MENU

Ads

Senin, 09 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 009

“Untunglah,” sahut Ken Arok, “aku menyadari sepenuhnya perubahan-perubahan yang terjadi dalam diriku. Tanggapanku kepada dunia, kepada manusia di sekelilingku kini telah berubah. Karena itulah sebenarnya aku ingin bertemu denganmu dan gurumu. Aku minta kepadamu, supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Selebihnya aku akan mohon diri kepadamu dan gurumu, bahwa aku akan segera pergi ke Tumapel mengikuti Brahmana itu.”

“Apakah kau ingin berjumpa dengan Empu Purwa?” bertanya Mahisa Agni,

“Sayang, waktuku sudah terlalu sempit,” jawab Ken Arok, “kesempatan ini adalah kesempatan yang sebaik-baiknya bagiku untuk mengakhiri cara hidup yang liar ini. Danghyang Lohgawe akan membawaku ke istana Akuwu. Mudah-mudahan aku diterima pengabdianku, meskipun sebagai juru pakatik sekali pun.”

“Syukurlah,“ gumam Mahisa Agni, “kau akan menempuh suatu kehidupan yang lain dari masa-masa lampaumu.” Ken Arok itu pun mengangguk lemah. “Tekunilah kehidupan yang baru itu,” Mahisa Agni meneruskan, “mudah-mudahan kau sabar melampaui masa-masa peralihan itu.”

Kembali Ken Arok mengangguk. “Mudah-mudahan,” desisnya.

“Kapan kau akan berangkat?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku belum tahu pasti,” sahut Ken Arok, “tetapi aku harus segera pergi kepada Danghyang Lohgawe.”

Mereka berdua pun kemudian terdiam. Langit di timur telah membayangkan warna fajar. cahaya yang ke merah-merahan memancar di wajah langit yang biru. Bulan yang semalaman berkisar dari satu titik kesatu titik di udara, kini telah tenggelam d balik Gunung.

Sesaat kemudian terdengar Ken Arok berkata, “Aku akan segera pergi.”

“Adakah kau masih takut mendengar ayam jantan berkokok,” bertanya Mahisa Agni,

Ken Arok tersenyum. “Tidak,” jawabnya, “Ada soal lain. Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

Mahisa Agni pun tersenyum. Meskipun mereka belum rapat berkenalan, namun pertemuan yang aneh itu, menyebabkan hati mereka menjadi berat menghadapi perpisahan yang bakal terjadi. Ken Arok dan Mahisa Agni pun kemudian berdiri. Ketika Ken Arok akan meninggalkan padang rumput, yang selama ini menjadi daerah pengembaraannya di malam hari, maka sekali lagi ia berpamitan, katanya,

“Mahisa Agni. Baktiku buat gurumu. Ialah orang yang pertama-tama membangunkan sebuah teka-teki di dalam hatiku. Teka-teki tentang Yang Maha Agung. Doakan semoga aku dapat menyesuaikan diri dengan cara hidup yang baru ini.”

“Aku akan berdoa untukmu,” sahut Mahisa Agni.

Ken Arok itu pun segera meninggalkan Mahisa Agni. Dengan cepatnya ia berjalan melintasi padang rumput yang selama ini telah mengikatnya. Ken Arok itu seakan-akan telah menjadi bagian yang hidup dari padang Karautan. Dan kini daerah itu ditinggalkannya. Namun terngiang di telinga Mahisa Agni, kata-kata Ken Arok, meskipun ia hanya ingin bergurau,

“Sepeninggalku, tak perlu kau menggantikan hantu di padang ini.”

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas panjang, “Untunglah, semuanya belum terjadi. Seandainya ia berhasil membunuh hantu itu dengan kerisnya. dan seandainya pula ia telah terlanjur membunuh Wiraprana. Apakah akan jadinya? Dengan demikian, mungkin aku akan benar-benar menggantikan anak muda itu menjadi hantu di padang ini.”

Mahisa Agni menjadi ngeri sendiri. Dan mengucaplah ia di dalam hatinya puji syukur kepada yang Maha Agung, bahwa ia telah dibebaskan dari bencana itu. Mahisa Agni pun kemudian melangkah pergi. Tetapi ia tidak berlari lagi seperti pada saat ia datang. Di sepanjang jalan itu, terasa betapa hatinya menjadi pedih. Pedih atas hilangnya harapan bagi masa depan yang manis, pedih karena ia hampir-hampir tenggelam dalam kegelapan.

“Wiraprana itu sama sekali tak bersalah,” gumamnya, “Akulah yang bersalah. Kenapa aku selama ini berdiam diri. Kenapa aku lebih senang menyimpan perasaanku daripada melimpahkannya? Karena itu jangan menyalahkan orang lain.”

Namun betapapun juga, luka di dadanya terasa betapa sakitnya. Tetapi Mahisa Agni kini telah menemukan dirinya kembali. Karena itu tak seorang pun yang didendamnya. Wiraprana tidak dan Ken Dedes pun tidak.



“Ayahnya, Empu Purwa tak bisa memaksanya,” katanya di dalam hati, “Apalagi aku.”

Bahkan tiba-tiba timbullah di dalam hati Mahisa Agni itu, “Biarlah gadis itu menemukan kebahagiaannya. Dan mudah-mudahan dengan demikian aku akan ikut berbahagia karenanya.”

Mahisa Agni itu berjalan perlahan-lahan di dalam sentuhan angin pagi. Tetesan embun yang hinggap di dedaunan, membentuk butiran-butiran, seakan-akan butiran mutiara yang satu-satu lepas dari untaiannya, seperti butiran-butiran mutiara harapan yang pecah dari ikatan hati Mahisa Agni.

Sebagai seorang anak muda yang sedang melambungkan cita-citanya setinggi bintang, maka peristiwa itu tak akan dapat dilupakannya. Namun ia pun dapat mengetahui bahwa tak seorang pun akan mampu mengubah perasaan orang lain dengan paksa dalam tanggapannya atas cinta.

Padang rumput itu adalah padang yang luas. Karena itu maka kini terasa, bahwa perjalanan yang telah ditempuhnya semalam adalah perjalanan yang cukup jauh. Mahisa Agni pun tiba-tiba menjadi cemas, apakah kata orang apabila salah seorang di antara tetangga-tetangganya melihatnya berlari-lari.

Matahari yang semakin tinggi di langit, terasa panasnya semakin tajam menyengat kulit. Namun sinarnya yang bertebaran di segenap wajah padang rumput itu sama sekali tak terasa. Mahisa Agni sedang bergelut dengan angan-angannya,

“Apakah yang harus aku lakukan kini?”

Namun di sepanjang perjalanan itu tak ditemuinya jawaban yang memuaskan hatinya. Kadang-kadang timbul keinginannya untuk pergi saja meninggalkan gurunya dan desa Panawijen, namun kadang-kadang ada juga maksudnya untuk melihat betapa Ken Dedes dan Wiraprana berbahagia. Tetapi di dalam sudut hatinya yang lain terdengar pula suara,

“Biarlah apa saja yang akan mereka lakukan, jangan mencampurinya dalam segala segi.”

Mahisa Agni menggeleng-geleng lemah. Wiraprana ternyata belum tahu apa yang semestinya harus dilakukan, dan Ken Dedes semalam menemuinya, bukan untuk menyatakan cintanya kepadanya, tetapi gadis itu akan minta kepadanya untuk menyampaikannya kepada Wiraprana. Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Gumamnya,

“Ternyata Wiraprana datang setiap hari ke rumah Empu Purwa tidak semata-mata menemui aku. Ternyata di belakang tirai persahabatannya itu terkandung maksud-maksud yang lain.”

Perjalanan pulang itu terasa betapa menjemukan. Baru kemudian terasa, betapa lelahnya setelah semalam suntuk matanya tak terpejamkan. Bahkan kemudian ia berlari-lari sepanjang hampir setengah malam. Dan kini ia harus menempuh jalan itu kembali.

Ketika matahari telah hampir mencapai puncak langit, maka tampaklah di hadapan Mahisa Agni beberapa buah desa yang membujur di pinggir padang rumput itu. Sekali dilampauinya desa yang pertama, kemudian ia akan segera sampai ke rumah gurunya. Namun desa-desa yang hijau itu kini sama sekali tak memikatnya seperti beberapa waktu yang lampau. Ikatan yang selama ini. terasa menjerat dirinya, tiba-tiba kini telah terurai lepas. Desa itu tak menarik lagi baginya, selain sebagai tempat tinggalnya.

Mahisa Agni memasuki desanya dengan hati yang kosong. Selangkah demi selangkah ia menyusuri jalan yang semalam dilaluinya. Masih dilihatnya beberapa ranting yang patah sebagai tempat untuk menumpahkan kemarahan dan kegelapan hatinya semalam. Ketika dari kejauhan dilihatnya pagar batu yang melingkari halaman rumah gurunya, hatinya berdesir. Tak ada gairah lagi untuk segera pulang. Tetapi apabila diingatnya, apa yang telah dilakukan oleh gurunya untuknya, dan apa yang telah diberikan oleh orang tua itu kepadanya, maka timbullah sedikit niatnya untuk kembali masuk ke dalamnya.

Tetapi kembali hatinya berdesir ketika ia melihat Wiraprana telah berdiri di muka regol halaman itu. Terungkit kembalilah perasaan yang pedih di dadanya. Sekilas tebersitlah kemarahannya kepada anak muda itu. Namun kemudian perasaan itu ditekannya kuat-kuat.

Wiraprana tersenyum ketika ia melibat Mahisa Agni. Anak muda itu kemudian berjalan menyongsongnya. Tak ada suatu kesan apapun di wajahnya. Bersih. Mahisa Agni melihat wajah yang jujur itu. Dan kembali ia berkata di dalam hatinya,

“Anak itu tidak bersalah.”

“Dari mana kau, Agni?” bertanya anak muda itu.

Mahisa Agni menjadi agak bingung. Terasa betapa canggungnya kali ini berhadapan dengan Wiraprana. Anak muda yang telah bertahun-tahun bergaul dengan rapatnya, tiba-tiba terasa sebuah jurang telah membujur di antaranya. Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka Wiraprana mengulangi pertanyaannya seramah semula,

“Dari mana kau Agni?”

Mahisa Agni merasa seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi. Dengan terbata-bata ia menjawab sekenanya, “Aku tidur di bendungan, Prana.”

Wiraprana terperanjat. “He,” sahutnya, “aku juga pergi ke bendungan semalam. Kenapa kita tidak bertemu?”

Mahisa Agni bertambah bingung. “Aku pergi sesudah tengah malam,” jawab Agni sekenanya.

“Oh,” berkata Prana, “tengah malam aku sudah pulang. Kenapa kau tak mengajak aku serta?”

Pertanyaan itu melingkar-lingkar seperti putaran yang sangat membingungkan. Maka jawabnya, “Aku tak bermaksud pergi ke bendungan. Aku hanya berjalan-jalan saja. Tetapi kemudian aku sampai ke sana.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ketika dilihatnya keris terselip di pinggang sahabatnya, Wiraprana mengerutkan keningnya. Mahisa Agni melihat sambaran mata Wiraprana atas kerisnya itu. Karena itu ia menjadi semakin bingung. Apabila anak itu bertanya tentang keris itu, apakah jawabnya. Tetapi untunglah Wiraprana tak bertanya-tanya lagi.

“Ayolah,” ajak Wiraprana, “kau tampak lelah.”

Mahisa Agni tak menjawab. Maka berjalanlah mereka berdua memasuki regol halaman rumah Empu Purwa yang luas. Mahisa Agni melihat tanam-tanamnya yang hijau subur. Bunga-bungaan, rerumputan dan perdu. Dilihatnya pula tanah yang berpetak-petak dan di samping rumah itu sebuah kolam. Tetapi semuanya itu kini terasa hambar. Bunga-bunga yang sedang kembang sama sekali tak menarik perhatiannya. Batang-batang anggrek yang dipeliharanya dengan hati-hati, serta bunga-bunganya yang putih bersih tampak betapa suramnya.

Mereka berdua langsung pergi ke bilik Mahisa Agni. Wiraprana duduk di sebuah bale-bale besar di ruangan dalam, sedang Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Dilihatnya biliknya itu kotor dan barang-barangnya berhambur-hamburan. Agaknya semalam ia telah dengan tidak sengaja menghambur-hamburkan barang-barangnya itu. Dengan dada yang serasa akan retak, Mahisa Agni menarik keris dari pinggangnya. Ketika ia menatap keris itu, terasa hatinya berdesir. Untunglah bahwa keris itu belum ditariknya dari wrangkanya. Tanpa disengajanya, diciumnya ukiran keris itu sambil berbisik,

“Betapapun kau telah diselamatkan dari penggunaan yang sia-sia.”

Mahisa Agni pun kemudian segera membenahi barang-barangnya. Pakaiannya, beberapa alat-alat lain dan lontar-lontar bacaannya. Adalah menjadi kebiasaannya untuk membersihkan biliknya sendiri, sehingga jaranglah orang lain masuk ke dalamnya. Dengan demikian, maka tak seorang pun yang mengetahui, bahwa bilik itu menjadi kotor dan bercerai berai.

Setelah pekerjaan itu selesai, Agni pun tidak segera keluar dari biliknya. Dengan lesunya ia duduk di sudut pembaringannya. Matanya yang sayu. beredar dari satu benda ke benda yang lain di dalam bilik itu. Terasa betapa ia menjadi asing. Dinding-dinding, tiang, dan sebuah gelodog bambu. Dan tiba-tiba tebersit pertanyaan di dalam hatinya,

“Apakah aku masih akan dapat tinggal di tempat ini?”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ia tersadar ketika didengarnya Wiraprana terbatuk-batuk di ruang dalam. Perlahan-lahan Mahisa Agni berdiri, dan dengan lunglai ia berjalan keluar menemui sahabatnya yang telah memadamkan harapannya di masa depan.

Wiraprana tersenyum melihat Agni keluar dari biliknya. Katanya sambil tertawa, “Ah, aku sangka kau tertidur Agni. Aku takut kalau aku harus menunggumu sampai senja.” Kelakar itu pun demikian hambar di hati Mahisa Agni.

Meskipun demikian dipaksanya juga bibirnya untuk tersenyum. Senyum yang pahit. Dan hatinya pun bertambah pahit ketika ia melihat kenyataan bahwa Wiraprana itu sama sekali tak berprasangka apa pun kepadanya. Tak ada perubahan pada tingkah lakunya dan tak ada setitik kecurigaan apa pun dalam sikapnya. Hatinya tidak akan sepedih itu seandainya Wiraprana itu bersikap kasar dan keras. Seperti Kuda Sempana. Seandainya Wiraprana itu berkata kepadanya,

“Agni, marilah kita selesaikan persoalan kita dengan bertaruh nyawa.”

Meskipun seandainya ia kalah, bahkan sampai pada ajalnya pun, maka ia akan mati dengan bangga. Tetapi Wiraprana sama sekali tak bersikap demikian. Matanya yang bening memancar seperti mata kanak-kanak yang belum mengenal dosa. Karena itu Mahisa Agni mengeluh di dalam hatinya. Dengan lesu Mahisa Agni duduk di samping Wiraprana. Dan dengan kaku ia bertanya,

“Dari mana kau sepagi ini Prana?”

Wiraprana terperanjat, “He? Apakah kau sedang bermimpi? Lihatlah, bayangan matahari telah tegak di lantai.”

Mahisa Agni menyadari kesalahannya dan dipaksanya juga dirinya untuk tertawa, “Ah, agaknya aku benar-benar lelah dan bingung. Maksudku, apakah kau telah datang sejak pagi-pagi?”

Wiraprana memandang wajah Mahisa Agni dengan herannya. Dilihatnya pada wajah itu suatu pancaran yang aneh. Tak pernah ia melihat kerut-kerut di kening sahabatnya itu. Mahisa Agni adalah anak yang selalu gembira. Ah, Mahisa Agni terlalu lelah, katanya di dalam hati, namun yang terlontar dari mulutnya adalah,

“Seharusnya akulah yang bertanya Agni, dari mana kau sampai sesiang ini. Apakah kau tidur di bendungan sampai matahari merambat ke puncak langit? Apakah kau kemudian mencuci pakaianmu tanpa membawa rangkapan, dan kau tunggu pakaian itu kering sambil merendam diri?”

Mahisa Agni benar-benar menjadi bingung. Tak tahu bagaimana ia akan menjawab pertanyaan Wiraprana. Karena itu ia hanya dapat tertawa, namun hatinya merintih. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni teringat kepada Ken Arok yang baru dijumpainya di padang Karautan. Diingatnya pesan anak muda itu kepadanya. Supaya orang-orang di sekitar padang ini mendengar, bahwa cerita tentang hantu Karautan telah tamat. Karena itu, maka Mahisa Agni bermaksud untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Katanya,

“Wiraprana, sebenarnya aku tidak tidur di bendungan semalam.”

Sekali lagi Wiraprana terkejut, “Lalu ke manakah kau semalam malaman?”

“Ke padang Karautan,” sahut Mahisa Agni.

“He,” Wiraprana benar-benar terkejut mendengar jawaban itu sehingga ia bergeser maju, “adakah kau pergi ke sana?” Mahisa Agni mengangguk. “Siapakah yang memaksamu, sehingga kau pergi ke daerah hantu yang mengerikan itu?’ bertanya Wiraprana pula.

“Tak ada,” jawab Agni, “aku hanya ingin melihat hantu. Karena itu kau lihat aku membawa senjata?”

“Ya, ya, Aku lihat kerismu.”

Mahisa Agni pun kemudian bercerita tentang padang itu. Tentang pertemuannya dengan hantu itu untuk pertama kali dan tentang pertemuannya yang terakhir. Mahisa Agni bercerita sedemikian asyiknya dan kadang-kadang tak sesadarnya, diceritakannya kemampuannya melawan hantu itu. Ia bercerita demikian saja untuk melepaskan himpitan-himpitan yang menekan dadanya. Tidak saja sebagai pelarian untuk menghindarkan pertanyaan Wiraprana, tetapi lambat laun dengan tak diketahuinya sendiri, cerita itu telah berubah sebagai suatu cerita untuk menolong kekerdilan perasaannya. Pilihan Ken Dedes atas Wiraprana, telah menyebabkan Mahisa Agni merasa tak berharga. Dan kini ia sedang menutupi perasaan itu dengan menceritakan kedahsyatannya.

“Alangkah dahsyatnya kau Agni,” Wiraprana menyela dengan penuh kekaguman. Dengan jujur anak muda itu berkata pula, “Sejak kau berkelahi dengan Kuda Sempana, aku telah menjadi kagum dan tidak mengerti. Dari mana kau mendapat ilmu itu. Kini ternyata kau pun sanggup melawan hantu itu. Ah. Alangkah kecilnya aku. Kenapa baru sekarang aku tahu?”

Mendengar pujian yang diucapkan dengan ikhlas itu, Mahisa Agni tersadar dari pelariannya. Karena itu betapa ia menyesal. Namun semuanya terjadi, dan cerita itu tak akan dapat ditelannya kembali. Dengan demikian, maka Agni pun justru terdiam, dan luka di hatinya menjadi semakin parah.

Ketika ia sedang merenungkan dirinya, kesombongannya dan ceritanya, didengarnya langkah kaki lewat di sampingnya. Mahisa Agni mengangkat wajahnya, dilihatnya Ken Dedes berjalan dengan tergesa-gesa. Ketika gadis itu melihatnya, segera ia berhenti dan berkata,

“Kakang, ke mana kau semalam? Ayah mencarimu.”

Hati Mahisa Agni berdesir. Apalagi ketika dilihatnya, betapa Ken Dedes menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan ketika terpandang olehnya Wiraprana yang duduk di sampingnya. Mahisa Agni harus berjuang sekuat tenaga untuk menenangkan hatinya yang bergelora seperti angin ribut di lautan. Dengan gemetar ia menjawab,

“Adakah guru menanti aku?”

“Tidak sekarang,” sahut Ken Dedes perlahan-lahan, namun wajahnya masih menatap lantai, “Ayah sedang di sanggar pamujan.”

“Oh,” Agni pun terdiam,

Suasana di ruang dalam itu menjadi kaku, seperti garis-garis tiang yang lurus. Ken Dedes sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Kehadiran Wiraprana benar-benar menjadikannya segan. Apakah Kakang Agni telah mengatakannya, pertanyaan itu merayap di hatinya. Kalau pengasuhnya yang tua itu telah menyampaikan perasaannya kepada Mahisa Agni, maka ada kemungkinan Agni telah mengatakannya kepada Wiraprana. Perasaan Ken Dedes sebagai seorang gadis menjadi bergelora. Tiba-tiba ia tak dapat menahannya. Betapa ia malu seandainya Wiraprana tak memenuhi harapannya. Bahwa apa yang dilihatnya di mata anak muda itu, dan apa yang dirasakan di dalam kata-katanya saat-saat bila mereka bercakap-cakap dan bergurau itu keliru.

Wiraprana merasakan kekakuan itu. Suasana itu demikian anehnya pada perasaannya. Karena itu tiba-tiba ia berkata, “Agni, apakah Ken Dedes menunggumu makan?”

Agni sadar, bahwa Wiraprana hanya bergurau. Tetapi akibatnya kata-kata seperti air yang tepercik di lukanya. Pedih. Maka jawabnya terbata-bata, “Tidak Prana.”

Tiba-tiba sekali lagi dada Agni berdesir ketika Ken Dedes berkata lirih dengan sama sekali tak mengangkat wajahnya, “Kakang. Aku mencari Kakang sejak tadi. Bukankah Kakang belum makan?”

“Oh,” Agni mengeluh di hatinya. Pergaulan ini benar-benar menyiksanya.

“Nah,” sahut Wiraprana sambil tertawa, “pantaslah. Ceritamu dan kata-katamu selama ini bersimpang siur tak keruan. Makanlah Agni, supaya hatimu menjadi terang. Dan kau tidak akan gemetar lagi.”

Perasaan Mahisa Agni benar seperti biduk yang kecil di dalam permainan gelombang yang ganas. Tetapi ketika sekali lagi ia menatap wajah sahabatnya itu, sekali lagi ia mengeluh di dalam hatinya. Wajah itu sedemikian bersih dan jujur. Karena itu kembali terdiam. Dan kembali suasana menjadi kaku.

Timbullah suatu harapan di hati Ken Dedes, agar Wiraprana ikut makan bersama Agni seperti kebiasaan mereka. Adalah menjadi kebiasaannya pula mengajak anak muda itu berbuat demikian. Tetapi kali ini mulutnya serasa terkunci. Dan tak sepatah kata pun dapat diucapkan. Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata,

“Ken Dedes, kenapa kau tidak minta aku makan bersama Kakang Agni?”

Hati Ken Dedes berdesir mendengar pertanyaan itu, dan hati Mahisa Agni pun berdesir. Pertanyaan itu bukan untuk pertama kali diucapkan. Sepuluh, dua puluh bahkan anak itu sudah sedemikian seringnya datang ke rumah ini, sesering Mahisa Agni datang ke rumahnya. Mahisa Agni pun tidak tahu lagi berapa kali ia pernah dipersilakan makan di rumah Ki Buyut Panawijen. Tetapi senda gurau Wiraprana kali ini benar-benar memusingkan kepalanya.

Ken Dedes tidak dapat mengucapkan sepatah jawaban pun. Bahkan tiba-tiba gadis itu berlari meninggalkan mereka. Wiraprana menjadi heran. Kenapa sikap gadis itu tidak seperti biasanya. Apakah ia berbuat suatu kesalahan. Wiraprana itu pun kemudian sibuk melihat dirinya, sikapnya dan kata-katanya. Aku tidak berbuat kesalahan, katanya di dalam hati. Namun perubahan sikap Ken Dedes yang manja itu benar-benar mencemaskan. Betapa jujurnya hati Wiraprana ketika ia mengucapkan sebuah pertanyaan kepada sahabatnya,

“Agni, apakah kau bertengkar dengan Ken Dedes?”

Mahisa Agni menjawab dengan gugup, “Tidak Prana. Tidak.”

“Syukurlah,” sahut anak muda itu, “aku melihat sesuatu yang agak lain.”

“Mungkin,” jawab Mahisa Agni sekenanya.

Tetapi ia terkejut sendiri atas jawabannya itu. Apalagi ketika Wiraprana bertanya, “Benarkah dugaan itu?” Mahisa Agni merenung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu.

Ken Dedes menjadi bingung ketika Wiraprana berkata: “Ken Dedes, kenapa kau tidak minta aku…”

Wiraprana menarik nafas. Kini ia tidak bergurau lagi. Tiba-tiba ia mencoba menilai, apakah yang dilihatnya sejak Mahisa Agni datang. Lesu dan berwajah sayu. Anak muda itu seakan-akan menjadi bingung dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya sekenanya saja, bahkan kadang-kadang menjadi gugup. Tertawanya yang kosong dan keningnya yang berkerut-kerut.

“Hem,” Wiraprana berdesah. “Alangkah tumpulnya perasaanku,” katanya di dalam hati.

Tetapi ia tidak dapat segera berpamitan. Ia takut kalau Mahisa Agni salah mengerti, dan menyangkanya kurang bersenang hati. Karena itu ia masih duduk saja di amben yang besar. Sesaat mereka saling berdiam diri, Wiraprana menebak-nebak di dalam hati, sedang Mahisa Agni dengan susah payah berusaha menekan perasaannya.

Kemudian terdengar Wiraprana berkata, “Agni, makanlah. Biarlah aku menunggumu di tepi kolam. Adakah guramemu sudah bertambah banyak?”

Mahisa Agni mengangguk-angguk. Dengan demikian setidak-tidaknya ia dapat melepaskan ketegangan perasaannya meskipun hanya sesaat ia makan. Karena itu jawabnya,

“Baiklah Prana. Tetapi tidakkah kau ikut makan pula?”

Wiraprana menggeleng. Kemudian ia pun berdiri dan berjalan keluar. Mahisa Agni melihat pemuda itu pada punggungnya. Tinggi, berdada bidang. Rambutnya yang lebat digelungnya di belakang kepalanya. Langkahnya yang tegap tenang. Tiba-tiba terdengar ia bergumam lirih. Lirih sekali,

“Berbahagialah kau Wiraprana. Mudah-mudahan aku dapat ikut berbahagia karenanya.” Dan tiba-tiba saja terloncat dari mulut Mahisa Agni, “Wiraprana, pulanglah. Datanglah kembali nanti senja.”

Wiraprana terkejut , sehingga ia berputar. Ditatapnya wajah Agni. Betapa ia menjadi heran. Tak sahabatnya itu berkata demikian. Mata Wiraprana yang bening itu pun menjadi suram. Dari dalamnya memancar pertanyaan melingkar-lingkar di dadanya. Kini terasa benar, bahwa ada sesuatu yang terjadi di rumah itu. Namun Wiraprana tidak bertanya lagi. Ketika ia melihat wajah Mahisa Agni yang sayu, maka Wiraprana pun mengangguk sambil menjawab,

“Baiklah Agni. Senja nanti aku akan datang kembali.”

Tetapi hati Wiraprana itu pun menjadi gelisah. Di perjalanan pulang, di rumah, di setiap saat ia berteka-teki, “Apakah kira-kira yang akan dilakukan Mahisa Agni senja nanti?”

Sepeninggal Wiraprana, Mahisa Agni pergi ke dapur. Dilihatnya makan baginya telah tersedia di amben. Tetapi ia tidak melihat Ken Dedes. Memang ia tidak mengharap gadis itu menungguinya makan seperti biasanya. Meskipun demikian, setiap gumpal nasi yang masuk ke mulutnya terasa seakan-akan menyumbat lehernya. Dan Agni pun tidak dapat merasakannya, apakah yang sedang dimakan itu. Asin, manis, masam atau apapun. Mahisa Agni benar-benar tidak mempunyai nafas untuk makan.

Setelah makan, Mahisa Agni langsung masuk ke biliknya. Ken Dedes tidak tahu, apakah yang sedang dilakukannya, dan apakah yang terjadi atasnya, sebab Ken Dedes sendiri itu pun kemudian merendam dirinya di dalam biliknya pula. Mahisa perlahan-lahan meletakkan tubuhnya di atas pembaringannya. Ia kini tidak membanting diri lagi seperti semalam, sehingga ambennya berderak-derak. Dengan sekuat tenaga ia mencoba mengatur perasaannya. Sehingga kemudian tumbuhlah pikirannya yang hening. Kini ia tinggal menunda sampai senja. Ia mengharap Wiraprana akan datang dan dengan demikian ia akan menyelesaikan pekerjaannya. Ia menyadari, bahwa Ken Dedes benar memerlukan pertolongannya. Betapa pun sakitnya. Ia tidak dapat berbuat lain, daripada berkata dengan hati yang pedih kepada Wiraprana, seperti yang didengarnya dari mulut Ken Dedes semalam. Diminta atau tidak diminta. Biarlah mereka menemukan kebahagiaan, gumamnya.

Mahisa Agni terkejut, ketika ia mendengar seseorang mengetuk pintu biliknya. Kemudian didengarnya sebuah pertanyaan lirih, “Ngger, apakah Angger sedang tidur?”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Suara itu adalah suara emban tua, pengasuh Ken Dedes. Orang itu pasti akan datang kepadanya, dan akan mengulangi permintaan Ken Dedes kepadanya.

“Persetan!” teriaknya di dalam hati.

Tetapi sesaat kemudian ia menjadi tenang kembali. Perlahan-lahan ia bangkit, dan membuka pintu biliknya.

“Masuklah, Bibi,” terdengar Mahisa Agni mempersilakan. Namun suaranya bergetar.

Orang tua itu pun masuk ke dalam bilik Agni dan duduk di amben di samping anak muda itu. Wajahnya yang telah berkerut-kerut itu ditundukkan jauh-jauh menghujam ke jantung bumi.

Nafas Mahisa Agni pun serasa tertahan-tahan di hidungnya. Ia menanti kata-kata emban tua itu. Kata-kata yang sudah didengarnya sendiri. Kata-kata yang telah menyobek jantungnya. Tetapi untuk beberapa saat emban tua itu tidak berkata apa pun. Bahkan terdengar betapa ia berkali-kali menarik nafas dalam-dalam. Bilik itu pun kemudian diliputi oleh suasana sepi. Sepi yang tegang. Namun orang tua itu masih berdiam diri.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar