MENU

Ads

Selasa, 10 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 012

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata gurunya itu. Sekejap ia mengangkat wajahnya, namun sekejap kemudian wajah itu pun terkulai kembali dengan lemahnya. Kini ia tahu, apakah yang akan dikatakan gurunya itu.

“Agni,” berkata Empu Purwa, “aku tidak dapat menolak apabila seseorang yang kelaparan datang kepadaku, dan minta supaya aku memberinya padi. Sedang padi itu ada padaku. Tentu saja Agni. Aku dapat memberikannya kepada siapa saja sesuka hatiku, tetapi bagaimanakah kalau yang dapat aku berikan itu sangat terbatas?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ketika teringat pesan ibunya, maka Mahisa Agni pun segera dapat menguasai perasaannya. Karena itu berangsur-angsur kegelisahannya pun menjadi lenyap. Bahkan kini ditengadahkannya wajahnya, dan didengarnya kata-kata gurunya itu dengan hati yang terang.

Maka gurunya itu pun berkata, “Ah, Anakku. Aku tidak dapat menyamakannya dengan butiran padi itu. Mungkin orang lain berbuat demikian. Tetapi aku tidak. Kadang-kadang aku mengingat juga lumbung-lumbung atau tempat penyimpanan orang yang datang itu. Bahkan lebih dari itu, Agni”

Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Tetapi ia sudah tidak gelisah. Karena itu ketika Empu Purwa bertanya kepadanya, maka dengan tatag ia menjawabnya.

Berkatalah empu tua itu, “Agni. Ternyata kau turut memelihara sawahku itu dengan tekun. Bahkan kaulah yang setiap saat melakukannya. Bagaimanakah pendapatmu, kalau suatu ketika hasil sawah itu aku serahkan kepada rakyat Panawijen, atau orang yang dapat mewakilinya?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Kini ia tidak menundukkan wajahnya. Bahkan dengan tenang ia menyahut, “Guru, adalah menjadi kewajibanku untuk ikut memelihara setiap milik guru. Sawah, ladang, halaman ini bahkan dengan segala isinya. Dan apabila kemudian Empu mempunyai keputusan tentang itu semuanya, adalah sudah seharusnya aku pun menjadi bergembira karenanya.”

Empu Purwa itu pun tersenyum, katanya, “Tetapi, Agni. Bagaimanakah kalau lumbung kita sendiri menjadi kosong. Dan apakah kita tidak takut, suatu ketika kita sendiri akan menjadi lapar?”

Mahisa Agni berdesir mendengar kata-kata gurunya. Tetapi ia telah menjadi tenang benar. Karena itu sama sekali tak tampak kegelisahan dan perubahan di wajahnya. Selalu diingatnya pesan ibunya. Cerita ibunya tentang dirinya dan ayahnya. Maka jawabnya,

“Guru, apabila kita masih mencemaskan keadaan diri sendiri, maka pemberian kita itu menjadi tidak dilambari dengan keikhlasan.”

“Hem,” Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Dalam sekali. Dan ditatapnya wajah Mahisa Agni dengan penuh haru. Maka terdengar ia berkata, “Kau telah menemukan nilai-nilai dirimu Mahisa Agni. Nilai-nilai yang hampir rontok dalam usia mudamu. Usia yang paling berbahaya dalam hidup ini.”

Kini Mahisa Agni benar-benar terkejut. Apakah gurunya tahu, betapa ia hampir menjadi gila mendengar pengakuan Ken Dedes di hadapan ibunya? Tetapi Mahisa Agni justru menjadi terbungkam karenanya. Kemudian ia mendengar gurunya itu berkata pula,

“Agni, pagi tadi aku ikuti kau bertamasya.”

“Oh,” Mahisa Agni mengeluh.

Gurunya benar-benar mengetahui apa yang sudah terjadi. Dan gurunya itu masih berkata, “Aku melihat kau hampir-hampir kehilangan keseimbangan, Anakku.”

Ketika Agni akan menjawab, Empu Purwa mendahului, “Jangan kau sembunyikan perasaanmu. Orang setua aku, Agni, adalah orang-orang yang pernah mengalami masa-masa semuda kau. Dan apa yang kau lakukan adalah wajar. Sewajar orang mengusir burung pipit di sawahnya. Aku melihat sejak kau bermain-main dengan serulingmu. Aku melihat Ken Dedes datang kepadamu. Aku melihat, betapa kau menempelkan telingamu, untuk mendengar apa yang dikatakan Ken Dedes kepada pemomongnya. Dan aku ikut berlari-lari sepanjang tengah malam itu. Dan aku mendengarkan semua percakapanmu dengan hantu di padang rumput itu, Agni. Aku tidak akan berani mengatakan semua ini kepadamu, apabila kau masih belum menemukan nilai-nilai yang tersimpan di hatimu. Meskipun apa yang dikatakan oleh Ken Arok itu membantumu, namun keikhlasan yang terpancar di wajahmu, membayangkan betapa kau memiliki nilai-nilai di dalam hatimu melampaui dugaanku.”

Mahisa Agni mendengar kata-kata gurunya dengan hati yang berdebar-debar. Namun satu hal yang tak diketahui oleh gurunya, ibunya kini telah hadir pula di dalam hatinya. Namun Mahisa Agni tak berkata sepatah kata pun.

Sesaat kemudian terdengar gurunya berkata, “Agni. Seorang setia berkata bahwa wanita sana harganya dengan curiga. Dan sama pula harganya dengan nyawanya. Aku tidak keberatan Agni. Namun aku ingin memberinya arti yang agak berbeda dengan arti yang pernah diberikan oleh anak-anak muda. Wanita, curiga, pusaka dan sebagainya adalah lambang dari cita-cita. Setiap cita-cita memang mempunyai nilainya sendiri-sendiri. Kalau cita-cita itu dinilai sama dengan nyawa kita, maka adalah sudah seharusnya kita mengejar cita-cita itu sepanjang umur kita. Dan kau telah sampai pada nilai-nilai yang lebih tinggi dari nilai-nilai wadagnya Agni.

Bukan wanita dalam wadagnya, tetapi wanita sebagai lambang yang memancarkan kehalusan, yang memancarkan sifat-sifat pengabdian pada anak-anaknya, pada penerus hidup kita. Pengabdian bagi masa yang akan datang. Wanita tidak sekedar hidup untuk hidupnya, tetapi wanita hidup untuk hidup masa mendatang. Dan adakah kita telah melakukannya. Adakah kita telah menerapkan hidup kita tidak sekedar untuk hidup kita sendiri. Adakah kita sudah menempatkan diri kita dalam pengabdian bagi masa datang?

Agni, curiga dan pusaka yang harus kita udi pun, janganlah dinilai sebagai bentuk wadagnya. Keris, tombak, bahkan segala jenisnya. Namun setiap kita menempatkan pusaka apapun di hati kita, maka kita menilainya dari setiap unsur yang dapat kita lihat daripadanya. Unsur yang dipancarkan olehnya. Kejantanan, keperkasaan dan keluhuran budi. Atau apapun menurut penilaian kita atasnya.”



Empu Purwa itu pun berhenti sejenak. Dicobanya untuk mengetahui, apakah kata-katanya itu dapat dimengerti oleh muridnya yang masih muda itu. Agni kini menekurkan kepalanya. Didengarnya semua nasihat gurunya itu. Dan dicobanya untuk mencernakannya di dalam hatinya.

Seterusnya gurunya itu berkata perlahan-lahan, namun langsung menyusup ke jantung Mahisa Agni, “Agni. Betapapun juga, aku menyadari, bahwa ada sesuatu yang hilang dari hatimu. Hanya orang-orang yang tabah, dan telah menemukan nilai-nilai kemanusiaannyalah yang dapat menghadapi peristiwa semacam itu dengan tenang dan berhati terang. Dan kau telah melakukannya dalam umur mudamu. Karena itu mudah-mudahan kau selalu diselamatkan oleh Maha Pencipta. Namun, meskipun demikian Agni, aku akan mencoba mengurangi tekanan-tekanan yang berat itu. Meskipun kau pasti akan kuat memanggulnya, namun sebaiknya, aku, gurumu, ikut pula membantumu. Maksudku, aku tidak akan mengubah pendirian anakku, sebab dengan demikian aku akan merampas kebahagiaannya. Dan menurut penilaianku, kau telah memaafkannya. Dan kini, aku akan memberimu imbangannya. Sebuah pusaka.”

Mahisa Agni tersentak sehingga ia bergeser maju. Diangkatnya wajahnya, dan dipandangnya wajah gurunya yang sejuk bening. Dan didengarnya gurunya itu meneruskan kata-katanya,

“Agni, kau pernah melihat sebuah trisula yang kecil itu? Sudah pernah aku katakan kepadamu, pusaka itu diberikan turun temurun dari guru kepada muridnya yang tepercaya. Dan kini, aku telah mengambil keputusan untuk memberikannya kepadamu. Namun, ingatlah Agni. Pusaka yang berbentuk senjata itu bukan alat pembunuh. Pusaka itu adalah alat untuk menegakkan sendi-sendi kebenaran dan kemanusiaan menurut Sumbernya. Jadi menurut sumbernya, Agni. Bukan menurut kehendakmu dan kepentinganmu. Meskipun kau tak akan mengerti seluruhnya, kebenaran menurut Sumbernya itu, namun kau harus berusaha mendekatkan diri pada-Nya. Kalau kau menemui keingkaran pada kebenaran itu Agni, yang pertama-tama kau lakukan adalah melenyapkan keingkaran itu. Bukan melenyapkan seseorang. Jangan kau lenyapkan seseorang yang mengingkari kebenaran, selagi kau melihat kemungkinan untuk melenyapkan keingkarannya tanpa mengorbankan orangnya.”

Kini Mahisa Agni menundukkan wajahnya dalam-dalam. Meskipun gurunya pernah berkata kepadanya di padang rumput Karautan, bahwa pusaka berbentuk trisula itu adalah pusaka turun temurun, dan bahkan gurunya pernah berkata pula, bahwa suatu ketika pusaka itu akan diberikan kepadanya, namun pada sangkanya, tidak secepat yang terjadi. Justru karena itu, maka dada Mahisa Agni terasa menjadi sesak oleh berbagai perasaan yang bergulat di dalamnya. Bahkan kemudian terasa matanya menjadi panas, dan terasa sesuatu menyumbat mulutnya.

Demikianlah, malam itu, dengan penuh keharuan dan terima kasih, Mahisa Agni menerima sebuah pusaka dari gurunya. Apapun bentuknya, namun itu adalah suatu pertanda bahwa gurunya telah menumpahkan kepercayaan kepadanya. Kepercayaan pada ilmu yang telah dimilikinya, dan kepercayaan pada pengalaman yang akan dilakukannya. Dalam keharuannya, sekilas Mahisa Agni teringat kepada gadis putri gurunya itu. Karena itu hatinya berdesir. Tetapi kemudian perasa hatinya menjadi tenang kembali setelah disadarinya, bahwa sebagai gantinya, telah didapatnya dua penemuan yang sangat berarti dalam hidupnya. Ibunya dan sebuah pusaka.

Maka, meskipun tak terucapkan, namun betapa Mahisa Agni mengucapkan syukur di dalam hatinya kepada Maha Pengasih atas karunianya yang tak ternilai. Ketika malam telah menjadi semakin malam, dan bulan di langit telah membuat garis-garis tegak di atas padepokan, maka Empu Purwa melepaskan Mahisa Agni kembali ke biliknya. Di samping pendapa Mahisa Agni melihat sebuah bayangan di bawah rimbun daun kemuning, Pandangan matanya yang tajam segera mengenalinya. Orang itu adalah ibunya.

“Apa yang terjadi?” bisik ibunya, ketika Mahisa Agni telah dekat di sampingnya.

Dengan bangga Mahisa Agni menceritakan kepercayaan gurunya kepadanya. Dan dengan bangga pula ditunjukkannya pusakanya kepada ibunya. Namun ibunyalah yang lebih berbangga dari Mahisa Agni sendiri. Sedemikian bangganya sehingga perempuan itu tak dapat menguasai perasaannya. Setetes demi setetes, air matanya menitik. Tetapi ia tidak bersedih. Bahkan dengan sebuah senyum ia berkata,

“Berbahagialah kau Agni, dan aku pun berbahagia pula. Pandanglah hari depanmu dengan penuh gairah di dalam dadamu.”

Malam itu adalah malam yang tak akan dilupakan oleh Mahisa Agni. Namun demikian, anak muda itu tidak menjadi takabur. Dengan tekun ia justru menempa dirinya. Setiap saat ada kesempatan, dengan tekad, bahwa nama perguruannya, nama gurunya dan kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya, harus dijunjungnya tinggi-tinggi. Dan karena itu pulalah maka Empu Purwa pun berbangga pula karenanya. Ternyata muridnya benar-benar seorang anak muda yang baik. Karena itu, maka Empu Purwa pun untuk selanjutnya telah menempa Mahisa Agni dalam tataran ilmunya yang tertinggi.

Dalam pada itu, ketika Mahisa Agni tenggelam dalami penekunan tanpa henti atas ilmunya, maka Wiraprana telah pula berhasil meyakinkan ayahnya. Sehingga akhirnya Buyut Panawijen itu pun tak dapat berbuat lain daripada memenuhi permintaan anaknya.

Ternyata semuanya berlangsung seperti yang diharapkan, Empu Purwa tidak mau menunda persoalan itu berlarut-larut. Ketika ia menerima sebuah utusan dari Buyut Panawijen, maka dilambari dengan penuh pengertian atas hasrat yang tersimpan di dalam dada anaknya, maka dipanggillah Ken Dedes menghadapnya.

“Ken Dedes,” berkata Empu Purwa kemudian, “pengikut sayembara kali ini hanya seorang, Wiraprana, putra Buyut Panawijen. Bagaimanakah pendapatmu?”

Ken Dedes menundukkan wajahnya dalam-dalam. Berbagai perasaan bergolak di dadanya. Ia gembira, menerima pertanyaan itu, tetapi ia tidak kuasa untuk menganggukkan kepalanya. Karena itu ia menjawab lirih,

“Ayah. Terserahlah kepada Ayah.”

Empu Purwa tersenyum. Seorang yang telah berumur lanjut, segera mengetahui isi hati seorang gadis yang telah ditunggunya setiap saat. Ken Dedes tidak menolak.

“Nah, Anakku,” kata ayahnya, “aku harap kau tidak menemui persoalan-persoalan yang sulit di kemudian hari, seperti apa yang telah terjadi. Sebab segera semua orang di Panawijen akan mendengar kabar, bahwa lamaran Buyut Panawijen telah diterima. Kita tinggal memperhitungkan hari yang sebaik-baiknya untuk keperluanmu itu.”

Ken Dedes tidak menjawab. Kepalanya masih ditundukkannya dalam-dalam. Namun ia berdoa, mudah-mudahan semuanya segera selesai. Ketika ayahnya mengizinkannya pergi, Ken Dedes langsung berlari-lari ke bilik Mahisa Agni. Dengan serta-merta ia mengguncang-guncang tubuh Agni yang sedang berbaring, setelah dengan sekuat tenaga memeras diri dalam latihannya.

Betapa terkejutnya anak muda itu. Segera ia bangkit bertanya, “Ada apa Ken Dedes?”

“Kakang,” berkata gadis itu terbata-bata, namun wajahnya tampak betapa cerahnya, secerah bintang pagi, “Ayah telah menerima lamaran dari Buyut Panawijen.”

“He?” Agni tersentak.

Dan warna merah tiba-tiba tebersit di wajah Ken Dedes. Ia menjadi malu kepada kakaknya, dan malu kepada diri sendiri. Karena itu, kemudian ia terduduk di samping Agni sambil menundukkan wajahnya.

Sesaat darah Agni bergolak. Namun hanya sesaat. Kemudian terasa darahnya mendingin kembali. Dengan tenang ia berkata, kata-kata yang sudah sewajarnya diucapkan oleh seorang kakak kepada adiknya yang berbahagia,

“Syukurlah, Ken Dedes. Wiraprana tidak mengecewakan kita.”

Ken Dedes mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya perlahan-lahan, “Aku berterima kasih kepadamu, Kakang.”

“Bukankah sudah menjadi kewajibanku Ken Dedes? Kau adalah adikku. Adalah menjadi kewajiban saudara tua untuk mendengarkan tangis adiknya,” jawab Mahisa Agni, kemudian ia meneruskan, “Kalau kau berbahagia adikku, aku pun berbahagia pula karenanya. Mudah-mudahan Wiraprana dapat menempatkan diri, dan mudah-mudahan kau pun dapat menyesuaikan dirimu pula.”

Di hari-hari berikutnya, tampaklah betapa cerah wajah Ken Dedes. Ia kini tidak mengurung diri lagi di dalam biliknya. Dengan rajin ia bekerja seperti dahulu, sebelum hatinya menjadi murung. Mencuci pakaian, membersihkan halaman dan bekerja di dapur bersama-sama gadis-gadis pembantunya. Kini Ken Dedes tidak pernah membuang waktunya dengan berbagai pekerjaan tak berarti. Setiap kali ia sibuk membersihkan rumah dan biliknya. Seakan-akan besok pagilah perhelatan perkawinannya akan diselenggarakan.

Mahisa Agni pun telah berusaha sekuat-kuatnya untuk melupakan luka-luka yang pernah ada di hatinya. Diusahakannya untuk berbuat seperti apa yang selalu dilakukan. Ke sawah, mencangkul halaman, belumbang, tanaman-tanaman dan petak-petak di belakang rumahnya.

Namun, sama sekali tak pernah diketahuinya, bahwa setiap kali gurunya, mengawasinya dari sudut sanggarnya sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan pandangannya yang penuh iba, kadang-kadang orang tua itu bergumam,

“Kasihan kau, Anakku. Mudah-mudahan kau mendapat karunia, kesabaran.”

Kabar tentang hubungan yang telah diikat antara Wiraprana dan Ken Dedes itu pun segera tersebar di segala sudut-sudut padukuhan Panawijen. Ramailah anak-anak muda membicarakannya. Bunga di kaki Gunung Kawi itu kini akan dipetik orang. Sambil tertawa-tawa, kawan-kawan Wiraprana selalu mengganggunya. Di rumah, di sawah di bendungan bahkan di mana saja mereka bertemu.

“Mahisa Agni,” berkata salah seorang dari mereka, “kenapa bukan aku yang kau ambil menjadi adikmu?”

Mahisa Agni tersenyum. Betapa pedih luka di hatinya. Namun dijawabnya sambil tertawa, “Kau bukan Wiraprana. Namun kau belum pernah berkelahi dengan Kuda Sempana.”

Yang mendengar jawaban itu pun tertawa riuh. Sambil menunjuk wajah kawannya itu mereka bersorak, “Kalau menjadi adik Mahisa Agni, dan Kuda Sempana itu datang kembali, apa katamu?”

“Lari,” jawabnya sambil tertawa pula.

Wiraprana sendiri tak pernah menyahut. Ia hanya tersenyum-senyum saja. Meskipun kadang-kadang ia mengeluh atas gangguan kawan-kawannya, namun sebenarnya ia berbangga juga. Tetapi sejak saat itu Wiraprana tidak pernah lagi mengunjungi Mahisa Agni di rumah Empu Purwa. Ia menjadi segan, dan adalah kurang baik apabila ia datang ke rumah itu, sebab Ken Dedes berada di rumah itu pula.

Bahkan Mahisa Agnilah yang selalu datang kepadanya. Mahisa Agni sama sekali tidak mau mengubah hubungan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Mereka masih saja bergaul seperti biasa, ke sawah, ke bendungan dan membersihkan parit bersama kawan mereka. Tak ada kesan apapun dalam tingkah laku Mahisa Agni. Dan karena itu Wiraprana tidak pernah mengetahuinya, apa yang sebenarnya telah terjadi dengan sahabatnya itu.

Berita tentang hubungan yang telah disetujui bersama antara Wiraprana dan Ken Dedes itu ternyata tidak saja menggemparkan desanya sendiri, namun berita itu kemudian tersebar sampai jauh di luar daerah pergaulan mereka. Lebih-lebih bagi mereka yang pernah mengirimkan utusan untuk melamar gadis itu. Berbagai tanggapan telah tumbuh di dada anak-anak muda itu. Ada di antara mereka yang acuh tak acuh.

“Biarlah,” katanya di dalam hati, “gadis di dunia ini tidak hanya seorang Ken Dedes saja.”

Namun ada juga yang kemudian dengan sedihnya meratapi nasibnya. Mengurung diri di dalam biliknya. Kerjanya siang dan malam menggurat-gurat rontal untuk menumpahkan kepedihan hatinya. Berhelai-helai. Dan disimpannya rontal itu di bawah bantalnya. Tetapi di antara mereka ada juga yang mempunyai tanggapan lain pula. Ketika kabar itu sampai di telinganya, maka seakan-akan telinganya itu terjilat api.

“Benarkah?” geramnya.

Tetapi kabar itu benar-benar meyakinkannya, bahwa Ken Dedes telah menerima lamaran dari seorang anak muda. Bukan dirinya. Sehingga akhirnya datanglah kepadanya, utusan Empu Purwa, yang mengabarkan, bahwa dengan rendah hati dan permintaan maaf yang sebesar-besarnya lamarannya tak dapat diterima. Anak muda itu adalah Mahendra. Putra sahabat Empu Purwa di Tumapel. Seorang anak muda yang tangkas dan tanggon. Dengan wajah yang merah membara ia datang kepada ayahnya. Katanya,

“Ayah, Bukankah penolakan itu berarti penghinaan bagi keluarga kita?”

Ayahnya menggeleng lemah, jawabnya, “Tidak, Anakku. Seharusnya kau sadari, seandainya datang dua tiga lamaran. Apakah yang harus dilakukan oleh Empu Purwa itu, Tentu ada di antaranya yang harus ditolak. Dan itu sama sekali bukan suatu penghinaan.”

“Ayah,” sahut Mahendra, “kalau Ken Dedes itu menolak kami, tetapi ia kemudian menerima orang lain yang lebih tinggi tingkat dan derajatnya, maka aku tak akan tersinggung karenanya. Tetapi Ken Dedes itu telah menerima lamaran seorang anak muda yang bernama Wiraprana yang menurut pendengaranku tidak lebih dari anak Buyut Panawijen. Tidakkah itu suatu Penghinaan?”

Kembali ayahnya menggeleng. Katanya, “Ken Dedes adalah gadis Panawijen. Anak itu adalah anak muda Panawijen.”

Mahendra terdiam. Namun hatinya masih berbicara terus. “Siapakah gerangan anak muda yang bernama Wiraprana itu? Apakah ia seorang maha sakti tak ada bandingnya di seluruh daerah Tumapel?”

Ayahnya melihat betapa dendam menjalar di dada anaknya. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Anaknya adalah anak yang sukar dikendalikan. Tetapi ia tidak menyangka bahwa anak itu tidak saja merasa terhina, dan mengumpatnya habis-habisan, namun anak itu benar-benar berhasrat untuk menilai anak muda yang bernama Wiraprana. Karena itu, maka pada suatu malam, tanpa setahu ayahnya, Mahendra pergi meninggalkan rumahnya. Dengan dikawani oleh dua orang saudara seperguruannya ia pergi ke Panawijen.

“Dengan tekad yang teguh. Kita bertukar darah, Wiraprana!” gumamnya.

Mereka sampai ke Panawijen menjelang senja berikutnya. Tetapi mereka tidak segera mencari rumah Buyut Panawijen. Mereka menunggu sampai malam tiba. Di malam yang kelam, tak ada orang yang akan mengganggu pertemuan itu. Awan yang kelabu, mengalir seperti lembaran-lembaran kapuk yang diterbangkan angin. Bintang satu demi satu mulai menyala di langit yang biru.

Ketika seorang petani tua berjalan pulang dari sawahnya, Mahendra menghentikannya dan berkata, “Kaki, apakah Kaki kenal dengan Wiraprana?”

Petani tua itu mengamat-amati ketiga anak muda itu dengan seksama, kemudian ia pun bertanya, “Siapakah Angger bertiga?”

“Kami datang dari jauh, Kami adalah sahabat-sahabat Wiraprana,” jawab Mahendra,

Orang tua itu mengangguk-angguk, katanya, “Adakah yang Anakmas maksud itu putra Buyut Panawijen?”

“Ya,” jawab Mahendra pendek.

“Apakah Angger akan menemuinya?”

“Ya.”

“Marilah, biarlah Anakmas bertiga saya antarkan ke rumahnya.”

Mahendra menggeleng. Jawabnya, “Tidak Kaki. Aku tidak akan datang ke rumahnya. Tolonglah sampaikan kepadanya sahabatnya dari Tumapel menunggunya. Namanya Mahendra.”

Orang tua itu memandangnya dengan heran. Maka bertanyalah orang tua itu, “Kenapa Anakmas tidak mau datang ke rumahnya?”

“Tidak apa-apa,” jawab Mahendra singkat, “kami menunggu di sini.”

Orang tua itu tidak bertanya lagi. Diangguk-anggukkannya kepalanya sambil berkata, “Baiklah, nanti aku sampaikan kepadanya.”

Meskipun demikian, petani tua itu pun tak habisnya berpikir, “Aneh, tamu yang datang sedemikian jauhnya, tetapi tidak mau diantarkannya ke rumahnya.”

Namun petani tua itu memenuhi pula permintaan ketiga anak-anak muda dari Tumapel itu. Ia tidak langsung pulang ke rumahnya, tetapi diperlukannya singgah ke rumah Buyut Panawijen. Di muka regol halaman dilihatnya Mahisa Agni. Karena itu orang tua itu pun berkata,

“Mahisa Agni, apakah Wiraprana ada di rumahnya?”

“Ada Kaki,” jawab Mahisa Agni, “kita berjanji akan pergi ke sawah bersama. Dan aku sedang menunggunya. Apakah Kaki akan menemuinya?”

“Oh. Tidak,” berkata orang itu pula, “aku hanya ingin menyampaikan pesan untuknya. Nah, Katakanlah kepadanya Agni. Tiga orang anak-anak muda dari Tumapel menunggunya di ujung desa.”

“Tumapel?” bertanya Mahisa Agni dengan herannya.

Orang tua itu mengangguk. “Ya,” jawabnya, “namanya Mahendra.”

“Mahendra?” ulang Agni.

Dan dada Mahisa Agni ini menjadi berdebar-debar. Ia pernah mendengar nama itu. Mahendra, adalah salah sebuah nama yang pernah disebut-sebut oleh gurunya. Karena itu segera ia menghubungkannya dengan Ken Dedes.

“Nah Agni,” berkata petani tua itu, “bukankah kau sedang menunggu Wiraprana? Sampaikanlah pesan itu kepadanya.”

“Baik. Baik Kaki,” sahut Agni terbata-bata. Sedang angan-angannya masih sibuk dengan anak muda yang bernama Mahendra itu. Sepeninggal petani tua itu. Mahisa Agni sibuk berpikir, “Apakah keperluan Mahendra dengan Wiraprana?” bertanya Mahisa Agni di dalam hatinya, “Ada dua kemungkinan.”

Pertanyaan itu dijawabnya sendiri, “Mungkin Mahendra akan memberikan ucapan selamat kepada Wiraprana. Tetapi ada kemungkinan lain. Anak muda itu membawa dendam yang membara di hatinya.”

Namun anak muda yang telah banyak mengenyam berbagai pengalaman itu, mempunyai firasat, bahwa kemungkinan yang terakhirlah yang akan terjadi. Kalau anak-anak muda dari Tumapel itu, bermaksud baik, maka mereka pasti akan datang ke rumah ini.

“Bagaimanapun juga, Wiraprana harus berhati-hati,” desisnya.

Dalam pada itu Wiraprana pun telah turun dari pendapa rumahnya. Dengan senyumnya yang selalu memancar di wajahnya, ia berjalan seenaknya melintasi halaman rumahnya.

“Apakah kau tidak singgah dahulu,” bertanya Wiraprana.

Agni menggeleng. Jawabnya, “Nanti, apabila pekerjaan kita sudah selesai.”

“Baiklah,” jawab Wiraprana, “marilah kita pergi.”

“Tetapi Wiraprana,” berkata Agni kemudian, “seseorang memberikan pesan untukmu. Tiga anak-anak muda dari Tumapel.”

“Dari Tumapel?” bertanya Wiraprana sambil mengangkat alisnya, “Apakah keperluannya?”

“Tak disebutkan,” jawab Mahisa Agni, “mereka menunggu di ujung desa.”

Wiraprana berpikir sejenak. “Aneh,” gumamnya.

“Kenalkah kau dengan anak muda yang bernama Mahendra?” bertanya Agni. Wiraprana menggeleng. “Mahendra adalah salah seorang yang pernah melamar Ken Dedes pula,” berkata Agni seterusnya.

“Oh,” desis Wiraprana, “lalu apakah keperluannya dengan aku? Bukankah aku tidak mempunyai persoalan dengan anak itu?”

“Demikianlah Wiraprana,” sahut Mahisa Agni, “tetapi tidak semua orang berpikir seperti itu. Mungkin ia mempunyai tanggapan tersendiri. Karena itu berhati-hatilah.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Direnunginya malam yang gelap seakan-akan ada yang sedang dicarinya. Kemudian terdengar ia berkata,” Baiklah aku menemuinya Agni. Aku tak pernah merasa membuat persoalan dengan siapa pun. Karena itu, di antara aku dan anak muda itu pun tak pernah terdapat persoalan apa-apa.”

Tiba-tiba Mahisa Agni pun teringat, apa yang pernah dilakukan pada malam ia mendengar pengakuan Ken Dedes terhadap emban tua yang ternyata adalah ibunya. Karena itu ia menjadi berdebar-debar. Tidak mustahil bahwa orang lain pun akan berbuat serupa itu. Bahkan diingatnya pula anak muda yang bernama Kuda Sempana. Apakah salah seorang dari ketiga anak muda itu Kuda Sempana?

“Ah,” bantahnya sendiri, “pasti bukan. Kalau demikian anak itu pasti sudah dikenal.” Karena itu, maka tiba-tiba ia berkata, “Wiraprana, aku akan ikut dengan kau.”

Wiraprana mengangkat alisnya. Katanya, “Apakah kehadiranmu tidak akan mengganggu pertemuan itu?”

“Mungkin Wiraprana, namun mungkin pula tidak. Bukankah mereka datang bertiga?” jawab Agni.

Wiraprana berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Baiklah. Kita pergi bersama-sama.”

Maka pergilah mereka berdua ke ujung desa. Dengan hati yang dirisaukan oleh berbagai pertanyaan Mahisa Agni berjalan di samping Wiraprana. Namun ia hampir pasti, bahwa pertemuan ini bukanlah pertemuan yang menyenangkan.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar