Kemudian gurunya melanjutkan, “Tetapi Agni. Ketahuilah, bahwa pusaka yang aku janjikan itu kini belum berada di padepokan Panawijen.” Mahisa Agni menengadahkan wajahnya. Terbayanglah suatu pertanyaan pada cahaya matanya. Karena itu Empu Purwa menjelaskannya, “Agni. Pusaka yang aku katakan itu, masih harus dicari. Aku hanya dapat menunjukkan kepadamu, tempat dan bentuknya. Semoga kau akan dapat menemukannya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sadarlah ia kini, bahwa gurunya memberinya kepercayaan untuk mencari sebuah pusaka yang tak ternilai harganya. Lebih-lebih lagi, apabila ia dapat menemukan, maka pusaka itu akan dimilikinya. Tetapi Mahisa Agni masih berdiam diri.
Maka gurunya itu meneruskan, “Apabila kau berhasil Agni, maka kedua pusaka itu akan menjadi pasangan pusaka yang tak ternilai. Pusaka itu akan menjadi sedemikian saktinya, sehingga orang yang mempergunakannya akan kalis dari kekalahan. Siapa pun lawannya. Kau mengerti?”
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Hatinya tergetar mendengar keterangan gurunya itu. Apabila ia memiliki kedua pusaka itu bersama-sama, maka ia akan menjadi manusia yang pilih tanding.
“Hem,” Mahisa Agni bergumam. Kemudian katanya di dalam hatinya, “Suatu anugerah yang tak terduga. Dengan pusaka-pusaka itu, maka banyak persoalan yang dapat aku atasi. Tetapi persoalan-persoalan apa? Pusaka-pusaka itu adalah alat untuk bertempur dan berkelahi. Haruskah aku mengatasi semuanya dengan perkelahian dan pertempuran?”
Namun kemudian ditemukannya jawabnya, “Suatu ketika aku harus mempergunakan pusaka-pusaka itu. Tetapi untuk persoalan-persoalan yang imbang. Memang kadang-kadang ada hal-hal yang tak dapat diatasi dengan cara lain. Mudah-mudahan aku dapat membedakannya.”
Kemudian Mahisa Agni mendengar gurunya berkata pula, “Agni. Aku ingin mendengar jawabanmu. Adakah kau bersedia mencari pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni mengangguk kembali, jawabnya dengan penuh kesungguhan hati, “Tentu guru. Aku bersedia apapun yang Empu perintahkan. Jangankan sebuah pusaka untukku sendiri. Apapun akan aku lakukan dengan keikhlasan.”
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya muridnya dengan tajam. Kemudian katanya, “Mahisa Agni. Kau harus menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Perjalanan yang mungkin sama sekati tidak menyenangkan bagimu.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan demikian berarti bahwa ia harus meninggalkan Panawijen. Meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Meninggalkan rumah gurunya dan ibunya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk melakukan perintah-perintah gurunya. Apalagi perintah untuk kepentingannya sendiri.
Karena itu, maka jawabnya, “Apapun yang harus aku lakukan guru, bagiku tak ada yang lebih menggairahkan daripada menjalankannya dengan senang hati.”
“Bagus,” sahut gurunya, “kalau kau temukan rangkapan pusakamu itu, kau akan menjadi seorang laki-laki yang sakti. Sukar untuk mencari tanding. Kau akan dapat melakukan semua kehendakmu. Siapa pun yang menghalangimu, maka itu tak akan banyak berarti. Karena itu, pusaka itu harus kau temukan. Apapun rintangan yang akan kau temui.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Akan aku coba untuk melakukannya.”
“Nah Agni,” berkata gurunya, “dengarlah. Perjalanan yang harus kau tempuh adalah cukup jauh. Kau harus melingkari Gunung Semeru. Bukankah kau pernah pergi ke kaki gunung itu dari arah timur bersama aku?”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Perjalanan itu pernah ditempuhnya tiga tahun yang lalu. Perjalanan yang berat di antara belukar dan lereng-lereng gunung. Hanya kadang-kadang saja ditemuinya padukuhan-padukuhan kecil atau kelompok-kelompok penduduk yang tidak menetap, yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari tanah yang mungkin diusahakan oleh mereka. Kini ia harus menempuh perjalanan itu kembali.
Mahisa Agni kemudian menekurkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat kembali jalan-jalan yang pernah dilaluinya. Hutan-hutan dan lereng-lereng terjal. Kemudian diingatnya pula, apa yang pernah dilihatnya pada kaki Gunung Semeru itu, sebagai pertanda yang akan dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan kembali.
“Agni,” terdengar gurunya itu menyambung kata-katanya, “mungkin kau akan dapat mengingatnya kembali jalan-jalan yang pernah kau tempuh. Kalau tidak Agni, maka kau dapat mencari jalan lain. Namun kau dapat menandai daerah yang pernah kita kunjungi di kaki Gunung Semeru itu. Kau pernah melihat sebuah rawa yang luas bukan?” Mahisa Agni mengangguk. “Kau melihat batu karang di tengah rawa-rawa itu?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” berkata gurunya, “aku harap rawa-rawa itu masih ada sekarang. Aku mengharap bahwa batu karang itu pun masih dapat kau temukan. Nah. Apabila batu karang itu kau temukan, maka kau akan menempuh jalan yang pendek. Kau dapat menyusurinya ke barat dan kau akan sampai pada sebuah dinding yang terjal, dinding yang gundul. Kau ingat?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” nada suara gurunya menjadi semakin rendah, “Ketahuilah bahwa di dalam gua, yang pernah kita kunjungi itu, yang terdapat di tengah-tengah dinding yang gundul, terdapat benda yang sangat berharga itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Pada saat itu ia hanya dapat melihat gua itu. Tetapi ia tidak dapat mencapainya. Ia pada waktu itu tidak sanggup untuk mendaki tebing yang gundul dan curam. Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Pada tiga tahun yang lampau, ia hanya dapat melihat gurunya itu mendaki tebing yang sengat curam dan berbahaya. Dan ditinggalkannya ia sendiri menanti di bawahnya. Dan sekarang ia sendiri harus mendaki tebing itu, untuk mencapai gua di tengah lereng gundul di kaki Gunung Semeru.
“Suatu perjalanan yang berat,” desisnya di dalam hati.
Gurunya yang melihat wajah Mahisa Agni itu menjadi suram segera berkata pula, “Agni, kesempatan ini akan menjadi satu ujian bagimu. Ketika kau berhasil Agni, maka hidupmu di kemudian hari akan penuh ditandai dengan kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Kau akan menjadi seorang jantan yang namamu akan ditakuti oleh setiap orang yang mendengarnya. Sedang apa yang akan kau lakukan kemudian tergantung kepada keadaanmu dan tujuan hidupmu. Sebab sesudah taraf yang terakhir ini, maka aku tidak akan dapat ikut serta menarik garis yang melingkari hidupmu. Kau adalah seorang murid yang sudah dewasa, yang seharusnya sudah lepas dari induknya. Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri.”
Mahisa Agni masih menekurkan kepalanya. Dengan penuh kecermatan ia mengamati persoalannya. Namun tak ada yang dapat dilakukan selain melakukan tugas itu. Meskipun demikian, sempat juga ia merenungkan kata-kata gurunya itu, dan yang terakhir, ‘Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri’.
Tetapi terasa pula di dada Mahisa Agni sesuatu yang agak lain dari kebiasaan gurunya. Gurunya yang penuh dengan pengabdian dan kebaktian diri kepada sumber hidupnya itu tiba-tiba memberinya beberapa petunjuk yang seakan-akan hanya diwarnai oleh tata lahiriahnya saja. Ia akan menjadi seorang yang sakti. Seorang yang hampir tak akan dapat dikalahkan. Seorang yang hidupnya akan ditandai oleh kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Mahisa Agni tidak mengerti seluruhnya apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Apakah hanya itu? Namun ia tidak berani bertanya. Mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkannya.
“Pada suatu ketika aku akan menemukan jawabnya,” pikirnya.
Yang kemudian dikatakan oleh gurunya adalah, “Mahisa Agni. Sejak hari ini kau harus mempersiapkan dirimu. Lahir batin untuk menempuh perjalaran itu. Kamu harus menguasai setiap persoalan yang akan kau temui di sepanjang perjalananmu. Amati persoalan itu dengan seksama. Baru kemudian kau cari pemecahannya.”
Mahisa Agni mengangguk dengan khidmatnya. Jawabnya, “Ya, Guru.”
“Mungkin kau harus mengalami gangguan lahir batin. Nah. kemudian tergantung kepadamu, karena kau akan pergi seorang diri. Ingatlah, perjalanan itu akan merupakan ujian bagimu. Kalau kau berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan oleh pengujimu sesuai dengan maksudnya, maka pasti kau akan lulus dalam ujian itu. Namun kalau tidak, maka kesempatan itu tidak akan terulang kembali.”
“Aku akan melakukan dengan kesungguhan hatiku,” jawab Agni, “Mudahkan yang Maha Agung memberikan tuntunan kepadaku.”
“Mudah-mudahan,” sahut gurunya. Terdengar suara menjadi serak.
Dan ketika Agni mencoba melihat wajah gurunya, ia terkejut. Wajah itu sedemikian sayunya, dan bahkan ketika terpandang olehnya mata gurunya itu, bergolaklah perasaan Mahisa Agni. Dilihatnya meskipun hanya sekejap, bahwa sepasang mata gurunya itu menjadi basah.
“Apakah yang sebenarnya terjadi?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Bahkan timbul pula prasangka di dalam dadanya, “Apakah sebenarnya Guru marah kepadaku? Apakah sebenarnya yang diminta oleh ayah Mahendra?”
Dan tiba-tiba saja mengianglah di sudut hatinya, “Apakah aku sedang dibuang oleh guruku?”
Tidak, dicobanya untuk mengatasi perasaannya yang sedang bergelora dengan riuhnya di dalam dirinya. Timbullah bermacam-macam prasangka. Namun akhirnya ia mendapatkan suatu kesimpulan.
“Guru akan memberikan hadiah itu kepadaku. Adalah wajar kalau aku harus mengambilnya sendiri. Kalau guru akan menghukumku atas permintaan ayah Mahendra, maka guru pasti akan berterus terang kepadaku. Sebab aku adalah muridnya sejak kecilku.”
Mahisa Agni tersadar dari renungannya ketika gurunya berkata dengan nada yang dalam, “Agni. Masih ada beberapa pesanku untukmu. Apabila sudah kau temukan rawa-rawa itu dan kau temukan batu karang di dalamnya, maka untuk seterusnya kau harus menempuh jalan di malam hari sampai kau capai dinding yang gundul itu. Kemudian baru kau akan mendakinya di siang hari.”
Syarat itu bertambah memberatinya. Karena itu maka debar jantung Agni pun bertambah-tambah pula. Meskipun demikian jawabnya, “Ya. Guru, akan aku lakukan semuanya.”
“Bagus Agni. Sekarang beristirahatlah. Kau tentukan sendiri kapan kau akan berangkat,” kata gurunya pula.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. kemudian ia mohon diri untuk beristirahat. Ia sudah tidak ingat lagi akan permintaan Wiraprana untuk memberinya beberapa petunjuk tata bela diri. Mahisa Agni langsung pergi ke biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring di pembaringannya. Ditatapnya kayu-kayu yang malang melintang di atap rumahnya. Dan akhirnya ia menarik nafas panjang-panjang.
“Ujian,” desisnya. Dan diulanginya, “ujian yang berat.”
Dicobanya untuk membayangkan apa yang kira-kira akan dialaminya dalam perjalanan itu. Binatang buas. Kelompok-kelompok orang jahat yang akan dapat ditemuinya di perjalanannya. Berjuang melawan alam yang garang. Kalau itu semua dapat diatasinya, maka akan didapatnya kesaktian.
“Aku berguru dalam olah kanuragan untuk mendapatkan kesaktian,” gumamnya, “dengan kesaktian banyak yang dapat aku lakukan. Aku akan dapat mencapai dan menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan kesaktian-kesaktian yang akan memaksakan kemungkaran dan kejahatan.”
“Hem,” Agni menarik nafas. Katanya kepala dirinya sendiri, “Tetapi kau harus ingat, hitam putih namamu ditentukan oleh perbuatanmu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, namun terdengar kata-kata di dalam dirinya, “Apapun yang akan aku lakukan, kalau aku orang yang maha sakti, adakah yang akan merintanginya?”
Wajah Mahisa Agni pun kemudian menjadi tegang. Kata-kata itu kembali terngiang di hatinya, “Aku akan menjadi seorang yang maha sakti. Betapapun hitam namaku kelak, namun apa peduliku. Tak seorang akan berani menghalangi aku. Seandainya aku ingin membunuh Wiraprana, Mahendra, bahkan siapa saja, siapakah yang dapat menuntut aku? Kekuasaan Tumapel tak akan berarti bagiku, juga kekuasaan Kediri. Semua akan hancur oleh kesaktianku.”
Dada Mahisa Agni menjadi bergemuruh karenanya. Kesaktian, kekuatan berarti kekuasaan. Kalau kesaktian dan kekuatan ini tak terkalahkan, maka kekuasaannya pun tak akan tergoyahkan. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang masuk ke dalam biliknya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya ibunya. Seorang emban yang sudah tua. Agni pun kemudian bangkit dan duduk di tepi pembaringannya.
“Adakah kau menghadap gurumu Agni?” bertanya ibunya sambil duduk di sisinya.
“Ya, Ibu,” jawab Agni.
“Kau menghadap seperti biasa, ataukah ada sesuatu yang penting?”
“Ada sesuatu yang penting. Bahkan penting sekali bagi masa depanku.”
“Apakah itu?”
“Sekali lagi guru memberi aku hadiah.”
“Hadiah?” ibunya mengerutkan keningnya.
Mahisa Agni mengangguk. Lalu diceritakannya apa yang baru saja didengarnya untuk mengambil rangkapan pusaka di kaki Gunung Semeru.
“Oh,” ibunya menarik nafas panjang, “Apakah gunanya pusaka itu?”
Agnilah yang kemudian menjadi terkejut. Ditatapnya wajah ibunya yang telah mulai berkeriput oleh garis-garis umur. Maka katanya, “Bukankah pusaka itu idaman setiap lelaki? Aku berguru pada Empu Purwa karena aku ingin mendapatkan kesaktian sebagai bekal hidupku kelak. Kini aku akan mendapat pusaka rangkapan trisula itu, dan aku akan menjadi seseorang laki-laki yang pilih tanding. Bukankah itu satu kebahagiaan bagiku. Apa yang aku kehendaki akan berlaku.”
“Itu saja?” bertanya ibunya pendek.
Kembali Agni terkejut. Ia tidak tahu maksud ibunya. Sehingga terdengar pertanyaannya, “Apakah yang ibu maksudkan?”
“Kau berguru kepada Empu Purwa hanya untuk mendapat kesaktian, sehingga semua kehendakmu akan berlaku?”
“Apa lagi?”
“Oh,” ibunya mengeluh. Dan Mahisa Agni menjadi bingung. “Agni,” berkata ibunya, “adakah Empu Purwa tidak memberimu pesan, apa yang harus kau lakukan setelah kau mendapat pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni menggeleng. Tetapi kemudian ia berkata, “Empu Purwa hanya sekedar memberi aku peringatan, ‘Hitam putih namaku tergantung atas perbuatanku’.”
Ibunya mengangguk-angguk. Namun ia bergumam, “Nah, kata-kata itu pendek saja. Cobalah mengerti artinya.”
Mahisa Agni mengangkat keningnya. Katanya, “Tetapi kalau aku seorang yang tak ada bandingnya, apakah artinya pesan itu? Apapun kata orang tentang diriku, tentang namaku, namun mereka tak akan dapat berbuat apapun atasku. Sebab aku tak akan terkalahkan.”
Sekali lagi ibunya terkejut. Dengan wajah yang tegang perempuan tua itu bertanya, “Agni. Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh gurumu? Hanya itu saja? Mengambil pusaka supaya kau menjadi sakti tanpa tanding? Kemudian membiarkan kau menentukan namamu sendiri?” Mahisa Agni mengangguk.
“Aneh?” gumam ibunya.
“Kenapa aneh?” bertanya Mahisa Agni. Namun pertanyaan itu memang sudah tersimpan di dalam dirinya, sejak ia mendengar gurunya memberinya beberapa petunjuk mengenai letak tempat-tempat yang harus ditujunya.
Perempuan tua itu pun merasakan sesuatu yang agak berbeda dari kebiasaan Empu Purwa. Kali ini Empu itu hanya memandang persoalannya dari sudut lahiriah. Pusaka dan kesaktian. Apakah itu sudah cukup?
“Mahisa Agni,” berkata ibunya kemudian, Perlahan-lahan, namun penuh dengan tekanan sebagai seorang ibu, “aku senang mendengar kau akan menerima pusaka rangkapan dan kau akan menjadi seorang yang sakti. Namun sebagai seorang ibu, aku pun mencemaskan nasibmu. Perjalanan itu bukan perjalanan yang menyenangkan. Namun yang lebih mencemaskan aku adalah, bagaimanakah kau sesudah memiliki pusaka-pusaka itu, Agni.”
“Kenapa?”
“Kalau kau salah langkah, maka kau akan terjerumus ke dalam satu dunia yang penuh dengan pertentangan dan permusuhan”
“Bukankah kalau aku menjadi seorang yang tak terkalahkan, aku tak usah cemas, meskipun seandainya orang di seluruh dunia ini memusuhi aku?”
“Benar Agni. Tetapi apakah kau sangka bahwa kau tak perlu mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatanmu itu?”
“Bertanggung jawab kepada siapa? Akuwu Tumapel? Maharaja Kediri atau siapa? Mereka tak akan mampu mengalahkan aku meskipun semua laskarnya dikerahkan.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya keragu-raguan memancar di mata anaknya. Karena itu ia menjadi gembira. Katanya, “Kau tidak yakin akan kata-katamu Agni. Aku menjadi berbahagia karenanya. Karena masih ada suara lain di dalam hatimu. Nah, Agni. Aku ingin mempertegas suara hatimu yang lain itu. Kau tidak akan bertanggung jawab kepada Akuwu Tumapel atau kepada Maharaja Kertajaya. Mereka adalah manusia-manusia biasa. Kalau kau menjadi sakti tanpa tanding dan melampaui kesaktian-kesaktian mereka, malahan kau akan dapat mengusir mereka dari kedudukannya, dan kesaktianmu benar-benar dapat membentuk kekuasaan melampaui kekuasaan mereka itu.”
“Lalu kepada siapa?”
“Kekuasaan yang tak dapat dilampaui oleh kekuasaan apapun, Yang Maha Agung.”
“Oh,” Mahisa Agni mengeluh.
Dan wajahnya pun kemudian ditundukkannya dalam-dalam. Ia tidak pernah melupakan Yang Maha Agung, yang telah menjadikannya. bahkan seluruh alam dan isinya. Namun kadang-kadang gelora jiwa jantannya sering mengganggunya. Kerinduannya pada kesempurnaan ilmu kanuragan kadang-kadang telah membawanya ke alam yang penuh dengan kekerasan dan permusuhan. Kadang-kadang direka-rekanya juga permusuhan-permusuhan yang akan terjadi.
“Kalau tidak ada permusuhan-permusuhan, kapankah aku dapat menunjukkan kesaktianku dan kapankah orang lain akan mengagumi aku?”
Namun setiap kali ia berhasil menyadari kesalahannya, meskipun baru di dalam angan-angan.
Maka kemudian didengarnya ibunya berkata pula, “Agni, sebenarnyalah bahwa kesaktian dan kekuatan yang dipancarkannya, kemenangan dalam setiap pertentangan dan permusuhan, bukanlah kekuasaan. Apabila demikian, maka hidup manusia ini tidak akan lebih baik dari kehidupan binatang-binatang di dalam rimba. Harimau yang kuat, dan memiliki senjata yang kuat, pula pada tubuhnya, kuku, gigi dan taring-taringnya akan dapat memaksakan kehendaknya kepada binatang-binatang yang lemah. Kijang, rusa dan sebagainya, yang hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri apabila mampu. Bahkan sampai merampas nyawanya sekali pun. Namun binatang tidak memiliki kesadaran akan ‘adanya dan diadakannya’. Karena itulah maka binatang tidak memiliki sifat-sifatnya yang langgeng. Hidup sesudah hidup ini. Di mana akan diperhitungkan semua perbuatan dan tingkah laku manusia. Itulah sebabnya manusia mengenal nilai-nilai hidupnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan. Nah, Agni. Apakah sekarang artinya kesaktian dan kekuasaan duniawi ini?”
Wajah Agni menjadi semakin tunduk. Kata-kata ibunya itu mengetuk-ngetuk dadanya. Sudah sering kali ia mendengar nasihat-nasihat gurunya tentang hidupnya dan hidup di masa-masa langgeng. Namun ketika ibunya sendiri yang mengucapkannya berasa seakan-akan meresap sampai ke tulang sumsumnya.
“Agni,” berkata ibunya, “aku hidup di padepokan ini telah bertahun-tahun. Karena itu aku telah sering kali mendengar Empu Purwa mengatakannya itu semua, meskipun tidak kepadaku. Mungkin kepada anaknya, atau kepada muridnya, kau. Atau kadang-kadang aku mendengarnya dari balik dinding apabila ada beberapa orang tamu, sahabat-sahabat Empu Purwa yang kadang-kadang mengadakan sarasehan. Karena itu apa yang aku katakan, mungkin telah kau dengar langsung dari gurumu. Namun aku adalah ibumu. Umurku telah berlipat dari umurmu. Karena itu aku ingin mengatakannya kembali kepadamu. Aku sangka umur mudamu kadang-kadang masih mengganggumu.”
Agni tidak menjawab. Namun kepalanya masih tunduk. Diangguk-anggukkannya kepalanya perlahan-lahan dan dengan penuh minat ibunya berkata pula,
“Karena itu Anakku. Kesaktian baru bermanfaat apabila ia dipergunakan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Kalau ada kekuasaan di muka bumi ini, kekuasaan manusia, maka ia harus dilambari atas nilai-nilai itu pula, nilai-nilai hidup bersama yang ditentukan bersama pula dalam pergaulan hidup yang memberikan kebahagiaan bersama. Nah, terhadap kekuasaan yang demikian itulah kesaktian wajib diamalkan untuk menegakkannya. Bukan untuk merampasnya.”
Ibunya berhenti sejenak. Ditatapnya anak laki-lakinya yang bertubuh kokoh kuat dengan jalur-jalur ototnya menjalar di seluruh permukaan kulitnya. Kemudian terdengar kembali perempuan itu berkata,
“Nah, Agni. Pergilah ke kaki Gunung Semeru. Usahakan supaya perintah gurumu dapat kau penuhi. Dan sadarilah apa yang akan kau perbuat kelak sesudah pusaka-pusaka itu berada di tanganmu.”
“Baik, Ibu,” jawab Mahisa Agni lirih, namun sampai ke dasar hatinya.
Ibunya menganggukkan kepalanya. Kemudian sambil berdiri ia berkata, “Kalau sampai saatnya kau pergi anakku, pergilah dengan tekad yang bulat. Dengan janji di dalam hati, bahwa apa yang kau capai semata-mata untuk tujuan yang baik, maka Yang Maha Agung akan selalu memberkahi.”
“Baik, Ibu,” sahut Mahisa Agni sambil mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berdiri pula dan melepaskan ibunya pergi dari mulut pintu biliknya.
Kata-kata ibunya itu merupakan penegasan dari segenap perasaan-perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Dan ia bersyukur karenanya. Maka kemudian dibulatkannya tekad di dalam dadanya,
“Aku akan pergi ke Gunung Semeru.”
Kepada Wiraprana, Mahisa Agni terpaksa membatalkan janjinya untuk sementara, katanya, “Prana, besok kalau aku kembali dari perantauan ini, aku berjanji akan memenuhi permintaan itu. Bukankah aku menjadi bergembira pula dengan hasratmu itu. Tetapi sayang aku terpaksa menundanya.”
Wiraprana pun menjadi kecewa karenanya. Tetapi ia menyadari bahwa pasti ada sesuatu yang penting dalam perjalanan yang akan ditempuh oleh sahabatnya itu.
“Mudah-mudahan kau lekas kembali Agni. Apakah perjalanan itu jauh?”
Agni menggeleng. “Tidak. Tidak begitu jauh.”
Wiraprana memandang wajah Agni dengan penuh pertanyaan. Tetapi pertanyaan itu tak diucapkannya. Ia sadar, bahwa bukan menjadi haknya untuk mengetahui segala persoalan sahabatnya itu. Namun kepergian itu pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang sehingga dengan demikian, Panawijen akan terasa sepi baginya. Meskipun banyak anak-anak muda yang lain, tetapi di samping Mahisa Agni, Wiraprana merasa tenang dan sejuk.
“Ah,” katanya di dalam hati, “aku harus dapat menyejukkan hatiku sendiri. Kelak kalau aku sudah meyakini diriku sendiri sesudah Mahisa Agni kembali, maka aku akan tegak di atas kemampuan sendiri.”
Setelah sampai saatnya Mahisa Agni merasa dirinya siap untuk berangkat menempuh perjalanan itu, maka sekali lagi ia menghadap gurunya. Diharapkannya gurunya akan memberinya pesan-pesan terakhir yang bermanfaat bagi perjalanannya lahir dan batin. Namun Mahisa Agni menjadi kecewa. Gurunya tidak memberinya pesan-pesan baru kepadanya, selain bentuk dari benda yang dicarinya. Mahisa Agni mendengarkan setiap kata-kata gurunya dengan tekun, supaya ia kelak tidak keliru. Setelah ia menempuh perjalanan yang sulit itu ia tidak ingin menemukan benda yang sama sekali bukan benda yang dikehendakinya.
“Agni,” berkata gurunya, “benda itu tampaknya memang tidak berharga sama sekali. Bentuknya tidak lebih dari sebatang akar wregu. Namun akar itu berwarna putih. Panjangnya kurang lebih hanya dua cengkang. Benda itu terbalut kain berwarna merah muda bertepi putih.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa ia menjadi heran. Sebatang akar wregu berwarna putih dan sudah dibalut dengan kain. Siapakah yang meletakkannya di sana? Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, tetapi Empu Purwa dapat merasakan perasaan itu. Maka katanya,
“Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang meletakkan benda itu di sana. Dan mungkin pula tak seorang pun yang tahu, bahwa ada benda itu di sana. Aku mengetahuinya dari sebuah mimpi. Dan aku pernah membuktikannya melihat sendiri benda itu beberapa tahun yang lampau. Namun pada saat itu aku belum dapat mengambilnya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ingin ia bertanya kenapa pada saat itu gurunya belum dapat mengambilnya. Tetapi ia tidak berani.
“Ah. Pasti ada sebab-sebab yang penting,” katanya di dalam hati.
“Agni,” berkata gurunya pula. Nadanya menjadi semakin dalam, “Ingat! Apabila kau telah menemukan batu karang itu, kau harus menempuh perjalananmu di malam hari. Ada banyak sebabnya. Yang terpenting, perjalananmu tidak boleh dilihat oleh seorang pun. Meskipun hanya oleh seorang pencari kayu sekali pun. Namun aku sangka daerah itu tak pernah dikunjungi orang.”
“Ya, Guru,” jawab Agni, “akan aku penuhi semua perintah.”
“Bagus,” sahut Empu Purwa sambil mengangguk-anggukkan kepala, “mudah-mudahan kau berhasil.”
“Pangestu Guru untukku,” pinta Mahisa Agni.
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah pada wajahnya yang suram, sepasang matanya yang sayu. Setelah ia berdiam diri sejenak, maka katanya,
“Agni, bawalah obat penawar racun ini. Mungkin kau akan bertemu dengan ular-ular berbisa, atau serangga yang tak kalah tajam bisanya. Sebuah sengatan sudah cukup untuk membunuhmu dalam waktu sekejap.”
Diberikannya oleh Empu Purwa sebuah tabung kecil. Ketika tabung itu dibuka dilihatnya di dalamnya beberapa gelintir ramuan obat.
“Agni,” berkata gurunya, “aku membuat param itu dari akar-akar dan beberapa jenis racun. Kalau kau akan mempergunakannya, cairkanlah param itu dengan air. Kemudian gosokkanlah pada seluruh tubuhmu. Atau apabila kau telah terlanjur tergigit ular atau terkena racun apapun, gosokkanlah obat itu di lukamu. Tetapi kalau racun itu masuk ke dalam tubuhmu melalui mulutmu Agni, maka pakailah ramuan yang lain.”
Empu Purwa itu berhenti sejenak. Sebuah tabung yang lain diberikannya pula kepada Mahisa Agni. Di dalam tabung itu pun terdapat beberapa butiran ramuan obat-obatan. Namun jauh lebih kecil dari butiran-butiran obat yang pertama.
“Ingat Agni,” berkata gurunya, “Jangan sampai keliru! Kalau kau keliru mempergunakan, maka akibatnya akan sebaliknya. Obat yang pertama hanya boleh kau gosokkan di tubuhmu, sedang obat yang kecil itu, harus kau telan.”
“Ya, Guru,” sahut Mahisa Agni.
Empu Purwa memandang muridnya dengan pandangan yang aneh. Sedang Mahisa Agni masih saja menundukkan wajahnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya itu pun menjadi tegang ketika gurunya berkata pula,
“Mahisa Agni. Tinggallah kini pesan terakhir bagimu. Dalam perjalanan yang berbahaya itu Agni, sebaiknya trisulamu kau tinggalkan saja di padepokan ini.”
Mahisa Agni terkejut mendengarnya justru dalam perjalanan yang berbahaya itu diperlukannya kawan dalam perjalanannya. Bukankah pusaka itu dapat dijadikannya kawan yang baik apabila ia berhadapan dengan bahaya. Tetapi sebelum ia berkata apapun didengarnya gurunya meneruskan,
“Agni. Trisula itu adalah benda yang sangat berharga. Karena itu apabila pusaka itu hilang, maka hilanglah semuanya bagi padepokan kita. Semua perjuangan masa lampau akan lenyap bersamanya apalagi harapan bagi masa mendatang. Karena itu janganlah hal itu terjadi. Kau ingin menemukan rangkapannya, namun pusaka itu sendiri jangan sampai lepas dari tangan kita.”
Mahisa mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak tahu seluruh persoalannya. Namun ia tidak berani membantahnya. Ia percaya saja kepada gurunya yang tentu jauh lebih bijaksana daripadanya. Meskipun kadang-kadang juga timbul prasangkanya, namun segera perabaan itu dihimpitnya ke dasar hatinya. Ayah Mahendra, sahabat guru sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Berkali-kali ia menegaskan kepada dirinya sendiri karena itu guru pun sama sekali tidak marah kepadaku.
Demikianlah maka sampailah pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padepokan itu. Di pagi yang cerah, ketika matahari membangunkan wajah bumi yang tetap, Mahisa Agni mohon diri kepada ibunya. Perempuan itu memandang wajah anaknya yang teguh sambil tersenyum, namun di matanya menitik beberapa butir air mata. Diciumnya kening anak itu sambil berbisik,
“Pergilah, Anakku. Mudah-mudahan kau capai cita-citamu. Harapan masa depanmu masih panjang.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sadarlah ia kini, bahwa gurunya memberinya kepercayaan untuk mencari sebuah pusaka yang tak ternilai harganya. Lebih-lebih lagi, apabila ia dapat menemukan, maka pusaka itu akan dimilikinya. Tetapi Mahisa Agni masih berdiam diri.
Maka gurunya itu meneruskan, “Apabila kau berhasil Agni, maka kedua pusaka itu akan menjadi pasangan pusaka yang tak ternilai. Pusaka itu akan menjadi sedemikian saktinya, sehingga orang yang mempergunakannya akan kalis dari kekalahan. Siapa pun lawannya. Kau mengerti?”
Mahisa Agni mengangguk dalam-dalam. Hatinya tergetar mendengar keterangan gurunya itu. Apabila ia memiliki kedua pusaka itu bersama-sama, maka ia akan menjadi manusia yang pilih tanding.
“Hem,” Mahisa Agni bergumam. Kemudian katanya di dalam hatinya, “Suatu anugerah yang tak terduga. Dengan pusaka-pusaka itu, maka banyak persoalan yang dapat aku atasi. Tetapi persoalan-persoalan apa? Pusaka-pusaka itu adalah alat untuk bertempur dan berkelahi. Haruskah aku mengatasi semuanya dengan perkelahian dan pertempuran?”
Namun kemudian ditemukannya jawabnya, “Suatu ketika aku harus mempergunakan pusaka-pusaka itu. Tetapi untuk persoalan-persoalan yang imbang. Memang kadang-kadang ada hal-hal yang tak dapat diatasi dengan cara lain. Mudah-mudahan aku dapat membedakannya.”
Kemudian Mahisa Agni mendengar gurunya berkata pula, “Agni. Aku ingin mendengar jawabanmu. Adakah kau bersedia mencari pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni mengangguk kembali, jawabnya dengan penuh kesungguhan hati, “Tentu guru. Aku bersedia apapun yang Empu perintahkan. Jangankan sebuah pusaka untukku sendiri. Apapun akan aku lakukan dengan keikhlasan.”
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya muridnya dengan tajam. Kemudian katanya, “Mahisa Agni. Kau harus menempuh sebuah perjalanan yang jauh. Perjalanan yang mungkin sama sekati tidak menyenangkan bagimu.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan demikian berarti bahwa ia harus meninggalkan Panawijen. Meninggalkan kampung halaman untuk waktu yang lama. Meninggalkan rumah gurunya dan ibunya. Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Namun adalah menjadi kewajibannya untuk melakukan perintah-perintah gurunya. Apalagi perintah untuk kepentingannya sendiri.
Karena itu, maka jawabnya, “Apapun yang harus aku lakukan guru, bagiku tak ada yang lebih menggairahkan daripada menjalankannya dengan senang hati.”
“Bagus,” sahut gurunya, “kalau kau temukan rangkapan pusakamu itu, kau akan menjadi seorang laki-laki yang sakti. Sukar untuk mencari tanding. Kau akan dapat melakukan semua kehendakmu. Siapa pun yang menghalangimu, maka itu tak akan banyak berarti. Karena itu, pusaka itu harus kau temukan. Apapun rintangan yang akan kau temui.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Katanya, “Akan aku coba untuk melakukannya.”
“Nah Agni,” berkata gurunya, “dengarlah. Perjalanan yang harus kau tempuh adalah cukup jauh. Kau harus melingkari Gunung Semeru. Bukankah kau pernah pergi ke kaki gunung itu dari arah timur bersama aku?”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar karenanya. Perjalanan itu pernah ditempuhnya tiga tahun yang lalu. Perjalanan yang berat di antara belukar dan lereng-lereng gunung. Hanya kadang-kadang saja ditemuinya padukuhan-padukuhan kecil atau kelompok-kelompok penduduk yang tidak menetap, yang berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain untuk mencari tanah yang mungkin diusahakan oleh mereka. Kini ia harus menempuh perjalanan itu kembali.
Mahisa Agni kemudian menekurkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat kembali jalan-jalan yang pernah dilaluinya. Hutan-hutan dan lereng-lereng terjal. Kemudian diingatnya pula, apa yang pernah dilihatnya pada kaki Gunung Semeru itu, sebagai pertanda yang akan dapat dipergunakannya untuk menemukan jalan kembali.
“Agni,” terdengar gurunya itu menyambung kata-katanya, “mungkin kau akan dapat mengingatnya kembali jalan-jalan yang pernah kau tempuh. Kalau tidak Agni, maka kau dapat mencari jalan lain. Namun kau dapat menandai daerah yang pernah kita kunjungi di kaki Gunung Semeru itu. Kau pernah melihat sebuah rawa yang luas bukan?” Mahisa Agni mengangguk. “Kau melihat batu karang di tengah rawa-rawa itu?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” berkata gurunya, “aku harap rawa-rawa itu masih ada sekarang. Aku mengharap bahwa batu karang itu pun masih dapat kau temukan. Nah. Apabila batu karang itu kau temukan, maka kau akan menempuh jalan yang pendek. Kau dapat menyusurinya ke barat dan kau akan sampai pada sebuah dinding yang terjal, dinding yang gundul. Kau ingat?”
“Ya, Guru,” jawab Agni.
“Agni,” nada suara gurunya menjadi semakin rendah, “Ketahuilah bahwa di dalam gua, yang pernah kita kunjungi itu, yang terdapat di tengah-tengah dinding yang gundul, terdapat benda yang sangat berharga itu.”
Mahisa Agni menarik nafas dalam sekali. Pada saat itu ia hanya dapat melihat gua itu. Tetapi ia tidak dapat mencapainya. Ia pada waktu itu tidak sanggup untuk mendaki tebing yang gundul dan curam. Dada Mahisa Agni itu pun menjadi semakin berdebar-debar. Pada tiga tahun yang lampau, ia hanya dapat melihat gurunya itu mendaki tebing yang sengat curam dan berbahaya. Dan ditinggalkannya ia sendiri menanti di bawahnya. Dan sekarang ia sendiri harus mendaki tebing itu, untuk mencapai gua di tengah lereng gundul di kaki Gunung Semeru.
“Suatu perjalanan yang berat,” desisnya di dalam hati.
Gurunya yang melihat wajah Mahisa Agni itu menjadi suram segera berkata pula, “Agni, kesempatan ini akan menjadi satu ujian bagimu. Ketika kau berhasil Agni, maka hidupmu di kemudian hari akan penuh ditandai dengan kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Kau akan menjadi seorang jantan yang namamu akan ditakuti oleh setiap orang yang mendengarnya. Sedang apa yang akan kau lakukan kemudian tergantung kepada keadaanmu dan tujuan hidupmu. Sebab sesudah taraf yang terakhir ini, maka aku tidak akan dapat ikut serta menarik garis yang melingkari hidupmu. Kau adalah seorang murid yang sudah dewasa, yang seharusnya sudah lepas dari induknya. Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri.”
Mahisa Agni masih menekurkan kepalanya. Dengan penuh kecermatan ia mengamati persoalannya. Namun tak ada yang dapat dilakukan selain melakukan tugas itu. Meskipun demikian, sempat juga ia merenungkan kata-kata gurunya itu, dan yang terakhir, ‘Hitam putih namamu tergantung padamu sendiri’.
Tetapi terasa pula di dada Mahisa Agni sesuatu yang agak lain dari kebiasaan gurunya. Gurunya yang penuh dengan pengabdian dan kebaktian diri kepada sumber hidupnya itu tiba-tiba memberinya beberapa petunjuk yang seakan-akan hanya diwarnai oleh tata lahiriahnya saja. Ia akan menjadi seorang yang sakti. Seorang yang hampir tak akan dapat dikalahkan. Seorang yang hidupnya akan ditandai oleh kemenangan-kemenangan dalam setiap persoalan. Mahisa Agni tidak mengerti seluruhnya apa yang dimaksudkan oleh gurunya. Apakah hanya itu? Namun ia tidak berani bertanya. Mungkin ada sesuatu yang perlu direnungkannya.
“Pada suatu ketika aku akan menemukan jawabnya,” pikirnya.
Yang kemudian dikatakan oleh gurunya adalah, “Mahisa Agni. Sejak hari ini kau harus mempersiapkan dirimu. Lahir batin untuk menempuh perjalaran itu. Kamu harus menguasai setiap persoalan yang akan kau temui di sepanjang perjalananmu. Amati persoalan itu dengan seksama. Baru kemudian kau cari pemecahannya.”
Mahisa Agni mengangguk dengan khidmatnya. Jawabnya, “Ya, Guru.”
“Mungkin kau harus mengalami gangguan lahir batin. Nah. kemudian tergantung kepadamu, karena kau akan pergi seorang diri. Ingatlah, perjalanan itu akan merupakan ujian bagimu. Kalau kau berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang diberikan oleh pengujimu sesuai dengan maksudnya, maka pasti kau akan lulus dalam ujian itu. Namun kalau tidak, maka kesempatan itu tidak akan terulang kembali.”
“Aku akan melakukan dengan kesungguhan hatiku,” jawab Agni, “Mudahkan yang Maha Agung memberikan tuntunan kepadaku.”
“Mudah-mudahan,” sahut gurunya. Terdengar suara menjadi serak.
Dan ketika Agni mencoba melihat wajah gurunya, ia terkejut. Wajah itu sedemikian sayunya, dan bahkan ketika terpandang olehnya mata gurunya itu, bergolaklah perasaan Mahisa Agni. Dilihatnya meskipun hanya sekejap, bahwa sepasang mata gurunya itu menjadi basah.
“Apakah yang sebenarnya terjadi?” pertanyaan itu timbul di dalam hatinya. Bahkan timbul pula prasangka di dalam dadanya, “Apakah sebenarnya Guru marah kepadaku? Apakah sebenarnya yang diminta oleh ayah Mahendra?”
Dan tiba-tiba saja mengianglah di sudut hatinya, “Apakah aku sedang dibuang oleh guruku?”
Tidak, dicobanya untuk mengatasi perasaannya yang sedang bergelora dengan riuhnya di dalam dirinya. Timbullah bermacam-macam prasangka. Namun akhirnya ia mendapatkan suatu kesimpulan.
“Guru akan memberikan hadiah itu kepadaku. Adalah wajar kalau aku harus mengambilnya sendiri. Kalau guru akan menghukumku atas permintaan ayah Mahendra, maka guru pasti akan berterus terang kepadaku. Sebab aku adalah muridnya sejak kecilku.”
Mahisa Agni tersadar dari renungannya ketika gurunya berkata dengan nada yang dalam, “Agni. Masih ada beberapa pesanku untukmu. Apabila sudah kau temukan rawa-rawa itu dan kau temukan batu karang di dalamnya, maka untuk seterusnya kau harus menempuh jalan di malam hari sampai kau capai dinding yang gundul itu. Kemudian baru kau akan mendakinya di siang hari.”
Syarat itu bertambah memberatinya. Karena itu maka debar jantung Agni pun bertambah-tambah pula. Meskipun demikian jawabnya, “Ya. Guru, akan aku lakukan semuanya.”
“Bagus Agni. Sekarang beristirahatlah. Kau tentukan sendiri kapan kau akan berangkat,” kata gurunya pula.
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. kemudian ia mohon diri untuk beristirahat. Ia sudah tidak ingat lagi akan permintaan Wiraprana untuk memberinya beberapa petunjuk tata bela diri. Mahisa Agni langsung pergi ke biliknya. Perlahan-lahan ia berbaring di pembaringannya. Ditatapnya kayu-kayu yang malang melintang di atap rumahnya. Dan akhirnya ia menarik nafas panjang-panjang.
“Ujian,” desisnya. Dan diulanginya, “ujian yang berat.”
Dicobanya untuk membayangkan apa yang kira-kira akan dialaminya dalam perjalanan itu. Binatang buas. Kelompok-kelompok orang jahat yang akan dapat ditemuinya di perjalanannya. Berjuang melawan alam yang garang. Kalau itu semua dapat diatasinya, maka akan didapatnya kesaktian.
“Aku berguru dalam olah kanuragan untuk mendapatkan kesaktian,” gumamnya, “dengan kesaktian banyak yang dapat aku lakukan. Aku akan dapat mencapai dan menegakkan nilai-nilai kebenaran, melawan kesaktian-kesaktian yang akan memaksakan kemungkaran dan kejahatan.”
“Hem,” Agni menarik nafas. Katanya kepala dirinya sendiri, “Tetapi kau harus ingat, hitam putih namamu ditentukan oleh perbuatanmu.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, namun terdengar kata-kata di dalam dirinya, “Apapun yang akan aku lakukan, kalau aku orang yang maha sakti, adakah yang akan merintanginya?”
Wajah Mahisa Agni pun kemudian menjadi tegang. Kata-kata itu kembali terngiang di hatinya, “Aku akan menjadi seorang yang maha sakti. Betapapun hitam namaku kelak, namun apa peduliku. Tak seorang akan berani menghalangi aku. Seandainya aku ingin membunuh Wiraprana, Mahendra, bahkan siapa saja, siapakah yang dapat menuntut aku? Kekuasaan Tumapel tak akan berarti bagiku, juga kekuasaan Kediri. Semua akan hancur oleh kesaktianku.”
Dada Mahisa Agni menjadi bergemuruh karenanya. Kesaktian, kekuatan berarti kekuasaan. Kalau kesaktian dan kekuatan ini tak terkalahkan, maka kekuasaannya pun tak akan tergoyahkan. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar langkah seseorang masuk ke dalam biliknya. Ketika ia berpaling, maka dilihatnya ibunya. Seorang emban yang sudah tua. Agni pun kemudian bangkit dan duduk di tepi pembaringannya.
“Adakah kau menghadap gurumu Agni?” bertanya ibunya sambil duduk di sisinya.
“Ya, Ibu,” jawab Agni.
“Kau menghadap seperti biasa, ataukah ada sesuatu yang penting?”
“Ada sesuatu yang penting. Bahkan penting sekali bagi masa depanku.”
“Apakah itu?”
“Sekali lagi guru memberi aku hadiah.”
“Hadiah?” ibunya mengerutkan keningnya.
Mahisa Agni mengangguk. Lalu diceritakannya apa yang baru saja didengarnya untuk mengambil rangkapan pusaka di kaki Gunung Semeru.
“Oh,” ibunya menarik nafas panjang, “Apakah gunanya pusaka itu?”
Agnilah yang kemudian menjadi terkejut. Ditatapnya wajah ibunya yang telah mulai berkeriput oleh garis-garis umur. Maka katanya, “Bukankah pusaka itu idaman setiap lelaki? Aku berguru pada Empu Purwa karena aku ingin mendapatkan kesaktian sebagai bekal hidupku kelak. Kini aku akan mendapat pusaka rangkapan trisula itu, dan aku akan menjadi seseorang laki-laki yang pilih tanding. Bukankah itu satu kebahagiaan bagiku. Apa yang aku kehendaki akan berlaku.”
“Itu saja?” bertanya ibunya pendek.
Kembali Agni terkejut. Ia tidak tahu maksud ibunya. Sehingga terdengar pertanyaannya, “Apakah yang ibu maksudkan?”
“Kau berguru kepada Empu Purwa hanya untuk mendapat kesaktian, sehingga semua kehendakmu akan berlaku?”
“Apa lagi?”
“Oh,” ibunya mengeluh. Dan Mahisa Agni menjadi bingung. “Agni,” berkata ibunya, “adakah Empu Purwa tidak memberimu pesan, apa yang harus kau lakukan setelah kau mendapat pusaka-pusaka itu?”
Mahisa Agni menggeleng. Tetapi kemudian ia berkata, “Empu Purwa hanya sekedar memberi aku peringatan, ‘Hitam putih namaku tergantung atas perbuatanku’.”
Ibunya mengangguk-angguk. Namun ia bergumam, “Nah, kata-kata itu pendek saja. Cobalah mengerti artinya.”
Mahisa Agni mengangkat keningnya. Katanya, “Tetapi kalau aku seorang yang tak ada bandingnya, apakah artinya pesan itu? Apapun kata orang tentang diriku, tentang namaku, namun mereka tak akan dapat berbuat apapun atasku. Sebab aku tak akan terkalahkan.”
Sekali lagi ibunya terkejut. Dengan wajah yang tegang perempuan tua itu bertanya, “Agni. Apakah sebenarnya yang dikatakan oleh gurumu? Hanya itu saja? Mengambil pusaka supaya kau menjadi sakti tanpa tanding? Kemudian membiarkan kau menentukan namamu sendiri?” Mahisa Agni mengangguk.
“Aneh?” gumam ibunya.
“Kenapa aneh?” bertanya Mahisa Agni. Namun pertanyaan itu memang sudah tersimpan di dalam dirinya, sejak ia mendengar gurunya memberinya beberapa petunjuk mengenai letak tempat-tempat yang harus ditujunya.
Perempuan tua itu pun merasakan sesuatu yang agak berbeda dari kebiasaan Empu Purwa. Kali ini Empu itu hanya memandang persoalannya dari sudut lahiriah. Pusaka dan kesaktian. Apakah itu sudah cukup?
“Mahisa Agni,” berkata ibunya kemudian, Perlahan-lahan, namun penuh dengan tekanan sebagai seorang ibu, “aku senang mendengar kau akan menerima pusaka rangkapan dan kau akan menjadi seorang yang sakti. Namun sebagai seorang ibu, aku pun mencemaskan nasibmu. Perjalanan itu bukan perjalanan yang menyenangkan. Namun yang lebih mencemaskan aku adalah, bagaimanakah kau sesudah memiliki pusaka-pusaka itu, Agni.”
“Kenapa?”
“Kalau kau salah langkah, maka kau akan terjerumus ke dalam satu dunia yang penuh dengan pertentangan dan permusuhan”
“Bukankah kalau aku menjadi seorang yang tak terkalahkan, aku tak usah cemas, meskipun seandainya orang di seluruh dunia ini memusuhi aku?”
“Benar Agni. Tetapi apakah kau sangka bahwa kau tak perlu mempertanggung jawabkan perbuatan-perbuatanmu itu?”
“Bertanggung jawab kepada siapa? Akuwu Tumapel? Maharaja Kediri atau siapa? Mereka tak akan mampu mengalahkan aku meskipun semua laskarnya dikerahkan.”
Ibunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilihatnya keragu-raguan memancar di mata anaknya. Karena itu ia menjadi gembira. Katanya, “Kau tidak yakin akan kata-katamu Agni. Aku menjadi berbahagia karenanya. Karena masih ada suara lain di dalam hatimu. Nah, Agni. Aku ingin mempertegas suara hatimu yang lain itu. Kau tidak akan bertanggung jawab kepada Akuwu Tumapel atau kepada Maharaja Kertajaya. Mereka adalah manusia-manusia biasa. Kalau kau menjadi sakti tanpa tanding dan melampaui kesaktian-kesaktian mereka, malahan kau akan dapat mengusir mereka dari kedudukannya, dan kesaktianmu benar-benar dapat membentuk kekuasaan melampaui kekuasaan mereka itu.”
“Lalu kepada siapa?”
“Kekuasaan yang tak dapat dilampaui oleh kekuasaan apapun, Yang Maha Agung.”
“Oh,” Mahisa Agni mengeluh.
Dan wajahnya pun kemudian ditundukkannya dalam-dalam. Ia tidak pernah melupakan Yang Maha Agung, yang telah menjadikannya. bahkan seluruh alam dan isinya. Namun kadang-kadang gelora jiwa jantannya sering mengganggunya. Kerinduannya pada kesempurnaan ilmu kanuragan kadang-kadang telah membawanya ke alam yang penuh dengan kekerasan dan permusuhan. Kadang-kadang direka-rekanya juga permusuhan-permusuhan yang akan terjadi.
“Kalau tidak ada permusuhan-permusuhan, kapankah aku dapat menunjukkan kesaktianku dan kapankah orang lain akan mengagumi aku?”
Namun setiap kali ia berhasil menyadari kesalahannya, meskipun baru di dalam angan-angan.
Maka kemudian didengarnya ibunya berkata pula, “Agni, sebenarnyalah bahwa kesaktian dan kekuatan yang dipancarkannya, kemenangan dalam setiap pertentangan dan permusuhan, bukanlah kekuasaan. Apabila demikian, maka hidup manusia ini tidak akan lebih baik dari kehidupan binatang-binatang di dalam rimba. Harimau yang kuat, dan memiliki senjata yang kuat, pula pada tubuhnya, kuku, gigi dan taring-taringnya akan dapat memaksakan kehendaknya kepada binatang-binatang yang lemah. Kijang, rusa dan sebagainya, yang hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri apabila mampu. Bahkan sampai merampas nyawanya sekali pun. Namun binatang tidak memiliki kesadaran akan ‘adanya dan diadakannya’. Karena itulah maka binatang tidak memiliki sifat-sifatnya yang langgeng. Hidup sesudah hidup ini. Di mana akan diperhitungkan semua perbuatan dan tingkah laku manusia. Itulah sebabnya manusia mengenal nilai-nilai hidupnya. Nilai-nilai hidup kemanusiaan. Nah, Agni. Apakah sekarang artinya kesaktian dan kekuasaan duniawi ini?”
Wajah Agni menjadi semakin tunduk. Kata-kata ibunya itu mengetuk-ngetuk dadanya. Sudah sering kali ia mendengar nasihat-nasihat gurunya tentang hidupnya dan hidup di masa-masa langgeng. Namun ketika ibunya sendiri yang mengucapkannya berasa seakan-akan meresap sampai ke tulang sumsumnya.
“Agni,” berkata ibunya, “aku hidup di padepokan ini telah bertahun-tahun. Karena itu aku telah sering kali mendengar Empu Purwa mengatakannya itu semua, meskipun tidak kepadaku. Mungkin kepada anaknya, atau kepada muridnya, kau. Atau kadang-kadang aku mendengarnya dari balik dinding apabila ada beberapa orang tamu, sahabat-sahabat Empu Purwa yang kadang-kadang mengadakan sarasehan. Karena itu apa yang aku katakan, mungkin telah kau dengar langsung dari gurumu. Namun aku adalah ibumu. Umurku telah berlipat dari umurmu. Karena itu aku ingin mengatakannya kembali kepadamu. Aku sangka umur mudamu kadang-kadang masih mengganggumu.”
Agni tidak menjawab. Namun kepalanya masih tunduk. Diangguk-anggukkannya kepalanya perlahan-lahan dan dengan penuh minat ibunya berkata pula,
“Karena itu Anakku. Kesaktian baru bermanfaat apabila ia dipergunakan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Kalau ada kekuasaan di muka bumi ini, kekuasaan manusia, maka ia harus dilambari atas nilai-nilai itu pula, nilai-nilai hidup bersama yang ditentukan bersama pula dalam pergaulan hidup yang memberikan kebahagiaan bersama. Nah, terhadap kekuasaan yang demikian itulah kesaktian wajib diamalkan untuk menegakkannya. Bukan untuk merampasnya.”
Ibunya berhenti sejenak. Ditatapnya anak laki-lakinya yang bertubuh kokoh kuat dengan jalur-jalur ototnya menjalar di seluruh permukaan kulitnya. Kemudian terdengar kembali perempuan itu berkata,
“Nah, Agni. Pergilah ke kaki Gunung Semeru. Usahakan supaya perintah gurumu dapat kau penuhi. Dan sadarilah apa yang akan kau perbuat kelak sesudah pusaka-pusaka itu berada di tanganmu.”
“Baik, Ibu,” jawab Mahisa Agni lirih, namun sampai ke dasar hatinya.
Ibunya menganggukkan kepalanya. Kemudian sambil berdiri ia berkata, “Kalau sampai saatnya kau pergi anakku, pergilah dengan tekad yang bulat. Dengan janji di dalam hati, bahwa apa yang kau capai semata-mata untuk tujuan yang baik, maka Yang Maha Agung akan selalu memberkahi.”
“Baik, Ibu,” sahut Mahisa Agni sambil mengangguk-angguk. Ia pun kemudian berdiri pula dan melepaskan ibunya pergi dari mulut pintu biliknya.
Kata-kata ibunya itu merupakan penegasan dari segenap perasaan-perasaan yang bergolak di dalam dadanya. Dan ia bersyukur karenanya. Maka kemudian dibulatkannya tekad di dalam dadanya,
“Aku akan pergi ke Gunung Semeru.”
Kepada Wiraprana, Mahisa Agni terpaksa membatalkan janjinya untuk sementara, katanya, “Prana, besok kalau aku kembali dari perantauan ini, aku berjanji akan memenuhi permintaan itu. Bukankah aku menjadi bergembira pula dengan hasratmu itu. Tetapi sayang aku terpaksa menundanya.”
Wiraprana pun menjadi kecewa karenanya. Tetapi ia menyadari bahwa pasti ada sesuatu yang penting dalam perjalanan yang akan ditempuh oleh sahabatnya itu.
“Mudah-mudahan kau lekas kembali Agni. Apakah perjalanan itu jauh?”
Agni menggeleng. “Tidak. Tidak begitu jauh.”
Wiraprana memandang wajah Agni dengan penuh pertanyaan. Tetapi pertanyaan itu tak diucapkannya. Ia sadar, bahwa bukan menjadi haknya untuk mengetahui segala persoalan sahabatnya itu. Namun kepergian itu pasti akan memerlukan waktu yang cukup panjang sehingga dengan demikian, Panawijen akan terasa sepi baginya. Meskipun banyak anak-anak muda yang lain, tetapi di samping Mahisa Agni, Wiraprana merasa tenang dan sejuk.
“Ah,” katanya di dalam hati, “aku harus dapat menyejukkan hatiku sendiri. Kelak kalau aku sudah meyakini diriku sendiri sesudah Mahisa Agni kembali, maka aku akan tegak di atas kemampuan sendiri.”
Setelah sampai saatnya Mahisa Agni merasa dirinya siap untuk berangkat menempuh perjalanan itu, maka sekali lagi ia menghadap gurunya. Diharapkannya gurunya akan memberinya pesan-pesan terakhir yang bermanfaat bagi perjalanannya lahir dan batin. Namun Mahisa Agni menjadi kecewa. Gurunya tidak memberinya pesan-pesan baru kepadanya, selain bentuk dari benda yang dicarinya. Mahisa Agni mendengarkan setiap kata-kata gurunya dengan tekun, supaya ia kelak tidak keliru. Setelah ia menempuh perjalanan yang sulit itu ia tidak ingin menemukan benda yang sama sekali bukan benda yang dikehendakinya.
“Agni,” berkata gurunya, “benda itu tampaknya memang tidak berharga sama sekali. Bentuknya tidak lebih dari sebatang akar wregu. Namun akar itu berwarna putih. Panjangnya kurang lebih hanya dua cengkang. Benda itu terbalut kain berwarna merah muda bertepi putih.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa ia menjadi heran. Sebatang akar wregu berwarna putih dan sudah dibalut dengan kain. Siapakah yang meletakkannya di sana? Meskipun pertanyaan itu tidak diucapkan, tetapi Empu Purwa dapat merasakan perasaan itu. Maka katanya,
“Tak seorang pun yang tahu, siapakah yang meletakkan benda itu di sana. Dan mungkin pula tak seorang pun yang tahu, bahwa ada benda itu di sana. Aku mengetahuinya dari sebuah mimpi. Dan aku pernah membuktikannya melihat sendiri benda itu beberapa tahun yang lampau. Namun pada saat itu aku belum dapat mengambilnya.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ingin ia bertanya kenapa pada saat itu gurunya belum dapat mengambilnya. Tetapi ia tidak berani.
“Ah. Pasti ada sebab-sebab yang penting,” katanya di dalam hati.
“Agni,” berkata gurunya pula. Nadanya menjadi semakin dalam, “Ingat! Apabila kau telah menemukan batu karang itu, kau harus menempuh perjalananmu di malam hari. Ada banyak sebabnya. Yang terpenting, perjalananmu tidak boleh dilihat oleh seorang pun. Meskipun hanya oleh seorang pencari kayu sekali pun. Namun aku sangka daerah itu tak pernah dikunjungi orang.”
“Ya, Guru,” jawab Agni, “akan aku penuhi semua perintah.”
“Bagus,” sahut Empu Purwa sambil mengangguk-anggukkan kepala, “mudah-mudahan kau berhasil.”
“Pangestu Guru untukku,” pinta Mahisa Agni.
Empu Purwa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tampaklah pada wajahnya yang suram, sepasang matanya yang sayu. Setelah ia berdiam diri sejenak, maka katanya,
“Agni, bawalah obat penawar racun ini. Mungkin kau akan bertemu dengan ular-ular berbisa, atau serangga yang tak kalah tajam bisanya. Sebuah sengatan sudah cukup untuk membunuhmu dalam waktu sekejap.”
Diberikannya oleh Empu Purwa sebuah tabung kecil. Ketika tabung itu dibuka dilihatnya di dalamnya beberapa gelintir ramuan obat.
“Agni,” berkata gurunya, “aku membuat param itu dari akar-akar dan beberapa jenis racun. Kalau kau akan mempergunakannya, cairkanlah param itu dengan air. Kemudian gosokkanlah pada seluruh tubuhmu. Atau apabila kau telah terlanjur tergigit ular atau terkena racun apapun, gosokkanlah obat itu di lukamu. Tetapi kalau racun itu masuk ke dalam tubuhmu melalui mulutmu Agni, maka pakailah ramuan yang lain.”
Empu Purwa itu berhenti sejenak. Sebuah tabung yang lain diberikannya pula kepada Mahisa Agni. Di dalam tabung itu pun terdapat beberapa butiran ramuan obat-obatan. Namun jauh lebih kecil dari butiran-butiran obat yang pertama.
“Ingat Agni,” berkata gurunya, “Jangan sampai keliru! Kalau kau keliru mempergunakan, maka akibatnya akan sebaliknya. Obat yang pertama hanya boleh kau gosokkan di tubuhmu, sedang obat yang kecil itu, harus kau telan.”
“Ya, Guru,” sahut Mahisa Agni.
Empu Purwa memandang muridnya dengan pandangan yang aneh. Sedang Mahisa Agni masih saja menundukkan wajahnya. Tetapi tiba-tiba wajahnya itu pun menjadi tegang ketika gurunya berkata pula,
“Mahisa Agni. Tinggallah kini pesan terakhir bagimu. Dalam perjalanan yang berbahaya itu Agni, sebaiknya trisulamu kau tinggalkan saja di padepokan ini.”
Mahisa Agni terkejut mendengarnya justru dalam perjalanan yang berbahaya itu diperlukannya kawan dalam perjalanannya. Bukankah pusaka itu dapat dijadikannya kawan yang baik apabila ia berhadapan dengan bahaya. Tetapi sebelum ia berkata apapun didengarnya gurunya meneruskan,
“Agni. Trisula itu adalah benda yang sangat berharga. Karena itu apabila pusaka itu hilang, maka hilanglah semuanya bagi padepokan kita. Semua perjuangan masa lampau akan lenyap bersamanya apalagi harapan bagi masa mendatang. Karena itu janganlah hal itu terjadi. Kau ingin menemukan rangkapannya, namun pusaka itu sendiri jangan sampai lepas dari tangan kita.”
Mahisa mengangguk-anggukkan kepalanya, meskipun ia tidak tahu seluruh persoalannya. Namun ia tidak berani membantahnya. Ia percaya saja kepada gurunya yang tentu jauh lebih bijaksana daripadanya. Meskipun kadang-kadang juga timbul prasangkanya, namun segera perabaan itu dihimpitnya ke dasar hatinya. Ayah Mahendra, sahabat guru sama sekali tidak marah atas kekalahan anaknya. Berkali-kali ia menegaskan kepada dirinya sendiri karena itu guru pun sama sekali tidak marah kepadaku.
Demikianlah maka sampailah pada saatnya Mahisa Agni meninggalkan padepokan itu. Di pagi yang cerah, ketika matahari membangunkan wajah bumi yang tetap, Mahisa Agni mohon diri kepada ibunya. Perempuan itu memandang wajah anaknya yang teguh sambil tersenyum, namun di matanya menitik beberapa butir air mata. Diciumnya kening anak itu sambil berbisik,
“Pergilah, Anakku. Mudah-mudahan kau capai cita-citamu. Harapan masa depanmu masih panjang.”
OBJEK WISATA MANCA NEGARA


































Tidak ada komentar:
Posting Komentar