MENU

Ads

Selasa, 10 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 013

“Apakah sangkamu maksud kedatangan anak-anak muda itu Agni,” bertanya Wiraprana.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Jauh di relung hatinya terdengar sebuah suara yang sumbang, “Biarkanlah Agni. Biarlah Wiraprana menyelesaikan masalahnya sendiri. Biarlah ia mengetahui, bahwa seorang istri itu memerlukan perlindungannya. Apakah ia akan mampu melakukan? Apalagi seorang istri seperti Ken Dedes yang telah menggerakkan hampir setiap hati anak-anak muda di lereng Gunung Kawi ini. Biarlah ia belajar untuk tidak mengenyam nangkanya saja, tetapi juga berlumur getahnya. Kalau karena pertemuan ini Wiraprana ditelan oleh bencana, syukurlah. Pintu untukmu terbuka kembali.”

Suara itu terdengar melengking berulang-ulang, meskipun perlahan-lahan. Karena itulah maka wajah Mahisa Agni menjadi tegang. Dan tiba-tiba ia menggelengkan kepalanya keras-keras sambil bergumam,

“Tidak, Tidak.”

“Apa yang tidak?” bertanya Wiraprana.

“Oh?” Mahisa Agni tersadar. Jawabnya, “Aku sedang berpikir tentang mereka bertiga.”

“Ya. Lalu apakah yang akan mereka lakukan?”

“Aku tak dapat menebaknya dengan pasti Prana. Tetapi firasatku mengatakan, bahwa kau harus berhati-hati.”

Wiraprana tersenyum, “Kita adalah manusia-manusia yang beradab. Yang memiliki tata pergaulan dalam hubungan kita antara manusia. Karena itu seandainya ada persoalan antara aku dan Mahendra itu, maka tidak perlu kita risaukan. Kita akan dapat menyelesaikannya dengan baik.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Apabila setiap orang berpikir seperti kau Prana, aku sangka dunia ini akan lekas mengenyam perdamaian yang dirindukan oleh hampir setiap manusia. Tetapi orang lain ternyata berpendapat lain. Kadang-kadang orang ingin menyelesaikan persoalan tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Seseorang mengulurkan tangan kanannya untuk bersahabat, namun di tangan kirinya digenggamnya senjata sambil berkata, ‘Marilah kita selesaikan persoalan kita dengan baik. Dan marilah kau turuti saja sekehendakku. Dengan demikian tak ada masalah lagi di antara kita’.”

Wiraprana menundukkan wajahnya. Seakan-akan ia sedang menghitung jumlah batu-batu yang dilampaui kakinya. Sedang terdengar Mahisa Agni berkata terus,

“Ternyata Wiraprana, kau pernah bertemu dengan anak muda yang bernama Kuda Sempana.”

Wiraprana menganggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia masih bergumam di dalam hatinya, “Ah. Apapun yang akan dilakukan, apabila aku tak melayaninya, aku sangka tak akan timbul peristiwa yang tak diinginkan.”

Kemudian mereka berdua itu pun saling berdiam diri. Mereka berjalan sambil berangan-angan. Masing-masing diliputi oleh berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di dadanya. Ketika mereka sampai di ujung desa, hati Mahisa Agni pun menjadi berdebar-debar. Ditatapnya jalan yang menjelujur di hadapannya. Dan hatinya kemudian berdesir ketika dilihatnya tiga anak muda sedang duduk dengan tenangnya di tanggul parit di tepi jalan. Di samping mereka, kuda-kuda mereka terikat pada batang-batang perdu liar yang tumbuh di atas tanggul. Tiba-tiba saja Mahisa Agni menggamit, Wiraprana, sehingga mereka berdua itu pun berhenti.

“Mengapa,” bertanya Wiraprana.

“Jangan terlampau tergesa-gesa. Tak ada gunanya. Waktumu masih panjang,” jawab Agni.

Sementara itu, Mahendra pun telah melihat kehadiran mereka. Karena itu, maka serentak mereka bertiga berdiri, berjajar tegak dengan kaki renggang. Mahisa Agni menarik nafas. Sikap itu tidak menyenangkannya. Kenapa mereka bertiga segera bersikap demikian, seakan-akan mereka sedang menanti lawan-lawan mereka yang sudah bertahun-tahun dilumuri dendam.

Karena itu Mahisa Agni berbisik, “Wiraprana, sambutan mereka benar-benar tidak menyenangkan. Karena itu sekali lagi, hati-hatilah.”

Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun hatinya berkata, “Apa saja yang akan mereka lakukan. Aku harus bersikap baik.”

Selangkah demi selangkah Wiraprana dan Mahisa Agni pun berjalan maju. Dan ketiga anak muda itu kini telah berdiri benar-benar di tengah jalan, seakan-akan mereka ingin menutup jalan itu, supaya Wiraprana tidak lewat melampauinya.



Tiba-tiba mereka mendengar salah seorang dari anak muda itu bertanya, “Adakah di antara kalian bernama Wiraprana.”

“Hem,” Agni menarik nafas, “jarak mereka masih cukup jauh. Kenapa anak muda itu berteriak-teriak?”

Tetapi Wiraprana itu pun menjawab juga, “Ya, akulah Wiraprana.”

“Bagus,” sahut suara itu, “aku adalah Mahendra. Ternyata kau jantan juga.”

“Oh,” desah Mahisa Agni. Kemudian ia berbisik, “Sambutan yang benar-benar menyenangkan.”

Wiraprana menggigit bibirnya. Kemudian gumamnya, “Aku tidak peduli, apa yang akan dilakukan . Aku harus menemuinya.”

Namun Mahisa Agni pun sekali lagi menggamitnya. Dan ketika mereka berhenti, mereka tiba-tiba terkejut. Mahendra telah mulai menggertak dengan gerakan yang mengagumkan. Sekali ia meloncat, dan diraihnya sebuah cabang pohon cangkring yang tegak di tepi jalan. Dengan satu renggutan, cabang itu patah berderak-derak. Kemudian dengan lantangnya ia berkata,

“Aku telah mendapat senjata, apa senjatamu?”

Mahisa Agni dan Wiraprana masih tegak di tempatnya. Dada mereka pun menjadi berdebar-debar karenanya. Maka bisik Mahisa Agni, “Apakah mereka dapat diajak berbicara?”

“Apakah sebenarnya yang mereka kehendaki,” gumam Wiraprana.

“Perkelahian,” sahut Mahisa Agni.

“Hem,” Wiraprana menarik nafas, “Akan aku coba untuk menghindarkannya.”

“Tak mungkin,” jawab Agni, “kau lihat sendiri, apa yang telah dilakukannya.”

“Mengagumkan,” desahnya, “setan manakah yang telah memberinya kekuatan.”

Sejenak mereka berdiam diri. Wiraprana pun menjadi bimbang. Kekuatan yang ditunjukkan Mahendra benar-benar mengejutkan. Anak muda itu tidak kalah berbahayanya dari Kuda Sempana. Tetapi kini ia tidak dapat menggantungkan diri kepada orang lain. Ken Dedes adalah tanggung jawabnya. Apapun yang terjadi, namun tidak sepantasnya ia bergantung kepada Mahisa Agni seperti pada saat ia di lumpuhkan oleh Kuda Sempana. Namun meskipun demikian Wiraprana masih berpikir,

“Tidakkah aku dapat menemuinya dan berbicara dengan baik?”

Wiraprana terkejut ketika dengan lantang Mahendra itu berkata, “Siapakah di antara kalian yang bernama Wiraprana. Marilah kita berkenalan. Inilah Mahendra yang sudah kau hinakan. Apakah benar-benar kau berhak berbuat demikian.”

Sekali lagi dada Wiraprana berguncang. Namun ia tidak dapat berbuat lain daripada menyambutnya. Sedang Mahisa Agni masih berdiri seperti patung. Dengan melihat kekuatan Mahendra, maka Mahisa Agni segera dapat mengetahuinya, bahwa Mahendra adalah seorang yang luar biasa. Bahkan mungkin melampaui Kuda Sempana. Namun dalam pada itu, suara di relung hatinya yang jauh, kembali terdengar mengganggunya,

“Biarkan saja Agni, biarlah.”

Di depan mereka kembali terdengar Mahendra bertanya, “Ayo, yang manakah yang bernama Wiraprana?”

Hampir saja Wiraprana melangkah maju dan menjawab pertanyaan itu. Tetapi ia terkejut bukan kepalang. Bahkan ia menjadi bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Yang dirasakannya, adalah tangan Mahisa Agni menahannya, kemudian mendorongnya ke samping. Kemudian sahabatnya itulah yang melangkah maju sambil menjawab lantang,

“Inilah Wiraprana.”

“Ha,” sahut Mahendra, “ternyata kau benar-benar jantan. Majulah. Kita melihat, apakah benar-benar kau berhak menghinakan Mahendra. Kalau kau berhasrat meniadakan hadirnya Mahendra dalam kehidupan Ken Dedes, maka seharusnya kau berkenalan dengan orang itu. Nah. jangan buang-buang waktu. Apakah senjatamu?”

“Oh. Apakah aku harus bersenjata? Aku tak tahu, apakah gunanya senjata. Bukankah kita tidak memerlukannya. Mahendra, aku ingin mempersilakan kau datang ke rumahku. Bukankah perkenalan itu menjadi lebih akrab.”

Meskipun Mahisa Agni hampir yakin, bahwa Mahendra tidak dapat diajaknya berbicara, namun ia mencobanya juga, seperti apa yang akan dilakukan oleh Wiraprana, supaya anak itu menyalahkannya kelak. Tetapi ternyata, Mahendra yang sejak dari rumahnya sudah dibekali oleh hasrat untuk berkelahi dan memamerkan kelebihannya dari anak-anak muda sebayanya, tak mau mendengarkannya. Yang ada di dalam dadanya adalah, memaksa Wiraprana untuk membatalkan niatnya, memetik bunga di kaki Gunung Kawi itu.

Karena itu, ketika ia mendengar jawaban Mahisa Agni, ia menyahut, “Wiraprana, aku datang dari Tumapel untuk melihat, betapa anak Panawijen mampu menjaga kembang di halamannya. Ayo, jangan merengek seperti anak-anak. Aku sudah siap dengan dahan ini.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekali ia berpaling kepada Wiraprana, seakan-akan berkata, “Nah, kau lihat? Orang itu benar-benar tidak dapat diajak berbicara.”

Wiraprana masih tegak mematung. Berbagai perasaan bergolak di dalam dadanya. Tetapi ia tidak dapat melangkah surut. Namun Agni itu pun telah melangkah pula beberapa langkah maju. Katanya untuk meyakinkan dirinya sendiri dan Wiraprana,

“Mahendra, aku hormati kedatanganmu. Seorang yang berhati jantan dan penuh dengan rasa harga diri. Namun perkelahian tak akan dapat mengubah hati seseorang. Apakah kalau kau memenangkan perkelahian ini dengan tiba-tiba saja hati gadis itu tertarik kepadamu?”

“Ha,” sahut Mahendra, “ternyata aku salah sangka. Aku kira kau adalah seorang laki-laki jantan. Ternyata kau seorang banci yang tak tahu diri. Wiraprana, seorang gadis pun pasti akan dapat menghargai kejantanan. Nilai seseorang juga dapat ditentukan dengan nilai-nilainya sebagai seorang laki-laki.”

“Mahendra,” jawab Agni, “nilai-nilai kemanusiaan pasti akan lebih tinggi dari setiap bentuk perbuatan kita. Ingatlah, gadis itu adalah putri seorang pendeta? Apakah ia akan dapat menghargai kekasaran dan kekerasan jiwa, betapa pun dapat dikatakan sebagai sikap kejantanan?”

“Omong kosong!” bantah Mahendra, “kau jangan menggurui aku. Jangan kita bicarakan lagi perasaan orang lain. Marilah kita bicarakan nilai-nilai kita sendiri. Ayo, Wiraprana, katakanlah bahwa kita akan bertaruh. Siapa yang kalah, harus melepaskan niatnya untuk mendapatkan gadis itu.”

Tiba-tiba dada Agni itu seperti terbakar mendengar kata-kata Mahendra, Ken Dedes seakan-akan dianggapnya sebagai benda yang mati, yang hanya dapat dijadikan barang taruhan. Dan tiba-tiba pula, Mahisa Agni lupa pada keadaannya. Seakan-akan dirinya sendirilah yang kini sedang mempertahankan gadis yang dicintainya itu dari kerakusan hati seorang laki-laki. Karena itu, maka gigi Mahisa Agni terkatup rapat, dan matanya memancarkan sinar kemarahan yang membakar jantung. Ketika ia melihat Mahendra itu melangkah maju. Agni pun maju pula beberapa langkah sambil menggeram,

“Mahendra. Jangan kau hinakan gadis itu. Ken Dedes bukan sekedar barang taruhan. Nilainya sama dengan nilai nyawaku sendiri.”

Dada Mahendra berdesir mendengar kata-kata Mahisa Agni itu. Ternyata laki-laki yang disangkanya Wiraprana itu benar-benar jantan. Dilihatnya Mahisa Agni telah benar-benar bersiap untuk bertempur.

“Pasti ia akan bertempur mati-matian,” berkata Mahendra di dalam hatinya. Tetapi ia sendiri sudah lama bersiap. Sejak ia berangkat dari Tumapel, telah bulat tekad di dalam dadanya. Bertempur.

“Apakah yang dapat dilakukan oleh anak-anak desa seperti Wiraprana itu,” pikirnya, “Ia hanya memiliki keberanian, tetapi ia tidak akan mampu melihat, bahwa Mahendra adalah seorang anak muda yang tidak saja memiliki kekuatan tubuh, namun memiliki pula pengetahuan yang luas dalam tata perkelahian.”

Maka terdengar sekali lagi Mahendra berkata, “Ayo, Wiraprana, mana senjatamu?”

Agni menggeleng. Sahutnya, “Tak ada gunanya senjata bagiku.”

Dada Mahendra menggelegar mendengar jawaban itu. Benar-benar suatu penghinaan. Anak desa Panawijen itu begitu sombongnya sehingga dengan beraninya ia melawannya tanpa senjata. Karena itu Mahendra pun berteriak pula,

“Baik. Kau takut melihat senjata.”

Dan terkejutlah mereka yang menyaksikan. Dahan kayu cangkring itu dengan serta-merta ditekankannya pada lututnya dan patah berderak-derak. Kemudian kedua potongan itu pun dilemparkannya jauh-jauh. Demikian jauhnya sehingga mereka tidak dapat melihat lagi, di mana kedua potongan kayu itu terjatuh. Benda-benda itu seakan-akan terbang dan lenyap ditelan awan yang kelam.

Wiraprana melihat semuanya itu dengan dada yang berdebar-debar. Sebuah pameran kekuatan yang mengerikan. Dan kini ia merasakan kebenaran kata-kata Mahisa Agni. Laki-laki yang sedang dibakar oleh kekecewaan yang berlebih-lebihan itu tak dapat diajaknya berbicara.

Mahendra dan Mahisa Agni itu pun kini telah maju pula beberapa langkah. Dengan dada yang bergelora oleh kemarahan yang membakar dada masing-masing, mereka mempersiapkan diri. Kedua orang saudara seperguruan Mahendra pun kini telah berdiri berseberangan. Mereka memperhatikan keadaan dengan seksama. Sedang Wiraprana pun telah berdiri mendekat. Seperti tonggak ia tegak di tengah-tengah jalan.

“Nah,” berkata Mahendra, “berjanjilah. Siapakah yang kalah di antara kita, akan membatalkan niatnya.”

“Persetan dengan igauan itu!” sahut Agni dengan marah.

“Kau menolak perjanjian itu?”

“Sudah aku katakan, Ken Dedes bukan barang taruhan.”

“Bagus, kalau demikian nyawa kita yang kita pertaruhkan.”

“Mahendra!” tiba-tiba terdengar salah seorang saudara seperguruan itu mencegahnya, “Jangan!”

Tetapi Mahendra tidak mendengarnya. Apalagi ketika kemudian Agni pun menjawab, “Bagus. Lebih baik nyawa kita, kita pertaruhkan.”

Mahendra telah benar-benar kehilangan pengamatan diri. Demikian ia mendengar jawaban Mahisa Agni, segera ia melontarkan diri dengan cepatnya menyerang lawannya. Namun Mahisa Agni pun telah bersiap pula. Karena itu, dengan tangkasnya pula ia berhasil membebaskan dirinya dari serangan itu. Namun Mahendra yang sedang dibakar oleh kemarahannya, segera melepaskan serangan beruntun. Geraknya sedemikian cepat dan lincah, dilambari oleh suatu keyakinan, bahwa tulang-tulang lawarnya, anak desa Panawijen yang disangkanya hanya mengenal cangkul dan bajak itu, akan segera dipatahkannya.

Tetapi Mahendra terkejut. Betapa anak desa itu dengan kecepatan yang mengagumkan, selalu berhasil mengelakkan serangan-serangannya. Karena itu, Mahendra menjadi semakin marah. Dilepaskannya serangan-serangan yang semakin berbahaya, menyambar-nyambar ke segenap bagian tubuh Mahisa Agni. Sehingga sesaat kemudian Mahendra itu pun seakan-akan tinggal sebuah bayang-bayang yang melontar melingkar-lingkar dengan cepatnya.

Tetapi lawannya adalah Mahisa Agni, Seorang anak muda yang hampir sempurna dalam menekuni ilmu yang mengalir dari gurunya, Empu Purwa. Karena itu, betapapun juga, Mahisa Agni menghadapinya dengan ketabahan dan ketenangan. Lawannya yang melandanya seperti angin pusaran itu tidak berhasil membingungkannya. Bahkan, Mahisa Agni semakin lama menjadi semakin tangguh. Setangguh seekor banteng muda yang perkasa.

Demikianlah kedua anak muda itu bertempur semakin lama semakin sengit. Mahendra adalah seorang anak muda yang berhati keras dan memiliki harga diri yang berlebih-lebihan. Namun setelah ia bertempur beberapa saat, terasa bahwa lawannya, anak desa Panawijen itu bukan sekadar anak-anak yang hanya mampu menggerakkan cangkul saja, tetapi anak itu ternyata memiliki bekal yang cukup untuk melawannya. Karena itu, kemarahan Mahendra menjadi semakin menyala.

“Gila!” umpatnya di dalam hati, “anak ini benar-benar melawan dengan kemampuan yang baik.”

Tetapi Mahendra telah bertekad untuk bertempur mati-matian. Telah dibulatkannya tekad di dalam hatinya. Anak Panawijen itu harus dilumpuhkannya, Apabila terpaksa anak itu terbunuh karenanya, maka beberapa saksi telah mendengar, adalah menjadi persetujuan mereka berdua, bertempur sampai mati. Itulah sebabnya Mahendra kemudian mengerahkan segala kemampuan yang ada padanya, apapun yang akan terjadi dengan lawannya. Apakah lawannya itu akan hancur lumat, atau akan luluh sekali pun.

Tetapi kedua saudara seperguruan Mahendra itu melihat suatu keanehan pada lawan Mahendra itu. Betapapun Mahendra menyerangnya, namun lawannya itu selalu dapat menghindarkan dirinya, dan bahkan semakin lama tampaklah betapa anak Panawijen itu dapat bergerak semakin cepat.

Mahisa Agni ternyata kemudian tidak membiarkan dirinya dihujani oleh serangan-serangan beruntun. Ketika ia telah berhasil melihat, titik-titik kekuatan dan titik-titik kelemahan lawannya, segera ia mulai dengan serangan-serangannya yang membadai. Kini keduanya bertempur dengan riuhnya. Semakin lama semakin seru. Mahendra akhirnya merasa perlu untuk menunjukkan kekuatan-kekuatan tubuhnya, sehingga dengan sengaja ia membenturkan kekuatannya dengan serangan Mahisa Agni yang datang seperti tatit menyambarnya.

Mahisa Agni, yang sedang menyerang lawannya itu melihat, bahwa Mahendra sama sekali tak berusaha menghindari serangannya. Karena itu, segera Mahisa Agni tahu, bahwa anak muda dari Tumapel itu siap melawan serangannya dengan kekuatannya yang penuh. Maka Mahisa Agni pun segera memusatkan tenaganya untuk menggempur lawannya.

Terjadilah kemudian suatu benturan kekuatan yang dahsyat. Sedang akibatnya pun mengejutkan pula. Mahisa Agni terdorong beberapa langkah surut. Dengan susah payah ia mempertahankan keseimbangan tubuhnya, sehingga ia tidak terpelanting jatuh. Sedang akibat yang dialami oleh Mahendra ternyata lebih berat daripadanya. Anak muda itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian terbanting di tanggul parit di tepi jalan. Ketika Mahendra mencoba untuk melenting berdiri, kaki kirinya terperosok dan tergelincir masuk ke dalam air.

Sesaat kemudian Mahendra telah tegak berdiri di dalam parit dengan pakaian yang basah kuyup. Tubuhnya yang kokoh itu menggigil. Bukan karena kedinginan, tetapi karena kemarahan yang meluap di dalam dadanya. Maka terdengarlah anak muda itu menggeram,

“Dahsyat kau Wiraprana. Namun aku telah berjanji, nyawa kita menjadi taruhan. Nah, marilah kita mengadu keprigelan olah senjata.”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia maju selangkah ketika dilihatnya Mahendra dengan lincahnya meloncat ke atas tanggul di tepi jalan. Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika dilihatnya Mahendra menggenggam senjata di tangannya. Sebilah keris yang seakan-akan dapat menyala di malam hari. Ketika Agni masih berdiam diri, terdengar sekali lagi Mahendra menggeram,

“Carilah senjata!”

Mahisa Agni tidak membawa senjata. Tetapi menilik nafsu lawannya yang meluap-luap agaknya ia benar-benar harus bertempur mati-matian. Belum lagi Mahisa Agni tahu, apa yang dilakukan, tiba-tiba Mahendra meloncat dengan tangkasnya ke arah salah seorang temannya, dan terdengarlah ia berkata lantang,

“Berikan kerismu!”

Kawannya terkejut. Sama sekali tak diduganya, Mahendra akan menarik kerisnya dengan serta-merta. Karena itu ia tidak dapat mencegahnya, sehingga dengan demikian di kedua sisi tangan Mahendra tergenggam dua bilah keris.

“Wiraprana,” berkata Mahendra, “pilihlah, manakah yang kau sukai?”

Mahisa Agni menggeleng. Katanya, “Aku tidak pandai memilih.”

“Jangan merajuk,” sahut Mahendra, “sebelum kau terbunuh, aku beri kesempatan kau berbuat yang sama. Supaya perkelahian ini adil dan jujur.”

Mahisa Agni memandang kedua senjata itu dengan seksama. Keduanya adalah senjata-senjata yang baik. Karena itu maka dijawabnya, “Kalau kau ingin bertempur dengan senjata, Mahendra. Berikan kepadaku, mana yang tidak kau sukai.”

Kemarahan Mahendra menjadi semakin memuncak. Dengan wajah yang menyala ia berkata, “Bagus. Inilah!”

Dengan baiknya Mahendra melemparkan keris di tangan kirinya kepada Mahisa Agni. Senjata itu meluncur cepat, dan dengan baiknya pula Mahisa Agni berhasil menangkapnya. Demikian tangan Agni menggenggam keris itu, demikian ia mendengar Mahendra berkata lantang,

“Kita tentukan nasib kita sebelum fajar.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Dipandangnya lawannya dengan tajamnya. Dilihatnya setiap geraknya dan didengarnya setiap kata-katanya. Anak itu benar-benar anak yang memiliki keteguhan hati, namun sayang, agaknya ia masih terlalu muda. Terlalu muda dalam menanggapi setiap persoalan meskipun umurnya sebaya dengan umurnya sendiri.

Mahisa Agni melihat Mahendra telah siap untuk menyerangnya. Karena itu ia pun segera bersiap pula. Sesaat kemudian dilihatnya anak muda dari Tumapel itu meluncur menyerangnya, langsung mengarah ke dadanya. Dengan tangkasnya Mahisa Agni mengelakkan serangan itu. Tangannya sendiri pun mampu mempermainkan segala jenis senjata. Maka keris di tangannya itu pun menjadi sangat berbahaya karenanya.

Kembali perkelahian itu menjadi sengit. Kira mereka sudah sampai ke puncak ilmu masing-masing. Mereka menyerang dalam setiap kesempatan. Setiap gerak masing-masing benar-benar diperhitungkan, sehingga setiap gerak tangan mereka seakan-akan mereka menaburkan biji kematian.

Malam pun semakin lama menjadi semakin dalam membenam dalam tambah banyak. Namun mereka berdua yang sedang bertempur itu masih saja bertempur dengan sepenuh tenaga. Tetapi semakin lama, betapapun Mahendra memiliki kekuatan melampaui kekuatan tangan sesamanya serta ketangkasannya olah senjata, namun kini ia bertemu dengan anak muda yang sama sekali tak diduganya. Anak muda yang disangkanya hanya mampu mengayunkan cangkul itu ternyata memiliki ketangguhan dan kelincahan yang luar biasa.

Demikianlah Mahendra harus melihat kenyataan. Keris di tangan Mahisa Agni itu seakan-akan mematuknya dari segenap penjuru. Bahkan seakan-akan menjadi bersayap dan menyambar-nyambarnya dengan dahsyatnya. Mahisa Agni tidak saja menyerang dengan tangan kanannya, namun keris itu seperti meloncat-loncat dari satu tangan ke tangan lainnya dan dengan cepatnya pula meluncur ke perut lawannya.

Dengan demikian maka mau tidak mau Mahendra lebih banyak bertahan daripada menyerang. Setiap kali ia terpaksa melangkah surut, menghindari sentuhan keris kawannya di tangan Mahisa Agni. Karena ia pun menyadarinya, sentuhan keris itu pasti akan berakibat maut, seperti seandainya ia berhasil menyentuh tubuh lawannya. Namun karena keduanya harus berhati-hati dan menghindari setiap sentuhan, maka perkelahian itu seakan-akan tidak akan berakhir. Seperti anak-anak yang asyik dengan permainan yang menyenangkan sehingga mereka lupa segala-galanya.

Tetapi semakin lama, menjadi semakin jelas, bahwa perkelahian itu akan menuju ke akhirnya. Ternyata semakin lama Mahendra semakin terdesak. Mahisa Agni seolah-olah menyimpan nafas rangkap di dadanya, sehingga ketika lawannya telah mulai diganggu oleh pernafasannya, maka Agni pun masih tetap segar sesegar ketika mereka baru mulai.

Mahendra yang mencoba untuk bertahan mati-matian itu, benar-benar telah memeras tenaganya, sehingga segenap kekuatannya telah dicurahkannya. Dengan demikian, maka tenaganya itu pun lebih dahulu surut daripada Mahisa Agni. Meskipun demikian, Mahendra yang keras hati itu masih saja bertempur mati-matian. Ia sudah bertekad mempertaruhkan nyawanya. Dan akan diakhirinya perkelahian ini dengan jantan.

Tetapi Mahisa Agni pun bertempur dengan seluruh kemampuannya. Sehingga anak muda itu benar-benar dapat bergerak secepat sikatan menyambar belalang namun mampu pula bertahan setangguh batu karang. Maka akhirnya ternyatalah bahwa Mahisa Agni mampu menguasai lawannya. Dengan suatu tusukan rendah, Agni memaksa lawannya untuk menghindar ke samping, namun Agni kemudian memutar kerisnya dan menyambar lambung.

Mahendra melihat sambaran yang cepat itu. Dihindarinya keris itu dengan memutar tubuhnya, dan ketika Agni belum sempat menarik tangannya, Mahendra berusaha menggurat pergelangan tangan Agni dengan ujung kerisnya. Tetapi Agni dapat bergerak melampaui lawannya, sehingga tangannya dapat dibebaskannya, bahwa dengan tak terduga-duga, tangan kiri Agni dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan Mahendra.

Sambaran tangan itu demikian cepat dan kerasnya, sehingga Mahendra tidak sempat mengelakkannya. Terdengarlah sebuah seruan tertahan dan dalam pada itu semua mata yang mengikuti perkelahian itu melihat dengan dada yang gemuruh. Keris Mahendra terlepas dari tangannya. Mahendra sendiri terkejut bukan buatan, sehingga ia melangkah surut. Namun Agni segera meloncat dan ujung kerisnya telah melekat di dada lawannya.

Kini keduanya tegak dengan tegangnya. Mahendra menunggu apa yang akan dilakukan oleh Mahisa Agni. Sedang saudara-saudara seperguruannya pun tegak seperti patung. Demikian pula Wiraprana. Perasaannya telah bergelora dan seakan-akan menjadi sedemikian kacaunya, sehingga ia tidak mampu untuk melakukan sesuatu apapun. Mahisa Agni berdiri tegak dengan keris di dalam genggamannya. Ujungnya masih mengarah ke dada lawannya.

“Apa yang kau tunggu,” geram Mahendra. Meskipun ia tidak bergerak, namun matanya menyalakan kemarahan yang membakar dadanya.

Tetapi Mahisa Agni tetap tidak bergerak. Ketika ia memandang wajah Mahendra yang membara itu, seakan-akan dilihatnyalah wajahnya sendiri pada saat ia mendengar pengakuan Ken Dedes kepada ibunya.

“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

Perasaan itu sangat mengganggunya. Karena itu maka kemarahannya pun menjadi semakin susut. Ia akan dapat melakukan apa saja yang dikehendaki atas anak muda yang bernama Mahendra itu. Tetapi apakah akan dilakukannya? Sesaat Mahisa Agni terbenam dalam kebimbangan. Dan sesaat itu dilihat oleh Mahendra. Mahendra adalah seorang anak muda yang keras hati. Karena itu, ketika dilihatnya wajah Agni yang ragu, Mahendra dapat mempergunakannya dengan sebaik-baiknya. Dengan tidak disangka-sangka oleh Mahisa Agni. Mahendra dengan cepatnya merendahkan dirinya, dan dengan satu tendangan yang keras pada pergelangan tangan Agni, maka Mahendra telah berhasil melemparkan keris di tangan lawannya.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar