MENU

Ads

Minggu, 26 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 198

Ken Arok dan Mahisa Angi yang berdiri tegak mematung didekat perkelahian yang terjadi itu, menjadi kian berdebar-debar dan cemas, justru pada saat Akuwu Tunggul Ametung akan mengunjungi Padang Karautan ini. Apakah Akuwu Tunggul Ametung akan melihat perselisihan yang terjadi ini, atau Akuwu akan melihat salah seorang daripadanya telah menjadi mayat? Apabila demikian maka peristiwa ini pasti akan merusak segala macam kegembiraan yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua orang di Padang Karautan ini dan bahkan kegembiraan para pengawal Akuwu termasuk Permasurinya. Akuwu pasti akan selalu marah-marah dan berteriak-teriak membentak semua orang, dan bahkan mungkin akan menjatuhkan hukuman-hukuman yang berat.

Dan semua tanggung jawab terletak di pundaknya. Di pundak Ken Arok. Ia telah mendapat kekuasaan dari Akuwu untuk memimpin prajurit-prajurit Tumapel yang ada di Padang Karautan ini dan iapun mendapat kekuasaan untuk mengawasi tindakan seorang demi seorang. Selain Ken Arok, Mahisa Agni pun mencemaskan perkembangan keadaan itu. Dialah yang membawa Kuda Sempana masuk kedalam perkemahan ini, sehingga ia tidak akan dapat melepaskan tanggung jawab atasnya, atas Kuda Sempana. Sehingga dalam persoalan ini pun ia pasti dilibatkannya, apabila terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki atas salah seorang dari mereka berdua, yang sedang mempertaruhkan nyawa masing-masing itu.

Sejenak Ken Arok dan Mahisa Agni tidak dapat menemukan cara yang sebaik-baiknya untuk menghentikan perkelahian itu. Meskipun mereka berteriak-teriak untuk menghentikannya, namun agaknya kedua orang itu sama sekali tidak akan menghiraukannya.

Dalam kecemasannya Mahisa Agni tiba-tiba berbisik, “Kita harus melerai mereka.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Ya, tetapi bagaimana caranya?”

“Kita masuk ke dalam lingkaran perkelahian. Cobalah menahan Kebo Ijo, aku akan menahan Kuda Sempana. Apabila perkelahian itu berhenti, barulah kita berbicara.”

Ken Arok tertegun sejenak. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambii bergumam, “Marilah kita coba. Aku akan menyerang Kebo Ijo untuk memancing perhatiannya, dan kau harus menghentikan Kuda Sempana. Begitu?”

Mahisa Agni mengangguk. “Ya, cepatlah kita lakukan sebelum perkelahian itu membawa akibat bagi salah seorang dari mereka. Apalagi setiap saat kita akan mendengar berita, bahwa Akuwu telah datang.”

“Marilah.” desis Ken Arok. Dipandanginya arena perkelahian itu dengan tajamnya, kemudian hampir bersamaan mereka melangkah mendekat. Namun sebelum mereka bertindak, sekali lagi Ken Arok berteriak, “Hentikan perkelahian itu, sebelum kami berbuat sesuatu atas kalian berdua.”

Ternyata suara itupun seolah-olah hilang dihembus angin pagi. Baik Kuda Sempana maupun Kebo Ijo sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan mendengar Kebo Ijo menjawab,

“Jangan campuri urusan kami.”

Kini Ken Arok dan Mahisa Agni sudah pasti, bahwa tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh kecuali melerai perkelahian itu dengan tindakan, tidak sekedar dengan kata-kata. Sejenak Mahisa Agni dan Ken Arok saling memandang, kemudian hampir bersamaan keduanya mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai suatu isyarat untuk segera bertindak. Maka sejenak kemudian terdengar Ken Arok berkata,

“Kalau kalian tidak mau berhenti, maka kami terpaksa bertindak.”

Kebo Ijo tidak sempat menyahut. Sesaat kemudian mereka yang sedang berkelahi itu melihat Ken Arok dan Mahisa Agni maju bersama-sama. Kuda Sempana tidak sempat berbuat apapun juga. Ternyata ilmunya terpaut terlampau banyak, sehingga yang terjadi kemudian sama sekali berada diluar kemampuannya untuk menghindari. Sekejap saja pedang Kuda Sempana telah berpindah ketangan Mahisa Agni. Kemudian terasa sebuah dorongan yang kuat sekali, sehingga Kuda Sempana terlempar beberapa langkah surut, bahkan anak muda itu telah kehilangan keseimbangan sehingga ia jatuh terbanting di tanah.

Dalam pada itu Ken Arok pun telah bertindak pula. Tangannya secepat tatit memukul pergelangan Kebo Ijo yang sama sakali tidak menduganya, sehingga terdengar ia memekik kecil dan pedangnya pun terlempar di tanah beberapa langkah daripadanya.

“Anak setan.“ Kebo Ijo mengumpat keras, “kenapa kau mencampuri urusanku, he?”

Ken Arok berdiri tegak dengan wajah yang gosong. Dipandanginya Kebo Ijo yang kesakitan memegangi pergelangan tangan kirinya. Namun matanya memancarkan kemarahan yang meluap-luap. Sedang sejenak kemudian ditatapnya Kuda Sempana yang segera meloncat bangkit dan berdiri tegak dengan garangnya. Tetapi keduanya sudah tidak memegang senjata masing-masing.

“Kalian telah menjadi gila.“ terdengar Ken Arok menggeram, “apakah dengan perbuatan kalian ini, kami, dan orang-orang yang berada di Padang Karautan ini akan berbangga? Apakah kalian menyangka bahwa dengan tindakan kalian ini, kalian akan digelari pahlawan yang penuh kejantanan sedang mempertahankan kehormatan diri?”

Kebo Ijo yang sedang dibakar oleh kemarahan itu menjawab lantang, “Coba katakan kepadaku Ken Arok, apakah yang sebaiknya aku lakukan apabila aku sedang berhadapan dengan seorang pemberontak? Apakah yang akan aku lakukan apabila seorang tawanan seperti Kuda Sempana ini ingin mempergunakan kesempatan untuk melepaskan dirinya? Apakah aku harus berpangku tangan, dan membiarkannya pergi atau membiarkannya memenggal leherku sebagai orang kedua di Padang Karautan ini?”

Kuda Sempana terkejut sekali mendengar jawaban Kebo Ijo itu. la sama sekali tidak menyangka bahwa Kebo Ijo begitu licik dan dengan tanpa malu-malu telah memutar balik kenyataan. Dengan demikian maka Kuda Sempana dapat mengambil kesimpulan sekilas tentang anak muda yang bernama Kebo Ijo itu. Kelicikannya ternyata jauh melampaui apa yang diduganya. Ia banyak mendengar nasehat dan petunjuk dari Ken Arok dan Mahisa Agni tentang Padang Karautan dan orang-orangnya. Ia mendengar pula tentang Kebo Ijo yang tidak dapat menahan mulutnya dan tanpa berperasaan sering menyakiti hati orang lain dan bahkan dengan penuh kesombongan. Tetapi Kuda Sempana tidak menyangka bahwa Kebo Ijo itu pun dengan sangat ringan, telah mengucapkan sebuah fitnah terhadapnya. Seolah-olah sama sekali tidak membebani perasaannya.



Ia melihat Ken Arok mengerutkan keningnya dan sekilas berpaling kepada Mahisa Agni. Sebersit gugatan melonjak di dalam hati Kuda Sempana. Seandainya Ken Arrok dan Mahisa Agni mempercayainya, maka ia akan dihadapkan pada keadaan yang sangat tidak menyenangkannya. Ia lebih baik mati di dalam perkelahian itu, atau membunuh lawannya kemudian mati digantung, dari pada mati sebagai seorang pengecut. Sebagai seorang tawanan yang sedang berusaha melarikan diri.

Dalam keheningan yang sejenak itu terdengar Kebo Ijo berkata seterusnya, “Kenapa kau diam saja Ken Arok? Kenapa kau tidak segera mengambil sikap? Kalau kau tidak bisa, katakanlah, apa yang harus aku lakukan.”

Wajah Ken Arok menjadi semakin tegang. Sebelum ia menjawab terdengar suara Kuda Sempana gemetar, “Aku tidak menyangka bahwa kau begitu licik Kebo Ijo. Sudah aku katakan, aku sama sekali bukan seorang tawanan. Dan aku sama sekali tidak akan meninggalkan padang ini. Aku adalah anak Panawijen yang pada saat itu telah dianggap hilang. Dan kini aku telah berusaha untuk kembali berada di antara mereka, kawan bermain di masa kanak-kanak, meskipun aku harus memulainya dengan penuh kesulitan perasaan. Kenapa aku harus lari meninggalkannya lagi tanpa alasan?”

“Huh.“ Kebo Ijo menarik bibirnya, “kau sangka bahwa kami, terutama prajurit-prajurit Tumapel dapat menerima kehadiranmu di sini sebagai seorang yang bebas? Tidak. Dalam tanggapan kami, para prajurit Tumpel, kau adalah seorang dari anak buah Kebo Sindet.“ Kemudian kepada Ken Arok Kebo Ijo berkata, “Ken Arok, kalau kau tidak sanggup berbuat sesuatu, akulah yang akan menjatuhkan hukuman atasnya. Sebagai seorang tawanan yang sedang dalam perkembangan untuk mendapat pengampunan, tetapi mencoba malarikan diri dan melawan pimpinan prajurit Tumapel di Padang Karautan, ia harus dihukum mati. Tetapi aku bukan pengecut. Aku memberinya kesempatan untuk membela diri atas nama seorang laki-laki. Aku beri kesempatan ia melawan aku seorang dengan seorang.”

“Gila.“ tiba-tiba Ken Arok menggeram, “sebentar lagi Akuwu Tunggul Ametung dan Permaisurinya akan datang.”

“Hukuman mati itu akan menjadi suguhan yang menyenangkan baginya dan bagi Ken Dedes. Aku kira Ken Dedes akan berterima kasih kalau ia melihat aku dapat memenggal kepala orang yang paling dibencinya.”

Terasa sebuah gejolak yang dahsyat melanda dada Kuda Sempana. Yang dengan serta merta menyahut, “Aku bersedia. Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku. Aku tidak akan ingkar, bahwa aku telah memulainya sejak aku ingin mengambil Ken Dedes dengan kekerasan. Ayo, Kebo Ijo, cara apapun yang akan kau lakukan untuk memaksaku berkelahi. Katakanlah semua kesalahan yang telah aku lakukan. Jangan kau sangka bahwa aku telah mengurungkan segala niatku. Kalau aku tidak dihukum mati sekarang, oleh siapapun, sebab kau pasti akan mati lebih dahulu, maka pada saatnya aku masih akan mengambil gadis yang sekarang telah menjadi Permaisuri itu, apalagi setelah kau mulai mengobarkan api yang telah padam di dalam dadaku.”

“Kuda Sempana.” Mahisa Agni memotong, “jangan terseret oleh perasaanmu. Kau akan terjerumus lagi dalam duniamu yang kelam itu. Atau kau benar-benar akan mati di Padang Karautan justru setelah kau hampir berhasil menempatkan dirimu di antara mereka yang berada dilingkunganmu sejak kanak-kanak.”

“Bukan aku yang memulainya Agni.”

“Karena itu kau harus bertahan dan berusaha menempatkan setiap persoalan sewajarnya.”

“Aku sudah didorong untuk keluar dari dunia baru yang aku inginkan.”

“Tidak.“ yang terdengar adalah suara Ken Arok, “kau akan mendapat kesempatan.”

“Persetan.“ Kebo Ijo berteriak, “aku sudah menjatuhkan hukuman atasnya atas kesalahannya. Tetapi aku bukan pengecut seperti sudah aku katakan. Dan aku tidak akan mencabut keputusan itu meskipun ada setan iblis datang ke Padang Karautan ini. Apalagi hanya seorang Akuwu.”

“Kebo Ijo.“ Ken Arok memotong, “kau benar-benar telah menjadi gila.”

“Terserah menurut penilaianmu. Tetapi aku berhak menjatuhkan hukuman itu karena perbuatannya.”

“Bohong.“ potong Kuda Sempana, “tetapi aku tidak akan mencegah maksudmu. Bukankah kau hanya sekedar ingin berkelahi, membunuh atau dibunuh? Kau tidak perlu mempergunakan alasan-alasan yang kau reka-reka itu. Berkatalah berterus terang. Kau ingin berkelahi dan menjerumuskan aku ke dalam hukuman mati. Cukup. Marilah kita penuhi keinginanmu yang gila itu. Kau akan puas, meskipun kau tidak akan dapat menikmati kepuasan itu.”

Kebo Ijo tidak dapat menahan hatinya. Tiba-tiba, secepat kilat ia meloncat meraih pedangnya yang terletak beberapa langkah dari padanya. Tetapi Kebo Ijo itu sekali lagi menyeringai menahan sakit. Meskipun tangannya telah menggenggam hulu pedangnya, namun ternyata ia tidak mampu melampaui kecepatan gerak Ken Arok. Tepat pada saat ia menggenggam hulu pedangnya, maka tangan itu telah terinjak oleh kaki Ken Arok. Serasa jantung Kebo Ijo berhenti berdetak. Sambil menggeram ditatapnya mata Ken Arok. Sepasang mata Kebo Ijo yang kini berjongkok itu seolah-olah memancarkan api yang sedang membakar dadanya.

Tetapi Ken Arok pun menatap mata itu tajam-tajam. Dan tatapan mata Ken Arok itu serasa ujung senjata yang paling tajam yang langsung menusuk ke pusat jantungnya, sehingga sejenak kemudian Kebo Ijo terpaksa melemparkan pandangan matanya ke samping. Namun ia tidak ingin merasa dirinya kecil, sehingga tiba-tiba ditatapnya wajah Kuda Sempana yang tegang sambil berteriak,

“Aku sudah menjatuhkan hukuman atasmu. Aku tidak akan mencabut lagi, apapun yang akan terjadi.”

Ken Arok masih belum melepaskan tangan Kebo Ijo. Dengan lantangnya ia berkata, “Tidak. Hukuman itu sama sekali belum dapat dilihat dengan jelas.”

“Sudah aku katakan.“ teriak Kebo Ijo yang masih menyeringai menahan sakit pada pergelangen tangannya.

Perlahan-lahan Ken Arok mengangkat kakinya. Demikian tangannya lepas maka dengan serta merta Kebo Ijo berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan tangan kirinya ia menuding wajah Ken Arok,

“Kau tidak melihat apa yang telah terjadi, Aku menyaksikannya sendiri dan aku telah menjatuhkan hukuman.”

“Wewenang di tanganmu akan dapat membakar Padang Karautan ini Kebo Ijo. Apalagi kalau kau mempunyai kekuasaan yang lebih besar lagi. Maka Tumapel akan menjadi reruntuhan dari sisa-sisa api yang kau nyalakan.”

“Siapakah yang kau percayai, Ken Arok. Aku atau Kuda Sempana. Aku adalah orang kedua di Padang Karautan. Dan aku telah menjatuhkan hukuman berdasarkan wewenangku.”

“Aku berhak membatalkan setiap keputusan yang diambil oleh bawahanku.“ Ken Arok pun menggeram pula. Kesabaran pun hampir sampai kepuncaknya pula, “Kebo Ijo. Seandainya bukan kau yang berkata kepadaku, bahwa Kuda Sempana akan lari, aku kira aku dapat mempercayainya. Tetapi karena aku mendengarnya dari mulutmu, maka aku terpaksa mempertimbangkannya lebih dahulu.”

Kebo Ijo berdiri dengan sorot mata yang semakin menyala. Betapa kemarahan telah membakar dadanya, sehingga terdengar giginya gemeretak. Tetapi justru karena itu, maka mulutnya serasa menjadi terbungkam. Meskipun tampak bibirnya gemetar, tetapi tidak sepatah katapun yang diucapkannya. Sejenak mereka berdiri seperti sedang kena pesona. Diam mematung. Sedang angin padang yang lembut berhembus lambat mengusap kening mereka yang basah oleh keringat.

Ken Aroklah yang mula-mula memecah kesepian, “Kebo Ijo, tinggalkanlah Kuda Sempana bersama aku dan Mahisa Agni. Aku akan mengurus dan menyelesaikannya.”

“Tidak. Aku tidak mau kau mendengar dari Kuda Sempana sepihak. Aku harus ada di sini, mendengar ia berbohong dan aku akan menjelaskan persoalan yang sebenarnya.”

Wajah Ken Arok yang tegang menjadi semakin tegang. Dan terdengar jawabnya parau, “Aku sudah memperingatkan kau sejak kau datang untuk pertama kalinya di Padang Karautan ini, Kebo Ijo. Jagalah mulutmu, supaya orang lain dapat mempercayaimu. Sekarang sudah terlambat. Dalam persoalan yang sesungguhnya, aku akan lebih percaya kepada orang lain dari pada kepadamu. Nah, sekarang tinggalkan tempat ini.”

“Tidak. Aku tetap di sini. Aku sudah mengucapkan keputusan dan aku tidak akan mencabutnya kembali.”

“Dengar Kebo Ijo. Aku adalah pimpinan tertinggi. Aku berhak menjatuhkan keputusan yang nilainya lebih dari keputusanmu. Keputusanku adalah, melihat keadaan sewajarnya dan mempertimbangkan sebaik-baiknya untuk saat ini sebelum aku menjatuhkan keputusan yang memastikan. Sekarang dengar perintahku. Tinggalkan tempat ini. Taati perintah ini supaya kau tidak dianggap memberontak terhadap kekuasaan di tanganku. Sebentar lagi Akuwu akan datang ke Padang Karautan ini. Selama aku mengurus Kuda Sempana bersama Mahisa Agni, kau harus berada bersama-sama dengan prajurit-prajurit Tumapel untuk mempersiapkan penyambutan. Ingat, kau orang kedua dalam susunan pimpinan di padang ini. Dan kau berhak memimpin penyambutan itu apabila aku sedang berhalangan.”

Terasa dada Kebo Ijo bergelora. Tetapi cara Ken Arok mengusirnya sedikit memberinya ketenangan. Dan didengarnya Ken Arok berkata seterusnya, “Nah, lakukanlah. Tidak ada orang lain yang berhak selain kau kecuali aku sendiri. Pergilah, persiapkan para prajurit. Aku kira kedatangan Akuwu sudah tidak akan terlampau lama lagi. Saat ini Akuwu pasti berada di pinggir padang ini, dan bahkan mungkin sudah mulai menyeberanginya.”

Wajah Kebo Ijo masih tegang. Tetapi perintah itu tidak dapat dibantahnya. Betapa perasaannya melonjak-lonjak tetapi ia masih sadar, bahwa ia tidak dapat membantah perintah Ken Arok selain ia menyatakan jabatannya.

Karena itu maka ia berkata, “Seandainya tidak ada Akuwu Tunggul Ametung yang akan datang, dan seandainya aku tidak harus memimpin penyambutan itu, aku akan tetap di sini sampai anak gila itu digantung sampai lehernya putus.”

Hampir saja Kuda Sempana menyahut. Tetapi ia tertegun karena Mahisa Agni menggamitnya dan memberinya isyarat dengan kedipan matanya supaya ia tidak berkata sepatah katapun. Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Namun terasa bahwa dugaannya selama ini keliru. Ia tidak melihat orang-orang yang dengan buas menangkapnya karena ia telah melawan Kebo Ijo, bahkan sebaliknya, Ken Arok, pimpinan tertinggi di Padang Karautan ini, tidak dapat mempercayai fitnah Kebo Ijo atasnya.

Sejenak kemudian, dengan langkah yang penuh keseganan, Kebo Ijo meninggalkan tempat itu, setelah memungut pedangnya. Sekali ia berpaling kepada Kuda Sempana dengan wajah membara. Dendam itu pasti akan berakar di hatinya. Dendam seorang Kebo Ijo yang perangainya selalu meledak-ledak tanpa kendali.

Ken Arok, Mahisa dan Kuda Sempana sendiri dapat melihat, betapa wajah itu menjadi kemerah-merah, seakan-akan memancarkan api dari dalam dadanya. Dan wajah yang kemerah-merahan itu membuat Kuda Sempana menjadi berdebar-debar. Sekilas dilihatnya hari-hari mendatang yang akan menjadi kian sulit baginya setelah perkelahian itu terjadi.

Sejenak kemudian, ketika Kebo Ijo telah hilang dibalik gubug yang berjajar-jajar, terdengar Ken Arok bertanya, “Kenapa kau berkelahi, Kuda Sempana?”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya. Ia merasa seolah-olah sedang diadili. Tetapi ia sama sekali tidak ingin berbohong. Terserah kepada mereka yang akan menilainya. Dikatakannya seluruhnya apa yang telah terjadi atasnya. Tidak ada yang dikurangi dan tidak ada yang ditambahnya. Ken Arok dan Mahisa Agni mendengarkannya dengan penuh perhatian. Tanpa disengaja, maka mereka pun mengangguk-anggukkan kepala mereka, seolah-olah mereka melihat peristiwa itu sedang terjadi. Menilik tekanan kata-kata Kuda Sempana maka mereka melihat suatu keyakinan bahwa yang dikatakannya itu benar.

Tetapi Ken Arok dan Mahisa Agni itu kemudian mendengar Kuda Sempana berkata, “Ternyata aku sudah tidak dapat lagi diterima di dalam pergaulan yang sewajarnya. Aku ternyata tidak mampu lagi menyesuaikan diriku.“

“Tidak.“ dengan serta merta Mahisa Agni menyahut, “selama ini kau telah mendapat kemajuan yang banyak sekali.”

“Tetapi akhirnya aku telah melakukan kesalahan. Betapa aku mencoba menghindarkan diri dari kemungkinan ini, ternyata aku tidak mampu. Aku masih melibatkan diriku pada suatu perbuatan yang pasti tidak kalian anggap benar.”

Kuda Sempana mengerutkan keningnya melihat Ken Arok menggelengkan kepalanya, “Tidak, Kuda Sempana. Aku dapat menerima keteranganmu. Aku mempercayaimu bahwa kau tidak dapat berbuat lain kecuali membela dirimu. Kau dihadapkan pada suatu keadaan, dimana kau tidak dapat memilih. Sehingga dengan demikian, maka kau tidak dengan sengaja melakukan kesalahan ini.”

Kuda Sempana tidak menjawab. Perlahan-lahan kepalanya ditundukkannya. Setelah sekian lama ia terpisah dari pergaulan, dikungkung dalam dunia yang asing, di dalam sarang seorang Kebo Sindet, maka ternyata ia telah beberapa kali membuat kesalahan dalam menilai orang seorang. Kini ia melihat, bahwa sebenarnya Ken Arok jauh berbeda dari Kebo Ijo. Demikian pula agaknya orang-orang lain, mempunyai sifat dan wataknya sendiri.

Dalam pada itu Ken Arok berkata selanjutnya, “Kuda Sempana. Sebelum terjadi sesuatu atasmu, bukankah aku sudah memperingatkan kau tentang Kebo Ijo. Sehingga dengan demikian, maka kau seharusnya dapat menilainya, bahwa sikapnya sama sekali bukan sikap kami, baik orang-orang Panawijen maupun para prajurit Tumapel. Kau dapat merasakannya, bagaimana sikap Mahisa Agni dan Ki Buyut Panawijen, bagaimana sikap prajurit-prajurit Tumapel yang lain selain Kebo Ijo.”

Kuda Sempana masih belum menjawab. Tetapi terasa getaran di dadanya menjadi semakin cepat. Ia tidak mengerti kenapa Mahisa Agni dan Ken Arok menaruh perhatian sedemikian besarnya kepadanya sehingga di dalam persoalan inipun mereka mengambil kesimpulan, bahwa Kebo Ijo lah yang bersalah, meskipun keterangannya dan keterangan Kebo Ijo berbeda. Tetapi Kuda Sempana tidak mendapat kesempatan untuk berpikir terlampau lama karena sejenak kemudian Ken Arok berkata,

“Sudahlah. Jangan kau hiraukan apa yang telah terjadi, meskipun kau harus berhati-hati untuk selanjutnya. Kau harus selalu mencoba menghindari anak bengal itu, seperti yang dikatakan oleh kakak seperguruannya sendiri. Sebentar lagi Akuwu Tunggul Ametung akan datang, kita harus menyambutnya dengan baik.”

Terasa dentang di dada Kuda Sempana menggoncangkan jantungnya. Perlahan-lahan ia mengangkat wajahnya. Ia ingin mengucapkannya, tetapi ia ragu-ragu.

“Lupakan semua persoalan yang telah lampau.“ berkata Mahisa Agni kemudian, “mungkin Kebo Ijo sengaja mengungkit persoalan itu, tetapi jangan kau hiraukan. Semuanya sudah berlalu. Bahkan kita berdua telah terjerumus ke dalam keadaan yang tidak kita kehendaki tanpa dapat menghindarkan diri.”

Kuda Sempana menarik nafas dalam-dalam. Ditenangkannya hatinya dan kemudian dicobanya untuk berkata, “Aku memang sudah berusaha Agni. Tetapi peristiwa itu terlampau dalam membekas di dalam hati. Mungkin aku dapat menekan perasaanku, karena pengalaman yang selama ini telah menderaku tanpa ampun. Tetapi bagaimana dengan Ken Dedes yang agaknya menyimpan dendam tiada taranya di dalam hatinya? Mungkin ia menganggap semua kepahitan yang dialaminya justru disebabkan karena kesalahanku.”

“Maksudmu Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung?“ bertanya Ken Arok.

“O, ya. Maksudku Tuan Puteri Ken Dedes.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Tetapi semua itu seharusnya sudah dilupakan. Kita tidak dapat berpegangan pada sebab dari peristiwa yang berkembang itu terus menerus. Apabila demikian, ia justru akan berterima kasih kepadamu, karena kau telah mendorongnya masuk ke dalam Istana Tumapel.”

“Tetapi bukan itu maksudku. Aku tidak sengaja berbuat demikian. Yang ada di dalam benakku waktu itu adalah maksud yang tidak baik atasnya dan kemudian atas Mahisa Agni.”

“Semuanya aku harap sudah dilupakannya.“ desis Mahisa Agni.

“Mudah-mudahan.“ sahut Kuda Sempana, “tetapi sebenarnya, sebelum aku bertemu dengan Kebo Ijo di sini, aku ingin minta ijin kepada kalian berdua. Aku ingin menyingkir sehari dua hari, selama Akuwu berada di Padang Karautan.”

“Akuwu berada di padang ini kira-kira sepuluh hari.”

“Ya. Dihari-hari itu aku ingin berada di pedukuhan Panawijen lama. Aku ingin menghindarkan diri dari setiap kemungkinan yang tidak dapat aku perhitungkan. Baik dari pihak Permaisuri maupun dari pihakku sendiri.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Kecemasan itu memang beralasan. Seseorang yang pernah mengalami goncangan perasaan seperti Kuda Sempana terhadap seorang gadis, kemudian disusul dengan keadaan yang berkembang memburuk, maka kesan itu tidak akan dapat dengan mudah dilupakan oleh kedua belah pihak. Tetapi sejenak ia berdiam diri. Dicobanya untuk merenungkannya, apakah yang sebaiknya dilakukan.

Dalam pada itu terdengar Mahisa Agni bertanya, “Kuda Sempana, apakah kau masih meragukan dirimu sendiri? Apabila demikian, maka kau masih belum ikhlas menerima keadaanmu kini. Kalau kau dengan sepenuh hati melupakan apa yang pernah terjadi, dan apa yang pernah menyentuh perasaan dan hatimu, maka aku kira tidak akan timbul persoalan apapun lagi.”

“Aku sudah mencoba, Agni. Tetapi aku adalah seorang yang lemah hati. Perasaanku mudah terombang ambing oleh keadaan. Sedang di sini aku masih mungkin dilemparkan ke dalam suatu keadaan diluar kekendakku. Yang lebih pahit lagi apabila aku dihadapkan pada persoalan yang tidak memberi kesempatan aku memilih di antara beberapa cara penyelesaian, seperti yang baru saja terjadi, sehingga aku tidak akan dapat berbuat lain dari pada itu.”

Mahisa Agni pun sejenak terdiam. Iapun dapat mengerti setelah ia dihadapkan pada suatu contoh yang baru saja terjadi. Apabila hal itu terjadi setelah Akuwu Tunggul Ametung berada di padang ini maka persoalannya pasti akan berkembang terus. Semua rencana akan rusak dan bahkan mungkin ia akan terlibat dalam kemarahan, Akuwu Tunggul Ametung tanpa sebab. Sejenak mereka bertiga saling berdiam diri, merenung keadaan yang sebaik-baiknya mereka pilih, supaya mereka tidak terlibat ke dalam suatu keadaan yang lebih sulit.

Sebelum mereka menemukan suatu keputusan, tiba-tiba seseorang datang kepada mereka dengan tergesa-gesa, meloncat-loncat seperti sedang berjalan di atas bara. Ken Arok mengerutkan keningnya. Dipandanginya sejenak wajah Mahisa Agni yang menegang. Mereka telah menduga bahwa orang itu akan mengabarkan kepada mereka, bahwa Akuwu Tunggul Ametung telah datang.

Sebelum orang itu berkata sesuatu. Ken Arok telah mendahuluinya, “Apakah Akuwu sudah datang?”

Tetapi orang itu menggelengkan kepalanya. “Belum.”

Ken Arok menarik nafas. Namun ia terpaksa bertanya dengan herannya, “Kenapa kau berlari-lari?”

“Empat orang prajurit yang mendahului perjalanan Akuwu lah yang sudah datang.”

“O“ sekali lagi Ken Arok mengerutkan keningnya, “baru perambas jalannya yang datang?”

“Ya.”

“Baik. Aku segera datang. Bukankah Kebo Ijo ada di sana?”

“Ya. Sekarang keempat orang itu sedang diterimanya.”

“Baiklah. Kembalilah dan katakanlah, sebentar lagi aku datang.”

Orang itupun segera pergi meninggalkan Ken Arok yang masih termangu-mangu. Sejenak kemudian ia berkata, “Aku harus menemui keempat prajurit itu. Lalu bagaimana dengan kau Kuda Sempana?”

“Seperti yang sudah aku katakan. Kalau kalian mengijinkan, lebih baik aku menyingkir untuk beberapa hari.”

Tanpa sesadarnya Ken Arok berpaling memandangi wajah Mahisa Agni yang ragu-ragu pula. “Bagaimanakah sebaiknya Agni?“ bertanya Ken Arok kemudian.

Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Seperti Ken Arok, iapun menjadi ragu-ragu. Mereka berdua harus mempertanggung jawabkan kehadiran Kuda Sempana di tempat itu. Dan Mahisa Agni lah yang merasa telah membawanya. Keduanya mengerti alasan Kuda Sempana untuk meninggalkan Padang Karautan. Tetapi bagaimanakah jawab mereka, apabila justru Akuwu bertanya tentang anak muda itu?

Dalam keragu-raguan itu Kuda Sempana berkata, “Apakah kalian mencemaskan aku, bahwa aku akan lari dari Panawijen.”

Pertanyaan itu telah mendebarkan dada Mahisa Agni dan Ken Arok. Hampir berbareng mereka menjawab, “Tidak.“ Dan Mahisa Agnipun melanjutkannya, “Aku sama sekali tidak dapat mengerti seandainya ada pikiran untuk melarikan diri. Apakah yang akan didapatkannya dipelarian itu. Kegelisahan, kecemasan, ketakutan dan segala macam perasaan yang pahit. Itulah sebabnya aku yakin bahwa kau tidak akan melarikan diri.”

“Lalu pikiran apakah yang memberatimu? Mungkin Akuwu atau Ken Dedes mencari aku untuk menghinakan aku.”

“Kemungkinan itupun terlampau kecil.”

“Tuan Puteri maksudmu?“ bertanya Ken Arok.

“O, ya. Maksudku Permaisuri.”

“Tidak.” Ken Arokpun menggeleng, “aku kira mereka tidak akan berbuat demikian. Apalagi setelah Mahisa Agni berada lagi di antara kita.”

“Lalu apa?”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar