereka, meskipun mereka hanya binatang. Tetapi apakah kita akan sampai hati berbuat demikian.”
“Itu adalah sifat kecengenganmu Ken Arok. Buat apa lagi binatang-binatang itu bagi kita kini? Mereka hanya akan menjadi beban peliharaan saja.”
Ken Arok menggelengkan kepalanya. Katanya, “Apa kau sangka bahwa sawah itu akan dapat tumbuh tanamannya tanpa digarap? Nah, tugas lembu dan kerbau-kerbau itu masih panjang. Setiap musim mereka akan membantu orang-orang Panawijen mengerjakan sawahnya.”
“Apakah lembu, kerbau, pedati-pedati dan semua peralatan ini akan kita serahkan kepada orang-orang Panawijen?”
“Apakah harus kita bawa kembali ke Tumapel?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Yang menyahut kemudian adalah Mahisa Agni, “Kami akan berterima kasih atas bantuan yang sudah dan yang masih akan kami terima. Lebih-lebih lagi, apabila yang kami terima itu adalah keperluan bagi kerja kami. Alat-alat untuk menggarap sawah dan membangun pedukuhan kami. Kami akan jauh lebih berterima kasih dari pada bantuan yang kami terima itu berupa kebutuhan sehari-hari saja. Kebutuhan yang akan habis kami telan dan akan habis kami pakai betapa berlimpah-limpahnya. Tetapi peralatan itu akan memberi kami nafas untuk bekerja seterusnya. Kami akan terlepas dari ketergantungan yang akan mematikan nafsu kerja kami dan anak cucu kami.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pikiran yang hidup dan wajar Agni. Karena itu, kita akan bergembira karena kita telah menyelesaikan pekerjaan dasar kita. Yang Maha Agung telah memperkenalkan kita melihat bendungan, susukan induk, parit-parit, sawah, taman dan sebagainya itu selesai. Tetapi ini bukan berarti bahwa kerja kita untuk selanjutnya selesai. Maka, marilah kita bersyukur, tanpa melepaskan ingatan kita kepada masa mendatang. Karena itu, biarlah binatang-binatang hidup untuk seterusnya. Kita dapat merayakan kemenangan ini tanpa apapun. Sebab kegembiraan itu ada di dalam dada kita. Kita nyatakan dengan bentuk-bentuk yang memungkinkan di Padang Karautan ini.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, kita dapat merayakan dengan seribu macam bentuk untuk menyatakan bahwa kerja yang besar ini sudah selesai. Diantaranya, kita akan dapat tidur sepekan terus menerus. Bangun untuk makan, kemudian tidur lagi. Begitu?”
Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menarik nafas. Tetapi mereka tidak menanggapinya. Namun dengan tiba-tiba saja Ken Arok berkata, “Kita akan segera mendapat kesempatan itu. Bersukaria, untuk menyambut kemenangan ini. Setelah taman itu selesai, Akuwu akan hadir beserta permaisurinya. Taman itu akan merupakan hadiah yang menyenangkan bagi Tuan Puteri Ken Dedes yang berasal dari tengah-tengah padukuhan Panawijen. Itulah sebabnya maka taman itu harus dibangun di dekat padukuhan yang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Kehadirannya pasti akan memberikan kegembiraan bagi kita. Kita tidak perlu menyelenggarakannya sendiri. Kita ikut saja di dalam kegembiraan itu.”
Kebo Ijo mendengar keterangan itu dengan dahi yang berkerut merut. Kemudian ia berdesis perlahan, “Kapan Akuwu akan datang ke Padang Karautan untuk menyerahkan tamannya kepada perempuan Panawijen itu?”
Yang mendengar kata-kata Kebo Ijo itu merasakan desir yang tajam di dalam dada mereka. Mahisa Angni, Ken Arok, Ki Buyut Panawijen dan satu dua orang lagi. Sejenak mereka terdiam sambil mengawasi anak muda itu dengan mata yang tidak berkedip. Kebo Ijo merasa sorot beberapa pasang mata yang menyentuh wajahnya. Sejenak ia merasa canggung, Namun kemudian ia bertanya,
“Kenapa kalian memandangi aku seperti baru pertama kali melihat? Apakah yang aneh padaku?”
Tiba-tiba terdengar jawab Ken Arok pendek, “Mulutmu.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. “Kenapa mulutku?“ tanpa sesadarnya tangannya meraba mulutnya.
“Mulutmu terlampau sulit untuk dikendalikan.“ sahut Ken Arok, “Kenapa kau tidak dapat memilih kata-kata yang lebih baik meskipun untuk menyatakan maksud yang sama?”
“O.“ Kebo Ijo justru tersenyum, “kalimatkulah yang salah lagi. Baikiah, aku akan memperbaikinya. Maksudku, aku ingin tahu, kapankah Akuwu Tunggul Ametung akan menyerahkan hadiah buat Permaisurinya Ken Dedes.”
Ken Arok sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk menjawab. Meskipun demikian ia menggeram juga, “Pada saatnya kau akan melihat dan mengetahuinya. Apabila kelak Tuanku Akuwu datang bersama Tuan Puteri, bertanyalah hari dan pekan.”
Kebo Ijo mengerinyitkan alisnya, Namun ia pun kemudian tertawa. Sambil melangkah pergi ia bergumam, “Kau marah Ken Arok. Jangan lekas menjadi marah. Kau akan cepat menjadi tua. Lebih baik kau tertawa.”
Ken Arok tidak menghiraukan lagi, sedang orang-orang lainpun menjadi acuh tidak acuh pula kepada Kebo Ijo yang kemudian hilang di dalam gubugnya.
