MENU

Ads

Minggu, 19 April 2026

Pelangi di Langit Singasari 189

“Ah, aku akan pergi.” desisnya kemudian.

“Kemana?” bertanya kawannya.

“Keperapian. Mungkin aku masih dapat mengeringkan pakaianku dan mendapat rangsum hangat.”

Prajurit yang gemuk itu tidak menunggu kawannya menjawab. Segera ia melangkah pergi. Sekali ia berpaling sambil tertawa. Cahaya obor yang kemerah-merahan membuat bayangan yang lucu pada wajahnya yang gemuk.

Tetapi bukan saja prajurit yang gemuk itu yang pergi kedapur. Prajurit-prajurit yang lain pun segera menyusul. Ada di antara mereka yang memerlukan berganti pakaian lebih dahulu, tetapi ada juga yang langsung dengan pakaian basah, menerima rangsum hangat sambil duduk-duduk di muka perapian. Ternyata mereka benar-benar telah lapar sehingga mereka makan tanpa banyak berbicara.

Ken Arok berdiri tegak beberapa langkah dari mereka. Meskipun ia sendiri belum makan, tetapi ia senang melihat prajurit-prajuritnya makan dengan lahapnya. Satu-dua di antara mereka masih sempat berkelakar, meskipun sambil menyuapi mulut-mulut mereka dengan suapan-suapan yang besar. Ken Arok berpaling ketika terasa pundaknya ditepuk seseorang. Ternyata Kebo Ijo telah berdiri di belakangnya. Sambil tersenyum anak muda itu berkata,

“Tuanku Akuwu Tunggul Ametung, yang kalis dari segala bahaya, yang bidjaksana dan yang dilindungi oleh Bintang Cakra telah memanggilmu.”

“Ah.” Ken Arok berdesah.

“Aku berkata sesungguhnya, bahwa kau harus menghadapnya sekarang juga. Bahkan sebenarnya sejak tadi kau dicarinya, tetapi ternyata kau masih berada di seberang.”

“Aku percaya bahwa Akuwu memanggilku. Tetapi sebutan yang kau ucapkan adalah sebutan bagi Maharaja Kediri.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Akuwu itu merasa dirinya lebih besar dari Maharaja Kediri.”

“Kaulah yang beranggapan begitu.”

“Huh.” Katanya, “ia merasa bukan manusia biasa lagi. Ia merasa dirinya jauh lebih berharga dari pada kita. Dan Kakang Witantra membiarkan dirinya direndahkan. Agaknya kau pun akan berlutut sambil mencium kakinya pula.”

Ken Arok rnengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Adi Kebo Ijo, jangan berkata begitu. Aku tahu bahwa Akuwu memang kadang-kadang berbuat sekehendak sendiri. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia sudah lupa diri. Itu adalah tabiatnya, seperti kau sering berkata menurut seleramu sendiri.”

“Tetapi ia benar-benar seperti Maharaja yang paling perkasa. Suatu ketika aku cekik ia sampai mati.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Tampaklah perubahan pada wajahnya. Namun sejenak justru ia berdiam diri. Ia tidak segera menanggapi kata-kata Kebo Ijo itu, karena ia sama sekali tidak senang mendengarnya. Ken Arok menggigit bibirnya ketika ia mendengar justru Kebo Ijo tertawa terbahak-bahak. Orang-orang yang berdiri dikejauhan, yang mendengar suara tertawanya, serentak berpaling kearahnya. Ada diantara mereka yang ikut tertawa meskipun tidak mengetahui persoalannya, hanya karena melihat cara tertawa Kebo Ijo yang menggelikan. Tetapi ada juga yang acuh tidak acuh sambil menyuapi mulutnya dengan nasi hangat.

“Kebo Ijo.” berkata Ken Arok kemudian, “aku sudah mencoba memperingatkanmu. Jangan terdorong mengucapkan kata-kata yang begitu tajam.”

“Kau cemas bahwa aku akan melakukannya? Jangan takut kehilangan tempat untuk menghambakan diri Ken Arok. Aku tidak akan benar-benar melakukannya.” sahut Kebo Ijo.

“Aku tahu bahwa kau tidak akan melakukannya. Tetapi kelakar yang demikian agak berlebih-lebihan. Sebaiknya kau mengucapkan kata-kata yang lain, yang tidak langsung menusuk perasaan. Mungkin aku dapat mengerti caramu bergurau. Tetapi mungkin orang lain tidak, atau justru meskipun orang lain tahu benar, bahwa kau hanya bergurau, namun mereka yang tidak senang denganmu akan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadinya.”

“Apakah kepentingan orang lain dengan aku? Apakah yang diinginkannya dariku? Kedudukanku yang tidak pernah naik pangkat ini, justru karena aku tidak dapat menjilat kaki Akuwu itu, atau apa?”



“Kau benar-benar tidak mampu mengendalikan lidahmu. Coba katakan berapa tahun kau mengabdikan diri menjadi seorang prajurit di Tumapel. Coba sebutkan di antara orang-orangmu, apakah tidak ada yang sudah lebih dari dua kali lipat waktu pengabdiannya kepada Akuwu Tunggul Ametung dan masih saja berada di tingkat di bawahmu.”

“Tetapi mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas untuk disebut namanya.”

“Sedang kau.” Ken Arok memotong, “adalah orang yang berilmu tinggi dan tidak ada duanya.”

Wajah Kebo Ijo tiba-tiba menegang. Tetapi hanya sesaat, kemudian terdengar sekali lagi suara tertawanya lepas mengumandang di Padang Karautan yang sudah mulai gelap.

“Ah, sudahlah.” berkata Ken Arok, “tetapi ingat-ingatlah pesanku supaya kau tidak terjerumus dalam kesulitan. Jangan kau lepaskan saja kata-katamu tanpa pertimbangan dan pengendalian.”

“Baiklah.” sahut Kebo Ijo, “akan aku pergunakan mulutku untuk memujinya supaya aku segera diangkat menjadi senapati agung.”

Ken Arok tidak menjawab lagi. Tetapi ia benar-benar tidak senang mendengar kelakar yang berlebih-lebihan justru tentang Akuwu Tunggul Ametung. Meskipun ia masih mendengar suara tertawa Kebo Ijo namun Ken Arok itu melangkah pergi meninggalkannya. Akuwu Tunggul Ametung yang memanggilnya, mungkin sudah terlalu lama menunggunya. Karena itu maka langkahnya pun menjadi tergesa-gesa, tidak saja supaya ia segera sampai ke gubug yang dipergunakan oleh Akuwu Tunggul Ametung untuk beristirahat, tetapi juga supaya ia segera menjauhi Kebo Ijo.

“Anak itu harus mendapat peringatan.” desis Ken Arok, “tetapi karena kakak seperguruannya ada di sini, biarlah aku katakan saja kepadanya tentang adiknya itu.”

Langkah Ken Arok itu pun segera terhenti. Dilihatnya gubug itu sepi. Namun perlahan-lahan supaya tidak mengejutkan, ia berjalan mendekati pintu. Ia terhenti ketika ia melihat Witantra keluar dari dalam gubug itu. Perlahan-lahan Witantra berkata,

“Akuwu sedang tidur.”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Katanya, “Bukan kah Akuwu Tunggul Ametung memanggil aku.”

“Ya. Sejak sore ia mencarimu.”

“Kebo Ijo baru saja menyampaikan pesan itu ke padaku.”

“Ya.”

“Dan sekarang Akuwu sedang tidur?”

“Ya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Kadang-kadang memang terbersit kejengkelan di dalam hatinya. Tergesa-gesa ia datang memenuhi panggilannya, tetapi yang memanggilnya itu ternyata sedang tidur. Tetapi justru dengan demikian ia teringat kepada Kebo Ijo. Ia ingin mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya selagi ia bertemu dengan Witantra. Maka sejenak kemudian ia berkata,

“Aku ingin berbicara dengan kau Witantra.”

Witantra mengerinyitkan alisnya. “Tentang?”

“Tentang adikmu Kebo Ijo.”

Kini Witantra lah yang menarik nafas dalam-dalam. Ia tahu benar tabiat dan kebiasaan Kebo Ijo. Katanya kemudian, “Apakah anak itu mengganggu pekerjaanmu disini? Aku sebenarnya juga kurang sependapat, bahwa Kebo Ijo lah yang dikirim oleh Akuwu untuk membantu pekerjaanmu.”

“Tidak.” Ken Arok menggeleng, “Kebo Ijo sama sekali tidak mengganggu. Ia termasuk pekerja yang baik, meskipun mula-mula agak canggung. Tetapi pada saat-saat terakhir ia merupakan tenaga yang ikut menentukan.”

“Lalu?”

“Kita duduk di sini Witantra.”

Witantra mengangguk. Keduanya segera duduk di atas rerumputan dimuka gubug itu. “Adikmu memang senang berkelakar dan bergurau.” berkata Ken Arok.

“Ya.” Witantra mengangguk, lalu diteruskannya, “bukankah kau merasa terganggu oleh kelakarnya yang berlebih-lebihan?”

Ken Arok mengerutkan keningnya. Agaknya kakak seperguruan Kebo Ijo itu pun telah menyadari sifat-sifatnya, yang kadang-kadang terlampau berlebih-lebihan, bahwa sering sudah melampaui batas. Hal yang demikian seharusnya tidak boleh berkepanjangan.

Sejenak kemudian maka ia pun menjawab, “Sebenarnya aku sendiri tidak merasa terlampau terganggu. Tetapi aku mencemaskannya, bahwa kadang-kadang kelakarnya dapat membahayakannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah yang dikatakannya?”

“Tentang Akuwu Tunggul Ametung.” jawab Ken Arok, “kadang-kadang terloncat ucapan-ucapannya yang mendebarkan hati.”

Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “mungkin sekali, Anak itu benar-benar anak yang bengal. Apakah yang dikatakannya tentang Akuwu?”

“Mungkin pernah mendengar apa yang dikatakannya tentang kita?”

“Dalam hubungan dengan Akuwu?”

“Ya.”

“Ya. Aku memang sering mendengar. Anak itu menganggap kita terlampau merendahkan diri dihadapan Akuwu Tunggul Ametung.”

“Begitulah. Lalu bagaimana sikapnya sendiri?”

“Seperti seekor tikus dihadapan seekor kucing. Tetapi anak itu memang harus mendapat peringatan. Apakah yang dikatakan kepadamu?”

“Itu tidak terlampau berbahaya baginya, Witantra. Tetapi yang lebih menyinggung perasaan orang-orang yang dekat dengan Akuwu adalah sebutan-sebutannya yang mengandung hinaan atas Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan.” Ken Arok diam sejenak. Diedarkannya pandangan matanya berkeliling, seolah-olah takut didengar orang lain. Lalu, “Kebo Ijo pernah berkata kepadaku, meskipun aku tahu bahwa ia hanya bergurau”, katanya, “Aku akan mencekiknja sampai mati.”

“Ah.” Witantra berdesah, “begitukah?”

“Ya. Aku cemas apabila seseorang pernah mendengar ia berkata begitu pula.”

“Hem.” Witantra menarik nafas dalam-dalam, “sebenarnyalah demikian Ken Arok. Aku pernah mendapat laporan dari seorang prajurit pengawal. Ia mendengar Kebo Ijo memaki Akuwu meskipun sambil tertawa. Sebagai seorang prajurit pengawal, ia lapor kepadaku tentang seorang prajurit yang lain yang bersikap demikian.”

“Apakah yang sudah kau lakukan?”

“Aku panggil anak itu. Aku memarahinya hampir separo malam. Tampaknya ia menjadi jera. Tetapi kini penyakit itu agaknya telah kambuh kembali.”

“Nah, terserahlah kepadamu Witantra, untuk kepentingan adikmu itu sendiri.”

“Terima kasih. Aku akan memperhatikannya.”

“Baiklah. Sekarang, sebelum Akuwu bangun, aku akan beristirahat sejenak. Aku akan berganti pakaian, makan dan duduk-duduk bersama prajurit-prajurit yang sedang beristirahat itu.”

Witantra rnengerutkan keningnya. Lalu ia berkata, “Aku ikut bersamamu. Aku ingin melihat-lihat keadaan mereka disini sebelum besok aku pergi mengawal Akuwu ke Kemundungan.”

Keduanya pun kemudian berdiri. Witantra melambaikan tangannya, memanggil seorang prajurit yang dibawanya dari Tumapel, prajurit pengawal, “Lakukan tugasmu baik-baik. Aku akan pergi sebentar. Laporkan kepada perwira yang sedang bertugas.”

Prajurit itu menganggukkan kepalanya, sedang tangan kirinya menggenggam hulu pedangnya yang masih berada di dalam sarungnya. “Baik.” Jawabnya, “akan aku lakukan.”

Witantra pun kemudian melangkah bersama-sama dengan Ken Arok, sementara itu, prajurit pengawal itu melaporkannya kepada perwira pengawal bawahan Witantra, yang segera mengambil alih tugasnya, berjaga-jaga di depan gubug Akuwu Tunggul Ametung yang sedang tidur itu. Beberapa langkah kemudian, maka kedua orang itu terhenti ketika mereka melihat Kebo Ijo mendatanginya. Sambil tertawa ia bertanya kepada Ken Arok,

“Kenapa kau tidak menghadap Akuwu?”

“Akuwu sedang tidur.” jawab Ken Arok.

“He.” Kebo Ijo mengerutkan keningnya, “tetapi ia memanggilmu menurut Kakang Witantra.”

“Ya.” sahut Witantra, “tetapi pada saat Ken Arok datang, Akuwu sudah tertidur. Mungkin ia terlampau lelah setelah bekerja keras hari ini.”

Wajah Kebo Ijo menjadi berkerut-merut. Tetapi kemudian meledaklah suara tertawanya.

“Kenapa kau tertawa?” bertanya Witantra.

“Tidak apa-apa.” Kebo Ijo menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tidak apa-apa.”

Sejenak Ken Arok dan Witantra saling berpandangan. Namun kemudian mereka meneruskan langkah mereka tanpa menghiraukan anak yang masih saja tertawa-tawa itu. Tetapi ternyata Kebo Ijo tidak membiarkannya pergi. Ia pun kemudian mengikutnya di belakang. Sejenak kemudian ia bertanya,

“Kakang, apakah Akuwu akan membicarakan tentang keberangkatannya besok bersama Ken Arok?”

“Aku tidak tahu.” sahut kakanya.

“Tetapi bukankah itu yang dimaksud oleh Akuwu Tunggul Ametung? Membawa sepasukkan prajurit untuk membebaskan Mahisa Agni?”

“Ya.”

“Apakah Ken Arok besok harus ikut serta?”

“Aku tidak tahu.”

“Hem.” Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Ia masih saja berjalan mengikuti Ken Arok dan Witantra, “Aku kira begitulah. Dan seandainya benar, maka Akuwu benar-benar berbuat aneh.”

“Kenapa?” bertanya Witantra dengan serta merta.

“Bendungan ini seharusnya jauh lebih penting dari pada seorang Mahisa Agni. Apakah perlunya Akuwu bersusah payah berusaha membebaskannya?”

Langkah Witantra tertegun mendengar kata-kata Kebo Ijo. Ken Arok pun kemudian terhenti juga. Bahkan keduanya kemudian berpaling memandangi Kebo Ijo yang kemudian berdiri tegak di belakang mereka.

“Kebo Ijo.” berkata Witantra kemudian, “kita adalah prajurit. Kita sebaiknya mentabukan perintah yang dijatuhkan atas kita. Memang mungkin perintah itu tidak tepat. Apabila demikian kita dapat memberikan pertimbangan seperlunya. Nah, adalah wajar sekali apabila besok, seandainya Akuwu masih ingin membawa Ken Arok, kita dapat mengajukan keberatan-keberatan itu.”

Kebo Ijo tidak segera menyahut. Diangguk-anggukkannya kepalanya. Tetapi sejenak kemudian ia berkata, “Apakah sebenarnya pentingnya Mahisa Agni bagi Akuwu.”

“Ia kakak Tuan Puteri Ken Dedes, Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung.”

“Tetapi Mahisa Agni sendiri adalah seorang anak padesan. Kalau ia hilang di dalam sarang iblis Kemundungan itu, adalah nasibnya yang terlampau jelek. Buat apa benarnya Akuwu memaksa diri untuk mencarinya dengan sepasukan prajurit? Bagiku, hal itu tidak akan banyak memberikan arti bagi Tumapel. Pantaslah kiranya, apabila yang hilang itu seorang putera Raja, setidak-tidaknya putera Akuwu Tunggul Ametung sendiri. Bukan hanya sekedar anak padesan. Apabila Tuan Puteri Ken Dedes merajuk, biarlah Akuwu mengancamnya untuk mengembalikan saja kepadepokannya.”

Witantra mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Sebaiknya kau tidak usah ikut memperbincangkannya. Itu adalah persoalan Akuwu Tunggul Ametung.”

Kebo Ijo justru tertawa pendek, “Aku kasihan melihat Akuwu begitu bersusah payah untuk seorang pidak pedarakan.”

“Kau. Keliru Kebo Ijo.” Ken Aroklah yang kemudian menyahut, “kau membedakan antara seorang anak pidak pedarakan dengan seorang pangeran atau putera Akuwu di dalam persoalan ini.”

“Sudah tentu. Nilai dari mereka jauh berbeda.”

“Tidak Kebo Ijo. Baik ia seorang pangeran, bahkan seorang pangeran dari seorang Maharaja sekalipun dan seorang yang paling rendah dan paling hina, berhak mendapat perlindungan.”

“O, tentu. Sudah tentu. Tetapi harus disesuaikan dengan kedudukannya. Kalau yang hilang seorang pangeran, pantaslah Akuwu sendiri yang pergi mencarinya. Tetapi kalau hanya seorang Mahisa Agni?”

“Mahisa Agni kini adalah seorang kakak dari Permaisuri Akuwu sendiri.”

Kebo Ijo tertawa. Katanya, “Kau terbalik mengucapkannya Ken Arok. Seharusnya kau berkata, “Permaisuri Akuwu Tunggul Ametung hanyalah adik Mahisa Agni. Anak dari pedukuhan Panawijen.”

“Kau telah menarik garis perbedaan terlampau tajam antara seorang yang lahir di dalam lingkungan yang baik dan orang-orang yang lahir dalam keadaan yang buruk.”

“Tentu. Aku sendiri harus menghargai keturunanku.”

“Kau sudah gila Kebo Ijo.” desis Witantra, “diamlah supaya aku tidak memaksamu.”

Kebo Ijo mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak ingin diam, ia masih ingin berbicara Namun Witantralah yang berbicara pula, “Pergilah beristirahat. Tetapi sebelumnya, dengarlah dahulu sebagai bekalmu berangan-angan sebelum tidur. Tak ada perbedaan apa-apa antara yang kebetulan lahir sebagai seorang yang sangat miskin. Mereka berhak mendapat perlindungan yang sama, Mahisa Agni yang kini berada dalam bahaya yang mengerikan harus mendapat pertolongan.”

Sekali lagi Kebo Ijo tertawa. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan berbicara karena Ken Arok berkata, “Kebo Ijo. Nilai seseorang tidak saja tergantung kepada darah keturunan. Tetapi tergantung pula atas perbuatannya sendiri. Atas apa yang dikerjakannya.” Ken Arok berhenti sejenak, lalu, “Aku adalah seorang yang paling hina ketika dilahirkan. Tetapi penilaian orang terhadap diriku kini telah menjadi jauh berbeda. Apakah kau pernah membayangkannya, bahwa aku seolah-olah terbuang di masa-masa itu. Disaat aku baru dilahirkan?” Kebo Ijo tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah Ken Arok yang tegang. “Tetapi sekarang aku mendapat kesempatan ini.” Ken Arok meneruskannya.

Kini Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Ternyata ia masih mempunyai kesadaran untuk tidak membuat keributan. Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,

“Baiklah. Itu memang bukan persoalanku. Tetapi bagiku Mahisa Agni sama sekali tidak cukup bernilai untuk memaksa Akuwu meninggalkan istana. Lebih baik baginya untuk berburu kijang di hutan-hutan.”

“Pergilah Kebo Ijo.” potong Witantra, “beristirahatlah, tetapi jangan tidur dulu. Aku perlu menemuimu.”

Kebo Ijo menjadi heran, sehingga terloncat pertanyaannya, ”Kenapa nanti? Bukankah kita sudah bertemu.”

Adik seperguruan Witantra itu memang menjengkelkan sekali, sehingga Witantra menyahut agak keras, ”Aku perlu berbicara dengan kau seorang diri. Aku nanti ingin memberimu peringatan supaya kau tidak malu dilihat orang. Kau telah membuat banyak sekali kesalahan. Mengerti?”

Kebo Ijo menarik nafas dalam-dalam. Diangkatnya pundaknya sambil berdesis, “Baiklah kakang. Sebaiknya aku makan dahulu sebanyaknya sebelum aku menghadap kakang nanti.”

“Lebih baik begitu. Makanlah, supaya mulutmu berhenti berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak bermanfaat dan kadang-kadang dapat berbahaya bagimu.” sahut Witantra.

Kebo Ijo menganggukakan kepalanya. Perlahan-lahan ia melangkah pergi meninggalkan Ken Arok dan Witantra yang mengawasinya. “Anak itu benar-benar bengal. Umurnya sudah cukup dewasa, dan ia sudah berkeluarga pula. Tetapi sifatnya itu masih kadang-kadang membuat aku pusing dan bahkan guru sendiri. Ia dapat menjadi seorang yang baik dihadapan guru. Tetapi kemudian penyakitnya itu datang lagi mengganggunya.”

Ken Arok menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kakak seperguruannya ini pun telah dibuatnya pening. Apalagi orang lain. Tetapi bahwa kata-katanya terlampau sering melukai hati orang lain dan kadang-kadang tanpa terkendali itulah yang harus mendapat perhatian. Saudara-saudara seperguruannya dan kawan-kawannya yang dekat, yang telah mengerti akan tabiatnya, tidak akan menjerumuskannya ke dalam kesulitan, bahwa akan berusaha melindunginya, meskipun kemudian memberikan peringatan yang keras kepadanya. Tetapi orang-orang lain akan berbuat sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Bahkan mungkin akan menjerumuskannya ke dalam kesulitan.

Ken Arok tersadar ketika Witantra kemudian berkata, “Biarlah anak itu makan. Nanti aku akan memberinya peringatan. Mungkin aku perlu menakutinya dengan berbagai macam cara, atau mengancamnya.”

“Mudah-mudahan kau berhasil.” desis Ken Arok.

Keduanya pun kemudian melanjutkan langkah mereka pergi ketempat para prajurit sedang beristirahat dan makan. Ken Arok pun kemudian ikut pula makan bersama mereka. Tetapi Witantra agaknya sudah makan lebih dahulu di gubugnya. Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Ken Arok dan Witantra pun kembali ke gubug Akuwu Tunggul Ametung. Begitu mereka mendekat, maka terdengar suara Akuwu yang ternyata sedang terbangun,

“He, apakah Ken Arok sudah datang?”

“Hamba, Tuanku.” sahut pengawal, ”itulah Ken Arok sudah datang.”

“Suruh ia masuk.”

“Hamba, Tuanku.”

Tetapi ketika pengawal itu hampir saja mengucapkan kata-kata untuk memberi tahukan panggilan itu kepada Ken Arok terdengar Ken Arok berdesis perlahan-lahan,

“Aku sudah mendengarnya.”

Pengawal itu mengerinyitkan alisnya, Tetapi ia pun kemudian tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ken Arok bersama Witantra kemudian melangkah masuk ke dalam gubug yang rendah itu. Kemudian mereka duduk di atas tikar yang dibentangkan di atas batang-batang rumput yang sudah kering.

“Kau baru datang?” bertanya Akuwu Tunggul Ametung.

“Tidak, Tuanku.” jawab Ken Arok, “hamba telah menghadap sejak lama.”

“Bohong. Aku berteriak-teriak memanggilmu. Yang selalu menyahut hanyalah para pengawal. Bahkan Witantra pun pergi pula.”

“Hamba berdua hanya sekedar berjalan-jalan di luar, Tuanku.” berkata Witantra.

“Tetapi kalian tidak mendengar panggilanku.”

“Mungkin hamba berdua berjalan-jalan agak terlampau jauh. Agaknya kami lupa untuk mengingat-ingat waktu dan jarak, Tuanku.”

Akuwu Tunggul Ametung mengerutkan dahinya. Kemudian katanya, “Aku ingin berbicara dengan kalian.”

Witantra dan Ken Arok hampir bersamaan menjawab, “Hamba, Tuanku.”

Akuwu yang masih berada di pembaringannya itu menguap. Diusapnya matanya dengan jari-jarinya. Kemudian katanya, “Besok pagi aku akan meneruskan perjalananku. Aku harus menemukan Mahisa Agni supaya hidupku menjadi tenteram.”

Terbersit desis di dalam dada Ken Arok, “Hem, ada juga kebenarannya apabila seseorang mengatakan bahwa Akuwu Tunggul Ametung hanya memikirkan dirinya sendiri, meskipun tidak sepenuhnya. Tetapi pada saat-saat tertentu maka dirinya sendirilah yang menjadi pusat segala persoalan.” Tetapi tiba-tiba dikenangnya pada saat ia hampir hanyut didorong oleh arus banjir yang meluap kesusukan induk. “Hem Akuwu memang orang yang aneh. Apakah hatinya terlampau meledak-ledak sehingga kadang-kadang dirinya sendiri tidak mampu menguasainya? Ada beberapa persamaan sifat diantara Akuwu Tunggul Ametung ini dengan Kebo Ijo.”

“He.” Akuwu itu membentak, “kenapa kalian diam saja.”

Ken Arok dan Witantra terperanjat juga. Dan bersama-sama pula mereka menjawab, “Hamba, Tuanku.”

“Aku ingin mendapat kepastian apakah aku besok akan berangkat bersamamu Ken Arok?”

“Hamba menunggu perintah, Tuanku.” jawab Ken Arok, “tetapi apabila diperkenankan hamba ingin mengajukan pertimbangan untuk itu.”

“Apa pertimbanganmu.”

“Langit sudah menjadi semakin tebal dilapisi oleh air, Tuanku. Hujan pasti akan semakin turun, sedang bendungan itu masih belum siap sama sekali, meskipun sebagian terbesar telah selesai dan bahkan telah dapat diselamatkan dari banjir yang pertama. Tetapi hamba masih selalu dicemaskannya. Apabila datang banjir yang lebih besar lagi, maka bendungan itu akan mengkhawatirkan.”




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia