Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Dan terdengarlah ia berkata, “Anakku, sayembara pilih itu kini sudah selesai. Namun tak seorang pun yang dapat memenangkan sayembara ini. Karena itu, anakku, masalah ini, masalahmu, masih belum dapat dipecahkan. Aku tidak tahu, apa yang tersimpan di dalam dadamu. Namun demikian, adalah menjadi harapanku, apabila Ken Dedes segera menentukan pilihan. Nah, kalau demikian, biarlah aku menunggu beberapa lama lagi, tetapi tidak terlalu lama. Mudah-mudahan sepanjang waktu itu,aku akan mendengar, bahwa salah seorang anak muda akan dapat menggerakkan hatimu.”
Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya mencemaskan nasibnya. Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya pasti akan bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Ken Dedes merasa, betapa besar kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya itu kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti beberapa orang ayah yang lain, yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa setahu anak itu sendiri. Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya, sehingga tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia membantu ayahnya segera. Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Dedes tidak dapat berbuat banyak.
Sebenarnyalah, di dalam dada Ken Dedes telah terukir sebuah nama. Nama yang telah dikenalnya baik-baik, yang telah disebutnya beratus, bahkan beribu kali. Tetapi alangkah kecewanya, ketika ayahnya menyebutkan sekian nama yang telah melamarnya, namun nama itu tak tersebutkan. Karena itu, maka tak sebuah nama pun yang menarik minatnya. Ia menunggu nama yang telah tersimpan di hatinya. Namun ia menunggu sampai nama yang terakhir. Dan ia masih harus menunggu lagi.
”Sampai kapan?” desahnya di dalam hati.
Ken Dedes pun kemudian menjadi cemas. Kalau anak muda itu tidak segera datang kepada ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka itu tak ada nama yang diharapkannya. Sebagai seorang gadis, adalah tidak mungkin baginya, untuk meminta ayahnya justru datang kepada pemuda itu. Memintanya untuk menjadi menantunya. Dengan demikian tidak saja ayahnya akan mendapat aib, namun dirinya pun demikian. Ken Dedes masih menundukkan wajahnya, Bahkan kini tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Tak berani ia menggerakkan, meskipun hanya ujung jarinya. Dan gadis itu tidak berani pula mengerling lagi kepada Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Agni tidak pernah merasa ngeri menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar beberapa nama disebut oleh gurunya. Akhirnya Mahisa Agni sampai pada suatu kesimpulan, meskipun selama ini ia telah mencoba untuk menyembunyikannya. Ken Dedes baginya, bukanlah sekedar putri gurunya, atau gadis yang menganggapnya seorang kakak saja. Lebih daripada itu.
Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Kini ia sudah tidak berayah dan tidak beribu. Tak ada orang yang dapat dimintanya untuk datang kepada gurunya dengan upacara, sebagai lazimnya. Tak ada orang yang akan menempelkan namanya pada deretan nama-nama yang pada suatu saat akan disebut oleh gurunya, seperti nama-nama anak-anak muda yang lain. Jumna, Pandaya, Mahendra dan sebagainya. Dan tiba-tiba Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya. Tak pernah hal yang demikian itu dipikirkannya dahulu. Sepeninggal ayah dan ibunya, Agni telah mencoba melupakannya dan meletakkan dirinya dengan tawakal dalam asuhan Empu Purwa yang menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi kini, tiba-tiba timbullah suatu persoalan. Persoalan yang rumit baginya.
Empu Purwa melihat kedua anak muda yang duduk, di hadapannya itu. Agaknya perasaan mereka selama ini menjadi tegang dan penat. Karena itu katanya, “Nah, Ken Dedes. Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak persoalan yang dapat terjadi. Susul menyusul. Karena itu jangan menunggu sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak dan rumit. Sekarang kalian berdua, beristirahatlah.”
Ken Dedes mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa menyesakkan nafasnya itu. Mahisa Agni pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk melapangkan dadanya.
Empu Purwa melibat anak muda itu berjalan keluar pintu dengan langkah yang pasti dan tenang. Langkah seorang laki-laki yang menyimpan berbagai ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya. Sejak hari itu, para cantrik dan endang dari padepokan Empu Purwa melihat beberapa perubahan dalam tata pergaulan di dalam padepokan mereka. Meskipun Empu Purwa sendiri tidak pernah mengubah sikapnya kepada siapa pun juga. Namun Ken Dedes dan Mahisa Agni tidak demikian.
Tak seorang pun dari para cantrik dan endang yang mengetahui, apakah sebabnya. Namun yang mereka lihat, Ken Dedes tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat kemanjaannya belum lagi dapat ditinggalkannya, tetapi ia tidak lagi bersifat terlalu kekanak-kanakan. Bahkan gadis itu menjadi lebih banyak tinggal di dalam biliknya dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pemomongnya, putri Empu Purwa itu kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan gadis itu kadang-kadang menangis di tengah malam. Empu Purwa pun melihat perubahan itu. Namun tak pernah ia bertanya. Sebab orang tua itu tahu pasti, mengapa anaknya menjadi demikian.
Sedang Mahisa Agni pun kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila pekerjaannya telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi kolam. Hanya kadang-kadang saja, Agni masih memerlukan pergi kepada sahabatnya, putra Buyut Panawijen, Wiraprana. Tetapi Wiraprana sendiri tak pernah memperhatikan perubahan itu. Karena itu, setelah tubuhnya kuat kembali, maka diulangnya kebiasaannya dahulu. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Empu Purwa. Bermain-main dengan Mahisa Agni. Maka apabila anak itu datang, Mahisa Agni terpaksa menerimanya seperti biasa. Bermain seperti biasa dan bekerja di sawah bersama seperti biasa. Ke bendungan dan mengairi sawah di malam hari. Tetapi apabila anak itu pergi, kembali Mahisa Agni menyepikan dirinya. Namun dengan demikian, anak muda itu menjadi semakin tekun dengan ilmunya. Lahir maupun batin.
Tetapi, akhirnya Agni sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, bahwa keadaan yang dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Kegelisahan dan keadaan yang tak menentu itu harus segera diakhiri. Namun bagaimana mengakhirinya. Itulah sebabnya Mahisa Agni semakin bertambah murung. Terasa jarak yang menabiri antara dirinya dan Ken Dedes menjadi bertambah luas. Gadis itu kini jarang benar dapat ditemuinya. Hanya kadang-kadang ia melihat dari mata gadis itu sebuah ucapan yang tak dimengertinya. Namun benar-benar terasa di dalam hatinya, Ken Dedes ingin mengucapkan sesuatu kepadanya. Dan karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah.
Di saat-saat yang sepi, selalu datang kembali ingatan tentang ayah bundanya yang hampir tak dapat diingatnya lagi. Meskipun kepergian orang tuanya itu telah diikhlaskannya, namun dalam kesempitan keadaan seperti keadaannya kini, Mahisa Agni berulang kali menyebut namanya. Tetapi anak itu sadar, bahwa ayah dan bundanya itu, sudah tidak akan dapat berbuat sesuatu untuknya.
Ketika langit bersih, dan bulan mengapung di udara, Mahisa Agni mencoba mencari ketenangan di luar biliknya. Seperti biasa anak muda itu duduk di atas batu hitam di sudut pertamanan. Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram. Bunga-bunga yang beraneka warna. Daun-daun dan batang-batang perdu yang ditanamnya berpetak-petak. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang tampil di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.
Tetapi Agni itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan menjadi cerah seperti hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Agni tersenyum sendiri. Ia puas dengan penemuannya. Di dalam hatinya yang sepi itu, tiba-tiba saja tampil sebuah nama yang hampir dilupakannya. Pamannya. Bukankah pamannya itu dapat dimintanya untuk mengganti ayah bundanya?”
“Empu Gandring,” desisnya, “kenapa aku melupakan paman itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni tersenyum. Seakan-akan jalan yang terbentang di hadapannya adalah sebuah jalan yang lurus dan licin. Direka-rekanya di dalam angan-angannya, besok atau lusa ia akan mohon izin dari gurunya untuk menengok pamannya di Lulumbang. Dan dua hari kemudian ia akan kembali beserta pamannya. Tidak berdua saja, tetapi dengan beberapa orang membawa sebuah upacara. Pamannya akan melamar Ken Dedes untuknya. Tetapi tiba-tiba pula, kecemasannya tumbuh kembali. Apakah gurunya akan mengizinkannya untuk berbuat demikian. Bukankah Empu Purwa telah menganggapnya sebagai anak sendiri, sebagai saudara tua Ken Dedes.
“Alangkah malangnya nasib ini, apabila terjadi demikian,” gumamnya. Namun ia masih mencoba menghibur diri, “Bukankah aku berhak ikut serta dalam sayembara pilih itu,” bisiknya kepada diri sendiri.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba di matanya, bunga-bunga di pertamanannya itu menjadi bertambah asri. Bunga kaca piring di tengah-tengah pertamanan itu menebarkan bau yang harum tajam. Terasa di bahu Agni yang telanjang, angin menyapu kulitnya perlahan-lahan. Sejuk.
Dalam kesejukan angan-angan yang penuh harapan itu, Mahisa Agni kemudian berdiri dan berjalan perlahan-lahan mengambil serulingnya di amben bambu di teritisan. Dengan tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat pada lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, Mahisa Agni melekatkan seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, seperti cinta Ratih dan Kama. Demikianlah nada kasih itu membakar jiwa Agni dan malam itu pun dihangatkannya dengan kesyahduan lagunya.
Beberapa orang cantrik menjadi terbangun karenanya. Mereka seakan-akan mendengar bunyi gamelan lokananta di atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa. Sedang para endang yang mendengar lagu itu, tersenyum-senyum di antara kesadaran dan mimpinya. Didengarnya lagu yang syahdu itu lewat telinganya, namun dilihatnya di dalam mimpinya Arjuna sedang tersenyum kepadanya. Dan ketika mereka terbangun oleh gigitan nyamuk, maka mereka menjadi kecewa. Namun lagu yang merdu itu masih didengarnya.
“Siapa?” bisik salah seorang dari mereka.
“Mahisa Agni. Siapa lagi?” jawab yang lain. Namun serentak mereka memandang warana yang memagari ruangan itu dengan pintu bilik Ken Dedes.
Endang itu pun kemudian saling berpandangan. Terdengar salah seorang berbisik, “Alangkah bahagianya Ken Dedes mendengar lagu itu.” Para endang itu pun tertawa lirih.
Dan lagu itu masih menyusup lewat lubang-lubang dinding, membuaikan mereka yang terkantuk-kantuk. Para endang itu pun kemudian kembali menguap dan tertidur dengan senyum di bibir mereka. Dan kembali pula mereka bermimpi indah. Di belakang pintu bilik di sebelah warana itu Ken Dedes mendengar pula lagu yang hening namun penuh gairah atas masa depan yang gemilang. Gadis itu pun segera mengetahuinya bahwa yang meniup seruling itu adalah Mahisa Agni. Dan karena lagu itu pula hatinya bergetaran.
“Kenapa lagu itu?” desahnya di dalam hati, “apakah Kakang Agni tahu, apa yang tersimpan di dalam dadaku?”
Gadis itu pun kemudian berangan-angan di antara oleh kesyahduan lagu Mahisa Agni. Sebagai seorang gadis, maka Ken Dedes pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan. Diangan-angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya. Namun sebagai seorang gadis yang tahu akan harga dirinya, maka gairah yang membakar dadanya itu pun disimpannya di dalam hati. Tetapi sejak ayahnya memanggilnya bersama Agni, sejak ayahnya menyebut beberapa nama untuknya, maka api yang menyala di dalam dadanya itu menjadi semakin berkobar-kobar. Berbagai perasaan telah bergulat di dalam dirinya. Takut, cemas namun tak dapat ia berbuat banyak. Ingin ia berlari-lari kepada ayahnya, dan dengan manjanya memeluk pinggangnya sambil berkata,
“Ayah, aku telah jatuh cinta kepada seorang anak muda. Tolong Ayah katakan kepadanya, supaya ia segera datang melamar. Tidak. Tidak,” desisnya.
Ia dapat berbuat demikian, apabila gadis itu ingin sehelai kain tenun yang baru, atau subang bermata berlian. Dan ayahnya selalu akan berkata, “Jangan ribut Ken Dedes. Besok biarlah ayah belikan.”
Dan kalau ayahnya tidak mampu untuk membelinya ayahnya selalu menghiburnya, “Mintalah yang lain anakku, mintalah yang ayah mampu mengadakannya.”
Tetapi tidak demikian dengan seorang kekasih. Mungkin seorang pemuda dapat berbuat demikian. Tetapi tidak bagi seorang gadis. Apabila kemudian para endang tertidur dengan nyamannya, maka sebaliknya dengan Ken Dedes. Lagu itu telah menggelitik hatinya, sehingga bahkan ia bertambah gelisah. Ketika di luar biliknya, telah menjadi sepi, maka Ken Dedes justru bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya dan memanggil lirih,
“Endang.” Tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, namun sepi. “Mereka telah tertidur,” desis Ken Dedes.
Gadis yang gelisah itu, dengan hati-hati melangkah di antara para endang yang tertidur nyenyak. Perlahan-lahan sekali supaya mereka tidak terbangun. Ken Dedes sendiri tidak tahu, mengapa ia bangun dan ke mana ia akan pergi. Tetapi ketika telah dilangkahinya tlundak pintu terasa perasaannya makin gelisah. Ken Dedes berjalan selangkah demi selangkah, menyusuri jalan- jalan sempit di halaman. Angin yang silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di punggungnya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes berjalan ke arah suara lagu yang beralun di antara daun-daun perdu pertamanan. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika suara lagu itu terhenti.
Mahisa Agni melihat Ken Dedes datang ke arahnya. Karena itu pemuda itu menjadi berdebar-debar. Tak disangkanya, bahwa di malam yang telah lama lelap itu, Ken Dedes akan datang menghampirinya. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gugup, dan hilanglah nada-nada lagunya dari kepalanya, sehingga akhirnya ia berhenti. Langkah Ken Dedes pun terhenti pula. Gadis itu pun kemudian melihat Mahisa Agni duduk di teritisan. Sesaat ia menjadi bimbang. Tetapi gadis itu tidak melangkah kembali. Bahkan dihampirinya Mahisa Agni.
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Perasaan yang belum pernah terjadi padanya. Ken Dedes telah bertahun-tahun tinggal sehalaman dengan anak muda itu. Setiap hari mereka bertemu, bercakap, bergurau. Tak pernah Agni berdebar karenanya. Tetapi kali ini perasaannya menjadi lain. Mahisa Agni masih berdiam diri ketika Ken Dedes kemudian duduk di sampingnya, di amben bambu itu.
Sesaat mereka saling membisu. Hanya nafas Mahisa Agnilah yang terdengar berkejaran. Sehingga ia tak dapat lagi menyapa putri gurunya. Ken Dedeslah yang mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan kedewasaannya,
“Lagumu indah, Kakang,” katanya.
Agni berdesir mendengar pujian itu. Pujian yang jauh lebih merdu dari suara serulingnya. jawabnya terbata-bata, “Tidak Ken Dedes. Aku tidak pandai meniup seruling.”
“Lagumu bercerita tentang kesyahduan cinta,” berkata gadis itu pula.
“Aku tak tahu,” jawab Agni, “demikian saja aku meniup seruling itu. Dan apakah yang terpancar daripadanya?”
“Cinta dan gairah bagi masa depan,” sahut Ken Dedes.
Mahisa Agni tidak menjawab. Dan untuk sesaat Ken Dedes pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam dada gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang lama terpendam di dalam dadanya. Beberapa waktu yang lalu, putri itu pun telah mengambil keputusan untuk mengatakan persoalannya kepada Mahisa Agni. Namun ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan menodai namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan persoalan itu semakin berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata ayahnya, ‘Jangan terlalu lama anakku’.
Gadis itu pun kemudian menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk mengungkapkan perasaan yang menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari bibirnya,
“Kakang, tiuplah serulingmu kembali.”
“Tidak, Ken Dedes,” jawab Mahisa Agni.
“Kenapa?” bertanya gadis itu.
Agni menggeleng. “Tak tahu,” desisnya. Kembali mereka membisu. Angin yang lembut membelai mahkota dan daun-daun bunga.
“Kakang…,” terdengar kemudian suara Ken Dedes lirih tertahan. Agni tidak menjawab, tetapi hatinya berdesir.
Ken Dedes tidak segera meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram jauh memandang puncak-puncak pepohonan yang bergoyang-goyang disentuh angin. Dan malam pun bertambah malam. Gelora yang melanda dada Ken Dedes menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-katanya,
“Kakang, bukankah kau telah mendegar sendiri, apa yang dikatakan Ayah kepadaku?” Mahisa Agni mengangguk. Dan terasa tangannya bergetar.
“Bagaimanakah menurut pertimbanganmu, Kakang?” bertanya gadis itu.
Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Sehingga karena anak muda itu diam saja, Ken Dedes mendesaknya,
“Apakah pertimbanganmu Kakang?”
Mahisa Agni menjadi gugup. Namun dicobanya juga untuk menenangkan detak jantungnya. Bahkan kemudian Agni dapat juga menjawab dengan suara bergetar,
“Sebagian terbesar adalah tergantung padamu sendiri Ken Dedes.”
Seandainya jawaban Mahisa Agni itu diucapkan beberapa hari yang lalu, serta dalam persoalan yang berbeda, Ken Dedes pasti akan mencubitnya dan berteriak dengan manjanya,
“Buat apa aku bertanya kepadamu, kepada kakakku, apabila persoalannya akan diserahkan kembali kepadaku?”
Tetapi kali ini Ken Dedes bersikap lain. Dengan sayunya gadis itu menundukkan wajahnya.
“Ya,” desisnya, “sebagian terbesar adalah tergantung kepadaku.” Tetapi gadis itu bergumam pula, “Tetapi tidakkah ada orang lain yang dapat menolongku?”
Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak sambil menepuk dada, “Aku Ken Dedes, aku yang akan menolongmu.” Namun kata-kata itu terhenti, tersangkut di kerongkongan. Dan yang terdengar oleh Ken Dedes adalah, “Adakah orang lain yang dapat menolongmu?”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Agni yang gelisah. Jawaban Agni sama sekali tak memberinya keyakinan. Dan sekali lagi wajah Ken Dedes terkulai lemah. Terasa matanya menjadi panas, dan tak disadarinya mata itu pun menjadi basah.
“Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku Kakang,” desah Ken Dedes perlahan-lahan, “Malahan kau menjadikan aku bertambah bingung.”
Tetapi Mahisa Agnilah yang lebih dahulu bertambah bingung. Dalam kebingungannya itu, ia mencoba memperbaiki kesalahannya. Dan tanpa terkendali ia berkata,
“Ya. Ya, Ken Dedes. Aku akan mencoba menolongmu.”
Sekali lagi Ken Dedes memandang wajah Mahisa Agni. Dan tiba-tiba matanya yang redup menjadi sedikit menyala. Katanya, “Benarkah Kakang akan menolong aku?” Mahisa Agni mengangguk, tetapi dadanya bergetar.
Ken Dedes menarik nafas dalam sekali, Katanya perlahan-lahan sekali, “Aku tidak tahu, apakah Kakang Agni dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang anak muda dan seorang gadis. Namun yang aku rasakan Kakang, alangkah rumitnya perjalanan hidup ini.”
Ken Dedes berhenti sejenak, kemudian meneruskan, “Aku tidak mengeluh karena aku seorang gadis. Bahkan menurut Ayah aku harus berbangga, bahwa yang Maha Agung mempercayakan kepadaku jenisku untuk menurunkan, membesarkan dan mengasuh angkatan yang bakal datang Tetapi….” Suara Ken Dedes terputus Dan kembali lehernya terasa tersekat.
Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ketika Ken Dedes kemudian terisak, maka dengan gelisahnya Mahisa Agni berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu, namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab tiba-tiba saja gadis itu seakan-akan menjadi orang asing baginya.
“Kakang,” desah Ken Dedes, “aku takut kalau peristiwa di belumbang itu akan terulang kembali, seperti Ayah pun takut pula. Apalagi kalau pada suatu ketika, tak seorang pun yang melihat peristiwa semacam itu. Apakah akan jadinya. Karena itu Kakang, aku tak akan dapat menghindari permintaan Ayah.”
Mahisa Agni berhenti sesaat dan tegak seperti tonggak di hadapan Ken Dedes. Namun mulutnya masih terkunci.
“Tetapi Kakang,” Ken Dedes masih berkata terus, “di hadapan Ayah, aku tak dapat berbuat sesuatu. Aku hanya dapat mendengarkan Ayah menyebut nama demi nama. Tetapi aku tak dapat mengucapkan sebuah nama pun. Tidak. Aku tidak dapat Kakang….”
Tangis Ken Dedes semakin menjadi-jadi. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin bingung. Sekali-kali ia memandang dengan gelisahnya di antara daun-daun pertamanannya. Ia takut kalau ada seseorang yang melihat mereka.
Akhirnya tangis Ken Dedes itu mereda sendiri. Patah-patah gadis itu meneruskan, “Kakang, sekarang aku mencoba datang kepadamu. Aku menyangka bahwa aku akan dapat mengatakan sesuatu.”
Dada Mahisa Agni pun kemudian menjadi sesak, seperti terhimpit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya yang bergolak, sehingga setelah ia berjuang mati-matian, maka dapatlah ia mengucapkan kata-kata,
“Berkatalah Ken Dedes.”
Ken Dedeslah yang kemudian menjadi gelisah. Kalimat demi kalimat telah disusunnya. Namun kalimat-kalimat itu seakan-akan tersangkut di dalam dadanya. Sehingga tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan. Malam pun menjadi semakin tetap. Sehelai demi sehelai awan hanyut di wajah bulan yang kuning. Seperti buih di lautan yang biru bersih.
“Tetapi,“ terdengar suara Ken Dedes di antara isaknya, “bukankah kau mau menolong aku, Kakang?” Sekali lagi Ken Dedes ingin meyakinkan.
Dan sekali lagi Mahisa Agni mengangguk dan terloncat jawabannya singkat, “Tentu.”
Tetapi Agni terkejut ketika tangis Ken Dedes kembali meledak. Dengan kedua telapak tangannya gadis itu menutup mulutnya seakan-akan takut apabila kata-katanya akan berloncatan keluar. Karena itu kembali Mahisa Agni mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun tak sepatah kata pun yang didengarnya. Bahkan Agni menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Ken Dedes berdiri, dan dengan tergesa-gesa ia berlari kembali ke biliknya. Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia memanggil,
“Ken Dedes.”
Ketika Ken Dedes tidak berhenti, Mahisa Agni tidak mengulanginya. Ia takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar panggilannya. Karena itu dengan gelisah dan cemas dipandangnya gadis putri gurunya itu lenyap di sudut rumah. Ketika Ken Dedes sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni mengusap dadanya. Dilepasnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Tetapi ia kecewa. Dari Ken Dedes, ia belum mendengar apapun tentang dirinya. Sesaat kemudian, setelah gelora di dadanya mereda, Mahisa Agni duduk kembali di amben bambu di teritisan. Bahkan kemudian ia menyesal, kenapa bukan ia sendiri yang mengatakannya kepada gadis itu.
“Kenapa aku harus menunggu?” pikirnya. Mahisa Agni menggeleng. “Mulutku pun terkunci.” desahnya.
Mahisa Agni kemudian menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada pemuda yang terbuka hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki. Tetapi Mahisa Agni, bukanlah pemuda yang demikian. Sejak ayahnya meninggal, maka ia lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun juga. Demikian pula dalam persoalan ini.
Anak muda itu mencoba menghibur hatinya dengan serulingnya. Tetapi ia tidak mampu lagi meniupnya. Karena itu, kembali serulingnya diletakkannya. Dan tanpa dikehendakinya, ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pertamanan itu. Bulan di langit mengapung dengan tenangnya. Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah lingkaran putih di sekeliling bulan itu.
“Bulan berkalang,” gumamnya.
Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan terangnya pada lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati Mahisa Agni sama sekali tidak tertarik pada bulan, lingkaran dan bintang yang menyala pada lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk, menyusuri jalan-jalan kerikil di halaman rumah itu
Di dalam biliknya, Ken Dedes menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya menjadi semakin keras.
“Nini,” didengarnya suara lirih di depan pintunya.
Cepat-cepat Ken Dedes mengusap matanya. Dan dicobanya menjawab perlahan-lahan, “Tinggalkan aku sendiri.”
“Nini,” terdengar kembali, “bolehkah aku masuk?”
“Pergi,” jawabnya, “aku akan tidur.”
“Tidak,” katanya pula, “kau tidak akan tidur. Kenapa kau menangis?”
Ken Dedes tidak menjawab lagi. Dan dibiarkannya orang itu masuk. Ken Dedes mengenal orang itu seperti ia mengenal dirinya sendiri. Seorang perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil. Apalagi setelah ibunya meninggal .Perempuan itu mengasuhnya melampaui anak sendiri.
“Kenapa kau bersedih, Nini,” terdengar suara perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di samping amben Ken Dedes.
Tangis Ken Dedes menjadi semakin deras betapapun ia menahannya. Dan terdengar di antara isaknya, “Tidak apa-apa, Bibi.”
“Jangan berbohong,” sahut orang tua itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kepedihan hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik lidi sehelai. Anakku, aku dapat menduga sebagian besar dari kedudukanmu.”
Sedikit demi sedikit tangis Ken Dedes mereda. Seakan-akan orang tua itu dapat menjadi kawan berbagi duka. Perlahan-lahan diangkatnya wajahnya. Dan di antara isaknya ia berkata,
“Kau tahu bibi?”
“Ya,” sahut pengasuhnya itu, “setiap gadis remaja akan mengalaminya. Aku sudah mendengar apa yang dikatakan Empu kepadamu dan Angger Mahisa Agni.”
Ken Dedes terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Dari manakah kau mendengarnya?”
“Ayahmu berkata kepadaku, embanmu yang tua ini,” sahut perempuan itu.
“Ayah?” bertanya Ken Dedes.
“Ya. Tetapi Ayahmu pun menjadi gelisah, karena tak seorang pun yang kau kehendaki,” jawab pengasuh itu, “Tetapi jangan kau sangka, bahwa kami orang-orang tua ini tidak dapat meraba hati gadisnya.”
“Oh,” Ken Dedes menarik nafas, “apakah yang diketahuinya?”
Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tahu benar, betapa ayahnya mencemaskan nasibnya. Apabila masalahnya itu akan berkepanjangan, maka orang tuanya pasti akan bersedih. Tetapi, di dalam hatinya Ken Dedes merasa, betapa besar kesempatan yang telah diberikan oleh ayahnya itu kepadanya, sehingga ia diberi kesempatan untuk mengemukakan pendiriannya. Tidak seperti beberapa orang ayah yang lain, yang dengan serta-merta menentukan jodoh anaknya tanpa setahu anak itu sendiri. Karena itu, betapa besar rasa terima kasih itu menggores di hatinya, sehingga tiba-tiba terasa bahwa memang sudah seharusnya ia membantu ayahnya segera. Tetapi sebagai seorang gadis, Ken Dedes tidak dapat berbuat banyak.
Sebenarnyalah, di dalam dada Ken Dedes telah terukir sebuah nama. Nama yang telah dikenalnya baik-baik, yang telah disebutnya beratus, bahkan beribu kali. Tetapi alangkah kecewanya, ketika ayahnya menyebutkan sekian nama yang telah melamarnya, namun nama itu tak tersebutkan. Karena itu, maka tak sebuah nama pun yang menarik minatnya. Ia menunggu nama yang telah tersimpan di hatinya. Namun ia menunggu sampai nama yang terakhir. Dan ia masih harus menunggu lagi.
”Sampai kapan?” desahnya di dalam hati.
Ken Dedes pun kemudian menjadi cemas. Kalau anak muda itu tidak segera datang kepada ayahnya, maka jangan-jangan ayahnya akan kehabisan kesabaran. Dan dipaksanya ia memilih satu di antara mereka. Dan di antara mereka itu tak ada nama yang diharapkannya. Sebagai seorang gadis, adalah tidak mungkin baginya, untuk meminta ayahnya justru datang kepada pemuda itu. Memintanya untuk menjadi menantunya. Dengan demikian tidak saja ayahnya akan mendapat aib, namun dirinya pun demikian. Ken Dedes masih menundukkan wajahnya, Bahkan kini tubuhnya seakan-akan menjadi kejang. Tak berani ia menggerakkan, meskipun hanya ujung jarinya. Dan gadis itu tidak berani pula mengerling lagi kepada Mahisa Agni.
Mahisa Agni pun kemudian menekurkan kepalanya, Namun terasa kini dadanya telah menjadi lapang kembali. Kini ia tidak akan dapat mengingkari dirinya sendiri. Selama ini ia telah dicengkam oleh ketakutan. Sebagai seorang laki-laki, Agni tidak pernah merasa ngeri menghadapi setiap persoalan. Namun tiba-tiba ia merasa ngeri mendengar beberapa nama disebut oleh gurunya. Akhirnya Mahisa Agni sampai pada suatu kesimpulan, meskipun selama ini ia telah mencoba untuk menyembunyikannya. Ken Dedes baginya, bukanlah sekedar putri gurunya, atau gadis yang menganggapnya seorang kakak saja. Lebih daripada itu.
Tetapi apakah yang dapat dilakukan? Kini ia sudah tidak berayah dan tidak beribu. Tak ada orang yang dapat dimintanya untuk datang kepada gurunya dengan upacara, sebagai lazimnya. Tak ada orang yang akan menempelkan namanya pada deretan nama-nama yang pada suatu saat akan disebut oleh gurunya, seperti nama-nama anak-anak muda yang lain. Jumna, Pandaya, Mahendra dan sebagainya. Dan tiba-tiba Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya. Tak pernah hal yang demikian itu dipikirkannya dahulu. Sepeninggal ayah dan ibunya, Agni telah mencoba melupakannya dan meletakkan dirinya dengan tawakal dalam asuhan Empu Purwa yang menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi kini, tiba-tiba timbullah suatu persoalan. Persoalan yang rumit baginya.
Empu Purwa melihat kedua anak muda yang duduk, di hadapannya itu. Agaknya perasaan mereka selama ini menjadi tegang dan penat. Karena itu katanya, “Nah, Ken Dedes. Keperluanku hari ini telah selesai. Namun persoalannya yang belum selesai. Ingatlah bahwa banyak persoalan yang dapat terjadi. Susul menyusul. Karena itu jangan menunggu sehingga persoalan-persoalan itu menjadi bertambah banyak dan rumit. Sekarang kalian berdua, beristirahatlah.”
Ken Dedes mengangguk. Izin itulah yang ditunggu-tunggunya setelah sekian lama ia harus menahan hati. Perlahan-lahan ia bangkit, dan kemudian ditinggalkannya ruangan yang serasa menyesakkan nafasnya itu. Mahisa Agni pun kemudian mohon diri. Ingin ia duduk di halaman di belakang untuk melapangkan dadanya.
Empu Purwa melibat anak muda itu berjalan keluar pintu dengan langkah yang pasti dan tenang. Langkah seorang laki-laki yang menyimpan berbagai ilmu di dalam dirinya. Ilmu yang bermanfaat bagi tubuh dan jiwanya. Sejak hari itu, para cantrik dan endang dari padepokan Empu Purwa melihat beberapa perubahan dalam tata pergaulan di dalam padepokan mereka. Meskipun Empu Purwa sendiri tidak pernah mengubah sikapnya kepada siapa pun juga. Namun Ken Dedes dan Mahisa Agni tidak demikian.
Tak seorang pun dari para cantrik dan endang yang mengetahui, apakah sebabnya. Namun yang mereka lihat, Ken Dedes tiba-tiba saja telah berganti sikap. Meskipun sifat kemanjaannya belum lagi dapat ditinggalkannya, tetapi ia tidak lagi bersifat terlalu kekanak-kanakan. Bahkan gadis itu menjadi lebih banyak tinggal di dalam biliknya dan mengurung diri. Yang aneh bagi para pemomongnya, putri Empu Purwa itu kadang-kadang menjadi bersedih tanpa sebab. Malahan gadis itu kadang-kadang menangis di tengah malam. Empu Purwa pun melihat perubahan itu. Namun tak pernah ia bertanya. Sebab orang tua itu tahu pasti, mengapa anaknya menjadi demikian.
Sedang Mahisa Agni pun kemudian menjadi perenung. Anak muda yang rajin itu, kini, apabila pekerjaannya telah selesai, lebih senang duduk seorang diri di halaman belakang, atau di tepi kolam. Hanya kadang-kadang saja, Agni masih memerlukan pergi kepada sahabatnya, putra Buyut Panawijen, Wiraprana. Tetapi Wiraprana sendiri tak pernah memperhatikan perubahan itu. Karena itu, setelah tubuhnya kuat kembali, maka diulangnya kebiasaannya dahulu. Hampir setiap hari ia berkunjung ke rumah Empu Purwa. Bermain-main dengan Mahisa Agni. Maka apabila anak itu datang, Mahisa Agni terpaksa menerimanya seperti biasa. Bermain seperti biasa dan bekerja di sawah bersama seperti biasa. Ke bendungan dan mengairi sawah di malam hari. Tetapi apabila anak itu pergi, kembali Mahisa Agni menyepikan dirinya. Namun dengan demikian, anak muda itu menjadi semakin tekun dengan ilmunya. Lahir maupun batin.
Tetapi, akhirnya Agni sadar, bahwa perasaan yang bergelut di dalam dirinya, bahwa keadaan yang dialaminya itu, tak akan dapat selesai dengan sendirinya. Kegelisahan dan keadaan yang tak menentu itu harus segera diakhiri. Namun bagaimana mengakhirinya. Itulah sebabnya Mahisa Agni semakin bertambah murung. Terasa jarak yang menabiri antara dirinya dan Ken Dedes menjadi bertambah luas. Gadis itu kini jarang benar dapat ditemuinya. Hanya kadang-kadang ia melihat dari mata gadis itu sebuah ucapan yang tak dimengertinya. Namun benar-benar terasa di dalam hatinya, Ken Dedes ingin mengucapkan sesuatu kepadanya. Dan karena itu Mahisa Agni menjadi semakin gelisah.
Di saat-saat yang sepi, selalu datang kembali ingatan tentang ayah bundanya yang hampir tak dapat diingatnya lagi. Meskipun kepergian orang tuanya itu telah diikhlaskannya, namun dalam kesempitan keadaan seperti keadaannya kini, Mahisa Agni berulang kali menyebut namanya. Tetapi anak itu sadar, bahwa ayah dan bundanya itu, sudah tidak akan dapat berbuat sesuatu untuknya.
Ketika langit bersih, dan bulan mengapung di udara, Mahisa Agni mencoba mencari ketenangan di luar biliknya. Seperti biasa anak muda itu duduk di atas batu hitam di sudut pertamanan. Dalam malam yang sepi, di taburan warna cahaya bulan yang kekuning-kuningan, dipandangnya malam yang suram dengan hati yang suram. Bunga-bunga yang beraneka warna. Daun-daun dan batang-batang perdu yang ditanamnya berpetak-petak. Namun semuanya tak menyegarkan hatinya. Yang tampil di hatinya, adalah kegelisahan dan kecemasan.
Tetapi Agni itu tiba-tiba mengangkat wajahnya. Bulan yang kuning itu seakan-akan menjadi cerah seperti hatinya. Perlahan-lahan bibirnya tergerak. Agni tersenyum sendiri. Ia puas dengan penemuannya. Di dalam hatinya yang sepi itu, tiba-tiba saja tampil sebuah nama yang hampir dilupakannya. Pamannya. Bukankah pamannya itu dapat dimintanya untuk mengganti ayah bundanya?”
“Empu Gandring,” desisnya, “kenapa aku melupakan paman itu?”
Sekali lagi Mahisa Agni tersenyum. Seakan-akan jalan yang terbentang di hadapannya adalah sebuah jalan yang lurus dan licin. Direka-rekanya di dalam angan-angannya, besok atau lusa ia akan mohon izin dari gurunya untuk menengok pamannya di Lulumbang. Dan dua hari kemudian ia akan kembali beserta pamannya. Tidak berdua saja, tetapi dengan beberapa orang membawa sebuah upacara. Pamannya akan melamar Ken Dedes untuknya. Tetapi tiba-tiba pula, kecemasannya tumbuh kembali. Apakah gurunya akan mengizinkannya untuk berbuat demikian. Bukankah Empu Purwa telah menganggapnya sebagai anak sendiri, sebagai saudara tua Ken Dedes.
“Alangkah malangnya nasib ini, apabila terjadi demikian,” gumamnya. Namun ia masih mencoba menghibur diri, “Bukankah aku berhak ikut serta dalam sayembara pilih itu,” bisiknya kepada diri sendiri.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba di matanya, bunga-bunga di pertamanannya itu menjadi bertambah asri. Bunga kaca piring di tengah-tengah pertamanan itu menebarkan bau yang harum tajam. Terasa di bahu Agni yang telanjang, angin menyapu kulitnya perlahan-lahan. Sejuk.
Dalam kesejukan angan-angan yang penuh harapan itu, Mahisa Agni kemudian berdiri dan berjalan perlahan-lahan mengambil serulingnya di amben bambu di teritisan. Dengan tenangnya anak muda itu duduk bersandar dinding dan kedua tangannya melekat pada lubang-lubang serulingnya. Dengan hati yang lapang, Mahisa Agni melekatkan seruling itu di bibirnya. Maka mengalunlah lagu yang sejuk merdu. Lagu yang menggambarkan gairah cinta manusia. Cinta yang luhur dan suci, seperti cinta Ratih dan Kama. Demikianlah nada kasih itu membakar jiwa Agni dan malam itu pun dihangatkannya dengan kesyahduan lagunya.
Beberapa orang cantrik menjadi terbangun karenanya. Mereka seakan-akan mendengar bunyi gamelan lokananta di atas langit yang dibunyikan oleh dewa-dewa. Sedang para endang yang mendengar lagu itu, tersenyum-senyum di antara kesadaran dan mimpinya. Didengarnya lagu yang syahdu itu lewat telinganya, namun dilihatnya di dalam mimpinya Arjuna sedang tersenyum kepadanya. Dan ketika mereka terbangun oleh gigitan nyamuk, maka mereka menjadi kecewa. Namun lagu yang merdu itu masih didengarnya.
“Siapa?” bisik salah seorang dari mereka.
“Mahisa Agni. Siapa lagi?” jawab yang lain. Namun serentak mereka memandang warana yang memagari ruangan itu dengan pintu bilik Ken Dedes.
Endang itu pun kemudian saling berpandangan. Terdengar salah seorang berbisik, “Alangkah bahagianya Ken Dedes mendengar lagu itu.” Para endang itu pun tertawa lirih.
Dan lagu itu masih menyusup lewat lubang-lubang dinding, membuaikan mereka yang terkantuk-kantuk. Para endang itu pun kemudian kembali menguap dan tertidur dengan senyum di bibir mereka. Dan kembali pula mereka bermimpi indah. Di belakang pintu bilik di sebelah warana itu Ken Dedes mendengar pula lagu yang hening namun penuh gairah atas masa depan yang gemilang. Gadis itu pun segera mengetahuinya bahwa yang meniup seruling itu adalah Mahisa Agni. Dan karena lagu itu pula hatinya bergetaran.
“Kenapa lagu itu?” desahnya di dalam hati, “apakah Kakang Agni tahu, apa yang tersimpan di dalam dadaku?”
Gadis itu pun kemudian berangan-angan di antara oleh kesyahduan lagu Mahisa Agni. Sebagai seorang gadis, maka Ken Dedes pun merindukan kasih dan kebahagiaan di masa depan. Diangan-angankannya suatu masa yang mesra dalam perjalanan hidupnya. Namun sebagai seorang gadis yang tahu akan harga dirinya, maka gairah yang membakar dadanya itu pun disimpannya di dalam hati. Tetapi sejak ayahnya memanggilnya bersama Agni, sejak ayahnya menyebut beberapa nama untuknya, maka api yang menyala di dalam dadanya itu menjadi semakin berkobar-kobar. Berbagai perasaan telah bergulat di dalam dirinya. Takut, cemas namun tak dapat ia berbuat banyak. Ingin ia berlari-lari kepada ayahnya, dan dengan manjanya memeluk pinggangnya sambil berkata,
“Ayah, aku telah jatuh cinta kepada seorang anak muda. Tolong Ayah katakan kepadanya, supaya ia segera datang melamar. Tidak. Tidak,” desisnya.
Ia dapat berbuat demikian, apabila gadis itu ingin sehelai kain tenun yang baru, atau subang bermata berlian. Dan ayahnya selalu akan berkata, “Jangan ribut Ken Dedes. Besok biarlah ayah belikan.”
Dan kalau ayahnya tidak mampu untuk membelinya ayahnya selalu menghiburnya, “Mintalah yang lain anakku, mintalah yang ayah mampu mengadakannya.”
Tetapi tidak demikian dengan seorang kekasih. Mungkin seorang pemuda dapat berbuat demikian. Tetapi tidak bagi seorang gadis. Apabila kemudian para endang tertidur dengan nyamannya, maka sebaliknya dengan Ken Dedes. Lagu itu telah menggelitik hatinya, sehingga bahkan ia bertambah gelisah. Ketika di luar biliknya, telah menjadi sepi, maka Ken Dedes justru bangkit dari pembaringannya. Perlahan-lahan ia menjengukkan kepalanya dan memanggil lirih,
“Endang.” Tak ada jawaban. Dicobanya sekali lagi, namun sepi. “Mereka telah tertidur,” desis Ken Dedes.
Gadis yang gelisah itu, dengan hati-hati melangkah di antara para endang yang tertidur nyenyak. Perlahan-lahan sekali supaya mereka tidak terbangun. Ken Dedes sendiri tidak tahu, mengapa ia bangun dan ke mana ia akan pergi. Tetapi ketika telah dilangkahinya tlundak pintu terasa perasaannya makin gelisah. Ken Dedes berjalan selangkah demi selangkah, menyusuri jalan- jalan sempit di halaman. Angin yang silir, mengalir lembut dan bermain-main dengan rambutnya yang terurai di punggungnya. Tanpa sesadarnya, Ken Dedes berjalan ke arah suara lagu yang beralun di antara daun-daun perdu pertamanan. Dan tiba-tiba saja gadis itu terkejut ketika suara lagu itu terhenti.
Mahisa Agni melihat Ken Dedes datang ke arahnya. Karena itu pemuda itu menjadi berdebar-debar. Tak disangkanya, bahwa di malam yang telah lama lelap itu, Ken Dedes akan datang menghampirinya. Karena itu, maka anak muda itu menjadi gugup, dan hilanglah nada-nada lagunya dari kepalanya, sehingga akhirnya ia berhenti. Langkah Ken Dedes pun terhenti pula. Gadis itu pun kemudian melihat Mahisa Agni duduk di teritisan. Sesaat ia menjadi bimbang. Tetapi gadis itu tidak melangkah kembali. Bahkan dihampirinya Mahisa Agni.
Mahisa Agni menjadi semakin berdebar-debar. Perasaan yang belum pernah terjadi padanya. Ken Dedes telah bertahun-tahun tinggal sehalaman dengan anak muda itu. Setiap hari mereka bertemu, bercakap, bergurau. Tak pernah Agni berdebar karenanya. Tetapi kali ini perasaannya menjadi lain. Mahisa Agni masih berdiam diri ketika Ken Dedes kemudian duduk di sampingnya, di amben bambu itu.
Sesaat mereka saling membisu. Hanya nafas Mahisa Agnilah yang terdengar berkejaran. Sehingga ia tak dapat lagi menyapa putri gurunya. Ken Dedeslah yang mula-mula berkata. Namun suaranya benar-benar telah mencerminkan kedewasaannya,
“Lagumu indah, Kakang,” katanya.
Agni berdesir mendengar pujian itu. Pujian yang jauh lebih merdu dari suara serulingnya. jawabnya terbata-bata, “Tidak Ken Dedes. Aku tidak pandai meniup seruling.”
“Lagumu bercerita tentang kesyahduan cinta,” berkata gadis itu pula.
“Aku tak tahu,” jawab Agni, “demikian saja aku meniup seruling itu. Dan apakah yang terpancar daripadanya?”
“Cinta dan gairah bagi masa depan,” sahut Ken Dedes.
Mahisa Agni tidak menjawab. Dan untuk sesaat Ken Dedes pun berdiam diri. Namun tiba-tiba di dalam dada gadis itu pun tumbuh sebuah persoalan. Persoalan yang lama terpendam di dalam dadanya. Beberapa waktu yang lalu, putri itu pun telah mengambil keputusan untuk mengatakan persoalannya kepada Mahisa Agni. Namun ia menjadi ragu-ragu. Apakah hal itu tidak akan menodai namanya. Tetapi ia tidak akan dapat membiarkan persoalan itu semakin berlarut-larut. Dan selalu terngiang kembali kata-kata ayahnya, ‘Jangan terlalu lama anakku’.
Gadis itu pun kemudian menjadi gelisah. Terdorong oleh keinginannya untuk mengungkapkan perasaan yang menghimpit dadanya. Namun kemudian yang terloncat dari bibirnya,
“Kakang, tiuplah serulingmu kembali.”
“Tidak, Ken Dedes,” jawab Mahisa Agni.
“Kenapa?” bertanya gadis itu.
Agni menggeleng. “Tak tahu,” desisnya. Kembali mereka membisu. Angin yang lembut membelai mahkota dan daun-daun bunga.
“Kakang…,” terdengar kemudian suara Ken Dedes lirih tertahan. Agni tidak menjawab, tetapi hatinya berdesir.
Ken Dedes tidak segera meneruskan kata-katanya. Matanya yang suram jauh memandang puncak-puncak pepohonan yang bergoyang-goyang disentuh angin. Dan malam pun bertambah malam. Gelora yang melanda dada Ken Dedes menjadi semakin dahsyat. Akhirnya meledak juga kata-katanya,
“Kakang, bukankah kau telah mendegar sendiri, apa yang dikatakan Ayah kepadaku?” Mahisa Agni mengangguk. Dan terasa tangannya bergetar.
“Bagaimanakah menurut pertimbanganmu, Kakang?” bertanya gadis itu.
Mahisa Agni tidak segera dapat menjawab. Bahkan terasa keringat dinginnya mengalir dari segenap lubang-lubang kulitnya. Sehingga karena anak muda itu diam saja, Ken Dedes mendesaknya,
“Apakah pertimbanganmu Kakang?”
Mahisa Agni menjadi gugup. Namun dicobanya juga untuk menenangkan detak jantungnya. Bahkan kemudian Agni dapat juga menjawab dengan suara bergetar,
“Sebagian terbesar adalah tergantung padamu sendiri Ken Dedes.”
Seandainya jawaban Mahisa Agni itu diucapkan beberapa hari yang lalu, serta dalam persoalan yang berbeda, Ken Dedes pasti akan mencubitnya dan berteriak dengan manjanya,
“Buat apa aku bertanya kepadamu, kepada kakakku, apabila persoalannya akan diserahkan kembali kepadaku?”
Tetapi kali ini Ken Dedes bersikap lain. Dengan sayunya gadis itu menundukkan wajahnya.
“Ya,” desisnya, “sebagian terbesar adalah tergantung kepadaku.” Tetapi gadis itu bergumam pula, “Tetapi tidakkah ada orang lain yang dapat menolongku?”
Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ingin ia menjawab. Bahkan ingin ia berteriak sambil menepuk dada, “Aku Ken Dedes, aku yang akan menolongmu.” Namun kata-kata itu terhenti, tersangkut di kerongkongan. Dan yang terdengar oleh Ken Dedes adalah, “Adakah orang lain yang dapat menolongmu?”
Ken Dedes mengangkat wajahnya. Dipandangnya wajah Agni yang gelisah. Jawaban Agni sama sekali tak memberinya keyakinan. Dan sekali lagi wajah Ken Dedes terkulai lemah. Terasa matanya menjadi panas, dan tak disadarinya mata itu pun menjadi basah.
“Kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanku Kakang,” desah Ken Dedes perlahan-lahan, “Malahan kau menjadikan aku bertambah bingung.”
Tetapi Mahisa Agnilah yang lebih dahulu bertambah bingung. Dalam kebingungannya itu, ia mencoba memperbaiki kesalahannya. Dan tanpa terkendali ia berkata,
“Ya. Ya, Ken Dedes. Aku akan mencoba menolongmu.”
Sekali lagi Ken Dedes memandang wajah Mahisa Agni. Dan tiba-tiba matanya yang redup menjadi sedikit menyala. Katanya, “Benarkah Kakang akan menolong aku?” Mahisa Agni mengangguk, tetapi dadanya bergetar.
Ken Dedes menarik nafas dalam sekali, Katanya perlahan-lahan sekali, “Aku tidak tahu, apakah Kakang Agni dapat merasakan perbedaan perasaan antara seorang anak muda dan seorang gadis. Namun yang aku rasakan Kakang, alangkah rumitnya perjalanan hidup ini.”
Ken Dedes berhenti sejenak, kemudian meneruskan, “Aku tidak mengeluh karena aku seorang gadis. Bahkan menurut Ayah aku harus berbangga, bahwa yang Maha Agung mempercayakan kepadaku jenisku untuk menurunkan, membesarkan dan mengasuh angkatan yang bakal datang Tetapi….” Suara Ken Dedes terputus Dan kembali lehernya terasa tersekat.
Mahisa Agni menjadi semakin bingung. Ketika Ken Dedes kemudian terisak, maka dengan gelisahnya Mahisa Agni berdiri dan berjalan hilir mudik. Ingin ia menghibur gadis itu, namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sebab tiba-tiba saja gadis itu seakan-akan menjadi orang asing baginya.
“Kakang,” desah Ken Dedes, “aku takut kalau peristiwa di belumbang itu akan terulang kembali, seperti Ayah pun takut pula. Apalagi kalau pada suatu ketika, tak seorang pun yang melihat peristiwa semacam itu. Apakah akan jadinya. Karena itu Kakang, aku tak akan dapat menghindari permintaan Ayah.”
Mahisa Agni berhenti sesaat dan tegak seperti tonggak di hadapan Ken Dedes. Namun mulutnya masih terkunci.
“Tetapi Kakang,” Ken Dedes masih berkata terus, “di hadapan Ayah, aku tak dapat berbuat sesuatu. Aku hanya dapat mendengarkan Ayah menyebut nama demi nama. Tetapi aku tak dapat mengucapkan sebuah nama pun. Tidak. Aku tidak dapat Kakang….”
Tangis Ken Dedes semakin menjadi-jadi. Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin bingung. Sekali-kali ia memandang dengan gelisahnya di antara daun-daun pertamanannya. Ia takut kalau ada seseorang yang melihat mereka.
Akhirnya tangis Ken Dedes itu mereda sendiri. Patah-patah gadis itu meneruskan, “Kakang, sekarang aku mencoba datang kepadamu. Aku menyangka bahwa aku akan dapat mengatakan sesuatu.”
Dada Mahisa Agni pun kemudian menjadi sesak, seperti terhimpit. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai perasaannya yang bergolak, sehingga setelah ia berjuang mati-matian, maka dapatlah ia mengucapkan kata-kata,
“Berkatalah Ken Dedes.”
Ken Dedeslah yang kemudian menjadi gelisah. Kalimat demi kalimat telah disusunnya. Namun kalimat-kalimat itu seakan-akan tersangkut di dalam dadanya. Sehingga tak sepatah kata pun yang dapat diucapkan. Malam pun menjadi semakin tetap. Sehelai demi sehelai awan hanyut di wajah bulan yang kuning. Seperti buih di lautan yang biru bersih.
“Tetapi,“ terdengar suara Ken Dedes di antara isaknya, “bukankah kau mau menolong aku, Kakang?” Sekali lagi Ken Dedes ingin meyakinkan.
Dan sekali lagi Mahisa Agni mengangguk dan terloncat jawabannya singkat, “Tentu.”
Tetapi Agni terkejut ketika tangis Ken Dedes kembali meledak. Dengan kedua telapak tangannya gadis itu menutup mulutnya seakan-akan takut apabila kata-katanya akan berloncatan keluar. Karena itu kembali Mahisa Agni mematung. Tetapi dengan penuh harapan ia menanti. Namun tak sepatah kata pun yang didengarnya. Bahkan Agni menjadi sangat terkejut ketika tiba-tiba saja Ken Dedes berdiri, dan dengan tergesa-gesa ia berlari kembali ke biliknya. Mahisa Agni masih berdiri tegak di tempatnya Hanya satu kali terdengar ia memanggil,
“Ken Dedes.”
Ketika Ken Dedes tidak berhenti, Mahisa Agni tidak mengulanginya. Ia takut kalau-kalau ada orang lain yang mendengar panggilannya. Karena itu dengan gelisah dan cemas dipandangnya gadis putri gurunya itu lenyap di sudut rumah. Ketika Ken Dedes sudah tidak tampak lagi, Mahisa Agni mengusap dadanya. Dilepasnya sebuah tarikan nafas yang panjang sekali. Tetapi ia kecewa. Dari Ken Dedes, ia belum mendengar apapun tentang dirinya. Sesaat kemudian, setelah gelora di dadanya mereda, Mahisa Agni duduk kembali di amben bambu di teritisan. Bahkan kemudian ia menyesal, kenapa bukan ia sendiri yang mengatakannya kepada gadis itu.
“Kenapa aku harus menunggu?” pikirnya. Mahisa Agni menggeleng. “Mulutku pun terkunci.” desahnya.
Mahisa Agni kemudian menjadi gelisah sendiri. Ia menjadi iri hati, kepada pemuda yang terbuka hatinya. Dalam kesempitan yang demikian pasti tidak perlu lagi berteka-teki. Tetapi Mahisa Agni, bukanlah pemuda yang demikian. Sejak ayahnya meninggal, maka ia lebih banyak menyimpan perasaan daripada menyatakannya. Kepada siapa pun juga. Demikian pula dalam persoalan ini.
Anak muda itu mencoba menghibur hatinya dengan serulingnya. Tetapi ia tidak mampu lagi meniupnya. Karena itu, kembali serulingnya diletakkannya. Dan tanpa dikehendakinya, ia berdiri dan berjalan mondar-mandir di pertamanan itu. Bulan di langit mengapung dengan tenangnya. Mahisa Agni mengerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah lingkaran putih di sekeliling bulan itu.
“Bulan berkalang,” gumamnya.
Dan dilihatnya sebuah bintang yang menyala dengan terangnya pada lingkaran itu. Tidak di dalam, tetapi tidak pula di luar. Namun hati Mahisa Agni sama sekali tidak tertarik pada bulan, lingkaran dan bintang yang menyala pada lingkaran itu. Karena itu ia berjalan terus sambil menunduk, menyusuri jalan-jalan kerikil di halaman rumah itu
Di dalam biliknya, Ken Dedes menjatuhkan dirinya di pembaringannya. Ditelungkupkannya wajahnya di antara kedua tangannya yang terlipat. Bagaimanapun juga ia bertahan, namun tangisnya meloncat juga. Ketika ia menahannya, maka terdengar isaknya menjadi semakin keras.
“Nini,” didengarnya suara lirih di depan pintunya.
Cepat-cepat Ken Dedes mengusap matanya. Dan dicobanya menjawab perlahan-lahan, “Tinggalkan aku sendiri.”
“Nini,” terdengar kembali, “bolehkah aku masuk?”
“Pergi,” jawabnya, “aku akan tidur.”
“Tidak,” katanya pula, “kau tidak akan tidur. Kenapa kau menangis?”
Ken Dedes tidak menjawab lagi. Dan dibiarkannya orang itu masuk. Ken Dedes mengenal orang itu seperti ia mengenal dirinya sendiri. Seorang perempuan tua yang mengasuhnya sejak kecil. Apalagi setelah ibunya meninggal .Perempuan itu mengasuhnya melampaui anak sendiri.
“Kenapa kau bersedih, Nini,” terdengar suara perempuan tua itu sambil duduk bersimpuh di samping amben Ken Dedes.
Tangis Ken Dedes menjadi semakin deras betapapun ia menahannya. Dan terdengar di antara isaknya, “Tidak apa-apa, Bibi.”
“Jangan berbohong,” sahut orang tua itu, yang seakan-akan turut serta menghayati kepedihan hati gadis itu, “aku mengenalmu sejak kau kanak-kanak. Aku mengenal tabiatmu seperti aku melihat matahari. Karena itu, jangan bersembunyi di balik lidi sehelai. Anakku, aku dapat menduga sebagian besar dari kedudukanmu.”
Sedikit demi sedikit tangis Ken Dedes mereda. Seakan-akan orang tua itu dapat menjadi kawan berbagi duka. Perlahan-lahan diangkatnya wajahnya. Dan di antara isaknya ia berkata,
“Kau tahu bibi?”
“Ya,” sahut pengasuhnya itu, “setiap gadis remaja akan mengalaminya. Aku sudah mendengar apa yang dikatakan Empu kepadamu dan Angger Mahisa Agni.”
Ken Dedes terkejut. Dengan serta-merta ia bertanya, “Dari manakah kau mendengarnya?”
“Ayahmu berkata kepadaku, embanmu yang tua ini,” sahut perempuan itu.
“Ayah?” bertanya Ken Dedes.
“Ya. Tetapi Ayahmu pun menjadi gelisah, karena tak seorang pun yang kau kehendaki,” jawab pengasuh itu, “Tetapi jangan kau sangka, bahwa kami orang-orang tua ini tidak dapat meraba hati gadisnya.”
“Oh,” Ken Dedes menarik nafas, “apakah yang diketahuinya?”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
===============================

































Tidak ada komentar:
Posting Komentar