Sepeninggal Kebo Ijo, barulah Ken Arok berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Sebentar lagi Akuwu datang dengan kebesaran seorang Akuwu, Ki Buyut. Tidak seperti kedatangannya di saat lampau. Akuwu akan datang bersama Permaisuri dan akan menghadiahkan taman itu. Pada saat itulah kita numpang bergembira. Supaya persiapan tidak mengecewakan, maka biarlah aku mengirimkan utusan menghadapi Akuwu untuk menyampaikan maksud itu. Apabila Akuwu tidak berkeberatan, nah, kita akan mendapatkan kesempatan tanpa bersusah payah membuat sendiri. Sebelum Akuwu sendiri datang, pasti akan dikirim beperapa orang petugas, Juru masak, juru taman dan orang-orang yang diperlukannya. Kita tinggal menyebut saja jumlah orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini.”
Ki Buyut mengangguk-anggukan kepalanya. Gumamnya, “Berapa orang juru masak yang diperlukan untuk kepentingan itu.”
“Di Tumapel ada ratusan juru masak yang dapat dikerahkan. Sedang di sinipun kita telah mempunyai juru masak yang cukup, meskipun bukan juru masak yang baik. Meskipun mereka hanya sekedar juru masak prajurit. Tetapi setidak-tidaknya mereka akan dapat membantu menjerang air.”
Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa mendapat kehormatan, bahwa perhatian Akuwu Tunggul Ametung terhadap Panawijen ternyata melampaui perhatiannya terhadap pedukuhan-pedukuhan yang lain. Dan Ki Buyut pun menyadari, bahwa hadirnya Ken Dedes di Istana Tumapel ternyata berpengaruh atas persoalan itu, meskipun Ki Buyut yang sudah cukup tua itu juga menyadari, bahwa keluarga Ken Dedes sendiri ternyata tidak sempat ikut merasa berbahagia. Bahkan hilangnya Ken Dedes telah membuat ayalnya seolah-olah menyisihkan diri dari pergaulan, dan hilang untuk selanjutnya tanpa menyatakan diri lagi di dalam lingkungan padukuhan Panawijen.
Ternyata Ken Arok kemudian benar-benar mengirimkan utusannya menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyatakan maksudnya. Untuk ikut serta menikmati kegembiraan bersama-sama dengan kehadiran Akuwu Tunggul Ametung di Padang Karautan.
“Beri mereka apa yang dibutuhkan.“ perintah Akuwu kepada seorang yang dipercaya untuk menyelenggarakan perjamuan yang cukup baik di Padang Karautan selama kunjungannya bersama Permaisurinya. Dan kepada utusan Ken Arok Akuwu berkata, “Aku akan datang kepadang Karautan bersama Permaisuri dan beberapa orang prajurit dan para pemimpin pemerintahan Tumapel sepekan sebelum purnama, dan akan tinggal di Padang Karautan sampai sepekan setelah purnama.”
Berita itu diterima dengan senang hati oleh seluruh penghuni Padang Karautan yang selama ini tidak pernah melepaskan diri dari kerja. Kerja dan selalu dihadapkan kepada kerja. Tetapi usaha mereka ternyata tidak sia-sia. Kini bendungan itu benar-benar telah terwujud, telah berhasil mengangkat air dan menyalurkannya sampai kekotak-kotak sawah jauh ketengah padang. Beberapa saluran di seberang memberi kemungkinan yang serupa meskipun agak lebih kecil. Bahkan saluran yang melepaskan air dari sendang buatan itupun dapat dimanfaatkan pula dengan baik.
Dengan demikian, maka setiap orang di Padang Karautan itu pun menunggu sampai saat purnama semakin mendekat. Hampir sedikit malam mereka memandangi bulan yang seolah-olah tumbuh sedikit demi sedikit. Terlampau lamban. Apabila mendung menyaput langit, dan mereka tidak dapat melihat bulan yang semakin berkembang disetiap malam, terasa hari menjadi semakin panjang, Sudah terlampau lama mereka menunggu, namun bulan masih belum separo bulatan.
Meskipun demikian, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel itu kini mendapat kesibukan baru. Bukan sekedar tidur, bangun dan makan. Mereka harus membuat pesanggrahan-pesanggrahan yang walaupun sederhana, tetapi cukup memenuhi kebutuhan bagi seorang Akuwu dan Permaisurinya, dekat di sebelah taman yang sudah menjadi semakin semarak karena bunga-bunga telah mulai berkembang. Bunga-bunga dengan beraneka bentuk dan warnanya. Bunga-bunga yang membuat taman itu semakin segar, yang seolah-olah dengan sadar menunggu kehadiran Permaisurinya yang segera akan datang. Dan kedatangan itu telah menumbuhkan berbagai macam tanggapan. Namun betapapun juga, seluruh Padang Karautan telah menanti kehadirannya.
Maka pada saatnya, sampailah suatu ketika, Padang Karautan seolah-olah telah terbakar oleh kegembiraan yang tiada taranya. Mereka tidak saja menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung dengan penuh kemegahan bersama Permaisurinya, Ken Dedes, tetapi mereka juga merayakan hari kemenangan. Mereka telah berhasil menaklukkan Padang Karautan dengan segala macam keganasan dan keliarannya. Membendung sungai dan menaikkan airnya, sehingga di jantung padang yang luas itu, telah dibangunkan sebuah padukuhan baru yang segar. Pedukuhan yang mempunyai kemungkinan yang sangat baik dihari-hari mendatang, karena luas tanah disekitarnya yang masih memungkinkan padukuhan itu berkembang.
Beberapa orang telah pergi ke Panawijen untuk mencari janur yang cukup baik, yang masih belum terlampau tua. Dengan pedati-pedati mereka msngangkut beberapa batang bambu utuh dengan daun-daunnya untuk dipancangkan sebagai umbul-umbul di sekitar taman dan pasanggrahan. Sebaik-baik mungkin yang dapat mereka kerjakan. Anyaman-anyaman janur dan bambu telah terpancang di dinding-dinding dan di pagar-pagar batu.
Maka pada hari yang ditentukan Akuwu Tunggul Ametung akan datang di Padang Karautan, setiap orang di perkemahan itu mengenakan pakaian yang sebaik-baiknya yang mereka miliki. Para prajurit mengenakan pakaian keprajuritan mereka. Siap untuk menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.
“Tentu, tentu paman. Aku sangat berterima kasih. Semua ilmu dan pengetahuan akan sangat berarti bagiku?”
“Baiklah. Tetapi kini kau perlu beristirahat. Nanti malam aku akan memberimu pengetahuan itu. Sekarang kau dapat menemui orang-orang yang pernah kau kenal di sini di masa kecilmu. Tetapi aku kira mereka tidak akan dapat mengenal kau lagi setelah sekian tahun kau tidak menginjak halaman rumah ini.”
Demikianlah maka Mahisa Agni semalam berada di rumah pamannya. Dengan bersungguh-sungguh ia mempelajari dengan cepat, mengenai ramuan-ramuan obat-obatan, bisa dan penawarnya. Meskipun ilmu itu lama sekali belum cukup tetapi Mahisa Agni akan dapat memperkembangkan sendiri. Ia akan dapat menemukan banyak bahan-bahan di Padang Karautan. Ular, binatang-binatang berbisa lainnya, lebah, dan kadal hijau. Tetapi juga berjenis-jenis tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, bunga-bungaan dan buah-buahan.
Ketika kemudian fajar pecah di ujung timur, maka barulah Empu Gandring selesai. Dengan wajah yang lelah, orang tua itu berkata, “Apakah kau benar-benar akan pergi pagi ini?”
“Ya paman.”
“Semalam suntuk kau tidak beristirahat.”
“Perjalananku tidak terlampau berat. Aku dapat tidur di atas punggung kuda.”
Empu Gandring tersenyum. Tetapi tiba-tiba ia berdesis, “Mudah-mudahan aku masih sempat melihat kau datang kemari Agni.”
“Tentu paman. Aku akan datang kemari secepatnya.”
“Aku percaya. Tetapi mudah-mudahan kau masih dapat melihat aku berada di dalam rumah ini.”
“Kenapa?”
Empu Gandring menggelengkan kepalanya. Katanya, “Aku tidak tahu Agni. Tetapi aku merasa bahwa sebaiknya aku segera menurunkan ilmu yang ada padaku kepada orang lain sebelum terlambat. Aku percaya kepadamu lebih dari orang-orang lain, bahkan keluargaku sendiri.”
“Aku akan segera datang paman. Sebelum terjadi sesuatu atas paman. Apabila bendungan itu sudah selesai, aku akan tinggal di sini beberapa lama. Aku akan menerima segala petunjuk dan ilmu kanuragan dan ilmu-ilmu yang lain. Olah kajiwan dan segala bentuk pengengahuan.”
Tetapi wajah pamannya itu masih saja suram. Perlahan-lahan ia berdesah. Katanya, “Aku tidak tahu, kenapa aku selalu diganggu oleh kegelisahan di saat-saat terakhir. Kedatanganmu memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepadaku Agni. Sepeninggalmu aku akan menjadi gelisah lagi, meskipun sudah tidak seperti kemarin, sebelum kau datang.”
Mahisa Agni tidak segera menyahut. Terasa sentuhan-sentuhan halus pada pusat jantungnya, ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya dirasakan oleh pamannya. Tetapi ia melihat, betapa orang tua itu dibayangi oleh kegelisahan yang sangat.
“Agni.” terdengar suara orang tua itu dengan nada yang dalam, “kalau kelak kau tidak dapat melihatku lagi, maka usahakanlah untuk mengembangkan setitik ilmu yang aku berikan kepadamu, sekedar sebagai bekal untuk memulainya. Selama ini aku akan menyusun aksara-aksara di atas rontal, tentang ilmu pengobatan, bisa-bisa dan sedikit uraian tentang ilmu kanuragan. Pada suatu saat datanglah kau kepadaku Agni. Aku akan memberikannya kepadamu. Tetapi seandainya kau sudah tidak menemui aku lagi, dan aku tidak dapat menitipkan ilmu kanuragan itu langsung kepadamu, maka kau akan dapat menemukan rontal itu.”
“Paman.” potong Mahisa Agni, “apakah yang sebenarnya terjadi dengan paman? Apakah paman sedang menunggu lawan yang menurut perhitungan paman, melampaui kemampuan paman untuk melawannya? Apabila demikian paman, maka aku akan tinggal di sini. Aku akan tinggal di sini Aku akan mencoba membantu paman, meskipun aku harus minta diri kepada Ken Arok lebih dakulu.”
Empu Gandring mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia tersenyum. Katanya, “Ah, aku memang sedang diburu-buru oleh mimpi yang menegangkan urat syarafku. Tidak Agni. Aku tidak apa-apa. Aku tidak sedang menunggu seorang musuh pun, sebab aku sampai saat ini tidak merasa punya persoalan apa pun, dengan siapa pun.”
“Tetapi kenapa paman merasa gelisah?”
“Itulah Agni.“ jawab pamannya, “baru sesaat ini aku sadar. Inilah keringkikan jiwaku. Inilah kelemahanku. Seharusnya aku tidak menjadi gelisah.“ Empu Gandring berhenti sesaat. Lalu, “Sudahlah, kita tidak usah berbicara tentang diriku, kegelisahanku dan kelemahan jiwaku. Aku akan mencoba untuk menyadari setiap keadaan dengan akal. Tidak sekedar dengan perasaan saja. Meskipun demikian aku akan tetap berpesan kepadamu Agni, seandainya kau belum datang, dan aku sudah selesai dengan rontalku, maka rontal itu akan berada di atap rumah ini, di bawah ijuk di sudut Barat bagian depan. Kau mengerti?”
Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar pula karenanya. Meskipun demikian ia tidak mendesak pamannya, kenapa ia menjadi gelisah sekali. Seolah-olah ia sedang berada di dalam bahaya yang dahsyat. Tetapi pamannya itu tidak mengatakan apapun juga. Seandainya, Padang Karautan tidak mempunyai daya hisapan yang luar biasa atasnya, maka ia pasti akan mengurungkan niatnya. Ia ingin berada bersama pamannya, untuk mengurangi kegelisahan orang tua itu. Menurut pengertiaannya, Empu Gandring adalah seorang yang hampir mumpuni. Seorang yang memiliki ilmu yang cukup. Ia dapat berdiri berjajar dengan Kebo Sindet, Empu Purwa, Empu Sada, Panji Bojong Santi dan yang lain-lain. Tetapi kenapa orang tua itu tiba-tiba telah dibayangi oleh kegelisahan yang sedemikian tajamnya?
Sekali lagi Mahisa Agni dicengkam oleh kebimbangan. Tidak sekedar karena ia ingin menerima ilmu yang akan diberikan oleh pamannya untuk melengkapi ilmunya, tetapi ia melihat sesuatu yang tidak dimengertinya membayang di hati pamannya. Namun Padang Karautan ternyata tidak dapat dikesampingkannya. Ia merasa, bahwa ia harus segera berada di antara orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan. Ia merasa wajib untuk berada di tengah-tengah kerja itu. Karena itu, alangkah berat hatinya, apabila ia harus menunda lagi keberangkatannya.
“Aku harus mengesampingban semua persoalan, untuk sementara.“ desisnya di dalam hati, “aku harus di tengah-tengah kerja itu.”
Dengan demikian maka betapa berat hatinya, namun akhirnya Mahisa Agni pun harus minta diri kepada pamannya. Dengan berat hati pula pamannya melepaskannya.
“Ingat Agni. Kalau kau mendapat kesempatan, segeralah datang. Tetapi kalau tidak, maka ingat pulalah, bahwa aku akan menyimpannya di atas atap, di bawah susunan ijuk. Di sudut Barat bagian depan dari rumah ini.”
“Aku akan segera datang paman. Tentu.“
“Ya, ya. Mudah-mudahan kau segera datang. Meskipun demikian aku akan berpesan kepada setiap orang di padepokanku ini, bahwa kau akan mendapat keleluasaan untuk berbuat apa saja di rumah ini.”
Dada Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Ia merasa dihadapkan pada suatu teka-teki yang tidak dapat ditebakinya, sedang agaknya Empu Gandring sendiri masih belum dapat mengetahui tebakan dari teka-tekinya itu. Ketika kemudian matahari naik di atas perbukitan, maka Mahisa Agni itu pun segera meninggalkan padepokan pamannya. Meskipun hatinya masih selalu dibayangi oleh beribu pertanyaan, namun ia tidak dapat berbuat lain dari pada pergi ke Padang Karautan.
Empu Gandring masih berdiri di regol halaman rumahnya ketika Mahisa Agni hilang di tikungan. Terasa dadanya dipenuhi oleh pergolakan perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ia menjadi gelisah. la merasa bahwa ada kerjanya yang seolah-olah masih belum selesai. Kerja yang besar, yang justru tidak dimengertinya sendiri. Tetapi ternyata kedatangan Mahisa Agni telah memberikan ketenteraman yang besar kepadanya. Ia merasakan seolah-olah ia telah mendapatkan saluran yang dipercaya.
“Aku harus segera mengerjakannya.“ desis Empu Gandring itu, “mudah-mudahan aku akan mendapat ketentraman hati.”
Empu Gandring menarik nafas dalam-dalam. Terasa perlahan-lahan hatinya yang bergolak itu dapat mengendap. Bahkan kemudian ia bertanya kepada diri sendiri,
“Kenapa aku menjadi gelisah? Inilah kelemahanku. Seharusnya aku selalu berpaling kepada Yang Maha Agung. Dengan demikian aku akan mendapat kedamaian hati.”
Orang tua itu pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika sekali lagi ia memandangi tikungan dikejauhan, maka yang dilihatnya hanyalah dinding batu yang kehitam-hitaman. Namun kehadiran Mahisa Agni ternyata meninggalkan pengaruh yang cukup besar pada diri orang tua itu. Ia merasa menemukan sebagian dari yang dicari-carinya di saat-saat terakhir, meskipun perasaan itu kurang dikenalnya sendiri, tetapi reacananya yang tiba-tiba saja tumbuh untuk menggoreskan aksara-aksara di atas rontal dan kemudian menyimpannya untuk Mahisa Agni, benar-benar telah membuatnya seolah-olah terlepas dari sebagian beban yang berat yang selama ini ditanggungkannya. Orang tua itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan ia melangkah melintasi halaman rumahnya.
“Aku harus mendapat penenangan.“ desisnya, “aku harus mencoba untuk melepaskan diri dari perasan ini.” Terasa jantung Empu Gandring menjadi berdebar-debar. “Mudah-mudahan aku dapat mengenal getaran yang bergolak di dalam hati. Aku yakin, bahwa teka-teki ini pasti mengandung arti.”
Empu Gandring itu mengangguk-angguk kecil. Langkahnya yang perlahan-lahan itu langsung membawanya ke sanggar pribadinya. Ia ingin menyepi sejenak, mencoba melihat ke dalam diri.
“Kalau waktu itu akan segera datang, apa boleh buat.“ gumamnya, “Manusia tidak akan mampu menghindar dari padanya apabila Yang Maha Agung memang menghendakinya.”
Tetapi yang sebenarnya menggelisahkan Empu Gandring bukanlah perasaan yang kadang-kadang tumbuh di dalam hatinya tentang dirinya, tentang hari akhirnya. Tetapi ia harus mendapat saluran yang dapat melanjutkan kerjanya selama ini. Bukan sekedar kerja tanpa arah. Kerja yang sudah dilakukannya adalah kerja yang akan dapat berkembang terus. Untuk itu diperlukan seseorang yang dipercaya. Yang tidak akan terjerumus ke dalam kesesatan justru setelah memiliki bekal ilmu yang sudah disusunnya.
“Aku percaya kepada Mahisa Agni.“ katanya kepada diri sendiri, “seandainya perasaanku ini benar, bahwa saat itu hampir datang, maka aku harus segera menyusun ilmu itu dan menggoreskannya ke atas rontal. Mudah-mudahan pada saatnya Mahisa Agni akan datang dan menemukan rontal itu. Mudah-mudahan pula ia tertarik akan isinya dan dipelajarinya.”
Perlahan-lahan Empu Gandring itu menutup pintu sanggarnya. Kemudian duduk tepekur, memusatkan segala macam rasa dan nalarnya dalam usahanya mendekatkan dirinya kepada Yang Maha Agung. Orang tua itu ingin mendapatkan kebeningan pikiran untuk memulai dengan kerjanya, menyusun aksara-aksara di atas rontal.
Sementara itu Mahisa Agni berpacu dengan lajunya, langsung menuju ke Padang Karautan. Perjalanan itu kini sama sekali tidak memberikan persoalan apapun kepadanya. Tidak ada apapun yang terjadi, yang dapat mengganggunya. Di Padang Karautan, kerja yang dilakukan oleh orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel menjadi semakin tipis. Bendungan itu telah hampir sampai pada penyelesaian terakhir, sedang taman yang dipesan oleh Akuwu Tunggul Ametung pun kini telah berbentuk Pepohonan yang hijau tumbuh dengan suburnya. Sedang sendang buatan itu pun telah menampung air yang naik lewat susukan induk. Meskipun masih belum selesai seluruhnya, tetapi taman itu sudah dapat dilihat dan dinilai, bahwa kerja yang telah dilakukan adalah kerja yang berat dan besar.
Mahisa Agni yang telah berada di tengah-tengah kerja itu pun merasa menemukan dirinya kembali, setelah ia terpisah untuk beberapa lama dari bendungan yang direncanakannya. Bahwa ia harus mengalami masa yang pahit di dalam hidupnya, berada di dalam lingkungan iblis di Kemundungan. Namun ternyata ia dapat memetik manfaat dari keadaan itu. Justru di dalam maka yang paling pahit itu ia mendapatkan tingkat yang lebih tinggi lagi dari ilmunya. Meskipun pada saat itu ia terpaksa merendahkan diri, seolah-olah ia sudah kehilangan segala macam gairah buat masa depannya, tetapi pada saatnya ia bangkit dan menemukan kebebasannya.
Beberapa kali Mahisa Agni memang merasa tersinggung oleh sikap Kebo Ijo, yang kadang-kadang benar-benar tidak terkendali. Tetapi justru lambat laun ia menjadi kebal seperti juga Ken Arok. Kata-kata Kebo Ijo, dan bahkan sikapnya, sama sekali tidak dihiraukannya, meskipun kadang-kadang ia harus masih berdesis menahan perasaannya.
Sedang Kuda Sempana pun lambat laun dapat menemukan jalan untuk menempatkan dirinya kembali ke tengah-tengah pergaulan atas tuntunan Ken Arok dan Mahisa Agni. Meskipun kadang-kadang usaha itu terbentur pada sikap Kebo Ijo, tetapi dengan penuh minat, Ken Arok dan Mahisa Agni berusaha menghindarkan segala macam benturan-benturan yang dapat terjadi.
Demikianlah, maka pada saatnya, bendungan dan taman itu pun telah siap. Dengan penuh haru, orang-orang Panawijen dan para prajurit Tumapel yang sedang bertugas di padang itu menyaksikan air yang naik kesusukan induk, menyusur di sepanjang saluran itu, bercabang-cabang menyobek Padang Karautan dan merambat sampai ke kotak-kotak sawah yang sudah mulai menghijau ditaburi bibit yang telah tumbuh subur. Agak jauh di ujung susukan induk itu terdapat sebuah taman yang indah. Pepohonan yang hijau subur, tumbuh-tumbuhan perdu dan bunga yang sudah mulai berkembang dengan warna yang beraneka. Sebuah sendang buatan dengan getek bambu yang terapung, bergerak-gerak di permukaan air. Ditengah-tengahnya sebuah puntuk kecil bertengger di atas tebing batu yang disusun dengan baiknya.
Kemudian sebuah parit yang melepaskan air yang berlebihan, mengalir keluar dari taman itu, sekali lagi membelah Padang Karautan mengaliri pategalan yang sudah menghijau pula. Disitulah nanti akan dibangun padesan yang baru, apabila pohon-pohonan sudah cukup besar. Pohon buah-buahan dan pohon-pohon pelindung yang diperlukan, telah tumbuh pula dengan suburnya. Dikelilingi oleh rumpun-rumpun bambu yang mulai berdaun. Sebagian dari Padang Karautan itu kini telah benar-benar berubah bentuknya. Satu lingkungan kehidupan yang bakal hadir ditengah-tengah padang itu akan memberikan kemungkinan yang besar dihari mendatang tidak saja bagi Padang Karautan, tetapi bagi Tumapel dalam keseluruban.
Ternyata harapan yang tersimpan di dalam setiap orang Panawijen kini terpenuhi. Mereka akan dapat meninggalkan pedukuhan mereka yang telah menjadi semakin kering. Titik-titik air hujan hanya akan dapat menolong sementara, dimusim basah. Apabila kelak musim menjadi kering, Panawijen akan menjadi semakin kuning dan gersang. Orang-orang Panawijen itu tidak akan dapat mengharap bantuan terus-menerus dari orang lain. Sekalipun dari istana Turnapel. Mereka tidak dapat hidup dengan menunggu uluran tangan belas kasihan, atau bahkan lebih dari pada itu, uluran tangan dengan pamrih-pamrih tertentu yang akan dapat menjerat kehidupan mereka sendiri di hari yang akan datang. Karena itu, setiap kesempatan harus dipergunakan untuk menemukan kemungkinan hidup di atas kekuatan dan nafas sendiri.
Karena itulah maka kini lahir kehidupan yang hijau di tengah-tengah Padang Karautan. Orang-orang Panawijen tidak pernah melupakan uluran tangan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi uluran tangan itu telah dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang tepat. Tidak sekedar untuk makan mereka sehari-hari, sedang untuk hari esok menunggu lagi uluran tangan berikutnya. Tetapi selama itu, mereka telah memanfaatkannya untuk membangun bendungan di Padang Karautan bersama-sama dengan prajurit-prajurit Tumapel pula. Dan bendungan ini telah siap. Dengan demikian maka pada saatnya orang-orang Panawijen itu akan dapat menelan makan dan minum mereka dari hasil keringat sendiri. Apabila tanaman itu menghijau, berbunga, kemudian berbuah, maka akan segera datang musim menunai untuk yang pertama kalinya. Apabila demikian, maka orang-orang Panawijen itu akan berdiri dengan dada tengadah dan berkata,
“Kami telah berhasil bernafas dengan dada kami sendiri.”
Ki Buyut Panawijen yang tua itu tidak dapat menahan keharuan yang melonjak di dalam dadanya. Setitik air mata membasahi pipinya yang telah berkeriput karena umurnya. Namun meskipun demikian ia masih sempat melihat, bendungan Karautan itu dapat mengaliri sawah yang telah mereka buat, masih sempat melihat tanaman yang mulai menghijau. Namun ia masih berdoa di dalam hatinya, mudah-mudahan ia masih sempat pula melihat, orang-orang Panawijen memindahkan dirinya dari daerah lama yang gersang itu ke daerah yang baru, yang hijau dan subur.
“Kita harus merayakan kemenangan ini.“ desis Ki Buyut.
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah Ki Buyut. Kita rayakan kemenangan ini. Kita sudah menaklukkan tanah yang liar dan kemudian menjinakkannya.”
“Bagus.” teriak Kebo Ijo, “kita potong lembu dan kerbau yang sudah tidak kita pergunakan lagi.”
“Ah.“ terdengar Mahisa Agni berdesah. Ketika ditatapnya mata Ken Arok, maka dilihatnya mata itu menyipit.
Perlahan-lahan Ken Arok berkata, “Jangan Kebo Ijo. Sejak semula kita bekerja bersama-sama dengan mereka, meskipun mereka hanya binatang. Tetapi apakah kita akan sampai hati berbuat demikian.”
“Itu adalah sifat kecengenganmu Ken Arok. Buat apa lagi binatang-binatang itu bagi kita kini? Mereka hanya akan menjadi beban peliharaan saja.”
Ken Arok menggelengkan kepalanya. Katanya, “Apa kau sangka bahwa sawah itu akan dapat tumbuh tanamannya tanpa digarap? Nah, tugas lembu dan kerbau-kerbau itu masih panjang. Setiap musim mereka akan membantu orang-orang Panawijen mengerjakan sawahnya.”
“Apakah lembu, kerbau, pedati-pedati dan semua peralatan ini akan kita serahkan kepada orang-orang Panawijen?”
“Apakah harus kita bawa kembali ke Tumapel?”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak segera menjawab. Yang menyahut kemudian adalah Mahisa Agni, “Kami akan berterima kasih atas bantuan yang sudah dan yang masih akan kami terima. Lebih-lebih lagi, apabila yang kami terima itu adalah keperluan bagi kerja kami. Alat-alat untuk menggarap sawah dan membangun pedukuhan kami. Kami akan jauh lebih berterima kasih dari pada bantuan yang kami terima itu berupa kebutuhan sehari-hari saja. Kebutuhan yang akan habis kami telan dan akan habis kami pakai betapa berlimpah-limpahnya. Tetapi peralatan itu akan memberi kami nafas untuk bekerja seterusnya. Kami akan terlepas dari ketergantungan yang akan mematikan nafsu kerja kami dan anak cucu kami.”
Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itu adalah pikiran yang hidup dan wajar Agni. Karena itu, kita akan bergembira karena kita telah menyelesaikan pekerjaan dasar kita. Yang Maha Agung telah memperkenalkan kita melihat bendungan, susukan induk, parit-parit, sawah, taman dan sebagainya itu selesai. Tetapi ini bukan berarti bahwa kerja kita untuk selanjutnya selesai. Maka, marilah kita bersyukur, tanpa melepaskan ingatan kita kepada masa mendatang. Karena itu, biarlah binatang-binatang hidup untuk seterusnya. Kita dapat merayakan kemenangan ini tanpa apapun. Sebab kegembiraan itu ada di dalam dada kita. Kita nyatakan dengan bentuk-bentuk yang memungkinkan di Padang Karautan ini.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Katanya, “Ya, kita dapat merayakan dengan seribu macam bentuk untuk menyatakan bahwa kerja yang besar ini sudah selesai. Diantaranya, kita akan dapat tidur sepekan terus menerus. Bangun untuk makan, kemudian tidur lagi. Begitu?”
Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen menarik nafas. Tetapi mereka tidak menanggapinya. Namun dengan tiba-tiba saja Ken Arok berkata, “Kita akan segera mendapat kesempatan itu. Bersukaria, untuk menyambut kemenangan ini. Setelah taman itu selesai, Akuwu akan hadir beserta permaisurinya. Taman itu akan merupakan hadiah yang menyenangkan bagi Tuan Puteri Ken Dedes yang berasal dari tengah-tengah padukuhan Panawijen. Itulah sebabnya maka taman itu harus dibangun di dekat padukuhan yang dibangun oleh orang-orang Panawijen. Kehadirannya pasti akan memberikan kegembiraan bagi kita. Kita tidak perlu menyelenggarakannya sendiri. Kita ikut saja di dalam kegembiraan itu.”
Kebo Ijo mendengar keterangan itu dengan dahi yang berkerut merut. Kemudian ia berdesis perlahan, “Kapan Akuwu akan datang ke Padang Karautan untuk menyerahkan tamannya kepada perempuan Panawijen itu?”
Yang mendengar kata-kata Kebo Ijo itu merasakan desir yang tajam di dalam dada mereka. Mahisa Angni, Ken Arok, Ki Buyut Panawijen dan satu dua orang lagi. Sejenak mereka terdiam sambil mengawasi anak muda itu dengan mata yang tidak berkedip. Kebo Ijo merasa sorot beberapa pasang mata yang menyentuh wajahnya. Sejenak ia merasa canggung, Namun kemudian ia bertanya,
“Kenapa kalian memandangi aku seperti baru pertama kali melihat? Apakah yang aneh padaku?”
Tiba-tiba terdengar jawab Ken Arok pendek, “Mulutmu.”
Kebo Ijo mengerutkan keningnya. “Kenapa mulutku?“ tanpa sesadarnya tangannya meraba mulutnya.
“Mulutmu terlampau sulit untuk dikendalikan.“ sahut Ken Arok, “Kenapa kau tidak dapat memilih kata-kata yang lebih baik meskipun untuk menyatakan maksud yang sama?”
“O.“ Kebo Ijo justru tersenyum, “kalimatkulah yang salah lagi. Baikiah, aku akan memperbaikinya. Maksudku, aku ingin tahu, kapankah Akuwu Tunggul Ametung akan menyerahkan hadiah buat Permaisurinya Ken Dedes.”
Ken Arok sama sekali sudah tidak bernafsu lagi untuk menjawab. Meskipun demikian ia menggeram juga, “Pada saatnya kau akan melihat dan mengetahuinya. Apabila kelak Tuanku Akuwu datang bersama Tuan Puteri, bertanyalah hari dan pekan.”
Kebo Ijo mengerinyitkan alisnya, Namun ia pun kemudian tertawa. Sambil melangkah pergi ia bergumam, “Kau marah Ken Arok. Jangan lekas menjadi marah. Kau akan cepat menjadi tua. Lebih baik kau tertawa.”
Ken Arok tidak menghiraukan lagi, sedang orang-orang lainpun menjadi acuh tidak acuh pula kepada Kebo Ijo yang kemudian hilang di dalam gubugnya.
Sepeninggal Kebo Ijo, barulah Ken Arok berkata kepada Ki Buyut Panawijen, “Sebentar lagi Akuwu datang dengan kebesaran seorang Akuwu, Ki Buyut. Tidak seperti kedatangannya di saat lampau. Akuwu akan datang bersama Permaisuri dan akan menghadiahkan taman itu. Pada saat itulah kita numpang bergembira. Supaya persiapan tidak mengecewakan, maka biarlah aku mengirimkan utusan menghadapi Akuwu untuk menyampaikan maksud itu. Apabila Akuwu tidak berkeberatan, nah, kita akan mendapatkan kesempatan tanpa bersusah payah membuat sendiri. Sebelum Akuwu sendiri datang, pasti akan dikirim beperapa orang petugas, Juru masak, juru taman dan orang-orang yang diperlukannya. Kita tinggal menyebut saja jumlah orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang berada di Padang Karautan ini.”
Ki Buyut mengangguk-anggukan kepalanya. Gumamnya, “Berapa orang juru masak yang diperlukan untuk kepentingan itu.”
“Di Tumapel ada ratusan juru masak yang dapat dikerahkan. Sedang di sinipun kita telah mempunyai juru masak yang cukup, meskipun bukan juru masak yang baik. Meskipun mereka hanya sekedar juru masak prajurit. Tetapi setidak-tidaknya mereka akan dapat membantu menjerang air.”
Ki Buyut Panawijen mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa mendapat kehormatan, bahwa perhatian Akuwu Tunggul Ametung terhadap Panawijen ternyata melampaui perhatiannya terhadap pedukuhan-pedukuhan yang lain. Dan Ki Buyut pun menyadari, bahwa hadirnya Ken Dedes di Istana Tumapel ternyata berpengaruh atas persoalan itu, meskipun Ki Buyut yang sudah cukup tua itu juga menyadari, bahwa keluarga Ken Dedes sendiri ternyata tidak sempat ikut merasa berbahagia. Bahkan hilangnya Ken Dedes telah membuat ayalnya seolah-olah menyisihkan diri dari pergaulan, dan hilang untuk selanjutnya tanpa menyatakan diri lagi di dalam lingkungan padukuhan Panawijen.
Ternyata Ken Arok kemudian benar-benar mengirimkan utusannya menghadap Akuwu Tunggul Ametung untuk menyatakan maksudnya. Untuk ikut serta menikmati kegembiraan bersama-sama dengan kehadiran Akuwu Tunggul Ametung di Padang Karautan.
“Beri mereka apa yang dibutuhkan.“ perintah Akuwu kepada seorang yang dipercaya untuk menyelenggarakan perjamuan yang cukup baik di Padang Karautan selama kunjungannya bersama Permaisurinya. Dan kepada utusan Ken Arok Akuwu berkata, “Aku akan datang kepadang Karautan bersama Permaisuri dan beberapa orang prajurit dan para pemimpin pemerintahan Tumapel sepekan sebelum purnama, dan akan tinggal di Padang Karautan sampai sepekan setelah purnama.”
Berita itu diterima dengan senang hati oleh seluruh penghuni Padang Karautan yang selama ini tidak pernah melepaskan diri dari kerja. Kerja dan selalu dihadapkan kepada kerja. Tetapi usaha mereka ternyata tidak sia-sia. Kini bendungan itu benar-benar telah terwujud, telah berhasil mengangkat air dan menyalurkannya sampai kekotak-kotak sawah jauh ketengah padang. Beberapa saluran di seberang memberi kemungkinan yang serupa meskipun agak lebih kecil. Bahkan saluran yang melepaskan air dari sendang buatan itupun dapat dimanfaatkan pula dengan baik.
Dengan demikian, maka setiap orang di Padang Karautan itu pun menunggu sampai saat purnama semakin mendekat. Hampir sedikit malam mereka memandangi bulan yang seolah-olah tumbuh sedikit demi sedikit. Terlampau lamban. Apabila mendung menyaput langit, dan mereka tidak dapat melihat bulan yang semakin berkembang disetiap malam, terasa hari menjadi semakin panjang, Sudah terlampau lama mereka menunggu, namun bulan masih belum separo bulatan.
Meskipun demikian, orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel itu kini mendapat kesibukan baru. Bukan sekedar tidur, bangun dan makan. Mereka harus membuat pesanggrahan-pesanggrahan yang walaupun sederhana, tetapi cukup memenuhi kebutuhan bagi seorang Akuwu dan Permaisurinya, dekat di sebelah taman yang sudah menjadi semakin semarak karena bunga-bunga telah mulai berkembang. Bunga-bunga dengan beraneka bentuk dan warnanya. Bunga-bunga yang membuat taman itu semakin segar, yang seolah-olah dengan sadar menunggu kehadiran Permaisurinya yang segera akan datang. Dan kedatangan itu telah menumbuhkan berbagai macam tanggapan. Namun betapapun juga, seluruh Padang Karautan telah menanti kehadirannya.
Maka pada saatnya, sampailah suatu ketika, Padang Karautan seolah-olah telah terbakar oleh kegembiraan yang tiada taranya. Mereka tidak saja menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung dengan penuh kemegahan bersama Permaisurinya, Ken Dedes, tetapi mereka juga merayakan hari kemenangan. Mereka telah berhasil menaklukkan Padang Karautan dengan segala macam keganasan dan keliarannya. Membendung sungai dan menaikkan airnya, sehingga di jantung padang yang luas itu, telah dibangunkan sebuah padukuhan baru yang segar. Pedukuhan yang mempunyai kemungkinan yang sangat baik dihari-hari mendatang, karena luas tanah disekitarnya yang masih memungkinkan padukuhan itu berkembang.
Beberapa orang telah pergi ke Panawijen untuk mencari janur yang cukup baik, yang masih belum terlampau tua. Dengan pedati-pedati mereka msngangkut beberapa batang bambu utuh dengan daun-daunnya untuk dipancangkan sebagai umbul-umbul di sekitar taman dan pasanggrahan. Sebaik-baik mungkin yang dapat mereka kerjakan. Anyaman-anyaman janur dan bambu telah terpancang di dinding-dinding dan di pagar-pagar batu.
Maka pada hari yang ditentukan Akuwu Tunggul Ametung akan datang di Padang Karautan, setiap orang di perkemahan itu mengenakan pakaian yang sebaik-baiknya yang mereka miliki. Para prajurit mengenakan pakaian keprajuritan mereka. Siap untuk menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar