MENU

Ads

Rabu, 11 Februari 2026

Pelangi di Langit Singasari 017

Karena itu dengan tergesa-gesa Mahisa Agni meneruskan perjalanannya lurus ke selatan. Tiba-tiba setelah ia berjalan beberapa lama, segera ia tertegun. Dilihatnya sebuah sungai yang curam menjalar di tepi jalan setapak yang semakin lama menjadi semakin sempit. Dilihatnya pula sebatang pohon mahoni raksasa di tepi lereng sungai yang curam itu.

Dan tiba-tiba saja tumbuh kembali dalam ingatannya. Daerah ini pernah dilihatnya. Dengan serta-merta ia meloncat ke bawah pohon Mahoni raksasa itu. Beberapa tahun lampau ia pernah menggoreskan pedang pada batang mahoni itu. Dan Mahisa Agni tersenyum. Dilihatnya goresan bersilang itu masih ada, meskipun tidak begitu jelas lagi. Namun ia masih melihat dan mengingatnya. Goresan bersilang itu telah dibuatnya dengan pedangnya.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ditepuk-tepuknya batang mahoni raksasa itu seakan-akan menepuk pundak seorang sahabat yang telah bertahun-tahun tak berjumpa. Pohon mahoni itu ternyata telah mengungkap segenap ingatannya kembali. Ketika ia memandang berkeliling, dilihatnya batang-batang pohon raksasa yang pernah dilihatnya dahulu.

“Ah,” gumamnya seorang diri, “aku telah mengambil jalan yang lain. Dahulu aku sampai ke tempat ini dari jurusan yang berbeda.”

Dan suaranya itu disaut oleh gemeresik daun-daun kering yang berjatuhan dihembus angin yang semakin lama menjadi semakin keras. Sejalan dengan kegembiraan itu, maka Mahisa Agni pun mengucap syukur di dalam hatinya kepada Yang Maha Agung. Jalan yang akan ditempuhnya sudah tidak begitu sulit lagi dicarinya. Kemudian Mahisa Agni pun segera berjalan kembali. Satu-satu masih dapat dikenalnya. Batu-batu besar, pohon-pohon raksasa. Lereng-lereng yang curam dan beberapa macam benda yang lain.

“Belum banyak perubahan yang terjadi,” katanya kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan rawa-rawa dan batu karang itu masih ada di tempatnya pula.”

Dada Mahisa Agni menjadi berdebar-debar ketika akhirnya terasa tanah di bawah kakinya semakin lama menjadi semakin basah. Dilihatnya beberapa jenis tumbuh-tumbuhan air telah banyak bertebaran di antara rumput-rumput dan pohon-pohon perdu yang tumbuh di antara batang-batang raksasa. Dan hutan pun menjadi semakin lama semakin padat. Tetapi kalau ia berjalan ke arah yang benar, maka ia akan sampai ke daerah rawa-rawa. Daerah yang menampung arus sungai di lereng timur Gunung Semeru.

Perjalanan Mahisa Agni pun semakin dipercepat. Meskipun tumbuh-tumbuhan menjadi semakin padat, namun dengan tekad yang menyala, semuanya itu sama sekali tidak memperlambat perjalanannya. Sehingga ketika matahari telah hampir tenggelam, maka sampailah Mahisa Agni di tempat yang dapat dipergunakannya sebagai ancar-ancar untuk menemukan titik tujuannya.

Mahisa Agni menjadi semakin gembira, ketika dalam keremangan senja dilihatnya sebuah bayangan yang kehitam-hitaman. Kini Mahisa Agni menjadi semakin tidak sabar lagi. Meskipun matahari telah lenyap di balik gunung, namun Mahisa Agni sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan ia kemudian berlari-lari kecil, melompati pohon-pohon perdu dan menyusup batang-batang menjalar yang tersangkut, di pepohonan. Semakin dekat, menjadi semakin jelaslah, bahwa bayangan raksasa yang kehitam-hitaman di tengah rawa-rawa itu adalah sebuah batu padas yang menjulang ke atas, seakan-akan batu karang yang kokoh di tengah-tengah lautan.

Mahisa Agni menarik nafas. Sekali lagi ia bersyukur di dalam hatinya. Kini jalan yang harus ditempuhnya tidak begitu jauh lagi. Ia harus menyusur tepi-tepi rawa ke arah barat. Dan nanti akan ditemuinya sebuah lereng yang gundul, seakan-akan sebuah dinding raksasa yang membatasi dua dunia yang berlainan.

Tetapi tiba-tiba diingatnya kembali pesan gurunya. Seterusnya ia harus berjalan malam hari. Banyak alasan yang menyebabkan gurunya berpekan demikian kepadanya. Dan ia pun percaya sepenuhnya, bahwa apabila tak ada sesuatu yang sedemikian pentingnya, maka tak akan gurunya berpesan demikian kepadanya.

Ketika Mahisa Agni menebarkan pandangannya, dilihatnya daerah sekitarnya pun menjadi semakin kelam. Bahkan kemudian warna-warna yang hitam seakan-akan turun dari langit menyelimuti seluruh permukaan bumi. Namun Mahisa Agni masih ingin beristirahat. Duduklah ia di atas sebuah batu yang cukup besar. Diurainya bungkusan bekalnya. Masih ditemukannya beberapa jenis buah-buahan yang didapatnya di perjalanannya.

“Sebentar lagi aku harus berjalan kembali,” katanya di dalam hati, “kalau aku beristirahat malam ini, maka ini berarti bahwa malam besok aku baru dapat berjalan kembali. Dengan demikian aku akan banyak kehilangan waktu.”

Dan kembali hatinya berdesir ketika diingatnya kata-kata orang tua di Kajar, bahwa seseorang telah berjalan ke rawa-rawa ini tiga hari yang lalu. “Apakah orang itu juga akan mengambil akar wregu di gua itu?” Pertanyaan itu melingkar-lingkar di dalam dadanya. Dan karena itu maka tiba-tiba Agni berdiri. Katanya, “Ah aku harus berangkat sekarang.”

Sekali lagi Mahisa Agni menebarkan pandangannya berkeliling. Gelap dan yang dilihatnya hanyalah warna-warna hitam, seakan-akan dunianya telah dibatasi oleh dinding hitam kelam. Mahisa Agni itu pun kemudian membenahi bungkusan-bungkusannya kembali. Kini bungkusan itu tidak disangkutkannya lagi di tongkatnya. Dipergunakannya tongkatnya untuk meraba-raba jalan yang akan dilaluinya.

“Ah,” desahnya, “aku rasa jalan sudah tidak terlampau jauh. Namun gelapnya bukan main. Mudah-mudahan sebelum pagi aku telah mencapai dinding gundul itu.”

Mahisa Agni pun kemudian mulai melangkahkan kakinya kembali. Perasaan penatnya tiba-tiba tersapu oleh kegelisahannya. Gelisah karena seseorang pun telah pergi ke daerah rawa-rawa ini.

“Kalau orang itu pergi juga ke gua itu, maka pasti ia belum kembali. Aku sangka, ia pun akan kembali lewat jalan ini, sebagaimana ia datang,” katanya di dalam hati untuk menghibur kegelisahannya sendiri.

Sementara itu, setapak demi setapak Mahisa Agni itu maju juga. Alangkah sulitnya berjalan di malam hari di daerah-daerah yang hampir tak dikenalnya. Untunglah bahwa gurunya telah membekalinya dengan sejenis param yang dapat menghalau binatang berbisa dari tubuhnya. Malam itu kelamnya bukan main. Seleret ia melihat bayangan bintang-bintang dan sinar dari kutub yang dipantulkan oleh wajah air rawa yang kotor. Selebihnya hitam.

Namun Mahisa Agni mencoba untuk tidak tersesat. Ia berusaha berjalan sepanjang pinggir rawa-rawa yang tidak begitu dapat ditumbuhi pepohonan. Bahkan kemudian sampailah ia di satu dataran yang luas, yang hanya ditumbuhi oleh rumput liar dan beberapa jenis perdu.



“Tetapi,” katanya kemudian, “daerah seberang padang rumput ini adalah daerah yang terjal. Aku harus sangat berhati-hati, supaya aku tidak terguling masuk ke dalam rawa.” Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. “Suasana ujian yang berat,” gumamnya.

Namun hatinya yang bulat itu sama sekali tak tergerak oleh kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Sebab sadar, bahwa taruhannya pun sangat berharga. Kemudian katanya kepada diri sendiri,

“Apakah aku akan dapat mencapai lereng gundul itu sebelum pagi?” Kemudian dijawabnya sendiri, “Aku tidak perlu tergesa-gesa. Besok atau lusa tak ada bedanya. Tetapi orang yang lewat tiga hari yang lalu itu?” terdengar sebuah pertanyaan di sudut hatinya. Karena itu, maka kegelisahan di hati Mahisa Agni menjadi semakin melonjak-lonjak. Dan karena itu, ia berusaha untuk mempercepat langkahnya. “Kalau orang itu pergi juga ke sana,” katanya di dalam hati, “semoga aku sempat menyusulnya.”

Dan Mahisa Agni pun berusaha untuk berjalan lebih cepat. Dilihat bintang- bintang di langit supaya ia tetap pada arahnya. Bintang Gubug Penceng yang menolongnya menentukan arah perjalanannya. Tetapi tiba-tiba langkah Mahisa Agni terhenti. Perlahan-lahan ia mendengar gemeresik daun di dalam gerumbul perdu. Mahisa Agni mencoba untuk mempertajam pendengarannya. Dan gemeresik itu didengarnya kembali.

Ketika ia memandang daun-daun di sekitarnya, ternyata angin tidak cukup kencang untuk menimbulkan bunyi itu, sehingga segera diketahuinya bahwa pasti ada sesuatu di dalam gerumbul itu. Binatang atau manusia. Karena itu, maka Mahisa Agni pun segera bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan yang dapat datang. Kalau yang bersembunyi itu binatang, maka akan sangat menggelikan sekali. Namun ingatannya selalu saja tersangkut kepada orang yang lewat tiga hari yang lalu di daerah ini.

Tetapi Mahisa Agni terkejut ketika tiba-tiba didengarnya sebuah suara yang aneh. Namun kemudian ia pasti, suara itu adalah suara seseorang yang sedang mengerang. Maka, dengan gerak naluriah Mahisa Agni segera meletakkan bungkusannya dan bersiaga untuk menghadapi setiap kemungkinan.

Sesaat kemudian meledaklah suara tertawa dari dalam gerumbul itu. Semakin lama semakin jelas. Nadanya tinggi melengking memekakkan telinga. Semakin lama suara itu menjadi semakin keras. Bahkan kemudian terasa seperti menghentak-hentak pada Mahisa Agni. Dengan demikian Mahisa Agni pun harus memusatkan segenap daya tahannya. Lahir dan batin untuk melawan suara tertawa itu. Suara yang pengaruhnya seakan-akan dapat mengguncangkan kesadarannya.

Dengan mendengar suara itu Mahisa Agni segera dapat meraba-raba betapa berbahayanya orang yang bersembunyi itu. Suara tertawanya sudah mampu mengguncangkan dadanya tanpa menyentuhnya. Apalagi tangannya. Namun Mahisa Agni telah dibekali dengan berbagai ilmu oleh gurunya, sehingga dengan demikian, maka betapa pun ia masih mampu untuk mempertahankan kesadaran dan keseimbangan perasaannya. Bahkan kemudian terdengar Mahisa Agni itu berkata lantang,

“Ah tuan ternyata menunggu aku di sini.”

Suara tertawa itu tiba-tiba berhenti. Dan meloncatlah dari dalam gerumbul itu sebuah bayangan hitam yang tidak begitu jelas di dalam malam yang kelam. Namun Mahisa Agni masih juga dapat melihat ujud dan bentuk rubuh itu. Tidak terlalu tinggi, namun tampaknya dadanya lebar dan perutnya besar. Tetapi ia tidak dapat melihat tubuh itu dengan jelas. Yang terdengar kemudian orang itu berkata dengan suaranya yang parau,

“He, akhirnya kau lewat juga di sini setelah berbulan-bulan aku menunggumu.”

Mahisa Agni terkejut mendengar kata-kata orang itu. Berbulan-bulan ia menunggu. Dengan demikian maka orang ini sama sekali bukan orang yang digelisahkannya, yang tiga hari yang lampau berjalan mendahuluinya. Meskipun demikian Mahisa Agni masih harus mencoba mengetahui, siapakah yang sedang dihadapinya itu.

Orang itu, yang baru saja meloncat dari dalam gerumbul itu, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekatinya. Dalam malam yang gelap itu, jelas dapat dilihat oleh Mahisa Agni bahwa orang itu berjalan agak timpang. Meskipun demikian nampaknya orang timpang itu cukup tangkas dan lincah. Beberapa langkah di hadapan Mahisa Agni, orang timpang itu berhenti. Ditatapnya wajah Agni dan kemudian dengan suaranya yang parau ia bertanya,

“Nah, anak muda. Akhirnya kau datang juga.”

Mahisa Agni menjadi berdebar-debar mendengar sapa itu. Jawabnya, “Apakah kau sedang menunggu seseorang di sini?”

“Ah, jangan berpura-pura. Aku sudah menunggumu sejak berbulan-bulan yang lalu. Hampir aku menjadi putus asa. Namun akhirnya kau datang juga,” sahut orang timpang itu.

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Kemudian tiba-tiba ia berkata menyentak, “Jangan bohong! Kau baru tiga hari datang di tempat ini. Bukankah kau baru datang dari Gunung Merapi?”

Orang timpang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengar kemudian tawanya berderai. Jawabnya, “Jangan mengada-ada. Apakah kau sedang bermimpi?”

Mahisa Agni pun tertawa. Ia tidak mau tenggelam dalam pembicaraan yang melingkar-lingkar, yang seakan-akan ingin menyeretnya dalam persoalan yang tak dimengertinya.

“Orang ini sedang menjebak aku,” katanya di dalam hati. Karena itu ia menjawab, “Apakah kau melihat aku sedang tidur?”

Orang timpang itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia menatap wajah Mahisa Agni dengan seksama. Gumamnya, “Sayang, malam begini gelap. Namun aku dapat menduga bahwa kau adalah seorang anak muda yang tampan. Siapakah namamu?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia menjadi ragu-ragu sejenak. Apakah orang itu perlu mengetahui namanya? Maka sebelum persoalannya menjadi jelas, maka ia tidak ingin menyebut namanya. Karena itu ia tidak menjawab pertanyaan orang timpang itu, bahkan terdengar ia bertanya,

“Siapakah kau?”

Orang itu menjadi heran mendengar pertanyaan Agni. Katanya, “He, anak muda. Kau benar-benar tidak mengenal sopan santun pergaulan. Meskipun telah berbulan-bulan aku menyingkir dari pergaulan, namun aku masih menerapkannya. Apakah kau sangka meskipun di dalam rimba yang sepi ini, di antara kita, manusia-manusia ini, sudah tidak perlu lagi tata kesopanan?”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Sambil tertawa pendek ia menjawab, “Apakah kau memperkenalkan dirimu dengan sopan kepadaku? Apakah suara tertawamu itu pun menunjukkan tata pergaulan orang-orang beradab? Ki Sanak, aku telah mencoba menyesuaikan diriku dengan caramu menyambut kedatanganku.”

Terdengar orang timpang itu menggeram. Suaranya yang parau menjadi semakin parau. Dalam keremangan malam itu, semakin lama Mahisa Agni menjadi semakin jelas melihat wajah orang timpang itu. Wajahnya pun agaknya telah berkerut-kerut dan beberapa bagian tampaknya telah menjadi cacat.

“Hem,” sahut orang timpang itu, “jangan terlalu sombong.”

“Tidak,” jawab Agni, “pertemuan kita adalah pertemuan yang aneh. Apakah dalam pertemuan yang demikian kau perlu mengenal namaku? Kalau kau merasa, bahwa kedatangan seseorang yang telah kau tunggu-tunggu, maka aku sangka kau telah mengenal aku.”

“Kau memang pandai berbicara anak muda,” berkata orang timpang itu, “tetapi kepandaianmu berbicara belum mencerminkan kejantananmu, meskipun aku yakin, bahwa kau pasti bukan orang kebanyakan. Ternyata kau telah berani penempuh perjalanan ini.”

“Nah, sekarang katakan, apa perlumu?” bertanya Agni tiba-tiba.

Kembali orang itu terkejut. Sesaat ia berdiam diri, namun kemudian ia menjawab, “Kau belum menjawab, siapa namamu.”

“Pertanyaanmu tak akan kujawab. Kau pun menyembunyikan beberapa persoalan. Kau sama sekali belum lama berada di daerah ini. Kenapa kau katakan telah berbulan-bulan.”

“Aku memang telah berbulan-bulan berada di tempat ini. Ketahuilah, orang yang kau katakan, yang datang tiga hari yang lampau ke daerah ini, dan datang dari Gunung Merapi itu, selamanya tidak akan kembali lagi.”

Dada Mahisa Agni berdesir mendengar jawaban itu. Matanya tiba-tiba menjadi semakin tajam memandang wajah orang timpang yang menyeramkan ini. Dan tiba-tiba saja, Mahisa Agni telah bersiap menghadapi setiap kemungkinan. Yang terdengar kemudian ia bertanya,

“Ke mana orang itu?”

“Orang itu pun terlalu sombong seperti kau. Ia tidak mau menyebut namanya, selain asalnya itu, dari Gunung Merapi. Nah, sekarang tak seorang pun yang tahu, mayat siapakah yang telah terapung-apung di rawa-rawa itu.”

“Orang itu kau bunuh?”

“Ya. Ia menjengkelkan sekali seperti kau.”

“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”

“Tentu. Orang itu tidak mau menjawab pertanyaanku. Karena itu, aku menyangka bahwa orang itulah yang aku tunggu-tunggu selama ini. Namun akhirnya setelah orang itu mati, ternyata yang aku cari tak ada padanya.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Orang ini agaknya benar-benar orang yang telah menjadi buas. Namun ia masih bertanya, “Apakah sebenarnya yang kau cari?”

“Baik, aku akan memberitahukan kepadamu. Tetapi kalau bersikap seperti orang Gunung Merapi itu kau pun akan mengalami nasib yang sama,” orang itu berhenti sejenak. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kau datang dari mana?”

Mahisa Agni berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Aku datang dari kaki Gunung Kawi.”

“Hem,” gumam orang itu, “orang-orang dari berbagai gunung datang ke kaki Gunung Semeru. Nah, sekarang katakan kepadaku, apakah kau akan mengambil akar di dalam gua di lereng itu?”

Pertanyaan itu benar-benar mengejutkan Mahisa Agni. Ternyata bahwa selain gurunya ada orang lain yang mengetahui akar wregu putih di dalam gua tersebut. Namun Mahisa Agni bukan menjadi bingung karenanya. Jawabnya,

“Apakah orang yang kau bunuh itu juga mencari benda yang kau sebutkan itu?. Orang itu kau bunuh?”

“Ya, ya menjengkelkan sekali seperti kau.”

“Hanya karena itu sudah cukup alasan bagimu untuk membunuh?”

“Jangan membuat aku marah!” bentak orang itu, “Kau tidak pernah menjawab pertanyaanku. Kau selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah kau juga sedang mencari akar wregu putih itu?”

“Kau juga jangan membuat aku marah,” jawab Agni dengan berani. Perjalanan telah ditempuh sekian lamanya. Kini gua itu sudah di depan hidungnya. Karena itu, apa pun yang akan dihadapinya ia tidak akan gentar.

Mendengar jawaban Mahisa Agni, orang timpang itu menjadi bertambah heran. Terdengar ia menggeram, “Alangkah beraninya kau anak muda. Apakah kau belum pernah mendengar sebuah nama yang cukup terkenal di sekitar daerah Gunung Semeru ini. Akulah yang bernama Empu Pedek.”

Dada Mahisa Agni bergetar mendengar nama itu. Meskipun nama itu belum pernah didengarnya, namun terasa sesuatu yang telah menggetarkan dadanya. Meskipun demikian ia tetap pada sikapnya. Siap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan jawabnya,

“Hem. Baru sekarang kau mau menyebut namamu. Tetapi kau belum menyebut apakah yang sebenarnya sedang kau cari, sehingga kau bunuh orang dari kaki Gunung Merapi itu.”

Orang timpang itu memandang Mahisa Agni seperti hendak membelah dadanya dengan sinar matanya. Kepalanya dimiringkannya ke kanan, dan kemudian terdengar suaranya parau,

“Ternyata kau pun akan mengalami nasib yang sama. Orang dari Gunung Merapi itu pun akan mengambil akar wregu putih itu. Tetapi ia benar-benar orang gila. Akar itu sendiri tak akan bermanfaat bagi seseorang. Sekarang katakan kepadaku hai anak muda, supaya nyawamu aku biarkan tinggal di dalam tubuhmu. Manakah trisula itu?”

Dada Mahisa Agni seakan-akan tertimpa guruh yang langsung menyambar dirinya. Pertanyaan itu benar-benar mengejutkannya. Ternyata orang yang menamakan diri Empu Pedek itu, tidak saja mengetahui akar wregu putih di dalam gua yang sedang ditujunya, namun ia tahu juga tentang trisula, rangkapan akar wregu itu. Karena itu, kini Mahisa Agni pun menjadi semakin pasti, bahwa ia tidak akan dapat meninggalkan tempat itu tanpa beradu kesaktian.

Karena itu, maka segera diaturnya perasaannya. Disiapkannya segala ilmu yang telah dimilikinya, untuk menghadapi setiap kemungkinan. Tidak mustahil, bahwa Empu Pedek ini adalah seorang yang sakti. Dan ia sama sekali tidak dapat menduga, apakah ia akan mampu untuk menahan kemarahan orang timpang itu. Namun betapa pun juga, Mahisa Agni pantang surut. Telah banyak bahaya yang diatasinya di sepanjang perjalanan. Namun ia sadar bahwa bahaya kali ini, jauh lebih berarti dari segenap rintangan yang pernah ditemuinya.

Karena Mahisa Agni tidak segera menjawab, maka kembali terdengar suara parau Empu Pedek, “He anak muda. Manakah trisula itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia menjawab, “Ternyata bukan aku yang sedang bermimpi, tetapi kau.”

“Setan!” sahut orang itu. Suaranya yang parau itu bergetar. Mahisa Agni merasakan, betapa orang timpang itu mengendalikan kemarahannya. Katanya, “Anak muda. Bagimu akan berakibat sama. Kau pasti akan kehilangan trisula itu. Hidup atau mati.”

“Trisula apakah yang sedang kau katakan itu?”

“Jangan bohong seperti orang Gunung Merapi itu. Kau pasti memiliki sebuah trisula kecil yang bewarma kekuning-kuningan. Kalau tidak, tak akan kau cari akar wregu itu.”

“Apakah orang dari Gunung Merapi itu juga berbohong?”

Orang itu mengerutkan keningnya. Kemudian sambil membentak ia berkata, “Apa pedulimu? Orang itu telah mati.”

“Dan trisula itu tak ada padanya,” potong Agni.

“Karena itu pasti ada padamu.”

“Kau akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Aku tidak membawa Trisula itu,” jawab Agni.

Mata orang timpang itu tiba-tiba menjadi liar. Sekali-kali ia memandang wajah langit yang biru gelap, kemudian merayap ke segenap penjuru. Namun akhirnya kembali hinggap di wajah Mahisa Agni.

“Aku tidak peduli. Akan aku bunuh semua orang yang lewat di sini. Akan aku cari pada mayatnya, trisula itu.”

Betapa pun kata-kata itu membuat bulu-bulu Mahisa Agni meremang. Bukan karena ia menjadi ketakutan, namun betapa orang yang dihadapinya itu benar-benar telah menjadi buas. Karena itu maka hatinya justru menjadi semakin teguh. Dan bahkan tiba-tiba ia berkata,

“Empu Pedek. Sebenarnya di antara kita tidak ada persoalan. Aku minta kepadamu supaya kau batalkan niatmu.”

Terdengar Empu Pedek itu tertawa nyaring. Sedemikian nyaringnya sehingga seakan-akan daun-daun pepohonan menjadi bergoyang karenanya. Bahkan semakin lama menjadi semakin keras dan memuakkan. Perlahan-lahan terasa di dada Mahisa Agni getaran-getaran aneh yang merayap-rayap seakan-akan melibat jantungnya. Tetapi Mahisa Agni tidak membiarkan jantungnya menjadi beku. Ia sadar, bahwa orang timpang itu telah mulai menyerangnya. Karena itu ia harus mengadakan perlawanan.

Namun karena orang timpang itu belum menyerang dengan tubuhnya, Mahisa Agni pun masih ingin bertahan dengan kekuatan batinnya. Dalam keadaan yang demikian, betapa Agni berterima kasih kepada gurunya. Ilmu diberikan kepadanya ternyata telah cukup banyak, sehingga ia telah berhasil mengatasi sebagian dari rintangan-rintangan di dalam perjalanannya. Bukan saja perjalanan kali ini, namun perjalanan seluruh hidupnya, yang pasti akan ditemuinya rintangan-rintangan yang tak kalah beratnya. Juga Mahisa Agni kini menyadari kebenaran perhitungan gurunya, supaya trisulanya tidak dibawanya serta. Ternyata setidak-tidaknya Empu Pedek ini pun telah mengetahuinya, kedahsyatan pusaka rangkap itu.

(hilang beberapa paragraph)

….. bersiaga penuh. Dengan tangkasnya ia menghindari serangan itu, dan setangkas itu pula Mahisa Agni membalas serangan itu dengan sebuah pukulan pada tengkuknya selagi ia masih ditarik oleh tenaga serangannya. Namun orang itu pun cekatan pula. Dengan cepat ia merendahkan tubuhnya, meskipun kemudian ia harus berguling sekali. Tetapi dengan lincahnya ia melenting berdiri tegak. Bahkan sudah siap pula dengan serangan-serangannya. Sekali lagi Mahisa Agni melihat jari-jari tangan orang itu mengembang seperti hendak mencengkeram. Dan sekali lagi Mahisa Agni melihat orang itu dengan kasarnya menyerangnya dengan satu terkaman. Kali ini pun Mahisa Agni sempat menghindarkan diri dan bahkan membalasnya dengan serangan kaki yang mendatar, namun dengan menggeliat orang timpang itu pun berhasil lepas dari garis serangannya.

Demikianlah mereka akhirnya terlibat dalam perkelahian yang sengit. Meskipun kaki Empu Pedek itu timpang namun tandangnya bukan main. Keras dan kasar. Serangan-serangannya datang beruntun seperti ombak yang menghentak-hentak pantai. Tak henti-hentinya memukul-mukul dengan dahsyatnya. Namun Mahisa Agni pun mampu mengimbanginya dengan kelincahan dan ketangkasan yang mengagumkan. Seperti seekor burung yang bermain-main di atas ombak lautan. Sekali menukik menyentuh gelombang lautan dengan sayap-sayapnya, namun kemudian dengan tangkasnya menghindarkan diri apabila gelombang yang deras melandanya.

Mahisa Agni pernah bertempur melawan hantu padang rumput Karautan yang dengan kasar menyerangnya. Namun kekuatan mereka berbeda. Hantu padang Karautan itu sama sekali bukan seorang yang tangkas dan mampu menghindari serangan-serangan lawannya, namun tubuhnyalah yang seakan-akan menjadi kebal.

Tetapi hantu kaki Gunung Semeru ini benar-benar memiliki ketangkasan dan kecepatan bergerak. Namun kekuatannya tidak sebesar hantu Karautan. Sekali-sekali apabila kekuatan mereka berbenturan, maka Empu Pedek itu pun terdorong surut meskipun Mahisa Agni pun tergetar pula. Tetapi sekali-kali Mahisa Agni mendengar orang timpang itu berdesis menahan sakit seperti dirinya yang kadang-kadang harus menyeringai oleh sengatan-sengatan tangan orang timpang itu.

Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin dahsyat. Dalam malam yang kelam itu, keduanya seolah-olah telah menjelma menjadi bayangan-bayangan kabut yang berputar-putar karena angin pusaran. Masing-masing melihat lawannya dari arah yang membingungkan, meskipun mereka berdua kadang-kadang terpelanting pula, terbanting di atas tanah yang lembab itu.

Meskipun mereka masing-masing telah berkelahi dengan segenap tenaga, namun tak seorang pun di antara mereka yang mengalahkan lawannya. Orang timpang itu ternyata bertenaga sekuat tenaga seekor harimau belang, namun Mahisa Agni pun mampu bertempur setangguh banteng jantan.

Namun betapa pun mereka berdua memiliki tenaga yang melampaui tenaga orang kebanyakan, serta betapa mereka mampu mengungkit tenaga-tenaga cadangan yang tak dapat dilakukan oleh orang lain, namun karena mereka telah memeras diri dalam perkelahian itu, maka tenaga mereka pun semakin lama menjadi semakin susut. Tidak saja karena mereka kehilangan banyak tenaga, namun tubuh mereka pun telah menjadi merah biru dan perasaan nyeri hampir membakar segenap tulang daging mereka.

Demikianlah, maka perkelahian yang dahsyat, yang seolah-olah benturan dari dua angin pusaran yang berlawanan arah itu, semakin lama menjadi surut. Dengan sisa-sisa tenaga mereka yang terakhir mereka mencoba untuk menenangkan perkelahian itu.

“Gila!” terdengar Empu Pedek mengumpat, “kau mampu bertahan melampaui orang dari Gunung Merapi itu?”

Mahisa Agni tidak menjawab. Namun ia pun menggeram, “Bukan main. Tetapi jangan coba halangi aku.”

“Kembalilah sebelum tulang-tulangmu remuk.”

“Tulangku tak selunak lempung,” sahut Mahisa Agni.

Orang itu menggeram pula. Sekali-kali ia masih menyerang dengan gerak yang berbahaya. Namun kecepatan telah jauh berkurang, sehingga meskipun Mahisa Agni pun telah kelelahan, namun ia masih mampu untuk setiap kali menghindarinya. Bahkan Agni pun masih juga sempat membalasnya dengan serangan-serangan yang tidak kalah berbahayanya.




OBJEK WISATA MANCA NEGARA


Teluk Wilhelmina Antartika

Kota Tua Samarkand, Uzbekistan
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Air Terjun Victoria Afrika
Air Terjun Victoria Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Panci Makgadikgadi Botswana, Afrika
Pulau Falkland Antartika Inggris
Pulau Falkland Antartika Inggris
Panorama Alam Georgia
Panorama Alam Georgia
Kebun Raya Singapura
Kebun Raya Singapura
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Pagoda Shwedagon Yangon, Myanmar
Dataran Guci Xiangkhouang, Laos
Dataran Guci Xiangkhoung, Laos
Danau Iskanderkul Tajikistan
Danau Iskanderkul Tajikistan
Piramida Giza Mesir
Piramida Giza Mesir
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Ngarai Sungai Ikan Namibia, Afrika
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Taman Nasional Ala Archa Kirgistan
Selat Drake Antartika Amerika
Selat Drake Antartika Amerika
Istana Kekaisaran Tokyo
Istana Kekaisaran Tokyo
Jembatan Gerbang Emas
Jembatan Gerbang Emas - Amerika
Air Terjun Niagara
Air Terjun Niagara Prancis
Grand Canyon
Grand Canyon Amerika
Pasar Terbesar di Bangkok
Pasar Terbesar di Bangkok
Taman Nasional Yellowstone
Taman Nasional Yellowstone - Amerika
Burj Khalifa - Dubai
Budj Khalifa Dubai
Taj Mahal
Taj Mahal India
Musium Amir Temur Uzbekistan
Musium Amir Temur Uzbekista
Blackpool - Amerika
Blackpool Irlandia
Taman Nasional Blue Mountain - Sydney
Taman Nasional Blue Mountain Sydney
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Jembatan Baja Terbesar di Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Taman Nasional Kakadu Australia
Danau Baikal Rusia
Danau Baikal Rusia
Biara Meteora Yunani
Biara Meteora Yunani
Pantai Bondi Australia
Pantai Bondi Australia
Menara Eiffel Prancis
Menara Eiffel Prancis
Musium Van Gogh Belanda
Musium Van Gogh Belanda
Gedung Opera Sydney
Gedung Opera Sydney
Gunung Meja Afrika
Gunung Meja Afrika
Menara Kembar Petronas Malaysia
Menara Kembar Petronas Malaysia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar