MENU

Ads

Senin, 09 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 008

Orang tua itu diam untuk sesaat. Ditatapnya gadis itu dengan pandangan lembut. Tangannya yang telah dipenuhi oleh garis-garis umur itu kemudian dengan mesranya membelai rambut momongannya.

“Jangan menangis anakku,” bisiknya.

Hati Ken Dedes menjadi berdebar-debar karenanya. Apakah yang diketahui tentang dirinya oleh pengasuh dan ayahnya. Dengan penuh pertanyaan ditatapnya wajah orang tua itu. Namun untuk sesaat mereka masih berdiam diri.

Di luar angin masih bermain-main dengan daun-daun talas dan kelopak-kelopak bunga. Dengan tak disengaja, Mahisa Agni, lewat melintas di samping bilik Ken Dedes. Ketika ia mendengar isak gadis itu, ia berhenti. Dan didengarnya kemudian Ken Dedes bercakap-cakap. Anak muda itu tak kuasa untuk mencegah keinginannya, mendengarkan percakapan dibalik dinding bilik itu. Karena itu, dengan hati-hati sekali ia melekatkan kepalanya dan mencoba menangkap setiap kata-kata yang menggetarkan udara malam yang sepi.

“Nini,” terdengar pengasuh tua itu berkata dengan hati-hati, “jangan berahasia kepadaku seperti aku juga tidak berahasia kepadamu. Ketahuilah Nini, bahwa Empu Purwa pernah bertanya kepadaku tentang dirimu. Disangkanya aku mengetahui seluruhnya, apa yang tersimpan di hatimu. Karena itu anakku, untuk kepentinganmu, berkatalah kepadaku.”

Ken Dedes tidak segera menjawab pertanyaan pengasuhnya itu. Hanya isaknya sajalah yang terdengar memecah sepi malam. yang terdengar kemudian adalah suara pemomongnya,

“Tak ada orang tua ingin melihat anaknya menderita di hari tuanya. Karena itu, orang tua yang baik, pasti akan mendengarkan tangis anaknya. Nah tangismu pasti akan didengarnya. Empu Purwa tidak akan marah apabila kau minta kepadanya apapun yang ia dapat memberinya. juga kesempatan untuk menentukan hari depanmu. Namun jangan dibiarkan kami, orang-orang tua ini meraba-raba. Berilah kami penjelasan. Apakah yang kau tunggu, dan siapakah anak muda itu?”

Dengan susah payah Mahisa Agni mencoba menguasai pernafasannya yang mendesak. Seperti orang yang tertarik oleh sebuah pesona yang tak dapat disingkiri, anak muda itu menjadi kaku tegang melekat dinding.

“Bibi,” jawab Ken Dedes, “apakah Ayah tidak akan marah kepadaku?”

“Tidak Ngger, tidak,” sahut orang tua itu, “Ayahmu telah mengatakan kepadaku, bahwa kau akan mendapat kesempatan untuk memilih sisihanmu itu. Meskipun kami dapat menduganya, namun kau sendirilah yang harus mengucapkannya. Dan Ayahmu pasti akan menunggu, pada saatnya orang-orang yang dianggapnya dapat mewakili anak muda itu, pasti akan datang kepada Ayahmu.”

“Bibi, anak itu bukanlah anak yang terbuka hatinya. Tetapi sinar matanya serta tutur katanya apabila kami bercakap-cakap telah meyakinkan aku, bahwa pada suatu saat jalan hidup kami akan bertemu.” Ken Dedes berhenti sesaat, dan nafas Mahisa Agni serasa akan berhenti juga.

“Ya, ya Nini,” sela pengasuhnya itu.

“Aku telah mencoba mengatakannya kepada Kakang Agni, namun mulutku seperti terkunci,” Ken Dedes meneruskan.

Pengasuhnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian menarik nafas dalam-dalam.

“Bibi,” berkata Ken Dedes pula, namun suaranya menjadi serak dan seakan-akan sedemikian pepat dadanya, sehingga kata-katanya itu menjadi terpotong-potong, “aku ingin berkata kepada anak itu, supaya segera dipenuhinya adat dan tata cara.” Ken Dedes berhenti sesaat untuk menelan ludahnya.

“Ya, Nini,” potong emban tua itu, “namun kau belum menyebut namanya.”

Ken Dedes menatap langsung ke dalam mata orang tua yang bening itu. Dan tiba-tiba ia yakin bahwa orang tua itu benar-benar akan menolongnya. Maka katanya,

“Namanya Wiraprana.”

“Oh,” orang tua itu terkejut seperti disengat lebah biru. Tanpa disengaja kedua tangannya menutup mulutnya yang berteriak lirih itu, “Adakah kau menyebut nama Angger Wiraprana?”

Ken Dedes mengangguk. Dan orang tua itu pun kemudian tepekur. Di luar dinding, Mahisa Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu, terasa seakan-akan di malam yang terang itu, Mahisa Agni mendengar suara petir meledak di kepalanya. Betapa ia terkejut mendegarnya, Wiraprana. Wiraprana. Tubuh Mahisa Agni menggigil seperti orang kedinginan. Dadanya terbakar oleh suatu perasaan yang aneh. Seperti belanga yang terbanting di atas batu, maka hatinya pecah remuk berkeping-keping. Hampir ia tidak percaya pada pendengarannya. Apakah yang didengarnya benar-benar nama Wiraprana? Di luar diniding Mahisa Agni mendengar percakapan itu. Pada saat Ken Dedes mengucapkan nama itu,….. Dari dalam bilik Ken Dedes itu kemudian masih terdengar Ken Dedes menyebut namanya. Namanya sendiri.




“Emban,” berkata Ken Dedes, “tak ada orang lain yang dapat menyampaikannya kepada Kakang Wiraprana selain Kakang Mahisa Agni. Kakang Agni adalah sahabat yang paling dekat daripadanya. Kakang Agni akan dapat mendesaknya untuk segera melangsungkan tata cara adat itu. Sehingga kemudian nama Kakang Wiraprana pasti akan disebut oleh Ayah, apabila pada suatu kali aku dipanggilnya kembali.”

“Oh,” orang tua itu mengeluh. Tetapi ia menahan gejolak perasaannya. Nama itu benar-benar tak disangka-sangkanya.

Mahisa Agni pun menggigit bibirnya sehingga berdarah. Terdengar giginya kemudian gemeretak. Ia mencoba menguasai keseimbangan perasaannya.

“Persetan!” umpatnya di dalam hati, “Terkutuk kau, Wiraprana!”

Mahisa Agni itu pun kemudian tidak tahan lagi untuk tetap berdiri di tempatnya. Dengan berjingkat ia berjalan tergesa-gesa ke biliknya sendiri. Dengan serta-merta dibantingnya tubuhnya di atas pembaringannya, sehingga terdengar amben itu berderak-derak. Tetapi Mahisa Agni tidak dapat terbaring tenang. Tubuhnya masih menggigil dan perasaannya menggigil pula. Tak disangkanya bahwa pada suatu saat Wiraprana akan memotong hari depan yang diidamkannya. Apakah ia akan berdiam diri?

“Kenapa aku turut campur pada saat Kuda Sempana sedang bertempur dengan anak itu?” gumamnya. “Biarlah ia mati, supaya tak ada orang yang melintang, di hadapanku,” Ia melanjutkan. Bahkan kemudian timbul pula pikirannya, “Aku adalah Mahisa Agni. Apakah aku tak akan mampu bersaing dengan anak muda itu? Biarlah besok aku datang kepadanya. Kita adalah laki-laki jantan. Aku tantang ia bertempur buat menentukan masa depan. Tidak besok pagi. Sekarang!” geramnya dengan kemarahan yang meluap-luap.

Dan Mahisa Agni itu pun segera meloncat dari pembaringannya. Dengan gerakan yang cepat ia melambung di udara dan kemudian tegak di atas kedua kakinya. Cepat ia membenahi pakaiannya. Ikat pinggangnya dan kainnya ditariknya ke belakang. Mahisa Agni kini siap untuk bertempur. Dengan satu loncatan panjang anak muda itu meraih pusakanya. Bukan sekedar senjata untuk berlatih. Tetapi sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya, seorang Empu yang sakti. Empu Gandring. Dengan cepat anak muda itu meloncati tlundak pintunya, dan kemudian berlari menghambur di antara batang-batang perdu di pertamanannya.

“Kubunuh Wiraprana dan aku larikan Ken Dedes,” Mahisa Agni menggeram di sepanjang jalan, “Kuda Sempana berani berbuat demikian. Mengapa aku tidak. Aku tak perlu perlindungan dari istana Tumapel. Akan aku bawa Ken Dedes ke Lulumbang. Apakah pamanku itu tidak dapat melindungi aku seandainya Empu Purwa marah. Pamanku adalah empu sakti pula.”

Mahisa Agni berlari semakin kencang Ditelusurinya jalan desanya yang setiap hari selalu dilewatinya. Berpuluh bahkan beratus kali. Setiap kali ia mengunjungi Wiraprana dan pulang dari rumah anak itu, jalan ini pula yang selalu dilaluinya. Tetapi terasa jalan itu, kali ini bertambah panjang. Mahisa Agni hampir tak sabar dengan langkahnya sendiri. Ia berlari dengan langkah yang panjang-panjang. Waktu yang diperlukan untuk mencapai rumah Buyut Panawijen itu tidak selalu lama. Hanya beberapa saat ia telah berdiri di muka regol halaman Buyut Panawijen. Dilihatnya regol itu tertutup, meskipun ia tahu pasti bahwa regol itu tidak terkunci. Kalau ia mendorongnya sedikit, regol itu pasti terbuka. Tetapi halaman itu begitu sepi.

Mahisa Agni ragu sejenak. Meskipun gelora di dadanya serasa tak dapat dihambatnya lagi namun ia masih sempat membuat perhitungan-perhitungan. Kalau ia masuk ke halaman, dan memaksa bertemu dengan Wiraprana, maka Buyut Panawijen itu pun akan terbangun. Dengan demikian, maka akibat yang akan timbul mempunyai banyak kemungkinan. Mungkin ia harus bertempur melawan mereka berdua, Wiraprana dan Buyut Panawijen. Meskipun kedua orang itu sama sekali tak berarti bagi Mahisa Agni, namun peristiwa itu pasti akan menimbulkan keonaran. Kalau Empu Purwa kelak mengetahuinya maka segala rencananya akan gagal. Orang tua itu pasti akan menjaga anaknya baik-baik. Dan apakah ia masih akan diperbolehkan tinggal di padepokan itu? Dengan susah payah Mahisa Agni menyabarkan dirinya. Gumamnya,

“Biarlah aku tunggu sampai besok. Aku ajak anak itu ke bendungan. Di sana dapat kita buat perhitungan.”

Mahisa Agni menggeram penuh kemarahan. Sekali lagi ditatapnya rumah yang senyap itu. Dan sekali lagi ia mengancam, “Awas kau Wiraprana!”

Kemudian tanpa disadarinya Mahisa Agni berkata seperti yang pernah didengarnya dari Kuda Sempana, “Wanita sama harganya dengan curiga. Taruhannya adalah nyawa.”

Kemudian Mahisa Agni itu pun melangkah pergi, dengan menyimpan bara di dalam dadanya. Betapapun juga, dada itu serasa akan meledak. Karena itu, Mahisa Agni berjalan dengan tanpa tujuan. Kakinya yang kokoh itu menyepak apa saja yang dijumpainya. Batu, kayu, bahkan pohon-pohon kayu pun tidak luput dari sasaran kemarahannya. Sekali-sekali diraihnya cabang kayu di tepi jalan. Kemudian dengan tenaganya yang luar biasa, cabang-cabang itu direnggutnya, sehingga patah berderak-derak.

Beberapa orang yang rumahnya dekat di pinggir jalan itu terkejut, namun mereka tak berprasangka apapun. Dan kembali mereka tetap di dalam pelukan malam. Mahisa Agni masih berjalan terus. Tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang mengejarnya. Bulan di langit serasa tersenyum mengejeknya. Dilihatnya sekali lagi lingkaran yang mengelilingi bulan itu, dan dilihatnya sebuah bintang menyala di dalam lingkaran.

“Bintang itu telah berada di dalam lingkaran,” geramnya, “besok pagi satu jiwa akan melayang.”

Dan Mahisa Agni masih berjalan menyusur jalan itu. Terus. Sehingga tak dirasanya, Mahisa Agni telah meninggalkan desa Panawijen dan berjalan di daerah persawahan. Dilihatnya kemudian batang-batang padi yang hijau kekuning-kuningan di dalam limpahan cahaya bulan. Mahisa Agni adalah seorang pengagum keindahan. Ia dapat duduk seperempat malam menatap gunung- gunung yang berselimut mega, atau menunggui bendungan, mendengarkan gemericik air di antara batu-batu kali. Tetapi kali ini perasaan itu seakan-akan terbunuh mati. Yang tampak adalah malam yang suram sesuram hatinya. Tiba-tiba Mahisa Agni tersentak ketika ia melihat takbir malam yang terentang di hadapannya. Kalau ia berjalan terus, maka ia akan sampai ke padang rumput Karautan.

“Ha,” tiba-tiba Mahisa Agni berkata sendiri, “apakah demit padang rumput itu masih di sana?”

Mahisa Agni merasa, seakan-akan ia mendapat tempat untuk menumpahkan kemarahannya. Karena itu ia menggeram, “Besok aku baru dapat membunuh Wiraprana pengecut itu. Biarlah sekarang aku cari hantu Karautan. Setan itu pun harus mati. Empu Purwa mencegah aku dahulu. Sekarang biarlah aku ulangi tanpa orang tua itu. Biarlah aku tangkap atau bunuh sekali hantu Karautan yang sering mengganggu orang.”

Dan tiba-tiba sekali lagi Mahisa Agni meloncat berlari. Seperti sedang dikejar hantu ia berlari semakin lama semakin cepat. Diloncatinya batu-batu besar yang berserak-serak di padang rumput itu, dan disasaknya gerumbul-gerumbul kecil yang berada di garis perjalanannya. Kelinci-kelinci dan binatang-binatang kecil lainnya terkejut, dan berloncatan menjauh. Namun Mahisa Agni tak sempat memperhatikannya. Matanya tertancap jauh-jauh ke tengah padang rumput itu. Di sana ia beberapa waktu yang lampau bertemu dengan orang yang ditakutinya, dan bernama Ken Arok. Dalam kemarahannya itu, ia tidak ingat apa-apa lagi, selain membunuh, menghancurkan dan apa saja yang dapat memberinya kepuasan. Sekali-kali terlintas juga di kepalanya, menurut kata gurunya, ia tak akan mampu mengalahkan hantu itu.

“Omong kosong!” geramnya dan diteruskannya kata-kata itu, “Aku dahulu dapat menyentuhnya dengan tanganku. Kalau sekarang tersentuh keris Pamanku, muka umur setan itu tak akan sampai esok pagi.”

Padang rumput Karautan adalah padang rumput yang luas. Karena itu Mahisa Agni memerlukan waktu untuk sampai ke tengah padang itu. Ia langsung menuju ke tempat ia bertemu dengan Ken Arok di perjalanannya pulang bersama gurunya. Ia mengharap Ken Arok masih berada di sana, dan mencegatnya. Hantu itu harus sadar, bahwa di dunia ini ada orang yang tak takut kepadanya, dan tak dapat dikalahkannya.

Mahisa Agni yang berlari-lari itu akhirnya sampai juga ke tengah padang itu. Namun bulan telah jauh di sisi cakrawala. Sebentar lagi bola langit itu segera akan tenggelam dibalik punggung Gunung Kawi. Mahisa Agni kemudian berhenti. Nafasnya terasa berkejaran, secepat ia berlari. Sesaat ia tegak di tengah-tengah padang itu sambil mencoba menenangkan dirinya. Beberapa kali Mahisa Agni menghisap nafasnya dalam-dalam dan dihirupnya udara padang yang segar. Perlahan-lahan nafasnya pun dapat diaturnya kembali.

Kini Mahisa Agni itu bertolak pinggang dengan kaki renggang. Dipandangnya keadaan di sekelilingnya. Namun sepi. Tak seorang pun dilihatnya. Tiba-tiba ia menjadi semakin marah. Maka seperti orang yang kehilangan kesadarannya ia berteriak,

“He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kau jadikan umpan keganasanmu. Keluarlah dari persembunyianmu!”

Suara Mahisa Agni itu seperti membelah langit. Mengumandang dan melingkar-lingkar seluas padang Karautan. Namun setelah gema suaranya itu berhenti, kembali malam menjadi sepi. Mahisa Agni mengumpat-umpat tak habis-habisnya,

“Setan pengecut! Apakah kau sedang bersembunyi karena kau lihat Mahisa Agni lewat?. He, hantu Karautan! Inilah Mahisa Agni! Jangan menunggu orang-orang lemah yang dapat kau jadikan umpan keganasan. Keluarlah dari persembunyianmu! He Hantu Karautan, inilah Mahisa Agni. Jangan menunggu orang- orang lemah….”

Sekali lagi suaranya disahut oleh sepinya malam. Dan sekali lagi Mahisa Agni memandang berkeliling dengan nanar. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar gemeresik daun-daun perdu di sisinya. Cepat ia memutar tubuhnya dan bersiaga.

“Nah, kaukah itu?” ia berteriak keras-keras, meskipun rumpun perdu itu tak jauh daripadanya.

Apa yang ditunggunya itu ternyata datang. Dari balik daun-daunan yang rimbun itu, muncullah sebuah kepala. Mahisa Agni segera mengenal orang itu. Sambil tertawa berderai ia berkata,

“Keluarlah dari persembunyianmu, hei setan yang menakutkan orang seluruh wilayah Tumapel. Tetapi aku, Mahisa Agni, jangan kau sangka takut seperti mereka itu. Marilah sekali lagi kita membuat perhitungan. Dan kali ini biarlah salah satu dari kita membayar taruhan ini dengan nyawa.”

Orang yang muncul dari balik gerumbul itu sebenarnyalah orang yang bernama Ken Arok. Untuk sesaat ditatapnya wajah Mahisa Agni yang menyalakan kemarahan hatinya. Tetapi hantu padang rumput Karautan itu tidak segera menanggapinya. Bahkan perlahan-lahan ia melangkahi ranting-ranting perdu dan dengan tenangnya ia berjalan selangkah demi selangkah maju.

“Ayo, bersiaplah!” tantang Mahisa Agni, “Meskipun kau bernyawa rangkap tujuh, kau tak akan mampu mempertahankan hidupmu apabila kau tersentuh kerisku.”

Ken Arok menggigit bibirnya. Tampaklah wajahnya menjadi tegang, tetapi pandangannya tidak menjadi liar seperti pada saat Mahisa Agni bertemu untuk yang pertama kalinya.

“Apa yang kau tunggu?” bentak Mahisa Agni.

Mahisa Agni menjadi heran ketika dilihatnya hantu Karautan itu mengangguk-angguk. Kemudian terdengar ia berkata tenang, “Mahisa Agni. Adakah kau mendendam?”

Mahisa Agni terkejut mendengar pertanyaan itu. Sesaat ia terpaku diam. Ditatapnya mata Ken Arok. Dan seakan-akan dilihatnya wajah yang lain dari wajahnya dahulu. Meskipun demikian, Agni itu pun berkata,

“Jangan mencoba merajuk! Cerita tentang hantu Karautan harus segera tamat.”

“Ya,” sahut Ken Arok, “cerita tentang hantu Karautan memang sudah tamat.”

Kembali Mahisa Agni terkejut. Sekali lagi ditatapnya wajah Ken Arok, dan sekali lagi ia mendapat kesan lain pada wajah itu. Karena itu kemudian Mahisa Agni menjadi bingung.

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok. Suaranya pun lain dari suara yang pernah didengarnya beberapa waktu yang lampau, “Aku memang sedang menunggumu di sini. Berhari-hari. Aku mengharap bahwa aku akan dapat bertemu dengan kau dan orang tua yang lewat bersamamu dahulu.”

“Adakah kau tidak puas dengan pertemuan kita yang pertama itu,” bertanya Mahisa Agni dengan penuh prasangka.

“Ya,” jawab Ken Arok sambil mengangguk.

“Nah, sekarang aku telah datang. Apa maumu? Apakah kau masih ingin mencoba kesaktianmu?” bertanya Mahisa Agni.

Ken Arok menggeleng lemah. Rambutnya yang terurai lepas ke pundaknya itu bergerak-gerak ditiup angin malam. Tetapi rambut itu sudah tidak seliar seperti yang pernah dilihatnya. Perlahan-lahan terasa pada Mahisa Agni, bahwa ia melihat perubahan pada hantu Karautan itu. Apalagi ketika ia mendengar Ken Arok menjawab,

“Tidak Mahisa Agni. Sudah kukatakan, cerita tentang hantu Karautan telah tamat.”

“Lalu apa maumu menghadang aku?” bertanya Agni.

“Berhari-hari aku menunggumu. Setiap malam aku tidur di gerumbul ini. Tetapi aku tidak pernah lagi berniat untuk menghentikan orang-orang yang lewat di padang ini. Aku hanya menunggumu dan orang tua itu,” berkata Ken Arok.

“Ya, sudah kau katakan,” potong Mahisa Agni, “tetapi apa maksudmu?”

“Duduklah Agni,” pinta Ken Arok.

Mahisa Agni menggeleng, “Kau akan membuat aku tidak bersiaga?”

Wajah Ken Arok itu menjadi suram. Katanya, “Aku sadar, bahwa kesan perkelahian itu tak akan terhapus di sepanjang umurmu. Tetapi duduklah Agni.”

Agni menjadi semakin heran. Di mata anak muda itu memancar sesuatu yang tak dimengertinya. Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni duduk di samping anak muda yang belum begitu dikenalnya.

“Mahisa Agni, apakah orang tua dahulu itu benar gurumu?” bertanya Ken Arok

“Ya,” jawab Agni singkat.

“Aku iri kepadamu,” gumam Ken Arok.

“Kenapa?”

“Agni, kata-kata itu terdengar terlalu dalam. Aku melihat perubahan pada sikapmu. Apakah kau bersikap baik hanya apabila gurumu ada?”

Mahisa Agni menjadi semakin heran mendengar pertanyaan itu. Dan kembali ia bertanya, “Kenapa?”

“Sikapmu dahulu tidak segarang sekarang, meskipun aku melihat kejantananmu sejak saat itu.”

Pertanyaan Ken Arok itu benar menembus dada sehingga langsung menyentuh hatinya. Dicobanya untuk melihat sikapnya sendiri. Kenapa orang yang hidupnya seliar Ken Arok berkata demikian kepadanya. Meskipun demikian Mahisa Agni bertanya,

“Apakah yang berubah. Sejak dahulu guruku berkata kepadaku, bahwa setiap kejahatan harus ditumpas. Sekarang aku sedang berusaha menumpas kejahatan yang merajalela di padang rumput ini.”

Ken Arok seakan-akan tidak mendengar jawaban itu. Bahkan ia berkata terus, “Aku melihat, pada waktu kau datang bersama gurumu. Betapa kagumnya aku melihat kejantananmu. Namun sikap itu wajar. Sekarang sikapmu benar-benar lain daripada sikapmu waktu itu. Adakah sesuatu yang terjadi? Atau karena gurumu kini tidak ada?”

“Jangan mengigau!” bentak Mahisa Agni, ”Ayo berdirilah, kita bertempur. Aku tetap dalam perjuanganku.”

“Mahisa Agni,” berkata Ken Arok lirih, “Adakah kau sempat mendengar sebuah kisah yang pendek?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi ia terpengaruh oleh permintaan Ken Arok itu. Karena itu ia berdiam diri di tempatnya.

“Mahisa Agni,” Ken Arok mulai dengan kisahnya, “aku telah bertemu dengan seorang Brahmana di tempat perjudian. Brahmana itu bernama Danghyang Lohgawe.”

Tiba-tiba Mahisa Agni memotong, “Apa peduliku dengan Danghyang Lohgawe. Apakah kau sedang menakut-nakuti aku dengan gurumu yang baru itu?”

Ken Arok menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “orang itu bukan guruku. Dimintanya aku menjadi anaknya.”

“Nah. Suruhlah bapa angkatmu itu datang kemari!” sahut Agni.

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kau benar-benar tak seperti yang aku sangka.” Kembali kata-kata itu langsung menyentuh hatinya. Dan kembali Mahisa Agni berdiam diri. Sehingga Ken Arok sempat meneruskan, “Orang tua itu berkata kepadaku seperti yang pernah dikatakan gurumu kepadaku dahulu.”

“Apa katanya?” bertanya Mahisa Agni tak sesadarnya.

“Bukankah gurumu pernah berkata, bahwa aku akan lebih berbahagia apabila aku dapat menempuh cara hidup yang lain dari cara hidupku yang liar itu?” sahut Ken Arok.

“Adakah sekarang kau sependapat dengan nasihat guru?” bertanya Mahisa Agni pula.

Ken Arok mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Aku pernah bertanya kepada Brahmana itu. Apakah seorang yang telah berjalan jauh dan ditempuhnya jalan yang sesat, ia akan dapat menemukan jalan kembali?” Ken Arok berhenti sejenak, kemudian dilanjutkannya, “Brahmana itu berkata, jalan kembali itu tak akan pernah tertutup selama-lamanya buat siapa pun juga.” Kembali Ken Arok berhenti sejenak. Kepalanya itu pun tertunduk lesu, dan seterusnya ia berkata, “Menurut Danghyang Lohgawe, jalan itu terbuka pula bagiku.”

Mahisa Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan untuk sesaat mereka berdua tenggelam dalam sepi hati mereka berdua. Sesaat kemudian terdengar kembali Ken Arok berkata,

“Brahmana itu pernah berkata pula kepadaku, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu lapang dan licin, sehingga karena itu maka banyak orang yang tersesat karenanya. Lebih banyak yang memilih jalan yang lapang dan licin daripada yang sempit dari jelek. Namun jalan itu akhirnya akan sampai ke daerah yang gelap, sedang yang jelek itu akan sampai ke daerah ketenteraman abadi.”

Ken Arok menarik nafas sekali, namun dalam sekali. Kemudian ia meneruskan, “Mahisa Agni, aku ingin berkata kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan berusaha memilih jalan yang sempit dan jelek. Gerbang di ujung jalan itu selalu terbuka, namun jarang-jarang orang yang memasukinya. Aku sangka kau dari dulu telah berada di jalan yang sempit itu pula. Mudah-mudahan sangkaanku itu benar.”

Kata-kata Ken Arok itu benar-benar menghunjam langsung ke pusat dadanya. Karena itu Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Dilihatnya dirinya sendiri yang sedang dibakar oleh perasaan yang tidak menentu. Hantu yang liar itu kini sedang berusaha mencari jalan kembali. Lalu apakah yang akan dilakukan itu?

Mahisa Agni menarik nafas sedalam luka di hatinya. Namun tiba-tiba hantu itu telah menariknya dari kealpaan. Hampir saja ia terjerumus ke jalan yang lapang dan licin, yang disebut-sebut oleh Ken Arok itu. Memang alangkah mudahnya terjun ke daerah yang akan bermuara di dalam kegelapan. Dan hampir saja dirinya terjun ke dalamnya. Kekecewaan yang memukul dadanya, pada saat ia mendengar nama Wiraprana disebut oleh Ken Dedes, telah hampir saja menyeretnya ke dalam daerah yang kelam itu. Dan kini, seakan-akan dilihatnya sebuah cahaya yang menerangi hatinya yang gelap. Justru dikatakan oleh hantu yang menakutkan itu.

Karena itu untuk sesaat Mahisa Agni jadi terbungkam. Tak sepatah kata pun yang dapat dikatakannya. Sedang Ken Arok pun kemudian berdiam diri, sehingga kembali padang rumput Karautan itu menjadi sepi. Tetapi hati Mahisa Agni kini tidak sesepi padang rumput itu. Terjadilah di dalam dadanya suatu pergulatan yang sengit. Penilaiannya atas perbuatannya sendiri, serta kisah yang diucapkan oleh Ken Arok telah menolongnya, membebaskannya dari suatu tindakan yang kotor. Karena itu, sesaat kemudian terdengar ia berkata parau,

“Maafkan aku Ken Arok.”

Ken Arok terkejut, “Apa yang harus aku maafkan?”

“Pada saat kau menemukan jalan kebenaran itu,” sahut Mahisa Agni, “justru bersamaan waktunya dengan keadaan yang sebaliknya yang terjadi padaku. Pada saat-saat aku hampir terjebak oleh kekecewaan dan nafsu.”

“Oh,” desis Ken Arok, “kini terasa pula olehmu, bahwa kau agak berubah.”

“Mudah-mudahan,” sahut Mahisa Agni.

“Kenapa mudah-mudahan?” bertanya Ken Arok.

“Mudah-mudahan tidaklah menjadi watakku sejak semula. Mudah-mudahan apa yang aku lakukan kini benar-benar karena hatiku yang gelap. Dan mudah-mudahan aku dapat meyakini kesalahan itu,” jawab Mahisa Agni.

Ken Arok menatap wajah Mahisa Agni seperti baru sekali itu dilihatnya. Dan wajah itu kini sedang diliputi oleh kabut yang suram. Karena itu maka terdengar Ken Arok bertanya,

“Aku yakin bahwa bukan sifatmu sekasar itu. Tetapi apakah yang sudah terjadi?”

Mahisa Agni menggeleng lemah, “Bukan apa-apa. Suatu kesalahan kecil di dalam lingkunganku.”

“Hem,” Ken Arok menarik nafas, “kesalahan kecil yang hampir berakibat besar. Hati-hatilah untuk lain kali. Apabila hal yang sekasar itu dilakukan oleh Ken Arok, maka itu bukanlah sesuatu yang pantas disesalkan. Tetapi kalau itu dilakukan oleh Mahisa Agni, maka kau pasti akan menyesal sepanjang hidupmu.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih,” gumamnya, “untunglah bahwa kau pun banyak mengalami perubahan. Apabila tidak, akibatnya dapat dibayangkan.”





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar