PdLS-04
Mahisa Agni yang berlutut di muka ibunya itu mencium pada tangan ibunya yang dingin. Katanya, “Ibu, doakan aku, semoga Yang Maha Agung memberkahi.”
“Tentu anakku, yang Maha Agung memberkahi perjalananmu.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan dari pembaringannya. Bungkusan bekal di perjalanannya. Beberapa potong pakaian, bahan-bahan makanan dan sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya Empu Gandring. Dihiburnya dirinya sendiri dengan pusaka ayahnya itu, karena Trisulanya harus ditinggalkannya di padepokan. Setelah sekali lagi Agni mencium tangan ibunya, maka melangkahlah ia meninggalkan biliknya. Di muka pintu bilik itu Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya air mata ibunya semakin deras mengalir di pipinya yang berkeriput. Namun perempuan itu tersenyum kepadanya. Dianggukkannya kepalanya sambil bergumam,
“Selamat jalan anakku.”
Terasa sesuatu merambat di tenggorokkan Mahisa Agni. Matanya pun menjadi panas sehingga ditengadahkannya wajahnya memandang langit-langit rumah Empu Purwa itu. Baru kemudian ia menjawab,
“Terima kasih ibu.”
Di pendapa Agni melihat gurunya dan Ken Dedes berdiri memandang cahaya matahari pagi. Ketika mereka melihat Agni dengan sebuah bungkusan kecil yang diikatnya di ujung tongkat kayu, gurunya menggigit bibirnya. Kemudian katanya,
“Perjalanan yang berat, Agni. Mudah-mudahan kau berhasil.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Juga tangan gurunya itu diciumnya. “Mudah-mudahan aku berhasil memenuhi harapan guru,” berkata Mahisa Agni. Suaranya seakan-akan tertahan di dadanya.
“Aku selalu berdoa untukmu Agni.”
“Terima kasih, Guru.”
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu akan memerlukan waktu yang panjang Kakang?”
Mahisa Agni memandang wajah gurunya, seakan-akan ia akan bertanya kepadanya. Namun gurunya berdiam diri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
Karena itu, maka Mahisa Agni menjawabnya, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Ken Dedes.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya, namun tangannya masih saja sibuk mengusap matanya.
“Nah, Agni,” berkata gurunya, “mumpung hari masih pagi. Selamat jalan.”
“Terima kasih, Guru,” sahut Agni, yang kemudian dengan hati yang berat dilangkahinya satu persatu tangga pendapa yang sudah bertahun-tahun didiaminya.
Ketika sekali lagi ia berpaling, hatinya berdesir. Ia hanya sempat melihat gurunya berjalan tergesa-gesa meninggalkan pendapa langsung masuk ke sanggarnya. Yang berdiri di pendapa itu kini tinggal Ken Dedes dan di belakangnya embannya, perempuan tua yang memandang Agni dengan mata berkaca-kaca.
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu memerlukan waktu yang panjang, Kakang?” Ketika Agni sudah sampai di halaman, didengarnya Ken Dedes berteriak, “Lekaslah kembali Kakang, supaya padepokan ini tidak menjadi sepi.”
Mahisa Agni berpaling sekali lagi. Perlahan-lahan ia mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Tentu aku akan segera kembali.”
Agni menarik nafas panjang. Gadis itu benar-benar telah menumbuhkan seribu macam persoalan pada dirinya. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar sebuah tangis yang meledak. Ketika ia menoleh, dilihatnya Ken Dedes menangis di pelukan embannya yang tua. Tetapi Mahisa Agni tidak berhenti. Dengan tetap ia melangkah meninggalkan rumah itu, betapa pun berat hatinya. Di rumah itu tinggal gurunya yang telah menempanya siang malam pada tingkat yang mula-mula sekali, kemudian berturut-turut membuatnya menjadi seorang yang teguh lahir dan batin. Juga di rumah itu tinggal seorang gadis yang hampir-hampir saja menghancurkan masa depannya. Apalagi kemudian diketahuinya, bahwa ibunya berada di rumah itu pula. Ibunya yang telah melahirkannya.
“Aku pergi untuk kembali,” gumamnya seorang diri.
Akhirnya dilangkahinya regol halaman, dan dengan tergesa-gesa ia membelok menurut jalan desanya hampir melekat pagar. Dengan demikian maka ia akan segera lenyap dari pandangan mata orang-orang yang mengikutinya dari halaman dan pendapa rumahnya. Tetapi kembali hatinya berdebar-debar. Dilihatnya dari kejauhan dengan tergesa-gesa Wiraprana datang kepadanya. Anak muda itu sudah beberapa lama tidak pernah datang ke rumah itu, justru karena hubungannya dengan Ken Dedes.
“Agni,” katanya hampir berteriak, “benarkah kau berangkat pagi ini?” Mahisa Agni mengangguk. “Aku mendengar dari seorang cantrik di sudut desa. Kenapa kau tak memberitahukan kepadaku?”
“Aku bermaksud singgah sebentar di rumahmu Prana,” sahut Mahisa Agni.
“Oh. Marilah,” ajak Wiraprana.
“Kita sudah bertemu di sini.
“Lalu?”
“Aku tak usah singgah ke sana.”
“Oh,” Wiraprana menjadi kecewa.
“Sampaikan baktiku kepada Bapa Buyut Panawijen. Aku mohon diri untuk beberapa lama.”
Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Baik,” katanya, “Tetapi apakah kau tidak singgah meskipun hanya sebentar?”
“Terima kasih Prana, terima kasih,” jawab Agni.
Wiraprana benar-benar menjadi kecewa. Ditatapnya wajah sahabatnya. Kemudian katanya,”Selamat jalan Agni.”
Mahisa Agni tersenyum. Senyum yang memancar dari berbagai perasaan di dalam dirinya. Terdengar anak muda itu berkata perlahan-lahan, “Prana, meskipun kau belum menjadi suami Ken Dedes, tetapi jagalah dia dari jarak yang ada sekarang. Kalau kau mengalami kesulitan-kesulitan apa pun, terutama apabila terjadi kekerasan karena persoalan gadis itu, sampaikanlah secepatnya kepada ayahnya.”
Wiraprana mengerutkan keningnya. Timbullah pengakuan di dadanya atas kekurangannya, sehingga orang lain harus menolongnya dalam persoalan yang seharusnya ditanggungkannya. Karena itu maka katanya,
“Kepergianmu sangat mengecewakan aku, Agni. Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan setidak-tidaknya untuk menjaga diriku tertunda karenanya. Namun aku tak dapat mementingkan diriku sendiri. Aku menghormati kepentinganmu pula. Karena itu mudah-mudahan kau lekas kembali.”
Akhirnya Wiraprana dan Mahisa Agni pun berpisah pula. Diantarkannya Agni sampai ke sudut desa, kemudian dilepasnya sahabatnya itu dengan hati yang berat.
“Aku hanya pergi untuk beberapa lama,” berkata Mahisa Agni, “Jangan risaukan aku. Sampaikan kepada Ken Dedes apabila kau sempat bertemu, juga kepada pemomongnya, perempuan tua itu. Aku tidak sedang berangkat perang. Tetapi hanyalah sebuah perjalanan biasa. Mungkin akan merupakan sebuah tamasya yang menyenangkan. Melihat lembah dan ngarai yang belum pernah aku lihat.”
Wiraprana tersenyum. Senyum yang masam. Jawabnya, “Apakah bedanya perjalananmu dengan sepasukan prajurit yang sedang berangkat ke medan perang? Mungkin daerah pertempuran yang kau jumpai jauh lebih luas dari daerah peperangan. Mungkin musuh yang kau jumpai pun jauh lebih banyak dari musuh setiap prajurit dolan peperangan.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Kemudian katanya, “Nah, Selamat tinggal Wiraprana, selamat tinggal sahabat-sahabat yang lain. Sampaikan salamku kepada mereka.”
Wiraprana mengangguk, dan Mahisa Agni pun kemudian memutar tubuhnya, dan berjalan dengan hati yang tetap meninggalkan padukuhan yang telah bertahun-tahun didiaminya. Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, memandang langit yang biru bersih, dilihatnya burung-burung manyar beterbangan. Awan yang putih sehelai-sehelai hanyut dalam arus angin yang lembut.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya di sekitarnya, alam yang maha luas. Pepohonan, burung-burung di udara, air dan binatang-binatang di dalamnya, rumput dan perdu. Terasalah betapa tangan yang Maha Agung telah memelihara semuanya itu. Dan karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin berbesar hati. Ternyata di segala sudut bumi, di antara hutan-hutan belukar, di antara lembah dan ngarai, di segala tempat, bahkan di manapun yang diangan-angankannya, hadirlah Yang Maha Agung itu. Dan pada-Nya Mahisa Agni memperoleh ketenteraman.
Mahisa Agni berjalan terus dengan cepat. Tujuannya adalah cukup jauh, sehingga setiap saat harus dimanfaatkannya. Ketika ia berpaling, lamat-lamat dilihatnya padukuhan Panawijen. Anak muda itu menarik nafas dalam. Padukuhan itu seakan-akan melambai kepadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk-angguk.
“Aku akan segera kembali padamu Panawijen.
Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri terkejut karenanya. Ketika ia memandang berkeliling tak dilihatnya apa pun, selain dataran, sawah yang sudah semakin tipis, pepohonan dan di kejauhan gunung yang biru. Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian dihiburnya hatinya sendiri.
“Ah, alangkah cengengnya aku ini. Aku adalah seorang laki-laki yang dewasa. Sudah sepantasnya aku melakukan perjalanan-perjalanan yang berbahaya.”
Namun terdengar suara di hatinya, “Aku tidak mencemaskan perjalanan ini, tetapi justru mencemaskan nasib Panawijen, nasib Ken Dedes.”
Apalagi ketika tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat pada mimpinya beberapa waktu yang lalu. Mimpinya tentang Ken Dedes yang meloncat ke dalam sebuah perahu. Namun akhirnya, baik Ken Dedes sendiri mau pun perahunya tenggelam ditelan oleh ombak yang ganas. Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Namun kemudian diingatnya pula gurunya berkata,
“Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”
“Mudah-mudahan,” gumamnya, “mudah-mudahan mimpiku hanyalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur.”
Meskipun demikian ia masih menjadi gelisah karenanya. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk kembali ke Panawijen.
“Hambatan yang pertama,” katanya menggeram, “memang hambatan yang paling sulit di atasi, adalah hambatan-hambatan yang timbul dari diri sendiri.”
Karena itu, segera Agni berusaha untuk membulatkan tekadnya kembali. Digelengkan kepalanya seperti akan melepaskan setiap kenangan yang akan dapat menghambatnya. Dan kembali Mahisa Agni berjalan cepat-cepat menjauhi Panawijen.
Matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi, dan Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin jauh dari desanya. Kini telah dilampauinya daerah-daerah persawahan yang paling jauh sekali pun. Di hadapannya terbentang sebuah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul perdu.
Mahisa Agni pun masih berjalan terus. Ia dapat menempuh jalan yang berbeda-beda. Yang mana pun tak ada bedanya. Namun arahnyalah yang harus dijaganya supaya ia tidak tersesat. Gunung Semeru. Dan ia harus melingkari Gunung itu dan mencapai kakinya dari arah timur. Ia tidak tahu berapa hari perjalanannya itu berlangsung.
Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan lewat padang rumput Karautan. Ia tidak tahu, kenapa padang rumput itu menariknya. Sebenarnya ia dapat menempuh jalan lain, lewat Talrampak atau Kaligeneng. Meskipun telah diketahuinya bahwa kini hantu yang bernama Ken Arok itu telah tidak ada di sana, namun sebuah kenangan yang aneh telah menariknya.
Sebelum Mahisa Agni menyadari, ia telah berjalan menurut jalan ke padang rumput Karautan. Meskipun betapa panasnya. Ditaruhnya bungkusan bekalnya di atas kepalanya, untuk mengurangi panas yang seakan-akan membakar rambutnya. Tetapi padang rumput itu tampaknya masih sepi. Jalan yang menjelujur di antaranya masih belum tampak banyak dilewati orang, bahkan masih ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Hanya rombongan-rombongan yang besarlah yang berani lewat di padang rumput itu.
“Jalan ini sebenarnya sudah aman,” gumamnya, “tetapi belum juga banyak orang yang berani lewat di sini. Ah, mungkin para pedagang masih meragukan kebenaran berita, bahwa hantu Karautan telah berpindah tempat.” Agni tersenyum sendiri. Alangkah lucunya seandainya ia sendiri menggantikannya di sini. “Kalau saat itu aku bunuh Ken Arok, mungkin sekali aku menjadi penghuni di padang rumput ini.”
Tetapi kini padang rumput itu telah tidak menakutkan lagi. Meskipun masih terlalu sepi. Mahisa Agni berjalan dengan langkah yang cepat dan tetap. Matahari yang terik semakin lama telah semakin condong ke barat. Sebuah kenangan yang aneh telah menyentuh perasaan Mahisa Agni ketika ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul di mana hantu Karautan sering bersembunyi. Di antara gerumbul-gerumbul itu pulalah ia mendengar Ken Arok berkata kepadanya, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu licin dan lapang.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Kata-kata itu disimpannya di dalam hatinya.
Akhirnya, ketika senja turun, Mahisa Agni telah melampaui padang rumput yang sepi itu. Dilewatinya beberapa buah padukuhan kecil dan akhirnya ia sampai ke tepi sebuah hutan yang rindang. Hutan yang setiap hari dikunjungi orang yang sedang mencari kayu. Di situlah Mahisa Agni berhasrat untuk beristirahat. Hutan itu telah sering dilewatinya dengan gurunya. Dengan setiap kali ia pergi ke daerah-daerah yang agak jauh bersama gurunya, maka diajarinya ia mencari tempat-tempat untuk bermalam.
Demikianlah Mahisa Agni telah melampaui perjalanannya untuk satu hari. Namun apa yang dicapainya barulah sebuah permulaan yang pendek. Di hadapannya masih terbentang perjalanan yang berlipat-lipat jauhnya. Malam itu Mahisa Agni tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan itu seakan-akan betapa lancarnya. Di pagi harinya, dengan sebuah bandil Agni berusaha untuk berburu binatang. Dan ternyata Agni adalah seorang anak muda yang tangkas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah mendapatkan buruannya untuk makan paginya.
Demikianlah, Agni melampauinya hari demi hari. Perjalanannya semakin lama menjadi semakin berat. Hutan yang kadang-kadang sedemikian rapatnya ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh-tumbuhan. Sungai-sungai yang deras dan apa pun yang melintang di hadapannya. Tetapi di samping itu perjalanan Agni pun tidak sepi dari persoalan-persoalan yang sudah diduganya sejak semula. Binatang buas, dan orang-orang jahat yang dijumpainya. Namun karena ketabahan hatinya, satu demi satu semuanya berhasil diatasinya.
Akhirnya, sampailah pada suatu ketika, Mahisa Agni mencapai kaki Gunung Semeru. Kaki gunung yang tak terkirakan tingginya. Hutan-hutan yang padat tumbuh melingkarinya. Ketika dilihatnya pohon-pohon raksasa yang tumbuh di hutan-hutan itu, serta daun-daunnya yang menjulang ke langit, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Telah banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Telah banyak penderitaan yang dialami. Namun kini keadaan yang terakhir terbentang di hadapannya. Apakah ia akan berhasil menempuh ujiannya?
Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya gunung yang tegak di hadapannya. Pohon-pohonan yang seakan-akan mendaki tebingnya. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga menutupi lambung bukit itu. Tetapi perjalanannya masih belum akan berhenti. Meskipun gunung itu seakan-akan telah tegak di hadapannya, namun perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh. Apalagi ia harus menemukan sebuah rawa-rawa di lereng sebelah timur gunung itu. Sehingga dengan demikian ia masih harus berjalan melingkar.
Kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya. Kini ia tidak berjalan terlalu cepat. Perlahan-lahan, sedang berbagai persoalan membelit hatinya. Ia merasa, betapa kecil dirinya di antara pohon-pohon raksasa, batu-batu besar dan gunung yang menjulang itu. Dan betapa kecil pula dirinya, lebih-lebih lagi dihadapkan kepada yang telah menciptakan alam ini. Namun, betapa pun juga, Mahisa Agni merasa bersyukur bahwa sebagian perjalanannya telah dilampauinya. Jarak yang ditempuhnya telah melampaui jarak yang akan dilaluinya.
Kini Mahisa Agni mencoba untuk menghindari hutan-hutan yang lebat itu, meskipun jaraknya menjadi agak jauh. Diselusupnya daerah-daerah yang tidak begitu padat, yang tidak terlalu sulit dilaluinya. Meskipun jaraknya makin jauh, namun dengan demikian ia mengharap perjalanannya menjadi semakin cepat.
Di daerah-daerah yang demikian, Mahisa Agni tidak melupakan pesan gurunya. Setiap saat ia akan dapat digigil ular-ular kecil yang berkeliaran di tanah, dan serangga-serangga yang berbisa. Karena itu, tubuhnya dilumurinya dengan param pemberian Empu Purwa. Sekali ia merasakan pula, sentuhan-sentuhan pada tubuhnya oleh binatang-binatang kecil. Namun binatang-binatang itu segera meloncat menghindar. Mungkin di dalam ramuan param itu, terdapat berbagai ramuan yang tak disukai oleh jenis-jenis serangga berbisa.
Setelah Mahisa Agni bermalam satu malam lagi, sampailah ia di daerah sebelah timur Gunung Semeru. Dilewatinya padang- padang rumput dan perdu, kemudian Mahisa Agni menarik nafas, ketika ia sampai pada suatu daerah yang berpenghuni. Dilihatnya ladang- ladang hijau ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Meskipun sama sekali kurang teratur, namun Agni yakin, bahwa tanaman-tanaman itu ditanam orang.
Dugaannya ternyata benar. Tidak sedemikian jauh lagi, dilihatnya sebuah padukuhan kecil. Padukuhan yang dipagari oleh pagar batu setinggi orang. Rumah-rumah kecil dan batang-batang semboja di halaman. Tempat-tempat sesajen dan kandang-kandang sederhana. Ketika Mahisa Agni menghampiri padukuhan itu, dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan lagi sibuk bekerja di halaman masing-masing, di ladang-ladang dan di sawah-sawah.
“Penduduk yang rajin,” katanya di dalam hati.
Ketika mereka melihat kedatangan Mahisa Agni, tampaklah keheranan membayang di wajah mereka. Mereka satu dengan yang lain saling berpandangan, seakan-akan mereka ingin bertanya,
“Siapakah orang asing yang datang ini?”
Dengan demikian Mahisa Agni mengetahuinya, bahwa daerah ini adalah daerah yang jarang-jarang didatangi orang lain. Meskipun demikian, Mahisa Agni pun telah memaksa dirinya untuk mendekati salah seorang di antaranya. Ia ingin menanyakan apakah di sekitar daerah itu terdapat sebuah rawa-rawa seperti yang pernah dilihatnya dahulu. Tetapi, sudah barang tentu Mahisa Agni tidak dapat bertanya berterus terang. Sebab selalu diingatnya pula gurunya berkata, bahwa jangan seorang pun yang tahu akan kedatangannya ke gua di lereng gundul Gunung Semeru itu.
Orang yang di dekati oleh Mahisa Agni adalah seorang tua, berambut putih dan berjenggot putih. Dengan sinar mata yang keheran-heranan ia memandang Mahisa Agni dari ujung kepalanya sampai ke ujung kakinya. Serta ketika Mahisa Agni mengangguk hormat padanya, maka dengan tergopoh-gopoh orang itu pun menganggukkan kepalanya pula.
“Bapak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah aku dapat bertanya kepada Bapak?”
Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab dengan serta-merta, “Tentu,tentu Ngger, tentu.”
Mahisa Agni menarik nafas. Melihat sikap orang tua ini, maka segera Mahisa Agni menduga, bahwa penduduk padukuhan ini, atau setidak-tidaknya orang tua itu adalah seorang yang ramah. Karena itu maka ia bertanya,
“Apakah aku boleh mengetahui Bapak, apakah nama padukuhan ini?”
“Tentu Ngger,” jawab orang itu pula, kemudian katanya meneruskan, “nama padukuhan ini adalah Padukuhan Kajar.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat, apakah beberapa tahun yang lampau, dilaluinya juga Padukuhan Kajar ini? Tetapi nama itu belum pernah didengarnya, dan agaknya daerah ini pun belum pernah dilihatnya. Sebelum Mahisa Agni bertanya lagi, terdengarlah orang tua itu berkata,
“Siapakah Angger ini? Dari mana atau ke manakah tujuan Angger?”
“Namaku Mahisa Agni, Bapak,” jawab Agni, “aku datang dari daerah yang jauh. Dari kaki Gunung Kawi.”
“Oh,” orang tua itu terkejut, “alangkah jauhnya.” Tetapi kemudian orang itu tersenyum, “Ah, tidak begitu jauh. Seseorang pernah lewat di padukuhan ini. Ketika kami tanyakan kepadanya, dari mana ia datang, katanya ia datang dari kaki Gunung Merapi.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gunung Merapi terletak jauh sebelah barat dari Gunung Kawi. Tiba-tiba ia tertarik pada keterangan itu, sehingga ia bertanya,
“Siapakah orang itu Bapak?”
Orang itu mencoba mengingat-ingat, namun beberapa saat ia belum juga menjawab. Akhirnya ia berkata, “Aku telah tidak ingat lagi namanya.”
“Apakah keperluannya?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, “Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia hanya lewat dan lenyap lagi dari antara kita.”
“Kapankah itu terjadi?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum lama. Tiga hari yang lampau?”
Dada Mahisa Agni tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tiga hari yang lampau. “Apakah tak ditanyakan sesuatu kepada Bapak atau kepada seseorang?”
Orang tua itu menggeleng. “Tidak,” katanya.
Mahisa Agni tiba-tiba mencoba menghubungkan kedatangan orang itu dengan akar wregu di dalam gua seperti yang ditunjukkan gurunya. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada orang tua itu. yang ditanyakan kemudian adalah,
“Ke manakah orang itu pergi Bapak?”
“Ke selatan,” jawabnya.
“Sampai ke manakah jalan yang ke selatan ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Jalan itu buntu, Ngger,” jawab orang itu.
“Lalu ke manakah orang dari kaki Gunung Merapi itu pergi?”
Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Entahlah. Yang kami ketahui jalan ke selatan ini akan menuju ke rawa-rawa.”
“Ke rawa-rawa?” Mahisa Agni mengulang.
Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menjadi heran. Mahisa Agni ternyata menaruh minat pada keterangannya.
“Apakah rawa-rawa itu masih jauh?”
“Tidak terlalu jauh,” jawabnya, “tidak sampai sehari Angger akan sampai ke rawa-rawa itu.”
Dahi Mahisa Agni pun kemudian tampak berkerut-kerut. Orang dari Gunung Merapi itu benar-benar menarik perhatiannya. “Ah, mudah-mudahan orang itu mempunyai keperluan yang lain,” katanya di dalam hati.
Kemudian terdengar Mahisa Agni bertanya pula, “Bapak, apakah masih ada padukuhan lain di sekitar padukuhan ini?”
“Ada Ngger. Di sebelah utara,” jawab orang itu.
“Yang lebih dekat di bawah kaki Gunung Semeru?”
Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Hutan itu masih terlampau padat. Tak seorang pun yang ingin menebangnya. Di daerah-daerah lain, tanah masih berlimpah-limpah.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah Bapak. Aku hanya ingin lewat di padukuhan ini. Lima enam hari lagi, mungkin aku akan kembali lewat jalan ini pula.”
Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya, “Apakah Angger juga akan pergi ke selatan?” Mahisa Agni mengangguk. “Ke rawa-rawa itu?”
Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia mengangguk pula sambil menjawab, “Aku hanya ingin melihat rawa itu.”
Tampaklah sinar mata yang aneh memancar dari wajah orang tua itu. Gumamnya, “Aneh. Rawa itu sangat berbahaya. Banyak binatang-binatang berbisa di sekitarnya. Dan tak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.”
“Apakah Bapak pernah mengunjungi rawa itu?”
“Tentu. Setiap laki-laki di daerah ini harus mengenal daerah-daerah di sekitarnya. Aku pernah juga mendaki kaki gunung itu meskipun begitu tinggi. Tetapi seperti yang aku katakan, bagi Angger, tak ada yang dapat menarik perhatian.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Terima kasih, Bapak. Mungkin tak ada yang akan menarik perhatian setelah aku melihatnya. Namun aku ingin membuktikannya.”
Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya pula, “Angger hanya akan membuang-buang waktu saja. Atau apakah Angger mengenal orang dari Gunung Merapi itu?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan orang itu, juga dengan rawa-rawa di sebelah selatan. Aku adalah seorang perantau. Aku hanya ingin melihat apa saja.”
“Aneh,” gumam orang tua itu, “Tetapi terserahlah kepada Angger. Namun kami, penduduk Kajar, ingin mempersilakan Angger untuk mampir di padukuhan kami.”
Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Terima kasih Bapak. Nanti apabila aku kembali.”
Orang tua itu tidak berhasil mempersilakan Agni untuk singgah di kampungnya. Mahisa Agni tiba-tiba menjadi tergesa-gesa. Orang yang lewat tiga hari yang lalu sangat mempengaruhi perasaannya.
“Adakah orang lain yang pernah mendengar pula tentang akar wregu yang berwarna putih itu?” katanya di dalam hati.
“Tentu anakku, yang Maha Agung memberkahi perjalananmu.”
Mahisa Agni itu pun kemudian berdiri. Diambilnya sebuah bungkusan dari pembaringannya. Bungkusan bekal di perjalanannya. Beberapa potong pakaian, bahan-bahan makanan dan sebuah keris peninggalan ayahnya, buatan pamannya Empu Gandring. Dihiburnya dirinya sendiri dengan pusaka ayahnya itu, karena Trisulanya harus ditinggalkannya di padepokan. Setelah sekali lagi Agni mencium tangan ibunya, maka melangkahlah ia meninggalkan biliknya. Di muka pintu bilik itu Mahisa Agni berpaling. Dilihatnya air mata ibunya semakin deras mengalir di pipinya yang berkeriput. Namun perempuan itu tersenyum kepadanya. Dianggukkannya kepalanya sambil bergumam,
“Selamat jalan anakku.”
Terasa sesuatu merambat di tenggorokkan Mahisa Agni. Matanya pun menjadi panas sehingga ditengadahkannya wajahnya memandang langit-langit rumah Empu Purwa itu. Baru kemudian ia menjawab,
“Terima kasih ibu.”
Di pendapa Agni melihat gurunya dan Ken Dedes berdiri memandang cahaya matahari pagi. Ketika mereka melihat Agni dengan sebuah bungkusan kecil yang diikatnya di ujung tongkat kayu, gurunya menggigit bibirnya. Kemudian katanya,
“Perjalanan yang berat, Agni. Mudah-mudahan kau berhasil.”
Mahisa Agni menundukkan kepalanya. Juga tangan gurunya itu diciumnya. “Mudah-mudahan aku berhasil memenuhi harapan guru,” berkata Mahisa Agni. Suaranya seakan-akan tertahan di dadanya.
“Aku selalu berdoa untukmu Agni.”
“Terima kasih, Guru.”
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu akan memerlukan waktu yang panjang Kakang?”
Mahisa Agni memandang wajah gurunya, seakan-akan ia akan bertanya kepadanya. Namun gurunya berdiam diri sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
Karena itu, maka Mahisa Agni menjawabnya, “Mudah-mudahan tidak terlalu lama, Ken Dedes.”
Ken Dedes menganggukkan kepalanya, namun tangannya masih saja sibuk mengusap matanya.
“Nah, Agni,” berkata gurunya, “mumpung hari masih pagi. Selamat jalan.”
“Terima kasih, Guru,” sahut Agni, yang kemudian dengan hati yang berat dilangkahinya satu persatu tangga pendapa yang sudah bertahun-tahun didiaminya.
Ketika sekali lagi ia berpaling, hatinya berdesir. Ia hanya sempat melihat gurunya berjalan tergesa-gesa meninggalkan pendapa langsung masuk ke sanggarnya. Yang berdiri di pendapa itu kini tinggal Ken Dedes dan di belakangnya embannya, perempuan tua yang memandang Agni dengan mata berkaca-kaca.
Ken Dedes yang berdiri seperti patung, tiba-tiba mengusap matanya yang basah. Dengan terbata-bata ia bertanya, “Apakah perjalananmu memerlukan waktu yang panjang, Kakang?” Ketika Agni sudah sampai di halaman, didengarnya Ken Dedes berteriak, “Lekaslah kembali Kakang, supaya padepokan ini tidak menjadi sepi.”
Mahisa Agni berpaling sekali lagi. Perlahan-lahan ia mengangguk. Jawabnya, “Tentu. Tentu aku akan segera kembali.”
Agni menarik nafas panjang. Gadis itu benar-benar telah menumbuhkan seribu macam persoalan pada dirinya. Mahisa Agni terkejut ketika ia mendengar sebuah tangis yang meledak. Ketika ia menoleh, dilihatnya Ken Dedes menangis di pelukan embannya yang tua. Tetapi Mahisa Agni tidak berhenti. Dengan tetap ia melangkah meninggalkan rumah itu, betapa pun berat hatinya. Di rumah itu tinggal gurunya yang telah menempanya siang malam pada tingkat yang mula-mula sekali, kemudian berturut-turut membuatnya menjadi seorang yang teguh lahir dan batin. Juga di rumah itu tinggal seorang gadis yang hampir-hampir saja menghancurkan masa depannya. Apalagi kemudian diketahuinya, bahwa ibunya berada di rumah itu pula. Ibunya yang telah melahirkannya.
“Aku pergi untuk kembali,” gumamnya seorang diri.
Akhirnya dilangkahinya regol halaman, dan dengan tergesa-gesa ia membelok menurut jalan desanya hampir melekat pagar. Dengan demikian maka ia akan segera lenyap dari pandangan mata orang-orang yang mengikutinya dari halaman dan pendapa rumahnya. Tetapi kembali hatinya berdebar-debar. Dilihatnya dari kejauhan dengan tergesa-gesa Wiraprana datang kepadanya. Anak muda itu sudah beberapa lama tidak pernah datang ke rumah itu, justru karena hubungannya dengan Ken Dedes.
“Agni,” katanya hampir berteriak, “benarkah kau berangkat pagi ini?” Mahisa Agni mengangguk. “Aku mendengar dari seorang cantrik di sudut desa. Kenapa kau tak memberitahukan kepadaku?”
“Aku bermaksud singgah sebentar di rumahmu Prana,” sahut Mahisa Agni.
“Oh. Marilah,” ajak Wiraprana.
“Kita sudah bertemu di sini.
“Lalu?”
“Aku tak usah singgah ke sana.”
“Oh,” Wiraprana menjadi kecewa.
“Sampaikan baktiku kepada Bapa Buyut Panawijen. Aku mohon diri untuk beberapa lama.”
Wiraprana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baik. Baik,” katanya, “Tetapi apakah kau tidak singgah meskipun hanya sebentar?”
“Terima kasih Prana, terima kasih,” jawab Agni.
Wiraprana benar-benar menjadi kecewa. Ditatapnya wajah sahabatnya. Kemudian katanya,”Selamat jalan Agni.”
Mahisa Agni tersenyum. Senyum yang memancar dari berbagai perasaan di dalam dirinya. Terdengar anak muda itu berkata perlahan-lahan, “Prana, meskipun kau belum menjadi suami Ken Dedes, tetapi jagalah dia dari jarak yang ada sekarang. Kalau kau mengalami kesulitan-kesulitan apa pun, terutama apabila terjadi kekerasan karena persoalan gadis itu, sampaikanlah secepatnya kepada ayahnya.”
Wiraprana mengerutkan keningnya. Timbullah pengakuan di dadanya atas kekurangannya, sehingga orang lain harus menolongnya dalam persoalan yang seharusnya ditanggungkannya. Karena itu maka katanya,
“Kepergianmu sangat mengecewakan aku, Agni. Keinginanku untuk mendapatkan kemampuan setidak-tidaknya untuk menjaga diriku tertunda karenanya. Namun aku tak dapat mementingkan diriku sendiri. Aku menghormati kepentinganmu pula. Karena itu mudah-mudahan kau lekas kembali.”
Akhirnya Wiraprana dan Mahisa Agni pun berpisah pula. Diantarkannya Agni sampai ke sudut desa, kemudian dilepasnya sahabatnya itu dengan hati yang berat.
“Aku hanya pergi untuk beberapa lama,” berkata Mahisa Agni, “Jangan risaukan aku. Sampaikan kepada Ken Dedes apabila kau sempat bertemu, juga kepada pemomongnya, perempuan tua itu. Aku tidak sedang berangkat perang. Tetapi hanyalah sebuah perjalanan biasa. Mungkin akan merupakan sebuah tamasya yang menyenangkan. Melihat lembah dan ngarai yang belum pernah aku lihat.”
Wiraprana tersenyum. Senyum yang masam. Jawabnya, “Apakah bedanya perjalananmu dengan sepasukan prajurit yang sedang berangkat ke medan perang? Mungkin daerah pertempuran yang kau jumpai jauh lebih luas dari daerah peperangan. Mungkin musuh yang kau jumpai pun jauh lebih banyak dari musuh setiap prajurit dolan peperangan.”
Mahisa Agni pun tersenyum pula. Kemudian katanya, “Nah, Selamat tinggal Wiraprana, selamat tinggal sahabat-sahabat yang lain. Sampaikan salamku kepada mereka.”
Wiraprana mengangguk, dan Mahisa Agni pun kemudian memutar tubuhnya, dan berjalan dengan hati yang tetap meninggalkan padukuhan yang telah bertahun-tahun didiaminya. Ketika Mahisa Agni menengadahkan wajahnya, memandang langit yang biru bersih, dilihatnya burung-burung manyar beterbangan. Awan yang putih sehelai-sehelai hanyut dalam arus angin yang lembut.
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Dilihatnya di sekitarnya, alam yang maha luas. Pepohonan, burung-burung di udara, air dan binatang-binatang di dalamnya, rumput dan perdu. Terasalah betapa tangan yang Maha Agung telah memelihara semuanya itu. Dan karena itulah maka Mahisa Agni menjadi semakin berbesar hati. Ternyata di segala sudut bumi, di antara hutan-hutan belukar, di antara lembah dan ngarai, di segala tempat, bahkan di manapun yang diangan-angankannya, hadirlah Yang Maha Agung itu. Dan pada-Nya Mahisa Agni memperoleh ketenteraman.
Mahisa Agni berjalan terus dengan cepat. Tujuannya adalah cukup jauh, sehingga setiap saat harus dimanfaatkannya. Ketika ia berpaling, lamat-lamat dilihatnya padukuhan Panawijen. Anak muda itu menarik nafas dalam. Padukuhan itu seakan-akan melambai kepadanya. Tanpa sesadarnya Mahisa Agni mengangguk-angguk.
“Aku akan segera kembali padamu Panawijen.
Tetapi tiba-tiba terasa sesuatu berdesir di dada Mahisa Agni. Mahisa Agni sendiri terkejut karenanya. Ketika ia memandang berkeliling tak dilihatnya apa pun, selain dataran, sawah yang sudah semakin tipis, pepohonan dan di kejauhan gunung yang biru. Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Tetapi kemudian dihiburnya hatinya sendiri.
“Ah, alangkah cengengnya aku ini. Aku adalah seorang laki-laki yang dewasa. Sudah sepantasnya aku melakukan perjalanan-perjalanan yang berbahaya.”
Namun terdengar suara di hatinya, “Aku tidak mencemaskan perjalanan ini, tetapi justru mencemaskan nasib Panawijen, nasib Ken Dedes.”
Apalagi ketika tiba-tiba saja Mahisa Agni teringat pada mimpinya beberapa waktu yang lalu. Mimpinya tentang Ken Dedes yang meloncat ke dalam sebuah perahu. Namun akhirnya, baik Ken Dedes sendiri mau pun perahunya tenggelam ditelan oleh ombak yang ganas. Mahisa Agni tiba-tiba menggeram. Namun kemudian diingatnya pula gurunya berkata,
“Mimpimu adalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur, Agni.”
“Mudah-mudahan,” gumamnya, “mudah-mudahan mimpiku hanyalah mimpi seseorang yang terlalu banyak tidur.”
Meskipun demikian ia masih menjadi gelisah karenanya. Bahkan tiba-tiba timbullah keinginannya untuk kembali ke Panawijen.
“Hambatan yang pertama,” katanya menggeram, “memang hambatan yang paling sulit di atasi, adalah hambatan-hambatan yang timbul dari diri sendiri.”
Karena itu, segera Agni berusaha untuk membulatkan tekadnya kembali. Digelengkan kepalanya seperti akan melepaskan setiap kenangan yang akan dapat menghambatnya. Dan kembali Mahisa Agni berjalan cepat-cepat menjauhi Panawijen.
Matahari pun semakin lama menjadi semakin tinggi, dan Mahisa Agni pun semakin lama menjadi semakin jauh dari desanya. Kini telah dilampauinya daerah-daerah persawahan yang paling jauh sekali pun. Di hadapannya terbentang sebuah padang rumput yang diselingi oleh gerumbul-gerumbul perdu.
Mahisa Agni pun masih berjalan terus. Ia dapat menempuh jalan yang berbeda-beda. Yang mana pun tak ada bedanya. Namun arahnyalah yang harus dijaganya supaya ia tidak tersesat. Gunung Semeru. Dan ia harus melingkari Gunung itu dan mencapai kakinya dari arah timur. Ia tidak tahu berapa hari perjalanannya itu berlangsung.
Dan tiba-tiba saja Mahisa Agni ingin berjalan lewat padang rumput Karautan. Ia tidak tahu, kenapa padang rumput itu menariknya. Sebenarnya ia dapat menempuh jalan lain, lewat Talrampak atau Kaligeneng. Meskipun telah diketahuinya bahwa kini hantu yang bernama Ken Arok itu telah tidak ada di sana, namun sebuah kenangan yang aneh telah menariknya.
Sebelum Mahisa Agni menyadari, ia telah berjalan menurut jalan ke padang rumput Karautan. Meskipun betapa panasnya. Ditaruhnya bungkusan bekalnya di atas kepalanya, untuk mengurangi panas yang seakan-akan membakar rambutnya. Tetapi padang rumput itu tampaknya masih sepi. Jalan yang menjelujur di antaranya masih belum tampak banyak dilewati orang, bahkan masih ditumbuhi oleh rumput-rumput liar. Hanya rombongan-rombongan yang besarlah yang berani lewat di padang rumput itu.
“Jalan ini sebenarnya sudah aman,” gumamnya, “tetapi belum juga banyak orang yang berani lewat di sini. Ah, mungkin para pedagang masih meragukan kebenaran berita, bahwa hantu Karautan telah berpindah tempat.” Agni tersenyum sendiri. Alangkah lucunya seandainya ia sendiri menggantikannya di sini. “Kalau saat itu aku bunuh Ken Arok, mungkin sekali aku menjadi penghuni di padang rumput ini.”
Tetapi kini padang rumput itu telah tidak menakutkan lagi. Meskipun masih terlalu sepi. Mahisa Agni berjalan dengan langkah yang cepat dan tetap. Matahari yang terik semakin lama telah semakin condong ke barat. Sebuah kenangan yang aneh telah menyentuh perasaan Mahisa Agni ketika ia berjalan di antara gerumbul-gerumbul di mana hantu Karautan sering bersembunyi. Di antara gerumbul-gerumbul itu pulalah ia mendengar Ken Arok berkata kepadanya, bahwa jalan yang benar itu terlalu sempit dan jelek, sedang jalan ke arah yang salah itu selalu licin dan lapang.
“Hem,” Mahisa Agni menarik nafas. Kata-kata itu disimpannya di dalam hatinya.
Akhirnya, ketika senja turun, Mahisa Agni telah melampaui padang rumput yang sepi itu. Dilewatinya beberapa buah padukuhan kecil dan akhirnya ia sampai ke tepi sebuah hutan yang rindang. Hutan yang setiap hari dikunjungi orang yang sedang mencari kayu. Di situlah Mahisa Agni berhasrat untuk beristirahat. Hutan itu telah sering dilewatinya dengan gurunya. Dengan setiap kali ia pergi ke daerah-daerah yang agak jauh bersama gurunya, maka diajarinya ia mencari tempat-tempat untuk bermalam.
Demikianlah Mahisa Agni telah melampaui perjalanannya untuk satu hari. Namun apa yang dicapainya barulah sebuah permulaan yang pendek. Di hadapannya masih terbentang perjalanan yang berlipat-lipat jauhnya. Malam itu Mahisa Agni tidur dengan nyenyaknya. Perjalanan itu seakan-akan betapa lancarnya. Di pagi harinya, dengan sebuah bandil Agni berusaha untuk berburu binatang. Dan ternyata Agni adalah seorang anak muda yang tangkas. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, ia telah mendapatkan buruannya untuk makan paginya.
Demikianlah, Agni melampauinya hari demi hari. Perjalanannya semakin lama menjadi semakin berat. Hutan yang kadang-kadang sedemikian rapatnya ditumbuhi oleh segala jenis tumbuh-tumbuhan. Sungai-sungai yang deras dan apa pun yang melintang di hadapannya. Tetapi di samping itu perjalanan Agni pun tidak sepi dari persoalan-persoalan yang sudah diduganya sejak semula. Binatang buas, dan orang-orang jahat yang dijumpainya. Namun karena ketabahan hatinya, satu demi satu semuanya berhasil diatasinya.
Akhirnya, sampailah pada suatu ketika, Mahisa Agni mencapai kaki Gunung Semeru. Kaki gunung yang tak terkirakan tingginya. Hutan-hutan yang padat tumbuh melingkarinya. Ketika dilihatnya pohon-pohon raksasa yang tumbuh di hutan-hutan itu, serta daun-daunnya yang menjulang ke langit, Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Telah banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di perjalanan. Telah banyak penderitaan yang dialami. Namun kini keadaan yang terakhir terbentang di hadapannya. Apakah ia akan berhasil menempuh ujiannya?
Mahisa Agni berhenti sejenak. Ditatapnya gunung yang tegak di hadapannya. Pohon-pohonan yang seakan-akan mendaki tebingnya. Perlahan-lahan namun pasti, akhirnya sampai juga menutupi lambung bukit itu. Tetapi perjalanannya masih belum akan berhenti. Meskipun gunung itu seakan-akan telah tegak di hadapannya, namun perjalanan yang harus ditempuhnya masih jauh. Apalagi ia harus menemukan sebuah rawa-rawa di lereng sebelah timur gunung itu. Sehingga dengan demikian ia masih harus berjalan melingkar.
Kembali Mahisa Agni melangkahkan kakinya. Kini ia tidak berjalan terlalu cepat. Perlahan-lahan, sedang berbagai persoalan membelit hatinya. Ia merasa, betapa kecil dirinya di antara pohon-pohon raksasa, batu-batu besar dan gunung yang menjulang itu. Dan betapa kecil pula dirinya, lebih-lebih lagi dihadapkan kepada yang telah menciptakan alam ini. Namun, betapa pun juga, Mahisa Agni merasa bersyukur bahwa sebagian perjalanannya telah dilampauinya. Jarak yang ditempuhnya telah melampaui jarak yang akan dilaluinya.
Kini Mahisa Agni mencoba untuk menghindari hutan-hutan yang lebat itu, meskipun jaraknya menjadi agak jauh. Diselusupnya daerah-daerah yang tidak begitu padat, yang tidak terlalu sulit dilaluinya. Meskipun jaraknya makin jauh, namun dengan demikian ia mengharap perjalanannya menjadi semakin cepat.
Di daerah-daerah yang demikian, Mahisa Agni tidak melupakan pesan gurunya. Setiap saat ia akan dapat digigil ular-ular kecil yang berkeliaran di tanah, dan serangga-serangga yang berbisa. Karena itu, tubuhnya dilumurinya dengan param pemberian Empu Purwa. Sekali ia merasakan pula, sentuhan-sentuhan pada tubuhnya oleh binatang-binatang kecil. Namun binatang-binatang itu segera meloncat menghindar. Mungkin di dalam ramuan param itu, terdapat berbagai ramuan yang tak disukai oleh jenis-jenis serangga berbisa.
Setelah Mahisa Agni bermalam satu malam lagi, sampailah ia di daerah sebelah timur Gunung Semeru. Dilewatinya padang- padang rumput dan perdu, kemudian Mahisa Agni menarik nafas, ketika ia sampai pada suatu daerah yang berpenghuni. Dilihatnya ladang- ladang hijau ditumbuhi oleh berbagai tanaman. Meskipun sama sekali kurang teratur, namun Agni yakin, bahwa tanaman-tanaman itu ditanam orang.
Dugaannya ternyata benar. Tidak sedemikian jauh lagi, dilihatnya sebuah padukuhan kecil. Padukuhan yang dipagari oleh pagar batu setinggi orang. Rumah-rumah kecil dan batang-batang semboja di halaman. Tempat-tempat sesajen dan kandang-kandang sederhana. Ketika Mahisa Agni menghampiri padukuhan itu, dilihatnya beberapa orang laki-laki dan perempuan lagi sibuk bekerja di halaman masing-masing, di ladang-ladang dan di sawah-sawah.
“Penduduk yang rajin,” katanya di dalam hati.
Ketika mereka melihat kedatangan Mahisa Agni, tampaklah keheranan membayang di wajah mereka. Mereka satu dengan yang lain saling berpandangan, seakan-akan mereka ingin bertanya,
“Siapakah orang asing yang datang ini?”
Dengan demikian Mahisa Agni mengetahuinya, bahwa daerah ini adalah daerah yang jarang-jarang didatangi orang lain. Meskipun demikian, Mahisa Agni pun telah memaksa dirinya untuk mendekati salah seorang di antaranya. Ia ingin menanyakan apakah di sekitar daerah itu terdapat sebuah rawa-rawa seperti yang pernah dilihatnya dahulu. Tetapi, sudah barang tentu Mahisa Agni tidak dapat bertanya berterus terang. Sebab selalu diingatnya pula gurunya berkata, bahwa jangan seorang pun yang tahu akan kedatangannya ke gua di lereng gundul Gunung Semeru itu.
Orang yang di dekati oleh Mahisa Agni adalah seorang tua, berambut putih dan berjenggot putih. Dengan sinar mata yang keheran-heranan ia memandang Mahisa Agni dari ujung kepalanya sampai ke ujung kakinya. Serta ketika Mahisa Agni mengangguk hormat padanya, maka dengan tergopoh-gopoh orang itu pun menganggukkan kepalanya pula.
“Bapak,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apakah aku dapat bertanya kepada Bapak?”
Orang tua itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab dengan serta-merta, “Tentu,tentu Ngger, tentu.”
Mahisa Agni menarik nafas. Melihat sikap orang tua ini, maka segera Mahisa Agni menduga, bahwa penduduk padukuhan ini, atau setidak-tidaknya orang tua itu adalah seorang yang ramah. Karena itu maka ia bertanya,
“Apakah aku boleh mengetahui Bapak, apakah nama padukuhan ini?”
“Tentu Ngger,” jawab orang itu pula, kemudian katanya meneruskan, “nama padukuhan ini adalah Padukuhan Kajar.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dicobanya untuk mengingat-ingat, apakah beberapa tahun yang lampau, dilaluinya juga Padukuhan Kajar ini? Tetapi nama itu belum pernah didengarnya, dan agaknya daerah ini pun belum pernah dilihatnya. Sebelum Mahisa Agni bertanya lagi, terdengarlah orang tua itu berkata,
“Siapakah Angger ini? Dari mana atau ke manakah tujuan Angger?”
“Namaku Mahisa Agni, Bapak,” jawab Agni, “aku datang dari daerah yang jauh. Dari kaki Gunung Kawi.”
“Oh,” orang tua itu terkejut, “alangkah jauhnya.” Tetapi kemudian orang itu tersenyum, “Ah, tidak begitu jauh. Seseorang pernah lewat di padukuhan ini. Ketika kami tanyakan kepadanya, dari mana ia datang, katanya ia datang dari kaki Gunung Merapi.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Gunung Merapi terletak jauh sebelah barat dari Gunung Kawi. Tiba-tiba ia tertarik pada keterangan itu, sehingga ia bertanya,
“Siapakah orang itu Bapak?”
Orang itu mencoba mengingat-ingat, namun beberapa saat ia belum juga menjawab. Akhirnya ia berkata, “Aku telah tidak ingat lagi namanya.”
“Apakah keperluannya?” bertanya Mahisa Agni.
Orang tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, katanya, “Tak seorang pun yang mengetahuinya. Ia hanya lewat dan lenyap lagi dari antara kita.”
“Kapankah itu terjadi?” bertanya Mahisa Agni pula.
“Belum lama. Tiga hari yang lampau?”
Dada Mahisa Agni tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Tiga hari yang lampau. “Apakah tak ditanyakan sesuatu kepada Bapak atau kepada seseorang?”
Orang tua itu menggeleng. “Tidak,” katanya.
Mahisa Agni tiba-tiba mencoba menghubungkan kedatangan orang itu dengan akar wregu di dalam gua seperti yang ditunjukkan gurunya. Tetapi ia tidak dapat menanyakannya kepada orang tua itu. yang ditanyakan kemudian adalah,
“Ke manakah orang itu pergi Bapak?”
“Ke selatan,” jawabnya.
“Sampai ke manakah jalan yang ke selatan ini?” bertanya Mahisa Agni.
“Jalan itu buntu, Ngger,” jawab orang itu.
“Lalu ke manakah orang dari kaki Gunung Merapi itu pergi?”
Orang tua itu menggeleng. Katanya, “Entahlah. Yang kami ketahui jalan ke selatan ini akan menuju ke rawa-rawa.”
“Ke rawa-rawa?” Mahisa Agni mengulang.
Orang itu mengangguk-angguk. Ia pun kemudian menjadi heran. Mahisa Agni ternyata menaruh minat pada keterangannya.
“Apakah rawa-rawa itu masih jauh?”
“Tidak terlalu jauh,” jawabnya, “tidak sampai sehari Angger akan sampai ke rawa-rawa itu.”
Dahi Mahisa Agni pun kemudian tampak berkerut-kerut. Orang dari Gunung Merapi itu benar-benar menarik perhatiannya. “Ah, mudah-mudahan orang itu mempunyai keperluan yang lain,” katanya di dalam hati.
Kemudian terdengar Mahisa Agni bertanya pula, “Bapak, apakah masih ada padukuhan lain di sekitar padukuhan ini?”
“Ada Ngger. Di sebelah utara,” jawab orang itu.
“Yang lebih dekat di bawah kaki Gunung Semeru?”
Orang itu menggeleng. Jawabnya, “Hutan itu masih terlampau padat. Tak seorang pun yang ingin menebangnya. Di daerah-daerah lain, tanah masih berlimpah-limpah.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Baiklah Bapak. Aku hanya ingin lewat di padukuhan ini. Lima enam hari lagi, mungkin aku akan kembali lewat jalan ini pula.”
Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya, “Apakah Angger juga akan pergi ke selatan?” Mahisa Agni mengangguk. “Ke rawa-rawa itu?”
Mahisa Agni ragu-ragu sebentar. Namun kemudian ia mengangguk pula sambil menjawab, “Aku hanya ingin melihat rawa itu.”
Tampaklah sinar mata yang aneh memancar dari wajah orang tua itu. Gumamnya, “Aneh. Rawa itu sangat berbahaya. Banyak binatang-binatang berbisa di sekitarnya. Dan tak ada sesuatu yang menarik untuk dilihat.”
“Apakah Bapak pernah mengunjungi rawa itu?”
“Tentu. Setiap laki-laki di daerah ini harus mengenal daerah-daerah di sekitarnya. Aku pernah juga mendaki kaki gunung itu meskipun begitu tinggi. Tetapi seperti yang aku katakan, bagi Angger, tak ada yang dapat menarik perhatian.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Terima kasih, Bapak. Mungkin tak ada yang akan menarik perhatian setelah aku melihatnya. Namun aku ingin membuktikannya.”
Orang tua itu pun menjadi bertambah heran. Katanya pula, “Angger hanya akan membuang-buang waktu saja. Atau apakah Angger mengenal orang dari Gunung Merapi itu?”
Mahisa Agni menggeleng. “Tidak,” jawabnya, “Aku sama sekali tidak mempunyai kepentingan dengan orang itu, juga dengan rawa-rawa di sebelah selatan. Aku adalah seorang perantau. Aku hanya ingin melihat apa saja.”
“Aneh,” gumam orang tua itu, “Tetapi terserahlah kepada Angger. Namun kami, penduduk Kajar, ingin mempersilakan Angger untuk mampir di padukuhan kami.”
Mahisa Agni mengangguk. Katanya, “Terima kasih Bapak. Nanti apabila aku kembali.”
Orang tua itu tidak berhasil mempersilakan Agni untuk singgah di kampungnya. Mahisa Agni tiba-tiba menjadi tergesa-gesa. Orang yang lewat tiga hari yang lalu sangat mempengaruhi perasaannya.
“Adakah orang lain yang pernah mendengar pula tentang akar wregu yang berwarna putih itu?” katanya di dalam hati.
OBJEK WISATA MANCA NEGARA



































Tidak ada komentar:
Posting Komentar