MENU

Ads

Senin, 09 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 010

Alangkah terkejutnya Mahisa Agni, ketika kemudian ia melihat, air mata orang tua itu satu-satu menetes di pangkuannya. Mahisa Agni menjadi heran. Apakah sebabnya? Seharusnya, seandainya dirinya seorang perempuan, maka ialah yang harus menangis melolong-lolong. Bukankah perempuan itu hanya harus datang kepadanya, mengatakan seperti apa yang dikatakan Ken Dedes kepadanya? Tetapi kenapa ia menangis?

“Kenapa Bibi menangis?” tiba-tiba terdengar Mahisa Agni bertanya.

Orang tua itu mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang suram. Kemudian orang tua itu berdesah, “Ah. Alangkah anehnya hidup ini.”

“Apa yang aneh, Bibi?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak menyangka Ngger, bahwa perjalanan hidupmu dan Ken Dedes, pada suatu saat akan sampai di persimpangan,” jawab orang tua itu.

Melonjaklah hati Mahisa Agni mendengar kata-kata itu. Ia ingin meyakinkan pendengarannya, maka ia pun bertanya, “Kenapa?”

“Aku adalah orang tua Ngger,” sahut orang tua itu, “sudah belasan tahun aku hidup di padepokan ini sebagai emban pemomong putri Empu Purwa itu. Dan sudah belasan tahun pula aku mengenalmu. Betapa aku melihat tingkah laku kalian berdua, hubungan kalian berdua sebagai kakak beradik. Aku, yang hidup di luar ikatan itu, merasa betapa kalian tak akan terpisahkan. Namun tiba-tiba semalam aku mendengar suatu keajaiban. Keajaiban yang tak pernah aku sangka-sangka.”

Mahisa Agni menggigit bibirnya. Ditatapnya kembali wajah orang tua itu. Orang tua yang seakan-akan memancarkan perasaan belas kasihan kepadanya. Karena itu tiba-tiba luka di hati Mahisa Agni seperti diungkit-ungkitnya. Sebagai seorang laki-laki Mahisa Agni tidak akan tenggelam dalam kegagalan itu. Maka justru harga dirinyalah yang tersinggung. Tetapi, jauh di dasar dadanya terdengar hatinya menangis. Tidak, ia mencoba menutupi tangis itu. Karena itu dengan gagahnya ia berkata,

“Ada yang bibi tangiskan? Apakah bibi menyangka bahwa aku dan gadis itu akan dapat tetap hidup bersama-sama. Aku adalah laki-laki. Suatu ketika aku akan meninggalkan padepokan ini. Bukankah aku di sini hanya sekedar berguru?”

Orang tua itu tidak menjawab. Tetapi air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mulai berkeriput.

“Jangan Bibi berprasangka,” Agni meneruskan, “tak ada hubungan apa pun antara aku dan gadis itu, selain sebagai anak guruku. Apabila kemudian aku dan gadis itu akan sampai di persimpangan jalan, itu adalah wajar. Aku atau gadis itulah yang akan pergi dahulu meninggalkan padepokan ini. Aku akan dapat segera pergi untuk merantau menambah pengalaman hidup dan pengalaman ilmu yang aku miliki, atau gadis itulah yang pergi dahulu mengikuti suaminya di rumah Buyut Panawijen.”

“Oh?” perempuan tua itu terkejut, sehingga ia berkisar maju.

Mahisa Agni pun terkejut, ketika ia melihat emban tua itu sedemikian terkejutnya mendengar jawabannya. Barulah kemudian ia sadar, bahwa kata-kata yang terloncat dari mulutnya agaknya telah mendahului kabar yang akan dibawa perempuan itu kepadanya. Ternyata pula kemudian orang tua itu bertanya,

“Adakah Ken Dedes telah mengatakannya kepadamu?”

Mahisa menjadi bingung. Ia tidak tahu bagaimana akan menjawab pertanyaan itu, sehingga kemudian wajahnya pun tunduk lesu. Dan mulutnya serasa terbungkam. Hanya tubuhnyalah yang kemudian bergetar.

Emban tua itu menjadi sedemikian heran, sehingga ia mengulangi pertanyaannya, “Angger, dari manakah Angger tahu, bahwa Ken Dedes pada suatu ketika akan meninggalkan padepokan ini dan mengikuti suaminya ke rumah Buyut Panawijen?”

Mahisa Agni akhirnya merasa, bahwa ia harus menjawab pertanyaan itu. Tak mungkin ia mengelak lagi. Maka dengan angkuhnya ia berkata untuk menutupi kekurangan yang mencengkam perasaannya,

“Kenapa tidak? Aku telah mengatakan kepadanya, Wiraprana adalah pilihan satu-satunya baginya. Aku, yang telah menganggap Ken Dedes itu sebagai adik kandungku, telah menyetujuinya gadis itu berbuat demikian, daripada ia harus memilih salah satu dari anak-anak yang belum dikenal watak dan tabiatnya.”

“Oh,” desah perempuan itu, namun ia bertanya, “sejak kapan kau mengatakan kepadanya?”

“Sudah lama aku berkata demikian kepadanya,” jawab Agni.



Ia sudah terdorong masuk ke lubang yang digalinya. Karena ia tidak dapat meloncat keluar. Bahkan ia akan menjadi semakin dalam terbenam ke dalamnya, sehingga kemudian terdengar perempuan itu bertanya,

“Sudah lama? Sehari?”

“Sebulan,” sahut Mahisa Agni.

“Oh,” kembali emban tua itu berdesah.

Dan alangkah gelisahnya Mahisa Agni, ketika ia melihat mata orang tua itu, yang seakan-akan menjadi semakin kasihan kepadanya. Sedemikian gelisahnya, sehingga Mahisa Agni itu bertanya,

“Kenapa bibi memandang aku sedemikian?”

“Aku kasihan kepadamu, Ngger,” jawabnya jujur.

“He?” Agni hampir berteriak, “kenapa kasihan? Aku laki-laki yang tidak perlu belas kasihan orang lain. Juga belas kasihan darimu, Bibi. Juga tidak dari Ken Dedes.”

Perempuan itu mengerutkan keningnya, “Kenapa Ken Dedes?” Kembali Agni terbungkam. Dan kembali ia tidak tahu, bagaimana ia akan menjawabnya. “Angger,” berkata perempuan itu kemudian perlahan-lahan, “jangan membohongi aku. Pasti kau belum mengatakannya kepada Ken Dedes, bahwa sebaiknya gadis itu memilih Wiraprana.” Orang tua itu berhenti sejenak, lalu lanjutnya, “Baru semalam gadis itu minta kepadaku untuk menyampaikannya kepadamu. Tetapi kau sudah mendengarnya. Adakah semalam kau mendengarkan percakapan kami?”

Mahisa Agni benar-benar terkejut mendengar pertanyaan itu. Sehingga ia menjadi bingung dan gugup. Namun ia tidak mau melihat kekurangan dirinya. Ia tidak mau seseorang menganggapnya bahwa ia tidak dapat memadai Wiraprana, sehingga seorang gadis lebih menyukai Wiraprana daripadanya. Karena itu maka katanya,

“Apa salahnya aku mendengar percakapan kalian. Aku sama sekali tidak berkeberatan. Aku sudah berjanji, bahwa aku akan menyampaikannya kepada Wiraprana. Membawanya kepada gadis itu. Kenapa tidak? Aku sama sekali tak berkepentingan dengan keduanya, selain Ken Dedes adalah adikku dan Wiraprana adalah sahabatku.”

Mahisa Agni masih berkata terus, namun orang tua itu memotong kata-katanya, “Adakah sedemikian juga kata hati mu?”

“Jangan mengada-ada, Bibi,” sahut Mahisa Agni sambil berdiri. Kemudian ia melangkah beberapa langkah, dan berdiri di pintu sambil bersandar tiang. Pandangannya jauh menyeberangi ruang dalam seakan-akan menembus dinding-dinding rumah Empu Purwa. Tetapi Mahisa Agni kemudian memutar tubuhnya, dan sekali lagi ia heran. Perempuan itu menangis. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni bertanya, “Kenapa kau menangis?”

Kini emban tua itu menunduk. Dari sela-sela isak tangisnya ia berkata, “Angger, aku ingin melihat kau berbahagia. Aku ingin melihat kau dan Ken Dedes, hidup bersama-sama dalam ikatan keluarga.”

“Tidak,” potong Mahisa Agni, “tidak! Jangan Bibi mencoba mempengaruhi kemurnian anggapanku terhadap gadis itu. Aku tidak lebih dari kakak kandungnya.”

“Agni,” kata perempuan itu, “jangan berbohong kepadaku. Dan jangan berbohong kepada diri sendiri.”

“Cukup!” Mahisa Agni membentak. Tetapi ia menyesal. Karena itu ia berkata lirih sambil mendekati perempuan itu, “Maaf, Bibi. Tetapi Bibi jangan menyebut-nyebut itu lagi.”

Mahisa Agni menjadi gelisah ketika kembali wanita tua itu memandangnya. Sinar matanya itu seakan-akan langsung menghunjam ke jantungnya. Karena itu sekali lagi Mahisa Agni melangkah, bersandar uger-uger pintu.

“Aku menjadi bersedih, Ngger,” bisik emban itu, “ketika aku mendengar Ken Dedes menyebut sebuah nama. Dan nama itu bukan namamu.”

“Jangan pedulikan aku Bibi,” potong Agni.

“Tidak dapat Ngger. Aku menitipkan harapan di hari depanmu.”

Mahisa Agni tersentak. Cepat-cepat ia berpaling dan bertanya, “Kenapa?”

“Kau masih mau mendengar?”

“Tentang harapan itu, bukan tentang seorang gadis.”

Perempuan itu menunduk. Kemudian ia berkata-kata, namun seakan-akan ditujukan kepada diri sendiri, “Kau adalah satu-satunya harapan bagi masa depan yang panjang Agni. Bukankah kau tidak bersaudara? Kalau masa depanmu suram, masa depanku pun menjadi gelap. Lebih gelap daripada masamu itu. Sebab umurku tidak akan melebihi hitungan jari sebelah tangan.”

Mahisa Agni menjadi semakin tidak tahu arah pembicaraan perempuan tua itu. Apakah hubungannya hari depannya dengan hari depan orang tua itu. Karena itu, maka dengan berbagai pertanyaan di dadanya ia mendengar perempuan itu berkata,

“Kalau kalian tidak terpisahkan. Maka aku pun akan selalu bersama kalian. Aku pasti akan ikut Ken Dedes sebagai pemomongnya. Kalau kau terpisah daripadanya, maka aku pun tak akan melihatmu lagi setiap hari.”

“Oh,” Agni menjadi kecewa mendengar alasan itu. Betapa sederhana. Maka jawabnya, “Bibi terlalu mementingkan kepentingan sendiri. Bibi hanya ingin mengikuti Ken Dedes dan melihat aku setiap hari. Itu saja? Baik. Baik. Kelak aku juga akan ikut Ken Dedes dan Wiraprana. Biarlah aku menjadi juru pengangsu atau menjadi pakatik pemelihara kuda.”

Kata-kata Agni terputus ketika orang tua itu menutup kedua wajahnya dengan tangannya yang kisut. Terdengarlah orang tua itu terisak. Dan Agni pun menjadi semakin tidak sabar. Maka katanya, “Kenapa Bibi menangis saja? Bukankah Ken Dedes minta Bibi menyampaikan kepadaku permintaan supaya aku berkata kepada Wiraprana bahwa Ken Dedes menunggunya. Bahkan Wiraprana harus datang kepada Empu Purwa dengan sebuah upacara lamaran. Dan bahwa lamaran itu pasti akan diterimanya? Bukankah begitu?”

“Ya, ya, Agni,” potong perempuan itu, “demikianlah.”

“Nah. Kenapa Bibi tidak mengatakannya? Malahan Bibi menangis saja?”

“Aku ingin mengatakannya kepadamu. Tetapi bukankah kau sudah mengetahuinya?” sahut emban itu, “karena itu tentu sudah tidak akan menarik lagi bagimu. Tetapi Ngger, keinginanku melihat kalian berdua hidup bersama bukan karena alasan yang terlalu sederhana itu. Bukan itu. Dan aku tidak berkeinginan untuk memaksamu atau mempengaruhi keikhlasanmu, seandainya kau benar-benar melihat kenyataan itu. Bahkan aku ingin melihat kau melampaui kegagalan ini dengan hati jantan.”

“Ah,” Agni berdesah.

“Tetapi,” orang tua itu meneruskan, “aku menjadi gelisah karena aku melihat keadaanmu.”

“Biar, biarlah aku dalam keadaanku,” sahut Agni.

“Angger, kau masih mau mendengar sebuah cerita?”

Agni menoleh. Ditatapnya kembali wajah yang sudah berkeriput oleh garis-garis ketuaannya. Tetapi kembali Mahisa Agni menatap titik di kejauhan. Gumamnya acuh tak acuh, “Cerita tentang harapan di masa depan. Bukan tentang gadis.”

Orang tua itu menggeser duduknya. Kemudian sambil menundukkan kepala ia mulai dengan kisahnya, “Dahulu ada seorang gadis yang sederhana. Sederhana ujudnya dan sederhana hatinya. Tetapi di luar setahunya dan kemauannya, beberapa orang pemuda telah mencintainya bersama-sama. Sudah tentu bahwa gadis itu tak akan dapat memilih lebih dari satu di antaranya. Karena itu di luar pengetahuan siapa pun, gadis itu telah berjanji untuk hidup bersama-sama dengan salah seorang dari mereka. Seorang laki-laki yang keras hati dan berkemauan teguh. Untuk bekal hidup mereka kelak maka laki-laki itu memutuskan untuk pergi merantau, mencari daerah-daerah baru yang akan dapat memberi mereka tanah untuk garapan, supaya mereka dapat hidup dengan tenang dan tidak kekurangan makan. Gadis itu pun tidak berkeberatan. Dilepasnya laki-laki itu dengan janji, bahwa gadis itu akan menunggunya sampai ia kembali.”

Mahisa Agni mendengar juga cerita itu. Kata demi kata. Tetapi ia sama sekali tidak menaruh minat. Ia mendengarkan hanya karena ia tidak mau menyakitkan hati emban tua itu. Apalagi ternyata cerita itu sama sekali tak menyinggung-nyinggung hubungan antara masa depan perempuan tua itu dengan masa depannya. Dan ia masih mendengar emban itu berkisah terus,

“Setahun, dua tahun sehingga akhirnya sampai pada tahun ketiga. Namun laki-laki itu tak kunjung datang. Harapan-harapan yang telah dianyam oleh mereka berdua, sedikit demi sedikit rontok dari hati gadis itu. Apalagi kemudian ayah bundanya, dan keluarga di sekitarnya, telah mendesaknya untuk segera meninggalkan masa-masa mudanya. Akhirnya gadis itu tak dapat berbuat lain daripada memilih satu dari sekian banyak pemuda yang melamarnya. Laki-laki yang pergi itu tak akan dapat diharapnya kembali.”

Perempuan tua itu berhenti sejenak Dipandanginya wajah Mahisa Agni. Tetapi Mahisa Agni tidak berpaling. Anak muda itu masih memandang jauh ke depan, melewati pintu biliknya, menyeberangi ruang dalam dan menembus dinding di sebelah sana.

“Kau mendengar ceritaku?” bertanya emban itu.

“Ya, ya, tentu,” Agni terperanjat.

Perempuan tua itu menarik nafas. Ia tahu bahwa Mahisa Agni tidak berminat atas ceritanya, namun ia bercerita terus. Pada suatu saat anak muda itu pasti akan menaruh perhatian kepada ceritanya itu. Maka ia pun meneruskan,

“Maka sampailah masanya gadis itu memanjat ke hari-hari perkawinannya. Laki-laki yang dipilihnya kali ini pun adalah laki-laki yang berhati teguh. Ia mengharap bahwa suaminya akan dapat melindunginya apabila sekali-sekali kesulitan datang. Sebab tidak mustahil, apabila anak-anak muda yang menjadi kecewa kelak akan bermata gelap. Namun meskipun laki-laki itu berhati teguh. dan beradat keras, namun ternyata adalah seorang suami yang baik. Dilihatnya kepentingan sendiri, namun. tak diabaikannya kepentingan istrinya itu. Sehingga akhirnya, perkawinan itu menjadi semakin terjalin oleh anaknya yang pertama. Laki-laki.”

Sekali lagi perempuan itu berhenti. Matanya menjadi semakin sayu, dan wajahnya menjadi semakin tunduk. Hampir-hampir ia tidak dapat meneruskan ceritanya, karena lehernya serasa tersekat oleh setiap kata-kata yang akan diucapkannya. Namun ia memaksa bercerita terus. Katanya,

“Tetapi pada suatu saat, datanglah badai yang mengguncangkan ketenteraman hidup mereka. Laki-laki yang telah disangkanya hilang itu, akhirnya datang kembali. Dengan bangga ia mencari gadis yang telah berjanji menunggunya. Dengan luka-luka di tubuhnya yang didapatnya dalam setiap persoalan di sepanjang jalan, namun dengan dada menengadah ia berkata, ‘Aku sekarang adalah seorang yang kaya raya’ ”

Tetapi akhirnya Mahisa Agni menjadi jemu mendengar cerita itu. Karena itu ia mendahului, “Aku sudah tahu kelanjutan cerita itu. Kedua laki-laki itu akan bertempur satu sama lain. Laki-laki yang merantau itu akan menang, dan perempuan itu akan kembali kepadanya.”

Emban tua itu menjadi sedih. Katanya, “Sayang Ngger, cerita itu berkesudahan lain.”

“Oh,” sahut Agni, “jadi laki-laki yang pulang dari rantau itulah kalah?”

“Tidak,” jawab perempuan tua itu.

“Juga tidak. Jadi bagaimana?” bertanya Mahisa Agni.

Perempuan itu menarik nafas. Seakan-akan sedang mengatur gelora di dadanya. Kemudian ia meneruskan, “Gadis yang telah menjadi ibu itu pun mendengar bahwa laki-laki yang pernah ditunggunya itu datang. Maka ia pun menjadi bingung. Terkenanglah ia pada masa-masa gadisnya. Janjinya kepada anak muda itu. Dan kembali terkenang masa-masa yang penuh gairah menghadapi masa depan. Sebenarnyalah ia masih belum dapat melenyapkan laki-laki itu dari hatinya. Namun disadarinya, bahwa untuk meninggalkan suaminya tak akan dapat dilakukannya. Pergaulan hidup yang selama ini dialaminya, adalah kehidupan yang manis. Karena itu, perempuan itu tak tahu bagaimana ia harus menyelesaikan persoalannya. Apalagi ketika disadarinya, bahwa kedua-duanya adalah orang-orang sakti yang sukar dicari tandingnya.

Maka ketika ia tidak dapat menyembunyikan keadaan itu, akhirnya ia memutuskan untuk berkata berterus terang kepada suaminya, dan ia mengharap daripadanya ia akan mendapat pikiran-pikiran baru untuk menyelesaikan persoalan itu. Ketika laki-laki itu mendengar pengaduan istrinya, perasaan-perasaannya dan pengalaman-pengalamannya dengan jujur, laki-laki itu terkejut. Ditatapnya mata istrinya dengan penuh keganjilan. Tetapi laki-laki itu tidak berkata sepatah kata pun. Dibiarkannya istrinya menangis. Bahkan kemudian laki-laki itu pun meninggalkannya seorang diri.

Perempuan itu menjadi cemas, bahwa suaminya akan menemui laki-laki yang seorang lagi. Ia takut kalau terjadi perkelahian di antara mereka. Karena itu, maka ia pun segera berlari ke rumahnya. Tetapi suaminya tak ditemuinya di sana. Bahkan laki-laki yang telah pulang dari rantau itulah yang menemuinya. Namun perempuan itu pun tak dapat berkata apa-apa. Ia hanya dapat menangis. Akhirnya laki-laki itulah yang berkata, ‘Pulanglah. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan aku akan merantau kembali membawa hatiku yang terbelah. Aku pulang dengan membawa harapan. Tetapi laki-laki itu lebih memerlukan kau daripada aku. Kembalilah kepadanya, dan peliharalah baik-baik’

Perempuan itu mengeluh. Diterimanya nasihat itu, namun disadarinya bahwa ia telah merusak sebuah hati. Ia tidak tahu, apakah hati yang dilukainya itu akan dapat sembuh kembali. Dengan sedih perempuan itu pulang ke suaminya. Namun suaminya tak ditemuinya di rumah. Akhirnya di dengarnya bahwa malapetaka telah menimpanya tanpa disangka-sangkanya. Seorang pembantunya yang setia datang kepadanya sambil berkata ‘Suamimu telah pergi. Ditinggalkannya pesan untuk Nyai, hidup berbahagia dengan laki-laki yang telah bertahun-tahun ditunggunya’

Perempuan itu hampir pingsan mendengar berita itu, apalagi ketika pembantu setianya itu berkata, ‘Anakmu laki-laki telah dibawa serta oleh suamimu, Nyai’”

Emban tua itu berhenti sejenak. Ditatapnya wajah Mahisa Agni yang tiba-tiba menjadi merah. Dengan tiba-tiba pula Mahisa Agni berdiri, dan dengan suara yang bergetar ia berkata lantang,

“Bibi, adakah kau sedang menyindir aku. Apakah kau sangka aku laki-laki cengeng seperti kedua laki-laki itu? Tidak. Atau kau sedang menganjurkan kepadaku, supaya aku menjadi seperti kedua laki-laki yang hanya mampu berpura-pura itu?. Katakanlah ia berbuat kebajikan. Keluhuran budi, namun kedua-duanya tidak jujur. Bukankah Bibi mengatakan bahwa hati mereka terbelah?”

“Agni..,” potong perempuan tua itu.

Namun Agni berkata terus, “Ataukah kau menghendaki supaya aku bersikap jantan? Menantang laki-laki yang menghalang-halangi aku. Dengan bertaruh nyawa untuk mencapai idaman hati? Tidak. Tidak. Jangan gurui aku. Sebab aku mempunyai pendirian sendiri. Perempuan itulah yang bersalah. Bukankah dengan demikian, ia memecah dua buah hati sekaligus, atau apabila mereka laki-laki yang rakus, bukankah mereka telah bertempur. Apabila salah seorang dari mereka itu mati atau kedua-duanya, siapakah yang bersalah? Pasti perempuan itu. Gadis itu.”

“Agni. Agni,” perempuan tua itu memekik kecil.

Sehingga Agni terkejut. Dengan demikian ia menjadi terdiam. Bahkan ia pun kemudian sadar, bahwa ia telah berbicara terlalu keras, sehingga apabila seseorang mendengarnya, pastilah orang itu menyangka bahwa ia sedang bertengkar. Tetapi Mahisa Agni menjadi lebih terkejut lagi ketika dilihatnya mata perempuan tua itu. Mata itu tiba-tiba menjadi bercahaya, dan mata itu menatapnya dengan tajam. Dan dilihatnya bibir wanita itu bergetar. Perlahan-lahan namun pasti perempuan tua itu berkata,

“Kau benar Agni. Perempuan itulah yang bersalah. Ia telah mengecewakan kedua-duanya. Karena itulah maka perempuan itu harus dihukum. Kau benar anak muda. Perempuan itu harus dihukum. Dan perempuan itu pun telah menghukum diri sendiri. Betapa ia membuang diri dari lingkungannya. Dari keluarga dan sanak kadang. Hiduplah ia kemudian sebagai seorang budak yang hina.”

Emban itu berhenti sejenak. Matanya masih menyala. Kemudian ia meneruskan, “Tetapi apakah yang dilakukan oleh kedua laki-laki itu. Meskipun mereka tidak bertempur satu sama lain, namun tak banyaklah artinya daripada itu. Mereka menumpahkan kepahitan hidupnya pada orang-orang lain. Dan kedua laki-laki itu pun tak berumur panjang. Sebelum matinya, laki-laki yang membawa anaknya itu selalu berkata kepada anaknya, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Dan akhirnya ayahnya pun meninggal pula.”

Ketika perempuan tua, emban Ken Dedes itu berhenti sejenak Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Masih dilihatnya mata emban itu memandangnya dengan tajam. Dan tiba-tiba saja terasa seakan-akan sinar mata itu menusuk ulu hatinya, sehingga Mahisa Agni pun dengan tergesa-gesa berpaling.

Kemudian terdengar emban itu meneruskan, “Tetapi ke tahuilah Agni. Perempuan itu, ibu anak yang ditinggalkan ayahnya itu, sebenarnya belum mati.”

Dada Mahisa Agni berdesir. Terasa sesuatu bergolak di dalam rongga dadanya. Apalagi ketika ia mendengar emban itu meneruskan dengan suara lembut, namun dalam sekali,

“Agni, kau ingin melihat perempuan yang berdosa itu. Yang telah mengecewakan dua orang lelaki sekaligus?”

Agni tidak menjawab. Tetapi ia memandang mata perempuan tua itu. Dan telinganya mendengar emban itu berkata, “Inilah perempuan itu.”

“Oh,” Agni terperanjat. Dan tak sesadarnya ia berkata, “Maafkan aku Bibi.”

“Kau benar Ngger. Tak ada yang harus aku maafkan,” perempuan tua itu menundukkan wajahnya. Dan kembali air matanya menetes satu-satu.

Tetapi kini Agni melihat betapa sedih hati perempuan itu. Justru karena ia menyadari, bahwa ia telah menghancurkan harapan dari dua orang laki-laki bersama-sama. Agni pun menundukkan wajahnya. Ia menyesal akan ketelanjurannya. Ia menyesal bahwa ia telah bersikap terlalu kasar kepada perempuan tua itu. Kini sedikit demi sedikit terguratlah di dinding hatinya, maksud sebenarnya dari perempuan itu. Mungkin perempuan itu akan mengatakan kepadanya, bahwa Ken Dedes pun tak dapat disalahkannya. Meskipun perempuan itu tidak membantah, bahkan mengakui, bahwa dirinya telah berdosa, tetapi tersimpan juga pertanyaan di hatinya ‘Apakah sebenarnya aku bersalah?’.

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Mungkin, katanya di dalam hati. Mungkin perempuan itu akan memberi nasihat kepadaku, supaya aku tidak mendendam dan menjalani sisa-sisa hidup dengan pedih dan duka. Tetapi Mahisa Agni tak berkata sepatah pun. Untuk sesaat ruangan itu menjadi sunyi. Agni pun kemudian menundukkan wajahnya. Dan perempuan tua itu sedang sibuk mengusap air matanya dengan ujung kainnya. Tetapi sampai saat itu Mahisa Agni masih belum dapat menghubungkan, betapa perempuan itu menyimpan harapan sejalan dengan masa depannya.

Sesaat kemudian terdengar emban itu berkata, “Angger, kini kau tahu dengan siapa kau berhadapan. Bagaimanakah anggapanmu kepada perempuan yang demikian? Masihkah ia berhak menyebut dirinya di antara keluarganya?”

Mendengar pertanyaan itu, Mahisa Agni menjadi bimbang. Apakah perempuan itu bercerita tentang dirinya, ataukah ia sedang menjajaki tanggapannya terhadap Ken Dedes? Tetapi melihat sinar matanya, maka Agni merasa, bahwa perempuan itu berkata dengan jujur. Meskipun demikian Agni tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu. Sehingga perempuan itu terpaksa sekali lagi mengulangi.

“Angger, bagaimanakah anggapanmu terhadap perempuan yang demikian? Apakah ia mutlak bersalah dan harus dihukum untuk seumur hidupnya?”

Dengan serta merta Agni menjawab di luar kemauannya, “Tidak. Tidak Bibi.”

Perempuan itu menarik nafas. Kemudian ia bertanya pula, “Bagaimanakah seandainya, perempuan itu termasuk salah seorang keluargamu. Kakakmu misalnya atau adikmu perempuan?”

Kini Agni menjadi semakin bimbang. Hampir ia kecewa terhadap perempuan itu. Apakah aku harus menentukan tanggapanku terhadap Ken Dedes? Sekali lagi tebersit pertanyaan di dalam hati. Namun akhirnya Mahisa Agni tak dapat lagi menyimpan pertanyaan itu, sehingga akhirnya terlontar dari mulutnya,

“Adakah Bibi sedang ingin mengetahui, apakah aku mendendam kepada Ken Dedes?”

“Tidak Ngger. Tidak,” jawab perempuan tua itu cepat-cepat, lalu disambungnya, “Aku bertanya kepadamu sejujur hatiku. Kalau perempuan itu datang kepadamu Agni, apakah akan kau usir dia?”

Agni memandang perempuan tua itu dengan tajamnya. Ketika dilihatnya wajah yang sayu, maka ibalah hatinya. Ia tidak mau menambah pedih hati yang luka itu. Karena itu ia menjawab,

“Tentu Bibi. Seandainya aku salah seorang dari keluarga bibi, maka akan aku terima Bibi kembali kepadaku.”

“Oh,” perempuan itu akan berkata, namun tiba-tiba kembali ia menangis.

Dan Mahisa Agni pun menjadi semakin tidak mengerti. Apakah sebenarnya yang terjadi dengan perempuan itu? Disela-sela tangisnya Agni mendengar ia berkata,

“Agni. Aku tidak tahu, apakah kau berkata sebenarnya, atau kau hanya ingin menyenangkan hatiku. Tetapi ketahuilah, bahwa perempuan itu, aku, benar-benar ingin kembali kepada satu-satunya keluarganya yang diketahuinya. Bahkan satu-satunya orang yang dapat menyebutnya orang tua. Agni. Ketahuilah bahwa perempuan itu ingin datang kepada anak laki-lakinya. Dan anak laki-laki itu kini telah ditemukannya. Bahkan sebenarnya sudah sejak lama. Namun perempuan itu takut melihat bayangannya sendiri.”

Perempuan itu berhenti sejenak. Kata-kata itu benar-benar telah mengguncangkan dada Mahisa Agni. Apalagi ketika perempuan itu berkata seterusnya. Kata demi kata, bagaikan guruh yang menggelegar di tengah-tengah hari yang cerah,

“Agni. Anak-anak laki-laki itu kini berada di sini pula. Di ruangan ini.”

“Bibi,” potong Agni terbata-bata, “Apakah yang dimaksudkan dengan anak laki-laki itu aku?”

Perempuan itu mengangguk. Lemah dan ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata pasti, “Ya Agni. Kau.”

“Jadi….?” Agni ingin berkata lagi. Namun tiba-tiba terasa mulutnya seperti tersumbat dan jantung serasa beku. Tubuhnya yang kokoh itu pun bergetar dan akhirnya terhuyung-huyung ia melangkah maju, sambil berdesis, “Ibu. Benarkah?”

Perempuan itu mengangguk lemah. Lemah sekali. Peristiwa itu benar-benar tak akan disangka-sangka sebelumnya. Karena itu Mahisa Agni menjadi bingung. Sesaat ia berdiri mematung, namun kemudian ia meloncat dua langkah maju dan berjongkok di hadapan perempuan tua itu. Katanya,

“Jadi benarkah bahwa yang duduk di hadapanku ini ibuku?”

“Ya, Agni,” jawab perempuan itu, “ibu yang melumuri tubuhnya dengan dosa. Tak ada yang pernah aku kerjakan sebagai seorang ibu untuk anaknya. Dan sekarang terserah kepadamu Agni. Apakah kau ingin menerimanya atau kau akan menolaknya.”

Agni tidak menjawab. Tetapi dengan gemetar ia memeluk kaki perempuan tua itu. Dadanya yang bergelora serasa akan meledak. Setetes demi setetes air mata perempuan tua itu menitik di atas kepalanya.

Kembali bilik itu menjadi sepi. Yang terdengar adalah nafas Mahisa Agni yang berdesak-desakan memburu keluar dari lubang-lubang hidungnya. Seperti orang yang kehilangan kesadaran. Agni tenggelam dalam suatu gelora perasaan yang dahsyat. Pertemuan itu benar-benar mengejutkannya. Sebab telah tertanam di dalam hatinya suatu pengertian, bahwa ibunya telah meninggal dunia. Kini perempuan itu berkata, bahwa ia adalah ibunya. Meskipun kata-kata itu tak akan dapat dibuktikannya, namun Agni mempercayainya. Dengan suatu keyakinan, yang tumbuh di dalam hatinya, ia pasti, bahwa perempuan itu adalah ibunya.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar