PdLS-03
KEMUDIAN Agni merasa tangan-tangan yang berkeriput itu membelai rambutnya dan kemudian menepuk pundaknya, “Bangkitlah Mahisa Agni. Duduklah supaya orang tidak melihat kejanggalan ini.”
Mahisa Agni pun kemudian bangkit dan duduk di samping emban tua itu. Tetapi wajahnya masih ditundukkannya, memandang dalam-dalam ke dalam gambaran-gambaran di benaknya. Wajah perempuan itu, matanya, hidungnya, dahinya.
“Ah,” desah Agni di dalam hati “kenapa aku tidak melihatnya sebelumnya. Hampir saja aku melukai hatinya.”
Yang terdengar kemudian ibunya berkata, “Agni. Sekarang kau melihat, apakah sebabnya aku menggantungkan harapan masa depanku sejalan dengan keadaanmu. Namun anakku, bahwa apa yang terjadi sebenarnya adalah satu peristiwa timbal balik, hutang piutang dan sebab akibat. Kau yang sama sekali tidak bersalah, kini harus menerima akibat dari kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku telah mengecewakan hati laki-laki, bahkan dua orang sekaligus. Dan kini kau, anakku, agaknya telah dikecewakan oleh seorang gadis pula.”
Agni masih menundukkan wajahnya. Ia tidak membantah lagi. Tidak seharusnya ia menyembunyikan perasaannya kepada ibunya. Ibu yang meskipun baru saja dikenalinya.
“Tetapi anakku,” berkata ibunya, “kau telah mendengar cerita tentang ibumu, ayahmu dan laki-laki yang merantau itu. Meskipun kau kini mengalami nasib yang mirip dengan laki-laki itu, tetapi kau jangan kehilangan masa depanmu. Kau dapat memilih satu di antara dua. Namun dengan ikhlas dan jujur. Merebut gadis itu atau melepaskan dengan ikhlas. Sudah tentu kau tidak akan mengorbankan hubunganmu sebagai seorang murid terhadap gurunya yang telah bertahun-tahun memeliharamu. Tidak saja sebagai seorang murid, namun sebagai seorang anak yatim piatu. Nah Agni, aku ingin mendengar dari mulutmu, apakah yang akan kau lakukan?”
Agni masih diam menekurkan kepalanya. Ia tidak merasa tersinggung lagi kini. Bahkan serasa ia mendapat saluran yang wajar untuk meluapkan perasaannya. Karena itu maka ia pun menjawab,
“Ibu. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dengan ikhlas. Sebab aku merasa, bahwa aku tidak akan dapat memaksanya untuk mengalihkan perasaannya dengan paksa. Meskipun seandainya aku berhasil berbuat sesuatu yang dapat memaksa gadis itu mengubah pendiriannya, namun aku tidak yakin, apakah gadis itu tidak akan tersiksa sepanjang hidupnya. Dan apakah aku tidak tersiksa pula karena aku hanya dapat memiliki tubuhnya, namun bukan hatinya.”
Perempuan tua itu mengangguk-angguk. “Syukurlah,” katanya. “Tetapi kau jangan mengorbankan masa depanmu yang panjang. Kalau kau sudah menerima keadaan itu, jangan kau bunuh hari depanmu dengan keputus-asaan.”
Agni menggeleng lemah. “Tidak ibu,” jawabnya.
“Demikianlah, Anakku,” sahut ibunya, “terimalah akibat ini. Akibat dari perbuatan ibumu.”
“Karma,” desah Agni di dalam hatinya.
Dan terdengar ibunya melanjutkan, “Dan akibat itu datang terlampau cepat.” Ibunya diam untuk sesaat. Tetapi kemudian ia berkata pula, “Sepeninggal ayahmu Agni, aku telah mencarimu. Akhirnya aku temukan kau dalam asuhan orang lain yang baik hati kepadamu. Tetapi aku tidak dapat mengambil kau sebagai seorang ibu mengambil anaknya. Karena itu, apabila selama masa pembuangan diri itu aku mengabdikan diriku di sini, di padepokan Empu Purwa maka aku minta dengan sangat, supaya Empu Purwa mengambil seorang anak laki-laki kecil sebagai muridnya. Tentu aku tidak mengatakan, bahwa laki-laki itu adalah anakku. Tetapi aku berhasil membujuknya dengan mengungkit rasa belas kasihannya.”
Kini Agni menjadi jelas. Dan terasa kemudian, betapa emban Ken Dedes itu sangat baik kepadanya. Mula-mula ia menyangka bahwa emban itu baik hati kepadanya, karena ia murid Empu Purwa, yang seakan-akan telah menjadi saudara kandung putrinya. Namun kalau demikian halnya maka sikap emban itu agak berlebih-lebihan. Dan kini perempuan itu meneruskan kata-katanya,
“Aku menjadi cemas dengan keadaanmu sejak semalam. Tetapi kini aku sudah mendengar dari mulutmu sendiri. Karena itu aku menjadi berlega hati. Nah, Agni, sebagai emban Ken Dedes, maka biarlah aku minta kepadamu. Sampaikan permintaan yang telah kau ketahui itu kepada Wiraprana. Demi kelangsungan masa depanmu dengan perguruanmu. Sudah tentu kau tak akan mengatakan kepada siapa pun juga, siapakah sebenarnya aku ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Dan terdengar ia berkata lirih, “Senja nanti Wiraprana akan datang kemari.”
Perempuan tua itu tersenyum. Sekali lagi ditepuknya bahu Mahisa Agni. Katanya, “Aku harap kau berjiwa besar.”
“Mudah-mudahan,” jawab Mahisa Agni.
Emban tua itu pun kemudian bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah keluar. Namun di muka pintu ia berhenti sejenak, berpaling dan berkata, “Aku akan pergi kepada gadis putri Empu Purwa itu. Mengatakan kepadanya, bahwa Mahisa Agni telah menyanggupinya, menyampaikan pesannya kepada Wiraprana. Begitu?” Mahisa Agni mengangguk lemah.
“Baiklah,” gumam ibunya. Dan sesaat kemudian perempuan tua itu telah hilang di balik pintu.
Kini kembali Mahisa Agni seorang diri di dalam biliknya. Bilik yang semula. Tetapi terasa betapa ada perbedaan di dalam dirinya. Kini ia tidak lagi merasa terlalu sepi. Tiang-tiang, dinding dan sudut-sudut biliknya tidak setegang tadi. Dan terasa oleh Mahisa Agni, bahwa padepokan itu masih mengikatnya kembali. Ibunya berada di padepokan itu pula. Dengan demikian, maka masih diharapkannya untuk tinggal di tempat ini. Mudah-mudahan ia memberikan baktinya kepada ibunya itu. Meskipun ibunya seakan-akan tak pernah berbuat sesuatu untuknya, namun perempuan itu telah berjuang melawan maut pada saat melahirkannya, kemudian menyusuinya dengan penuh harapan, bahwa bayinya akan dapat hidup terus dan menjadi besar. Dan kini ia telah menjadi besar. Lalu apakah yang akan dilakukan untuk ibunya itu?
Beberapa saat berselang, ibunya memberinya beberapa petunjuk dan pesan-pesannya. Pesan seorang ibu. Dan tiba-tiba hati Mahisa Agni menjadi besar. Dengan dada tengadah ia menanti kedatangan Wiraprana,
“Aku akan berkata kepadanya. Mudah-mudahan akan dapat memberinya kegembiraan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya. Betapa penat telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun ia tidak dapat memejamkan matanya. Kini ia sedang mereka-reka, bagaimana ia harus mengatakan kepada Wiraprana.
Matahari di langit berjalan di dalam garis edarnya. Semakin lama semakin condong ke barat. Cahaya-cahaya merah telah bertebaran di atas pohon-pohon kelapa dan mewarnai lereng-lereng perbukitan. Burung-burung seriti beterbangan menangkapi belalang di padang-padang rumput. Dan hari yang cerah itu pun berangsur-angsur menjadi suram.
Menjelang senja Mahisa Agni telah membersihkan dirinya. Mandi di sumur belakang rumah gurunya. Kemudian duduk dengan gelisahnya di regol halaman menunggu Wiraprana. Ia harus segera menyampaikan pesan itu sebelum ia bertemu dengan gurunya. Mungkin gurunya pun akan bertanya kepadanya, apakah pesan putrinya telah sampai kepada anak buyut Panawijen itu. Meskipun ia sadar, bahwa gurunya pun akan memaksa dirinya sendiri untuk menuruti permintaan putri satu-satunya. Tetapi, ada juga kemungkinan lain. Ken Dedes sama sekali tidak mengatakan kepada ayahnya sampai pada suatu ketika ayahnya mengadakan permainan sayembara pilih kembali.
“Biarlah, apa yang akan dilakukan,” berkata Agni di dalam hati, “namun aku harus menyampaikannya kepada Wiraprana.”
Hati Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika dari kejauhan ia melihat anak muda yang ditunggunya itu datang. Karena itu segera ia pun berdiri. Sesaat ia tegak di tengah-tengah regol itu, namun kemudian ia melangkah menepi bersandar pada tiang pintu. Tetapi sesaat lagi ia telah berjalan hilir mudik melintasi jalan di muka regol halaman itu. Wiraprana yang berjalan ke arahnya itu pun tidak kalah gelisahnya. Anak muda itu melihat Mahisa Agni berjalan hilir mudik, berdiri tegak, kemudian berjongkok kembali. Karena itu maka Wiraprana pun tak ada habis-habisnya berpikir,
“Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan kepadanya, atau kepada Ken Dedes?”
Tetapi ia berjalan terus. Apapun yang dihadapinya, akan diterimanya dengan baik. Seandainya ternyata ia bersalah, maka adalah menjadi kewajibannya untuk minta maaf. Baik kepada Mahisa Agni maupun kepada Ken Dedes. Akhirnya Wiraprana itu pun sampai di regol itu pula. Dilihatnya Mahisa Agni tersenyum dan kemudian berkata,
“Aku menunggumu sejak tadi Wiraprana.”
Wiraprana pun tersenyum pula. “Bukankah kau minta aku datang sesudah senja?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Wiraprana, apakah sudah mengairi sawahmu?”
Wiraprana mengangguk. “Sudah,” jawabnya.
“Bagus,” jawab Agni, “kalau demikian kau tidak akan tergesa-gesa.”
Dada Wiraprana berdesir. Selama ini ia selalu datang ke rumah ini. Tidur di sini, makan di sini. Kenapa tiba-tiba kini Mahisa Agni bersikap demikian. Apalagi kemarin ia tampak terlalu tergesa-gesa. Namun ia menjawab juga,
“Semua pekerjaanku sudah selesai Agni.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Marilah kita pergi ke bendungan.”
Wiraprana mengangguk. Meskipun terasa betapa canggungnya pertemuannya kali ini. Berpuluh kali ia telah pernah mendengar Mahisa Agni mengajaknya ke bendungan, namun kali ini hatinya berdebar-debar juga. Meskipun demikian Wiraprana mengangguk juga sambil menjawab,
“Marilah.”
Agni tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya kemudian berjalan bersama-sama ke bendungan. Kemarin, dua hari yang lampau, tiga hari yang lampau, lima, sepuluh dan beratus-ratus kali di saat-saat lampau, keduanya sering pula berjalan ke bendungan. Tetapi kali ini keduanya seperti asing. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Cepat-cepat seperti takut terlambat.
Ketika mereka telah tegak di bedungan, berkatalah Mahisa Agni, “Duduklah Wiraprana.”
“Hem,” desah Wiraprana. “Agni memang aneh akhir-akhir ini,” katanya di dalam hati, “biasanya tak pernah ia mempersilahkan demikian. Apakah aku akan berjungkir balik, atau akan terjun sekalipun, tak pernah ia menegurku.”
Meskipun terasa betapa kaku pertemuan itu, namun Wiraprana kemudian duduk juga di samping Mahisa Agni. Untuk sejenak mereka masih berdiam diri. Wiraprana memandang jauh-jauh ke kelokan sungai, memandang air yang berputar-putar dan kemudian lenyap seperti ditelan hantu, hilang di balik kelokan.
Beberapa kali Mahisa Agni menarik nafas. Ketika melihat warna-warna yang semakin kelam di ujung pepohonan ia menjadi gelisah. Sebenarnya Mahisa Agni ingin langsung menyampaikan pesan Ken Dedes. Namun ia tidak segera menemukan cara untuk memulainya. Tetapi ia sadar, lambat atau cepat ia harus berkata. Karena itu akhirnya di cobanya juga berkata,
“Wiraprana, kali ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu.”
Wiraprana kemudian berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang menunduk. Karena Mahisa Agni tidak segera meneruskan kata-katanya maka Wiraprana pun menyahut,
“Agni. Sudah terasa betapa janggal sikapmu akhir-akhir ini. Supaya aku tidak selalu berteka teki, maka sudah sepantasnya kalau kau mengatakan sesuatu kepadaku. Apakah aku telah berbuat kesalahan, atau apapun yang mengecewakanmu atau mengecewakan Ken Dedes.”
“Tidak!” Mahisa Agni menggeleng, “Kau tidak mengecewakan siapa pun. Aku tidak, Ken Dedes apalagi.” Mahisa Agni diam sesaat. Dicobanya mengatur perasaannya. Ia harus mengatakan sesuatu yang dirasakannya terlalu pahit. Namun ketika diingatnya pesan ibunya, maka ia pun menjadi agak tenang. Maka katanya, “Sudah lama aku mengenalmu, dan sebaliknya. Kau pun telah mengenal seluruh keluarga kami. Guruku, aku dan Ken Dedes. Wiraprana, hampir setiap hari kau berkunjung ke rumah guru. Apakah benar-benar hanya karena aku ada di sana?”
Wiraprana terkejut mendengar pertanyaan itu. Sahutnya, “Apakah maksudmu Agni?”
Agni menarik nafas. Dengan sangat berhati-hati ia mengulangi supaya tidak menimbulkan salah mengerti, “Wiraprana, maksudku, apakah kehadiranmu setiap hari di rumah Empu Purwa itu benar-benar karena kau ingin menemui aku?”
“Tentu!” jawab Wiraprana cepat-cepat. Wajah anak muda itu pun menjadi merah, dan hatinya semakin berdebar-debar, “Apakah kau menyangka lain, Agni?”
“Tidak,” sahut Agni, “mula-mula aku tidak menyangka lain, namun sekarang aku mengharap, semoga kau mempunyai maksud yang lain.”
“Ah,” desah Wiraprana, “aku tidak mengerti, jangan membuat aku bingung, Agni. Katakanlah.”
“Prana,” berkata Mahisa Agni, “betapa berat pesan yang dititipkan kepadaku untukmu. Sebagai seorang kakak, aku wajib memenuhinya. Namun aku mengharap kau tidak menjadi kecewa, justru karena pesan itu. Kau jangan salah menilai, bahwa seorang gadis sedemikian berani memberikan pesan yang tak ternilai harganya kepada seorang anak muda. Prana, besuk atau lusa kau akan tahu sebabnya. Kini, dengarlah pesan dari adikku itu. Ia mengharap kehadiranmu dalam perjalanan hidupnya.”
Kembali Wiraprana terperanjat. Dan kembali warna merah membersit di wajahnya. Karena itu ia menjadi seakan terbungkam. Mahisa Agni telah memberitahukan pesan itu terlalu langsung. Agni pun kemudian merasakan pula kekakuan kata-katanya. Namun untuk mengucapkannya ia sudah harus berjuang di dalam dirinya. Karena itu ia tidak dapat berbuat lebih baik daripada apa yang telah dilakukannya.
Sejenak kemudian keduanya dicengkam oleh debar yang cepat di dada masing-masing. Wiraprana bahkan menjadi bingung. Apakah yang dapat dikatakannya? Sedang Mahisa Agni sibuk menguasai perasaannya. Dengan sekuat tenaga ia berjuang untuk menenangkan diri. Baru kemudian ia dapat berkata pula,
“Wiraprana, jangan menyangka bahwa Ken Dedes dengan tiba-tiba saja merendahkan dirinya dengan pesannya itu. Ia tidak akan berbuat demikian seandainya, sikapmu, kata-katamu sebelumnya tidak meyakinkannya. Setidaknya menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Sehingga pada saat gadis itu terdesak oleh keadaan, seperti yang terjadi dengan Kuda Sempana, ia harus menjatuhkan pilihan.”
Wiraprana mengangkat wajahnya. Kemudian dengan gemetar ia bertanya, “Kenapa pilihan itu jatuh atasku?”
Agni menarik nafas. Kemudian ia meneruskan, “Sudah aku katakan, sikapmu dan kata-katamu menumbuhkan harapan di hati adikku. Ketika Ken Dedes mengeluh atas keadaannya, atas sikap Kuda Sempana dan lamaran-lamaran lain yang datang kepada ayahnya, namun tak seorang pun sesuai dengan hatinya, maka aku nasihatkan kepadanya untuk segera menentukan pilihan. Wiraprana, adikku itu telah lama mengenalmu. Aku pun telah mengenalmu pula, hampir segenap watak dan tabiatmu. Karena itu, aku nasihatkan kepada Ken Dedes, supaya ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam masa-masa hidupnya yang akan datang. Agaknya kami, aku dan Ken Dedes sependapat, bahwa tak ada orang lain yang lebih baik dari padamu. Karena itu, apakah Ken Dedes akan memberikan pesan untukmu atau tidak, suatu saat aku pasti akan mengatakannya kepadamu.”
Terasa sesuatu bergelora di dalam dada Wiraprana. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga kepada dirinya sendiri. Sejak lama terasa sesuatu di dalam sudut hatinya. Tetapi ia tidak berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan tentang seorang gadis putri pendeta yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya terhadap sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya akan terlalu kasar untuk itu. Wiraprana merasa, bahwa ia tidak lebih dari seorang petani yang lebih mengenal dirinya sendiri, alam dan semesta ini pada wadagnya. Karena itu ia telah bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Namun demikian, setiap kali selalu timbul keinginannya untuk datang ke rumah guru sahabatnya itu. Karena itu, tiba-tiba timbul pula pertanyaan di hatinya,
“Apakah aku datang setiap hari mengunjungi Mahisa Agni itu benar-benar karena aku ingin bertemu dengan anak itu?”
Wiraprana menjadi malu sendiri. Agni pun bertanya demikian kepadanya. Dan ia tidak dapat menjawabnya. Wiraprana kemudian menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai perasaan. Terkejut, gelisah namun tebersit pula kegembiraan di dalam hatinya. Karena itu, selagi ia sibuk dengan persoalannya sendiri, maka ia tidak melihat betapa Mahisa Agni berjuang untuk menguasai perasaannya. Di dalam dadanya pun bergelora pula berbagai perasaan. Pedih, sakit dan kecewa. Namun ia sudah bertekad untuk menghayatinya.
Gemericik air di bendungan terdengar seperti sebuah lagu yang lincah. Nadanya meloncat-loncat dalam irama yang cepat. Ketika Wiraprana memandang ke dalamnya, tampaklah bayangan bintang-bintang di langit seakan-akan meloncat-loncat dipermainkan oleh getaran permukaan air yang riang.
“Agni,” tiba-tiba ia berkata.
Agni mengangkat wajahnya, dan ditatapnya wajah Wiraprana yang cerah. “Adakah kau berkata sebenarnya?” bertanya anak muda itu.
“Tentu,” jawab Agni.
“Apakah Ken Dedes benar-benar bermaksud demikian? Agni, aku takut kalau Ken Dedes sekedar menuruti permintaanmu,” Wiraprana menegaskan.
Agni menarik nafas. Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Tidak. Ken Dedes benar-benar menyadari pesannya itu.”
“Ah,” desah Wiraprana.
Kembali mereka berdiam diri. Wiraprana kini melihat masa depan yang cerah terbentang di hadapannya. Nanti ia akan berkata kepada ayahnya apa yang didengarnya dari Mahisa Agni. Ayahnya segera pasti akan memenuhi adat itu. Datang kepada ayah Ken Dedes dengan sebuah upacara.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Bukankah ayahku Buyut Panawijen? Seharusnya aku tak perlu merasa terlalu kecil untuk melakukannya?. Dan tiba-tiba Wiraprana itu tersenyum sendiri. Meskipun demikian, Wiraprana masih ingin meyakinkan. Karena itu ia bertanya, “Agni, bagaimanakah pendapatmu tentang pesan itu. Apakah sudah sepantasnya aku menerimanya?”
Sekali lagi sebuah goresan melukai hati Mahisa Agni. Tetapi ia menjawab, “Tentu Wiraprana. Seharusnya kau penuhi permintaan itu. Pandanglah dirimu dengan jujur, apakah tak ada perasaanmu untuk melakukannya. Jangan hiraukan tanggapan orang lain tentang dirimu, tentang gadis itu dan tentang masa depan kalian berdua. Kebahagiaan kalian di masa mendatang tergantung kepada kalian sendiri. Tidak kepada orang lain dan tidak pula tergantung kepadaku.”
Wiraprana mengangguk-angguk. Senyumnya kembali membayang di wajahnya. Katanya, “Terima kasih Agni. Aku tidak menyangka bahwa aku akan tertimpa ndaru. Aku sebenarnya gelisah melihat sikapmu yang aneh akhir-akhir ini. Tetapi kini aku menjadi sangat berterima kasih kepadamu.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi kemudian ia mengatupkan giginya. Desahnya di dalam hati, “Berbahagialah kau, anak muda.”
Tetapi Wiraprana tak melihat luka di dalam dada Agni. Yang dilihatnya adalah keriangannya sendiri. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni. Marilah kita pulang. Aku akan mengatakannya kepada Ayah. Supaya Ayah segera dapat melakukannya. Besok atau lusa.”
Mahisa Agni mengangguk. Tetapi ia masih belum ingin pulang. Maka jawabnya, “Pulanglah dahulu, Prana. Aku masih akan ke sawah.”
Wiraprana tidak dapat merasakan apapun selain keinginannya untuk segera menyampaikan kabar itu kepada ayahnya. Ayahnya pasti tidak akan menolaknya. Meskipun ia harus meyakinkan, bahwa keluarga Ken Dedes seluruhnya telah menerima kehadirannya apabila dikehendaki. Karena itu, maka katanya,
“Baiklah, aku pulang dahulu.”
Mahisa Agni mengangguk, “Pulanglah. Aku segera menyusul.”
Wiraprana tidak berkata apa-apa lagi. Segera ia melangkah dari batu ke batu. Kemudian meloncat dan berjalan cepat-cepat pulang.
Mahisa Agni kemudian berdiri. Dipandangnya Wiraprana yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin lama semakin dalam membenam di hitamnya malam. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar bendungan. Air di grojoggan masih memercik beruntun. Di langit ujung timur, Mahisa Agni melihat semburat kuning membayang di atas ujung-ujung pepohonan. Bulan sesaat lagi akan melambung di langit yang biru. Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan menuruni bendungan. Dilangkahinya anak-anak tangga di tebing kali. Sehingga akhirnya sampailah ia di pinggir belumbang kecil.
“Di sinilah aku telah menyelamatkan kedua-duanya,” desisnya.
Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika ia melihat wajahnya di air belumbang yang terang itu, seakan-akan dilihatnya masa-masa lampaunya yang penuh dengan keprihatinan. Tetapi justru karena itulah, maka Mahisa Agni mampu menahan arus perasaannya, betapapun sakitnya.
Ketika bulan telah tersembul di atas punggung bukit, Agni teringat bahwa gurunya memerlukannya. Karena itu dengan langkah yang berat, seberat beban di hatinya, ia melangkah pulang. Ketika dilewatinya sawah gurunya itu, diperlukannya membuka tutup pematang, untuk mengalirkan air ke dalamnya.
Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, dilihatnya halaman rumah itu sangat sepi. Lampu-lampu minyak telah menyala di setiap ruang di dalam rumah. Seseorang telah menyalakan lampu di biliknya pula. Di pendapa Agni melihat seorang cantrik melintas. Kepadanya Agni bertanya,
“Di manakah Empu Purwa sekarang?”
“Di pringgitan,” jawabnya.
Mahisa Agni mengangguk. Ia ingin langsung menemui gurunya. Mungkin ada sesuatu yang penting Mungkin ada hubungannya dengan Ken Dedes mungkin pula tidak. Perlahan-lahan Mahisa Agni membuka pintu. Dilihatnya gurunya duduk bersila. Di hadapannya terhidang bintang, teko dan sebuah mangkuk kecil.
“Marilah, Agni,” berkata gurunya.
Dan Agni pun kemudian berjongkok dan duduk di muka Empu Purwa. Meskipun telah berbilang ribuan ia duduk menghadap gurunya namun kali ini hatinya berdebar-debar juga. Tetapi debar jantung Agni pun menjadi semakin kusut ketika ia melihat wajah gurunya yang bening tenang.
“Marilah, Agni. Mumpung masih hangat,” ajak gurunya sambil menyodorkan mangkuk kecil untuknya.
Mahisa Agni pun mengangguk, dan seperti biasanya segera ia meraih teko dan kemudian segumpal gula kelapa. Adalah menjadi kebiasaan gurunya, mengajaknya minum bersama. Menurut gurunya minum bersama terasa jauh lebih nikmat daripada sendiri. Ketika setengah mangkuk kecil telah terminum, Mahisa Agni meletakkannya kembali di dalam nampan kuningan.
Sejenak mereka berdua masih berdiam diri. yang terdengar kemudian hanyalah bunyi-bunyi jangkrik dan angkup-angkup nangka yang meringkik-ringkik di kejauhan. Kemudian Empu Purwa itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Aku mencarimu tadi pagi, Agni. Tetapi tak ada keperluan apa-apa. Aku hanya ingin minum bersama seseorang. tetapi ternyata kau tidak ada. Tak seorang pun yang melihat. Aku sangka kau sedang pergi sawah.” Kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ditundukkannya kepalanya, dan dibiarkannya gurunya berkata meneruskan, “Apakah kau benar-benar pergi ke sawah?”
Mahisa Agni menjadi bingung. Meskipun demikian ia menjawab, “Baru saja aku pulang dari sawah guru.”
Empu Purwa tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Apakah padimu telah merunduk?”
“Hampir Empu, tidak sampai berbilang hari,” jawab Mahisa Agni.
“Ah, syukurlah,” sahut orang tua itu, “mudah-mudahan tanaman itu dijauhkan dari hama dan kerusakan.”
“Mudah-mudahan,” gumam Mahisa Agni.
“Kalau demikian, Agni,” berkata Empu Purwa, “itu sudah hampir sampai masanya kau membuat gubuk untuk menjaga sawahmu dari gangguan burung.”
“Ya, Empu,” jawab Agni, “sebentar lagi akan aku buat.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan seksama, seakan-akan ada sesuatu yang aneh pada anak muda itu. Sehingga ketika Mahisa Agni menyadarinya, maka ia pun menjadi gelisah. Dan kembali wajahnya terpaku di dalam anyaman tikar yang didudukinya.
Sesaat kemudian Empu Purwa itu berkata pula, “Agni. Adalah menjadi hak kita untuk mengusir setiap burung yang akan mencuri padi kita di sawah, sebab kitalah yang menanamnya, memeliharanya dan dengan tertib berbuat untuk kepentingan tanaman itu.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Kata-kata gurunya itu agak mengherankannya. Bukankah hal itu sudah wajar. Tak ada sesuatu yang terasa baru pada kata-kata itu. Empu Purwa melihat pula wajah Agni yang memancarkan berbagai pertanyaan itu. Maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Purwa berkata,
“Kita akan merasa kehilangan Agni, apabila meskipun hanya sebutir padi kita yang dimakan oleh burung-burung pipit liar itu. Karena itu kita akan selalu mengusirnya apabila mereka datang.”
Mahisa Agni menjadi semakin heran. Namun ia tidak bertanya. Bahkan kembali ia menundukkan wajahnya.
“Tetapi Agni,,” sambung gurunya. Suaranya menjadi berat dan dalam, “Padi yang kita pertahankan dari serbuan burung-burung pipit, dan kadang-kadang kita harus bekerja siang dan malam, apabila hujan lebat dan parit-parit menjadi melimpah itu, ada kalanya tidak sampai ke lumbung-lumbung kita.”
Empu Purwa berhenti sejenak, lalu katanya seterusnya, “Meskipun kita tidak mengikhlaskan sebutir padi pun kepada burung-burung pipit Agni, namun kadang-kadang kita berikan tidak hanya sebutir, bahkan lebih dari itu, seikat, kepada orang lain, apabila kita yakin orang itu membutuhkannya. Dan kita yakin karena itu maka orang itu menjadi berbahagia karenanya.”
Mahisa Agni pun kemudian bangkit dan duduk di samping emban tua itu. Tetapi wajahnya masih ditundukkannya, memandang dalam-dalam ke dalam gambaran-gambaran di benaknya. Wajah perempuan itu, matanya, hidungnya, dahinya.
“Ah,” desah Agni di dalam hati “kenapa aku tidak melihatnya sebelumnya. Hampir saja aku melukai hatinya.”
Yang terdengar kemudian ibunya berkata, “Agni. Sekarang kau melihat, apakah sebabnya aku menggantungkan harapan masa depanku sejalan dengan keadaanmu. Namun anakku, bahwa apa yang terjadi sebenarnya adalah satu peristiwa timbal balik, hutang piutang dan sebab akibat. Kau yang sama sekali tidak bersalah, kini harus menerima akibat dari kesalahan-kesalahan yang pernah aku lakukan sebelumnya. Aku telah mengecewakan hati laki-laki, bahkan dua orang sekaligus. Dan kini kau, anakku, agaknya telah dikecewakan oleh seorang gadis pula.”
Agni masih menundukkan wajahnya. Ia tidak membantah lagi. Tidak seharusnya ia menyembunyikan perasaannya kepada ibunya. Ibu yang meskipun baru saja dikenalinya.
“Tetapi anakku,” berkata ibunya, “kau telah mendengar cerita tentang ibumu, ayahmu dan laki-laki yang merantau itu. Meskipun kau kini mengalami nasib yang mirip dengan laki-laki itu, tetapi kau jangan kehilangan masa depanmu. Kau dapat memilih satu di antara dua. Namun dengan ikhlas dan jujur. Merebut gadis itu atau melepaskan dengan ikhlas. Sudah tentu kau tidak akan mengorbankan hubunganmu sebagai seorang murid terhadap gurunya yang telah bertahun-tahun memeliharamu. Tidak saja sebagai seorang murid, namun sebagai seorang anak yatim piatu. Nah Agni, aku ingin mendengar dari mulutmu, apakah yang akan kau lakukan?”
Agni masih diam menekurkan kepalanya. Ia tidak merasa tersinggung lagi kini. Bahkan serasa ia mendapat saluran yang wajar untuk meluapkan perasaannya. Karena itu maka ia pun menjawab,
“Ibu. Aku sudah memutuskan untuk melepaskannya dengan ikhlas. Sebab aku merasa, bahwa aku tidak akan dapat memaksanya untuk mengalihkan perasaannya dengan paksa. Meskipun seandainya aku berhasil berbuat sesuatu yang dapat memaksa gadis itu mengubah pendiriannya, namun aku tidak yakin, apakah gadis itu tidak akan tersiksa sepanjang hidupnya. Dan apakah aku tidak tersiksa pula karena aku hanya dapat memiliki tubuhnya, namun bukan hatinya.”
Perempuan tua itu mengangguk-angguk. “Syukurlah,” katanya. “Tetapi kau jangan mengorbankan masa depanmu yang panjang. Kalau kau sudah menerima keadaan itu, jangan kau bunuh hari depanmu dengan keputus-asaan.”
Agni menggeleng lemah. “Tidak ibu,” jawabnya.
“Demikianlah, Anakku,” sahut ibunya, “terimalah akibat ini. Akibat dari perbuatan ibumu.”
“Karma,” desah Agni di dalam hatinya.
Dan terdengar ibunya melanjutkan, “Dan akibat itu datang terlampau cepat.” Ibunya diam untuk sesaat. Tetapi kemudian ia berkata pula, “Sepeninggal ayahmu Agni, aku telah mencarimu. Akhirnya aku temukan kau dalam asuhan orang lain yang baik hati kepadamu. Tetapi aku tidak dapat mengambil kau sebagai seorang ibu mengambil anaknya. Karena itu, apabila selama masa pembuangan diri itu aku mengabdikan diriku di sini, di padepokan Empu Purwa maka aku minta dengan sangat, supaya Empu Purwa mengambil seorang anak laki-laki kecil sebagai muridnya. Tentu aku tidak mengatakan, bahwa laki-laki itu adalah anakku. Tetapi aku berhasil membujuknya dengan mengungkit rasa belas kasihannya.”
Kini Agni menjadi jelas. Dan terasa kemudian, betapa emban Ken Dedes itu sangat baik kepadanya. Mula-mula ia menyangka bahwa emban itu baik hati kepadanya, karena ia murid Empu Purwa, yang seakan-akan telah menjadi saudara kandung putrinya. Namun kalau demikian halnya maka sikap emban itu agak berlebih-lebihan. Dan kini perempuan itu meneruskan kata-katanya,
“Aku menjadi cemas dengan keadaanmu sejak semalam. Tetapi kini aku sudah mendengar dari mulutmu sendiri. Karena itu aku menjadi berlega hati. Nah, Agni, sebagai emban Ken Dedes, maka biarlah aku minta kepadamu. Sampaikan permintaan yang telah kau ketahui itu kepada Wiraprana. Demi kelangsungan masa depanmu dengan perguruanmu. Sudah tentu kau tak akan mengatakan kepada siapa pun juga, siapakah sebenarnya aku ini.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Dan terdengar ia berkata lirih, “Senja nanti Wiraprana akan datang kemari.”
Perempuan tua itu tersenyum. Sekali lagi ditepuknya bahu Mahisa Agni. Katanya, “Aku harap kau berjiwa besar.”
“Mudah-mudahan,” jawab Mahisa Agni.
Emban tua itu pun kemudian bangkit. Perlahan-lahan ia melangkah keluar. Namun di muka pintu ia berhenti sejenak, berpaling dan berkata, “Aku akan pergi kepada gadis putri Empu Purwa itu. Mengatakan kepadanya, bahwa Mahisa Agni telah menyanggupinya, menyampaikan pesannya kepada Wiraprana. Begitu?” Mahisa Agni mengangguk lemah.
“Baiklah,” gumam ibunya. Dan sesaat kemudian perempuan tua itu telah hilang di balik pintu.
Kini kembali Mahisa Agni seorang diri di dalam biliknya. Bilik yang semula. Tetapi terasa betapa ada perbedaan di dalam dirinya. Kini ia tidak lagi merasa terlalu sepi. Tiang-tiang, dinding dan sudut-sudut biliknya tidak setegang tadi. Dan terasa oleh Mahisa Agni, bahwa padepokan itu masih mengikatnya kembali. Ibunya berada di padepokan itu pula. Dengan demikian, maka masih diharapkannya untuk tinggal di tempat ini. Mudah-mudahan ia memberikan baktinya kepada ibunya itu. Meskipun ibunya seakan-akan tak pernah berbuat sesuatu untuknya, namun perempuan itu telah berjuang melawan maut pada saat melahirkannya, kemudian menyusuinya dengan penuh harapan, bahwa bayinya akan dapat hidup terus dan menjadi besar. Dan kini ia telah menjadi besar. Lalu apakah yang akan dilakukan untuk ibunya itu?
Beberapa saat berselang, ibunya memberinya beberapa petunjuk dan pesan-pesannya. Pesan seorang ibu. Dan tiba-tiba hati Mahisa Agni menjadi besar. Dengan dada tengadah ia menanti kedatangan Wiraprana,
“Aku akan berkata kepadanya. Mudah-mudahan akan dapat memberinya kegembiraan.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Kembali ia meletakkan tubuhnya di pembaringannya. Betapa penat telah menjalari seluruh tubuhnya. Namun ia tidak dapat memejamkan matanya. Kini ia sedang mereka-reka, bagaimana ia harus mengatakan kepada Wiraprana.
Matahari di langit berjalan di dalam garis edarnya. Semakin lama semakin condong ke barat. Cahaya-cahaya merah telah bertebaran di atas pohon-pohon kelapa dan mewarnai lereng-lereng perbukitan. Burung-burung seriti beterbangan menangkapi belalang di padang-padang rumput. Dan hari yang cerah itu pun berangsur-angsur menjadi suram.
Menjelang senja Mahisa Agni telah membersihkan dirinya. Mandi di sumur belakang rumah gurunya. Kemudian duduk dengan gelisahnya di regol halaman menunggu Wiraprana. Ia harus segera menyampaikan pesan itu sebelum ia bertemu dengan gurunya. Mungkin gurunya pun akan bertanya kepadanya, apakah pesan putrinya telah sampai kepada anak buyut Panawijen itu. Meskipun ia sadar, bahwa gurunya pun akan memaksa dirinya sendiri untuk menuruti permintaan putri satu-satunya. Tetapi, ada juga kemungkinan lain. Ken Dedes sama sekali tidak mengatakan kepada ayahnya sampai pada suatu ketika ayahnya mengadakan permainan sayembara pilih kembali.
“Biarlah, apa yang akan dilakukan,” berkata Agni di dalam hati, “namun aku harus menyampaikannya kepada Wiraprana.”
Hati Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika dari kejauhan ia melihat anak muda yang ditunggunya itu datang. Karena itu segera ia pun berdiri. Sesaat ia tegak di tengah-tengah regol itu, namun kemudian ia melangkah menepi bersandar pada tiang pintu. Tetapi sesaat lagi ia telah berjalan hilir mudik melintasi jalan di muka regol halaman itu. Wiraprana yang berjalan ke arahnya itu pun tidak kalah gelisahnya. Anak muda itu melihat Mahisa Agni berjalan hilir mudik, berdiri tegak, kemudian berjongkok kembali. Karena itu maka Wiraprana pun tak ada habis-habisnya berpikir,
“Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan kepadanya, atau kepada Ken Dedes?”
Tetapi ia berjalan terus. Apapun yang dihadapinya, akan diterimanya dengan baik. Seandainya ternyata ia bersalah, maka adalah menjadi kewajibannya untuk minta maaf. Baik kepada Mahisa Agni maupun kepada Ken Dedes. Akhirnya Wiraprana itu pun sampai di regol itu pula. Dilihatnya Mahisa Agni tersenyum dan kemudian berkata,
“Aku menunggumu sejak tadi Wiraprana.”
Wiraprana pun tersenyum pula. “Bukankah kau minta aku datang sesudah senja?”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Wiraprana, apakah sudah mengairi sawahmu?”
Wiraprana mengangguk. “Sudah,” jawabnya.
“Bagus,” jawab Agni, “kalau demikian kau tidak akan tergesa-gesa.”
Dada Wiraprana berdesir. Selama ini ia selalu datang ke rumah ini. Tidur di sini, makan di sini. Kenapa tiba-tiba kini Mahisa Agni bersikap demikian. Apalagi kemarin ia tampak terlalu tergesa-gesa. Namun ia menjawab juga,
“Semua pekerjaanku sudah selesai Agni.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Marilah kita pergi ke bendungan.”
Wiraprana mengangguk. Meskipun terasa betapa canggungnya pertemuannya kali ini. Berpuluh kali ia telah pernah mendengar Mahisa Agni mengajaknya ke bendungan, namun kali ini hatinya berdebar-debar juga. Meskipun demikian Wiraprana mengangguk juga sambil menjawab,
“Marilah.”
Agni tidak berkata apa-apa lagi. Keduanya kemudian berjalan bersama-sama ke bendungan. Kemarin, dua hari yang lampau, tiga hari yang lampau, lima, sepuluh dan beratus-ratus kali di saat-saat lampau, keduanya sering pula berjalan ke bendungan. Tetapi kali ini keduanya seperti asing. Mereka berjalan sambil berdiam diri. Cepat-cepat seperti takut terlambat.
Ketika mereka telah tegak di bedungan, berkatalah Mahisa Agni, “Duduklah Wiraprana.”
“Hem,” desah Wiraprana. “Agni memang aneh akhir-akhir ini,” katanya di dalam hati, “biasanya tak pernah ia mempersilahkan demikian. Apakah aku akan berjungkir balik, atau akan terjun sekalipun, tak pernah ia menegurku.”
Meskipun terasa betapa kaku pertemuan itu, namun Wiraprana kemudian duduk juga di samping Mahisa Agni. Untuk sejenak mereka masih berdiam diri. Wiraprana memandang jauh-jauh ke kelokan sungai, memandang air yang berputar-putar dan kemudian lenyap seperti ditelan hantu, hilang di balik kelokan.
Beberapa kali Mahisa Agni menarik nafas. Ketika melihat warna-warna yang semakin kelam di ujung pepohonan ia menjadi gelisah. Sebenarnya Mahisa Agni ingin langsung menyampaikan pesan Ken Dedes. Namun ia tidak segera menemukan cara untuk memulainya. Tetapi ia sadar, lambat atau cepat ia harus berkata. Karena itu akhirnya di cobanya juga berkata,
“Wiraprana, kali ini aku ingin menyampaikan sebuah pesan untukmu.”
Wiraprana kemudian berpaling. Ditatapnya wajah Agni yang menunduk. Karena Mahisa Agni tidak segera meneruskan kata-katanya maka Wiraprana pun menyahut,
“Agni. Sudah terasa betapa janggal sikapmu akhir-akhir ini. Supaya aku tidak selalu berteka teki, maka sudah sepantasnya kalau kau mengatakan sesuatu kepadaku. Apakah aku telah berbuat kesalahan, atau apapun yang mengecewakanmu atau mengecewakan Ken Dedes.”
“Tidak!” Mahisa Agni menggeleng, “Kau tidak mengecewakan siapa pun. Aku tidak, Ken Dedes apalagi.” Mahisa Agni diam sesaat. Dicobanya mengatur perasaannya. Ia harus mengatakan sesuatu yang dirasakannya terlalu pahit. Namun ketika diingatnya pesan ibunya, maka ia pun menjadi agak tenang. Maka katanya, “Sudah lama aku mengenalmu, dan sebaliknya. Kau pun telah mengenal seluruh keluarga kami. Guruku, aku dan Ken Dedes. Wiraprana, hampir setiap hari kau berkunjung ke rumah guru. Apakah benar-benar hanya karena aku ada di sana?”
Wiraprana terkejut mendengar pertanyaan itu. Sahutnya, “Apakah maksudmu Agni?”
Agni menarik nafas. Dengan sangat berhati-hati ia mengulangi supaya tidak menimbulkan salah mengerti, “Wiraprana, maksudku, apakah kehadiranmu setiap hari di rumah Empu Purwa itu benar-benar karena kau ingin menemui aku?”
“Tentu!” jawab Wiraprana cepat-cepat. Wajah anak muda itu pun menjadi merah, dan hatinya semakin berdebar-debar, “Apakah kau menyangka lain, Agni?”
“Tidak,” sahut Agni, “mula-mula aku tidak menyangka lain, namun sekarang aku mengharap, semoga kau mempunyai maksud yang lain.”
“Ah,” desah Wiraprana, “aku tidak mengerti, jangan membuat aku bingung, Agni. Katakanlah.”
“Prana,” berkata Mahisa Agni, “betapa berat pesan yang dititipkan kepadaku untukmu. Sebagai seorang kakak, aku wajib memenuhinya. Namun aku mengharap kau tidak menjadi kecewa, justru karena pesan itu. Kau jangan salah menilai, bahwa seorang gadis sedemikian berani memberikan pesan yang tak ternilai harganya kepada seorang anak muda. Prana, besuk atau lusa kau akan tahu sebabnya. Kini, dengarlah pesan dari adikku itu. Ia mengharap kehadiranmu dalam perjalanan hidupnya.”
Kembali Wiraprana terperanjat. Dan kembali warna merah membersit di wajahnya. Karena itu ia menjadi seakan terbungkam. Mahisa Agni telah memberitahukan pesan itu terlalu langsung. Agni pun kemudian merasakan pula kekakuan kata-katanya. Namun untuk mengucapkannya ia sudah harus berjuang di dalam dirinya. Karena itu ia tidak dapat berbuat lebih baik daripada apa yang telah dilakukannya.
Sejenak kemudian keduanya dicengkam oleh debar yang cepat di dada masing-masing. Wiraprana bahkan menjadi bingung. Apakah yang dapat dikatakannya? Sedang Mahisa Agni sibuk menguasai perasaannya. Dengan sekuat tenaga ia berjuang untuk menenangkan diri. Baru kemudian ia dapat berkata pula,
“Wiraprana, jangan menyangka bahwa Ken Dedes dengan tiba-tiba saja merendahkan dirinya dengan pesannya itu. Ia tidak akan berbuat demikian seandainya, sikapmu, kata-katamu sebelumnya tidak meyakinkannya. Setidaknya menumbuhkan harapan di dalam hatinya. Sehingga pada saat gadis itu terdesak oleh keadaan, seperti yang terjadi dengan Kuda Sempana, ia harus menjatuhkan pilihan.”
Wiraprana mengangkat wajahnya. Kemudian dengan gemetar ia bertanya, “Kenapa pilihan itu jatuh atasku?”
Agni menarik nafas. Kemudian ia meneruskan, “Sudah aku katakan, sikapmu dan kata-katamu menumbuhkan harapan di hati adikku. Ketika Ken Dedes mengeluh atas keadaannya, atas sikap Kuda Sempana dan lamaran-lamaran lain yang datang kepada ayahnya, namun tak seorang pun sesuai dengan hatinya, maka aku nasihatkan kepadanya untuk segera menentukan pilihan. Wiraprana, adikku itu telah lama mengenalmu. Aku pun telah mengenalmu pula, hampir segenap watak dan tabiatmu. Karena itu, aku nasihatkan kepada Ken Dedes, supaya ia bersedia menerima kehadiranmu di dalam masa-masa hidupnya yang akan datang. Agaknya kami, aku dan Ken Dedes sependapat, bahwa tak ada orang lain yang lebih baik dari padamu. Karena itu, apakah Ken Dedes akan memberikan pesan untukmu atau tidak, suatu saat aku pasti akan mengatakannya kepadamu.”
Terasa sesuatu bergelora di dalam dada Wiraprana. Kini ia tidak dapat berbohong lagi. juga kepada dirinya sendiri. Sejak lama terasa sesuatu di dalam sudut hatinya. Tetapi ia tidak berani melihatnya. Ia merasa bahwa tak sepantasnya ia berangan-angan tentang seorang gadis putri pendeta yang menenggelamkan hidupnya dalam pengabdiannya terhadap sumber hidupnya. Ia merasa, bahwa dirinya akan terlalu kasar untuk itu. Wiraprana merasa, bahwa ia tidak lebih dari seorang petani yang lebih mengenal dirinya sendiri, alam dan semesta ini pada wadagnya. Karena itu ia telah bertekad untuk menekan segenap perasaan yang timbul di dalam dadanya. Namun demikian, setiap kali selalu timbul keinginannya untuk datang ke rumah guru sahabatnya itu. Karena itu, tiba-tiba timbul pula pertanyaan di hatinya,
“Apakah aku datang setiap hari mengunjungi Mahisa Agni itu benar-benar karena aku ingin bertemu dengan anak itu?”
Wiraprana menjadi malu sendiri. Agni pun bertanya demikian kepadanya. Dan ia tidak dapat menjawabnya. Wiraprana kemudian menundukkan wajahnya. Di dalam dadanya bergolak berbagai perasaan. Terkejut, gelisah namun tebersit pula kegembiraan di dalam hatinya. Karena itu, selagi ia sibuk dengan persoalannya sendiri, maka ia tidak melihat betapa Mahisa Agni berjuang untuk menguasai perasaannya. Di dalam dadanya pun bergelora pula berbagai perasaan. Pedih, sakit dan kecewa. Namun ia sudah bertekad untuk menghayatinya.
Gemericik air di bendungan terdengar seperti sebuah lagu yang lincah. Nadanya meloncat-loncat dalam irama yang cepat. Ketika Wiraprana memandang ke dalamnya, tampaklah bayangan bintang-bintang di langit seakan-akan meloncat-loncat dipermainkan oleh getaran permukaan air yang riang.
“Agni,” tiba-tiba ia berkata.
Agni mengangkat wajahnya, dan ditatapnya wajah Wiraprana yang cerah. “Adakah kau berkata sebenarnya?” bertanya anak muda itu.
“Tentu,” jawab Agni.
“Apakah Ken Dedes benar-benar bermaksud demikian? Agni, aku takut kalau Ken Dedes sekedar menuruti permintaanmu,” Wiraprana menegaskan.
Agni menarik nafas. Terasa dadanya menjadi sesak. Namun ia menjawab, “Tidak. Ken Dedes benar-benar menyadari pesannya itu.”
“Ah,” desah Wiraprana.
Kembali mereka berdiam diri. Wiraprana kini melihat masa depan yang cerah terbentang di hadapannya. Nanti ia akan berkata kepada ayahnya apa yang didengarnya dari Mahisa Agni. Ayahnya segera pasti akan memenuhi adat itu. Datang kepada ayah Ken Dedes dengan sebuah upacara.
“Hem,” katanya di dalam hati, “Bukankah ayahku Buyut Panawijen? Seharusnya aku tak perlu merasa terlalu kecil untuk melakukannya?. Dan tiba-tiba Wiraprana itu tersenyum sendiri. Meskipun demikian, Wiraprana masih ingin meyakinkan. Karena itu ia bertanya, “Agni, bagaimanakah pendapatmu tentang pesan itu. Apakah sudah sepantasnya aku menerimanya?”
Sekali lagi sebuah goresan melukai hati Mahisa Agni. Tetapi ia menjawab, “Tentu Wiraprana. Seharusnya kau penuhi permintaan itu. Pandanglah dirimu dengan jujur, apakah tak ada perasaanmu untuk melakukannya. Jangan hiraukan tanggapan orang lain tentang dirimu, tentang gadis itu dan tentang masa depan kalian berdua. Kebahagiaan kalian di masa mendatang tergantung kepada kalian sendiri. Tidak kepada orang lain dan tidak pula tergantung kepadaku.”
Wiraprana mengangguk-angguk. Senyumnya kembali membayang di wajahnya. Katanya, “Terima kasih Agni. Aku tidak menyangka bahwa aku akan tertimpa ndaru. Aku sebenarnya gelisah melihat sikapmu yang aneh akhir-akhir ini. Tetapi kini aku menjadi sangat berterima kasih kepadamu.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Tetapi kemudian ia mengatupkan giginya. Desahnya di dalam hati, “Berbahagialah kau, anak muda.”
Tetapi Wiraprana tak melihat luka di dalam dada Agni. Yang dilihatnya adalah keriangannya sendiri. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni. Marilah kita pulang. Aku akan mengatakannya kepada Ayah. Supaya Ayah segera dapat melakukannya. Besok atau lusa.”
Mahisa Agni mengangguk. Tetapi ia masih belum ingin pulang. Maka jawabnya, “Pulanglah dahulu, Prana. Aku masih akan ke sawah.”
Wiraprana tidak dapat merasakan apapun selain keinginannya untuk segera menyampaikan kabar itu kepada ayahnya. Ayahnya pasti tidak akan menolaknya. Meskipun ia harus meyakinkan, bahwa keluarga Ken Dedes seluruhnya telah menerima kehadirannya apabila dikehendaki. Karena itu, maka katanya,
“Baiklah, aku pulang dahulu.”
Mahisa Agni mengangguk, “Pulanglah. Aku segera menyusul.”
Wiraprana tidak berkata apa-apa lagi. Segera ia melangkah dari batu ke batu. Kemudian meloncat dan berjalan cepat-cepat pulang.
Mahisa Agni kemudian berdiri. Dipandangnya Wiraprana yang berjalan tergesa-gesa itu. Semakin lama semakin dalam membenam di hitamnya malam. Sekali lagi Mahisa Agni menarik nafas. Perlahan-lahan pandangan matanya berkisar di seputar bendungan. Air di grojoggan masih memercik beruntun. Di langit ujung timur, Mahisa Agni melihat semburat kuning membayang di atas ujung-ujung pepohonan. Bulan sesaat lagi akan melambung di langit yang biru. Selangkah demi selangkah Mahisa Agni berjalan menuruni bendungan. Dilangkahinya anak-anak tangga di tebing kali. Sehingga akhirnya sampailah ia di pinggir belumbang kecil.
“Di sinilah aku telah menyelamatkan kedua-duanya,” desisnya.
Agni menggeleng-gelengkan kepalanya. Ketika ia melihat wajahnya di air belumbang yang terang itu, seakan-akan dilihatnya masa-masa lampaunya yang penuh dengan keprihatinan. Tetapi justru karena itulah, maka Mahisa Agni mampu menahan arus perasaannya, betapapun sakitnya.
Ketika bulan telah tersembul di atas punggung bukit, Agni teringat bahwa gurunya memerlukannya. Karena itu dengan langkah yang berat, seberat beban di hatinya, ia melangkah pulang. Ketika dilewatinya sawah gurunya itu, diperlukannya membuka tutup pematang, untuk mengalirkan air ke dalamnya.
Ketika ia memasuki regol halaman rumahnya, dilihatnya halaman rumah itu sangat sepi. Lampu-lampu minyak telah menyala di setiap ruang di dalam rumah. Seseorang telah menyalakan lampu di biliknya pula. Di pendapa Agni melihat seorang cantrik melintas. Kepadanya Agni bertanya,
“Di manakah Empu Purwa sekarang?”
“Di pringgitan,” jawabnya.
Mahisa Agni mengangguk. Ia ingin langsung menemui gurunya. Mungkin ada sesuatu yang penting Mungkin ada hubungannya dengan Ken Dedes mungkin pula tidak. Perlahan-lahan Mahisa Agni membuka pintu. Dilihatnya gurunya duduk bersila. Di hadapannya terhidang bintang, teko dan sebuah mangkuk kecil.
“Marilah, Agni,” berkata gurunya.
Dan Agni pun kemudian berjongkok dan duduk di muka Empu Purwa. Meskipun telah berbilang ribuan ia duduk menghadap gurunya namun kali ini hatinya berdebar-debar juga. Tetapi debar jantung Agni pun menjadi semakin kusut ketika ia melihat wajah gurunya yang bening tenang.
“Marilah, Agni. Mumpung masih hangat,” ajak gurunya sambil menyodorkan mangkuk kecil untuknya.
Mahisa Agni pun mengangguk, dan seperti biasanya segera ia meraih teko dan kemudian segumpal gula kelapa. Adalah menjadi kebiasaan gurunya, mengajaknya minum bersama. Menurut gurunya minum bersama terasa jauh lebih nikmat daripada sendiri. Ketika setengah mangkuk kecil telah terminum, Mahisa Agni meletakkannya kembali di dalam nampan kuningan.
Sejenak mereka berdua masih berdiam diri. yang terdengar kemudian hanyalah bunyi-bunyi jangkrik dan angkup-angkup nangka yang meringkik-ringkik di kejauhan. Kemudian Empu Purwa itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya,
“Aku mencarimu tadi pagi, Agni. Tetapi tak ada keperluan apa-apa. Aku hanya ingin minum bersama seseorang. tetapi ternyata kau tidak ada. Tak seorang pun yang melihat. Aku sangka kau sedang pergi sawah.” Kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Ditundukkannya kepalanya, dan dibiarkannya gurunya berkata meneruskan, “Apakah kau benar-benar pergi ke sawah?”
Mahisa Agni menjadi bingung. Meskipun demikian ia menjawab, “Baru saja aku pulang dari sawah guru.”
Empu Purwa tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Apakah padimu telah merunduk?”
“Hampir Empu, tidak sampai berbilang hari,” jawab Mahisa Agni.
“Ah, syukurlah,” sahut orang tua itu, “mudah-mudahan tanaman itu dijauhkan dari hama dan kerusakan.”
“Mudah-mudahan,” gumam Mahisa Agni.
“Kalau demikian, Agni,” berkata Empu Purwa, “itu sudah hampir sampai masanya kau membuat gubuk untuk menjaga sawahmu dari gangguan burung.”
“Ya, Empu,” jawab Agni, “sebentar lagi akan aku buat.”
Empu Purwa mengangguk-angguk. Dipandangnya wajah Mahisa Agni dengan seksama, seakan-akan ada sesuatu yang aneh pada anak muda itu. Sehingga ketika Mahisa Agni menyadarinya, maka ia pun menjadi gelisah. Dan kembali wajahnya terpaku di dalam anyaman tikar yang didudukinya.
Sesaat kemudian Empu Purwa itu berkata pula, “Agni. Adalah menjadi hak kita untuk mengusir setiap burung yang akan mencuri padi kita di sawah, sebab kitalah yang menanamnya, memeliharanya dan dengan tertib berbuat untuk kepentingan tanaman itu.”
Mahisa Agni mengangkat wajahnya. Kata-kata gurunya itu agak mengherankannya. Bukankah hal itu sudah wajar. Tak ada sesuatu yang terasa baru pada kata-kata itu. Empu Purwa melihat pula wajah Agni yang memancarkan berbagai pertanyaan itu. Maka sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Empu Purwa berkata,
“Kita akan merasa kehilangan Agni, apabila meskipun hanya sebutir padi kita yang dimakan oleh burung-burung pipit liar itu. Karena itu kita akan selalu mengusirnya apabila mereka datang.”
Mahisa Agni menjadi semakin heran. Namun ia tidak bertanya. Bahkan kembali ia menundukkan wajahnya.
“Tetapi Agni,,” sambung gurunya. Suaranya menjadi berat dan dalam, “Padi yang kita pertahankan dari serbuan burung-burung pipit, dan kadang-kadang kita harus bekerja siang dan malam, apabila hujan lebat dan parit-parit menjadi melimpah itu, ada kalanya tidak sampai ke lumbung-lumbung kita.”
Empu Purwa berhenti sejenak, lalu katanya seterusnya, “Meskipun kita tidak mengikhlaskan sebutir padi pun kepada burung-burung pipit Agni, namun kadang-kadang kita berikan tidak hanya sebutir, bahkan lebih dari itu, seikat, kepada orang lain, apabila kita yakin orang itu membutuhkannya. Dan kita yakin karena itu maka orang itu menjadi berbahagia karenanya.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA
===============================


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar