MENU

Ads

Minggu, 26 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 197

Ki Buyut Panawijen, Mahisa Agni, Ken Arok dan para pemimpin yang lain. Dengan wajah berseri-seri mereka siap menunggu kehadiran Akuwu bersama rombongannya.

Namun di antara sekian banyaknya wajah yang cerah, maka Kuda Sempana duduk termenung di dalam gubugnya. Kehadiran Akuwu Tunggul Ametung bersama Ken Dedes di perkemahan itu, menjadi suatu persoalan baru di dalam dadanya. Selama ini ia telah berusaha untuk dapat hidup diantara orang-orang Panawijen, betapapun sulitnya untuk melakukannya. Apalagi pada permulaannya. Tetapi lambat laun ia berhasil menyesuaikan diri, ketika ia mendapat keyakinan bahwa orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel itu benar-benar tidak mendendamnya tanpa ampun. Orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel dapat menerima kehadirannya meskipun dengan syarat. Dan ia berusaha sekuat-kuat hatinya untuk menerima syarat itu.

Ia telah melakukan sebaik-baiknya semua nasehat Mahisa Agni dan nasehat Ken Arok. Setiap kali didengarnya pula petunjuk-petunjuk dari Ki Buyut yang tua tentang hidup dihari kemudian. Dan setiap kali dihindarinya Kebo Ijo yang terlampau ringan membuka mulutnya tanpa terkendali, supaya tidak tumbuh hal-hal yang tidak dikehendaki.

Namun kini tiba-tiba ia dihadapkan pada suatu keadaan baru. Kehadiran Akuwu Tunggul Ametung sama sekali bukan persoalan lagi baginya, karena ia pernah bertemu sebelum Akuwu kembali ke Tumapel dari Padang Karautan ini. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes? Ia pernah menerima penghinaan tiada taranya dari padanya. Meskipun nalar Kuda Sempana dapat mengerti, bahwa penghinaan itu diberikan karena sakit hati gadis itu yang tidak tertahankan lagi, tetapi bagaimanapun juga luka itu masih terasa pedih di hatinya. Sekali-sekali terdengar Kuda Sempana berdesis. Di dalam dadanya terjadi pergolakan yang riuh. Apakah ia harus melupakan saja penghinaan itu, ataukah ia akan berbuat sesuatu atau menghindarkan diri saja dari setiap kemungkinan untuk bertemu dengan Ken Dedes.

“Aku harus menyingkir, meskipun hanya untuk sementara. Mereka berada di padang ini tidak terlampau lama. Hanya sepekan sebelum dan sesudah purnama. Dalam sepuluh hari itu aku akan tinggal saja di pedukuhan Panawijen lama. Aku dapat bersembunyi di sana sampai saatnya Akuwu Tunggul Ametung kembali ke Tumapel. Mudah-mudahan Ken Arok dan Mahisa Agni dapat mengerti dan aku diijinkannya pergi sebelum mereka datang.”

Kuda Sempana mengangguk-anggukkan kepalanya. Pada hematnya hal itu adalah yang sebaik-baiknya. Sebab ia sendiri masih belum dapat meyakini dirinya sendiri, apakah ia akan dapat bertahan apabila ia mengalami hal-hal yang pahit lagi. Kuda Sempana itu berpaling ketika ia mendengar langkah mendekat kepintu gubugnya. Sejenak kemudian dilihatnya seseorang berdiri di depan pintu itu, Kebo Ijo. Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Selama ini ia selalu menghindarkan diri. Sepatah-sepatah kata saja apabila terpaksa ia harus berbicara, kemudian mencari alasan untuk pergi. Tetapi kini ia berada di gubugnya, dan Kebo Ijo itu berhenti di muka pintu.

“Aku harus segera bertemu dengan Ken Arok dan Mahisa Agni.“ berkata Kuda Sempana di dalam hatinya, “supaya aku segera dapat pergi sebelum Akuwu datang.”

Tetapi yang lebih dahulu berkata adalah Kebo Ijo, “He, kau tidak tampak bergembira seperti orang-orang lain, kenapa?” Kuda Sempana tidak segera menjawab. Dilihatnya sebuah senyum yang lucu menghias bibir Kebo Ijo. “Marilah, keluarlah dari liangmu. Orang-orang dungu itu sudah seluruhnya berada di ujung perkemahan ini. Mereka akan menyambut Akuwu, dan kemudian mengiringkannya ke taman buatan itu. Apakah kau tidak ikut serta?”

“Ya.” jawab Kuda Sempana perlahan, “nanti sebentar aku akan pergi kesana pula.”

“Kenapa tidak sekarang.”

“Aku belum selesai berkemas.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kau masih juga akan berhias, he, supaya Ken Dedes jatuh cinta kepadamu? Bukankah kau mencintainya setengah mati?”

Pertanyaan itu serasa ujung pedang yang mengorek luka yang lama yang meskipun tidak mungkin sembuh, tetapi sudah ditahankannya terpendam. Dan seolah-olah kini luka itu terungkit kembali. Meskipun demikian Kuda Sempana tidak segera menyahut. Dicobanya untuk menguasai perasaannya. Sudah biasa ia mendengar perkataan-perkataan yang menyakitkan hati, yang diucapkan oleh Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Tetapi tidak tentang persoalan ini. Namun demikian ia masih dapat menahan dirinya.

Kuda Sempana masih duduk di tempatnya. Sekali-sekali ia melihat Kebo Ijo yang berdiri di depan gubugnya dengan sudut matanya. Tetapi sesaat kemudian kepalanya ditundukkannya lagi. Ia mengharap agar Kebo Ijo itu segera pergi, supaya ia dapat segera pula menemui Mahisa Agni dan Ken Arok untuk menyatakan maksudnya.

Tetapi Kebo Ijo itu masih berdiri saja disitu. Dan sejenak kemudian ia berkata, “Marilah Kuda Sempana, kita pergi ke ujung perkemahan ini. Kita ikut menyambut kedatangan Akuwu Tumapel, kemudian menjilat kakinya dan kaki Permaisurinya, supaya kita segera mendapat kenaikan pangkat.” Kuda Sempana berdesis. Tetapi ia belum menjawab. “Apa lagi yang kau tunggu? Kau sudah menjadi cukup tampan. Aku akan ikut berdoa supaya Ken Dedes jatuh cinta kepadamu.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk menahan gemeretak jantungnya yang serasa akan retak dengan napas yang terengah-engah karena menahan diri ia berkata,

“Kebo Ijo, marilah kita bergurau. Tetapi jangan kau sebutkan persoalan itu. Satu soal saja. Katakanlah apa saja yang ingin kau katakan. Aku sudah mencoba untuk menempatkan diri di antara kalian, di antara orang-orang yang seolah-olah tidak mau menerima aku lagi. Betapa sakit dan pahitnya, aku telah mencoba untuk menahankannya. Tetapi aku minta janganlah persoalan itu kau sebut, meskipun kau tidak bersungguh-sungguh.”

Kebo Ijo mengerinyitkan alisnya. Sejenak ia berdiri diam sambil memandang Kuda Sempana dengan tajamya. Namun sejenak kemudian terdengar suara tertawanya,

“Oh, kau sakit hati Kuda Sempana? Kau mencoba untuk menutup mulutku dengan sepenuh belas kasihan kepadamu? Dengar, aku justru ingin menasehatimu. Kalau nanti Akuwu berada di padang ini bersama Permaisurinya, kau harus berbuat sesuatu. Berbuat jantan seperti laki-laki yang sebenarnya.” Kuda Sempana masih tetap berdiam diri meskipun dadanya semakin bergelora.

“Kuda Sempana.“ berkata Kebo Ijo, “kalau aku menjadi kau, maka apabila Akuwu dan Ken Dedes berada di padang ini, aku tantang ia melakukan perang tanding. Tidak sebagai seorang Akuwu dengan seorang Pelayan Dalam, sebab dengan demikian kau pasti akan dianggap memberontak dan akan ditangkap oleh pengawal-pengawalnya, tetapi sebagai laki-laki dengan laki-laki. Kau tantang ia melakukan perang tanding untuk memperebutkan Ken Dedes. Nah, kalau kau berhasil membunuhnya dan mengambil Ken Dedes sebagai isterimu, kau tidak saja akan memiliki seorang isteri yang cantik, tetapi kau akan memiliki seluruh Tumapel, sebab Tumapel dengan segala isinya, termasuk aku dan kau, sudah diserahkan kepada Ken Dedes.”



Gelora di dada Kuda Sempana menjadi semakin dahsyat memukul jantungnya. Darahnya serasa mengalir semakin cepat dan ubun-ubunnya terasa menjadi panas. Sedang Kebo Ijo itu masih berbicara terus,

“Aku kira kau akan mendapat kesempatan itu, bertarung dengan jantan. Taruhannya pun cukup bernilai untuk beradu maut. Seorang perempuan cantik. Bukan hanya sekedar perempuan cantik, tetapi seorang perempuan cantik yang memiliki kekuasaan atas tanah tumapel. Nah, apakah kau tidak tertarik?”

Betapa darah Kuda Sempana terasa mendidih, ia masih tetap sadar akan dirinya, sadar akan keadaan dan kedudukannya. Karena itu, betapa dahsyat dadanya bergolak, ia masih tetap duduk ditempatnya. Bahkan ia masih dapat menahan dirinya meskipun dadanya akan meledak, dan menggeleng perlahan-lahan,

“Tidak Kebo Ijo. Aku tidak dapat melakukannya.”

Kebo Ijo mengerutkan dahinya. Lalu desisnya, “Kau sudah berubah Kuda Sempana. Berubah sama sekali. Kau pernah bersikap sebagai seorang jantan pada saat kau melarikan Ken Dedes. Kemudian perang tanding yang tidak jujur. Akuwu mempergunakan kakang Witantra untuk merebut Ken Dedes dari tanganmu. Memang kakang Witantra terlampau tunduk di bawah kaki Akuwu Tunggul Ametung. Seperti seekor kerbau yang telah dicocok hidung. Kemana kendali ditarik, kesana ia melangkah.” Kebo Ijo berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang masih tunduk.

Namun dengan demikian, terasa sesuatu di dada Kuda Sempana yang seolah-olah mendinginkan darahnya, Didalam hatinya ia berkata, “Kebo Ijo benar-benar tidak dapat menjaga mulutnya. Jangankan aku yang mempunyai kedudukan yang sangat sulit di sini, sedang ia merasa dirinya orang kedua dalam lingkungannya, selagi terhadap kakak seperguruannya saja, ia bersikap dan berkata demikian.” Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dicobanya untuk mengendapkan panas di dadanya. Sekali lagi diperbandingkannya dirinya dengan Witantra dalam penilaian Kebo Ijo yang gila itu.

“Bagaimana?” desis Kebo Ijo, “apakah kau berani melakukannya.”

Tiba-tiba Kuda Sempana itu menggeleng, “Tidak. Aku tidak berani melakukannya.”

“He?” mata Kebo Ijo menjadi terbelalak, “apakah kau sudah menjadi banci, he? Kenapa kau tidak berani menantang laki-laki justru kau juga seorang laki-laki jantan? Adalah kewajibanmu untuk mencoba merebutnya. Kau lebih dahulu menyentuh gadis itu daripada Akuwu Tunggul Ametung. Dan Akuwu tidak melakukan sendiri perang tanding melawanmu. Nah, menurut penilaianku gadis itu masih hakmu.”

Sekali lagi Kebo Ijo terkejut ketika ia melihat Kuda Sempana menggeleng dan berkata, “Tidak Kebo Ijo. Aku kini sudah melupakan persoalan itu. Aku harap kau jangan mempersoalkannya lagi supaya dadaku tidak menjadi bengkah karenanya.”

Yang terdengar adalah suara tertawa Kebo Ijo sangat menyakitkan hati. Katanya, “Aku tahu Kuda Sempana. Kau sudah diampuni oleh Akuwu. Kalau Kakang Witantra di hadapan Akuwu seperti seekor kerbau yang bodoh, maka kau tidak akan lebih dari seekor kuda tunggangan yang terlebih bodoh lagi. Tetapi mungkin juga karena kau sudah menjadi seorang pengecut.”

Darah yang sudah mendingin itu tiba-tiba mendidih kembali. Dengan tajamnya kini ditatapnya mata Kebo Ijo yang masih saja berdiri di gubugnya. Tetapi, Kebo Ijo seolah-olah tidak melihat kemarahannya yang memancar pada sorot mata Kuda Sempana. Ia masih saja tertawa sambil memandangi Kuda Sempana yang sedang berjuang untuk menahan diri. Namun terasa betapa sakit di dadanya hampir tidak tertahankan lagi.

Dan ternyata bahwa Kebo Ijo masih juga membakar hati yang membara itu, katanya, “Apakah kau marah? Kau sama sekali tidak akan dapat marah lagi. Kau benar-benar telah dijinakkan. Mula-mula oleh Kebo Sindet, kemudian oleh Mahisa Agni dan Ken Arok.”

“Cukup.“ tiba-tiba suaru Kuda Sempana menggelegar. Dadanya sudah terlampau penuh sehingga tidak dapat lagi memuat hinaan itu.

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiri mematung. Namun sejenak kemudian ia tersenyum, “Kau masih cukup garang Kuda Sempana. Tetapi apakah yang dapat kau lakukan.”

“Aku minta kau diam Kebo Ijo. Kau pergi dari tempat ini atau aku yang pergi. Kalau kita masih berbicara lagi, mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk menahan diri masing-masing.”

“Uh, kesadaranmu tentang dirimu begitu tinggi.” jawab Kebo Ijo, “Tetapi kau pun harus sadar, bahwa kau tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi di sini. Kau adalah seorang tawanan. Karena itu jangan mencoba menyombongkan dirimu lagi. Semua perintah harus kau jalankan. Perintah siapa saja. Apalagi perintahku, orang kedua yang mendapat kepercayaan Akuwu Tunggul Ametung di sini.”

“Tidak.“ Kuda Sempana hampir berteriak, “aku sama sekali bukan seorang tawanan.”

“Lalu apa sangkamu?“ bertanya Kebo Ijo, “apa kau sangka kau masih seorang perwira di sini, atau seorang tamu atau apa? Tidak. Kau adalah seorang tawanan. Resmi atau tidak resmi. Kau tidak dapat berbuat sekehendakmu. Seorang tawanan yang memberontak, hukumannya kau pasti sudah tahu, karena kau pernah menjadi seorang Pelayan Dalam, yang justru mendapat kepercayan dari Akuwu. Hukuman itu adalah hukuman mati.”

Darah didada Kuda Sempana sudah mendidih. Dengan suara bergetar ia menjawab, “Aku bukan seorang tawanan. Aku dapat membuktikannya tentang hal itu.”

“Buktikanlah hahwa kau bukan seorang tawanan.”

Tiba-tiba Kuda Sempana yang sudah dibakar oleh kemarahan itu meloncat meraih pedangnya yang tergantung di dinding gubugnya. Sambil mengangkat pedangnya yang masih berada di sarungnya itu ia berkata lantang,

“Inilah buktinya bahwa aku bukan seorang tawanan. Seorang tawanan tidak akan dibiarkan bersenjata. Tetapi aku masih menggengam pedang. Pedangku sendiri.”

Dahi Kebo Ijo menjadi berkerut merut. Ditatapnya wajah Kuda Sempana yang kian menegang. Sedang wajah Kebo Ijo pun menjadi tegang pula. Ternyata Kuda Sempana itu tidak seperti yang diduganya. Disangkanya anak muda itu telah menjadi terlampau jinak dan tidak berani berbuat apapun. Namun, ternyata kini Kuda Sempana telah memegang pedangnya. Karena itu maka sejenak Kebo Ijo menjadi berdebar-debar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum. Ia merasa mendapat kawan untuk bermain-main setelah sekian lama ia harus bekerja menyelesaikan bendungan itu. Sehingga sejenak kemudian ia berkata,

“Kuda Sempana. Jangan berbuat bodoh. Kalau kau mempunyai sedikit pengertian tentang susunan pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan ini, kau pasti akan minta maaf kepadaku. Karena aku berhak menentukan hukuman apa saja selain Ken Arok kepada orang-orang yang bersalah. Termasuk kau. Bahkan terhadap Mahisa Agni pun aku wenang untuk bertindak apabila ia membuat kesalahan. Jangan kau sangka bahwa orang yang melindungimu itu mempunyai kekuasaan tak terbatas di sini.”

“Tidak.“ jawab Kuda Sempana, “aku tidak menggantungkan perlindungan kepada orang lain selain kepada diriku sendiri. Selama aku masih memegang pedang, tidak ada hukuman yang dapat diberikan kepadaku.”

Namun tiba-tiba terbayang di wajah Kuda Sempana itu berbagai macam hukuman yang dapat diterimanya. Ia adalah orang yang sedang berusaha mendapat tempat di antara orang-orang sekelahiran dan di antara para prajurit Tumapel. Lalu apakah kesan mereka apabila ia berkelahi melawan Kebo Ijo, yang justru merupakan salah seorang pimpinan di padang ini.

“Tetapi ia terlampau menghina.“ desisnya di dalam hati. Namun sejenak kemudian terbayang segala macam kesalahan yang pernah dilakukannya. Karena itu, maka sesaat kemudian tumbuhlah benturan yang dahsyat di dalam dadanya.

“Kuda Sempana.“ terdengar suara Kebo Ijo perlahan-lahan, “aku masih memberi kau kesempatan. Berlutut dan minta maaf, atau aku akan menentukan jenis hukuman bagimu? Tetapi jangan takut aku akan memanggil prajurit-prajurit untuk menangkapmu. Sebelum kau mendapat hukumanmu, kau mendapat dua macam kesempatan. Minta maaf atau bertempur. Aku juga membawa pedang seperti kau sedang menggengam pedang. Tetapi kalau kau kalah, jangan mengharap belas kasian lagi.”

Dada Kuda Sempana berdebaran. Tetapi ia tidak segera menyambut. Di dalam hatinya, perlahan-lahan terungkat kembali sikap putus asanya dapat menyesuaikan dirinya dengan menekan perasaannya kuat-kuat. Tetapi kini ia dihadapkan pada suatu keharusan untuk berbuat sesuatu meskipun bertentangan dengan usahanya selama ini.

“Cepat.“ bentak Kebo Ijo, “pilihlah, minta ampun atau cabut pedangmu, dengan akibat kau dapat dihukum picis.”

Dada anak muda itu berdesir. Tetapi tiba-tiba ia berkata, “Aku sudah seharusnya mati. Tetapi aku tidak akan menyerahkan diriku untuk mendapat hukuman apapun. Aku memilih mencabut pedangku. Aku akan berkelahi sampai mati sebab kalah atau menang, aku pasti akan dihukum.”

Dahi Kebo Ijo berkerut. Tetapi kemarahannya pun kini terungkat sepenuhnya. Dengan serta merta ia mencabut pedangnya dan berteriak, “Ayo, keluarlah. Ternyata kau masih mempunyai sisa-sisa kejantananmu di dalam keputus-asaan itu. Sejak kau datang aku memang ingin membunuhmu. Sekarang ternyata aku mendapat kesempatan karena kesalahanmu.”

Kemarahan Kuda Sempana telah sampai ke puncaknya pula. Karena itu, ketika ia mendengar tantangan Kebo Ijo, maka tidak diingatnya apapun lagi. Kesadarannya tentang dirinya lenyap bersama lenyapnya setiap pertimbangan. Dengan kaki gemetar Kuda Sempana melangkah perlahan-lahan keluar dari gubugnya. Dengan perlahan-lahan tangannya yang gemetar pula mencabut pedangnya. Pandangan matanya menjadi semakin tajam dan giginya terdengar gemeretak. Ketika ia sudah berdiri di luar gubugnya, ia menggeram,

“Ayo Kebo Ijo. Aku sudah siap untuk mati. Aku akan bersikap jantan untuk yang terakhir kalinya, supaya aku mati dengan dada tengadah dan pedang digenggaman.”

“Persetan.” Kebo Ijo memotong, “sepantasnya kau dihukum picis. Kau adalah seorang tawanan yang memberontak.”

“Aku tidak pernah merasa diriku sebagai seorang tawanan. Aku masih menggenggam pedang. Ayo, mulailah. Aku tahu, bahwa aku pasti akan mati, menang atau kalah. Kalau aku kalah, maka kaulah yang membunuhku. Tetapi kalau aku menang, maka aku pasti akan dihukum mati. Tetapi seandainya aku dihukum mati setelah aku merobek dadamu yang dipenuhi oleh kesombongan tiada taranya itu, aku tidak akan menyesal.”

Kebo Ijo sudah tidak dapat menahan dirinya lagi. Tanpa menjawab lagi ia meloncat menyerang dengan garangnya. Tetapi Kuda Sempana telah bersiap pula untuk menerima serangan itu. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar, dan bahkan segera ia membalas serangan Kebo Ijo dengan serangan pula.

Sejenak kemudian perkelaian itupun menjadi semakin sengit. Mereka telah dibakar oleh kemarahan dan kejemuan menghadapi persoalan mereka masing-masing. Kebo Ijo yang telah menjadi jemu dengan segala macam kerja yang berat, jemu terhadap sikap orang-orang Panawijen dan prajurit-prajurit Tumapel yang dengan sepenuh hati menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung yang menurut penilaiannya terlampau berlebih-lebihan, dilandasi oleh sifat-sifatnya yang dengki dan tinggi hati, telah terbetur dengan sikap putus asa Kuda Sempana yang sebenarnya perlahan-lahan berangsur hilang. Tetapi goncangan perasaannya kali ini telah meledakkan dadanya yang selama ini diusahakannya untuk diendapkan.

Karena itulah, maka sejak pedang mereka berbenturan untuk pertama kali, mereka masing-masing merasakan, betapa kekuatan yang tersimpan, telah hampir seluruhnya tersalur lewat senjata-senjata itu. Dan benturan yang pertama itupun ternyata telah mengejutkan kedua belah pihak.

Kuda Sempana yang pernah bertempur melawan Witantra, kakak seperguruan Kebo Ijo meskipun tidak dapat memenangkannya, merasakan bahwa Kebo Ijo kini memiliki kemampuan yang lebih besar dari kakaknya pada saat yang lampau itu. Tetapi Kuda Sempana yang sekarang ini pun telah maju pula dibandingkan dengan masa itu. Bersama Kebo Sindet ia telah menambah pengalaman mempergunakan senjata meskipun dengan hati yang kosong. Namun pengalaman itu ternyata berpengaruh pula atasnya. Naluri untuk mempertahankan hidupnya, telah membuatnya justru menjadi semakin banyak memiliki ilmu meskipun bukan bersumber dari perguruarn yang sama. Beberapa unsur yang diterimanya dari Kebo Sindet telah membuatnya menjadi bertambah kasar, ganas dan berbahaya.

Demikianlah maka keduanya bertempur dengan sengitnya. Kebo Ijo, yang dialiri oleh ilmu dari seorang yang cukup matang, namun dibumbui oleh sifat-sifat Kebo Ijo sendiri, membuat ilmu itu menjadi sangat berbahaya. Cepat, penuh kepercayaan kepada diri dan kadang-kadang tampak betapa kesombongannya memancar dari sikap dan geraknya. Tetapi Kebo Ijo itu ternyata harus memperbaiki sikapnya. Kuda Sempana bukan anak-anak yang dapat dipaksanya untuk berlutut. Apalagi anak muda itu telah didorong oleh rasa putus asa. Menang atau kalah, baginya tidak akan jauh berbeda. Karena itu maka tandangnyapun menjadi terlampau garang. Segarang harimau yang kelaparan dan seekor buaya-buaya kerdil dirawa-rawa Kemundungan. Bahkan semakin lama Kuda Sempana menjadi semakin liar. Pengaruh Kebo Sindet semakin banyak tampak di dalam tata geraknya yang semakin tidak terkendali.

Kebo Ijo kini dihadapkan pada suatu kenyataan, bahwa tidak terlampau mudah untuk memaksa Kuda Sempana tunduk di bawah kakinya. Bahkan semakin lama ia merasakan keringatnya semakin banyak mengaliri tubuhnya.

“Anak setan.“ ia menggeram di dalam hati, “ternyata ia mampu melakukan perlawanan meskipun dengan caranya sendiri. Buas dan kasar.”

Kebo Ijo pun kemudian mengerahkan segenap kemampuan yang ada padanya. Kemarahannya sudah sampai ke puncak ubun-ubun. Kuda Sempana yang tidak mempuryai wewenang apapun itu ternyata masih berani melawannya.

“Kau benar-benar akan dihukum picis.“ tanpa sesadarnya Kebo Ijo menggeram.

“Aku tidak peduli.“ sahut Kuda Sempana sambil menyerang dengan kasarnya. Bahkan sekali-sekali sering terdengar ia menghentak dan berteriak.

Perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Seperti pertarungan dua ekor harimau yang paling garang di hutan yang paling liar. Tidak ada lagi nilai-nilai yang mereka hormati. Cara apapun dapat mereka lakukan untuk segera mengalahkan lawannya. Kebo Ijo pun agaknya terpengaruh juga oleh lawannya. Meskipun pada dasarnya, ilmu yang dimilikinya bukanlah ilmu yang kasar, namun sifat Kebo Ijo sendiri, serta tata gerak lawannya, telah membuatnya kadang-kadang telah menjadi kasar pula dan kadang-kadang menjadi licik.

Ternyata perkelahian itu merupakan perkelahian yang seimbang dalam bentuknya masing-masing. Desak mendesak, silih ungkih, sehingga mereka telah melupakan apapun juga selain memenangkan perkelahian itu. Mereka telah melupakan pula bahwa pada hari itu Akuwu Tunggul Ametung akan hadir di Padang Karautan yang kini telah menjadi hijau.

Sementara itu Ken Arok, Mahisa Agni, Ki Buyut Panawijen dan hampir semua orang yang berada di Padang Karautan telah bersiap-siap menyambut kedatangan Akuwu Tunggul Ametung. Mereka duduk bertebaran di atas rerumputan yang sudah mulai hijau karena titik-titik air hujan. Hanya mereka yang bertugas sajalah yang tidak berada di tempat itu. Para juru masak dan pekerja-pekerja yang mempersiapkan pesanggrahan di samping taman buatan. Beberapa pengawal yang bersiap dengan senjata masing-masing. Selebihnya berkumpul menunggu kehadiran Akuwu. Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen terkejut ketika seseorang dengan tergesa-gesa menghampirinya.

Sambil mengerutkan keningnya Ken Arok bertanya, “Kenapa kau tampak gelisah?”

Orang itu ragu-ragu sejenak. Kemudian ia berkata perlahan-lahan, “Kuda Sempana dan Kebo Ijo sedang berkelahi.”

“He.” hampir bersamaan Ken Arok, Mahisa Agni dan Ki Buyut menyahut, “dimana?”

“Di gubug Kuda Sempana.”

“Kenapa mereka berkelahi?”

Orang itu menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu. Ketika aku mengambil air, aku melihat dari kejauhan. Mereka berkelahi dengan pedang.”

Sejenak mereka saling berpandangan. Namun sejenak kemudian Mahisa Agni berkata, “Aku akan melihatnya.”

“Aku akan pergi juga.” sahut Ken Arok.

“Aku juga.” berkata Ki Buyut Panawijen.

“Jangan.” potong Mahisa Agni, “Ki Buyut tetap berada di sini. Apabila Akuwu Tunggul Ametung tampak di kejauhan, Ki Buyut kami harap memberitahukan kepada kami. Sementara kami menyelesaikan persoalan Kuda Sempana dan Kebo Ijo.”

“Ya.“ Ken Arok menyambung. Kemudian kepada orang yang memberitahukan kepadanya ia berkata, “Jangan kau beritahukan kepada orang lain supaya tidak terjadi kegaduhan. Aku juga tidak akan memberitahukan kepada siapa pun. Kami berdua sajalah yang akan menyelesaikannya.”

Orang itu menganggukkan kepalanya. Dan kepada Ki Buyut, Ken Arok pun berpesan, “Ki Buyut, tidak perlu ada orang lain yang mengetahuinya. Kita tidak boleh merusak suasana menjelang kedatangan Akuwu Tunggul Ametung.”

Ki Buyut diam sejenak. Namun kemudian ia mengangguk sambil menjawab, “Ya. Baiklah aku tinggal di sini. Hati-hatilah dengan kedua anak-anak muda itu.”

Ken Arok dan Mahisa Agni pun segera pergi ke tempat yang ditujukan oleh orang yang telah melihat Kuda Sempana dan Kebo Ijo berkelahi. Untuk tidak memberikan kesan yang dapat menumbuhkan pertanyaan-pertanyaan, maka Ken Arok dan Mahisa Agni berjalan lebih dahulu. Baru kemudian orang yang memberitahukannya itu menyusul di belakang. Meskipun demikian Ken Arok dan Mahisa Agni itu masih harus menahan diri, dan berjalan perlahan-lahan supaya tidak menimbulkan kesan apapun. Tetapi demikian mereka menyelinap diantara gubug-gubug di perkemahan itu, maka segera mereka berjalan dengan tergesa-gesa supaya mereka tidak terlambat.

Dalam pada itu, Kuda Sempana dan Kebo Ijo masih berkelahi dengan sengitnya. Pedang Kebo Ijo menyambar-nyambar seperti ujung kuku seekor burung garuda yang sedang marah. Tetapi Kuda Sempana pun mampu pula berbuat demikian. Bahkan dengan kekasarannya, senjatanya berputar dan melanda lawannya seperti angin ribut.

Ken Arok dan Mahisa Agni yang menjadi semakin dekat, segera mendengar, sekali-sekali Kuda Sempana menghentak sambil memekik. Mendengar suara itu, segera Mahisa Agni teringat kepada Kebo Sindet, yang berkelahi dengan cara yang serupa. Berteriak-teriak, bahkan memaki-maki.

“Pengaruh itu telah merasuk ke dalam dada Kuda Sempana.“ berkata Mahisa Agni di dalam hati, “Empu Sada sudah memiliki ciri-ciri yang cukup keras dan kasar. Kebo Sindet adalah seorang yang paling buas dan bengis. Kini agaknya Kuda Sempana memiliki kedua-duanya.”

Kebo Ijo yang telah berjuang sekuat tenaganya, ternyata masih belum mampu menguasai lawannya. Ia tak menduga sama sekali bahwa Kuda Sempana pun telah berhasil meningkatkan ilmunya, meskipun dengan unsur-unsur gerak yang agak liar. Sedang Kuda Sempana sendiri sama sekali tidak menghiraukannya, apakah yang sudah dilakukan. Ia merasa bahwa ia harus mati. Mati dalam perkelahian itu, atau mati di tiang gantungan karena ia berani melawan salah seorang pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan. Tetapi seandainya ia mati, maka lebih baik mati dengan pedang di tangan. Atau kalau ia harus mati di tiang gantungan, atau hukuman picis sekalipun, ia harus membawa Kebo Ijo serta, karena Kebo Ijolah yang menyebabkan semua itu terjadi.

Namun tiba-tiba kedua orang yang sedang bertempur itu terperanjat ketika mereka mendengar suara dekat di samping mereka, “Berhenti, berhenti.”

Keduanya sempat berpaling sesaat. Mereka melihat Ken Arok dan Mahisa Agni muncul dari balik gubug-gubug di sekitar mereka. Namun Kebo Ijo yang sudah dibakar oleh kemarahannya tiba-tiba menjawab lantang,

“Jangan kau campuri urusanku.”

“Berhenti.“ terdengar suara Ken Arok semakin keras.

Tetapi Kebo Ijo sama sekali tidak menghiraukannya. Kuda Sempana pun kemudian tidak melakukan perintah itu pula. Bukan saja karena Kebo Ijo masih menyerangnya terus. Tetapi ia merasa bahwa tidak ada gunanya ia berhenti. Ia harus membunuh atau dibunuh. Kemudian apabila ia masih hidup, tiang gantungan sudah akan dipersiapkan. Mungkin sebagai hidangan yang paling menyenangkan pada saat Akuwu Tunggul Ametung dan Ken Dedes nanti datang di Padang Karautan ini. Karena itu, maka sudah bulatlah tekadnya. Perkelahian ini harus menentukan. Mati dengan pedang di tangan, atau kemudian menjalani hukuman, setelah membunuh Kebo Ijo yang telah membuat hatinya terluka kembali dan bahkan menjadi putus asa.

Tetapi untuk membunuh Kebo Ijo, ternyata bukan pekerjaan yang mudah dan bahkan yang mungkin dapat dilakukan oleh Kuda Sempana. Sehingga dengan demikian, maka perkelahian yang terjadi itu benar telah memeras segenap tenaga dan kekuatan yang ada.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar