MENU

Ads

Selasa, 10 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 014

Mahisa Agni terkejut bukan main. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa hal itu akan dilakukan oleh Mahendra. Karena itu maka ia tidak kuasa untuk mempertahankan kerisnya. Dilihatnya keris itu melambung tinggi dan kemudian jatuh beberapa langkah daripadanya. Tetapi Agni tidak sempat berbuat lain, karena Mahendra telah mulai menyerangnya beruntun dengan kakinya. Untunglah bahwa Mahisa Agni adalah seorang anak muda yang terlatih matang. Dengan demikian, meskipun dengan lontaran yang panjang ia berhasil membebaskan dirinya dari serangan Mahendra yang mengalir seperti banjir bandang. Mahisa Agni menjadi semakin terkejut pada saat ia mendengar salah seorang kawan Mahendra itu berkata nyaring,

“Mahendra, inilah senjatamu!”

Mahisa Agni masih sempat melihat anak muda itu meloncat dengan tangkasnya memungut keris Mahendra yang terlepas, kemudian dilontarkannya kepada Mahendra. Dada Mahisa Agni berdesir melihat kecurangan itu. Tetapi ia dikejutkan pula oleh kawan Mahendra yang seorang lagi. Anak muda itu pun meloncat dengan lincahnya, lebih lincah dari yang lain. Tangannya dengan cepatnya menyambar keris yang sedang meluncur ke arah Mahendra itu. Ketika keris itu sudah ditangkapnya, terdengar ia berkata,

“Jangan Kebo Ijo!”

Semuanya terkejut melihat peristiwa-peristiwa yang berturut-turut itu. Mahisa Agni, Mahendra dan anak muda yang disebutnya Kebo Ijo dan Wiraprana. Anak muda yang menyambar keris itu berdiri tegak di antara mereka sambil memandang berkeliling. Katanya,

“Jangan menodai nama perguruan kami.”

“Bukankah itu keris Mahendra sendiri,” bantah Kebo Ijo.

“Keris itu sudah terlepas dari tangannya. Biarlah ia memungut kerisnya sendiri apabila mampu.”

Mahendra memandang saudara seperguruannya itu dengan penuh pertanyaan. Apakah sudah tidak ada rasa kesetiakawanan lagi di antara mereka. Maka katanya,

“Apakah salahnya ia menolong aku?”

“Tidak adil,” sahut anak muda itu, “akulah yang tertua di antara kalian. Aku tidak rela melihat kecurangan itu. Meskipun aku bersedih karena Mahendra tidak dapat memenangkan perkelahian ini, namun aku akan lebih bersedih lagi, apabila kalian berbuat curang.”

Mahendra tidak menjawab dan Kebo Ijo itu pun menundukkan wajahnya. Kemudian terdengar anak muda itu berkata kembali, “Mahendra kau kalah.”

Mendengar kata-kata kakak seperguruannya, yang seakan-akan merupakan keputusan tentang kekalahannya itu, wajah Mahendra menjadi merah membara. Terdengar giginya gemeretak dan matanya seakan-akan memancarkan api. Maka jawabnya,

“Kakang, aku masih hidup. Kekalahan bagiku hanya ditandai dengan kematian.”

Kakak seperguruannya itu menarik alisnya, katanya, “Kau benar-benar seorang anak muda yang berani Mahendra, yang tak mengenal takut meskipun menghadapi kematian sekali pun. Namun keberanianmu itu belum sempurna. Kau masih memiliki ketakutan.”

“Tidak!” sahut Mahendra, “Aku tidak takut apapun yang terjadi. Sudah aku katakan, mati pun aku tidak takut. Apalagi? Apakah yang lebih jauh dari mati itu?”

Kakak seperguruannya menarik nafas. Katanya, “Mahendra, kau masih takut melihat kenyataan.”

Mahendra tersentak mendengar jawaban itu. Dipandanginya wajah kakak seperguruannya dengan tajamnya, namun ketika kakak seperguruannya itu memandang langsung ke biji matanya, maka Mahendra pun menundukkan wajahnya.

“Mahendra,” berkata kakaknya itu pula, “seorang yang jantan tidak perlu membunuh dirinya dalam perkelahian. Seorang yang berjiwa besar harus dapat melihat kenyataan. Dan kenyataan yang terjadi sekarang, kau kalah. Apakah yang lebih jantan dari melihat kenyataan itu? Adakah yang lebih besar dari mengakui kekalahan? Mahendra, kaudapat bertempur mati-matian, bahkan sampai tetes darahmu yang terakhir. Namun dalam persoalan yang berbeda. Persoalan di mana hakmu dilanggar oleh sesama. Tetapi sekarang kau menghadapi persoalan yang lain. Hakmu dan hak Wiraprana itu sama jauhnya. Bahkan secara jujur harus kau akui, bahwa hak Wiraprana untuk berkelahi lebih besar dari padamu.”

Mahendra tidak menjawab. Wajahnya yang membara itu pun menjadi semakin tunduk. Namun hatinya masih juga bergelora. Sedang Kebo Ijo tidak begitu senang mendengar kata-kata kakak tertuanya itu. Katanya,



“Kakang, Mahendra datang lebih dahulu kepada gadis itu. Apakah bukan haknya untuk mempertahankannya. Bukankah dengan demikian Wiraprana telah merampas masa depannya?”

“Bukan salah Wiraprana,” sahut kakak seperguruannya itu, “apakah Mahendra datang yang pertama kepada gadis itu. Kalau ada orang lain yang lebih dahulu, apakah Mahendra tidak melanggar haknya pula?”

Kebo Ijo terdiam. Namun usianya yang muda itu masih belum dapat mengerti kata-kata kakak seperguruannya. Bahkan dengan agak memaksa ia kemudian berkata,

“Perkelahian ini belum selesai. Wiraprana datang berdua. Biarlah kami berdua melawannya.”

“Bagus,” sambut Mahendra.

Kakak seperguruannya ternyata seorang yang berpandangan tajam. Segera ia mengetahui, bahwa kawan anak muda yang disangkanya bernama Wiraprana itu tidak memiliki kemampuan berkelahi seperti Kebo Ijo dan Mahendra. Karena itu maka sekali lagi ia menyesal atas sikap adik-adik seperguruannya itu. Maka katanya,

“Tidak ada gunanya. Kawan Wiraprana itu tak mempunyai sangkut paut dengan perkelahian ini.”

“Ada,” sahut Kebo Ijo, “ia datang bersama Wiraprana, seperti aku datang bersama Mahendra. Meskipun tak ada persoalan apapun dengan gadis itu, biarlah kita melihat, apakah perguruan kami tidak mampu melawan anak-anak Panawijen yang sombong itu.”

Dada Wiraprana pun berdebar-debar pula. Telah dilihatnya, betapa Mahendra mampu bertempur seperti seekor harimau lapar. Maka saudara seperguruannya itu pun pasti tidak terpaut jauh. Apabila ia harus melawannya, maka apakah yang dapat dilakukan? Namun Wiraprana tidak takut menghadapi apapun, meskipun ia sadar, bahwa pada serangan yang pertama, pasti ia sudah tidak akan dapat bangkit kembali. Tetapi Wiraprana itu terkejut mendengar jawaban saudara seperguruan Mahendra. Bukan saja Wiraprana, tetapi Mahisa Agni, dan bahkan Mahendra dan Kebo Ijo sendiri. Katanya,

“Kebo Ijo, kalau kau akan memaksakan perkelahian, karena hanya kau ingin berkelahi, maka baiklah kita hadapkan kalian berdua dengan Wiraprana berdua. Tetapi Wiraprana berdua dengan aku sendiri.”

“Kakang?” potong Kebo Ijo, “Apakah katamu itu?”

“Aku di pihak Wiraprana,” sahut arak muda itu, “biarkan kawan Wiraprana menjadi saksi.”

Kebo Ijo dan Mahendra terdiam. Betapa ia melihat kakak seperguruannya itu benar-benar marah kepada mereka. Karena itu maka mereka pun menundukkan wajah-wajah mereka.

Dalam pada itu dada Mahisa Agni pun bergelora melihat sikap yang mengagumkan itu. Sikap yang benar-benar jantan. Tidak saja jantan dalam menghadapi bahaya apapun namun kejantanan dalam menghadapi kebenaran. Diam-diam Mahisa Agni bergumam di dalam hatinya,

“Sebenarnyalah lebih mudah menghadapi kematian daripada menghadapi kebenaran.”

Sesaat mereka dicengkam kesepian. Kesepian yang tegang. Namun tiba-tiba terdengar kakak seperguruan Mahendra itu berkata, “Marilah kita pulang! Persoalanmu sudah selesai Mahendra.”

Mahendra dan Kebo Ijo saling berpandangan. Namun mereka tidak berkata apapun. Per lahan-lahan mereka memungut keris yang masih tergeletak di tanah, dan kemudian berjalan ke kuda-kuda mereka, dan kakak seperguruan Mahendra itu pun berkata kepada Mahisa Agni,

“Selamat tinggal. Mudah-mudahan kau berbahagia. Kembang di kaki gunung Kawi itu telah mendapatkan juru taman yang tangguh dan berhati jantan. Selamat.”

Mahisa Agni melihat anak muda itu pun kemudian berjalan meninggalkannya. Ketika mereka bertiga meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan lenyap ditelan gelap malam, maka gemuruhlah dada Mahisa Agni. Pesan kakak seperguruan Mahendra itu menghantam dadanya melampaui tangan Mahendra. Kini ia sadar, bahwa apa yang dilakukan itu, bukanlah untuk dirinya sendiri. Ia telah mempertahankan Ken Dedes dengan bertaruh nyawa. Tetapi nama yang dipergunakannya adalah Wiraprana. Ya, Wiraprana. Tiba-tiba wajah Mahisa Agni pun terkulai dengan lemahnya. Tetapi tiba-tiba Mahisa Agni terkejut mendengar tegur Wiraprana,

“Agni, sungguh mengagumkan.”

Perlahan-lahan Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya wajah Wiraprana yang tegang memandang jauh ke dalam gelap, ke arah anak-anak muda dari Tumapel itu lenyap. Sesaat kemudian Wiraprana itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam,

“Bukan main. Aku menjadi bertanya-tanya di dalam hati, betapa kecilnya Wiraprana berada di antara kau dan anak-anak itu.”

“Semuanya sudah lampau. jangan kau pikirkan lagi, Prana,” jawab Agni, “Masa-masa berbahaya telah lewat. Apakah masih ada di antara mereka yang akan datang pula seperti Mahendra? Aku sangka tidak. Dan mudah-mudahan sebenarnya tidak.”

“Agni,” perlahan-lahan terdengar Wiraprana berkata, namun terasa memancar dari sudut hatinya yang paling dalam, “telah dua kali kau menyelamatkan nyawaku.”

“Jangan kau sebut-sebut itu Prana. Adalah menjadi kewajibanku untuk menyelamatkan hubunganmu dengan adikku itu,” jawab Agni. Wiraprana tidak menjawab. Matanya yang selalu riang, kini tampak sayu. “Marilah kita pulang, Prana. Lupakan semuanya,” ajak Agni.

Wiraprana tidak menjawab. Tetapi ia melangkah perlahan-lahan di samping Agni. Mereka berjalan pulang ke rumah Ki Buyut Panawijen. Malam yang sudah semakin malam itu ditandai oleh kokok ayam jantan bersahut-sahutan. Angin yang dingin mengalir perlahan menggerakkan daun-daun padi yang basah oleh embun. Di kejauhan terdengar lamat-lamat bunyi kentongan beruntun.

“Tengah malam,” gumam Mahisa Agni.

Wiraprana mengangkat wajahnya. Dilihatnya bintang-bintang di langit berhamburan seakan-akan biji-biji mutiara yang ditaburkan di atas permadani yang biru gelap. Bulan tua masih tampak bertengger di ujung gunung. Cahayanya yang suram memancar kekuning-kuningan mewarnai dedaunan yang hijau. Ketika mereka hampir memasuki desa Panawijen, tiba-tiba Wiraprana berhenti. Dengan pandangan yang suram ditatapnya wajah Mahisa Agni. Kemudian terdengar ia berkata lirih,

“Agni. Adakah aku berhak atas gadis itu?”

Mahisa Agni terkejut. Katanya, “Apa yang sedang kaupikirkan Wiraprana? Persoalanmu sudah selesai. Jangan membuat persoalan-persoalan baru.”

Wiraprana menundukkan wajahnya. Dan tiba-tiba ia berkata, “Agni, bukankah gadis itu bukan adikmu.” Dada Agni pun menjadi berdebar-debar karenanya. Dan didengarnya Wiraprana meneruskan, “Agni. Tidakkah pernah timbul di dalam hatimu untuk mengubah hubunganmu dengan gadis itu? Tidak sebagai kakak beradik seperti sekarang ini?”

“Prana!” potong Agni. Namun terasa betapa nafasnya menekan jantungnya. Katanya kemudian, “Jangan mempersulit keadaanmu. Jangan berpikir tentang sesuatu yang tak pernah ada. Prana, aku adalah kakaknya. Meskipun aku bukan kakak yang dilahirkan dari kandungan seorang ibu yang sama, namun demikianlah keadaan kami sekarang. Berapa tahun aku tinggal di rumah itu sebagai seorang anak yatim piatu, di bawah asuhan Empu Purwa yang baik hati. Dijadikannya aku anak laki-lakinya yang tunggal dan dipersaudarakannya aku dengan Ken Dedes. Nah, Wiraprana. Apakah dengan demikian Ken Dedes itu bukan adikku? Adakah dengan demikian akan dapat timbul di dalam hatiku untuk memutuskan ikatan persaudaraan itu menjadi ikatan yang lain?”

Agni menekankan kata demi kata untuk meyakinkan kebenaran pendapatnya itu. Namun sebenarnya, kata-kata itu lebih banyak ditujukan kepada dirinya sendiri. Dicobanya untuk menekan hatinya yang bergolak dengan kata-katanya itu. Wiraprana menundukkan wajahnya dalam-dalam. Namun ia tidak bertanya-tanya lagi. Hanya nafas mereka berdualah yang terdengar di antara gemeresik daun-daun ditiup angin,

“Marilah kita pulang, Prana,” ajak Agni.

Wiraprana mengangguk, dan kembali mereka berjalan memasuki jalan yang gelap oleh rimbunnya daun-daun di atas mereka. Hanya kadang-kadang saja mereka masih melihat bulan dan bintang-bintang di antara sela-sela dedaunan. Tak seorang pun penduduk Panawijen yang tahu, apakah yang pernah terjadi dengan Wiraprana dan Mahisa Agni. Adalah kebetulan bahwa pada malam itu tak seorang pun yang pergi ke sawahnya.

Karena itu, maka Wiraprana pun lambat laun berhasil menghilangkan kenangan pahit itu. Meskipun Wiraprana sama sekali bukan seorang pengecut, namun apakah yang dapat dilakukan di antara orang-orang berilmu seperti Mahisa Agni dan Mahendra. Karena itu, maka timbullah keinginannya untuk setidak-tidaknya dapat menambah ilmunya. Mungkin pada suatu saat akan berguna. Tetapi dalam pada itu selalu diingatnya pula kata-kata kakak seperguruan Mahendra, bahwa seseorang akan dapat berjuang sampai tetes darah yang penghabisan, namun untuk mempertahankan haknya yang dilanggar oleh sesama. Dan berjanjilah ia di dalam dirinya, bahwa ilmu yang kelak akan dimilikinya, bukanlah alat untuk melanggar hak orang lain. Ketika maksudnya itu disampaikannya kepada Mahisa Agni, Mahisa Agni pun menjadi gembira.

“Bagus,” katanya, “kita akan berlatih setiap malam di bendungan.”

“Kau menjadi guruku,” berkata Wiraprana.

Agni menggeleng, “Tidak. Aku tidak berhak menjadi guru sebelum guruku mengizinkannya. Kita hanya dapat berlatih bersama. Itu pun kalau guru memperkenankan.”

Demikianlah mereka berjanji untuk melakukan latihan-latihan itu, namun Mahisa Agni telah memesan kepada sahabatnya, bahwa apa yang diketahuinya itu adalah suatu yang tidak perlu diberitahukannya kepada siapa pun juga. Ketika Mahisa. Agni berhasrat untuk menghadap gurunya, untuk menyampaikan maksud Wiraprana itu tiba-tiba ditemuinya Ken Dedes datang kepadanya.

“Kakang,” berkata gadis itu, “Ayah memanggilmu. Sekarang!”

“Oh. Apakah ada sesuatu yang perlu?” bertanya Mahisa Agni.

“Aku tidak tahu. Baru saja seorang tamu meninggalkan sanggar. Sahabat ayah. Lalu Ayah memanggilmu.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “Siapakah tamu itu?”

Ken Dedes menggeleng, “Entahlah. Sahabat ayah.”

Mahisa Agni menjadi ragu-ragu. Siapakah sahabat gurunya itu? Ia menjadi cemas, apakah seseorang telah datang dan menuntut atas kekalahan Mahendra oleh seorang yang disangkanya bernama Wiraprana, namun yang sebenarnya adalah Mahisa Agni. Mau tidak mau Agni pun melihat kesalahan di dalam dirinya. Kakak seperguruan Mahendra tidak mau melihat seseorang membantu adik seperguruannya itu, bahkan saudara mereka pula.

Namun apakah yang dilakukannya? Jauh lebih banyak dari membantu. Bahkan ialah yang bertempur melawan Mahendra. Apakah sikap itu dapat disebut sikap yang jantan. Namun Mahisa Agni mempunyai pertimbangan lain. Ia telah bersedia jawaban yang akan diberikannya kepada gurunya yang penting baginya bukan siapakah yang harus bertempur, namun bagaimana ia mempertahankan hak Ken Dedes dalam menentukan pilihannya sendiri. Jangankan Mahendra, bahkan suara hatinya sendiri pun telah ditindasnya.

Mahisa Agni sadar ketika ia mendengar suara Ken Dedes, “Kakang, Ayah menunggumu!”

“Oh, baiklah,” sahut Mahisa Agni cepat-cepat.

Ketika Ken Dedes telah meninggalkannya, kembali Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Selangkah demi selangkah ia pergi kepada gurunya yang masih berada di bagian depan dari sanggarnya. Detak jantungnya serasa semakin cepat mengalir ketika ia melihat gurunya duduk menantinya. Wajahnya yang bening tampaknya seakan-akan sedang disaput oleh mendung yang tebal. Suram. Ketika ia melihat Mahisa Agni, Empu Purwa itu pun tersenyum. Namun terasa oleh Agni, senyum yang lain dari senyumnya sehari-hari.

“Duduklah Agni,” gurunya itu mempersilakan.

Agni pun kemudian duduk bersila di hadapannya. Wajahnya yang tegang ditundukkannya dalam-dalam.

“Udara terlalu panas,” gumam gurunya.

“Ya, Empu,” sahut Agni.

“Agaknya mendung di langit akan menjadi semakin tebal.”

“Mungkin Empu. Awan mengalir dari selatan.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sesaat ia memandang ke halaman. Bayangan mendung di langit tampak mengalir dihanyutkan angin. Sesaat sinar matahari menjadi buram karena awan yang kelam membayangi wajahnya.

Dan tiba-tiba Empu Purwa itu berkata, “Aku baru saja menerima seorang tamu Agni. Sahabatku dari Tumapel.” Mahisa Agni tersentak. Apakah dugaannya tenang peristiwa beberapa hari yang lalu itu benar? Dan didengarnya gurunya itu berkata pula, “Sahabat yang baik. Ia tahu apa yang benar dan apa yang salah.”

Mahisa Agni menarik nafas. Tetapi hatinya masih tegang. Apalagi ketika Empu Purwa itu meneruskan, “Tamuku adalah ayah Mahendra, Agni.”

Darah Mahisa Agni serasa berhenti mengalir. Apakah yang telah dikatakan oleh tamu itu tentang dirinya. Dicobanya mencuri pandang atas wajah gurunya. Ia mencoba untuk mendapat kesan daripadanya. Apakah gurunya sedang marah, kecewa atau sedih. Tetapi ia tidak dapat menemukan kesan apapun dari wajah itu. Yang dilihatnya bahwa wajah itu suram, sesuram langit yang sedang dilapisi awan itu. Ketika gurunya itu berkata pula, Mahisa Agni kembali menundukkan wajahnya.

“Agni,” berkata Empu Purwa pula. Nadanya rendah, namun jelas kata demi kata, “tamuku itu bercerita tentang peristiwa yang terjadi beberapa hari yang lalu di ujung desa kita ini.” Wajah Mahisa Agni pun menjadi semakin tunduk. Dan didengarnya gurunya meneruskan, “Agni, apakah Wiraprana bertengkar dengan Mahendra?”

Mulut Mahisa Agni serasa terkunci. Karena itu untuk beberapa lama ia tidak menjawab, sehingga gurunya berkata pula, “Aku sangka kau tahu atau setidak-tidaknya pernah mendengar peristiwa itu karena hubunganmu yang erat dengan Wiraprana.”

Mahisa Agni masih tenggelam dalam kebingungan dan kebimbangan. Hanya tiba-tiba saja mulutnya berkata, “Aku mendengar guru.”

“Nah, kalau demikian peristiwa itu benar-benar pernah terjadi. Menurut ayahnya, Mahendra menjadi sakit hati, karena lamarannya ditolak. Bahkan kemudian ia berhasrat untuk mengadakan semacam sayembara tanding. Begitu?”

“Ya guru,” jawab Mahisa Agni tergagap. Namun ia berusaha untuk menutupi kesalahan yang mungkin akan dilimpahkan kepadanya. Katanya, “Namun apakah Mahendra berhak mengadakan sayembara semacam itu?”

“Tentu tidak, Agni,” jawab gurunya, “Tetapi tantangan itu diterima oleh Wiraprana.”

“Ya,” jawab Agni.

“Dan mereka pun berkelahi.”

“Ya.”

“Menurut ayah Mahendra, Mahendra dapat dikalahkan.”

“Ya.”

“Oleh Wiraprana?”

Mahisa Agni terdiam. Gejolak di dalam dadanya serasa melanda jantungnya, sehingga akan meledak. Ia tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun sehingga gurunya berkata,

“Agni, Mahendra adalah seorang anak yang tanggon. Aku telah mengenal anak itu, sebab ayahnya adalah sahabatku. Aku tidak menyangka bahwa Wiraprana dapat mengalahkannya.” Empu Purwa berhenti sejenak. Kemudian orang tua itu berkata pula, “Menurut ayah Mahendra, Wiraprana itu datang berdua. Apakah kau ikut serta?”

Kini Agni tidak dapat menyimpan sesuatu lagi di dalam dadanya yang hampir pecah itu. Karena itu maka seperti bendungan yang pecah meledaklah jawabnya, “Ampun guru. Wiraprana sama sekali tak berkelahi melawan Mahendra. Tetapi aku terpaksa melawannya, meskipun aku memakai nama Wiraprana.”

Empu Purwa menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-angguk ditatapnya muridnya itu dengan mata yang sayu. Sebenarnya ia telah menduga bahwa demikianlah yang terjadi. Namun ketika ia mendengar pengakuan itu, hatinya masih juga terharu. Terharu karena ia tahu, apa sebenarnya yang bergolak di dalam dada muridnya. Perasaan apakah yang telah melandanya terhadap anak gadisnya.

Mahisa Agni sama sekali tak berani mengangkat wajahnya. Ia duduk tumungkul memandang ibu jari kakinya.

“Kenapa kau Agni?” tiba-tiba terdengar gurunya bertanya. Mahisa Agni tidak dapat menjawab pertanyaan itu. jawaban yang telah disusunnya tiba-tiba seperti hilang dari ingatannya. Sehingga yang terdengar adalah kata-kata gurunya pula, “Mahendra adalah anak yang tangkas. Menurut ayahnya, ia agak keras kepala. Apakah dengan demikian kau tidak mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”

Mahisa Agni tidak tahu apa yang tersimpan di hati gurunya. Tetapi pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawabnya. Maka setelah sesaat ia berjuang, maka jawabnya,

“Ya guru. Terpaksa aku harus menghadapinya.”

“Ya, kenapa? Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untuk itu?”

Mahisa Agni mencoba menenangkan hatinya. Kemudian jawabnya, “Aku tidak dapat melihat kemungkinan lain guru. Sebab mereka mempertaruhkan Ken Dedes dalam perkelahian itu. Kalau Wiraprana kalah, akibatnya akan tidak baik bagi Ken Dedes.”

Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditatapnya muridnya itu dengan penuh kekaguman di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak membiarkan Wiraprana dilumpuhkan untuk mendapat kesempatan menjadi pahlawan. Dengan demikian maka kemungkinan bagi dirinya sendiri akan menjadi lebih baik. Sejenak kemudian Empu Purwa itu pun berkata kepada Mahisa Agni,

“Mahisa Agni, jangan cemas. Ayah Mahendra yang baik itu datang untuk minta maaf kepadaku atas kelakuan anaknya.” Mahisa Agni terkejut, sehingga tak disengajanya ia mengangkat wajahnya. Dilihatnya Empu Purwa itu tersenyum. Meskipun senyum yang hambar. Dan orang tua itu meneruskannya, “Ia sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Malahan ia mengharap, bahwa dengan demikian anaknya akan melihat, bahwa di dunia ini ada orang-orang lain yang tak dapat dikalahkannya. Mudah-mudahan ia menyadari keadaannya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Ternyata dugaannya keliru. Ayah Mahendra sama sekali tidak menuntut atas kekalahan anaknya, bahkan ia telah minta maaf atas perbuatan Mahendra. Sekali lagi dada Mahisa Agni berdesir. Seandainya, dirinya sendiri yang telah melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Mahendra itu, siapakah yang akan minta maaf untuknya? Tiba-tiba diingatnya ibunya yang tua. Yang selama ini seakan-akan telah hilang dari hidupnya. Maka bersyukurlah Mahisa Agni di dalam hatinya, bahwa yang Maha Agung telah mempertemukannya dengan ibunya, dan membekalinya dengan ketabahan dan kesabaran menghadapi cobaan dalam usianya yang masih muda itu.

Dengan demikian maka telah pula ditemuinya suatu pelajaran yang bermanfaat bagi hidupnya kelak. Ternyata Mahendra itu telah mengagumkan baginya. Ternyata kekaguman seorang laki-laki tidak saja ditujukan kepada mereka yang dengan berani memainkan pedangnya dan bahkan yang telah berhasil membunuh lawan-lawannya dengan sikap-sikap yang disangkanya jantan. Namun sikap ayah Mahendra itu pun tak kalah jantannya. Memang kejantanan seseorang tidak dapat diukur dengan senjata, tetapi diukur dengan tujuan dan cara untuk mencapai tujuan itu. Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Di langit awan masih mengalir lambat. Dan mendung pun menjadi semakin tebal di langit.

“Agni,” berkata Empu Purwa kemudian, “ternyata kau sekali lagi telah menyelamatkan anakku dari kehancuran. Kau telah berjuang dan meskipun tidak secara langsung, ikut serta membina masa depannya. Mahisa Agni, masa depan gadisku satu-satunya itu adalah masa depanku sebagai seorang ayah. Karena itu, betapa aku berbesar hati atas sikapmu itu. Aku tidak menilai, apakah dengan demikian perkelahian itu wajar, namun aku menilai dari segi lain. Aku melihat pengorbananmu yang tanpa pamrih.”

Mahisa Agni mendengar pujian itu dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba terasa betapa dadanya menjadi sesak. Ia pun terharu karenanya. Ternyata gurunya tidak memarahinya, bahkan dengan tulus telah menyatakan kebesaran hatinya atas sikapnya.

“Karena itu Agni,” berkata gurunya pula, “aku harus memberimu pertanda dari terima kasihku. Sebagai seorang ayah, aku menggantungkan masa depanku kepada Ken Dedes, namun sebagai seorang guru dalam olah kanuragan jaya kesantikan, aku menggantungkan harapanku kepadamu. Dengan demikian Agni, maka sudah sampai saatnya kini aku memberikan kesempurnaan ilmu kepadamu. Kesempurnaan yang aku miliki. Kesempurnaan manusia yang selalu tidak sempurna. Kau mengerti maksudku itu?”

Mahisa Agni masih menundukkan wajahnya. Betapa hatinya menjadi bergejolak mendengar kata-kata gurunya. Sebagai seorang murid, maka kesempurnaan ilmu gurunya itu selalu didambanya. Kini, setelah dengan tekun ia mesu diri dalam pengabdian kepada gurunya itu, gurunya berkata bahwa kesempurnaan ilmunya itu akan diberikannya kepadanya. Meskipun kesempurnaan seorang manusia yang selalu tidak sempurna, yang selalu masih jauh daripada kesempurnaan yang sejati. Namun apa yang akan diterimanya itu akan dapat menjadi bekal yang tak ternilai bagi hidupnya.

Namun tiba-tiba Agni menjadi bimbang. Kalau kesempurnaan ilmu gurunya itu telah diterimanya, apakah yang akan dilakukannya. Apakah ia akan pergi ke segenap penjuru negeri. Berkelahi dengan orang-orang sakti untuk menunjukkan kemampuannya? Apakah ia akan menjadi seorang prajurit yang akan selalu memenangkan setiap pertempuran? Dan apakah kesaktian itu kelak tidak akan membawanya ke dalam lembah ketakaburan. Ia bersyukur bahwa ia menyadarinya. Ia bersyukur bahwa pertanyaan-pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Sebab dengan demikian, ia akan selalu ingat pula kepada jawabnya.

Kemudian didengarnya gurunya itu berkata pula kepadanya, “Agni. Aku pernah memberimu sebuah pusaka. Namun pusaka itu sama sekali bukan alat pembunuh. Pusaka itu tak akan dapat kau pergunakan untuk menyobek jantung lawan. Dan kini aku akan memberimu sebuah senjata yang lain. Kelengkapan dari pusaka yang aneh itu. Namun pusaka itu tidak akan dapat berdiri sendiri. Trisula itu bermanfaat bagimu, meskipun tak ada rangkapannya. Namun rangkapannya itu sama sekali tak berarti tanpa trisula yang kecil itu.”

Mahisa Agni mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan seksama. Disadarinya kemudian, bahwa pusaka yang diberikan kepadanya itu belum sempurna.





OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

===============================




Air Terjun Victoria Afrika

Tidak ada komentar:

Posting Komentar